Oct 29, 2014

Elegi Logos Berubah Menjadi Belalang




Logos:
Saya masih merenungkan perihal bagaimana Belalang dapat menggapai Logos?

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau mengetahui siapa Dewa Belalang?

Logos:
Mungkin Belalang sama dengan Daksa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau mengetahui di mana rumah Dewa Belalang?

Logos:
Padahal aku pernah berkata bahwa Daksa bisa juga menjadi Dewa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau tahu aku akan ke mana?

Logos:
Berarti Belalang bisa juga menjadi Dewa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau mengengar pertanyaanku?

Logos:
Kalau begitu Dewa Belalang adalah Dewa. Artinya memang betul Belalang bisa menjadi Dewa.

Dewa Belalang:
Wahai Logos apakah engkau bisa berpikir?

Logos:
Kalau Belalang menjadi Dewa maka siapakah yang akan menjadi Belalang.

Dewa Belalang:
Wahai sekali lagi wahai. Ini peringatan terakhir sebelum aku menjatuhkan keputusanku. Wahai Logos apakah engkau menyadarinya siapa dirimu?

Logos:
Ternyata aku menemukan bahwa Belalang bisa juga menjadi Daksa, bisa juga menjadi Dewa. Artinya juga bisa juga dia menjadi Logos.

Dewa Belalang:
Wahai Logos dengan ini aku nyatakan bahwa sebenar-benar dirimu....

Logos:
Ternyata aku menemukan bahwa Belalang sama dengan Logos.

Dewa Belalang:
Bahwa Logos adalah Belalang, karena engkau tidak mampu berkomunikasi dengan Dewa Belalang.

Logos:
Wuhahhh......apa? Oh ternyata aku itu Belalang juga? Oh tolonglah Orang Tua Berambut Putih bagaimana ini?

Orang Tua Berambut Putih:
Oh ...Logos...Logos. Sebenar benar dirimu Logos jika engkau berada di antara para Belalang. Tetapi jika engkau berada di antara para Dewa Belalang maka engkau ternyata Belalang juga.

Dewa Logos:
Itulah sebenar-benar yang aku ingin sampaikan, bahwa semua dari kita sekarang ini akan, sedang dan telah menjadi para Belalangnya Sang Power Now.

Orang Tua Berambut Putih:
Wahai Dewa Logos siapa dirimu?

Dewa Logos:
Jika Orang Tua Berambut Putih ternyata juga sudah tidak mengenalku, maka inilah kesaksianku bahwa Orang Tua Berambut Putih pun terancam akan menjadi Belalang Berbulu Putih. Maka tiadalah orang paling berbahaya di dalam masyarakatku kecuali Belalang Berbulu Putih, karena dia adalah ujung tombaknya sang Power Now.

Spiritualitas:
Wahai Dewa Logos, janganlah engkau terus-teruskan karena provokasimu bisa mendorong Belalang Berbulu Putih menjelma menjadi Dajal. Maka bordoa dan mohon ampunlah atas segala dosa. Semoga Tuhan YME melindungi kita semua. Amin.


42 comments:

  1. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Elegi logos menjadi belalang sebenarnya saya tidak memahami betul makna yang dimaksudkan. Hanya saja ada bagian dimana logos akan menjadi belalang jika berada diantara para dewa belakalang, dan logos akan menjadi logos ketika berada di antara belalang. Hal ini dapat memberikan kesimpulan bahwa siapa kita, dan bagaimana kita tergantung dilihat dari lingkungan sekitar kita dimana kita berada.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Pendirian seorang tatkala bersama dengan tekanan yang kuat akan patah juga, yang terjadi semakin membaur dan membias dengan suasana terbanyak. Logos yang digambarkan bersamaan belalang bukan karena logos yang plinplan namun logos yang lemah. Yang tersapu dengan arus dominan. Dalam kehidupan pendirian seorang tatkala tidak dibarengi lingkungan yang mendukung dan justru berbaur dengan para mitos akan "katut" kebawa arus. Sehingga langkah yang tepat adalah mempertebal iman dan memperkokoh pendirian yang benar.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegi ini mengingatkan kita untuk senantiasa sadar siapa kita. ‘sebenar-benarnya dirimu logos jika engkau berada diantara para belalang. Tetapi jika engkau berada diantara para dewa belalang maka engkau ternyata belalang juga’ seperti apa yang dikatakan oleh orang tua berambut putih, ada saat ilmu yang kita miliki adalah logos, tapi tidak selamanya ilmu itu logos, jika kita tidak senantiasa meningkatkan kualitas diri maka sebenar-benarnya logos itu akan berubah menjadi mitos juga, kita akan kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan dewa belalang, atau hal-hal yang lebih tinggi disbanding apa yang telah kita pelajari.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Elegy ini juga mengingatkan kita untuk senantiasa menetapkan hati sebagai komando kita. Terkadang tanpa disadari kita menjadi seperti dewa belalang yang memprofokasi orang lain sehingga melupakan spiritualitasnya dan menjadi dajal. Maka senantiasa berikthiar dan berdoa serta bersandar pada Tuhan yang mampu membantu kita mencapai logos tanpa kehilangan spritualitas kita.

