Nov 6, 2014

Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya



Ass wr wb, ketika aku baca lagi Elegi ini, aku merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Oleh karena ini Elegi ini sengaja aku angkat ke permukaan kembali agar dapat disimak lebih banyak lagi oleh para pembaca. Selamat membaca. Wss wr wb

Oleh Marsigit

Pikiranku:
Oh...hoh... kalau tidak salah itu yang namanya Fatamorgana. Hem...sekali lagi dia berusaha menggodaku. Jelas-jelas dia memang bermaksud menguji pikiranku. Wahai Fatamorgana...agar aku mampu memecahkan misterimu...maka bersedialah engkau berkomunikasi denganku?

Fatamorgana:
Aku mempunyai caraku sendiri dalam berperilaku sebagai Fatamorgana. Jika aku tunduk dengan perintah-perintahmu maka tidaklah lagi aku bernama Fatamorgana.

Pikiranku:
Waha...tahu saja aku akan dirimu. Wahai Fatamorgana...engkau itu sebetulnya adalah Intuisiku.

Intuisiku:
Selamat aku ucapkan kepada dirimu, bahwasanya engkau itu hampir saja bisa menangkap Fatamorgana. Tetapi ketahuilah bahwa intuisimu itu hanya sebagian dari sifat Fatamorgana itu. Adalah tidak adil bahwa sifat yang sebagian itu engkau peruntukan untuk menamakan keseluruhan. Jika Intuisi adalah Fatamorgama, maka belum tentu Fatamorgana itu Intuisi.

Pikiranku:
Welah...ternyata belum pas juga. Baiklah Fatamorgana, sekarang pasti aku akan benar. Melihat gejalamu maka engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Etik dan Estetika.

Etik dan Estetika:
Wahai Pikiran, ketahuilah bahwa Etik dan Estetika itu bisa bersifat pribadi, kelompok atau universal. Lihatlah Fatamorgana itu! Dengan lincahnya dia itu berlari-lari dari pribadi, menuju kelompok, menuju universal atau sebaliknya. Padahal dirimu tidak bisa menunjuk ruang dan waktunya Fatamrgana sekarang itu. Maka adalah terlalu gegabah jika engkau menunjuk dia hanya sebagai Etik dan Estetika. Jika Etik dan Estetika adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu Etik dan Estetika.

Pikiranku:
O..iya ya. Hemm...aku belum akan menyerah. Tetapi mengapa engkau tidak pula segera pergi dariku? Ah ini pasti aku akan betul. Wahai Fatamorgana engkau itu pastilah Superegoku.

Superego:
Wahai Pikiranku...pusat pengendalian Superegomu itu adalah pada Egomu. Ketahuilah bahwa Egomu itu hanyalah sebagian kecil saja dari pengendalian Fatamorgana ini. Maka tiadalah tepat jika engkau katakan bahwa Fatamorgana itu adalah Superegomu. Jika Superego adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Superego.

Pikiranku:
Wahai Fatamorgana engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Bayanganku sendiri?

Bayangan:
Wahai Pikiran...lihatlah di sebelah sana! Ada bagian Fatamorgana tidak selalu mengikuti dirimu. Bagaimana mungkin Fatamorgana adalah hanya bayanganmu jika sebagian sifatnya adalah ternyata bayangan orang lain. Jika Bayanganmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah bayanganmu.

Pikiran:
Wahai Fatamorgana kurangajar betul engkau itu, telah membuat marah pikiranku. Engkau itu kan cuma Fenomena. Hanya Fenomena saja, kok sombongnya luar biasa.

Fenomena:
Wahai Pikiran...ketahuilah bahwa menurut Immanuel Kant, Fenomena adalah sesuatu obyek yang bisa dipersepsi dengan panca indera. Sedangkan ada dari bagian Fatamorgana, tidak dapat dipersepsi menggunakan panca indera. Itulah yang disebut Noumena. Jika Fenomena adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Fenomena.

