Nov 6, 2014

Elegi Ritual Ikhlas 37: Ketika Pikiranku Tak Berdaya



Ass wr wb, ketika aku baca lagi Elegi ini, aku merasa ini penting untuk mengetahui batas pikiran. Oleh karena ini Elegi ini sengaja aku angkat ke permukaan kembali agar dapat disimak lebih banyak lagi oleh para pembaca. Selamat membaca. Wss wr wb

Oleh Marsigit

Pikiranku:
Oh...hoh... kalau tidak salah itu yang namanya Fatamorgana. Hem...sekali lagi dia berusaha menggodaku. Jelas-jelas dia memang bermaksud menguji pikiranku. Wahai Fatamorgana...agar aku mampu memecahkan misterimu...maka bersedialah engkau berkomunikasi denganku?

Fatamorgana:
Aku mempunyai caraku sendiri dalam berperilaku sebagai Fatamorgana. Jika aku tunduk dengan perintah-perintahmu maka tidaklah lagi aku bernama Fatamorgana.

Pikiranku:
Waha...tahu saja aku akan dirimu. Wahai Fatamorgana...engkau itu sebetulnya adalah Intuisiku.

Intuisiku:
Selamat aku ucapkan kepada dirimu, bahwasanya engkau itu hampir saja bisa menangkap Fatamorgana. Tetapi ketahuilah bahwa intuisimu itu hanya sebagian dari sifat Fatamorgana itu. Adalah tidak adil bahwa sifat yang sebagian itu engkau peruntukan untuk menamakan keseluruhan. Jika Intuisi adalah Fatamorgama, maka belum tentu Fatamorgana itu Intuisi.

Pikiranku:
Welah...ternyata belum pas juga. Baiklah Fatamorgana, sekarang pasti aku akan benar. Melihat gejalamu maka engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Etik dan Estetika.

Etik dan Estetika:
Wahai Pikiran, ketahuilah bahwa Etik dan Estetika itu bisa bersifat pribadi, kelompok atau universal. Lihatlah Fatamorgana itu! Dengan lincahnya dia itu berlari-lari dari pribadi, menuju kelompok, menuju universal atau sebaliknya. Padahal dirimu tidak bisa menunjuk ruang dan waktunya Fatamrgana sekarang itu. Maka adalah terlalu gegabah jika engkau menunjuk dia hanya sebagai Etik dan Estetika. Jika Etik dan Estetika adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu Etik dan Estetika.

Pikiranku:
O..iya ya. Hemm...aku belum akan menyerah. Tetapi mengapa engkau tidak pula segera pergi dariku? Ah ini pasti aku akan betul. Wahai Fatamorgana engkau itu pastilah Superegoku.

Superego:
Wahai Pikiranku...pusat pengendalian Superegomu itu adalah pada Egomu. Ketahuilah bahwa Egomu itu hanyalah sebagian kecil saja dari pengendalian Fatamorgana ini. Maka tiadalah tepat jika engkau katakan bahwa Fatamorgana itu adalah Superegomu. Jika Superego adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Superego.

Pikiranku:
Wahai Fatamorgana engkau itu tidak lain tidak bukan adalah Bayanganku sendiri?

Bayangan:
Wahai Pikiran...lihatlah di sebelah sana! Ada bagian Fatamorgana tidak selalu mengikuti dirimu. Bagaimana mungkin Fatamorgana adalah hanya bayanganmu jika sebagian sifatnya adalah ternyata bayangan orang lain. Jika Bayanganmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah bayanganmu.

Pikiran:
Wahai Fatamorgana kurangajar betul engkau itu, telah membuat marah pikiranku. Engkau itu kan cuma Fenomena. Hanya Fenomena saja, kok sombongnya luar biasa.

Fenomena:
Wahai Pikiran...ketahuilah bahwa menurut Immanuel Kant, Fenomena adalah sesuatu obyek yang bisa dipersepsi dengan panca indera. Sedangkan ada dari bagian Fatamorgana, tidak dapat dipersepsi menggunakan panca indera. Itulah yang disebut Noumena. Jika Fenomena adalah Fatamorgana maka belum tentu bahwa Fatamorgana itu Fenomena.

