Nov 6, 2014

Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika 1

Ass wr wb



Pada hari ini Kamis, 6 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, saya akan memberi pengantar tentang Penerapan Filsafat Ilmu untuk Pendidikan Matematika. Kuliah di hadiri oleh 21 mahasiswa. Sementara saya menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Baiklah untuk membahas tentang penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika, maka pertama-tama kita perlu mendudukan atau memosisikan Filsafat Ilmu dalam konteks yang mendahului atau melatarbelakangi atau yang mendasari segala bentuk atau aspek pengembangan Pendidikan Matematika.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi atau mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk Filsafat Ilmu berdasarkan pikiran para Filsuf yang merentang dalam sejarahnya.

Setelah itu kita berusaha untuk melakukan hal yang sama yaitu mengidentifikasi dan mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk implementasi dan pengembangan Pendidikan Matematika merentang dari tataran ideal, realis, rasional, empiris, sampai dengan socio-constructivis dan kontemporer, beserta segala seluk-beluk permasalahan yang muncul berdasarkan konteks budaya, filsafat, ideologi dan politik.

Ternyata aku telah menemukan dua dunia yang telah, sedang dan akan berkemistri yaitu dunia Filsafat Ilmu dan dunia Pendidikan Matematika.

Mengidentifikasi atau mereview kharakter, secara filsafati berari mencari tesis-tesis, dan anti-tesis, anti tesis serta membuat  sintesis-sintesis. Hal demikian telah kita lakukan sejak dari kegiatan perkuliahan pertama hingga sekarang.

Saya mempunyai keyakinan, bahwa para mahasiswa peserta kuliah ini sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman masing-masing sebagai prerequisite dalam menjawab persoalan yang saya kemukakan pada hari ini yaitu bagaimana penerapan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Matematika.

Untuk itu berikut ini saya akan memberi kesempatan brainstorming kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sebagai berikut:

1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
4. Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
5. Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
6. Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
7. Apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat?
8. Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
9. Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
10. Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
11. Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan kompetensi itu? Secara khusus apakah yang dimaksud dengan Kompetensi Siswa? Kompetensi Guru dan Kompetensi Matematika?
12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
13. Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
14. Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
18. Bagaimana kedudukan Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat; serta bagaimana implikasinya dalam pendidikan/pembelajaran matematika?
19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
21. Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst?
22. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
23. Apakah perbedaan filsafat dan ideologi pendidikan?; dan bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran matematika? Secara lebih khusus apakah yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yang bersifat Progresif dan Konservatif?

Baiklah saudara semua. Saya sangat mengapresiasi partisipasi dari anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. Saya minta maaf karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak dapat menyebutkan setiap nama dari penanya.

Agar diperoleh pengetahuan yang bersifat cair, demokratis, natural, dan menanmpung semua aspirasi, maka saya menyilahkan pembaca yang budiman untuk menanggapi atau menjawab satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sebagai dosen pengampu akan memberikan/menguraikan jawaban-jawaban saya dalam perkuliahan di kelas dan ada kemungkinan akan saya posting juga.

Kuliah ini sengaja saya share agar dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Demikianlah saya menunggu partisipasi anda semua. Semoga bermanfaat. Amin

Dosen ybs

Marsigit






89 comments:

  1. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Bagaimana pandangan filsafat perihal inteaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Guru adalah dewa nya para siswa, hal ini dikarenakan pada ruang dan waktu tersebut guru lebih mengetahui banyak tentang siswa dan ilmu pengetahuan, sedangkan siswa tidak mengetahui banyak tentang gurunya dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, guru sebaiknya mengerti dan memahami kebutuhan, kemampuan, karakteristik, dan kesulitan siswa sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lebih nyaman, menyenangkan dan bermakna. Dalam pembelajaran, siswa mengkonstruk sendiri pengetahuannya dengan fasilitasi guru, dan siswa sebagai pusat dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  2. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Bagaimana menerapkan pendekatan Hermeneutika dalam pembelajaran matematika?
    Hermeneutika adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Dalam hal pembelajaran matematika maka hermeneutikanya merupakan suatu proses mengkonstruksi pengetahuan hingga menerapkannya. Dimana siswa mengkonstruksi pengetahuannya berangsur-angsur dari konkrit hingga abstrak, serta menggunakan matematisasi vertikal dan matematisasi horizontal. Misalnya, matematika untuk tingkat sekolah dasar khususnya, belajar matematika diawali dengan matematika konkret, dilanjutkan dengan model matematika konkret, selanjutnya matematika formal, dan model matematika formal. Matematika untuk tingkat sekolah dasar adalah aktivitas, jika guru langsung memberikan definisi, maka itu bukan hermeneutika pembelajaran matematika yang tepat untuk siswa SD. Hal ini dikarenakan hakekat belajar matematika siswa SD adalah aktivitas dan jika guru langsung memberikan definisi tentang materi matematika yang dipelajari, itu sama saja membunuh intuisi siswa SD. Contoh hermeneutika dalam pembelajaran matematika adalah: Awalnya belajar penjumlahan dengan menjumlahkan kelereng, kemudian tahap berikutnya menggunakan gambar kelereng, lalu kelereng disimbolkan sebagai lingkaran, dan pada tahap abstrak, siswa langsung menjumlahkan angka, misalnya 10 + 10.

    ReplyDelete
  3. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  4. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Setelah saya membaca tulisan abpak tersebut saya tertarik dengan satu pertanyaan pada no 3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan? Kita tahu matematika sering kali menjadi momok bagi para siswa dan orang lain jangankan siswa temen-temen saya juga pasti menganggap matematika itu sullit. Kita bertanaya kepada orang lain pasti ada jawaban bahwa matematika itu sulit. sebenarnya setelah diselidiki mereka mengatakan seperti itu karena memiliki pengalaman selalu tudak bisa menjawab soal matemayika, agak kesulitan dalam mengaplikasikan matematika . ada juga mungkin karena guru matematika iktu killer, nah paradigma sepeti inilah yang harus kita hilankan, bahwa guru matematika iotu menyenangkan, kita harus merubah mindset pikiran siswa bahwa matematika itu menyenankan, bagaimana caranya, maka kita harus berpenampilan menarik sehingga kita tidak terkesan menyeramkan selanjutnya menggunaka model-model pembelajaran yang menyenangkan bukan hanaya terpusat pada guru akan tetapi terpusat pada siswa. Sehingga pembelajatran yang berlangsung menajdi asek.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas.
    Proses pembelajaran akan efektif, jika interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara intensif. Guru perlu mengenal siswanya secara intensif agar lebih mudah beinteraksi dengan mereka. Adapun interaksi tersebut dapat berupa instruksi kepada siswa. Kemudian siswa dapat diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas dalam kelas. Guru memaksimalkan perannya sebagai pembimbing di kelas. Guru harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses belajar-mengajar, sehingga guru akan merupakan tokoh yang akan dilihat dan akan ditiru tingkah lakunya oleh anak didik. Guru juga bisa memberikan penghargaan dan hukuman kepada siswa.

