Oct 30, 2014

Pertanyaan-pertanyaan Filsafat Dari Mahasiswa S2 PM A




Pertanyaan-pertanyaan berikut muncul dari para Mahasiswa  pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PM A) Hari Kamis, 30 Oktober 2014 pk 07.30 sd 09.10 di R. 306 B Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Silahkan para pembaca yang budiman untuk berusaha menjawab atau menanggapi satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selamat berfilsafat, semoga selalu diberi kecerdasan pikiran dan hati. Amin.



1. Furintasari bertanya:
Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama

2. Ainun Fitriani:
Bagaimana menerapkan Filsafat secara bijaksana?

3. Fitratul Wulan Fatmasuci:
Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat?

4. Samsul Feri Apriyadi:
Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian?

5. Maryana:
Bagaimana memahami karakteristik siswa dalam pbm matematika menurut sudut pandang Filsafat?

6. Aris Kartikasari:
Bagaimana menanggulangi pengaruh kehidupan kontemporer yang negatif, menurut sudut pandang Filsafat?

7. Enggar Prasetyawan:
Bagaimana pandangan Filsafat dalam persoalan pergaulan seseorang dengan orang yang lain yang mempunyai perbedaan karakter?

8. Indah Pertiwi:
Ridho adalah bagian dari syukur. Bagaimana pandangan Filsafat mengenai keridhoan hati karena jangan sampai kita kehilangan syukur atas semua yang telah ditakdirkan?

9. Eny Sulistyaningsih:
a. Bagaimana pandangan Filsafat tentang keselarasan hidup?
b. Bagaimana pandangan Filsafat tentang hubungan antara Rencana dan Implementasi?

10. Derapusa Mela Romandanu:
Bagaimana Filsafat memandang cara untuk mengatasi Kenakalan Remaja?

11. Darul Ulum:
Apa kriteria yang dapat digunakan untuk mengetahui bahwa seseorang telah berfilsafat?

12. Akbar Pratama:
Bagaimana Filsafat dapat membantu seseorang mengetahui jati dirinya?

13. Nurul Iman:
Mohon dijelaskan apa yang dimaksud kesombongan yang baik dan contohnya?

14. Chairun Nisa Zarkasyi:
Bagaimana konsep kedewasaan seseorang menurut kacamat Filsafat?

15. Hasan Djidu:
Bagaimana memaknai Ikhlas dari sudut pandang Pikiran dan Hati?

16. Fenti Wulansari:
Bagaimana kita bersikap terhadap berbagai macam Stigma, baik yang positif maupun yang negatif?

17. Rita Febriyani:
Bagaimana kedudukan Mimpi dalam Filsafat?

18. Alfizah Ayu Indria Sari:
Mohon dijelaskan tentang Filosofi benda-benda di sekitar misalnya Filosofi Air, Bumi, Bulan, Matahari, Udara, Api, Tanah, dst.?

19. Nurdin Arifin:
Bagaimana konsep Mati Mokswa dalam Filsafat?

20. Dewi Widowati:
Apa yang dimaksud Munafik menurut Filsafat?

21. Jeaniver Yuliane Kharisma:
Bagaimana Filsafat memandang usaha seseorang melakukan pengendalian diri dan emosi?

22. Risnawati Amiludin:
Bagaimana konsep Pendidikan menurut Filsafat?

23. Lisda Fitriana Masitoh:
Bagimana pandangan Filsafat tentang adanya berbagai macam perbedaan sikap dan pandangan hidup?

Demikian, selamat menanggapi dan menjawab.

Marsigit




39 comments:

  1. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat Pendidikan menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai-nilai. Filsafat memeiliki hubungan yang sangat erat dengan Pendidikan, karena keduanya saling bersinggungan satu dengan yang lainnya pada masalah-masalah yang sama yaitu, manusia, hidup, hubungan antar manusia, hakikat kepribadian, dan kebebasan.