Pikiran:
Wahaha....haha....mau minteri orang pinter ya kamu! Alasanmu itulah sebenar-benar telah menunjukkan bahwa misteri itu telah terungkap. Kan... kalau begitu...ya gampang saja....Singkat kata Fatamorgana ya sekaligus Fenomena dan Noumena, ...gitu aja kok repot.

Fenomena dan Noumena:
Wahai Pikiran..aku menyayangkan sifatmu yang sombong. Kesombonganmu itulah penyebab engkau termakan mitos. Ketahuilah bahwa teori Fenomena dan Noumena itu kan hanya teorinya seorang Immanuel Kant. Kenapa engkau serahkan hidupmu seribu persen kepada teori itu. Bukankah hal yang demikian menunjukkan bahwa sebenar-benar dirimu itu adalah telah mati, dikarenakan tidak mampu lagi berpikir kritis. Pendapat seseorang adalah suatu tesis, maka wajib hukumnya bagi pikiran kritis untuk mencari anti-tesisnya. Jika Fenomena dan Noumena adalah Fatamorgana maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Fenomena dan Noumena.

Pikiran:
Wah heh huh hah kok kak tut tat tit tut tat tit weil weil thong thong shot...udah-udah pergi sana aku tidak butuh lagi memikirkanmu.

Fatamorgana:
Hemhem...sudah sampilah pada saatnya engkau itu tak berdaya.

Pikiran:
Woh...nanti dulu. Aku merasa gengsi kalau tidak bisa memecahkan misterimu itu. Tetapi segenap daya dan upaya pikiranku ternyata tak mampu memecahkan Fatamorgana ini. Wahai Hatiku telah sampailah diriku itu dipenghujung batasku. Padahal penghujung batasku itu adalah Hatiku. Bolehkah aku meminta bantuan dirimu untuk memecahkan misteri siapakah Fatamorgana didepanku itu?

Hatiku:
Ketahuilah wahai Pikiranku, bahwa tidaklah mungkin dirimu mampu mengetahui segala seluk beluk Hatimu. Sedangkan kalimatmu itupun tidak mampu mengucapkan dan menuliskan segala pikiranmu. Tindakanmu tidak akan mampu menjalani semua tulisamu. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan Fatamorgana ini hanya dengan kalimat-kalimatmu itu, kata-katamu, dan tulisan-tulisanmu? Sedangkan diriku itu pun tidak seluruhnya mampu merasakan Fatamorgana. Maka tidaklah cukup jika engkau hanya mengandalkan Hatimu sendiri. Ujilah dengan Hati para subyek diri yang lain. Jika Hatimu adalah Fatamorgana, maka belum tentu Fatamorgana itu adalah Hatimu.

Hati Subyek Diri yang Lain:
Sebentar dulu...emangnya urusanku hanyalah Fatamorganamu. Sedangkan akupun sedang menghadapi Fatamorgana yang lain. Fatamorgana diriku saja aku sulit memecahkan, apalagi Fatamorgana dirimu. Hati pertama: ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap hati manusia. Hati kedua:ketahuilah bahwa Fatamorgana itu dapat bersemayam di setiap pikiran manusia. Hati ketiga: ketahuilah bahwa Fatamorgana dapat berada diluar hati atau diluar pikiran.

Pikiranku:
Wahai para Hati...cukup-cukup. Tidak mau menjelaskan Fatamorganaku malah bertengkar sendiri. Okey...saya akan bertanya kepada Nasibku. Wahai Nasibku...tinggal dirimulah aku meminta tolong. Apa dan siapakah Fatamorgana ini?

Nasibku:
Wahai Pikiran...sebagian Nasibmu itu adalah tersembunyi sifatnya. Jika engkau mengetahui semua nasibmu, maka hal demikian bertentangan dengan hakekat dirimu sebagai manusia. Ketahuilah bahwa nasibmu itu ternyata bisa pula menjadi Fatamorgana. Jika Nasibmu adalah Fatamorgana, maka belum tentu bahwa fatamorgana itu adalah Nasibmu. Adalah hanya ditangan Allah SWT segala Nasibmu itu berada. Lahir, mati dan jodhoh itu ada ditangan Tuhan. Manusia itu hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Maka sekecil-kecil dan sebesar-besar persoalanmu itu serahkan saja kepada Tuhan. Berdoalah dengan tawadu’ dan ikhlas. Allah SWT akan selalu mendengar doa orang yang ikhlas. Amiin