    ReplyDelete
  6. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pada dasarnya filsafat menjadi landasan yang sangat kuat dalam pendidikan matematika, mulai dari ontologi pendidikan matematika yang membicarakan objek kajian dan apa yang dipelajari dalam pendidikan matematika. Filsafat juga berperan dalam epistemologi pendidikan matematika tentang cara pemerolehan pengetahuan matematika. Dan juga tentang aksiologi pendidikan matematika tentang manfaat dari pendidikan matematika. Secara lebih rinci filsafat terangkum dalam list pertanyaan di atas. Filsafat juga menuntun guru dalam menerapkan metode mengajar, emndidik, membentuk RPP dan perangkat pembelajaran.

    ReplyDelete
  7. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Secara filsafat perbedaan itu selalu dihargai, baik dalam karakter serta kemampuan berpikir, karena memang siswa memiliki memiliki perbedaan satu sama lain. Perbedaan yang memang membuktikan bahwa tidak ada siswa yang sama, hal yang disebabkan karena intuisi mereka yang berbeda. Sehingga sebagai guru harus menghargai intuisi setiap siswa dengan kemampuan mereka masing-masing.

    ReplyDelete
  8. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
    Kaitan antara filsafat dan pendidikan sangatlah erat. Dimana di dalam filsafat menelaah apa sebenarnya pendidikan itu. Pendidikan bersifat normative, maka diperlukan asumsi yang bersifat normative pula. Pendidikan merupakan investasi yang nantinya akan menjadi kebutuhan bagi setiap manusia. Manusia membutuhkan ilmu untuk melangsungkan kehidupannya. Implikasi terhada kurikulum merupakan jangka pendek dari sebuah pendidikan seseorang. Namun pengaruh filsafat untuk kurikulu sangatlah besar. Karena dengan filsafat kita dapat menggali akar permasalahan dari pendidikan dan mendapatkan solusinya, salah satunya dengan kebijakan kurikulum.

    ReplyDelete
  9. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
    Matematika yang cocok dengan anak kecil adalah permainan yang berisi matematika. Karena anak kecil adalah masa bermain seseorang. Yang tidak cocok bagi anak kecil adalah matematika formal, yang mana tidak akan mendapatkan kebermaknaan pada saat mempelajari matematika. Matematika formal tersebutlah yang cocok untuk orang dewasa. Matematika dapat pula menjadi seorang Ratu dan dapat pula sebagai pelayan. Akan dikatakan sebagai ratu karena hamper semua bidang menggunakan matematika. Tanpa matematika mungkin ilmu lainnya akan terhambat perkembangannya. Namun matematika juga pelayan. Karena matematika dapat membatu kita dalam kehidupan sehari – hari. Contohnya adalah dalam pembelajaran pada anak kecil. Pembelajarab pada anak kecil haruslah bersifat kontekstual yang dapat ditemukan di sekitar kita.

    ReplyDelete
  10. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
    Pikiran anak kecil belum dapat disebut sebagai filsafat apabila ia belum memiliki fondasi yang kuat. Oleh karena itu sebelum ia berfilsafat sebaiknya mengumpulkan segala pengetahuan, dan menentukan pandangannya. Lebih utama memantapkan keyakinan akan Tuhan Yang Maha Esa untuk mencegah kesesatan dalam berfilsafat. Karena filsafat sangat luas ilmunya, diluar dimensi yang kita tahu, dan tak mengenal ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Saya akan mencoba mengulik secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum? Pertama mengenai konsep pendidikan, pendidikan berasal dari kata didik, dimana didik adalah membantu siswa dalam membangun dunianya sendiri tanpa merusak dimensi ruang dan waktu siswa. Proses mendidik dilakukan dengan menanamkan intuisi berdasarkan pengalaman, bukan doktrin pengetahuan yang ada. Kemudian apakah perbedaan pendidikan sebagai investasi dan sebagai kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap kurikulum? Pendidikan sebagai investasi berorientasi kepada pendidikan dengan tujuan tertentu untuk didapat, ambisiusm tertanam dalam penganut pendidikan investasi, karena dipikiran mereka adalah apa yang didapat ketika setelah ada pendidikan. Berbeda dengan pendidikan sebagai kebutuhan dimana persepsi siswa bahwa hidup butuh pengetahuan untuk dapat mengembangkan potensi diri, disana maka belajar adalah keinginan dari dalam bukan sekedar paksaan, sehingga mata pelajaran akan disenangi bukan dihindari. Implementainya kepada kurikulum adalah belum adanya kurikulum yang memfasilitasi pelajar kepada hal hal diatas, kurikulum cenderung memberikan doktrin mau kemana peserta didik dibawah dan dijadikan budak pendidikan.

    ReplyDelete
  12. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pembelajaran matematika yang memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan logika pikirnya sejak dini memang sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih mudah menerima dan memahami materi pelajaran matematika yang diberikan oleh guru. Namun perlu diakui bahwa pembelajaran semacam ini menuntut kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika.

    ReplyDelete
  13. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pendekatan hermenetika dalam pembelajaran matematika yaitu dengan adanya kegiatan interkasi di dalam proses pembelajaran baik guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Seperti contohnya seorang guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya dalam menemukan konsep, peran guru yaitu sebagai fasilitator. Sehingga setiap siswa akan mempunyai pengalaman yang berbeda- beda dalam belajarnya.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Pertanyaan-pertanyaan brainstroming yang bapak bobotnya begitu berisi dan bila dijawab semua, bisa menjadi 23 buku. Namun dalam kapasitas saya saat ini, saya hanya berani memposting jawaban untuk pertanyaan “Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?”
    Menurut saya apa pun jenis pembelajaran matematika yang digunakan, apakah berbasis masalah, berbasis realistik, atau berbasis proyek, semuanya memiliki landasan filsafat masing-masing. Jawaban pertanyaan ini sebetulnya cukup sampai “ya” saja, namun sebagai bentuk tanggungjawab saya memilih jawaban tersebut, saya akan menambahkan apa dasar filsafat pembelajaran berbasis proyek. Menurut pikiran saya, pembelajaran berbasis proyek memiliki landasan filsafat Aristoteles, yaitu Empirical-Evidence. Karena dalam pembelajaran berbasis proyek, dilakukan penelitian dan pencarian bukti untuk hipotesis penelitiannya. Hal ini sangat identik dengan metode atau cara yang diajukan Aristoteles untuk mendapatkan pengetahuan.