    ReplyDelete
  5. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Kita harus berhati-hati dengan ilmu yang kita punya. Memang seorang manusia selalu akan menggapai logos. Oleh karenanya, sebagai makhluk yang tidak sempurna kita tidak boleh menyombongkan ilmu yang kita punya karena akan mengakibatkan logos yang kita punya menjadi belalang dan bisa saja belalang ini dapat menghancurkan diri kita sendiri atau orang lain. Semoga kita selalu berada dan dituntun oleh-Nya di jalan yang benar. Aamiin.

    ReplyDelete
  6. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan postingan Bapak Marsigit di atas, disebutkan bahwa Logos juga bisa menjadi belalang juga. Ketika seseorang sudah merasa pandai, merasa berilmu, dan mengetahui segalanya, saat itu juga ia seperti belalang yang hanya bisa lompat di tempat, tidak bisa lompat jauh bahkan terbang. Mungkin seseorang sangat mahir pada bidang matematika, tetapi ia bisa menjadi orang yang tidak tahu apa-apa dalam komunitas para koki. Ia dapat berbicara rumus, simbol, uji statistik, dan sebagainya, namun tidak dapat berkomunikasi mengenai resep masakan, bumbu dapur, dan sebagainya. Ia mungkin merasa dewa dalam matematika, tetapi dalam pandangan dewa belalang, ia hanyalah belalang diantara para koki.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Dari elegi ini, saya memahami bahwa akan sulit bagi seorang ‘daksa” untuk memahami bahasa seorang “dewa”. Jika mau dan berkehendak “dewa” mampu mengarahkan “daksa” sesuai keingingannya. Hanyalah spiritual yang mampu mengendalikan hal tersebut, hal ini saya semakin meyakini pernyataan Rene Descartes bahwa “Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung”. (Hardiman,2007:34)
    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  8. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Ia adalah logos ketika berada di antara belalang, namun ia akan menjadi belalang jika berada di antara dewa belalang. Sedangkan belalang dapat menjadi dewa belalang dan orangtua berambut putih dapat menjadi belalang berambut putih yang menjadi ujung tombak sang Power Now. Ilustrasi ini menyadarkan saya bahwa seorang guru bolehlah mengaku sebagai guru ketika berada di antara para muridnya. Namun guru tersebut akan menjadi murid jika berada di antara mahaguru. Mahaguru akan menjadi murid jika berada di antara gurunya mahaguru. Begitu seterusnya. Ini mengingatkan saya bahwa di atas langit masih ada langit. Maka janganlah kita menyombongkan apa yang kita miliki karena tidak dimiliki oleh orang lain. Karena sebuah pion catur pun bisa menjadi apa saja yang dia inginkan jika sudah sampai di ujung seberang papan catur.

