Oct 29, 2014

Elegi Logos Berubah Menjadi Belalang




Logos:
Saya masih merenungkan perihal bagaimana Belalang dapat menggapai Logos?

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau mengetahui siapa Dewa Belalang?

Logos:
Mungkin Belalang sama dengan Daksa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau mengetahui di mana rumah Dewa Belalang?

Logos:
Padahal aku pernah berkata bahwa Daksa bisa juga menjadi Dewa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau tahu aku akan ke mana?

Logos:
Berarti Belalang bisa juga menjadi Dewa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau mengengar pertanyaanku?

Logos:
Kalau begitu Dewa Belalang adalah Dewa. Artinya memang betul Belalang bisa menjadi Dewa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau bisa berpikir?

Logos:
Kalau Belalang menjadi Dewa maka siapakah yang akan menjadi Belalang.

Dewa Belalang:
Wahai sekali lagi wahai. Ini peringatan terakhir sebelum aku menjatuhkan keputusanku. Wahai Logos apakah engkau menyadarinya siapa dirimu?

Logos:
Ternyata aku menemukan bahwa Belalang bisa juga menjadi Daksa, bisa juga menjadi Dewa. Artinya juga bisa juga dia menjadi Logos.

Dewa Belalang:
Wahai Logos dengan ini aku nyatakan bahwa sebenar-benar dirimu....

Logos:
Ternyata aku menemukan bahwa Belalang sama dengan Logos.

Dewa Belalang:
Bahwa Logos adalah Belalang, karena engkau tidak mampu berkomunikasi dengan Dewa Belalang.

Logos:
Wuhahhh......apa? Oh ternyata aku itu Belalang juga? Oh tolonglah Orang Tua Berambut Putih bagaimana ini?

Orang Tua Berambut Putih:
Oh ...Logos...Logos. Sebenar benar dirimu Logos jika engkau berada di antara para Belalang. Tetapi jika engkau berada di antara para Dewa Belalang maka engkau ternyata Belalang juga.

Dewa Logos:
Itulah sebenar-benar yang aku ingin sampaikan, bahwa semua dari kita sekarang ini akan, sedang dan telah menjadi para Belalangnya Sang Power Now.

Orang Tua Berambut Putih:
Wahai Dewa Logos siapa dirimu?

Dewa Logos:
Jika Orang Tua Berambut Putih ternyata juga sudah tidak mengenalku, maka inilah kesaksianku bahwa Orang Tua Berambut Putih pun terancam akan menjadi Belalang Berbulu Putih. Maka tiadalah orang paling berbahaya di dalam masyarakatku kecuali Belalang Berbulu Putih, karena dia adalah ujung tombaknya sang Power Now.

Spiritualitas:
Wahai Dewa Logos, janganlah engkau terus-teruskan karena provokasimu bisa mendorong Belalang Berbulu Putih menjelma menjadi Dajal. Maka bordoa dan mohon ampunlah atas segala dosa. Semoga Tuhan YME melindungi kita semua. Amin.


120 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menanggapi elegi di atas saya lebih ingin mengomentasi perkataan orang tua berambut putih "Sebenar-benar dirimu Logos jika engkau berada di antara para Belalang. Tetapi jika engkau berada di antara para Dewa Belalang maka engkau ternyata Belalang juga". Hal tersebut berarti kesombongan kita akan apa yang kita punya, ilmu yang kita punya tidak ada artinya dan perlu dihindari, karena di atas langit pasti ada langit. Kita bisa mengklaim bahwa ilmu mahasiswa S2 lebih dari mahasiswa S1, namun masih ada yang lebih lagi yaitu S3, dan apabila dibandingkan dengan Profesor ilmu mahsiswa S2 tidak ada apa apanya. Elegi ini mengajarkan kita ditingkat apapun kita jangan sampai berbangga diri dengan sikap sombong tentang apa yang kita miliki.

    ReplyDelete
  2. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Kita bisa menjadi belalang yang tidak mengetahui segalanya. Seperti halnya kita sebagai calon guru yang tidak mengetahui bagaimana cara untuk mengetahui perkembangan peserta didik. Maka sebaik- baiknya kita ialah tidak berhenti menggapai ilmu agar tidak menjadi belalang yang terperangkap dalam ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  3. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari kalimat berikut "Sebenar benar dirimu Logos jika engkau berada di antara para Belalang. Tetapi jika engkau berada di antara para Dewa Belalang maka engkau ternyata Belalang juga" saya memahami bahwa di atas langit masih ada langit. Jika seorang berilmu akan dipandang berilmu jika berada diantara orang-orang yang belum/tidak berilmu. Namun, seorang berilmu dapat menjadi terlihat tidak berilmu jika berada diantara orang-orang yang ilmunya jauh lebih tinggi. Artinya, "kedudukan" kita dapat berubah-ubah sesuai ruang dan waktu, jadi kita tidak boleh sombong dengan apa yang telah kita miliki.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dari tulisan diatas menyebutkan bahwa logos juga bisa berubah menjadi belalang. Jadi kita jangan pernah sombong dengan ilmu yang kita miliki, kita harus bisa memahami secara baik dengan ilmu yang kita miliki agar kita tidak terjebak dengan adanya power Now. Berhati-hatilah. Kita juga harus terus belajar dan belajar karena sesungguhnya ilmu yang kita meliki itu masih sangat sedikit.

    ReplyDelete
  5. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam elegi ini jika orang tua berambut putih sudah tidak mengenali dewa logos maka dia terancam menjadi belalang berambut putih yang merupakan ujung tombak dari powernow. Pengaruh dari powernow seakan menjadi virus yang menyebar kepada orang tua-orang tua berambut putih yang dalam hal ini adalah orang-orang berilmu. Jika tidak mengomandani hati dengan spiritual yang baik, maka seseorang yang berilmu akan menjadi anak buah dari power now yang pemikirannya meminggirkan spiritual dari positif sehingga teknologi yang saat ini sedang menjelma hampir menjadi kebutuhan utama. Untuk itu, secangkih apapun perkembangan zaman, hendaklah manusia menyadari kebutuhan akan TuhanNya.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Elegi di atas merupakan percakapan antara logos dan dewa belalang. Dewa belalang selalu memberikan pertanyaan kepada logos. Logos tidak mempunyai ketetapan hati, pikiran dan ucapan sehingga ucapannya pun selalu berubah-ubah. Dan ketika orang tua berambut putih atau ilmu datang maka maka ia menyampaikan sebenar-benarnya ketika belalang bertanya adalah pemikiran belalang. Dan semua posisi yang diutarakan dewa belalang dan logos tergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  7. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika sudah memiliki ilmu yang banyak, jangan cepat merasa puas dengan ilmu itu. Karena ilmu itu luas, masih banyak ilmu yang belum ada di didirimu. Jangan menjadi sombong dengan ilmu itu, lebih baik menggunakan ilmu yang dimiliki sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

    ReplyDelete
  8. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Diantara para belalang, logos akan menjadi logos, sedangkan diantara dewa belalang logos menjelma menjadi belalang. siapa diri kita pada akhirnya bergantung pada ruang dan waktu yang ada, dimana kita, apa yang ada disekitar kita pada akhirnya akan menentukan siapa diri kita. seperti artikel yang terdahulu bahwa logos harus dapat menjelma menjadi dewa untuk dapat menyesuaikan ruang dan waktunya sehingga dapat berkomunikasi dengan belalang, logos, maupun dewa lainnya.

    Pengaruh Sang Power Now ternyata sudah sangat parah meresap ke dalam jiwa kita. tidak hanya belalang yang bersifat seperti belalang, logos, bahkan orang tua berambut putih pun hampir dapat dipengaruhi dan dikhawatirkan mulai menjelma menjadi belalang. jika orang tua berambut putih, tempat para logos bertanya menjelma menjadi belalang berbulu putih, maka hancurlah. Hanya Yang Maha Kuasa yang dapat menolong kita untuk hal ini

    ReplyDelete
  9. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Yang berhasil saya tangkap dari elegi ini adalah seseorang dapat mengalami perubahan. Semua itu tergantung pada ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  10. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Menurut orang jaman dahulu, belalang merupakan serangga yang bijaksana dan memiliki pengetahuan. Sehingga dulu ada kegiatan meminta pendapat dari belalang, atau bertanya dimana letak barang yang hilang. Adanya budaya seperti itu tentunya karena orang jaman dahulu suka bermetafora, namun keturunannya tidak memahami pikiran mereka. Sebetulnya belalang itu simbol. Disebut belalang sembah karena belalang terlihat seperti menyembah, dan orang dahulu menyimbolkan orang yang patuh (budak) sebagai belalang sembah. Dalam elegi ini, belalang powernow yang dimaksud adalah orang-orang yang diperbudak oleh powernow.