Pikiran:
Wahaha....haha....mau minteri orang pinter ya kamu! Alasanmu itulah sebenar-benar telah menunjukkan bahwa misteri itu telah terungkap. Kan... kalau begitu...ya gampang saja....Singkat kata Fatamorgana ya sekaligus Fenomena dan Noumena, ...gitu aja kok repot.

Fenomena dan Noumena:
Wahai Pikiran..aku menyayangkan sifatmu yang sombong. Kesombonganmu itulah penyebab engkau termakan mitos. Ketahuilah bahwa teori Fenomena dan Noumena itu kan hanya teorinya seorang Immanuel Kant. Kenapa engkau serahkan hidupmu seribu persen kepada teori itu. Bukankah hal yang demikian menunjukkan bahwa sebenar-benar dirimu itu adalah telah mati, dikarenakan tidak mampu lagi berpikir kritis. Pendapat seseorang adalah suatu tesis, maka wajib hukumnya bagi pikiran kritis untuk mencari anti-tesisnya. Jika Fenomena dan Noumena adalah Fatamorgana maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Fenomena dan Noumena.

Pikiran:
Wah heh huh hah kok kak tut tat tit tut tat tit weil weil thong thong shot...udah-udah pergi sana aku tidak butuh lagi memikirkanmu.

Fatamorgana:
Hemhem...sudah sampilah pada saatnya engkau itu tak berdaya.

Pikiran:
Woh...nanti dulu. Aku merasa gengsi kalau tidak bisa memecahkan misterimu itu. Tetapi segenap daya dan upaya pikiranku ternyata tak mampu memecahkan Fatamorgana ini. Wahai Hatiku telah sampailah diriku itu dipenghujung batasku. Padahal penghujung batasku itu adalah Hatiku. Bolehkah aku meminta bantuan dirimu untuk memecahkan misteri siapakah Fatamorgana didepanku itu?

Hatiku:
Ketahuilah wahai Pikiranku, bahwa tidaklah mungkin dirimu mampu mengetahui segala seluk beluk Hatimu. Sedangkan kalimatmu itupun tidak mampu mengucapkan dan menuliskan segala pikiranmu. Tindakanmu tidak akan mampu menjalani semua tulisamu. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan Fatamorgana ini hanya dengan kalimat-kalimatmu itu, kata-katamu, dan tulisan-tulisanmu? Sedangkan diriku itu pun tidak seluruhnya mampu merasakan Fatamorgana. Maka tidaklah cukup jika engkau hanya mengandalkan Hatimu sendiri. Ujilah dengan Hati para subyek diri yang lain. Jika Hatimu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Hatimu.

Hati Subyek Diri yang Lain:
Sebentar dulu...emangnya urusanku hanyalah Fatamorganamu. Sedangkan akupun sedang menghadapi Fatamorgana yang lain. Fatamorgana diriku saja aku sulit memecahkan, apalagi Fatamorgana dirimu. Hati pertama: ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap hati manusia. Hati kedua:ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. Hati ketiga: ketahuilah bahwa Fatamorgana dapat berada diluar hati atau diluar pikiran.

Pikiranku:
Wahai para Hati...cukup-cukup. Tidak mau menjelaskan Fatamorganaku malah bertengkar sendiri. Okey...saya akan bertanya kepada Nasibku. Wahai Nasibku...tinggal dirimulah aku meminta tolong. Apa dan siapakah Fatamorgana ini?

Nasibku:
Wahai Pikiran...sebagian Nasibmu itu adalah tersembunyi sifatnya. Jika engkau mengetahui semua nasibmu, maka hal demikian bertentangan dengan hakekat dirimu sebagai manusia. Ketahuilah bahwa nasibmu itu ternyata bisa pula menjadi Fatamorgana. Jika Nasibmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu bahwa fatamorgana itu adalah Nasibmu. Adalah hanya ditangan Allah SWT segala Nasibmu itu berada. Lahir, mati dan jodhoh itu ada ditangan Tuhan. Manusia itu hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Maka sekecil-kecil dan sebesar-besar persoalanmu itu serahkan saja kepada Tuhan. Berdoalah dengan tawadu’ dan ikhlas. Allah SWT akan selalu mendengar doa orang yang ikhlas. Amiin

