Nov 6, 2014

Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya



Ass wr wb, ketika aku baca lagi Elegi ini, aku merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Oleh karena ini Elegi ini sengaja aku angkat ke permukaan kembali agar dapat disimak lebih banyak lagi oleh para pembaca. Selamat membaca. Wss wr wb

Oleh Marsigit

Pikiranku:
Oh...hoh... kalau tidak salah itu yang namanya Fatamorgana. Hem...sekali lagi dia berusaha menggodaku. Jelas-jelas dia memang bermaksud menguji pikiranku. Wahai Fatamorgana...agar aku mampu memecahkan misterimu...maka bersedialah engkau berkomunikasi denganku?

Fatamorgana:
Aku mempunyai caraku sendiri dalam berperilaku sebagai Fatamorgana. Jika aku tunduk dengan perintah-perintahmu maka tidaklah lagi aku bernama Fatamorgana.

Pikiranku:
Waha...tahu saja aku akan dirimu. Wahai Fatamorgana...engkau itu sebetulnya adalah Intuisiku.

Intuisiku:
Selamat aku ucapkan kepada dirimu, bahwasanya engkau itu hampir saja bisa menangkap Fatamorgana. Tetapi ketahuilah bahwa intuisimu itu hanya sebagian dari sifat Fatamorgana itu. Adalah tidak adil bahwa sifat yang sebagian itu engkau peruntukan untuk menamakan keseluruhan. Jika Intuisi adalah Fatamorgama, maka belum tentu Fatamorgana itu Intuisi.

Pikiranku:
Welah...ternyata belum pas juga. Baiklah Fatamorgana, sekarang pasti aku akan benar. Melihat gejalamu maka engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Etik dan Estetika.

Etik dan Estetika:
Wahai Pikiran, ketahuilah bahwa Etik dan Estetika itu bisa bersifat pribadi, kelompok atau universal. Lihatlah Fatamorgana itu! Dengan lincahnya dia itu berlari-lari dari pribadi, menuju kelompok, menuju universal atau sebaliknya. Padahal dirimu tidak bisa menunjuk ruang dan waktunya Fatamrgana sekarang itu. Maka adalah terlalu gegabah jika engkau menunjuk dia hanya sebagai Etik dan Estetika. Jika Etik dan Estetika adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu Etik dan Estetika.

Pikiranku:
O..iya ya. Hemm...aku belum akan menyerah. Tetapi mengapa engkau tidak pula segera pergi dariku? Ah ini pasti aku akan betul. Wahai Fatamorgana engkau itu pastilah Superegoku.

Superego:
Wahai Pikiranku...pusat pengendalian Superegomu itu adalah pada Egomu. Ketahuilah bahwa Egomu itu hanyalah sebagian kecil saja dari pengendalian Fatamorgana ini. Maka tiadalah tepat jika engkau katakan bahwa Fatamorgana itu adalah Superegomu. Jika Superego adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Superego.

Pikiranku:
Wahai Fatamorgana engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Bayanganku sendiri?

Bayangan:
Wahai Pikiran...lihatlah di sebelah sana! Ada bagian Fatamorgana tidak selalu mengikuti dirimu. Bagaimana mungkin Fatamorgana adalah hanya bayanganmu jika sebagian sifatnya adalah ternyata bayangan orang lain. Jika Bayanganmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah bayanganmu.

Pikiran:
Wahai Fatamorgana kurangajar betul engkau itu, telah membuat marah pikiranku. Engkau itu kan cuma Fenomena. Hanya Fenomena saja, kok sombongnya luar biasa.

Fenomena:
Wahai Pikiran...ketahuilah bahwa menurut Immanuel Kant, Fenomena adalah sesuatu obyek yang bisa dipersepsi dengan panca indera. Sedangkan ada dari bagian Fatamorgana, tidak dapat dipersepsi menggunakan panca indera. Itulah yang disebut Noumena. Jika Fenomena adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Fenomena.

Pikiran:
Wahaha....haha....mau minteri orang pinter ya kamu! Alasanmu itulah sebenar-benar telah menunjukkan bahwa misteri itu telah terungkap. Kan... kalau begitu...ya gampang saja....Singkat kata Fatamorgana ya sekaligus Fenomena dan Noumena, ...gitu aja kok repot.

Fenomena dan Noumena:
Wahai Pikiran..aku menyayangkan sifatmu yang sombong. Kesombonganmu itulah penyebab engkau termakan mitos. Ketahuilah bahwa teori Fenomena dan Noumena itu kan hanya teorinya seorang Immanuel Kant. Kenapa engkau serahkan hidupmu seribu persen kepada teori itu. Bukankah hal yang demikian menunjukkan bahwa sebenar-benar dirimu itu adalah telah mati, dikarenakan tidak mampu lagi berpikir kritis. Pendapat seseorang adalah suatu tesis, maka wajib hukumnya bagi pikiran kritis untuk mencari anti-tesisnya. Jika Fenomena dan Noumena adalah Fatamorgana maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Fenomena dan Noumena.

Pikiran:
Wah heh huh hah kok kak tut tat tit tut tat tit weil weil thong thong shot...udah-udah pergi sana aku tidak butuh lagi memikirkanmu.

Fatamorgana:
Hemhem...sudah sampilah pada saatnya engkau itu tak berdaya.

Pikiran:
Woh...nanti dulu. Aku merasa gengsi kalau tidak bisa memecahkan misterimu itu. Tetapi segenap daya dan upaya pikiranku ternyata tak mampu memecahkan Fatamorgana ini. Wahai Hatiku telah sampailah diriku itu dipenghujung batasku. Padahal penghujung batasku itu adalah Hatiku. Bolehkah aku meminta bantuan dirimu untuk memecahkan misteri siapakah Fatamorgana didepanku itu?

Hatiku:
Ketahuilah wahai Pikiranku, bahwa tidaklah mungkin dirimu mampu mengetahui segala seluk beluk Hatimu. Sedangkan kalimatmu itupun tidak mampu mengucapkan dan menuliskan segala pikiranmu. Tindakanmu tidak akan mampu menjalani semua tulisamu. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan Fatamorgana ini hanya dengan kalimat-kalimatmu itu, kata-katamu, dan tulisan-tulisanmu? Sedangkan diriku itu pun tidak seluruhnya mampu merasakan Fatamorgana. Maka tidaklah cukup jika engkau hanya mengandalkan Hatimu sendiri. Ujilah dengan Hati para subyek diri yang lain. Jika Hatimu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Hatimu.

Hati Subyek Diri yang Lain:
Sebentar dulu...emangnya urusanku hanyalah Fatamorganamu. Sedangkan akupun sedang menghadapi Fatamorgana yang lain. Fatamorgana diriku saja aku sulit memecahkan, apalagi Fatamorgana dirimu. Hati pertama: ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap hati manusia. Hati kedua:ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. Hati ketiga: ketahuilah bahwa Fatamorgana dapat berada diluar hati atau diluar pikiran.

Pikiranku:
Wahai para Hati...cukup-cukup. Tidak mau menjelaskan Fatamorganaku malah bertengkar sendiri. Okey...saya akan bertanya kepada Nasibku. Wahai Nasibku...tinggal dirimulah aku meminta tolong. Apa dan siapakah Fatamorgana ini?

Nasibku:
Wahai Pikiran...sebagian Nasibmu itu adalah tersembunyi sifatnya. Jika engkau mengetahui semua nasibmu, maka hal demikian bertentangan dengan hakekat dirimu sebagai manusia. Ketahuilah bahwa nasibmu itu ternyata bisa pula menjadi Fatamorgana. Jika Nasibmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu bahwa fatamorgana itu adalah Nasibmu. Adalah hanya ditangan Allah SWT segala Nasibmu itu berada. Lahir, mati dan jodhoh itu ada ditangan Tuhan. Manusia itu hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Maka sekecil-kecil dan sebesar-besar persoalanmu itu serahkan saja kepada Tuhan. Berdoalah dengan tawadu’ dan ikhlas. Allah SWT akan selalu mendengar doa orang yang ikhlas. Amiin

Pikiranku:
Hemm...baru kali ini Pikiranku mendapat persoalan yang begitu besar dan hebat. Baiklah aku akan bertanya kepada Doaku. Wahai doaku, bersediakah engkau menjelaskan kepada diriku apa dan siapa Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...pikiran...pikiran...sombong dan bengal amat engkau itu. Bukankah sudah banyak peringatan bagi dirimu bahwa dirimu itu hanyalah bersifat terbatas. Tiadalah hukumnya doa bisa dicampur dengan pertanyaan. Bagaimana bisa engkau berdoa sementara engkau masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan? Tetapi mengapa engkau selalu saja berusaha ingin memecahkan misteri Fatamorgana ini. Ketahuilah bahwa dalam Doamu itu ada tempatnya di mana pikiranmu harus berhenti.

Pikiranku:
Hah...apa? Pikiranku harus berhenti? Bukankah jika Pikiranku harus berhenti maka matilah diriku itu. Wahai Doaku...apakah engkau menginginkan lebih baik Pikiranku mati dari pada aku bisa memahami Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...Pikiran-pikiran. Berhentinya Pikiran itu tidaklah harus bahwa dirimu itu mati. Ketahuilah bahwa Pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur. Tentulah bahwa Pikiranmu itu juga mati jika dirimu mati. Ketahuilah sekedar memperoleh jelasnya sesuatu saja, sudah dapat dikatakan bahwa pikiranmu telah mati. Atau jika pikiranmu sedang memikirkan A, maka matilah pikiranmu terhadap B. Maka bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk. Maka tiadalah Doamu itu ikhlas dan khusyuk jika engkau dalam keadaan mengembarakan Pikiranmu itu. Sampai di sini apakah engkau belum paham bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tidaklah berdaya memecahkan fatamorgana ini. Jangankan Pikiranmu, sedangkan Hatimu saja tak kuasa melakukan hal yang sama. Maka sekali lagi tiadalah Pikiranmu itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu. Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana. Berserahlah keharibaan Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya. Amiin.

129 comments:

  1. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia sebagai makhluk dengan segala keterbatasannya termasuk dalam keterbatasan dalam berpikir. Ketika kita sudah tak mampu berpikir mengenai hal tertentu, maka mendekatlah kepada Allah SWT, mohonlah petunjuk kepadaNya sehingga hati menjadi bersih. Karena pada dasarnya hati yang bersih akan membuat pikiran jernih.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pikiran kita kadang terbatas dan tidak mampu mengetahui hal-hal lain yang susah dijangkau sehingga kita tidak bisa sombong, karena banyak hal yang belum atau bahkan tidak ketahui. Maka janganlah kita sombong dengan apa yang kita ketahui dan apa yang kita miliki. Kesombongan bisa membuat kita termakan mitos yaitu hal-hal yang merugikan diri sendiri. Ketika kita sudah sampai pada tingkat orang sombong kita harus segera berdoa dan berhenti agar kita tidak termasuk orang yang merasa tahu segalanya.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dari elegi ini, pikiran seseorang ingin mengungkapkan segala sesuatu yang telah ia pahami berdasarkan yang pernah ia baca, pengalaman yang telah dilaluinya dan ilmu yang ia punyai. Orang hidup berarti ia berpikir bahkan ketika kita tidur pun kita masih berpikir. Dengan demikian maka kita gunakan pikiran kita untuk memikirkan hal-hal yang positif dan memikirkan untuk hidup lebih baik dari kemaren.

