Nov 6, 2014

Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya



Ass wr wb, ketika aku baca lagi Elegi ini, aku merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Oleh karena ini Elegi ini sengaja aku angkat ke permukaan kembali agar dapat disimak lebih banyak lagi oleh para pembaca. Selamat membaca. Wss wr wb

Oleh Marsigit

Pikiranku:
Oh...hoh... kalau tidak salah itu yang namanya Fatamorgana. Hem...sekali lagi dia berusaha menggodaku. Jelas-jelas dia memang bermaksud menguji pikiranku. Wahai Fatamorgana...agar aku mampu memecahkan misterimu...maka bersedialah engkau berkomunikasi denganku?

Fatamorgana:
Aku mempunyai caraku sendiri dalam berperilaku sebagai Fatamorgana. Jika aku tunduk dengan perintah-perintahmu maka tidaklah lagi aku bernama Fatamorgana.

Pikiranku:
Waha...tahu saja aku akan dirimu. Wahai Fatamorgana...engkau itu sebetulnya adalah Intuisiku.

Intuisiku:
Selamat aku ucapkan kepada dirimu, bahwasanya engkau itu hampir saja bisa menangkap Fatamorgana. Tetapi ketahuilah bahwa intuisimu itu hanya sebagian dari sifat Fatamorgana itu. Adalah tidak adil bahwa sifat yang sebagian itu engkau peruntukan untuk menamakan keseluruhan. Jika Intuisi adalah Fatamorgama, maka belum tentu Fatamorgana itu Intuisi.

Pikiranku:
Welah...ternyata belum pas juga. Baiklah Fatamorgana, sekarang pasti aku akan benar. Melihat gejalamu maka engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Etik dan Estetika.

Etik dan Estetika:
Wahai Pikiran, ketahuilah bahwa Etik dan Estetika itu bisa bersifat pribadi, kelompok atau universal. Lihatlah Fatamorgana itu! Dengan lincahnya dia itu berlari-lari dari pribadi, menuju kelompok, menuju universal atau sebaliknya. Padahal dirimu tidak bisa menunjuk ruang dan waktunya Fatamrgana sekarang itu. Maka adalah terlalu gegabah jika engkau menunjuk dia hanya sebagai Etik dan Estetika. Jika Etik dan Estetika adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu Etik dan Estetika.

Pikiranku:
O..iya ya. Hemm...aku belum akan menyerah. Tetapi mengapa engkau tidak pula segera pergi dariku? Ah ini pasti aku akan betul. Wahai Fatamorgana engkau itu pastilah Superegoku.

Superego:
Wahai Pikiranku...pusat pengendalian Superegomu itu adalah pada Egomu. Ketahuilah bahwa Egomu itu hanyalah sebagian kecil saja dari pengendalian Fatamorgana ini. Maka tiadalah tepat jika engkau katakan bahwa Fatamorgana itu adalah Superegomu. Jika Superego adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Superego.

Pikiranku:
Wahai Fatamorgana engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Bayanganku sendiri?

Bayangan:
Wahai Pikiran...lihatlah di sebelah sana! Ada bagian Fatamorgana tidak selalu mengikuti dirimu. Bagaimana mungkin Fatamorgana adalah hanya bayanganmu jika sebagian sifatnya adalah ternyata bayangan orang lain. Jika Bayanganmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah bayanganmu.

Pikiran:
Wahai Fatamorgana kurangajar betul engkau itu, telah membuat marah pikiranku. Engkau itu kan cuma Fenomena. Hanya Fenomena saja, kok sombongnya luar biasa.

Fenomena:
Wahai Pikiran...ketahuilah bahwa menurut Immanuel Kant, Fenomena adalah sesuatu obyek yang bisa dipersepsi dengan panca indera. Sedangkan ada dari bagian Fatamorgana, tidak dapat dipersepsi menggunakan panca indera. Itulah yang disebut Noumena. Jika Fenomena adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Fenomena.

Pikiran:
Wahaha....haha....mau minteri orang pinter ya kamu! Alasanmu itulah sebenar-benar telah menunjukkan bahwa misteri itu telah terungkap. Kan... kalau begitu...ya gampang saja....Singkat kata Fatamorgana ya sekaligus Fenomena dan Noumena, ...gitu aja kok repot.

Fenomena dan Noumena:
Wahai Pikiran..aku menyayangkan sifatmu yang sombong. Kesombonganmu itulah penyebab engkau termakan mitos. Ketahuilah bahwa teori Fenomena dan Noumena itu kan hanya teorinya seorang Immanuel Kant. Kenapa engkau serahkan hidupmu seribu persen kepada teori itu. Bukankah hal yang demikian menunjukkan bahwa sebenar-benar dirimu itu adalah telah mati, dikarenakan tidak mampu lagi berpikir kritis. Pendapat seseorang adalah suatu tesis, maka wajib hukumnya bagi pikiran kritis untuk mencari anti-tesisnya. Jika Fenomena dan Noumena adalah Fatamorgana maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Fenomena dan Noumena.

