Oct 31, 2014

Pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PMP2TK 2014




Pertanyaan-pertanyaan berikut muncul dari para Mahasiswa  pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PMP2TK) Hari Jum'at, 31Oktober 2014 pk 15.40 sd 17.20 di R. 106 A Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Silahkan para pembaca yang budiman untuk berusaha menjawab atau menanggapi satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selamat berfilsafat, semoga selalu diberi kecerdasan pikiran dan hati. Amin.


1. Muhammad Afdhal:
Bagaimana pandangan Filsafat mengenai Bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu?

2. Fitria Habsah:
Apa hakikat Pengetahuan Subyektif dan Pengetahuan Objektif?

3. Choirul Mahmudah:
Bagaimana cara menembus Ruang dan Waktu?

4. Umi Hasanatul Latifah:
Mohon dijelaskan hubungan antara Ikhtiar dan Takdir?

5. Ivone Marlinda:
Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?

6. Asdar:
Bagaimana hubungan antara Relatif dan Absolut?

7. Fitraning Tyas:
Bagaimana kedudukan Objek Filsafat (yang Ada dan yang mungkin Ada) dalam konteks Spiritualitas?

8. Ai Sadidah:
Bagaimana hubungan antara Wadah dan Isi?

9. Anggraeni Ratna:
Bagaimana Filsafat mampu menjelaskan Hukum Sebab-Akibat?

10. Bukhori:
Apa persamaan dan perbedaan antara Ilmuwan dan Filsuf?

11.Hadi Sutrisno:
Apa saja sumber-sumber Ilmu dan bagaimana pembenarannya?

12. Aji Wibowo:
Bagaimana hubungan antara Etik-Etik dan Estetika-estetika yang ada di seluruh Dunia?

13. Ririn Aprianita:
Pancasila itu termasuk Filsafat apa?

14. Anggoro Eko Yuni Cahyono:
Bagaimana hubungan antara Psikologi dan Filsafat?

15. Desiana Margayanti:
Apakah yang disebut sebagai Kebaikan Tertinggi menurut Filsafat?

16. Dwi Cahya Sari:
Bagaimana Filsafat mampu menjelaskan pergulatan antara Baik-Buruk dan Benar-Salah, seperti halnya yang diceritakan dalam Kisah Mahabarata?






9 comments:

  1. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari kumpulan “pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PMP2TK 2014” kami (saya) sangat tertarik dengan pertanyaan Dwi Cahya Sari: “Bagaimana Filsafat mampu menjelaskan pergulatan antara Baik-Buruk dan Benar-Salah, seperti halnya yang diceritakan dalam Kisah Mahabarata?”. Menurut J.J. Rousseau bahwa manusia itu kodratnya baik, akan tetapi dibusukkan oleh kebudayaan.(Hardiman, 2007: 120) jika kita melihat pada kisah mahabaratha, konflik-konflik yang terjadi pada dasarnya adalah terjadi karena konflik kebudayaan dan pemikiran. Jika kita menilik pemikiran Blaise Pascal (1623-1662), Pascal memandang manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah (Tuhan). Dalam pandangannya manusia itu sebagai makhluk yang nista sekaligus makhluk yang luhur. (Hardiman, 2007:61). Dalam pandangannya dalam pikiran manusia selalu ada perang batin yaitu akal-budi melawan nafsu-nafsu, di mana akal-budi selalu berusaha menghapuskan nafsu-nafsu dan sebaliknya, tetapi itu tidak akan pernah terjadi (salah satu diantaranya terhapus). Dalam kisah mahabarata tersebut kita juga bisa melihat bahwa perang atau konflik yang terjadi adalah perang akal-budi melawan nafsu-nafsu, dan itu terjadi di masing-masing, baik di pihak pandawa maupun rahwana, Bahkan pada diri Basudewa Krisna pun terjadi perang batin, dimana setelah mengetahui bahwa kakaknya Balaram, tidak memihak siapa pun karena dia melihat ada kenistaan di kedua belah pihak.

    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  2. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Menanggapi pertanyaan nomor 5, yaitu: Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?
    Menurut saya, setiap pertanyaan pasti mempunyai jawaban. Layaknya kejadian pasti ada sebab dan alasan. Namun yang perlu dipahami disini adalah bahwa tidak semua pertanyaan itu harus dijawab. Memang ada beberapa pertanyaan itu bersifat pribadi.

    ReplyDelete
  3. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya ingin memberi tanggapan mengenai pertanyaan no 8, mengenai hubungan antara wadah dan isi. Menurut saya wadah adalah batasan dari kemampuan menampung sesuatu, sedangkan isi adalah banyaknya hal yang akan ditampung di dalam wadah. Sebagai mana seseorang mungkin saja kmemiliki wadah yang besar dalam artian dia isa menerima ilmu yang banyak, namun tidak memiliki isi yang banyak pula karena keinginan untuknya menimba ilmu tidak sebesar kapasitas sebenarnya, jadi wadah adalah pemberian, dan isi adalah usaha.

