Oct 26, 2014

PERBINCANGAN PARA DEWA- BERBAHAYA UNTUK DIBACA PARA DAKSA



Ass. Wr. Wb


Pesan dari saya (Marsigit) sebelum membaca naskah terkoneksi di bawah nanti ini hendaknya waspada kepada aliran-aliran yang sudah tendensius mempunyai motif, karena motif/tujuan dapat mengalahkan hakekat kebenaran. Kebencian Kurawa memberi keberanian untuk mengalahkan Kebenaran dari Keikhlasan para Pandawa. Ego/superego suatu Parpol memberi kekuatan untuk mengalahkan/meniadakan/menolak sebuah Kebenaran dari Parpol kompetitornya. Ego Rasionalisme mengabaikan kebenaran Empirisisme dan sebaliknya. Ego Kerja/Praktek mengabaikan Ego Wacana/Teori, dan sebaliknya. Ego Dunia mengabaikan Akhirat. Ego Ideal mengabaikan Realisme, dan sebaliknya. Ego Marxisme mengabaikan Spiritualisme dan Idealisme. Demikian dan seterusnya...

Sebenar-benar Bacaan berikut  adalah untuk para Dewa dan bukan untuk para Daksa. Jika para Daksa mencoba membacanya maka dia akan terancam akan termakan oleh Paramitos. Dan jika sudah demikian maka hanya Ruwatan atau ritual memohon ampun yang dapat dilakukan. Namun sebenar-benar kita tidak mampu membedakan apakah kita Dewa atau Daksa. Kita hanya mampu mencobanya.

Dalam bacaan ini saya justru merasa iba kepada Matematika Murni yang selama ini saya salahkan karena terlalu ikut campur urusan Pendidikan Matematika untuk anak-anak, sehingga menimbulkan dampak psikologi yang buruk.
Dalam bacaan ini nada-nadanya Marxistsm akan menggunakan Paradox Matematika untuk justifikasi atau pengesahan bahwa matematika hanyalah sekedar fiksi atau ideal yang kurang bermanfaat bagi explore benda-benda/materi seperti yang dikembangkan oleh Marxistme.
Walaupun saya memerjuangkan Matematika Kongkrit ( Matematika Sekolah) untuk SD dan SMP, bukan berarti saya pro-Marxisme. Saya perlu sampaikan ini karena bacaan berikut dapat menyebabkan misleading jangan-jangan aliran Realistic Mathematics dianggap pro-Marxisme.
Saya tetap konsisten bahwa Kontradiksinya matematika itu berbeda dengn Kontradiksinya filsafat/dunia/benda konkrit. Kontradiksi dalam matematika adalah Inkonsistensi atau I tidak sama dengan I; kontradiksinya filsafat/dunia/benda adalah hukum Kontradiksi yaitu bukan Hukum Identitas.
Jadi, perjuangan saya untuk mengeksplore Matematika Kongkrit semata-mata dikaitkan dengan kemampuan psikologis siswa (anak kecil).
Bagi para Dewa, silahkan bacalah secara kritis dan cermat; bagi para Daksa maka lengkapilah bacaan-bacaan yang lainnya agar ideal/kebenaran tidak mudah termakan oleh Keberaniannya Motif (Politik/Ideologi)

Selamat membaca naskah berikut:

Sunday, 25 May 2008 

yang dapat diakses di: 

