Oct 31, 2014

Pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PMP2TK 2014




Pertanyaan-pertanyaan berikut muncul dari para Mahasiswa  pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PMP2TK) Hari Jum'at, 31Oktober 2014 pk 15.40 sd 17.20 di R. 106 A Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Silahkan para pembaca yang budiman untuk berusaha menjawab atau menanggapi satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selamat berfilsafat, semoga selalu diberi kecerdasan pikiran dan hati. Amin.


1. Muhammad Afdhal:
Bagaimana pandangan Filsafat mengenai Bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu?

2. Fitria Habsah:
Apa hakikat Pengetahuan Subyektif dan Pengetahuan Objektif?

3. Choirul Mahmudah:
Bagaimana cara menembus Ruang dan Waktu?

4. Umi Hasanatul Latifah:
Mohon dijelaskan hubungan antara Ikhtiar dan Takdir?

5. Ivone Marlinda:
Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?

6. Asdar:
Bagaimana hubungan antara Relatif dan Absolut?

7. Fitraning Tyas:
Bagaimana kedudukan Objek Filsafat (yang Ada dan yang mungkin Ada) dalam konteks Spiritualitas?

8. Ai Sadidah:
Bagaimana hubungan antara Wadah dan Isi?

9. Anggraeni Ratna:
Bagaimana Filsafat mampu menjelaskan Hukum Sebab-Akibat?

10. Bukhori:
Apa persamaan dan perbedaan antara Ilmuwan dan Filsuf?

11.Hadi Sutrisno:
Apa saja sumber-sumber Ilmu dan bagaimana pembenarannya?

12. Aji Wibowo:
Bagaimana hubungan antara Etik-Etik dan Estetika-estetika yang ada di seluruh Dunia?

13. Ririn Aprianita:
Pancasila itu termasuk Filsafat apa?

14. Anggoro Eko Yuni Cahyono:
Bagaimana hubungan antara Psikologi dan Filsafat?

15. Desiana Margayanti:
Apakah yang disebut sebagai Kebaikan Tertinggi menurut Filsafat?

16. Dwi Cahya Sari:
Bagaimana Filsafat mampu menjelaskan pergulatan antara Baik-Buruk dan Benar-Salah, seperti halnya yang diceritakan dalam Kisah Mahabarata?






49 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menanggapi pertanyaan tentang hubungan antara Ikhtiar dan Takdir, menurut saya Takdir adalah ketetapan atau aturan yang diciptakan Allah tertulis sejak zaman azali diberuntukan makhluk-Nya. Takdir sendiri ada dua macam, yaitu takdir mubram dimana makhluk tidak diberi peluang atau kesempatan untuk memilih dan mengubahnya, dan takdir muallaq dimana makhluk diberi peluang atau kesempatan untuk memilih dan mengubahnya.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Takdir ada dua macam. Pertama Taqdir Mubram: ketentuan Allah yang mesti berlaku atas setiap diri manusia tanpa bisa dielakkan atau ditawar-tawar lagi. Di mana makhluk tidak diberi peluang atau kesempatan untuk memilih dan mengubahnya Contohnya : datangnya kiamat, jenis kelamin bayi yang akan lahir, jodoh, usia (kematian).

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Takdir yang kedua yaitu Taqdir Mu’allaq: yaitu ketentuan Allah yang mungkin dapat diubah oleh manusia melalui usaha atau ikhtiar, jika Allah mengizinkan. Di mana makhluk diberi peluang atau kesempatan untuk memilih dan mengubahnya. Contohnya : kepandaian, kekayaan dan kesehatan.

    ReplyDelete
  4. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Menanggapi pertanyaan tentang hubungan antara Ikhtiar dan Takdir, Ikhtiar adalah berusaha melakukan segala daya dan upaya untuk mencapai sesuatu sesuai dengan yang dikehendaki. Artinya usaha itu merupakan pilihan bagi manusia. Dia bisa mengerjakan atau pun tidak.

    ReplyDelete
  5. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menanggapi pertanyaan tentang hubungan antara Ikhtiar dan Takdir , contoh ikhtiar yaitu setiap orang mempunyai kebebasan memilih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada yang mencari nafkah dengan berdagang, bertani, menjadi karyawan, wirausaha, dan lain sebagainya. Dan sebaliknya ada yang memilih bermalas-malasan sehingga ia menjadi berat hidupnya.

