Nov 6, 2014

Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika 1

Ass wr wb



Pada hari ini Kamis, 6 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, saya akan memberi pengantar tentang Penerapan Filsafat Ilmu untuk Pendidikan Matematika. Kuliah di hadiri oleh 21 mahasiswa. Sementara saya menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Baiklah untuk membahas tentang penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika, maka pertama-tama kita perlu mendudukan atau memosisikan Filsafat Ilmu dalam konteks yang mendahului atau melatarbelakangi atau yang mendasari segala bentuk atau aspek pengembangan Pendidikan Matematika.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi atau mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk Filsafat Ilmu berdasarkan pikiran para Filsuf yang merentang dalam sejarahnya.

Setelah itu kita berusaha untuk melakukan hal yang sama yaitu mengidentifikasi dan mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk implementasi dan pengembangan Pendidikan Matematika merentang dari tataran ideal, realis, rasional, empiris, sampai dengan socio-constructivis dan kontemporer, beserta segala seluk-beluk permasalahan yang muncul berdasarkan konteks budaya, filsafat, ideologi dan politik.

Ternyata aku telah menemukan dua dunia yang telah, sedang dan akan berkemistri yaitu dunia Filsafat Ilmu dan dunia Pendidikan Matematika.

Mengidentifikasi atau mereview kharakter, secara filsafati berari mencari tesis-tesis, dan anti-tesis, anti tesis serta membuat  sintesis-sintesis. Hal demikian telah kita lakukan sejak dari kegiatan perkuliahan pertama hingga sekarang.

Saya mempunyai keyakinan, bahwa para mahasiswa peserta kuliah ini sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman masing-masing sebagai prerequisite dalam menjawab persoalan yang saya kemukakan pada hari ini yaitu bagaimana penerapan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Matematika.

Untuk itu berikut ini saya akan memberi kesempatan brainstorming kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sebagai berikut:

1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
4. Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
5. Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
6. Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
7. Apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat?
8. Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
9. Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
10. Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
11. Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan kompetensi itu? Secara khusus apakah yang dimaksud dengan Kompetensi Siswa? Kompetensi Guru dan Kompetensi Matematika?
12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
13. Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
14. Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
18. Bagaimana kedudukan Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat; serta bagaimana implikasinya dalam pendidikan/pembelajaran matematika?
19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
21. Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst?
22. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
23. Apakah perbedaan filsafat dan ideologi pendidikan?; dan bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran matematika? Secara lebih khusus apakah yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yang bersifat Progresif dan Konservatif?

Baiklah saudara semua. Saya sangat mengapresiasi partisipasi dari anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. Saya minta maaf karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak dapat menyebutkan setiap nama dari penanya.

Agar diperoleh pengetahuan yang bersifat cair, demokratis, natural, dan menanmpung semua aspirasi, maka saya menyilahkan pembaca yang budiman untuk menanggapi atau menjawab satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sebagai dosen pengampu akan memberikan/menguraikan jawaban-jawaban saya dalam perkuliahan di kelas dan ada kemungkinan akan saya posting juga.

Kuliah ini sengaja saya share agar dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Demikianlah saya menunggu partisipasi anda semua. Semoga bermanfaat. Amin

Dosen ybs

Marsigit






133 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pembelajaran matematika yang memfasilitasi siswa untuk dapat mengembangkan logika pikirnya sejak dini memang sangat dianjurkan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih mudah menerima dan memahami materi pelajaran matematika yang diberikan oleh guru. Namun perlu diakui bahwa pembelajaran semacam ini menuntut kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika.

    ReplyDelete
  2. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pendekatan hermenetika dalam pembelajaran matematika yaitu dengan adanya kegiatan interkasi di dalam proses pembelajaran baik guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Seperti contohnya seorang guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya dalam menemukan konsep, peran guru yaitu sebagai fasilitator. Sehingga setiap siswa akan mempunyai pengalaman yang berbeda- beda dalam belajarnya.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Pertanyaan-pertanyaan brainstroming yang bapak bobotnya begitu berisi dan bila dijawab semua, bisa menjadi 23 buku. Namun dalam kapasitas saya saat ini, saya hanya berani memposting jawaban untuk pertanyaan “Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?”
    Menurut saya apa pun jenis pembelajaran matematika yang digunakan, apakah berbasis masalah, berbasis realistik, atau berbasis proyek, semuanya memiliki landasan filsafat masing-masing. Jawaban pertanyaan ini sebetulnya cukup sampai “ya” saja, namun sebagai bentuk tanggungjawab saya memilih jawaban tersebut, saya akan menambahkan apa dasar filsafat pembelajaran berbasis proyek. Menurut pikiran saya, pembelajaran berbasis proyek memiliki landasan filsafat Aristoteles, yaitu Empirical-Evidence. Karena dalam pembelajaran berbasis proyek, dilakukan penelitian dan pencarian bukti untuk hipotesis penelitiannya. Hal ini sangat identik dengan metode atau cara yang diajukan Aristoteles untuk mendapatkan pengetahuan.

    ReplyDelete
  4. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah pembahasan tiada matinya, selalu ada yang dapat dikaitkan dengan teori filsafat. dalam matematika contohnya, selalu ada yang dikaitkan dan masuk akal ketika berbicara tentang filsafat. hal ini terbukti dari berbagai pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para mahasiswa tentang filsafat dan matematika. dari sekian banyak pertanyaan, saya tertarik dengan pertanyaan ketiga yaitu Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    dalam pertanyaan ini mengandung 2 hal penting yaitu, bagaimana belajar matematika yang sering terjadi pada siswa baik di sekolah maupun diluar sekolah, dan bagaimana belajar matematika yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  5. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    pandangan siswa tentang belajar matematika adalah sesuatu yang meyeramkan, hal ini sering dijadikan penelitian oleh para pakar matematika. dalam proses belajar mengajar di sekolah, masih banyaknya pendidik yang terus memberikan penjelasan tentang materi materi yang akan dicapai dalam satu pertemuan tanpa memberikan kesempatan pada siswa untuk tampil dalam pembelajaran tersebut. dari segi kacamata filsafat, hal ini tidaklah diperkenankan karena masih menerapkan sistem teachercenter. belajar matematika yang menyenangkan dalam pandangan filsafat adalah siswa membangun sendiri konsep matematika, siswa mempelajari bukan guru mengajar, serta siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran. dengan kata lain, belajar matematika akan menyenangkan jika guru dapat memfasilitasi kebutuhan belajar siswa dengan maksimal tanpa harus dengan pembelajaran teachercenter.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dengan memposisikan filsafat ilmu dalam konteks yang melatarbelakangi pendidikan matematika yang kemudian guru mengidentifikasi karakteristik siswa dengan menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Guru atau calon guru harus mampu memaknai setiap fenomena yang terjadi baik di dalam kelas maupun diluar kelas agar dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang tidak hanya bersumber pada buku referensi dan internet tetapi dari lingkungan sekitar.Guru atau calon guru tidak hanya mempunyai kemampuan dibidang profesional tetapi harus seimbang antara kemampuan profesional dan pedagogik nya. Guru atau calon guru agar dapat mengidentifikasi karakter dan kemampuan siswa, interaksi yang terjalin, hakekat dari belajar, perangkat pembelajaran dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Filsafat mencakup ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi pada pendidikan matematika adalah hakikat tentang apa itu pendidikan matematika. Epistemologinya adalah bagaimana cara menerapkan pendidikan matematika yang baik dan hasilnya bisa optimal. Misalnya, model pembelajaran apa yang digunakan agar siswa dapat memahami konsep yang guru ajarkan. Aksiologinya adalah manfaat apa yang diperoleh saat siswa sudah mempelajari konsep tersebut.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    3.Bagaimana pandangan filsafat tentang pembelajaran yang menyenangkan
    Guru memegang peranan yang sangat penting untuk dapat mencapai pembelajaran yang menyenangkan, khususnya dalam pembelajaran matematika, yang mana siswa sangat takut akan mata pelajaran tersebut. Pembelajaran matematika yang menyenangkan hendaknya dapat menjadi sarana dalam membangun logika dan pengetahuan matematis siswanya. Kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa sangat diperlukan dalam idealnya sebuah pembelajaran. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika. Dalam hal ini, guru diharapkan untuk tidak lagi mengajar secara konvensional di mana prosesnya hanya tentang transfer ilmu dari guru kepada siswanya, akan tetapi guru diharapkan memberikan pembelajaran yang mampu menjadi sarana bagi siswa untuk membangun pengetahuan matematisnya.

    ReplyDelete

  9. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Pertanyaan no 15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
    Menurut pendapat saya, para siswa sudah bisa berfilsafat. Mengapa demikian, dalam filsafat kita memunculkan yang yang mungkin ada menjadi ada. seperti yang telah dijelaskan pak Marsigit dalam perkuliahan, hal yang ada itu bersifat tetap dan berubah. Yang bersifat berubah itu berlandaskan pada pengalaman, pada realita. Inilah cara membelajarkan anak kecil, melalui mitos, pengalaman, sehingga mereka dapat mengerti hal yang ada tersebut. Dalam matematika, kita mengenal pendapat dan ajaran Imanuel Kant, mengenai matematika murni yang bersifat a priori dan matematika sekolah yang bersifat a posteriori. Membelajarkan hal yang bersifat abstrak dan memunculkan itu dalam pikiran anak-anak merupakan kegiatan olah pikir yang ada dalam filsafat. Dengan demikian, para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat.

    ReplyDelete
  10. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Terkait pertanyaan 5 : Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
    Filsafat matematika adalah cabang filsafat yang bertujuan untuk merenungkan dan menjelaskan sifat dari matematika. Ini merupakan kasus khusus dari tugas epistemologi yang menjelaskan pengetahuan manusia secara umum. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam Filosofi matematika seperti: Apa dasar untuk pengetahuan matematika? Apakah sifat kebenaran matematika? Apa ciri kebenaran matematika? Apa pembenaran untuk pernyataan mereka? Mengapa kebenaran matematika kebenaran yang diperlukan?
    Pendekatan secara luas diadopsi oleh epistemologi, adalah untuk menganggap bahwa pengetahuan dalam bidang apapun diwakili oleh satu set proposisi, bersama-sama dengan prosedur untuk memverifikasi atau memberikan pembenaran pada suatu pernyataan. Atas dasar ini, pengetahuan matematika terdiri dari satu set proposisi bersama dengan bukti-buktinya. Ketika pembuktian matematika didasarkan pada penarikan kesimpulan/alasan (pertimbangan yang sehat) saja tanpa dengan data empiris, maka pengetahuan matematika dipahami sebagai pengetahuan yang paling diyakini dari semua pengetahuan. Secara tradisional, filsafat matematika adalah untuk memberikan dasar kepastian pengetahuan matematika. Yaitu, menyediakan sistem di mana pengetahuan matematika dapat dibuang secara sistematis dalam membangun kebenarannya. Hal ini tergantung pada asumsi yang diadopsi, yaitu secara implisit atau eksplisit.

    ReplyDelete
  11. Komunikasi matematika dalam filsafat terdiri dari empat dimensi, yaitu material, formal, normatif, dan spiritual. Komunikasi material matematika dapat terjadi misalnya seorang siswa berusaha mengetahui banyaknya benda. Komunikasi material matematika dengan objek-objek material matematika sebagai sumber pengetahuan matematika melalui penginderaan diri. Komunikasi formal matematika adalah tahap komunikasi di mana dikembangkan berbagai lambang yang mewakili konsep-konsep matematika. Lambang-lambang matematika wewakili dunia pemikiran matematika yang bersifat kokoh, konsisten, dan koheren. Komunikasi normatif matematika ditandai dengan menilai baik buruknya atau pantas tidak pantasnya matematika. Komunikasi spiritual matematika adalah keyakinan kita bahwa kita tidak dapat mengandalkan pikiran kita atau matematika untuk memaknai spiritual. Haruslah kita tetap menjadikan hati kita melalui doa dan iman kepada Tuhan YME sebagai penuntun langkah kita.

