Nov 6, 2014

Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya



Ass wr wb, ketika aku baca lagi Elegi ini, aku merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Oleh karena ini Elegi ini sengaja aku angkat ke permukaan kembali agar dapat disimak lebih banyak lagi oleh para pembaca. Selamat membaca. Wss wr wb

Oleh Marsigit

Pikiranku:
Oh...hoh... kalau tidak salah itu yang namanya Fatamorgana. Hem...sekali lagi dia berusaha menggodaku. Jelas-jelas dia memang bermaksud menguji pikiranku. Wahai Fatamorgana...agar aku mampu memecahkan misterimu...maka bersedialah engkau berkomunikasi denganku?

Fatamorgana:
Aku mempunyai caraku sendiri dalam berperilaku sebagai Fatamorgana. Jika aku tunduk dengan perintah-perintahmu maka tidaklah lagi aku bernama Fatamorgana.

Pikiranku:
Waha...tahu saja aku akan dirimu. Wahai Fatamorgana...engkau itu sebetulnya adalah Intuisiku.

Intuisiku:
Selamat aku ucapkan kepada dirimu, bahwasanya engkau itu hampir saja bisa menangkap Fatamorgana. Tetapi ketahuilah bahwa intuisimu itu hanya sebagian dari sifat Fatamorgana itu. Adalah tidak adil bahwa sifat yang sebagian itu engkau peruntukan untuk menamakan keseluruhan. Jika Intuisi adalah Fatamorgama, maka belum tentu Fatamorgana itu Intuisi.

Pikiranku:
Welah...ternyata belum pas juga. Baiklah Fatamorgana, sekarang pasti aku akan benar. Melihat gejalamu maka engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Etik dan Estetika.

Etik dan Estetika:
Wahai Pikiran, ketahuilah bahwa Etik dan Estetika itu bisa bersifat pribadi, kelompok atau universal. Lihatlah Fatamorgana itu! Dengan lincahnya dia itu berlari-lari dari pribadi, menuju kelompok, menuju universal atau sebaliknya. Padahal dirimu tidak bisa menunjuk ruang dan waktunya Fatamrgana sekarang itu. Maka adalah terlalu gegabah jika engkau menunjuk dia hanya sebagai Etik dan Estetika. Jika Etik dan Estetika adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu Etik dan Estetika.

Pikiranku:
O..iya ya. Hemm...aku belum akan menyerah. Tetapi mengapa engkau tidak pula segera pergi dariku? Ah ini pasti aku akan betul. Wahai Fatamorgana engkau itu pastilah Superegoku.

Superego:
Wahai Pikiranku...pusat pengendalian Superegomu itu adalah pada Egomu. Ketahuilah bahwa Egomu itu hanyalah sebagian kecil saja dari pengendalian Fatamorgana ini. Maka tiadalah tepat jika engkau katakan bahwa Fatamorgana itu adalah Superegomu. Jika Superego adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Superego.

Pikiranku:
Wahai Fatamorgana engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Bayanganku sendiri?

Bayangan:
Wahai Pikiran...lihatlah di sebelah sana! Ada bagian Fatamorgana tidak selalu mengikuti dirimu. Bagaimana mungkin Fatamorgana adalah hanya bayanganmu jika sebagian sifatnya adalah ternyata bayangan orang lain. Jika Bayanganmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah bayanganmu.

Pikiran:
Wahai Fatamorgana kurangajar betul engkau itu, telah membuat marah pikiranku. Engkau itu kan cuma Fenomena. Hanya Fenomena saja, kok sombongnya luar biasa.

Fenomena:
Wahai Pikiran...ketahuilah bahwa menurut Immanuel Kant, Fenomena adalah sesuatu obyek yang bisa dipersepsi dengan panca indera. Sedangkan ada dari bagian Fatamorgana, tidak dapat dipersepsi menggunakan panca indera. Itulah yang disebut Noumena. Jika Fenomena adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Fenomena.

Pikiran:
Wahaha....haha....mau minteri orang pinter ya kamu! Alasanmu itulah sebenar-benar telah menunjukkan bahwa misteri itu telah terungkap. Kan... kalau begitu...ya gampang saja....Singkat kata Fatamorgana ya sekaligus Fenomena dan Noumena, ...gitu aja kok repot.

Fenomena dan Noumena:
Wahai Pikiran..aku menyayangkan sifatmu yang sombong. Kesombonganmu itulah penyebab engkau termakan mitos. Ketahuilah bahwa teori Fenomena dan Noumena itu kan hanya teorinya seorang Immanuel Kant. Kenapa engkau serahkan hidupmu seribu persen kepada teori itu. Bukankah hal yang demikian menunjukkan bahwa sebenar-benar dirimu itu adalah telah mati, dikarenakan tidak mampu lagi berpikir kritis. Pendapat seseorang adalah suatu tesis, maka wajib hukumnya bagi pikiran kritis untuk mencari anti-tesisnya. Jika Fenomena dan Noumena adalah Fatamorgana maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Fenomena dan Noumena.

Pikiran:
Wah heh huh hah kok kak tut tat tit tut tat tit weil weil thong thong shot...udah-udah pergi sana aku tidak butuh lagi memikirkanmu.

Fatamorgana:
Hemhem...sudah sampilah pada saatnya engkau itu tak berdaya.

Pikiran:
Woh...nanti dulu. Aku merasa gengsi kalau tidak bisa memecahkan misterimu itu. Tetapi segenap daya dan upaya pikiranku ternyata tak mampu memecahkan Fatamorgana ini. Wahai Hatiku telah sampailah diriku itu dipenghujung batasku. Padahal penghujung batasku itu adalah Hatiku. Bolehkah aku meminta bantuan dirimu untuk memecahkan misteri siapakah Fatamorgana didepanku itu?

