Oct 30, 2014

Pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM B


Pertanyaan-pertanyaan berikut muncul dari para Mahasiswa  pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PM B) Hari Kamis, 30 Oktober 2014 pk 09.30 sd 11.10 di R. 201 A Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Silahkan para pembaca yang budiman untuk berusaha menjawab atau menanggapi satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selamat berfilsafat, semoga selalu diberi kecerdasan pikiran dan hati. Amin.


1. Markus Palobo:
Bagaiman mengubah yang mungkin ada menjadi ada?

2. Saifan Sidiq Abdullah:
Bagaimana menyikapi seorang Pemimpin yang tidak bijaksana?

3. Aminullah :
Apa solusinya mengatasi ketika Pikiran dan Kenyataan tidak sejalan?

4. Muhammad Munir:
Kenapa kita selalu tidak puas, padahal apa yang kita miliki sudah ada?

5. Daud:
Apa hakikat menerima dan menolak?

6. Weni Gurita:
Apakah perbedaan antara Logika dan Penalaran?

7. Tety Dwi Setyaningsih:
Bagaimana menyelaraskan antara Hati, Pikiran dan Tindakan?

8. Noviana Serawati:
Apa yang dimaksud Aku tidak sama dengan Aku, dan apa implikasinya bagi kehidupan?

9. Yulia Linguistika:
Bagaimana Sikap Marah menurut pandangan Filsafat?

10. Siti Rahmalia Natsir:
Bagaimana cara mengetahui Kata Hati atau Suara Hati?

11. Nirma Dwi Febriana:
Bagaimana secara Filsafat kita bisa mengendalikan Ego/Superego kita?

12. Siti Nafsul Muthmainnah:
Bagaimana konsep Kepemimpinan menurut Filsafat?

13. Maria Rosadalima Wasida:
Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan hakikat Pengambilan Keputusan?

14. Nunung Megawati:
Secara filsafat, apakah hakekat hubungan antara Hati dan Pikiran?

15. Rina Susilowati:
Apakah hakikat perbedaan diantara Manusia?

16. Ari Kuntoro:
Apa hakikat hubungan antara Wanita dan laki-laki?

17. Welli Meinarni:
Secara Filsafat, apakah hakikat Manusia itu?

18. Amelia:
Apa hakikat Etik dan Estetika?

19. Tesi Kumalasari:
Apa hakikat Ketakhinggan dan Ketakterbatasan?

20. Taufik Albar:
Bagaimana kita menyikapi adanya Perang Pemikiran?

21. Siswanto Abdulhamid:
Bagaimana keseimbangan antara Makhluk Individu dan Makhluk sosial dalam Filsafat?

22. Veronica Wiwik Dwi Astuty:
Bagaimana memeroleh keseimbangan antara Takdir dan Ikhtiar?

23. Juhrina A.Y. Hi. Djafar:
Bagaimana hubungan antara Manusia, Alam dan Yang Maha Kuasa?

41 comments:

  1. Nama: Ilma Rizki Nur Afifah
    NIM: 17709251020
    Kelas: S2 Pendidikan Matematika A

    Setelah saya membaca beberapa pertanyaan di atas, saya akan mencoba menjawab pertanyaan nmr 1 yaitu: Bagaiman mengubah yang mungkin ada menjadi ada?
    Kita menyadari bahwa di dunia ini terdapat banyak kemungkinan. Kita dapat mengusahakan hal-hal yang mungkin ada menjadi ada, dengan apa? dengan Ikhtiyar (usaha) untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, usaha yang harus dilakukan seseorang harus sesuai dengan kemungkinan yang ingin dicapai. Selain itu, doa dan pasrah juga diperlukan karena pada hakikatnya Tuhan lah yang berhak untuk mengubah.

