Nov 6, 2014

Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika 1

Ass wr wb



Pada hari ini Kamis, 6 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, saya akan memberi pengantar tentang Penerapan Filsafat Ilmu untuk Pendidikan Matematika. Kuliah di hadiri oleh 21 mahasiswa. Sementara saya menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Baiklah untuk membahas tentang penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika, maka pertama-tama kita perlu mendudukan atau memosisikan Filsafat Ilmu dalam konteks yang mendahului atau melatarbelakangi atau yang mendasari segala bentuk atau aspek pengembangan Pendidikan Matematika.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi atau mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk Filsafat Ilmu berdasarkan pikiran para Filsuf yang merentang dalam sejarahnya.

Setelah itu kita berusaha untuk melakukan hal yang sama yaitu mengidentifikasi dan mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk implementasi dan pengembangan Pendidikan Matematika merentang dari tataran ideal, realis, rasional, empiris, sampai dengan socio-constructivis dan kontemporer, beserta segala seluk-beluk permasalahan yang muncul berdasarkan konteks budaya, filsafat, ideologi dan politik.

Ternyata aku telah menemukan dua dunia yang telah, sedang dan akan berkemistri yaitu dunia Filsafat Ilmu dan dunia Pendidikan Matematika.

Mengidentifikasi atau mereview kharakter, secara filsafati berari mencari tesis-tesis, dan anti-tesis, anti tesis serta membuat  sintesis-sintesis. Hal demikian telah kita lakukan sejak dari kegiatan perkuliahan pertama hingga sekarang.

Saya mempunyai keyakinan, bahwa para mahasiswa peserta kuliah ini sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman masing-masing sebagai prerequisite dalam menjawab persoalan yang saya kemukakan pada hari ini yaitu bagaimana penerapan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Matematika.

Untuk itu berikut ini saya akan memberi kesempatan brainstorming kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sebagai berikut:

1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
4. Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
5. Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
6. Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
7. Apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat?
8. Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
9. Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
10. Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
11. Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan kompetensi itu? Secara khusus apakah yang dimaksud dengan Kompetensi Siswa? Kompetensi Guru dan Kompetensi Matematika?
12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
13. Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
14. Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
18. Bagaimana kedudukan Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat; serta bagaimana implikasinya dalam pendidikan/pembelajaran matematika?
19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
21. Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst?
22. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
23. Apakah perbedaan filsafat dan ideologi pendidikan?; dan bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran matematika? Secara lebih khusus apakah yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yang bersifat Progresif dan Konservatif?

Baiklah saudara semua. Saya sangat mengapresiasi partisipasi dari anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. Saya minta maaf karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak dapat menyebutkan setiap nama dari penanya.

Agar diperoleh pengetahuan yang bersifat cair, demokratis, natural, dan menanmpung semua aspirasi, maka saya menyilahkan pembaca yang budiman untuk menanggapi atau menjawab satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sebagai dosen pengampu akan memberikan/menguraikan jawaban-jawaban saya dalam perkuliahan di kelas dan ada kemungkinan akan saya posting juga.

Kuliah ini sengaja saya share agar dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Demikianlah saya menunggu partisipasi anda semua. Semoga bermanfaat. Amin

Dosen ybs

Marsigit






21 comments:

  1. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Dari beberapa pertanyaan yang ada di atas, ada pertanyaan yang menarik bagi saya untuk diulas. Pertanyaan tersebut adalah pada no 20 yaitu, apakah secara filsafat ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Dalam belajar matematika, kunci ikhlas dalam belajar adalah berserah diri kepada Allah SWT. Orang alim adalah orang yang taqwa dan cerdas. Ikhlas harus berdoa dan harus dalam keadaan doa. Kunci sukses dunia dan akhirat adalah kita harus selalu dalam keadaan berdoa. Bersyukur diawali dengan doa. Berserah diri adalah sadar bahwa segala sesuatu sudah ada walaupun dalam pikiran manusia adalah iktiar dan takdir. Iktiar adalah memilih. Jika sudah terpilih maka takdir. Setinggi-tinggi takdir adalah karunia Allah SWT. Hidup itu pilihan dan memilih. Jatuhnya langkah adalah pilihan.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  2. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Mengembangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika bisa dilkaukan dengan cara membuka dan menutup pembelajaran dengan berdoa. Selain itu, kita ketahui bahwa dalam matematika ada yang namanya nilai cacah dan nilai asli. Nilai cacah yang diawali dengan angka nol bisa dimaknai bahwa manusia pada awalnya lahir dalam kondisi yang suci dan belum mempunyai dosa atau dosanya masih bernilai nol. Sedangkan pada nilai asli yang kita ketahui bahwa nilai asli berawal dari angka 1. Angka satu mempunyai banyak makna. Satu bisa berarti pertama, baru, kuasa, dan lain-lain. Satu bisa berarti satu pemikiran, satu keluarga, satu keputusan, satu keyakinan, satu langkah, dan masih banyak makna yang lainnya. Angka ini juga dapat dimaknai bahwa sesungguhnya Allah itu ESA atau satu, tidak ada duanya. Sesungguhnya manusia hidup hanya memiliki satu tujuan yang sama yaitu mendapatkan ridho Yang Kuasa. Apapun yang dilakukan di dunia ini pada dasarnya hanya semata-mata ingin mendapat ridho Allah agar mendapatkan kehidupan yag lebih baik di dunia maupun di akhirat kelak. Ini merupakan salah satu contoh bahwa dalam pembelajaran matematika bisa disisipkan nilai-nilai spiritual. Masih banyak contoh lainnya yang dapat ditambahkan oleh para pembaca yang lainnya. Terimakasih.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  3. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Setiap siswa memiliki karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda-beda karena pada hakekatnya manusia dilahirkan tidak sama dengan yang lainnya. Tugas guru adalah menyelami setiap karakter dan kemampuan berpikir siswanya. Guru tidak bisa menyamakan setiap siswanya dalam menyerap ilmu. Mengajar untuk anak-anak dengan orang dewasa itu berbeda. Dalam mengajar guru harus mengikuti karakter dan kemampuan berpikir siswanya, bukan sebaliknya. Mengapa? Agar proses transfer ilmu berjalan semaksimal mungkin, siswa merasakan manfaat dari pembelajaran, dan guru tidak memaksakan kehendaknya. Ketika guru menyatu dengan siswa maka siswa akan lebih termotivasi dan senang dalam belajar sehingga tidak ada beban dan kecemasan berlebihan yang siswa rasakan.

    ReplyDelete
  4. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Berdasarkan artikel penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika 1, saya merefleksikan artikel tersebut pada pembelajaran filsafat ilmu yang diajarkan Pak Marsigit memang unik. Pada pembelajaran filsafat ilmu, mahasiswa dipersilahkan untuk membuat pertanyaan yang akan dikumpulkan pada Pak Marsigit. Menurut saya, hal ini mengajarkan mahasiswa untuk kreatif dalam bertanya selain itu diberi kebebasan untuk bertanya serta meberikan gambaran sampaimana pandangan mahasiswa pada pembelajaran filsafat. Karena filsafat ilmu itu luas satu pertanyaan dapat mengaitkan berbagai hal.

    ReplyDelete
  5. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Dari berbagai pertanyaan yang ditulis dari artikel penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika 1, saya akan mencoba menjawab pertanyaan tentang bagaimana filsafat memandang perbadaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Menurut saya, dalam filsafat semua objek tidak ada yang sama, seperti halnya dengan perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Orang yang lahir kembar identic juga mempunyai perbedaan. Perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa akan menjadi masalah yang dialami oleh guru. Tetapi guru yang kreatif dan mempunyai filsafat dalam dirinya, guru akan memberdayakan perbedaan tersebut agar siswa yang diajar tetap mengikuti pelajarannya dengan senang. Karena belajar yang didasari dengan kesenangan akan mudah diterimanya.

    ReplyDelete
  6. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Pertanyaan kedua yang ingin mencoba saya jawab adalah apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya? Menurut saya, filsafat adalah olah pikir, refleksi diri dan filsafat adalah diri kita sendiri. Dari pertanyaan tersebut, anak kecil sudah berfilsafat. Anak kecil yang belum bisa bicara yang hanya dapat menunjuk dan menangis tetapi dapat dimengerti orang tuanya juga dapat dikatakan berfilsafat. Selain itu, siswa dalam pelajaran jika mendapat nilai jelek disbanding dengan temannya, siswa tersebut akan menangis karena merefleksikan dirinya pada hasil tesnya. Dan siswa atau anak kecil yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar akan mencari apa yang membuatnya penasaran sampai ketemu. Jadi, berfilsafat telah dilakukan sejak anak kecil, bagaimana perkembangannya filsafat tersebut bergantung dengan pola pikirnya.