Hatiku:
Ketahuilah wahai Pikiranku, bahwa tidaklah mungkin dirimu mampu mengetahui segala seluk beluk Hatimu. Sedangkan kalimatmu itupun tidak mampu mengucapkan dan menuliskan segala pikiranmu. Tindakanmu tidak akan mampu menjalani semua tulisamu. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan Fatamorgana ini hanya dengan kalimat-kalimatmu itu, kata-katamu, dan tulisan-tulisanmu? Sedangkan diriku itu pun tidak seluruhnya mampu merasakan Fatamorgana. Maka tidaklah cukup jika engkau hanya mengandalkan Hatimu sendiri. Ujilah dengan Hati para subyek diri yang lain. Jika Hatimu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Hatimu.

Hati Subyek Diri yang Lain:
Sebentar dulu...emangnya urusanku hanyalah Fatamorganamu. Sedangkan akupun sedang menghadapi Fatamorgana yang lain. Fatamorgana diriku saja aku sulit memecahkan, apalagi Fatamorgana dirimu. Hati pertama: ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap hati manusia. Hati kedua:ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. Hati ketiga: ketahuilah bahwa Fatamorgana dapat berada diluar hati atau diluar pikiran.

Pikiranku:
Wahai para Hati...cukup-cukup. Tidak mau menjelaskan Fatamorganaku malah bertengkar sendiri. Okey...saya akan bertanya kepada Nasibku. Wahai Nasibku...tinggal dirimulah aku meminta tolong. Apa dan siapakah Fatamorgana ini?

Nasibku:
Wahai Pikiran...sebagian Nasibmu itu adalah tersembunyi sifatnya. Jika engkau mengetahui semua nasibmu, maka hal demikian bertentangan dengan hakekat dirimu sebagai manusia. Ketahuilah bahwa nasibmu itu ternyata bisa pula menjadi Fatamorgana. Jika Nasibmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu bahwa fatamorgana itu adalah Nasibmu. Adalah hanya ditangan Allah SWT segala Nasibmu itu berada. Lahir, mati dan jodhoh itu ada ditangan Tuhan. Manusia itu hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Maka sekecil-kecil dan sebesar-besar persoalanmu itu serahkan saja kepada Tuhan. Berdoalah dengan tawadu’ dan ikhlas. Allah SWT akan selalu mendengar doa orang yang ikhlas. Amiin

Pikiranku:
Hemm...baru kali ini Pikiranku mendapat persoalan yang begitu besar dan hebat. Baiklah aku akan bertanya kepada Doaku. Wahai doaku, bersediakah engkau menjelaskan kepada diriku apa dan siapa Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...pikiran...pikiran...sombong dan bengal amat engkau itu. Bukankah sudah banyak peringatan bagi dirimu bahwa dirimu itu hanyalah bersifat terbatas. Tiadalah hukumnya doa bisa dicampur dengan pertanyaan. Bagaimana bisa engkau berdoa sementara engkau masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan? Tetapi mengapa engkau selalu saja berusaha ingin memecahkan misteri Fatamorgana ini. Ketahuilah bahwa dalam Doamu itu ada tempatnya di mana pikiranmu harus berhenti.

Pikiranku:
Hah...apa? Pikiranku harus berhenti? Bukankah jika Pikiranku harus berhenti maka matilah diriku itu. Wahai Doaku...apakah engkau menginginkan lebih baik Pikiranku mati dari pada aku bisa memahami Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...Pikiran-pikiran. Berhentinya Pikiran itu tidaklah harus bahwa dirimu itu mati. Ketahuilah bahwa Pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur. Tentulah bahwa Pikiranmu itu juga mati jika dirimu mati. Ketahuilah sekedar memperoleh jelasnya sesuatu saja, sudah dapat dikatakan bahwa pikiranmu telah mati. Atau jika pikiranmu sedang memikirkan A, maka matilah pikiranmu terhadap B. Maka bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk. Maka tiadalah Doamu itu ikhlas dan khusyuk jika engkau dalam keadaan mengembarakan Pikiranmu itu. Sampai di sini apakah engkau belum paham bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tidaklah berdaya memecahkan fatamorgana ini. Jangankan Pikiranmu, sedangkan Hatimu saja tak kuasa melakukan hal yang sama. Maka sekali lagi tiadalah Pikiranmu itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu. Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana. Berserahlah keharibaan Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya. Amiin.

67 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Pikiran kita mempunyai keterbatasan untuk mengungkapkan segala yang ada dan yang mungkin ada. Pikiran kita tidak dapat mengetahui seluk-beluk dalam hati dan ucapan kita tidak mampu mengucapkan ataupun menuliskan semua yang ada dalam pikirkan kita. Apa yang kita lakukan pun tidak mampu mencerminkan apa yang kita tulis. Oleh karena itu, pikiran kita tidak dapat sepenuhnya mengartikan atau pun memecahkan misteri tentang fatamorgana. Yang bisa kita lakukan adalah secara ikhlas dan tulus hati berdoa kepada Allah Swt untuk selalu mengharap ridha dariNya, berserah diri dan mohon anugerah dariNya.

    ReplyDelete
  2. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Perlu kita sadari bahwa manusia sering bertindak sombong, sehingga ia berpikir bahwa ia akan mengatahui segalanya hanya dengan pikiran saja. Bahkan, (dalam artikel di atas) untuk menemukan apa itu fatamorgana, ia tidak bisa. Meskipun manusia telah meminta bantuan dari siapa pun, ia tetap tidak akan mampu menemukannya jika dia masih sombong. Kita sebagai manusia seharusnya dapat mengetahui posisi diri sebagai makhluk ciptaan Allah dan tidak sombong kepada Allah. Kita juga harus menyadari bahwa pikiran tidak mungkin dapat menyelesaikan semua masalah di dunia karena pikiran kita sangat terbatas. Allah lah yang menciptakan pikiran kita dan Allah lah yang memberikan pengetahuan kepada pikiran tersebut. Jadi, kita harus bisa tunduk kepada Allah karena hanya Dia yang Maha Tahu semua ciptakan-Nya.