    ReplyDelete
  6. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Benar bahwa manusia telah ditetapkan rizkinya masing-masing, namun rizki itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus melalui ikhtiar, doa dan yang terakhir ialah tawakkal. Jika kita ingin mendapatkan uang cukup, haruslah kita rajin bekerja. Maka nanti rezeki akan datang melaui kerja kita.

    ReplyDelete
  7. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Berdasarkan pertanyaan nomor 4 yaitu hubungan ikhtiar dan takdir. Dalam kehidupan beragama, mempercayai takdir yang datangnya dari Allah SWT merupakan sebuah kewajiban, karena telah menjadi salah satu rukun iman yang menjadi dasar dari kepercayaan agama Islam. Sebenarnya, walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, bukan berarti manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa ada usaha dan ikhtiar.

    ReplyDelete
  8. Ferry IrwansyahJune 12, 2017 at 8:50 PM

    Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha dan dilarang berputus asa. Yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha untuk mencapai ridha ilahi dengan berusaha untuk taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

    ReplyDelete
  9. Salah satu cara menembus ruang dan waktu adalah melepas jiwa..contoh yang sering kita alami tanpa sadar adalh ketika kita bermimpi

    ReplyDelete
  10. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari kumpulan “pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PMP2TK 2014” kami (saya) sangat tertarik dengan pertanyaan Dwi Cahya Sari: “Bagaimana Filsafat mampu menjelaskan pergulatan antara Baik-Buruk dan Benar-Salah, seperti halnya yang diceritakan dalam Kisah Mahabarata?”. Menurut J.J. Rousseau bahwa manusia itu kodratnya baik, akan tetapi dibusukkan oleh kebudayaan.(Hardiman, 2007: 120) jika kita melihat pada kisah mahabaratha, konflik-konflik yang terjadi pada dasarnya adalah terjadi karena konflik kebudayaan dan pemikiran. Jika kita menilik pemikiran Blaise Pascal (1623-1662), Pascal memandang manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah (Tuhan). Dalam pandangannya manusia itu sebagai makhluk yang nista sekaligus makhluk yang luhur. (Hardiman, 2007:61). Dalam pandangannya dalam pikiran manusia selalu ada perang batin yaitu akal-budi melawan nafsu-nafsu, di mana akal-budi selalu berusaha menghapuskan nafsu-nafsu dan sebaliknya, tetapi itu tidak akan pernah terjadi (salah satu diantaranya terhapus). Dalam kisah mahabarata tersebut kita juga bisa melihat bahwa perang atau konflik yang terjadi adalah perang akal-budi melawan nafsu-nafsu, dan itu terjadi di masing-masing, baik di pihak pandawa maupun rahwana, Bahkan pada diri Basudewa Krisna pun terjadi perang batin, dimana setelah mengetahui bahwa kakaknya Balaram, tidak memihak siapa pun karena dia melihat ada kenistaan di kedua belah pihak.

    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  11. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Menanggapi pertanyaan nomor 5, yaitu: Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?
    Menurut saya, setiap pertanyaan pasti mempunyai jawaban. Layaknya kejadian pasti ada sebab dan alasan. Namun yang perlu dipahami disini adalah bahwa tidak semua pertanyaan itu harus dijawab. Memang ada beberapa pertanyaan itu bersifat pribadi.

    ReplyDelete
  12. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya ingin memberi tanggapan mengenai pertanyaan no 8, mengenai hubungan antara wadah dan isi. Menurut saya wadah adalah batasan dari kemampuan menampung sesuatu, sedangkan isi adalah banyaknya hal yang akan ditampung di dalam wadah. Sebagai mana seseorang mungkin saja kmemiliki wadah yang besar dalam artian dia isa menerima ilmu yang banyak, namun tidak memiliki isi yang banyak pula karena keinginan untuknya menimba ilmu tidak sebesar kapasitas sebenarnya, jadi wadah adalah pemberian, dan isi adalah usaha.

