Oct 31, 2014

Pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM D




Pertanyaan-pertanyaan berikut muncul dari para Mahasiswa  pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PM D) Hari Jum'at, 31Oktober 2014 pk 10.00 sd 11.40 di R. 100 B Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Silahkan para pembaca yang budiman untuk berusaha menjawab atau menanggapi satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selamat berfilsafat, semoga selalu diberi kecerdasan pikiran dan hati. Amin.

1. Ahmad Lutfi:
Apa hakekat Politik menurut Filsafat?


2. Ezi Apino:
Apa hakikat Metode Saintifik?


3. Retno Kusuma:
Bagaimana Netralitas/Ketidaknetralan Ilmu menurut Filsafat?


4. Ida Trisnadati
Bagaimana Filsafat di waktu yang akan datang?


5. Nurhayati:
Apa makna sifat Baik-Buruk dan Positif-Negatif dalam Filsafat?


6. Nurul Husnah:
Apa yang dimaksud Kesadaran dari sudut pandang Filsafat?


7. Juz'an Afandi:
Mohon dijelaskan apakah yang dimaksud Filsafat Kritis itu?


8. Libertus Di Umart Alvares:
Bagaimana cara memersiapkan Generasi Muda/Penerus dari kacamata Filsafat?


9. Arini Ulfah Hidayati:
Apa makna bosan atau jenuh?


10. Hanifa Prahastami Pambayun:
Apa makna Hilang?


11. Lisaiha Rodiyya:
Apakah hakekat Menguasai atau Hegemoni?


12. Dita Puspitawedana:
Apakah batasan-batasan dari konsep Hedonisme itu? Dan bagaimana menyikapinya?


13. Ristu Haiban Hirzi:
Bagaimana hubungan antara Sifat-sifat yang Ada dan yang mungkin Ada?

14. Mukhlas Triono:
Bagaimana hubungan antara konsep-konsep Kebenaran yang ada?

15. Apolonia Hendrice Ramda:
Bagaimana Filsafat mampu menjelaskan hakekat Sukses dan Gagalnya sebuah kehidupan?

16. Hafizh Praditya Mahardika:
Apa yang dimaksud sebagai Ego, Superego, Egoist, Egocentris, dan sejenisnya?

17. Rosalia Hera:
Apakah ada konsep berpikir yang sesat di dalam Filsafat? Bagaimana penjelasannya?

18. La Ode Amril:
Apakah yang disebut Fiksi itu?

19. Danis Agung Nugroho:
Bagaiman perjalanan seorang bisa sampai pada tinkatan dapat disebut sebagai Filsuf?

20. Fitriyani:
Apa hakikat Gila dalam Filsafat?

21. Lidrawati:
Bagaimana penjelasannya bahwa seseorang dapat mengetahui Pikiran orang lain? Dan bagaimana penjelasannya bahwa seseorang dapat menjelaskan kepada orang lain apa yang dia ketahui?





54 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika kita ingin paham maka kita harus mengenal. Sama halnya jika ingin mngetahui, paham tentang pendidikan maka salah satu caranya adalah membaca postingan Prof. Marsigit. Untuk belajar tentang pendidikan kita perlu belajar mengenai filsafat pendidikan dan untuk belajar filsafat pendidikan kita perlu belajar mengenai filsafat terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan 5M yaitu mengamati, merumuskan pertanyaan, mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi dan mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Dalam pembelajaran saintifik maka diperlukan kegiatan diskusi. Hal ini sejalan dengan diterapkan nyakurikulum 2013. Dengan diskusi kelompok dapat membantu siswa agar bisa mengeluarkan ide-ide mereka dan juga membagikan cara pemikiran mereka dalam menyelesaikan masalah. Di sini juga siswa bisa mendapatkan kegiatan 5M yang berguna untuk melatih siswa bersikap ilmiah.

    ReplyDelete
  4. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik memerlukan apresepsi yang tepat sebelum mengawali pembelajaran inti. Apresepsi berkaitan dengan pengetahuan yang telah diperoleh di mata pelajaran sebelumnya. Apresepsi yang tepat dari guru dapat memancing siswa untuk ingin tahu lebih lanjut tentang materi yang akann dipelajari, terutama di mata pelajaran matematika.

    ReplyDelete
  5. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik membantu siswa untuk bisa mengembangkan ide dan pikirannya, sesuai yang diharapkan di tujuan pendekatan saintifik kurikulum 2013. Memang saat ini penerapan pendekatan saintifik masih belum bisa maksimal dan beberapa sekolah masih memakai kurikulum KTSP, akan tetapi kedepannya diharapkan kurikulum 2013 dapat dikapai di setiap sekolah di Indonesia.

    ReplyDelete
  6. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Mengenai pertanyaan nomor 9. Yaitu apa makna bosan dan jenuh?. Menurut saya, setiap orang pasti pernah mengalami kebosanan, misalnya kebosanan yang berkiatan dengan masalah makanan, pekerjaan, benda yang dimiliki, pemandangan ataukah tentang obrolan. Akumulasi dari kebosanan atau ketidakpuasan adalah salah satu langkah menuju kejenuhan.

    ReplyDelete
  7. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Jenuh merupakan fenomena psikis yang berbicara tentang suatu perasaan dan mental. Sehingga dapat dikatakan bosan yaitu perasaan ketika melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan atau monoton, sedangkan jenuh yaitu perasaan lelah ketika telah melakukan suatu aktifitas secara terus-menerus.