    ReplyDelete
  3. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ritual ikhlas kali ini saya memperoleh pelajaran bahwa dalam Fatamorgana dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. kita sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan. Ketika memikirakn sesuatu untuk memecahkan suatu masalah, kita juga memiliki batasan-batasan. Ketika pikiran kita memikirkan sesuatu yang tidak dapat terpecahkan, maka sebaiknya berhenti memikirkannya kemudian berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya pikiran kita memiliki batas.

    ReplyDelete
  4. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah saya membaca postingan diataa, banyak hal yang saya peroleh. Saya menyadari bahwa hati dan pikiran kita tidak akan dapat menembus fatamorgana. Kita hanya dapat slalu berdoa, bersikap ikhlas dalam segala hal dan slalu berserah diri kepada ALLAH SWT. Kita sebagai manusia hanya bagian kecil dari ciptaan-NYA.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Setiap manusia itu mempunyai pikiran yang terbatas. Sebagai manusia, kita tidak bisa dapat memecahkan segala macam masalah, karena sifat dari daya pikir manusia itu terbatas. Sehingga manusia tidak pantas untuk menyombongkan diri atas pikiran-pikiran dan pengetahuannya yang dimiliki. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi bagi manusia bahwa manusia hanyalah seorang makhluk yang tak berdaya bilamana tidak ada sebuah kekuatan yang mahabesar yang menopangnya.

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Sesungguhnya pikiran kita sangatlah terbatas. Namun kadang kala kita lupa akan keterbatasan itu sehingga kita berlaku sombong, merasa mengetahui segalanya padahal kita hanya mengetahui sedikit saja dari apa yang kita pikirkan. Misalnya definisi dari kata abstrak yaitu suatu yang tidak bisa digambarkan secara real atau nyata artinya itu hanya ada dalam pikiran kita. Mari kita gunakan sekali lagi pikiran kita untuk melihat diri kita pada saat ini. Sulit bukan, hal yang tanpa batas seperti saat ini sulit dipikirkan, ini menunjukkan pikiran kita punya batas wajtu bukan berdiri tanpa batas waktu, itulah yang membedakan kita dengan Tuhan, karena kebenaran yang dikatakan manusia adalah batas-batas dimana diantara itu terselip satu kebenaran Tuhan.

    ReplyDelete
  7. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya pernah membaca tulisan yang mengatakan bahwa bumi ini hanyalah sebutir debu di luasnya alam raya ciptaan Tuhan. Bumi kita yang mampu menampung milyaran umat manusia saja hanyalah debu. Apalagi kita, manusia, yang cuma menumpang hidup di atasnya. Manusia yang tercipta dari debu tanah sangatlah kecil di hadapan Tuhan. Namun seringkali manusia bermegah diri, merasa tahu segalanya, dan merasa bisa mengatasi semua masalah dengan mengandalkan pikiran-pikirannya. Padahal Tuhanlah yang berkuasa di atas segalanya. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita sudah seharusnya berserah, ikhlas, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  8. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Manusia adalah makhluk yang terbatas dan tidak sempurna. Kemampuan pikiran manusia sangat terbatas. Masih banyak hal-hal yang tak dapat didefinisikan dan dipikirkan oleh pikiran manusia. Sehingga janganlah menyombongkan diri dan mengganggap dirimu sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kita hanyalah makhluk ciptaanNya yang penuh dengan keterbatasan. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berdoa dan berikhtiar agar dimudahkan dalam segala urusan. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayah Nya kepada kita semua. Aamiin

    ReplyDelete
  9. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang tak berdaya. Kekuatan pikiran manusia terbatas. Tidak semuanya yang ada di dunia ini mampu kita pikirkan. Kita sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hal ini disebut fatamorgana. Kita boleh berpikiran seperti itu, namun jangan sampai kita terpedaya oleh pikiran kita akan fatamrgana dunia.

    ReplyDelete
  10. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dikaruniai akal dan pikiran. Namun, perlu kita sadari bahwa pikiran manusia adalah pikiran yang terbatas. Manusia tidak boleh menyombongkan diri dan menganggap dirinya sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kita hanyalah makhluk ciptaanNya yang penuh dengan keterbatasan. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berdoa dan berikhtiar agar dimudahkan dalam segala urusan. Semoga Allah selalu memberikan rahmatnya kepada kita semua. Aamiin

    ReplyDelete
  11. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Hidup itu harus memiliki suatu kekbesan kita jangan hanya terikat pada itu saja dan dengan begitu kita hanya berdiam disitu saja tnapa ada konstribusi kita, kebebebasan itu diperlukan dalam hidup dengan kebebasan kita bisa mnacari jati diri kita seperti apa, dan kita bisa menemukan sebenar-benar hidup itu seperti apa. Ikhlas salah satu unsur yang mendampingi dalam menjalani suatu kebebasan. Walaupun dengan ikhlas akan sangat sulit di terapkan.

    ReplyDelete
  12. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ada saatnya pikiran kita menjadi terbatas sehingga berhenti pada satu titik dan tidak mampu memikirkan sesuatu itu. Kita dapat mengetahui kapan pikiran kita menjadi mati. Pikiran dikatakan mati ketika ia terbatas dan tidak mempu menjelaskan sesuatu. Pikiran mati ketika kita tidur. Kemudian pikiran juga dikatakan mati saat seseorang sedang berdoa. Berdoa pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi dengan Tuhan. Kita haruslah berdo’a dengan khusyuk dan ikhlas dengan menghentikan pikiran pada hal yang lain. Maka ketika kita masih berpikir tentang banyak hal lain ketika berdo’a maka do’a kita belum mencapai kekhusyukuan dan keikhlasan.