    ReplyDelete
  13. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak postingannya. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ke 10 oleh pak Bukhori yang bertanya "Apa persamaan dan perbedaan antara Ilmuwan dan Filsuf?". Menurut pendapat saya, ilmuwan dan filsuf adalah orang yang menguasai sebuah ilmu. Jadi ilmuwan dan filsafat sama sama memiliki keahlian yang sama yaitu menguasai ilmu. Bedanya, jika filsuf adalah orang yang menguasai ilmu filsafat, dan ilmuwan adalah orang yang menguasai ilmu pengetahuan, biasanya bidang sains tertentu. Seorang filsuf berpikir dengan teliti dan menurut aturan yang pasti dalam artian tidak boleh melanggar aturan berpikir yang telah dibuatnya sendiri (aturan berpikir dapat juga dikatakan sebagai prinsip). Seorang filsuf berpikir secara rasional, komperhensif, radikal, dan universal. Filsuf harus melihat sesuatu dari berbagai sudut sebelum mengemukakan sesuatu dan argumennya tidak boleh saling bertentangan. Sedangkan seorang ilmuwan menguasai ilmu sains yang pada dasarnya berpikir secara empiris, sistematik, obyektif, analistis, dan verifikatif. Mereka pada dasarnya menguasai ilmu secara mendalam dan terperinci, merumuskan masalah secara logis berdasarkan pengamatan atau percobaan.

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Hakikat pengetahuan subyektif dan pengetahuan objektif menurut Immanuel Kant dalam terdapat pernyataan yang mengandung pertimbangan umum tentang harapan yang memiliki beberapa aturan praktis. Berdasarkan pendapatnya, pengetahuan dinilai subjektif ketika pengetahuan dipandang oleh suatu subjek dan hanya memiliki kebenaran melalui penilaiannya sendiri. Sementara apabila pengetahuan merupakan memiliki kebenaran untuk setiap pemikiran rasional, maka pengetahuan tersebut disebut pengetahuan objektif. Penilaian ini merupakan hasil dari penalaran, karena hal tersebut menjadi ketetapan dari suatu tindakan yang memiliki pengaruh. Untuk diperoleh pengetahuan yang objektif diperlukan bukti-bukti empiris dan dikomunikasikan dengan subyek lain. Dengan demikian akan tercapai kesepakatan sehingga menjadi pengetahuan objektif.

    ReplyDelete
  15. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya mencoba menjawab mengenai hubungan sebab akibat sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang saya miliki. Mohon Prof Marsigit dapat meluruskan jika ada jawaban saya yang salah. Sebab dan akibat merupakan dua haa yang tidak dapat dipisahkan. Tidak mungkin ada akibat jika tidak ada sebab, begitu pula adanya sebab akan menimbulkan akibat. Akibat yang terjadi karena sebab, akan menjadi sebab bagi akibat yang lain. Begitu seterusnya dan tidak akan ada habisnya, akibat bisa menjadi sebab untuk akibat yang lain.

    ReplyDelete
  16. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan no 4 dari Umi Hasanatul Latifah “ mohon dijelaskan hubungan antara ikhtiar dan takdir”. Menurut saya antara ikhtiar dan takdir itu saling terkait dan sejalan, sebab ikhtiar itu merupakan usaha seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya, qadha dan qadar ada adalah takdir yaitu ketetapan allah. Meskipun pada dasarnya takdir kita sudah ditetapkan oleh allah dari sebelum kita dilahirkan ke dunia sampai kita meninggal dunia, namun ada takdir yang dapat kita ubah (takdir muallaq). Kita sebagai manusia dianjurkan untuk berusaha memperoleh apa yang kita inginkan melalui ikhtiar, kerja keras dan berdoa, sedangkan hasil dari ikhtiar kita itu merupakan takdir. Jika allah menghendaki insya allah kita akan memperoleh hasil dari ikhtiar kita. Allah maha mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk kita.

    ReplyDelete
  17. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Filsuf dan ilmuwan merupakan pemikir-pemikir yang hasil pikirannya akan melahirkan teori atau penemuan baru. Menurut saya, perbedaan keduanya terletak pada obyek yang menjadi fokusnya. Filsuf, adalah seorang ahli filsafat yang pikirannya akan berpusat di sekitar obyek pemikiran, cabang-cabang paham filsafat, membuat revolusi pemikiran terhadap paham yang dianggap bertentangan dengannya, dan menyusun pemikirannya menjadi argumen yang tidak saling bertentangan sehingga dapat disebut sebuah teori. Ilmuwan, bekerja pada obyek tertentu yang menjadi bidang keahliannya. Sama seperti filsuf, ia akan menemukan teori baru namun bukan dari penafsirannya terhadap pemikiran, melainkan melalui percobaan atau penelitian yang dilakukan. Filsuf dan ilmuwan sebenarnya melahirkan teori-teori yang seharusnya berkesinambungan menjaga keseimbangan kehidupan kita di dunia. Seperti pendapat Descartes yang menyatakan “Prinsip-prinsip dasar ilmu diambil dari filsafat”, maka sebenarnya keduanya sama-sama berjalan untuk mengangkat derajat kehidupan manusia.