    ReplyDelete
  8. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan menanggapi pertanyaan no.6 “Apakah yang dimaksud kesadaran dari sudut pandang filsafat?”. Menurut saya kesadaran dalam filsafat itu adalah bahaya. Karena sesungguhnya dalam berfilsafat harus disertai keikhlasan secala keseluruhan. Ketika kita merasaan kesadaran bahwa kita ikhlas maka sesungguhnya saat itu jua kita mulai kehilangan keikhlasan kita. begitupula dalam aspek-aspek yang lain. Filsafat adalah kegiatan olah pikir dan juga hati. Ketika kita merasakan kesadaran dalam berfilsafat maka saat itu juga kita terancam menjadi puas, jika kita merasa puas maka kita terancam untuk tidak bergerak alias diam, jika kita diam maka terhentilah kegiatan berfilsafat kita. karena sebenar-benar orang yang sedang berfilsafat adalah yang menalami kacau pikir tetapi tidak sampai kacau hati tanpa kita sadari. Justru ‘kesadaran’ lah yang berbahaya karena dapat menghentikan proses berpikir tersebut. Tetapi jangan sampai tidak ada kesadaran sama sekali karena itu sama saja dengan bunga tidur.
    Selanjutnya no.10 “Apa makna hilang?”. Menurut saya hilang itu adalah ketiadaan sementara dari suatu hal yang ada. Hilang sesungguhnya hanyalah wadah. Wadah yang menyebabkan isi menjadi seolah-olah tidak ada, tetapi masih ada kemungkinan untuk muncul kembali atau menjadi ada. Dengan kata lain sebenarnya tidak ada hilang yang sesungguhnya. Yang ada hanyalah perubahan sifat isi dari suatu sifat ke sifat lain dan menjadikan isitersebut tidak lagi berwujud seperti sebelumnya melainkan menyesuaikan wadah yang baru. Bahkan sesungguhnya ‘hilang’ tu pun ‘ada’ karena kita mampu memikirkannya. Setidaknya ‘hilang’ ada di pikiran kita.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  9. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Menanggapi pertanyaan nomor 2, yaitu: Apa hakikat Metode Saintifik?
    Menurut saya, hakikat metode Saintifik adalah Student Center, artinya untuk setiap tahap-tahap pembelajaran saintifik siswa benar-benar diajak untuk belajar. Bukan hanya guru yang ceramah. Dalam hal ini guru sebagai fasilitator siswa-siswanya untuk memperoleh pengetahuan.

    ReplyDelete
  10. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya ingin menanggapi pertanyaan no 10 tentang makna hilang. Sebagaimana di dunia ini mencakup hal yang ada dan mungkin ada, menurut saya Hilang adalah kejadian suatu hal yang ada menjadi tidak ada. Suatu hal yang sudah kita pastikan ada menjadi tidak ada karena berbagai alasan itulah yang dinamakan dengan hilang.

    ReplyDelete
  11. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Dari kumpulan “pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM D” kami (saya) sangat tertarik dengan pertanyaan Bapak Juz'an Afandi:”Mohon dijelaskan apakah yang dimaksud Filsafat Kritis itu?”. Sepemahaman kami, salah satu filsafat kritisisme adalah filsafat Kant, yaitu filsafatnya Immanuel Kant. Kritisisme di sini maksudnya adalah dipertentangkannya dengan dogmatisme. Dogmatisme sendiri merupakan filsafat yang menerima begitu saja kemampuan rasio tanpa menguji batas-batasnya. Kritisisme merupakan filsafat yang mana terlebih dahulu menyelidiki batas-batas rasio sebelum memulai penyelidikannya. Immanuel Kant menyatakan bahwa filsafat lebih dulu menyelidiki “die Bedingung der Moglichkeit” (syarat-syarat kemungkinan) pengetahuan kita. (Hardiman, 2007:133)
    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  12. Anisa Safitri
    PEP B
    17701251038

    dalam mengetahui sifat hedon, perlu kita tahu sifat tersebut merupakan salah satu sifat setan yang menyesatkan manusia untukikut dalam kepribadian setan sendiri. Hedonisme itu temannya setan dan setan itu berbahaya. Tidak ada setan yang sholeh, sholehah. Setan selalu mengajak kepada keburukan, kemaksiatan dan dosa. Hobi setan adalah menggoda manusia, memang itulah tugasnya. Ketika manusia berbuat buruk, setan bahagia karena berhasil menjadikan manusia melakukan dosa. Begitu pula dengan hedonisme. Ia adalah paham yang hanya mementingkan kepentingan duniawi semata, terukur secara materi. Inginnya membeli apapun, foya foya tanpa batas. Hal yang harus digunakan untuk membatasi bahkan menghilangkan sikap hedonimse adalah dengan memperbaiki komunikasi atau ibadah kepada Allah SWT karena konsep keTuhanan, ketauhidan dalam hidup kita itulah yang nomer satu harus diprioritaskan kapanpun, dimanapun sampai ajal menjemput. Berpikir visioner, sebab akibat hedonisme juga akan menjadi cara mengurangi atau menghilangkan hedonisme. selain visioner juga dapat dengam menyibukkan diri sendiri dalam peerjaan yang produktif, belajar, mengerjakan tugas, kegiatan kampus diikuti yang dapat digunakan untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalaman sehingga produktifitas dapat menjadikan kita jauh dari kehidupan hedonisme yang merusak jiwa manusia akan sesuatu barang.