http://www.marxist.com/reason-in-revolt-bab-16-matematika.htm

Wss Wr Wb
Marsigit

Catatan:
1. Engels yang banyak dikutip dalam naskah adalah Tokoh Marxisme/Materialisme selain Karl Mark
2. Dewa adalah diriku yang meningkat dimensinya dibanding diriku yang lampau dikarenakan bacaan dan ilmuku.
3. Daksa adalah diriku yang sekarang yang terjebak/terperangkap oleh ruang dan waktu dikarenakan tidak melakukan ikhtiar menembus ruang dan waktu dengan bijak (tidak membaca untuk memeroleh pengetahuan baru)
4. Marxisme/Materialisme adalah aliran filsafat yang menemukan kebenaran ada di dalam Batu/Materi.
5. Bangsa Indonesia pernah mengalami keadaan traumatis (Th.1965) dikarenakan pemberontakan
G30/s PKI yang ideologinya mendasarkan pada Marxisme/Materialisme. Mungkin generasi muda tidak mengalami dan hanya mendengar penuturan generasi tua.
6. Bacaan ini saya tayangkan karena dia merupakan anti-tesis dari Kapitalisme, dan sebaliknya. Tetapi dia juga anti-tesis dari Spiritualisme dan Idealisme. Jadi membacanya dapat dianggap secara filsafat sebagai usaha melakkan Sintesis.
7. Bekerja, bekerja dan bekerja...perlu diimbangi dengan berpikir, berpikir dan berpikir...; karena bekerja saja adalah baru separoh dunia dan terancam menjadi buta. Sedangkan berpikir saja juga hanya baru separo dunia, dan terancam menjadi kosong. Maka sebenar-benar belajar/hidup adalah berjuang agar kita tidak menjadi buta dan tidak menjadi kosong.

31 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia dalam hidupnya selalu dan terus berusaha untuk memperkuat diri dan jiwanya. Memperkokoh setiap dimensi kehidupan yang memungkinkan untuk dijangkaunya. Manusia dari waktu ke waktu mengalami pertumbuhan eksistensinya. Ia mempunyai kemampuan untuk mencari makna dalam setiap perbuatan dalam hidupnya, sekecil apapun perbuatan tersebut. Memaknai suatu hal dan menerapkannya di kehidupan kita ialah sulit tapi bukan berarti tidak mungkin.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Sebuah neraca akan dikatakan dalam posisi seimbang jika kedua sisi atau tuasnya memiliki muatan barat yang sama. Sebagai contoh dalam kehidupan ekonomi sebuah keluarga akan dikatakan seimbang dan harmonis jika antara pemasukan dan pengeluaran berjalan secara seimbang. Pengalaman-pengalaman lahir ini merupakan sejarah hidupnya yang mengesankan dan kemudian mendorong untuk melakukan perubahan-perubahan.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    Pilihan yang terbaik dan tepat dalam tatanan yang harmonis pada kehidupan pribadi manusia dan alam semesta dibutuhkan sebuah sistem yang tepat yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan. Kemudian munculah berbagai macam pemikiran ataupun ideologi-ideologi yang semua itu menawarkan konsep-konsep yang diangggap paling bijaksana untuk menjalani kehidupan ini.

    ReplyDelete
  4. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tulisan di atas terdapat link dari suatu artikel yang berjudul Apakah Matematika Realistis ? Dalam artikel tersebut saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa perkembangan teori-teori yang ada di dunia khususnya teori matematika dapat meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan mengenai matematika di dunia. Namun dalam teori-teori tersebut masih banyak teori yang kontradiksi. Pernyataan Engels semakin terdengar tepat saat ini. Kombinasi kontradiktif antara plus dan minus memainkan peran yang mutlak krusial dalam mekanika kuantum, di mana ia muncul dalam sejumlah besar persamaan, yang merupakan hal mendasar bagi ilmu pengetahuan modern khususnya matematika.

    ReplyDelete
  5. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika membaca judul tersebut, saya merasa saya adalah daksa sehingga berbahaya untuk membacanya. Akan tetapi, setelah membaca tulisan di atas, ternyata kedudukan sebagai para dewa dan para daksa ditentukan oleh ruang dan waktu. Misalkan saya adalah seorang guru maka saya dewa bagi para murid, tetapi ketika saya masih sebagai mahasiswa maka posisi saya adalah daksa dan dosen adalah dewa. Jadi, kita dapat di posisi dewa maupun daksa tergantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  6. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Matematika murni dan matematika sekolah memang merupakan dua hal yang harus dibedakan. Hal-hal yang membuat siswa menjadi takut saat menghadapi matematika sekolah adalah keikutsertaan dan tidak dibedakannya dengan matematika murni. Siswa menjadi malas atau enggan belajar matematika karena terihat menjadi sangat sulit dan abstrak.