    ReplyDelete
  18. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Menjawab pertanyaan nomer 1 dari Muhammad Afdhal:
    Bagaimana pandangan Filsafat mengenai Bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu?
    Menurut saya, setiap orang memiliki bakat yang berbeda-beda, bakatku berbeda dengan bakatmu. Dalam dunia filsafat, dengan adanya bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesutau akan menciptakan kehidupan yang harmonis. Bakat seseorang merupakan anugrah dari Allah yang menjadikan seseorang mempunyai keistimewaan dan menjadi ciri khas yang membedakan dirinya dengan orang lain.
    Trimakasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  19. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Saya akan mencoba menanggapi soal yang diajukan oleh mahasiswa prof pada nomor 2 mengenai apa hakikat pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Saya mengambil sumber dari http://www.kompasiana.com/ujangbandeung/mengungkap-rahasia-istilah-obyektif-subyektif_54f7689ba3331177358b4781 disini dijelaskan bahwa kata subyektif menuju pada sesuatu yang tidak memiliki bukti empirik langsung dan atau sulit diukur dengan pengukuran serba pasti dan terukur. Sedangkan obyektif kurang lebih menunjuk pada sesuatu yang lebih empirik langsung yang bisa diverifikasi oleh pengalaman dunia indrawi dan bisa diukur dengan pengukuran serba pasti dan terukur. Dari pendapat di atas, saya mengambil kesimpulan bahwasannya hakikat dari pengetahuan subyektif adalah pengetahuan yang kebenarannya masih ditanyakan, sedangkan pengetahuan objektif adalah pengetahuan yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  20. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Saya akan mencoba membantu menanggapi pertanyaan no 8, “bagaimana hubungan antara wadah dengan isi”. Saya ilustrasikan saja pada tubuh manusia, wadah adalah jasad dan isi adalah raga. Jasad akan lebih bermanfaat dan ternilai jika ada raga yang menggerakkan jasad sehingga jasad bisa melakukan tindakan yang bermakna, sedangkan raga akan terlihat ideal ketika ada jasad yang menjadi tempat bersemayamnya raga, karena raga merupakan sesuatu yang bastrak dan kasat mata. Artinya kualitas suatu wadah dapat terlihat dari kapasitas isi yang dapat memenuhi ruang di dalamnya begitu juga sebaliknya isi akan terpenuhi apabila wadah mempunyai nilai estetika sebagai daya tariknya. Namun yang perlu di ingat adalah penuhilah isinya sesuai dengan kemampuan daya tamping dari wadahnya karena apa bila terjadi overload maka isi akan terbuang secara sia-sia.

    ReplyDelete
  21. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Bismillah. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan di bawah ini:

    Ivone Marlinda:
    Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?

    Jawaban saya pada pertanyaan saudari Ivone Marlinda adalah "pasti ada". Hanya saja keadaannya bagaimana klasifikasi jawaban tersebut. Apakah jawaban yang menjawab; apakah jawaban yang sesuai dengan keinginan si penanya; apakah jawaban yang pener; dan seterusnya. Bukti bahwa setiap pertanyaan pasti ada jawaban ini terlihat pada kolom-kolom komentar postingan di atas. Meskipun beberapa teman (saya juga) mengawali jawaban dengan "saya akan mencoba menjawab", tapi akhirnya mereka mampu memberikan jawaban. Dan tentang klasifikasi jawaban, adalah tergantung penilaian dan kepuasan si penanya. Terimakasih