Pikiranku:
Hemm...baru kali ini Pikiranku mendapat persoalan yang begitu besar dan hebat. Baiklah aku akan bertanya kepada Doaku. Wahai doaku, bersediakah engkau menjelaskan kepada diriku apa dan siapa Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...pikiran...pikiran...sombong dan bengal amat engkau itu. Bukankah sudah banyak peringatan bagi dirimu bahwa dirimu itu hanyalah bersifat terbatas. Tiadalah hukumnya doa bisa dicampur dengan pertanyaan. Bagaimana bisa engkau berdoa sementara engkau masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan? Tetapi mengapa engkau selalu saja berusaha ingin memecahkan misteri Fatamorgana ini. Ketahuilah bahwa dalam Doamu itu ada tempatnya di mana pikiranmu harus berhenti.

Pikiranku:
Hah...apa? Pikiranku harus berhenti? Bukankah jika Pikiranku harus berhenti maka matilah diriku itu. Wahai Doaku...apakah engkau menginginkan lebih baik Pikiranku mati dari pada aku bisa memahami Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...Pikiran-pikiran. Berhentinya Pikiran itu tidaklah harus bahwa dirimu itu mati. Ketahuilah bahwa Pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur. Tentulah bahwa Pikiranmu itu juga mati jika dirimu mati. Ketahuilah sekedar memperoleh jelasnya sesuatu saja, sudah dapat dikatakan bahwa pikiranmu telah mati. Atau jika pikiranmu sedang memikirkan A, maka matilah pikiranmu terhadap B. Maka bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk. Maka tiadalah Doamu itu ikhlas dan khusyuk jika engkau dalam keadaan mengembarakan Pikiranmu itu. Sampai di sini apakah engkau belum paham bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tidaklah berdaya memecahkan fatamorgana ini. Jangankan Pikiranmu, sedangkan Hatimu saja tak kuasa melakukan hal yang sama. Maka sekali lagi tiadalah Pikiranmu itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu. Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana. Berserahlah keharibaan Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya. Amiin.

15 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Pikiran kita mempunyai keterbatasan untuk mengungkapkan segala yang ada dan yang mungkin ada. Pikiran kita tidak dapat mengetahui seluk-beluk dalam hati dan ucapan kita tidak mampu mengucapkan ataupun menuliskan semua yang ada dalam pikirkan kita. Apa yang kita lakukan pun tidak mampu mencerminkan apa yang kita tulis. Oleh karena itu, pikiran kita tidak dapat sepenuhnya mengartikan atau pun memecahkan misteri tentang fatamorgana. Yang bisa kita lakukan adalah secara ikhlas dan tulus hati berdoa kepada Allah Swt untuk selalu mengharap ridha dariNya, berserah diri dan mohon anugerah dariNya.

    ReplyDelete
  2. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Perlu kita sadari bahwa manusia sering bertindak sombong, sehingga ia berpikir bahwa ia akan mengatahui segalanya hanya dengan pikiran saja. Bahkan, (dalam artikel di atas) untuk menemukan apa itu fatamorgana, ia tidak bisa. Meskipun manusia telah meminta bantuan dari siapa pun, ia tetap tidak akan mampu menemukannya jika dia masih sombong. Kita sebagai manusia seharusnya dapat mengetahui posisi diri sebagai makhluk ciptaan Allah dan tidak sombong kepada Allah. Kita juga harus menyadari bahwa pikiran tidak mungkin dapat menyelesaikan semua masalah di dunia karena pikiran kita sangat terbatas. Allah lah yang menciptakan pikiran kita dan Allah lah yang memberikan pengetahuan kepada pikiran tersebut. Jadi, kita harus bisa tunduk kepada Allah karena hanya Dia yang Maha Tahu semua ciptakan-Nya.

