Nov 11, 2014

Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan




Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan

Ass Wr Wb

Teori saya ini saya kuliahkan pada beberapa Kelas kuliah Filsafat Ilmu Program S2 Pendidikan Matematika dan Pendidikan dasar

Teori ini juga saya maksudkan untuk Bahan Ujian Akhir Semester.
Nantinya, pertanyaan Pokok/Soal Ujian Filsafat Ilmu (Filsafat Pendidikan Matematika) adalah satu atau beberapa dari berikut:

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Hidup"; atau

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu Pengetahuan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Dasar";
"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika Dasar"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Dunia"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Proses Belajar Mengajar Matematika";
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Metode Berpikir"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Identitas"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Ada"; atau...dst
...
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Mungkin Ada"

atau bahkan bisa ditambah:

"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Kontradiksi"

Sedangkan jawaban dan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, terangkum atau terurai pada kuliah saya ini berjudul "Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan".


Nantinya, jawaban ujian ditulis dengan tangan pada kertas doble follio dengan sifat Closed-Book (tidak boleh membuka segala media belajar termasuk HP, Buku, Laptop, dst). Mahasiswa diberi kesempatan 1 (satu) minggu untuk menulis ulang/ memerbaiki jawabannya dengan cara di ketik, di kumpulkan prin outnya, dan di upload di blog masing-masing. Itu rencana besok akhir semester, tetapi sudah saya informasikan sekarang agar mahasiswa memersiapkan diri.

Pada kuliah saat ini, mahasiswa saya persilahkan untuk merekam kuliah saya ini, baik menggunakan komputer ataupun HP, dan mengritisi dengan cara menanggapi atau mengajukan pertanyaan. Dengan teknologi On-line, maka secara bersama-sama Dosen dan Mahasiswa dapat melakukan aktivitas secara sinergi. Dosen menulis di kolom Posting, sedangkan Mahasiswa menulisnya di kolom Comment.

Jika dikarenakan suatu perkuliahan tidak menyukupi waktunya, maka kuliah ini akan saya selenggarakan secara simultan atau berkelanjutan dari kelas satu ke kelas berikutnya hingga selesai.

Selamat menyimak dan memelajarinya.

Baiklah langsung saja saya mulai.

Judul perkuliahan ini adalah :


"Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan"

BAGIAN I

Pada Bagian I dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Selasa, 11 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Dasar  Kelas B di R 200A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.10, yang di hadiri oleh 22 mahasiswa.

Saudara, teori saya ini sebetulnya sudah saya gambarkan dalam bentuk sketsa di kelas masing-masing. Namun ternyata saya menilai masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan memahaminya.
Saudara, secara filsafat, membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada pula, maksudnya adalah bahwa sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada itu jumlahnya banyak sekali; tidak cuma banyak tetapi berdimensi kirarkhis, artinya secara intensif ada kualitas 1, 2, 3, 4, …dst; sedangkan secara ekstensif ada kualitas a, b, c, d, …dst. Maka membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat, dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat satu, dua, tiga, atau, empat …dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Karena,yang akan dilakukan adalah membangun ilmu atau ilmu pengetahuan secara filsafat, maka identifikasi dari sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada juga ditinjau secara filsafati. Sifat-sifat filsafati adalah sifat-sifat yang dipikirkan atau pernah dipikirkan atau digunakan atau pernah digunakan oleh para Filsuf. 

Setiap yang ada mempunyai sifat, artinya jika ditinjau dari struktur Bahasa, maka yang ada itu berkedudukan sebagai Subjek atau Objek, sedang semua sifat-sifatnya berkedudukan sebagai Objek atau secara khusus disebut Predikat. Jadi di sini, Objek pun mempunyai Predikat, karena setiap Objek mempunyai sifat. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf bangsa Prusia (abad 15), secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas ialah keadaan tercapainya A=A, atau Aku = Aku, atau I = I …dst. Ternyata, dikarenakan Filsafat itu adalah sensitif terhadap Ruang dan Waktu, maka selama aku di Dunia, aku tidak pernah mengalami keadaan Identitas. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita, atau kalau kita mengandaikan atau kalau kita sudah sampai di akhirat. Di dunia ini memang benar aku tidak dapat mencapai Identitas, karena sebagai contoh belum selesai aku menunjuk diriku, maka dikarenakan ruang dan waktu, diriku yang tadi telah berubah menjadi diriku yang sekarang. Keadaan tidak dapat mencapai Identitas itulah yang kemudian disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu Subjek tidak sama dengan Predikatnya; atau Subjek tidak sama dengan Objeknya; atau tidaklah ada suatu sifat bisa menyamai subjek atau objek yang mempunyai sifat tersebut; atau semua predikat pada hakikatnya termaktub dalam Subjeknya. Misal, Pak Marsigit itu handsome, maka selamanya tidaklah pernah terjadi bahwa Pak Marsigit itu sama dengan handsome. Demikian seterusnya. Ini baru pengantar menuju bagaimana membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, yang ada dan yang mungkin ada yang sedang kita perhatikan sifat-sifatnya, merupakan objek pikir atau benda-benda pikir; mengapa demikian? Karena sebenar-benar filsaat adalah olah pikir. Beberapa sifat yang ada dan yang mungkin ada, atau sifat-sifat dari objek pikir tadi,  yang penting secara filsafati, dikarenakan digunakan oleh para filsuf, meliputi misalnya, dimanakah kedudukan atau lokasi objek pikir? Karena ini filsafat, maka yang dimaksud kedudukan objek pikir aadalah kaitannya dengan pikiran itu sendiri, artinya, dia ada di dalam pikiran atau di luar pikiran? Objek pikir itu bersifat kuantitatif atau kualitatif? Kalau objek pikir bersifat kuantitatif, maka berapa banyak atau jumlahnya. Kalau objek pikir bersifat kualitatif apakah dia berubah atau tetap? Demikian seterusnya. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara intensif dan ekstensif, maka lahirlah pendapat-pendapat para filsuf; dari pendapat-pendapat para filsuf ini maka lahirlah aliran-aliran filsafat. Terdapat banyak sekali aliran filsafat, sebanyak para filsuf yang memikirkannnya, mulai dari Jaman Yunani Kuno hingga jaman sekarang yaitu Jaman Kontemporer.Immanuel Kant mengatakan jika engkau ingin mengetahui Dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar Dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan. Jadi awal dan proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan seperti yang saya uraiakan di atas, bukan terjadi di Yunani Kuno atau di Mesir, atau di Eropa, melainkan dia sebenar-benar terjadi di dalam pikiran kita masing-masing.

Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir. 

Kita akan mampu membangun ilmu dan atau ilmu pengetahuan jika mampu menjawab kedua persoalan tersebut. Tetapi yang terjadi adalah tiadalah manusia di dunia ini yang mampu menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna. Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME. Jika objek pikir ada di dalam pikiran, maka dia memunyai sifat-sifat misalnya: tetap, ideal, absolut, tunggal, formal, dst. Keadaan objek yang bersifat tetap itulah kemudian diungkapkan oleh Permenides, selanjutnya dia mengatakan bahwa yang ada dan yang mungkin ada itu sebenar-benarnya bersifat tetap. Maka saya dapat katakan,  ini pula yang dapat dikatakan sebagai filsafat Permenidesianisme. Jika kita memandang objek pikir bersifat absolut, maka lahirlah aliran filsafat Absolutisme, di mana tokohnya adalah Plato. Jika objek pikir bersifat tunggal, maka lahirlah filsafat Monisme. Jika objek pikir bersifat formal, maka lahirlah aliran filsafat Formalisme.


BAGIAN II
Pada Bagian II dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh 23 mahasiswa. 