    ReplyDelete
  4. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Fatamorgana adalah sesuatu yang semu, yaitu suatu bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. Manusia memang makhluk yang sempurna, namun kesempurnaannya tidak menjadikan dia sempurna karena tidak ada yang sempurna di seluruh jagad raya ini kecuali Allah. Manusia diberi batas-batas pikiran, dimana ada pemikiran yang memang tidak bisa dipikirkan oleh manusia dan hanya menjadi urusan Allah. Itu menunjukkan bahwa pikiran manusia tak berdaya tanpa kehendak dari-Nya.

    ReplyDelete
  5. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pada kenyataannya pikiran dapat melampaui hati, dan ia berperan sebagai kebenaran, namun hakikatnya bukanlah kebenaran yang berpihak pada pikirannya, tetapi hanyalah sebuah fatamorgana. Pikiran dengan hati terkadang saling mendahului, namun pikiran tanpa hati tak bisa berjalan sendiri. Denga seorang mengetahui kadar kemampuan dan batas-batasnya, ia akan selamat. Baik selamat di dunia maupun selamat di akhirat.
    Beda halnya tatkala seorang memaksakan kehendak pikirannya dg klaim fatamorgana, justru ia akan banyak mendapatkan mitos semata.

    ReplyDelete
  6. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pikiran manusia pasti memiliki batas maksimal, Ketika manusia mendapatkan sebuah masalah dan merasakan sulit untuk mencari solusinya (pikiran sudah mencapai batasnya) makadekatlah kepada Allah SWT. Berdoa untuk memohon pertolongan dariNya secara ikhlas dan yakinlah bahwa Allah memberi sebuah cobaan kepada hambanya pasti sesuai dengan kemampuannya.

    ReplyDelete
  7. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Bahasa, adalah alat komunikasi. Menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi adalah salah satu upaya mengkongkritkan isi pikiran yang abstrak. Bahasamu adalah pikiranmu. Bahasa akan menjembatani apa yang engkau pikirkan dengan apa yang akan dipahami oleh orang lain. Ketika 'bahasa' menjadi bermakna, maka akan memperkecil intuisi dan fatamorgana dan bias komunikasi. Seringkali juga ditemui, bahwa tidak semua orang punya keterampilan bahasa yang memadai, sehingga teramat sulit untuk mengkomunikasikan pemikirannya. Dengan kondisi ini, akan mudah memunculkan 'fatamorgana' dan 'intuisi' yang berefek bias. dan ambiguitas. Namun perlu diperhatikan bahwa, keterampilan berbahasa berkaitan erat dengan aspek kecerdasan manusia. Sesempurnanya manusia, tidak akan mungkin sempurna untuk kategori Multiple Intellegence-nya Gardner. Oleh karenanya, bias fatamorgana dan pemikiran yang intuitif, terkadang layak dipahami dalam perspektif yang normal. Ketika kita memikiran sesuatu namun ternyata tidak sesuai dengan nasib di kehidupan saat ini sehingga pikiran itu hanya akan menjadi bayang-bayang atau fatamorgana yang akan selalu muncul sebelum apa yang kita pikirkan menjadi kenyataan

    ReplyDelete
  8. Manusia mempunyai keterbatasan. Pikiran manusia tidak dapat mencapai semua pengetahuan, hanya sedikit saja penciptaan Allah yang dapat diketahui. Memikirkan satu hal berarti banyak hal yang tidak dapat kita pikirkan. Janganlah terlalu membanggakan apa yang dapat dipikirkan. Pikiran tidak dapat menggapai hati. Persoalan yang dihadapi kadang pikiran tidak mempu untuk mencari solusinya maka kembalikan itu kepada pemilik segala urusan yaitu Allah SWT. bermunajat kepadaNya agar diberi pertolongan dan petunjuk.

    ReplyDelete
  9. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Allah swt. karena manusia diberikan akal dan pikiran agar senantiasa manusia itu dapat berpikir. Akan tetapi, kemampuan berpikir manusia itu adalah terbatas. Tidak semua hal dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia, karena hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Sehingga, tidaklah pantas manusia itu untuk berlaku sombong atas apa yang telah diketahuinya.

    ReplyDelete
  10. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Elegi ini membuat kita harus intropeksi diri sendiri. Ilmu yang kita miliki itu datangnya dari Allah, maka tidak sepantasnya kita bersombong dengan ilmu yang kita miliki sekarang, ilmu itu sangat luas bagaikan luasnya langit dia angkasa, jadi tetaplah haus akan ilmu, karena ilmu itu tak terbatas.

    ReplyDelete
  11. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki, ketika pikiran tak berdaya ilmu yang dimiliki tak akan bermanfaat abgi dirinya sendiri ataupun orang lain. Justru akan mendatangkan kesombongan. Lebih baik mawas diri untuk menjadi manusia yang paham akan luasnya ilmu dan semua ilmu itu milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas mengingatkan kita tentang keterbatasan pikiran kita. Masih banyak hal ketidaktahuan kita, namun terkadang manusia sudah terlena dengan pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga ia merasa sombong dan seakan-akan mengetahui segalanya. Na’udzubillah...Karena pada dasarnya, pengetahuan yang kita miliki ibarat setetes air di lautan. Allah swt berfirman dalam QS. Luqman: 18 “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Ayat tersebut menjelaskan larangan perbuatan sombong, karena sesungguhnya perbuatan sombong merupakan perbuatan syaitan. Barang siapa merendahkan dirinya, Allah swt akan memuliakan derajatnya, dan barang siapa menyombongkan dirinya, Allah swt akan menjatuhkannya. Oleh karena itu, buang jauh-jauh rasa sombong yang dapat menyesatkan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  13. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Saya kurang sependapat dengan pandangan bahwa "pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur". Sewaktu-waktu ada saat dimana pikiran kita tidak mati meskipun kita dalam keadaan tidur. PAda saat tidur, alam bawah sadar kita mengambil alih diri kita.Ketika kita mengalami stress atau memiliki pemikiran yang berat, akan mungkin pemikiran-pemikiran itu juga muncul di mimpi kita.

    ReplyDelete
  14. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Tulisan ini sangat bermanfaat dan menyadarkan kita bahwa selama ini yang ada dipikiran kita adalah salah. Salah jika kita menganggap bahwa pikiran kita tahu segala hal. Nyatanya banyak hal yang tidak bisa kita capai hanya dengan logika yang ada di pikiran kita. Kita hanyalah orang kecil yang tidak tahu apa-apa. Karena masih banyak hal lain diluaran sana yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  15. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pikiran manusia memiliki keterbatasan. Keterbatasan pikiran manusia yang mungkin sulit menembus fatamorgana. Kadang manusia lupa akan keterbatasannya dalam berpikir sehingga dia sombong akan pikirannya sendiri. Ilmu yang ada datangnya dari Allah SWT dan tidak ada batasnya. Maka masih pantaskah kita sombong akan ilmu yang ada didalam pikiran kita yang sifatnya terbatas ini.

    ReplyDelete
  16. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dalam proses berfikir terjadi pertentangan antara yang baik dan buruk dalam pikiran. Pertentangan ini mencoba mencari jawaban terbaik dari yang terbaik untuk menjawab sebuah pertanyaan yang kemudian menghasilkan keputusan atas hasil dari olah pikir tersebut untuk memecahkan masalah yang terjadi. Dalam berfikir hati pun turut andil untuk memberikan suaranya atas apa yang dipikirkan. Proses berfikir dapat dikatakan menganalisa apa yag ada dan yang mungkin ada dengan logis dan kritis.

    ReplyDelete
  17. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu sifat yang dimiliki manusia adalah sifat sombong. Sifat sombong merupakan sikap yang tidak sepantasnya dimiliki oleh seorang manusia. Karena kesombongan tersebut akan membuat manusia merasa bisa dan cenderung tidak bersyukur. Padahal Ilmu-ilmu yang manusia peroleh merupakan Ilmu yang datangnya dari Allah SWT. Sehingga sudah sepatutnya manusia untuk tidak menyombongkan ilmu yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  18. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Dalam proses ketika pikiran mencari arti sesungguhnya mengenai fatamorgana terdapat banyak pelajaran yang di petik. Hal ini seperti kita menjalani sebuah ujian, namun tahap-tahap melewati ujian tersebut terdapat berbagai pembelajaran hidup yang dapat dipetik. Mengenai isi artikel ini terdapat pernyataan menarik mengenai pikiran yang mati. Disini dikatakan bahwa ketika kita tidur, pikiran kita mati. Bagaimana hal ini menjelaskan mengenai seseorang yang sedang tidur dan bermimpi? Bukankah mimpi juga aktifitas pikiran? Terimakasih.

    ReplyDelete
  19. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Sepandai apapun kita dalam berpikir tetap ada batasnya. Tidak semua masalah mampu kita pecahkan dengan hanya mengandalkan pikiran kita, karena pikiran kita tidak dapat mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa ada faktor lain yang mampu membantu kita memecahkan permasalahan hidup kita, yaitu kuasa Allah SWT. Sebagai manusia, janganlah kita merasa sombong dengan mengatakan bahwa kita bisa segalanya karena tanpa-Nya kita bukan apa-apa.

    ReplyDelete
  20. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. pikiran manusia itu terbatas. Jangan sombong atas kepintaran yang dimiliki, karena setiap yang dipikirkan manusia pasti akan memiliki batas. Kekuasan Allah SWT akan ilmu pengetahuan itu tak terbatas, tapi pikiran manusia itu terbatas. Seperti disebutkan dalam elegi, jika manusia itur maka terhentilah pikiran.

    ReplyDelete
  21. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pikiran manusia sangatlah terbatas. Banyak hal yang tidak dapat dipikirkan manusia. Namun, banyak manusia yang menyombongkan diri akan pengetahuannya. Padahal hanya Allah yang maha mengetahui segala sesuatu. Hanya Allah yang dapat mengetahui lahir, jodoh dan matinya seseorang. Karena terbatasnya kemampuan pikiran kita maka kita perlu berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk dan kemudahan. Namun dalam berdoa janganlah kita berfikir kesana kemari. Dalam berdoa kita haruslah khusuk.

