Nov 6, 2014

Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika 1

Ass wr wb



Pada hari ini Kamis, 6 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, saya akan memberi pengantar tentang Penerapan Filsafat Ilmu untuk Pendidikan Matematika. Kuliah di hadiri oleh 21 mahasiswa. Sementara saya menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Baiklah untuk membahas tentang penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika, maka pertama-tama kita perlu mendudukan atau memosisikan Filsafat Ilmu dalam konteks yang mendahului atau melatarbelakangi atau yang mendasari segala bentuk atau aspek pengembangan Pendidikan Matematika.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi atau mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk Filsafat Ilmu berdasarkan pikiran para Filsuf yang merentang dalam sejarahnya.

Setelah itu kita berusaha untuk melakukan hal yang sama yaitu mengidentifikasi dan mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk implementasi dan pengembangan Pendidikan Matematika merentang dari tataran ideal, realis, rasional, empiris, sampai dengan socio-constructivis dan kontemporer, beserta segala seluk-beluk permasalahan yang muncul berdasarkan konteks budaya, filsafat, ideologi dan politik.

Ternyata aku telah menemukan dua dunia yang telah, sedang dan akan berkemistri yaitu dunia Filsafat Ilmu dan dunia Pendidikan Matematika.

Mengidentifikasi atau mereview kharakter, secara filsafati berari mencari tesis-tesis, dan anti-tesis, anti tesis serta membuat  sintesis-sintesis. Hal demikian telah kita lakukan sejak dari kegiatan perkuliahan pertama hingga sekarang.

Saya mempunyai keyakinan, bahwa para mahasiswa peserta kuliah ini sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman masing-masing sebagai prerequisite dalam menjawab persoalan yang saya kemukakan pada hari ini yaitu bagaimana penerapan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Matematika.

Untuk itu berikut ini saya akan memberi kesempatan brainstorming kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sebagai berikut:

1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
4. Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
5. Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
6. Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
7. Apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat?
8. Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
9. Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
10. Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
11. Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan kompetensi itu? Secara khusus apakah yang dimaksud dengan Kompetensi Siswa? Kompetensi Guru dan Kompetensi Matematika?
12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
13. Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
14. Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
18. Bagaimana kedudukan Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat; serta bagaimana implikasinya dalam pendidikan/pembelajaran matematika?
19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
21. Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst?
22. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
23. Apakah perbedaan filsafat dan ideologi pendidikan?; dan bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran matematika? Secara lebih khusus apakah yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yang bersifat Progresif dan Konservatif?

Baiklah saudara semua. Saya sangat mengapresiasi partisipasi dari anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. Saya minta maaf karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak dapat menyebutkan setiap nama dari penanya.

Agar diperoleh pengetahuan yang bersifat cair, demokratis, natural, dan menanmpung semua aspirasi, maka saya menyilahkan pembaca yang budiman untuk menanggapi atau menjawab satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sebagai dosen pengampu akan memberikan/menguraikan jawaban-jawaban saya dalam perkuliahan di kelas dan ada kemungkinan akan saya posting juga.

Kuliah ini sengaja saya share agar dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Demikianlah saya menunggu partisipasi anda semua. Semoga bermanfaat. Amin

Dosen ybs

Marsigit






38 comments:

  1. Terima kasih atas postingan bapak. Dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan diatas membuat saya dapat berfikir lebih banyak mengenai filsafat dan hubungannya dengan pendidikan matematika. Banyak hal yang mesti dilakukan dalam rangka mengetahui tentang penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika. Jika kita secara sungguh-sungguh melakukan hal-hal tersebut maka kita akan dapat menemukan kemistri diantara kedua ilmu yang saling berhubungan.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  2. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya ingin berpartisipasi dalam pembahasan penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika dengan menjawab pertanyaan nomor sembilan mengenai mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika. Pertama dengan mengembangkan kompetensi dan karakter pribadi pendidik untuk menjadi sosok teladan bagi siswa, memberi nasehat pada momen-momen yang tepat di dalam dan di luar proses pembelajaran, memberi reinforcement positif atau negatif dengan tepat, membiasakan pengamalan nilai-nilai kebaikan, menciptakan kondisi yang kondusif bagi pengamalan nilai-nilai kebaikan, terutama dalam rangka pengembangan sikap spiritual dan sikap sosial pada siswa.