    ReplyDelete
  7. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika merupakan ilmu yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika dapat mencerminkan realitas kehidupan dalam masyarakat. Oleh karena itu, pembelajaran matematika di sekolah seharusnya menerapkan matematika realistik yang merujuk pada aktifitas siswa dalam mengonstruksi konsep matematika dari suatu masalah nyata. Dengan begitu, siswa akan mengetahui hubungan antara matematika dengan dunia dan juga peran matematika dalam dunia.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Selama ini matematika murni terlalu ikut campur dalam urusan pendidikan matematika. Matematika Murni mempunyai sifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Oleh karena itu semua Ilmu Formal, seperti halnya matematika murni, Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst disebut sebagai ilmunya untuk orang dewasa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori adalah kita mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya. Hal tersebut jelas tidak cocok dengan matematika sekolah. Maka tidak seharusnya matematika murni ikut mengurusi ranah pendidikan matematik dalam kaitannya matematika sekolah. Karena di tingkat sekolah, matematika yang cocok diterapkan adalah matematika yang berlandaskan pada kegiatan/pengalaman siswa.Dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunia yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Pengalaman adalah dunianya para daksa, para siswa. Jika kita sebagai guru memerjuangkan Matematika sekolah yang bersifat konkret itu bukanlah indikasi kalau kita pro-Marxisme. Memperjuangkan matematika sekolah adalah upaya memperjuangkan hak siswa terkaiyt dengan kemampuan psikologis siswa yang membutuhkan dunia konkret dalam proses pembelajaran matematika. Sesungguhnya tugas kita sebagai guru adalah bagaimana mendidik siswa dengan baik, membuat siswa mampu mengetahui dan memahami apa yang ada dan yang mungkin ada dari matematika dengan pendekatan matematika sekolah yang bersifat konkret.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Dari tulisan “Perbincangan Para Dewa- Berbahaya Untuk dibaca Para Daksa”, saya memahami bahwa sesungguhnya Matematika Murni dan Pendidikan Matematika adalah dunia yang berbeda dengan objek yang sama. Benar bahwa matematika itu abstrak dan deduktif, tapi itu adalah ranahnya matematikawan dan ilmuwan akan tetapi untuk ranah anak-anak yang sedang mulai belajar matematika akan lebih bijak jika mengenalkan matematika secara kongkrit dan induktif, setelah kenal dan paham lalu diarahkan melalui abstraksi dan deduktif.
    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  10. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Matematika telah ada sejak ribuan tahun lalu, mengindikasikan bahwa matematika sebagai ilmu hitung memanglah dibutuhkan oleh manusia sejak zaman dahulu. Maka sebenarnya matematika berangkat dari kenyataan, yaitu hal-hal yang konkrit atau memang ada. Contohnya adalah penemuan bilangan irrasional, yang ditemukan dari mengukur diagonal suatu ubin persegi. Ubin persegi adalah benda konkrit, yang mengantarkan penemu ke bilangan irrasional yang merupakan bagian dari matematika formal. Dalam hal ini, matematika realistik adalah dasar dari segala bentuk matematika terapan. Perbedaan secara major terletak pada matematika dalam dunia pendidikan dan matematika dalam dunia terapan. Pendidikan matematika diperuntukkan bagi anak-anak, sedangkan matematika murni atau terapan diperuntukkan bagi orang dewasa yang sudah mengenal abstraksi dan telah berada di tingkat formal. Sedangkan untuk remaja, masih membutuhkan benda konkrit namun sudah mulai dikenalkan kepada abstraksi.

    ReplyDelete
  11. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Marxisme atau materialisme adalah aliran filsafat yang menemukan kebenaran ada di dalam benda atau materi. Menurut pandangan ini, perkembangan dari matematika adalah hasil dari kebutuhan manusia yang sungguh material. Di sisi lain, pembentukan konsep matematika untuk anak-anak juga dilakukan melalui interaksi dengan benda-benda konret. Namun kedua hal tersebut berbeda. Yang dimaksud dengan interaksi benda-benda konret bagi anak-anak ialah disesuaikan dengan tahapan perkembangannya secara psikologis kognitif. Dari benda-benda konret tersebut siswa akan dapat melakukan abstraksi konsep matematika. Seiring perkembangan kognisinya, siswa dengan sendirinya akan dapat mencapai level abstrak. Hingga pada saatnya seseorang akan dapat membentuk konsep matematika tanpa benda-benda konkret, misalnya siswa di perguruan tinggi.