Pikiranku:
Hemm...baru kali ini Pikiranku mendapat persoalan yang begitu besar dan hebat. Baiklah aku akan bertanya kepada Doaku. Wahai doaku, bersediakah engkau menjelaskan kepada diriku apa dan siapa Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...pikiran...pikiran...sombong dan bengal amat engkau itu. Bukankah sudah banyak peringatan bagi dirimu bahwa dirimu itu hanyalah bersifat terbatas. Tiadalah hukumnya doa bisa dicampur dengan pertanyaan. Bagaimana bisa engkau berdoa sementara engkau masih mengajukan pertanyaan-pertanyaan? Tetapi mengapa engkau selalu saja berusaha ingin memecahkan misteri Fatamorgana ini. Ketahuilah bahwa dalam Doamu itu ada tempatnya di mana pikiranmu harus berhenti.

Pikiranku:
Hah...apa? Pikiranku harus berhenti? Bukankah jika Pikiranku harus berhenti maka matilah diriku itu. Wahai Doaku...apakah engkau menginginkan lebih baik Pikiranku mati dari pada aku bisa memahami Fatamorgana ini?

Doaku:
Oh...Pikiran-pikiran. Berhentinya Pikiran itu tidaklah harus bahwa dirimu itu mati. Ketahuilah bahwa Pikiranmu itu juga mati sementara ketika engkau tidur. Tentulah bahwa Pikiranmu itu juga mati jika dirimu mati. Ketahuilah sekedar memperoleh jelasnya sesuatu saja, sudah dapat dikatakan bahwa pikiranmu telah mati. Atau jika pikiranmu sedang memikirkan A, maka matilah pikiranmu terhadap B. Maka bukankah Pikiranmu itu juga harus mati ketika engkau berdoa secara ikhlas dan khusuk. Maka tiadalah Doamu itu ikhlas dan khusyuk jika engkau dalam keadaan mengembarakan Pikiranmu itu. Sampai di sini apakah engkau belum paham bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tidaklah berdaya memecahkan fatamorgana ini. Jangankan Pikiranmu, sedangkan Hatimu saja tak kuasa melakukan hal yang sama. Maka sekali lagi tiadalah Pikiranmu itu mampu memecahkan setiap persoalan hidupmu. Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana. Berserahlah keharibaan Allah SWT seraya berdoa dengan ikhlas dan khusyuk, semoga Allah SWT selalu melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya. Amiin.

38 comments:

  1. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Benar dan salah suatu pikiran manusia sangatlah relatif ukurannya, Pikiran membantu manusia untuk mengetahui benar dan salah. Melalui pikiran manusia dapat mengetahui segala hal yang ingin diketahuinya. Namun, pikiran kita memiliki segala keterbatasannya. Walaupun pikiran dapat berkembang dan mengatahui segala hal tentang pengetahuan. Hati adalah batas bagi pikiran itu. Hati mengkontrol semua pikiran manusia. Jika manusia berfikir tanpa hati, maka akan menjadi rusaklah manusia itu. Maka, ada saatnya kita harus berhenti untuk memikirkan suatu hal yang berada di luar batas jangkauan kita, tetapi bukan berarti kita mati berpikir selamanya, hanya saja segala ketentuan Allah tidak semua bisa kita pikirkan, tetapi harus diyakini dalam hati.

    ReplyDelete
  2. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pikiran kita mati tidak hanya dikala diri kita mati. Namun ada saatnya kita menghentikan/mematikan pikiran kita sementara yaitu saat kita tidak dalam kesadaran, seperti saat tidur dan pingsan. Manusia adalah makhluk yang lengkapi dengan kesempurnaan dalam keterbatasan. Begitu pula terhadap jangkauan pemikiran. Tiadalah manusia yang dapat memecahkan segala pertanyaan dalam pemikirannya. Karena sebenar-benar manusia adalah sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan.

    ReplyDelete
  3. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Pikiran mempunyai dua arah yang bertentangan kadang dapat bersifat positif dan terkadang bersifat negative. Semua tergantung bagaimana kita mengarahkannya, namun untuk menunjang pemikiran tersebut agar mengacu kepada hal-hal yang berbau positif maka diperlukan landasan berupa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt. Maka dari itu, ketika ketika kehabisan cara berfikir dalam menghadapi suatu masalah marilah sejenak untuk mengambil wudhu dan bermunajat kepada sang Illahi untuk meminta petujuk karena hanya melalui cara itulah yang sangat ampuh bagi kita orang-orang yang beriman.