    ReplyDelete
  3. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan no.3. Pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti pembelajaran yang sesuai dengan permintaa siswa karena tiadalah daya guru untuk mewujudkan permintaan subyek didik yang begitu banyak. Maka sebenar-benar pembelajaran matematika yang menyenangkan adalah pembelajaran yang mempertimbangkan karakter siswanya, merentangkan kesempatan bagi siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, dan mengedapankan interaksi guru dan siswa. Pembelajaran yang menyenangkan didukung dengan lahirnya media belajar dari hasil kreativitas guru dan proses pembelajaran melahirkan siswa yang aktif dan kreatif.

    ReplyDelete
  4. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Menanggapi pertanyaan no1. Setiap pribadi memiliki perbedaan karakter, sekalipun orang tersebut kembar. Tiadalah kelas tanpa perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Tiada pulalah lahir kreativitas guru tanpa adanya perbedaan karakter siswa. Maka sebenar-benar perbedaan karakter siswa adalah sumber kekayaan dalam pembelajaran. Perbedaan karakter dan kemampuan berpikir inilah yang menjadi pijakan guru dalam merancang proses pembelajaran. Maka kunci utama tujuan pembelajaran dapat tercapai adalah guru memahami karakter dan cara berpikir siswa-siswanya. Karena sejatinya guru memiliki kewajiban untuk membantu setiap siswa dalam mencapai prestasi optimalnya.

    ReplyDelete
  5. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    3.Bagaimana pandangan filsafat tentang pembelajaran yang menyenangkan

    Guru memegang peranan yang sangat penting untuk dapat mencapai pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran matematika yang menyenangkan hendaknya dapat menjadi sarana dalam membangun logika dan pengetahuan matematis siswanya. Kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa sangat diperlukan dalam idealnya sebuah pembelajaran. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika.

    ReplyDelete
  6. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pertanyaan 14 adalah pertanyaan yang menarik. Matematika disebut ratu ilmu maksudnya matematika mendasari perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu matematika perlu diajarkan dari sejak dini. Berbicara tentang matematika yang cocok untuk anak kecil dan orang dewasa maka kembali lagi kepada pola pikirnya. Bahwa tidak mungkin kita mengajarkan matematika SMA kepada anak kecil karena ini belumlah sesuai takarannya. Oleh karena itu pembelajaran berjenjang. Sebenarnya menurut saya tidak ada istilah matematika untuk anak kecil atau untuk orang dewasa karena pembelajaran matematika itu perlu secara secara berkelanjutan. Secara filsafat yang perlu dibedakan antara anak kecil dan orang dewasa adalah bahasanya yang harus sederhana sehingga mudah dipahami. Bahwa tiadalah arti jika kita berbicara filsafat kepada anak kecil atau orang awam. Maka filsafat menuntun kita untuk menyampaikan sesuatu dengan mempertimbangkan lawan bicaranya.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa haruslah dihargai secara baik dan bijaksana, karena setiap siswa memilikinya secara berbeda satu sama lain. Penyebab terjadinya hal ini bisa jadi dikarenakan oleh intuisi-intuisi mereka yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga kami menyadari bahwa dalam berperan sebagai guru, kami harus mampu dan berusaha untuk menghargai intuisi matematika setiap siswa sesuai dengan kemampuan siswa tersebut.

    ReplyDelete
  8. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menjawab pertanyaan " Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?" dapat diawali dengan konsepsi bahwa segala sesuatu terdiri dari normatif dan formal. Dalam dunia pendidikan, mengajar atau mendidik dapat berjalan karena proses normatif dan formal. Secara normatif pembelajaran ialah kegiatan belajar-mengajar-mendidik yang berlangsung di kelas yang ditandai interaksi di antara guru dan siswa. Sedangkan secara formal, kegiatan belajar mengajar diinsikasikan oleh RPP, LKS, jurnal kehadiran dan sebagainya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  9. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mengenai "Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?" kita runut kembali bahwa filsafat melingkupi pemikiran yang merentang dan melampaui ruang dan waktu. Sedangkan pemikiran anak kecil terbatas pada apa yang mereka temui, apa yang bisa mereka pegang, apa yang bisa mereka rasakan. Hal yang demikian itu mengindikasikan bahwa pikiran anak kecil belum mampu melampaui tuang dan waktu, sehingga mereka belum dapat berfikir secara filsafati, kecuali untuk anak-anak tertentu yang memang gifted dapat berpikir melampaui ruang dan waktu, namun fenomena tersebut tidaklah familiar dan jarang ditemui. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  10. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Terkait pertanyaan nomor 21, hal ini terkait dengan faktor dari dalam diri siswa. seperti rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, dan seterusnya. Faktor yang mempengaruhi hal demikian tidak hanya berasal dari dalam, namun juga ada faktor dari luar, misalnya peranan guru, teman sejawat maupun orang tua. Seorang guru dapat meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu siswa dengan mendorong siswa melalui pemberian achievement kepada siswa dalam proses pembelajaran. Teman yang baik dapat saling memotivasi dalam belajar serta peranan orang tua di luar sekolah juga sangta berperan penting dalam mendukung anak untuk belajar.