    ReplyDelete
  22. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna karena dikaruniai akal dan pikiran. Namun sebenarnya Manusia merupakan makhluk sempurna didalam ketidaksempurnaan karena pada dasarnya kesempurnaan hanya milik Allah semata. Ketidaksempurnaan tersebut merupakan keterbatasan kita sebagai manusia. Maka semua persoalan atau urusan yang menyangkut segala sesuatu di dunia ini serahkan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus menghilangkan kesombongan yang pernah kita miliki, senantiasa sabar, berdoa dan berdzikir dengan ikhlas dan khusyuk.

    ReplyDelete
  23. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, saya belajar bahwa manusia itu hanyalah bersifat terbatas. Oleh karena itu, tidak pantas jika manusia bersikap sombong. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa. Semua persoalan atau urusan yang menyangkut segala sesuatu di dunia ini seharusnya kita serahkan kepada Allah SWT. Tugas kita hanyalah berdoalah dengan tawadu’, khusuk dan ikhlas. Semoga Allah akan mempermudah segala urusan kita. Aamiin.

    ReplyDelete
  24. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ketika seseorang memiliki ilmu yang setinggi-tingginya tetapi ketika akal dan pikiranya tidak berdaya, semua ilmu yang dimiliki tidak akan bermanfaat bagi siapapun baik bagi dirinya sendiri atau orang lain. Justru hanya akan menghantarkan kita dalam keangkuhan ilmu. Ingat bahwa setinggi-tingginya ilmu yang kita miliki adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  25. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    ketika kita mengalami pikiran yang tak berdaya, maka kita akan mengarah pada perilaku sombong. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi pikiran yang tak berdaya adalah kuatkanlah iman kita kepada Allah SWT, slalu berfikir bahwa semua yang dimiliki di dunia ini akan kembali pada-Nya.

    ReplyDelete
  26. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Itulah mengapa kita tak boleh takabur akan kemampuan pikiran kita. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan, tentu tak dapat menembus fatamorgana. Tak dapat menembus kekuatan doa. Sesungguhnya yang paling kuasa adalah Allah SWT. Pikiran bisa saja mati ketika kita tidur dan kita berdoa. pikiran juga tidak bisa bekerja dibanyak hal dalam satu waktu. Ketika kita memikirkan A pikiran kita mati terhadap B. Maka janganlah kita takabur akan kemampuan pikiran.

    ReplyDelete
  27. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk yang sempurna, namun perlu disadari bahwa manusia tidak ada apa-apanya kekuatannya. Manusia dengan segala keterbatasannya, keterbatasan akal pikiran salah satunya.

    ReplyDelete
  28. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Banyak hal-hal didunia ini yang tidak dapat manusia sampai pikirannya. Contohnya adalah hal-hal yang terjadi dalam tubuh manusia sendiri, juga tentang alam semesta yang ada mengapa dapat tercipta dengan sempurna milyaran bintang milyaran meteor dan milyaran benda langit lainnya.

    ReplyDelete
  29. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Lagi-lagi bersyukur adalah cara paling baik untuk menerima semua yang telah Tuhan berikan pada kita. Bersyukur adalah cara kita ikhlas dan mengiklhaskan. Bersyukur adalah cara menenangkan hati.

    ReplyDelete
  30. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tetap merasa rendah di hadapan Tuhan dan selalu bersimpuh serta menghilangkan rasa sombong yang menghinggapi hati. Merendahkan diri dengan segala ikhlas untuk mencari ridho Nya.

    ReplyDelete
  31. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pikiran manusia itu terbatas. Manusia merupakan makhluk yang dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga ia menjadi tahu bahwa ada hal hal yang tidak dapat dikerjakannya sendiri, oleh karena itu kita harus menyadari bahwa kita memiliki pemimpi sebagai panutan kita. Rasa tak berdaya inilah agar kita tak menjadi sombong dan merendahkan yang lain.

    ReplyDelete
  32. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Carilah ilmu sampai ke negeri cina. Mungkin pepatah ini mengajarkan kita untuk terus menerus menimba ilmu agar pikiran kita bisa lebih terbuka akan luasnya dunia. Akan tetapi seluas-luasnya ilmu kita, setinggi-tingginya gelar kita, itu jangan malah membuat kita sombong dan angkuh.

    ReplyDelete
  33. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika pikiran kita terbatas, sebenarnya itu adalah nikmat. Bayangkan kalau saja kita bisa mengingat segalanya, dan memikirkan segalanya dalam satu waktu maka manusia tidak akan bisa tenang. Di balik suatu kekurangan pasti Tuhan mempunyai tujuan yang baik. Sebagai manusia kita harus banyak bersyukur.

    ReplyDelete
  34. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia saat menghadapi sesuatu masalah, kita menginginkan jawaban untuk mengatasi masalah tersebut. Seperti apakah kejelelasan tersebut. Ternyata dalam filsafat, tidak semua hal dapat kita capai dengan pikitan. Pikiran kita mungkin bisa memikirkan sampai jauh, tetapi hanya sedikit bagian-bagian yang dapat kita jelaskan dengan kata-kata dan tulisan. Karena sejatinya pikiran manusia itu terbatas.

    ReplyDelete
  35. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya tidaklah sempurna dan memiliki keterbatasan dalam segala hal, begitu juga dengan pikiran. Pikiran manusia tidak bisa mengungkapkan segala hal yang ada dan yang mungkin ada, tidak bisa menggapai dan memecahkan misteri fatamorgana seperti dalam tulisan ini. Oleh karena itu tidak selayaknya manusia menyombongkan diri atas apa yang ada dalam dirinya, seperti pikiran tersebut. Yang dapat dilakukan adalah terus berserah diri dan ikhlas memohon ridha Allah SWT dan memohon ampunan-Nya.

    ReplyDelete
  36. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya dapat mengambil beberapa hal. Hal pertama yang saya ambil adalah bagaimana pikiran kita sesungguhnya memiliki keterbatasan, tapi sejauh mana keterbatasan yang dapat kita capai, tentu berbeda-beda. kedua adalah bagaimana kita tidaklah boleh merasa sombong akan suatu hal, sebagaimana kita sering merasa bahwa kita benar, belum tentu pemikiran kita memang benar, karena suatu tesis, akan ada anti-tesisnya. Ketiga tentang bagaimana kita harus selalu ikhlas, ikhlas hati, ikhlas pikir, dalam segala urusan yang kita hadapi karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  37. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Tulisan ini menyadarkan kami (saya) untuk memahami dan mengerti akan batasan-batasan pikiran yang harus kami sadari, agar tidak terperosok dalam kesombongan dan kejerumusan. Saya mengingat bahwa pada dasarnya pikiran manusia itu tidak pernah puas, karena sejatinya pikiran itu selalu mengusahakan kesatuan yang utuh dari oposisi-oposisi atau kontradiksi-kontradiksi yang ditemui (Hegel (1770-1831)), akan tetapi pikiran manusia itu tidaklah tidak terbatas, dan adalah tanggung jawab kami (saya) pribadi untuk mencari batasan kemampuan berpikir kami supaya tidak terjerumus.

    Terimaksih banyak Pak.

    ReplyDelete
  38. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Memang sejatinya berfilsafat itu adalah aktivitas berfikir yang kontinyu terus menerus. Socrates meneladankan sikap bersilsafat manusia untuk mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak sombong, tidak merasa dirinya ahli, tidak malas, terus menerus mengembangkan kemampuan bernalar untuk mendapatkan kebenaran. Namun adakalanya pikiran harus berhenti. Saat tidur, pikiran kita berhenti atau mati. Saat pikiran kita memikirkan tugas kuliah, saat itu juga pikiran kita mati memikirkan menu makan malam. Begitu pula saat kita berdoa atau ibadah, pikiran kita harus mati untuk mencapai kekhusyukan dalam menghadap Allah SWT.

    ReplyDelete
  39. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasarkan sedikit pemahaman saya mengenai filsafat, bahwasanya berfilsafat itu sejatinya adalah olah pikir. Kekacauan-kekacauan yang kita pikir dan kebingungan-kebingunagn yang muncul akibat pemikiran kita itulah sebenar-benar filsafat. Lalu apakah kebingungan pikir ini selanjutnya berdampak pada kehidupan kita? Apakah ia akan membahayakan? Elegi ketika pikiranku tidak berdaya tersebut meyadarkan kita semua bahwa kekacauan, kebingungan, dan kenakalan pemikiran kita perlu ada batasnya. Artinya bahwa jangan sampai kebingungan pikir itu turun ke dalam hati. Lebih lanjut yang saya maksud disini adalah untuk tidak mencampur urusan pemikiran dengan keyakinan dalam hati. Bahwa jika kita sudah tidak mampu memikirkan sesuatu yang dimensinya jauuuuuh di atas kita, maka kembalikan segalanya kepada sang Pencipta. Dengan demikian tentu hidup akan mejadi tenang dan tidak terbebani dengan pikiran.

    ReplyDelete
  40. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum Wr.wb
    Terimakasih pak atas postingannya. Ketika saya membaca Elegi ini, saya merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Dan menambah wawasan saya, di sini saya mengetahui bahwa jika intuisi adalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu intuisi. Jika etik dan estetika adalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu etik dan estetika. Jika superego dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu superego. Jika bayanganmu dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu adalah bayanganmu. Jika fenomena dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu fenomena. Jika fenomena dan noumena dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu adalah fenomena dan noumena. Jika hatimu dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu hatimu. Jika nasibmu dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu nasibmu. Disini membawa kita (saya) untuk terus berada didalam keikhlasan. Teruslah berdoa dalam ikhlas, karena dalam doa ada tempat dimana pikiran kita harus berhenti. Sebenar-benarnya fikiran tidak berdaya memecahkan fatamorgana. Hanya bisa ikhlas berserah diri kepada Allah dan tentunya jangan lupa berusaha.

    ReplyDelete
  41. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Fatamorgana bisa di dalam hati dan di dalam pikiran, tetapi fatamorgana juga bisa di luar hati dan di luar pikiran. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan, termasuk keterbatasan di dalam hati dan pikiran kita. Pikiran kita tidak mampu memikirkan semua hal, terlebih untuk menyelesaikan segala permasalahan dalam hidup. Apa yang kita pikirkan terhadap suatu objek hanyalah bersifat sebagian dari objek tersebut. Masih banyak sifat-sifat lain yang tidak mampu kita ungkapkan dengan pikiran kita. Itu baru satu objek, padahal di dunia ini ada banyak sekali objek dari yang ada hingga yang mungkin ada. Pikiran juga tidak mampu menjangkau seluruh hati kita sendiri. Terlebih lagi pada sesuatu yang bersifat gaib atau noumena. Maka tidak sepantasnya bila kita menyombongkan diri.