Pikiran:
Wah heh huh hah kok kak tut tat tit tut tat tit weil weil thong thong shot...udah-udah pergi sana aku tidak butuh lagi memikirkanmu.

Fatamorgana:
Hemhem...sudah sampilah pada saatnya engkau itu tak berdaya.

Pikiran:
Woh...nanti dulu. Aku merasa gengsi kalau tidak bisa memecahkan misterimu itu. Tetapi segenap daya dan upaya pikiranku ternyata tak mampu memecahkan Fatamorgana ini. Wahai Hatiku telah sampailah diriku itu dipenghujung batasku. Padahal penghujung batasku itu adalah Hatiku. Bolehkah aku meminta bantuan dirimu untuk memecahkan misteri siapakah Fatamorgana didepanku itu?

Hatiku:
Ketahuilah wahai Pikiranku, bahwa tidaklah mungkin dirimu mampu mengetahui segala seluk beluk Hatimu. Sedangkan kalimatmu itupun tidak mampu mengucapkan dan menuliskan segala pikiranmu. Tindakanmu tidak akan mampu menjalani semua tulisamu. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan Fatamorgana ini hanya dengan kalimat-kalimatmu itu, kata-katamu, dan tulisan-tulisanmu? Sedangkan diriku itu pun tidak seluruhnya mampu merasakan Fatamorgana. Maka tidaklah cukup jika engkau hanya mengandalkan Hatimu sendiri. Ujilah dengan Hati para subyek diri yang lain. Jika Hatimu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Hatimu.

Hati Subyek Diri yang Lain:
Sebentar dulu...emangnya urusanku hanyalah Fatamorganamu. Sedangkan akupun sedang menghadapi Fatamorgana yang lain. Fatamorgana diriku saja aku sulit memecahkan, apalagi Fatamorgana dirimu. Hati pertama: ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap hati manusia. Hati kedua:ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. Hati ketiga: ketahuilah bahwa Fatamorgana dapat berada diluar hati atau diluar pikiran.

Pikiranku:
Wahai para Hati...cukup-cukup. Tidak mau menjelaskan Fatamorganaku malah bertengkar sendiri. Okey...saya akan bertanya kepada Nasibku. Wahai Nasibku...tinggal dirimulah aku meminta tolong. Apa dan siapakah Fatamorgana ini?

Nasibku:
Wahai Pikiran...sebagian Nasibmu itu adalah tersembunyi sifatnya. Jika engkau mengetahui semua nasibmu, maka hal demikian bertentangan dengan hakekat dirimu sebagai manusia. Ketahuilah bahwa nasibmu itu ternyata bisa pula menjadi Fatamorgana. Jika Nasibmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu bahwa fatamorgana itu adalah Nasibmu. Adalah hanya ditangan Allah SWT segala Nasibmu itu berada. Lahir, mati dan jodhoh itu ada ditangan Tuhan. Manusia itu hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Maka sekecil-kecil dan sebesar-besar persoalanmu itu serahkan saja kepada Tuhan. Berdoalah dengan tawadu’ dan ikhlas. Allah SWT akan selalu mendengar doa orang yang ikhlas. Amiin

Pikiranku:
Hemm...baru kali ini Pikiranku mendapat persoalan yang begitu besar dan hebat. Baiklah aku akan bertanya kepada Doaku. Wahai doaku, bersediakah engkau menjelaskan kepada diriku apa dan siapa Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...pikiran...pikiran...sombong dan bengal amat engkau itu. Bukankah sudah banyak peringatan bagi dirimu bahwa dirimu itu hanyalah bersifat terbatas. Tiadalah hukumnya doa bisa dicampur dengan pertanyaan. Bagaimana bisa engkau berdoa sementara engkau masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan? Tetapi mengapa engkau selalu saja berusaha ingin memecahkan misteri Fatamorgana ini. Ketahuilah bahwa dalam Doamu itu ada tempatnya di mana pikiranmu harus berhenti.

Pikiranku:
Hah...apa? Pikiranku harus berhenti? Bukankah jika Pikiranku harus berhenti maka matilah diriku itu. Wahai Doaku...apakah engkau menginginkan lebih baik Pikiranku mati dari pada aku bisa memahami Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...Pikiran-pikiran. Berhentinya Pikiran itu tidaklah harus bahwa dirimu itu mati. Ketahuilah bahwa Pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur. Tentulah bahwa Pikiranmu itu juga mati jika dirimu mati. Ketahuilah sekedar memperoleh jelasnya sesuatu saja, sudah dapat dikatakan bahwa pikiranmu telah mati. Atau jika pikiranmu sedang memikirkan A, maka matilah pikiranmu terhadap B. Maka bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk. Maka tiadalah Doamu itu ikhlas dan khusyuk jika engkau dalam keadaan mengembarakan Pikiranmu itu. Sampai di sini apakah engkau belum paham bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tidaklah berdaya memecahkan fatamorgana ini. Jangankan Pikiranmu, sedangkan Hatimu saja tak kuasa melakukan hal yang sama. Maka sekali lagi tiadalah Pikiranmu itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu. Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana. Berserahlah keharibaan Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya. Amiin.