    ReplyDelete
  11. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PMC S2

    Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam. Meski tak mudah dalam mempelajari filsafat pendidikan matematika tapi lebih baik jika mencoba untuk menggapai yang seutuhnya dari sisi gelap maupun terangnya, sehingga kita benar-benar mengerti dan dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  12. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Sudah menjadi takdir bahwa setiap manusia, tidak terkecuali siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen sehingga memiliki berbagai macam karakteristik misalnya karakteristik pemikiran filsafat yaitu secara menyeluruh (komprehensif). Filsafat tidak sama dengan ilmu dengan memandang objeknya,karena filsafat melihat atau memandang objeknya dari sudut totalitas dan berfikir rasional artinya dalam hal ini terkandung pengertian berfikir logis, sistematis dan kritis.

    ReplyDelete
  13. Insan A N/PPs PmC 2017
    Pendidikan matematika identic dengan pembelajaran, artinya terdapat siswa belajar dan guru fasilitator belajar. Filsafat ilmu mengenal Hermentika, dalam pembelajaan tentu ada hubungan antara guru dan siswa,nah mereka ini harus saling ber hermenetika. Hermenetika antara guru dan siswa di maksudkan untuk membuat pembelajaran sesuai target yang telah ditentukan. Salah satunya melalui aktivitas belajar yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  14. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Mengenai pertanyaan -pertanyaan terkait penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika yang telah dituliskan di atas, saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan nomor 3, yaitu "Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?". Menurut pendapat saya, matematika yang menyenangkan dalam filsafat adalah yang sesuai ruang dan waktunya. Karena sebagai guru, kita harus sewajarnya mengetahui karakteristik dan kebutuhan siswa yang kita didik. Kita dapat memberikan pembelajaran yang menyenangkan apabila tepat dan sesuai ruang dan waktunya bagi siswa.

    ReplyDelete
  15. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Penerapan filsafat dalam pendidikan matematika adalah dengan mengedepankan kedudukan filsafat ilmu. Kemudian tahapan yang dilakukan adalah mereview ciri-ciri, cakupan, metode fan macam bentuk filsafat ilmu berdasarkan pemikiran para filsuf. Ternyata setelah direntangkan diperoleh hasil bahwa pendidikan matematika merentang dalam tataran idela, realis, empiris, hingga mencakup ideology dan politik.