    ReplyDelete
  12. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari dulu sampai sekarang matematika masih menjadi momok bagi siswa di kalangan sekolah dasar dan menengah. Terkadang keabstrakan matematika lah yang menjadi faktor penyebab, di samping meode pembelajaran, dll. Matematika sekolah hendaknya diajarkan menggunakan contoh-contoh nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya matematika sekolah adalah matematika konkret. Maka dari itu, guru harus berusaha memberikan contoh sekonkret mungkin kepada siswa dan mengajat siswa untuk mengetahi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  13. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum Wr.Wb
    Terimakasih pak atas postingannya, yang menjadi masalah pada postingan ini bahwa selama ini matematika murni dengan pendidikan matematika tidak berkesinambungan. Pada matematika murni sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan dunia material yang kasar di sekeliling mereka. Ini adalah satu contoh yang jelas dari konsekuensi-konsekuensi negatif. Sedangkan pada dunia pendidikan matematika membahas apa yang disebut "aksioma" baru nampak terbukti dalam dirinya sendiri setelah melalui masa-masa panjang pengamatan dan pengalaman atas realitas. Oleh sebab itu matematika konkret lebih baik digunakan dengan melihat kemampuan psikologis siswa. Agar matematika nantinya diminati dan disenangi oleh para siswa.

    ReplyDelete
  14. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Melalui tulisan di atas yang berjudul perbincangan para dewa-berbahaya untuk dibaca para daksa, saya memahami bahwa matematika murni dan pendidikan matematika itu adalah sesuatu hal yang berbeda, meskipun mempunyai tujan akhir yang sama yaitu ilmu matematika. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah dalam mengenalkan matematika kepada anak-anak perlu memerhatikan kondisi psikologis anak, sehingga hal ini bukan merupakan ranahnya matematika murni. Dalam pengenalan matematika terhadap anak-anak, perlu mengeksplor matematika konkret mengingat kondisi kemampuan psikologis anak yang baru mengenal matematika. Setelah itu, barulan dikenalkan kepada matematika yang bersifat abstrak.