    ReplyDelete
  12. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Matematika masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa, hal ini terjadi karena pemeblajaran yang dilakukan oleh guru tidak dikemas dengan baik dan menyenangkan, siswa dan guru terlalu terfokus pada hasil akhir nya saja berupa nilai, padalah sejatinya tujuan pembelajaran adalah agar siswa paham terhadap materi yang diajarkan dan dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri. kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yang mulai diberlakukan diIndonesia merupakan langkah awal untuk mengubah cara pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang awalnya teacher center sekarang diubah menjadi student center untuk melatih perkembangan pemikiran siswa.

    ReplyDelete
  13. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
    Menurut saya, ya pemikiran anak kecil sudah dapat dikatakan sebagai berfilsafat. Filsafat dibangun dari pemikiran-pemikiran kecil, baik matang atau pemikiran yang belum matang. yang kemudian dikembangkan melalui pemahaman atas ilmu pengetahuan dan pengalaman serta penyesuaian pikiran dengan teori para ahli seiring bertambahnya usia.

    ReplyDelete
  14. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Pada elegi di atas, terdapat puluhan pertanyaan namun izinkan saya menjawab satu dari pertanyaan tersebut yaitu terkait bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Seperti yang telah kita ketahui bahwa manusia diciptakan dengan karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda-beda dengan satu dan yang lainnya. Tidak terkecuali siswa pun terlahir secara unik. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing.

    ReplyDelete
  15. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    saya tertarik pada pertanyaan" Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?" menurut saya pemikiran anak kecil bisa dibilang sudah berfilsafat. Karena pada dasarnya filsafat adalah ilmu olah pikir, kita dituntut untuk memahami pikiran orang lain. Dunia anak dan dunia kita memang berbeda, kita sudah pernah menjadi anak kecil namun anak kecil belum perna dewasa. Saat kita kecil mungkin saja pikiran kita sama dengan anak kecil saat ini, maka hal tersebut membuat saya berpikiran bahwa pikiran anak kecil sudah berfilsafat.

    ReplyDelete
  16. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Saya akan mencoba untuk menanggapi pertanyaan nomor 8 mengenai penugasan kepada siswa atau PR. Penugasan atau pemberian tugas kepada siswa itu perlu sebagai sarana untuk mengaplikasikan konsep yang diperoleh untuk menyelesaikan sebuah masalah matematika. Namun yang menjadi penekanan dalam hal ini guru harus mampu memberikan tugas kepada siswa sesuai ruang dan waktunya atau sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa. Penugasan yang terlalu berat akan membebani siswa tetapi penugasan yang terlalu mudah maka akan diremehkan oleh siswa. Oleh karena itu guru harus mampu secara adil menentukan penugasan seperti apa yang cocok untuk siswanya.

    ReplyDelete
  17. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    selanjutnya saya akan berkomentar untuk poin ke 20, secara filsafati bagaimana keikhlasan belajar matematika? keikhlasan seharusnya selalu menyertai dalam semua kegiatan kita, termasuk ikhlas belajar. matematika mempunyai karakteristik tersendiri sebagai ilmu pengetahuan, misalnya dalam belajar matematika harus menggunakan penalaran. tidak hanya sekedar mengetahui dan mengerti. ikhlas belajar matematika menurut saya adalah bagaimana kita ikhlas mempelajari matematika sesuai dengan karakteristiknya, tidak memaksakan kehendak kita sendiri, dan mengikuti alur dan tata cara dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  18. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    InsyAllah saya mencoba menjawab pertanyaan filsafat di atas. Mohon koreksinya. Terimakasih.
    1. Karakter dan kemampuan berpikir siswa adalah sesuatu yang mungkin ada dan bersifat unik. Karena ada di dalam pikiran siswa maka bersifat mungkin ada. Bersifat unik karena hanya dimuiliki oleh siswa tersebut.
    2. Berdasarkan referensi artikel-artikel sebelumnya Interaksi guru dan siswa adalah bagaikan dewa dan belalang. Namun, sebagai dewa, guru janganlah semena-mena. Dan jangan menjadikan belalang adalah belalang.
    3. Matematika yang menyenangkan adalah matematika yang ada. Yang dapat dirasakan siswa di kehidupannya.
    4. Proyek artinya dilaksanakan suatu kegiatan. Jika sudah terlakasanakan itu adalah filsafat ada.
    5. Konsep matematika bilangan, geometri dll adalah filsafat ada dan yang mungkin ada. Karena sekali lagi matematika itu pada awalnya berasal dari pemikiran seseorang yang mungkin adaa di dunia ini.
    6. Sikap matematika secara filsafat artinya mempercayai “yang mungkin ada” itu ada.
    7. Komunikasi artinya usaha memahami satu sama lain, sehingga kita mencoba memahami orang lain dgn komunikasi.
    8. Tugas dalam rangka memenuhi formal.
    9. Seluruh ilmu memiliki nilai spirirtual, termasuk matematika di seluruh bagiannya.
    10. santun artinya bijak. Bijak kepada siswa, lingkungan, matematika itu sendiri dan dirinya sendiri. Dimana semua diberikan dalam pembelajaran dalam porsi yang cukup. Jika berlebihan maka ia akan sombong, dan akan mati seperti perlombaan menggapai langit.
    11. Kompetensi adalalah kemampuan yang sebaiknya dimiliki. Kompetensi siswa sudah tercantum umum pada kompetensi inti dan dijabarkan seesuai kebutuhan pada kompetensi dasar. Kompetensi guru ada 4 yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Kompetensi matematika pun sudah tercantum dalam peraturan mentri tergantung materi pelajaran.

    ReplyDelete
  19. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    14. Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah yang kontekstual. Matematika yang hanya untuk orang dewasa adalah matematika abstrak. Matematika ratu adalah matematika abstrak. Matematika pelayan adalah matematika kontekstual. Untuk anak adalah matematika pelayan.
    15. Belum. Karena anak belum mampua membuat sintetesis dan anti tesis.
    16. Menerjemahkan dan diterjemahkan.
    17. Aliran filsafat tersebut sesungguhnya dasar dari matematika. Oleh karena itu dengan sendirinya aliran tersebut pun meruoakan kegiatan praktis seperti halnya matematika.
    18. Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat adalah fatamorgana. Dan kesemua itu diperlukan dalam pembelajaran matematika.
    19. –
    20. Keikhlasan artinya tidak sombong. Jika kita ikhlas atau tidak sombong akan ilmu matematika kita artinya kita akan terus mau belajar matematika.
    21. Jika seseoorang telah memiliki sifat itu semua dalam pelajaran matematika artinya ia telah menggapai dirinya ke dalam matematika.
    22. Pemebelajaran matematika tradisional artinya tetap, sedangkan Pemebelajaran matematika inovatif artinya berkembang. Konsep pembelajaran kontenporer adalah pembelajaran yang inovatif menggunakan berbagai metode pembelajaran.

    ReplyDelete
  20. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Sudah merupakan keteteapan dari Tuhan bila semua ciptaan-Nya unik dan berbeda. Sama halnya dalam pembelajaran matematika, siswa memiliki karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda antara satu dengan lainnya. Alangkah baiknya bila perbedaan karakter disikapi dengan bijaksana sebagai karunia Tuhan. Sementara itu, dalam menyikapi perbedaan kemampuan berpikir, siswa perlu difasilitasi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dengan demikian, setiap siswa dapat mengembangkan potensinya secara maksimal.

    ReplyDelete
  21. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Secara filsafat, matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil?
    Matematika yang cocok untuk anak kecil (anak SD) adalah matematika yang bersifat kontekstual dan menitikberatkan pada aktivitas. Aktivitas yang dimaksud yaitu aktivitas bermain yang menyenangkan karena pada dasarnya anak SD masih senang bermain. Siswa juga sebaiknya jangan dijejali dengan berbagai konsep, materi yang abstrak karena hal tersebut hanya cocok bagi orang dewasa.

    ReplyDelete
  22. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Filsafat, secara etimologis berasal dari bahasa Yunani “philosophia” yang terdiri atas “philein” artinya mencintai dan “sophia” artinya kebijaksanaan. Filsafat berarti mencintai kebijaksanaan. Filsafat menuntun manusia untuk lebih bersikap bijaksana. Ketika belajar matematika, secara filsafati ada konsep kebijaksanaan yang menuntun pada konsep keikhlasan dalam belajar matematika. Saat sesorang memiliki keikhlasan, kerendahan hati, dan kebijaksanaan dalam belajar matematika maka akan selalu ada kemauan untuk belajar matematika. Terlebih lagi ketika seseorang dengan bijak mengakui bila banyak hal yang belum diketahuinya, ia akan dengan ikhlas terus belajar.

    ReplyDelete
  23. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    “Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?”
    Interaksi guru dan siswa di kelas tidak hanya sebatas transfer ilmu guru ke siswa karena itu akan mewujudkan pembelajaran yang kurang bermakna. Seharusnya, interaksi antara guru dan siswa di kelas terjadi proses terjemah dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  24. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari artikel di atasa saya merefleksi bahwa pengembangan pendidikan matematika sangat didasari oleh filsafat ilmu. Selanjutnya perlu dipelajari aliran filsafat yang akan dijadikan dasar untuk mengembangakn pendidikan matematika. selnjutnya perlu diperhatikan beberapa hal agar pendidikan matematika dapat berkembang dengan baik, diantaranya tentang perbedaan karakter siswa ditinjau dari filsafatnya dan bagaiman peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Hal-hal tersebut dapat ditinjau dari segi filsafatnya untuk meningkatkan mutu pendidika matematika.

    ReplyDelete
  25. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Saya menanggapi no 11 tentang kompetensi. Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Guru yang berkompetensi filsafat dapat dikategorikan guru professional dimana ia memiliki seperangkat keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Sedangkan kompetensi siswa cenderung melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga bersamaan dengan kepercayaan mereka terhadap ketekunan dan keberhasilan dirinya sendiri dalam matematika yang diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistimatis, logis dan mendalam. Sedangkan kompetensi matematika meliputi Conceptual Understanding, Procedural Fluency, Strategic Competence, Adaptive Reasoning, dan Productive Disposition. Jadi, semua kompetensi tersebut saling berkaitan dalam proses pembelajaran yang nantinya akan merujuk kesuatu keberhasilan.

    ReplyDelete
  26. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Ilmu filsafat juga mempelajari tentang ilmu jiwa atau psikologi, sehingga jika dipandang secara filsafat, setiap peserta didik atau siswa akan memiliki karakter yang berbeda-beda. Begitu pun dengan kemampuan berpikirnya, setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Sebagai guru, seharusnya mampu melihat perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa tersebut menggunakan ilmu filsafat. Jika guru mampu melihat, maka yang harus dilakukan adalah mengembangkan potensi siswa sesuai karakter dan kemampuannya, tidak dipaksakan untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh guru.

    ReplyDelete
  27. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Secara filsafat interaksi antara guru dan siswa adalah interaksi yang dua arah bukan satu arah guru ke siswa saja, melainkan juga interaksi siswa ke guru. Bahkan seharusnya lebih banyak interaksi siswa ke guru daripada interaksi guru ke siswa, maksudnya siswa yang lebih aktif di dalam kelas. Guru hanya sebagai fasilitator dan tidak bersifat diktator, interaksi yang ada seharusnya bersifat harmonis tidak cenderung memaksa.

    ReplyDelete
  28. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Belajar matematika yang menyenangkan adalah belajar matematika yang sesuai dengan kedudukan subyek yang sedang belajar matematika. Jika yang belajar filsafat adalah anak-anak, misalnya pada tingkat SD atau SMP maka belajar matematika yang menyenangkan yaitu ketika mereka belajar matematika sekolah atau matematika untuk anak bukan matematika dewasa. Matematika untuk anak berarti belajar matematika melalui aktivitas. Sedangkan, jika pada tingkat dewasa maka belajar matematika akan menyenangkan jika mempelajari matematika untuk dewasa atau matematika murni yang banyak berkutat pada rumus.