    ReplyDelete
  15. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah pembahasan tiada matinya, selalu ada yang dapat dikaitkan dengan teori filsafat. dalam matematika contohnya, selalu ada yang dikaitkan dan masuk akal ketika berbicara tentang filsafat. hal ini terbukti dari berbagai pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para mahasiswa tentang filsafat dan matematika. dari sekian banyak pertanyaan, saya tertarik dengan pertanyaan ketiga yaitu Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    dalam pertanyaan ini mengandung 2 hal penting yaitu, bagaimana belajar matematika yang sering terjadi pada siswa baik di sekolah maupun diluar sekolah, dan bagaimana belajar matematika yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  16. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    pandangan siswa tentang belajar matematika adalah sesuatu yang meyeramkan, hal ini sering dijadikan penelitian oleh para pakar matematika. dalam proses belajar mengajar di sekolah, masih banyaknya pendidik yang terus memberikan penjelasan tentang materi materi yang akan dicapai dalam satu pertemuan tanpa memberikan kesempatan pada siswa untuk tampil dalam pembelajaran tersebut. dari segi kacamata filsafat, hal ini tidaklah diperkenankan karena masih menerapkan sistem teachercenter. belajar matematika yang menyenangkan dalam pandangan filsafat adalah siswa membangun sendiri konsep matematika, siswa mempelajari bukan guru mengajar, serta siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran. dengan kata lain, belajar matematika akan menyenangkan jika guru dapat memfasilitasi kebutuhan belajar siswa dengan maksimal tanpa harus dengan pembelajaran teachercenter.

    ReplyDelete
  17. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dengan memposisikan filsafat ilmu dalam konteks yang melatarbelakangi pendidikan matematika yang kemudian guru mengidentifikasi karakteristik siswa dengan menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Guru atau calon guru harus mampu memaknai setiap fenomena yang terjadi baik di dalam kelas maupun diluar kelas agar dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang tidak hanya bersumber pada buku referensi dan internet tetapi dari lingkungan sekitar.Guru atau calon guru tidak hanya mempunyai kemampuan dibidang profesional tetapi harus seimbang antara kemampuan profesional dan pedagogik nya. Guru atau calon guru agar dapat mengidentifikasi karakter dan kemampuan siswa, interaksi yang terjalin, hakekat dari belajar, perangkat pembelajaran dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  18. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Filsafat mencakup ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi pada pendidikan matematika adalah hakikat tentang apa itu pendidikan matematika. Epistemologinya adalah bagaimana cara menerapkan pendidikan matematika yang baik dan hasilnya bisa optimal. Misalnya, model pembelajaran apa yang digunakan agar siswa dapat memahami konsep yang guru ajarkan. Aksiologinya adalah manfaat apa yang diperoleh saat siswa sudah mempelajari konsep tersebut.

    ReplyDelete
  19. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    3.Bagaimana pandangan filsafat tentang pembelajaran yang menyenangkan
    Guru memegang peranan yang sangat penting untuk dapat mencapai pembelajaran yang menyenangkan, khususnya dalam pembelajaran matematika, yang mana siswa sangat takut akan mata pelajaran tersebut. Pembelajaran matematika yang menyenangkan hendaknya dapat menjadi sarana dalam membangun logika dan pengetahuan matematis siswanya. Kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa sangat diperlukan dalam idealnya sebuah pembelajaran. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika. Dalam hal ini, guru diharapkan untuk tidak lagi mengajar secara konvensional di mana prosesnya hanya tentang transfer ilmu dari guru kepada siswanya, akan tetapi guru diharapkan memberikan pembelajaran yang mampu menjadi sarana bagi siswa untuk membangun pengetahuan matematisnya.

    ReplyDelete

  20. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Pertanyaan no 15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
    Menurut pendapat saya, para siswa sudah bisa berfilsafat. Mengapa demikian, dalam filsafat kita memunculkan yang yang mungkin ada menjadi ada. seperti yang telah dijelaskan pak Marsigit dalam perkuliahan, hal yang ada itu bersifat tetap dan berubah. Yang bersifat berubah itu berlandaskan pada pengalaman, pada realita. Inilah cara membelajarkan anak kecil, melalui mitos, pengalaman, sehingga mereka dapat mengerti hal yang ada tersebut. Dalam matematika, kita mengenal pendapat dan ajaran Imanuel Kant, mengenai matematika murni yang bersifat a priori dan matematika sekolah yang bersifat a posteriori. Membelajarkan hal yang bersifat abstrak dan memunculkan itu dalam pikiran anak-anak merupakan kegiatan olah pikir yang ada dalam filsafat. Dengan demikian, para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat.

    ReplyDelete
  21. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Terkait pertanyaan 5 : Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
    Filsafat matematika adalah cabang filsafat yang bertujuan untuk merenungkan dan menjelaskan sifat dari matematika. Ini merupakan kasus khusus dari tugas epistemologi yang menjelaskan pengetahuan manusia secara umum. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam Filosofi matematika seperti: Apa dasar untuk pengetahuan matematika? Apakah sifat kebenaran matematika? Apa ciri kebenaran matematika? Apa pembenaran untuk pernyataan mereka? Mengapa kebenaran matematika kebenaran yang diperlukan?
    Pendekatan secara luas diadopsi oleh epistemologi, adalah untuk menganggap bahwa pengetahuan dalam bidang apapun diwakili oleh satu set proposisi, bersama-sama dengan prosedur untuk memverifikasi atau memberikan pembenaran pada suatu pernyataan. Atas dasar ini, pengetahuan matematika terdiri dari satu set proposisi bersama dengan bukti-buktinya. Ketika pembuktian matematika didasarkan pada penarikan kesimpulan/alasan (pertimbangan yang sehat) saja tanpa dengan data empiris, maka pengetahuan matematika dipahami sebagai pengetahuan yang paling diyakini dari semua pengetahuan. Secara tradisional, filsafat matematika adalah untuk memberikan dasar kepastian pengetahuan matematika. Yaitu, menyediakan sistem di mana pengetahuan matematika dapat dibuang secara sistematis dalam membangun kebenarannya. Hal ini tergantung pada asumsi yang diadopsi, yaitu secara implisit atau eksplisit.

    ReplyDelete
  22. Komunikasi matematika dalam filsafat terdiri dari empat dimensi, yaitu material, formal, normatif, dan spiritual. Komunikasi material matematika dapat terjadi misalnya seorang siswa berusaha mengetahui banyaknya benda. Komunikasi material matematika dengan objek-objek material matematika sebagai sumber pengetahuan matematika melalui penginderaan diri. Komunikasi formal matematika adalah tahap komunikasi di mana dikembangkan berbagai lambang yang mewakili konsep-konsep matematika. Lambang-lambang matematika wewakili dunia pemikiran matematika yang bersifat kokoh, konsisten, dan koheren. Komunikasi normatif matematika ditandai dengan menilai baik buruknya atau pantas tidak pantasnya matematika. Komunikasi spiritual matematika adalah keyakinan kita bahwa kita tidak dapat mengandalkan pikiran kita atau matematika untuk memaknai spiritual. Haruslah kita tetap menjadikan hati kita melalui doa dan iman kepada Tuhan YME sebagai penuntun langkah kita.

    ReplyDelete
  23. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Matematika masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa, hal ini terjadi karena pemeblajaran yang dilakukan oleh guru tidak dikemas dengan baik dan menyenangkan, siswa dan guru terlalu terfokus pada hasil akhir nya saja berupa nilai, padalah sejatinya tujuan pembelajaran adalah agar siswa paham terhadap materi yang diajarkan dan dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yang mulai diberlakukan diIndonesia merupakan langkah awal untuk mengubah cara pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang awalnya teacher center sekarang diubah menjadi student center untuk melatih perkembangan pemikiran siswa.

