Nov 11, 2014

Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan




Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan

Ass Wr Wb

Teori saya ini saya kuliahkan pada beberapa Kelas kuliah Filsafat Ilmu Program S2 Pendidikan Matematika dan Pendidikan dasar

Teori ini juga saya maksudkan untuk Bahan Ujian Akhir Semester.
Nantinya, pertanyaan Pokok/Soal Ujian Filsafat Ilmu (Filsafat Pendidikan Matematika) adalah satu atau beberapa dari berikut:

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Hidup"; atau

"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Ilmu Pengetahuan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Dasar";
"Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Pendidikan Matematika Dasar"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Dunia"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Proses Belajar Mengajar Matematika";
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Ilmu"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Filsafat Pendidikan Matematika"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Metode Berpikir"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Identitas"; atau
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Ada"; atau...dst
...
"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Yang Mungkin Ada"

atau bahkan bisa ditambah:

"
Secara filsafat, bagaimana/bangunlah Kontradiksi"

Sedangkan jawaban dan bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, terangkum atau terurai pada kuliah saya ini berjudul "Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan".


Nantinya, jawaban ujian ditulis dengan tangan pada kertas doble follio dengan sifat Closed-Book (tidak boleh membuka segala media belajar termasuk HP, Buku, Laptop, dst). Mahasiswa diberi kesempatan 1 (satu) minggu untuk menulis ulang/ memerbaiki jawabannya dengan cara di ketik, di kumpulkan prin outnya, dan di upload di blog masing-masing. Itu rencana besok akhir semester, tetapi sudah saya informasikan sekarang agar mahasiswa memersiapkan diri.

Pada kuliah saat ini, mahasiswa saya persilahkan untuk merekam kuliah saya ini, baik menggunakan komputer ataupun HP, dan mengritisi dengan cara menanggapi atau mengajukan pertanyaan. Dengan teknologi On-line, maka secara bersama-sama Dosen dan Mahasiswa dapat melakukan aktivitas secara sinergi. Dosen menulis di kolom Posting, sedangkan Mahasiswa menulisnya di kolom Comment.

Jika dikarenakan suatu perkuliahan tidak menyukupi waktunya, maka kuliah ini akan saya selenggarakan secara simultan atau berkelanjutan dari kelas satu ke kelas berikutnya hingga selesai.

Selamat menyimak dan memelajarinya.

Baiklah langsung saja saya mulai.

Judul perkuliahan ini adalah :


"Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan"

BAGIAN I

Pada Bagian I dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Selasa, 11 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Dasar  Kelas B di R 200A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.10, yang di hadiri oleh 22 mahasiswa.

Saudara, teori saya ini sebetulnya sudah saya gambarkan dalam bentuk sketsa di kelas masing-masing. Namun ternyata saya menilai masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan memahaminya.
Saudara, secara filsafat, membangun pengetahuan dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada pula, maksudnya adalah bahwa sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada itu jumlahnya banyak sekali; tidak cuma banyak tetapi berdimensi kirarkhis, artinya secara intensif ada kualitas 1, 2, 3, 4, …dst; sedangkan secara ekstensif ada kualitas a, b, c, d, …dst. Maka membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat, dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi sifat satu, dua, tiga, atau, empat …dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Karena,yang akan dilakukan adalah membangun ilmu atau ilmu pengetahuan secara filsafat, maka identifikasi dari sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada juga ditinjau secara filsafati. Sifat-sifat filsafati adalah sifat-sifat yang dipikirkan atau pernah dipikirkan atau digunakan atau pernah digunakan oleh para Filsuf. 

Setiap yang ada mempunyai sifat, artinya jika ditinjau dari struktur Bahasa, maka yang ada itu berkedudukan sebagai Subjek atau Objek, sedang semua sifat-sifatnya berkedudukan sebagai Objek atau secara khusus disebut Predikat. Jadi di sini, Objek pun mempunyai Predikat, karena setiap Objek mempunyai sifat. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf bangsa Prusia (abad 15), secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas ialah keadaan tercapainya A=A, atau Aku = Aku, atau I = I …dst. Ternyata, dikarenakan Filsafat itu adalah sensitif terhadap Ruang dan Waktu, maka selama aku di Dunia, aku tidak pernah mengalami keadaan Identitas. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita, atau kalau kita mengandaikan atau kalau kita sudah sampai di akhirat. Di dunia ini memang benar aku tidak dapat mencapai Identitas, karena sebagai contoh belum selesai aku menunjuk diriku, maka dikarenakan ruang dan waktu, diriku yang tadi telah berubah menjadi diriku yang sekarang. Keadaan tidak dapat mencapai Identitas itulah yang kemudian disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu Subjek tidak sama dengan Predikatnya; atau Subjek tidak sama dengan Objeknya; atau tidaklah ada suatu sifat bisa menyamai subjek atau objek yang mempunyai sifat tersebut; atau semua predikat pada hakikatnya termaktub dalam Subjeknya. Misal, Pak Marsigit itu handsome, maka selamanya tidaklah pernah terjadi bahwa Pak Marsigit itu sama dengan handsome. Demikian seterusnya. Ini baru pengantar menuju bagaimana membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, yang ada dan yang mungkin ada yang sedang kita perhatikan sifat-sifatnya, merupakan objek pikir atau benda-benda pikir; mengapa demikian? Karena sebenar-benar filsaat adalah olah pikir. Beberapa sifat yang ada dan yang mungkin ada, atau sifat-sifat dari objek pikir tadi,  yang penting secara filsafati, dikarenakan digunakan oleh para filsuf, meliputi misalnya, dimanakah kedudukan atau lokasi objek pikir? Karena ini filsafat, maka yang dimaksud kedudukan objek pikir aadalah kaitannya dengan pikiran itu sendiri, artinya, dia ada di dalam pikiran atau di luar pikiran? Objek pikir itu bersifat kuantitatif atau kualitatif? Kalau objek pikir bersifat kuantitatif, maka berapa banyak atau jumlahnya. Kalau objek pikir bersifat kualitatif apakah dia berubah atau tetap? Demikian seterusnya. Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara intensif dan ekstensif, maka lahirlah pendapat-pendapat para filsuf; dari pendapat-pendapat para filsuf ini maka lahirlah aliran-aliran filsafat. Terdapat banyak sekali aliran filsafat, sebanyak para filsuf yang memikirkannnya, mulai dari Jaman Yunani Kuno hingga jaman sekarang yaitu Jaman Kontemporer.Immanuel Kant mengatakan jika engkau ingin mengetahui Dunia maka tengoklah ke dalam pikiranmu sendiri, karena sebenar-benar Dunia itu persis sama dengan apa yang engkau pikirkan. Jadi awal dan proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan seperti yang saya uraiakan di atas, bukan terjadi di Yunani Kuno atau di Mesir, atau di Eropa, melainkan dia sebenar-benar terjadi di dalam pikiran kita masing-masing.

Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir. 

Kita akan mampu membangun ilmu dan atau ilmu pengetahuan jika mampu menjawab kedua persoalan tersebut. Tetapi yang terjadi adalah tiadalah manusia di dunia ini yang mampu menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna. Sebenar-benar manusia hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME. Jika objek pikir ada di dalam pikiran, maka dia memunyai sifat-sifat misalnya: tetap, ideal, absolut, tunggal, formal, dst. Keadaan objek yang bersifat tetap itulah kemudian diungkapkan oleh Permenides, selanjutnya dia mengatakan bahwa yang ada dan yang mungkin ada itu sebenar-benarnya bersifat tetap. Maka saya dapat katakan,  ini pula yang dapat dikatakan sebagai filsafat Permenidesianisme. Jika kita memandang objek pikir bersifat absolut, maka lahirlah aliran filsafat Absolutisme, di mana tokohnya adalah Plato. Jika objek pikir bersifat tunggal, maka lahirlah filsafat Monisme. Jika objek pikir bersifat formal, maka lahirlah aliran filsafat Formalisme.


BAGIAN II
Pada Bagian II dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh 23 mahasiswa. 

Marilah kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada yang sebagian sudah kita bahas terdahulu. Sebagian dari sifat-sifat tersebut diambil dari sifat yang dijelaskan oleh Immanuel Kant. 

Jika objek pikir berada di dalam pikira kita, maka kita akan menemukan bahwa dia antara lain bersifat: absolut, bersifat tetap, statis,  bersifat, tunggal, bersifat, formal, bersifat sempurna, bersifat ideal, bersifat abstrak, bersifat immanent, bersifat transenden, bersifat reduksionisme, bersifat analitik, bersifat a priori, bersifat rigor,bersifat apodiktik, bersifat konseptual, bersifat normatif, bersifat spekulatif, bersifat hypothetical, bersifat imeginer, bersifat rasional, bersifat logis-tak logis, bersifat aksiomatis, bersifat paralogis, bersifat teleologis, bersifat murni, bersifat analog, bersifat deduksi, bersifat dialektik, bersifat Identitas, tidak terikat oleh ruang, tidak terikat oleh waktu. 