    ReplyDelete
  4. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Sering kita mendengar bahwa “ sangat sulit mengungkapkan dalam bentuk kata-kata”. Dari pernyataan ini menggambarkan bahwa segala hal yang ada dalam hati dan pikiran memang tidak mudah untuk kita utarakan sama persis dengan apa yang ada di pikiean dan hati tersebut, kadang saja saat kita memikirkan hal yang A bisa saja yang muncul dalam ucapan adalah perkataan B. Sehingga dari hal ini, walaupun manusia makhluk yang sempurna namun kita memiliki keterbatasan dalam mengelola pikiran dan hatinya apalagi ketika dalam hati dan pikiranny terdapat gejolak. Oleh karena itu manusia sejatinya dapat mengikhlaskan apa yang ada dalam dirinya dan berserah diri agar apapun hal yang dipikirkan tersebut dapat membuat kita memutuskan jalan yang tepat sehingga harus selalu berdoa mendapatkan pikiran dan jalan yang terbaik

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Manusia itu memiliki sifat terbatas, termasuk pikirannya. Tidak semua masalah yang kita miliki dapat begitu saja terselesaikan hanya dengan mengandalkan pikiran kita. Banyak masalah yang tidak dapat kita jangkau dengan pikiran kita dan malah terselesaikan lewat do'a- do'a kita kepada Allah SWT. Maka yakinlah jika kita tidak dapat mengetuk pintu-pintu bumi dengan pikiran kita, kita masih dapat mengetuk pintu- pintu langit lewat do'a kepada Allah SWT. Karena hanya kepada Allah SWT lah sebenar-benar tempat mengadu dan memohon pertolongan.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Jika bisa diibaratkan pemikiran itu tidak akan pernah mati selama ada orang yang melestarikan sebuah pemikiran itu kepada orang lain. Ketika kita mati apa yang menjadi ideologis kita jelas mati karena tubuh dan nyawa sudah berpisah akan tetapi pemikiran yang sudah masuk ke dalam pemikiran orang lain itulah saat ketika pemikiran itu berpindah tempat.

    ReplyDelete
  7. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Berpikir kritis itu sangatlah baik. Agar tidak terjebak pada mitos kita sebaiknya mengerahkan segenap usaha kita dalam memahami sesuatu, mulai dari menggunakan pikiran, menggunakan intuisi, hingga menggunakan hati. Namun, dalam pengembaraan kita mencari tahu tentang segala sesuatu, kita harus sadar bahwa hakekatnya pikiran manusia dan intuisinya memiliki keterbatasan (dalam elegi ini keterbatasannya adalah menjelaskan fatamorgana). Maka dari itu, apakah yang kita sombongkan dari akal yang terbatas ini? Adakah keterbatasan ini asal tercipta tanpa ada Sang Pemberi Batasan?

    ReplyDelete
  8. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Pada perkuliahan filsafat Bapak sering mengatakan, jika seseorang bingung maka ia sedang berpikir. Hal demikian tidak boleh disalahkan, karena seseorang berpikir menandakan bahwa ia sedang mencari kebenaran tentang apa yang dipikirkannnya. Berbeda halnya dengan orang yang tidur, maka ia berhenti berpikir. Namun ketika pikiran tak berdaya akan memikirkan fatamorgana dunia, maka kembalilah dan berserah diri kepada Allah seraya berdoa memohon dengan khusyuk dan ikhlas agar diberikan pikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  9. Latifah Fitriasari / 17709251055

    Dalam berpikir dan meikirkan sesuatu kita hendaknya tidak boleh untuk menyerah. Pokok bahasannya adalah berupaya untuk berpikir sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Demikian hanlnya ketika kita menghadapi sebuah masalah maka kita harus memikirkan bagaimana jalan keluar yang benar-benar terbaik dan memikirkan efek baik dan buruknya. Tetapi jika benar-benar sudah menemui jalan buntu, maka jalan satu-satunya adalah berserah diri pada yang Maha Kuasa dan meminta pertolongan kepadaNya.