    ReplyDelete
  11. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Logos yang lupa ruang dan waktunya lalu ia kehilangan arah menjadi belalang. Begitu juga dengan belalang yang bisa menjadi logos jika belalang mampu menembus ruang dan waktu. Orangtua berambut putihpun bisa berubah menjadi belalang berambut putih jika ia tidak berhati-hati. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang berpeluang menjadi belalang jika ia tak mampu menempatkan dirinya secara bijak, ,menjadikan diri ikhlas dan memperbaiki diri serta menghilangkan sifat sombong pada diri

    ReplyDelete
  12. Melakukan suatu hal tanpa dilandasi iman dan takwa maka ketika kita ternyata mampu meraihnya, kita akan terjebak dalam kesombongan. Padahal sebenarnya ketika menyombongkan diri sebenarnya kita tidak memiliki hal yang patut disombongkan. Hanya milik Allah apa yang ada dan mungkin ada, termasuk jiwa raga manusia dan hanya kepada Allah akan kembali.

    ReplyDelete
  13. Elli susilawati
    16709251073
    Pmat D pps

    Yang saya tangkap dari wacana di atas adalah, kita harus selalu bercermin siapa diri kita. Menyadari siapa diri kita dan pada posisi apa kita sehingga kita mampu instrospeksi diri. Sebenar2nya kita jika kita berada pada diri sendiri. Tetapi jika kita berada di lingkup yang lebih besar kita bukan lagi berkuasa akan diri kita. Saat ini dewanya kita (para pemimpin di negeri ini) sudah mulai men'dewa'kan "barat". Bergantung dan berkiblat kesana. Semoga kita semua dijauhkan dari adu domba dan perpecahan di negara kita. Amin

    ReplyDelete
  14. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Ilmu pengetahuan kita diberikan oleh Allah SWT, ketika sudah memiliki ilmu yang banyak janganlah merasa sombong karena tingginya ilmumu masih ada yang memiliki ilmu yang lebih tinggi lagi. semua itu hanya titipan dari Allah , tidak sepantasnya untuk disombongkan.

    ReplyDelete
  15. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Logos menunjukkan salah satu sifat manusia. Terlalu memikirkan dan memutuskan segala hal sendirian sehingga tidak menyadari bahwa pemikiran-pemikiran itu tidak dapat diterima oleh orang lain. Karenanya penting untuk mendengarkan pendapat orang lain dan menghargainya.

    ReplyDelete
  16. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Postingan tersebut sangat menarik. Butuh waktu bagi saya untuk dapat memahami makna dari perbincangan antara logos, dewa belalang, orang tua berambut putih, dan dewa logos. Intisari yang bisa saya dapat adalah bahwasanya janganlah kita menyombongkan diri dengan ilmu yang sudah kita punya karena diatas kita masih akan ada lagi yang lebih baik. Dan pandangan orang akan terus berubah-ubah sesuai dengan dimensi ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  17. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Postingan yang berjudul Elegi Logos Berubah Menjadi Belalang menurut saya cukup menarik. Walaupun demikian, perlu membaca lebih dari sekali untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Dan yang dapat saya tangkap dari postingan tersebut adalah bahwa kita sebagai manusia bisa memiliki peran yang berbeda-beda. Itu tergantung bagaimana kita memposisikan diri, dimana kita berada, dan faktor-faktor lain yang membentuk persepsi kita.

    ReplyDelete
  18. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya mencoba merefleksi bahwa seseorang dapat mengalami perubahan, dari yang baik ke yang buruk, dari yang buruk ke yang baik. Selalu berhati-hati akan perubahan yang terjadi agar tidak mendorong diri sendiri ke dalam keburukan,

    ReplyDelete
  19. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Sebenar-benar orang berilmu adalah ia yang mampu menguasai dirinya dan mengamalkan ilmu tersebut agar bermanfaat bagi orang banyak. Orang berilmu tetapi tidak mampu menguasai dirinya akan menjadi takabur dan menghancurkan dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  20. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Unggul dan tidak unggul itu relatif terhadap ruang dan waktu. Ketika seseorang yang biasa-biasa saja berada di antara orang-orang yang tidak unggul, maka orang biasa-biasa itu akan menjadi orang yang unggul. Namun ketika orang yang biasa-biasa saja tersebut berada di antara orang-orang yang unggul, orang itu akan menjadi orang yang paling tidak unggul diantara mereka. Untuk menjadi orang yang unggul kita harus berusaha. Ketika kita hanya diam saja, maka kita akan menjadi belalangnya Powernow.

    ReplyDelete
  21. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal yang dapat saya petik dari Elegi Logos Berubah Menjadi Belalang adalah bahwa di atas langit masih ada langit, maksudnya ketika kita merasa kita telah memiliki ilmu, maka sejatinya masih ada orang yang memiliki ilmu yang lebih dari kita, jadi kita tidak boleh sombong.

    ReplyDelete
  22. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hal lain yang dapat saya petik dari elegi di atas adalah jika kita sombong kemudian merendahkan orang lain, maka sebenarnya kita sama buruknya atau malah lebih buruk dari orang yang kita rendahkan. Seperti halnya Logos yang Belalang, maka Logos akan berubah menjadi Belalang.

    ReplyDelete
  23. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Membaca elegi ini mengingatkan saya pada elegi logos berdialog dengan belalang. Dimana salah satu pesan orang berambut putih yaitu janganlah sombong. Bagaimana hingga akhirnya logos berubah menjadi belalang juga.
    Untuk kisah bakal orang berambut putih berubah menjadi belalang berbulu putih sebagai ujung tombak power now mulai terwujud kini. Dimana terdapat beberapa orang-orang bagaikan orang berambut putih terlihat sebagai sumber ilmu yang bijak namun dibaliknya membawa suatu misi. Misi tersebut adalah titipan power now. Naudzubillah. Astagfirullah.

    ReplyDelete
  24. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    loggos sebagai orang yang berilmu dan orang tua berambut putih sebagai orang yang bijaksana, pun dapat berubah menjadi belalang. seekor belalang yang berbeda dimensi dengan mereka, yang jika diajak bicara tidak nyambung. seperti itulah diri kita. jangan kita merasa unggul dan tinggi hati karena keadaan yang kita punya, kemudian merendahkan hal lain yang tidak sesuai dengan diri kita. bisa jadi suatu saat nanti kita bisa berubah menjadi sesuatu yang dulu pernah kita rendahkan. jadi berhati-hatilah dalam bersikap.

    ReplyDelete
  25. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Elegi logos menjadi belalang sebenarnya saya tidak memahami betul makna yang dimaksudkan. Hanya saja ada bagian dimana logos akan menjadi belalang jika berada diantara para dewa belakalang, dan logos akan menjadi logos ketika berada di antara belalang. Hal ini dapat memberikan kesimpulan bahwa siapa kita, dan bagaimana kita tergantung dilihat dari lingkungan sekitar kita dimana kita berada.

    ReplyDelete
  26. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Pendirian seorang tatkala bersama dengan tekanan yang kuat akan patah juga, yang terjadi semakin membaur dan membias dengan suasana terbanyak. Logos yang digambarkan bersamaan belalang bukan karena logos yang plinplan namun logos yang lemah. Yang tersapu dengan arus dominan. Dalam kehidupan pendirian seorang tatkala tidak dibarengi lingkungan yang mendukung dan justru berbaur dengan para mitos akan "katut" kebawa arus. Sehingga langkah yang tepat adalah mempertebal iman dan memperkokoh pendirian yang benar.

    ReplyDelete
  27. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini mengingatkan kita untuk senantiasa sadar siapa kita. ‘sebenar-benarnya dirimu logos jika engkau berada diantara para belalang. Tetapi jika engkau berada diantara para dewa belalang maka engkau ternyata belalang juga’ seperti apa yang dikatakan oleh orang tua berambut putih, ada saat ilmu yang kita miliki adalah logos, tapi tidak selamanya ilmu itu logos, jika kita tidak senantiasa meningkatkan kualitas diri maka sebenar-benarnya logos itu akan berubah menjadi mitos juga, kita akan kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan dewa belalang, atau hal-hal yang lebih tinggi disbanding apa yang telah kita pelajari.