Marilah kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada yang sebagian sudah kita bahas terdahulu. Sebagian dari sifat-sifat tersebut diambil dari sifat yang dijelaskan oleh Immanuel Kant. 

Jika objek pikir berada di dalam pikira kita, maka kita akan menemukan bahwa dia antara lain bersifat: absolut, bersifat tetap, statis,  bersifat, tunggal, bersifat, formal, bersifat sempurna, bersifat ideal, bersifat abstrak, bersifat immanent, bersifat transenden, bersifat reduksionisme, bersifat analitik, bersifat a priori, bersifat rigor,bersifat apodiktik, bersifat konseptual, bersifat normatif, bersifat spekulatif, bersifat hypothetical, bersifat imeginer, bersifat rasional, bersifat logis-tak logis, bersifat aksiomatis, bersifat paralogis, bersifat teleologis, bersifat murni, bersifat analog, bersifat deduksi, bersifat dialektik, bersifat Identitas, tidak terikat oleh ruang, tidak terikat oleh waktu. 

Marilah juga kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada, yang berada di luar pikiran. Kita dapat menemukan bahwa objek yang berada di luar pikiran memunyai sifat-sifat: relatif, berubah atau tidak tetap, dinamis, plural atau jamak, berfifat tidak sempurna, bersifat tidak ideal, bersifat nyata, berkedudukan sebagai contoh, bersifat sintetik, bersifat a posteriori, bersifat dinamik, diperoleh dari penginderaan, bersifat kontradiksi, bersifat empiris, bersifat sensasi, berlaku hukum sebab-akibat, terikat oleh ruang, terikat oleh waktu, bersifat kontingen, bersifat konkrit.

Objek filsafat yang berada di dalam pikiran berupa konsep, dimana komponen utama dari sebuah konsep adalah Forma/Wadah/Bentuk dan Sustansi/Isi. Kemudian kita dapat menelusuri bagaimana terjadinya atau terbentuknya sebuah konsep. 

Ada 2 (dua) macam terjadinya konsep. Pertama, konsep terjadi tidak dengan permulaan/landasan; kedua, konsep terjadi dengan permulaan/landasan. 

Segala macam bentuk permulaan/landasan misalnya: janji, kesepakatan, konvensi, mou, hasil rapat, ketetapan menteri, keputusan Presiden, Ketetapan DPR, membuat definisi, meletakkan pondamen bangunan, berdoa, langkah pertama, peletakan batu pertama, starting point, sebuah mimpi, di bai'at, di baptis, membaca kalimah syahadat, niat, keadaan tertentu, pandang pertama, kelahiran, kematian, ijab kobul, dst. Maka aku menemukan bahwa yang dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ternyata saya juga menemukan bahwa yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen dari yang ada dan yang mungkin ada.Jikalau seseorang membangun konsep dengan menetapkan suatu awal atau suatu landasan atau suatu pondamen, maka sadar atau tidak sadar, dia telah menjadi pengikut filsafat Foundationalisme. Sebenar-benar manusia, hanyalah berusaha menetapkan awalnya atau landasannya atau pondamennya; sebena-benar awal atau awal absolut hanyalah milik Tuhan YME. 

Ternyata, ada orang yang hidupnya atau yang di dalam membangun konsepnya tidaklah demikian, yaitu tidak dengan cara menetapka awal/landasan/pondamen. Mengapa dan kapan? Yaitu ketika orang tersebut memunyai konsep atau memunyai pengetahuan, tetapi dia tidak dapat menentukan kapan dan di mana dia mulai mengerti. Misalnya kita yang mengerti tentang arti: cinta, sehat, sayang, sakit, besar, kecil, jauh, dekat, senang, sedih, baik, buruk, rindu, benci, ...dst, maka kita tidak dapat menjunjukkan kapan dan di mana kita mulai mengerti pengertian-pengertian tersebut. Ternyata kita memunyai ada banyak sekali pengertian-pengertian yang memunyai sifat tidak memunyai awal/landasan/pondamen. Kita yang menyadarinya hal tersebut kemudian mengakuinya maka sadar atau tidak sadar kita termasuk ke dalam orang-orang yang Anti-foundationalisme. Tokoh dari filsafat Anti-foundationalisme adalah Brouwer; selanjutnya disebut juga sebagai aliran Intuitionisme.  

 Jelaslah  bahwa sebagian besar hidup kita masih di dominasi dan masih menggunakan pengetahuan intuitif. Terlebih-lebih anak kecil atau orang yang masih muda; maka sebagian hidupnya menggunakan pengetahuan intuitif. Ekstrimnya, untuk anak kecil di bawah umur 3 tahun, maka sebagian dari mereka tidak dapat mengerti tentang pengetahuannya. Secara filsafat, jika seseorang bekerja atau bertindak tanpa dimengerti apa yang dimaksud dengan tindakannya, maka orang tersebut bertindak berdasarkan Mitos. Maka sebenar-benar pengertian adalah Logos. Namun kita mendapatkan bahwa Mitos pun bermanfaat bagi anak kecil untuk memelajari segala sesuatu; sedangkan kita sebagai orang dewasapun tidak dapat sepenuhnya terbebas dari Mitos. Namun pada tataran tertentu ketika sampai batas keyakinan, kita tidak dapat mengatakan suatu pengertian yang tidak dimengerti sebagai Mitos melainkan karena dia adalah sebuah Keyakinan. 

Dari pembicaraan saya di atas, dapat saya simpulkan bahwa berpikir forndationalisme aka menghasilkan salah satu bentuknya adalah berpikir formal; yang mana kita akan menemukan aliran Formalisme. Secara khusus, aliran filsafat Formalisme berusaha membangun pengetahuan secara deduksi, yang dimulai dengan landasan menetapkan Definisi-definisi, kemudian membuat Aksioma dan Teorema, serta membangun strukturnya dengan berusaha tidak melakukan inkonsistensi. Itulah yang dilakukan oleh para Matematikawan. Dengan demikian jelaslah, bahwa Matematika Murni merupakan ilmu yang bersifat Deduksi yang umumnya dipelajari oleh orang dewasa, atau oleh para mahasiswa di Perguruan tinggi atau oleh para Matematikawan. Dikarenakan domain dari Matematika Murni adalah untuk orang dewasa, maka untuk anak kecil diperlukan pendekatan yaitu mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu yang berfondational, tetapi matematika sebagai pengetahuan intuitif. Matematika sebagai pengetahuan intuitif itulah kemudian ditemukan sebagai Matematika Sekolah. Kemudian Matematika Sekolah didefinisikan sebagai Kegiatan Sosial; oleh karena itulah maka di dalam setiap proses belajar mengajar, diperlukan diskusi kelompok sebagai sarana untuk membangun matematika intuitif yang bersifat kegiatan sosial.

BAGIAN III


Pada Bagian III dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM B di R 201 A Pasca Lama pk 09.30 sd 11.10, yang di hadiri oleh  24 mahasiswa.

Mari kita selidiki kembali perihal objek yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Objek yang berada di dalam pikiran antara lain memunyai sifat berpotensi sebagai unsur-unsurnya logika, rasio atau pikiran. Sekali lagi, bagi mereka yang mengagungka rasio tetapi meremehkan pengalaman, maka dia menganut aliran filsafat Rasionalisme. Sebaliknya objek yang ada di luar pikiran, mereka itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada termasuk Pengalaman  atau benda-benda. Mereka yang mengagungka Pengalaman tetapi meremehkan logika atau pikiran, disebut sebagai kaum Empiricism. Tokoh Rasionalisme adalah Rene Descartes dan tokoh Empirisisme adalah David Hume. Bagi Rasionalisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika tidak berdasar atau berlandasan pada Rasio. bagi Empirisisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika dia tidak berdasar atau berlandaskan pada Pengalaman. 