    ReplyDelete
  22. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Dari banyak pertanyaan yang ada,saya mencoba menanggapi suatu pertanyaan yang berkaitan dengan menembus ruang dan waktu , Dari refrensi ala kadarnya seperti dari buku,blog dan lainnya.Akhirnya, kami mendapatkan sedikit gambaran , bahwa ruang-waktu relatif menurut ajaran Einstein.Ruang tergantung pengamatnya.Tetapi jika ruang yang satu dan sama itu juga berbeda bagi para pengamat yang letaknya terpisah,maka hal yang demikian ini dapat terjadi karena ruang yang bersangkutan ditinjau dari sudut pandangan masing-masing pengamat.Oleh karena itu, ruang tidak mungkin bersifat mutlak serta obyektif, melainkan senantiasa berhubungan dengan kerangka acuan pengamatnya.Maka ruang tidaklah merupakan sesuatu ynag di dalamnya terdapat benda-benda, melainkan dengan suatu cara pasti sudah dipengaruhi oleh benda-bendanya sendiri, maupun oleh pengamat.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  23. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PMP2TK 2014, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 2 dari saudari Fitria Habsah. Pertanyaannya adalah apa hakikat pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif. Menurut pendapat Jujun S. Suriasumantri, pengetahuan yang bersifat subyektif adalah pengetahuan yang didapatkan dari cara berpikir melalui penalaran rasional yang bersifat abstrak dan terbebas dari pengalaman mengenai satu objek tertentu tanpa adanya pertimbangan yang dapat diterima oleh semua pihak. Kebenaran dari pengetahuan subyektif ini hanya benar dalam kerangka pemikiran orang yang memikirkannya, sehingga untuk melakukan evaluasi dari cara berpikir yang seperti ini akan sulit untuk dilakukan.

    ReplyDelete
  24. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PMP2TK 2014, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 4 dari saudari Umi Hasanatul Latifah. Pertanyaannya adalah mohon dijelaskan hubungan antara ikhtiar dan takdir. Takdir merupakan ketetapan Allah SWT sejak zaman azali, dimana takdir dibagi dalam dua bagian yaitu qodho dan qodar. Sedangkan ikhtiar merupakan usaha manusia untuk mendapatkan hasil yang terbaik, baik itu untuk urusan dunia maupun akhirat.
    Lalu bagaimana hubungan antara keduanya? Dimanakah letak ikhtiar manusia ketika semua telah ditetapkan Allah SWT yang bahkan telah digariskan sejak lama?
    Meskipun manusia dalam setiap gerak geriknya telah ditentukan takdirnya, bukan berarti manusia hanya diam menunggu “nasib” tanpa adanya ikhtiar. Disini manusia memang berkewajiban untuk mengusahakan hasil terbaik bagi dirinya, namun berhasil atau tidak biarkan takdir Allah SWT yang berjalan.

    ReplyDelete
  25. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari beberapa pertanyaan diatas, saya akan mencoba untuk memberikan pendapat mengenai pertanyaan “Bagaimana pandangan Filsafat mengenai Bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu?”
    Menurut saya, bakat seseorang dalam mempelajari atau mengerjakan sesuatu bukanlah modal yang utama. Modal yang utama adalah niat dan kemauan. Dengan niat dan kemauan maka akan mengalahkan semuanya, bahkan jika itu merupakan bakat seseorang. Akan tetapi, dari semua itu akan lebih baik lagi jika bakat sudah ada dan diimbangi dengan niat atau kemauan yang kuat. Mari selalu sertakan niat atau kemauan yang ikhlas dan kuat dalam setiap kita berpikir atau mengerjakan sesuatu. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita.

    ReplyDelete
  26. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PMP2TK 2014, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 11 dari saudara Hadi Sutrisno. Pertanyaannya adalah apa saja sumber-sumber ilmu dan bagaimana pembenarannya. Menurut saya, ilmu itu bisa di dapat dari mana saja. Apa-apa saja yang terdapat di sekitar kita, itulah ilmu. Merujuk pada pendapat Jujun S. Suriasumantri, pada dasarnya terdapat dua pokok bagi manusia untuk mendapatkan ilmu. Yang pertama adalah dengan mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua adalah mendasarkan diri kepada pengalaman.
    Menurut cara pertama yaitu dengan menggunakan rasional atau penalaran dalam menyusun pengetahuan. Pengetahuan didapat dari ide yang menurut mereka jelas dan dapat diterima. Sehingga melalui penalaran yang rasional itulah didapatkan pengetahuan-pengetahuan mengenai satu objek tertentu. Selanjutnya pengetahuan yang bersumber dari pengalaman. Dalam hal ini pengetahuan didapat dari pengalaman yang konkret dimana gejala-gejala yang bersifat konret itu dapat ditangkap oleh pancaindera manusia.

    ReplyDelete
  27. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Saya tertarik untuk menanggapi pertanyaan dari Ivone Marlinda terkait dengan apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban. Bagi saya setiap pertanyaan memiliki jawaban, namun dalam filsafat jawaban bukanlah titik akhir dari filsafat. Yang menjadi ‘jantung’ dari filsafat adalah pertanyaan. Sebenar-benarnya filsafat adalah berpikir, sebenar-benarnya berfikir adalah dalil atau jawaban, sebenar-benarnya dalil atau jawaban adalah pertanyaan.