    ReplyDelete
  2. Nama: Ilma Rizki Nur Afifah
    NIM: 17709251020
    Kelas: S2 Pendidikan Matematika A

    Saya akan menanggapi/menjawab pertanyaan nomor 1, yaitu Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama?
    Dalam kehidupan di masyarakat, seseorang tidak bisa lepas dari adat istiadat yang telah ada dari pendahulu. Lantas, bagaimana menyeimbangkan antara adat dan agama yang terkadang menurut kita tidak singkron atau bertolak belakang? Menurut saya, adat itu bisa dijadikan salah satu alat/fasilitas kita untuk beribadah kepada-Nya. Contoh riil nya: dahulu pada masa Wali Songo, kahidupan masyarakat di Jawa sangat kental dengan wayang. Lalu, perhelatan wayang tersebut dijadikan sebagai alat dakwah oleh Wali Songo, yaitu mengisi percakapan Wayang dengan ajaran-ajaran Islam agar mudah diterima masyarakat pada saat itu.
    Intinya, untuk menyeimbangkan adat dan agama, kita harus paham betul mengenai ajaran agama lalu dibarengi dengan menyesuaikan adat yang ada tanpa mengurangi/menambah ajaran yang telah dianutnya.

    ReplyDelete
  3. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend A 2017

    Terimakasih Prof, Berdasarkan postingan ini saya akan berusaha menanggapi pertanyaan no 10 "Bagaimana Filsafat memandang cara untuk mengatasi Kenakalan Remaja?" Menurut saya kenakalan remaja adalah wujud tingkah laku remaja, dalam mereaksikan pemikiran-pemikiran yang mereka dapat saat di usia tersebut. Kemampuan seseorang dalam membangun pengetahuan tentu berbeda satu dan yang lainnya, inilah yang menimbulkan perbedaan tingkah laku yang di beberapa orang tingkah laku tersebut termasuk dalam kenakalan remaja, karena perilaku tersebut dianggap menyimpang jika dibandingkan dengan pemikiran orang lain.

    ReplyDelete
  4. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Dari kumpulan “pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM B” kami (saya) sangat tertarik dengan pertanyaan Ibu Ainun Fitriani: “Bagaimana menerapkan Filsafat secara bijaksana?” secara harfiah filsafat itu artinya cinta kebijaksanaan. Maka sejatinya filsafat itu adalah olah pikir untuk mencari kebijaksanaan. Akan tetapi, dalam berfilsafat kita harus menyeimbangkan antara aspek logika dan aspek spiritual kita agar kita tidak terserumus dalam kesesatan. Rene Descartes mengatakan bahwa “Pikiran-pikiran yang agung mampu melakukan baik kesesatan-kesesatan agung maupun kebajikan-kebajikan agung”. (Hardiman,2007:34)
    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  5. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Assalamu'alaikum wr wb
    Terimakasih Pak, berdasarkan postingan ini saya ingin menanggapi pertanyaan nomor 22 terkait tentang pendidikan. Menurut Plato, pendidikan didasarkan pada pengertian logis psikologi manusia. Seorang anak akan mengetahui alasan ia menyukai atau membenci sesuatu maka ia harus belajar merasakan kenikmatan dan rasa sakit itu. Dari pandangan tersebut sudah seyogyanya pendidikan dijadikan sebagai landasan untuk membangun karakter bangsa, karena tujuan akhir dari pendidikan adalah meningkatkan perkembangan jiwa individu yang mampu membuat pertimbangan dan keputusan yang tepat dalam memperhatikan susunan kehidupan yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  6. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Bismillah. Terimakasih Prof atas postingannya. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 17. Pertanyaan dari Rita Febriyani, yang bertanya “Bagaimana kedudukan Mimpi dalam Filsafat?”. Menurut saya bermimpi ini sama seperti berpikir. Kita membangun gambaran, konsep dan cerita di kepala kita, lalu mengiranya sebagai nyata. Namun, setelah diteliti lebih dalam, gambaran itu ternyata salah. Mirip seperti mimpi, ia pun segera berlalu, dan hanya menyisakan setitik ingatan. Ketika kita berpikir, apa yang kita pikirkan akan melekat lebih lama. Namun dari berpikir, nantinya bisa menjadi sebuah mimpi. Jadi mimpi sebenarnya berawal dar pikiran seseorang yang terlalu dalam, hingga sampai terbawa mimpi.

    ReplyDelete
  7. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan agama? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya kita lihat terlebih dahulu kedudukannya, manakah yang mempunyai kedudukan lebih tinggi antara adat dan agama. Adat berkaitan dengan hubungan kita terhadap sesama manusia, sedangkan agama berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan. Oleh karena itu kedudukan agama lebih tinggi dibandingkan adat. Maka selamanya kita tidak akan bisa menyeimbangkan antara adat dan agama. Namun kita bisa berusaha untuk melakukan kegiatan dalam adat yang tidak melenceng dengan agama yang dianut.