    ReplyDelete
  4. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak postingannya. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ke 10 oleh pak Bukhori yang bertanya "Apa persamaan dan perbedaan antara Ilmuwan dan Filsuf?". Menurut pendapat saya, ilmuwan dan filsuf adalah orang yang menguasai sebuah ilmu. Jadi ilmuwan dan filsafat sama sama memiliki keahlian yang sama yaitu menguasai ilmu. Bedanya, jika filsuf adalah orang yang menguasai ilmu filsafat, dan ilmuwan adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan, biasanya bidang sains tertentu. Seorang filsuf berpikir dengan teliti dan menurut aturan yang pasti dalam artian tidak boleh melanggar aturan berpikir yang telah dibuatnya sendiri (aturan berpikir dapat juga dikatakan sebagai prinsip). Seorang filsuf berpikir secara rasional, komperhensif, radikal, dan universal. Filsuf harus melihat sesuatu dari berbagai sudut sebelum mengemukakan sesuatu dan argumennya tidak boleh saling bertentangan. Sedangkan seorang ilmuwan menguasai ilmu sains yang pada dasarnya berpikir secara empiris, sistematik, obyektif, analistis, dan verifikatif. Mereka pada dasarnya menguasai ilmu secara mendalam dan terperinci, merumuskan masalah secara logis berdasarkan pengamatan atau percobaan.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Hakikat pengetahuan subyektif dan pengetahuan objektif menurut Immanuel Kant dalam terdapat pernyataan yang mengandung pertimbangan umum tentang harapan yang memiliki beberapa aturan praktis. Berdasarkan pendapatnya, pengetahuan dinilai subjektif ketika pengetahuan dipandang oleh suatu subjek dan hanya memiliki kebenaran melalui penilaiannya sendiri. Sementara apabila pengetahuan merupakan memiliki kebenaran untuk setiap pemikiran rasional, maka pengetahuan tersebut disebut pengetahuan objektif. Penilaian ini merupakan hasil dari penalaran, karena hal tersebut menjadi ketetapan dari suatu tindakan yang memiliki pengaruh. Untuk diperoleh pengetahuan yang objektif diperlukan bukti-bukti empiris dan dikomunikasikan dengan subyek lain. Dengan demikian akan tercapai kesepakatan sehingga menjadi pengetahuan objektif.

    ReplyDelete
  7. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya mencoba menjawab mengenai hubungan sebab akibat sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang saya miliki. Mohon Prof Marsigit dapat meluruskan jika ada jawaban saya yang salah. Sebab dan akibat merupakan dua haa yang tidak dapat dipisahkan. Tidak mungkin ada akibat jika tidak ada sebab, begitu pula adanya sebab akan menimbulkan akibat. Akibat yang terjadi karena sebab, akan menjadi sebab bagi akibat yang lain. Begitu seterusnya dan tidak akan ada habisnya, akibat bisa menjadi sebab untuk akibat yang lain.

    ReplyDelete
  8. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan no 4 dari Umi Hasanatul Latifah “ mohon dijelaskan hubungan antara ikhtiar dan takdir”. Menurut saya antara ikhtiar dan takdir itu saling terkait dan sejalan, sebab ikhtiar itu merupakan usaha seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya, qadha dan qadar ada adalah takdir yaitu ketetapan allah. Meskipun pada dasarnya takdir kita sudah ditetapkan oleh allah dari sebelum kita dilahirkan ke dunia sampai kita meninggal dunia, namun ada takdir yang dapat kita ubah (takdir muallaq). Kita sebagai manusia dianjurkan untuk berusaha memperoleh apa yang kita inginkan melalui ikhtiar, kerja keras dan berdoa, sedangkan hasil dari ikhtiar kita itu merupakan takdir. Jika allah menghendaki insya allah kita akan memperoleh hasil dari ikhtiar kita. Allah maha mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk kita.

    ReplyDelete
  9. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Filsuf dan ilmuwan merupakan pemikir-pemikir yang hasil pikirannya akan melahirkan teori atau penemuan baru. Menurut saya, perbedaan keduanya terletak pada obyek yang menjadi fokusnya. Filsuf, adalah seorang ahli filsafat yang pikirannya akan berpusat di sekitar obyek pemikiran, cabang-cabang paham filsafat, membuat revolusi pemikiran terhadap paham yang dianggap bertentangan dengannya, dan menyusun pemikirannya menjadi argumen yang tidak saling bertentangan sehingga dapat disebut sebuah teori. Ilmuwan, bekerja pada obyek tertentu yang menjadi bidang keahliannya. Sama seperti filsuf, ia akan menemukan teori baru namun bukan dari penafsirannya terhadap pemikiran, melainkan melalui percobaan atau penelitian yang dilakukan. Filsuf dan ilmuwan sebenarnya melahirkan teori-teori yang seharusnya berkesinambungan menjaga keseimbangan kehidupan kita di dunia. Seperti pendapat Descartes yang menyatakan “Prinsip-prinsip dasar ilmu diambil dari filsafat”, maka sebenarnya keduanya sama-sama berjalan untuk mengangkat derajat kehidupan manusia.

    ReplyDelete