Apakah yang sebenarnya terjadi para diri kita?

Marilah kita bereksperimen dengan cara menyimulasikan 2 (dua) keadaan yaitu:
Pertama, seaolah-olah kita hanya memunyai Rasio tetapi tidak memunyai Pengalaman. Apakah yang kemudian terjadi? Yang terjadi adalah pikiran manusia yang melayang dan mengembara yang terlepas dari dunia nyata; atau diperolehnya kesimpulan tetapi bersifat hypothetical, yaitu baru merupakan anggapan awal yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Misal mengapa seseorang merasa takut kepada sesuatu padahal dia sebetulnya belum pernah punya pengalaman melihat, bertemu atau berinteraksi, misal takut dengan Buaya Sungai Nil. Maka orang tersebut bersikap atau bertindak berdasarkan pengetahuan Rasionalitas, tetapi tidak berdasarkan Pengalaman. Maka yang dia dapat barulah separoh dari kebenaran atau separuh dari ilmunya. 

Eksperimen kedua, marilah kita menyimulasikan seolah-olah kita mempunyai banyak pengalaman tetapi kita enggan memikirkannya. Atau secara ekstrim, kita menjalani hidup dengan penuh dan hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi kita tidak menggunakan logika atau pikiran kita. Misal, yang terjadi pada seekor Kucing peliharaan kita. Jika sehari suntuk kita ajak Kucing kita pergi piknik ke Gunung Bromo misalnya, maka silahkan tanyakan kepada Kucing anda, bagaimana kesan-kesan atau pengalaman piknik ke Gunung Bromo?. Maka serta merta anda pun akan kecewa kepada Kucing anda, karena Kucing anda tidak mampu menggunakan logika atau pikirannya untuk menyeritakan pengalamannya. Kucing itulah sebagai contoh ekstrim, dimana ada suatu fenomena kehidupan yang hanya mengandalkan Pengalaman tetapi tidak menggunakan Pikiran. Maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar Ilmu adalah Pengalaman yang Dipikirkan; atau sebenar-benar Ilmu adalah Pikiran yang di laksanakan atau diterapkan atau diimplementasikan. 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar ilmu adalah gabungan atau perpaduan antara Rasionalisme dan Empirisisme. Marilah kemudian kita selidiki, apakah atau bagaimanakah sifat-sifat Rasio atau Pikiran dan Sifat-sifat Pengalaman itu? 

Lagi, menurut Immanuel Kant, bahwa ciri-ciri dari Rasio atau Logika adalah: dia bersifat analitik, dia bersifat a priori, dia bersifat formal, dia bersifat aksiomatis, dia bersifat logis, dia bersifat tunggal atau Identitas, kebenarannya berdasar pada koherensinya atau kekonsistensiannya. Sedangkan Pengalaman, bersifat sintetik, ia posteriori, bersifat kontradiksi, dst. Ambillah dua sifat yang penting, yaitu Sifat  rasio sebagai analitik a prori; dan sifat Pengalaman sebagai sintetik a posteriori. Setelah itu cobalah kita berusaha mengerti apa yang dimaksud dan kenapa logika kita bersifat analitik a priori? Dan kenapa pengalaman kita bersifat sintetik a posteriori?

Menurut saya, yang dimaksud sifat analitik di dalam logika adalah terjadinya atau diperolehnya suatu konsep atau beberapa konsep di dalam pikiran sebagai akibat logis dari adanya aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir yang seperti apa yang menghasilkan sifat analitik tersebut? Secara filsafati, atau secara ontologis, atau secara hakikinya, kegiatan berpikir adalah mengidentifikasi tesis-tesis, kemudian mencari atau membuat anti-anti tesis, dan kemudian melakukan sintesis-sisntesis berdasarkan tesis-tesis dan anti-anti tesisnya. Apakah kemudian yang disebut sebagai tesis dan anti-tesis itu? Jika aku adalah tesis, maka anti-tesisnya adalah selain aku. Jika anda adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan anda. Jika Pak Marsigit adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan Pak Marsigit. Jika A adalah tesisnya maka anti-tesisnya adalah bukan A. Padahal bukan A meliputi yang ada dan yang mungkin ada zonder atau dikurang A. Itulah sebabnya mengapa berfilsafat perlu sebuah konteks atau sebenar-benar filsafat dapat ditaruh di depan yang ada dan yang mungkin ada. 


Selanjutnya apakah yang disebut sebagai berpikir a priori itu? Secara awam, berpikir a priori adalah mampu memikirkan suatu benda atau objek pikir walaupun belum mengalaminya atau belum mengindranya. Itulah sebabnya, dengan keampuan berpikir a priori, maka manusia mampu merencanakan sebuah aktivitas, atau program atau projek, atau membuat proposal untuk memeroleh suatu keadaan di masa depan. Misalnya ingin mendaratkan kapal ruang angkasa di sebuah komet. Itulah juga maka manusia memunyai tujuan, memunyai cita-cita, dan memikirkan masa depan. kemampuan untuk memikirkan masa depan itulah yang menurut Immanuel Kant, kemudian disebut sebagai Teleologi. 


Coba pikirkan bagaimana jadinya jika berpikir analitik bertemu atau digabungkan dengan berpikir a priori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir analitik itu akan berkemistri dengan berpikir a priori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a priori hanya diperoleh dengan keadaan analitik; dan keadaan analitik dapat disuburkan oleh kemampuan a priori. Analitik dan a priori berkenaan dengan proses berkembangnya dan dihasilkannya ide-ide atau konsep-konsep atau tesis-tesis dan anti-tesisnya. Proses analitik untuk menghasilkan ide atau konsep baru itu bersesuaian dengan prinsip-prinsip atau metode berpikir misalnya: deduksi, induksi, sebab-akibat, benar-salah, urutan, membandingkan, membedakan, mengelompokkan, menghubungkan atau relasi, mengoperasikan, menjumlahkan, mengurangkan, membagi, mangalikan, dst.


BAGIAN IV


Pada Bagian IV dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM C di R 201 A Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh  22 mahasiswa.

Telaah dari proses berpikir analitik a priori kita lanjutkan, misalnya untuk melihat apa yang terjadi pada proses pemahaman tentang konsep-konsep matematika atau bilangan, atau geometri dan relasi serta operasi-operasinya. Misal bagaimana kejadiannya peristiwa penjumlahan dua bilangan misal 7 ditambah 5, atau ditulis 7 + 5. Dalam ranah objek di dalam pikiran maka semua objek bersifat sempurna dan tunggal; tidaklah ada bilangan 7 selain 7, juga tidak ada bilangan 5 selain 5, tetapi di dalam matematika yang dimaksud dengan ketunggalan bilangan 7 ataupun 5, masing-masing adalah tentang nilainya. Maka dikarenakan objeknya ada di dalam pikiran, maka operasi penjumlahan juga terjadi di dalam pikiran. Secara intuitif maupun secara formal, proses analitik dari  7 + 5 menghasilkan bilangan lain yang nilainya adalah 12, jika tidak dibatasi dengan ketentuan-ketentuan lain, misalnya oleh basis bilangan. Maka bilangan 12 dapat diperoleh atau dapat dianggap diperoleh dengan cara a priori, karena dia muncul sebagai hasil dari operasi penjumlahan di mana di dalamnya belum terlihat bilangan 12 itu sendiri. 