    ReplyDelete
  3. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ritual ikhlas kali ini saya memperoleh pelajaran bahwa dalam Fatamorgana dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. kita sebagai manusia memiliki banyak keterbatasan. Ketika memikirakn sesuatu untuk memecahkan suatu masalah, kita juga memiliki batasan-batasan. Ketika pikiran kita memikirkan sesuatu yang tidak dapat terpecahkan, maka sebaiknya berhenti memikirkannya kemudian berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Karena sesungguhnya pikiran kita memiliki batas.

    ReplyDelete
  4. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah saya membaca postingan diataa, banyak hal yang saya peroleh. Saya menyadari bahwa hati dan pikiran kita tidak akan dapat menembus fatamorgana. Kita hanya dapat slalu berdoa, bersikap ikhlas dalam segala hal dan slalu berserah diri kepada ALLAH SWT. Kita sebagai manusia hanya bagian kecil dari ciptaan-NYA.

    ReplyDelete
  5. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Setiap manusia itu mempunyai pikiran yang terbatas. Sebagai manusia, kita tidak bisa dapat memecahkan segala macam masalah, karena sifat dari daya pikir manusia itu terbatas. Sehingga manusia tidak pantas untuk menyombongkan diri atas pikiran-pikiran dan pengetahuannya yang dimiliki. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai bahan introspeksi bagi manusia bahwa manusia hanyalah seorang makhluk yang tak berdaya bilamana tidak ada sebuah kekuatan yang mahabesar yang menopangnya.

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Sesungguhnya pikiran kita sangatlah terbatas. Namun kadang kala kita lupa akan keterbatasan itu sehingga kita berlaku sombong, merasa mengetahui segalanya padahal kita hanya mengetahui sedikit saja dari apa yang kita pikirkan. Misalnya definisi dari kata abstrak yaitu suatu yang tidak bisa digambarkan secara real atau nyata artinya itu hanya ada dalam pikiran kita. Mari kita gunakan sekali lagi pikiran kita untuk melihat diri kita pada saat ini. Sulit bukan, hal yang tanpa batas seperti saat ini sulit dipikirkan, ini menunjukkan pikiran kita punya batas wajtu bukan berdiri tanpa batas waktu, itulah yang membedakan kita dengan Tuhan, karena kebenaran yang dikatakan manusia adalah batas-batas dimana diantara itu terselip satu kebenaran Tuhan.

    ReplyDelete
  7. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya pernah membaca tulisan yang mengatakan bahwa bumi ini hanyalah sebutir debu di luasnya alam raya ciptaan Tuhan. Bumi kita yang mampu menampung milyaran umat manusia saja hanyalah debu. Apalagi kita, manusia, yang cuma menumpang hidup di atasnya. Manusia yang tercipta dari debu tanah sangatlah kecil di hadapan Tuhan. Namun seringkali manusia bermegah diri, merasa tahu segalanya, dan merasa bisa mengatasi semua masalah dengan mengandalkan pikiran-pikirannya. Padahal Tuhanlah yang berkuasa di atas segalanya. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita sudah seharusnya berserah, ikhlas, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  8. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Manusia adalah makhluk yang terbatas dan tidak sempurna. Kemampuan pikiran manusia sangat terbatas. Masih banyak hal-hal yang tak dapat didefinisikan dan dipikirkan oleh pikiran manusia. Sehingga janganlah menyombongkan diri dan mengganggap dirimu sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kita hanyalah makhluk ciptaanNya yang penuh dengan keterbatasan. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berdoa dan berikhtiar agar dimudahkan dalam segala urusan. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat dan hidayah Nya kepada kita semua. Aamiin

    ReplyDelete
  9. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang tak berdaya. Kekuatan pikiran manusia terbatas. Tidak semuanya yang ada di dunia ini mampu kita pikirkan. Kita sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hal ini disebut fatamorgana. Kita boleh berpikiran seperti itu, namun jangan sampai kita terpedaya oleh pikiran kita akan fatamrgana dunia.