    ReplyDelete
  2. Yustine Maulina
    1770921022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya ingin menanggapi pertanyaan no 10 tentang mengetahui suara hati, menurut saya kata hati adalah kemampuan menilai baik dan buruk, benar dan salah terhadap suatu masalah.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Dari kumpulan “pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM B” kami (saya) sangat tertarik dengan pertanyaan Ibu Noviana Serawati: “Apa yang dimaksud Aku tidak sama dengan Aku, dan apa implikasinya bagi kehidupan?”. Pemahaman saya jika kita melihat sebuah kolam yang airnya tenang, lalu kita lemparkan sebongkah batu maka air pada kolam tersebut maka lama-kelamaan air kolam akan kembali tenang dan tampak seperti semula. Lalu apakah kolam yang baru saja tenang ini sama dengan kolam sebelum dilempar batu? Tentu saja tidak, karena kolam yang baru saja tenang ini sudah terdapat batu baru di dalamnya. Sehingga dalam impelementasinya dalam kehidupan adalah kita harus senantiasa berefleksi diri, apakah aku yang sekarang terisi hal-hal yang baik sehingga aku lebih baik daripada aku sebelumnya ataukan terisi hal-hal yang buruk sehingga aku lebih buruk daripada akau yang sebelumnya. Konsep “Aku” merupakan konsep penting pada filsafat dasar Johan Gottlieb Fichte yaitu Das Absolute Ich (Aku-Murni) yang tidak lain adalaj kesadaran akan dirinya sendiri. (Hardiman, 2007:162)
    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  4. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Bismillah.
    Terimakasih prof atas postingannya, saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3. Pertanyaan dari Aminullah yang bertanya "Apa solusinya mengatasi ketika Pikiran dan Kenyataan tidak sejalan?". Menurut pendapat saya ketika pikiran dan kenyataan tidak sejalan itu wajar. Karena emang sebenarnya ketika kita merencanakan/memikirkan sesuatu, hanya Allah yang menentukan apakah nantinya akan sesuai dengan yang kita rencanakan/pikirkan. Jadi ketika semuanya tidak berjalan dengan yang kita harapkan maka kita harus bersikap Ikhlas, Legowo dalam menjalaninya. Karena apapun yang direncanakan Allah pasti yang terbaik. Maka kita harus Ikhlas dan selalu berdoa kepada-Nya.

    ReplyDelete
  5. Dimas Candra Saputra, S.Pd
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Etik adalah berkaitan dengan penialaian yang benar dan yang salah. Sementara estetika berkaitan dengan keindahan atau baik dan buruk. Namun, baik-buruk dan benar-salah tersebut relatif terhadap ruang dan waktu. Keempat unsur tersebut dapat berkombinasi menjadi yang “baik dan benar”, “buruk dan salah”, “baik tetapi salah”, “buruk tetapi benar”, “salah tetapi baik”, dan “benar tetapi buruk”. Maka yang baik tidak selalu benar, yang benar tidak selalu baik, dan seterusnya. Sementara itu, segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki etik dan estetika.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan apa hakikat menerima atau menolak. Hidup ini penuh dengan pilihan. Hidup ini penuh misteri. Ada banyak hal yang tidak kita ketahui terutama masa depan. Manusia berhak untuk menerima dan menolak sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Menolak juga ada alasan dan menerima juga ada alasan. Intinya, menerima atau menolak dua2nya perlu dilakukan dengan pikiran yang jernih dan hati yang ikhlas. Jika perlu dilakukan melalui istikhoroh.

    ReplyDelete
  7. Junianto
    PM C
    17709251065
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 15 berkaitan dengan sikap kita terhapa perbedaan. Perbedaan diantara manusia merupakan hal yang tidak bisa dihindari karena itu merupakan hal yang wajar. Setiap manusia itu unik karena mereka dilahirkan dari orang tua yang berbeda-beda pula, bahkan saudara kandung pun memiliki perbedaan. Begitu pula dengan saudara kembar. Dalam menyikapi perbedaan, setiap orang harus bersikap bijaksana dan adil. Sesungguhnya perbedaan itu adalah suatu kekayaan yang menjadikan dunia menjadi lebih beragam dan bervariasi.

    ReplyDelete
  8. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, dari beberapa pertanyaan dalam postingan di atas saya ingin menjawab pertanyaan no 6 dari Weni Gurita, yang menanyakan tentang perbedaan antara logika dan penalaran. Menurut saya, logika merupakan kecakapan seseorang dalam berfikir secara tepat dan akurat berdasarkan fakta atau data untuk menghasilkan keputusan yang benar atas permasalahan yang ada, sedangkan penalaran adalah proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang menghasilkan pengetahuan. Jadi bisa disimpulkan bahwa logika itu merupakan kecakapan berfikir sedangkan penalaran itu merupakan proses berfikir.

    ReplyDelete
  9. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan yang selevel dengan mata kuliah filsafat mampu dilontarkan oleh kawan-kawan Pasca. Tidaklah pantas jika saya merendahkan diri dalam bergaul dengan mata kuliah ini, namun sejauh ini saya masih tetap berusaha agar bisa sejalan dengan pikiran bapak dan kawan-kawan meski sesungguhnya setiap manusia itu memiliki filsafat diri masing-masing. Ada satu hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana filsafat memandang hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia yang lain? Apakah setiap filsafat dalam diri manusia mampu menyeimbangkan visi dan misi dari kedua nya? Terimakasih.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Hampir tidak mampu menjawab. Menurut saya, semua pertanyaan belum bisa memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi si penjawab yang baik dan melegakan. Tapi saya akan coba.