    ReplyDelete
  13. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPS Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Assalamualaikum, manusia dibekali pikiran untuk dapat menerjemahkan fenomena. Dalam proses menerjemahkan itu, sebetulanya manusia membuat model-model dalam pikirannya. Model-model tersebut dihubungkan oleh pikiran manusia yang disebut intuisi. Padahal belum tentu model-model tersebut bisa dihubungkan. Oleh karena itu, intuisi tersebut hanyalah fatamorgana. Disebut fatamorgana, karena bisa dibayangkan, bisa menjadi nyata, tapi belum tentu nyata. Oleh karena itu, fatamorgana juga merupakan noumena. Namun fatamorgana juga bisa jadi nyata, karna bisa ditangkap oleh panca indera. Sehingga fatamorgana juga fenomena.

    ReplyDelete
  14. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Adanya kontradiksi antara pikiran dan hati memang menjadi dilemma. Ketika pikiran sedang dihadapkan dengan persoalan yang besar, yang terkadang bertentangan dengan hati kita maka doa akan menajdi jalan terakhir. Sehebat apapun seseorang memikirkan sesuatu, maka hati kita jauh lebih mendalam memahaminya. Dan tingkatan yang paling luas adalah doa, doa yang mengungkapkan segalanya temasuk isi hati dan pikiran manusia. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang selalu berdoa kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ketika membaca judul elegi ini 'ketika pikiranku tak berdaya' saya merasa tertarik. Dan benar, tulisan ini sangat dalam maknanya. Tulisan ini menyampaikan bahwasanya pikiran manusia hanyalah terbatas. namun seringkali manusia bersikap sombong dengan menganggap dirinya mengetahui banyak hal atau bahkan memaksakan mengetahui hal hal yang memang tak dapat ia jangkau. Sejatinya manusia hanyalah lemah dan oenuh keterbatasan, apalagi pikiran manusia, bahkan pada hatinya, nasibnya semuanya tak berdaya, karena manusia memang hanyalah seorang hamba dari Tuhannya. Sudah selayaknya kitaberserah di hadapan sang penciptaa, Allah SWT serta menghindari sikap sombong.

    ReplyDelete
  16. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pikiran memang menjadi hal yang menjadi kelebihan manusia bila dibangdingka dengan makhluk lainnya. Dengan pikiran yang senantiasa berkembang manusia dapat memecahkan permasalahan kehidupannya. Namun perlu diketahui bahwa pikiran memiliki keterbatasan. Keterbatasan ini sudah didesain oleh Sang Maha Pencipta. Jika manusia sombong sehingga berniat menembus batas itu maka hasilnya adalah mitos. Sudah sepantasnya manusia menyadari keterbatasannya dan sudah seyogyanya manusia mensyukurinya. Karena ketika manusia memiliki 1 sifat tak terbatas akan membuat hidupnya tidak nyaman.

    ReplyDelete
  17. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dalam elegi pikiran ku tak berdaya ini mengajarkan bahwa hati dan pikiran manusia itu terbatas, jangan slalu merasa hebat dengan apa yang dimiliki. Sesungguhnya hati dan pikiran manusia itu tak berdaya dalam memcahkan misteri fatamorgana. Allah SWT menguji manusia sesuai dengan batas kemamapuan makhluknya, tidak mungkin ALLAH SWT memberikan masalah kepada umatnya yang tidak dapat diselsaikan. Untuk itu sadarlah sebagai manusia untuk slalu berdoa, ikhtiar dan tawadu’ kepada Allah SWT

    ReplyDelete
  18. Nurul Faizah
    14301241022
    Pendidikan Matematika A 2014 (S1)

    Elegi ritual ikhlas ketika pikiranku tak berdaya ini benar-benar membuat pengingat diri ini, bahwa dalam hidup jangan senantiasa mengagungkan pikiran yang kita miliki. Pikiran manusia itu jelas memiliki keterbatasan. Sepandai pandainya orang kalau tidak pernah mengingat Alloh atas segalanya maka akan sia-sia. Kita harus mengingat bahwa Alloh yang dapat menentukan segala sesuatunya. Manusia mempunyai kewajiban berikhtiar akan tetapi pada akhirnya Alloh yang akan menentukan semuanya, sehingga selain berikhtiar maka manusia juga harus perbanyak tawakal kepada Alloh. Justru kekuatan doa ini lah yang sangat menentukan.

    ReplyDelete
  19. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari percakapan tersebut saya memahami bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna, tetapi manusia sering berperilaku sombong akan salah satu kelebihannya yaitu memiliki akal pikiran. Pikiran beranggapan bahwa pikiran akan selalu mengetahui kebenaran. Padahal pikiran bukanlah segalanya untuk mencari kebenaran karena pikiran juga memiliki keterbatasan. Pikiran berhenti bukan berarti hidupnya mati. Pikiran juga seperti mesin, ada saatnya untuk mati ada pula saatnya untuk hidup. Jika mesin dipaksa untuk terus beroperasi maka akan rusaklah mesin itu. Begitu pula dengan pikiran, jika pikiran dipaksa terus untuk berpikir, maka akan rusak pula pikiran itu. Ketika pikiran sudah tak berdaya memecahkan suatu misteri maka salah satu cara yang dapat dilakukan adalah berserah diri kepada Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk.

    ReplyDelete
  20. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Pada sela – sela pikiran tidak terdapat pikiran lain. Tiada pikiran di dalam pikiran. Yang ada hanyalah fatamorgana diantara hal tersebut. Oleh karena itu jika telah memikirkan suatu hal maka berfokuslah. Jika sukar untuk dilakukan bersihkan pikiran, kosongkan pikiran, tenangkan pikiran dengan cara menghadap Sang Ilahi Yang Maha Pemberi Petunjuk.