    ReplyDelete
  29. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
    Filsafat sangat dekat dengan kehidupan kita, bahkan ada yang mengatakan bahwa usia filsafat sama tuanya dengan usia manusia. Oleh karena itu, fenomena-fenomena yang terjadi pada kehidupan manusia dapat dijelaskan secara filsafat, begitupun jika kita menciptakan produk yang berkaitan dengan kehidupan itu pun juga filsafat. Jadi, menurut saya, pembelajaran berbasis proyek mempunyai landasan filsafat. Karena pembelajaran berbasis proyek akan menghasilkan produk yang bermanfaat untuk kehidupan manusia, maka itu memiliki landasan filsafat.

    ReplyDelete
  30. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan itu bukanlah suatu penghalang, namun ujian untuk memperkuat mental siswa. Filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa adalah dengan mengembangkan potensi masing – masing siswa sesuai dengan karakternya masing – masing sehingga kemampuan mereka bisa berkembang.

    ReplyDelete
  31. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat memandang tentang belajar matematika yang menyenangkan adalah sudut pandang yang digunakan untuk menilai sesuatu hal sesuai dengan apa yang sering kita pikirkan. Apa yang ada di pikiran kita adalah isi dunia ini. Dengan stimulus diri sendiri melalui pikiran maka matematika bisa dibuat menjadi sesuatu yang menyenangkan seperti bermain.

    ReplyDelete
  32. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sejatinya , fIlsafat tentang konsep-konsep matematika adalah bahwa kebenaran belum tentu bernilai benar. Karena walaupun ada setiap hal di dunia ini masih ada kemungkinan untuk tetap ada. Sehingga matematika yang sejatinya merupakan ilmu pasti merupakan sesuatu yang ada di dunia ini. Kebenaran yang absolut hanya milik Tuhan.

    ReplyDelete
  33. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, sikap matematika secara filsafat adalah bagaimana matematika di pandang menjadi peranan utama suatu hal di dunia ini secara filsafat atau menggunakan sudut pandang filsafat. Peranan matematika tidak bisa disepelekan, karena matematika masuk dalam hamper setiap elemen kehidupan.

    ReplyDelete
  34. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Filsafat dapat memandang segala hal dalam konteks dirinya, seperti halnya dalam memandang matematika. Dalam postingan ini saja terdapat 23 pertanyaan yang teridentifikasi untuk mencari tesis dan anti tesis serta membuat sintesis-sintesisnya dalam dunia matematika.

    ReplyDelete
  35. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Filsafat dapat memandang segala hal dalam konteks dirinya, seperti halnya dalam memandang matematika. Dalam postingan ini saja terdapat 23 pertanyaan yang teridentifikasi untuk mencari tesis dan anti tesis serta membuat sintesis-sintesisnya dalam dunia matematika.

    ReplyDelete
  36. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana filsafat memandang interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Interaksi antara guru dan siswa di kelas hendaknya tidak sebatas transfer of knowledge, jika hanya sebatas itu maka guru akan menjadi sumber pengetahuan yang memberikan ilmu dan siswa secara pasif menerima. Interaksi yang baik adalah dengan adanya kolaborasi antara guru dan siswa. Yaitu saling paham dan memahami.

    ReplyDelete
  37. Nama: Ilma Rizki Nur Afifah
    NIM: 17709251020
    Kelas: S2 Pendidikan Matematika A

    Setelah membaca beberapa pertanyaan di atas, saya tertarik untuk menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
    Hermenetika adalah menerjemahkan dan diterjemahkan. Hidup adalah hermenetika antar makhluk. Dalam pembelajaran matematika, antara guru dan siswa saling menerjemahkan, antara buku dan siswa juga saling menerjemahkan, antara materi yang diajarkan dengan guru dan siswa juga saling menerjemahkan. Jika tidak terjadi hermenetika, maka siswa jua tidak akan bisa memahami apa yang dijelaskan oleh guru. Bahkan guru juga akan kesulitan untuk menyampaikan materi matematika. Selain itu, pembelajaran matematika juga sebaiknya mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari, artinya siswa juga diajarkan untuk bisa mengaitkan antara matematika dan lingkungan sekitar karena pada hakikatnya semua yang ada di dunia ini saling menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  38. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no.5 yaitu bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dan sebagainya? Menurut saya semua itu adalah kesepakatan yang dibuat manusia dalam merepresentasikan ilmu matematikanya ke dalam dunia nyata. Geometri misalnya, hanya ada di dalam pikiran kita. Kalaupun ada yang mengaku-ngaku atau menunjuk suatu benda atau gambar sebagai bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri maka itu adalah salah. Contohnya adalah lingkaran, tidak ada di dunia ini yang merupakan lingkaran. Gambar yang dibuat manusia itu bukanlah lingkaran yang sesungghnya. Karena tidak bulat sempurna, masih memiliki ketebalan walau tipis sekali, dan banyak kecacatan yang lainnya. Lingkaran sesungguhnya hanya ada di dalam pikiran manusia. Yang kita lihat dan buat selama ini hanyalah model lingkaran dan pengandaian bahwa model lingkaran itu adalah lingkaran sempurna. Begitu pun dengan bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri yang lainnya.
    Selanjutnya saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no.7 yaitu apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat? Komunikasi adalah bentuk dari upaya manusia menyampaikan atau menuangkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ia berpikir. Dalam berkomunikasi, kita memiliki dua tujuan yaitu untuk bertanya jawab atau sekedar menyampaikan pendapat. Dalam matematika, obyek yang dipelajari sebagian besar atau bahkan seluruhnya merupakan obyek tak nyata. Dengan kata lain hanya ada di dalam pikiran manusia saja. Tentu untuk saling membagi penalaman berpikir matematika diperlukan komunikasi matematika antar manusia. Selain dengan kata-kata, komunikasi matematika juga dilakukan melalui perantara simbol, angka, rumus, gambar, model bangun, dan sebagainya.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  39. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Disini saya mencoba untuk menjabarkan pemahaman saya terkait Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika. Ernst Von Glasersfeld menyatakan bahwa ada sebuah pernyataan lama bahwa matematika berkaitan dengan simbol dan manipulasi simbol. (Ernest, 1996). Descartes mengatakan dalam “Direction of the Mind” bahwa matematika adalah ilmu keteraturan dan ukuran dan mencakup, selain aljabar dan geometri, astronomi, musik, optik, dan mekanik.(Kline, 1971). Paul Ernest menyatakan bahwa ideologi pendidik progresif dalam pendidikan matematika sebagian besar merupakan masalah dalam seratus tahun terakhir. Setidaknya ada tiga alur berbeda yang saling terkait dari tradisi ini yaitu:
    a. Penyediaan lingkungan dan pengalaman terstruktur dengan tepat untuk pembelajaran matematika;
    b. Pendampingan terhadap anak dalam penyelidikan aktif dan otonom dalam matematika;.
    c. Perhatian terhadap perasaan, motivasi, sikap, dan perilakunya dari aspek negatif.(Ernest, 2004).
    Sehingga pada Pendidikan matematika kita harus memberikan fasilitas peserta didik untuk belajar sendiri dan kita harus membimbing dan mendampingi dalam hal tersebut dalam mempelajari matematika yang merupakan bahasa simbol baik dalam aritmatika, aljabar, geometri dan yang lainnya sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah yang diberikan/ditemui dalam pembelajaran matematika.

    Terimaksih banyak Pak.

    ReplyDelete
  40. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Bismillah. Saya akan mencoba menanggapi pertanyan poin ke 5 yang berbunyi "Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?". Bilangan dan geometri adalah suatu yang tetap dan juga tidak tetap. Bilangan dan geometri adalah hal yang ada dan mungkin tidak ada. Bilangan ialah suatu yang tetap karena bilangan hanya mempunyai satu arti yakni suatu sebutan untuk menyatakan jumlah atau banyaknya sesuatu. Tetapi di sisi lain, bilangan ialah suatu hal yang tidak tetap. Contohnya bilangan menunjukan banyaknya sesuatu, tetapi ketika di kehidupan sehari-hari bilangan-bilangan tersebut berubah fungsinya seperti menjadi nama merk suatu produk atau hanya sebagai lambang saja yang tidak memiliki arti. Begitu juga dengan geometri, geometri terbatas dan tetap dalam pelajaran matematika, tetapi tidak jika dibawa di kehidupan sehari-hari. Di matematika kita hanya memandang geometri sebatas sisi, sudut, rusuk, titik sudut, dan diagonal. Tetapi di kehidupan sehari-hari geometri mempunyai sifat-sifatnya yang tidak terbatas dan berubah-ubah. Contohnya, ketika melihat benda yang berbentuk tabung, banyak aspek yang kita lihat seperti bahannya, warnanya, fungsinya, dan lain-lainnya. Itulah yang dapat saya tuliskan. Apabila ada kesalahan saya mohon maaf. Terimakasih Prof atas postingannya.

    ReplyDelete
  41. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Saya akan mencoba menanggapi poin ke-1 mengenai konsep pemecahan masalah (problem solving) dalam filsafat. Sejak lama, konsep pemecahan masalah ada hal yang tidak terpisahkan dari filsafat. Banyak filsafat yang juga matematikawan yang telah menggunakan konsep problem solving dalam penemuannya. Salah satunya adalah Descartes yang pada tahun 1628 mempublikasikan karyanya, 'Rules for the direction of the mind’. Dalam karyanya tersebut, terdapat penyederhanaan pertanyaan, generalisasi induktif, penggunaan diagram untuk penalaran, simbolisasi hubungan, representasi hubungan dengan persamaan aljabar dan penyederhanaan persamaan. Temuan ini kemudian banyak dijadikan alat bantu untuk mengajarkan materi problem solving dalam matematika. (Ernest, 2017)

    ReplyDelete
  42. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B

    Terimakasih pak atas postingannya.
    Menanggapi pertanyaan nomor 3 , menurut pendapat saya pembelajaran matematika yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bersifat bebas. Bebas dalam mempelajari dengan cara siswa sendiri tanpa kungkungan dikte dari sang guru. Sehingga siswa bebas mengekspresikan matematikanya, siswa akan merasakan pembelajaran matematika semakin menyenangkan.Tugas seorang guru di sini memfasilitasi siswa untuk membangun dan menemukan matematikanya. Jangan menghalangi jalan mereka dengan dikte-dikte yang malah akan menghalangi kreatifitas mereka. Biarkan mereka menjalani dunianya untuk menemukan matematika tersebut, namun tetap diawasi. Atau buatlah pembelajaran matematika semenarik mungkin, tidak membosankan. Agar siswa menyenangi dan akhirnya termotivasi untuk belajar matematika.

    ReplyDelete
  43. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Filsafat menjadi landasan seluruh aspek pendidikan matematika. Dari zaman Yunani hingga zaman sekarang muncul berbagai aliran filsafat. Seperti aliran idealisme, realisme, rasionalisme, empirisme, konstruktivisme, dan lain sebagainya. Menanggapi pertanyaan nomor 17 tentang aliran-aliran idealisme, realisme, rasionalisme, empirisme menempatkan diri dalam implementasi pendidikan matematika, aliran-aliran tersebut memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan, pondamen dan juga seluruh aspek di dalam pendidikan matematika. Misalnya jika menganut aliran konstruktivisme, maka dalam pendidikan matematika semestinya pengetahuan matematika bukan ditransfer tetapi dibentuk secara mental maupun fisik. Pembentukan pengetahuan tersebut diperoleh dari persepsi siswa terhadap objek eksternal. Maka pembelajaran dilakukan melalui interaksi siswa dengan lingkungan, guru, dan juga dengan temannya.