43 comments:

  1. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Itulah mengapa kita tak boleh takabur akan kemampuan pikiran kita. Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan, tentu tak dapat menembus fatamorgana. Tak dapat menembus kekuatan doa. Sesungguhnya yang paling kuasa adalah Allah SWT. Pikiran bisa saja mati ketika kita tidur dan kita berdoa. pikiran juga tidak bisa bekerja dibanyak hal dalam satu waktu. Ketika kita memikirkan A pikiran kita mati terhadap B. Maka janganlah kita takabur akan kemampuan pikiran.

    ReplyDelete
  2. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk yang sempurna, namun perlu disadari bahwa manusia tidak ada apa-apanya kekuatannya. Manusia dengan segala keterbatasannya, keterbatasan akal pikiran salah satunya.

    ReplyDelete
  3. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Banyak hal-hal didunia ini yang tidak dapat manusia sampai pikirannya. Contohnya adalah hal-hal yang terjadi dalam tubuh manusia sendiri, juga tentang alam semesta yang ada mengapa dapat tercipta dengan sempurna milyaran bintang milyaran meteor dan milyaran benda langit lainnya.

    ReplyDelete
  4. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Lagi-lagi bersyukur adalah cara paling baik untuk menerima semua yang telah Tuhan berikan pada kita. Bersyukur adalah cara kita ikhlas dan mengiklhaskan. Bersyukur adalah cara menenangkan hati.

    ReplyDelete
  5. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tetap merasa rendah di hadapan Tuhan dan selalu bersimpuh serta menghilangkan rasa sombong yang menghinggapi hati. Merendahkan diri dengan segala ikhlas untuk mencari ridho Nya.

    ReplyDelete
  6. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pikiran manusia itu terbatas. Manusia merupakan makhluk yang dibatasi oleh ruang dan waktu sehingga ia menjadi tahu bahwa ada hal hal yang tidak dapat dikerjakannya sendiri, oleh karena itu kita harus menyadari bahwa kita memiliki pemimpi sebagai panutan kita. Rasa tak berdaya inilah agar kita tak menjadi sombong dan merendahkan yang lain.

    ReplyDelete
  7. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Carilah ilmu sampai ke negeri cina. Mungkin pepatah ini mengajarkan kita untuk terus menerus menimba ilmu agar pikiran kita bisa lebih terbuka akan luasnya dunia. Akan tetapi seluas-luasnya ilmu kita, setinggi-tingginya gelar kita, itu jangan malah membuat kita sombong dan angkuh.

    ReplyDelete
  8. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika pikiran kita terbatas, sebenarnya itu adalah nikmat. Bayangkan kalau saja kita bisa mengingat segalanya, dan memikirkan segalanya dalam satu waktu maka manusia tidak akan bisa tenang. Di balik suatu kekurangan pasti Tuhan mempunyai tujuan yang baik. Sebagai manusia kita harus banyak bersyukur.

    ReplyDelete
  9. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Manusia saat menghadapi sesuatu masalah, kita menginginkan jawaban untuk mengatasi masalah tersebut. Seperti apakah kejelelasan tersebut. Ternyata dalam filsafat, tidak semua hal dapat kita capai dengan pikitan. Pikiran kita mungkin bisa memikirkan sampai jauh, tetapi hanya sedikit bagian-bagian yang dapat kita jelaskan dengan kata-kata dan tulisan. Karena sejatinya pikiran manusia itu terbatas.

    ReplyDelete
  10. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya tidaklah sempurna dan memiliki keterbatasan dalam segala hal, begitu juga dengan pikiran. Pikiran manusia tidak bisa mengungkapkan segala hal yang ada dan yang mungkin ada, tidak bisa menggapai dan memecahkan misteri fatamorgana seperti dalam tulisan ini. Oleh karena itu tidak selayaknya manusia menyombongkan diri atas apa yang ada dalam dirinya, seperti pikiran tersebut. Yang dapat dilakukan adalah terus berserah diri dan ikhlas memohon ridha Allah SWT dan memohon ampunan-Nya.