    ReplyDelete
  9. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Selamat pagi,
    Belalang dapat dipikirkan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Belalang dapat diartikan sebagai seseorang pada tingkatan yang rendah atau berada pada dimensi ilmu yang rendah. Semua subjek dapat menjadi belalang, bahkan logos sekalipun. Logos yang berada di bawah dimensi ilmu yang lain atau berada di bawah kekuasaan yang lebih tinggi bisa menjadi belalang. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, maka kita semua ini adalah belalangnya para power now. Sekarang ini kita tidak berdaya untuk dapat menghindari pengaruh dari kekuatan power now,

    ReplyDelete
  10. Junianto
    PM C
    17709251065

    Di kehidupan ini, banyak sekali keanekaragaman manusia. Pengkat dan derajat seringkali dijadikan sesuatu yang bisa disombongkan, padahal masih ada yang Maha Segalanya. Mereka kadang lupa dan mendewakan jabatan, seolah-olah merakalah yang paling tinggi dalam segala hal. Padahal manusia itu selalu berubah dalam segala hal. Pola pikir sebaiknya selalu dikoreksi oleh setiap individu agar mereka bisa memahami dirinya sendiri. Pada artikel Prof ini bisa kami jadikan sebagai pelajaran dalam memaknai dan bagaimana menyikapi kehidupan.

    ReplyDelete
  11. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya menangkap isi yang tersirat dalam tulisan ini adalah kita cenderung tidak dapat menjadi diri kita sendiri atau cenderung mengikuti kaum yang memiliki power. Layaknya para pimpinan dalam suatu unit yang terkadang dapat memberikan pengaruh kepada bawahannya. Ketika bawahan tersebut memiliki karakter dan sikap kerja yang baik, namun sikap tersebut dapat hilang dari dirinya dikarnakan ada power dari pihak lain yang tidak menekankan pentingnya sikap tersebut dalam bekerja. Ibarat batu yang ditetesi air hujan, lama-kelamaan batu itu akan terkikis dan berlubang. Saya sangat sepemahaman dengan spiritualitas yang mana selalu berharap adanya perlindungan Tuhan dalam setiap langkah dimanapun diri kita berada. Aamiin.

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    o Pelajaran yang dapat diperoleh setelah membaca “Elegi Logos Berubah Menjadi Belalang” adalah jangan pernah meremehkan orang lain dan merendahkan orang lain.
    Selain itu, seseorang bisa mempunyai kedudukan yang berbeda-beda. Di suatu ruang dan waktu, kita bisa menjadi objek. Di suatu ruang waktu yang lain kita bisa menjadi subjek.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  13. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Diantara para belalang, logos akan menjadi logos, sedangkan diantara dewa belalang logos menjelma menjadi belalang. siapa diri kita pada akhirnya bergantung pada ruang dan waktu yang ada, dimana kita, apa yang ada disekitar kita pada akhirnya akan menentukan siapa diri kita. seperti artikel yang terdahulu bahwa logos harus dapat menjelma menjadi dewa untuk dapat menyesuaikan ruang dan waktunya sehingga dapat berkomunikasi dengan belalang, logos, maupun dewa lainnya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  14. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Pengaruh Sang Power Now ternyata sudah sangat parah meresap ke dalam jiwa kita. tidak hanya belalang yang bersifat seperti belalang, logos, bahkan orang tua berambut putih pun hampir dapat dipengaruhi dan dikhawatirkan mulai menjelma menjadi belalang. jika orang tua berambut putih, tempat para logos bertanya menjelma menjadi belalang berbulu putih, maka hancurlah. maka segera berdoa dan berserah dirilah kita pada Allah SWT supaya tidak menjadi belalangnya para Power Now
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  15. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terkadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataanya, fakta yang bertolak belakang dengan realita yang ada. Kontradiksi antara kata hati dan pikiran, yang seharusnya begini malah jadi begitu, tak harusnya begitu malah jadi begini. Inilah pentingnya seseorang meneguhkan pendiriannya, menetapkan prinsip serta mengikuti kata hati dibandingkan logika.

    ReplyDelete
  16. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Lewat postingan ini, saya melihat bahwa tidak ada yang benar-benar menggapai "logos". Karena hal ini sejalan dengan pendapat saya lainnya, bahwa ilmu adalah selalu berada dalam proses, tidak pernah mencapai titik finish. Barang siapa mengaku-aku sebagai sang jawara, sudah pasti itu bukan krena ilmunya, tetapi kesombongannya. Maka pendapat saya, kita harus senantiasa berpikir dan bermunajat kepada Allah, karena itulah proses kita menggapai logos. Padahal tidak ada satupun yang benar-benar menggapai logos.