    ReplyDelete
  10. Insan A N/PPs PmC 2017
    Pikiran manusia, secara filsafat mampu memikirkan yang ada dann yang mungkin ada. Yang ada berarti yang berdimensi ruang dan waktu, yang mungkin ada berarti yang mungkin memiliki dimensi ruang dan waktu. Fatamorgana merupakan baying-bayang pikiran, menciptakan pikiran, untuk itu tidk dapat dijangkau dengan mudah oleh pikiran

    ReplyDelete
  11. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saat manusia mati, tentulah pikirannya akan mati juga. Pikiranmu itu sungguh adalah dirimu sendiri. Untuk mengoptimalkannya, kita selalu berusaha untuk mencari kebenaran-kebenaran akan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Pikiran kita juga memiliki batasan, tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan pikiran kita. Ada, kalanya pikiran menjadi tidak berdaya, seperti saat kita tidur, ataupun saat sholat dan berdoa dengan khusyuk. Teruslah berdoa kepada Allah SWT agar selalu dilindungi dan dirakhmati-Nya.

    ReplyDelete
  12. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang tak berdaya. Kekuatan pikiran manusia terbatas. Tidak semuanya yang ada di dunia ini mampu kita pikirkan. Kita sering memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, hal ini disebut fatamorgana. Kita boleh berpikiran seperti itu, namun jangan sampai kita terpedaya oleh pikiran kita akan fatamrgana dunia.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan manusia terletak pada hati dan akal pikiran, sehingga bisa digunakan untuk mengatasi masalah nya. Dengan keduanya manusia juga mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk. Namun demikian, kesempurnaan manusia bukanlah tanpa keterbatasan, termasuk pikirannya. Manusia memiliki batasan dalam berpikir. Sehingga tidak semua hal mampu dicapai dengan pemikiran manusia. Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi manusia untuk tidak berlaku sombong atas apa yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  14. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya akan merefleksikannya menjadi dua bagian. Pertama terkait dengan Fatamorgana. Fatamorgana itu adanya hanya di alam pikiran, bukan di alam kenyataan. Fatamorgana berbeda dengan intuisi. Jika intuisi itu diperoleh dengan indra melalui adanya fenomena. Kemudian kaitannya juga terkait dengan noumena. Fatamorgana adalah sesuatu yang asing tak terlihat. Ada banyak macam fatamorgana itu bahkan melekat pada diri. Sehingga ketika kita mencoba memahami fatamorgana berusaha untuk memikirkan maka kita perlu berhati-hati. Yang kedua, yaitu berkaitan dengan nilai yang terdapat dalam elegi, dimana kita sebagai manusia janganlah sombong akan kemampuan kita, apa yang ada di diri kita belum ada apa-apanya jika dibandingkan milikNya. Yang perlu kita tingkatkan yaitu rasa syukur karena kita telah diberi pikiran dan digunakan untuk memikirkan hal-hal yang baik. Dan perlu disadari juga bahwa pikiran kita itu terbatas. Bahkan untuk memikirkan Tuhan saja kita akan stop dan tidak sanggup.

    ReplyDelete
  15. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Elegi ritual ikhlas 37 ini mengingatkan saya tentang ikhlas yang harus terus dikedepankan ketika kita beribadah. Saat beribadah ini kita perlu mematikan pikiran kita. Hal ini dilakuakn agak kita mencapai tingkat ikhals fan khusuk dalam berdoa. Diperlukan serah diri kepada Allah semata unutk berdoa dengan ikhlas dan khusuk sehingga diharapkan limpahan rahmat dan hidayahnya selalu tercurah kepada kita.

    ReplyDelete
  16. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dalam berfilsafat, sesungguhnya kita melakukan kegiatan olah pikir. Kita merefleksikan segala yang ada di pikiran kita melaui ucapan atau tulisan. Sehingga bahasa kita juga merupakan filsafat. Adakalanya seseorang sangat tertarik memikirkan berbagai hal sampai-sampai ia ingin tahu sesuatu yang tida patut atau tidak mampu ia pahami atau ketahui. Jika seseorang merasa sombong dan merasa mampu mengetahuinya maka ia akan terus melakukan olah pikir. Apabila olah pikir ini tidak dilandasi oleh hati yang teguh, maka akan jadi kekacauan pikir. Yaitu dimana seseorang menjadi meragukan segala hal. Namun, sekacau-kacaunya olah pikir kita masih bisa mengatasinya asalkan tidak mengalami kacau hati, karena apabila hati kita kacau hilanglah keimanan kita dan kita bisa termakan oleh hawa nafsu kita.

