Nov 6, 2014

Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika 1

Ass wr wb



Pada hari ini Kamis, 6 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, saya akan memberi pengantar tentang Penerapan Filsafat Ilmu untuk Pendidikan Matematika. Kuliah di hadiri oleh 21 mahasiswa. Sementara saya menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Baiklah untuk membahas tentang penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika, maka pertama-tama kita perlu mendudukan atau memosisikan Filsafat Ilmu dalam konteks yang mendahului atau melatarbelakangi atau yang mendasari segala bentuk atau aspek pengembangan Pendidikan Matematika.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi atau mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk Filsafat Ilmu berdasarkan pikiran para Filsuf yang merentang dalam sejarahnya.

Setelah itu kita berusaha untuk melakukan hal yang sama yaitu mengidentifikasi dan mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk implementasi dan pengembangan Pendidikan Matematika merentang dari tataran ideal, realis, rasional, empiris, sampai dengan socio-constructivis dan kontemporer, beserta segala seluk-beluk permasalahan yang muncul berdasarkan konteks budaya, filsafat, ideologi dan politik.

Ternyata aku telah menemukan dua dunia yang telah, sedang dan akan berkemistri yaitu dunia Filsafat Ilmu dan dunia Pendidikan Matematika.

Mengidentifikasi atau mereview kharakter, secara filsafati berari mencari tesis-tesis, dan anti-tesis, anti tesis serta membuat  sintesis-sintesis. Hal demikian telah kita lakukan sejak dari kegiatan perkuliahan pertama hingga sekarang.

Saya mempunyai keyakinan, bahwa para mahasiswa peserta kuliah ini sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman masing-masing sebagai prerequisite dalam menjawab persoalan yang saya kemukakan pada hari ini yaitu bagaimana penerapan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Matematika.

Untuk itu berikut ini saya akan memberi kesempatan brainstorming kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sebagai berikut:

1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
4. Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
5. Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
6. Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
7. Apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat?
8. Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
9. Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
10. Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
11. Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan kompetensi itu? Secara khusus apakah yang dimaksud dengan Kompetensi Siswa? Kompetensi Guru dan Kompetensi Matematika?
12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
13. Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
14. Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
18. Bagaimana kedudukan Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat; serta bagaimana implikasinya dalam pendidikan/pembelajaran matematika?
19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
21. Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst?
22. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
23. Apakah perbedaan filsafat dan ideologi pendidikan?; dan bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran matematika? Secara lebih khusus apakah yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yang bersifat Progresif dan Konservatif?

Baiklah saudara semua. Saya sangat mengapresiasi partisipasi dari anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. Saya minta maaf karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak dapat menyebutkan setiap nama dari penanya.

Agar diperoleh pengetahuan yang bersifat cair, demokratis, natural, dan menanmpung semua aspirasi, maka saya menyilahkan pembaca yang budiman untuk menanggapi atau menjawab satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sebagai dosen pengampu akan memberikan/menguraikan jawaban-jawaban saya dalam perkuliahan di kelas dan ada kemungkinan akan saya posting juga.

Kuliah ini sengaja saya share agar dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Demikianlah saya menunggu partisipasi anda semua. Semoga bermanfaat. Amin

Dosen ybs

Marsigit






6 comments:

  1. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Disini saya mencoba untuk menjabarkan pemahaman saya terkait Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika. Ernst Von Glasersfeld menyatakan bahwa ada sebuah pernyataan lama bahwa matematika berkaitan dengan simbol dan manipulasi simbol. (Ernest, 1996). Descartes mengatakan dalam “Direction of the Mind” bahwa matematika adalah ilmu keteraturan dan ukuran dan mencakup, selain aljabar dan geometri, astronomi, musik, optik, dan mekanik.(Kline, 1971). Paul Ernest menyatakan bahwa ideologi pendidik progresif dalam pendidikan matematika sebagian besar merupakan masalah dalam seratus tahun terakhir. Setidaknya ada tiga alur berbeda yang saling terkait dari tradisi ini yaitu:
    a. Penyediaan lingkungan dan pengalaman terstruktur dengan tepat untuk pembelajaran matematika;
    b. Pendampingan terhadap anak dalam penyelidikan aktif dan otonom dalam matematika;.
    c. Perhatian terhadap perasaan, motivasi, sikap, dan perilakunya dari aspek negatif.(Ernest, 2004).
    Sehingga pada Pendidikan matematika kita harus memberikan fasilitas peserta didik untuk belajar sendiri dan kita harus membimbing dan mendampingi dalam hal tersebut dalam mempelajari matematika yang merupakan bahasa simbol baik dalam aritmatika, aljabar, geometri dan yang lainnya sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah yang diberikan/ditemui dalam pembelajaran matematika.

    Terimaksih banyak Pak.