    ReplyDelete
  17. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Cerita yang disampaikan di sini saya memberikan makna bahwa sekarang ini logika akan susah diajak kompromi atau di ajak biaca. Karena logika sudah senang dengan dunia yang sekarang ini lebih banyak digunakan daripada dulu masih ada hal yang mengiringi yaitu hati. Sekarang logika sedang berada di puncaknya karena mereka selalu di elu-eluka oleh banyak orang. Logika seakan-akan sesuatu yang mutlak dan tidak ada pembanding sama sekali. Oleh karenanya semoga kita bukan termasuk orang-orang yang seperti itu. Aamiin
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  18. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegy di atas mencerminkan keragaman posisi tidak hanya didunia manusia tetapi juga dunia mahluk hidup yang lain seperti hewan dan tumbuhan salah satu ciri-cirinya yaitu adanya istilah kingdom dan taksonomi. Pada zaman millennium saat ini jabatan merupakan suatu hal yang dapat menggantikan posisi kedewaan dan ketuhanan, karena manusia saat ini menganggap jabatan atau golongan sebagai sesuatu yang bisa menghendel segala keinginan hidup terutama untuk mengusai golongan orang-orang bawah, padahal allah telah memberi ultimatum yang sangat tegas yaitu gunakanlah jabatan yang kamu peroleh untuk membawa kebaikan bagi seluruh umat karena jabatan tersebut akan dipertanggung jawabkan dihari perhitungan kelak.

    ReplyDelete
  19. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Dari elegi Logos Berubah Menjadi Belalang ini, apa yang dapat saya pahami adalah ilmu pengetahuan saja tidaklah cukup untuk menjadi bekal seseorang dalam menapaki kehidupan atau menentukan kedudukan seseorang dalam kehidupan, jika tidak diimbangi dan diselaraskan dengan spiritual yang baik. Pasalnya, sebaik - baik orang yang berilmu adalah mereka yang ikhlas dan yang mampu menguasai dirinya untuk tidak terjerumus dalam kesombongan atas apa yang mereka miliki dan mau mengamalkannya untuk kebaikan. Orang yang sombong, sekalipun memiliki ilmu yang tinggi, sebenar-benarnya ia tengah berada pada kerendahan yang dalam hal ini diibaratkan sebagai logos yang menjadi belalang. Selain itu, elegi ini juga memberikan gambaran bahwa setinggi apapun ilmu pengetahuan yang kita miliki, pasti selalu ada yang lebih berilmu atau lebih tinggi ilmunya dari kita. Untuk itu, tidak sepantasnya untuk bersikap sombong.

    ReplyDelete
  20. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaualaikum wr wb.Kita adalah belalang yang berpikir.Kita memiliki akal,itulah yang membedakan kita dengan mahluk yang lain.Dan sebaik-baik pikiran adalah diri kita sendiri.Namun prkiran kita tidak sama dengan pikaran orang lain karena kita memiliki persepsi yang berbeda-beda tentang diri kita.Diri kita mengatakan kita adalah A,namun orang lain mengatakan kita B.Keadaan kita bukanlah merupakan diri kita sendiri.Kadang kita sering berubah-ubah.Wassalamaualikum wwr wb.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Terima kasih Prof atas elegi yang disajikan. Dari Elegi diatas kita bisa mengambil hikmah bahwa orang yang logos sekalipun akan menjadi belalang ketika ia menjadi orang yang sombong. Semoga kita semua terhindar dari sifat-sifat yang dibenci oleh Allah swt.

    ReplyDelete
  22. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan dialog dalam elegi ini yang dapat saya pahami adalah kita dapat menjadi dewa ketika berada dalam ruang dan waktu yang tepat. Misalnya seperti yang Pak Prof. sampaikan di kelas bahwa ayam itu dewanya cacing, elang itu dewanya ayam, dst. Sama halnya seperti dosen itu dewa bagi mahasiswanya, para rektor dewa bagi dosen-dosen, dan begitu seterusnya.
    Jadi yang perlu digaris bawahi adalah posisikanlah diri sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Janganlah sombong akan sesuatu yang dimiliki, karena mungkin saja masih ada lagi yang lebih tinggi dari itu. Sebaik-baik cara adalah dengan selalu berdoa dan memohon ampun atas segala dosa.