    "Saifan Sidiq Abdullah:
    Bagaimana menyikapi seorang Pemimpin yang tidak bijaksana?"

    Alasan mengapa saya memilih pertanyaan saudara saifan adalah karena saya merasa berada pada posisi si penanya, selain saudara Saifan. Menyikapi seorang pemimpin yang tidak bijaksana.... Yang pertama, mungkin saya akan berkaca diri, melihat diri sendiri, bertanya apakah yang saya nilai tidak bijaksana adalah benar-benar tidak bijaksana? Karena penilaian adalah subjektif. Bisa saja yang menurut kita tidak bijaksana adalah keputusan "bijaksana" yang malah menyelamatkan lebih banyak umat manusia.

    ReplyDelete
  11. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Saya akan mencoba memberikan tanggapan mengenai soal nomor 1.
    Maksud dari mengadakan sesuatu yang mungkin ada agar menjadi ada adalah dengan cara memberitahukan atau menjelaskan kepada dunia bahwa sesuatu yang mungkin ada itu ada. Kemarin saya mendapatkan penjelasan dari salah satu rekan saya. Dia mengatakan maksud dari mengadakan yang mungkin ada menjadi ada misalnya saya memiliki tanggal lahir. Bagi saya itu sesuatu yang ada karena menyangkut dengan diri saya sendiri. Namun, tanggal lahir tersebut dikatakan mungkin ada pada diri orang lain. agar menjadikan sesuatu yang mungkin ada menjadi ada dengan cara saya memberitahukan kepada orang lain bahwa saya memiliki tanggal lahir. Jadi yang awalnya mungkin ada menjadi ada karena saya sudah memberitahukannya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  12. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan menanggapi pertanyaan no.1 yaitu bagaimana mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Segala yang mungkin ada itu adalah tesis. Setiap tesis pasti memiliki anti-tesis. Tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis inilah yang harus disintesiskan agar sesuatu yang mungkin ada itu menjadi ada.
    Selanjutnya saya akan menjawab pertanyaan no.15 yaitu apakah hakekat perbedaan diantara manusia. Sebelum saya mulai menanggapi, sudah sangat jelas bahwa setiap manusia itu berbeda-beda karena manusia itu unic. perbedaan tersebut selain perbedaan fisik juga perbedaan pemikiran. Perbedaan pemikiran inilah yang menyebabkan perbedaan perilaku atntara satu manusia dan manusia lain.

    ReplyDelete
  13. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Saya akan mencoba membantu menjawab permasalahan no 4, yaitu “kenapa kita selalu tidak puas, padahal apa yang kita miliki sudah ada”, Manusia dikarunia oleh tuhan dengan akal pikiran dan hawa nafsu ketika hawa nafsu tidak bisa dikontrol oleh akal pikiran itulah yang menjadi crash, sehingga munculah rasa belum puas terhadap segala apa yang dimiliki. Perasaan tersebut sebenarnya tidak hanya berdampak negatif jika sudah melampaui batas tetapi juga bisa berimpact positif yaitu menjadi rasa motivasi untuk dapat meraih kesuksesan karena salah satu kunci kesuksesan adalah adanya rasa ambisius dan ingin meiliki yang tinggi.