    ReplyDelete
  13. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    TErima kasih atas postingannya Prof. Saya akan mecoba untuk menanggapi pertanyaan nomor 7 yang menanyakan hakikat filsafat kritis. Filsafat kritis yang digagas oleh Immanuel Kant adalah sebagai bentu kritik atau penolakan terhadap aliran Rasionalisme yang hanya menggunakan akal pikiran sebagai satu-satunya alat untuk memperoleh pengetahuan dan Empirisme yang menggunakan pengalaman sebagai sarana memperoleh pengetahuan. Menurut Kant, Kedua paham tersebut haruslah di kombinasikan dalam satu bentuk sintesis filosofis yang sistematis.(Buroker,2006)

    ReplyDelete
  14. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih atas postingannya pak.
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ke 19 dari Danis Agung Nugroho, pertanyaannya "Bagaimana perjalanan seorang bisa sampai pada tinkatan dapat disebut sebagai Filsuf?". Disini saya akan mencoba menjawab menurut pandangan saya. Untuk menjadi filsuf maka dimensi notion kita harus ditingkatkan atau harus berkualitas. Seperti pada salah satu postingan bapak mengenai "Bagaimana meningkatkan dimensi notion kita?". Maka untuk menjadi filsuf, seseorang harus meningkatkan notionnya maka seseorang harus merefer pemikiran filsuf, atau merefer pendapat-pendapatnya filsuf. Dengan sering menelaah pemikiran dan pendapat filsuf maka pikiran seseorang akan terbuka dan notion seseorang semakin luas dan berkualitas. Ketika notion seseorang telah meningkat dan berkualitas maka seseorang akan berpikir secara rasional, komperhensif, radikal, dan universal. Karena seorang filsuf harus melihat sesuatu dari berbagai sudut sebelum mengemukakan sesuatu dan argumennya tidak boleh saling bertentangan.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Hakikat Metode Saintifik merupakan suatu metode untuk menginvestigasi fenomena, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan mengintegrasi pengetahuan sebelumnya. Hal-hal tersebut berdasarkan pada kumpulan yang dapat observasi, bukti empiris dan terukur untuk alasan prinsip yang spesifik, kumpulan data dalam observasi dan percobaan, dan formulasi dan pengujian hipotesis. Walaupun prosedur metode saintifik sangat berbeda-beda dari satu bidang penyelidikan dengan yang lain, perbedaan sifat-sifat penyelidikan ilmiah bisa didentifikasi dari pengetahuan metodologi lainnya. Peneliti ilmiah mengajukan hipotesis sebagai penjelasan fenomena dan mendesak studi eksperimen untuk menguji hipotesis tersebut. Langkah tersebut baru diulang untuk memprediksi ketergantungan hasil di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  16. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya mencoba memberikan tanggapan mengenai pertanyaan nomer 4. Menurut saya, filsafat di waktu yang akan datang adalah berdasarkan apa yang terjadi pada filsafat saat ini. Hal ini disebabkan karena keduanya berkaitan, seperti halnya apa yang kita lakukan saat ini akan berakibat di masa yang akan datang. Maka dari itu, filsafat yang akan datang masih menjadi misteri dan bergantung pada apa yang terjadi saat ini. Hal ini juga sesuai dengan kejadian berdasarkan sebab-akibat yang mengatakan bahwa suatu akibat pasti terjadi karena adanya sebab. Karena filsafat mempelajari sesuatu yang ada dan mungkin ada, maka filsafat yang akan datang bisa jadi adalah sesuatu yang saat ini belum ada tetapi masing dimungkinkan ada.

    ReplyDelete
  17. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan no 9 dari Arini Ulfah Hidayati “ apa makna bosan atau jenuh”. Menurut saya bosan atau jenuh adalah suatu reaksi otak, dimana seseorang tidak merasa tertarik atau berkesan terhadap ‘sesuatu’ dan ingin melepaskan/ membebas diri keadaan tersebut, hal disebabkan oleh berbagai macam kemungkinan keadaan yang memicunya, misalnya suatu aktivitas yang continue atau berulang-ulang, sehingga menimbul kan perasan bosan atau jenuh.
    Jenuh atau bosan merupakan salah satu perasaan yang pernah atau sering kita alami diwaktu-waktu tertentu, menurut saya wajar-wajar saja dan sangat manusiawi jika kita merasa bosan ataupun jenuh, hanya saja yang berbeda adalah bagaimana cara atau kiat kita dalam menghadapi maupun mengatasi perasaan tersebut.

    ReplyDelete
  18. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menanggapi pertanyaan "Apa makna bosan atau jenuh?"
    Seringkali kita mengucapkan kata bosan dan jenuh dalam keseharian kita. Pada dasarnya, perasaan jenuh muncul pada saat perasaan kita berada di suatu titik yang menolak untuk melakukan sesuatu. Dalam persepsi umum, bosan dan jenuh mengandung makna yang berbeda. Bosan sendiri juga memiliki penafsiran berbeda, yaitu bosan karena tidak melakukan apa-apa dan bosan karena melakukan hal yang sama secara terus-menerus. Jenuh biasanya memiliki makna yang lebih mendalam, dimana kita menyerah atau menyatakan lelah akibat usaha yang terus menerus tidak menghasilkan apa yang menjadi tujuan.