    ReplyDelete
  2. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Bismillah. Saya akan mencoba menanggapi pertanyan poin ke 5 yang berbunyi "Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?". Bilangan dan geometri adalah suatu yang tetap dan juga tidak tetap. Bilangan dan geometri adalah hal yang ada dan mungkin tidak ada. Bilangan ialah suatu yang tetap karena bilangan hanya mempunyai satu arti yakni suatu sebutan untuk menyatakan jumlah atau banyaknya sesuatu. Tetapi di sisi lain, bilangan ialah suatu hal yang tidak tetap. Contohnya bilangan menunjukan banyaknya sesuatu, tetapi ketika di kehidupan sehari-hari bilangan-bilangan tersebut berubah fungsinya seperti menjadi nama merk suatu produk atau hanya sebagai lambang saja yang tidak memiliki arti. Begitu juga dengan geometri, geometri terbatas dan tetap dalam pelajaran matematika, tetapi tidak jika dibawa di kehidupan sehari-hari. Di matematika kita hanya memandang geometri sebatas sisi, sudut, rusuk, titik sudut, dan diagonal. Tetapi di kehidupan sehari-hari geometri mempunyai sifat-sifatnya yang tidak terbatas dan berubah-ubah. Contohnya, ketika melihat benda yang berbentuk tabung, banyak aspek yang kita lihat seperti bahannya, warnanya, fungsinya, dan lain-lainnya. Itulah yang dapat saya tuliskan. Apabila ada kesalahan saya mohon maaf. Terimakasih Prof atas postingannya.

    ReplyDelete
  3. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Saya akan mencoba menanggapi poin ke-1 mengenai konsep pemecahan masalah (problem solving) dalam filsafat. Sejak lama, konsep pemecahan masalah ada hal yang tidak terpisahkan dari filsafat. Banyak filsafat yang juga matematikawan yang telah menggunakan konsep problem solving dalam penemuannya. Salah satunya adalah Descartes yang pada tahun 1628 mempublikasikan karyanya, 'Rules for the direction of the mind’. Dalam karyanya tersebut, terdapat penyederhanaan pertanyaan, generalisasi induktif, penggunaan diagram untuk penalaran, simbolisasi hubungan, representasi hubungan dengan persamaan aljabar dan penyederhanaan persamaan. Temuan ini kemudian banyak dijadikan alat bantu untuk mengajarkan materi problem solving dalam matematika. (Ernest, 2017)

    ReplyDelete
  4. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B

    Terimakasih pak atas postingannya.
    Menanggapi pertanyaan nomor 3 , menurut pendapat saya pembelajaran matematika yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bersifat bebas. Bebas dalam mempelajari dengan cara siswa sendiri tanpa kungkungan dikte dari sang guru. Sehingga siswa bebas mengekspresikan matematikanya, siswa akan merasakan pembelajaran matematika semakin menyenangkan.Tugas seorang guru di sini memfasilitasi siswa untuk membangun dan menemukan matematikanya. Jangan menghalangi jalan mereka dengan dikte-dikte yang malah akan menghalangi kreatifitas mereka. Biarkan mereka menjalani dunianya untuk menemukan matematika tersebut, namun tetap diawasi. Atau buatlah pembelajaran matematika semenarik mungkin, tidak membosankan. Agar siswa menyenangi dan akhirnya termotivasi untuk belajar matematika.

    ReplyDelete
  5. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Filsafat menjadi landasan seluruh aspek pendidikan matematika. Dari zaman Yunani hingga zaman sekarang muncul berbagai aliran filsafat. Seperti aliran idealisme, realisme, rasionalisme, empirisme, konstruktivisme, dan lain sebagainya. Menanggapi pertanyaan nomor 17 tentang aliran-aliran idealisme, realisme, rasionalisme, empirisme menempatkan diri dalam implementasi pendidikan matematika, aliran-aliran tersebut memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan, pondamen dan juga seluruh aspek di dalam pendidikan matematika. Misalnya jika menganut aliran konstruktivisme, maka dalam pendidikan matematika semestinya pengetahuan matematika bukan ditransfer tetapi dibentuk secara mental maupun fisik. Pembentukan pengetahuan tersebut diperoleh dari persepsi siswa terhadap objek eksternal. Maka pembelajaran dilakukan melalui interaksi siswa dengan lingkungan, guru, dan juga dengan temannya.

    ReplyDelete
  6. Junianto
    PM C
    17709251065

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Saya mencoba memberikan pandangan terhadap pertanyaan tersebut. Interaksi guru dan siswa di kelas tidak lain adalah saling menterjemahkan dan silaturakhim. Suasana belajar bersama harus diterapkan sehingga siswa bukan sebagai objek belajar tetapi subjek belajar. Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam kacamata filsafat, siswa yang menjawab soal tidak benar atau belum paham terhadap materi bukan menunjukkan siswa bodoh, tetapi peran guru disini sangat dibutuhkan. Guru juga tidak boleh menghakimi siswa karena mereka punya kelebihan masing-masing.

    ReplyDelete