    ReplyDelete
  42. Junianto
    PM C
    17709251065

    Pikiran, mungkin sebagian besar orang selalu menganggap bahwa ini adalah sumber dari segala-galanya. Sehingga mereka memepertajam dan megasahnya dengan berbagai cara. Ada juga yang mendewakan pikiran karena mereka menganggap itulah yang akan menaikkan derajatnya. Tetapi mereka lupa dengan hati yang akan selalu menjadi pengingat pikiran mereka. Dan ada Allah yang sebenarnya menciptakan pikiran dan hati mereka. Jadi, tidak ada perlu dibanggakan dari diri kita karena sang Pencipta segalanya pun tidak sombong dan karena Dia lah kita punya semuanya.

    ReplyDelete
  43. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Segala macam hal abstrak di dunia ini memiliki sifat fatamorgana, artinya entah ia ada atau hanya mungkin ada dalam pikiran saja. Jika intuisi adalah fatamorgana, belum tentu fatamorgana adalah intuisi. Tidak berlaku biimplikasi di sini.
    Bahkan pikiran, ego, superego, adalah juga fatamorgana. Karena tidak ada kejelasan akan keberadaannya. Sekali lagi, ia adalah hal yang abstrak. Dengan kata lain, fatamorgana dapat menjelma menjadi berbagai macam bentuk. Entah itu pikiran, intuisi, estetik, etik, ataupun fenomena.
    Elegi ini menceritakan secara implisit bahwa batas pikiran manusia berada dalam pikiran itu sendiri. Seseorang dapat berhenti bertanya-tanya ketika mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Seseorang dapat berhenti berpikir jika sudah tidak ada pikirannya (tidur, gila, mati). Di atas itu semua, pikiran harus tetap terjaga dalam hal yang positif dan tetap mempercayai adanya Sang Pencipta

    ReplyDelete
  44. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Persis seperti kata'Fatamorgana' yang diambil dari bahasa Italia yaitu Faye le Morgana yang artinya seorang peri yang bisa berubah-ubah rupa, fatamorgana akan muncul jika manusia tak lagi dapat menentukan kebenaran akan suatu peristiwa dalam ilmu pengetahuan. Teori Big Bang yang diyakini adalah awal mula terbentuknya alam semesta, hingga saat ini masih disebut sebagai ilmu fatamorgana. Fatamorgana yang dalam ilmu fisika disebut sebagai bias dari cahaya, begitu pula dalam ilmu pengetahuan. Fatamorgana ilmu akan muncul dari prasangka-prasangka orang terhadap sesuatu, kemudian disusun sedemikian rupa sehingga menjadi teori. Elegi ini dapat ditafsirkan sebagai batasan pemikiran manusia yang pada suatu titik hanya dapat menyebutkan tanpa mampu membuktikan. Hanya mampu berprasangka tanpa suatu kebenaran yang nyata. Elegi ini pula membuktikan bahwa setinggi-tingginya ilmu pengetahuan manusia, ada banyak kuasa Allah yang tak pernah dapat dijelaskan atau ditemui asal-usulnya, karena memang hanya ada pada kuasa Allah.

    ReplyDelete
  45. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Janganlah kita selalu men dewa kan pikiran kita. Tidak semua hal dapat dianalisa dengan menggunakan pikiran. Maka dalam hal ini, sesuatu yang kita belum mampu untuk menjawabnya maka serahkanlah hal itu kepada Allah. Nasib kita kedepannya juga merupakan suatu misteri yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, sehingga yang perlu kita lakukan secara kontinu dan terus menerus yakni selalu berdoa dan berikhtiar, haruslah selalu menyertakan Allah SWT di dalam setiap usaha yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  46. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seringkali fikiran lah yang menguasai diri kita dan selalu mengagungkan fikiran dalam setiap langkah maupun keputusan yang akan di ambil. Padahal, fikiran memiliki kelemahan juga. Tanpa disadari, manusia sering kali menuhankan fikiran mereka. Jika fikiran mereka selalu dianggap benar bahkan paling benar, maka tidaklah lama untuk menuju pada jalan yang tidak benar. Seharusnya fikiran suatu saat bisa berhenti bertanya tentang sesuatu, karena segala sesuatu tidak bisa difikirkan dengan rasional manusia yang hanya terbatas. Ada kalanya kita harus menyerahkan permasalahan kita dengan cara memohon ampun secara ikhlas tanpa ada tanya didalamnya. Keihkhlasan inilah yang akan menjawab pertanyaanmu, karena ketika ikhlas, maka tidak ada pertanyaan pun dari fikiran kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  47. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Terkadang masalah muncul ketika antara fikiran dan hati tidak selaras. Ini wajar karena manusia adalah mahkluk yang lemah dan terbatas. Namun ketika pikiran kita sudah tak berdaya untuk mencari solusi dari permasalahan yang kita hadapi, maka alangkah baiknya kita berdoa dan meminta petunjuk kepada sang ilahi. Pikiran adalah salah satu musuh terberat kita dalam menjalani kehidupan sehingga kita harus berupaya keras mengimbanginya dengan perkataan nurani. Karena sebaik-baikya pikiran adalah yang dilandasi oleh hati nurani. Dengan begitu kita akan ikhlas dalam membuat dan menerima dari segala keputusan.

    ReplyDelete
  48. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Yang menarik dari setiap tulisan Bapak , selalu mengandung makna dan endingnya ada semacam sentuhan kalbunya.Terimaksih banyak Pak.Dunia memang fatamorgana yang sifatnya semu, terlihat nyata sesaat yang pada akhirnya sirna seketika.Dan tak ada yang kekal, nyata, dan absolut melainkan Allah Subhana huwata ala.Takdir berupa nasib ,hidup dan mati ada ditangan Allah.Tidak ada yang kekal di muka bumi ini melainkan Dia.Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an” Setiap yang bernyawa pasti akan mati”Dan sebaik-baik hidup adalah berikhtiar dan berdoa.Semoga kita menjadi hamba yang terbaik dan mendapatkan safaat darinya.Aminn .Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  49. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sifat manusia itu merupakan makhluk yang terbatas. Termasuk Pikiran manusia itu terbatas ruang dan waktu. Pikiran tidak bisa menembus hal-hal yang tidak ada di dalam pikiran itu sendiri. Pikiran tidak bisa menembus Fatamorgana, itulah sifat manusia yang terbatas. Dan hendaknya kita senantiasa mendekatkan diri dan meminta kepada Dzat yang Maha tidak Terbatas, Dzat yang Maha Sempurna.

    ReplyDelete
  50. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Pikiran tidaklah sempurna jika dtempatkan sebagai Sang Maha. Pada dasarnya, manusia yang merasa berpikir sempurna terhadap suatu hal, nyatanya itu adalah asumsi. Jadi, hanya asumsi yang berhak menyatakan apakah asumsi dari pikiran tersebut benar atau tidak. Selanjutnya, jika manusia merasa berpikir secara baik tentang etik dan etistika maka hanya etik dan etistika yang dapat memutuskan bahwa apakah manusia telah berpikir secara etis dan etistika atau sebaliknya. Pada dasarnya segalanya kembali kepada sumber segalanya.

    ReplyDelete
  51. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Sebagai makhluk yang dibekali dengan pikiran, manusia tentu bisa dibilang memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk lainnya. Dengan berbekal pikiran ini manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, manusia dapat membuat keputusan-keputusan yang bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Namun, sebagai makhluk, manusia tentu tidak benar-benar sempurna. Termasuk dalam hal pikiran. Ada batasan-batasan dalam pemikiran manusia, yang menyebabkan batasan dalam berpikir. Oleh sebab itu, tidak semua hal dapat dicapai dan dipahami dengan pikiran manusia.

    ReplyDelete
  52. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Dalam berperilaku di kehidupan kita harus menerapkan yang namanya ikhlas hati dan ikhlas pikir. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan dan intuisi kita akan menjadi lebih baik. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan akan menjadi jernih dan pendapat atau keputusan yang kita buat akan semakin baik. dalam berperilaku kita juga tidak boleh berlaku sombong kerena berlaku sombong akan mengakibarkan kita sulit menerima ilmu yang lain karena merasa sudah paling pintar. dengan kesombongan kita, kita juga akan kehilangan banyak hal sampai kita sadar bahwa sebenarnya sombong itu tidak baik. ikhlas hati ihklas pikir lah yang baik untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  53. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dari percakapan diatas saya menarik suatu pelajaran penting bahwa kita tidak dapat menafsirkan atau memberikan suatu sebutan bagi sesuatu tertentu, yang hanya didasari oleh sebagian dari sifat-sifatnya yang kita ketahui. Hal itu tidak memberikan keadilan pada sifat-sifatnya yang lain. Karena pikiran kita tidak dapat memcahkan misteri fatamorgana yang ada, bahkan hati juga tidak dapat melakukannya. Olehkarena itu berdoalah kepada Allah dengan keikhlasan agar diberikan kemudahan dalam menjalani hidup ini. Amin.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  54. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas tulisan di atas. Sungguh logis dan masuk akal bahwa pemberian akal dari Tuhan memang tidak dapat digunakan sepenuhnya untuk memikirkan hal-hal diluar batas kemampuan. Artinya manusia pasti memiliki keterbatasan dalam berpikir. Ketika pikiran menjadi tak berdaya, jangan biarkan ego fatamorgana merajai dan menguasai kita. Fatamorgana adalah hal yg bersifat khayal dan tidak mungkin dicapai. Bukan tentang intuisi, etik dan estetika, superego, bayangan diri, bayangan lain, atau fenomena dan bahkan hati sekalipun. Namun tentang seberapa kuatnya pikiran menghadapi potensi datangnya gejala-gejala berkhayal belaka tanpa teguhnya pengetahuan intuisi yang jelas dan benar. Namun jangan sampai juga kita menjadi orang yang mati karena tidak dalam keadaan berpikir. Fatamorgana menjadi bayang-bayang dan ancaman bagi yang ada dan yang mungkin ada. Sebenar benar pikiran tidaklah berdaya memecahkan dan menghancurkan fatamorgana ini. Dengan kata lain, teruslah kita berserah diri dan memohon perlindungan Allah dengan ikhlas dan khusyu’ agar mendapatkan rahmat dan keberkahan dalam setiap berpikir. Wallahu’alam bisshowab.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  55. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sepandai-pandainya, sebijak-bijaknya manusia tak akan bisa memecahkan segala misteri ciptaan Allah SWT. karena pada hakikatnya manusia hanyalah salah satu ciptaan Allah SWT yang memiliki limit. janganlah kita merasa congkak, tinggi hati, merasa bahwa kita mengetahui segala sesuatu. kembalilah kita berserah diri dan memohon ampun kepada Sang Maha Pencipta, Sang Maha Mengetahui Segala Sesuatu atas ketidak tahu dirian kita sebagai mahluknya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  56. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Dalam setiap perkuliahan, Pak Marsigit selalu mengungkapkan bahwa kita jangan sekali-kali menggunakan pikir dalam spiritualitas. Jika kita berpikir maka itu masih masalah dunia. Saya percaya sekuat-kuatnya pikir, adalah lebih kuat kuasa dari Tuhan yang memberi kita akal untuk berpikir. Tak ada yang perlu disombongkan dari kemampuan kita berpikir, karena itu tak akan berguna jika hatimu mati. Hati yang mati adalah hati yang tak berdoa. Maka, berdoalah senantiasa. Doa adalah salah satu bentuk syukur kepada Tuhan bahwa kita telah diberikan kemampuan berpikir hingga dapat hidup seperti sekarang ini...