    ReplyDelete
  28. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegy ini juga mengingatkan kita untuk senantiasa menetapkan hati sebagai komando kita. Terkadang tanpa disadari kita menjadi seperti dewa belalang yang memprofokasi orang lain sehingga melupakan spiritualitasnya dan menjadi dajal. Maka senantiasa berikthiar dan berdoa serta bersandar pada Tuhan yang mampu membantu kita mencapai logos tanpa kehilangan spritualitas kita.

    ReplyDelete
  29. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Kita harus berhati-hati dengan ilmu yang kita punya. Memang seorang manusia selalu akan menggapai logos. Oleh karenanya, sebagai makhluk yang tidak sempurna kita tidak boleh menyombongkan ilmu yang kita punya karena akan mengakibatkan logos yang kita punya menjadi belalang dan bisa saja belalang ini dapat menghancurkan diri kita sendiri atau orang lain. Semoga kita selalu berada dan dituntun oleh-Nya di jalan yang benar. Aamiin.

    ReplyDelete
  30. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan postingan Bapak Marsigit di atas, disebutkan bahwa Logos juga bisa menjadi belalang juga. Ketika seseorang sudah merasa pandai, merasa berilmu, dan mengetahui segalanya, saat itu juga ia seperti belalang yang hanya bisa lompat di tempat, tidak bisa lompat jauh bahkan terbang. Mungkin seseorang sangat mahir pada bidang matematika, tetapi ia bisa menjadi orang yang tidak tahu apa-apa dalam komunitas para koki. Ia dapat berbicara rumus, simbol, uji statistik, dan sebagainya, namun tidak dapat berkomunikasi mengenai resep masakan, bumbu dapur, dan sebagainya. Ia mungkin merasa dewa dalam matematika, tetapi dalam pandangan dewa belalang, ia hanyalah belalang diantara para koki.

    ReplyDelete
  31. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Dari elegi ini, saya memahami bahwa akan sulit bagi seorang ‘daksa” untuk memahami bahasa seorang “dewa”. Jika mau dan berkehendak “dewa” mampu mengarahkan “daksa” sesuai keingingannya. Hanyalah spiritual yang mampu mengendalikan hal tersebut, hal ini saya semakin meyakini pernyataan Rene Descartes bahwa “Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung”. (Hardiman,2007:34)
    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  32. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Ia adalah logos ketika berada di antara belalang, namun ia akan menjadi belalang jika berada di antara dewa belalang. Sedangkan belalang dapat menjadi dewa belalang dan orangtua berambut putih dapat menjadi belalang berambut putih yang menjadi ujung tombak sang Power Now. Ilustrasi ini menyadarkan saya bahwa seorang guru bolehlah mengaku sebagai guru ketika berada di antara para muridnya. Namun guru tersebut akan menjadi murid jika berada di antara mahaguru. Mahaguru akan menjadi murid jika berada di antara gurunya mahaguru. Begitu seterusnya. Ini mengingatkan saya bahwa di atas langit masih ada langit. Maka janganlah kita menyombongkan apa yang kita miliki karena tidak dimiliki oleh orang lain. Karena sebuah pion catur pun bisa menjadi apa saja yang dia inginkan jika sudah sampai di ujung seberang papan catur.

    ReplyDelete
  33. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Selamat pagi,
    Belalang dapat dipikirkan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Belalang dapat diartikan sebagai seseorang pada tingkatan yang rendah atau berada pada dimensi ilmu yang rendah. Semua subjek dapat menjadi belalang, bahkan logos sekalipun. Logos yang berada di bawah dimensi ilmu yang lain atau berada di bawah kekuasaan yang lebih tinggi bisa menjadi belalang. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, maka kita semua ini adalah belalangnya para power now. Sekarang ini kita tidak berdaya untuk dapat menghindari pengaruh dari kekuatan power now,

    ReplyDelete
  34. Junianto
    PM C
    17709251065

    Di kehidupan ini, banyak sekali keanekaragaman manusia. Pengkat dan derajat seringkali dijadikan sesuatu yang bisa disombongkan, padahal masih ada yang Maha Segalanya. Mereka kadang lupa dan mendewakan jabatan, seolah-olah merakalah yang paling tinggi dalam segala hal. Padahal manusia itu selalu berubah dalam segala hal. Pola pikir sebaiknya selalu dikoreksi oleh setiap individu agar mereka bisa memahami dirinya sendiri. Pada artikel Prof ini bisa kami jadikan sebagai pelajaran dalam memaknai dan bagaimana menyikapi kehidupan.

    ReplyDelete
  35. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya menangkap isi yang tersirat dalam tulisan ini adalah kita cenderung tidak dapat menjadi diri kita sendiri atau cenderung mengikuti kaum yang memiliki power. Layaknya para pimpinan dalam suatu unit yang terkadang dapat memberikan pengaruh kepada bawahannya. Ketika bawahan tersebut memiliki karakter dan sikap kerja yang baik, namun sikap tersebut dapat hilang dari dirinya dikarnakan ada power dari pihak lain yang tidak menekankan pentingnya sikap tersebut dalam bekerja. Ibarat batu yang ditetesi air hujan, lama-kelamaan batu itu akan terkikis dan berlubang. Saya sangat sepemahaman dengan spiritualitas yang mana selalu berharap adanya perlindungan Tuhan dalam setiap langkah dimanapun diri kita berada. Aamiin.

    ReplyDelete
  36. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    o Pelajaran yang dapat diperoleh setelah membaca “Elegi Logos Berubah Menjadi Belalang” adalah jangan pernah meremehkan orang lain dan merendahkan orang lain.
    Selain itu, seseorang bisa mempunyai kedudukan yang berbeda-beda. Di suatu ruang dan waktu, kita bisa menjadi objek. Di suatu ruang waktu yang lain kita bisa menjadi subjek.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  37. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Diantara para belalang, logos akan menjadi logos, sedangkan diantara dewa belalang logos menjelma menjadi belalang. siapa diri kita pada akhirnya bergantung pada ruang dan waktu yang ada, dimana kita, apa yang ada disekitar kita pada akhirnya akan menentukan siapa diri kita. seperti artikel yang terdahulu bahwa logos harus dapat menjelma menjadi dewa untuk dapat menyesuaikan ruang dan waktunya sehingga dapat berkomunikasi dengan belalang, logos, maupun dewa lainnya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  38. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Pengaruh Sang Power Now ternyata sudah sangat parah meresap ke dalam jiwa kita. tidak hanya belalang yang bersifat seperti belalang, logos, bahkan orang tua berambut putih pun hampir dapat dipengaruhi dan dikhawatirkan mulai menjelma menjadi belalang. jika orang tua berambut putih, tempat para logos bertanya menjelma menjadi belalang berbulu putih, maka hancurlah. maka segera berdoa dan berserah dirilah kita pada Allah SWT supaya tidak menjadi belalangnya para Power Now
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  39. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataanya, fakta yang bertolak belakang dengan realita yang ada. Kontradiksi antara kata hati dan pikiran, yang seharusnya begini malah jadi begitu, tak harusnya begitu malah jadi begini. Inilah pentingnya seseorang meneguhkan pendiriannya, menetapkan prinsip serta mengikuti kata hati dibandingkan logika.

    ReplyDelete
  40. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Lewat postingan ini, saya melihat bahwa tidak ada yang benar-benar menggapai "logos". Karena hal ini sejalan dengan pendapat saya lainnya, bahwa ilmu adalah selalu berada dalam proses, tidak pernah mencapai titik finish. Barang siapa mengaku-aku sebagai sang jawara, sudah pasti itu bukan krena ilmunya, tetapi kesombongannya. Maka pendapat saya, kita harus senantiasa berpikir dan bermunajat kepada Allah, karena itulah proses kita menggapai logos. Padahal tidak ada satupun yang benar-benar menggapai logos.

