Oct 26, 2014

PERBINCANGAN PARA DEWA- BERBAHAYA UNTUK DIBACA PARA DAKSA



Ass. Wr. Wb


Pesan dari saya (Marsigit) sebelum membaca naskah terkoneksi di bawah nanti ini hendaknya waspada kepada aliran-aliran yang sudah tendensius mempunyai motif, karena motif/tujuan dapat mengalahkan hakekat kebenaran. Kebencian Kurawa memberi keberanian untuk mengalahkan Kebenaran dari Keikhlasan para Pandawa. Ego/superego suatu Parpol memberi kekuatan untuk mengalahkan/meniadakan/menolak sebuah Kebenaran dari Parpol kompetitornya. Ego Rasionalisme mengabaikan kebenaran Empirisisme dan sebaliknya. Ego Kerja/Praktek mengabaikan Ego Wacana/Teori, dan sebaliknya. Ego Dunia mengabaikan Akhirat. Ego Ideal mengabaikan Realisme, dan sebaliknya. Ego Marxisme mengabaikan Spiritualisme dan Idealisme. Demikian dan seterusnya...

Sebenar-benar Bacaan berikut  adalah untuk para Dewa dan bukan untuk para Daksa. Jika para Daksa mencoba membacanya maka dia akan terancam akan termakan oleh Paramitos. Dan jika sudah demikian maka hanya Ruwatan atau ritual memohon ampun yang dapat dilakukan. Namun sebenar-benar kita tidak mampu membedakan apakah kita Dewa atau Daksa. Kita hanya mampu mencobanya.

Dalam bacaan ini saya justru merasa iba kepada Matematika Murni yang selama ini saya salahkan karena terlalu ikut campur urusan Pendidikan Matematika untuk anak-anak, sehingga menimbulkan dampak psikologi yang buruk.
Dalam bacaan ini nada-nadanya Marxistsm akan menggunakan Paradox Matematika untuk justifikasi atau pengesahan bahwa matematika hanyalah sekedar fiksi atau ideal yang kurang bermanfaat bagi explore benda-benda/materi seperti yang dikembangkan oleh Marxistme.
Walaupun saya memerjuangkan Matematika Kongkrit ( Matematika Sekolah) untuk SD dan SMP, bukan berarti saya pro-Marxisme. Saya perlu sampaikan ini karena bacaan berikut dapat menyebabkan misleading jangan-jangan aliran Realistic Mathematics dianggap pro-Marxisme.
Saya tetap konsisten bahwa Kontradiksinya matematika itu berbeda dengn Kontradiksinya filsafat/dunia/benda konkrit. Kontradiksi dalam matematika adalah Inkonsistensi atau I tidak sama dengan I; kontradiksinya filsafat/dunia/benda adalah hukum Kontradiksi yaitu bukan Hukum Identitas.
Jadi, perjuangan saya untuk mengeksplore Matematika Kongkrit semata-mata dikaitkan dengan kemampuan psikologis siswa (anak kecil).
Bagi para Dewa, silahkan bacalah secara kritis dan cermat; bagi para Daksa maka lengkapilah bacaan-bacaan yang lainnya agar ideal/kebenaran tidak mudah termakan oleh Keberaniannya Motif (Politik/Ideologi)

Selamat membaca naskah berikut:

Sunday, 25 May 2008 

yang dapat diakses di: 

http://www.marxist.com/reason-in-revolt-bab-16-matematika.htm

Wss Wr Wb
Marsigit

Catatan:
1. Engels yang banyak dikutip dalam naskah adalah Tokoh Marxisme/Materialisme selain Karl Mark
2. Dewa adalah diriku yang meningkat dimensinya dibanding diriku yang lampau dikarenakan bacaan dan ilmuku.
3. Daksa adalah diriku yang sekarang yang terjebak/terperangkap oleh ruang dan waktu dikarenakan tidak melakukan ikhtiar menembus ruang dan waktu dengan bijak (tidak membaca untuk memeroleh pengetahuan baru)
4. Marxisme/Materialisme adalah aliran filsafat yang menemukan kebenaran ada di dalam Batu/Materi.
5. Bangsa Indonesia pernah mengalami keadaan traumatis (Th.1965) dikarenakan pemberontakan
G30/s PKI yang ideologinya mendasarkan pada Marxisme/Materialisme. Mungkin generasi muda tidak mengalami dan hanya mendengar penuturan generasi tua.
6. Bacaan ini saya tayangkan karena dia merupakan anti-tesis dari Kapitalisme, dan sebaliknya. Tetapi dia juga anti-tesis dari Spiritualisme dan Idealisme. Jadi membacanya dapat dianggap secara filsafat sebagai usaha melakkan Sintesis.
7. Bekerja, bekerja dan bekerja...perlu diimbangi dengan berpikir, berpikir dan berpikir...; karena bekerja saja adalah baru separoh dunia dan terancam menjadi buta. Sedangkan berpikir saja juga hanya baru separo dunia, dan terancam menjadi kosong. Maka sebenar-benar belajar/hidup adalah berjuang agar kita tidak menjadi buta dan tidak menjadi kosong.