    ReplyDelete
  14. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Setelah membaca pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman mahasiswa yang diposting oleh Bapak.Dari keterbatasan sumber yang saya peroleh,saya akan memcoba menanggapi satu pertanyaan terkait hakekat manusia.Manusia merupakan suatu obyek penyelidikan yang berharga, karena ia sendiri yang menyelidiki dirinya dan pikirannya dikacaukan oleh dirinya sendiri.Amsal atau perumpamaan yang banyak jumlahnya di dalam segala bahasa, membuktikan bahwa manusia mempersoalkan dirinya sendiri.Di antara amsal tersebut antara lain:1.Manusia dan binatang kedua-duanya persis sama.2.Setiap manusia merupakan suatu kemustahilan sampai saat ia dilahirkan.3. Manusia ialah sebuah mesin yang diberikan makan dan menghasilkan pikiran.4.Manusia merupakan hasil karya besar Tuhan.5.Manusia hanyalah sebatang ilalang,sesuatu yang paling lemah di alam raya, namun ia adalah ilalang yang berpikir.Ada berbagai acara mengawali penyelidikan tentang manusia.Kita dapat menentukan bagaimana cara orang memakai istilah “manusia”.Di dalam pendekatan-pendekatan tersebut terdapat kesukaran-kesukaran,karena itu kita perlu menyaring orang-orang yang menggunakan istilah tersebut yang maknanya kita terima, artinya mereka yang berdasarkan alasan tertentu menurut pendapat kita mengetahui makna istilah tersebut dan memakainya secara cepat.Salah satu juga, hakekat manusia adalah mahluk rohani yang mengandung makna bahwa manusia adalah sesuatu yang lebih dari pada raga,suatu nyawa atau jiwa.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PM B, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 22 dari saudari Veronica Wiwik Dwi Astuty. Pertanyaannya adalah bagaimana memeroleh keseimbangan antara takdir dan ikhtiar. Takdir merupakan ketetapan Allah SWT sejak zaman azali, dimana takdir dibagi dalam dua bagian yaitu qodho dan qodar. Sedangkan ikhtiar merupakan usaha manusia untuk mendapatkan hasil yang terbaik, baik itu untuk urusan dunia maupun akhirat.
    Lalu bagaimana mencapai keseimbangan antara keduanya? Dan dimanakah letak ikhtiar manusia ketika semua telah ditetapkan Allah SWT yang bahkan telah digariskan sejak lama?
    Menurut saya, meskipun manusia dalam setiap gerak geriknya telah ditentukan takdirnya, bukan berarti manusia hanya diam menunggu “nasib” tanpa adanya ikhtiar. Disini manusia memang berkewajiban untuk mengusahakan hasil terbaik bagi dirinya, namun berhasil atau tidak biarkan takdir Allah SWT yang menentukan.

    ReplyDelete
  17. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang pertanyaan “Kenapa kita selalu tidak puas, padahal apa yang kita miliki sudah ada?”
    Terkadang seseorang melupakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Segala sesuatu yang telah disediakan di dunia ini terkadang diabaikan. Dan merasa memiliki semua yang ada padahal semua itu semata-mata hanyalah titipan. Menurut saya hal yang lebih baik dilakukan untuk menyikapi yang ada adalah dengan mensyukurinya dan menyadari bahwa semua yang ada adalah milik Allah SWT bukan merasa puas diri atas semua yang ada. Di sisi lain, ada pula rasa tidak puas yang positif misalnya rasa tidak puas dengan ilmu yang diraihnya sehingga manusia akan terus menerus mencari ilmu karena tidak merasa puas. Tidak puas dalam berdoa dan beribadah, ketika selalu menyadari bahwa apa yang dilakukan belum lah cukup untuk menggapai keikhlasan dalam beribadah justru menjadi penyemangat untuk terus menggapainya. Jadi tidak puas tersebut tergantung bagaimana konteks pembicaraannya dan bagaimana seseorang dapat menyikapinya sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  18. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Terkadang kita sudah memiliki apa yang kita mau, namun kita masih tetap merasa kurang puas, atau bahkan tidak puas. Ketidakpuasan terjadi karena kurangnya rasa syukur serta keinginan pencapaian yang lebih besar dari yang kita dapatkan. Hal ini dikarenakan hawa nafsu setiap manusia memang begitu, memiliki sedikit merasa kurang banyak, memiliki yang banyak tapi merasa sedikit. Kecendrungan seperti ini karena sifat tamak manusia, dan jarangnya memandang dan belajar dari orang yang kurang beruntung bahkan tidak seberuntung kita. Oleh karenanya sebagai manusia yang bertuhan, kita harus pandai-pandai bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Karena jika kita tidak bisa mensyukuri yang sedikit, maka kita juga tidak akan mampu bersyukur pada yang banyak.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  19. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Cara mengubah yang mungkin ada menjadi ada itu dengan mengada, ini ada di elegi menggapai mengada. Sesuatu yang mungkin ada itu kita mengadakan agar yang mungkin ada menjadi ada. Misalnya kita mungkin ingin membuat suatu pesta, bagaimana agar pesta itu menjadi ada?, maka yang harus kita lakukan adalah dengan "mengada" pesta.