    ReplyDelete
  23. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    saya memahami bahwa setiap zat tidak ada yang bersifat netral. Dewa bisa menjadi belalang, Logos bisa menjadi belalang, Orangtua berambut putihpun dapat menjadi belalang. Hal tersebut terjadi jika semua hal tadi tidak menemukan dirinya sendiri melalui spiritualitas.

    ReplyDelete
  24. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini menyiratkan pesan bahwa dalam hidup, siapa pun dapat menjadi daksa dan siapa pun dapat menjadi dewa, semua itu tergantung pada ruang dan waktu. Sebagai contoh, seoarang guru di kelas adalah dewa bagi murid - muridnya, namun ketika ia sedang mengikuti suatu pelatihan pembelajaran maka ia bukan lagi menjadi dewa, namun ia merupakan daksa bagi pelatihnya. Demikian seterusnya. Artinya, sebanyak apapun ilmu yang kita miliki, tentu masih ada yang memiliki ilmu lebih banyak dari kita. Dan yang sebenar-benarnya pemilik dan penguasa ilmu adalah Allah yang Maha Besar. Untuk itu sudah sepantasnya bagi kita untuk tidak bersikap sombong dengan ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  25. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ketika seseorang hamba tidak bisa mengenal yang menjadikannya hamba, maka disaat itulah kehidupannya sudah tidak berharga. Oleh karena itu kenalilah Tuhanmu agar hidupmu menjadi berharga dan bermakna. Selain itu kita juga harus mampu menghargai dan menghormati orang yang lebih berilmu, karena setinggi apapun ilmu yang kita miliki pasti ada orang yang lebih berilmu dari kita. Maka saling menghargailah.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Menurut saya dari elegi diatas, ini menyiratkan bahwa kedudukan manusia itu bisa berubah sesuai ruang dan waktu. Adakala nya kita sebagai manusia merasa layaknya dewa yang tahu segalanya tapi pada saat didepan siswa, tetapi ketika berhadap dengan guru sebaya sebagai tutor atau dosen, maka kita menjadi murid kembali. Maka dari itu kita sebagai manusia tidak berhak berlaku sombong, karena diatas langit masih ada langit lagi.

    ReplyDelete
  27. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Ketika logos berhadapan dengan dewa belalang, ia menyadari bahwa dirinya adalah belalang. Hal ini menyadarkan mengenai kesombongan. Saat kita merasa lebih pintar dari yang lain, kenyataannya adalah banyak orang yang lebih pintar yang bahkan jika dibandingkan dengan kita,kita tak ada apa-apanya. Belalang itu seakan-akan telah menggapai logos, tapi kenyataannya ia hanya merasa bahwa ia telah mencapai logos. Pengetahuan memang tak ada habisnya. Sampai akhir hayat adalah kesempatan kita untuk terus belajar, tak ada kata terlambat dan tak ada kata berhenti.

    ReplyDelete
  28. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi ini menyiratkan pesan kepada kita, bahwa kita harus fokus dan paham dengan apa yang sedang terjadi pada saat ini. Sehingga kita tidak ikut-ikutan namun tidak mengetahui maksud dan tujuannya. Kita akan mengalami kebingungan atau yang disebut dengan disorientasi. Kita tidak mempunyai pendirian mau ke mana arah yang akan kita ambil. Jika tidak memiliki pendirian maka kita terancam menjadi orang yang mudah dipengaruhi karena memang tidak mempunyai pegangan yang kuat, lalu menjadi orang-orang yang bingung. Dengan belajar filsafat kita diasah untuk berpikir kritis mengenai segala hal, agar bisa memfiltrasi kira-kira yang mana yang tidak sesuai dengan kepribadian dan kebiasaan kita.