Marilah juga kita cermati lebih dalam tentang sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada, yang berada di luar pikiran. Kita dapat menemukan bahwa objek yang berada di luar pikiran memunyai sifat-sifat: relatif, berubah atau tidak tetap, dinamis, plural atau jamak, berfifat tidak sempurna, bersifat tidak ideal, bersifat nyata, berkedudukan sebagai contoh, bersifat sintetik, bersifat a posteriori, bersifat dinamik, diperoleh dari penginderaan, bersifat kontradiksi, bersifat empiris, bersifat sensasi, berlaku hukum sebab-akibat, terikat oleh ruang, terikat oleh waktu, bersifat kontingen, bersifat konkrit.

Objek filsafat yang berada di dalam pikiran berupa konsep, dimana komponen utama dari sebuah konsep adalah Forma/Wadah/Bentuk dan Sustansi/Isi. Kemudian kita dapat menelusuri bagaimana terjadinya atau terbentuknya sebuah konsep. 

Ada 2 (dua) macam terjadinya konsep. Pertama, konsep terjadi tidak dengan permulaan/landasan; kedua, konsep terjadi dengan permulaan/landasan. 

Segala macam bentuk permulaan/landasan misalnya: janji, kesepakatan, konvensi, mou, hasil rapat, ketetapan menteri, keputusan Presiden, Ketetapan DPR, membuat definisi, meletakkan pondamen bangunan, berdoa, langkah pertama, peletakan batu pertama, starting point, sebuah mimpi, di bai'at, di baptis, membaca kalimah syahadat, niat, keadaan tertentu, pandang pertama, kelahiran, kematian, ijab kobul, dst. Maka aku menemukan bahwa yang dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Ternyata saya juga menemukan bahwa yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi awal atau landasan atau pondamen dari yang ada dan yang mungkin ada.Jikalau seseorang membangun konsep dengan menetapkan suatu awal atau suatu landasan atau suatu pondamen, maka sadar atau tidak sadar, dia telah menjadi pengikut filsafat Foundationalisme. Sebenar-benar manusia, hanyalah berusaha menetapkan awalnya atau landasannya atau pondamennya; sebena-benar awal atau awal absolut hanyalah milik Tuhan YME. 

Ternyata, ada orang yang hidupnya atau yang di dalam membangun konsepnya tidaklah demikian, yaitu tidak dengan cara menetapka awal/landasan/pondamen. Mengapa dan kapan? Yaitu ketika orang tersebut memunyai konsep atau memunyai pengetahuan, tetapi dia tidak dapat menentukan kapan dan di mana dia mulai mengerti. Misalnya kita yang mengerti tentang arti: cinta, sehat, sayang, sakit, besar, kecil, jauh, dekat, senang, sedih, baik, buruk, rindu, benci, ...dst, maka kita tidak dapat menjunjukkan kapan dan di mana kita mulai mengerti pengertian-pengertian tersebut. Ternyata kita memunyai ada banyak sekali pengertian-pengertian yang memunyai sifat tidak memunyai awal/landasan/pondamen. Kita yang menyadarinya hal tersebut kemudian mengakuinya maka sadar atau tidak sadar kita termasuk ke dalam orang-orang yang Anti-foundationalisme. Tokoh dari filsafat Anti-foundationalisme adalah Brouwer; selanjutnya disebut juga sebagai aliran Intuitionisme.  

 Jelaslah  bahwa sebagian besar hidup kita masih di dominasi dan masih menggunakan pengetahuan intuitif. Terlebih-lebih anak kecil atau orang yang masih muda; maka sebagian hidupnya menggunakan pengetahuan intuitif. Ekstrimnya, untuk anak kecil di bawah umur 3 tahun, maka sebagian dari mereka tidak dapat mengerti tentang pengetahuannya. Secara filsafat, jika seseorang bekerja atau bertindak tanpa dimengerti apa yang dimaksud dengan tindakannya, maka orang tersebut bertindak berdasarkan Mitos. Maka sebenar-benar pengertian adalah Logos. Namun kita mendapatkan bahwa Mitos pun bermanfaat bagi anak kecil untuk memelajari segala sesuatu; sedangkan kita sebagai orang dewasapun tidak dapat sepenuhnya terbebas dari Mitos. Namun pada tataran tertentu ketika sampai batas keyakinan, kita tidak dapat mengatakan suatu pengertian yang tidak dimengerti sebagai Mitos melainkan karena dia adalah sebuah Keyakinan. 

Dari pembicaraan saya di atas, dapat saya simpulkan bahwa berpikir forndationalisme aka menghasilkan salah satu bentuknya adalah berpikir formal; yang mana kita akan menemukan aliran Formalisme. Secara khusus, aliran filsafat Formalisme berusaha membangun pengetahuan secara deduksi, yang dimulai dengan landasan menetapkan Definisi-definisi, kemudian membuat Aksioma dan Teorema, serta membangun strukturnya dengan berusaha tidak melakukan inkonsistensi. Itulah yang dilakukan oleh para Matematikawan. Dengan demikian jelaslah, bahwa Matematika Murni merupakan ilmu yang bersifat Deduksi yang umumnya dipelajari oleh orang dewasa, atau oleh para mahasiswa di Perguruan tinggi atau oleh para Matematikawan. Dikarenakan domain dari Matematika Murni adalah untuk orang dewasa, maka untuk anak kecil diperlukan pendekatan yaitu mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu yang berfondational, tetapi matematika sebagai pengetahuan intuitif. Matematika sebagai pengetahuan intuitif itulah kemudian ditemukan sebagai Matematika Sekolah. Kemudian Matematika Sekolah didefinisikan sebagai Kegiatan Sosial; oleh karena itulah maka di dalam setiap proses belajar mengajar, diperlukan diskusi kelompok sebagai sarana untuk membangun matematika intuitif yang bersifat kegiatan sosial.

BAGIAN III


Pada Bagian III dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Kamis, 13 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM B di R 201 A Pasca Lama pk 09.30 sd 11.10, yang di hadiri oleh  24 mahasiswa.

Mari kita selidiki kembali perihal objek yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Objek yang berada di dalam pikiran antara lain memunyai sifat berpotensi sebagai unsur-unsurnya logika, rasio atau pikiran. Sekali lagi, bagi mereka yang mengagungka rasio tetapi meremehkan pengalaman, maka dia menganut aliran filsafat Rasionalisme. Sebaliknya objek yang ada di luar pikiran, mereka itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada termasuk Pengalaman  atau benda-benda. Mereka yang mengagungka Pengalaman tetapi meremehkan logika atau pikiran, disebut sebagai kaum Empiricism. Tokoh Rasionalisme adalah Rene Descartes dan tokoh Empirisisme adalah David Hume. Bagi Rasionalisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika tidak berdasar atau berlandasan pada Rasio. bagi Empirisisme, maka tiadalah sebenar-benar ilmu jika dia tidak berdasar atau berlandaskan pada Pengalaman. 

Apakah yang sebenarnya terjadi para diri kita?

Marilah kita bereksperimen dengan cara menyimulasikan 2 (dua) keadaan yaitu:
Pertama, seaolah-olah kita hanya memunyai Rasio tetapi tidak memunyai Pengalaman. Apakah yang kemudian terjadi? Yang terjadi adalah pikiran manusia yang melayang dan mengembara yang terlepas dari dunia nyata; atau diperolehnya kesimpulan tetapi bersifat hypothetical, yaitu baru merupakan anggapan awal yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Misal mengapa seseorang merasa takut kepada sesuatu padahal dia sebetulnya belum pernah punya pengalaman melihat, bertemu atau berinteraksi, misal takut dengan Buaya Sungai Nil. Maka orang tersebut bersikap atau bertindak berdasarkan pengetahuan Rasionalitas, tetapi tidak berdasarkan Pengalaman. Maka yang dia dapat barulah separoh dari kebenaran atau separuh dari ilmunya. 

Eksperimen kedua, marilah kita menyimulasikan seolah-olah kita mempunyai banyak pengalaman tetapi kita enggan memikirkannya. Atau secara ekstrim, kita menjalani hidup dengan penuh dan hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi kita tidak menggunakan logika atau pikiran kita. Misal, yang terjadi pada seekor Kucing peliharaan kita. Jika sehari suntuk kita ajak Kucing kita pergi piknik ke Gunung Bromo misalnya, maka silahkan tanyakan kepada Kucing anda, bagaimana kesan-kesan atau pengalaman piknik ke Gunung Bromo?. Maka serta merta anda pun akan kecewa kepada Kucing anda, karena Kucing anda tidak mampu menggunakan logika atau pikirannya untuk menyeritakan pengalamannya. Kucing itulah sebagai contoh ekstrim, dimana ada suatu fenomena kehidupan yang hanya mengandalkan Pengalaman tetapi tidak menggunakan Pikiran. Maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar Ilmu adalah Pengalaman yang Dipikirkan; atau sebenar-benar Ilmu adalah Pikiran yang di laksanakan atau diterapkan atau diimplementasikan. 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka menurut Immanuel Kant, sebenar-benar ilmu adalah gabungan atau perpaduan antara Rasionalisme dan Empirisisme. Marilah kemudian kita selidiki, apakah atau bagaimanakah sifat-sifat Rasio atau Pikiran dan Sifat-sifat Pengalaman itu? 