    ReplyDelete
  20. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Menyikapi tidak puas itu dengan bersyukur dan adil. Tidak puas kadang kita butuhkan juga meskipun sudah ada. Misalnya, kita sudah ada pengetahuan mengenai integral, namun tidak puas karena belum memahami mengenai integral parsial. Terkadang puas juga tidak selamanya menjadi sesuatu yang baik. Bisa jadi jika sudah merasa puas maka tidak mau berusaha, tidak mau berikhtiar, tidak mau berdoa lagi. Maka Tidak puas-pun bisa menjadi pemicu untuk kita agar terus berusaha menjadi yang lebih baik lagi. Maka sebenar-benarnya tidak puas dan puas itu sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  21. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Hakikat manusia itu adalah identitas. Manusia itu tesis. Pikiran manusia itu tesis. Semua yang ada di luar manusia itu merupakan antitesis. Manusia adalah identitas artinya manusia tidak bisa berubah menjadi batu, manusia tidak berubah menjadi pohon dan sebagainya. Hakekat itu dari Allah SWT. Sehingga apapun yang berasal dari Allah itu bersifat identitas dan absolut.

    ReplyDelete
  22. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PM B, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 14 dari saudara Nunung Megawati. Pertanyaannya adalah secara filsafat, apakah hakekat hubungan hati dan pikiran. Berdasarkan yang saya pahami dari perkuliahan dengan Pak Prof. Marsigit, pada dasarnya filsafat adalah oleh pikir dimana filsafat itu adalah penjelasan dan pemikiran seseorang. Untuk itu, ketika menggali ilmu filsafat hendaklah mantapkan hati. Tetapkan hati sebagai komando olah pikir, agar pikiran kita tidak melampaui batas.

    ReplyDelete
  23. Pangestika Nur A
    PEP B- Pascasarjana
    17701251037

    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor empat yang diajukan oleh Muhammad Munir. Kenapa kita selalu tidak puas, padahal apa yang kita miliki sudah ada? Karena kita kurang bersyukur. Kurang bersyukur membuat kita melupakan nikmat-nikmat yang Allah beri. Keinginan manusia tidak akan pernah tercukupi, ketika sudah memiliki 1 maka ingin 2, ketika sudah mempunyai 2 maka ingin 3, dan seterusnya. Maka dengan bersyukur akan membuat diri merasa cukup. Dan dengan bersyukur nikmat akan Allah tambah.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Merasa belum pantas untuk menjawab pertanyaan di atas. Ilmu yang saya miliki hanyalah masih seujung kuku. Namun, berangkat dari pengalaman yang saya alami maka saya akan coba untuk berbagi sedikit pengalaman tersebut kepada teman-teman.
    Baiklah, saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Saudara Aminullah:
    Apa solusinya mengatasi ketika pikiran dan kenyataan tidak sejalan?

    Bismillah. Saya awali dengan pengalaman pribadi, saya sendiri juga pernah memiliki perencanaan terhadap target hidup yang ingin dicapai. Namun, Tuhan berkata lain saya tidak mampu mencapai target tersebut. Semasa lulus SMA saya ingin sekali menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri dan berkali-kali saya mengikuti tes seleksi masuk PTN namun saya tidak diterima di PTN yang saya inginkan. Saya merasa sedih sekali saat itu dan menjadi tekanan pada diri saya sendiri. Larut dalam kesedihan juga menurut saya tidak ada gunanya. Saya bersyukur sekali diberi keluarga yang sangat mensupport saya di kala itu. Ini merupakan salah satu pembelajaran dalam hidup saya agar dapat mengambil keputusan untuk ke depannya.

    Lantas, saya mencoba untuk bangkit dan mengikuti ujian seleksi masuk di Perguruan Tinggi Swasta dan Tuhan menghendaki saya untuk belajar di PTS. Saya lulus di PTS namun hati masih bergejolak dengan harapan yang telah sirna. Seiring waktu berjalan selama 1 tahun saya menerima kondisi tersebut dan berdoa kepada Tuhan agar diberi kemudahan dalam menjalani proses yang sudah saya lalui. Alhamdulillah, saya diberi kemudahan dengan lulus tepat waktu. Setelah saya melalui masa-masa tersebut, saya menjadi sadar bahwa fokus pada kemampuan yang ingin dibangun dan memasrahkan semua usaha yang telah dilakukan pada Allah tentunya akan memberikan energi yang positif dalam hidup saya. Bersyukur sekali, saat itu Allah mengiringi saya dalam proses pencapaiannya dan saya begitu menikmati. Saya belajar untuk hidup dalam kehendak Tuhan. Ini tentunya tidaklah mudah, namun saya percaya dengan keberadaan Tuhan yang akan selalu bersedia menyertai kaki saya ke manapun ingin melangkah.