    ReplyDelete
  17. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Manusia di dunia merupakan makhluk yang terbatas, yang tidak sempurna, karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Tuhan YME. Sehingga pikiran manusia pun hanya dapat menjangkau sebagian dari seluruh sifat objek yang ada dan yang mungkin ada. Pikiran berperan untuk menyadari keterbatsan tersebut sehingga dalam kehidupannya manusia tidak menjadi sombong, dan selanjutnya menjadikannya rendah hati, selalu beribadah, bertawakal, dan berdoa kepadaNya. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Ketika kita memikirkan tentang A maka matilah pikiran tentang B. Begitu juga pada saat berdoa, saat berdoa maka pikiran kita hendaknya mati, karena kita berdoa maka doa kita seharusnya ikhlas dan khusyuk. Berdoa dengan khusyuk adalah berdoa dengan hanya memohon pada Allah SWT dengan tidak memikirkan hal yang lainnya, karena arti khusyuk itu sendiri adalah ketundukan hati (antakhsya’a qulubuhu) untuk senantiasa mengingat Allah SWT.

    ReplyDelete
  19. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Dari risau-risau pada elegi ini ada beberapa risau justru bermanfaat bagi kita. Salah satunya risau berbuat dosa. Hal tersebut menandakan bahwa hati kita masih berfungsi. Kita takut berbuat dosa sehingga kita harus menghindariperbuatan dosa. Sama halnya dengan risau risau yang lain. Risau akan bermanfaat jika kita berusaha menekan dan menemukan solusi baik untuk mengatasi risau tersebut. Jika risau tidak punya teman maka banyak bergaul dengan orang orang baik. Jika risau menyongsong masa depan maka persiapkanlah masa depan secara matang sejak saat ini, jika risau kematian maka carilah bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Dan sebagainya. Dengan berusaha untuk tidak risau maka risau-risau tersebut akan berubah dari hl yang merugikan menjadi bermanfaat bagi kita untuk semakin memperbaiki diri.

    ReplyDelete
  20. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Kuasa manusia sangatlah terbatas. Ada banyak teka teki yang tidak dapat dijawab dan dipecahkan oleh pikiran maupun hati manusia. Kita perlu menyadari hal ini sehingga kita sadar bahwa tidak layak sedikitpun kita untuk berlaku sombong. Ditengah ketidak berdayaan kita inilah kita harus segera sadar bahwa kita memiliki Allah, Dzat Yang Maha Kuasa. Singkirkan terlebih dahulu pikiran kita, lalu mohonlah pertolongan pada Allah, panjatkanlah doa kepada-Nya. Sebagai bukti ketundukan kita padaNya dan sebagai bukti lemahnya diri kita dan begitu berkuasanya Allah

    ReplyDelete
  21. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B


    "Sadarlah bahwa sudah saatnya engkau mengakui bahwa sebenar-benar Pikiranmu itu tak berdaya memecahkan misteri Fatamorgana."
    Pikiran kita itu ya ada batasnya. Tak semua hal bisa dipikir. Kalau memikirkan semua hal lama-lama kita bisa gila. Biar hidup itu mengalir. Tapi ya tetap bisa memilih juga mau mengalir ke mana kalau ada persimpangan,tapi sisanya hanya Tuhan yang menentukan. Ada hal yang tak bisa dipikir,yang menjadi bagian Tuhan,yang akan terjadi ketika sudah saatnya. Karena hidup kita terpaut dengan ruang dan waktu. Akan ada saatnya suatu hal terjadi, karena semua terjadi menurut waktu-Nya Tuhan, bukan waktunya kita.

    ReplyDelete
  22. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Sebagai manusia, kita telah diberikan pikiran untuk memperoleh ilmu sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, pikiran itu juga terbatas. Banyak hal yang tidak dapat kita pikirkan secara mendalam. Kita cukup mempercayainya dan berdoa kepada Allah SWT agar kita dapat menggunakan pikiran kita unutk mencari ilmu yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  23. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Kita sebagai manusia harus sadar bahwa pasti ada banyak fatamorgana dalam pikiran kita yang tidak dapat kita ketahui apakah makna dan apa sebenarnya fatamorgana tersebut. Yang dapat kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT untuk memberikan rahmat dan hidayah-Nya dalam setiap kita berpikir.