Lagi, menurut Immanuel Kant, bahwa ciri-ciri dari Rasio atau Logika adalah: dia bersifat analitik, dia bersifat a priori, dia bersifat formal, dia bersifat aksiomatis, dia bersifat logis, dia bersifat tunggal atau Identitas, kebenarannya berdasar pada koherensinya atau kekonsistensiannya. Sedangkan Pengalaman, bersifat sintetik, ia posteriori, bersifat kontradiksi, dst. Ambillah dua sifat yang penting, yaitu Sifat  rasio sebagai analitik a prori; dan sifat Pengalaman sebagai sintetik a posteriori. Setelah itu cobalah kita berusaha mengerti apa yang dimaksud dan kenapa logika kita bersifat analitik a priori? Dan kenapa pengalaman kita bersifat sintetik a posteriori?

Menurut saya, yang dimaksud sifat analitik di dalam logika adalah terjadinya atau diperolehnya suatu konsep atau beberapa konsep di dalam pikiran sebagai akibat logis dari adanya aktivitas berpikir. Aktivitas berpikir yang seperti apa yang menghasilkan sifat analitik tersebut? Secara filsafati, atau secara ontologis, atau secara hakikinya, kegiatan berpikir adalah mengidentifikasi tesis-tesis, kemudian mencari atau membuat anti-anti tesis, dan kemudian melakukan sintesis-sisntesis berdasarkan tesis-tesis dan anti-anti tesisnya. Apakah kemudian yang disebut sebagai tesis dan anti-tesis itu? Jika aku adalah tesis, maka anti-tesisnya adalah selain aku. Jika anda adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan anda. Jika Pak Marsigit adalah tesis maka anti-tesisnya adalah bukan Pak Marsigit. Jika A adalah tesisnya maka anti-tesisnya adalah bukan A. Padahal bukan A meliputi yang ada dan yang mungkin ada zonder atau dikurang A. Itulah sebabnya mengapa berfilsafat perlu sebuah konteks atau sebenar-benar filsafat dapat ditaruh di depan yang ada dan yang mungkin ada. 


Selanjutnya apakah yang disebut sebagai berpikir a priori itu? Secara awam, berpikir a priori adalah mampu memikirkan suatu benda atau objek pikir walaupun belum mengalaminya atau belum mengindranya. Itulah sebabnya, dengan keampuan berpikir a priori, maka manusia mampu merencanakan sebuah aktivitas, atau program atau projek, atau membuat proposal untuk memeroleh suatu keadaan di masa depan. Misalnya ingin mendaratkan kapal ruang angkasa di sebuah komet. Itulah juga maka manusia memunyai tujuan, memunyai cita-cita, dan memikirkan masa depan. kemampuan untuk memikirkan masa depan itulah yang menurut Immanuel Kant, kemudian disebut sebagai Teleologi. 


Coba pikirkan bagaimana jadinya jika berpikir analitik bertemu atau digabungkan dengan berpikir a priori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir analitik itu akan berkemistri dengan berpikir a priori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a priori hanya diperoleh dengan keadaan analitik; dan keadaan analitik dapat disuburkan oleh kemampuan a priori. Analitik dan a priori berkenaan dengan proses berkembangnya dan dihasilkannya ide-ide atau konsep-konsep atau tesis-tesis dan anti-tesisnya. Proses analitik untuk menghasilkan ide atau konsep baru itu bersesuaian dengan prinsip-prinsip atau metode berpikir misalnya: deduksi, induksi, sebab-akibat, benar-salah, urutan, membandingkan, membedakan, mengelompokkan, menghubungkan atau relasi, mengoperasikan, menjumlahkan, mengurangkan, membagi, mangalikan, dst.


BAGIAN IV


Pada Bagian IV dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM C di R 201 A Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, yang di hadiri oleh  22 mahasiswa.

Telaah dari proses berpikir analitik a priori kita lanjutkan, misalnya untuk melihat apa yang terjadi pada proses pemahaman tentang konsep-konsep matematika atau bilangan, atau geometri dan relasi serta operasi-operasinya. Misal bagaimana kejadiannya peristiwa penjumlahan dua bilangan misal 7 ditambah 5, atau ditulis 7 + 5. Dalam ranah objek di dalam pikiran maka semua objek bersifat sempurna dan tunggal; tidaklah ada bilangan 7 selain 7, juga tidak ada bilangan 5 selain 5, tetapi di dalam matematika yang dimaksud dengan ketunggalan bilangan 7 ataupun 5, masing-masing adalah tentang nilainya. Maka dikarenakan objeknya ada di dalam pikiran, maka operasi penjumlahan juga terjadi di dalam pikiran. Secara intuitif maupun secara formal, proses analitik dari  7 + 5 menghasilkan bilangan lain yang nilainya adalah 12, jika tidak dibatasi dengan ketentuan-ketentuan lain, misalnya oleh basis bilangan. Maka bilangan 12 dapat diperoleh atau dapat dianggap diperoleh dengan cara a priori, karena dia muncul sebagai hasil dari operasi penjumlahan di mana di dalamnya belum terlihat bilangan 12 itu sendiri. 

Eksperimen dilanjutkan, yaitu kita ingin menyelidiki apa yang terjadi pada peristiwa berpikir sintetik a posteriori. Menurut saya, berdasarkan dari teori Kant, berpikir sintetik adalah proses berpikir yang berlandaskan pengalaman atau fenomena-fenomena di luar pikiran yang memunyai sifat adanya hukum sebab-akibat (walaupun hukum ini pernah di pertanyakan oleh David Hume). Maka proses berpikir sintetik sejalan dengan adanya sifat-sifat satu, dua, atau lebih fenomena-fenomena di luar pikiran serta hubungan dan atau interaksinya. Hubungan atau interaksi dari objek di luar pikiran ditentukan oleh jenis sifat-sifat yang melekat pada diri Subjek dan Objeknya. Hubungan antara sifat-sifat tersebut bersifat plural, atau tidak tunggal dan tidak sempurna; artinya hubungan antara objek-objek pikir di luar pikiran tidaklah mampu mencapai keadaan Identitas; keadaan yang demikianlah yang disebut sebagai keadaan Kontradiksi, yaitu bahwa Predikat telah, sedang dan akan selalu termuat di dalam Subjeknya. Proses berpikir sintesis adalah proses interaksi antara objek-objek di luar pikiran yang menghasilkan sifat-sifat baru sebagai objek baru dari pikiran. Marilah kita lihat contohnya, apa yang terjadi pada proses berpikir sintetik untuk penjumlahan bilangan 7 + 5. Karena objek diluar pikiran terikat oleh ruang dan waktu, maka dia mempunyai makna plural. Maka bilangan 7 diluar pikiran juga memunyai makna plural, misalnya bilangan 7 yang: berwarna biru, berwarna merah, bagus, besar, kecil, kurus, gemuk, murah, wangi, indah, sakral, jauh,dekat, lembut, romantis, kejam,sebagai subjek, sebagai objek ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Demikian jika sifat objek pikir bilangan 5 diluar pikiran, dan objek-objek yang lain. Kita dapat memikirkan bilangan di luar pikiran sebagai subjek dari buku, pulpen,hp, gelas, ..dst meliputi subjek dari yang ada dan yang mungkin ada, misal 7 buah apel, 5 butir telur, dst.... Kita dapat menentukan atau mencari sifat-sifat tersebut secara intensif dan ekstensif. Jadi pada peristiwa 7 + 5 untuk 7 dan 5 adalah objek pikir yang berada di luar pikiran, menghasilkan fenomena secara plural; misal 7 buku + 5 telur, 7 pensil + 5 penghapus, 7 baju + 5 topi, 7 gelas + 5 sendok, ...dst meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Maka di sini, tiadalah tempat bagi bilangan 12 yang mampu menjawab semua fenomena yang dihasilkan oleh penjumlahan 7 + 5 tersebut.


Sedangkan yang dimaksud dengan berpikir a posteriori, adalah memikirkan objek-objek di luar pikiran setelah mengindranya. Seekor kucing akan menggerakan ekornya ketika melihat tikus yang lewat; itu pertanda kemampuan kucing untuk berpikir setara dengan berpikir a posteriori. Kebanyakan fenomena berpikir a posteriori juga terdapat pada anak kecil. Kemudian, apakah jadinya jika proses berpikir sintetik digabung dengan proses berpikir a posteriori. Keadaannya seperti kepala dengan ekor, atau seperti tonggak dengan pucuk; sebenar-benar berpikir sintetik itu akan berkemistri dengan berpikir a posteriori. Berkemistri artinya mereka berdua adalah sebangasa dan setanah air. Keadaan a posteriori diperoleh karena keadaan sintetik; dan keadaan sintetik dapat disuburkan oleh kemampuan a posteriori. Maka fenomena seekor tikus yang lewat, akan memunyai makna yang berbeda bagi orang dan kucing yang sama-sama menyaksikannya. Jangankan antara orang dan tikus, sedangkan antara orang yang satu dengan orang yang lain pun memunyai makna yang berbeda-beda. Jangankan antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedang di dalam diri sendiri saja untuk ruang dan waktu yang berbeda akan memunyai makna yang berbeda.