    ReplyDelete
  44. Junianto
    PM C
    17709251065

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Saya mencoba memberikan pandangan terhadap pertanyaan tersebut. Interaksi guru dan siswa di kelas tidak lain adalah saling menterjemahkan dan silaturakhim. Suasana belajar bersama harus diterapkan sehingga siswa bukan sebagai objek belajar tetapi subjek belajar. Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam kacamata filsafat, siswa yang menjawab soal tidak benar atau belum paham terhadap materi bukan menunjukkan siswa bodoh, tetapi peran guru disini sangat dibutuhkan. Guru juga tidak boleh menghakimi siswa karena mereka punya kelebihan masing-masing.

    ReplyDelete
  45. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, pada kesempatan ini saya ingin mengemukakan pendapat saya terkait pertanyaan no 14 yaitu secara filsafat, matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara lebih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?.
    Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika yang disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitifnya sebab dimensi berpikir anak kecil berbeda tingkat dengan orang dewasa, anak-anak lebih cepat belajar melalui hal-hal yang konkret, matematika yang tidak cocok untuk anak kecil yaitu misalnya matematika analisis. Ada atau tidaknya matematika yang hanya untuk orang dewasa? Lalu secara tidak langsung maksudnya ada matematika yang dikhususkan hanya pada orang dewasa dan anak kecil tidak? Menurut saya tidak atau lebih tepatnya belum, dimensi berpikir orang dewasa itu sendiri sudah berbeda tingkatnya tentu matematika yang dipelajari adalah pendalaman dan perluasan materi yang dulu dasarnya dipelajari ketika masih anak-anak.
    Maksud dari matematika sebagai Ratu yaitu bahwa matematika adalah sebagai sumber ilmu dari ilmu lain, dengan kata lain, banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika. Sedangkan matematika sebagai Pelayan yaitu bahwa matematika melayani kebutuhan ilmu pengetahuan dalam perkembangan operasionalnya. Jika ditanya apakah anak kecil belajar matematika sudah sampai ke wacana menjadi ratu atau pelayan, jawabanya adalah belum. Sebab ini baru akan dipelajari di perguruan tinggi pada salah satu matakuliah tentang hakikat matematika.

    ReplyDelete
  46. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menurut Immanuel Kant, matematika adalah pengetahuan sintetik a proiri dimana eksistensi matematika tergantung kepada dunia pengalaman kita. Ilmu filsafat juga merupakan cerminan dari pemikiran yang ada pada diri kita. Maka sesungguhnya dalam mempelajari matematika dan berfilsafat dapat berjalan berdampingan. Pertanyaan yang diajukan mahasiswa pada artikel ini terbentuk dari berbagai aspek yang menjadi perhatian setiap mahasiswa yang berbeda-beda. Salah satu pertanyaannya adalah, Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat? Penugasan memiliki tujuan reinforcement yaitu penguatan terhadap materi yang sudah diterima di dalam kelas. Namun pemberian PR cenderung menjadi momok tersendiri bagi siswa. Menurut saya, hakikat penugasan adalah diperlukannya penguatan agar materi yang telah didapatkan di kelas diperkuat dengan adanya latihan. Selanjutnya apakah esensi dari tugas/PR itu sendiri sudah memenuhi syarat, tergantung pada pengajar/pemberi tugas.

    ReplyDelete
  47. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beebrapa mahasiswa yang ada, saya akan mencoba memberikan tanggapan dari soal nomor 15. Saya beranggapan bahwa dalam diri manusia dari kecil hingga besar itu sudah terdapat filsafat, entah itu dari yang paling muda hingga yang paling tua mereka sudah bisa berfilsafat. Namun, tingkatannya berbeda antara yang muda dan dewasa, antara yang mempelajari filsafat dan tidak. Karena, filsafat seseorang akan semakin mendalam jika mempelajari filsafat dan apabila sudah mengalaminya akan semakin tinggi filsafat seseorang. Saya memberikan jawaban tersebut berdasarkan pada pemahaman I Kant bahwa pengetahuan itu bersifat apriori dimana pengetahuan itu sudah berada pada diri manusia. Oleh karena itu seluruh pengetahuan yang ada di dunia ini sesungguhnya sudah berada pada diri manusia termasuk filsafat.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  48. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Pada pertanyaan-pertanyaan di atas saya akan mencoba memberi tanggapan pada kasus soal no 15 yaitu hakekat mengajar, mendidik, belajar, metode, RPP, LKS, dan Menilai. Mengajar dan mendidik merupakan 2 hal yang cukup berbeda karena orang yang bisa mengajar belum tantu bisa mendidik. Tapi orang yang mendidik sudah pasti bisa mengajar. Mengajar merupakan suatu usaha untuk membentuk lingkungan dimana terjadinya interaksi antara peserta didik dan materi pembelajaran sehingga menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar. Sedangkan Mendidik merupakan suatu usaha untuk merubah tabiat atau prilaku peserta didik dari hal-hal atau prilaku yang kurang baik ke arah yang dapat menimbulkan manfaat baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Dalam proses belajar mengajar guru di tuntut untuk dapat menggunakan berbagai macam metode agar dapat mengeksplor segala kreatifitas yang ada pada diri peserta didik, namun untuk mewujudkan hal tersebut guru harus mempersiapkan secara optimal segala perangkat pembelajaran baik RPP, LKS maupun tes hasil belajar yang dapat digunakan sebagai penilaian sehingga guru bisa mengukur sejauh mana keberhasilan dalam mengajar.

    ReplyDelete
  49. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Melihat dan membaca berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh para mahasiswa ,bahwa sejatinya filsafat memiliki peran penting di dalam matematika.Gambaran pertanyaan akan membuat kami merasa penasaran dan termotivasi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.Saya ingin menanggapi salah satu diantara banyaknya pertanyaan dari buku yang pernah saya baca,pertanyaan mengenai aliran filsafat seperti idealisme, rasionalisme, dan empirisisme.Sebelumnya saya ingin menjelaskan mengenai beberapa item filsafat tersebut.Yang pertama, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan spirit (roh).Istilah ini diambil dari “idea”, yaitu ssesuatu yang hadir dalam jiwa.Ideliasme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme.Yang kedua, rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.Rasionalisme berpendapat bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuaan datang dari penemuan akal.Contoh pemahaman yang jelas ialah pemahaman kita tentang logika dan matematika.Penemuan-penemuan logika dan mateamatika begitu pasti, kita tidak melihatnya sebagai benar, tetapi lebih dari itu kita melihatnya sebagai keebenaran yang tidak mungkin salah, kebenaran universal.Yang ketiga, emprisisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serata pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.Emprisisme adalah lawan rasionalisme.Teori aliran empirisisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep.Jika dikaitkan dengan matematika, berbagai aliran filsafat tersebut memiliki hubungan yang erat.Idelisame terkait dengan jiwa dan roh,rasionalime terkait dengan akal,dan empirisisme terkait dengan pengalaman yang melahirkan ide dan konsep.Kesemuanya itu ada dalam matematika.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  50. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari beberapa pertanyaan yang terdapat pada artikel diatas, saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut “Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?” Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik dan memilki karakter masing dalam belajar. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  51. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Saya tertarik untuk menanggapi pertanyaan tentang apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat. Saya jadi teringat buku novel Dunia Sophie, dalam novel tersebut secara menarik dikemas dengan menggunakan kata-kata yang sederhana, mendalam dan memposisikan anak sebagai tokoh utama. Dalam buku tersebut digambarkan seorang anak berumur 14 tahun yang bernama Sophie dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar melalui surat seperti; siapa saya?, dari mana saya berasal? Sejak muncul pertanyaan-pertanyaan tersebut Sophie mulai tertantang untuk menjawab secara rasional. Hingga ia mencoba untuk memahami sejarah filsafat sejak awal perkembangannya di Yunani hingga abad ke dua puluh. Yang menarik bagi saya bukan sekedar isi bukunya yang menarik, melainkan buku tersebut menjadi menarik dibaca oleh salah satu adik dari kawan saya yang masih SD kelas 6. Mulai saat itu saya asumsikan bahwa anak-anak memiliki dorongan dan ketertarikan untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidupnya melalui olah pikir dan berfilsafat.

    ReplyDelete
  52. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Saya tertarik untuk mengunggkapkan pendapat saya tentang bagaimana memandang perbedaan kemampuan berfikir siswa. Menurut hemat saya perbedaan cara berfikir bukanlah merupakan hal yang tidak baik, karena hal tersebut sangat wajar. Mengingat manusia diciptakan Tuhan dengan penuh perbedaan, bahkan kembar identikpun punya perbedaan apalagi jika ditinjau dalam konteks filsafat. Jadi perbedaan berfikir siswa boleh-boleh saja, asalkan siswa mampu menjelaskan apa yang dipikirkan. karena dalam jawaban tidak ada salah benar, asalkan kita mampu menjelaskan jawaban kita.

    Demikian, terimakasih.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  53. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih prof. Marsigit atas artikel kali ini. Setelah tiga kali bertatap muka dengan bapak dalam perkuliahan filsafat ilmu pendidikan, saya telah berhipotesis bahwa filsafat ilmu itu menjadi dasar dan landasan dalam segala hal, segala bidang, segala kejadian, segala potensi, segala gejala yang ada dan yang mungkin ada, tergantung pada eksistensinya dalam ruang dan waktunya masing-masing. Sehingga, filsafat ilmu menjadi dasar ilmu yang melatarbelakangi dan sudah seharusnya diterapkan pada bidang akademik, seperti matematika. Namun, sebagai mahasiswa pemula yang baru terjun ke dunia filsafat, saya belum tahu persis bagaimana kontribusi dan implementasi filsafat terhadap pendidikan matematika. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas, ada 4 pertanyaan yang persis seperti yang rasakan dan sudah saya tulis di dalam buku catatan saya yang tentu saya ingin tanyakan ke bapak jikalau ada kesempatan.
    1.Apakah pikiran anak kecil sudah dapat dikatakan sebagai berfilsafat? Bagaimana cara menjelaskan ke mereka agar mereka memahaminya dengan benar dan tepat?
    2.Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
    3.Sejauh mana nilai-nilai spiritual berpengaruh terhadap pembelajaran matematika?
    4.Bagaimana filsafat di implementasikan dalam pembelajaran matematika?
    Semoga bapak bisa menjelaskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, melalui elegi yang biasa bapak gunakan agar kami dapat meleburkan pikiran kami untuk masuk ke ranah filsafat yang sesungguhnya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  54. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Menanggapi pertanyaan nomor 3 , menurut pendapat saya. pembelajaran matematika yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bersifat bebas. bebas dalam mempelajari dengan cara siswa sendiri tanpa kungkungan dikte dari sang guru , bebas membangun matematikanya sendiri, bebas mengekspresikan matematikanya sendiri. itulah hal-hal yang akan membuat pembelajaran matematika semakin menyenangkan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  55. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sebagai guru, tugas kita adalah memfasilitasi siswa untuk membangun dan menemukan matematikanya. berikan fasilitas-fasilitas yang akan membimbing mereka untuk menemukan matematikanya sendiri. jangan menghalangi jalan mereka dengan dikte-dikte yang malah akan menghalangi kreatifitas mereka. biarkan mereka berpetualang sendiri di dunianya untuk menemukan matematika tersebut, namun tetap ikuti dan amati mereka , pastikan terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  56. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut.
    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  57. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang pertanyaan “Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?”
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 9. Dalam kehidupan ini sebagai seorang makhluk yang hidup berdampingan hendaknya selalu menempatkan spiritual sebagai pegangan hidup. Landasan spiritual digunakan sebagai acuan untuk bertindak. Termasuk dalam belajar, ketika kita berpikir dan belajar jangan sampai melupakan landasan spiritual, termasuk juga belajar matematika. Apabila kita peka, banyak hal yang dapat dimaknai dari konsep matematika untuk memperkokoh spiritual. Misalnya : pusat pada koordinat adalah tunggal dapat dihubungkan dengan nilai spiritual bahwa pusat dari segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini adalah tunggal yaitu Kuasa Tuhan.
    Jadi untuk dapat memaknai belajar matematika guna mengembangkan nilai-nilai spiritual adalah dengan berusaha belajar dan belajar agar memiliki pikiran yang luas serta tak lupa selalu mengharapkan ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  58. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih atas postingannya prof, saya ingin menanggapi pertanyaan nomor 9 yakni “sejauh mana kita dapat mengembangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika”. Menoleh kembali ke pengalaman saya saat mengajar di salah satu sekolah islam di makassar, dalam membuat perangkat pembelajaran guru dituntut agar membuat integrasi imtaq dalam setiap materi pembelajaran matematika, dan memang saat membuat perangkat tersebut saya sadari bahwa memang semua materi pembelajaran khususnya matematika mempunyai keterkaitan dengan nilai-nilai spiritual. Jadi dalam pembelajaran matematika di kelas saya menghubungkan dengan nilai-nilai spiritual yang ada.