    ReplyDelete
  21. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca elegi tersebut ada pelajaran penting yang dapat saya petik, yaitu bahwa pikiran manusia itu terbatas dan tidak semua hal dapat dipikirkan dan tidak selalu dapat memecahkan misteri dan persoalan hidup. Sering kali manusia merasa sombong membanggakan diri dengan kelebihannya terutama dalam hal berpikir, merasa paling-paling, padahal semua manusia memiliki batasan berpikirnya masing-masing. Maka dari itu sebaik-baik kita adalah berserah kepada Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk, hindari sifat-sifat kesombongan dalam hati dan pikiran dan semoga Allah melimpahkan berkah rahmat dan hidayah pada kita semua.

    ReplyDelete
  22. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Yang menjadi poin dari elegi diatas adalah pikiran tidak mampu memecahkan setiap persoalan hidup. Kadang kala pikiran akan berhenti disuatu ketika ia tidak lagi dapat memikirkannya. Banyak misteri fatamorgana yang tidak dimengerti dan dijelaskan oleh pikiran, namun fatamorgana dapat kita hindari dengan selalu berserah diri ke keharibaan Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya. Dengan begitu kita tidak akan bisa disesatkan oleh fatamorgana. Aamiin.

    ReplyDelete
  23. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia sebagai makhluk dengan segala keterbatasannya termasuk dalam keterbatasan dalam berpikir. Ketika kita sudah tak mampu berpikir mengenai hal tertentu, maka mendekatlah kepada Allah SWT, mohonlah petunjuk kepadaNya sehingga hati menjadi bersih. Karena pada dasarnya hati yang bersih akan membuat pikiran jernih.

    ReplyDelete
  24. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pikiran kita kadang terbatas dan tidak mampu mengetahui hal-hal lain yang susah dijangkau sehingga kita tidak bisa sombong, karena banyak hal yang belum atau bahkan tidak ketahui. Maka janganlah kita sombong dengan apa yang kita ketahui dan apa yang kita miliki. Kesombongan bisa membuat kita termakan mitos yaitu hal-hal yang merugikan diri sendiri. Ketika kita sudah sampai pada tingkat orang sombong kita harus segera berdoa dan berhenti agar kita tidak termasuk orang yang merasa tahu segalanya.

    ReplyDelete
  25. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dari elegi ini, pikiran seseorang ingin mengungkapkan segala sesuatu yang telah ia pahami berdasarkan yang pernah ia baca, pengalaman yang telah dilaluinya dan ilmu yang ia punyai. Orang hidup berarti ia berpikir bahkan ketika kita tidur pun kita masih berpikir. Dengan demikian maka kita gunakan pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang positif dan memikirkan untuk hidup lebih baik dari kemaren.

    ReplyDelete
  26. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Fatamorgana adalah sesuatu yang semu, yaitu suatu bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. Manusia memang makhluk yang sempurna, namun kesempurnaannya tidak menjadikan dia sempurna karena tidak ada yang sempurna di seluruh jagad raya ini kecuali Allah. Manusia diberi batas-batas pikiran, dimana ada pemikiran yang memang tidak bisa dipikirkan oleh manusia dan hanya menjadi urusan Allah. Itu menunjukkan bahwa pikiran manusia tak berdaya tanpa kehendak dari-Nya.

    ReplyDelete
  27. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pada kenyataannya pikiran dapat melampaui hati, dan ia berperan sebagai kebenaran, namun hakikatnya bukanlah kebenaran yang berpihak pada pikirannya, tetapi hanyalah sebuah fatamorgana. Pikiran dengan hati terkadang saling mendahului, namun pikiran tanpa hati tak bisa berjalan sendiri. Denga seorang mengetahui kadar kemampuan dan batas-batasnya, ia akan selamat. Baik selamat di dunia maupun selamat di akhirat.
    Beda halnya tatkala seorang memaksakan kehendak pikirannya dg klaim fatamorgana, justru ia akan banyak mendapatkan mitos semata.

    ReplyDelete
  28. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pikiran manusia pasti memiliki batas maksimal, Ketika manusia mendapatkan sebuah masalah dan merasakan sulit untuk mencari solusinya (pikiran sudah mencapai batasnya) makadekatlah kepada Allah SWT. Berdoa untuk memohon pertolongan dariNya secara ikhlas dan yakinlah bahwa Allah memberi sebuah cobaan kepada hambanya pasti sesuai dengan kemampuannya.

    ReplyDelete
  29. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Bahasa, adalah alat komunikasi. Menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi adalah salah satu upaya mengkongkritkan isi pikiran yang abstrak. Bahasamu adalah pikiranmu. Bahasa akan menjembatani apa yang engkau pikirkan dengan apa yang akan dipahami oleh orang lain. Ketika 'bahasa' menjadi bermakna, maka akan memperkecil intuisi dan fatamorgana dan bias komunikasi. Seringkali juga ditemui, bahwa tidak semua orang punya keterampilan bahasa yang memadai, sehingga teramat sulit untuk mengkomunikasikan pemikirannya. Dengan kondisi ini, akan mudah memunculkan 'fatamorgana' dan 'intuisi' yang berefek bias. dan ambiguitas. Namun perlu diperhatikan bahwa, keterampilan berbahasa berkaitan erat dengan aspek kecerdasan manusia. Sesempurnanya manusia, tidak akan mungkin sempurna untuk kategori Multiple Intellegence-nya Gardner. Oleh karenanya, bias fatamorgana dan pemikiran yang intuitif, terkadang layak dipahami dalam perspektif yang normal. Ketika kita memikiran sesuatu namun ternyata tidak sesuai dengan nasib di kehidupan saat ini sehingga pikiran itu hanya akan menjadi bayang-bayang atau fatamorgana yang akan selalu muncul sebelum apa yang kita pikirkan menjadi kenyataan

    ReplyDelete
  30. Manusia mempunyai keterbatasan. Pikiran manusia tidak dapat mencapai semua pengetahuan, hanya sedikit saja penciptaan Allah yang dapat diketahui. Memikirkan satu hal berarti banyak hal yang tidak dapat kita pikirkan. Janganlah terlalu membanggakan apa yang dapat dipikirkan. Pikiran tidak dapat menggapai hati. Persoalan yang dihadapi kadang pikiran tidak mempu untuk mencari solusinya maka kembalikan itu kepada pemilik segala urusan yaitu Allah SWT. bermunajat kepadaNya agar diberi pertolongan dan petunjuk.