    Menurut saya, dalam hidup sebaiknya tidak hanya mengandalkan pada pikiran namun juga hati. Hati yang membuat saya menjadi kuat dalam menghadapi situasi yang ada. Berharap Tuhan selalu menyelimuti hati ini. Ikhtiar, berdoa serta tawakal pada Allah telah membawa saya pada hidup sampai saat ini.

    Saya hanya dapat berbagai solusi terkait dengan ikhtiar, berdoa dan tawakal pada Allah saat pikiran tidak sejalan dengan kenyataan. Semoga sedikit pengalaman saya dapat bermanfaat, khususnya bagi Saudara Aminullah.

    ReplyDelete
  25. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Pertanyaan dari Welli Meinarni: Secara Filsafat, apakah hakikat Manusia itu? Menarik perhatian saya untuk menjawabnya, menurut saya hakikat kita sebagai manusia adalah makhluk tuhan yang sedang mengada dan yang kita miliki hanyalah sifat, hidup karna terpilih dan hidup dalam pilihan. Karena yang kita miliki hanyalah sifat kita selalu terikat oleh ruang dan waktu, dalam ruang dan waktu yang berbeda maka sifat kita juga berbeda dan selalu berubah-ubah. Berbeda dengan hakikat kita sebagai makhluk ciptaan tuhan, tidak terikat oleh ruang dan waktu sehingga bersifat tetap dan tidak akan berubah, selamanya akan tetap menjadi makhluk ciptaan Tuhan.

    ReplyDelete
  26. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Bismillahirrahmanirrahim..
    saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudara Aminullah tentang Apa solusinya mengatasi ketika Pikiran dan Kenyataan tidak sejalan?
    menurut saya yang ada dipikiran manusia termasuk pada renca manusia itu sendiri. perlu diketahui manusia selalu berfikir atau merencanakan sesuatu yang ia inginkan namun tidak selalu begitu bermanfaat bagi dirinya sendiri. adakalanya manusia diberikan oleh Allah apa yang ia butuhkan bukan yang ia inginkan, jadi solusinya ialaha istighfar terus ingat selalu bahwasannya allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya dan lekas ambil hikmah dibalik kejadian yang terjadi yang tidak sesuai dengan yang kita pikirkan tersbut agar diri kita selalu menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. aminn..

    ReplyDelete
  27. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, saya akan mencoba menjawab pertanyaan “Secara filsafat, apakah hakekat hubungan antara Hati dan Pikiran?
    Jawab:
    Hati erat kaitannya dengan spiritual. Sedangkan jika kita menghubungkannya dengan pikiran, bagaikan jiwa dan ruh yang dia sangat dekat bahkan tidak bisa terpisahkan. Apa yang menjadi landasan spiritual kita, semuanya butuh ilmu meski awalnya merupakan intuisi semata. Namun seiring berjalannya waktu, kita di anugerahi akal pikiran yang wajib kita gunakan untuk memikirkan dan bertanggung jawab atas konsistensi kita dalam berspiritual. Ketika aplikasi spiritual kita telah sejalan dan selaras dengan akal pikiran, maka tidak ada keraguan lagi dalam diri kita untuk meyakini dan mengimani suatu kepercayaan. Ketika kita telah ikhlas dalam berspiritual, maka hatipun akan terasa tenang dan damai, karena sejatinya kenyamanan dan kedamaian, kesedihan dan kebahagiaan adalah titipan dari Allah yang wajib kita syukuri. Wallahu’alam bishowab, semoga kita mampu menjadi manusia yang dapat menyeimbangkan kebutuhan hati dan pikiran masing-masing. Amin.

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah saya mohon ijin lagi untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana memeroleh keseimbangan antara Takdir dan Ikhtiar?”
    Jawab:
    Memperoleh keselarasan dan keseimbangan antara takdir dan ikhtiar memang tidaklah mudah. Takdir merupakan rahasia Allah. Tak ada satupun makhlukNya yang mengetahui setiap takdir dalam kehidupannya. Manusia pun memiliki keterbatasan untuk memikirkan atau melakukan segala sesuatunya, karena sejatinya kesempurnaan hanya lah milikNya. Berbicara masalah ikhtiar, sesungguhnya apa yang akan, sedang, atau telah kita lakukan merupakan bentuk ikhtiar dan usaha untuk memperoleh keberkahan hidup salah satunya untuk dapat hidup dengan kehidupan yang baik dan mapan. Keseimbangan ikhtiar dengan takdir kita mungkin akan terlihat dan mampu dirasakan dengan sebenar-benarnya ketika apa yang telah kita usahakan membuahkan hasil dan mencapai apa yang kita targetkan. Semua kembali lagi dengan kerelatifan manusia. Keberhasilan manusia adalah relatif. Bagi saya mungkin berhasil bagi orang lain mungkin tidak, namun itulah apa yang dapat kita goreskan dalam hidup. Bahwa mencapai kesesuaian antara ikhtiar dan takdir memanglah tidak mudah, dan kita hanya diminta melakukan segala sesuatunya sesuai ruang dan waktunya, tanpa mengagung-agungkan jargon keburukan yang dapat membuat hidup kita semakin kacau. Wallahu’alam bishowab, semoga Allah memberi kekuatan kita untuk terus berikhtiar mencapai takdir dan ridhoNya