    ReplyDelete
  59. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas kesempatannya dalam memberikan tanggapan dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan pada mata kuliah yang bapak ampu. Saya akan menanggapi pertanyaan "Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?". Filsafat itu terdiri dari banyak paham-paham baik yang bersifat absolute, kontruktiv, empiris, intuitif dan lain sebagainya. Belajar matematika yang menyenangkan itu dapat dimulai dengan melihat siapa yang akan mempelajarai matematika, anak kecil atau orang dewasa. Paham kontruktiv dan empiris mungkin menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk anak kecil. Paham intuitiv mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk anak kecil. Sehingga menurut saya untuk membuat belajar matematika itu menyenangkan harus dengan ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  60. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan “filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa”. Setiap siswa memiliki pengalaman, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Walaupun mungkin secara fisik siswa satu dengan siswa yang lain memiliki bentuk tubuh yang sama, jelas apa yang dimiliki secara metafisik itu berbeda. Seperti halnya seorang pendidik yang berusaha mencari metode pembelajaran yang baik dan sesuai untuk diterapkan di kelas. Bukan hanya sesuai dengan materinya, tetapi juga harus diimbangi dengan kebutuhan yang dibutuhkan siswa. karakter dan kemampuan berpikir juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang juga berperan dalam memberikan pengelaman bagi siswa tersebut.

    ReplyDelete
  61. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dari 23 pertanyaan diatas saya mencoba berkomentar mengenai pertanyaan "Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?", sebagaimana ungkapkan sering disampaikan oleh Prof. Marsigit dalam perkuliahan bahwa "filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangun filsafatmu sendiri" ini berarti bahwa karakter berpikir masing-masing orang berbeda-beda dan cara mereka membangun pola pikir mereka pun berbeda. Untuk itu perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa secara filsafat adalah hal yang wajar dan normal. Sehingga perlu diterapkan metode pembelajaran yang inovatif agar mampu memenuhi kebutuhan dari berbagai karakter dan kemampuan berpikir siswa yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  62. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    terimakasih banyak prof atas ilmu yang diberikan pada postingan diatas.
    disini saya akan mencoba untuk menjawaba petanyaan no satu yang berbunyi Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?. didalam filsafat sendiri filsafat itu ialah diri kita sendiri, perbedaan karakter dan kemampuan berfikir siswa bukanlah hal rumit, karena memang didalam setiap diri manusia terdapat kerakter yang berbeda-beda. biarlah sang murid mencari tau jawaban dengan cara mereka masing-masing kita sebagai fasilitator pendidikan hanya menuntun mereka ke arah yang tidak menyimpang dari pembelajaran itu sendiri.

    ReplyDelete
  63. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Terimakasih atas kesempatan yang diberikan Bapak, saya akan mencoba menuliskan pendapat saya tentang bagaimana penerapan pendekatan hermenetika dalam pembelajaran matematika. Seperti yang telah saya pelajari sebelumnya bahwa hementika digambarkan dalam dua garis yaitu berupa satu garis lurus dan satu garis spiral. Garis spiral ini menggambarkan bahwa pengetahuan matematika bersifat spiral yaitu memeiliki hubungan antara satu dengan yang lain, juga dapat diartikan bahwa saat mempelajari suatu konsep A maka konsep A ini akan digunakan lagi saat mempelajari konsep B, sehingga dapat dikatakan akan terjadi pengulangan. Kemudian garis lurus akan menggambarkan bahwa belajar matematika itu berkelanjutan sehingga jika sudah mempelajari dasar tidak akan kembali dari titik awal namun terus berkelanjutan sesuai aliran waktu.

    ReplyDelete
  64. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Hakikat penugasan adalah tanggung jawab. Dari melaksanakan tugas atau tidak maka akan tercermin sikap tanggung jawab dalam diri siswa. Selain itu penugasan juga berfungsi untuk mengasah lagi ilmu yang sudah dapat di sekolah. Karena belajar di sekolah saja akan kurang maksimal apabila siswa tidak diberikan tugas lain sebagai pembelajaran di rumah.

    ReplyDelete
  65. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Apersepsi dalam pembelajaran matematika berfungsi untuk mengaitkan materi baru dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya. Dari sini guru akan mengatahui sampai manakah basic yang sudah dimiliki siswa, sehingga memudahkan guru untuk membelajarkan suatu materi baru. Apalagi matematika materinya bersifat berkesinambungan antara suatu materi dengan materi lain.

    ReplyDelete
  66. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan berkaitan dengan bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas. Proses pembelajaran yang terjadi di kelas merupakan suatu interaksi antara siswa dan guru yang saling menerjemahkan. Guru menerjemahkan perilaku siswa, sedangkan siswa menerjemahkan apa yang disampaikan guru. Kegiatan saling menerjemahkan ini harus berjalan dengan baik karena jika terjadi kegagalan maka proses pembelajaran akan terhambat. Guru menjadi tidak paham apa yang dialami siswa, demikian juga siswa tidak paham apa yang disampaikan guru. Guru sebagai fasilitator sudah seharusnya memahami psikologi siswa dalam belajar agar guru mampu menerjemahkan perilaku siswa.

    ReplyDelete
  67. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  68. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor dua, Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas? Interaksi antara guru dan siswa di kelas sesuai dengan teori hemenitika yaitu diterjemahkan dan menerjemahkan. Ketika guru dapat memahami siswa (keadaannya) maka interaksi antara guru dan siswa akan berjalan dengan baik. Ini akan membuat guru memahami siswa dan siswa paham akan yang disampaikan guru. Interaksi yang terjalin dengan baik akan membuat kenyamanan dan proses belajar mengajar di kelas akan berjalan dengan baik serta tujuan pembelajaran akan tercapai.

    ReplyDelete
  69. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Mencoba menjawap pertanyaan no tiga mengenai cara belajar matematika yang menyenangkan menurut filsafat. Menurut Imanuel kant, sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan atau pikiran yang dilaksanakan. Menurut saya dengan belajar matematika secara kontekstual, yaitu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, bahkan juga bisa di praktekkan maka belajar matematika akan menjadi menyenangkan. Siswa bisa belajar dari kehidupan nyata atau dari pengalamannya di luar kelas, kemudian di eksplor di kelas untuk di diskusikan bersama.

    ReplyDelete
  70. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    saya akan coba menjawab pertanyaan nomor 1, bagaimana filsafat memandang perbedaan karakteristik dan kemampuan berpikir siswa?
    Jika seorang guru mampu berfilsafat dengan memandang perbedaan karakter dan kemampuan siswa dalam bidang matematika, maka akan memudahkan guru dalam mengimplementasikan kegiatan dan tujuan pembelajaran. Karakter siswa adalah apa dan bagaimana yang menjadi ciri khas siswa dalam belajar matematika, sedangkan kemampuan berpikir adalah daya pikir siswa dalam memperoleh konsep dalam belajar matematika. Menurut saya yang ilmu filsafatnya sangat dangkal, setiap siswa memiliki bawaan atau ciri khasnya tersendiri yang ada sejak lahir atau sejak kecil, ada yang bisa diubah atau dingkatkan dan ada pula yang tidak. Kemampuan berpikir antar siswa pasti berbeda, tapi sebagai guru kita harus mampu meningkatkan kemampuan berpikir tersebut dengan karakteristik siswa yang bermacam-macam pula.

    ReplyDelete
  71. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Filsafat ilmu dalam pendidikan matematika tak ubahnya akar dan batang. Keduanya saling berhubungan dan berkesinambungan. Perpaduan yang asyik ketika belajar filsafat ilmu dalam pendidikan matematika karena hal tersebut jarang sekali kami temui. Menanggapi pertanyaan nomor 7 diatas bahwa hakikat komunikasi adalah interaksi dari dua atau lebih subyek maupun obyek meskipun sifat interaksinya hanya isyarat. Sedangkan komunikasi dalam matematika tidak cukup hanya komunikasi namun juga memadukannya dengan koneksi matematis yakni semua konsep harus saling berkesinambungam dan tidak boleh di lupakan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  72. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Menurut saya, filsafat dalam memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa merupakan hal yang wajib dilakukan oleh guru., karena setiap siswa itu unik dan guru tidak bisa memperlakukannya dengan sama. guna mengoptimalkan kemampuan ataupun prestasi siswa guru hendaknya memberikan metode pembelajaran yang mengakomodasi keberagaman siswa.

    ReplyDelete
  73. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pertanyaan no.7 apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat? Hakikat komunikasi adalah proses pernyataan antar manusia, yang dinyatakan adalah pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya. Sedangkan hakikat komunikasi matematika adalah proses pernyataan antara seorang guru dengan muridnya. Penyampaian guru tentang simbol-simbol dan materi matematika kepada siswanya. Mengkomunikasikan matematika kepada siswa hendaknya disertai contoh-contoh konkrit terutama pada siswa sekolah dasar dan sekolah menengah tingkat pertama karena terkadang siswa masih belum mampu berpikir abstrak.

    ReplyDelete
  74. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan “Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?”. Menurut saya jawabannya adalah seorang anak kecil (siswa) telah dapat berfilsafat. Karena pada hakikatnya filsafat tentang pemikiran dan hasil pemikiran siswa tersebutb yang masih kecil maka dapat disebut dnegan filsafat. Namun yang membedakan antara filsafat anak dan filsafat orang dewasa adalah kadar pengetahuan dan pengalamannya. Seperti yang dikemukakan oleh Piaget bahwa usia anak akan mempengaruhi pemikirannya. Seperti anak kecil saat ditanya maka dia akan menjawab ya atau tidak berbeda dengan siswa yang telah dewasa seperti SMA dia telah dapat menjabarkan jawaban dengan panjang lebar karena pengetahuan dan pengalamnnya.

    ReplyDelete
  75. Terima kasih atas postingan bapak. Dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan diatas membuat saya dapat berfikir lebih banyak mengenai filsafat dan hubungannya dengan pendidikan matematika. Banyak hal yang mesti dilakukan dalam rangka mengetahui tentang penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika. Jika kita secara sungguh-sungguh melakukan hal-hal tersebut maka kita akan dapat menemukan kemistri diantara kedua ilmu yang saling berhubungan.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  76. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya ingin berpartisipasi dalam pembahasan penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika dengan menjawab pertanyaan nomor sembilan mengenai mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika. Pertama dengan mengembangkan kompetensi dan karakter pribadi pendidik untuk menjadi sosok teladan bagi siswa, memberi nasehat pada momen-momen yang tepat di dalam dan di luar proses pembelajaran, memberi reinforcement positif atau negatif dengan tepat, membiasakan pengamalan nilai-nilai kebaikan, menciptakan kondisi yang kondusif bagi pengamalan nilai-nilai kebaikan, terutama dalam rangka pengembangan sikap spiritual dan sikap sosial pada siswa.