    ReplyDelete
  19. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Saya mencoba memberikan tanggapan atas pertanyaan nomor 10.
    Segala hal yang ada di dunia ini tidaklah abadi. Kexuali Dia yang Maha Pencipta. Suatu saat hal yang tidak abadi akan pergi dan kita sering memaknainya “hilang”. Kita merasa sesuatu hilang ketika kita memiliki. Jadi, kita tidak mungkin akan merasakan kehilangan ketika kita tidak memiliki. Hilang berarti sesuatu telah pergi dari kepemilikan kita. Jadi antara hilang dan memiliki sangat erat hubungannya dan tidak bisa terpisahkan satu sama lain. hilang merupakan suatu pengingat bahwa segala sesuatu tidak akan abadi. Namun, segala sesuatu akan hilang.

    ReplyDelete
  20. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Bosan atau jenuh merupakan sesuatu yang paling sering kita hadapi yang mempunyai arti tidak adanya daya tarik kita untuk melakukan suatu perbuatan apapun, rasa itu bisa datang kapan saja terkadang diwaktu yang kurang tepat, pada waktu yang kita sendiri tidak pernah tau dan tidak diharapkan. Namun disitulah nilai estetikanya, dengan kejenuhan atau kebosanan yang kita alami akan muncul solusi yang akan menjadi tameng ketika kebosanan itu datang kembali, karena setiap masalah dan hambatan yang muncul pasti mempunyai sisi positif, ambil hikmahnya niscaya kebosanan itu bukanlah akhir dari segalanya.

    ReplyDelete
  21. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Bismillah, saya akan mencoba pertanyaan di bawah ini

    Arini Ulfah Hidayati:
    Apa makna bosan atau jenuh?

    Pendapat saya, bosan atau jenuh adalah keadaan diam di suatu titik tengah. Di mana si "jenuh" tidak tertarik untuk berjalan ke depan, tetapi tidak ingin sama sekali untuk kembali ke belakang. Bisa saja di "titik tengah" ini si jenuh menemukan aktivitas yang berulang-ulang. Akan lebih baik jika kita berada di suatu titik, untuk senantiasa menegok ke belakang (sebagai pembelajaran dan bekal). Jangan lupa pula, untuk tetap fokus mengejar yang di depan. Jangan jenuh, ingat di sini hanya proses, belum ditentukan di mana titik finishnya.

    ReplyDelete
  22. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya akan mencona menanggapi salah satu pertanyaan dari banyaknya pertanyaan mengenai” bagaimana mengetahui pikran orang lain?”.Dari refrensi yang saya baca.Ini merupakan problem yang sangat menyulitkan para filsuf, meskipun tentu bukan merupakan persoalan bagi orang biasa,yaitu bagaimana kita dapat mengetahui keberadaan pikiran orang lain.Istilah solipisme (dari solus ipse) telah digunakan dalam arti suatu pandangan bahwa seseorang harus percaya pada eksistensinya sendiri tetapi tidak pada eksistensi pikiran lain manapun.Barangkali ada keraguan apakah pandangan seperti itu pernah dianut secara serius, tetapi secara logis sulit untuk menyangkalnya secara meyakinkan. Sebagaimana telah dijelaskan,”kita serta-merta menyadari akal pikiran kita sendiri, tapi kita tampaknya tidak serta-merta menyadari akal pikiran orang lain, meskipun itu orang-orang yang kita kenal dengan baik.Tidak diragukan lagi adanya kasus-kasus telepati, tetapi hal tersebut tak perlu dianggap, sebagai bukti kesadaran langsung terhadap akal pikiran dan pengalaman orang lain.Entah disengaja atau tidak, di dalam telepati suatu pikran mungkin menyebabkan pikiran lainnya untuk berpikir dan memiliki pengalaman yang sama dengan dirinya tanpa suatu keharusan bagi pikiran yang kedua untuk sadar akan pikiran yang pertama.Sebagaimana berdasarkan teori reprsentatif, objek fisik menyebabkan kita untuk mempunyai sense dan ,dengan demikian kita mengetahui obyek tanpa kita persepsi secara langsung. Bagaimanpun juga, secara sadar merupakan fenomena yang terlalu langka untuk dijadikan basis pengetahuan kita mengenai manusia lain.Demikian yang dapat saya paparkan sedikit mengenai bagaimana memahami pikiran orang lain.,kalau ada yang salah atau keliru .Saya mohon Bapak dapat meluruskannya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  23. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari beberapa pertanyaan diatas, saya akan mencoba untuk memberikan pendapat mengenai pertanyaan “Apa hakikat Metode Saintifik?”
    Menurut saya hakikat metode saintifik ada pada memperlakukan siswa sebagai subyek dalam matematika. Melalui metode saintifik, siswa benar-benar belajar matematika sekolah. Pembelajaran akan berlangsung dengan student center dan guru hanya sebagai fasilitator. Siswa juga diajarkan untuk membentuk pengetahuannya sendiri dengan cara yang sistematis. Siswa juga dilatih untuk mengembangkan HOTS utamanya dalam pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  24. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PM D, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 14 dari saudara Mukhlas Triono. Pertanyaannya adalah bagaimana hubungan antara konsep-konsep kebenaran yang ada. Menurut Jujun S. Suriasumantri tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggap benar. Masing-masing mempunyai kriteria kebenaran tersendiri. Yang perlu digarisbawahi dalam mempersyaratkan kriterianya adalah suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.