    ReplyDelete
  24. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
    Menurut saya, ya pemikiran anak kecil sudah dapat dikatakan sebagai berfilsafat. Filsafat dibangun dari pemikiran-pemikiran kecil, baik matang atau pemikiran yang belum matang. yang kemudian dikembangkan melalui pemahaman atas ilmu pengetahuan dan pengalaman serta penyesuaian pikiran dengan teori para ahli seiring bertambahnya usia.

    ReplyDelete
  25. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Pada elegi di atas, terdapat puluhan pertanyaan namun izinkan saya menjawab satu dari pertanyaan tersebut yaitu terkait bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Seperti yang telah kita ketahui bahwa manusia diciptakan dengan karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda-beda dengan satu dan yang lainnya. Tidak terkecuali siswa pun terlahir secara unik. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing.

    ReplyDelete
  26. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    saya tertarik pada pertanyaan" Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?" menurut saya pemikiran anak kecil bisa dibilang sudah berfilsafat. Karena pada dasarnya filsafat adalah ilmu olah pikir, kita dituntut untuk memahami pikiran orang lain. Dunia anak dan dunia kita memang berbeda, kita sudah pernah menjadi anak kecil namun anak kecil belum perna dewasa. Saat kita kecil mungkin saja pikiran kita sama dengan anak kecil saat ini, maka hal tersebut membuat saya berpikiran bahwa pikiran anak kecil sudah berfilsafat.

    ReplyDelete
  27. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Saya akan mencoba untuk menanggapi pertanyaan nomor 8 mengenai penugasan kepada siswa atau PR. Penugasan atau pemberian tugas kepada siswa itu perlu sebagai sarana untuk mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk menyelesaikan sebuah masalah matematika. Namun yang menjadi penekanan dalam hal ini guru harus mampu memberikan tugas kepada siswa sesuai ruang dan waktunya atau sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa. Penugasan yang terlalu berat akan membebani siswa tetapi penugasan yang terlalu mudah maka akan diremehkan oleh siswa. Oleh karena itu guru harus mampu secara adil menentukan penugasan seperti apa yang cocok untuk siswanya.

    ReplyDelete
  28. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    selanjutnya saya akan berkomentar untuk poin ke 20, secara filsafati bagaimana keikhlasan belajar matematika? keikhlasan seharusnya selalu menyertai dalam semua kegiatan kita, termasuk ikhlas belajar. matematika mempunyai karakteristik tersendiri sebagai ilmu pengetahuan, misalnya dalam belajar matematika harus menggunakan penalaran. tidak hanya sekedar mengetahui dan mengerti. ikhlas belajar matematika menurut saya adalah bagaimana kita ikhlas mempelajari matematika sesuai dengan karakteristiknya, tidak memaksakan kehendak kita sendiri, dan mengikuti alur dan tata cara dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  29. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    InsyAllah saya mencoba menjawab pertanyaan filsafat di atas. Mohon koreksinya. Terimakasih.
    1. Karakter dan kemampuan berpikir siswa adalah sesuatu yang mungkin ada dan bersifat unik. Karena ada di dalam pikiran siswa maka bersifat mungkin ada. Bersifat unik karena hanya dimuiliki oleh siswa tersebut.
    2. Berdasarkan referensi artikel-artikel sebelumnya Interaksi guru dan siswa adalah bagaikan dewa dan belalang. Namun, sebagai dewa, guru janganlah semena-mena. Dan jangan menjadikan belalang adalah belalang.
    3. Matematika yang menyenangkan adalah matematika yang ada. Yang dapat dirasakan siswa di kehidupannya.
    4. Proyek artinya dilaksanakan suatu kegiatan. Jika sudah terlakasanakan itu adalah filsafat ada.
    5. Konsep matematika bilangan, geometri dll adalah filsafat ada dan yang mungkin ada. Karena sekali lagi matematika itu pada awalnya berasal dari pemikiran seseorang yang mungkin adaa di dunia ini.
    6. Sikap matematika secara filsafat artinya mempercayai “yang mungkin ada” itu ada.
    7. Komunikasi artinya usaha memahami satu sama lain, sehingga kita mencoba memahami orang lain dgn komunikasi.
    8. Tugas dalam rangka memenuhi formal.
    9. Seluruh ilmu memiliki nilai spirirtual, termasuk matematika di seluruh bagiannya.
    10. santun artinya bijak. Bijak kepada siswa, lingkungan, matematika itu sendiri dan dirinya sendiri. Dimana semua diberikan dalam pembelajaran dalam porsi yang cukup. Jika berlebihan maka ia akan sombong, dan akan mati seperti perlombaan menggapai langit.
    11. Kompetensi adalalah kemampuan yang sebaiknya dimiliki. Kompetensi siswa sudah tercantum umum pada kompetensi inti dan dijabarkan seesuai kebutuhan pada kompetensi dasar. Kompetensi guru ada 4 yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Kompetensi matematika pun sudah tercantum dalam peraturan mentri tergantung materi pelajaran.

    ReplyDelete
  30. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  31. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    14. Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah yang kontekstual. Matematika yang hanya untuk orang dewasa adalah matematika abstrak. Matematika ratu adalah matematika abstrak. Matematika pelayan adalah matematika kontekstual. Untuk anak adalah matematika pelayan.
    15. Belum. Karena anak belum mampua membuat sintetesis dan anti tesis.
    16. Menerjemahkan dan diterjemahkan.
    17. Aliran filsafat tersebut sesungguhnya dasar dari matematika. Oleh karena itu dengan sendirinya aliran tersebut pun meruoakan kegiatan praktis seperti halnya matematika.
    18. Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat adalah fatamorgana. Dan kesemua itu diperlukan dalam pembelajaran matematika.
    19. –
    20. Keikhlasan artinya tidak sombong. Jika kita ikhlas atau tidak sombong akan ilmu matematika kita artinya kita akan terus mau belajar matematika.
    21. Jika seseoorang telah memiliki sifat itu semua dalam pelajaran matematika artinya ia telah menggapai dirinya ke dalam matematika.
    22. Pemebelajaran matematika tradisional artinya tetap, sedangkan Pemebelajaran matematika inovatif artinya berkembang. Konsep pembelajaran kontenporer adalah pembelajaran yang inovatif menggunakan berbagai metode pembelajaran.

    ReplyDelete
  32. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Sudah merupakan keteteapan dari Tuhan bila semua ciptaan-Nya unik dan berbeda. Sama halnya dalam pembelajaran matematika, siswa memiliki karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda antara satu dengan lainnya. Alangkah baiknya bila perbedaan karakter disikapi dengan bijaksana sebagai karunia Tuhan. Sementara itu, dalam menyikapi perbedaan kemampuan berpikir, siswa perlu difasilitasi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan demikian, setiap siswa dapat mengembangkan potensinya secara maksimal.