    ReplyDelete
  28. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang pertanyaan “Bagaimana cara menembus Ruang dan Waktu?”
    Manusia merupakan makhluk yang penuh dengan kontradiksi. Sebagai seorang makhuk manusia terikat oleh ruang dan waktu. Sehingga dalam kehidupan ini manusia harus selalu berusaha untuk melakukan kegiatan atau tindakan sesuai ruang dan waktunya. Untuk dapat menggapai ruang dan waktu maka manusia harus mampu berpikir kritis. Cara agar dapat berpikir kritis adalah dengan menambah wawasan dengan belajar, membaca, dan mau berpikir. Selain itu juga harus memiliki keikhlasan. Keikhlasan dapat digapai dengan cara berdoa dan senantiasa memohon ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dari sekian banyak pertanyaan diatas, saya tertarik dengan pertanyaan hubungan wadah dan isi. Secara harfiah kedua hal tersebut memiliki makna dan dimensi yang berbeda. Namun secara pemikiran wadah dan isi merupakan sesuatu hal yang sama. Dimana setiap ada wadah sudah pasti ada isi, baik itu terlihat maupun tidak terlihat oleh panca indra. Hubungan antara keduanya adalah hubungan keterikatan. Dimana wadah tidak memiliki artian yang sempurna tanpa isi. Sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  30. Saya akan mencoba untuk berpendapat untuk pertanyaan berikut ini.
    Bagaimana pandangan Filsafat mengenai Bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu?
    Saya berpendapat bahwa bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu bukanlah modal yang utama. Modal yang utama adalah niat atau kemauan. Dengan niat dan kemauan maka akan mengalahkan semuanya, bahkan jika itu merupakan bakat seseorang. Akan tetapi, dari semua itu akan lebih baik lagi jika bakat sudah ada dan diimbangi dengan niat atau kemauan yang kuat. Mari selalu sertakan niat atau kemauan yang ikhlas dan kuat dalam setiap kita berpikir atau mengerjakan sesuatu. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita. Aamiin

    ReplyDelete
  31. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya mencoba menjawab pertanyaan ini,
    Bagaimana hubungan antara Psikologi dan Filsafat?
    Ada yang mengatakan bahwa filsafat itu merupakan olah pikir. Pikiran merupakan pusat dari semua bagian dari diri manusia. Pikiran merupakan prosesor terbesar yang mengatur tingkah lakuk, ucapan dan perasaan seseorang. Sedangkan psikologi merupakan hubungan antara perasaan, kepribadian, dan hubungan dengan lingkungan. Filsafat menafsirkan unsur-unsur dari psikologi agar dapat diterima oleh logika manusia.

    ReplyDelete
  32. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan "Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?". Menurut saya iya, pertanyaan retorikapun mempunyai jawaban, doa-doa kita saja mempunyai jawaban dari Allah SWT. Jawaban itu tidak selalu berbentuk suatu kalimat atau nasehat. Jawaban dapat berupa tingkah perbuatan, kemampuan, dan rasa syukur. Jawaban juga bisa dari perasaan kita, seperti ketika bertanya kepada Allah SWT, Allah tidak menjawab dengan tips-tips dan segala macam. Namun jawabannya dapat kita rasakan dengan ketenangan batin kita, dengan kemudahan kegiatan kita dan sebagainya.

    ReplyDelete
  33. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- Pascasarjana
    17701251037

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no empat yang diajukan oleh Umi Hasanatul Latifah tentang
    penjelasan hubungan antara ikhtiar dan takdir.
    Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya. Menurut sepengetahuan saya, takdir Allah itu berada di ujung ikhtiar atau usaha manusia. Jadi masa depan kita tergantung dari apa yang kita ikhtiarkan sekarang. Allah Maha adil. Allah akan memberikan sesuatu sesuai kadar ikhtiar kita.

    ReplyDelete
  34. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya ingin mencoba menjawab “bagaimana pandangan filsafat mengenai bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu”. Bakat merupakan kemampuan dasar yang dimiliki seseorang. Tanpa disadari, Allah sudah memberikan suatu bakat kepada setiap makhluknya terutama manusia. Secara tidak sadar, manusia harus mempelajari sesutau untuk menggali potensi yang sudah dimilikinya tersebut. Jadi sesuatu hal untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu merupakan hal yang lumrah untuk menambah suatu pengetahaun dan pengalaman. Sesuai ruang dan waktunya, manusia berusaha secara mandiri maupun dengan bantuan orang lain untuk lebih mengenal jati dirinya.