    ReplyDelete
  29. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan "bagaimana cara mengubah yang mungkin ada menjadi ada?". Melalu pikiran dan imajinasi kita bisa mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Membayangkan sesuatu yang ingin terjadi. Berimajinasilah untuk menciptakan segala sesuatu menjadi ada. Berawal dari pikiran, sesuatu yang bahkan tidak mungkin ada bisa menjadi ada. Tetapi ingat, jangkauan yang dimiliki oleh pikiran manusia. Sesuatu yang mungkin itu bisa ada atau tidak. Ada tidaknya sesuatu tergantung apa yang ditakdirkan Allah. Manusia hanya bisa berpikir bahwa sesuatu yang mungkin ada bisa menjadi ada

    ReplyDelete
  30. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya ingin mencoba menjawab lagi pertanyaan "bagaimana solusi mengatasi ketika pikiran dan kenyataan tidak sejalan?". Takdir itu dipilih untuk kita. Ada kalanya kita memilih dan ada kalanya kita menerima. Kematian, jodoh, rejeki sudah ada yang mengatur. Tapi kita masih bisa berusaha untuk mengubah sesuai dengan harapan kita. Apabila nyatanya berbeda dengan yang di pikiran kita, berarti kita sudah terpilih oleh Allah untuk menerimanya. Menurut kita baik, tetapi buruk menurut Allah. Maka dari itu Allah memberikan sebaik baiknya rencana untuk kita. Allah itu maha adil. Ikhlas tentunya dalam menerima segala sesuatu

    ReplyDelete
  31. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan apakah hakikat perbedaan di antara manusia. Manusia berbeda secara fisik maupun non fisik antara satu dengan yang lainnya. Dari segi fisik, tidak ada manusia yang sama identik, bahkan yang terlahir kembar sekalipun. Dari segi non fisik yang membedakannya adalah pemikirannya dan ketakwaanya. Bagi Allah SWT manusia semuanya dianggap sama, yang membedakan adalah ketakwaannya. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

    ReplyDelete
  32. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terkait pertanyaan mengapa manusia tidak pernah puas, manusia memang diciptakan sebagai makhuk yang dikodratkan untuk tidak pernah puas agar ia selalu berusaha meraih apa yang diinginkannya. Akan tetapi, kita harus menyeimbangkannya dengan rasa syukur pada apa yang telah dimiliki saat ini. Karena kita harus menyadari bahwa tidak semua yang diinginkan bisa terwujud, dan kita harus mensyukuri apa yang telah didapat.

    ReplyDelete
  33. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya akan mencoba menuliskan pendapat saya mengenai pertayaan pertama yaitu tentang bagaimana mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Sesunggu proses inilah yang dinamakan belajar sehingga memperoleh ilmu pengetahuan. Proses memperoleh ilmu pengetahuan ini bisa dari beragam cara, bisa melalui membaca, seperti membaca blog ini, kemudian berdasarkan pengamatan, atau berdasarkan pengalaman.

    ReplyDelete
  34. Junianto
    17709251065
    PM C

    Hubungan antara manusia, alam, dan yang maha kuasa sangatlah berkaitan erat dan tidak dapat dipisahkan. Alam dan manusia ada karena Kuasa Tuhan. Semua yang terjadi pada manusia dan alam semesta ini karena adanya Tuhan yang mengatur semuanya. Sebagai manusia tentu hanya mampu berusaha dan berdoa agar Tuhan selalu memberi perlindungan kepada ciptaan-Nya. Hanya Tuhan lah yang kekal, yang awal dan yang akhir sebagai pencipta dan pengatur alam semesta ini.