    ReplyDelete
  10. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang dikaruniai akal dan pikiran. Namun, perlu kita sadari bahwa pikiran manusia adalah pikiran yang terbatas. Manusia tidak boleh menyombongkan diri dan menganggap dirinya sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kita hanyalah makhluk ciptaanNya yang penuh dengan keterbatasan. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berdoa dan berikhtiar agar dimudahkan dalam segala urusan. Semoga Allah selalu memberikan rahmatnya kepada kita semua. Aamiin

    ReplyDelete
  11. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Hidup itu harus memiliki suatu kekbesan kita jangan hanya terikat pada itu saja dan dengan begitu kita hanya berdiam disitu saja tnapa ada konstribusi kita, kebebebasan itu diperlukan dalam hidup dengan kebebasan kita bisa mnacari jati diri kita seperti apa, dan kita bisa menemukan sebenar-benar hidup itu seperti apa. Ikhlas salah satu unsur yang mendampingi dalam menjalani suatu kebebasan. Walaupun dengan ikhlas akan sangat sulit di terapkan.

    ReplyDelete
  12. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ada saatnya pikiran kita menjadi terbatas sehingga berhenti pada satu titik dan tidak mampu memikirkan sesuatu itu. Kita dapat mengetahui kapan pikiran kita menjadi mati. Pikiran dikatakan mati ketika ia terbatas dan tidak mempu menjelaskan sesuatu. Pikiran mati ketika kita tidur. Kemudian pikiran juga dikatakan mati saat seseorang sedang berdoa. Berdoa pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi dengan Tuhan. Kita haruslah berdo’a dengan khusyuk dan ikhlas dengan menghentikan pikiran pada hal yang lain. Maka ketika kita masih berpikir tentang banyak hal lain ketika berdo’a maka do’a kita belum mencapai kekhusyukuan dan keikhlasan.

    ReplyDelete
  13. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPS Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Assalamualaikum, manusia dibekali pikiran untuk dapat menerjemahkan fenomena. Dalam proses menerjemahkan itu, sebetulanya manusia membuat model-model dalam pikirannya. Model-model tersebut dihubungkan oleh pikiran manusia yang disebut intuisi. Padahal belum tentu model-model tersebut bisa dihubungkan. Oleh karena itu, intuisi tersebut hanyalah fatamorgana. Disebut fatamorgana, karena bisa dibayangkan, bisa menjadi nyata, tapi belum tentu nyata. Oleh karena itu, fatamorgana juga merupakan noumena. Namun fatamorgana juga bisa jadi nyata, karna bisa ditangkap oleh panca indera. Sehingga fatamorgana juga fenomena.

    ReplyDelete
  14. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Adanya kontradiksi antara pikiran dan hati memang menjadi dilemma. Ketika pikiran sedang dihadapkan dengan persoalan yang besar, yang terkadang bertentangan dengan hati kita maka doa akan menajdi jalan terakhir. Sehebat apapun seseorang memikirkan sesuatu, maka hati kita jauh lebih mendalam memahaminya. Dan tingkatan yang paling luas adalah doa, doa yang mengungkapkan segalanya temasuk isi hati dan pikiran manusia. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang selalu berdoa kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ketika membaca judul elegi ini 'ketika pikiranku tak berdaya' saya merasa tertarik. Dan benar, tulisan ini sangat dalam maknanya. Tulisan ini menyampaikan bahwasanya pikiran manusia hanyalah terbatas. namun seringkali manusia bersikap sombong dengan menganggap dirinya mengetahui banyak hal atau bahkan memaksakan mengetahui hal hal yang memang tak dapat ia jangkau. Sejatinya manusia hanyalah lemah dan oenuh keterbatasan, apalagi pikiran manusia, bahkan pada hatinya, nasibnya semuanya tak berdaya, karena manusia memang hanyalah seorang hamba dari Tuhannya. Sudah selayaknya kitaberserah di hadapan sang penciptaa, Allah SWT serta menghindari sikap sombong.

    ReplyDelete