    ReplyDelete
  15. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Hal yang selama ini saya ketahui soal pandangan-pandangan Marxis lebih erat dengan pandangan pandangan revolusioner-sosialis, ini kali pertamanya saya membaca pandangan Marxis tentang ilmu sains seperti matematika. Saya menangkap dari tulisan di atas adalah tentang kegelisahan pandangan Marxis terhadap matematika yang semakin jauh dari hal-hal yang bersifat material. Namun, dari awal membaca saya dapat membedakan motif dari kaum Marxis yang dilahirkan berseberangan dengan kaum Kapitalis. Dan matematika konkrit bagi pendidikan saya rasa terlepas dari arus Marxis, tujuan matematika konkrit adalah untuk mencapai pandangan ideal terhadap pendidikan anak-anak.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebenarnya memang antara dunia pendidikan dan dunia yang benar-benar abstrak tidak bisa langsung diterapkan langsung kepada para peserta didik. Sebenar-benarnya matematika bagi peserta didik adalah sesuatu yang nyata dan dapat difikir secara logika. Namun, kebanyakan guru mengabaikan hal tersebut. Mereka lebih mementingkan pemahamannya sendiri dibandingkan dengan pemahaman peserta didik. Jika kita lihat lebih jauh lagi, sebenarnya sesuatu yang membuat siswa itu takut akan matematika bukanlah materi yang susah, namun cara menerangkan guru yang bisa dikatakan kurang tepat. Para guru seringkali menggunakan bahasa yang belum saatnya siswa tahu. Mereka lebih condong pada apa yang ditulis dalam kurikulum. Padahal kurikulum intinya sebagai acuan untuk kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik. Jadi, sebagai guru, sebaiknya kita suatu saat menyampaikan matematika bukan dari hal yang tidak dipahami siswa. Agar kecintaan terhadap matematika akan tertanam sejak dini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Matematika selama ini merupakan mata pelajaran yang tidak jarang menjadi mata pelajaran yang diatkuti oleh siswa. Siswa berpendapat bahwa matematika itu sulit dan beberapa materinya bersifat abstrak sehingga untuk mempelajarinya siswa mengalami kesulitan. Link pada postingan ini menjelaskan bahwa matematika itu sebenranya berawal dari sesuatu yang kongkrit kemudian diabstraksikan seperti sekarang ini. "matematika tidaklah muncul dari penggunaan pikiran manusia secara bebas, tapi merupakan hasil dari sebuah proses berkepanjangan dari evolusi sosial, percobaan dan kegagalan, pengamatan dan eksperimen, yang perlahan-lahan terpisah menjadi satu tubuh pengetahuan yang kelihatannya memiliki sifat yang abstrak". Pengetahuan ini baik untuk seorang guru yang mempelajari pendidikan matematika. Pernyataan ini artinya matematika itu sebenarnya dekat sekali dengan kita. Matematika itu ada dalam kehidupan kita dan setiap hari kita bersama dengan matematika. Siswa merasa takut dengan matematika karena memang dari awal mereka tidak diberikan pengetahuan bahwa matematika bukanlah sesuatu yang abstrak yang muncul dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana
    Matematika berangkat dari kongkrit menuju abstrak, namun pasti ada pertanyaan yang muncul ketika melihat "kalkulus, bilangan tak berhingga, akar imaginer, dan lain sebagainya". Hal ini merupakan suatu kontradiksi menurut bacaan pada link tersebut. Untuk lebih jelasnya teman-teman boleh membaca link yang sangat menarik tersebut. Untuk menjawab peratnyaan siswa "Bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari pak/buk mengenai bilangan imaginer itu?". Untuk menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan seperti itu guru harus rajin membaca, membaca dan membaca. Guru harus mengkaji kontradiksi-kontradiksi tersebut dengan membaca referensi yang berkaitan agar dapat memberikan bukti kongkrit ke siswa sehingga tertanam dalam pikiran siswa bahwasahnya mempelajari matematika itu tidaklah menakutkan dan sesulit yang selama ini menjadi paradigma mereka.

    ReplyDelete
  19. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Sebuah saran yang menarik untuk ditelaah ketika kita tidak boleh terlalu memihak pada sesuatu, sehingga kita menjadi tertutup pemikiran kita untuk menerima hal yang lain. Karena setiap hal memiliki kelebihan dan kekurangannyan masing-masing, dan semuanya saling melengkapi. Berkaitan tentang matematika, sampai saat ini masih sangat sulit merubah paradigma yang telah berakar dipikiran siswa bahwa matematika itu pelajaran yang sulit. Sehingga berbagai macam penelitian untuk menghasilkan berbagai metode yang dianggap ampuh untuk memberikan paradigma baru bahwa matematika itu mudah dan menyenangkan terus dilakukan. Salah satunya dengan matematika realistik, yang menghadirkan matematika lebih dekat dengan dunia anak. Supaya matematika lebih dirasakan manfaatnya serta tidak menjadi hal yang asing lagi bagi anak melihat dari sisi manfaatnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  20. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof atas ilmu yang diberikan melalui postingan ini.
    "Dan jika matematika ingin mendapati dirinya sebagai cerminan dari alam, ia harus mulai menyingkirkan sifatnya yang sepihak dan mengambil satu dimensi yang sama sekali baru, yang menyatakan segala yang dinamis dan kontradiktif, dengan kata lain, ciri dialektik dari dunia nyata."
    dari kalimat kesimpulan diatas saya berfikir memang lah bukan sesuatu yang salah jika kita memihak pada suatu hal, namun jika keterpihakan tersebut sudah berlebihan maka itu akan dapat menutupi ilmu lain yang akan kita pelajari. karena semua hal adalah dinamis dan sangat kontradiktif.