    ReplyDelete
  16. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pertanyaan-pertanyaan yang dibagikan dalam postingan ini menjadi gambaran bahwa filsafat dapat menjelaskan/menafsirkan kegiatan pembelajaran matematika. Selanjutnya saya tertarik dengan pertanyaan nomor 1, perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa sudah menjadi kodratnya manusia sebagai makhluk yang dipilih dan terpilih oleh Tuhan YME untuk berbeda-beda. Dalam kehidupan ini tidak ada yang berlaku identitas begitu pula dengan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Akan tetapi perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa tersebut haruslah menjadi batu pijakan/paradigma guru dalam menyusun pembalajaran. Untuk siswa yang beragam, dengan karakter serta kemampuan berpikir yang beragam pula, guru mampu menyusun pembelajaran yang beragam pula, pembelajaran yang mampu mebuat siswa belajar sesuai dengan potensinya. Sekian dan Teirma Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  17. Assalamualaikum, wr.wb.
    Saya juga ingin mencoba menanggapi pertanyaan “Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?”
    PBM yang masih bersifat tradisional, dimana pengetahuan masih berupa transfer knowledge dan siswa masih dianggap sebagai empty vessel, dalam filsafat PBM seperti ini adalah hasil dari budaya sang power now. SDM yang dihasilkan melalui PBM seperti ini akhirnya tidak akan mampu bertindak, melawan kekuatan power now dan hanya menjadi budak power now. PBM yang inovatif adalah dimana pengetahuan dibangun secara kontruktivis oleh siswa sendiri. SDM yang dihasilkan melalui PBM ini akan menjadi orang memiliki kreativitas, san komprehensif, yaitu yang mampu menyeimbangkan antara ilmu dan ibadah, sehingga tidak menjadi SDM yang hanya mahir calistung (back to basic saja) dan pada akhinya mereka mampu membentengi diri dari pengaruh power now tersebut. Konsep pembelajaran matematika kontemporer (saat ini) adalah yang berparadigma Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, dimana ketiganya merupakan efek dari power now, sehingga pbm matematika saat ini sudah terjebak dalam pbmnya sang power now.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Terkait dengan pertanyaan no. 3 menurut saya pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dimengerti oleh siswa, tidak membingungkan siswa sehingga siswa merasa nyaman mempelajarinya dan siswa akan merasa senang dengan belajar materi tersebut. Pembelajaran matematika yang menyenangkan lebih ke pelajaran yang bersifat konkrit atau disertai dengan contoh-contoh penerapan di dunia nyata sehingga siswa tertarik untuk mencari tahu hingga akhirnya siswa merasa membutuhkan matematika dalam kehidupan sehari-harinya.

    ReplyDelete
  19. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?"
    Setiap anak dilahirkan ke dunia ini dengan keunikannya masing-masing. Karakternya unik, wajahnya unik, kemampuannya unik.. hal ini membuat kebutuhan belajar mereka berbeda-beda. Jika tujuan pendidikan adalah memfasilitasi kebutuhan setiap anak,maka seharusnya guru lebih memperhatikan kenyataan ini dan tak memagok standar yang sama untuk tiap siswa.

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Menurut saya, kata menyenangkan di sini bersifat relatif. Menyenangkan menurut anak TK, SD, SMP, SMA, dan mahasiswa itu akan berbeda-beda. Bagi anak TK, belajar matematika itu menyenangkan jika disampaikan melalui permainan. Bagi anak SD, matematika juga akan menyenangkan jika disampaikan melalui permainan, akan tetapi permainan antara anak TK dan SD juga berbeda. Perbedaan ada pada materi yang akan disampaikan dan tingkat kesulitannya. Sedangkan untuk anak usia SMP dan SMA, matematika akan menyenangkan apabila materi dikemas dalam bentuk tugas berbasis proyek. Anak usia SMP dan SMA ini baru senang-senangnya mengeksplor pengetahuan. Mereka sedang dalam proses mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya, sehingga mereka akan tertarik dengan sebuah percobaan yang akan menghasilkan sesuatu yang belum pernah mereka temukan, misalnya menemukan rumus dari sebuah proses induksi matematika. Jadi, tidak hanya ada satu cara untuk membuat belajar matematika itu menyenangkan, dan pembelajaran yang menyenangkan juga harus memperhatikan usia siswa.

    ReplyDelete
  21. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Menurut saya, dalam mempelajari matematika dibutuhkan konsep keikhlasan. Apabila kita tidak ikhlas, dalam menerima ilmu matematika ini akan merasa kesulitan. Kita merasa dipaksa dalam belajar jika tidak ada kesadaran untuk ikhlas dalam mempelajarinya. Matematika akan menyenangkan jika kita merasa matematika itu mudah, asyik, bermanfaat, dan ikhlas dalam mempelajarinya. Oleh karena itu, kita harus menerapkan ikhlas hati dan ikhlas pikir dalam setiap mempelajari semua ilmu, baik matematika maupun disiplin ilmu yang lain.

    ReplyDelete
  22. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2PMat C 2017

    2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Interaksi antara guru dan siswa di kelas adalah hal sangat penting untuk diperhatikan. Kesuksesan guru dalam menyampaikan materi juga tergantung pada interaksinya dengan siswa. Apabila interaksi kurang baik, maka siswa juga akan sulit untuk mengikuti pembelajaran matematika. Akan tetapi, guru juga harus memperhatikan bahwa interaksi ini bukan berarti bahwa seorang guru harus selalu dominan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Interaksi yang paling efektif yaitu guru selalu memberikan peluang kepada siswanya untuk selalu aktif ketika pembelajaran berlangsung. Jadi, pembelajaran akan bersifat student center, bukan hanya guru saja yang berkuasa di kelas.