    ReplyDelete
  7. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Pertanyaan-pertanyaan diatas sesungguhnya merepresentasikan apa yang ada di pikiran saya. Meskipun sering dijelaskan oleh Prof Marsigit tentang keterkaitan filsafat dengan pembelajaran matematika, masih terdapat banyak hal yang belum bisa saya pahami. Rutinitas sebelum dimulainya perkuliahan, Prof. Marsigit biasanya memberikan waktu kepada para mahasiswa untuk brainstorming dengan membuat pertanyaan atau lebih tepatnya mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan kedalam sebuah pertanyaan yang kemudian beberapa pertanyaan akan dijawab oleh Prof. Masigit. Yang menarik perhatian saya adalah pertanyaan nomor 12 yaitu tentang hakekat mengajar, mendidik, belajar, metode, RPP, LKS, menilai dst. Menurut saya hal-hal yang menjadi pertanyaan tersebut semuanya bertujuan untuk pendidikan. Pendidikan yang demokratis yaitu pendidikan yang melibatkan peserta didik sebagai objek bukan subjek. Mengajar dan mendidik merupakan aktivitas yang digunakan guru untuk mencapai suatu aktivitas pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. Sedangkan metode, RPP, LKS dsb merupakan material yang digunakan untuk mendukung pembelajaran supaya pembelajaran menjadi lebih efektif. Namun yang membuat saya penasaran adalah bagaimana hakikat dari keseluruhan hal tersebut jika ditinjau dari sudut pandang filsafat?semoga suatu saat pertanyaan saya dapat saya utarakan diperkuliahan. Dan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Marsigit untuk membebaskan mahasiswa untuk berpikir.

    ReplyDelete
  8. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Berdasarkan pertanyaan nomor 2 tentang bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswanya.
    Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Berdasarkan pengertian ini maka interaksi antara guru dan siswa dalam pembelajaran matematika memang sangat diperlukan. Interaksi antara guru dan siswa dalam pembelajaran matematika hendaknya mampu memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan logika pikirnya agar siswa dapat lebih mudah menerima dan memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Selai itu, interaksi ini bertujuan agar guru dapat mengenal karakter dan kemampuan dari masing-masing siswa sehingga siswa pun mampu untuk memahami pembelajaran yang diajarkan. Interaksi antara guru dan siswa juga mampu membuat pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan karena tidak hanya berdampak pada siswa tetapi juga pada guru.

    ReplyDelete
  9. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Jawaban untuk pertanyaan nomor 3 tentang bagaimana pandangan filsafat tentang pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dapat membantu siswa mengkonstruks pengetahuan. Guru memegang peranan yang sangat penting untuk dapat mencapai pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran matematika yang menyenangkan hendaknya dapat menjadi sarana dalam membangun logika dan pengetahuan matematis siswanya. Kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa sangat diperlukan dalam idealnya sebuah pembelajaran. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika.

    ReplyDelete
  10. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Penjelasan untuk soal nomor 1 tentang bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Perbedaan adalah salah satu bentuk dari kehidupan manusia didunia. Perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa dalam proses pembelajaran adalah hal lumrah dan telah menjadi topik penelitian selama berabad-abad. Filsafat sebagai proses dalam olah pikir dapat dijadikan landasan untuk dapat mengatasi perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa tersebut. Di mana, proses pembelajaran hendaknya mampu memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan logika pikirnya sejak dini. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih mudah menerima dan memahami materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Namun perlu diakui bahwa pembelajaran semacam ini menuntut kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa.