    ReplyDelete
  57. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Postingan tentang elegi ketika sekali lagi pikiranku tak berdaya memberikan pelajaran kepada kita bahwa manusia itu memiliki keterbatasan, manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Manusia perlu banyak belajar, belajar, dan belajar. Namun, apalah artinya usaha belajar tersebut ketika semua yang dilakukan itu tidak ikhlas malah lebih ke aroganan untuk menjadi ke sempurna. Terkadang kita perlu untuk mematikan pikiran kita dan kembali kepada Allah SWT, berdoa memohon diberikan kebijakan dalam segalahal.

    ReplyDelete
  58. Akal pikiran manusia merupakan bagian potensial yang sering digunakan manusia sebagai pembanding antar satu dengan yang lain. Bahkan terkadang manusia menganggap bahwa hanya akal pikiranlah yang akan menaikkan derajat mereka. Hal ini menyebabkan, mereka menganggap bahwa akal pikiran adalah dewa dan mendewakannya. Tetapi mereka lupa bahwa Tuhan menciptakan hati sebagai pengingat dan penyeimbang pikiran mereka dan yang akan mengarahkan pikiran manusia kepada hal yang benar.

    ReplyDelete
  59. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih Prof atas pencerahannya. Dari tulisan ini saya memahami bahwa kita tidak boleh terjebak pada golongan orang-orang yang hanya mengedepankan akal pikirannya. Banyak orang yang begitu mendewakan akalnya sehingga melupakan hal yang lainnya seperti hati dan doa. Padahal akal hanya bisa diandalkan dalam urusan-urusan yang sifatnya duniawi, sementara dalam urusan spiritual maka disitu bukanlah domain akal, sebagaimana yang Prof Marsigit sering ingatkan dalam perkuliahan.

    ReplyDelete
  60. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan di atas membuat saya merasa terus menerus diingatkan bahwa tidak semua misteri dapat terpecahkan. Layaknya suatu masalah, terkadang hanya dapat terselesaikan oleh waktu itu sendiri. Ini tentunya tidak ada yang tahu seberapa lama masalah itu akan berakhir melainkan Tuhan yang Maha Berkehendak. Jika sudah seperti ini, manusia sebaiknya menjalani hidup sesuai yang diinginkan oleh Tuhan. Terus memikirkan segala sesuatu yang tidak ada ujungnya juga akan membuat hati menjadi lemah. Terima kasih Prof untuk ulasan ini.

    ReplyDelete
  61. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dengan segala yang kita miliki Tuhan n menunjukkan kekusaanNya termasuk pikiran kita, kemampuan kita memecahkan sesuatu menggunakan pikiran kita menunjukkan kekuasaan Tuhan dalam menciptakan pikiran dan ketidak mampuan kita memecahkan sesuatu menunjukkan kelemahan kita dan besarnya kuasa Tuhan. Semakin kita memikirkan sesuatu secara mendalam semakin kita tahu batas kita, dan disanalah kita akan menemukan kekuasaan Tuhan. Bahkan seorang ilmuwan besar yang menemukan unsur penyusun benda yang ada di alam ini dan bahkan unsur penyusun alam itu sendiri hanya mampu sampai Proton, Elektron dan Neutron. Padahal jika dikaji masih ada hal yang mungkin ada yang diluar pikiran manusia.

    ReplyDelete
  62. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini, menjelaskan bahwa pikiran kita itu terbatas. Karena terbatas itu maka jangan kita menyombongkan diri atas apa yang telah kita pelajari atau apa yang telah kita ketahui. Karena kita diberi akal dan hati bukan untuk bersikap sombong tetapi untuk dapat saling bersinergi atau saling melengkapi agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan. Oleh karena itu, janganlah bersikap sombong karena pada dasarnya pikiran kita mempunyai keterbatasan

    ReplyDelete
  63. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dari elegi di atas, yang dapat saya refleksikan adalah bahwa pikiran manusia itu sifatnya terbatas. Oleh karena sifatnya yang terbatas maka akan ada persoalan yang tidak mampu diolah oleh pikiran. Beberapa hal yang tidak bisa dipikirkan tersebut dapat naik ke dimensi spiritual yaitu aturan Allah SWT. Jika sudah berada di dimensi ini tentunya pikiran manusia tidak akan mampu memikirkannya. Doa adalah sebagian dari wujud ibadah kita kepada Allah SWT, oleh karena itu seyogyanya, doa yang ikhlas adalah yang berasal dari hati yang ikhlas dan dari pikiran yang terhenti karena dalam dimensi spiritual seyogyakan keyakinanlah yang diutamakan dan terhentilah pertanyaan-pertanyaan dari pikiran.

    ReplyDelete
  64. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Manusia diberikan intuisi, pikiran, hati, akal, dan lain-lain sebagai pengontrol satu sama lain agar terjadi suatu bentuk keseimbangan. Doa sebagai penyeimbang yang utama. Karena di dalamnya terkandung harapan-harapan.

    ReplyDelete
  65. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Berpikir kritis harus selalu dibiasakan dalam memandang sesuatu hal. Karena jika tidak bisa berpikir kritis berarti seseorang dikatakan mati dan sudah terkena mitos. Menarik penjelasan tentang pikiran yang sedang mencari jawaban dari yang dipertanyakannya. Bahwa pikiran manusia itu ada batasnya, maka manusia jangan memaksakan keingintahuan terhadap apa yang seharusnya tidak perlu diketahuinya atau sesuatu yang memang manusia tidak akan tahu. Tidak semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan pikiran, contohnya dalam memecahkan misteri fatamorgana diatas.

    ReplyDelete
  66. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B
    Setiap manusia dikaruniai otak yang berguna untuk berfikir. Namun dengan adanya pikiran itu manusia akan jatuh dan terpuruk, ketika dia terlalu mengangungagungkan pikiran. Banyak orang beranggapan bahwa menusia berhenti berfikir jika mati. Namun anggapan itu salah, kadang kala kita juga berhenti berfikir. Maksudnya, ketika kita memikirkan materi kuliah, maka kita juga akan berhenti memilirkan hal lain selain kuliah. Alangkah bahayanya ketika manusia tidak dapat berhenti berfikir dalam sedetikpun. Dia tidak akan bisa berdoa dengan tenang, karna banyak yang mengganggu pikirannya. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena kita ciptaan yang sempurna diantara ciptaan yang lainnya dan kita harus merawat pemberian Tuhan serta menjaga apapun yang dipercayakan kepada kita. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  67. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 P.Mat UNY kelas B 2017

    dari tulisan tersebut pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa pikiran manusia itu ada batasnya, ketika kita terus berusaha mencari jawaban yang pada akhirnya kita sadari bahwa tidak bisa kita pecahkan maka kita harus menyadari bahwa pikiran manusia itu terbatas, tidak sempurna sehingga kita harus menyerahkan segala urusan kepada yang maha sempurna Allah SWT, jangan biarkan pikiran kita terlalu liar dan memunculkan kesombongan dari dalam hati.

    ReplyDelete
  68. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal dan pikiran, tetapi terbatas. Oleh karena itu, jangan sampai manusia menjadi sombong karena ilmu yang ada di pikirannya. Seandainya, lautan dijadikan tinta dan seluruh pepohonan yang ada di bumi dijadikan pena, maka lautan tinta tersebut akan habis dan pena-pena tersebut akan rusak, sedangkan kalimat (ilmu) Allah SWT masih banyak yang belum ditulis.

    ReplyDelete
  69. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Fatamorgana pertama kali saya temukan dalam istilah ilmu kealaman, namun kali ini berhadapan lagi dengan istilah yang sama pada disiplin ilmu yang berbeda. Fatamorgana merupakan istilah yang bahkan saat pikiran mencari jawabannya kepada siapapun tidak dapat ditemukan jawabannya. Hingga pada akhirnya saat pikiran bertanya pada doanya yang merupakan muara dari semua keraguan yang ada di pikiran diketahuilah bahwa pikiran kita tak seharusnya sombong dan melampaui kapasitasnya sebagai makhluk. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  70. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Fatamorgana jika diterapkan dalam kehidupan saya rasa seperti takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk setiap ciptaanNya. Takdir tak mampu dijamah oleh pikiran, oleh ego maupun superego, tak dapat pula dijamah oleh hati sendiri maupun hati yang lainnya, hanya saja dengan berdoa kita berkomunikasi dengan Tuhan mengenai takdir macam apa yang kita harapkan diberikah olehNya untuk kita, mari jangan lelah meminta karena Tuhan pasti akan mengabulkan semua permintaan hambaNya, terlebih Ia mengetahui yang kita butuhkan, sehingga Ia akan memberikan permohonan kita baik dalam bentuk yang kita mohonkan atau bentuk lain yang terbaik untuk kita. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  71. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Hal yang saya pahami dari postingan ini adalah bahwa fatamorgana dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Hal ini sebenarnya sering dialami oleh manusia. Maksudnya ketika seseorang telah memiliki ilmu yang luas kadang orang tersebut menjadi sombong dan lalai sehingga dia merasa tidak membutuhkan ilmu lagi dan tidak mau mencari ilmu lagi. Berarti dia telah mengalami fatamorgana karena sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Padahal ilmu yang dia miliki saat ini tidak sebanding dengan ilmu yang ada di dunia ini. Oleh karena itu jangan menjadikan fatamorgananya sebagai penghalang dia menjadi orang berilmu.

    ReplyDelete
  72. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Benar dan salah suatu pikiran manusia sangatlah relatif ukurannya, Pikiran membantu manusia untuk mengetahui benar dan salah. Melalui pikiran manusia dapat mengetahui segala hal yang ingin diketahuinya. Namun, pikiran kita memiliki segala keterbatasannya. Walaupun pikiran dapat berkembang dan mengatahui segala hal tentang pengetahuan. Hati adalah batas bagi pikiran itu. Hati mengkontrol semua pikiran manusia. Jika manusia berfikir tanpa hati, maka akan menjadi rusaklah manusia itu. Maka, ada saatnya kita harus berhenti untuk memikirkan suatu hal yang berada di luar batas jangkauan kita, tetapi bukan berarti kita mati berpikir selamanya, hanya saja segala ketentuan Allah tidak semua bisa kita pikirkan, tetapi harus diyakini dalam hati.