    ReplyDelete
  8. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian? Memang hidup ini penuh ketidakpastian. Sudah dijelaskan bahwa hal yang pasti di kehidupan ini adalah kematian, rizki dan jodoh. Hidup ini penuh misteri. Kenapa? Agar manusia terus berusaha untuk menjadi lebih baik dengan doa dan usaha. Jika manusia diperlhatkan takdirnya, maka ia ytak akan ada usaha untuk meraih kebaikan tersebut.

    ReplyDelete
  9. Junianto
    PM C
    17709251065

    Menanggapi pertanyaan yang nomer 2 tentang bagaimana menyikapi filsafat dengan bijaksana. Sesungguhnya kebijasanaan sendiri merupakan hal yang sangat sulit dinilai karena terkadang terdapat unsur subjektivitas. Namun, menurut pandangan saya kebijaksanaan bisa juga dilihat dari kebermanfaatan yang akan dirasakan. Jadi, kebijaksanaan bisa dilihat dari bagaimana pengaruh suatu keputusan terhadap objek yang menerima keputusan.

    ReplyDelete
  10. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seputar filsafat yang dilontarkan oleh kawan-kawan diatas, dapat menunjukkan bahwa kepahaman dan kekuatan filsafat diri mereka sudah bagus. Saya yang merasa baru mendapatkan sebenar-benarnya ilmu filsafat dari artikel-artikel bapak, masih harus memahami dengan membaca berulang kali setiap paragraf dalam artikel bapak. Namun demikian, ada hal yang ingin saya tanyakan pula kepada bapak, bagaimana cara bapak menilai sejauh mana seseorang memiliki pemahaman dan filsafat diri? sedangkan yang paling saya ingat yang pernah bapak katakan yakni filsafat adalah dirimu sendiri, bisakah bapak menilainya? Indikator yang seperti apakah yang bapak gunakan? Terimakasih.

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Tertarik dengan yang ini:
    "Akbar Pratama:
    Bagaimana Filsafat dapat membantu seseorang mengetahui jati dirinya?"

    Saya selalu teringat dengan apa yang disampaikan Bapak Marsigit pada kuliah perdana kala itu. "Sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri". Dan ternyata filsafat adalah aktivitas berfikir yang ada dan yang mungkin ada. Jadi Mas Akbar, menurut saya dengan keasadaran kita, dengan kemampuan dan kemauan kita untuk berpikir, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari hakikat-hakikat, mencarai tesis, mencari nati-tesis, mensintesiskan apapun yang ada di dunia ini akan membawa kita pada jati diri kita sesungghnya.

    ReplyDelete
  12. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Saya mencoba menanggapi soal nomor 1
    Menurut saya, agar antara adat dan agama seimbang, saya lebih condong pada agama yang menyeimbangi adat. Kenapa demikian? Karena pada dasarnya agama tidak akan berkembang jika menghilangkan adat yang sudah ada. Contohnya di Indonesia. Jika para walisongo menyebarkan agama dengan cara memaksa dan menghilangkan adat mereka yang sudah lama, maka Islam tidak akan berkembang sebesar sekarang ini. Konsep dakwah yang diajarkan walisongo yaitu dengan menghormati adat mereka namun memasukkan unsur agama islam sedikit demi sedikit sehingga antara agama dan adat akan seimbang dan tidak saling bertolak belakang.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  13. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no.2 yaitu bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksana. Menurut saya dalam berfilsafat kita harus memahami ruang dan waktu. Dalam berfilsafat harus sesuai ruang dan waktu. Jika tidak sesuai ruang dan waktu maka hanya akan menjadi omong kosong belaka. Contoh yang pertama yaituharus sesuai umur. Berfilsafatlah dengan orang dewasa yang sudah mengenal filsafat bukan dengan anak kecil atau malah balita. Contoh yang kedua adalah lokasi tang tepat. Berfilsafatlah di dalam mata kuliah filsafat jangan di mata kuliah yang serius seperti kalkulus. Contoh ketiga perhatikan kemampuan orang yang kita ajak berfilsafat. Berfilsafatlah dengan orang yang mengenal ilmu filsafat bukan dengan tukang sayur di kampung atau penjual pecel di pasar.
    Selanjutnya saya akan menanggapi pertanyaan no.12 yaitu bagaimana filsafat dapat membantu seseorang mengetahui jati dirinya. Filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah diri kita sendiri. Memandang diri sendiri menurut kacamata filsafat berarti menengok segala jenis filsafat di dalam dirik kita masing-masing. Tanyakan kepada diri kita apakah kita menjadi guruyang otoriter atau guru yang demokratis. Seorang anak yang idealis atau anak yang realis, seorang tua yang spiritualis atau yang kapitalis, dan sebagainya. Merefleksi semua yang ada di dalam diri kita yang kita lakukan di kehidupan kita. Diri kita adalah hidup kita. Jadi, kita dapat mengkonstruksi hidup dengan filsafat.