    ReplyDelete
  41. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Cerita yang disampaikan di sini saya memberikan makna bahwa sekarang ini logika akan susah diajak kompromi atau di ajak biaca. Karena logika sudah senang dengan dunia yang sekarang ini lebih banyak digunakan daripada dulu masih ada hal yang mengiringi yaitu hati. Sekarang logika sedang berada di puncaknya karena mereka selalu di elu-eluka oleh banyak orang. Logika seakan-akan sesuatu yang mutlak dan tidak ada pembanding sama sekali. Oleh karenanya semoga kita bukan termasuk orang-orang yang seperti itu. Aamiin
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  42. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegy di atas mencerminkan keragaman posisi tidak hanya didunia manusia tetapi juga dunia mahluk hidup yang lain seperti hewan dan tumbuhan salah satu ciri-cirinya yaitu adanya istilah kingdom dan taksonomi. Pada zaman millennium saat ini jabatan merupakan suatu hal yang dapat menggantikan posisi kedewaan dan ketuhanan, karena manusia saat ini menganggap jabatan atau golongan sebagai sesuatu yang bisa menghendel segala keinginan hidup terutama untuk mengusai golongan orang-orang bawah, padahal allah telah memberi ultimatum yang sangat tegas yaitu gunakanlah jabatan yang kamu peroleh untuk membawa kebaikan bagi seluruh umat karena jabatan tersebut akan dipertanggung jawabkan dihari perhitungan kelak.

    ReplyDelete
  43. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Dari elegi Logos Berubah Menjadi Belalang ini, apa yang dapat saya pahami adalah ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup untuk menjadi bekal seseorang dalam menapaki kehidupan atau menentukan kedudukan seseorang dalam kehidupan, jika tidak diimbangi dan diselaraskan dengan spiritual yang baik. Pasalnya, sebaik - baik orang yang berilmu adalah mereka yang ikhlas dan yang mampu menguasai dirinya untuk tidak terjerumus dalam kesombongan atas apa yang mereka miliki dan mau mengamalkannya untuk kebaikan. Orang yang sombong, sekalipun memiliki ilmu yang tinggi, sebenar-benarnya ia tengah berada pada kerendahan yang dalam hal ini diibaratkan sebagai logos yang menjadi belalang. Selain itu, elegi ini juga memberikan gambaran bahwa setinggi apapun ilmu pengetahuan yang kita miliki, pasti selalu ada yang lebih berilmu atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Untuk itu, tidak sepantasnya untuk bersikap sombong.

    ReplyDelete
  44. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaualaikum wr wb.Kita adalah belalang yang berpikir.Kita memiliki akal,itulah yang membedakan kita dengan mahluk yang lain.Dan sebaik-baik pikiran adalah diri kita sendiri.Namun prkiran kita tidak sama dengan pikaran orang lain karena kita memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang diri kita.Diri kita mengatakan kita adalah A,namun orang lain mengatakan kita B.Keadaan kita bukanlah merupakan diri kita sendiri.Kadang kita sering berubah-ubah.Wassalamaualikum wwr wb.

    ReplyDelete
  45. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih Prof atas elegi yang disajikan. Dari Elegi diatas kita bisa mengambil hikmah bahwa orang yang logos sekalipun akan menjadi belalang ketika ia menjadi orang yang sombong. Semoga kita semua terhindar dari sifat-sifat yang dibenci oleh Allah swt.

    ReplyDelete
  46. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan dialog dalam elegi ini yang dapat saya pahami adalah kita dapat menjadi dewa ketika berada dalam ruang dan waktu yang tepat. Misalnya seperti yang Pak Prof. sampaikan di kelas bahwa ayam itu dewanya cacing, elang itu dewanya ayam, dst. Sama halnya seperti dosen itu dewa bagi mahasiswanya, para rektor dewa bagi dosen-dosen, dan begitu seterusnya.
    Jadi yang perlu digaris bawahi adalah posisikanlah diri sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Janganlah sombong akan sesuatu yang dimiliki, karena mungkin saja masih ada lagi yang lebih tinggi dari itu. Sebaik-baik cara adalah dengan selalu berdoa dan memohon ampun atas segala dosa.

    ReplyDelete
  47. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    saya memahami bahwa setiap zat tidak ada yang bersifat netral. Dewa bisa menjadi belalang, Logos bisa menjadi belalang, Orangtua berambut putihpun dapat menjadi belalang. Hal tersebut terjadi jika semua hal tadi tidak menemukan dirinya sendiri melalui spiritualitas.

    ReplyDelete
  48. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini menyiratkan pesan bahwa dalam hidup, siapa pun dapat menjadi daksa dan siapa pun dapat menjadi dewa, semua itu tergantung pada ruang dan waktu. Sebagai contoh, seoarang guru di kelas adalah dewa bagi murid - muridnya, namun ketika ia sedang mengikuti suatu pelatihan pembelajaran maka ia bukan lagi menjadi dewa, namun ia merupakan daksa bagi pelatihnya. Demikian seterusnya. Artinya, sebanyak apapun ilmu yang kita miliki, tentu masih ada yang memiliki ilmu lebih banyak dari kita. Dan yang sebenar-benarnya pemilik dan penguasa ilmu adalah Allah yang Maha Besar. Untuk itu sudah sepantasnya bagi kita untuk tidak bersikap sombong dengan ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  49. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ketika seseorang hamba tidak bisa mengenal yang menjadikannya hamba, maka disaat itulah kehidupannya sudah tidak berharga. Oleh karena itu kenalilah Tuhanmu agar hidupmu menjadi berharga dan bermakna. Selain itu kita juga harus mampu menghargai dan menghormati orang yang lebih berilmu, karena setinggi apapun ilmu yang kita miliki pasti ada orang yang lebih berilmu dari kita. Maka saling menghargailah.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  50. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Menurut saya dari elegi diatas, ini menyiratkan bahwa kedudukan manusia itu bisa berubah sesuai ruang dan waktu. Adakala nya kita sebagai manusia merasa layaknya dewa yang tahu segalanya tapi pada saat didepan siswa, tetapi ketika berhadap dengan guru sebaya sebagai tutor atau dosen, maka kita menjadi murid kembali. Maka dari itu kita sebagai manusia tidak berhak berlaku sombong, karena diatas langit masih ada langit lagi.

    ReplyDelete
  51. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Ketika logos berhadapan dengan dewa belalang, ia menyadari bahwa dirinya adalah belalang. Hal ini menyadarkan mengenai kesombongan. Saat kita merasa lebih pintar dari yang lain, kenyataannya adalah banyak orang yang lebih pintar yang bahkan jika dibandingkan dengan kita,kita tak ada apa-apanya. Belalang itu seakan-akan telah menggapai logos, tapi kenyataannya ia hanya merasa bahwa ia telah mencapai logos. Pengetahuan memang tak ada habisnya. Sampai akhir hayat adalah kesempatan kita untuk terus belajar, tak ada kata terlambat dan tak ada kata berhenti.

    ReplyDelete
  52. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi ini menyiratkan pesan kepada kita, bahwa kita harus fokus dan paham dengan apa yang sedang terjadi pada saat ini. Sehingga kita tidak ikut-ikutan namun tidak mengetahui maksud dan tujuannya. Kita akan mengalami kebingungan atau yang disebut dengan disorientasi. Kita tidak mempunyai pendirian mau ke mana arah yang akan kita ambil. Jika tidak memiliki pendirian maka kita terancam menjadi orang yang mudah dipengaruhi karena memang tidak mempunyai pegangan yang kuat, lalu menjadi orang-orang yang bingung. Dengan belajar filsafat kita diasah untuk berpikir kritis mengenai segala hal, agar bisa memfiltrasi kira-kira yang mana yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kebiasaan kita.

    ReplyDelete
  53. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Logikaku mulai kacau tak dapat memahami lagi analog belalang ataupun logos, apakah logos juga merupakan belalang ataupun belalang yang juga logos, namun jika benar logos adalah belalang dari powernow maka siapakah belalang dari logos, jika logos sendiri tak mampu mencapai logosnya maka bagaimana mungkin belalang bisa mencapai logos.

    ReplyDelete
  54. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih pak atas ilmu yang diberikan melalui postingan ini.
    dari elegi ini saya menyimpulkan logos akan sesuai dengan dimana dia berada. logos akan selalu beriringan dengan keadaan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  55. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari postingan elegi diatas, makna yang dapat saya ambil adalah pendirian itu mutlak wajib ada pada diri seseorang. Menjadi diri sendiri sesuai ruang dan waktunya itu dirasa cukup untuk menjalani kehidupan. Janganlah berpura pura atau mudah terpengaruh oleh orang lain. Karena, pada tuntutan zaman seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi pasti akan goyah dan banyak godaan pada dirinya. Memperbanyak istigfar dan selalu berpegangan pada pondasi spiritual. Semua orang pada masanya pasti akan menjadi dewa. Dewanya adik kita, dewanya teknologi kita, dan lain sebagainya. Janganlah sombong pada masa itu, ingat semua orang pasti akan menjadi dewanya subyek.