10 comments:

  1. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Pandangan bahwa matematik murni tidak bersinggungan dengan dunia fisik memang sepertinya terlalu jauh dari keadaan yang dapat dilihat sebenar-benarnya. Walaupun secara ideal, hal tersebut dapat disampaikan di muka umum, namun perlu juga ditilik bagaimana matematik murni terbentuk dari sejarah yang tak dapat dihindari bahwa memang berasal dari permasalahan dunia sekitar.

    ReplyDelete
  2. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Kebutuhan manusia dalam memenuhi kehidupan sehari-harinya memberikan pengaruh dalam perkembangan matematika. Kebutuhan yang semakin berkembang di setiap jaman tentu menuntut manusia untuk menemukan jalan yang lebih efektif sehingga dapat memenuhi kebutuhan dalam skala yang lebih besar. Sehingga manusia dengan akal yang telah dianugerahi oleh Tuhan, mengembangkan ilmu untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan tersebut.

    ReplyDelete
  3. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Merujuk pada sejarahnya, aksiom yang kita kenal sekarang dalam matematika memang ditemukan setelah percobaan-percobaan yang tidak sebentar. Metode awal dengan trial and error menjadi bukti bahwa aksiom tersebut dibuktikan setelah melalui beragam percobaan.

    ReplyDelete
  4. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Pendekatan induktif dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa ketidakberhinggaan itu benar adanya. Memang pengalaman manusia belum dapat meraih ketidakberhinggaan tersebut. Namun, melalui pendekatan induktif, dapat diraba secara intuitif ketidakberhinggaan tersebut.

    ReplyDelete
  5. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Zeno menunjukkan bahwa ketidakberhinggaan tersebut sebenarnya ada dan nyata di sekitar kita. Dengan mencontohkan bahwa satu benda yang bergerak, sebelum mencapai satu titik tertentu harus menjadli pertama-tama separuh jarak, kemudian separuh dari separuh, dan berjalan seperti itu seterusnya hingga tak berhingga.

    ReplyDelete
  6. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Formula-formula yang ditemukan dalam matematika, sebagian besar ditemukan karena para ahli menemukan sebuah fenomena atau permasalahan dalam kehidupan sehari-harinya. Salah satu contohnya adalah rumus pythagoras yang konon sudah diketahui atau dipergunakan dalam penentuan pembagian tanah di Mesir Kuno.

    ReplyDelete
  7. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Aksiom-aksiom walaupun sudah terbukti kebenarannya, masih perlu untuk ditelaah lebih lanjut. Terutama dalam pengajarannya di dalam kelas. Siswa masih perlu untuk mengembangkan konsep pikirannya dalam membuktikan aksiom-aksiom tersebut. Karena matematika itu dinamis dan terus berkembang, sehingga mungkin saja di masa depan akan ada aksiom yang ternyata perlu diperbaiki atau ditemukan pengecualian.

    ReplyDelete
  8. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Guru perlu membimbing murid-murid untuk memiliki intuisi yang kuat dan luas agar tidak terjebak dalam kepuasan. Melalui intuisi yang kuat, murid akan mendapatkan bekal untuk memandang permasalahan secara luas. Seperti dicontohkkan Robert May agar dapat memandang segi empat, segi tiga, dan segi lima itu tidak sepenuhnya berbeda satu dengan yang lainnya, yaitu dalam hal topologi dengan geometri karet.

    ReplyDelete
  9. Calva Ananta Dominikus Matutina
    13301241061
    Pendidikan Matematika I 2013

    Pendekatan yang kontekstual pun juga perlu disesuaikan dengan tahapan perkembangan murid-murid baik itu pada tahap sekolah dasar, menengah, maupun atas. Sehingga, permasalahan yang disajikan pun tidak terlalu mudah maupun tidak terlalu sulit. Maka, murid pun dapat tertantang untuk menyelesaikannya dengan caranya masing-masing.

    ReplyDelete
  10. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016


    Elegi di atas menjelaskan bahwa matematika murni telah ikut campur dengan pendidikan matematika. Hakikatnya, matematika murni tidak perlu mencampuri pendidikan matematika. Ketika hal tersebut terjadi, siswa akan mengalami kebinggungan bahkan miskonsepsi dalam mempelajari matematika. Sebenarnya matematika adalah intuisi yang dikembangkan menjadi imajinasi yang sebenarnya didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.