    ReplyDelete
  11. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya dapat mengambil beberapa hal. Hal pertama yang saya ambil adalah bagaimana pikiran kita sesungguhnya memiliki keterbatasan, tapi sejauh mana keterbatasan yang dapat kita capai, tentu berbeda-beda. kedua adalah bagaimana kita tidaklah boleh merasa sombong akan suatu hal, sebagaimana kita sering merasa bahwa kita benar, belum tentu pemikiran kita memang benar, karena suatu tesis, akan ada anti-tesisnya. Ketiga tentang bagaimana kita harus selalu ikhlas, ikhlas hati, ikhlas pikir, dalam segala urusan yang kita hadapi karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Tulisan ini menyadarkan kami (saya) untuk memahami dan mengerti akan batasan-batasan pikiran yang harus kami sadari, agar tidak terperosok dalam kesombongan dan kejerumusan. Saya mengingat bahwa pada dasarnya pikiran manusia itu tidak pernah puas, karena sejatinya pikiran itu selalu mengusahakan kesatuan yang utuh dari oposisi-oposisi atau kontradiksi-kontradiksi yang ditemui (Hegel (1770-1831)), akan tetapi pikiran manusia itu tidaklah tidak terbatas, dan adalah tanggung jawab kami (saya) pribadi untuk mencari batasan kemampuan berpikir kami supaya tidak terjerumus.

    Terimaksih banyak Pak.

    ReplyDelete
  13. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Memang sejatinya berfilsafat itu adalah aktivitas berfikir yang kontinyu terus menerus. Socrates meneladankan sikap bersilsafat manusia untuk mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak sombong, tidak merasa dirinya ahli, tidak malas, terus menerus mengembangkan kemampuan bernalar untuk mendapatkan kebenaran. Namun adakalanya pikiran harus berhenti. Saat tidur, pikiran kita berhenti atau mati. Saat pikiran kita memikirkan tugas kuliah, saat itu juga pikiran kita mati memikirkan menu makan malam. Begitu pula saat kita berdoa atau ibadah, pikiran kita harus mati untuk mencapai kekhusyukan dalam menghadap Allah SWT.

    ReplyDelete
  14. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasarkan sedikit pemahaman saya mengenai filsafat, bahwasanya berfilsafat itu sejatinya adalah olah pikir. Kekacauan-kekacauan yang kita pikir dan kebingungan-kebingunagn yang muncul akibat pemikiran kita itulah sebenar-benar filsafat. Lalu apakah kebingungan pikir ini selanjutnya berdampak pada kehidupan kita? Apakah ia akan membahayakan? Elegi ketika pikiranku tidak berdaya tersebut meyadarkan kita semua bahwa kekacauan, kebingungan, dan kenakalan pemikiran kita perlu ada batasnya. Artinya bahwa jangan sampai kebingungan pikir itu turun ke dalam hati. Lebih lanjut yang saya maksud disini adalah untuk tidak mencampur urusan pemikiran dengan keyakinan dalam hati. Bahwa jika kita sudah tidak mampu memikirkan sesuatu yang dimensinya jauuuuuh di atas kita, maka kembalikan segalanya kepada sang Pencipta. Dengan demikian tentu hidup akan mejadi tenang dan tidak terbebani dengan pikiran.

    ReplyDelete
  15. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum Wr.wb
    Terimakasih pak atas postingannya. Ketika saya membaca Elegi ini, saya merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Dan menambah wawasan saya, di sini saya mengetahui bahwa jika intuisi adalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu intuisi. Jika etik dan estetika adalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu etik dan estetika. Jika superego dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu superego. Jika bayanganmu dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu adalah bayanganmu. Jika fenomena dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu fenomena. Jika fenomena dan noumena dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu adalah fenomena dan noumena. Jika hatimu dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu hatimu. Jika nasibmu dalah fatamorgana, maka belum tentu fatamorgana itu nasibmu. Disini membawa kita (saya) untuk terus berada didalam keikhlasan. Teruslah berdoa dalam ikhlas, karena dalam doa ada tempat dimana pikiran kita harus berhenti. Sebenar-benarnya fikiran tidak berdaya memecahkan fatamorgana. Hanya bisa ikhlas berserah diri kepada Allah dan tentunya jangan lupa berusaha.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Fatamorgana bisa di dalam hati dan di dalam pikiran, tetapi fatamorgana juga bisa di luar hati dan di luar pikiran. Hal tersebut menunjukkan bahwa kita sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan, termasuk keterbatasan di dalam hati dan pikiran kita. Pikiran kita tidak mampu memikirkan semua hal, terlebih untuk menyelesaikan segala permasalahan dalam hidup. Apa yang kita pikirkan terhadap suatu objek hanyalah bersifat sebagian dari objek tersebut. Masih banyak sifat-sifat lain yang tidak mampu kita ungkapkan dengan pikiran kita. Itu baru satu objek, padahal di dunia ini ada banyak sekali objek dari yang ada hingga yang mungkin ada. Pikiran juga tidak mampu menjangkau seluruh hati kita sendiri. Terlebih lagi pada sesuatu yang bersifat gaib atau noumena. Maka tidak sepantasnya bila kita menyombongkan diri.