    ReplyDelete
  25. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B
    saya tertarik untuk mencoba menjawab pertanyaan Fitriyani tentang hakikat Gila dalam Filsafat. Gila dalam Filsafat adalah ketika kehendak mendahului pikiran. Artinya jika manusia memutuskan segala tindakannya tanpa dilandasi pemikiran itulah yang dinamakan gila. Sebenar-benarnya gila adalah kosongnya pikiran, sebenar-benarnya kosongnya pikiran adalah tindakan non-logis, sebenar-benarnya non-logis adalah tidak berfilsafat.

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang pertanyaan “Apakah ada konsep berpikir yang sesat di dalam Filsafat? Bagaimana penjelasannya?”
    Filsafat adalah pikiranku. Filsafatku adalah diriku. Jadi filsafat setiap orang berbeda. Dalam berfilsafat maka seseorang sedang mengembarakan pikiran. Apabila dalam mengembarakan pikiran tidak dengan landasan maka akan menjerumuskan dan syetan akan mudah menghasut dan masuk di dalam hati. Hal tersebut akan membawa seseorang ke dalam kesesatan. Sehingga dalam berfilsafat hendaknya spiritual harus menjadi pegangan agar dapat menjadi pengontrol untuk berpikir.

    ReplyDelete
  27. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Saya ingin mencoba untuk menjawab pertanyaan tentang apa makna hilang. Menurut saya hilang diartikan ketika kita tidak mampu untuk merasakan sesuatu hal tersebut dalam diri kita atau eksistensinya dirasa kurang. Karena hilang bukan hanya berkaitan dengan benda namun tentang bagaimana kita memaknai hal tersebut. Misalnya dalam suatu perkumpulan, kita tidak merasakan kehangatan dan kemistri dalam perkumpulan tersebut, atau kita merasa bosan dalam perkumpulan tersebut, maka kita telah kehilangan makna keberadaan kita dalam perkumpulan tersebut.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  28. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Saya akan mencoba menjawab soal no.17 sesuai dengan kapasitas saya selaku masih mahasiswa di filsafat ilmu ini. “Apakah ada konsep berpikir yang sesat di dalam Filsafat? Bagaimana penjelasannya?”. Ya, tentu saja ada. Konsep berpikir yang tepat dalam filsafat jika ada pendapat atau penguat dari para ahli Filsuf. Maka dari itu agar terhindar dari konsep berpikir yang sesat, diharuskanlah kita meningkatkan notion dengan baca membaca dan mencari tahu dari para ahli dan mengaitkan juga dengan ilmu hati atau spiritual agar tidak terjerumus dalam kesesatan yang nyata (menyimpang dari jalan agama).

    ReplyDelete
  29. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    saya akan menaggapi tentang pertanyaan berikut
    Apa hakikat Metode Saintifik?
    Menurut saya hakikat metode saintifik ada pada memperlakukan siswa sebagai subyek dalam matematika. Melalui metode saintifik, siswa benar-benar belajar matematika sekolah. Pembelajaran akan berlangsung dengan student center dan guru hanya sebagai fasilitator

    ReplyDelete
  30. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan mengenai makna hilang. Menurut saya hilang dapat dimaknai dengan lenyap atau bersih. Hilang tidak selamanya bermakna baik dan tidak selamanya bermakna buruk. Hilang kadang-kadang kita butuhkan, misalnya ketika menjawab soal ujian dan kita keliru, kita ingin menghilangkan jawaban itu dengan cara menghapus dan mengganti dengan jawaban yang lainnya. Kita kadang-kadang memerlukan hilang tersebut.

    ReplyDelete
  31. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya akan menanggapai pertanyaan mengenai hakekat gila. Menurut saya gila itu artinya sebutan untuk seseorang yang mengalami disorientasi. Gila itu tidak memiliki kesadaran. Gila itu tidak mampu memilih dari yang ada.

    ReplyDelete
  32. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PM D, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 17 dari saudara Rosalia Hera. Pertanyaannya adalah apakah ada konsep berpikir yang sesat di dalam filsafat? Bagaimana penjelasannya. Berdasarkan yang saya pahami dari perkuliahan dengan Pak Prof. Marsigit, pada dasarnya tidak ada konsep berpikir yang sesat sebab filsafat itu sendiri adalah penjelasan dan pemikiran dari seseorang. Dimana dalam menggali pemikiran tersebut, seseorang menggunakan hatinya sebagai komando. Jika ia tidak memantapkan hati, menjadikan hati sebagai landasannya dalam menggali pemikirannya, maka yang dihasilkan adalah pemikiran yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Sehingga hal tersebutlah yang disebut sebagai pemikiran yang sesat.

    ReplyDelete
  33. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- Pascasarjana
    17701251037

    Saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan nomor sepuluh yang diajukan oleh Hanifa Prahastami Pambayun tentang makna hilang. Hilang itu tidak ada karena sejatinya apa yang kita miliki bukanlah milik kita. Kita merasa kehilangan karena kita merasa memiliki. Bukankah apa-apa yang kita pakai adalah titipanNya?