    ReplyDelete
  14. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya akan mencoba menangggapi pertanyaan mengenai “Bagaimana pandangan Filsafat mengenai keridhoan hati karena jangan sampai kita kehilangan syukur atas semua yang telah ditakdirkan?”Kita menyadari bahwa hidup di dunia tidak ada yang kekal, yang kekal,absolut, dan mutlak itu hanya milik Tuhan.Segala sesuatu yang meliputi alam semesta ini adalah hasil karya-Nya,seperti batu,pohon, tanah, dan air adalah bagian dari karya-Nya.Hidup ini adalah titipan, Jadi Allah berhak mengambil kapan saja apa yang kita miliki karena itu merupakan hak proregatif-Nya yang tidak bisa di ganggu gugat.Makanya banyak bersabar dan ikhlas, dan berdoa.Itu merupakan kunci agar kita ridho atas segala ujian yang kita hadapi.Kalau hati ikhlas, dan ridho maka hati kita akan membuka ruang yang besar untuk bersyukur meski masalah yang seringkali mendera kita.Kalau kita banyak bersyukur , maka Allah akan tambah nikmat tersebut,dan jika kita ingkar, maka azab Allah akan datang menghampiri kita.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  15. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Assalamualaikum wr wr, saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan nomor 4 dari Samsul Feri Apriayadi tentang cara memandang ketidakpastian, menurut saya tidak ada sesuatu yang pasti dalam kehidupan ini, sebab sesuatu yang pasti itu adalah ketidakpastian itu sendri. Seperti halnya kita yang tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi nanti, besok, atau seterusnya, yang bisa kita lakukan dalam memandang ketidakpastian ini hanyalah menyiapkan diri untuk menghadapinya. Sesungguhnya kepastian itu hanyalah mutlak milik Allah SWT, sebagai hambanya yang perlu kita lakukan adalah ikhtiar, berdoa dan bertawakal.

    ReplyDelete
  16. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PM A, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 11 dari saudara Darul Ulum. Pertanyaannya adalah apa kriterai yang dapat digunakan untuk mengetahui bahwa seseorang telah berfilsafat. Menurut Jujun S. Suriasumantri, terdapat 3 karakteristik berpikir filsafat. Yang pertama adalah “sifat menyeluruh”. Sifat menyeluruh yang dimaksudkan disini adalah bahwa seseorang tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Ia ingin melihat dari sudut pandang atau konteks pengetahuan lainnya. Yang kedua adalah “sifat mendasar”. Sifat mendasar dimaksudkan bahwa seseorang tidak lagi percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Ia berusaha mencari kebenaran ilmu tersebut, bagaimana prosesnya, apa kriterianya, dst. Dan yang ketiga adalah “sifat spekulatif”. Sifat spekulatif bahwa seseorang hanya berspekulasi terhadap ilmu, bahwa tidak mungkin ia dapat menangguk ilmu secara keseluruhan dan bahkan ia tidak yakin terhadap titik awal yang menjadi dasar pemikiran.

    ReplyDelete
  17. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari beberapa pertanyaan diatas, saya akan mencoba untuk memberikan pendapat mengenai pertanyaan “Bagaimana konsep kedewasaan seseorang menurut kacamat Filsafat”
    subtansi filsafat adalah “Berpikir”, Kedewasaan berpikir ini terfokus pada pembentukan pola pikir yang dewasa, dan kedewasaan berpikir ini terdiri dari beberapa point penting yaitu sibjektivitas dan objektivitas.