    ReplyDelete
  35. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dari beberapa pertanyaan diatas saya mencoba menjawab pertanyaan dari . Ivone Marlinda: Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?, Menurut saya setiap jawaban memiliki jawaban karena tidak adanya jawaban juga merupakan sebuah jawaban, ketika sebuah jawaban tidak mampu kita pecahkan dengan pikiran mungkin bisa dipecahkan dengan hati dan ketika kita berusaha menggunakan seluruh kemampuan kita untuk memecahkan sebuah masalah dan masalah itu belum terpecahkan, disanalah kita akan menyadari batasan kemampuan kita, karena selebihnya adalah kekusaan Tuhan. Saya pernah mendengar ungkapan yang mengatakan bahwa "semakin kamu berpikir secara mendalam maka semakin dekat kamu dengan Tuhan" namun itu hanya berlaku pada orang yang beriman.

    ReplyDelete
  36. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Bismillahirrahmanirrahim..
    saya tertarik untuk menjawab pertanyaan dari saudara Ivone Marlinda mengenai Apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?. sebenarnya didalam filsafat semua pertanyaan mempunyai jawaban karna didalam ilmu filsafat tidak menjawab juga termasuk jawaban.

    ReplyDelete
  37. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya akan mencoba mengungkapkan pendapat saya mengenai pertanyaan bagaimana menembus ruang dan waktu. Seseorang dikatakan cerdas apabila mampu menembus ruang dan waktu. Makna menembus ruang dan waktu adalah melakukan, memikirkan dan berpendapat sesuai dengan ruang dan waktu. Jika kita berbicara dengan bahasa filsafat di kelas perkuliahan filsafat artinya kita telah menembus ruang dan waktu, namun jika kita berbicara dengan bahasa atau istilah filsafat saat berbelanja di pasar, maka dapat dikatakan bahwa kita gagal menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  38. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya mencoba menjawab mengenai hubungan ikhtiar dan takdir. Menurut pendapat saya, ikhtiar adalah bentuk dari usaha manusia yang bertujuan untuk menentukan bagaimana takdirnya. Meskipun takdir adalah kehendak Tuhan, namun Tuhan juga tidak akan merubah nasib suatu kaum jika ia tidak merubahnya sendiri. Salah satu cara untuk merubah nasib/ takdir adalah dengan ikhtiar. Ihkitar juga merupakan wujud dari usaha kita untuk mendapatkan takdir yang baik menurut kita sebagai makhluk. Apabila Tuhan berkehendak lain setelah kita ikhtiar bukan berarti bahwa Tuhan tidak mengabulkan usaha dan doa kita, tetapi Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya.

    ReplyDelete
  39. Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 15 berkaitan dengan apakah kebaikan tertinggi menurut filsafat. Berdasarkan apa yang saya pahami ketika mengikuti kuliah dengan Prof Marsigit, sumber dari segala sumber ilmu adalah berasal dari Tuhan. Semua kebaikan yang yang ada di muka bumi ini juga atas kehendak dan perintah Tuhan. Maka dari itu, tidak ada kebaikan yang lebih tinggi daripada kebaikan yang berasal dari Tuhan.

    ReplyDelete
  40. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Saya berpendapat bahwa bakat seseorang untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu bukanlah modal yang utama. Modal yang utama adalah niat atau kemauan. Dengan niat dan kemauan maka akan mengalahkan semuanya, bahkan jika itu merupakan bakat seseorang. Akan tetapi, dari semua itu akan lebih baik lagi jika bakat sudah ada dan diimbangi dengan niat atau kemauan yang kuat. Mari selalu sertakan niat atau kemauan yang ikhlas dan kuat dalam setiap kita berpikir atau mengerjakan sesuatu.

    ReplyDelete
  41. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menurut saya filsuf adalah orang yang menguasai ilmu filsafat, sedangkan ilmuwan adalah orang yang menguasai ilmu sains. Filsafat erat kaitannya dengan kebijaksanaan, senantiasa berpikir dan berpikir, filsuf dalam berfilsafat tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, sedangkan yang dihasilkan ilmuan adalah ilmiah. Pada peradaban-peradaban maju, biasanya antara filsuf dan ilmuwan punya kedudukan masing-masing, kedua-duanya penting.