Dikarenakan anak kecil sebagian baru sampai pada kemampuan memikirkan objek-objek di luar pikiran, maka pikiran yang berbeda, jawaban yang berbeda, tulisan yang berbeda, pakaian yang berbeda, makanan yang berbeda, kesukaan yang berbeda, ritme aktivitas yang berbeda, perhatian yang berbeda, perasaan yang berbeda, dst ...meliputi yang ada dan yang mungkin ada yang berbeda, adalah sunatullah atau kodratnya atau dunianya. Itulah mestinya, matematika untuk anak kecil adalah matematika yang berada di luar pikiran, atau matematika konkret. Wujud dari berpikir sintetik adalah interaksi sosial. Itulah sebabnya mengapa dikenalkan Matematika Sekolah untuk anak kecil. Matematika Sekolah mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu, bukan sebagai struktur, bukan sebagai body of knowledge atau structure of logic, melainkan sebagai Kegiatan Sosial. Itulah pentingnya di dalam pembelajaran matematika perlu adanya diskusi kelompok, atau metode projek bersama, atau metode kooperatif, dst.  

Berikutnya, marilah kita uji ada apakah antara analitik dan sintetik, atau antara apriori dan aposteriori; atau antara gabungan di antara keduanya, yaitu kombinasi misalya: analitik a posteriori dan sintetik a priori. Kalau kita memikirkan fenomena anlitik a posteriori, berarti kita menjumpai adanya proses berkelanjutan yang pada akhirnya di luar kontrol kita sebagai subjek pikir, yaitu dapat digambarkan sebagai seorang yang naik kereta api, cukup duduk atau tertidur di dalam gerbong tertentu, tetapi secara a priori bercita-cita sampai tujuan, dengan mengandalkan berpikir analitik yang bersifat konsisten (semua komponen kereta api beserta masinisnya bersifat konsisten, tidak ada yang memberontak) dan logis serta berkelanjutan atau sustainabel.


BAGIAN V


Pada Bagian V dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM D di R 100 B Pasca Lama pk 10.00 sd 11.40, yang di hadiri oleh  15 mahasiswa.

Yang kemudian dapat dipertanyakan adalah bagaimana penjelasannya bahwa suatu ilmu itu dapat berbasis pada pengalaman? Atau bagaimana pengalaman itu dapat menuju ke arah pembentukan ilmu. Sebenar-benar jika kita ingin membaca hal ini, adalah dari Empirisime nya David Hume, atau dari bacaan sekunder yang lainnya. Tetapi saya berusaha, berdasarkan pengalaman membaca referensi dan sumber-sumber lain dan menggunakan logika yang diturunkan dari uraian-uraian terdahulu, saya berusaha untuk menguraikannya, sebagai berikut. 

Seperti kita ketahui bersama bahwa segala macam pengalaman atau objek-objek yang terkait dengannya sebagian besar dapat dianggap mereka itu sebagai objek pikir yang ada di luar pengalaman. Bagaimana halnya dengan pengalaman berlogika? Itulah yang sebenar-benar terjadi, bahwa telah terjadi hermenitika antara rasio dan pengalaman. Secara lebih spesifik perihal Pengalaman ini, maka kita dapat mengeksplore sifat, kedudukan dan fungsinya; yaitu apakah sifat-sifat dari Pengalaman itu? bagaimana kedudukan Pengalaman dalam proses berpikir? dan apa fungsi Pengalaman dalam pembentukan konsep berpikir? Secara intuitif atau secara pemahaman orang awam kita dapat mendeskripsikan berbagai aspek Pengalaman sesuai dengan pengalaman masing-masing. Dari sisi ontologisnya, maka sebuah Pengalaman dapat dipandang sebagai Subjek sekaligus sebagai Objek pikir atau rasa atau lihat atau dengar atau tulis atau baca atau tindakan atau segala macam pengindraan dan aktivitas manusia atau binatang atau benda-benda. Masalahnya adalah dapatkah kita mengatakan sebuah tembok memunyai pengalaman di
cat
dengan warna pink? Atau sebuah tanaman memunyai pengalaman di pangkas daunnya? Sejauh mana kita mampu memahami pengalaman-pengalaman pada binatang? Jadi Pengalaman itu milik siapa? Maka kita perlu menggunakan batasan ruang dan waktu untuk memosisikan sebuah Pengalaman. Jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, maka seberapa jauh para binatang dianggap memunyai pengetahuan atau bahkan ilmu pengetahuan? Pada titik ini, paling tidak kita merasa adanya perbedaan antara Pengetahuan dan Ilmu Pengetahauan. Para mahasiswa saya yang sedang mengikuti kuliah ini memberi kesaksian bahwa para binatang hanyalah memunyai pengetahuan tetapi tidak memunyai Ilmu Pengetahuan. 

Lagi, jika para binatang dapat dianggap memunyai pengalaman, dan pengalaman mereka dapat digunakan untuk membangun pengetahuan, adalah lain perkara untuk mengetahuinya; tetapi jika demikian maka pertanyaan kita selanjutnya adalah seberapa kita mampu menjelaskan kebermaknaan sebuah pengalaman bagi seorang anak kecil. Anak kecil adalah manusia dengan batasan-batasannya. Maka, apakah perbedaan Pengalamannya manusia dewasa dengan anak-anak? Jika kita berkehendak menjawab pertanyaan ini, maka kita sudah akan menuju ke ranah Psikologi. Tetapi jika kita ingin menelaahnya secara filsafat atau secara ontologis maka, seperti yang dilakukan oleh Immanuel Kant, dalam Teori Berpikirnya, dia tidak menyebut teori berpikir untuk suatu usia tertentu. Pada titik ini, kita merasa mulai dapat membedakan antara Filsafat dan Psikologi. 


Sebetulnya pembicaraan kita ini arahnya ke mana? Arahnya adalah bahwa kita memeroleh Pengalaman juga dengan Pengalaman, dan menghasilkan Pengalaman juga dengan Pengalaman. Bagaimanakah hal tersebut dapat terjadi? Itulah sebenar-benar Intuisi. Menurut Immanuel Kant, segala macam Pengalaman, meliputi tentang Pengalaman yang ada dan yang mungkin ada, itu semua hanya terjadi atau hanya dapat dipahami di dalam intuisi Ruang dan Waktu. Tiadalah pengalaman yang terbebas dari intuisi Ruang dan Waktu. Pastilah yang namanya sebuah Pengalaman, dapat ditanyakan kapan dan di mananya. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana intuisi berperan di dalam pembentukan konsep atau pengetahuan?

BAGIAN VI


Pada Bagian VI dari Teori ini saya ceramahkan secara On-line pada hari ini Jum'at, 14 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika PMP2TK Angkt 2014 di R 106 A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.20, yang di hadiri oleh  16 mahasiswa.

Demikian saudara, bermacam-macam Pengalaman meliputi yang ada dan yang mungkin ada dapat digolongkan berdasarkan yang ada dan yang mungkin ada. Namun kalau kita belajar dari Immanuel Kant seperti terlihat pada tabel di atas, maka Pengalaman di luar pikiran berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengindra melalui persepsinya, sehingga diperolehlah imaginasi dan sensasi. Macam dan kualitas pengalaman ditentukan oleh derajat kesadaran. Persepsi dengan derajat kesadaran tertentu akan menghasilkan konsep berpikir atau pengetahuan. Tentu, di sini kita merasa ada semacam lompatan pemahaman kita, bagaimana pengalaman memersepsi fenomena atau noumena (jika mungkin) dengan kesadaran tertentu mampu menghasilkan Pengetahuan? Immanuel Kant, menjelaskan, seperti tampak pada gambar, bahwa di situ terdapat proses recognition (pengenalan), reproduction (menghasilkan), apprehension (pengembangan).

Jadi pada setiap kegiatan memeroleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan. Menurut saya ini selaras dengan ontologi umum tentang Ada (dapat secara sepintas dikatakan sebagai kenal), Mengada (dapat dimaknai sebagai proses menghasilkan) dan Pengada (dapat dimaknai sebagai pengembangan).
Dalam hal ini, dimanakah posisi sebuah Intuisi? Menurut saya, Intuisi ada di setiap langkah, tepatnya ada mendahului langkah, dalam langkah, dan mengikuti langkah menjadi Ada, Mengada dan Pengada. Mengapa? Karena sesuai kodratnya bahwa yang ada dan yang mungkin ada hanya bermakna di dalam Intuisi, tepatnya Intuisi Ruang dan Waktu. Jadi pengertian atau pengetahuan tentang yang ada dan yang mungkin ada selalu dapat ditaruh di depannya Kapan dan di Mana? Immanuel Kant menyebutkan bahwa terdapat 2 (dua) macam pengetahuan yaitu Pengetahuan Konseptual dan Pengetahuan Intuitif. Menurut saya, itulah dia bahwa Pengetahuan Konseptual itu lebih banyak dimiliki oleh orang dewasa; dan pengetahuan yang dimiliki oleh anak-anak lebih banyak bersifat Intuitif. Tentu menurut pandangan saya, semakin dewasa atau semakin tua seseorang, Pengetahuan Intuitifnya semakin berkembang.

Sementara itu, lagi Immanuel Kant mengatakan bahwa Pengetahuan Konseptual dapat berupa Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Empiris. Apa artinya? Artinya adalah bahwa Pengalaman juga sudah dapat menghasilkan Pengetahuan Konseptual, yaitu yang bersifat empiris. Menurut saya, yang dimaksud sebagai Pengetahuan Konseptual Murni itulah yang kemudian bersifat ideal, tetap, formal, rasional, dan identitas. Pertanyaan menarik yang dapat diajukan adalah seberapa atau sampai di mana, bahwa intuisi juga terdapat di dalam Pengetahuan Konseptual Murni. Itulah bedanya, saya menulis Pengetahuan “Intuisi”  berbeda dengan “intuisi”. Menurut saya, tiadalah yang ada dan yang mungkin ada, termasuk Pengetahuan Konseptual Murni, terbebas dari intuisi. Artinya kita bisa mengatakan “memunyai pengalaman berlogika matematika murni” . Artinya bahwa, berpikir, berrasional, berlogika, pun sebenarnya merupakan Pengalaman.

Demikian, sementara kuliah saya hentikan karena mengingat waktu telah habis.

Selamat berjuang,


Dosen ybs,


Marsigit


46 comments:

  1. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam belajar mengenai filsafat, kita mempelajari yang ada dan yang mungkin ada. awal dan akhir, wadah dan isi, dan semua hal yang terfikirkan dan tidak terfikirkan. Hal ini akan berpengaruh terhadap fondalisme maka kita akan menjadi berpikir formal. Selain itu dalam berpikir kita haruslah menggabungkan antara ratio dan pengalaman, gar mendapatkan hasil terbaik. Intusi dalam ruang dan waktu sangat penting dalam usaha kita membangun pengetahuan kita.

    ReplyDelete
  2. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Terima kasih, saya mendapatkan ilmu baru dari artikel ini. Mengutip dari isi artikel bapak, "Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir." saya mendapati bahwa pikiran/ilmu yang ada pada diri kita tidak akan bermanfaat jika tidak disampaikan kepada orang lain.

    ReplyDelete
  3. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Begitu pula dengan ilmu yang belum kita kuasai, maka kita harus mencoba/belajar mengetahui ilmu yang ada di luar pikiran kita. Dengan demikian terjadilah proses long life education, orang yang sudah paham akan belajar bagaimana cara menyampaikan ilmu dengan baik, sedangkan yang belum mengetahui akan berusaha mencari tahu ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  4. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Dalam menggapai pengetahuan cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengenali identitas dengan mengasosiasi sifat-sifat yang ditunjukkan, hanyasaja identitas suatu hal tak dapat di pastikan dengan tepat jika di tilik dari berbagai sisi. Hanya berupa pendekatan-pendekatan dan sisi pembahasan tertentu. Namun saya masih belum klik dalam memahami kesetaraan dalam subjek dan objek. setidaknya terdapat pengetahuan bahwa objek dan subjek dapat menjadi predikat dirinya.

    ReplyDelete
  5. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam berfilsafat untuk membangun ilmu pengetahuan terlebih dahulu kita harus menetapkan hati kita. Seperti yang disampaikan oleh bapak prof Marsigit yaitu terapkanlah hatimu sebelum engkau mengembarakan akalmu agar akal itu memiliki batas dan tidak termakan mitos.

    ReplyDelete
  6. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017
    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit.
    Setelah membaca materi diatas, saya memahami bahwa dalam memperoleh suatu pengetahuan itu melalui logika atau pemikiran, lalu ada juga yang meyakini bahwa dalam memperoleh pengetahuan itu melalui pengalaman. Setelah itu, Immanuel Kant mencoba mensintesis kedua tesis tersebut sehingga disimpulkan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh dengan cata melalui logika/pemikiran kemudian diterapkan untuk mendapatkan pengalaman, atau dengan cara pengalaman-pengalaman yang sudah dialami, dipikirkan dan dianalisa sehingga dapat diperoleh suatu pengetahuan.

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Saya setuju dengan "Pada setiap kegiatan memeroleh Pengetahuan dari Pengalaman, selalu terjadi proses pengenalan, menghasilkan, dan pengembangan." disini kita tahu bahwa pengembangan termasuk dalam kegiatan mempereoleh pengetahuan. Secara tidak langsung kita membutuhkan pengembangan-pengembangan dalam membangun pengetahuan kita. Saat ini perlunya kesadaran diri akan pentingnya terus berkembang, karena manusia terkadang dilemahkan oleh sifat mudah puas, yang tanpa disadari menjadikan manusia tersebut tidak membangun lebih lagi pengetahuannya. Menjadi sosok yang rendah hati dan teruus belajar, terus mencoba dibutuhkan untuk menjadi sosok yang lebih berpengetahuan.

    ReplyDelete
  8. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Untuk membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan, kita terlebih dahulumemahami identitas dan kontradiksi. Sedangkan kita tidak mampu menemukan identitas yang sesungguhnya di dunia nyata. Identitas hanya dapat kita peroleh di dalam pikiran kita. Awal dan proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan terjadi di dalam pikiran kita masing-masing. Bukan dari sejarah bangsa lain, buku-buku, atau benda-benda di dunia nyata. Hanya obyek pikir yang ada di dalam pikiran kita yang nantinya menjadi awal dari pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Tetapi masalahnya jika obyek pikir ad a di dalam pikiran kita, maka bagaimana kita mampu menjelaskan obyek pikir tadi kepada orang lain? Lalu, jika obyek pikir ada di dalam pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimana cara kita mengetahuinya?
    Dalam membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan terdapat obyek di dalam pikiran kita maupun obyek di luar pikiran kita. obyek yang ada di dalam pikiran kita antara lain mempunyai sifat berpotensi sebagai unsur-unsurnya logika, rasio atau pikiran. Sedangkan obyek yang ada di luar pikiran, mereka itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada termasuk pengalaman atau benda-benda. Kita tidak bisa hanya mengagungkan pikiran dan meremehkan pengalaman. Begitupun sebaliknya. Pikiran tanpa pengalaman maka pikiran itu tidak akan berkembang dengan baik. Pengalaman tanpa dipikirkan maka juga tidak akan ada artinya. Oleh karena itu diperlukan keduanya dalam membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Yaitu memperoleh pengalaman sebanyak banyaknya yang kemudian dipikirkan dengan baik agar menjadi pengetahuan atau ilmu pengetahuan.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  9. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Berdasarkan tulisan di atas, saya mengetahui bahwa ada dua aliran mengenai bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Aliran pertama yakni rasionalisme, menurut aliran rasionalisme ilmu itu dibangun dan diperoleh berdasarkan pada rasio atau pemikiran. Aliran kedua ialah empirisisme, empirisme mengatakan bahwa sebenar-benarnya ilmu berlandaskan pada pengalaman. Sedangkan menurut Immanuel Kant, sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan, atau sebenar-benar ilmu adalah pikiran yang di laksanakan atau diterapkan atau diimplementasikan. Jadi menurut Immanuel Kant, pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu dibangun dengan menggabungkan pemikiran dan pengalaman. Saya setuju dengan pernyataan dari Immanuel Kant ini, pengetahuan dan ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan menggabungkan pemikiran dan pengalaman. Jika hanya mengandalkan pemikiran saja tanpa menerapkannya, maka pemikiran tersebut hanya sebatas untuk diri sendiri saja, tidak dapat dimanfaatkan di kehidupan nyata, karena tidak tahu apakah hasil pemikiran tersebut sama kondisinya jika di terapkan di kehidupan nyata. Sebaliknya jika hanya mengandalkan pengalaman saja tanpa memikirkannya, maka pengalaman-pengalaman tersebut akan berlalu begitu saja tanpa ada yang bisa kita petik untuk dijadikan pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang baru.

    ReplyDelete
  10. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Saya setuju bahwa dalam hidup, Rasionalisme dan Empirisme haruslah berdampingan dan berjalan bersama-sama. Rasionalisme tanpa Empirisme akan membuat pikiran atau ide yang mwnurut kita benar tidak dapat dibuktikan. Sebaliknya, Empirisme tanpa Rasionalisme juga tidak melulu dapat dijadikan tolak ukur kebenaran.

    ReplyDelete
  11. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Berdasarkan postingan Pak Prof. diatas, yang bisa saya garisbawahi adalah dalam membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan, secara filsafat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Kemudian dari pemikiran yang berasal dari luar pikiran dan dalam pikiran. Ada juga yang menggolongkan kegiatan memperoleh pengetahuan dan ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman, dimana dari pengalaman tersebut terdapat proses pengenalan, menghasilkan dan pengembangan. Maka dari pengalaman ke pengalaman berikutnya, disadari atau tidak disadari pengetahuan dan ilmu pengetahuan telah dibangun.

    ReplyDelete
  12. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya sepakat dengan yang Prof Marsigit sampaikan yaitu tentang teori berpikir. Bapak mengungkapkan bahwa jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain, inilah sebenar-benar persoalan pertama filsafat berpikir. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; inilah sebenar-benar persoalan kedua filsafat berpikir. Hal ini menjelaskan bahwa berfilsafat itu bukanlah hal yang mudah dilakukan. Tidak semua orang yang mngetahui tentang sesuatu dan bisa menjelaskan dengan fasih kepada orang lain tentang apa yang diketahuinya. Padahal untuk mengetahui sesuatu, baik ilmu pengetahuan ataupun ilmu yang lain tentang kehidupan tentu membutuhkan usaha yang keras. Apalagi ditambah dengan kemampua mengungkapkan ilmunya kepada orang lain. Maka dari itu, pada hakikatnya hidup itu adalah belajar dan saling mengajarkan.