    ReplyDelete
  11. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Pertanyaan-pertanyaan yang sangat menarik tentunya pak. Saya sangat tertarik menanggapi pertanyaan tentang bagaimana pelajaran matematika yang menyenangkan. Seperti yang kita ketahui, matematika merupakan salah satu pelajaran yang dianggap menakutkan bagi siswa. Persepsi siswa terhadap matematika memang sangat mempengaruhi motivasi siswa untuk belajar matematika itu sendiri. Pembelajaran yang tidak menyenangkan tentunya akan membuat kurangnya motivasi siswa dalam belajar matematika. Hal tersebut tentunya menjadi tantangan bagi kita sebagai calon pendidik agar dapat membuat suatu proses pembelajaran yang menyenangkan misalnya dengan menggunakan metode pembelajaran yang unik dan inovatif.

    ReplyDelete
  12. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Saya akan mencoba mengutarakan pendapat mengenai pertanyaan nomor 16 yakni Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika? Hermenitika adalah salah satu cabang yang mempelajari interpretasi makna. Hermenitika dalam matematika adalah filsafat yang mempelajari tentang makna atau hakikat dari hal-hal yang terkandung dalam matematika. Hermenetika dalam pembelajaran matematika dikatikan seperti menggunakan prinsip gunung es. Tingkatan matematika ini seperti halnya fenomena gunung es, dengan urutan yang paling dasar yaitu matematika konkret (masih menggunakan benda-benda kongkrit), matematika model formal (menggunakan simbol-simbol matematika). Contoh penerapan dalam pembelajaran matematika Proses pembelajaran matematika yang bermakna, misal mempelajari bangun ruang bola menggunakan benda-benda nyata seperti bola kasti dsb.

    ReplyDelete
  13. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Mengenai pertanyaan Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas? Guru adalah dewa bagi siswanya. Guru harus bisa membangun interaksi yang baik dengan muridnya. Jangan sampai guru malah menutupi sifat-sifat siswanya. Artinya dengan keberagaman siswa dikelas guru harus mampu memperdayakan setiap siswanya dengan baik. Karena seperti yang kita ketahui setiap siswa itu punya kecerdasannya masing-masing. Menjadi tugas guru untuk bisa memahami setiap kecerdasan siswa-siswa tersebut.

    ReplyDelete
  14. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Matematika yang cocok bagi anak kecil adalah matematika yang bersifat nyata atau konkrit. Matematika yang dibawa dari kebiasaan dan pengetahuan sehari-harinya. Sehingga, apabila ingin menerapkan atau menyampaikan sebuah pembelajaran matematika kepada anak kecil maka hendaklah mengaplikasikan matematika tersebut dalam kehidupan sehari-hari, hal ini akan menjadikan anak kecil dapat membangun pengetahuanya dan konsepnya sendiri. Karena jika pemikiran orang dewasa yang abstrak dipaksakan untuk dipikirkan, anak-anak itidak akan mencapai pemikiran tersebut, dan mereka akan menganggap bahwa matematika itu pembelajaran yang sulit.

    ReplyDelete
  15. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Belajar matematika yang menyenangkan menurut saya adalah yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Belajar apapun tidak akan menyenangkan jika tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Contohnya saja, bagi anak anak, matematika merupakan mata pelajaran yang menyebalkan. Akan tetapi jika kita mengubah metode mengajar, sumber yang digunakan, disesuaikan dengan ruang dan waktu dari siswa pasti akan menyenangkan. Anak-anak akan senang belajar matematika jika sesuai dengan kenyataan atau bermain peran.

    ReplyDelete
  16. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Saya akan mencoba menajwab pertanyaan nomor 19, apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafat?. Pemecahan masalah secara filsafat artinya bagaimana sebuah masalah diselesaikan dengan menggunakan akal pikiran kita. Allah SWT telah menciptakan akal dan pikiran pada manusia untuk berpikir. Akal pikiran tersebut digunakan manusia unttuk menyelesaikan setiap permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Pemecahan masalah dalam matematika, bukan hanya sekedar memecahkan masalah dengan mencoba-coba atau menghafal langkah-langkah penyelesaian, tetapi lebih ke bagaimana siswa memahami setiap permasalah tersebut, bagaiaman mereka mampu menemukan solusi atau alternative penyelesaian dengan kemampuan berpikirnya dalam mengaitkan informasi-informasi baru dengan pengetahuan yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  17. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 1, tentang bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berfikir siswa? Perbedaan merupakan hal yang wajar yang akan memperlihatkan kita pada sebuah kontradiksi. Perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa merupakan kondisi normal yang sebaiknya dapat dieksplorasi untuk meningkatkan kompetensi dan potensi siswa. Ketika siswa mempunyai karakter dan kemampuan berpikir yang sama maka keadaan tersebut akan menjadi sesuatu yang janggal dan tidak mungkin. Karena sejatinya segala hal yang dapat sama hanya merupakan KuasaNya. Kita dilahirkan pun dengan segala perbedaan bahkan jika kita mempunyai kembaran pun pasti tidak akan sama. Dalam hal kemampuan siswa, yang harus diperhatikan adalah ketika perbedaan yang terjadi merupakan perbedaan yang mengarah pada kecenderungan ‘salah’, maka guru harus membimbing siswa agar berpikir sesuai dengan pemahaman yang benar agar dapat meningkatkan kemampuannya