    ReplyDelete
  21. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Sebagaimana yang Bp ungkapkan bahwa sebenar-benar kita tidak tau apakah kita Dewa atau Daksa karena kita tidak tau di dimensi mana kita berada apakah masih terjebak dengan dimensi lama atau sudah meningkat ke dimensi yang lebih tinggi karna ilmu pengetahuan kita, semua tergantung ruang dan waktu, dalam ruang dan waktu tertentu kita bisa menjadi dewa karna ilmu pengetahuan kita dan dalam ruang dan waktu yang berbeda kita bisa menjadi Daksa karena terjebak dalam ilmu pengetahuan kita sendiri. Terkait dengan Matematika Kongkrit ( Matematika Sekolah) untuk SD dan SMP, saya berpendapat bahwa matematika untuk anak seharusnya lebih diangkat dari aktivitas sehari-hari yang dialami siswa, sehingga lebih mudah dipahami siswa.

    ReplyDelete
  22. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Matematika sekolah terutama matematika pada tingkat sd dan smp menuntut penjelasan yang bersifat konkret, karena pada tahap tersebut siswa berada pada tahap pemikiran konkret dan baru akan menuju ke tahapan semi abstrak. Matematika murni bisa saja belajar dari definisi lalu diturunkan ke dalam teorema-teorema dan selanjutnya, tetapi untuk siswa sd dan smp justru sebaliknya, harus dari benda konkret atau fenomena-fenomena di sekitar barulah siswa bisa mengomunikasikannya ke dalam bahasa matematika hingga pada akhirnya dapat menguasai konsepnya. Oleh sebab itu, guru harus menerapkan metode pembelajaran yang tepat.

    ReplyDelete
  23. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Artikel dalam link tersebut menggambarkan bagaimana dukungan tehadap matematika sekolah. Sesungguhnya matematika itu tidak bisa lepas seutuhnya dari kenyataan yang ada di dunia, bahkan matematika yang asbtrak itu adalah hasil dari pemikiran tentang kejadian-kejadian yang ada dikenyataan dan dihubungkan menjadi sebuah teori. Jika matematika dikatakan hanya sebagai ilmu pikir dan bisa memecahkan masalah apapun, tentunya kita harus menyadari bahwa permasalahan di kenyataan tidak akan sesederhana rumus matematika. Oleh karena patut jika bermunculan tokoh yang mendukung pernyataan tentang ilmu berkaitan erat dengan pengalaman dan dapat dijadikan referensi bagi kita untuk mendesain pembelajaran yang sesuai untuk matematika sekolah SD dan SMP.

    ReplyDelete
  24. Junianto
    17709251065
    PM C

    Matematika murni atau pure mathematics dan matematika sekolah memiliki peran yang berbeda dalam meningkatkan kemampuan matematis seseorang. Matematika murni yang bersifat abstrak sudah seharusnya diajarkan kepada mahasiswa tingkat universitas, sedangkan matematika sekolah diajarkan kepada siswa di sekolah dasar dan menengah. Jangan sampai keduanya dicampur atau ditukar. Siswa sekolah dasar dan menengah cenderung bisa memahami materi yang bersifat konkret dapripada abstrak, sedangkan mahasiswa sudah mampu berpikir abstrak. Maka dari itu, ahli matematika murni tidak perlu ikut terjun dalam matematika sekolah karena akan menyebabkan kebingungan siswa. Matematika murni diibaratkan matematikanya Para Dewa maka jangan diberikan kepada siswa ( Daksa).

    ReplyDelete
  25. Kondisi pembelajaran di sekolah juga menjadi hal yang patut di selidiki. Dari dulu sampai sekarang matematika masih menjadi momok bagi siswa di kalangan sekolah dasar dan menengah. Terkadang keabstrakan matematika lah yang menjadi faktor penyebab, di samping metode pembelajaran, dll. Matematika sekolah hendaknya diajarkan menggunakan contoh-contoh nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya matematika sekolah adalah matematika konkret. Maka dari itu, guru harus berusaha memberikan contoh sekonkret mungkin kepada siswa dan mengajat siswa untuk mengetahi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Peran pemberian contoh dalam pembelajaran di sekolah memiliki peranan penting untuk memahamkan siswa dengan materi. Bahkan, siswa terkadang tidak membutuhkan definisi dan lebih paham dengan adanya contoh. Hal ini dikarenakan siswa memang berpikir secara konkret bukan abstrak.