    ReplyDelete
  34. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Mohon izin untuk berbagi pendapat mengenai definisi politik yang ditanyakan Ahmad Lutfi.
    Menurut saya, politik adalah cara atau seni dalam merebut pengaruh, entah dengan mempengaruhi orang lain, melakukan lobi maupun melakukan negoisasi.

    ReplyDelete
  35. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan “Bagaimana Filsafat di waktu yang akan datang”. Seperti halnya perjalanan filsafat atau Narasi besar filsafat yang sudah disampaikan oleh Pak Marsigit sewaktu dikelas, setiap para filsuf besar memiliki pandangan sendiri mengenai pandangan filsafta sesuatu dengan ruang dan waktu mereka berada. Apa yang akan terjadi di waktu yang mendatang adalah sebuah mitos atau ketakutan yang dialami oleh manusia di masa sekarang. Kita hanya bisa menebak dengan suatu dasar yang logis untuk memperkuat pendapat kita. Filsafat yang akan datang, kita berharap akan memiliki suatu padangan yang lebih baik dari masa yang akan sekarang. Karena filsafat itu merupakan pengetahuan yang selalu berkembang sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  36. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Saya tertarik dengan pertanyaan dari Fitriyani: apa hakikat Gila dalam Filsafat?, Menurut saya hakikat gila dalam filsafat adalah bertindak diluar nalar masyarakat umum, ketika tindakan kita belum dipahami oleh masyarakat umum maka kita akan dianggap gila, contohnya zaman dulu ketika belum ada Handphone orang yang berbicara sendiri atau berbicara dengan barang dianggap gila, namun setelah adanya handphone dan masyarakat umum mengetahui fungsinya maka orang yang berbicara sendiri atau berbicara dengan barang (handphone) dianggap sebagai suatu kewajaran bukan tindakan orang gila.

    ReplyDelete
  37. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Bismillahirrahmanirrahim..
    saya tertarik untuk menjawab pertanyaan dari saudara Nurhayati mengenai Apa makna sifat Baik-Buruk dan Positif-Negatif dalam Filsafat?.
    didalam filsafat terdapat metafisik, jadi baik itu belum tentu baik dan buruk belum tentu buruk, positif belum tentu positif dan negatif belum tentu negatif, namun yang pasti didalam berfilsafat bangunlah filsafat mu sendiri, buatlah pandangan mu sendiri dan bacalah sebanyak-banyaknya bacaan mengenai filsafat.

    ReplyDelete
  38. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya akan mencoba menuliskan pendapat saya tentang bagaimana hubungan antara sifat-sifat yang mungkin ada dengan ada. Yang mungkin ada dan yang ada adalah dua hal yang berkaitan karena yang mungkin ada jika sudah masuk di dalam pikiran kita maka akan menjadi ada sehingga sifat-sifat yang mungkin ada menjadi sifat dari ada itu sendiri.