    ReplyDelete
  77. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan no.3. Pembelajaran yang menyenangkan bukan berarti pembelajaran yang sesuai dengan permintaa siswa karena tiadalah daya guru untuk mewujudkan permintaan subyek didik yang begitu banyak. Maka sebenar-benar pembelajaran matematika yang menyenangkan adalah pembelajaran yang mempertimbangkan karakter siswanya, merentangkan kesempatan bagi siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya, dan mengedapankan interaksi guru dan siswa. Pembelajaran yang menyenangkan didukung dengan lahirnya media belajar dari hasil kreativitas guru dan proses pembelajaran melahirkan siswa yang aktif dan kreatif.

    ReplyDelete
  78. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Menanggapi pertanyaan no1. Setiap pribadi memiliki perbedaan karakter, sekalipun orang tersebut kembar. Tiadalah kelas tanpa perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Tiada pulalah lahir kreativitas guru tanpa adanya perbedaan karakter siswa. Maka sebenar-benar perbedaan karakter siswa adalah sumber kekayaan dalam pembelajaran. Perbedaan karakter dan kemampuan berpikir inilah yang menjadi pijakan guru dalam merancang proses pembelajaran. Maka kunci utama tujuan pembelajaran dapat tercapai adalah guru memahami karakter dan cara berpikir siswa-siswanya. Karena sejatinya guru memiliki kewajiban untuk membantu setiap siswa dalam mencapai prestasi optimalnya.

    ReplyDelete
  79. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    3.Bagaimana pandangan filsafat tentang pembelajaran yang menyenangkan

    Guru memegang peranan yang sangat penting untuk dapat mencapai pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran matematika yang menyenangkan hendaknya dapat menjadi sarana dalam membangun logika dan pengetahuan matematis siswanya. Kreatifitas dari guru sebagai pendamping belajar siswa sangat diperlukan dalam idealnya sebuah pembelajaran. Guru dianjurkan untuk meningkatkan kinerja serta kreatifitasnya agar siswa menjadi lebih berminat dan terdorong untuk terus bereksplorasi dalam matematika.

    ReplyDelete
  80. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pertanyaan 14 adalah pertanyaan yang menarik. Matematika disebut ratu ilmu maksudnya matematika mendasari perkembangan ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu matematika perlu diajarkan dari sejak dini. Berbicara tentang matematika yang cocok untuk anak kecil dan orang dewasa maka kembali lagi kepada pola pikirnya. Bahwa tidak mungkin kita mengajarkan matematika SMA kepada anak kecil karena ini belumlah sesuai takarannya. Oleh karena itu pembelajaran berjenjang. Sebenarnya menurut saya tidak ada istilah matematika untuk anak kecil atau untuk orang dewasa karena pembelajaran matematika itu perlu secara secara berkelanjutan. Secara filsafat yang perlu dibedakan antara anak kecil dan orang dewasa adalah bahasanya yang harus sederhana sehingga mudah dipahami. Bahwa tiadalah arti jika kita berbicara filsafat kepada anak kecil atau orang awam. Maka filsafat menuntun kita untuk menyampaikan sesuatu dengan mempertimbangkan lawan bicaranya.

    ReplyDelete
  81. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami menyadari bahwa perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa haruslah dihargai secara baik dan bijaksana, karena setiap siswa memilikinya secara berbeda satu sama lain. Penyebab terjadinya hal ini bisa jadi dikarenakan oleh intuisi-intuisi mereka yang berbeda satu dengan yang lainnya. Sehingga kami menyadari bahwa dalam berperan sebagai guru, kami harus mampu dan berusaha untuk menghargai intuisi matematika setiap siswa sesuai dengan kemampuan siswa tersebut.

    ReplyDelete
  82. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menjawab pertanyaan " Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?" dapat diawali dengan konsepsi bahwa segala sesuatu terdiri dari normatif dan formal. Dalam dunia pendidikan, mengajar atau mendidik dapat berjalan karena proses normatif dan formal. Secara normatif pembelajaran ialah kegiatan belajar-mengajar-mendidik yang berlangsung di kelas yang ditandai interaksi di antara guru dan siswa. Sedangkan secara formal, kegiatan belajar mengajar diinsikasikan oleh RPP, LKS, jurnal kehadiran dan sebagainya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  83. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mengenai "Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?" kita runut kembali bahwa filsafat melingkupi pemikiran yang merentang dan melampaui ruang dan waktu. Sedangkan pemikiran anak kecil terbatas pada apa yang mereka temui, apa yang bisa mereka pegang, apa yang bisa mereka rasakan. Hal yang demikian itu mengindikasikan bahwa pikiran anak kecil belum mampu melampaui tuang dan waktu, sehingga mereka belum dapat berfikir secara filsafati, kecuali untuk anak-anak tertentu yang memang gifted dapat berpikir melampaui ruang dan waktu, namun fenomena tersebut tidaklah familiar dan jarang ditemui. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  84. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Terkait pertanyaan nomor 21, hal ini terkait dengan faktor dari dalam diri siswa. seperti rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, dan seterusnya. Faktor yang mempengaruhi hal demikian tidak hanya berasal dari dalam, namun juga ada faktor dari luar, misalnya peranan guru, teman sejawat maupun orang tua. Seorang guru dapat meningkatkan rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu siswa dengan mendorong siswa melalui pemberian achievement kepada siswa dalam proses pembelajaran. Teman yang baik dapat saling memotivasi dalam belajar serta peranan orang tua di luar sekolah juga sangta berperan penting dalam mendukung anak untuk belajar.

    ReplyDelete
  85. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PMC S2

    Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam. Meski tak mudah dalam mempelajari filsafat pendidikan matematika tapi lebih baik jika mencoba untuk menggapai yang seutuhnya dari sisi gelap maupun terangnya, sehingga kita benar-benar mengerti dan dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  86. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Sudah menjadi takdir bahwa setiap manusia, tidak terkecuali siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen sehingga memiliki berbagai macam karakteristik misalnya karakteristik pemikiran filsafat yaitu secara menyeluruh (komprehensif). Filsafat tidak sama dengan ilmu dengan memandang objeknya,karena filsafat melihat atau memandang objeknya dari sudut totalitas dan berfikir rasional artinya dalam hal ini terkandung pengertian berfikir logis, sistematis dan kritis.

    ReplyDelete
  87. Insan A N/PPs PmC 2017
    Pendidikan matematika identic dengan pembelajaran, artinya terdapat siswa belajar dan guru fasilitator belajar. Filsafat ilmu mengenal Hermentika, dalam pembelajaan tentu ada hubungan antara guru dan siswa,nah mereka ini harus saling ber hermenetika. Hermenetika antara guru dan siswa di maksudkan untuk membuat pembelajaran sesuai target yang telah ditentukan. Salah satunya melalui aktivitas belajar yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  88. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Mengenai pertanyaan -pertanyaan terkait penerapan filsafat ilmu pada pendidikan matematika yang telah dituliskan di atas, saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan nomor 3, yaitu "Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?". Menurut pendapat saya, matematika yang menyenangkan dalam filsafat adalah yang sesuai ruang dan waktunya. Karena sebagai guru, kita harus sewajarnya mengetahui karakteristik dan kebutuhan siswa yang kita didik. Kita dapat memberikan pembelajaran yang menyenangkan apabila tepat dan sesuai ruang dan waktunya bagi siswa.

    ReplyDelete
  89. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Penerapan filsafat dalam pendidikan matematika adalah dengan mengedepankan kedudukan filsafat ilmu. Kemudian tahapan yang dilakukan adalah mereview ciri-ciri, cakupan, metode fan macam bentuk filsafat ilmu berdasarkan pemikiran para filsuf. Ternyata setelah direntangkan diperoleh hasil bahwa pendidikan matematika merentang dalam tataran idela, realis, empiris, hingga mencakup ideology dan politik.

    ReplyDelete
  90. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pertanyaan-pertanyaan yang dibagikan dalam postingan ini menjadi gambaran bahwa filsafat dapat menjelaskan/menafsirkan kegiatan pembelajaran matematika. Selanjutnya saya tertarik dengan pertanyaan nomor 1, perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa sudah menjadi kodratnya manusia sebagai makhluk yang dipilih dan terpilih oleh Tuhan YME untuk berbeda-beda. Dalam kehidupan ini tidak ada yang berlaku identitas begitu pula dengan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Akan tetapi perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa tersebut haruslah menjadi batu pijakan/paradigma guru dalam menyusun pembalajaran. Untuk siswa yang beragam, dengan karakter serta kemampuan berpikir yang beragam pula, guru mampu menyusun pembelajaran yang beragam pula, pembelajaran yang mampu mebuat siswa belajar sesuai dengan potensinya. Sekian dan Teirma Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  91. Assalamualaikum, wr.wb.
    Saya juga ingin mencoba menanggapi pertanyaan “Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?”
    PBM yang masih bersifat tradisional, dimana pengetahuan masih berupa transfer knowledge dan siswa masih dianggap sebagai empty vessel, dalam filsafat PBM seperti ini adalah hasil dari budaya sang power now. SDM yang dihasilkan melalui PBM seperti ini akhirnya tidak akan mampu bertindak, melawan kekuatan power now dan hanya menjadi budak power now. PBM yang inovatif adalah dimana pengetahuan dibangun secara kontruktivis oleh siswa sendiri. SDM yang dihasilkan melalui PBM ini akan menjadi orang memiliki kreativitas, san komprehensif, yaitu yang mampu menyeimbangkan antara ilmu dan ibadah, sehingga tidak menjadi SDM yang hanya mahir calistung (back to basic saja) dan pada akhinya mereka mampu membentengi diri dari pengaruh power now tersebut. Konsep pembelajaran matematika kontemporer (saat ini) adalah yang berparadigma Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, dimana ketiganya merupakan efek dari power now, sehingga pbm matematika saat ini sudah terjebak dalam pbmnya sang power now.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  92. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Terkait dengan pertanyaan no. 3 menurut saya pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang dimengerti oleh siswa, tidak membingungkan siswa sehingga siswa merasa nyaman mempelajarinya dan siswa akan merasa senang dengan belajar materi tersebut. Pembelajaran matematika yang menyenangkan lebih ke pelajaran yang bersifat konkrit atau disertai dengan contoh-contoh penerapan di dunia nyata sehingga siswa tertarik untuk mencari tahu hingga akhirnya siswa merasa membutuhkan matematika dalam kehidupan sehari-harinya.

    ReplyDelete
  93. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?"
    Setiap anak dilahirkan ke dunia ini dengan keunikannya masing-masing. Karakternya unik, wajahnya unik, kemampuannya unik.. hal ini membuat kebutuhan belajar mereka berbeda-beda. Jika tujuan pendidikan adalah memfasilitasi kebutuhan setiap anak,maka seharusnya guru lebih memperhatikan kenyataan ini dan tak memagok standar yang sama untuk tiap siswa.

    ReplyDelete
  94. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Menurut saya, kata menyenangkan di sini bersifat relatif. Menyenangkan menurut anak TK, SD, SMP, SMA, dan mahasiswa itu akan berbeda-beda. Bagi anak TK, belajar matematika itu menyenangkan jika disampaikan melalui permainan. Bagi anak SD, matematika juga akan menyenangkan jika disampaikan melalui permainan, akan tetapi permainan antara anak TK dan SD juga berbeda. Perbedaan ada pada materi yang akan disampaikan dan tingkat kesulitannya. Sedangkan untuk anak usia SMP dan SMA, matematika akan menyenangkan apabila materi dikemas dalam bentuk tugas berbasis proyek. Anak usia SMP dan SMA ini baru senang-senangnya mengeksplor pengetahuan. Mereka sedang dalam proses mencari ilmu yang sebanyak-banyaknya, sehingga mereka akan tertarik dengan sebuah percobaan yang akan menghasilkan sesuatu yang belum pernah mereka temukan, misalnya menemukan rumus dari sebuah proses induksi matematika. Jadi, tidak hanya ada satu cara untuk membuat belajar matematika itu menyenangkan, dan pembelajaran yang menyenangkan juga harus memperhatikan usia siswa.