Eksperimen dilanjutkan, yaitu kita ingin menyelidiki apa yang terjadi pada peristiwa berpikir sintetik a posteriori. Menurut saya, berdasarkan dari teori Kant, berpikir sintetik adalah proses berpikir yang berlandaskan pengalaman atau fenomena-fenomena di luar pikiran yang memunyai sifat adanya hukum sebab-akibat (walaupun hukum ini pernah di pertanyakan oleh David Hume). Maka proses berpikir sintetik sejalan dengan adanya sifat-sifat satu, dua, atau lebih fenomena-fenomena di luar pikiran serta hubungan dan atau interaksinya. Hubungan atau interaksi dari objek di luar pikiran ditentukan oleh jenis sifat-sifat yang melekat pada diri Subjek dan Objeknya. Hubungan antara sifat-sifat tersebut bersifat plural, atau tidak tunggal dan tidak sempurna; artinya hubungan antara objek-objek pikir di luar pikiran tidaklah mampu mencapai keadaan Identitas; keadaan yang demikianlah yang disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu bahwa Predikat telah, sedang dan akan selalu termuat di dalam Subjeknya. Proses berpikir sintesis adalah proses interaksi antara objek-objek di luar pikiran yang menghasilkan sifat-sifat baru sebagai objek baru dari pikiran. Marilah kita lihat contohnya, apa yang terjadi pada proses berpikir sintetik untuk penjumlahan bilangan 7 + 5. Karena objek diluar pikiran terikat oleh ruang dan waktu, maka dia mempunyai makna plural. Maka bilangan 7 diluar pikiran juga memunyai makna plural, misalnya bilangan 7 yang: berwarna biru, berwarna merah, bagus, besar, kecil, kurus, gemuk, murah, wangi, indah, sakral, jauh,dekat, lembut, romantis, kejam,sebagai subjek, sebagai objek ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Demikian jika sifat objek pikir bilangan 5 diluar pikiran, dan objek-objek yang lain. Kita dapat memikirkan bilangan di luar pikiran sebagai subjek dari buku, pulpen,hp, gelas, ..dst meliputi subjek dari yang ada dan yang mungkin ada, misal 7 buah apel, 5 butir telur, dst.... Kita dapat menentukan atau mencari sifat-sifat tersebut secara intensif dan ekstensif. Jadi pada peristiwa 7 + 5 untuk 7 dan 5 adalah objek pikir yang berada di luar pikiran, menghasilkan fenomena secara plural; misal 7 buku + 5 telur, 7 pensil + 5 penghapus, 7 baju + 5 topi, 7 gelas + 5 sendok, ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka di sini, tiadalah tempat bagi bilangan 12 yang mampu menjawab semua fenomena yang dihasilkan oleh penjumlahan 7 + 5 tersebut.


Sedangkan yang dimaksud dengan berpikir a posteriori, adalah memikirkan objek-objek di luar pikiran setelah mengindranya. Seekor kucing akan menggerakan ekornya ketika melihat tikus yang lewat; itu pertanda kemampuan kucing untuk berpikir setara dengan berpikir a posteriori. Kebanyakan fenomena berpikir a posteriori juga terdapat pada anak kecil. Kemudian, apakah jadinya jika proses berpikir sintetik digabung dengan proses berpikir a posteriori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir sintetik itu akan berkemistri dengan berpikir a posteriori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a posteriori diperoleh karena keadaan sintetik; dan keadaan sintetik dapat disuburkan oleh kemampuan a posteriori. Maka fenomena seekor tikus yang lewat, akan memunyai makna yang berbeda bagi orang dan kucing yang sama-sama menyaksikannya. Jangankan antara orang dan tikus, sedangkan antara orang yang satu dengan orang yang lain pun memunyai makna yang berbeda-beda. Jangankan antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedang di dalam diri sendiri saja untuk ruang dan waktu yang berbeda akan memunyai makna yang berbeda.



Dikarenakan anak kecil sebagian baru sampai pada kemampuan memikirkan objek-objek di luar pikiran, maka pikiran yang berbeda, jawaban yang berbeda, tulisan yang berbeda, pakaian yang berbeda, makanan yang berbeda, kesukaan yang berbeda, ritme aktivitas yang berbeda, perhatian yang berbeda, perasaan yang berbeda, dst ...meliputi yang ada dan yang mungkin ada yang berbeda, adalah sunatullah atau kodratnya atau dunianya. Itulah mestinya, matematika untuk anak kecil adalah matematika yang berada di luar pikiran, atau matematika konkret. Wujud dari berpikir sintetik adalah interaksi sosial. Itulah sebabnya mengapa dikenalkan Matematika Sekolah untuk anak kecil. Matematika Sekolah mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu, bukan sebagai struktur, bukan sebagai body of knowledge atau structure of logic, melainkan sebagai Kegiatan Sosial. Itulah pentingnya di dalam pembelajaran matematika perlu adanya diskusi kelompok, atau metode projek bersama, atau metode kooperatif, dst.  

Berikutnya, marilah kita uji ada apakah antara analitik dan sintetik, atau antara apriori dan aposteriori; atau antara gabungan di antara keduanya, yaitu kombinasi misalya: analitik a posteriori dan sintetik a priori. Kalau kita memikirkan fenomena anlitik a posteriori, berarti kita menjumpai adanya proses berkelanjutan yang pada akhirnya di luar kontrol kita sebagai subjek pikir, yaitu dapat digambarkan sebagai seorang yang naik kereta api, cukup duduk atau tertidur di dalam gerbong tertentu, tetapi secara a priori bercita-cita sampai tujuan, dengan mengandalkan berpikir analitik yang bersifat konsisten (semua komponen kereta api beserta masinisnya bersifat konsisten, tidak ada yang memberontak) dan logis serta berkelanjutan atau sustainabel.


BAGIAN V


Pada Bagian V dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM D di R 100 B Pasca Lama pk 10.00 sd 11.40, yang di hadiri oleh  15 mahasiswa.

Yang kemudian dapat dipertanyakan adalah bagaimana penjelasannya bahwa suatu ilmu itu dapat berbasis pada pengalaman? Atau bagaimana pengalaman itu dapat menuju ke arah pembentukan ilmu. Sebenar-benar jika kita ingin membaca hal ini, adalah dari Empirisime nya David Hume, atau dari bacaan sekunder yang lainnya. Tetapi saya berusaha, berdasarkan pengalaman membaca referensi dan sumber-sumber lain dan menggunakan logika yang diturunkan dari uraian-uraian terdahulu, saya berusaha untuk menguraikannya, sebagai berikut. 

Seperti kita ketahui bersama bahwa segala macam pengalaman atau objek-objek yang terkait dengannya sebagian besar dapat dianggap mereka itu sebagai objek pikir yang ada di luar pengalaman. Bagaimana halnya dengan pengalaman berlogika? Itulah yang sebenar-benar terjadi, bahwa telah terjadi hermenitika antara rasio dan pengalaman. Secara lebih spesifik perihal Pengalaman ini, maka kita dapat mengeksplore sifat, kedudukan dan fungsinya; yaitu apakah sifat-sifat dari Pengalaman itu? bagaimana kedudukan Pengalaman dalam proses berpikir? dan apa fungsi Pengalaman dalam pembentukan konsep berpikir? Secara intuitif atau secara pemahaman orang awam kita dapat mendeskripsikan berbagai aspek Pengalaman sesuai dengan pengalaman masing-masing. Dari sisi ontologisnya, maka sebuah Pengalaman dapat dipandang sebagai Subjek sekaligus sebagai Objek pikir atau rasa atau lihat atau dengar atau tulis atau baca atau tindakan atau segala macam pengindraan dan aktivitas manusia atau binatang atau benda-benda. Masalahnya adalah dapatkah kita mengatakan sebuah tembok memunyai pengalaman di
cat
dengan warna pink? Atau sebuah tanaman memunyai pengalaman di pangkas daunnya? Sejauh mana kita mampu memahami pengalaman-pengalaman pada binatang? Jadi Pengalaman itu milik siapa? Maka kita perlu menggunakan batasan ruang dan waktu untuk memosisikan sebuah Pengalaman. Jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, maka seberapa jauh para binatang dianggap memunyai pengetahuan atau bahkan ilmu pengetahuan? Pada titik ini, paling tidak kita merasa adanya perbedaan antara Pengetahuan dan Ilmu Pengetahauan. Para mahasiswa saya yang sedang mengikuti kuliah ini memberi kesaksian bahwa para binatang hanyalah memunyai pengetahuan tetapi tidak memunyai Ilmu Pengetahuan. 