    ReplyDelete
  23. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Kita ketahui bahwa filsafat merupakan dasar dan pijakan berbagai ilmu lain, karena dalam pembelajaran matematika peran filsafat ilmu tidak dapat dipisahkan terutama dalam mengkaitkan yang bermacam-macam permasalahan matematika sehingga menjadi suatu rangkaian yang saling berkaitan atau setidak-tidaknya mencari hubungan permasalahan tersebut. Begitu juga kita ketahui bahwa matematika dipandang sebagai ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir, dengan tujuan akhir bahwa ilmu filsafat dan proses pembelajaran matematika yaitu mencari kebenaran. Dalam menemukan jawaban kebenaran pembelajaran matematika tidak terlepas dari metode ilmiah (dedukti dan Induktif), hal ini sejalan dengan peran filsafat ilmu yang mengedepankan suatu rangkaian yang saling berkaitan untuk mencari jawaban. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, makalah ini mengkaji tentang peran filsafat dalam pembelajaran matematika.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  24. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    14. Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil?
    Menurut saya, Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika konkret. Matematika yang dibawa dari pengetahuan sehari-harinya. Sedangkan matematika yang tidak cocok untuk anak kecil adalah matematika formal. Contoh matematika formal yaitu matematika yang mengajarkan tentang rumus-rumus dan pembuktiannya. Anak-anak tidak akan mampu untuk mempelajarai matematika formal dan malah akan merusak intuisi mereka.

    ReplyDelete
  25. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Filsafat merupakan sesuatu yang sudah ada dan berkembang sejak kita semua masih kecil hingga kita besar nanti. Seluruh yang ada di dunia ini jika kita mengetahui filsafatnya, maka kita akan mengerti hakikat mengapa segala sesuatu yang ada di dunia ini dibuat. Dalam sejarah juga ada filsafatnya. Karena jika mengetahui dengan pasti kenapa kejadian tersebut dari sebab dan akibatnya hingga sekarang ini, maka ilmu yang kita peroleh akan sangat banyak sekali. Dari sini saya mengatakan bahwa filsafat itu dimana saja, kapan saja, dan siapa saja terpasuk apa saja.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  26. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251092
    PPs PMat C

    filsafat dapat menjawab dari semua pertanyaan/permasalahan yang ada. dari pertanyaaan-pertanyaan diatas saya menjadi lebih mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam proses pembelajaran. semoga dengan mengetahui kesulitan-kesulitan tersebut kita dapat mengantisipasinya dengan menyiapkan segala susuatu untuk mengatasi persoalan diatas, perlu mengevaluasi diri lagi agar pembelajaran berjalan dengan maksimal.

    ReplyDelete
  27. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari artikel di atasa saya merefleksi bahwa pengembangan pendidikan matematika sangat didasari oleh filsafat ilmu. Selanjutnya perlu dipelajari aliran filsafat yang akan dijadikan dasar untuk mengembangakn pendidikan matematika. selnjutnya perlu diperhatikan beberapa hal agar pendidikan matematika dapat berkembang dengan baik, diantaranya tentang perbedaan karakter siswa ditinjau dari filsafatnya dan bagaiman peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Hal-hal tersebut dapat ditinjau dari segi filsafatnya untuk meningkatkan mutu pendidika matematika.

    ReplyDelete
  28. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut.
    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing.

    ReplyDelete
  29. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya akan menanggapi pertanyaan nomor 2 dari artikel diatas yang menanyakan "Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?"
    Interaksi guru dan siswa di kelas haruslah merupakan kegiatan silaturahmi dimana terdapat proses menterjemahkan dan diterjemahkan, bukan pemaksaan. Sehingga dalam berinteraksi guru tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada siswa, namun guru berusaha menterjemahkan siswa sebaik-baiknya, sehingga guru akan diterjemahkan oleh siswa dengan baik pula.