    ReplyDelete
  95. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Menurut saya, dalam mempelajari matematika dibutuhkan konsep keikhlasan. Apabila kita tidak ikhlas, dalam menerima ilmu matematika ini akan merasa kesulitan. Kita merasa dipaksa dalam belajar jika tidak ada kesadaran untuk ikhlas dalam mempelajarinya. Matematika akan menyenangkan jika kita merasa matematika itu mudah, asyik, bermanfaat, dan ikhlas dalam mempelajarinya. Oleh karena itu, kita harus menerapkan ikhlas hati dan ikhlas pikir dalam setiap mempelajari semua ilmu, baik matematika maupun disiplin ilmu yang lain.

    ReplyDelete
  96. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2PMat C 2017

    2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Interaksi antara guru dan siswa di kelas adalah hal sangat penting untuk diperhatikan. Kesuksesan guru dalam menyampaikan materi juga tergantung pada interaksinya dengan siswa. Apabila interaksi kurang baik, maka siswa juga akan sulit untuk mengikuti pembelajaran matematika. Akan tetapi, guru juga harus memperhatikan bahwa interaksi ini bukan berarti bahwa seorang guru harus selalu dominan ketika proses belajar mengajar berlangsung. Interaksi yang paling efektif yaitu guru selalu memberikan peluang kepada siswanya untuk selalu aktif ketika pembelajaran berlangsung. Jadi, pembelajaran akan bersifat student center, bukan hanya guru saja yang berkuasa di kelas.

    ReplyDelete
  97. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Kita ketahui bahwa filsafat merupakan dasar dan pijakan berbagai ilmu lain, karena dalam pembelajaran matematika peran filsafat ilmu tidak dapat dipisahkan terutama dalam mengkaitkan yang bermacam-macam permasalahan matematika sehingga menjadi suatu rangkaian yang saling berkaitan atau setidak-tidaknya mencari hubungan permasalahan tersebut. Begitu juga kita ketahui bahwa matematika dipandang sebagai ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir, dengan tujuan akhir bahwa ilmu filsafat dan proses pembelajaran matematika yaitu mencari kebenaran. Dalam menemukan jawaban kebenaran pembelajaran matematika tidak terlepas dari metode ilmiah (dedukti dan Induktif), hal ini sejalan dengan peran filsafat ilmu yang mengedepankan suatu rangkaian yang saling berkaitan untuk mencari jawaban. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, makalah ini mengkaji tentang peran filsafat dalam pembelajaran matematika.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  98. Ilania Eka Andari
    17709251050
    s2 pmat c 2017

    14. Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil?
    Menurut saya, Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika konkret. Matematika yang dibawa dari pengetahuan sehari-harinya. Sedangkan matematika yang tidak cocok untuk anak kecil adalah matematika formal. Contoh matematika formal yaitu matematika yang mengajarkan tentang rumus-rumus dan pembuktiannya. Anak-anak tidak akan mampu untuk mempelajarai matematika formal dan malah akan merusak intuisi mereka.

    ReplyDelete
  99. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Filsafat merupakan sesuatu yang sudah ada dan berkembang sejak kita semua masih kecil hingga kita besar nanti. Seluruh yang ada di dunia ini jika kita mengetahui filsafatnya, maka kita akan mengerti hakikat mengapa segala sesuatu yang ada di dunia ini dibuat. Dalam sejarah juga ada filsafatnya. Karena jika mengetahui dengan pasti kenapa kejadian tersebut dari sebab dan akibatnya hingga sekarang ini, maka ilmu yang kita peroleh akan sangat banyak sekali. Dari sini saya mengatakan bahwa filsafat itu dimana saja, kapan saja, dan siapa saja terpasuk apa saja.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  100. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251092
    PPs PMat C

    filsafat dapat menjawab dari semua pertanyaan/permasalahan yang ada. dari pertanyaaan-pertanyaan diatas saya menjadi lebih mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam proses pembelajaran. semoga dengan mengetahui kesulitan-kesulitan tersebut kita dapat mengantisipasinya dengan menyiapkan segala susuatu untuk mengatasi persoalan diatas, perlu mengevaluasi diri lagi agar pembelajaran berjalan dengan maksimal.

    ReplyDelete
  101. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari artikel di atasa saya merefleksi bahwa pengembangan pendidikan matematika sangat didasari oleh filsafat ilmu. Selanjutnya perlu dipelajari aliran filsafat yang akan dijadikan dasar untuk mengembangakn pendidikan matematika. selnjutnya perlu diperhatikan beberapa hal agar pendidikan matematika dapat berkembang dengan baik, diantaranya tentang perbedaan karakter siswa ditinjau dari filsafatnya dan bagaiman peran guru dan siswa dalam pembelajaran. Hal-hal tersebut dapat ditinjau dari segi filsafatnya untuk meningkatkan mutu pendidika matematika.

    ReplyDelete
  102. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut.
    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing.

    ReplyDelete
  103. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya akan menanggapi pertanyaan nomor 2 dari artikel diatas yang menanyakan "Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?"
    Interaksi guru dan siswa di kelas haruslah merupakan kegiatan silaturahmi dimana terdapat proses menterjemahkan dan diterjemahkan, bukan pemaksaan. Sehingga dalam berinteraksi guru tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada siswa, namun guru berusaha menterjemahkan siswa sebaik-baiknya, sehingga guru akan diterjemahkan oleh siswa dengan baik pula.

    ReplyDelete
  104. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya akan menanggapi pertanyaan nomor 12 dari artikel diatas yang menanyakan"Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?"
    Guru mengajar berarti guru memfasilitasi siswa membangun pengetahuaannya. Guru memberikan kesempatan kepada siswa. Memberi kesempatan berarti tidak menutupi sifat-sifat siswa, tidak memberikan matematika tetapi memfasilitasi. Mendidik dan mengajar memiliki perbedaan. Mengajar lebih berfokus pada materi sedangkan mendidik tidak hanya pada materi tetapi juga pada kepribadian, jadi guru mendidik berarti bahwa guru menjadi contoh yang baik bagi siswa, memberikan keteladanan, memotivasi siswa.

    ReplyDelete
  105. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Saya akan menanggapi pertanyaan nomor 17 dari artikel diatas yang menanyakan "Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?"
    Idealisme berarti bahwa menganggap obyek memiliki sifat ideal. Dalam pembelajaran matematika, contohnya adalah bahwa saat kita mengatakan kerangka kubus, yang kita bayangkan adalah kerangka kubus yang memiliki rusuk yang lurus, bukan kerangka kubus yang memiliki rusuk yang agak penyok, agak melengkung, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  106. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Pertanyaan yang juga membuat saya penasaran. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer? sayang sekali saya tidak mendengar jawaban nya langsung di perkuliahan bapak. namun saya ingin menanggapi sedikit. menurut saya pembelajaran matematika yang tradisional secara filsafat merupakan mitos jika tetap bertahan dengan egonya, sedangkan pembelajaran matematika yang inovatif merupakan logos.

    ReplyDelete
  107. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Saya ingin mencoba menjawab beberapa pertanyaan tersebut. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya, perbedaan merupakan hal unik yang dimiliki sebagai ciri khas setiap orang. Setiap orang pasti memiliki perbedaan, meskipun kembar tetapi pasti memiliki perbedaan. Begitu juga dengan kemampuan berpikir antara orang pertama dengan kedua atau yang lain. Karena perbedaan prior knowledge, mereka akan memiliki kemampuan berpikir yang berbeda pula.

    Selanjutnya pertanyaan no 2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Menurut pendapat saya, interaksi antara guru dan siswa sangatlah penting, jadi pelajaran tidak akan terasa membosankan. Akan bosan jika siswa terus menerus mendengarkan, sementara guru terus menerus transfer pengetahuannya. Hal seperti ini merupakan pembelajaran yang tidak sehat, karena siswa tidak membentuk pengetahuannya sendiri. Dengan adanya interaksi dalam pembelajaran, menjadi salah satu indikator bahwa pembelajaran itu hidup dan siswa juga berusaha membentuk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  108. Menanggapi pertanyaan no 3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Menurut saya, belajar matematika yang menyenangkan berarti siswa diberi kebebasan untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan matematika, menggunakan metode belajarnya masing-masing. Karena setiap siswa unik dan memiliki cara belajarnya masing-masing.

    Sedangkan pertanyaan no 20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
    Jawabannya, tentu ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika. Tanpa keikhlaskan ilmu yang didapat akan terasa kurang maksimal kebermanfaatnnya dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  109. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari belajar filsafat kita memahami bahwa yang ada didunia adalah bersifat relatif dan plurall, sehingga sangat banyak keberagaman. Manusia sendiri diciptakan dengan bakat bawaan masing-masing yang beragam dan unik. Begitu pun setiap siswa dalam suatu kelas, tentu memiliki karakter dan kemampuan berfikir yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang harus mampu ditangkap dan disikapi dengan baik oleh guru. Guru harus mampu mengarahkan siswa dengan berbagai karakter ke arah yang baik, mengoptimalkan setiap potensi yang bergam yang dimiliki. Memberikan ilmu sesuai dengan kemampuan berfikir siswanya.sehingga siswa akan menikmati proses pencarian ilmu dan jati diri nya. Guru jangan melihat dari kelemahan atau kekurangan siswa saja, akan tetapi lihatlah kelebihan siswa tersebut.

    ReplyDelete
  110. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    "Saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut.
    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing"

    ReplyDelete
  111. Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  112. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dalam pendidikan matematika filsafat membantu guru dalam menghubungkan pengetahuan siswa dengan keadaan dunia nyata. Matematika adalah proses berfikir yang kompleks sedangkan filsafat adalah proses berfikir tentang sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Maka dari itu filsafat sangat membantu guru dalam melatih bahasa verbal maupun pengetahuan imaginasi guru dalam merancang suatu proses pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  113. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan nomer 3 yaitu “Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?”
    Pembelajaran matematika yang menyenangkan yaitu jika siswa dapat memahami matematika dengan caranya masing-masing dan dapat mengkaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Guru memfasilitasi siswa saat proses pembelajaran dengan metode tertentu untuk membangun pola pikir dan kreatifitas siswa sehingga mudah dipahami serta tidak membingungkan siswa. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik maka belajar matematika menjadi menyenangkan

    ReplyDelete
  114. Siti Efiana
    S-1 P. Matematika I 2015
    15301241029

    3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Menurut saya, belajar matematika yang menyenangkan adalah belajar yang disesuaikan dengan karakteristik siswa sehingga nantinya pembelajaran yang dilakukan akan bermakna. Guru di sini berfungsi sebagai fasilitator agar siswa bisa mengkonstruk sendiri pengetahuannya. Selain itu, guru sebisa mungkin mengembangkan kegiatan belajar yang kreatif sehingga siswa tidak mudah bosan.
    .
    9. Sejauh mana kita dapat mengembangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
    Nilai-nilai spiritual dapat disisipkan dalam kegiatan pembelajaran dan materi matematika sehingga nilai-nilai ini sangat mungkin untuk dikembangkan dan diarahkan. Mengenai sejauh mana dapat dikembangkan, itu bergantung pada individu itu sendiri. Namun yang perlu diingat adalah kita juga harus menjadi contoh yang baik bagi siswa karena sebenarnya 1 contoh lebih baik dari seribu nasehat.

    ReplyDelete
  115. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pada awal disebutkan bahwa filsafat ilmu merupakan hal yang melatarbelakangi aspek pengembangan pendidikan matematika, dimana keduanya berkembang secara bersamaan yang bearti bahwa seharunya terdapat landasan filsafat untuk pembelajaran matematika berbasis proyek.