    ReplyDelete
  56. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Logos ternyata ketika tidak mampu berkomunikasi lalu kehilangan artinya. Kehilangan artinya akan mengacaukan yang lain. Segala yang tidak bermakna, yang kehilangan makna, Akan dapat berakibat buruk. Orang hanya akan membeo, atau bisa jadi diperalat saja oleh orang lain karena indoktrinasi tanpa dasar. Kasus transgender dapat menjadi contohnya. Anak perempuan yang dari kecil diperlakukan seperti anak laki laki akan merasa diri laki laki. Ini dapat terjadi sebab dunia anak masih dunia mitos. Dengan mudah dapat terpengaruh oleh lingkungannya.

    ReplyDelete
  57. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Terima kasih atas tulisannya Prof.
    Elegi ini mengingatkan saya akan sebuah kalimat "diatas langit masih ada langit". Dimana kita tidak bisa mengklaim diri kita paling tau atau paling berilmu, karena diatas kita masih banyak orang yang lebih tau atau lebih berilmu dari kita. Sebagaimana yang dialami oleh logos, ia hanya menjadi logos ketika ia bersama dengan para belalang. Namun ketika logos ini bersama denga dewa belalang maka ia tidak lebih dari sekedar belalang. Melalui elegi ini, sekali lagi kita diingatkan agar menjauhi sifat sombong.

    ReplyDelete
  58. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Elegi ini menggambarkan bahwa setiap obyek memiliki Bisa menjadi dewa dan menjadi daksa. Logos pun demikian. Jika diantara belalang dia mampu berkomunikasi, namun saat berkomunikasi dengan dewa belalang logos tidak mampu berkomunikasi maka dia juga menjadi daksa dewa belalang yaitu menjadi belalang. Setiap obyek memiliki dewa, dewanya murid adalah guru, dewanya mahasiswa adalah dosen, dewanya dosen adalah rektor. Terdapat pesan dari elegi ini bahwa penting bagi kita untuk terus belajar dan bersikap bijaksana agar power now tidak menjadi dewa kita.

    ReplyDelete
  59. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Berdasarkan bacaan elegi logos berubah menjadi belalang bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia adalah belalang power now. Menurut pemahaman saya, belalang menggambarkan tentang sesuatu yang tidak tahu apapun, apa yang dikatakan kepadanya tidak dapat dipahami. Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan power now menguasai dunia ini sungguh besar. Power now dapat berbuat dan berpikir apapun tanpa yang lain mengerti dan menyadarinya. Hal yang dapat diambil hikmahnya bahwa kita semua harus senantiasa untuk berpikir kritis dan selalu berdoa dalam rangka menggapai logos.

    ReplyDelete
  60. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Jika orang yang berilmu hanya mengejar dunia, tunduk pada kekuatan power now, maka akan terjadi penyalahgunaan ilmu pengetahuan yang akan menguntungkan pihak power now dan merugikan pihak lain (oarang banyak). Maka orang yang berilmu juga harus punya spiritualitas dan moralitas yang tinggi sehingga mampu memanfaatkan ilmunya dengan benar dan bisa bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete
  61. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seseorang yang menganggap dirinya cukup, paling pintar, dan paling berkuasa pastilah tidak menyeimbangkan pikiran dan spiritualnya. Karena jika ia berjalan dengan menyeimbangkan keduanya, maka ia tidak akan terjatuh di jurang keserakahan dan menjauh dari jalan spiritual. Tanpa ia sadari, kesombongan di dalam hatinya telah menurukan derajatnya di mata Tuhan. Ilmu pengetahuan tanpa doa dan iman ibaratnya seperti patung, hanya berbentuk tapi tak dapat bergerak. Oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu rendah hati dan tawakkal, agar kita selalu berada di jalan yang benar.

    ReplyDelete
  62. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dalam benak saya percakapan antara logos, dewa belalang, dan orang tua berambut putih, langsung terpikirkan bahwa seorang guru tidak mutlak terus akan menjadi guru, begitupun murid, tidak mutlak selamanya akan menjadi murid. Semuanya itu bergantung bagaiaman ruang dan waktunya. Dan sudah seharusnya seorang guru itu perlu berada di posisi seorang murid meskipun sudah menjadi guru, artinya bahwa seorang guru perlu belajar, belajar, dan terus belajar, karena pada hakekatnya belajar itu tidak boleh berhenti dan tidak memandang umur. Begitupun juga siswa, siswa tidak selamanya menjadi siswa, tetapi siswa juga pada ruang dan waktu tertentu bisa menjadi guru untuk teman-temannta mungkin. Semuanya ini adalah kuasa Allah, maka sebenar-benar kita sebagai hamba, teruslah ikhtiar dan berdoa.

    ReplyDelete
  63. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya, apalagi di negara demokrasi ini. Namun yang harus diingat bahwa, setiap menyampaikan pendapat hendaknya diiringi pemikiran yang arif dan bijaksana. Kita harus menyadari siapa subjek yang kita ajak berdialog. Akan sangat berbeda berdialog dengan diswa dan berdialog dengan guru. Tidak boleh kita menggunakan kesombongan dan keegoisan dari diri kita unruk menunjukkan seberapa hebatnya kita sehingga menyampingkan hakikat dari komunikasi dua arah yang saling memahami, karena apabila mementingkan keegoisan dan kesombingan akan menjadi hal yang percuma.

    ReplyDelete
  64. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Elegi ini membuat saya berpikir bahwa lingkungan juga mempengaruhi siapa diri kita. Logos adalah logos jika di antara para belalang, tapi logos jika berada di antara para Dewa Belalang maka logos adalah belalang. Menurut saya, perumpamaan tersebut sama seperti keadaan saya. Ketika saya berada di sekolah menengah atas, saya adalah guru yang mengajar kimia. Tetapi ketika saya berada di UNY, saya adalah murid yang diajar oleh guru (dosen).

    ReplyDelete
  65. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Guru adalah dewanya murid, orang yang sudah tau adalah dewanya bagi orang yang belum tahu. Dewa dalam hal ini artinya seseorang yang sudah memiliki pengetahuan terhadap suatu hal terlebih dahulu dibanding orang lainnya. Setiap orang berkesempatan untuk menjadi tahu dan menjadi bisa, jadi ketika sedang di atas, jangan memandang remeh orang yang belum tahu atau belum bisa.

    ReplyDelete
  66. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Fenomena power now yang terjadi saat ini harus dibekali dengan iman, jangan sampai kita tergelincir menjadi belalang-belalang seperti yang bapak analogikan di tulisan tersebut. tugas kita sebagai guru/calon guru untuk meningkatkan kualitas spiritual kita dan mewarisi kepada anaka didik dan keturuan kita kelak. semoga kita terselamatkan dari arus yang berbahaya ini. aamiin.

    ReplyDelete
  67. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Sebenar-benanya orang berilmu jika tidak dapat menanamkan spiritual didalam hati maka akan dengan mudah untuk berpotensi menjadi orang yang sombong. Terkadang lingkungan disekitar kita yang sangat berpengaruh, dan disitu banyak sekali menimbulkan potensi, dari potensi positif hiingga negatif. Akan tetapi potensi negatif yang akan cepat menghampiri jika kita tidak dapat menempatkan hati kita dengan baik.

    ReplyDelete
  68. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dari elegy di atas kita belajar bahwa kita harus menjaga nilai nilai luhur kita walaupun globalisasi terus datang. Kita harus think global, act local . Memilah milah kebudayaan barat agar tidak merusak moral, akhlak kita yang ketimuran. dengan adanya globalisasi kita harus mengikutiperkembangan globalisasi yang ada namun untuk budaya asli indonesia harus kita junjung tinggi.

    ReplyDelete
  69. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya memahami belalang di sini bak orang awam yang belum memahami segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Agar tidak tergolong belalang maka tugas kita adalah belajar dan terus memperdalam ilmu pengetahuan dan spiritual karena tiadalah kunci terhindar dari golongan orang awam selain meningkatkan kualitas keilmuan dan keimanan.

    ReplyDelete
  70. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi ini menceritakan bahwasanya orang bisa diberikan pilihan menjadi daksa atau dewa, mejadi seorang dewa adalah orang yang mampu menembus batas cahaya ruang dan waktu seorang daksa, itulah mengapa belalang bisa menjafi dewa dan logos bisa kembali menjadi belalang maupun daksa.