    ReplyDelete
  39. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmaanirrohim, saya mohon ijin untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana Filsafat di waktu yang akan datang?
    Jawab:
    Teleologi mungkin jawaban yang tepat. Dalam filsafat, teleologi adalah ilmu masa depan. Waktu yang akan datang merupakan rahasia Allah sebagai sang Maha Pencipta langit dan seisinya. Bagi saya, filsafat bersama teleologi bukanlah peramal yang mampu melihat dan menjelaskan masa depan secara real dan gamblang. Namun, dengan teleologi kita mampu terbantu untuk mengerti segala sesuatu dan segala kejadian agar menuju pada tujuan tertentu. Sehingga, bukan untuk melangkahi takdir dan ketetapan Allah, namun ketika kita mampu memaknai dan merasakan filsafat pada diri kita, secara tidak sadar kita mampu melihat dan merasakan di waktu yang akan datang. Eksistensi filsafat di waktu mendatang juga saya rasa juga bukan omong kosong belaka. Artinya, jika kita melihat implementasi nyatanya pada kehidupan maka dapat kita perhatikan konsep pendidikan kita masa kini, yakni kurikulum 2013 yang mengutamakan pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Dimana dalam filsafat, mengagungkan positivistik atau saintifik merupakan ajaran Auguste Compte yang mana ia malah menyingkirkan pentingnya spiritual atau agama karena dianggap tidak cocok dan tidak sejalan untuk membangun dunia. Jadi, tidak menutup kemungkinan pemikiran para filsuf terdahulu akan tetap ada dan terimplementasi oleh sebagian orang-orang yang terlebih para power now yang berkuasa untuk suatu kepentingan. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  40. Bismillah, saya akan mencoba menjawab lagi pertanyaan “Bagaimana cara memersiapkan Generasi Muda/Penerus dari kacamata Filsafat?”
    Jawab:
    Filsafat itu melingkupi semua yang ada dan yang mungkin ada. Manusia yang ada dan yang mungkin ada dapat dilihat mulai dari calon bayi dalam rahim, ada bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, hingga lansia. Kita tidak tahu bagaimana kondisi dan situasi di masa mendatang. Namun, dengan segala ikhtiar kita dituntut untuk mempersiapkan generasi muda dalam rangka memajukan dan merebut kesuksesan dunia. Keterkompleksan hidup jaman kontemporer menjadikan tantangan dan ujian hidup bagi para pemuda masa kini. Namun, sikap pragmatisme manusia kini malah lebih sering dan menjadi hobi sehari-hari. Selain itu, karakter utilitarianisme atau etika normatif untuk memaksimalkan penggunaan dan pemanfaatan terhadap sesuatu hal juga perlahan terkikis karena pengaruh dunia barat lebih mampu membawa arus globalisasi yang negatif kepada para pemuda. Mempersiapkan generasi muda seyogyanya dilakukan sejak dini melalui pengetahuan intuisi. Meski mereka tidak mengerti atas ilmu pengetahuan yang mereka miliki dan yang kerjakan itu bermanfaat untuk apa, namun ketika kita mmapu menanamkan jargon dan perilaku-perilaku kebaikan maka secara perlahan kita mampu menjadikan mereka calon generasi emas dimasa mendatang. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  41. Bismillah, lagi-lagi saya ingin mencoba menjawab pertanyaan “Apakah yang disebut Fiksi itu?”
    Jawab:
    Dalam sastra, fiksi adalah Prosa naratif yang bersifat imajiner, meskipun imajiner sebuah karya fiksi tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Dalam matematika, imajiner merupakan lawan dari riil, dimana riil adalah bilangan yang nyata dan dapat dihitung dengan jelas jumlah dan nilainya, sedang imajiner merupakan bilangan yang tidak dapat dihitung atau bahkan hampir mendekati ketakhinggan. Penemuan bilangan imajiner memainkan perananan penting dalam membuka teritorial pikiran baru yang terlegitimasi secara matematis, namun menyisakan problem filosofis dan logika yang tetap tak tersentuh. Jadi, fiksi merupakan sesuatu yang tidak nyata atau dalam filsafat erat kaitannya dengan mitos. Mitos berarti tidak ada pikiran, tidak berada dalam pikiran, tidak sedang berpikir, atau tidak masuk akal. Mungkin lebih mudahnya adalah menganggap fiksi adalah sesuatu yang dianggap berada diluar nalar dan logika manusia. Contoh nyata nya adalah dongeng, legenda, mitos, dan lain, yang jika menggunakan nalar seperti tidak mungkin terjadi. Namun, tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini. oleh karena nya, kita tidak perlu berpikir terlalu kritis dan mendalam tentangnya karena fiksi hanya dianggap sebagai antitesis nya non fiksi. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  42. Bismillahirrohmanirrohim, sekali lagi saya mohon ijin untuk menjawab pertanyaan “Apa hakikat Gila dalam Filsafat”
    Jawab:
    Akal merupakan alat terpenting dalam berfilsafat. Ketika akal itu tidak mampu bekerja dengan baik atau bahkan hilang dari kenormalannya, maka proses berpikir pun tidak ada. Jangankan menggapai logos, untuk berpikir mitospun tidak menutup kemungkinan juga tidak ada. Padahal manusia merupakan makhluk paling sempurna karena diberi kelebihan akal dan pikiran untuk menjalani hidup. Sekarang mari kita berpikir, bagaimana dengan “gila”?. Kemanakah akalnya? Apakah dia benar-benar tidak mampu berpikir atau hanya tidak mampu menggunakan akal pikirannya dengan normal dan sadar. Wallahu’alam bishowab, semua itu hanya Allah yang tahu, karena keberfungsian akal dan pikiran kuta merupakan campur tangan dan kuasa Allah sebagai Sang Maha Pencipta Segala Makhluk.

    ReplyDelete
  43. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 1 tentang hakikat politik menurut filsafat menurut apa yang saya pahami. Politik menurut saya adalah cara atau sistem yang dipilih untuk mencapai tujuan tertentu. Mungkin banyak orang beranggapan bahwa politk identik dengan partai, pemilu, Presiden, DPR, dan hal-hal yang berbau pemerintahan. Padahal di masyarakat umum, politk juga pasti terjadi. Setiap masyarakat pasti menginginkan kebaikan, kondisi aman, damai, tertib, dll. Untuk mencapai hal itu maka perlu cara/ langkah-langkah dan langkah-langkah inilah yang disebut juga dengan politik.

    ReplyDelete
  44. Menanggapi pertanyaan nomor 4 tentang bagaimana filsafat di waktu yang akan datang. Seperti yang kita ketahui bahwa filsafat mempelajari hal yang ada dan yang mungkin ada. Bisa jadi hal yang mungkin ada inilah yang akan menjadi filsafat di waktu yang akan datang. Menurut pendapat saya, filsafat di waktu yang akan datang adalah segala sesuatu yang mungkin ada di waktu sekarang. Secara konkret kita tidak bisa melukiskan bagaimana wujud sesuatu yang mungkin ada tersebut. Yang mampu mengetahui secara pasti hanyalah Tuhan YME.

    ReplyDelete
  45. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Menurut saya hakikat metode saintifik ada pada memperlakukan siswa sebagai subyek dalam matematika. Melalui metode saintifik, siswa benar-benar belajar matematika sekolah. Pembelajaran akan berlangsung dengan student center dan guru hanya sebagai fasilitator

    ReplyDelete
  46. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menanggapi pertanyaan no 7 tentang filsafat kritis. Filsafat kritis muncul ditengah perdebatan filsafat logicism dan realism, dengan I. Kant sebagai pencetusnya. Filsafat kritis juga sering disebut filsafat solusi atau filsafat tengah. Dia mengambil sebagian dari realism dan sebagian dari logicism. Periode ini disebut periode modern, muncul setelah abad kegelapan di Eropa. Disebut aliran kritis karena I. Kant mengkritisi rasionalis dan empiris.