    ReplyDelete
  116. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Saya tertarik dengan pertanyaan nomor 22. “Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?”
    Jawab: menurut saya sebenarnya semua bersifat relatif, bahkan untuk suatu metode saja tidak ada yang terbaik untuk diterapkan dalam semua situasi dan kondisi pembelajaran. Untuk pertanyaan bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif, menurut saya keduanya mempunyai keunggulan serta kekurangannya masing-masing jika diterapkan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam suatu pembelajaran. Menurut saya ada tidaknya konsep pembelajaran matematika kontemporer, tergantung dari mana kita memandangnya. Seperti misalnya, menurut saya K 13 sudah merupakan salah satu realisasi dari konsep pembelajaran matematika kontemporer.

    ReplyDelete
  117. Alvi Khoirunnisak
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241012

    Terkait dengan pertanyaan seputar hubungan filsafat dan pembelajaran matematika, saya ingin mengetahui jawaban pertanyaan pertama, '1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?'
    Saya menggambarkan secara abstrak, tentu ini membutuhkan peran pembelajaran matematika. Agar dapat bersinergi dan saling melengkapi antara filsafat dan pembelajaran matematika sehingga nantinya tujuan pembelajaran matematika berbasis filsafat dapat tercapai dengan baik dan maksimal.

    ReplyDelete
  118. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Saya tertarik untuk menanggapi pertanyaan nomor 19, yaitu : Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
    Pertanyaan ini berkaitan dengan postingan Prof yang berjudul : Mengungkap Fenomena Belajar Mengajar Matematika melalui Filsafat.
    Secara filsafat, kegiatan pemecahan masalah (problem solving) dapat dipandang sebagai vitalitas atau ikhtiar. Ikhtiar adalah usaha manusia ntuk memperoleh suatu tujuan yang dikehendaki. Ketika siswa sedang berusaha memecahkan masalah matematika, siswa tersebut sama saja sedang berikhtiar, dengan tujuan agar bisa menyelesaikan permasalahan.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  119. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Perkenankan saya berpatisipasi dalam menanggapi pertanyaan nomor 20 yaitu “Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?” dengan sedikit ilmu yang saya miliki. Menurut saya konsep ikhlas dalam belajar matematika secara filsafati pasti ada. Hal ini dikarenakan seseorang yang ingin belajar maka dia harus ikhlas. Dengan keikhlasan dalam menerima pelajaran maka orang tersebut akan membuka pikirannya untuk menerima ilmu-ilmu baru. Dengan diimbangi dengan proses berpikir maka ilmu yang dipelajari akan sampai pada akal pikiran kita.

    ReplyDelete
  120. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya cukup tertarik untuk menanggapi pertanyaan nomor satu mengenai perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Menurut pandangan saya, karakter dan kemampuan berpikir setiap orang pasti berbeda satu dengan yang lainnya, bahkan orang yang kembar identik pun pasti memiliki karakter dan kemampuan berpikir yang berbeda. Disamping itu, setiap orang juga tentu memiliki tipe belajar dan menerima pembelajaran yang berbeda. Oleh karena itu, hal ini menjadi tugas bagi seorang guru agar dapat mengembangkan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kebutuhan setiap siswa.

    ReplyDelete
  121. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Menanggapi pertanyaan pada nomor 1 tentang bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa. Kita ketahui bahwa setiap karakter dari setiap individu itu berbeda-beda. Tidak ada individu yang memiliki karakter yang sama persis dengan individu lain. Tapi perbedaan ini bukanlah menjadi penghambat dalam proses pembelajaran matematika, kita ketahui bahwa salah satu sumber belajar bersumber dari kreatifitas dari seorang pendidik. Sehingga, dari karakteristik peserta didik yang berbeda-beda itu bisa memunculkan kreatifitas dalam memfasilitasi mereka dalam mengkonstruk pengetahuannya. Hal ini membuktikan bahwa, perbedaan karakteristik dari peserta didik bukanlah suatu penghalang tapi merupakan suatu kekayaan dimana pendidik bisa menggali kekayaan tersebut untuk menciptakan sumber belajar dan metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Hal ini bisa memiliki hubungan dengan pertanyaan nomor 3, bahwa pembelajaran matematika yang menyenangkan tersebut bukanlah pembelajaran yang membuat peserta didik selalu terlihat gembira dan lain sebagainya. Akan tetapi, pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran dimana pembelajaran tersebut sesuai dengan karakteristik dari peserta didik. Sehingga, dalam pelaksanaan pembelajaran peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dikarenakan sesuai dengan karakterisiknya.

    ReplyDelete
  122. Nur’aini Habibah Sa’diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
    Menurut saya, berdasarkan beberapa pembahasan dalam blog ini dikaitkan dengan batasan ruang dan waktu. Belajar matematika yang menyenangkan dapat dikaitkan dengan menembus ruang dan waktu. Dengan memenbus ruang dan waktu, maka telah mampu memahami matematika. Selain itu, jika sebagai guru sekaligus fasilitator dapatmengetahui atau memahami batasan ruang dan waktu pada diri peserta didik, maka bisa dimungkinkan guru mampu memberikan pengajaran yang membuat belajar matematika menjadi mudah dan menyenangkan.
    Selain itu saya mencoba menanggapi nomor 15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
    Seperti yang sudah ada pada beberapa postingan serta penjelasan oleh Pak Marsigit bahawa pikiran para siswa (anak kecil) belum dapat disebut filsafat. Mengapa demikian? Hal tersebut diakibatkan oleh sebagian dari pemikiran anak merupakan pemikiran berdasrakan intuisi pada pikiran mereka. Sedangkan intuisi barulah awal dari pemikiran sebagai filsafat.
    Mohon maaf apabila terdapat kekeliruan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  123. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Saya mencoba untuk menjawab pertanyaan nomor 2 "Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas". Menurut saya, filsafat memandang interaksi antara guru dan siswa di kelas itu bersifat dua arah yang mana siswa itu sendirilah yang lebih aktif dalam berinteraksi saat pembelajaran di kelas. Bahwa interaksi yang perlu ditekankan pada pembelajaran di kelas adalah interaksi antarsiswa itu sendiri (dalam kelompok), sedangkan interaksi guru dan siswa di kelas hanyalah berupa kegiatan monitoring.

    ReplyDelete
  124. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Kedua, saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 12, yaitu "Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?". Hakekat mengajar adalah mentransfer/memindah (ilmu/pengetahuan, keterampilan, nilai); hakekat mendidik adalah memfasilitasi (dalam artian memfasilitasi siswa untuk membangun pengetahuan, keterampilan, dan nilai); hakekat belajar adalah membangun (pengetahuan, keterampilan, nilai); hakekat metode adalah cara (cara untuk mencapai tujuan tertentu); hakekat RPP adalah panduan; hakekat LKS adalah alat (alat untuk memfasilitasi siswa belajar); dan hakekat menilai adalah mencatat (mencatat perkembangan atau kemajuan belajar siswa). Sekian.

    ReplyDelete
  125. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Ketiga, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan nomor 8, yaitu "Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?" Hakikat penugasan adalah pengikat (mengikat apa yang telah dipelajari oleh siswa). Bisa jadi pembelajaran yang terjadi di sekolah (atau di kelas) belum sepenuhnya memfasilitasi siswa untuk belajar. Untuk menyempurnakan atau memaksimalkan belajar siswa tersebutlah diperlukan yang namanya penugasan. Pun bentuk penugasan itu dapat berupa PR yang dapat digunakan sebagai bentuk fasilitas yang diberikan oleh guru untuk belajar di luar kegiatan pembelajaran di kelas dan untuk mengikat apa yang telah siswa pelajari di kelas. Akan tetapi, bahwa apabila pembelajaran di kelas sudah berlangsung secara maksimal, maka penugasan ini sudah tidak diperlukan lagi.

    ReplyDelete
  126. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Terakhir, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan nomor 3, yaitu "Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?" Bahwa filsafat memandang belajar matematika yang menyenangkan itu adalah belajar matematika yang benar-benar siswa membangun pengetahuannya sendiri. Jika kita kaitkan dengan belajar matematika sekolah, tentu belajar matematika yang menyenangkan adalah ketika belajar matematika itu berupa kegiatan mencari pola dan keterhubungan antar pola, memecahkan masalah, menyelidiki suatu fenomena matematika dalam lingkungan sekitar, dan berkomunikasi dengan guru atau siswa lain.

    ReplyDelete
  127. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Mengenai pertanyaan bagaimana pandangan filsafat perihat interaksi antara guru dengan siswa dikelas. Berdasarkan kurikulum 2013 yang saat ini digunakan didalam proses belajar mengajar dikelas, maka siswa harus lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran tidak hanya bergantung kepada guru. Sehingga menurut saya interaksi yang dilakukan guru dengan siswa tidak boleh jika guru terlalu mengintervensi siswa. Karena dengan hal tersebut dapat mengakibatkan kreativitas siswa menjadi terbatasi dan guru dilihat sebagai seseorang yang diktator didalam kelas.

    ReplyDelete
  128. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015


    Saya ingin berusaha menjawab pertanyaan nomor 14. Matematika apa yang cocok dan tidak cocok bagi anak kecil?
    Menurut saya, matematika yang cocok untum anak kecil ada matematika berupa kegiatan dengan benda-benda konkret. Kegiatan ini akan menjadi pengalaman dan pengetahuan dengan sendirinya. Belajar melalui pengalaman inilah pembelajaran yang cocok untuk anak kecil. Ia tanpa sadar akan memahami suatu konsep karena melakukan kegiatan Matematika. Sedangkan Matematika yang tidak cocok untuk anak kecil adalah matematika ideal atau matematika formal, matematika yang abstrak. Pemberian rumus-rumus tanpa ilustrasi yang jelas hanya akan membuat anak kecil menjadi bingung karena tingkatan kognitifnya belum bisa dalam tahap mengabstraksi.
    Selain itu, berkaitan dengan Matematika sebagai Ratu dan Pelayan Ilmu. Matematika untuk anak kecil, khususnya anak SD hanya belum mempelajari keduanya. Dimana matematika sebagai pelayan berati matematika melayani ilmu-Ilmu lain, atau dengan kata lain penerapan matematika. Sedangkan matematika sebagai ratu adalah matematika sebagai dasar untuk mengembangkan ilmu-ilmu lain seperti fisika yang mengembangkan ilmunya dengan kalkulus dsb. Matematika untuk anak kecil belum mengerti aplikasi matematika maupun perkembangan dari ilmu matematika ini. Ia hanya mempelajari matematika dasar, matematika yang konkret.

    ReplyDelete
  129. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan? Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran inovatif dan pembelajaran yang berpusat kepada siswaa, guru hanya sebagai fasilitator. Sehingga guru harus menyiapkan berbagai variasi metode, model, media, alat peraga,dll demi menunjang kemampuan berpikir siswa. Sehingga siswa mampu merkonstruksi sendiri pengetahuannya dengan aktivitas yang telah direncanakan oleh guru yang beragam adanya. Sehingga dengan senang mempelajari matematika dengan susuai dengan kemampuannya dan aktivitas yang variasi ragamnya.

    ReplyDelete
  130. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Mencoba menjawab pertanyaan “Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?”
    Rasa senang merupakan intuisi siswa. Untuk menimbulkan rasa senang dalam diri siswa guru perlu memberikan variasi-variasi metode, maupun media pembelajaran. Selain itu, guru sebagai fasilitator juga dapat memfasilitasi siswa sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda, sehingga tidak ada siswa yang merasa ketinggalan atau merasa bosan karena harus menunggu teman-temannya. Di samping itu, guru juga mempersilakan siswa untuk membangun pengetahuan atau konsep-konsep mereka sendiri.

    ReplyDelete
  131. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Seperti postingan-postingan sebelumnya. Brlajar matematika itu tidak selalu dari materi yang kita pelajari. Matematika itu ilmu konkrit, bisa kita dapatkan dari mana saja dan dimana saja. Semua butuh matematika, filsafat tentang matematika itu ada, filosofi bilangan nol, penjumlahan, perkalian dan sebagainya. Dengan belajar filsafat ilmu matematika kita jadi tau bahwa ilmu matematika tidak hanya seputar yang selama ini kita tahu saja.

    ReplyDelete