    ReplyDelete
  31. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Allah swt. karena manusia diberikan akal dan pikiran agar senantiasa manusia itu dapat berpikir. Akan tetapi, kemampuan berpikir manusia itu adalah terbatas. Tidak semua hal dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia, karena hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Sehingga, tidaklah pantas manusia itu untuk berlaku sombong atas apa yang telah diketahuinya.

    ReplyDelete
  32. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Elegi ini membuat kita harus intropeksi diri sendiri. Ilmu yang kita miliki itu datangnya dari Allah, maka tidak sepantasnya kita bersombong dengan ilmu yang kita miliki sekarang, ilmu itu sangat luas bagaikan luasnya langit dia angkasa, jadi tetaplah haus akan ilmu, karena ilmu itu tak terbatas.

    ReplyDelete
  33. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki, ketika pikiran tak berdaya ilmu yang dimiliki tak akan bermanfaat abgi dirinya sendiri ataupun orang lain. Justru akan mendatangkan kesombongan. Lebih baik mawas diri untuk menjadi manusia yang paham akan luasnya ilmu dan semua ilmu itu milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  34. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas mengingatkan kita tentang keterbatasan pikiran kita. Masih banyak hal ketidaktahuan kita, namun terkadang manusia sudah terlena dengan pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga ia merasa sombong dan seakan-akan mengetahui segalanya. Na’udzubillah...Karena pada dasarnya, pengetahuan yang kita miliki ibarat setetes air di lautan. Allah swt berfirman dalam QS. Luqman: 18 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Ayat tersebut menjelaskan larangan perbuatan sombong, karena sesungguhnya perbuatan sombong merupakan perbuatan syaitan. Barang siapa merendahkan dirinya, Allah swt akan memuliakan derajatnya, dan barang siapa menyombongkan dirinya, Allah swt akan menjatuhkannya. Oleh karena itu, buang jauh-jauh rasa sombong yang dapat menyesatkan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  35. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Saya kurang sependapat dengan pandangan bahwa "pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur". Sewaktu-waktu ada saat dimana pikiran kita tidak mati meskipun kita dalam keadaan tidur. PAda saat tidur, alam bawah sadar kita mengambil alih diri kita.Ketika kita mengalami stress atau memiliki pemikiran yang berat, akan mungkin pemikiran-pemikiran itu juga muncul di mimpi kita.

    ReplyDelete
  36. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Tulisan ini sangat bermanfaat dan menyadarkan kita bahwa selama ini yang ada dipikiran kita adalah salah. Salah jika kita menganggap bahwa pikiran kita tahu segala hal. Nyatanya banyak hal yang tidak bisa kita capai hanya dengan logika yang ada di pikiran kita. Kita hanyalah orang kecil yang tidak tahu apa-apa. Karena masih banyak hal lain diluaran sana yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  37. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pikiran manusia memiliki keterbatasan. Keterbatasan pikiran manusia yang mungkin sulit menembus fatamorgana. Kadang manusia lupa akan keterbatasannya dalam berpikir sehingga dia sombong akan pikirannya sendiri. Ilmu yang ada datangnya dari Allah SWT dan tidak ada batasnya. Maka masih pantaskah kita sombong akan ilmu yang ada didalam pikiran kita yang sifatnya terbatas ini.

    ReplyDelete
  38. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dalam proses berfikir terjadi pertentangan antara yang baik dan buruk dalam pikiran. Pertentangan ini mencoba mencari jawaban terbaik dari yang terbaik untuk menjawab sebuah pertanyaan yang kemudian menghasilkan keputusan atas hasil dari olah pikir tersebut untuk memecahkan masalah yang terjadi. Dalam berfikir hati pun turut andil untuk memberikan suaranya atas apa yang dipikirkan. Proses berfikir dapat dikatakan menganalisa apa yag ada dan yang mungkin ada dengan logis dan kritis.

    ReplyDelete
  39. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu sifat yang dimiliki manusia adalah sifat sombong. Sifat sombong merupakan sikap yang tidak sepantasnya dimiliki oleh seorang manusia. Karena kesombongan tersebut akan membuat manusia merasa bisa dan cenderung tidak bersyukur. Padahal Ilmu-ilmu yang manusia peroleh merupakan Ilmu yang datangnya dari Allah SWT. Sehingga sudah sepatutnya manusia untuk tidak menyombongkan ilmu yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  40. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Dalam proses ketika pikiran mencari arti sesungguhnya mengenai fatamorgana terdapat banyak pelajaran yang di petik. Hal ini seperti kita menjalani sebuah ujian, namun tahap-tahap melewati ujian tersebut terdapat berbagai pembelajaran hidup yang dapat dipetik. Mengenai isi artikel ini terdapat pernyataan menarik mengenai pikiran yang mati. Disini dikatakan bahwa ketika kita tidur, pikiran kita mati. Bagaimana hal ini menjelaskan mengenai seseorang yang sedang tidur dan bermimpi? Bukankah mimpi juga aktifitas pikiran? Terimakasih.