    ReplyDelete
  33. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Secara filsafat, matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil?
    Matematika yang cocok untuk anak kecil (anak SD) adalah matematika yang bersifat kontekstual dan menitikberatkan pada aktivitas. Aktivitas yang dimaksud yaitu aktivitas bermain yang menyenangkan karena pada dasarnya anak SD masih senang bermain. Siswa juga sebaiknya jangan dijejali dengan berbagai konsep, materi yang abstrak karena hal tersebut hanya cocok bagi orang dewasa.

    ReplyDelete
  34. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Filsafat, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang terdiri atas “philein” artinya mencintai dan “sophia” artinya kebijaksanaan. Filsafat berarti mencintai kebijaksanaan. Filsafat menuntun manusia untuk lebih bersikap bijaksana. Ketika belajar matematika, secara filsafati ada konsep kebijaksanaan yang menuntun pada konsep keikhlasan dalam belajar matematika. Saat sesorang memiliki keikhlasan, kerendahan hati, dan kebijaksanaan dalam belajar matematika maka akan selalu ada kemauan untuk belajar matematika. Terlebih lagi ketika seseorang dengan bijak mengakui bila banyak hal yang belum diketahuinya, ia akan dengan ikhlas terus belajar.

    ReplyDelete
  35. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    “Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?”
    Interaksi guru dan siswa di kelas tidak hanya sebatas transfer ilmu guru ke siswa karena itu akan mewujudkan pembelajaran yang kurang bermakna. Seharusnya, interaksi antara guru dan siswa di kelas terjadi proses terjemah dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  36. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari artikel di atasa saya merefleksi bahwa pengembangan pendidikan matematika sangat didasari oleh filsafat ilmu. Selanjutnya perlu dipelajari aliran filsafat yang akan dijadikan dasar untuk mengembangakn pendidikan matematika. selnjutnya perlu diperhatikan beberapa hal agar pendidikan matematika dapat berkembang dengan baik, diantaranya tentang perbedaan karakter siswa ditinjau dari filsafatnya dan bagaiman peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Hal-hal tersebut dapat ditinjau dari segi filsafatnya untuk meningkatkan mutu pendidika matematika.

    ReplyDelete
  37. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Saya menanggapi no 11 tentang kompetensi. Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Guru yang berkompetensi filsafat dapat dikategorikan guru professional dimana ia memiliki seperangkat keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Sedangkan kompetensi siswa cenderung melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga bersamaan dengan kepercayaan mereka terhadap ketekunan dan keberhasilan dirinya sendiri dalam matematika yang diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistimatis, logis dan mendalam. Sedangkan kompetensi matematika meliputi Conceptual Understanding, Procedural Fluency, Strategic Competence, Adaptive Reasoning, dan Productive Disposition. Jadi, semua kompetensi tersebut saling berkaitan dalam proses pembelajaran yang nantinya akan merujuk kesuatu keberhasilan.

    ReplyDelete
  38. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Ilmu filsafat juga mempelajari tentang ilmu jiwa atau psikologi, sehingga jika dipandang secara filsafat, setiap peserta didik atau siswa akan memiliki karakter yang berbeda-beda. Begitu pun dengan kemampuan berpikirnya, setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Sebagai guru, seharusnya mampu melihat perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa tersebut menggunakan ilmu filsafat. Jika guru mampu melihat, maka yang harus dilakukan adalah mengembangkan potensi siswa sesuai karakter dan kemampuannya, tidak dipaksakan untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh guru.

    ReplyDelete
  39. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Secara filsafat interaksi antara guru dan siswa adalah interaksi yang dua arah bukan satu arah guru ke siswa saja, melainkan juga interaksi siswa ke guru. Bahkan seharusnya lebih banyak interaksi siswa ke guru daripada interaksi guru ke siswa, maksudnya siswa yang lebih aktif di dalam kelas. Guru hanya sebagai fasilitator dan tidak bersifat diktator, interaksi yang ada seharusnya bersifat harmonis tidak cenderung memaksa.

    ReplyDelete
  40. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Belajar matematika yang menyenangkan adalah belajar matematika yang sesuai dengan kedudukan subyek yang sedang belajar matematika. Jika yang belajar filsafat adalah anak-anak, misalnya pada tingkat SD atau SMP maka belajar matematika yang menyenangkan yaitu ketika mereka belajar matematika sekolah atau matematika untuk anak bukan matematika dewasa. Matematika untuk anak berarti belajar matematika melalui aktivitas. Sedangkan, jika pada tingkat dewasa maka belajar matematika akan menyenangkan jika mempelajari matematika untuk dewasa atau matematika murni yang banyak berkutat pada rumus.

    ReplyDelete
  41. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
    Filsafat sangat dekat dengan kehidupan kita, bahkan ada yang mengatakan bahwa usia filsafat sama tuanya dengan usia manusia. Oleh karena itu, fenomena-fenomena yang terjadi pada kehidupan manusia dapat dijelaskan secara filsafat, begitupun jika kita menciptakan produk yang berkaitan dengan kehidupan itu pun juga filsafat. Jadi, menurut saya, pembelajaran berbasis proyek mempunyai landasan filsafat. Karena pembelajaran berbasis proyek akan menghasilkan produk yang bermanfaat untuk kehidupan manusia, maka itu memiliki landasan filsafat.

    ReplyDelete

  42. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Menurut pandangnan filsafat interaksi yang dilakukan guru kepada murid tidak hanya “transfer” ilmu pengetahuan. Akan tetapi lebih dari hal tersebut. Guru seharusnya membantu siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini dikaitkan dalam pembelajarn matematika di kelas.

    ReplyDelete
  43. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bermakna bagi siwa. Hal ini disesuikan kedudukan subjek yang sedang melakukan pembelajaran matematika. Jika pada tingkat SD dan SMP maka pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang melibatkan aktivitas.

    ReplyDelete
  44. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Secara filsafati belajar matematika memerlukan kebijaksanaan. Bijaksana dalam mempelajari matematika berate belajar dengan ikhlas terhadap ilmu-ilmu yang kita pelajari. Matematika juga mengajarkan ketekunan dan keikhlasan. Jika tanpa keikhlasan maka hal itu akan sulit dan berat dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  45. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Sesungghnya manusia dilahirkan dengan banyak karakter. Maka dengan dengan karakter tersebut melahirkan banyak pemikiran-pemikiran yang beragam pula. Tak terkecuali siswa-siswa di kelas. Guru harus mampu mamfasilitasi perbedaan pemikirian siswa dengan metode yang tepat dan inovatif.

    ReplyDelete
  46. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Secara filsafat, matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil?
    Jika pada tingkat SD atau untuk anak-anak maka pembelajaran yang cocok adalah pembelajaran yang melibatkan aktivitas. Pembelajaran yang hanya berbasis teori dan abstrak tidak cocok untuk anak kecil.

    ReplyDelete
  47. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dipandang secara filsafati, “Belajar” menurut Prof. Marsigit yaitu segala usaha untuk "mengadakan" dari beberapa sifat "yang mungkin ada". Artinya bahwa jika hidup ini adalah belajar untuk terus mengadakan sifat-sifat kebaikan yang mungkin ada di dunia ini untuk bekal di akhirat.