    ReplyDelete
  18. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    saya tertarik untuk mencoba menanggapi pertanyan dari Furintasari terkait dengan bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama. Menurut pandangan saya, Agama adalah pedoman keyakinan individu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan adat adalah instrument atau norma yang dilaksanakan oleh sekelompok masyarakat untuk dapat mencapai tujuan agama yang ideal. Jadi sesungguhnya tidak ada pertentangan sedikitpun antar agama dan adat. Yang ada justru pertentangan antar adat, dan itu adalah sah-sah saja karena tiap manusia memiliki hak untuk menafsirkan tata cara menuju jalan agama yang ideal.

    ReplyDelete
  19. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang pertanyaan “Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat?”
    Manusia adalah makhluk yang dipilih Tuhan untuk diberikan kesempatan untuk memilih. Dalam hidup ini, manusia yang menentukan sendiri apa yang akan menjadi jalan hidupnya. Seseorang akan memilih untuk memiliki semangat tinggi dan bermanfaat atau justru menjadi manusia yang sebaliknya. Untuk menjadi seseorang yang memiliki semangat dan bermanfaat hendaknya manusia terus berusaha untuk belajar, membuka diri, menambah wawasan agar dapat memandang kejadian di luar sana sehingga menjadikan dirinya tertantang untuk terus maju dan mampu bersaing dengan orang-orang yang berpikir luas. Juga harus selalu berusaha untuk berpikir kritis. Selain itu, agar dalam berpikir dan bertindak dapat bermanfaat hendaknya dilandaskan pada keikhlasan hati dan spiritual. Jadi untuk menggapai semangat dan manfaat maka diperlukan berpikir kritis dan keikhlasan.

    ReplyDelete
  20. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ikhlas merupakan hal yang sangat sulit dilakukan oleh manusia, karena dalam diri setiap manusia terdapat emosi dan egoisme yang harus dikontrok. Sehinga untuk mencapai suatu keikhlasan sangatlah sulit. Keihklasan adalah ketika kita sudah tidak mengingat-ngingat serta tidak mengungkit apa yang telah kita lakukan atau orang lain lakukan kepada kita, dalam konteks ini yaitu memaafkan. Jika dalam hati masih merasa sakit akan apa yang orang lain lakukan kepada kita, dan kita menyebutnya telah memaafkan, maka itu maaf yang bukan sebenar-benarnya karena belum ada ikhlak memaafkan didalamnya. Oleh karena itu mari kita mencoba untuk ikhlas menerima apapun yang telah terjadi dalam hidup ini, baik hal yang baik ataupun hal yang buruk. Amin

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  21. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mbak Ainun Fitriani:
    Bagaimana menerapkan Filsafat secara bijaksana?
    Menurut saya menerapkan filsafat secara bijaksana itu yaitu dengan menerapkannya pada ruang dan waktu yang tepat. Sesuai dengan konteks apa yang sedang dibicarakan, dengan siapa kita berbicara, dimana dan kapan kita berbicara. Filsafat tidak ada benar atau salah, namun hanya ada tepat atau tidak ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  22. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Ikhlas dari sudut pandang pikiran dan hati artinya menuju yang hakiki. Ikhlas yang hakiki itu yaitu berorientasi kepada Allah SWT. Kita menyadari dan percaya bahwa apa yang diberikan oleh Allah itu adalah yang terbaik. Kita menyerahkan diri kepada sang Pemilik seluruh alam ini. Dengan begitu pikiran dan hati akan merasa tenang.

    ReplyDelete
  23. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PM A, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 15 dari saudara Hasan Djidu. Pertanyaannya adalah bagaimana memaknai ikhlas dari sudut pandang pikiran dan hati. Berdasarkan yang saya pahami dari perkuliahan dengan Pak Prof. Marsigit, ikhlas hati adalah ikhlas dalam mempelajari ilmu filsafat dengan arti kata mempelajarinya dengan hati senang, tanpa paksaan dan tanpa beban. Dan ikhlas pikiran adalah ketika mempelajari ilmu filsafat selalu berusaha untuk memahami dan menelaah apa yang telah dibaca.