Lagi, jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, dan pengalaman mereka dapat digunakan untuk membangun pengetahuan, adalah lain perkara untuk mengetahuinya; tetapi jika demikian maka pertanyaan kita selanjutnya adalah seberapa kita mampu menjelaskan kebermaknaan sebuah pengalaman bagi seorang anak kecil. Anak kecil adalah manusia dengan batasan-batasannya. Maka, apakah perbedaan Pengalamannya manusia dewasa dengan anak-anak? Jika kita berkehendak menjawab pertanyaan ini, maka kita sudah akan menuju ke ranah Psikologi. Tetapi jika kita ingin menelaahnya secara filsafat atau secara ontologis maka, seperti yang dilakukan oleh Immanuel Kant, dalam Teori Berpikirnya, dia tidak menyebut teori berpikir untuk suatu usia tertentu. Pada titik ini, kita merasa mulai dapat membedakan antara Filsafat dan Psikologi. 


Sebetulnya pembicaraan kita ini arahnya ke mana? Arahnya adalah bahwa kita memeroleh Pengalaman juga dengan Pengalaman, dan menghasilkan Pengalaman juga dengan Pengalaman. Bagaimanakah hal tersebut dapat terjadi? Itulah sebenar-benar Intuisi. Menurut Immanuel Kant, segala macam Pengalaman, meliputi tentang Pengalaman yang ada dan yang mungkin ada, itu semua hanya terjadi atau hanya dapat dipahami di dalam intuisi Ruang dan Waktu. Tiadalah pengalaman yang terbebas dari intuisi Ruang dan Waktu. Pastilah yang namanya sebuah Pengalaman, dapat ditanyakan kapan dan di mananya. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana intuisi berperan di dalam pembentukan konsep atau pengetahuan?

BAGIAN VI


Pada Bagian VI dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika PMP2TK Angkt 2014 di R 106 A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.20, yang di hadiri oleh  16 mahasiswa.

Demikian saudara, bermacam-macam Pengalaman meliputi yang ada dan yang mungkin ada dapat digolongkan berdasarkan yang ada dan yang mungkin ada. Namun kalau kita belajar dari Immanuel Kant seperti terlihat pada tabel di atas, maka Pengalaman di luar pikiran berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengindra melalui persepsinya, sehingga diperolehlah imaginasi dan sensasi. Macam dan kualitas pengalaman ditentukan oleh derajat kesadaran. Persepsi dengan derajat kesadaran tertentu akan menghasilkan konsep berpikir atau pengetahuan. Tentu, di sini kita merasa ada semacam lompatan pemahaman kita, bagaimana pengalaman memersepsi fenomena atau noumena (jika mungkin) dengan kesadaran tertentu mampu menghasilkan Pengetahuan? Immanuel Kant, menjelaskan, seperti tampak pada gambar, bahwa di situ terdapat proses recognition (pengenalan), reproduction (menghasilkan), apprehension (pengembangan).

Jadi pada setiap kegiatan memeroleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan. Menurut saya ini selaras dengan ontologi umum tentang Ada (dapat secara sepintas dikatakan sebagai kenal), Mengada (dapat dimaknai sebagai proses menghasilkan) dan Pengada (dapat dimaknai sebagai pengembangan).
Dalam hal ini, dimanakah posisi sebuah Intuisi? Menurut saya, Intuisi ada di setiap langkah, tepatnya ada mendahului langkah, dalam langkah, dan mengikuti langkah menjadi Ada, Mengada dan Pengada. Mengapa? Karena sesuai kodratnya bahwa yang ada dan yang mungkin ada hanya bermakna di dalam Intuisi, tepatnya Intuisi Ruang dan Waktu. Jadi pengertian atau pengetahuan tentang yang ada dan yang mungkin ada selalu dapat ditaruh di depannya Kapan dan di Mana? Immanuel Kant menyebutkan bahwa terdapat 2 (dua) macam pengetahuan yaitu Pengetahuan Konseptual dan Pengetahuan Intuitif. Menurut saya, itulah dia bahwa Pengetahuan Konseptual itu lebih banyak dimiliki oleh orang dewasa; dan pengetahuan yang dimiliki oleh anak-anak lebih banyak bersifat Intuitif. Tentu menurut pandangan saya, semakin dewasa atau semakin tua seseorang, Pengetahuan Intuitifnya semakin berkembang.

Sementara itu, lagi Immanuel Kant mengatakan bahwa Pengetahuan Konseptual dapat berupa Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Empiris. Apa artinya? Artinya adalah bahwa Pengalaman juga sudah dapat menghasilkan Pengetahuan Konseptual, yaitu yang bersifat empiris. Menurut saya, yang dimaksud sebagai Pengetahuan Konseptual Murni itulah yang kemudian bersifat ideal, tetap, formal, rasional, dan identitas. Pertanyaan menarik yang dapat diajukan adalah seberapa atau sampai di mana, bahwa intuisi juga terdapat di dalam Pengetahuan Konseptual Murni. Itulah bedanya, saya menulis Pengetahuan “Intuisi”  berbeda dengan “intuisi”. Menurut saya, tiadalah yang ada dan yang mungkin ada, termasuk Pengetahuan Konseptual Murni, terbebas dari intuisi. Artinya kita bisa mengatakan “memunyai pengalaman berlogika matematika murni” . Artinya bahwa, berpikir, berrasional, berlogika, pun sebenarnya merupakan Pengalaman.

Demikian, sementara kuliah saya hentikan karena mengingat waktu telah habis.

Selamat berjuang,


Dosen ybs,


Marsigit


29 comments:

  1. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Dari beberapa teori Marsigit atau teori yang dikemukakan Pak Marsigit, ada teori yang sangat menarik bagi saya yaitu tentang prinsip identitas. Prinsip Identitas ini diadaptasi dari seorang filsuf Rusia yaitu Immanuel Kant yang secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat berpendapat bahwa di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi dengan keadaan tercapainya A=A. Hal ini seperti yang pernah dikatakan Pak Marsigit dalam perkuliahan bahwa nasib orang pasti berbeda. Jika nasib setiap orang sama, itu berarti malaikat dan tidak ada kehidupan. Jangankan nasibnya, orang-orang juga berbeda-beda. Tidak ada yang sama di dunia ini termasuk manusia. Hal ini adalah urusan dunia. Jika ditarik garis horisontal, maka diatas garis adalah urusan langit dan di bawah garis adalah urusan dunia. Ketika turun ke dunia, tidak ada yang sama. Bahkan A tidak sama dengan A. Jika A = A maka salah karena di dunia kenyataan dan pasti ada dua A yaitu A yang di kiri dan ada A yang di kanan. A yang kiri bisa di depan pintu dan A bisa di depan jendela dan perlakuannya beda. Marsigit juga berbeda dengan Marsigit yang lainnya karena itu urusan dunia. Marsigit = Marsigit hanyalah berupa pikiran
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  2. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Dalam artikel tersebut saya bisa simpulkan bahwa filsafat itu adalah olah pikir kita yang sifatnya ada dan mungkin ada. Yang objeknya bisa berada diluar pikiran kita dan bisa berada di dalam pikikran kita. Objek filsafat yang ada dalam pikiran kita adalah konsep. Terjadinya konsep terdiri dari 2 macam, yang pertama konsep terjadi tidak dengan permulaan/landasan, yang kedua terjadinya dengan permulaan/landasan. Seseorang yang membangun konsep dengan menetapkan awalan/suatu pondamen bisa dikatakan bahwa dia termasuk pengikut filsafat foundationalisme, dan orang yang hidupnya atau dalam membangun konsep tidak dengan menetapkan awalan maka dia termasuk aliran filsafat anti-foundationalisme/ intutionisme yang artinya kita mempunyai konsep atau pengetahuan tersebut, namun kita tidak meunentukan kapan dan dimana mulai mengerti. Contohnya kita mengerti arti cinta dan sayang. Namun, kita tidak dapat menunjukan kapan dan dimana kita mulai mengerti arti kata tersebut.