    ReplyDelete
  26. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Minimnya objek konkret pembelajaran matematika pada siswa SD dan SMP memang dapat menimbulkan efek psikologis dan persepsi yang sifatnya negatif. Siswa telah terlanjur mengategorikan Matematika dan IPA adalah pelajaran yang sulit, sehingga siswa cenderung tidak menyukai matematika.

    ReplyDelete
  27. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Matematika merupakan suatu yang abstrak. Oleh karena itu, perlunya matematika realistis agar mudah di terima oleh siswa. Perlunya guru menurunkan derajadnya agar bisa memahami siswa dan siswa paham akan yang di sampaikan guru. Sebenar-benarnya hidup, tidak ada yang memiliki kedudukan paling tinggi selain Tuhan.

    ReplyDelete
  28. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Belajar anak-anak dengan belajarnya orang dewasa berbeda. Anak cenderung belajar matematika secara intuitif, artinya tidak perlu pembuktian sebuah rumus itu dari mana dan bagaimana membuatnya. Anak-anak lebih cocok jika belajar matematika diakaitkan dengan kontekstual atau yang terjadi di lingkungan keseharian anak tersebut. Sedangkan belajar matematika bagi orang dewasa, sudah mulai dengan pengenalan rumus-rumus yang kompleks dan bagimana cara mendapatkannya pun sudah mulai diajarkan. Jdi tidak boleh memberikan pembelajaran yang sama pada anak dan orang dewasa.

    ReplyDelete
  29. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B


    Saya pun tidak mengetahui, apakah saat ini saya menjadi daksa ataukah dewa. Tetapi sepertinya saya akan menjadi daksa jika sebelum membaca naskah marxist tidak membaca petunjukkan dari Bapak terlebih dahulu. Marxism ini merupakan aliran filsafat yang menemukan kebenaran ada di dalam material. Menurut aliran marxism, adanya matematika murni berawal dari kebutuhan manusia yang material. Pada naskah tersebut dicontohkan dengan cara menghitung dengan 10 jari karena memang manusia memiliki 10 jari. Tetapi matematika sekolah yang dibutuhkan anak-anak tidak sebatas itu, mereka butuh adanya benda konkret yang menunjang cara berpikir mereka. Perkembangan berpikir mereka belum bisa lepas dari benda konkret. Sedangkan matematika murni, untuk mereka yang sudah melewati tahap perkembangan berpikir konkret, belajar dari yang konkret itulah kemudian mereka mampu untuk mengabstraksikan pemahaman-pemahamannya.

    ReplyDelete
  30. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Ilmu akan selalu berkembang. Dalam menggapai ruang dan waktu jadilah seseorang yang meningkatkan dimensi dikarenakan bacaan dan ilmu. Sebagai seorang dari matematika murni akan mengalami sedikit kesulitan untuk menjadi pendidikan apabila yang terbiasa berhadpaan dengan angka kemudian berhadapan langsung dengan manusia. Begitu juga yang berasal dari pendidikan akan merasa kesulitan untuk menyampaikan materi setingkat unoversitas karena ilmu matematikanya kurang mendalam. Namun baik pendidikan maupun murni semuanya memiliki kewajiban dalam belajar karena setiap orang memiliki kewajiban dalam berikhtiar untuk memeroleh pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  31. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Dari postingan tersebut,betapa sifat ego dapat melupakan satu sisi dari pasangannya .Seperti yang dilukiskan di atas,ego dunia dapat mengabaikan akhirat.Seharusnya keduanya dapat berjalan seimbang dengan tidak mengenyampingkan sisi lain.Matematika murni yang diterapkan mungkin sama persis dengan gambaran tersebut.Mengedepankan prinsip indentitas lantas kemudian mengenyampingkan prinsip kontrakdiktif.Sungguh menyedihkan jika tunas-tunas muda tidak dapat mengepalkan sayapnya ke udara karena disebabkan pemahaman yang bertumpu pada matematika murni. Padahal matematika murni masih bersifat separuh ilmu belum membentuk ilmu seutuhnya.

    ReplyDelete