    ReplyDelete
  13. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum
    Dari postingan kali ini, dapat saya simpulkan bahwa menurut bapak Marsigit Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain. Jika objek pikir ada di luar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya. Kita akan mampu membangun ilmu dan atau ilmu pengetahuan jika mampu menjawab kedua persoalan tersebut. Tetapi yang terjadi manusia di dunia tidak mampu menjawabnya persoalan tersebut hanya berusaha mengetahuinya dalam ketidaksempurnaan kemampuannya. Sebenar-benar ilmu dan ilmu absolut itu adalah milik Tuhan YME. Sebagian besar hidup kita masih di dominasi dan masih menggunakan pengetahuan intuitif. Terlebih-lebih anak kecil atau orang yang masih muda; maka sebagian hidupnya menggunakan pengetahuan intuitif.

    ReplyDelete
  14. Tri Wulaningrum
    17701251032

    Saya kembali teringat dengan kesan pertama saya kuliah dengan bapak. Lebih dari satu kali saya mendengar penjelasan bapak bahwa pengetahuan dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Ditambah lagi dengan keterikatan filsafat dengan ruang dan waktu. Di mana senyatanya dalam kehidupan kita sehari-hari kita tidak mencapai hal yang sifatnya identitas. Ada banyak hal lagi yang membuat saya tertarik membaca postingan-postingan bapak. Sebelum dibahasa pada postingan ini, saya sudah membaca beberapa kali tentang "kontradiktif" di dalam postingan lainnya. Bahkan pada satu postingan bapak, saya menanyakan apa hubungan hakikat imajiner dan hakikat kontradiktif. Oh iya, saya setuju bahwa "sebenar-benar ilmu adalah gabungan atau perpaduan antara Rasionalisme dan Empirisisme". Menurut saya ilmu pengetahuan yang utuh tidak berhenti pada rasionalisme dan tidak sekedar pada empirisme. Melainkan kedua-duanya.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Berdasarkan bacaan di atas, membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan secara filsafat dapat dilakukan dengan mengidentifikasi sifat-sifat dari yang ada dan yang mungkin ada secara filsafati. Olah pikir terhadap objek filsafat tersebut dilakukan secara intensif dan ekstensif. Proses berpikir untuk membangun pengetahuan atau ilmu pengetahuan terjadi di dalam pikiran kita masing-masing. Sementara itu, objek pikir filsafat bisa ada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Bila objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tersebut kepada orang lain dan bila objek pikir ada di luar pikiran kita, maka persoalannya adalah bagaimana cara kita mengetahuinya. Jika kita mampu menjawab kedua persoalan tersebut maka kita akan mampu membangun ilmu atau ilmu pengetahuan. Tetapi yang terjadi adalah tiadalah manusia di dunia ini yang mampu menjawabnya secara tuntas absolut dan sempurna.

    ReplyDelete
  16. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasarkan artikel di atas, bahwasanya membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan dapat dimulai dari melihat, merasakan, dan memikirkan objek-objek ilmu itu sendiri baik itu objek yang ada dan yang mungkin ada maupun objek dalam pikiran dan di luar pikiran. Tentulah tidak mudah bagi kita untuk mampu melihat merasai bahkan memikirkan objek-objek ilmu di sekitar kita. Terkadang secara tidak sadar justru kita telah mencoba membangun ilmu pengetahuan itu sendiri melalui kejadian-kejadian yang kita alami lalu diceritakan kepada orang lain. Disini lah bahwa kemampuan untuk menyampaikan apa yang telah kita ketahui kepada orang lain justru menjadi jalan terbetuknya ilmu pengetahuan itu sendiri.

    ReplyDelete
  17. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya tertarik membaca teori bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Bahwa sebenarnya pengetahuan itu dibangun dari pengalaman dan pola pikir manusia. Pengetahuan berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Selain itu, pengetahuan juga akan menghasilkan sesuatu yang mungkin ada menjadi ada akibat pola pikir manusia. Oleh karena itu, perlu ditanamkan sikap optimis agar pengetahuan semakin berkembang.

    ReplyDelete
  18. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Ada beberapa hal yang saya tangkap dari postingan ini, antara lain:
    Pengetahuan tidak semata-mata didapatkan.
    Pengetahuan dibangun dari pondasi paling bawah. Ilmu filsafat adalah pondasi dari berbagai macam ilmu pengetahuan.
    Pengetahuan dibangun oleh pikiran manusia.
    Pengalaman dan pengetahuan adalah dasar dari pengambilan keputusan.

    ReplyDelete
  19. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wr
    selama ini saya sering mendengar bapak menyebut-nyebut tentang yang ada dan yang mungkin ada. di tulisan ini saya jadi mengetahui bahwa itu bisa menjadi awal untuk membangun pengetahuan,yang kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasikan sifat-sifatnya.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pemaparan yang disampaikan bapak di atas mengingatkan sesuatu mengenai kita tidak bisa berfikir sesuatu hanya menggunakan rasio saja melainkan pengalaman juga membantu untuk mencapai tujuan dari apa yang ingin kita ketahui. Saya mengambil contoh dalam mempercayai hal yang ghaib. Jika kita hanya menggunakan rasio saja, rasio kita tidak akan menerima tentang keberadaan sesuatu yang mungkin ada. Karena hal yang mungkin ada berada di luar diri manusia dan di luar ruang dan waktu. Namun, untuk mempercayai adanya hal ghaib, kita membutuhkan pengalaman salah satunya pengalaman spiritual yang memang merupakan hal yang membutuhkan pengalaman yang banyak. Oleh karena itu, keselarasan antara rasio dan pengalaman sangatlah penting karena pada dasarnya antara pengalaman dan rasio tidaklah bisa berjalan sendiri-sendiri.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Jika objek pikir ada di dalam pikiran kita, maka bagaimana kita mampu menjelaskan objek pikir tadi kepada orang lain; Hal ini tentulah membuat kita harus menyusun bahasa sedemikian sederhana agar bisa dicerna dan di artikan oleh orang lain atau responden dengan baik dan benar, agar tujuan yang ingin kita sampaikan bisa terserap sesuai harapan. Karena bahasa merupakan sebuah alat verbal yang sangat krusial dalam berkomunikasi. Kemudian jika objek pikir ada diluar pikiran kita, maka bagaimanakah cara kita mengetahuinya; yakni dengan meminta pendapat terhadap teman sejawat untuk mengkohorenkan apakah yang kita maknai sesuai dengan yang dimaknainya. Karena mengkomunikasikan sesuatu hal yang diluar pikir kita jauh lebih sulit. Untuk itu kita perlu berhati-hati dalam menyampaikan suatu bahasa.

    ReplyDelete
  22. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Membaca postingan ini semakin menyadarkan saya bahwa ilmu itu tiada habisnya. Semakin dalam kita mempelajari suatu ilmu maka semakin kita merasa bahwa kita tidak mengetahui apa-apa. Hal ini sangat menginspirasi dan mendorong kita untuk terus belajar mengembangkan diri, karena objek kajian ilmu pengetahuan alam meliputi apa yang ada dan apa yang mungki ada. Berpikirlah, kemudian renungkanlah dan carilah pengalaman terkait hal tersbut. Dengan demikian kita telah memiliki pengetahuan beru mengenai suatu konsep. Tafsiran satu orang dengan orang lainnya terntu saja berbeda, bisa jadi ada orang yang menafsirkan luasnya objek ilmu pengetahuan yang dapat kita pelajari menjadikan dirinya pesimis bahwa belajar tidak akan ada habisnya. Hal tersebut benar, karena belajar tidak hanya berlangsung dalam bangku sekolah atau bangku perkuliahan, namun belajar adalah proses yang tidak memiliki akhir. Semangat belajar, semangat mengembangkan diri, semangat memajukan Indonesia. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  23. Berkali-kali saya mmendengar atau membaca bahwa berfilsafat pada hakikatnya ada pada dirimu sendiri. Orang-orang yang menggeluti bidang eksak seperti matematika maupun ilmu-ilmu eksak lainnya mungkinsebagian besar menganut foundationalisme, namun tidak menutup kemungkinan sebaliknya. Jika ditelisih lebih lanjut, orang-orang eksak biasa bekerja dibawah semesta pembicaraan dan patuh terhadap teorema, aksioma ataupun definisi yang berlaku di dalamnya. Oleh karena itu kemungkinan besar orang-orang tersebut menganut paham foundationalisme. Objek ilmu pengetahuan yang sangat luas menantang kita untuk terus mengembangkan diri menemukan atau sekedar menemukan kembali konsep yang ada sehingga apa yang kita pahami, apa yang kita yakini semnjadi semakin bermakna. Teori kebermakaan belajar yang dicetuskan oleh Ausubel menyatakan bahwa semakin bermakna pembelajaran seorang siswa, maka pengetahuan yang didapat akan mampu masuk ke dalam long term memory. Semua orang tentu bisa berpikir sesuai dengan alur dan semesta yang diyakininya, namun tidak semua orang mampu mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikirannya, sehingga seseorang tetap membutuhkan bimbingan dan arahan dari "dewa" pengetahuan.