    ReplyDelete
  47. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan tentang "bagaimana filsafat di masa yang akan datang? ". Menurut saya filsafat di masa yang akan datang yaitu bahasa. Bahasa merupakan sebagai dasar untuk komunikasi. Komunikasi yang baik akan membuat hubungan setiap individu menjadi baik juga. Bahasa komunikasi menjadi penting, ketika kita akan berkomunikasi dengan orang lain dan kita harus bisa memilih bahasa yang baik untuk digunakan.

    ReplyDelete
  48. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya akan mencoba menjawab petrtanyaan dari saudar Danis Agung Nugroho dengan pertanyaannya “Bagimana perjalan seseorang bisa sampai pada tingkatan dapat disebut sebagai filsuf?”, jika tidak salah seseorang yang bisa sampai pada tingkatan filsuf seperti pak marsigit, harus banyk membaca membac dan membaca, juga harus berpikir mencakup segala yang ada dan yang mungkin ada dengan dalam sedalam-dalamnya, juga luas seluas-luasnya. Tetapi semuanya harus dengan landasan dan alat, landasan seseorang untuk berfilsafat adalah spiritual, maka berdoalah kapanpun dan dimanapun, kemudian gunakan alatnya untuk berfilsafat, dimana alat untuk berfilsafat adalah bahasa analog. Setelah itu, harus mampu menyampaikan dengan mudah semudah-mudahnya mengenai filsafat yang dipelajarinya kepada orang awam sekalipun, maka untuk itu harus bisa berhermeneutika. Ketika itulah orang bisa dikatakan filsuf, dengan terus menggali dan menggali ilmu-ilmu tentang filsafat dan tidak berhenti belajar.

    ReplyDelete
  49. Fitri Ni'matul Maslahah
    PPs PM C
    17709251058

    Menjawab pertanyaan "Bagaimana Filsafat di waktu yang akan datang", saya kembali memutar otak mengenai penjelasan Prof Marsigit mengenai filsafat di setiap perkuliahan bersama beliau. Menurut belau filsafat ialah meliputi semua hal yang ada dan yang mungkin ada. oleh karena itu, filsafat bersifat tak terikat ruang dan waktu serta akan selalu abadi. hal-hal yang ada di masa yang akan datang bisa saj merupkan hal yang baru"mungkin ada" di masa sekarang. Sehingga filsafat tidak akan mati dan akan terus berkembang seiring perkembangan zaman. Wallahua'lam

    ReplyDelete
  50. Fitri Ni'matul Maslahah
    PPs PM C
    17709251058

    "Bagaimana penjelasannya bahwa seseorang dapat mengetahui Pikiran orang lain? Dan bagaimana penjelasannya bahwa seseorang dapat menjelaskan kepada orang lain apa yang dia ketahui?"
    jika seseorang dapat memngetahui apa yang ada dalam pikiran orang lain, kemungkinan yang terjadi bisa beberapa. salah satunya ialah tingkat kepekaan yang telah dimiliki oleh seseorang telah melampaui batas sehingga hanya dengan melihat saja kita dapat mengetahui apa yang dipikirkan orang lain dan mengtahui langkah dan seterusnya. sedangkan kemampuan seseorang untuk memberitahukan orang lain mengenai apa yang tengah dipikirkannya ialah tujuan berfilsafat yang tengah diusahan oleh Orang lain.

    ReplyDelete
  51. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan bagaimana filsafat di waktu yang akan datang? Menurut saya filsafat akan tetap berguna di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Karena filsafat adalah akar dari segala keilmuan tetapi di bawah spiritual. Filsafat akan terus berkembang seiring dengan perkembangan jaman dan keilmuan.

    ReplyDelete
  52. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Kemudian saya akan mencoba menjawab pertanyaan terkait pertanyaan tentang fiksi, fiksi merupakan hal yang tidak nyata tetapi ada di dalam pikiran. Sifatnya tidak real tetapi masih bisa dijangkau oleh pemikiran manusia.

    ReplyDelete
  53. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    saya akan mencoba menanggapi pertanyaan "Apa makna sifat Baik-Buruk dan Positif-Negatif dalam Filsafat?". dari hasil perkualiahan filsafat dengan Prof. Marsigit, saya memeproleh ilmu baru yakni bahwa dalam hidup kita harus melihat dari dua sisi, misalnya baik dan buruk. terkadang kita menganggap bahwa hal "buruk (negatif)" itu tidak penting. sehingga kita hanya berfokus pada hal-hal baik (positif). padahal semestinya kita harus adil melihat situasinya merentang dari baik ke buruk. karena hal buruk itu pun sebenarnya baik untuk kasus-kasus tertentu. misalnya, buruk dalam melakukan kejahatan, buruk dalam berbicara kasar, maka hal itu bisa dikategorikan keburukan yang baik. kesimpulannya kita tidak bisa hanya melihat sesuatu hanya dari satu sisi/sudut pandang.

    ReplyDelete