    ReplyDelete
  41. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Sepandai apapun kita dalam berpikir tetap ada batasnya. Tidak semua masalah mampu kita pecahkan dengan hanya mengandalkan pikiran kita, karena pikiran kita tidak dapat mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa ada faktor lain yang mampu membantu kita memecahkan permasalahan hidup kita, yaitu kuasa Allah SWT. Sebagai manusia, janganlah kita merasa sombong dengan mengatakan bahwa kita bisa segalanya karena tanpa-Nya kita bukan apa-apa.

    ReplyDelete
  42. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. pikiran manusia itu terbatas. Jangan sombong atas kepintaran yang dimiliki, karena setiap yang dipikirkan manusia pasti akan memiliki batas. Kekuasan Allah SWT akan ilmu pengetahuan itu tak terbatas, tapi pikiran manusia itu terbatas. Seperti disebutkan dalam elegi, jika manusia itur maka terhentilah pikiran.

    ReplyDelete
  43. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pikiran manusia sangatlah terbatas. Banyak hal yang tidak dapat dipikirkan manusia. Namun, banyak manusia yang menyombongkan diri akan pengetahuannya. Padahal hanya Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. Hanya Allah yang dapat mengetahui lahir, jodoh dan matinya seseorang. Karena terbatasnya kemampuan pikiran kita maka kita perlu berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk dan kemudahan. Namun dalam berdoa janganlah kita berfikir kesana kemari. Dalam berdoa kita haruslah khusuk.

    ReplyDelete
  44. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna karena dikaruniai akal dan pikiran. Namun sebenarnya Manusia merupakan makhluk sempurna didalam ketidaksempurnaan karena pada dasarnya kesempurnaan hanya milik Allah semata. Ketidaksempurnaan tersebut merupakan keterbatasan kita sebagai manusia. Maka semua persoalan atau urusan yang menyangkut segala sesuatu di dunia ini serahkan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus menghilangkan kesombongan yang pernah kita miliki, senantiasa sabar, berdoa dan berdzikir dengan ikhlas dan khusyuk.

    ReplyDelete
  45. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, saya belajar bahwa manusia itu hanyalah bersifat terbatas. Oleh karena itu, tidak pantas jika manusia bersikap sombong. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Semua persoalan atau urusan yang menyangkut segala sesuatu di dunia ini seharusnya kita serahkan kepada Allah SWT. Tugas kita hanyalah berdoalah dengan tawadu’, khusuk dan ikhlas. Semoga Allah akan mempermudah segala urusan kita. Aamiin.

    ReplyDelete
  46. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ketika seseorang memiliki ilmu yang setinggi-tingginya tetapi ketika akal dan pikiranya tidak berdaya, semua ilmu yang dimiliki tidak akan bermanfaat bagi siapapun baik bagi dirinya sendiri atau orang lain. Justru hanya akan menghantarkan kita dalam keangkuhan ilmu. Ingat bahwa setinggi-tingginya ilmu yang kita miliki adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  47. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    ketika kita mengalami pikiran yang tak berdaya, maka kita akan mengarah pada perilaku sombong. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pikiran yang tak berdaya adalah kuatkanlah iman kita kepada Allah SWT, slalu berfikir bahwa semua yang dimiliki di dunia ini akan kembali pada-Nya.

    ReplyDelete

  48. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia berpikir pikirannya bisa memikirkan segalanya. Tapi perlu diketahui bahwa pemikiran manusia itu terbatas dan tidak bisa mengatahui segala hal tentang di dunia ini. Sombong jika manusia merasa tahu segalanya. Manusia bersifat terbatas, hanya Allah Maha Tahu segalanya.

    ReplyDelete
  49. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan terbatasnya pikiran manusia. Tidak sepantasnya manusia sombong atas yang telah ia ketahui, karena sebenarnya tidak tahu akan hal yang lebih besar dari yang ia ketahui. Manusia tidak bisa mengetahui jodoh, mati, rezekinya di masa depan. Hanya Allah yang tahu akan ketiga hal tersebut.

    ReplyDelete
  50. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setinggi-tingginya manusia merasa dirinya punya banyak ilmu, punya banyak pengelaman, dan tahu segalanya. Semakin itu membuat manusia rendah serendah-rendahnya. Apa yang kita ketahui adalah keterbatasan. Kita perlu berdoa dan terus berusaha agar Allah memberikan jalan kebaikan untuk kita.

    ReplyDelete
  51. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia memang sempurna karena diberkahi dengan pikiran dan perasaan (hati). Namun, karena pikiran itu manusia sering kali merasa sombong. Manusia yang memiliki ilmu sering kali merasa sombong karena merasa ilmunya sudah banyak. Orang yang sombong itu sesungguhnya akan celaka karena kesombongannya itu menutup pikirannya dari fakta bahwa ilmu dan pikiran sangat luas dan hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

    ReplyDelete
  52. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada elegi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa pemikiran manusia sebagai makhluk sempurna yang diciptakan Allah SWT tidak akan lengkap, karena memang telah ditakdirkan untuk memiliki keterbatasan, dan memiliki sifat reduksi.

    ReplyDelete
  53. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Sikap sombong adalah salah satu sikap yang tidak disukai Allah, manusia yang bersikap sombong akan merasa bahwa dirinya paling benar dan paling pintar, seakan akan dia tau semuanya, namun bahkan jika ditanya apa itu fatamorgana dia tidak bisa menjawab. Rasa sombong adalah yang akan mematika diri kita sendiri. Tidak sepantasnya kita dapat berbuat sombong ketika masih ada yang lebih dari kita, istigfhar bersama sama semoga kita bukan termasuk orang orang yang sombong, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  54. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Agar tidak terjebak pada mitos kita sebaiknya mengerahkan segenap usaha kita dalam memahami sesuatu, mulai dari menggunakan pikiran, menggunakan intuisi, hingga menggunakan hati.