    ReplyDelete
  17. Junianto
    PM C
    17709251065

    Pikiran, mungkin sebagian besar orang selalu menganggap bahwa ini adalah sumber dari segala-galanya. Sehingga mereka memepertajam dan megasahnya dengan berbagai cara. Ada juga yang mendewakan pikiran karena mereka menganggap itulah yang akan menaikkan derajatnya. Tetapi mereka lupa dengan hati yang akan selalu menjadi pengingat pikiran mereka. Dan ada Allah yang sebenarnya menciptakan pikiran dan hati mereka. Jadi, tidak ada perlu dibanggakan dari diri kita karena sang Pencipta segalanya pun tidak sombong dan karena Dia lah kita punya semuanya.

    ReplyDelete
  18. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Segala macam hal abstrak di dunia ini memiliki sifat fatamorgana, artinya entah ia ada atau hanya mungkin ada dalam pikiran saja. Jika intuisi adalah fatamorgana, belum tentu fatamorgana adalah intuisi. Tidak berlaku biimplikasi di sini.
    Bahkan pikiran, ego, superego, adalah juga fatamorgana. Karena tidak ada kejelasan akan keberadaannya. Sekali lagi, ia adalah hal yang abstrak. Dengan kata lain, fatamorgana dapat menjelma menjadi berbagai macam bentuk. Entah itu pikiran, intuisi, estetik, etik, ataupun fenomena.
    Elegi ini menceritakan secara implisit bahwa batas pikiran manusia berada dalam pikiran itu sendiri. Seseorang dapat berhenti bertanya-tanya ketika mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Seseorang dapat berhenti berpikir jika sudah tidak ada pikirannya (tidur, gila, mati). Di atas itu semua, pikiran harus tetap terjaga dalam hal yang positif dan tetap mempercayai adanya Sang Pencipta

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Persis seperti kata'Fatamorgana' yang diambil dari bahasa Italia yaitu Faye le Morgana yang artinya seorang peri yang bisa berubah-ubah rupa, fatamorgana akan muncul jika manusia tak lagi dapat menentukan kebenaran akan suatu peristiwa dalam ilmu pengetahuan. Teori Big Bang yang diyakini adalah awal mula terbentuknya alam semesta, hingga saat ini masih disebut sebagai ilmu fatamorgana. Fatamorgana yang dalam ilmu fisika disebut sebagai bias dari cahaya, begitu pula dalam ilmu pengetahuan. Fatamorgana ilmu akan muncul dari prasangka-prasangka orang terhadap sesuatu, kemudian disusun sedemikian rupa sehingga menjadi teori. Elegi ini dapat ditafsirkan sebagai batasan pemikiran manusia yang pada suatu titik hanya dapat menyebutkan tanpa mampu membuktikan. Hanya mampu berprasangka tanpa suatu kebenaran yang nyata. Elegi ini pula membuktikan bahwa setinggi-tingginya ilmu pengetahuan manusia, ada banyak kuasa Allah yang tak pernah dapat dijelaskan atau ditemui asal-usulnya, karena memang hanya ada pada kuasa Allah.

    ReplyDelete
  20. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Janganlah kita selalu men dewa kan pikiran kita. Tidak semua hal dapat dianalisa dengan menggunakan pikiran. Maka dalam hal ini, sesuatu yang kita belum mampu untuk menjawabnya maka serahkanlah hal itu kepada Allah. Nasib kita kedepannya juga merupakan suatu misteri yang tak dapat dijangkau oleh pikiran manusia, sehingga yang perlu kita lakukan secara kontinu dan terus menerus yakni selalu berdoa dan berikhtiar, haruslah selalu menyertakan Allah SWT di dalam setiap usaha yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  21. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seringkali fikiran lah yang menguasai diri kita dan selalu mengagungkan fikiran dalam setiap langkah maupun keputusan yang akan di ambil. Padahal, fikiran memiliki kelemahan juga. Tanpa disadari, manusia sering kali menuhankan fikiran mereka. Jika fikiran mereka selalu dianggap benar bahkan paling benar, maka tidaklah lama untuk menuju pada jalan yang tidak benar. Seharusnya fikiran suatu saat bisa berhenti bertanya tentang sesuatu, karena segala sesuatu tidak bisa difikirkan dengan rasional manusia yang hanya terbatas. Ada kalanya kita harus menyerahkan permasalahan kita dengan cara memohon ampun secara ikhlas tanpa ada tanya didalamnya. Keihkhlasan inilah yang akan menjawab pertanyaanmu, karena ketika ikhlas, maka tidak ada pertanyaan pun dari fikiran kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  22. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Terkadang masalah muncul ketika antara fikiran dan hati tidak selaras. Ini wajar karena manusia adalah mahkluk yang lemah dan terbatas. Namun ketika pikiran kita sudah tak berdaya untuk mencari solusi dari permasalahan yang kita hadapi, maka alangkah baiknya kita berdoa dan meminta petunjuk kepada sang ilahi. Pikiran adalah salah satu musuh terberat kita dalam menjalani kehidupan sehingga kita harus berupaya keras mengimbanginya dengan perkataan nurani. Karena sebaik-baikya pikiran adalah yang dilandasi oleh hati nurani. Dengan begitu kita akan ikhlas dalam membuat dan menerima dari segala keputusan.