    ReplyDelete
  73. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pikiran kita mati tidak hanya dikala diri kita mati. Namun ada saatnya kita menghentikan/mematikan pikiran kita sementara yaitu saat kita tidak dalam kesadaran, seperti saat tidur dan pingsan. Manusia adalah makhluk yang lengkapi dengan kesempurnaan dalam keterbatasan. Begitu pula terhadap jangkauan pemikiran. Tiadalah manusia yang dapat memecahkan segala pertanyaan dalam pemikirannya. Karena sebenar-benar manusia adalah sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan.

    ReplyDelete
  74. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Pikiran mempunyai dua arah yang bertentangan kadang dapat bersifat positif dan terkadang bersifat negative. Semua tergantung bagaimana kita mengarahkannya, namun untuk menunjang pemikiran tersebut agar mengacu kepada hal-hal yang berbau positif maka diperlukan landasan berupa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Maka dari itu, ketika ketika kehabisan cara berfikir dalam menghadapi suatu masalah marilah sejenak untuk mengambil wudhu dan bermunajat kepada sang Illahi untuk meminta petujuk karena hanya melalui cara itulah yang sangat ampuh bagi kita orang-orang yang beriman.

    ReplyDelete
  75. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Sering kita mendengar bahwa “ sangat sulit mengungkapkan dalam bentuk kata-kata”. Dari pernyataan ini menggambarkan bahwa segala hal yang ada dalam hati dan pikiran memang tidak mudah untuk kita utarakan sama persis dengan apa yang ada di pikiean dan hati tersebut, kadang saja saat kita memikirkan hal yang A bisa saja yang muncul dalam ucapan adalah perkataan B. Sehingga dari hal ini, walaupun manusia makhluk yang sempurna namun kita memiliki keterbatasan dalam mengelola pikiran dan hatinya apalagi ketika dalam hati dan pikiranny terdapat gejolak. Oleh karena itu manusia sejatinya dapat mengikhlaskan apa yang ada dalam dirinya dan berserah diri agar apapun hal yang dipikirkan tersebut dapat membuat kita memutuskan jalan yang tepat sehingga harus selalu berdoa mendapatkan pikiran dan jalan yang terbaik

    ReplyDelete
  76. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Manusia itu memiliki sifat terbatas, termasuk pikirannya. Tidak semua masalah yang kita miliki dapat begitu saja terselesaikan hanya dengan mengandalkan pikiran kita. Banyak masalah yang tidak dapat kita jangkau dengan pikiran kita dan malah terselesaikan lewat do'a- do'a kita kepada Allah SWT. Maka yakinlah jika kita tidak dapat mengetuk pintu-pintu bumi dengan pikiran kita, kita masih dapat mengetuk pintu- pintu langit lewat do'a kepada Allah SWT. Karena hanya kepada Allah SWT lah sebenar-benar tempat mengadu dan memohon pertolongan.

    ReplyDelete
  77. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Jika bisa diibaratkan pemikiran itu tidak akan pernah mati selama ada orang yang melestarikan sebuah pemikiran itu kepada orang lain. Ketika kita mati apa yang menjadi ideologis kita jelas mati karena tubuh dan nyawa sudah berpisah akan tetapi pemikiran yang sudah masuk ke dalam pemikiran orang lain itulah saat ketika pemikiran itu berpindah tempat.

    ReplyDelete
  78. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Berpikir kritis itu sangatlah baik. Agar tidak terjebak pada mitos kita sebaiknya mengerahkan segenap usaha kita dalam memahami sesuatu, mulai dari menggunakan pikiran, menggunakan intuisi, hingga menggunakan hati. Namun, dalam pengembaraan kita mencari tahu tentang segala sesuatu, kita harus sadar bahwa hakekatnya pikiran manusia dan intuisinya memiliki keterbatasan (dalam elegi ini keterbatasannya adalah menjelaskan fatamorgana). Maka dari itu, apakah yang kita sombongkan dari akal yang terbatas ini? Adakah keterbatasan ini asal tercipta tanpa ada Sang Pemberi Batasan?

    ReplyDelete
  79. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Pada perkuliahan filsafat Bapak sering mengatakan, jika seseorang bingung maka ia sedang berpikir. Hal demikian tidak boleh disalahkan, karena seseorang berpikir menandakan bahwa ia sedang mencari kebenaran tentang apa yang dipikirkannnya. Berbeda halnya dengan orang yang tidur, maka ia berhenti berpikir. Namun ketika pikiran tak berdaya akan memikirkan fatamorgana dunia, maka kembalilah dan berserah diri kepada Allah seraya berdoa memohon dengan khusyuk dan ikhlas agar diberikan pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  80. Latifah Fitriasari / 17709251055

    Dalam berpikir dan meikirkan sesuatu kita hendaknya tidak boleh untuk menyerah. Pokok bahasannya adalah berupaya untuk berpikir sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Demikian hanlnya ketika kita menghadapi sebuah masalah maka kita harus memikirkan bagaimana jalan keluar yang benar-benar terbaik dan memikirkan efek baik dan buruknya. Tetapi jika benar-benar sudah menemui jalan buntu, maka jalan satu-satunya adalah berserah diri pada yang Maha Kuasa dan meminta pertolongan kepadaNya.

    ReplyDelete
  81. Insan A N/PPs PmC 2017
    Pikiran manusia, secara filsafat mampu memikirkan yang ada dann yang mungkin ada. Yang ada berarti yang berdimensi ruang dan waktu, yang mungkin ada berarti yang mungkin memiliki dimensi ruang dan waktu. Fatamorgana merupakan baying-bayang pikiran, menciptakan pikiran, untuk itu tidk dapat dijangkau dengan mudah oleh pikiran

    ReplyDelete
  82. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saat manusia mati, tentulah pikirannya akan mati juga. Pikiranmu itu sungguh adalah dirimu sendiri. Untuk mengoptimalkannya, kita selalu berusaha untuk mencari kebenaran-kebenaran akan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Pikiran kita juga memiliki batasan, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan pikiran kita. Ada, kalanya pikiran menjadi tidak berdaya, seperti saat kita tidur, ataupun saat sholat dan berdoa dengan khusyuk. Teruslah berdoa kepada Allah SWT agar selalu dilindungi dan dirakhmati-Nya.

    ReplyDelete
  83. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang tak berdaya. Kekuatan pikiran manusia terbatas. Tidak semuanya yang ada di dunia ini mampu kita pikirkan. Kita sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hal ini disebut fatamorgana. Kita boleh berpikiran seperti itu, namun jangan sampai kita terpedaya oleh pikiran kita akan fatamrgana dunia.

    ReplyDelete
  84. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan manusia terletak pada hati dan akal pikiran, sehingga bisa digunakan untuk mengatasi masalah nya. Dengan keduanya manusia juga mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Namun demikian, kesempurnaan manusia bukanlah tanpa keterbatasan, termasuk pikirannya. Manusia memiliki batasan dalam berpikir. Sehingga tidak semua hal mampu dicapai dengan pemikiran manusia. Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi manusia untuk tidak berlaku sombong atas apa yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  85. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya akan merefleksikannya menjadi dua bagian. Pertama terkait dengan Fatamorgana. Fatamorgana itu adanya hanya di alam pikiran, bukan di alam kenyataan. Fatamorgana berbeda dengan intuisi. Jika intuisi itu diperoleh dengan indra melalui adanya fenomena. Kemudian kaitannya juga terkait dengan noumena. Fatamorgana adalah sesuatu yang asing tak terlihat. Ada banyak macam fatamorgana itu bahkan melekat pada diri. Sehingga ketika kita mencoba memahami fatamorgana berusaha untuk memikirkan maka kita perlu berhati-hati. Yang kedua, yaitu berkaitan dengan nilai yang terdapat dalam elegi, dimana kita sebagai manusia janganlah sombong akan kemampuan kita, apa yang ada di diri kita belum ada apa-apanya jika dibandingkan milikNya. Yang perlu kita tingkatkan yaitu rasa syukur karena kita telah diberi pikiran dan digunakan untuk memikirkan hal-hal yang baik. Dan perlu disadari juga bahwa pikiran kita itu terbatas. Bahkan untuk memikirkan Tuhan saja kita akan stop dan tidak sanggup.

    ReplyDelete
  86. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Elegi ritual ikhlas 37 ini mengingatkan saya tentang ikhlas yang harus terus dikedepankan ketika kita beribadah. Saat beribadah ini kita perlu mematikan pikiran kita. Hal ini dilakuakn agak kita mencapai tingkat ikhals fan khusuk dalam berdoa. Diperlukan serah diri kepada Allah semata unutk berdoa dengan ikhlas dan khusuk sehingga diharapkan limpahan rahmat dan hidayahnya selalu tercurah kepada kita.

    ReplyDelete
  87. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dalam berfilsafat, sesungguhnya kita melakukan kegiatan olah pikir. Kita merefleksikan segala yang ada di pikiran kita melaui ucapan atau tulisan. Sehingga bahasa kita juga merupakan filsafat. Adakalanya seseorang sangat tertarik memikirkan berbagai hal sampai-sampai ia ingin tahu sesuatu yang tida patut atau tidak mampu ia pahami atau ketahui. Jika seseorang merasa sombong dan merasa mampu mengetahuinya maka ia akan terus melakukan olah pikir. Apabila olah pikir ini tidak dilandasi oleh hati yang teguh, maka akan jadi kekacauan pikir. Yaitu dimana seseorang menjadi meragukan segala hal. Namun, sekacau-kacaunya olah pikir kita masih bisa mengatasinya asalkan tidak mengalami kacau hati, karena apabila hati kita kacau hilanglah keimanan kita dan kita bisa termakan oleh hawa nafsu kita.

    ReplyDelete
  88. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia di dunia merupakan makhluk yang terbatas, yang tidak sempurna, karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Tuhan YME. Sehingga pikiran manusia pun hanya dapat menjangkau sebagian dari seluruh sifat objek yang ada dan yang mungkin ada. Pikiran berperan untuk menyadari keterbatsan tersebut sehingga dalam kehidupannya manusia tidak menjadi sombong, dan selanjutnya menjadikannya rendah hati, selalu beribadah, bertawakal, dan berdoa kepadaNya. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  89. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Ketika kita memikirkan tentang A maka matilah pikiran tentang B. Begitu juga pada saat berdoa, saat berdoa maka pikiran kita hendaknya mati, karena kita berdoa maka doa kita seharusnya ikhlas dan khusyuk. Berdoa dengan khusyuk adalah berdoa dengan hanya memohon pada Allah SWT dengan tidak memikirkan hal yang lainnya, karena arti khusyuk itu sendiri adalah ketundukan hati (antakhsya’a qulubuhu) untuk senantiasa mengingat Allah SWT.