    ReplyDelete
  71. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa pada dasarnya setiap orang mampu untuk menjadikan dirinya menjadi seperti apa saja, hal ini tergantung tergantung apakah dirinya mamp untuk mengetahui jati diri aslinya sendiri. Selain itu, tergantu pula bagaimana dia memposisikan dirinya, ada dimana dan dalam keadaan bagaiman, artinya apakah dia mampu menyesuaikan diri di antara ruang dan waktu atau tidak. Setiap-setiap aspek ini harus seimbang, tidak boleh ruang saja atau waktu saja. Dari hal itu seseorang bisa menjadi hal yang baik atau yang buruk pula.

    ReplyDelete
  72. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Perumpamaan seorang yang berilmu dan seorang yang tidak mengerti apa-apa. Logos menandakan seorang yang berilmu dan belalang ialah seorang yang tak mengerti konteks yang tengah terjadi. Orang tua berambut putih merupakan wasit atau seorang yang bijaksana, bahkan orang tua berambut putih pun bisa jadi suatu saat ia menjelma menjadi seorang yang tak tahu apa-apa. Sedangkan orang yang berilmu diantara orang berilmu lainnya dapat menjadi orang yang biasa-biasa saja. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  73. Jika Orang tua berambut putih tak lagi mengenali dewa logos, maka ia terancam menjadi belalang pula. Hal ini mengindikasikan bahwa seorang yang telah berilmu tinggi dan mencapai derajat bijaksana sekalipun, jika ia tidak lagi dapat membedakan keilmuan tertentu, atau respek pada suatu disiplin ilmu hilang, maka orang tersebut tidak lagi berbeda dengan orang yag tidak mengetahui apapun. Bisa pula hal ini diumpamakan seorang yang berilmu namun tidak dapat mengaplikasikan keilmuan yang dimiliki sesuai dengan konteksnya atau zaman yang berlaku, maka orang tersebut tidak beda dengan orang yang asal saja dalam menjalankan kehidupannya seadanya.

    ReplyDelete
  74. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Logos dan belalang dua buah tokoh yang uniq sebagai perumpamaan orang yang memiliki ilmu (logos) dan orang yang berada pada ketidaktahuan (Belalang). Siapa saja tanpa terkecuali dapat menjadi belalang, sekalipun logos, logos dapat juga menjadi belalang karena sejatinya belajar itu merupakan proses sepanjang hayat maka orang yang tahu perlu untuk belajar agar pengetahuannya bertambah. Oleh karena itu, elegi diatas menjadi peringatan bagi kita agar tidak merasa sombong karena ilmu yang dimiliki, tidak merasa paling tahun sendiri dan sok tahu karena bisa saja hal itulah menjadi ketidaktahuan kita bahwa orang lain memiliki ilmu yang lebih dari kita. Sebaiknya kita mencontoh filosofi padi, semakin berisi semakin menunduk , tiada kesombongan di hati dan selalu diskusi untuk memperoleh pengetahuan lain. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  75. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Menembus ruang dan waktu adalah mengalami perubahan atau melakukan perubahan. Untuk melakukan perubahan ini diperlukan suatu pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri. Bagaimana posisi kita tergantung pada ruang dan waktu, bisa jadi disuatu ruang dan waktu kita adalah dewa. Elegi diatas menggambarkan logos yang memiliki ekspektasi berlebihan terhadap seekor belalang. Seperti halnya guru yang berharap lebih agar semua siswa mampu menerima pembelajaran yang ia berikan. Ialu berharap bahwa ilmu yang ia berikan mampu menghasilkan nilai yang tinggi.

    ReplyDelete
  76. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Belalang disini diibaratkan orang yang tidak mengerti apa-apa. Ia tidak mengerti akan ilmu dan ia tidak mengerti ruang dan waktu. Yang dapat saya pelajari dari elegi ini adalah kita harus pandai menempatkan diri sesuai ruang dan waktu agar dapat beradaptasi dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk menghindari agar kita tidak menjadi seperti belalang tuntutlah ilmu dengan banyak membaca, membaca dan membaca. Kita juga perlu untuk bersosialisasi agar pemahaman kita dalam lingkungan semakin bertambah.

    ReplyDelete
  77. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Seikhlas piker saya, elegi ini menceritakan tentang bagaimana kekuatan super power mengatur kehidupan manusia. Logos tidak akan sama dengan dewa belalang, tidak akan nyambung omongannya, karena logos hanyalah seekor belalang, bukan dewa belalang. Jika logos adalah belalang, maka sebenar-benar dewa belalang adalah paralogos

    ReplyDelete
  78. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  79. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari elegi ini saya menangkap bahwa belalang ialah orang yang tidak mampu memahami yang dikatakan oleh orang lain dikarenakan tidak memperhatikan ketika orang lain berbicara kepadanya. Sedangkan logos ialah pikiran kita yang mencernimkan bagaimana kita sesungguhnya. Sepandai-pandainya seseorang dalam berlogika apabila tidak memperhatikan ucapan orang yang sedang berbicara padanya apalagi tida memperhatikan ketika ada orang menjelaskan, maka ia pun tida akan mampu memahami isis dari perkataan orang lain tersebut. dengan kata lain logos pun bisa berubah menjadi belalang.

    Hal tersebut berarti bahwa kita sebagai mahasiswa yang merasa tela pintar di dalam cara berpikir hendaknya tida boleh mengabaikan ketika ada orang lain berbicara kepada kita. Salah satu contohnya saat perkuliahan, kita seharusnya memperhatikan dosen apabila beliau sedang berbicara atau menjelaskan materi perkuliahan. Bukannya malah bengong, mengantuk, atau melakukan kegiatan lain saat perkuliahan. Karena dengan demikian maka kita sama saja tida melakukan perkuliahan tersebut dan tidak akan mengerti isis dari apa yang disampaikan oleh bapak/ibu dosen.

    ReplyDelete
  80. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Percakapan tadi memberikan pembelajaran bagi kita bahwa orang berilmu janglah menjadi sombong, karena orang berilmu dianggap orang berilmu jika dia berada diantara orang-orang awam, namun ternyata di atas orang berilmu ada lagi orang lebih berilmu (dewanya) dan jika orang berilmu itu berkumpul di antara orang-orang yang lebih berilmu(dewa) maka dia pun menjadi orang awam di situ. Sehingga sebagai orang berilmu pun harus menyadari bahwa pengetahuan yang dia miliki tidaklah sempurna/pasti ada hal yang tidak diketahui, dan masih ada orang lain yang lebih berilmu daripada dia akan tetapi orang yang paling berilmu pun pasti ada hal yang tidak dikeathuinya juga, sehingga harus juga menyadari bahwa manusia tidak ada yang sempurna karena kesempurnaan hanyanya milik Allah SWT. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  81. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Elegi ini menceritakan tentang bagaimanakah logos mampu mberubah menjadi belalang. Dengan mencuplik perkatann dewa belalang bahwa logos adalah belalang karena dia tidak mampu berkomunikasi dengan dewa. Hal ini menerangkan bahwa belalang tidak mamp berkomunikasi maka bagimana belalang tersebut dapat menjadi logos jika tidak pernah berkomuniakasi dengan dewa.

    ReplyDelete
  82. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Unggul dan tidak unggul itu relatif terhadap ruang dan waktu. Ketika seseorang yang biasa-biasa saja berada di antara orang-orang yang tidak unggul, maka orang biasa-biasa itu akan menjadi orang yang unggul. Namun ketika orang yang biasa-biasa saja tersebut berada di antara orang-orang yang unggul, orang itu akan menjadi orang yang paling tidak unggul diantara mereka. Untuk menjadi orang yang unggul kita harus berusaha. Ketika kita hanya diam saja, maka kita akan menjadi belalangnya Powernow.

    ReplyDelete
  83. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Menurut saya elegi di atas merupakan perbincangan antara dua komunitas yang berbeda. Logos yang merupakan komunitas berilmu, sedangkan belalang komunitas yang hanya ikut-ikutan saja namun tidak tahu apa-apa. Tetapi keduanya bersaing untuk menjadi dewa.

    ReplyDelete
  84. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Menjadi dewa disini adalah analogi dari seseorang yang memiliki kekuasaan. Percakapan yang sangat menarik, dimana sesuai dengan yang di lami pada zaman sekarang. Orang-orang berebut kekuasaan agar semakin terlihat eksistensinya, tanpa memikirkan dampak bagi orang banyak. SEmoga Allah SWT senantiasa melindungi hati dan pikiran kita.