    ReplyDelete
  42. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan tentang " bagaimana menembus ruang dan waktu?". Menurut saya, cara menembus ruang dan waktu itu yaitu dengan menempatkan diri. Ketika kita bisa menengkapkan diri sesuai ruang dan waktu maka kita akan bisa menggunakan akal dan pikiran dengan baik dan sesuai. Manusia diberikan pikiran agar bisa berfikir secara kritis. Ketika akan menembus ruang dan waktu selain menempatkan diri, berfikir kritis, juga harus memahami keadaan. Kita harus bisa berhermenitika dengan baik. Contohnya: kita akan menembus ruangdan waktunya siswa, maka kita harus bisa menempatkan diri kita sesuai dengan pikiran anak dan dapat menerjemahkan pikiran anak agar kita dapat memahami pikiran mereka.

    ReplyDelete
  43. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari Ivone marlinda dengan pertanyaannya “apakah setiap pertanyaan mempunyai jawaban?”. Pertanyaan ini sejenis dengan pertanyaan yang saya ajukan ke Pak Marsigit pada pertemuan ke lima, menurut saya jawabannya adalah ya, setiap pertanyaan mempunyai jawaban, karena tiada jawaban pun itulah jawabannya. Seperti contohnya pada perempuan jawa yang diajak menikah oleh pasangannya, dan kemudia ditanya mau atau tidak, jika perempuan tersebut tidak menjawab apa-apa atau hanya diam saja, itu bisa diartikan mau atau bersedia. Sehingga tidak ada jawaban pun itulah jawabnnya.

    ReplyDelete
  44. Fitri Ni'matul Maslahah
    PPs PM C
    17709251058

    saya tertarik untuk ikut mengulas mengnai hubungan ikhtiar dan takdir. Takdir dibedakan menjadi dua, yakni takdir mubrom dan takdir malaq. Takdir yang satu tidak dapat diubah oleh manusia, sedangkan takdir yang lainnya dapat diubah dan diusahakan. akdir merupakan keputusan Allah SWat, sedangkan manusia dalam menghadapi takdir tersebut hendaknya berusaha atau berikhtiar. Sealin berikhtiar manusia juga hars bertawakkal, artinya setelah berusaha atau berikhtiar sebaik mungkin, manusia wajib berdoa dan mengembalikan segaanya kepada kehendak ALlah SWY. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  45. Fitri Ni'matul Maslahah
    PPs PM C
    17709251058

    jika berbicara mengenai jawaban dan pertanyaan, maka setiap pertanyaan pastilah memiliki jawaban. Hanya saja, terdapat beberapa pertanyaan yang "disegel" untuk dilontarkan, yakni pertanyan mengenai dzat sang pencipta. Kita tidak diperbolehkan bertanya-tanya mengenai dzat Allah, karena sampai kapanpun otak dan logika kita takkan pernah sampai. Namun demikian kita diperkenankan bahkan dianjurkan untuk bertanya mengenai cptaan Allah, karena dengan mengkaji ciptaan Allah, akan menambah keimanan dan keyakinan kita kepada ALlah SWt. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  46. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan bagaimana filsafat mampu menjelaskan hukum sebab akibat? Menurut saya sebab akibat adalah suatu koherensi yang saling berkaitan satu sama lain. Adanya suatu akibat itu dimulai dari adanya sebab. Jika ada sebab maka akan ada akibat. Seperti adanya besar karena adanya kecil, adanya pendek karena adanya tinggi, dan sebagainya

    ReplyDelete
  47. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Selanjutnya saya akan mencoba menjawab pertanyaan apa saja sumber-sumber ilmu dan bagaimana pembenarannya? Menurut saya sumber ilmu adalah pengalaman. Sebaik-baiknya sumber ilmu selain pengalaman adalah kitab suci. Di sana terdapat sumber dari segala sumber ilmu yang tidak dapat disangkal. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  48. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya tertarik menjawab pertanyaan bagaimana cara menembus ruang dan waktu. menurut saya kita dapat menembus ruang dan waktu jika kita mampu menempatkan diri pada lingkungan kita. misalnya dengan tidak memaksakan kehendak, bertindak.bersikap sesuai dengan norma-norma yang ada, berikhtiar dan berdoa. Jika dikaitkan dengan spiritual maka ruang dan waktu kita di bumi ini adalah ibadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete