Nov 11, 2014

Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan




Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan

Ass Wr Wb

Teori saya ini saya kuliahkan pada beberapa Kelas kuliah Filsafat Ilmu Program S2 Pendidikan Matematika dan Pendidikan dasar

Teori ini juga saya maksudkan untuk Bahan Ujian Akhir Semester.
Nantinya, pertanyaan Pokok/Soal Ujian Filsafat Ilmu (Filsafat Pendidikan Matematika) adalah satu atau beberapa dari berikut:

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Hidup"; atau

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu Pengetahuan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Dasar";
"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika Dasar"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Dunia"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Proses Belajar Mengajar Matematika";
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Metode Berpikir"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Identitas"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Ada"; atau...dst
...
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Mungkin Ada"

atau bahkan bisa ditambah:

"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Kontradiksi"

Sedangkan jawaban dan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, terangkum atau terurai pada kuliah saya ini berjudul "Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan".


Nantinya, jawaban ujian ditulis dengan tangan pada kertas doble follio dengan sifat Closed-Book (tidak boleh membuka segala media belajar termasuk HP, Buku, Laptop, dst). Mahasiswa diberi kesempatan 1 (satu) minggu untuk menulis ulang/ memerbaiki jawabannya dengan cara di ketik, di kumpulkan prin outnya, dan di upload di blog masing-masing. Itu rencana besok akhir semester, tetapi sudah saya informasikan sekarang agar mahasiswa memersiapkan diri.

Pada kuliah saat ini, mahasiswa saya persilahkan untuk merekam kuliah saya ini, baik menggunakan komputer ataupun HP, dan mengritisi dengan cara menanggapi atau mengajukan pertanyaan. Dengan teknologi On-line, maka secara bersama-sama Dosen dan Mahasiswa dapat melakukan aktivitas secara sinergi. Dosen menulis di kolom Posting, sedangkan Mahasiswa menulisnya di kolom Comment.

Jika dikarenakan suatu perkuliahan tidak menyukupi waktunya, maka kuliah ini akan saya selenggarakan secara simultan atau berkelanjutan dari kelas satu ke kelas berikutnya hingga selesai.

Selamat menyimak dan memelajarinya.

Baiklah langsung saja saya mulai.

Judul perkuliahan ini adalah :


"Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan"

BAGIAN I

Pada Bagian I dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Selasa, 11 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Dasar  Kelas B di R 200A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.10, yang di hadiri oleh 22 mahasiswa.

Saudara, teori saya ini sebetulnya sudah saya gambarkan dalam bentuk sketsa di kelas masing-masing. Namun ternyata saya menilai masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan memahaminya.
Saudara, secara filsafat, membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada pula, maksudnya adalah bahwa sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada itu jumlahnya banyak sekali; tidak cuma banyak tetapi berdimensi kirarkhis, artinya secara intensif ada kualitas 1, 2, 3, 4, …dst; sedangkan secara ekstensif ada kualitas a, b, c, d, …dst. Maka membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat, dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat satu, dua, tiga, atau, empat …dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Karena,yang akan dilakukan adalah membangun ilmu atau ilmu pengetahuan secara filsafat, maka identifikasi dari sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada juga ditinjau secara filsafati. Sifat-sifat filsafati adalah sifat-sifat yang dipikirkan atau pernah dipikirkan atau digunakan atau pernah digunakan oleh para Filsuf. 

Setiap yang ada mempunyai sifat, artinya jika ditinjau dari struktur Bahasa, maka yang ada itu berkedudukan sebagai Subjek atau Objek, sedang semua sifat-sifatnya berkedudukan sebagai Objek atau secara khusus disebut Predikat. Jadi di sini, Objek pun mempunyai Predikat, karena setiap Objek mempunyai sifat. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf bangsa Prusia (abad 15), secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas ialah keadaan tercapainya A=A, atau Aku = Aku, atau I = I …dst. Ternyata, dikarenakan Filsafat itu adalah sensitif terhadap Ruang dan Waktu, maka selama aku di Dunia, aku tidak pernah mengalami keadaan Identitas. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita, atau kalau kita mengandaikan atau kalau kita sudah sampai di akhirat. Di dunia ini memang benar aku tidak dapat mencapai Identitas, karena sebagai contoh belum selesai aku menunjuk diriku, maka dikarenakan ruang dan waktu, diriku yang tadi telah berubah menjadi diriku yang sekarang. Keadaan tidak dapat mencapai Identitas itulah yang kemudian disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu Subjek tidak sama dengan Predikatnya; atau Subjek tidak sama dengan Objeknya; atau tidaklah ada suatu sifat bisa menyamai subjek atau objek yang mempunyai sifat tersebut; atau semua predikat pada hakikatnya termaktub dalam Subjeknya. Misal, Pak Marsigit itu handsome, maka selamanya tidaklah pernah terjadi bahwa Pak Marsigit itu sama dengan handsome. Demikian seterusnya. Ini baru pengantar menuju bagaimana membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, yang ada dan yang mungkin ada yang sedang kita perhatikan sifat-sifatnya, merupakan objek pikir atau benda-benda pikir; mengapa demikian? Karena sebenar-benar filsaat adalah olah pikir. Beberapa sifat yang ada dan yang mungkin ada, atau sifat-sifat dari objek pikir tadi,  yang penting secara filsafati, dikarenakan digunakan oleh para filsuf, meliputi misalnya, dimanakah kedudukan atau lokasi objek pikir? Karena ini filsafat, maka yang dimaksud kedudukan objek pikir aadalah kaitannya dengan pikiran itu sendiri, artinya, dia ada di dalam pikiran atau di luar pikiran? Objek pikir itu bersifat kuantitatif atau kualitatif? Kalau objek pikir bersifat kuantitatif, maka berapa banyak atau jumlahnya. Kalau objek pikir bersifat kualitatif apakah dia berubah atau tetap? Demikian seterusnya. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara intensif dan ekstensif, maka lahirlah pendapat-pendapat para filsuf; dari pendapat-pendapat para filsuf ini maka lahirlah aliran-aliran filsafat. Terdapat banyak sekali aliran filsafat, sebanyak para filsuf yang memikirkannnya, mulai dari Jaman Yunani Kuno hingga jaman sekarang yaitu Jaman Kontemporer.Immanuel Kant mengatakan jika engkau ingin mengetahui Dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar Dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan. Jadi awal dan proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan seperti yang saya uraiakan di atas, bukan terjadi di Yunani Kuno atau di Mesir, atau di Eropa, melainkan dia sebenar-benar terjadi di dalam pikiran kita masing-masing.

Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir. 

Kita akan mampu membangun ilmu dan atau ilmu pengetahuan jika mampu menjawab kedua persoalan tersebut. Tetapi yang terjadi adalah tiadalah manusia di dunia ini yang mampu menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna. Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME. Jika objek pikir ada di dalam pikiran, maka dia memunyai sifat-sifat misalnya: tetap, ideal, absolut, tunggal, formal, dst. Keadaan objek yang bersifat tetap itulah kemudian diungkapkan oleh Permenides, selanjutnya dia mengatakan bahwa yang ada dan yang mungkin ada itu sebenar-benarnya bersifat tetap. Maka saya dapat katakan,  ini pula yang dapat dikatakan sebagai filsafat Permenidesianisme. Jika kita memandang objek pikir bersifat absolut, maka lahirlah aliran filsafat Absolutisme, di mana tokohnya adalah Plato. Jika objek pikir bersifat tunggal, maka lahirlah filsafat Monisme. Jika objek pikir bersifat formal, maka lahirlah aliran filsafat Formalisme.


BAGIAN II
Pada Bagian II dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh 23 mahasiswa. 

Marilah kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada yang sebagian sudah kita bahas terdahulu. Sebagian dari sifat-sifat tersebut diambil dari sifat yang dijelaskan oleh Immanuel Kant. 

Jika objek pikir berada di dalam pikira kita, maka kita akan menemukan bahwa dia antara lain bersifat: absolut, bersifat tetap, statis,  bersifat, tunggal, bersifat, formal, bersifat sempurna, bersifat ideal, bersifat abstrak, bersifat immanent, bersifat transenden, bersifat reduksionisme, bersifat analitik, bersifat a priori, bersifat rigor,bersifat apodiktik, bersifat konseptual, bersifat normatif, bersifat spekulatif, bersifat hypothetical, bersifat imeginer, bersifat rasional, bersifat logis-tak logis, bersifat aksiomatis, bersifat paralogis, bersifat teleologis, bersifat murni, bersifat analog, bersifat deduksi, bersifat dialektik, bersifat Identitas, tidak terikat oleh ruang, tidak terikat oleh waktu. 

Marilah juga kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada, yang berada di luar pikiran. Kita dapat menemukan bahwa objek yang berada di luar pikiran memunyai sifat-sifat: relatif, berubah atau tidak tetap, dinamis, plural atau jamak, berfifat tidak sempurna, bersifat tidak ideal, bersifat nyata, berkedudukan sebagai contoh, bersifat sintetik, bersifat a posteriori, bersifat dinamik, diperoleh dari penginderaan, bersifat kontradiksi, bersifat empiris, bersifat sensasi, berlaku hukum sebab-akibat, terikat oleh ruang, terikat oleh waktu, bersifat kontingen, bersifat konkrit.

Objek filsafat yang berada di dalam pikiran berupa konsep, dimana komponen utama dari sebuah konsep adalah Forma/Wadah/Bentuk dan Sustansi/Isi. Kemudian kita dapat menelusuri bagaimana terjadinya atau terbentuknya sebuah konsep. 

Ada 2 (dua) macam terjadinya konsep. Pertama, konsep terjadi tidak dengan permulaan/landasan; kedua, konsep terjadi dengan permulaan/landasan. 

Segala macam bentuk permulaan/landasan misalnya: janji, kesepakatan, konvensi, mou, hasil rapat, ketetapan menteri, keputusan Presiden, Ketetapan DPR, membuat definisi, meletakkan pondamen bangunan, berdoa, langkah pertama, peletakan batu pertama, starting point, sebuah mimpi, di bai'at, di baptis, membaca kalimah syahadat, niat, keadaan tertentu, pandang pertama, kelahiran, kematian, ijab kobul, dst. Maka aku menemukan bahwa yang dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ternyata saya juga menemukan bahwa yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen dari yang ada dan yang mungkin ada.Jikalau seseorang membangun konsep dengan menetapkan suatu awal atau suatu landasan atau suatu pondamen, maka sadar atau tidak sadar, dia telah menjadi pengikut filsafat Foundationalisme. Sebenar-benar manusia, hanyalah berusaha menetapkan awalnya atau landasannya atau pondamennya; sebena-benar awal atau awal absolut hanyalah milik Tuhan YME. 

Ternyata, ada orang yang hidupnya atau yang di dalam membangun konsepnya tidaklah demikian, yaitu tidak dengan cara menetapka awal/landasan/pondamen. Mengapa dan kapan? Yaitu ketika orang tersebut memunyai konsep atau memunyai pengetahuan, tetapi dia tidak dapat menentukan kapan dan di mana dia mulai mengerti. Misalnya kita yang mengerti tentang arti: cinta, sehat, sayang, sakit, besar, kecil, jauh, dekat, senang, sedih, baik, buruk, rindu, benci, ...dst, maka kita tidak dapat menjunjukkan kapan dan di mana kita mulai mengerti pengertian-pengertian tersebut. Ternyata kita memunyai ada banyak sekali pengertian-pengertian yang memunyai sifat tidak memunyai awal/landasan/pondamen. Kita yang menyadarinya hal tersebut kemudian mengakuinya maka sadar atau tidak sadar kita termasuk ke dalam orang-orang yang Anti-foundationalisme. Tokoh dari filsafat Anti-foundationalisme adalah Brouwer; selanjutnya disebut juga sebagai aliran Intuitionisme.  

 Jelaslah  bahwa sebagian besar hidup kita masih di dominasi dan masih menggunakan pengetahuan intuitif. Terlebih-lebih anak kecil atau orang yang masih muda; maka sebagian hidupnya menggunakan pengetahuan intuitif. Ekstrimnya, untuk anak kecil di bawah umur 3 tahun, maka sebagian dari mereka tidak dapat mengerti tentang pengetahuannya. Secara filsafat, jika seseorang bekerja atau bertindak tanpa dimengerti apa yang dimaksud dengan tindakannya, maka orang tersebut bertindak berdasarkan Mitos. Maka sebenar-benar pengertian adalah Logos. Namun kita mendapatkan bahwa Mitos pun bermanfaat bagi anak kecil untuk memelajari segala sesuatu; sedangkan kita sebagai orang dewasapun tidak dapat sepenuhnya terbebas dari Mitos. Namun pada tataran tertentu ketika sampai batas keyakinan, kita tidak dapat mengatakan suatu pengertian yang tidak dimengerti sebagai Mitos melainkan karena dia adalah sebuah Keyakinan. 

Dari pembicaraan saya di atas, dapat saya simpulkan bahwa berpikir forndationalisme aka menghasilkan salah satu bentuknya adalah berpikir formal; yang mana kita akan menemukan aliran Formalisme. Secara khusus, aliran filsafat Formalisme berusaha membangun pengetahuan secara deduksi, yang dimulai dengan landasan menetapkan Definisi-definisi, kemudian membuat Aksioma dan Teorema, serta membangun strukturnya dengan berusaha tidak melakukan inkonsistensi. Itulah yang dilakukan oleh para Matematikawan. Dengan demikian jelaslah, bahwa Matematika Murni merupakan ilmu yang bersifat Deduksi yang umumnya dipelajari oleh orang dewasa, atau oleh para mahasiswa di Perguruan tinggi atau oleh para Matematikawan. Dikarenakan domain dari Matematika Murni adalah untuk orang dewasa, maka untuk anak kecil diperlukan pendekatan yaitu mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu yang berfondational, tetapi matematika sebagai pengetahuan intuitif. Matematika sebagai pengetahuan intuitif itulah kemudian ditemukan sebagai Matematika Sekolah. Kemudian Matematika Sekolah didefinisikan sebagai Kegiatan Sosial; oleh karena itulah maka di dalam setiap proses belajar mengajar, diperlukan diskusi kelompok sebagai sarana untuk membangun matematika intuitif yang bersifat kegiatan sosial.

BAGIAN III


Pada Bagian III dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM B di R 201 A Pasca Lama pk 09.30 sd 11.10, yang di hadiri oleh  24 mahasiswa.

Mari kita selidiki kembali perihal objek yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Objek yang berada di dalam pikiran antara lain memunyai sifat berpotensi sebagai unsur-unsurnya logika, rasio atau pikiran. Sekali lagi, bagi mereka yang mengagungka rasio tetapi meremehkan pengalaman, maka dia menganut aliran filsafat Rasionalisme. Sebaliknya objek yang ada di luar pikiran, mereka itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada termasuk Pengalaman  atau benda-benda. Mereka yang mengagungka Pengalaman tetapi meremehkan logika atau pikiran, disebut sebagai kaum Empiricism. Tokoh Rasionalisme adalah Rene Descartes dan tokoh Empirisisme adalah David Hume. Bagi Rasionalisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika tidak berdasar atau berlandasan pada Rasio. bagi Empirisisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika dia tidak berdasar atau berlandaskan pada Pengalaman. 

Apakah yang sebenarnya terjadi para diri kita?

Marilah kita bereksperimen dengan cara menyimulasikan 2 (dua) keadaan yaitu:
Pertama, seaolah-olah kita hanya memunyai Rasio tetapi tidak memunyai Pengalaman. Apakah yang kemudian terjadi? Yang terjadi adalah pikiran manusia yang melayang dan mengembara yang terlepas dari dunia nyata; atau diperolehnya kesimpulan tetapi bersifat hypothetical, yaitu baru merupakan anggapan awal yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Misal mengapa seseorang merasa takut kepada sesuatu padahal dia sebetulnya belum pernah punya pengalaman melihat, bertemu atau berinteraksi, misal takut dengan Buaya Sungai Nil. Maka orang tersebut bersikap atau bertindak berdasarkan pengetahuan Rasionalitas, tetapi tidak berdasarkan Pengalaman. Maka yang dia dapat barulah separoh dari kebenaran atau separuh dari ilmunya. 

Eksperimen kedua, marilah kita menyimulasikan seolah-olah kita mempunyai banyak pengalaman tetapi kita enggan memikirkannya. Atau secara ekstrim, kita menjalani hidup dengan penuh dan hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi kita tidak menggunakan logika atau pikiran kita. Misal, yang terjadi pada seekor Kucing peliharaan kita. Jika sehari suntuk kita ajak Kucing kita pergi piknik ke Gunung Bromo misalnya, maka silahkan tanyakan kepada Kucing anda, bagaimana kesan-kesan atau pengalaman piknik ke Gunung Bromo?. Maka serta merta anda pun akan kecewa kepada Kucing anda, karena Kucing anda tidak mampu menggunakan logika atau pikirannya untuk menyeritakan pengalamannya. Kucing itulah sebagai contoh ekstrim, dimana ada suatu fenomena kehidupan yang hanya mengandalkan Pengalaman tetapi tidak menggunakan Pikiran. Maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar Ilmu adalah Pengalaman yang Dipikirkan; atau sebenar-benar Ilmu adalah Pikiran yang di laksanakan atau diterapkan atau diimplementasikan. 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar ilmu adalah gabungan atau perpaduan antara Rasionalisme dan Empirisisme. Marilah kemudian kita selidiki, apakah atau bagaimanakah sifat-sifat Rasio atau Pikiran dan Sifat-sifat Pengalaman itu? 

Lagi, menurut Immanuel Kant, bahwa ciri-ciri dari Rasio atau Logika adalah: dia bersifat analitik, dia bersifat a priori, dia bersifat formal, dia bersifat aksiomatis, dia bersifat logis, dia bersifat tunggal atau Identitas, kebenarannya berdasar pada koherensinya atau kekonsistensiannya. Sedangkan Pengalaman, bersifat sintetik, ia posteriori, bersifat kontradiksi, dst. Ambillah dua sifat yang penting, yaitu Sifat  rasio sebagai analitik a prori; dan sifat Pengalaman sebagai sintetik a posteriori. Setelah itu cobalah kita berusaha mengerti apa yang dimaksud dan kenapa logika kita bersifat analitik a priori? Dan kenapa pengalaman kita bersifat sintetik a posteriori?

Menurut saya, yang dimaksud sifat analitik di dalam logika adalah terjadinya atau diperolehnya suatu konsep atau beberapa konsep di dalam pikiran sebagai akibat logis dari adanya aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir yang seperti apa yang menghasilkan sifat analitik tersebut? Secara filsafati, atau secara ontologis, atau secara hakikinya, kegiatan berpikir adalah mengidentifikasi tesis-tesis, kemudian mencari atau membuat anti-anti tesis, dan kemudian melakukan sintesis-sisntesis berdasarkan tesis-tesis dan anti-anti tesisnya. Apakah kemudian yang disebut sebagai tesis dan anti-tesis itu? Jika aku adalah tesis, maka anti-tesisnya adalah selain aku. Jika anda adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan anda. Jika Pak Marsigit adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan Pak Marsigit. Jika A adalah tesisnya maka anti-tesisnya adalah bukan A. Padahal bukan A meliputi yang ada dan yang mungkin ada zonder atau dikurang A. Itulah sebabnya mengapa berfilsafat perlu sebuah konteks atau sebenar-benar filsafat dapat ditaruh di depan yang ada dan yang mungkin ada. 


Selanjutnya apakah yang disebut sebagai berpikir a priori itu? Secara awam, berpikir a priori adalah mampu memikirkan suatu benda atau objek pikir walaupun belum mengalaminya atau belum mengindranya. Itulah sebabnya, dengan keampuan berpikir a priori, maka manusia mampu merencanakan sebuah aktivitas, atau program atau projek, atau membuat proposal untuk memeroleh suatu keadaan di masa depan. Misalnya ingin mendaratkan kapal ruang angkasa di sebuah komet. Itulah juga maka manusia memunyai tujuan, memunyai cita-cita, dan memikirkan masa depan. kemampuan untuk memikirkan masa depan itulah yang menurut Immanuel Kant, kemudian disebut sebagai Teleologi. 


Coba pikirkan bagaimana jadinya jika berpikir analitik bertemu atau digabungkan dengan berpikir a priori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir analitik itu akan berkemistri dengan berpikir a priori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a priori hanya diperoleh dengan keadaan analitik; dan keadaan analitik dapat disuburkan oleh kemampuan a priori. Analitik dan a priori berkenaan dengan proses berkembangnya dan dihasilkannya ide-ide atau konsep-konsep atau tesis-tesis dan anti-tesisnya. Proses analitik untuk menghasilkan ide atau konsep baru itu bersesuaian dengan prinsip-prinsip atau metode berpikir misalnya: deduksi, induksi, sebab-akibat, benar-salah, urutan, membandingkan, membedakan, mengelompokkan, menghubungkan atau relasi, mengoperasikan, menjumlahkan, mengurangkan, membagi, mangalikan, dst.


BAGIAN IV


Pada Bagian IV dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM C di R 201 A Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh  22 mahasiswa.

Telaah dari proses berpikir analitik a priori kita lanjutkan, misalnya untuk melihat apa yang terjadi pada proses pemahaman tentang konsep-konsep matematika atau bilangan, atau geometri dan relasi serta operasi-operasinya. Misal bagaimana kejadiannya peristiwa penjumlahan dua bilangan misal 7 ditambah 5, atau ditulis 7 + 5. Dalam ranah objek di dalam pikiran maka semua objek bersifat sempurna dan tunggal; tidaklah ada bilangan 7 selain 7, juga tidak ada bilangan 5 selain 5, tetapi di dalam matematika yang dimaksud dengan ketunggalan bilangan 7 ataupun 5, masing-masing adalah tentang nilainya. Maka dikarenakan objeknya ada di dalam pikiran, maka operasi penjumlahan juga terjadi di dalam pikiran. Secara intuitif maupun secara formal, proses analitik dari  7 + 5 menghasilkan bilangan lain yang nilainya adalah 12, jika tidak dibatasi dengan ketentuan-ketentuan lain, misalnya oleh basis bilangan. Maka bilangan 12 dapat diperoleh atau dapat dianggap diperoleh dengan cara a priori, karena dia muncul sebagai hasil dari operasi penjumlahan di mana di dalamnya belum terlihat bilangan 12 itu sendiri. 

Eksperimen dilanjutkan, yaitu kita ingin menyelidiki apa yang terjadi pada peristiwa berpikir sintetik a posteriori. Menurut saya, berdasarkan dari teori Kant, berpikir sintetik adalah proses berpikir yang berlandaskan pengalaman atau fenomena-fenomena di luar pikiran yang memunyai sifat adanya hukum sebab-akibat (walaupun hukum ini pernah di pertanyakan oleh David Hume). Maka proses berpikir sintetik sejalan dengan adanya sifat-sifat satu, dua, atau lebih fenomena-fenomena di luar pikiran serta hubungan dan atau interaksinya. Hubungan atau interaksi dari objek di luar pikiran ditentukan oleh jenis sifat-sifat yang melekat pada diri Subjek dan Objeknya. Hubungan antara sifat-sifat tersebut bersifat plural, atau tidak tunggal dan tidak sempurna; artinya hubungan antara objek-objek pikir di luar pikiran tidaklah mampu mencapai keadaan Identitas; keadaan yang demikianlah yang disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu bahwa Predikat telah, sedang dan akan selalu termuat di dalam Subjeknya. Proses berpikir sintesis adalah proses interaksi antara objek-objek di luar pikiran yang menghasilkan sifat-sifat baru sebagai objek baru dari pikiran. Marilah kita lihat contohnya, apa yang terjadi pada proses berpikir sintetik untuk penjumlahan bilangan 7 + 5. Karena objek diluar pikiran terikat oleh ruang dan waktu, maka dia mempunyai makna plural. Maka bilangan 7 diluar pikiran juga memunyai makna plural, misalnya bilangan 7 yang: berwarna biru, berwarna merah, bagus, besar, kecil, kurus, gemuk, murah, wangi, indah, sakral, jauh,dekat, lembut, romantis, kejam,sebagai subjek, sebagai objek ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Demikian jika sifat objek pikir bilangan 5 diluar pikiran, dan objek-objek yang lain. Kita dapat memikirkan bilangan di luar pikiran sebagai subjek dari buku, pulpen,hp, gelas, ..dst meliputi subjek dari yang ada dan yang mungkin ada, misal 7 buah apel, 5 butir telur, dst.... Kita dapat menentukan atau mencari sifat-sifat tersebut secara intensif dan ekstensif. Jadi pada peristiwa 7 + 5 untuk 7 dan 5 adalah objek pikir yang berada di luar pikiran, menghasilkan fenomena secara plural; misal 7 buku + 5 telur, 7 pensil + 5 penghapus, 7 baju + 5 topi, 7 gelas + 5 sendok, ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka di sini, tiadalah tempat bagi bilangan 12 yang mampu menjawab semua fenomena yang dihasilkan oleh penjumlahan 7 + 5 tersebut.


Sedangkan yang dimaksud dengan berpikir a posteriori, adalah memikirkan objek-objek di luar pikiran setelah mengindranya. Seekor kucing akan menggerakan ekornya ketika melihat tikus yang lewat; itu pertanda kemampuan kucing untuk berpikir setara dengan berpikir a posteriori. Kebanyakan fenomena berpikir a posteriori juga terdapat pada anak kecil. Kemudian, apakah jadinya jika proses berpikir sintetik digabung dengan proses berpikir a posteriori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir sintetik itu akan berkemistri dengan berpikir a posteriori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a posteriori diperoleh karena keadaan sintetik; dan keadaan sintetik dapat disuburkan oleh kemampuan a posteriori. Maka fenomena seekor tikus yang lewat, akan memunyai makna yang berbeda bagi orang dan kucing yang sama-sama menyaksikannya. Jangankan antara orang dan tikus, sedangkan antara orang yang satu dengan orang yang lain pun memunyai makna yang berbeda-beda. Jangankan antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedang di dalam diri sendiri saja untuk ruang dan waktu yang berbeda akan memunyai makna yang berbeda.



Dikarenakan anak kecil sebagian baru sampai pada kemampuan memikirkan objek-objek di luar pikiran, maka pikiran yang berbeda, jawaban yang berbeda, tulisan yang berbeda, pakaian yang berbeda, makanan yang berbeda, kesukaan yang berbeda, ritme aktivitas yang berbeda, perhatian yang berbeda, perasaan yang berbeda, dst ...meliputi yang ada dan yang mungkin ada yang berbeda, adalah sunatullah atau kodratnya atau dunianya. Itulah mestinya, matematika untuk anak kecil adalah matematika yang berada di luar pikiran, atau matematika konkret. Wujud dari berpikir sintetik adalah interaksi sosial. Itulah sebabnya mengapa dikenalkan Matematika Sekolah untuk anak kecil. Matematika Sekolah mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu, bukan sebagai struktur, bukan sebagai body of knowledge atau structure of logic, melainkan sebagai Kegiatan Sosial. Itulah pentingnya di dalam pembelajaran matematika perlu adanya diskusi kelompok, atau metode projek bersama, atau metode kooperatif, dst.  

Berikutnya, marilah kita uji ada apakah antara analitik dan sintetik, atau antara apriori dan aposteriori; atau antara gabungan di antara keduanya, yaitu kombinasi misalya: analitik a posteriori dan sintetik a priori. Kalau kita memikirkan fenomena anlitik a posteriori, berarti kita menjumpai adanya proses berkelanjutan yang pada akhirnya di luar kontrol kita sebagai subjek pikir, yaitu dapat digambarkan sebagai seorang yang naik kereta api, cukup duduk atau tertidur di dalam gerbong tertentu, tetapi secara a priori bercita-cita sampai tujuan, dengan mengandalkan berpikir analitik yang bersifat konsisten (semua komponen kereta api beserta masinisnya bersifat konsisten, tidak ada yang memberontak) dan logis serta berkelanjutan atau sustainabel.


BAGIAN V


Pada Bagian V dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM D di R 100 B Pasca Lama pk 10.00 sd 11.40, yang di hadiri oleh  15 mahasiswa.

Yang kemudian dapat dipertanyakan adalah bagaimana penjelasannya bahwa suatu ilmu itu dapat berbasis pada pengalaman? Atau bagaimana pengalaman itu dapat menuju ke arah pembentukan ilmu. Sebenar-benar jika kita ingin membaca hal ini, adalah dari Empirisime nya David Hume, atau dari bacaan sekunder yang lainnya. Tetapi saya berusaha, berdasarkan pengalaman membaca referensi dan sumber-sumber lain dan menggunakan logika yang diturunkan dari uraian-uraian terdahulu, saya berusaha untuk menguraikannya, sebagai berikut. 

Seperti kita ketahui bersama bahwa segala macam pengalaman atau objek-objek yang terkait dengannya sebagian besar dapat dianggap mereka itu sebagai objek pikir yang ada di luar pengalaman. Bagaimana halnya dengan pengalaman berlogika? Itulah yang sebenar-benar terjadi, bahwa telah terjadi hermenitika antara rasio dan pengalaman. Secara lebih spesifik perihal Pengalaman ini, maka kita dapat mengeksplore sifat, kedudukan dan fungsinya; yaitu apakah sifat-sifat dari Pengalaman itu? bagaimana kedudukan Pengalaman dalam proses berpikir? dan apa fungsi Pengalaman dalam pembentukan konsep berpikir? Secara intuitif atau secara pemahaman orang awam kita dapat mendeskripsikan berbagai aspek Pengalaman sesuai dengan pengalaman masing-masing. Dari sisi ontologisnya, maka sebuah Pengalaman dapat dipandang sebagai Subjek sekaligus sebagai Objek pikir atau rasa atau lihat atau dengar atau tulis atau baca atau tindakan atau segala macam pengindraan dan aktivitas manusia atau binatang atau benda-benda. Masalahnya adalah dapatkah kita mengatakan sebuah tembok memunyai pengalaman di
cat
dengan warna pink? Atau sebuah tanaman memunyai pengalaman di pangkas daunnya? Sejauh mana kita mampu memahami pengalaman-pengalaman pada binatang? Jadi Pengalaman itu milik siapa? Maka kita perlu menggunakan batasan ruang dan waktu untuk memosisikan sebuah Pengalaman. Jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, maka seberapa jauh para binatang dianggap memunyai pengetahuan atau bahkan ilmu pengetahuan? Pada titik ini, paling tidak kita merasa adanya perbedaan antara Pengetahuan dan Ilmu Pengetahauan. Para mahasiswa saya yang sedang mengikuti kuliah ini memberi kesaksian bahwa para binatang hanyalah memunyai pengetahuan tetapi tidak memunyai Ilmu Pengetahuan. 

Lagi, jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, dan pengalaman mereka dapat digunakan untuk membangun pengetahuan, adalah lain perkara untuk mengetahuinya; tetapi jika demikian maka pertanyaan kita selanjutnya adalah seberapa kita mampu menjelaskan kebermaknaan sebuah pengalaman bagi seorang anak kecil. Anak kecil adalah manusia dengan batasan-batasannya. Maka, apakah perbedaan Pengalamannya manusia dewasa dengan anak-anak? Jika kita berkehendak menjawab pertanyaan ini, maka kita sudah akan menuju ke ranah Psikologi. Tetapi jika kita ingin menelaahnya secara filsafat atau secara ontologis maka, seperti yang dilakukan oleh Immanuel Kant, dalam Teori Berpikirnya, dia tidak menyebut teori berpikir untuk suatu usia tertentu. Pada titik ini, kita merasa mulai dapat membedakan antara Filsafat dan Psikologi. 


Sebetulnya pembicaraan kita ini arahnya ke mana? Arahnya adalah bahwa kita memeroleh Pengalaman juga dengan Pengalaman, dan menghasilkan Pengalaman juga dengan Pengalaman. Bagaimanakah hal tersebut dapat terjadi? Itulah sebenar-benar Intuisi. Menurut Immanuel Kant, segala macam Pengalaman, meliputi tentang Pengalaman yang ada dan yang mungkin ada, itu semua hanya terjadi atau hanya dapat dipahami di dalam intuisi Ruang dan Waktu. Tiadalah pengalaman yang terbebas dari intuisi Ruang dan Waktu. Pastilah yang namanya sebuah Pengalaman, dapat ditanyakan kapan dan di mananya. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana intuisi berperan di dalam pembentukan konsep atau pengetahuan?

BAGIAN VI


Pada Bagian VI dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika PMP2TK Angkt 2014 di R 106 A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.20, yang di hadiri oleh  16 mahasiswa.

Demikian saudara, bermacam-macam Pengalaman meliputi yang ada dan yang mungkin ada dapat digolongkan berdasarkan yang ada dan yang mungkin ada. Namun kalau kita belajar dari Immanuel Kant seperti terlihat pada tabel di atas, maka Pengalaman di luar pikiran berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengindra melalui persepsinya, sehingga diperolehlah imaginasi dan sensasi. Macam dan kualitas pengalaman ditentukan oleh derajat kesadaran. Persepsi dengan derajat kesadaran tertentu akan menghasilkan konsep berpikir atau pengetahuan. Tentu, di sini kita merasa ada semacam lompatan pemahaman kita, bagaimana pengalaman memersepsi fenomena atau noumena (jika mungkin) dengan kesadaran tertentu mampu menghasilkan Pengetahuan? Immanuel Kant, menjelaskan, seperti tampak pada gambar, bahwa di situ terdapat proses recognition (pengenalan), reproduction (menghasilkan), apprehension (pengembangan).

Jadi pada setiap kegiatan memeroleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan. Menurut saya ini selaras dengan ontologi umum tentang Ada (dapat secara sepintas dikatakan sebagai kenal), Mengada (dapat dimaknai sebagai proses menghasilkan) dan Pengada (dapat dimaknai sebagai pengembangan).
Dalam hal ini, dimanakah posisi sebuah Intuisi? Menurut saya, Intuisi ada di setiap langkah, tepatnya ada mendahului langkah, dalam langkah, dan mengikuti langkah menjadi Ada, Mengada dan Pengada. Mengapa? Karena sesuai kodratnya bahwa yang ada dan yang mungkin ada hanya bermakna di dalam Intuisi, tepatnya Intuisi Ruang dan Waktu. Jadi pengertian atau pengetahuan tentang yang ada dan yang mungkin ada selalu dapat ditaruh di depannya Kapan dan di Mana? Immanuel Kant menyebutkan bahwa terdapat 2 (dua) macam pengetahuan yaitu Pengetahuan Konseptual dan Pengetahuan Intuitif. Menurut saya, itulah dia bahwa Pengetahuan Konseptual itu lebih banyak dimiliki oleh orang dewasa; dan pengetahuan yang dimiliki oleh anak-anak lebih banyak bersifat Intuitif. Tentu menurut pandangan saya, semakin dewasa atau semakin tua seseorang, Pengetahuan Intuitifnya semakin berkembang.

Sementara itu, lagi Immanuel Kant mengatakan bahwa Pengetahuan Konseptual dapat berupa Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Empiris. Apa artinya? Artinya adalah bahwa Pengalaman juga sudah dapat menghasilkan Pengetahuan Konseptual, yaitu yang bersifat empiris. Menurut saya, yang dimaksud sebagai Pengetahuan Konseptual Murni itulah yang kemudian bersifat ideal, tetap, formal, rasional, dan identitas. Pertanyaan menarik yang dapat diajukan adalah seberapa atau sampai di mana, bahwa intuisi juga terdapat di dalam Pengetahuan Konseptual Murni. Itulah bedanya, saya menulis Pengetahuan “Intuisi”  berbeda dengan “intuisi”. Menurut saya, tiadalah yang ada dan yang mungkin ada, termasuk Pengetahuan Konseptual Murni, terbebas dari intuisi. Artinya kita bisa mengatakan “memunyai pengalaman berlogika matematika murni” . Artinya bahwa, berpikir, berrasional, berlogika, pun sebenarnya merupakan Pengalaman.

Demikian, sementara kuliah saya hentikan karena mengingat waktu telah habis.

Selamat berjuang,


Dosen ybs,


Marsigit


88 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Setelah membaca artikel tersebut, Saya mencoba menanggapi mengenai fundamental. Ada 2 macam terjadinya konsep, yaitu tanpa landasan dan adanya landasan. Dalam keseharian perlu kita terapkan pemahaman konsep dengan memberikan kegiatan/aktivitas kepada siswa. Tidak serta merta guru yang memberikan materi secara langsung kemudian memberinya rumus namun kali ini siswalah yang diberi kesempatan untuk menemukan konsep itu berdasarkan kegiatan yang diberikan. Sejujurnya konsep yang ditemukan sendiri akan selalu teringat daripada orang lain yang memberikan. Menurut Kant, duniamu adalah pikiranmu. Jika kita berpikir visioner dan terarah maka kita akan mendapatkan dunia yang baik.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Rasa ingin tahu yang ada pada manusia menjadikan manusia memiliki pengetahuan. Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Sedangkan secara terminologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui; segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Dalam penjelasan lain, pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu[3]. Melalui dua pengertian di atas, dapatlah dipahami secara sederhana bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang manusia ketahui sebagai hasil dari proses mencari tahu. Pengetahuan menjadi sebuah hal yang luar biasa dalam peradaban manusia, karena melalui pengetahuanlah aspek-aspek dalam peradaban manusia berkembang yang kemudian seluruhnya dapat dibedakan berdasarkan ontologi, epistemologi dan aksiologinya.

    ReplyDelete
  3. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Filsafati adalah sifat-sifat yang dipikirkan atau pernah dipikirakn oleh para Filsuf. Menurut Immanuel Kant, secara ilmu pengetahuan atau secara filsafat (secara pikir), di dunia ini hanya ada dua prinsip, yaitu prinsip Identitas dan Kontradiksi. Keadaan identitas hanya terjadi dalam pikiran kita, atau saat kita mengandaikan. Karena filsafat itu sensitif terhadap ruang dan waktu, maka selama di dunia, kita tidak akan pernah mengalami keadaan identitas. Keadaan tidak dapat mencapai identitas itulah yang kemudian disebut kontradiksi dimana Subjek tidak sama dengan Predikatnya, Subjek tidak sama dengan Objeknya, begitu seterusnya.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Ada dan yang mungkin ada adalah bagian dari pengetahuan dan unsur yang membangun suatu pengetahuan yang mana Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada pula, maksudnya adalah bahwa sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada itu jumlahnya banyak sekali. Menurut Immanuel Kant, secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas ialah keadaan tercapainya Aku = Aku. Ternyata, dikarenakan Filsafat itu adalah sensitif terhadap Ruang dan Waktu, maka selama aku di Dunia, aku tidak pernah mengalami keadaan Identitas. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita, atau kalau kita mengandaikan atau kalau kita sudah sampai di akhirat. Di dunia ini memang benar aku tidak dapat mencapai Identitas, karena sebagai contoh belum selesai aku menunjuk diriku, maka dikarenakan ruang dan waktu, diriku yang tadi telah berubah menjadi diriku yang sekarang. Keadaan tidak dapat mencapai Identitas itulah yang kemudian disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu Subjek tidak sama dengan Predikatnya; atau Subjek tidak sama dengan Objeknya; atau tidaklah ada suatu sifat bisa menyamai subjek atau objek yang mempunyai sifat tersebut; atau semua predikat pada hakikatnya termaktub dalam Subjeknya. Saya sangat setuju sekali dengan pernyataan tersebut karena diri kita sekarang pasti berbeda dengan diri kita selanjutnya, misalkan kita bilang seperti ini sekarang pasti sedetik selanjutnya kita tidak akan pernah bilang seperti sebelumnya. Sebagai contoh yang lain bahwa misal kan kita mendengarkan cerita orang si A menceritakan ke B dan si B menceritakan ke C maka hasil yang diceritakan pasti berbeda versi B dan Versi C tentang si A

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Ketika berbicara tentang membangun pengetahuan maka kita berbicara tentang diri kita sendiri sebagai manusia yang mampu berpikir. Pengetahuan terbangun ketika kita menyadari bahwa sesuatu hal atau konsep yang dimiliki tidak sesuai dengan apa yang kita terima sekarang sehingga terjadilah penyesuaian hingga ada pengetahuan baru. Atau sesuai dengan bahasa psikologi belajar yaitu asimilasi dan akomodasi. Pengetahuan juga tercipta dengan dua sifat yaitu bersifat apriori dan aposteriori. Pengetahuan didapatkan dengan logika dan pengetahuan melalui pengalaman. A posteriori berarti kita membangun pengetahuan dengan mengamati terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  6. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. Dalam perkembangannya pengetahuan manusia berdiferensiasi menjadi empat cabang utama, filsasat, ilmu, pengetahuan dan wawasan.

    ReplyDelete
  7. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Setiap ilmu (sains) adalah pengetahuan (knowledge), tetapi tidak setiap pengetahuan adalah ilmu. Ilmu adalah semacam pengetahuan yang telah disusun secara sistematis. Bagaimana cara menyusun kumpulan pengetahuan agar menjadi ilmu? Jawabnya pengetahuan itu harus dikandung dulu oleh filsafat , lalu dilahirkan, dibesarkan dan diasuh oleh matematika, logika, bahasa, statistika dan metode ilmiah. Maka seseorang yang ingin berilmu perlu memiliki pengetahuan yang banyak dan memiliki pengetahuan tentang logika, matematika, statistika dan bahasa. Kemudian pengetahuan yang banyak itu diolah oleh suatu metode tertentu. Metode itu ialah metode ilmiah. Pengetahuan tentang metode ilmiah diperlukan juga untuk menyusun pengetahuan-pengetahuan tersebut untuk menjadi ilmu dan menarik pengetahuan lain yang dibutuhkan untuk melengkapinya.

    ReplyDelete
  8. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Ketika kita berbicara mengenai bagaimana membangun pengetahuan, tentu mulanya dari pengidentifikasian semua yang ada dan yang mungkin ada. Hal ini berkaitan dengan epistemologi, yang juga dideklarasikan oleh Kant bahwa pengalaman sangat berperan penting dalam pembentukan pengetahuan (sintetik a priori). Dengan pengalaman, seseorang akan membentuk pengetahuannya untuk kemudian dengan menggunakan intuisi akan menghasilkan konsep dan pengetahuan. Termasuk proses analisis, berpikir adalah sebuah pengalaman dalam pemerolehan pengetahuan.

    ReplyDelete
  9. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca artikel tersebut, yang dapat saya pahami bahwa Membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada, yang dipikirkan atau yang pernah dipikirkan, yang digunakan atau pernah digunakan oleh para Filsuf.

    ReplyDelete
  10. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari tulisan Prof Marsigit tersebut yang dapat saya pahami adalah bahwa membangun pengetahuan secara filsafat itu dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada itu kita telusuri sifat-sifatnya, yang mana hal tersebut adalah objek pikir atau benda-benda pikir. Sesuai dengan Immanuel Kant yang mengatakan jika engkau ingin mengetahui dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan. Jauh sebelum Immanuel Kant, Allah berfirman "Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba pada-Ku". Sehingga, sangat masuk akal apabila kita ingin mengetahui dunia kita harus melihat kedalam diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  11. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari postingan di atas, saya menjadi tahu bahwa membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan berdasarkan ilmu filsafat berasal dari segala hal yang ada dan yang mungkin ada disertai dengan sifat-sifatnya. Dari sifat-sifat itu muncullah pertanyaan-pertanyaan yang menjadi landasan berpikir aliran-aliran filsafat menurut para ahli. Saya tertarik pada salah satu gagasan yang ada di postingan tersebut, yaitu dari Immanuel Kant yang menyatakan bahwa “jika engkau ingin mengetahui Dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar Dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan”. Dari gagasan itu saya berpikir bahwa, mengkonstruksi pengetahuan siswa sendiri sama halnya dengan menengok kedalam diri siswa itu. Karena, pada proses mengkonstruksi pengetahuan, tentunya siswa akan menghubungkan pengetahuan yang dia miliki sebelumnya dengan informasi yang dia peroleh, hingga menjadi pengetahuan yang lebih kompleks. Sedangkan, apa yang ada dalam diri atau pikiran siswa itu berasal dari logika berpikir dan logika pengalaman yang telah ia lalui. Nah, dari pengalaman-pengalaman yang ada dan yang mungkin ada itu hanya dapat terjadi jika terikat dengan intuisi ruang dan waktu. Maksudnya adalah kapan dan di mana terjadinya pengalaman itu.

    ReplyDelete
  12. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari tulisan mengenai Teori Prof Marsigit tentang bagaimana membangun pengetahuan dam ilmu pengetahuan ini, saya meengetahui bahwa secara filsafat dalam membangun pengetahuan berawal dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada perlu kita perhatikan sifat-sifatnya. Inilah yang dinamakan objek pikir atau benda-benda pikir.
    Sebenar-benarnya filsafat berpikir, adalah memiliki 2 masalah, yang pertama adalah jika objek pikir berada dalam pikiran kita, maka bagaimana kita bisa menyampaikannya kepada orang lain, yang kedua, jika objek.pikir berada pada luar pikiran kita, bagaimana cara kita untuk dapat mengetahuinya.
    kita memperoleh pengalaman dari pengalaman, dan menghasilkan pengalaman juga dari pengalaman. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk membangun pengetahuan diperlukan pengalaman. Ketika siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, ia sedang menengok ke dalam dirinya untuk menemukan pengalaman yang telah ia ketahui untuk kemudian ia gunakan atau ia kaitkan untuk memahami materi yang akan ia konstruksi dalam pemikirannya, sehingga dengan begitu pengetahuan akan lebih permanen tertanam pada benak siswa.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dari elegi tersebut tersirat kata epistemologi. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja. Namun menurut filsafat pengetahuan dapat diperoleh melalui intuisi, empiris, rasional. Mendapatkan pengetahuan tersebut terbebas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Menurut Immanuel Kant, secara ilmu pengetahuan atau secara filsafat (secara pikir), di dunia ini hanya ada dua prinsip, yaitu prinsip Identitas dan Kontradiksi. Keadaan identitas hanya terjadi dalam pikiran kita, atau saat kita mengandaikan. Karena filsafat itu sensitif terhadap ruang dan waktu, maka selama di dunia, kita tidak akan pernah mengalami keadaan identitas.

    ReplyDelete
  15. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan postingan tersebut saya menjadi tahu bahwa membangun pengetahuan itu dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada yang jumlahnya banyak sekali. Oleh karenanya membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat-sifat (sifat yang dipikirkan atau pernah dipikirkan atau digunakan atau pernah digunakan oleh para Filsuf) yang ada dan yang mungkin ada. Dari postingan ini juga saya menyukai kalimat “Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  16. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menurut saya artikel di atas adalah cara untuk membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan dapat dengan melalui pengembangan intuisi, intuisi adalah wujud pengalaman seseorang yang bisa dikembangkan menjadi konseptual berupa pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak yang kita dapat, semakin banyak pengalaman yang kita raih maka semakin berkembanglah pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Semoga kita selalu berkembang dari pengalaman yang kita lakukan. Jangan takut untuk melakukan hal yang baru.

    ReplyDelete
  17. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dalam membangun filsafat terdapat objek yaitu yang ada dan yang mungkin ada. Membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan berdasarkan filsafat diawali dengan cara mengidentifikasi objek yang mempunyai sifat dan prinsip identitas dan prinsip kontradiksi. Prinsip identitas berada pada pikiran manusia. Seseorang dapat dikatakan menjadi pengikut filsafat foundationalisme jiak ia dapat membangun konsep dengan menentapkan struktur awal sebagai landasannya. Menurut Immanuel Kant sebenar-benar ilmu ialah pengalaman yang dipikirkan kemudian dilaksanakan atau diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

    ReplyDelete
  18. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pengetahuan ialah kenyataan atau keadaan mengetahui sesuatu yang diperoleh secara umum melalui pengalaman atau kebenaran secara umum. Sedangkan ilmu penegetahuan ialah Suatu sistem atau metode atau pengakuan yang didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah. Membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Sumber ilmu pengetahuan adalah asal dari ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia. Jika membicarakan masalah asal, maka pengetahuan dan ilmu pengetahuan tidak dibedakan, karena dalam sumber pengetahuan juga terdapat sumber ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  19. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dalam tulisan ini bapak membicarakan tentang epistimologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Sebetulnya ada banyak epistimologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan, tidak hanya Plato, Aristoteles, dan Immanuel Kant saja. Oleh karena itu epistemologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan menjadi relatif. Dalam tulisan ini bahkan pak Marsigit memiliki teori sendiri. Karena bahan dalam tulisan ini dijadikan bahan ujian akhir, apakah kami sebagai mahasiswa harus menggunakan teori dari bapak atau kami boleh mengembangkan teori kami sendiri tentang epistemologi pengetahuan dan ilmu pengetahuan melalui imajinasi dan penginderaan kami terhadap bacaan-bacaan dan fenomena yang telah kami amati?

    ReplyDelete
  20. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Disini saya belum berkomentar tentang isi materi diatas tetapi saya ingin berkomentar mengenai baiknya pembelajaran yang dilaksanakan oleh Prof. Marsigit. Beliau menggunakan media web blog untuk membelajarkan materi materi dan menurut saya menarik sekali karena dapat dipelajari dimana saja dan kapan saja. Selain itu pada setiap pertemuan perkuliahan kami boleh merekam apa yang beliau sampaikan sehingga kami dapat memutar rekaman tersebut kembali jika kami lupa tentang apa yang disampaikan minggu sebelumnya sebelum beranjak memahami materi pada minggu selanjutnya.

    ReplyDelete
  21. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca tulisan yang cukup panjang ini, saya menjadi tahu bahwa membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat yang ada dan yang mungkin ada. Sifat-sifat tersebut merupakan objek pikir atau benda pikir sehingga proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan itu terjadi pada pikiran masing-masing. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Immanuel Kant, yakni: “jika engkau ingin mengetahui dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan.” Dalam membangun pengetahuan, sejatinya tidak ada manusia yang mampu melakukannya dengan tuntas, absolut, dan sempurna. Seperti yang Prof Marsigit sampaikan bahwa sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  22. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Cara membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan bisa dengan melihat teori-teori filsafat yang sudah dikemukakan beberapa ahli filsafat. Sehingga kita bisa mengetahui dengan cara apa kita memandang sebuah pengetahuan dan ilmu pengetahuan tersebut sehingga kita bisa mengambil sudut pandang yang tepat sesuai dengan ruang dan waktu saat itu, sehingga kita mampu membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan di pikiran kita.

    ReplyDelete
  23. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam “Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan” dikatakan bahwa objek dalam filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Untuk mempelajari filsafat, digunakan bahasa analog dengan menggunakan cara intensif (berpikir sedalam-dalamnya) dan ekstensif (berpikir seluas-luasnya). Yang ada dan yang mungkin ada berada di dalam ruang dan waktu dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Selain itu, adanya ruang itu karena waktu dan waktu tidak punya arti tanpa adanya ruang. Jadi tentang apapun itu kita dapat bertanya kapan dan dimana.

    ReplyDelete
  24. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Selama manusia hidup di dunia segala sesuatu itu relatif dan akan menjadi absolut ketika di akhirat atau meninggalkan kehidupan dunia. Berfilsafat itu tidak perlu biaya, tidak perlu gengsi, tidak perlu kaya dan tidak dipakai untuk mencari harta. Berfilsafat itu tidak memerlukan peristiwa besar seperti bom nuklir, gunung meletus, tsunami tetapi filsafat itu memikirkan hal yang sepele dan hal yang kecil. Yang dicari orang berfilsafat adalah kebenaran. Dan dalam berfilsafat tidak lepas dari kegiatan berpikir.

    ReplyDelete
  25. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berpikir yang dilakukan pertama kali dalam berfilsafat yaitu bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir yang ada di dalam pikiran kita kepada orang lain. Selain itu, bagaimanakah cara kita mengetahui jika objek pikir ada di luar pikiran kita. Dalam menjawab persoalan di atas, kita dapat membangun ilmu atau ilmu pengetahuan. Kegiatan berpikir tidaklah mudah, perlu adanya konsentrasi dan mengasosiasi pengetahuan yang sudah kita miliki.

    ReplyDelete
  26. Listia Palupi Wisnu Aji
    13401241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Modal utama untuk membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan yaitu dengan ikhlas dan rajin/terjauhkan dengan kata malas. Membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan yaitu dengan berpikir, berpikir akan lebih mudah jika kita rajin membaca. Sebenar-benarnya ilmu adalah diri kita sendiri, karena ilmu yang telah kita peroleh akan tercermin dari bagaimana kita berbicara, berpendapat, berkomentar, bertindak, dll.

    ReplyDelete
  27. Nikhu Wahyu Raharjo
    13301244001
    Pendidikan Matematika I 2013

    menurut saya, pendidikan matematika adalah proses menanamkan ilmu matematika yang telah dibangun oleh para ilmuan terdahulu. proses tersebut disesuaikan dengan tingkat berpiki masing masing pembelajar. Matematika yang sebenarnya merupakan benda pikiran di transformasikan ke dalam bentuk konkrit yang lebih mudah dipahami oleh pembelajar.

    ReplyDelete
  28. Nikhu Wahyu Raharjo
    13301244001
    Pendidikan Matematika I 2013

    proses pendidikan diharapkan dapat menyajikan proses konsep berpikir matematika, sehingga pembelajar secara langsung maupun tidak langsung memahami tujuan dan dasar matematika.

    ReplyDelete
  29. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pada proses membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan akan terus berjalan sampai matahari berhenti berotasi, selalu ada perubahan, selalu ada tinjauan-tinjauan untuk terus memabangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan tersebut. karena hanyalah Tuhan YME yang mampu membangun hal tersebut secara sempurnaImmanuel kant menyatakan bahwa sebenar-benarnya ilmu adalah penggabungan dari rasionalisme dan empirisisme. Hidup tanpa refleksi terhadap pengalaman adalah kehidupan yang sombong, merasa sempurna padahal kesempurnaan hanya milik yang maha bijak, yang maha tau, Tuhan semesta alam. Tanpa refleksi, manusia tak akan mampu berlaku atau bersikap lebih baik. Tak ada pemikiran untuk maju dan berkembang sehingga tidak ada ilmu yang didapat.Jadi yag bisa saya simpulkan bahwa ilmu pengetahuan ialah sesuatu yang diperoleh dari pengalaman kemudian kita mampu merefleksikan kepada orang lain sedangkan pengetahuan ialah sesuatu yang didipat atau diperoleh tetapi tidak mampu direfleksikan. Pengetahuan hanya bisa dimiliki oleh hewan sedangkan ilmu dan pengetahuan dimiliki oleh manusia. Pengetahuan hanya pada naluri atau insting sedangkan ilmu pengetahuan adalah akal atau pola pikir dan insting.

    ReplyDelete
  30. Menurut Immanuel Kant, ilmu merupakan perpaduan antara rasionalisme dengan tokohnya Descartes dan empirisme dengan tokohnya Hume. Perpaduan antara keduanya bersifat sintetik apriori. Jika pengetahuan dikembangkan hanya dengan konsep aposteori maka pengetahuan hanya bersifat empiris atau pengalaman. Data-data empiris yang diperoleh dalam pengalaman penginderaan ini diperlukan menggali pengetahuan yang bersifat apriori. Terjadi kebenaran yang koheren dan korespondensi. Koheren karena secara akal tidak terjadi kontradiksi dan juga bertemu dengan data empirisnya.

    ReplyDelete
  31. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti kata pepatah " berdirilah diatas pundak raksasa" pengembangan pembelajaran matematika didasari oleh hasil penelitian para ahli dan juga kesepakatan para ahli terdahulu. pemeblajaran matematika diajarkan sesuai konsep matematika yang telah ada namun dikemas sedemikian rupa menggunakan metode dan media pembelajaran sehingga dapat mempermudah siswa memahami materi pelajaran matematika.

    ReplyDelete
  32. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Berpikir merupakan suatu hal yang tidak mudah dilakukan, mengungkapkan apa yang ada dipikiran dan mengaosiasikan dengan pengetahuan. perlu banyak latihan untuk dapat mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dengan baik. belajar itu perlu keikhlasan sehingga ilmu yang didapat akan bermanfaat.

    ReplyDelete
  33. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Piaget menyatakan bahwa pengetahuan tidak hanya interaksi langsung indera dengan kenyataan, tetapi juga harus ada pemikiran tentang perubahan. Membangun pengetahuan bisa dilakukan dengan cara meniru, mengkonstruksi pemikiran, dan melakukan perubahan.

    ReplyDelete
  34. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Pengetahuan yang ada dalam diri manusia dapat timbul karena adanya rasa ingin tahu, yang kemudian rasa ingin tahu tersebut membuat seseorang mencari informasi dan mengumpulkan pengetahuan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  35. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pengetahuan itu tidak sebatas yang ada dalam buku, teori tetapi juga dari pengalaman-pengalaman yang ada seperti kata Immanuel Kant. Hal yang paling baik atau sempurna apabila kita bisa menggabungkan antara pengetahuan tentang teori dan pengalaman. Keduanya bisa membuat kemajuan dalam segala hal,seperti kita mahasiswa apabila kedua hal itu seimbang maka kita bisa mendapatkan pengetahuan dengan penuh tidak kurang.

    ReplyDelete
  36. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengathuan salah satunya adalah dengan pengalaman. Ketika kita melakukan sesuatu atau mengalami sesuatu maka kita akan tahu tentang sesuatu hal tersebut, bahkan berpikir itu pun juga bagian dari pengalaman. Sehingga pengalaman itu penting untuk kita selalu memperoleh pengetahuan baru

    ReplyDelete
  37. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Berdasarkan penjabaran teori yang dikemukakan oleh Prof. Marsigit tentang bagaimana membangun pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan pada pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hal yang dapat dilakukan untuk dapat membangun pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan adalah dengan cara mengidentifikasi sifat-sifat dari yang ada dan yang mungkin ada. Dari sifat-sifat yang telah diidentifikasi tersebut, kita dapati bahwa sebenar-benar ilmu pengetahuan menurut Immanuel Kant adalah yang bersifat sintetik a priori. Konstruksi sebuah konsep atau pengetahuan berdasar intuisi ruang dan waktu akan menghasilkan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat sintetik a priori. Tahap konstruksi tersebut melalui tiga tahap intuisi yaitu intuisi penginderaan, intuisi akal (verstand), dan intuisi budi (vernuft).

    ReplyDelete
  38. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014


    Dalam artikel ini salah hal yang saya cpba pahami adalah pernyataan Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir.
    Hal yang saya tangkap adalah bahwa untuk membangun pengetahuan diperlukan jawaban atas dua pernyataan di atas. Cara pandang terhadap keadaaan objeklayang melahirkan aliran.

    ReplyDelete
  39. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari artikel diatas saya merefleksi bahwa membangun pengetahuan dimulai dari yang ada dan mungkin ada. Jika ada memiliki sifat, maka ada dapat ditempatkan sebagai subjek maupun objek. Semua sifat ada dapat ditempatkan sebagai objek maupun predikat. Objek pikir adalah yang ada dan mungkin ada yang sednag diperhatikan sifat-sifatnya.

    ReplyDelete
  40. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Membangun pengetahuan dan juga ilmu pengetahuan secara filsafat dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat-sifat yang ada dan mungkin ada yaitu sifat-sifat yang dipikirkan atau pernah dipikirkan atau digunakan atau pernah digunakan oleh para filsuf. Yang mungkin ada berkedudukan sebagai subyek atau obyek dan sifat-sifatnya berkedudukan sebagai subyek atau predikat. Sebenar-benar filsafat adalah olah pikir yang berkaitan dengan fikiran itu sendiri.Jadi berdasarkan tulisan diatas membangun pengetahuan daan ilmu pengetahuan diawali dengan proses yang terjadi dalam pikiran kita masing-masing.

    ReplyDelete
  41. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Objek filsafat yang ada dalam pikiran adalah konsep yaitu konsep yang terjadi dengan tidak ada permulaan/landasan dan konsep yang terjadi dengan adanya permulaan/ landasan. Yang ada dan mungkin ada dapat menjadi permulaan/ landasan dari pondamen ada dan mungkin ada. Dalam mendefinisikan matematika pada anak kecil bukanlah suatu matematika yang merupakan ilmu berfondational akan tetapi matematika sebagai pengetahuan intuitif, yang sering disebut sebagai matematika sekolah.

    ReplyDelete
  42. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap kegiatan memperoleh pengetahuan dan pengalaman selalu terdapat proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan. Pengetahuan menurut Immanuel Kant terdiri dari dua yaitu pengetahuan konseptual dan juga pengetahuan intuitif. Menurut Immanuel Kant pengetahuan konseptual dapat berupa pengalaman yang bersifat empiris. Pengetahuan konseptual tidak mungkin terlepas dari intuisi yaitu suatu pengalaman berlogika dan berfikir rasional. Pengetahuan intuitif lebih banyak dimiliki oleh anak-anak, sementara pegetahuan konseptual lebih banyak dimiliki oleh orang dewasa.

    ReplyDelete
  43. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Komentar Bagian I
    Berdasarkan tulisan Prof. Marsigit di atas, dapat dipetik bahwa membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat itu dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi setiap sifat yang meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Kemudian, identifikasi dari sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada tersebut juga ditinjau secara filsafati. Dan harus mengambil referensi dari para Filsuf.

    ReplyDelete
  44. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Komentar Bagian I
    Terima kasih Bapak Marsigit, dari tulisan di atas saya dapat mengetahui pendapat Immanuel Kant, bahwa secara filsafat, di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas adalah keadaan tercapainya A=A, atau diri sendiri selalu sama dengan diri sendiri, tetapi di Dunia ini, tidak pernah mengalami keadaan Identitas karena misal diriku sendiri, diriku yang sekarang berbeda dengan diriku yang dulu, dan itu berarti tidak mencapai keadaan Identitas atau disebut keadaan Kontradiksi.

    ReplyDelete
  45. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Komentar Bagian I
    Keadaan Kontradiksi berarti Subjek tidak sama dengan Predikatnya; atau Subjek tidak sama dengan Objeknya; atau sifat dari subjek tidak sama dengan sifat predikatnya, atau sifat dari subjek tidak sama dengan objeknya, demikian seterusnya. Dan ini adalah pengantar menuju penjelasan tentang bagaimana membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  46. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Komentar Bagian I
    Dari tulisan Bapak Marsigit di atas, saya mengetahui bahwa sebenar-benar filsafat adalah olah pikir, maka memiliki objek pikir. Kedudukan objek pikir secara filsafat memiliki kaitan dengan pikiran itu sendiri, kedudukan objek pikir ada yang di dalam maupun di luar pikiran, dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif, dan sebagainya. Dan semua itu dijelaskan oleh para Filsuf dan lahir pendapat-pendapat para Filsuf yang memiliki aliran filsafat yang berbeda-beda, maka lahirlah aliran-aliran filsafat. Terdapat banyak sekali aliran filsafat, sebanyak para filsuf yang memikirkannnya.

    ReplyDelete
  47. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Komentar Bagian I
    Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka permasalahannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tersebut kepada orang lain; itulah permasalahan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir tersebut ada di luar pikiran kita, maka permasalahannya adalah bagaimana cara kita mengetahuinya dan memahaminya; itulah permasalahan kedua filsafat berpikir. Hal ini juga telah ditulis pada salah satu tulisan di blog ini. Kita akan mampu membangun ilmu pengetahuan jika mampu menjawab kedua permasalahan tersebut. Akan tetapi, manusia tidak ada yang sempurna, maka tidak dapat pula menjawab kedua permasalahan tersebut secara tuntas, absolut dan sempurna. Maka dari itu, kita sebagai manusia tidak boleh sombong dan merasa telah menguasai ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete

  48. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Benar sekali bahwa apa yang kita pikirkan adalah awal dari proses membangun pengetahuan. Pengalaman dan daya piker kita akan melahirkan pengetahuan baru. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Immanuel Kant yaitu “jika engkau ingin mengetahui Dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar Dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan.”

    ReplyDelete
  49. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Membangun pengetahuan bisa dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada pula. Itulah pengetahuan secara filsafat. Hal ini perlu identifikasi dari sifat-sifat yang ada ditinjau secara filsafati.

    ReplyDelete
  50. https://powermathematics.blogspot.co.id/2014/11/teori-marsigit-tentang-bagaimana.html


    KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut Immanuel Kant, secara ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Keadaan Identitas hanya terjadi di pikiran kita. Kemudian untuk kontradiksi, tidaklah ada suatu sifat bisa menyamai subjek atau objek yang mempunyai sifat tersebut

    ReplyDelete
  51. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Persoalan pertama dalam filsafat berpikir yaitu ketika objek pikir ada di dalam pikiran kita, bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain. Kita mungkin punya banyak ide dan pemikiran dalam benak kita akan tetapi tidak mudah untuk menyampaikan ke orang lain.

    ReplyDelete
  52. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Persoalan kedua dalam filsafat berpikir yaitu ketika objek berpikir ada di luar pikiran kita, bagaimanakah cara kita mengetahuinya. Apa yang ada di luar pemikiran kita perlu dicari dengan banyak membaca buku dan melakukan berbagai obervasi.

    ReplyDelete
  53. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Pertanyaan ini sangat menarik sekali, jadi saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan yang pertama.
    1. Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain?
    Manusia pada hakekatnya merupakan manusia yang kehidupan sehari-harinya berinteraksi dengan sesama dan objek pikir yang ada didalam pikiran kita tersebut terkadang sudah ada dalam pikiran kita sebelum diketahui oleh orang lain dan untuk menjelaskan kepada orang lain terhadap objek pikir tersebut dengan cara berinteraksi bahwa objek pikir itu merupakan objek yang bersifat absolut, tetap, tunggal, dan objek pikir itu adalah sesuatu yang ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  54. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berpikir berarti menempatkan kesadaran pada suatu objek samaia pikiran bergerak untuk menyadari bagian-bagian lain dari objek yang disadari itu. Belajar juga dapat diartikan pergerakan persepsi darii objek khusus ke umum, dari umum ke khusus, dan umum ke umum serta dari khusus ke khusus. Ada beberapa cara berpikir salah satunya adalah cara berpikir sintetik yaitu cara berpikir induktif yang simpulannya diharapkan berlaku umum untuk kelompok/jenis, dan peristiwa atau yang diharapkan agar kasus yang bersifat khusus atau individual masuk ke dalam wilayah kelompok /jenis yang dikenai kesimpulan.

    ReplyDelete
  55. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan dapat diperoleh melalui suatu pengalaman, pengalaman yang semakin banyak akan menambah tingkat pengetahuan seseorang. Pengetahuan adalah salah satu bentuk dari pengalaman yang hanya terdapat pada manusia. Dengan adanya pengalaman pengetahuan yang telah dimiliki oleh manusia menjadi semakin terkelola dan termanfaatkan dengan baik. Pengalaman yang dialami oleh manusia dapat dijadikan sebagai pembelajaran untuk melakukan perbaikan di masa yang akan datang yang dapat memunculkan pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  56. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan konseptual adalah pengetahuan yang diperoleh siswa melalui penanaman konsep, dimana siswa akan mencari hubungan keterkaitan antara satu konsep dengan konsep lain. Pengetahuan konseptual dalam matematika merupakan pengetahuan dasar yang menghubungkan antara potongan-potongan informasi yang berupa fakta, skill (keterampilan), konsep, atau prinsip (Hiebert dan Wearne, 1986). Pengetahuan konseptual sangat diperlukan oleh siswa agar dapat memecahkan suatu permasalahan dalam matematika, karena konsep adalah dasar bagi proses pemecahan masalah yang digunakan untuk mengarahkan siswa kepada inti dari topik permasalahan yang akan dipelajari siswa.

    ReplyDelete
  57. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan intuitif merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu, yang bersifat personal, dan dapat dipergunakan sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan kebenaran. Pengetahuan intuitif sulit dikembangkan karena sifatnya yang subjektif , berbeda setiap individu, sehingga sulit untuk dideteksi. Pengetahuan intuitif diperoleh seseorang berdasarkan pengalaman langsung. Pengetahuan intuitif ini kebenarannya tidak dapat diuji baik menurut ukuran pengalaman indrawi maupun akal pikiran. Hal ini dikarenakan pengetahuan intuitif yang muncul secara tiba-tiba dalam kesadaran manusia sebagai hasil dari penghayatan dan ekspresi seseorang.

    ReplyDelete
  58. Rindang Wijayanto
    14301241028
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terimakasih atas informasi yang Bapak berikan. Dengan membaca posting ini calon guru maupun guru dapat mendalami teori belajar yang dapat diterapkan ketika melakukan pembelajaran.

    ReplyDelete
  59. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Sesungguhnya pengetahuan itu yang ada dalam diri kita dan pikiran kita, pengetahuan bisa diperluas seiring adanya pendidikan, pendidikan sendiri tidak hanya disekolah namun juga dalam kehidupan sehari hari, dan sumber pendidikan dan pengetahuan itu bisa dari berbagai hal. Dalam perkembangannya pengetahuan manusia berdiferensiasi menjadi empat cabang utama, filsasat, ilmu, pengetahuan dan wawasan

    ReplyDelete
  60. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca postingan ini, saya mengetahui bahwa membangun pengetahuan secara filsafat dapat dimulai dari apa yang ada dan apa yang mungkin ada. Kemudian, dari apa yang ada dan mungkin ada tersebut dapat diidentifikasi sifat-sifatnya. Ini artinya, jika kita ingin membangun suatu konsep matematika siswa, maka biarkan siswa membangunnya sendiri dari apa yang sudah dimiliki dan yang mungkin akan dimiliki. Apa yang sudah dimiliki oleh siswa ini dapat berasal dari logika dan ilmu pikirnya ataupun dari pengelaman yang telah dialaminya sendiri. Sedangkan yang mungkin akan dimilikinya dapat berasal dari informasi-informasi yang akan diperoleh ketika siswa itu mengidentifikasi masalah terkait konsep yang akan dibangunnya. Hal yang demikian itu juga sesuai dengan definisi belajar menurut teori belajar konstruktifisme.

    ReplyDelete
  61. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Filsafat merupakan pengetahuan tentang kebijaksanaan, prinsip-prinsip mencari kebenaran, atau berfikir rasional dan logis, mendalam dan bebas untuk memperoleh kebenaran. Kata ini berasal dari Yunani, Philos yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan. Sehingga filsafat dapat digunakan untuk membangun suatu pengetahuan atau ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  62. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Ilmu adalah bagian dari pengetahuan demikian pula seni dan agama. Jadi dalam pengetahuan tercakup di dalamnya ilmu, seni dan agama. Filsafat yang merupakan kebijaksanaan dalam prinsip-prinsip mencari kebenaran, dikelompokkan kedalam bagian pengetahuan tersebut. Sebab pada pemulanya filsafat identik dengan pengetahuan baik identik dengan teoritik ataupun praktik. Akan tetapi lama kelamaan ilmu-ilmu khusus menemukan khasnya sendiri-sendiri kemudian memisahkan diri dari filsafat.

    ReplyDelete
  63. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ilmu dan pengetahuan berkembang dari sesuatu yang ada dan mungkin ada. Bahkan dari ketiadaan sesuatu yang ada, sebenarnya disana juga tersimpan ada sesuatu yang tidak ada. Sebagai contoh sederhana, mengapa manusia sehat di bumi bisa bernafas bebas menghirup udara dapat dijelaskan dengan ilmu pengetahuan yang semakin dan akan terus berkembang sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  64. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Semakin kita berupaya untuk memperdalam pengetahuan yang dimiliki, semakin sadar pula lah bahwa masih tak terhingga pengetahuan diluar akal kita yang tak terikat oleh ruang dan waktu. Dari elegi di atas dapat saya maknai bahwa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki, diperlukan setidaknya dua hal yang harus dijadikan modal utama, yakni pondasi yang kuat serta mempertajam intuisi yang relatif akan menyesuaikan diri terhadap perubahan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  65. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Faham yang dicetuskan Immanuel Kant memang benar bahwa pengetahuan akan berkembang jika dipadukan dengan pengalaman yang dimiliki, sebaliknya pengalaman juga akan semakin berkembang dengan mengaplikasikan pengetahuan yang dipunyai. Perencanaan yang matang dalam melangkah, pasti akan menentukan keberhasilan tujuan yang hendak dicapainya, terlebih jika perencanaan yang matang tersebut dikuatkan dengan pengalaman yang telah dimiliki pada saat waktu yang telah lalu. Selain itu, ketika individu telah melakukan langkah-langkahnya, kemampuan untuk menyesuaikan diri secara tepat terhadap keadaan di sekitar juga berpengaruh terhadap hasil akhir.

    ReplyDelete
  66. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Komentar Bagian II
    Objek pikir secara filsafat ada yang berada di dalam pikiran dan ada yang di luar pikiran. Objek pikir yang berada dalam pikiran bersifat absolut, tetap, statis, a priori, analitik, dan sebagainya, sedangkan objek pikir yang berada di luar pikiran bersifat sebaliknya yaitu relatif, berubah atau tidak tetap, dinamis, a posteriori, sintetik, dan sebagainya. Objek filsafat yang berada di dalam pikiran yang bersifat statis itu berupa konsep yang dibagi dua yaitu konsep dengan permulaan atau tidak dengan permulaan, jika dengan permulaan berarti terdapat definisi sebelum ditemukannya konsep.

    ReplyDelete
  67. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  68. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Komentar Bagian III
    Objek yang berada di dalam pikiran kita mempunyai unsur-unsur logika, rasio atau pikiran. Sebaliknya, objek yang berada di luar pikiran kita terdiri dari pengalaman atau benda-benda atau mempunyai unsur konkrit. Terdapat beberapa orang yang mengagungkan logika tetapi meremehkan pengalaman, maka beberapa orang tersebut menganut aliran filsafat Rasionalisme. Sebaliknya, beberapa orang yang mengagungkan pengalaman tetapi meremehkan logika atau pikiran, disebut sebagai aliran Empiricism. Akan lebih baik lagi jika keduanya seimbang, sehingga kita dapat menyikapi segala hal dengan netral, tidak mengagungkan logika kita dan tidak mengagungkan pengalaman yang kita miliki.

    ReplyDelete
  69. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Bagaimana membangun ilmu pengetahuan, menurut saya caranya membangun ilmu pengetahuan adalah dengan siswa itu menemukan sendiri pengetahuannya, konsepnya. dengan mengkontruksi atau membangun sendiri pengetahuannya maka siswa akan lebih paham akan apa yang sedang dipelajari. siswa akan lebih mengetahui bagaimana konsep tersebut ditemukan melalui berbagai ativitas dikelas dan bukan dijelaskan guru, dan siswa hanya bersikap pasif.

    ReplyDelete
  70. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Terima kasih Bapak atas informasi yang diberikan. saya jadi tahu bahwa ternyata pengalaman dapat menghasilkan pengetahuan konseptual, yaitu yang bersifat empiris. sedangkan yang dimaksud sebagai Pengetahuan Konseptual Murni itulah yang kemudian bersifat ideal, tetap, formal, rasional, dan identitas.

    ReplyDelete
  71. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Tentunya semua orang memiliki rasio dan pengalaman. Manusia percaya akan rasionya dan tidak menggunakan pengalaman maka disebut aliran rasionalisme. serta manusia yang menggunakan apa yang diluar pikiran misalnya pengalaman disebut empiricism..

    ReplyDelete
  72. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengetahuan muncul dari yang ada dan yang mungkin ada. Kita dapat berpikir hanya jika kita tahu objek itu ada dan yang mungkin ada, namun tidaklah kita pikirkan dari mana asal objek yang kita pikirkan berasal dari yang ada atau yang mungkin ada. Jikalau pada sebelum manusia di dunia itupun kita hanya dpat mengetahui objek itu ada atau mungkin ada.

    ReplyDelete
  73. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti pepatah “pengalaman adalah guru yang baik”. Dalam artikel ini dijelaskan pula bahwa pada setiap kegiatan memeroleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan. Untuk membentuk konsep atau pengetahuan, intusi berperan disana. Intuisi tersebut merupakan wujud pengalaman yang dapat dikembangkan menjadi pengetahuan ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  74. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat adalah olah pikir. Dalam membangun pengetahuan dapat dimulai dari ada dan yang mungkin ada. Membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan dapat dilakukan jika kita dapat menjawab pertanyaan bagaimana kita mamou menjelaskan objek pikir yang ada dalam pikiran kepada orang lain, dan jika objek pikir ada diluar pikiran kita, bagaimana cara kita mengetahuinya. Inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir. Namun tidak ada manusa yang dapat menjawab sempurna, hanya saja berusaha menjawab dengan mengetahui ketidaksempurnaan manusia.

    ReplyDelete
  75. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari teori Prof diatas, menurut saya membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan berdasarkan ilmu filsafat berasal dari segala hal yang ada dan yang mungkin ada disertai dengan sifat-sifatnya. Walaupun saya belum pernah memperlajari secara formal tentang filsafat, namun dari beberapa postingan Prof mengenai filsafat, saya tertarik untuk mempelajarinya.

    ReplyDelete
  76. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 pendidikan matematika I 2014

    Membangun pengetahuan menurut filsafat dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Klasifikasi dari yang ada dan yang mungkin ada tiap individu akan berbeda. Karena dalam filsafat adalah bagaimana kamu mngetehui tentang dirimu.

    ReplyDelete
  77. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 pendidikan matematika I 2014

    Menurut Immanuel Kant, secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan maka di dunia ini terdapat dua prinsip, prinsip yang pertama adalah identitas (I=I, Aku=aku) dan prinsip yang kedua adalah prinsip kontradiksi (aku tidak sama dengan aku)

    ReplyDelete
  78. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 pendidikan matematika I 2014

    Karena ditinjau dari filsafat, dan sedangkat filsafat menekankan tentang bagaimana tentang kita berpikir. Maka yang ada dan yang mungkin ada yang kita perhatikan sifat-sifatnya adalah suatu objek pikir atau benda-benda pikir.

    ReplyDelete
  79. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 pendidikan matematika I 2014

    Objek filsafat yang kita pelajari adalah yang berada dalam pikiran. Dan hal itu merupakan sebuah konsep, konsep sendiri memiliki komponen utama yaitu wadah dan isi. Jadi disini dilihat bagaimana kita menentukan yang mana wadah dan yang mana isi dalam suatu objek yang kita pelajari.

    ReplyDelete
  80. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 pendidikan matematika I 2014

    Dilihat dari cara terjadiinya ada 2 macam terjadinya konsep. Konsep yang pertama ialah konsep yang terjadi tidak dengan permulaan. Sedangkan konsep yang kedua terjadi dengan permulaan/landasan, atau memiliki pemicu dalam terjadinya suatu konsep ini.

    ReplyDelete
  81. Isnan Noor Wahid R.
    14301241057
    S1 pendidikan matematika I 2014

    Susunan yang ada di dunia memang haruslah seimbang, seperti halnya ilmu. Sebagaimana dijelaskan oleh immanuel kant, ilmu adalah gabungan atau perpaduan antara rasionalisme dan empirisisme.

    ReplyDelete
  82. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Sebenar-benar filsafat adalah mereka yang mempelajari filsafat, dan jika berbicara tentang ke-akuan, maka sebenar-benar filsafat tentunya adalah aku sendiri. Namun aku sendiri tidak akan bisa membangu filsafatku jika aku tidak menilik pemikiran para filsuf sebagai referensi membangun ilmu pengetahuan. Jika menilik pemikiran filsuf Permenides dalam membangun ilmu pengetahuan, maka aku akan menemukan bahwa sebenar-benar ilmu akan bersifat tetap. Akan tetapi jika menilik pemikiran filsuf Heraclitos maka aku akan menemukan bahwa sebenar-benar ilmu akan berubah.

    ReplyDelete
  83. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca artikel tersebut saya mengetahui bahwa membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada yang memiliki sifat-sifat yang jumlahnya sangat banyak yang kesemuanya itu merupakan benda-benda pikir. Benda-benda pikir dapat berada di dalam pikiran kita dan dapat pula berada di luar pikiran kita, masalahnya adalah bagaimana kita dapat menjelaskan objek pikir tersebut kepada orang lain. Akan tetapi kita tidak mampu menjawab masalah tersebut, karena sebenar-benar manusia tidaklah sempurna kemampuannya, kesempurnaan hanya milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  84. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam belajar mengenai filsafat, kita mempelajari yang ada dan yang mungkin ada. awal dan akhir, wadah dan isi, dan semua hal yang terfikirkan dan tidak terfikirkan. Hal ini akan berpengaruh terhadap fondalisme maka kita akan menjadi berpikir formal. Selain itu dalam berpikir kita haruslah menggabungkan antara ratio dan pengalaman, gar mendapatkan hasil terbaik. Intusi dalam ruang dan waktu sangat penting dalam usaha kita membangun pengetahuan kita.

    ReplyDelete
  85. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Terima kasih, saya mendapatkan ilmu baru dari artikel ini. Mengutip dari isi artikel bapak, "Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir." saya mendapati bahwa pikiran/ilmu yang ada pada diri kita tidak akan bermanfaat jika tidak disampaikan kepada orang lain.

    ReplyDelete
  86. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Begitu pula dengan ilmu yang belum kita kuasai, maka kita harus mencoba/belajar mengetahui ilmu yang ada di luar pikiran kita. Dengan demikian terjadilah proses long life education, orang yang sudah paham akan belajar bagaimana cara menyampaikan ilmu dengan baik, sedangkan yang belum mengetahui akan berusaha mencari tahu ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  87. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Dalam menggapai pengetahuan cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengenali identitas dengan mengasosiasi sifat-sifat yang ditunjukkan, hanyasaja identitas suatu hal tak dapat di pastikan dengan tepat jika di tilik dari berbagai sisi. Hanya berupa pendekatan-pendekatan dan sisi pembahasan tertentu. Namun saya masih belum klik dalam memahami kesetaraan dalam subjek dan objek. setidaknya terdapat pengetahuan bahwa objek dan subjek dapat menjadi predikat dirinya.

    ReplyDelete
  88. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam berfilsafat untuk membangun ilmu pengetahuan terlebih dahulu kita harus menetapkan hati kita. Seperti yang disampaikan oleh bapak prof Marsigit yaitu terapkanlah hatimu sebelum engkau mengembarakan akalmu agar akal itu memiliki batas dan tidak termakan mitos.

    ReplyDelete