    ReplyDelete
  18. Muhammad Fendrik
    18706261001
    S3 Dikdas 2018
    Assalamu'alaikum Wr Wb.
    Dari beberapa pertanyaan filsafat di atas saya mencoba untuk belajar menjawab atau mengomentari pertanyaan nomor 3 yang bertanya tentang: Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Menurut hemat saya, belajar matematika dapat dipandang sebagai suatu keadaan atau sifat atau
    bahkan nilai yang bersinergis dengan pendidikan. Perpaduan atau sinergi antara
    pendidikan dan belajar matematika merupakan keadaan unik sebagai suatu
    proses pembelajaran yang dinamis yang merentang dalam ruang dan waktunya pembelajaran
    matematika. Belajar matematika memang harus menyenangkan sehingga anak menyukai dan termotivasi terhadap pembelajaran matematika yang selama ini ditakuti oleh banyak anak. Bahkan dalam dunia pendidikan sekarang ada istilah phobia matematika yang mendiskripsikan anak tidak suka dengan matematika. Oleh karena itu, bagi guru yang mengajar pun sebaiknya tidak boleh langsung memarahi sang anak jika jawaban yang diberikan salah, karena tidak semua anak punya motivasi yang tinggi setelah dimarahi. Beberapa anak justru akan semakin takut dan membenci pelajaran tersebut. Jika anak terlalu takut dengan matematika bisa memicunya memiliki gangguan matematika (mathematics disorder) yaitu kondisi dimana anak memiliki kemampuan matematika rendah atau di bawah kemampuan normal anak berdasarkan usia dan tingkat pendidikannya. Memahami karakteristik anak agar dapat diberikan bimbingan menjadi hal yang penting bagi anak dalam meningkatkan motivasi dan rasa sukanya terhadap pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  19. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, wb.
    1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Semua siswa di dalam kelas tentulah memiliki karakter yang berbeda-beda. Kemampuan berpikir siswa pun berbeda-beda. Walaupun siswa didalam kelas heterogen, pembelajaran harus lah menfasilitasi mereka semua. Menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru untuk dapat memfasilitasi keragaman siswa di kelas. Beberapa fasilitas yang dapat diberikan diantaranya pembelajaran yang beragam, inovatif, menggunakan berbagai media dapat dilakukan oleh guru.

    ReplyDelete
  20. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, wb.
    20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Tentunya dalam tindakan yang dilakukan setiap orang harus dilandasi dengan keikhlasan, begitu juga dengan belajar matematika. Jika kita ikhlas dalam belajar matematika dan mau berusaha maka ilmu akan terserap dan dimengerti dengan mudah. Akan tetapi jika keikhlasan itu tidak ada maka ilmu akan sulit untuk dimengerti.

    ReplyDelete
  21. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat siang Prof.
    Penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika sangat diperlukan. Berbicara mengenai penerapan filsafat tentunya berkaitan erat dengan para filsuf yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda mengenai filsafat itu sendiri. Kaum social constructivist memandang bahwa semua pengetahuan mempunyai landasan yang sama yaitu kesepakatan. Selain itu, hakekat mempelajari matematika adalah mempertemukan pengetahuan subjektif dan objektif melalui interaksi sosial baik guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam menunjukkan hasil belajar. Contohnya: siswa menyelesaikan permasalahan matematika yang diberikan oleh guru sesuai dengan bimbingan dan langkah-langkah penyelesaian yang telah dipelajari. Terima kasih.

    ReplyDelete