    ReplyDelete
  24. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- Pascasarjana
    17701251037

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 14 yang diajukan oleh Chairun Nisa Zarkasyi tentang
    konsep kedewasaan seseorang menurut kacamata filsafat. Seseorang dikatakan bersikap dewasa apabila ia dapat bersikap sesuai ruang dan waktu. Bukankah hanya anak kecil yang menangis keras di tengah keramaian? Anak tersebut dikatakan masih bersifat kekanakan karena belum dapat bersikap sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  25. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan bagaimana filsafat memandang kehiudpan yang penuh ketidakpastian? Menurut saya memandang kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian ini adalah dengan selalu berusaha dan berdoa. Manusia hanya bisa berusaha, setelah usaha itu dilakukan semaksimal mungkin, tinggal berdoa dan berpasrah diri kepada Allah swt. Karena yang pasti atau takdir hanya Allah lah yang mengetahuinya.

    ReplyDelete
  26. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dari pertanyaan-pertanyaan diatas saya mencoba memberikan komentar mengenai pertanyaan dari Eny Sulistyaningsih bagian b yang menanyakan Bagaimana pandangan Filsafat tentang hubungan antara Rencana dan Implementasi?, Menurut saya rencana adalah serangkaian kegiatan yang ingin dilakukan yang berdasarkan pikiran, kegiatan-kegiatan tersebut baik setidaknya untuk diri sendiri sedangkan implementasi merupakan usaha yang dilakukan untuk mewujudkan rencana, jadi keduanya saling berhubungan meskipun terkadang antara rencana dan implikasi terdapat perbedaan-perbedaan.

    ReplyDelete
  27. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Bismillahirahmanirrahimm..
    saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari Ainun Fitriani yaitu tentang Bagaimana menerapkan Filsafat secara bijaksana?
    menurut saya setelah mendapatkan pengetahuan -pengetahuan atau ilmu dari perkuliahan serta tugas membaca yang diberikan oleh Prof Marsigit sendiri, filsafat selalu dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan penerapannya pun pasti amat bijaksana. yang paling sangat berkesan disaya ialah filsafat mengajarkan kita hakikat diri yang harus sesuai ruang dan waktu. untuk menerapkan filsafat secara bijaksana berarti kita harus tau kita sedang apa kita sedang dimana, contoh ketika kita jadi mahasiswa maka ikhlas lah jadi mahasiswa, ketika kita sedang jadi kawan sebaya maka ikhlasnya menjadi kawan sebaya. sekian mohon maap atas segala kekurangannya dan kepada Allah saya mohon ampun.

    ReplyDelete
  28. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, saya mohon ijin untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian?”
    Jawab:
    Jauh itu relatif, naik itu relatif, marah itu relatif, senang itu relatif, semua yang ada dan yang mungkin ada itu relatif. Hakikat kepastian itu hanya milik Allah swt. Ketetapan yang hakiki itu hanya Allah yang tahu. Saat kita telah terpilih oleh Allah untuk mampu menjalani hidup, adakah yang menjamin kita hidup enak tanpa cobaan, ujian, hambatan dan rintangan. Manusia hanya menjalankan hidup menurut perannya. Potensi yang dimiliki hendaklah diasah terus menerus sampai ia berada pada titik maksimal dalam menjalankan segala aktivitas hidupnya. Apa yang mampu manusia lakukan adalah tempatkanlah segala pikiran, hati, dan perbuatan nya sesuai pada ruang dan waktunya dengan hati tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun. Karena sejatinya manusia tidak akan pernah tahu apa saja yang telah menjadi ketetapanNya. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  29. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, saya akan mencoba lagi menjawab pertanyaan “Bagaimana memaknai Ikhlas dari sudut pandang Pikiran dan Hati?”
    Jawab:
    Ikhlas adalah rahasia dalam rahasia. Berbicara mengenai ikhlas dalam pikiran, tentu sesuatu yang abstrak dan tidak satupun orang mengetahui sejauh mana keikhlasan seorang yang lain dalam berpikir. Sebenar-benar manusia yang hidup adalah ketika ia berpikir. Tanpa berpikir, ia dapat dikatakan tidak hidup karena ia tidak memikirkan akan suatu hal. Dari sudut pandang pikiran, ikhlas berarti ia terbuka dan mau menerima segala informasi dan tidak menutup diri dengan informasi yang relevan dengan pengetahuan kontemporer. Ketika ia telah memiliki ilmu, kemudian ia transfer apa yang telah ia miliki kepada oranglain, lalu ia selalu berusaha ilmu baru dan informasi yang relevan tanpa menutup diri atau mengelak dengan teori baru yang mungkin lebih baik, itulah ikhlas dalam pikiran. Sedang ikhlas dalam sudut pandang hati, erat kaitannya dengan langit dan bumi. Langit, kaitannya dengan Tuhan, kita dituntut untuk melakukan segala penghambaan diri kepadaNya tanpa mengaharp apapun balasan dariNya. Bumi, kaitannya dengan manusia dan makhluk hidup yang lain, kita diminta dan dituntut untuk mampu melakukan segala yang ada dan yang mungkin ada dengan kerendahan dan ketulusan tanpa mengharap balasan atau imbalan dari siapapun. Mungkin mudah untuk dikatakan, namun tidak semua orang mampu untuk ikhlas dalam pikiran dan hati sesuai ruang dan waktunya. Wallahu’alam bishowab, semoga kita termasuk golongan manusia yang ikhlas dalam pikiran dan hati. Amin.