    ReplyDelete
  48. Dwi Kawuryani
    14301241049 (Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam tulisan tersebut saya akan menanggapi tentang hakekat lks. Menurut saya hakekat dari lks adalah media penolong bagi siswa untuk dapat belajar. Lks tidak hanya berisi latihan soal dan rangkuman materi, tetapi lks harus mampu membantu siswa dalam mengkonntruksi pengetahuan yang sedang ia pelajari.

    ReplyDelete
  49. Dwi Kawuryani
    14301241049 (Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam tulisan tersebut saya akan mengutarakan pendapat saya tentang hakekat metode. Metode adalah sinyal atau langkah yang digunakan guru dalam proses mengajar. Metode guru dalam me ngajar bervariasi, sesuai dengan materi yang akan digunakan. Pemilihan metode Alan mempengaruhi hasil belajar siswa. Metode yang baik hendaknya berpusat pada siswa, dan menjadi kan guru sebagai fasilitator saja. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode dengan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  50. Dwi Kawuryani
    14301241049 (Pendidikan Matematika I 2014)
    Salah satu media brainstorming yang diberikan dalam tulisan tersebut adalah apakah pikiran siswa dapat disebut sebagai filsafat? Menurut saya pikiran siswa adalah salah satu contoh berfilsafat, karena filsafat adalah pola pikir seseorang, sehingga pola pikir seorang anak kecil akan merupakan pola pikir dari anak tersebut.

    ReplyDelete
  51. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pada dasarnya setiap siswa memiliki ciri yang berbeda-beda. Ciri yang dimili siswa itu merupakan karakristik bawaan atau heredity dan karakteristik diperoleh dari pengaruh lingkungan sejak siswa dilahirkan. Terkadang didalam satu kelas terdapat berbagai karakter siswa dan kampuan berfikir siswa yang berbeda-beda. Untuk itu, hendaknya seorang guru dapat benar-benar memfasilitasi siswanya secara adil untuk dapat memahami mata pelajaran dengan karakter dan kemampuan siswa yang berbeda-beda dengan menciptakan pembelajaran yang inovatif yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir masing-masing siswa.

    ReplyDelete
  52. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Mengenai andangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas. Dengan adanya hubungan yang baik dalam berinteraksi akan dengan mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran akan efektif bila komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara intensif. Guru dapat merancang model-model pembelajaran sehingga siswa dapat belajar secara optimal. Guru mempunyai peran ganda dan sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan siswa. Akan tetapi proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas selama ini seringkali satu arah dimana siswa hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru. Oleh karenanya, guru harus memfasilitasi siswa dengan lebih dilibatkan secara aktif untuk berinteraksi dengan guru atau antar siswa.

    ReplyDelete
  53. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Mengenai pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan. Bagi beberapa siswa, terkadang belajar matematika bisa dibilang rumit dan membosankan. Pelajaran yang diterima anak di sekolah pun hanya berkutat di papan tulis dan buku saja. Bila anak bisa menemukan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari mungkin akan membuat matematika tak akan menjadi mata pelajaran yang menakutkan. Jika seorang guru kreatif, soal-soal di dalam matematika bisa dimodifikasi menjadi aneka bentuk permainan seru sehingga dapat membuat siswa senang dalam belajar matematika. Walapun hal ini akan memakan waktu yang lebih, tapi diharapkan siswa menjadi semakin mencintai matematika.

    ReplyDelete
  54. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pengertian dan definisi pemecahan masalah adalah sebuah proses dimana suatu situasi diamati kemudian bila ditemukan masalah dibuat penyelesaiannya dengan cara menentukan masalah, mengurangi atau menghilangkan masalah atau mencegah masalah itu terjadi (Mulyanto,dkk : 2008). Sementara itu,Pemecahan masalah secara filsafat berarti masalah tersebut diselesaikan menggunakan akal pikiran (berpikir). Dalam hal ini berpikir yang dimaksud adalah berpikir yang tidak separuh-separuh dengan penuh kesadaran dengan urutan yang sistematis.

    ReplyDelete
  55. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika yang konservatif adalah Pembelajaran matematika yang bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dengan catatan masih sesuai dengan konsep yang telah dipegang erat selama ini. Sementara itu Pembelajaran matematika yang progresif adalah pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat. Dimana siswa dianggap sebagai pusat dari pembelajaran. Dalam pembelajaran ini siswa mengkonstruk sendiri pengetahuan yang ingin diperolehnya.

    ReplyDelete
  56. Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan matematika i 2014

    Bagaimana filsafat memandang perbedaaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Ditinjau bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa hal ini dapat dilihat melalui bagaimana kita melihat karakter. Ketika kita berbicara mengenai karakter maka kita akan kita akan menuju pada suatu hal yang spesifik. Seperti bagaimana karakter si A, B dan C. Ketiganya pasti memiliki perbedaan, bagaimana cara mereka berjalan, menatap seseoorang, bahkan memegang sendok. Dalam merespon sebuah permasalahan atau mencari sebuah solusi dari persoalan setiap individu pasti memiliki perbedaaan dengan yang lain, ada yang cepat dalam merespon maupun lambat dalam responnya.



    ReplyDelete
  57. Isnan N.W.RJune 9, 2017 at 11:41 PM

    Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan matematika i 2014

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Interaksi juga dapat diartikan sebagai proses komunikasi. Dalam proses komunikasi guru dan siswa pastilah berbeda, bagaimana seorang guru merespon terhadap siswa. Dan bagaimana siswa merespon terhadap guru. Saat seorang guru merespon, maka ia akan berperan sebagai penunjuk arah, menunjukkan jalan yang baik dan benar yang harus dilalui oleh siswa. Dan siswa dalam responnya berperan sebagai seorang yang mencari arah, kearah manakah ia harus berjalan, bagaimana cara ia melewati jalan tersebut, dan hal lain yang perlu diketahuinya.

    ReplyDelete
  58. Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan matematika i 2014
    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Hakikat belajar ialah membentuk sebuah pengetahuan baik yang sudah ada maupun yang belum. Sedangkan belajar matematika adalah bagaimana proses dalam sebuah logika untuk menemukan solusi dalam pemecahan masalah. Sesuatu yang menyenangkan adalah sesuatu yang dalam kita melakukannya kita tidak mendapati tekanan, kita antusias dalam mengikuti, dan membuat kita menikmati hal yang kita lakukan. Sehingga dalam proses belajar matematika yang menyenangkan, adalah dalam proses kita membangun suatu pengetahuan tentang suatu pemecahan masalah kita menikmati segala proses yang ada dalam pembelajaran tersebut.

    ReplyDelete
  59. Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan matematika i 2014

    Bagaimana filsafat memandang adanya konsep –konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
    Tentang cara pandang filsafat mengenai adanya konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst. sebagaimana cara padang seorang manusia melihat adanya benda-benda disekitarnya. Benda-benda ini ada, dan dapat dipelajari dengan adanya ilmu sebelumnya yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete
  60. Isnan Noor Wahid Rohmatulloh
    14301241057
    S1 pendidikan matematika i 2014

    Apa yang dimaksud sifat matematika secara filsafat?
    Dalam pengertiannya matematika adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang bagaimana seseorang berpikir dengan logikanya dalam mencari atau menemukan solusi dari sebuah permasalahan. Sifat matematika, adalah dalam kehidupan bagaimana kita menerapkan pola-pola berpikir dalam matematika, bagaimana kita mencari solusi dari permasalahan secara rasional dan logis.