    ReplyDelete
  55. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Persoalan hidup yang dialami manusia tidaklah sama. Masing-masing memiliki tingkat kesulitan sendiri sendiri dengan berbagai macam solusi. Namun sebagai manusia yang hakikatnya serba terbatas, maka tidak semua kesulitan dapat terpecahkan oleh kemampuan, pengetahuan dan pikiran manusia. Contohnya seperti yang dijelaskan pada elegi diatas bahwa persoalan mengenai apa itu fatamorgana tidak dapat diselesaikan oleh manusia secara sempurna. Hal ini karena fatamoorgana yang berada diluar dan pikiran manusia, serta bersifat ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  56. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia secara takdir mempunyai batasan sendiri sendiri-sendiri. Sehingga dalam pemikirannya pun juga terbatas. Namun untuk mengatasi ini manusia haruslah membuka diri agar pemikiran ini yang terbatas dapat menemui pemikiran yang ternatas pula saling bertukar informasi atau pengetahuan mengenai batasan mereka yang tidak mereka ketahui masing-masing. Dan dengan keterbatasan pemikiran ini harus ada sikap menghargai agar pengetahuan yang seorang ketahui diterima oleh diri dengan baik.

    ReplyDelete
  57. Nurul Faizah
    14301241022
    Pendidikan Matematika A 2014 (S1)

    Postingan ini memberikan arti bagi saya bahwa ketika semua yang ada di dunia ini tidak mampu kita selesaikan dengan akal, pikiran dan tenaga kita, maka ingatlah bahwa segalanya akan bergantung dengan ketentuan Alloh, janganlah kita merasa hebat. Teruslah berdoa kepada Alloh. Berserah diri hanya kepada Alloh.

    ReplyDelete
  58. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Itulah mengapa kita tak boleh takabur akan kemampuan pikiran kita. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan, tentu tak dapat menembus fatamorgana. Tak dapat menembus kekuatan doa. Sesungguhnya yang paling kuasa adalah Allah SWT. Pikiran bisa saja mati ketika kita tidur dan kita berdoa. pikiran juga tidak bisa bekerja dibanyak hal dalam satu waktu. Ketika kita memikirkan A pikiran kita mati terhadap B. Maka janganlah kita takabur akan kemampuan pikiran.

    ReplyDelete
  59. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk yang sempurna, namun perlu disadari bahwa manusia tidak ada apa-apanya kekuatannya. Manusia dengan segala keterbatasannya, keterbatasan akal pikiran salah satunya.

    ReplyDelete
  60. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Banyak hal-hal didunia ini yang tidak dapat manusia sampai pikirannya. Contohnya adalah hal-hal yang terjadi dalam tubuh manusia sendiri, juga tentang alam semesta yang ada mengapa dapat tercipta dengan sempurna milyaran bintang milyaran meteor dan milyaran benda langit lainnya.

    ReplyDelete
  61. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Lagi-lagi bersyukur adalah cara paling baik untuk menerima semua yang telah Tuhan berikan pada kita. Bersyukur adalah cara kita ikhlas dan mengiklhaskan. Bersyukur adalah cara menenangkan hati.

    ReplyDelete
  62. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tetap merasa rendah di hadapan Tuhan dan selalu bersimpuh serta menghilangkan rasa sombong yang menghinggapi hati. Merendahkan diri dengan segala ikhlas untuk mencari ridho Nya.

    ReplyDelete
  63. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pikiran manusia itu terbatas. Manusia merupakan makhluk yang dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga ia menjadi tahu bahwa ada hal hal yang tidak dapat dikerjakannya sendiri, oleh karena itu kita harus menyadari bahwa kita memiliki pemimpi sebagai panutan kita. Rasa tak berdaya inilah agar kita tak menjadi sombong dan merendahkan yang lain.

    ReplyDelete
  64. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Carilah ilmu sampai ke negeri cina. Mungkin pepatah ini mengajarkan kita untuk terus menerus menimba ilmu agar pikiran kita bisa lebih terbuka akan luasnya dunia. Akan tetapi seluas-luasnya ilmu kita, setinggi-tingginya gelar kita, itu jangan malah membuat kita sombong dan angkuh.

    ReplyDelete
  65. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika pikiran kita terbatas, sebenarnya itu adalah nikmat. Bayangkan kalau saja kita bisa mengingat segalanya, dan memikirkan segalanya dalam satu waktu maka manusia tidak akan bisa tenang. Di balik suatu kekurangan pasti Tuhan mempunyai tujuan yang baik. Sebagai manusia kita harus banyak bersyukur.

    ReplyDelete
  66. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia saat menghadapi sesuatu masalah, kita menginginkan jawaban untuk mengatasi masalah tersebut. Seperti apakah kejelelasan tersebut. Ternyata dalam filsafat, tidak semua hal dapat kita capai dengan pikitan. Pikiran kita mungkin bisa memikirkan sampai jauh, tetapi hanya sedikit bagian-bagian yang dapat kita jelaskan dengan kata-kata dan tulisan. Karena sejatinya pikiran manusia itu terbatas.

    ReplyDelete
  67. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya tidaklah sempurna dan memiliki keterbatasan dalam segala hal, begitu juga dengan pikiran. Pikiran manusia tidak bisa mengungkapkan segala hal yang ada dan yang mungkin ada, tidak bisa menggapai dan memecahkan misteri fatamorgana seperti dalam tulisan ini. Oleh karena itu tidak selayaknya manusia menyombongkan diri atas apa yang ada dalam dirinya, seperti pikiran tersebut. Yang dapat dilakukan adalah terus berserah diri dan ikhlas memohon ridha Allah SWT dan memohon ampunan-Nya.

    ReplyDelete