    ReplyDelete
  85. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Orang berilmu harus diimbangi dengan spiritual yang baik, karena hal ini akan mendorong untuk menggunakan ilmu tersebut dalam kebaikan. Orang berilmu akan tetapi tidak menganut nilai-nilai spiritual hanya akan menjadi pribadi yang sombong, merasa tau segala hal.

    ReplyDelete
  86. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sepandai-pandainya orang, pasti akan ada yang lebih pandai lagi. Dalam elegi ini diceritakan bahwa logos akan menjadi belalang juga jika berada diantara para dewa. Hal ini berarti, orang yang pandai akan menjadi terlihat tidak berilmu jika berada diantara orang-orang yang jauh lebih pandai darinya

    ReplyDelete
  87. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Dunia ini keras siapa yang tidak memiliki pondasi yang kuat untuk bersaing dengan yang lainnya. Kita sendiri yang menentukan apakah ingin terombang ambing dengan yang lainnya atau berdiri tegak dengan prinsip yang kita miliki. Agar kita tidak menjadi seperti belalang maka tugas kita adalah belajar dan terus memperdalam ilmu pengetahuan dan juga spiritual karena sebenar-benar pondasi adalah meningkatkan kualitas keilmuan dan keimanan kita.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  88. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Logika memang sangat susah sekali direm jika sudah mengakar atau mendarahdaging di dalam pemikiran kita. Karena jika logika itu terus digembor dan do gemborkan makan akan membuat hati itu lama tak terpakai dan lama kelamaan akan sulit untuk menerima apa yang diberikan jika tidak sesuai dengan logika yang ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  89. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya mencoba merefleksi bahwa seseorang dapat mengalami perubahan, dari yang baik ke yang buruk, dari yang buruk ke yang baik. Selalu berhati-hati akan perubahan yang terjadi agar tidak mendorong diri sendiri ke dalam keburukan

    ReplyDelete
  90. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    yang saya tangkap dari tulisan diatas adalah percakapan tersebut merupaka gambaran dari orang egois yang tidak mau mendengarkan orang lain, sehingga ia tidak mampu berkomunikasi dan menembus ruang dan waktu. manusia merupakan makhluk sosial, yang artinya manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia membutuhkan orang lain. jasi kita sebagai manusia tidak boleh egois dan sombong.

    ReplyDelete
  91. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Powernow dapat merusak kepercayaan. Dalam elegi ini, logos pun dapat menjadi belalang dihadapan para dewa belalang. Menurut dewa logos, kita semua sekarang adalah belalangnya power now. Kita sebenarnya memiliki pikiran dan hati nurani, namun dengan mudah powernow menipu dan merusak kepercayaan kita.

    ReplyDelete
  92. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Setiap menyampaikan pendapat hendaknya diiringi pemikiran yang arif dan bijaksana. Kita harus menyadari siapa subjek yang kita ajak berdialog, jangan meletakkan kesombongan dan keegoisan yang ingin belalang melihat kita hebat. Walau pada akhirnya belalang tidak memahaminya menjadi hal yang percuma.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  93. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Elegi ini benar-benar membingungkan bagi saya. Bukan hanya karena berisi pertanyaan-pertanyaan yang mengandung metafora dan sangat filsafati, melainkan juga alur dialog yang tidak terstruktur. Nyaris semua dialog berisi pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Atau apakah pertanyaan-pertanyaan itu adalah jawaban itu sendiri? Entalah

    ReplyDelete
  94. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Logos dan belalang. Keduanya merupakan analogi yang berbeda. Logos diibaratkan seperti manusia yang memiliki ilmu. Sedangkan belalang merupakan manusia yang tidak mengerti apa-apa atau tidak memahami apa yang sedang dibicarakan. Hal tersebut banyak terjadi di sekeliling manusia yang saling berinteraksi. Manusia memiliki ilmu namun tidak paham konteksnya, tidak paham makna nya maka ia bisa disebut sebagai belalang. Jadi, berilmu dan memahami artinya akan lebih baik daripada berilmu banyak tapi tidak memahami konteksnya.

    ReplyDelete
  95. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini kita belajar mengenai analogi kehidupan tentang belalang. Digambarkan belalang adalah hewan yang hanya menganut yang hanya terkena imbas dari power now. Jadi seberapapun diri kita, kita ini adalah belalang karena telah terperdaya olehnya. Banyak sekali aspek kehidupan kita yang dikuasai oleh powernow, maka disitulah diri kita telah menjadi belalang. Siapapun, bahkan ahli agamapun. Tetapi yang terpenting dalam elegi ini yaitu bagaimana kita bisa mengerti kesalahan kita dan memohon ampun. Dan semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  96. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  97. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi ini, saya menjadi tau bahwa dengan ilmu pengetahuan dan teknologi saja saja tidak cukup untuk menapaki kehidupan. Bahkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi salah-salah dapat menjebak kita, jika kita tak pandai untuk menyikapinya. Dari elegi ini digambarkan bagaimana kekuatan dan bahaya power now yang dapat memperdaya siapapun. Ambisi untuk belajar, mengikuti dan menguasai kemajuan peradaban memang bagus, namun harus dilandasi dengan landasan yang kuat, terutama dalam hal spiritualitas. Ikhtiar harus selalu berjalan berbarengan dengan doa. Hati dan pikiran harus senantiasa bersih dan jernih, serta dinaungi dzikir. Semua itu dalam rangka mencegah bahaya power now yang mengerikan. Dengan kedok kemajuan dan manfaat, namun ada banyak kemudorotan di baliknya jika kita salah bersikap.

    ReplyDelete
  98. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Pemikiran manusia ibarat mata belalang yang bermakna bahwa terkadang melihat sesuatu secara vertikal tetapi pemikiran bersifat zig-zag, hal ini secara implisit menjelaskan bahwa untuk fokus terhadap satu bidang sangat sulit dilakukan tanpa adanya dilandasi oleh niat yang kuat. Padahal secara teorical dan praktek dengan mengetahui kompetensi yang kita miliki, maka kita dapat mengerjakan sesuatu hal sesuai dengan bidang dan porsi kita masing-masing. Segala sesuatu yang dikerjakan sesuai dengan bidang keahliannya maka berkemungkinan besar apa yang kerjakan dapat memperoleh hasil yang optimal dan memuaskan.

    ReplyDelete
  99. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Logos yang kehilangan arahpun ternyata dapat menjadi belalang karena lupa akan ruang dan waktunya. Begitu pula sebaliknya, belalang pun ternyata bisa menjadi logos jika ia mampu menembus ruang dan waktu. Bahkan, orang tua berambut putih pun jika tidak berhati-hati dapat terancam menjadi belalang berbulu putih. Ini menunjukkan bahwa setiap orang berpeluang menjadi belalang jika ia tidak mampu menempatkan diri secara bijak, ikhlas untuk memperbaiki diri serta menghilangkan rasa sombong.

    ReplyDelete
  100. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Assalamu’alaikum, Wr.Wb
    Elegi perbincangan logos dan belalang ini menjelaskan tentang sesorang yang memiliki ilmu yang tinggi dengan sesorang yang memiliki ilmu yang biasa. Akan tetapi dari komunikasi keduanya tiidak bberjalan dengan baik karena komunikasi ini akan berjalan dengan baik jika berada diruang dan waktu yang berbeda. Jadi ruang dan waktu itu penting didalam menentukan keberhasilan komunikasi, dialog dan juga presentasi agar diantara keduanya terjadi hubungan timbal balik dan bisa memahami satu dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  101. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Dari elegi logos berubah menjadi belalang, saya jadi teringat pepatah ada langit di atas langit. Ketika kita merasa sebagai orang paling pandai, kita tidak sadar bahwa ada yng lebih pandai dari kita. Seperti logos yang menjadi belalang jika dibandingkan dengan dewa belalang. Logos tidak mengerti dengan apa yang dikatakan dewa belalang karna logos tidak memiliki kapasitas setinggi dewa belalang. Ini menggambarkan, agar kita mengerti apa yang lawan bicara kita katakan, kita harus membuka wawasan kita seluas-luasnya, harus mencari ilmu setinggi-tingginya. Salah satu caranya adalah dengan membaca, membaca, dan membaca.

    ReplyDelete
  102. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Sesorang harus berwawasan luas agar dapat berbicara atau berkomunikasi dengan lainnya. Disisi lain, sesorang hendaklah tidak sombong terhadap ilmu yang telah ia miliki sebab ia memiliki Tuhan Yang Maha Berilmu.