    ReplyDelete
  30. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan "bagaimana memahani karkateristik siswa pada pbm matematika menurut sudut pandang filsafat?". Setiap siswa pasti berbeda karakteristik dan tidak mungkin sama karakteristik. Filsafat pun memandang setiap siswa itu berbeda beda. Pengalaman yang dimiliki akan tumbuh bersama dengan pengetahuan. Beda pengalaman, beda juga karakteristiknya. Sebagai guru kita harus memahami itu. Bukan bertujuan untuk menyamakan karakteristik, tetapi menjaga karakteristik yang dimiliki siswa. Karena karakteristik dapat mengembangkan ilmu yang diperolehnya.

    ReplyDelete
  31. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya ingin mencoba lagi menjawab pertanyaan "bagaimana filsafat memandang cara untuk mengatasi kenakalan remaja?". Kenakalan remaja merupakan bagian dampak dari pengetahuan yang salah. Ingin mencoba hal baru yang menurutnya baik, tetapi salah menurut aturan. Kenakalan itu pasti awalanya dari pikiran dan niat anak itu sendiri. Pikiran yang buruk tanpa dibarengi pengetahuan yang logis, juga bisa menyebabkan kenakalan remaja. Mengatasi itu semua bisa menggunakan cara persuasif. Dengan pendekatan yang halus dan memberikan saran saran. Karena remaja itu sifatnya masih labil. Mereka belum berpikir akan masa depan. Mereka hanya berusaha untuk menggali karakteristik atau jati dirinya. Semua pengetahuan itu perlu adanya guru. Guru itu tidak hanya di sekolah melainkan di keluarga maupun lingkungan rumah

    ReplyDelete
  32. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya akan mencoba menuliskan pendapat saya tentang pertanyaan bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksan. Berfilsafat mengajarkan kita untuk menjadi manusia cerdas yaitu mampu membaca ruang dan waktu. Oleh karena itu menerepkan filsafat yang bijaksana tentunya jika diterapkan pada ruang dan waktu yang tepat juga.

    ReplyDelete
  33. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya mencoba memaparkan pendapat mengenai pertanyaan no 1 berkaitan dengan bagaiman menyeimbangkan adat dan agama. Menyeimbangkan antara agama dan adat seringkali menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Apalagi Indonesia merupakan negara yang kaya akan adat istiadat yang berbeda-beda dari warisan nenek moyang terdahulu. Khususnya di Jawa, adat dan budayanya masih terpengaruh dengan agama terdahulu yang notabene masih banyak dipertentangkan saat ini. Namun, menyikapi hal itu harus bijak dan harus mengetahui situasi dan kondisi agar budaya dan agama bisa berjalan berdampingan. Tentu adat istiadat tidak semuanya bertentangan dengan agama, maka dari itu laksanakan adat istiadat yang tidak bertentangan ini sebagai wujud tindakan pelestarian budaya. Namun, berkaitan dengan adat istiadat yang masih dinilai bertentangan dengan agama tentu masing-masing dari kita bisa mengambil sikap yang bijak terkait cara menyikapinya. Yang terpenting adalah jangan sampai kita melalaikan keduanya.