    ReplyDelete
  61. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Hakikat dari Filsafat Komunikasi tidak bisa dilepaskan dari tiga kompenen filsafat ilmu sebagai salah satu cabang filsafat. Tiga komponen itu adalah Ontologi, epistemologi, dan axiologi. Ontologi menyangkut hakikat obyek kajian ilmu dan teori-teorinya; epistemologi menyangkut prosedur dan metode mendapatkan pengetahuan; dan axiologi menyangkut nilai kegunaan suatu ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia. Ketiga komponen ini merupakan pijakan ilmu komunikasi sejak disiplin ini menjadi pengetahuan ilmiah.

    ReplyDelete
  62. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana pandangan filsafat perial interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Secara filsafat, interaksi antara guru dan siswa di kelas berarti adanya interaksi dua arah yang terjadi dari guru ke siswa dan dari siswa ke guru. Guru sebagai fasilitator memfasilitasi siswa agar bisa belajar dan siswa lebih aktif belajar daripada hanya menerima pengetahuan.

    ReplyDelete
  63. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Sudah menjadi kodratnya manusia memiliki karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda. Setiap manusia itu unik dan istimewa dengan perbedaannya. Oleh karena itu, perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa perlu disikapi dengan bijaksana. Guru perlu memfasilitasi seluruh siswa dengan karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda itu sedemikian sehingga siswa dapat belajar dari perbedaan itu dan dapat saling melngkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  64. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Secara filsafati, matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil?
    Secara filsafat, matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika yang berupa kegiatan atau aktifitas. Matematika yang berupa kegiatan itu akan membuat anak aktif mengkonstruksi konsep matematikanya sendiri. Anak akan belajar dari suatu benda nyata yang kemudian dipersepsi menjadi pengetahuan berupa konsep matematika. Sedangkan matematika yang tidak cocok untuk anak kecil adalah matematika formal yang dalam pembelajarannya anak hanya diberikan teori atau konsep dan contoh penerapannya. Matematika formal yang demikian hanya cocok diterapkan untuk mahasiswa, bukan anak kecil.

    ReplyDelete
  65. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Dalam belajar matematika, ada konsep keikhlasan. Saat seseorang memiliki konsep keikhlasan dan hati yang terbuka untuk belajar matematika maka orang tersebut akan siap dan memiliki kemauan untuk belajar matematika. Belajar matematika tidak dapat dipaksakan, karena dengan paksaan itu seseorang akan tidak siap belajar matematika dan akhirnya belajar matematika itu hanya akan menjadi bencana baginya. Sebaliknya, seseorang yang ikhlas belajar matematika akan siap untuk belajar dan proses belajar akan menjadi berkah baginya.

    ReplyDelete
  66. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    2.Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Interaksi guru dan siswa di kelas haruslah merupakan kegiatan silaturahmi dimana terdapat proses menterjemahkan dan diterjemahkan, bukan pemaksaan. Sehingga dalam berinteraksi guru tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada siswa, namun guru berusaha menterjemahkan siswa sebaik-baiknya, sehingga guru akan diterjemahkan oleh siswa dengan baik pula.

    ReplyDelete
  67. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Belajar matematika akan menyenangkan jika guru tidak berusaha menutupi sifat siswa, yaitu jika guru mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun matematikanya sendiri, bukan memberikan matematika guru kepada siswa.

    ReplyDelete
  68. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
    Guru mengajar berarti guru memfasilitasi siswa membangun pengetahuaannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa. Memberi kesempatan berarti tidak menutupi sifat-sifat siswa, tidak memberikan matematika tetapi memfasilitasi. Mendidik dan mengajar memiliki perbedaan. Mengajar lebih berfokus pada materi sedangkan mendidik tidak hanya pada materi tetapi juga pada kepribadian, jadi guru mendidik berarti bahwa guru menjadi contoh yang baik bagi siswa, memberikan keteladanan, memotivasi siswa.

    ReplyDelete
  69. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
    Idealisme berarti bahwa menganggap obyek memiliki sifat ideal. Dalam pembelajaran matematika, contohnya adalah bahwa saat kita mengatakan kerangka kubus, yang kita bayangkan adalah kerangka kubus yang memiliki rusuk yang lurus, bukan kerangka kubus yang memiliki rusuk yang agak penyok, agak melengkung, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  70. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Menelusuri sejarah perkembangan teori-teori komunikasi berarti kita melakukan pengkajian jejak ontologis ilmu komunikasi. Demikian pula halnya dengan perkembangan metodologi dan dimensi-dimensi moral dan etika ilmu komunikasi, berarti kita melakukan pengkajian mengenai jejak-jejak epistemologi dan axiologi ilmu komunikasi.

    ReplyDelete
  71. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dalam pembelajaran bisa dikatakan bahwa guru adalah dewanya siswa, dimana guru memiliki pengalaman yang lebih dari siswa, dan guru mengerti banyak tentang siswa. Sehingga guru dan siswa harus saling mengerti dan menghormati. Guru yang lebih mengetahui siswa hendaknya melakukan proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa tanpa menghilangkan hak nya. Guru memberikan fasilitas untuk siswa dan pembelajaran yang dilakukan berpusat pada siswa.

    ReplyDelete
  72. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
    Hakikat penugasan untuk siswa adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa ketika belajar, sehingga penugasan yang terbaik adalah yang diberikan di kelas dan dikerjakan oleh siswa melalui aktivitas-aktivitas, seperti contohnya LKS (yang memiliki jenis yang beragam) dan akan terkumpul sebagai portfolio yang diletakkan di kelas. Jika itu harus dikerjakan di rumah (atau disebut sebagai PR) sebaiknya yang tidak memberatkan siswa dan masih sejalan dengan kegiatan siswa di kelas.

    ReplyDelete
  73. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa?
    Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika yang dipelajari melalui aktivitas, bahwa anak kecil tidak seharusnya dikenalkan rumus secara langsung tetapi harus melalui aktivitas-aktivitas untuk menemukan rumus, misalnya saja untuk mengenalkan penjumlahan, tidak dengan menyebutkan bahwa 1+1=2, melainkan dengan aktivitas dan menggunakan benda-benda konkrit di sekitar untuk menjelaskan bahwa 1+1=2, misalnya dengan membeli sebuah apel kemudian membeli lagi sebuah apel, dan lain-lain. Ada matematika yang hanya cocok untuk orang dewasa tetapi tidak cocok untuk anak kecil, yaitu matematika murni atau matematika yang dipelajari minimal di tingkat SMA atau justru perguruan tinggi, matematika yang sebenarnya, yang dipelajari mulai dari definisi, konsep, dan seterusnya, hingga penerapannya.