    ReplyDelete
  24. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dunia itu fatamorgana. Semua ilusi yang belum tentu kebenarannya. Apa yan kita pikirkan belum tentu bisa menjadi kenyataan, bahkan terkadang justru menjauhi apa yang kita inginkan atau kita harapkan. Pikiran akan mati jika kita tidak bisa mengendalikan dengan baik. Aka satu-satunya menolong yang tepat adalah Allah SWT. Hanya meminta kepadaNya lah pikiran dapat bangun dan aktif lagi untuk berpikir. Allah lah sebaik-baik penolong saat pikiran benar-benar mati. Niat, ikhlas, berdoa, semoga pikiran kita selalu hidup.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  25. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Saat pikiran tak berdaya, ikhlas lah satu-satunya yang dituju. Namun dalam praktiknya, tak semudah membalikkan telapak tangan untuk mendapatkan keikhlasan, meskipun usaha terbaik sudah dilakukaan. Lagi-lagi semua butuh proses. Ketika pikiran sudah tak berdaya, seperti halnya tubuh yang terluka butuh proses untuk sembuh, pikiran juga butuh proses untuk kembali bangkit dan berdaya kembali. Maka hargailah setiap proses orang yang berusaya memberdayakan pikirannya yang sedang tak berdaya. Jika pikiran kita hidup, bantulah ia yang pikiranya sedang tak berdaya agar berdaya lagi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    Pikiran manusia itu sangat terbatas. Kita tidak dapat mengetahui segala misteri dari kehidupan. Kita tidak akan pernah mengetahui semua hal yang diciptakan Allah di dunia ini. Hanya doa dan berserah diri kepada Allah maka akan membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang.

    ReplyDelete
  27. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika seorang mempunyai ketergantungan pada apa yang mereka pikirkan dengan tiidak sering menggunakan hari mereka dalam melakukan sesuatu, maka ketika apa yang ada di pikiran tidak sanggup menentukan apa yang harus diperbuat, maka orang tersebut akan mudah sekali menyerah. Karena pikiran jika sudah tidak lagi bisa beroperasi atau bahasa lainnya pikiran sudah mentok, maka hati;ah yang seharunya berjalan. Karena pada hakikatnya hati membantu memutuskan apa yang akan dilakukan jika pikiran sudah tak sanggup memikirkannya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  28. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kehidupan ini menyediakan banyak sekali ilmu untuk dipelajari. Bagi manusia yang sadar, tidak akan ada hal yang dapat disombongkan oleh manusia. Walaupun sudah belajar banyak, masih sangat banyak hal yang perlu dipelajari, maka tidak perlu sombong karena ilmu yang telah dimiliki. Bahkan, banyak sekali hal yang pikiran manusia tidak akan dapat menjangkaunya, karena hal-hal itu adalah Kuasa-Nya. Sungguh kita tidak pantas untuk menyombongkan diri

    ReplyDelete
  29. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    kita boleh berpikir seluas-luasnya, namun pikiran kita juga ada batasnya. Fatamorgana adalah sesuatu yang semu, yaitu suatu bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. fatamorgana merupaka bayangan dari suatu yang kita bayangkan, sesuatu yang sangat kita inginkan sehingga itu sangat mengganggu pikiran kita dan menghasilkan suatu imajinasi/halusinasi.

    ReplyDelete
  30. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dari elegi ini saya belajar bagaimana pikiran kita sesungguhnya memiliki keterbatasan, tapi sejauh mana keterbatasan yang dapat kita capai? Tentu berbeda-beda. kemudian bagaimana kita tidak boleh merasa sombong. Kita sering merasa bahwa kita benar, belum tentu pemikiran kita memang benar, karena suatu tesis, akan ada anti-tesisnya. Kemudian bagaimana kita harus selalu ikhlas, ikhlas hati, ikhlas pikir, dalam segala urusan yang kita hadapi karena sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  31. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. pikiran manusia itu terbatas. Jangan sombong atas kepintaran yang dimiliki, karena setiap yang dipikirkan manusia pasti akan memiliki batas. Kekuasan Allah SWT akan ilmu pengetahuan itu tak terbatas, tapi pikiran manusia itu terbatas. Seperti disebutkan dalam elegi, jika manusia itur maka terhentilah pikiran.