    ReplyDelete
  29. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Logikaku mulai kacau tak dapat memahami lagi analog belalang ataupun logos, apakah logos juga merupakan belalang ataupun belalang yang juga logos, namun jika benar logos adalah belalang dari powernow maka siapakah belalang dari logos, jika logos sendiri tak mampu mencapai logosnya maka bagaimana mungkin belalang bisa mencapai logos.

    ReplyDelete
  30. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih pak atas ilmu yang diberikan melalui postingan ini.
    dari elegi ini saya menyimpulkan logos akan sesuai dengan dimana dia berada. logos akan selalu beriringan dengan keadaan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  31. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari postingan elegi diatas, makna yang dapat saya ambil adalah pendirian itu mutlak wajib ada pada diri seseorang. Menjadi diri sendiri sesuai ruang dan waktunya itu dirasa cukup untuk menjalani kehidupan. Janganlah berpura pura atau mudah terpengaruh oleh orang lain. Karena, pada tuntutan zaman seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi pasti akan goyah dan banyak godaan pada dirinya. Memperbanyak istigfar dan selalu berpegangan pada pondasi spiritual. Semua orang pada masanya pasti akan menjadi dewa. Dewanya adik kita, dewanya teknologi kita, dan lain sebagainya. Janganlah sombong pada masa itu, ingat semua orang pasti akan menjadi dewanya subyek.

    ReplyDelete
  32. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Logos ternyata ketika tidak mampu berkomunikasi lalu kehilangan artinya. Kehilangan artinya akan mengacaukan yang lain. Segala yang tidak bermakna, yang kehilangan makna, Akan dapat berakibat buruk. Orang hanya akan membeo, atau bisa jadi diperalat saja oleh orang lain karena indoktrinasi tanpa dasar. Kasus transgender dapat menjadi contohnya. Anak perempuan yang dari kecil diperlakukan seperti anak laki laki akan merasa diri laki laki. Ini dapat terjadi sebab dunia anak masih dunia mitos. Dengan mudah dapat terpengaruh oleh lingkungannya.

    ReplyDelete
  33. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Terima kasih atas tulisannya Prof.
    Elegi ini mengingatkan saya akan sebuah kalimat "diatas langit masih ada langit". Dimana kita tidak bisa mengklaim diri kita paling tau atau paling berilmu, karena diatas kita masih banyak orang yang lebih tau atau lebih berilmu dari kita. Sebagaimana yang dialami oleh logos, ia hanya menjadi logos ketika ia bersama dengan para belalang. Namun ketika logos ini bersama denga dewa belalang maka ia tidak lebih dari sekedar belalang. Melalui elegi ini, sekali lagi kita diingatkan agar menjauhi sifat sombong.

    ReplyDelete
  34. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Elegi ini menggambarkan bahwa setiap obyek memiliki Bisa menjadi dewa dan menjadi daksa. Logos pun demikian. Jika diantara belalang dia mampu berkomunikasi, namun saat berkomunikasi dengan dewa belalang logos tidak mampu berkomunikasi maka dia juga menjadi daksa dewa belalang yaitu menjadi belalang. Setiap obyek memiliki dewa, dewanya murid adalah guru, dewanya mahasiswa adalah dosen, dewanya dosen adalah rektor. Terdapat pesan dari elegi ini bahwa penting bagi kita untuk terus belajar dan bersikap bijaksana agar power now tidak menjadi dewa kita.

    ReplyDelete
  35. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Berdasarkan bacaan elegi logos berubah menjadi belalang bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia adalah belalang power now. Menurut pemahaman saya, belalang menggambarkan tentang sesuatu yang tidak tahu apapun, apa yang dikatakan kepadanya tidak dapat dipahami. Hal tersebut menunjukkan bahwa kekuatan power now menguasai dunia ini sungguh besar. Power now dapat berbuat dan berpikir apapun tanpa yang lain mengerti dan menyadarinya. Hal yang dapat diambil hikmahnya bahwa kita semua harus senantiasa untuk berpikir kritis dan selalu berdoa dalam rangka menggapai logos.