    ReplyDelete
  24. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dalam ‘Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan’ bahwa objek dalam filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Untuk mempelajari filsafat menggunakan bahasa analog dengan menggunakan cara intensif dan ekstensif. Cara intensif yaitu berpikir sedalam-dalamnya dan cara ekstensif yaitu berpikir seluas-luasnya.
    Yang ada dan yang mungkin ada berada di dalam ruang dan waktu dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Selain itu, adanya ruang itu karena waktu dan waktu tidak punya arti tanpa adanya ruang. Jadi tentang apapun itu kita dapat bertanya kapan dan dimana
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  25. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terimaksih banyak pak, telah memberikan gambaran tentang membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan.Dalam teori pengetahuan, point pertama yang kita jumpai yang secara berurutan disebut a priori dan empiris.Sebagian besar pengetahuan kita diperoleh dari pengamatan terhadap dunia luar (persepsi indrawi) dan terhadap diri kita sendiri (introspeksi).Ini disebut pengetahuan empiris.Namun demikian, sebagian pengetahuan dapat kita peroleh dari sekedar berpikir.Pengetahuan semacam itu disebut a priori. Contoh utamanya dapat ditemukan dalam logika dan matematika.Untuk memahami bahwa 5 + 7 = 12 kita tidak perlu mengambil lima benda kemudian tujuh benda lagi, menggabungkannya, lalu menghitung jumlah totalnya.Kita dapat mengetahui beberapa jumlah keseluruhannya hanya dengan berpikir.Pengetahuan a priori, meski terkenal dalam bidang matematika dan logika, tidak terbatas hanya pada bidang-bidang tersebut.Sebagai contoh, kita bias mengetahui secara a priori bahwa suatu permukaan yang sama tidak mungkin memiliki dua warna yang berbeda secara keseluruhan pada saat yang sama, atau bahwa suatu pikiran tidak dapat memiliki bentuk.Para filsuf dibedakan menjadi rasionalis dan empiris, sesuai dengan apakah mereka lebih memberi penekanan pada unsure priori, karena pengalaman kita sangat tidak memadai untuk dapat menghasilkan generalisasi umum yang luas sebagaimana yang diharapkan para ahli metafisika dengan semata-mata berdasarkan pada alasan-alasan empiris.Istilah a priori mencakup kedua proposisi yang self-evident, yakni proposisi-proposisi yang dianggap suatu kebenaran dalam dirinya sendiri, dan proposisi-proposisi yang sendirinya bersifat self-evident.

    ReplyDelete
  26. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Berdasarkan tulisan di atas, saya memahami bahwa fisafat ilmu secara spesifik membahas tentang ilmu (pengetahuan ilmiah). Fisafat adalah berpikir. Pola berpikir yang baik didapat dengan membangun pengetahuan dalam ilmu pengetahuan yang tentunya memerlukan komponen pendukung dalam pelaksanaannya seperti adanya keberadaan guru, siswa, kurikulum dan komponen lain yang mendukung pelaksanaan ilmu pengetahuan dalam membangun pengetahuan ini. Dengan demikian pola pikir yang baik dan pemahaman pokok –pokok dalam ilmu pengetahuan dapat terbentuk.

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Pengetahuan dari sudut pandang filsafat terkait dengan sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Sesuatu yang ada memiliki sifat struktur bahasa sedangkan yang mungkin ada terdapat pada suatu objek yang dipikirkan. Saya menjadi paham bahwa sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir. Pikiran seseorang mampu membentuk ilmu pengetahuan. Contoh sederhana saja, komunikasi antara satu dengan yang lain dapat mendatangkan pengetahuan. Seseorang dapat mengerti informasi yang disampaikan oleh orang lain. Ini terjadi dikarenakan adanya bahasa. Sedangkan contoh untuk yang mungkin ada adalah seseorang yang memikirkan dan membuat rencana di masa depan. Menurut saya filsafat sangat berkaitan dengan apa yang ada di dalam dan di luar pikiran manusia. Pengalaman juga sangat dibutuhkan di dalamnya.

    ReplyDelete
  28. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Secara filsafat dalam membangun pengetahuan berkaitan dengan sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sedangkan secara umum pembentukan pengetahuan dimulai dari pengenalan, menghasilkan dan mengembangkan. hal ini merupakan urutan yang harus dilalui dalam membentuk pengetahuan. Keterkaitan pengetahuan tentang ada dan mungkin ada juga berhubungan kapan dan dimana. Jawaban dari kapan dan dimana, berkaitan dengan pengetahuan intuitif dan konseptual, intuitif pada anak-anak sedangkan konseptual pada orang dewasa.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  29. Junianto
    17709251065
    PM C

    19. Teori berpikir yang Prof sampaikan sangat bagus. Hal ini berkaitan erat dengan objek pikiran kita. Objek pikir ada yang di dalam pikiran kita dan ada yang di luar pikiran kita. Maka dari itu, kita butuh ilmu untuk memahami keduanya. Orang yang memahami tentang berbagai macam ilmu, belum tentu ia bisa menyampaikan dengan fasih kepada orang lain. Padahal untuk mempelajari dan memahami ilmu memerlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh disertai doa yang ikhlas kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  30. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terimakasih atas artikel-artikelnya, saya sangat baru kepikiran kalau manusia tidak akan pernah memenuhi prinsip identitas yang ada di ilmu matematika setelah menjalani perkuliahan ilmu flsafat. Yang memenuhi prinsip tersebut hanyalah pikiran dan akhirat. Semakin banyak belajar ternyata semakin menyadari bahwa banyak yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  31. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih Prof untuk tulisan yang Prof sajikan. Tulisan yang begitu menarik dan mencerahkan. Di sepanjang membaca tulisan ini saya jadi bertanya-tanya, sudahkah para guru, dosen, pemangku kebijakan khususnya di bidang pendidikan sudah mengerti akan hal ini.
    Tulisan ini bermanfaat sekali, dimana Prof salah satunya menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dibangun dari salah satu antara rasio dan pengalaman, namun merupakan perpaduan diantara keduanya. Dengan memahami ini akan membantu kami untuk lebih bijak dalam nantinya menjadi guru atau dosen.
    Tulisan prof mengenai konsep berfikir foundationalisme dan antifoundationalisme juga memberikan jawaban bagi kami ataas beberpa pertanyaan, salah satunya kenapa ada orang yang bisa taat beragama hanya dengan bermodalkan keyakinan, sementara disisi lain ada manusia yang harus melewati proses paham terlebih dahulu sebelum menjadi orang yang taat. Dan diantara keduanya tentu memiliki kelebihannya masing-masing

    ReplyDelete
  32. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Ilmu pengetahuan merupakan titik temu antara Experience (pengalaman) dengan Reasoning (Pemikiran), maka untuk membangun sebuah ilmu pengetahuan kita harus memiliki keduanya, ketika kita hanya memiliki pengalaman saja tanpa pemikiran itu tidak akan bisa dikatakan sebagai "ilmu pengetahuan" melainkan hanya sebatas pengetahuan saja begitu sebaliknya. Seperti dipaparkan pada postingan diatas terdapat perbedaan antara "ilmu pengetahuan" dengan "pengetahuan", seperti halnya hewan bisa mempunyai "pengetahuan" tetapi tidak mempunyai "ilmu pengetahuan", karena "pengetahuan" dapat dimiliki hanya dari pengalaman saja tanpa pemikiran sedangkan "ilmu pengetahuan" didasarkan atas pengalaman dan pemikiran.

    ReplyDelete
  33. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Ketika perkuliahan saya selalu teringat bahwa terdapat dua perkara dalam berfilsafat yaitu menjelaskan yang ada dipikiranmu dan memikirkan pengalamanmu. Berdasarkan pengalaman saya memikirkan dengan usaha keras tentang berfilsafat, saya semakin memahami bagaimana membangun ilmu dengan filsafat. Uraian di atas menjelaskan secara lengkap dan urut dimulai dari obyek berpikir filsafat yaitu antara ada dan yang mungkin ada sehingga muncullah obyek pikir dalam pikiran kita. Dari obyek pikir tersebut muncul aliran bahwa sebenar-benar ilmu adalah yang ada di dalam pikir sehingga memiliki sifat identitas, monoisme, absolut dan lain-lain dan memunculkan berbagai aliran. Namun, perlu disadari bahwa hidup kita berinteraksi dengan alam sekitar dan dunia sehingga pengalaman juga menjadi unsur penting dalam membentuk pengetahuan sehingga memunculkan berbagai aliran seperti pluralisme, relativisme, dan lain-lain. Pada awalnya kedua aliran ini berdiri sendiri-sendiri, dengan tokohnya plato dan aristoteles. Namun kemudian Emmanuel Kant menyadari bahwa keduanya harusnya saling melengkapi sehingga sebenar-benar ilmu adalah bersifat sintetik apriori yaitu pengalaman yang dipikirkan. Hal ini akan sangat bermanfaat terutama jika diterapkan dalam pembelajaran di Sekolah dasar mengingat sifat dari anak-anak yang belajar melalui pengalaman sehingga memunculkan intuisi mereka terutama dalam konteks ini adalah intuisi matematika.