    ReplyDelete
  32. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P.Mat A S2 UNY

    Elegi yang memabangunkan pikiran kita selama ini. Kita sebagai manusia harus sadar bahwa pasti ada fatamorgana-fatamorgana dalam pikiran kita yang tidak dapat kita ketahui sampai akhir apakah sebenarnya fatamorgana-fatamorgana tersebut. Yang dapat kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar kepada Allah SWT untuk diberikan rahmat dan hidayahNya dalam setiap kita berpikir

    ReplyDelete
  33. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.mat B

    Pikiran yang berhenti berpikir terancam mitos. jika kita berhenti berpikir, maka akan berpengaruh pada fisik kita. orang yang pensiun, yang tidak lagi berpikir banyak lebih berpotensi terserang penyakit jika tidak rutin melakukan aktifitas otak dan fisik. itulah pentingnya kita untuk terus berpikir, agar otak kita tida kehilangan potensinya dan terjebak mitos.

    ReplyDelete
  34. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Meskipun manusia adalah makhluk ciptaan yang paling sempurna, namun manusia memiliki batas pikiran yang pada titik tertentu membikin mereka tidak mampu memikirkan suatu hal di luar batas kemampuan mereka seperti keadaan yang sifatnya gaib (missal, keberadaan Alla, Malaikat, hari kiamat, dll). Pada titik tertentu kita dan pikiran kita adalah ketidakberdayaan dan pada saat itu kitapun menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah, sehingga taka ada yang pantas kita mintai pertolongan selain dari Allah SWT. Wallahua’lam bishawab.

    ReplyDelete
  35. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ketika seseorang tidur, sejatinya pikirannya telah berhenti. Namun jika sedang dalam keadaan saat, ternyata pikiran juga dapat berhenti dan tak berdaya. yaitu pada saat seseorang telah terkena mitos, ia tidak memikirkan hal yang lainpun dikatakan bahwa pikirannya telah mati dan tak berdaya. Karena memang pada dasarnya tidak semua hal mampu kita pahami.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  36. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PMC

    Pikiran manusia bersifat terbatas sehingga tidak mampu memikirkan segala sesuatu secara bersamaan. Ketika kita memikirkan sesuatu maka matilah pikiran kita terhadap sesuatu yang lain. Dengan keterbatasan pikiran kita, kita sebagai manusia tidak akan mampu memecahlan seluruh permasalahan hidup yang ada. Karena itulah kita membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena itulah kita perlu senantiasa melibatkan Allah SWT dalam setiap langkah dalam hidup kita.

    ReplyDelete
  37. Dalam berperilaku di kehidupan kita harus menerapkan yang namanya ikhlas hati dan ikhlas pikir. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan dan intuisi kita akan menjadi lebih baik. jika sudah demikian maka apa yang kita pikirkan akan menjadi jernih dan pendapat atau keputusan yang kita buat akan semakin baik. dalam berperilaku kita juga tidak boleh berlaku sombong kerena berlaku sombong akan mengakibarkan kita sulit menerima ilmu yang lain karena merasa sudah paling pintar. dengan kesombongan kita, kita juga akan kehilangan banyak hal sampai kita sadar bahwa sebenarnya sombong itu tidak baik. ikhlas hati ihklas pikir lah yang baik untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  38. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Pikiran memiliki batasan, dimana ada kalanya tidak semua hal mampu terpikirkan. Seperti halnya dalam memahami arti dari fatamorgana dalam elegi ini. Pikiran dikatakan mati ketika ia terbatas dan tidak mempu menjelaskan sesuatu. Namun pikiran dikatakan mati juga saat seseorang sedang berdoa. Berdoa pada dasarnya merupakan bentuk komunikasi dengan Tuhan. Sehingga jika masih muncul pertanyaan-pertanyaan merupakan hal wajar. Kadang ketika kita tidak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa, dan tidak ada tempat untuk bercerita dan bertanya lagi, sering kita kembali kepada Tuhan untuk mempertanyakan banyak hal, bercerita banyak hal.

    ReplyDelete