    ReplyDelete
  23. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Yang menarik dari setiap tulisan Bapak , selalu mengandung makna dan endingnya ada semacam sentuhan kalbunya.Terimaksih banyak Pak.Dunia memang fatamorgana yang sifatnya semu, terlihat nyata sesaat yang pada akhirnya sirna seketika.Dan tak ada yang kekal, nyata, dan absolut melainkan Allah Subhana huwata ala.Takdir berupa nasib ,hidup dan mati ada ditangan Allah.Tidak ada yang kekal di muka bumi ini melainkan Dia.Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an” Setiap yang bernyawa pasti akan mati”Dan sebaik-baik hidup adalah berikhtiar dan berdoa.Semoga kita menjadi hamba yang terbaik dan mendapatkan safaat darinya.Aminn .Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  24. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sifat manusia itu merupakan makhluk yang terbatas. Termasuk Pikiran manusia itu terbatas ruang dan waktu. Pikiran tidak bisa menembus hal-hal yang tidak ada di dalam pikiran itu sendiri. Pikiran tidak bisa menembus Fatamorgana, itulah sifat manusia yang terbatas. Dan hendaknya kita senantiasa mendekatkan diri dan meminta kepada Dzat yang Maha tidak Terbatas, Dzat yang Maha Sempurna.

    ReplyDelete
  25. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Pikiran tidaklah sempurna jika dtempatkan sebagai Sang Maha. Pada dasarnya, manusia yang merasa berpikir sempurna terhadap suatu hal, nyatanya itu adalah asumsi. Jadi, hanya asumsi yang berhak menyatakan apakah asumsi dari pikiran tersebut benar atau tidak. Selanjutnya, jika manusia merasa berpikir secara baik tentang etik dan etistika maka hanya etik dan etistika yang dapat memutuskan bahwa apakah manusia telah berpikir secara etis dan etistika atau sebaliknya. Pada dasarnya segalanya kembali kepada sumber segalanya.

    ReplyDelete
  26. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Sebagai makhluk yang dibekali dengan pikiran, manusia tentu bisa dibilang memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk lainnya. Dengan berbekal pikiran ini manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, manusia dapat membuat keputusan-keputusan yang bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Namun, sebagai makhluk, manusia tentu tidak benar-benar sempurna. Termasuk dalam hal pikiran. Ada batasan-batasan dalam pemikiran manusia, yang menyebabkan batasan dalam berpikir. Oleh sebab itu, tidak semua hal dapat dicapai dan dipahami dengan pikiran manusia.