    ReplyDelete
  3. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Terimakasih untuk pemaparan materi kuliahnya, sangat membantu kami untuk memahami kembali pemaparan yang pernah disampaikan di kelas. Filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Menurut Immanuel Kant, pengalaman di luar pikiran berkaitan dengan kemmapuan seseorang untuk mengindra melalui persepsinya, sehingga diperoleh imaginasi dan sensasi. Pengalaman terjadi melalui proses pengenalan, menghasilkan, dan mengembangkan. Seseorang mulai mengenali hal-hal yang sebelumnya tidak ia ketahui. Selanjutnya ia menghasilkan sebuah pemikiran dari hal-hal yang telah ia jumpai. Ia mengaitkan pola-pola, sifat, dan karakteristik dari sesuatu yang ia dapatkan. Kemudian ia mengembangkan hal-hal tersebut menjadi sebuah pengetahuan baru. Berdasarkan pengalaman tersebut, pengetahuan-pengetahuan yang ia dapatkan dan ia bentuk menjadi pengetahuan yang berharga dan bermakna. Yang mana pengalaman tersebut akan terus bertambah dari waktu ke waktu yang telah dan akan ia lalui kedepannya.

    ReplyDelete
  4. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Filsafat ada dalam diri kita sendiri melalui pikiran yang ada dalam diri kita. Pikiran tersebut adalah obyek filsafat yang meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Segala yang ada dan yang mungkin ada tersebut bersifat infinitif yang tak berhingga banyaknya. Kita juga tidak dapat mengerti semua pikiran yang ada diluar diri kita. Semuanya membutuhkan proses dan usaha dari kita sehingga kita bisa terlebih dahulu membangun pengetahuan yang sudah ada dalam diri kita dan mengembangkannya menjadi lebih berkualitas lagi.

    ReplyDelete
  5. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Dari postingan tersebut, saya belajar bahwa filsafat itu berfikir. Dengan berfikir akan memunculkan kontradiksi atau tesis dan anti tesis. Karena sesungguhnya kontradiksi adalah awal dari ilmu. Jika kita ingin berilmu maka kita persiapkan pikiran dalam keadaan kontradiksi tetapi jangan membiarkan hati juga ikut berkontradiksi, karena kontradiksi dalam hati adalah setan.

    ReplyDelete
  6. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Selain itu, berdasarkan postingan tersebut, proses belajar mengajar yang melibatkan kegiatan diskusi kelompok yang digunakan sebagai sarana untuk membangun matematika intuitif yang berkegiatan social sama dengan teori yang dikembangkan oleh Vygotsky bahwa proses belajar berlangsung karena ada interaksi social. Interaksi social terjadi karena ada komunikasi dengan medianya, salah satunya adalah Bahasa.

    ReplyDelete
  7. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Jika kita membicarakan tentang filsafat tentu ada banyak hal, karena berfilsafat adalah berpikir. Sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran kita. Seperti yang bapak ungkapkan di atas bahwa "Mari kita selidiki kembali perihal objek yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Objek yang berada di dalam pikiran antara lain memunyai sifat berpotensi sebagai unsur-unsurnya logika, rasio atau pikiran.Mereka yang mengagungkan Pengalaman tetapi meremehkan logika atau pikiran, disebut sebagai kaum Empiricism. Tokoh Rasionalisme adalah Rene Descartes dan tokoh Empirisisme adalah David Hume. Bagi Rasionalisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika tidak berdasar atau berlandasan pada Rasio." Rasio dan pengalaman tentu adalah dua hal yang berbeda namun saling berhubungan. Suatu logika akan didapatkan dari suatu pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya. Entah itu pengalaman sendiri, pengalaman orang lain atau hanya sekedar mendengar cerita fiksi orang lain. Sehingga objek filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  8. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berdasarkan bacaan di atas, membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat dapat dilakukan dengan mengidentifikasi sifat-sifat dari yang ada dan yang mungkin ada secara filsafati. Olah pikir terhadap objek filsafat tersebut dilakukan secara intensif dan ekstensif. Proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan terjadi di dalam pikiran kita masing-masing. Sementara itu, objek pikir filsafat bisa ada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Bila objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tersebut kepada orang lain dan bila objek pikir ada di luar pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana cara kita mengetahuinya. Jika kita mampu menjawab kedua persoalan tersebut maka kita akan mampu membangun ilmu atau ilmu pengetahuan. Tetapi yang terjadi adalah tiadalah manusia di dunia ini yang mampu menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna.

    ReplyDelete
  9. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Matematika sekolah didefinisikan sebagai kegiatan sosial. Kegiatan sosial adalah interaksi antara satu siswa dengan siswa lainnya. Dengan demikian, maka, ada diskusi kelompok dan juga kegiatan lain yang berusaha untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.

    ReplyDelete
  10. Muhammad Fendrik
    18706261001
    S3 Dikdas 2018
    Assalamu'alaikum Wr Wb.
    Menurut hemat saya tentang teori Prof Marsigit tentang bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan yaitu dalam proses belajar anak adalah dengan memberi kesempatan kepada anak untuk mengemukakan gagasan yang lahir dari pikirannya dengan bahasa sendiri agar dapat berpikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk perkembangannya dari pengetahuan dan pengalaman anak selama berkomunikasi dengan lingkungannya.

    ReplyDelete
  11. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Filsafat merupakan pikiran. Berfilsafat berarti berpikir. Apa yang ada dan mungkin ada dalam pikiran kita adalah buah dari filsafat itu sendiri. Membagikan apa yang ada dan mungkin ada dalam pikiran serta menerima apa yang ada dan mungkin ada diluar pikiran adalah filsafat berpikir itu sendiri. Hal ini dapat diartikan sama dengan membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Artinya membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan adalah proses berpikir itu sendiri. Bagaimana cara kita memikirkannya, memahami, dan mengimplementasikan pengetahuan dan ilmu pengetahuan tersebut berarti kita mencoba membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan tersebut. Terima kasih.