    ReplyDelete
  34. Pertanyaan no 4 tentang bagaimana memandang hidup penuh dengan ketidakpastian cukup menarik bagi saya. Saya mencoba berpendapat sesuai dengan kapasitas saya sebagai mahasiswa. Ketidakpastian dalam hidup ini kita rasakan karena kita memiliki sudut pandang pribadi. Bisa jadi ketika kita memandang hidup dengan sudut pandang yang lain, ketidakpastian itu akan berubah menjadi kepastian. Memandang hidup yang penuh ketidakpastian sebenarnya berkaitan dengan bagaimana kita meyakini sesuatu. Jadi, menurut saya jika kita berusaha dengan sekuat tenaga, merencanakan segala sesuatu dengan matang, serta berdoa kepada Tuhan akan hasil terbaik, maka ketidakpastian itu akan berubah menjadi kepastian. Hal ini menunjukkan bahwa hasil yang akan kita peroleh (merupakan ketidakpastian) bisa kita prediksi dari apa yang sudah kita persiapkan dan laksanakan untuk mencapainya.

    ReplyDelete
  35. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menanggapi pertanyaan no 13. Bahwa dalam memandang kehidupan ini kita harus berpikir bijaksana dan adil. Belum tentu sombong itu buruk, bisa saja sombong itu baik yaitu berdasarkan ruang dan waktunya. Sebagai contoh sombong yang baik adalah sombong dalam memberikan sumbangan uang kepada pengungsi rohingya, dia sombong dengan niat supaya banyak orang yang melihat dan tertarik untuk mengikutinya dalam memberi sumbangan. Jadi segala sesuatu itu harus sesuai ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  36. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari Ainun Fitriani dengan pertanyaannya “bagaimaan menerapkan filsafat secara bijaksana?”. Menurut saya berfilsafat yang bijaksana adalah ketika sesuai dengan ruang dan waktunya dan cukup ruang dan waktunya. Karena jika tidak sesuai dan tidak cukup ruang dan waktunya, hanyalah sia-sia saja dan hanya menimbulkan masalah. Dan orang yang bijak berfilsafat adalah ketika mampu menjelaskan sesuatu yang tersulit sekalipun menjadi mudah dipahami oleh awam sekalipun.

    ReplyDelete
  37. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Pertanyaan bisa merupakan indikasi seseorang menyukai hal yang diatnayakan tersebut sehingga ingin mengetahui jawaban yang tepat. Saat perkuliaha filsafat, kami sering diberikan kesempaan untuk bertanya. Kami dieprbolehkan bertanya mengenai apapun sehingga hal tersebut akan mampu meningkatakan kreatifitas kami dalam bertanya apalagi setiap pertanyaa tersebut tidak boleh sama dengan mahasiswa lainnya. Karna proses bertanya merupakan salah satu cara untuk mengetahui suatu pengetahuan secara lebih maka untuk meningkatkan kualitas pertanyaannya dapat dengan meningkatkan pengetahuan dan pengalamannya sehingga akan menimbulkan jawaban dan pertanyaan yang berbeda dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  38. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 17, bagaimana kedudukan mimpi dalam filsafat?, menurut saya mimpi adalah refleksi dari segala kegiatan yang telah dilakukan, terkadang mimpi yang hadir itu adalah imaginasi yang terpikirkan oleh manusia disaat sadar, lalu terbawa mimpi akibat terlalu memikirkan dan membayangkan masalah tersebut. Memang terkadang mimpi itu ada benarnya, tapi terkadang banyak yang salah. Tapi tidak jarang juga mimpi itu termasuk salah satu godaan setan, sehingga menjadi sebuah mitos. Maka akan lebih baik jika kita sebagai manusia jarang terlalu memegang kepada mimpi. Beda nilainya jika mimpi yang sama terus hadir sebagai bentuk petunjuk Allah terhadap apa yang kita doakan. Maka dari itu ikuti sunnah nabi Muhammad SAW tentang adab sebelum tidur, baik berwudhu dan berdoa sebelum tidur.

    ReplyDelete
  39. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan "Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama?"
    Menurut wikipedia, Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. jika dikaitkan dengan agama kita harus berhati-hati dalam mengikuti adat, karena mungkin saja ada adat yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. jika yang bertentangan itu bisa kita luruskan maka seyogyanya kita bisa memberikan pengarahan kepada masyarakat, namun jika keterbatasan kita untuk meluruskan hal tersebut maka kita harus menghormati namun tidak ikut-ikutan.

    ReplyDelete