    ReplyDelete
  90. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Dari risau-risau pada elegi ini ada beberapa risau justru bermanfaat bagi kita. Salah satunya risau berbuat dosa. Hal tersebut menandakan bahwa hati kita masih berfungsi. Kita takut berbuat dosa sehingga kita harus menghindariperbuatan dosa. Sama halnya dengan risau risau yang lain. Risau akan bermanfaat jika kita berusaha menekan dan menemukan solusi baik untuk mengatasi risau tersebut. Jika risau tidak punya teman maka banyak bergaul dengan orang orang baik. Jika risau menyongsong masa depan maka persiapkanlah masa depan secara matang sejak saat ini, jika risau kematian maka carilah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Dan sebagainya. Dengan berusaha untuk tidak risau maka risau-risau tersebut akan berubah dari hl yang merugikan menjadi bermanfaat bagi kita untuk semakin memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  91. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Kuasa manusia sangatlah terbatas. Ada banyak teka teki yang tidak dapat dijawab dan dipecahkan oleh pikiran maupun hati manusia. Kita perlu menyadari hal ini sehingga kita sadar bahwa tidak layak sedikitpun kita untuk berlaku sombong. Ditengah ketidak berdayaan kita inilah kita harus segera sadar bahwa kita memiliki Allah, Dzat Yang Maha Kuasa. Singkirkan terlebih dahulu pikiran kita, lalu mohonlah pertolongan pada Allah, panjatkanlah doa kepada-Nya. Sebagai bukti ketundukan kita padaNya dan sebagai bukti lemahnya diri kita dan begitu berkuasanya Allah

    ReplyDelete
  92. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B


    "Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana."
    Pikiran kita itu ya ada batasnya. Tak semua hal bisa dipikir. Kalau memikirkan semua hal lama-lama kita bisa gila. Biar hidup itu mengalir. Tapi ya tetap bisa memilih juga mau mengalir ke mana kalau ada persimpangan,tapi sisanya hanya Tuhan yang menentukan. Ada hal yang tak bisa dipikir,yang menjadi bagian Tuhan,yang akan terjadi ketika sudah saatnya. Karena hidup kita terpaut dengan ruang dan waktu. Akan ada saatnya suatu hal terjadi, karena semua terjadi menurut waktu-Nya Tuhan, bukan waktunya kita.

    ReplyDelete
  93. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai manusia, kita telah diberikan pikiran untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, pikiran itu juga terbatas. Banyak hal yang tidak dapat kita pikirkan secara mendalam. Kita cukup mempercayainya dan berdoa kepada Allah SWT agar kita dapat menggunakan pikiran kita unutk mencari ilmu yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  94. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Kita sebagai manusia harus sadar bahwa pasti ada banyak fatamorgana dalam pikiran kita yang tidak dapat kita ketahui apakah makna dan apa sebenarnya fatamorgana tersebut. Yang dapat kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT untuk memberikan rahmat dan hidayah-Nya dalam setiap kita berpikir.

    ReplyDelete
  95. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dunia itu fatamorgana. Semua ilusi yang belum tentu kebenarannya. Apa yan kita pikirkan belum tentu bisa menjadi kenyataan, bahkan terkadang justru menjauhi apa yang kita inginkan atau kita harapkan. Pikiran akan mati jika kita tidak bisa mengendalikan dengan baik. Aka satu-satunya menolong yang tepat adalah Allah SWT. Hanya meminta kepadaNya lah pikiran dapat bangun dan aktif lagi untuk berpikir. Allah lah sebaik-baik penolong saat pikiran benar-benar mati. Niat, ikhlas, berdoa, semoga pikiran kita selalu hidup.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  96. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Saat pikiran tak berdaya, ikhlas lah satu-satunya yang dituju. Namun dalam praktiknya, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkan keikhlasan, meskipun usaha terbaik sudah dilakukaan. Lagi-lagi semua butuh proses. Ketika pikiran sudah tak berdaya, seperti halnya tubuh yang terluka butuh proses untuk sembuh, pikiran juga butuh proses untuk kembali bangkit dan berdaya kembali. Maka hargailah setiap proses orang yang berusaya memberdayakan pikirannya yang sedang tak berdaya. Jika pikiran kita hidup, bantulah ia yang pikiranya sedang tak berdaya agar berdaya lagi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  97. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Pikiran manusia itu sangat terbatas. Kita tidak dapat mengetahui segala misteri dari kehidupan. Kita tidak akan pernah mengetahui semua hal yang diciptakan Allah di dunia ini. Hanya doa dan berserah diri kepada Allah maka akan membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang.

    ReplyDelete
  98. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika seorang mempunyai ketergantungan pada apa yang mereka pikirkan dengan tiidak sering menggunakan hari mereka dalam melakukan sesuatu, maka ketika apa yang ada di pikiran tidak sanggup menentukan apa yang harus diperbuat, maka orang tersebut akan mudah sekali menyerah. Karena pikiran jika sudah tidak lagi bisa beroperasi atau bahasa lainnya pikiran sudah mentok, maka hati;ah yang seharunya berjalan. Karena pada hakikatnya hati membantu memutuskan apa yang akan dilakukan jika pikiran sudah tak sanggup memikirkannya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  99. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kehidupan ini menyediakan banyak sekali ilmu untuk dipelajari. Bagi manusia yang sadar, tidak akan ada hal yang dapat disombongkan oleh manusia. Walaupun sudah belajar banyak, masih sangat banyak hal yang perlu dipelajari, maka tidak perlu sombong karena ilmu yang telah dimiliki. Bahkan, banyak sekali hal yang pikiran manusia tidak akan dapat menjangkaunya, karena hal-hal itu adalah Kuasa-Nya. Sungguh kita tidak pantas untuk menyombongkan diri

    ReplyDelete
  100. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    kita boleh berpikir seluas-luasnya, namun pikiran kita juga ada batasnya. Fatamorgana adalah sesuatu yang semu, yaitu suatu bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. fatamorgana merupaka bayangan dari suatu yang kita bayangkan, sesuatu yang sangat kita inginkan sehingga itu sangat mengganggu pikiran kita dan menghasilkan suatu imajinasi/halusinasi.

    ReplyDelete
  101. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dari elegi ini saya belajar bagaimana pikiran kita sesungguhnya memiliki keterbatasan, tapi sejauh mana keterbatasan yang dapat kita capai? Tentu berbeda-beda. kemudian bagaimana kita tidak boleh merasa sombong. Kita sering merasa bahwa kita benar, belum tentu pemikiran kita memang benar, karena suatu tesis, akan ada anti-tesisnya. Kemudian bagaimana kita harus selalu ikhlas, ikhlas hati, ikhlas pikir, dalam segala urusan yang kita hadapi karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  102. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. pikiran manusia itu terbatas. Jangan sombong atas kepintaran yang dimiliki, karena setiap yang dipikirkan manusia pasti akan memiliki batas. Kekuasan Allah SWT akan ilmu pengetahuan itu tak terbatas, tapi pikiran manusia itu terbatas. Seperti disebutkan dalam elegi, jika manusia itur maka terhentilah pikiran.

    ReplyDelete
  103. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P.Mat A S2 UNY

    Elegi yang memabangunkan pikiran kita selama ini. Kita sebagai manusia harus sadar bahwa pasti ada fatamorgana-fatamorgana dalam pikiran kita yang tidak dapat kita ketahui sampai akhir apakah sebenarnya fatamorgana-fatamorgana tersebut. Yang dapat kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT untuk diberikan rahmat dan hidayahNya dalam setiap kita berpikir

    ReplyDelete
  104. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B

    Pikiran yang berhenti berpikir terancam mitos. jika kita berhenti berpikir, maka akan berpengaruh pada fisik kita. orang yang pensiun, yang tidak lagi berpikir banyak lebih berpotensi terserang penyakit jika tidak rutin melakukan aktifitas otak dan fisik. itulah pentingnya kita untuk terus berpikir, agar otak kita tida kehilangan potensinya dan terjebak mitos.

    ReplyDelete
  105. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Meskipun manusia adalah makhluk ciptaan yang paling sempurna, namun manusia memiliki batas pikiran yang pada titik tertentu membikin mereka tidak mampu memikirkan suatu hal di luar batas kemampuan mereka seperti keadaan yang sifatnya gaib (missal, keberadaan Alla, Malaikat, hari kiamat, dll). Pada titik tertentu kita dan pikiran kita adalah ketidakberdayaan dan pada saat itu kitapun menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah, sehingga taka ada yang pantas kita mintai pertolongan selain dari Allah SWT. Wallahua’lam bishawab.

    ReplyDelete
  106. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ketika seseorang tidur, sejatinya pikirannya telah berhenti. Namun jika sedang dalam keadaan saat, ternyata pikiran juga dapat berhenti dan tak berdaya. yaitu pada saat seseorang telah terkena mitos, ia tidak memikirkan hal yang lainpun dikatakan bahwa pikirannya telah mati dan tak berdaya. Karena memang pada dasarnya tidak semua hal mampu kita pahami.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  107. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PMC

    Pikiran manusia bersifat terbatas sehingga tidak mampu memikirkan segala sesuatu secara bersamaan. Ketika kita memikirkan sesuatu maka matilah pikiran kita terhadap sesuatu yang lain. Dengan keterbatasan pikiran kita, kita sebagai manusia tidak akan mampu memecahlan seluruh permasalahan hidup yang ada. Karena itulah kita membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena itulah kita perlu senantiasa melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  108. Dalam berperilaku di kehidupan kita harus menerapkan yang namanya ikhlas hati dan ikhlas pikir. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan dan intuisi kita akan menjadi lebih baik. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan akan menjadi jernih dan pendapat atau keputusan yang kita buat akan semakin baik. dalam berperilaku kita juga tidak boleh berlaku sombong kerena berlaku sombong akan mengakibarkan kita sulit menerima ilmu yang lain karena merasa sudah paling pintar. dengan kesombongan kita, kita juga akan kehilangan banyak hal sampai kita sadar bahwa sebenarnya sombong itu tidak baik. ikhlas hati ihklas pikir lah yang baik untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  109. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Pikiran memiliki batasan, dimana ada kalanya tidak semua hal mampu terpikirkan. Seperti halnya dalam memahami arti dari fatamorgana dalam elegi ini. Pikiran dikatakan mati ketika ia terbatas dan tidak mempu menjelaskan sesuatu. Namun pikiran dikatakan mati juga saat seseorang sedang berdoa. Berdoa pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi dengan Tuhan. Sehingga jika masih muncul pertanyaan-pertanyaan merupakan hal wajar. Kadang ketika kita tidak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa, dan tidak ada tempat untuk bercerita dan bertanya lagi, sering kita kembali kepada Tuhan untuk mempertanyakan banyak hal, bercerita banyak hal.