    ReplyDelete
  12. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Dalam artikel di atas, pengetahuan mencakup hal yang ada dan mungkin ada. Menurut Prof. marsigit kita dapat membangun ilmu pengetahuan dengan memikirkan sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sehingga ketika kita telah memikirkan apa yang ada maupun yang mungkin ada untuk mengetahui dan menyimpannya dalam pikiran kita, maka ilmu pengetahuan tersebut telah kita bangun sendiri. Upaya yang dapat kita lakukan untuk meningkatkannya yaitu dengan Baca, baca dan baca. Baca di sini dapat berarti luas, membaca keadaan, menterjemahkan lingkungan sekitar yang sesuai ruang dan waktu. Filsafat seolah mengajak kita untuk berpikir bagaiamana cara berpikir yang benar dan baik menurut ruang dan waktu dengan hati yang tulus dan ikhlas untuk menggapai ridhoNya

    ReplyDelete
  13. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Menurut Immanuel Kant pengetahuan diperoleh dari suatu pengalaman. Melalui pengalaman yang terbentuk, pada anak-anak hal tersebut menjadi sebuah intuisi, sedangkan bagi orang dewasa berupa pengetahuan konseptual. Pengetahuan konseptual menurut saya lebih mengarah kepada matematika murni. Tetapi disadari atau tidak pengetahuan konseptual juga menghadirkan adanya suatu intuisi. Jadi, intuisi itu menjadi dasar terbentuknya suatu pengetahuan walaupun memiliki konteks yang berbeda jika dikaitkan dengan anak-anak dan orang dewasa. Saya setuju dengan Prof bahwa semakin dewasa seseorang maka intuisinya semakin meningkat. Mengapa? Karena pengalaman-pengalaman yang ia lalui sudah banyak.

    ReplyDelete
  14. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Sebuah teori yang hanya digambarkan dalam sebuah sketsa saja akan sulit untuk dipahami tanpa adanya keterangan lebih lanjut. Sama halnya dengan mengajarkan matematika, jika hanya disajikan simbol-simbol saja siswa akan merasa kesulitan dalam memahami. Perlu adanya penjelasa-penjelasan dari guru sehingga siswa bisa mengetahui dan memahami makna simbol tersebut sehingga bisa lebih mudah dalam mempelajarinya. Hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak saja, namun juga bisa terjadi pada semua orang. Baik adanya penjelasan secara visual dan verbal sehingga lebih mudah dalam memaknainya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  15. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Ada beberapa persoalan yang diakibatkan oleh objek pikir. Jika objek pikir ada di dalam pikiran maka persoalannya yitu bagaimana kita mampu mejelaskan kepada orang lain sedangkan jika objek pikir ada di luar pikiran maka bagaimana cara mengetahuinya. Pertanyaan ini merupakan dasar untuk membangun ilmu. akan tetapi tiadalah orang yang bisa menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna. Mereka hanya menjawab sebagian saja. itu merupakan sifat manusia yang tidak akan bisa menjawab dengan tuntas absolut dan sempurna karena sesungguhnya kesempurnaan itu adalah milik Allah SWT.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  16. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Sebuah pengetahuan dan pengalaman merupakan dua proses yang saling mensinergikan dan saling mempengaruhi. Perjalanan sebuah pengalaman harus didasar oleh pengetahuan. Begitu juga pengetahuan, dapat didapatkan juga melalui pengalaman. Sebuah proses pengalaman selalu memberikan pengetahuan, entah berupa murni pengetahuan saja, atau sudah masuk pada jajaran ilmu pengetahuan. Ini juga yang menjadi acuan pembeda proses pengalaman manusia dengan makhluk hidup lainnya. Pengalaman manusia akan dimulai dengan ilmu pengetahuan dan diakhiri juga dengan mendapatkan ilmu pengetahuan yang baru.

    ReplyDelete
  17. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Saya tertarik dan setuju dengan pernyataan "kita memeroleh Pengalaman juga dengan Pengalaman, dan menghasilkan Pengalaman juga dengan Pengalaman". Pengalama adalah guru terbaik karena dengan pengalaman manusia benar-benar paham apa yang tela terjadi. Jadi, jagan terpuruk dengan pengalaman yang dianggap buruk dan jangan angkuh dengan engalaman yang dianggap teguh. Nikmati setiap aktivitas dan jadikan pengalaman untuk perbaikan di lain waktu.

    ReplyDelete
  18. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Belajar filsafat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Dari yang ada masih juga memungkinkan untuk muncul hal-hal yang mungkin ada. Dari hal-hal tersebut muncul Identitas dan Kontradiksi. Pada dasarnya identitas hanya ada dalam pikir kita. Aku adalah aku, kamu adalah kamu, dia adalah dia. Namun ketika sekarang aku memikirkan aku maka aku sudah berbeda dari aku yang dulu. Oleh karena itu muncul lah kontradiksi, yaitu subyek tidak sama dengan predikatnya.

    ReplyDelete
  19. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Membangun pengetahuan filsafat dengan mempelajari filsafat itu sendiri. Filsafat merupakan kegiatan olah pikir yang mampu memberikan pemikiran dalam pikiran kita. Setiap objek pikir yang di olah dengan filsafat akan terjawab dengan olah pikir. Selain itu pengalaman merupakan salah satu hal yang dapat membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Pengalaman memiliki sifat yang tahan lama berada dalam pikiran kita, karena pengalaman merupakan fakta, fakta adanya, fakta terjadi dan fakta nyatanya. Sesungguhnya manusia memiliki keterbatasan dalam membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Hanya kehendak Allah SWT dan Pertolongan-Nya lah sesuatu bisa terjadi.

    ReplyDelete
  20. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Dalam tulisan tersebut pada bagian ke satu dijelaskan bahwa untuk membangun ilmu pengetahuan, kita harus mampu menjawab dua persoalan pertama dalam filsafat berpikir. Persoalan pertama yaitu “jika objek pikir ada didalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain” dan persoalan kedua adalah “ jika objek pikir ada diluar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya”. Namun, yang terjadi hingga saat ini adalah tidak ada manusia yang mampu menjawab pertanyaan tersebut secara tuntas absolut dan sempurna. Manusia senantiasa selalu mencoba berusaha menggapainya. Itulah sebabnya mengapa sebenar-benar manusia itu belum mencapai ilmu pengetahuan, yang sekarang terjadi hanya berusaha untuk menggapainya. Itulah kodratnya seorang manusia, sempurna dalam ketidaksempurnaanya, dan tugasnya dalah senantiasa berusaha dan berusaha.

    ReplyDelete
  21. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Pada bagian ke dua dijelaskan jika objek pikir ada didalam pikiran kita maka ia akan bersifat tetap, absolut, tunggal, formal, sempurna, ideal, abstrak, tidak terikat oleh ruang dan waktu dan sifat-sifat lain pada umumnya yang berada di dalam pikiran. Sedangkan jika objek pikir tersebut ada diluar pikiran kita maka ia akan bersifat relatif, berubah, plural, tidak sempurna, tidak ideal, nyata, terikat ruang dan waktu, dan sifat-sifat lain pada umumnya yang beradaa di luar pikiran. Dalam bagian kedua pada artikel tersebut juga dikatakan bahwa objek filsafat yang yang berada di dalam pikiran berupa konsep. Dan ada dua macam awal terjadinya konsep, yang pertama terjadi dengan permulaan/landasan dan yang kedua terjadi tidak dengan permulaan atau landasan. Dari asal terbentuknya konsep tersebutlah melahirkan aliran-aliran filsafat lain setelahnya. Berawal dari dua pertanyaan pertama yang ada pada bagian pertama menimbulkan pemikiran-pemikiran lain yang merupakan wujud dari usaha menjawab pertanyaan tersebut. Sebelum pertanyaan tersebut terjawab ada banyak pimikiran-pemikiran yang lahir dari proses menjawab dan kemudia pemikiran-pemikiran tersebut menjelma menjadi ilmu pengetahuan, namun yang demekian itu bukan sebenar-benar pengetahuan jika pertanyaan pertama belum terjawab. Maka semakin kuatlah, bahwa sebenar-benar manusia hanya berusaha mencoba meraih ilmu pengetahuan karena manusia sempurna dalam ketidaksempurnaannya.