    ReplyDelete
  30. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya akan menanggapi pertanyaan nomor 12 dari artikel diatas yang menanyakan"Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?"
    Guru mengajar berarti guru memfasilitasi siswa membangun pengetahuaannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa. Memberi kesempatan berarti tidak menutupi sifat-sifat siswa, tidak memberikan matematika tetapi memfasilitasi. Mendidik dan mengajar memiliki perbedaan. Mengajar lebih berfokus pada materi sedangkan mendidik tidak hanya pada materi tetapi juga pada kepribadian, jadi guru mendidik berarti bahwa guru menjadi contoh yang baik bagi siswa, memberikan keteladanan, memotivasi siswa.

    ReplyDelete
  31. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Saya akan menanggapi pertanyaan nomor 17 dari artikel diatas yang menanyakan "Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?"
    Idealisme berarti bahwa menganggap obyek memiliki sifat ideal. Dalam pembelajaran matematika, contohnya adalah bahwa saat kita mengatakan kerangka kubus, yang kita bayangkan adalah kerangka kubus yang memiliki rusuk yang lurus, bukan kerangka kubus yang memiliki rusuk yang agak penyok, agak melengkung, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  32. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Pertanyaan yang juga membuat saya penasaran. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer? sayang sekali saya tidak mendengar jawaban nya langsung di perkuliahan bapak. namun saya ingin menanggapi sedikit. menurut saya pembelajaran matematika yang tradisional secara filsafat merupakan mitos jika tetap bertahan dengan egonya, sedangkan pembelajaran matematika yang inovatif merupakan logos.

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Saya ingin mencoba menjawab beberapa pertanyaan tersebut. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya, perbedaan merupakan hal unik yang dimiliki sebagai ciri khas setiap orang. Setiap orang pasti memiliki perbedaan, meskipun kembar tetapi pasti memiliki perbedaan. Begitu juga dengan kemampuan berpikir antara orang pertama dengan kedua atau yang lain. Karena perbedaan prior knowledge, mereka akan memiliki kemampuan berpikir yang berbeda pula.

    Selanjutnya pertanyaan no 2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Menurut pendapat saya, interaksi antara guru dan siswa sangatlah penting, jadi pelajaran tidak akan terasa membosankan. Akan bosan jika siswa terus menerus mendengarkan, sementara guru terus menerus transfer pengetahuannya. Hal seperti ini merupakan pembelajaran yang tidak sehat, karena siswa tidak membentuk pengetahuannya sendiri. Dengan adanya interaksi dalam pembelajaran, menjadi salah satu indikator bahwa pembelajaran itu hidup dan siswa juga berusaha membentuk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  34. Menanggapi pertanyaan no 3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Menurut saya, belajar matematika yang menyenangkan berarti siswa diberi kebebasan untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan matematika, menggunakan metode belajarnya masing-masing. Karena setiap siswa unik dan memiliki cara belajarnya masing-masing.

    Sedangkan pertanyaan no 20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Jawabannya, tentu ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika. Tanpa keikhlaskan ilmu yang didapat akan terasa kurang maksimal kebermanfaatnnya dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  35. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari belajar filsafat kita memahami bahwa yang ada didunia adalah bersifat relatif dan plurall, sehingga sangat banyak keberagaman. Manusia sendiri diciptakan dengan bakat bawaan masing-masing yang beragam dan unik. Begitu pun setiap siswa dalam suatu kelas, tentu memiliki karakter dan kemampuan berfikir yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang harus mampu ditangkap dan disikapi dengan baik oleh guru. Guru harus mampu mengarahkan siswa dengan berbagai karakter ke arah yang baik, mengoptimalkan setiap potensi yang bergam yang dimiliki. Memberikan ilmu sesuai dengan kemampuan berfikir siswanya.sehingga siswa akan menikmati proses pencarian ilmu dan jati diri nya. Guru jangan melihat dari kelemahan atau kekurangan siswa saja, akan tetapi lihatlah kelebihan siswa tersebut.

    ReplyDelete
  36. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    "Saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut.
    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing"

    ReplyDelete
  37. Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  38. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dalam pendidikan matematika filsafat membantu guru dalam menghubungkan pengetahuan siswa dengan keadaan dunia nyata. Matematika adalah proses berfikir yang kompleks sedangkan filsafat adalah proses berfikir tentang sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Maka dari itu filsafat sangat membantu guru dalam melatih bahasa verbal maupun pengetahuan imaginasi guru dalam merancang suatu proses pembelajaran matematika.

    ReplyDelete