    ReplyDelete
  110. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Assalamu’alaikum, Wr.Wb
    Kemampuan manusia dalam berpikir itu terbatas, pikiran manusia ada yang positif dan juga negatif. Saat berpikiran negatif segera berdoa dan mohon perlindunganNya agar tidak terjadi apa-apa dan kembali kepikiran positif. Seringkali pikiran manusia membayang-bayangkan sesuatu. Bayang-bayang pikiran manusia itulah yang dinamakan dengan fatamorgana.

    ReplyDelete
  111. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas eleginya, Prof. Saya setuju bahwa pikiran manusia, kemampuan manusia itu sangat terbatas, maka kita tidak boleh hanya berusaha saja tanpa berdo’a. Do’a ini sangat penting karena segala sesuatu terjadi pasti karena kuasa Allah. Sehingga, jangan lupa untuk berdo’a dengan ikhlas dan khusuk, meminta pertolonganNya, meminta ampun padaNya.

    ReplyDelete
  112. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Pikiran manusia mati, maka matilah hidup manusia tersebut. Namun, dalam elegi ini membahas bahwa ketika kita memikirkan A maka kita mematikan pikiran kita terhadap B, ini memperlihatkan bahwa saat kita berpkir itu harus focus pada salah satu hal dan tidak bercabang. Kemudian, manusia berpikir kritis itu boleh, namun pengetahuan manusia itu terbatas. Dan sebagai manusia jika sudah berusaha memecahkan masalah namun belum terpecahkan, sebaiknya kita berpasrah dan berdoa dengan ikhlas kepada-Nya.

    ReplyDelete
  113. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Memang benar, pikiran itu sifatnya terbatas. Tidak semua masalah atau teka-teki dapat dipecahkan menggunakan akal pikiran. Ketika manusia mati, maka pikirannya juga akan mati. Adakalanya juga pikiran itu tidak berdaya, misalnya saat kita tidur, ataupun saat sholat dan berdoa dengan khusyu. Oleh karena itu, janganlah berlaku sombong atas segala yang kita miliki. Teruslah berdoa agar Allah senantiasa memberi rakhmat serta perlindungan.

    ReplyDelete
  114. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Elegi di atas menggambarkan bahwa pikiran atau ilmu yang dimiliki manusia itu terbatas. Ada bagian-bagian sendiri yang dapat di pikirkan oleh manusia dan yang tidak, sebab tidak semua hal di dunia ini mampu diraih oleh pikiran manusia, dengan kata lain dipikirkan secara logika. Tidak dapat dipikirkan bukan berarti pikiran sesorang mati secara total sebab tidak digunakan untuk berlogika, namun ada bagian yang tidak dapat digapai oleh pikiran dan ilmu manusia dan hanya bisa digapai oleh Sang Maha Berilmu.

    ReplyDelete
  115. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Terima kasih Prof. atas informasi dan ilmunya yang telah dibagikan. Saya setuju bahwa pikiran manusia memang terbatas, terkadang dalam kondisi tertentu manusia memang harus mengandalkan intuisi ataupun kepekaannya dalam menghadapi suatu persoalan. Dalam beberapa hal termasuk yang berkenaan dengan religi, manusia lebih harus mengandalkan iman, rasa percaya, dan keikhlasan.

    ReplyDelete
  116. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Hal yang saya dapat setelah membaca elegi di atas adalah bahwa ketika manusia mati, mati pula pikirannya. Namun, ketika matinya pikiran tidak harus ketika raga manusianya mati.
    Ketika memikirkan kebaikan maka pikiran manusia akan tertuju pada kebaikan. Namun, ktika manusia berganti pikiran menjadi keburukan, maka pikiran manusia tentang kebaikan tadi menjadi mati. Oleh karena itu, pikiran bersifat terbatas. Sehingga hendaknya pikiran kita dipenuhi oleh pikiran yang positif. Jangan sampai pikiran positif kita mati karena kita memikirkan hal-hal yang buruk. Na’udzubillah.

    ReplyDelete
  117. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Ma syaa Allah, tersentuh saya membaca elegi yang Prof bagikan. Itulah mengapa antara otak dan hati harus ada sinkronisasi. Allah menciptakan manusia dengan akal. Allah meminta kita untuk menuntut ilmu. Ilmu sangat penting untuk dimiliki namun juga harus diimbangi dengan kerendahan hati. Janganlah menjadi sombong lantaran berilmu. Ilmu digunakan untuk mencari bekal mati tetapi tidak dibawa mati.

    ReplyDelete
  118. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi yang menarik. Saya setuju dengan pendapat-pendapat sebelumnya. Benar bahwa pikiran yang dimiliki manusia itu terbatas. Saat jasad manusia telah mati, begitupula dengan pikiran, namun tidak dengan raganya. Sebagai manusia janganlah bersikap sombong terhadap apapun. Pemikiran yang positif menghasilkan yang positif atau kebaikan, begitu pula dengan pemikiran yang negatif menghasilkan yang negatif atau keburukan. Disaat kita telah berusaha, janganlah menyombongkan diri dan tidak berbuat apapun. Berdoalah kemudian ikhlas dan ikhtiar.

    ReplyDelete
  119. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Terimakasih atas elegi yang luar biasa ini Prof. yang dapat saya ambil dari elegi diatas adalah dari kalimat “bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk” bahwa saat kita berdoa haruslah dengan ikhlas dan khusyuk tentunya dengan tidak mengembarakan pikiran kita.

    ReplyDelete
  120. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dari elegi ini saya menangkap bahwa pikiran kita terbatas, ketika kita sedang memikirkan satu hal maka hal lain akan kita hiarukan. Ketika tidur pun pikiran kita beristirahat, begitu juga ketika kita mati kelak pikiran kita ikut mati. Dalam hal ini, termasuk juga dalam berdoa sehingga ketika berdoa kita jangan sampai sedang memikirkan sesuatu karena pastinya berdoa kita menjadi tidak khusyuk dan ikhlas.

    ReplyDelete
  121. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Terimakasih pak atas eleginya yang luar biasa. Saya sangat setuju bahwa pikiran manusia itu terbatas, tidak semua teka-teki di dunia ini dapat terjawab oleh pikiran manusia. Saya juga sangat tertarik dengan kalimat “bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk”. Memang benar sekali bahwa ketika kita berdoa pikiran kita harus mati dalam kata lain kita harus melupakan semua urusan lain dan mengandalkan hati kita agar dapat lebih ikhlas dan khusuk dalam berdoa.

    ReplyDelete
  122. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Menurut hati bahwa fatamorgana itu bersemayam di dalam hati manusia dan juga dapat bersemayam dalam pikiran manusia. Dan pikiran itu tersembunyi sifatnya, dan jika mengetahuai semua nasib maka bertentangan pada hakikatnya seorang manusia. Bahwa nasib itu sifatnya masih fatamorgana, sehingga hanya ditangan Allah lah sebua nasib itu berasal. Hidup, mati, jodoh rejeki itu hanya ditanga Tuhan dan manusia hanya dapat berikhtiar dan berdoa. Sehingga seberapa besar ataupun kecil masalah yang terjadi didalam hidup sebaiknya kita menyerahkannya kepada Allah dengan terus berdoa yang tawadu dan ikhlas. Karena Allah selalu mendengar doa orang yang ikhlas.

    ReplyDelete
  123. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Terimakasih Prof, dari elegi ini saya mengingatkan saya bahwa pikiran manusia itu sangatlah terbatas. Ketika manusia berpikir mengenai suatu hal, ia harus fokus pada hal tersebut. Begitupun saat kita berdoa kepada Allah, doa yang kita panjatkan haruslah khusyuk tertuju kepada Allah, karena tanpa kuasa-Nya kita bukan apa-apa di dunia ini.

    ReplyDelete
  124. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi tersebut menunjukkan bahwa pikiran dan ilmu manusia sangatlah terbatas. Banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikira manusia. Karena keterbatasan yang kita miliki ini, kita harus senantiasa berikhtiar, ikhlas, berdoa dengan sungguh kepada Allah SWT agar selalu diberikan rahmat dan hidayah-Nya.

    ReplyDelete
  125. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Pikiran memanglah terbatas, karena manusia itu tidak lah sesempurna yang kita inginkan dan tidak bisa kita memaksakan pikiran kita untuk selalu memecahkan segala hal yang ada di dunia ini karena semua ilmu yang kita dapatkan itu atas izin Allah. Terkadang kita harus mengosongkan pikiran kita tentang berbagai permasalahan dunia, misalnya seperti yang ditunjukkan dalam cerita tersebut yaitu saat berdoa, kita harus khusyuk.

    ReplyDelete
  126. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Pikiran manusia bersifat terbatas. Oleh karena itu, tidak patut jika pikiran bersifat sombong. Dan dalam keterbatasannya, pikiran bisa saja terhenti, baik karena tidur, atau karena memikirkan A, pikiran mengenai B telah terhenti. Selain itu disebutkan juga bahwa pada saat berdoa pikiran juga harus mati, karena dalam berdoa yang khusyu’ dan ikhlas, diharapkan tidak ada pikiran-pikiran mengenai dunia yang telintas, hanya terfokus pada doa-doa yang dipanjatkan.

    ReplyDelete
  127. Dini Arrum Putir
    1870925103
    S2 P Math A 2018

    Terkadang apa yang dipikirkan manusia tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Atau seringkali berbeda dengan pikirannya atau bahkan hanya dipikirkan saja tanpa melakukannya. Benar bahwa pikiran manusia itu terbatas, sulit untuk memfokuskannya kepada banyak hal, bahkan untuk satu hal pun kita sulit untuk fokus apalagi banyak. Baiknya jalani semuanya tidak perlu jika dipikirkan saja.

    ReplyDelete
  128. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    PPS Pend. Matematika A

    Manusia adalah mahluk yang paling mulia. Kemuliaan tersebut ditunjukan oleh Alloh dengan memberikan pikiran dan hati.Namun, pikiran dan hati manusia itu memiliki keterbatasan. Ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dipikirkan dan dirasakan oleh manusia hanya Alloh yang Maha Tahu. Oleh karena itu tidak lah manusia pantas untuk sombong dengan pikiran-pikirannya. Dalam berpikir manusia harus menggunakan hatinya sehingga terhindar dari godaan-godaan syetan dan senantiasa berdoa dengan ikhlas dan khusuk dan berserah diri kepada Alloh SWT.

    ReplyDelete
  129. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    PM B 2018

    Pikiran kita memiliki kemampuan untuk menjangkau hal hal detail, di luar nalar, dan bahkan bisa juga hal hal yang terantuk batas pikiran sehingga kita tidak dapat menjangkaunya. Hal hal yang tidak dapat kita pikirkan sebaiknya dirunut dan dikembalikan pada Allah agar kita tidak melenceng jauh. Tugas kita adalah ikhlas dan bersyukur atas pikiran kita yang telah dianugrahkan masing masing dan tetap pada batasannya.

    ReplyDelete