    ReplyDelete
  27. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Dalam berperilaku di kehidupan kita harus menerapkan yang namanya ikhlas hati dan ikhlas pikir. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan dan intuisi kita akan menjadi lebih baik. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan akan menjadi jernih dan pendapat atau keputusan yang kita buat akan semakin baik. dalam berperilaku kita juga tidak boleh berlaku sombong kerena berlaku sombong akan mengakibarkan kita sulit menerima ilmu yang lain karena merasa sudah paling pintar. dengan kesombongan kita, kita juga akan kehilangan banyak hal sampai kita sadar bahwa sebenarnya sombong itu tidak baik. ikhlas hati ihklas pikir lah yang baik untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  28. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dari percakapan diatas saya menarik suatu pelajaran penting bahwa kita tidak dapat menafsirkan atau memberikan suatu sebutan bagi sesuatu tertentu, yang hanya didasari oleh sebagian dari sifat-sifatnya yang kita ketahui. Hal itu tidak memberikan keadilan pada sifat-sifatnya yang lain. Karena pikiran kita tidak dapat memcahkan misteri fatamorgana yang ada, bahkan hati juga tidak dapat melakukannya. Olehkarena itu berdoalah kepada Allah dengan keikhlasan agar diberikan kemudahan dalam menjalani hidup ini. Amin.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  29. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas tulisan di atas. Sungguh logis dan masuk akal bahwa pemberian akal dari Tuhan memang tidak dapat digunakan sepenuhnya untuk memikirkan hal-hal diluar batas kemampuan. Artinya manusia pasti memiliki keterbatasan dalam berpikir. Ketika pikiran menjadi tak berdaya, jangan biarkan ego fatamorgana merajai dan menguasai kita. Fatamorgana adalah hal yg bersifat khayal dan tidak mungkin dicapai. Bukan tentang intuisi, etik dan estetika, superego, bayangan diri, bayangan lain, atau fenomena dan bahkan hati sekalipun. Namun tentang seberapa kuatnya pikiran menghadapi potensi datangnya gejala-gejala berkhayal belaka tanpa teguhnya pengetahuan intuisi yang jelas dan benar. Namun jangan sampai juga kita menjadi orang yang mati karena tidak dalam keadaan berpikir. Fatamorgana menjadi bayang-bayang dan ancaman bagi yang ada dan yang mungkin ada. Sebenar benar pikiran tidaklah berdaya memecahkan dan menghancurkan fatamorgana ini. Dengan kata lain, teruslah kita berserah diri dan memohon perlindungan Allah dengan ikhlas dan khusyu’ agar mendapatkan rahmat dan keberkahan dalam setiap berpikir. Wallahu’alam bisshowab.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  30. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sepandai-pandainya, sebijak-bijaknya manusia tak akan bisa memecahkan segala misteri ciptaan Allah SWT. karena pada hakikatnya manusia hanyalah salah satu ciptaan Allah SWT yang memiliki limit. janganlah kita merasa congkak, tinggi hati, merasa bahwa kita mengetahui segala sesuatu. kembalilah kita berserah diri dan memohon ampun kepada Sang Maha Pencipta, Sang Maha Mengetahui Segala Sesuatu atas ketidak tahu dirian kita sebagai mahluknya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  31. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Dalam setiap perkuliahan, Pak Marsigit selalu mengungkapkan bahwa kita jangan sekali-kali menggunakan pikir dalam spiritualitas. Jika kita berpikir maka itu masih masalah dunia. Saya percaya sekuat-kuatnya pikir, adalah lebih kuat kuasa dari Tuhan yang memberi kita akal untuk berpikir. Tak ada yang perlu disombongkan dari kemampuan kita berpikir, karena itu tak akan berguna jika hatimu mati. Hati yang mati adalah hati yang tak berdoa. Maka, berdoalah senantiasa. Doa adalah salah satu bentuk syukur kepada Tuhan bahwa kita telah diberikan kemampuan berpikir hingga dapat hidup seperti sekarang ini...

    ReplyDelete
  32. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Postingan tentang elegi ketika sekali lagi pikiranku tak berdaya memberikan pelajaran kepada kita bahwa manusia itu memiliki keterbatasan, manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Manusia perlu banyak belajar, belajar, dan belajar. Namun, apalah artinya usaha belajar tersebut ketika semua yang dilakukan itu tidak ikhlas malah lebih ke aroganan untuk menjadi ke sempurna. Terkadang kita perlu untuk mematikan pikiran kita dan kembali kepada Allah SWT, berdoa memohon diberikan kebijakan dalam segalahal.

    ReplyDelete
  33. Akal pikiran manusia merupakan bagian potensial yang sering digunakan manusia sebagai pembanding antar satu dengan yang lain. Bahkan terkadang manusia menganggap bahwa hanya akal pikiranlah yang akan menaikkan derajat mereka. Hal ini menyebabkan, mereka menganggap bahwa akal pikiran adalah dewa dan mendewakannya. Tetapi mereka lupa bahwa Tuhan menciptakan hati sebagai pengingat dan penyeimbang pikiran mereka dan yang akan mengarahkan pikiran manusia kepada hal yang benar.

    ReplyDelete
  34. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih Prof atas pencerahannya. Dari tulisan ini saya memahami bahwa kita tidak boleh terjebak pada golongan orang-orang yang hanya mengedepankan akal pikirannya. Banyak orang yang begitu mendewakan akalnya sehingga melupakan hal yang lainnya seperti hati dan doa. Padahal akal hanya bisa diandalkan dalam urusan-urusan yang sifatnya duniawi, sementara dalam urusan spiritual maka disitu bukanlah domain akal, sebagaimana yang Prof Marsigit sering ingatkan dalam perkuliahan.

    ReplyDelete
  35. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan di atas membuat saya merasa terus menerus diingatkan bahwa tidak semua misteri dapat terpecahkan. Layaknya suatu masalah, terkadang hanya dapat terselesaikan oleh waktu itu sendiri. Ini tentunya tidak ada yang tahu seberapa lama masalah itu akan berakhir melainkan Tuhan yang Maha Berkehendak. Jika sudah seperti ini, manusia sebaiknya menjalani hidup sesuai yang diinginkan oleh Tuhan. Terus memikirkan segala sesuatu yang tidak ada ujungnya juga akan membuat hati menjadi lemah. Terima kasih Prof untuk ulasan ini.