    ReplyDelete
  103. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015
    Terima kasih, Prof. Dari elegi ini, saya bisa mendapat hikmah, bahwa sebagai seorang manusia tidak boleh sombong, bisa jadi dia memang tergolong pintar dalam suatu lingkungan, namun ketika dalam lingkungan lain, ternyata ia tidak ada apa-apanya. Oleh karena itu, jangan pernah merasa puas akan ilmu yang telah kita dapat, tuntutlah ilmu sepanjang hayat.

    ReplyDelete
  104. Finda Ayu Annisa
    15301241024
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari elegi di atas, saya belajar bahwa kuta sebagai manusia tidak boleh sombong. Kita tidak bisa menilai orang dari ilmu yang dimilikinya. Karena pada dasarnya seseorang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Seseorang perlu memilik wawasan yang luas agar dapat berkomunikasi dengan baik dimanapun lingkungannya.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  105. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  106. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1 Pendidikan Matematika

    Elegi ini mengajarkan bahwa janganlah menjadi orang yang sombong dengan ilmu atau apapun yang dimiliki, karena pasti ada orang lain yang lebih dari diri kita. Namun yang perlu diingat adalah kita semua sama di hadapan Tuhan seberapapun ilmu dunia yang dimiliki. Perlu terus beljar sehingga bisa berkomunikasi yabg baik dengan orangblain dan terus mendekagkan diri kepada Tuhan sehinga berhikmat dalam pengetahuan.

    ReplyDelete
  107. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Terima kasih Prof. atas informasi dan ilmunya yang telah dibagikan. Dari artikel tersebut saya belajar bahwa sebagai manusia yang banyak kekurangan di antara kesempurnaan yang diberikan oleh Tuhan YME daripada makhluk lainnya. Namun, di sisi lain perbaikan diri menuju kesempurnaan yang hakiki harus selalu dilakukan. Sebagai manusia kita tidak boleh sombong dan tinggi hati. Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menguasai semua pengetahuan dan ilmu secara keseluruhan dan sempurna.

    ReplyDelete
  108. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Terimakasih Prof atas eleginya. Elegi ini mengibaratkan belalang sebagai orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, sedangkan logos adalah orang yang memiliki ilmu. Pelajaran yang dapat saya petik dari elegi tersebut adalah bahwa kita tidak boleh sombong akan ilmu yang dimiliki. Tidak boleh menganggap orang lain tidak memiliki ilmu lebih daripada diri sendiri.

    ReplyDelete
  109. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi yang sangat bagus prof. Yang dapat saya tangkap dari elegi ini yaitu belalang diibaratkan sebagai orang awam dan Logos diibaratkan sebagai orang yang berilmu tinggi. Belalang dapat dikatakan sebagai logos jika disejajarkan dengan orang-orang yang ilmunya lebih sedikit lagi sedangkan logos dapat menjadi belalang biasa ketika disandingkan dengan kumpulan orang-orang yang ilmunya lebih tinggi.

    ReplyDelete
  110. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Elegi yang sangat menawan menurut saya. Pada elegi tersebut logos adalah orang yang berilmu sedangkan belalang adalah orang awam. Seperti peribahasa “di atas langi masih ada langit”, seorang logos akan menjadi belalang jika bertemu orang yang lebih berlogos. Begitupun belalang akan menjadi logos jika bertemu olang yang lebih belalang.

    ReplyDelete
  111. Nur’aini Habibah Sa’diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi yang menarik Prof. Elegi ini menjelaskan tentang seseorang yang memiliki ilmu diantara orang-orang lainnya. Orang yang pandai belum tentu pandai dalam keadaan saat itu. Bisa jadi saat itu berada pada orang yang lebih pandai. Seperti halnya pada peribahasa “diatas langit masih ada langit”. Maka dari itu janganlah bersikap sombong dengan apa yang telah kita punya.

    ReplyDelete
  112. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi tersebut merupakan perumpamaan belalang (orang yang tidak berilmu) dan logos (orang yang berilmu). Dari elegi ini saya memaknai agar kita senantiasa rendah hati dengan ilmu yang kita miliki. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.

    ReplyDelete
  113. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Yang dapat saya ambil dari elegi ini adalah, logos ibarat orang yang berilmu atau memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, sedangkan belalang adalah orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan.

    Pelajaran yang dapat saya petik dari elegi di atas adalah janganlah menjadi manusia yang sombong meskipun berilmu tinggi. Karena seperti pepatah mengatakan bahwa diatas langit masih ada langit. Jangan pernah merasa paling luar biasa karena di luar sana masih banyak sekali yang lebih luar biasa.

    ReplyDelete
  114. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Sebenar benar dirimu Logos jika engkau berada di antara para Belalang. Tetapi jika engkau berada di antara para Dewa Belalang maka engkau ternyata Belalang juga. Dari kalimat diatas kita tahu bahwa kita tidak layak untuk sombong, dan memang tidak ada yang bisa kita sombongkan. Karena pada hakikatnya masih ada langit diatas langit.

    ReplyDelete
  115. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih prof untuk tulisan di blog ini. Dari sini dapat terlihat bahwa setiap orang itu memiliki kemampuan yang berbeda beda. Tidak bisa kita mengharapkan orang lain harus mengerti apa yang kita maksud. Dan dari sini juga dapat terlihat bahwa diatas langit masih ada langit karena saat logos dihadapkan dengan belalang, maka logos adalah logos, namun ketika logos dihadapkan dengan dewa belalang, maka logos itu adalah belalang. Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong dan berkata besar, selalu berdo’a dan memohon ampun kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  116. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Belalang dapat menjadi dewa, daksa dan juga logos. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang dapat mengalami perubahan sesuai dengan ilmu yang dia miliki. Dengan ilmu yang dimiliki tersebut, seseorang tidak diperbolehkan sombong karena akan ada orang tersebut.

    ReplyDelete
  117. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Dari elegi diatas dapat diambil pesan bahwa dalam menjalankan kehidupan tidak boleh berlaku sombong. Hal tersebut juga menyatakan bahwa kita juga harus berhati-hati maka kita akan kehilangan arah seperti yang dilakukan oleh belalang diatas yang tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Dan perlu diingat bahwa segala sesuatu itu hanya milik Allah, lalu apa pantas kita menyombongkan hal yang bukan milik kita. Jadi kita tidak boleh berlaku sombong.

    ReplyDelete
  118. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi ini merupakan kisah lanjutan dari elegi sebelumnya, yaitu Elegi Logos Berdialog dengan Belalang. Dalam elegi ini, saya menemui bahwa ternyata guru juga merupakan murid, murid yang belajar dari guru-guru senior dan para dosen. Memang dalam pembelajaran, bukan hanya murid saja yang harus belajar, guru pun juga harus ikut belajar, belajar mengevaluasi cara mengajarnya, belajar untuk memperbaiki metode mengajarnya. Guru tidak boleh merasa sombong hanya karena ia sudah memiliki murid. Karena di atas guru, masih ada guru yang lain, dan guru yang utama adalah Sang Maha Kuasa. Semoga para guru dan calon guru selalu dalam lindungan-Nya sehingga mampu untuk membimbing murid-murid bangsa sebaik-baiknya. Amin.

    ReplyDelete
  119. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Dari elegi di atas, dapat diambil pelajaran bahwa sebagai manusia yang berakal, kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita milik, termasuk ilmu. Kita tidak boleh merendahkan orang dan merasa paling pintar sendiri. Karena sesungguhnya masih banyak orang yang lebih pandai dari kita, tetapi kita saja yng tidak tahu karena terbutakan dengan kesombongan.

    ReplyDelete
  120. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    PPS Pend. Matematika A

    Dari elegi Pak Prof Marsigit Saya mendapat pelajaran bahwa sombong itu akan merusak segalanya. Sombong dalam berilmu justru akan merusak ilmunya itu. Seperti yang Pak Marsigit sampaikan dalam perkuliahan bahwa sebenar-benarnya orang yang berilmu tinggi adalah orang yang mengakui tidak mengetahui apapun. Orang yang berilmu tinggi tidak akan menyombongkan diri. Orang berilmu juga tidak akan merendahkan orang lain, tidak menghakimi orang lain. Karena seperti yang Bapak sampaikan juga bahwa sebenar-benar dirimu adalah tidak akan mengetahui dirinya sendiri apalagi mengetahui orang lain. Hanya Alloh lah yang maha tahu segalanya. Oleh karena itu dalam mencari ilmu kita hendaknya selalu berdoa untuk diberikan ilmu yang berkah dan manfaat dan dihindarkan dari sifat sombong.

    ReplyDelete