    ReplyDelete
  35. Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3 tentang bagaimana jika pikiran dan kenyataan tidak sejalan. Dalam kehidupan ini, seringkali ada manusia yang tidak mampu menghadapi kenyataan karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Manusia selalu merasa bahwa apa yang diinginkannya itu yang terbaik baginya, ia lupa bahwa ada Tuhan yang lebih tahu apa yang terbaik baginya. Jadi, ketika pikiran dan kenyataan tidak sejalan maka yakini bahwa pasti ada rencana Tuhan yang lebih baik untuk kita. Pikiran dan kenyataan tidak sejalan juga bisa terjadi karena kurang ilmu pengetahuan yang kita miliki. Maka dari itu, long live education perlu terus kita lakukan sampai akhir hayat.

    ReplyDelete
  36. Berkaitan dengan pertanyaan pada no 20 tentang bagaimana sikap kita dalam menghadapi perang pemikiran, saya mencoba memberikan tanggapan menurut apa yang selama ini saya pahami. Perang pemikiran merupakan hal yang tidak bisa kita pungkiri dalam kehidupan. Bahkan dalam agama, perang pemikiran (Ghaswul Fikri) juga menjadi hal yang patut disikapi dengan bijaksana. Secara umum, bentuk-bentuk perang pemikiran sangat beragam namun yang sekarang menjadi sarana ampuh adalah adanya media (cetak, elektronik,dll) yang dinilai cukup efektif. Hal yang terpenting adalah kita sebagai kamum akademis harus mempunyai dasar keilmuan yang kuat untuk menyikapi hal tersebut dan jangan mudah terpancing dengan isu-isu yang tidak benar (hoax). Terkadang perang pemikiran hanya akan menyebabkan perpecahan jika tidak disikapi dengan bijak. Dan sebagai bangsa Indonesia, kita harus tetap fokus kepada persatuan bangsa agar tidak mudah dijajah oelh perang pemikiran tersebut.

    ReplyDelete
  37. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menanggapi pertanyaan no 8. Bahwa saya dengan saya tidak sama karena saya yang diucapkan diawal berbeda waktunya dengan saya pada ucapan berikutnya. Ini merupakan cara berpikir filsafat realisme yang dicetuskan Aristoteles. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus tidak sama dengan keadaan kita sebelumnya. Kita harus selalu meningkatkan potensi kita dari waktu ke waktu. Jangan sampai kita berhenti berpikir, karena jika kita tidak berpikir maka hakikatnya kita terjebak mitos.

    ReplyDelete
  38. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya akan menjawab pertanyaan dari saudari Tety Dwi Setyaningsih dengan pertanyaannya “bagaimana menyelaraskan antara hati, pikiran, dan tindak?”. Menurut pendapat saya menyelaraskan ketiga hal tersebut harus dimulai dari hati yang bersih dan ikhlas. Dengan hati yang ikhlas berarti hatinya tersebut selalu ingat sama Allah, berarti pikirannya juga sudah jelas hanya memikirkan hal-hal yang hanya diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang Allah larang. Dari itu semua otomatis tindakannya juga akan mencerminkan dari hati dan sikapnya. Sehingga antara hati, pikiran, dan tindakan bisa selaras.

    ReplyDelete
  39. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saat perkuliahan saya mengingat bahwa menurut Bapak Marsigit, bertanya berarti salah satu indikator bahwa kita mau mencari ilmu. Seseorang yang bertanya tentu saja memiliki rasa ingin tahu dan akan mencari jawaban dari pertanyaan tersebut dan ingin mengetahui suatu pengetahuan secara lebih mendalam. Setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berbeda sehingga akan menimbulkan jawaban dan pertanyaan yang berbeda pula, oleh karena itu sebagai fasilitator guru dappat menampung dan memiliki jawaban bahkan jawaban alternatiif dari semua pertanyaan siswa.

    ReplyDelete
  40. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan menocba menanggapi pertanyaan "Bagaimana mengubah yang mungkin ada menjadi ada?". menurut saya, kita dapat menjadikan sesuatu yang mungkin ada menjadi ada melalui tindakan. contohnya ketika kita ingin mengetahui filsafat lebih dalam maka kita harus banyak membaca, memahami pikiran para filsuf. dari tindakan tersebut kita dapat menambah pengetahuan kita dari yang semula mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  41. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Juhrina A.Y. Hi. Djafar:
    Bagaimana hubungan antara Manusia, Alam dan Yang Maha Kuasa?
    Alam dengan segala isinya telah ditundukkan Tuhan untuk manusia, sehingga dengan mudah manusia dapat memanfaatkannya. Jika demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat.

    ReplyDelete