    ReplyDelete
  36. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Jika orang yang berilmu hanya mengejar dunia, tunduk pada kekuatan power now, maka akan terjadi penyalahgunaan ilmu pengetahuan yang akan menguntungkan pihak power now dan merugikan pihak lain (oarang banyak). Maka orang yang berilmu juga harus punya spiritualitas dan moralitas yang tinggi sehingga mampu memanfaatkan ilmunya dengan benar dan bisa bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete
  37. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seseorang yang menganggap dirinya cukup, paling pintar, dan paling berkuasa pastilah tidak menyeimbangkan pikiran dan spiritualnya. Karena jika ia berjalan dengan menyeimbangkan keduanya, maka ia tidak akan terjatuh di jurang keserakahan dan menjauh dari jalan spiritual. Tanpa ia sadari, kesombongan di dalam hatinya telah menurukan derajatnya di mata Tuhan. Ilmu pengetahuan tanpa doa dan iman ibaratnya seperti patung, hanya berbentuk tapi tak dapat bergerak. Oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu rendah hati dan tawakkal, agar kita selalu berada di jalan yang benar.

    ReplyDelete
  38. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dalam benak saya percakapan antara logos, dewa belalang, dan orang tua berambut putih, langsung terpikirkan bahwa seorang guru tidak mutlak terus akan menjadi guru, begitupun murid, tidak mutlak selamanya akan menjadi murid. Semuanya itu bergantung bagaiaman ruang dan waktunya. Dan sudah seharusnya seorang guru itu perlu berada di posisi seorang murid meskipun sudah menjadi guru, artinya bahwa seorang guru perlu belajar, belajar, dan terus belajar, karena pada hakekatnya belajar itu tidak boleh berhenti dan tidak memandang umur. Begitupun juga siswa, siswa tidak selamanya menjadi siswa, tetapi siswa juga pada ruang dan waktu tertentu bisa menjadi guru untuk teman-temannta mungkin. Semuanya ini adalah kuasa Allah, maka sebenar-benar kita sebagai hamba, teruslah ikhtiar dan berdoa.

    ReplyDelete
  39. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Setiap orang berhak menyampaikan pendapatnya, apalagi di negara demokrasi ini. Namun yang harus diingat bahwa, setiap menyampaikan pendapat hendaknya diiringi pemikiran yang arif dan bijaksana. Kita harus menyadari siapa subjek yang kita ajak berdialog. Akan sangat berbeda berdialog dengan diswa dan berdialog dengan guru. Tidak boleh kita menggunakan kesombongan dan keegoisan dari diri kita unruk menunjukkan seberapa hebatnya kita sehingga menyampingkan hakikat dari komunikasi dua arah yang saling memahami, karena apabila mementingkan keegoisan dan kesombingan akan menjadi hal yang percuma.

    ReplyDelete
  40. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Elegi ini membuat saya berpikir bahwa lingkungan juga mempengaruhi siapa diri kita. Logos adalah logos jika di antara para belalang, tapi logos jika berada di antara para Dewa Belalang maka logos adalah belalang. Menurut saya, perumpamaan tersebut sama seperti keadaan saya. Ketika saya berada di sekolah menengah atas, saya adalah guru yang mengajar kimia. Tetapi ketika saya berada di UNY, saya adalah murid yang diajar oleh guru (dosen).

    ReplyDelete
  41. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Guru adalah dewanya murid, orang yang sudah tau adalah dewanya bagi orang yang belum tahu. Dewa dalam hal ini artinya seseorang yang sudah memiliki pengetahuan terhadap suatu hal terlebih dahulu dibanding orang lainnya. Setiap orang berkesempatan untuk menjadi tahu dan menjadi bisa, jadi ketika sedang di atas, jangan memandang remeh orang yang belum tahu atau belum bisa.

    ReplyDelete
  42. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Fenomena power now yang terjadi saat ini harus dibekali dengan iman, jangan sampai kita tergelincir menjadi belalang-belalang seperti yang bapak analogikan di tulisan tersebut. tugas kita sebagai guru/calon guru untuk meningkatkan kualitas spiritual kita dan mewarisi kepada anaka didik dan keturuan kita kelak. semoga kita terselamatkan dari arus yang berbahaya ini. aamiin.

    ReplyDelete