    ReplyDelete
  34. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Tulisan ini cukup membantu Saya untuk memahami gagasan besar membangun filsafat, meski masih banyak istilah istilah yang belum dapat terpahami.
    Salah satu point yang memberi Saya kesadaran adalah mengenai rasio tanpa pengalaman berarti lepas dari dunia nyata, pikiran melayang. Jika seseorang berlaku demikian, hidup dalam dunia ide, Tak mudah beradaptasi dengan sekitar. Orang lain pun takkan mudah memahami Dan menerima dia.
    Point kedua adalah mengenai Matematika sebagai pengetahuan intuitif (pada anak). Apakah ini Juga yang kemudian memunculkan Matematika realistik, yang mengajak anak anak bermatematika dalam konteks sehari hari?
    Anak memang lebih dapat memahami aa yang sudah dialami dalam keseharian. Contoh konkret, topik uang it angkanya sampai ribuan, namun anak mudah belajar tentang uang di kelas 4 SD Karena mereka sering menggunakan Dan berhitung soal uang.

    ReplyDelete
  35. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Postingan bagaimana membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan ini menguraikan kepada pembaca alur dari membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan tersebut. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu merupakan objek pikir seseorang. Dari postingan ini objek pikir merupakan filsafat itu sendiri. Sehingga, kita membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan dengan berfilsafat. Di sini juga diuraikan berbagai paham filsafat dari plato hingga ke Imannuel Kant. Paham Imannuel Kant yang sekarang banyak digunakan atau diikuti oleh banyak orang. Banyak orang yang berpendapat bahwa paham dari Immanuel Kant merupakan paham yang lengkap karena meliputi a priori dan a posteori. Sehingga manusia itu memiliki kemampuan yang seimbang antara teori dan logikanya. Artinya dalam membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu dari pikiran kemudian ke implementasinya. Jika seseorang hanya tahu teori namun tidak mampu mengimplementasikan maka dia belum melakukan kegiatan membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Begitu pula sebaliknya, jika seseorang hanya mampu mengimplementasikan tanpa adanya teori yang mendasarinya maka orang tersebut belum membangun pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  36. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Pengalaman adalah sebenar-benarnya ilmu, dari pengalaman kita dapat memperoleh pengetahuan. Dengan memperbanyak pengalaman maka akan semakin banyak juga pengetahuan yang kita peroleh, oleh sebab itu menuntut ilmu tidak cukup hanya di ruang kelas saja, tapi setiap yang ada di dunia merupakan sumber ilmu pengetahuan yang bisa semakin memperkaya pengetahuan apabila diperhatikan baik-baik.

    ReplyDelete
  37. Terimakasih bapak atas ilmunya tentang Teori Marsigit tentang Bagaimana Membangun Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan yang dibagi menjadi 6 bagian, saya menyadari setelah membaca tulisan bapak bahwa ilmu yang saya miliki sangatlah sedit, dan membaca tulisan bapak ini, membuat saya berfikir ulang tentang pendidikan ini, sangat berguna bagi saya setelah membaca tulisan bapak ini.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  38. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Membentuk suatu pengetahuan jika dipandang melalui filsafat, seluruh objek yang ada dapat kita pikirkan adalah awal dari terbentuknya sebuah ilmu. Parmenides adalah filsuf yang seluruh cara berpikirnya menggunakan deduksi logis, tidak seperti Heraclitus yang menggunakan intuisi. Parmenides percaya bahwa jika seseorang mengatakan sesuatu tidak ada maka setidaknya ia telah melalui beberapa tahap, salah satunya terlebih dahulu mempercayai bahwa sesuatu itu ada. Lalu disanggah oleh pikirannya sendiri sehingga sesuatu itu menjadi tidak ada. Terbentuknya ilmu pengetahuan pasti melalui beberapa proses dengan olah pikir yang tidak mudah, hingga terkadang kita harus melawan kepercayaan kita dan bereksperimen demi menemukan sebuah kebenaran.

    ReplyDelete
  39. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    PPS Pendidikan Matematika Kelas A

    Pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja. Berdasarkan pengalaman saya, ada saja pengetahuan yang akan saya rasa selalu baru dan baru, karena banyaknya pengetahuan yang belum saya tahu dan biasanya disebut dengan mungkin ada, namun apabila pengetahuan tersebut telah kita peroleh maka akan menjadi ada. Apabila memperhatikan sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada hal tersebut merupakan objek pikir jika ditinjau secara filsafat dan sifat tersebut digunakan oleh para Filsuf. Hal ini mengajarkan untuk selalu mencari pengetahuan agar yang mungkin ada tersebut menjadi ada.

    ReplyDelete
  40. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dengan berpikir a priori kita mampu memikirkan cita-cita kita, masa depan kite, ide inovasi kita, rencana ke depan kita meski kita belum mengalaminya. Berpikir a priori bisa memotivasi diri kita sendiri untuk konsisten menggapai cita-cita kita, karena untuk mencapai tujuan tertentu kita harus tahu finisnya dimana, sehingga kita fokus untuk mencapai tujuan itu. Tanpa berpikir a priori hidup seperti mengikuti aliran air, terombang ambing, ikut segala aturan yang dibuat powernow.

    ReplyDelete
  41. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Bapak selalu mengatakan, membangun ilmu itu dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Membangun ilmu artinya kita berpikir, nah segala yang ada dan yang mungkin ada itu merupakan obyek pikir, maka sebenar-benar filsafat adalah mengenai olah pikir. Segala obyek pikir yang berada di dalam pikiran kita bersifat ideal, tetap, tunggal, absolut. Sedangkan obyek pikir yang berada di luar pikir kita bersifat relatif, sehingga tergantung oleh ruang dan waktunya. Berbicara mengenai ruang dan waktu, segala yang ada dan yang mungkin ada akan bermakna jika berada dalam intuisi ruang dan waktu. dimana intuisi itu sendiri lebih banyak digunakan saat berada pada masa anak-anak, tetapi bukan berarti ketika dewasa sudah lagi tidak membutuhkan intuisi, orang dewasa tetap membutuhkan intuisi, tetapi mungkin penggunaannya tidak sebanyak ketika masa anak-anak.

    ReplyDelete

  42. Jika meninginkan hal baik, maka kita harus berpikir baik. Jika kita berpikir negatif, maka hal-hal negatif lah yang terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant bahwa sebenar-benar dunia itu persis sama dengan apa yang kita pikirkan. Pikiran kita akan menjadi perkataan dan tindakan kita. Pikiran baik akan membentuk perkataan dan tindakan yang baik, begitu pula sebaliknya. Perkataan dan tindakan baik pasti akan membawa kebaikan-kebaikan lainnya, sehingga dunia kita pun menjadi baik.

    ReplyDelete
  43. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Dari apa yang dikatakan "Immanuel Kant, sebenar-benar Ilmu adalah Pengalaman yang Dipikirkan; atau sebenar-benar Ilmu adalah Pikiran yang di laksanakan atau diterapkan atau diimplementasikan." Setelah saya membaca kalimat ini, saya sempat mengingat-ingat kembali apakah saya sudah seperti yang di katakan oleh Immanuel Kant, sepertinya saya merasa belum sepenuhnya melakukan hal tersebut. Dimana terkadang pengalaman yang saya dapat hanya untk disimpan tetapi jarang untuk dipikirkan, begituun sebaliknya. Dengan membaca ini saya akan merubah apa yang salah dari saya. Dan semoga saya tidak seperti kucing yang tidak menggunakan logikanya, seperti yang sudah bapak contohkan.

    ReplyDelete
  44. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Banyak cara yang dapat digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan baik bagi guru, siswa, dan khususnya bagi kami para mahasiswa yaitu dengan banyak membaca dan ikut pelatihan-pelatihan yang bersifat educatif. Karena membaca adalah salah satu cara yang paling efektif untuk membuka jendela pengetahuan dunia. Maka dari itu sebaiknya budaya membaca di Indonesia harus benar-benar mendapat perhatian tidak hanya dari guru dan sekolah tetapi juga dari pemerintah, agar dapat membangun pengetahuan yang bersifat dinamis dan rasionalis.

    ReplyDelete
  45. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini saya menyimpulkan bahwa ada dua aliran dalam ilmu yaitu rasionalisme dan empirisme. Menurut rasionalisme sebenar-benar ilmu adalah berlandaskan pada rasio, aliran ini begitu mengagung-agungkan logika dan meremehkan pengalaman. Sedangkan menurut empirisme sebenar-benar ilmu adalah berlandaskan pada pengalaman, aliran ini begitu mengagung-agungkan pengalaman dan meremehkan logika. Kedua aliran ini memiliki yang berbeda dari awal dalam memandang sebuah ilmu pengetahuan, hal itu menjadikan kedua aliran ini tidak akan pernah bertemu pada satu titik. Oleh karena itu, munculah aliran baru yaitu sintetik apriori yang merupakan gabungan dari aliran rasionalisme dan empirisme. Bahwa sebenar-benar ilmu adalah sintetik apriori Aliran ini dikemukanan oleh Imanuel Khan. Terimakasih

    ReplyDelete