    ReplyDelete
  74. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
    Matematika sebagai Ratu atau kadang disebut “Ibu dari segala macam ilmu” adalah matematika yang dijadikan ratu atau inti dari semua ilmu yang ada di dunia ini, matematika sebagai Ratu inilah untuk matematika murni atau matematika dewasa. Dan matematika sebagai pelayan, berarti matematika dijadikan sebagai perantara, atau matematika tidak dipelajari secara langsung, tetapi melalui aktivitas-aktivitas. Maka, untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika adalah sampai pada wacana matematika sebagai pelayan.

    ReplyDelete
  75. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
    Filsafat memandang hal yang ada dan yang mungkin ada. Di Indonesia ini, pembelajaran matematika yang masih tradisional adalah yang ada dan pembelajaran matematika yang sudah inovatif adalah yang mungkin ada. Mengapa? Karena sekarang ini, pembelajaran di Indonesia masih mencoba untuk beralih dari pembelajaran yang masih tradisional ke yang sudah inovatif. Agar dapat inovatif, guru harus mampu melakukan variasi-variasi dalam metode dan media.

    ReplyDelete
  76. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Belajar ilmu filsafat merupakan belajar ilmu tingkat tinggi yang tidak pernah behenti. Belajar ilmu filsafat adalah belajar bagaimana menjadi rendah hati. Karena, dengan mempelajari ilmu filsafat kita menyadari bahwa masih banyak sekali ilmu yang belum kita pelajari dan kuasai, seperti pepatah bahwa “Di atas langit masih ada langit.”

    ReplyDelete
  77. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan karakter dan kemampuan siswa adalah keanekaragaman yang harus diterima dan disikapi dengan baik, Dalam pembelajaran misalnya, keanekaragaman mengenai karakter dan kemampuan siswa jika diberikan pembelajaran dengan metode yang tepat maka kemampuan tersebut dapat terkelola dengan baik, sehingga proses pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna, selain itu pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan dapat terwujud

    ReplyDelete
  78. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar matematika yang menyenangkan adalah menemukan pengetahuan baru sehingga pengetahuan yang sudah dimiliki siswa menjadi bertambah dengan cara-cara yang dapat menarik dan menotivasi siswa untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya. Pembelajaran yang menyenangkan dengan kondisis kelas yang aman dan nyaman adalah salah satu tugas yang harus diemban oleh guru sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  79. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Aliran rasionalisme memandang bahwa pengetahuan berasal dari akal pikiran manusia dan pengalaman hanya sebagai perangsang pikiran. Aliran Empirisme memandang pengetahuan berasal dari pengalaman yang dialami oleh seseorang. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Aliran Idealisme adalah aliran filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu terletak di luarnya. Aliran filsafat realisme berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambaran yang baik dan tepat dari kebenaran

    ReplyDelete
  80. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan? Pembelajaran yang menyenangkan itu pembelajaran inovatif yaitu pembelajaran yang berpusat kepada siswa, dan guru berperan sebagai fasilitator. Sehingga guru harus menyiapkan berbagai variasi metode, model, media, alat peraga, dan sebagainya demi menunjang kemampuan berpikir siswa. Sehingga siswa mampu merkonstruksi sendiri pengetahuannya dengan aktivitas yang telah direncanakan oleh guru yang beragam adanya. Sehingga dengan senang mempelajari matematika dengan susuai dengan kemampuannya dan aktivitas yang variasi ragamnya.

    ReplyDelete
  81. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst? Guru memanglah harus mengerti kebutuhan subjek didiknya. Sehingga guru harus pula terus belajar agar lebih baik lagi. Memanglah guru sebagai fasilitator, dan siswa dapat belajar dengan mencari referensi dari berbagai media. Namun guru janganlah terlalu malas, bersikaplah mendidik dengan cara mengarahkan mereka namun jangan sebagai diktaktor namun sebagai guru yang baik mengarahkan kea rah yang benar

    ReplyDelete
  82. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati? Menurut Ebbutt dan Straker berpendapat bahwa matematika adalah kegiatan problem solving. Sehingga dalam pembejarannya akan muncul karakteristik yaitu (1) menyediakan situasi daan kondisi belajar matematika yang merangsang timbulnya persoalan matematika. (2) memfasilitasi siswa memecahkan persoalan matematika menggunakan caranya sendiri. (3) mendorong siswa untuk berpikir logis, konsisten, sistematis. (5) mengembangkan kemampuan dan ketrampilan untuk memecahkan persoalan. Jadi pemecahan masalah ini dalam filsafat dapat dihayati sebagai pemikiran manusia dalam kritisnya untuk menyikapi segala sesuatu.

    ReplyDelete
  83. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan itu bukanlah suatu penghalang, namun ujian untuk memperkuat mental siswa. Filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa adalah dengan mengembangkan potensi masing – masing siswa sesuai dengan karakternya masing – masing sehingga kemampuan mereka bisa berkembang.

    ReplyDelete
  84. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat memandang tentang belajar matematika yang menyenangkan adalah sudut pandang yang digunakan untuk menilai sesuatu hal sesuai dengan apa yang sering kita pikirkan. Apa yang ada di pikiran kita adalah isi dunia ini. Dengan stimulus diri sendiri melalui pikiran maka matematika bisa dibuat menjadi sesuatu yang menyenangkan seperti bermain.

    ReplyDelete
  85. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sejatinya , fIlsafat tentang konsep-konsep matematika adalah bahwa kebenaran belum tentu bernilai benar. Karena walaupun ada setiap hal di dunia ini masih ada kemungkinan untuk tetap ada. Sehingga matematika yang sejatinya merupakan ilmu pasti merupakan sesuatu yang ada di dunia ini. Kebenaran yang absolut hanya milik Tuhan.

    ReplyDelete
  86. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, sikap matematika secara filsafat adalah bagaimana matematika di pandang menjadi peranan utama suatu hal di dunia ini secara filsafat atau menggunakan sudut pandang filsafat. Peranan matematika tidak bisa disepelekan, karena matematika masuk dalam hamper setiap elemen kehidupan.

    ReplyDelete
  87. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Filsafat dapat memandang segala hal dalam konteks dirinya, seperti halnya dalam memandang matematika. Dalam postingan ini saja terdapat 23 pertanyaan yang teridentifikasi untuk mencari tesis dan anti tesis serta membuat sintesis-sintesisnya dalam dunia matematika.

    ReplyDelete
  88. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Filsafat dapat memandang segala hal dalam konteks dirinya, seperti halnya dalam memandang matematika. Dalam postingan ini saja terdapat 23 pertanyaan yang teridentifikasi untuk mencari tesis dan anti tesis serta membuat sintesis-sintesisnya dalam dunia matematika.

    ReplyDelete
  89. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana filsafat memandang interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Interaksi antara guru dan siswa di kelas hendaknya tidak sebatas transfer of knowledge, jika hanya sebatas itu maka guru akan menjadi sumber pengetahuan yang memberikan ilmu dan siswa secara pasif menerima. Interaksi yang baik adalah dengan adanya kolaborasi antara guru dan siswa. Yaitu saling paham dan memahami.

    ReplyDelete