    ReplyDelete
  36. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dengan segala yang kita miliki Tuhan n menunjukkan kekusaanNya termasuk pikiran kita, kemampuan kita memecahkan sesuatu menggunakan pikiran kita menunjukkan kekuasaan Tuhan dalam menciptakan pikiran dan ketidak mampuan kita memecahkan sesuatu menunjukkan kelemahan kita dan besarnya kuasa Tuhan. Semakin kita memikirkan sesuatu secara mendalam semakin kita tahu batas kita, dan disanalah kita akan menemukan kekuasaan Tuhan. Bahkan seorang ilmuwan besar yang menemukan unsur penyusun benda yang ada di alam ini dan bahkan unsur penyusun alam itu sendiri hanya mampu sampai Proton, Elektron dan Neutron. Padahal jika dikaji masih ada hal yang mungkin ada yang diluar pikiran manusia.

    ReplyDelete
  37. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini, menjelaskan bahwa pikiran kita itu terbatas. Karena terbatas itu maka jangan kita menyombongkan diri atas apa yang telah kita pelajari atau apa yang telah kita ketahui. Karena kita diberi akal dan hati bukan untuk bersikap sombong tetapi untuk dapat saling bersinergi atau saling melengkapi agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan. Oleh karena itu, janganlah bersikap sombong karena pada dasarnya pikiran kita mempunyai keterbatasan

    ReplyDelete
  38. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dari elegi di atas, yang dapat saya refleksikan adalah bahwa pikiran manusia itu sifatnya terbatas. Oleh karena sifatnya yang terbatas maka akan ada persoalan yang tidak mampu diolah oleh pikiran. Beberapa hal yang tidak bisa dipikirkan tersebut dapat naik ke dimensi spiritual yaitu aturan Allah SWT. Jika sudah berada di dimensi ini tentunya pikiran manusia tidak akan mampu memikirkannya. Doa adalah sebagian dari wujud ibadah kita kepada Allah SWT, oleh karena itu seyogyanya, doa yang ikhlas adalah yang berasal dari hati yang ikhlas dan dari pikiran yang terhenti karena dalam dimensi spiritual seyogyakan keyakinanlah yang diutamakan dan terhentilah pertanyaan-pertanyaan dari pikiran.

    ReplyDelete
  39. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Manusia diberikan intuisi, pikiran, hati, akal, dan lain-lain sebagai pengontrol satu sama lain agar terjadi suatu bentuk keseimbangan. Doa sebagai penyeimbang yang utama. Karena di dalamnya terkandung harapan-harapan.

    ReplyDelete
  40. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Berpikir kritis harus selalu dibiasakan dalam memandang sesuatu hal. Karena jika tidak bisa berpikir kritis berarti seseorang dikatakan mati dan sudah terkena mitos. Menarik penjelasan tentang pikiran yang sedang mencari jawaban dari yang dipertanyakannya. Bahwa pikiran manusia itu ada batasnya, maka manusia jangan memaksakan keingintahuan terhadap apa yang seharusnya tidak perlu diketahuinya atau sesuatu yang memang manusia tidak akan tahu. Tidak semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan pikiran, contohnya dalam memecahkan misteri fatamorgana diatas.

    ReplyDelete
  41. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B
    Setiap manusia dikaruniai otak yang berguna untuk berfikir. Namun dengan adanya pikiran itu manusia akan jatuh dan terpuruk, ketika dia terlalu mengangungagungkan pikiran. Banyak orang beranggapan bahwa menusia berhenti berfikir jika mati. Namun anggapan itu salah, kadang kala kita juga berhenti berfikir. Maksudnya, ketika kita memikirkan materi kuliah, maka kita juga akan berhenti memilirkan hal lain selain kuliah. Alangkah bahayanya ketika manusia tidak dapat berhenti berfikir dalam sedetikpun. Dia tidak akan bisa berdoa dengan tenang, karna banyak yang mengganggu pikirannya. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena kita ciptaan yang sempurna diantara ciptaan yang lainnya dan kita harus merawat pemberian Tuhan serta menjaga apapun yang dipercayakan kepada kita. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  42. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 P.Mat UNY kelas B 2017

    dari tulisan tersebut pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa pikiran manusia itu ada batasnya, ketika kita terus berusaha mencari jawaban yang pada akhirnya kita sadari bahwa tidak bisa kita pecahkan maka kita harus menyadari bahwa pikiran manusia itu terbatas, tidak sempurna sehingga kita harus menyerahkan segala urusan kepada yang maha sempurna Allah SWT, jangan biarkan pikiran kita terlalu liar dan memunculkan kesombongan dari dalam hati.

    ReplyDelete
  43. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Manusia adalah makhluk yang mempunyai akal dan pikiran, tetapi terbatas. Oleh karena itu, jangan sampai manusia menjadi sombong karena ilmu yang ada di pikirannya. Seandainya, lautan dijadikan tinta dan seluruh pepohonan yang ada di bumi dijadikan pena, maka lautan tinta tersebut akan habis dan pena-pena tersebut akan rusak, sedangkan kalimat (ilmu) Allah SWT masih banyak yang belum ditulis.

    ReplyDelete