    ReplyDelete
  22. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Pada tulisan tersebut diatas pada bagian tiga dan empat mejelaskan tentang analitik a-priori dan sintetik a-posteriori. Berdasarkan teori Immanuel Kant berpikir sintetik merupakan berpikir yang berlandaskan pengalaman atau fenomena-fenomena yang terjadi diluar pemikiran. Sehingga dapat dikatakan bahwa berpikir analitik merupakan berpikir yang berlandaskan sesuatu yang ada didalam pikiran. Kita dapat membedakan antara orang dewasa dengan anak kecil berdasarkan proses berpikirnya. Anak kecil dan kucing menggunakan proses berpikir sintetik a-posteriori, karena mereka tidak menggunakan pikiran sebelum memahami sesuatu, ia baru memahami sesuatu setelah melihat sesuatu tersebut atau berdasarkan atas pengalaman. Sedangkan orang dewasa menggunakan proses berpikir analitik a-priori, karena mereka tidak memerlukan pengalaman untuk memahami sesuatu, jika sesuatu tersebut logis menurut hasil pemikirannya maka ia dapat memahaminya, meskipun tak dapat dapat dipungkiri jika orang dewasa juga terkadang memerlukan pengalaman untuk menguatkan keyakinannya atas pemahaman tersebut. Oleh karena anak kecil menggunakan sintetik a-posteriori maka diberikanlah matematika sekolah untuk anak kecil. Dimana matemtika sekolah adalah matematika yang berada diluar pikiran atau matematika kongkret. Namun, yang masih saya bingungkan adalah bukankan disekolah diajarkan bahwa 1+2=3, padahal untuk menghasilkan 1 ditambah 2 adalah 3 merupakan angka 1 dan 2 yang ada didalam pikiran yang terbebas atau tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sedangkan semakin tinggi dimensi pikiran seseorang maka ia dapat mengatakan bahwa 1 dan 2 tidak selamanya benar 3, karena 1 dan 2 yang berada diluar pikiran dan terikat oleh ruang dan waktu. Bukankah kontradiksi, matematika disekolah adalah matematika yang berada diluar pikiran dan kongkret, sedangkan ilmu yang diajarkan adalah ilmu yang ada didalam pikiran seperti kasus 1+2 tadi yang jawabannya terbebas dari ruang dan waktu. Atau mungkin antara proses belajar dan ilmu pengetahuan yang diberikan merupakan sesuatu yang terpisah. Jika proses pembelajaran matematika sekolah itu berdasarkan proses berpikir yang dilakukan anak kecil yaitu a-posteriori sedangkan ilmu yang diajarkan berdasarkan atas ilmu yang berada didalam pikiran atau apriori. Lantas apakah pertanyaannya sudah terjawab, apakan jawabannya adalah ilmu pengetahuan atau objek pikir berada didalam pikiran?

    ReplyDelete
  23. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Pada bagian kelima yang menjadi pokok pembahasan adalah bahwa ternyata sebuah pengalaman juga berasal dari pengalaman dan menghasilkan pengalaman juga dengan pengalaman. Sebuah lingkaran setan tersebut dapat terjadi itulah sebenar-benar intuisi. Dan pengalaman selalu terikat oleh intuisi ruang dan waktu. Pada bagian keenam dijelaskan bahwa Immanuel Kant membagi pengetahuan menjadi dua yaitu pengetahuan konseptual dan pengetahuan intuitif. Pengetahuan konseptual itu banyak dimilii oleh orang dewasa dan pengetahuan yang dimiliki anak kecil lebih banyak bersifat intuitif. Kemudian Bapak menyebutkan bahwa semakin tua seseorang pengetahuan intuitifnya semakin berkembang. Bukankan sejak kecil kebanyakan pengetahuan mereka bersifat intuitif? Lantas mengapa dikatakan semakin tua maka kemampuan intuitifnya semakin berkembang?
    Pada kalimat terakhir disebutkan bahwa berpikir, berrasional, berlogika, pun sebenarnya merupakan pengalaman. Sungguh menarik, padahal berpikir, berrasional, berlogika itu adanya didalam pikiran sedangkan pengalaman berada diluar pikiran. Hal tersebut berarti bahwa baik yang ada diluar maupun didalam pikiran adalah saling berkaitan satu sama lain.

    ReplyDelete
  24. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Pada bagian pertama, dapat kita ketahui bahwasanya secara filsafat untuk membangun pengetahuan dimulai dengan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Di mana setiap yang ada mempunyai dua prinsip yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiksi yang selalu terikat oleh ruang dan waktu. Kemudian setiap yang ada dan mungkin ada memiliki sifat-sifat yang dapat dilihat berdasarkan objek pikirnya. Maka untuk membangun pengetahuan, kita harus mengetahui objek pikir yang ada di dalam dan di luar pikiran kita.

    ReplyDelete
  25. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Pada bagian kedua, objek pikir yang ada di dalam dan di luar pikiran kita memiliki beberapa sifat yang saling kontradiksi. Kemudian objek yang terdapat dalam pikiran kita itulah yang disebut dengan konsep. Konsep yang dibentuk terjadi karena dengan permulaan/landasan. Dan untuk membangun sebuah konsep maka diperlukan pengetahuan dini dan pengalaman-pengalaman hingga mampu diolah dengan berpikir. Ketika konsep sudah mulai terbentuk maka secara otomatis pengetahuan juga akan terbentuk. Sebaik-baik olah pikir adalah membangun keyakinan yang kuat kepada Allah Ta’ala atau pondasi tauhid. Karena seseorang ketika ingin berbuat harus atas keyakinan diri sebelum melakukan suatu perbuatan.

    ReplyDelete
  26. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Filsafat mencakup tentang a priori dan a posteriori sebagaiaman yang dikatakan oleh Immanuel Kant. Berpikir a priori merupakan suatu kemampuan memikirkan suatu benda atau objek pikir walaupun belum mengalaminya atau belum mengindranya. Dengan keampuan berpikir a priori, maka manusia mampu merencanakan sebuah aktivitas, atau membuat program di masa depan. Misalnya ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri. Itulah kenapa manusia harus mempunyai tujuan, mempunyai cita-cita, dan memikirkan masa depan.

    ReplyDelete
  27. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Filsafat adalah olah piker. Objek filsafat meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Letaknya bisa di dalam pikiran dan di luar pikiran. Untuk obek yang berada di dalam pikiran, maka tantangannya adalah bagaimana menjelaskan hal tersebut kepada orang lain. Sementara untuk objek yang di luar pikiran, tantangannya adalah bagaimana memahami atau memaknai hal tersebut. Proses pembentukan ilmu pengetahuan sangat dipengaruhi oleh rasio dan pengalaman. Oleh Immanuel Kant disebut sebagai analitik a priori dan sintetik a posteriori. Keduanya memiliki andil yang luar biasa dalam memahami bagaimana pembentukan konsep ilmu pengetahuan dalam diri manusia.

    ReplyDelete
  28. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Terimakasih banyak pak atas materi kuliahnya yang disampaikan di blog ini sangat padat dan jelas mewakili semua yang telah bapak ajarkan pada perkuliahan filsafat ilmu. Baik itu tentang objek filsafat dari yang ada dan mungkin ada dan setiap orang mempunyai filsafat sendiri karena filsafat adalah olah pikir manusia. Namun filsafat seseorang tidaklah lepas dari pengalamannya. Karena pengalaman mendukung perkembangan pengetahuan. Sehingga melalui pengalaman dapat mampu mengenali objek, menghasilkan pemikiran, dan mengembangkan olah pikir sehingga terbentuklah sebuah konsep.

    ReplyDelete
  29. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Dari kacamata saya, pengalamanlah yang membuat seseorang menjadi tahu dan hasil tahu ini kemudian disebut pengetahuan. Entah itu pengalaman sendiri atau pengalaman yang dialami orang lain.

    ReplyDelete