Nov 6, 2014

Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika 1

Ass wr wb



Pada hari ini Kamis, 6 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM A di R 306 B Pasca Lama pk 07.30 sd 09.10, saya akan memberi pengantar tentang Penerapan Filsafat Ilmu untuk Pendidikan Matematika. Kuliah di hadiri oleh 21 mahasiswa. Sementara saya menyilahkan para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


Baiklah untuk membahas tentang penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika, maka pertama-tama kita perlu mendudukan atau memosisikan Filsafat Ilmu dalam konteks yang mendahului atau melatarbelakangi atau yang mendasari segala bentuk atau aspek pengembangan Pendidikan Matematika.

Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi atau mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk Filsafat Ilmu berdasarkan pikiran para Filsuf yang merentang dalam sejarahnya.

Setelah itu kita berusaha untuk melakukan hal yang sama yaitu mengidentifikasi dan mereview karakteristik, cakupan, metode dan macam-macam bentuk implementasi dan pengembangan Pendidikan Matematika merentang dari tataran ideal, realis, rasional, empiris, sampai dengan socio-constructivis dan kontemporer, beserta segala seluk-beluk permasalahan yang muncul berdasarkan konteks budaya, filsafat, ideologi dan politik.

Ternyata aku telah menemukan dua dunia yang telah, sedang dan akan berkemistri yaitu dunia Filsafat Ilmu dan dunia Pendidikan Matematika.

Mengidentifikasi atau mereview kharakter, secara filsafati berari mencari tesis-tesis, dan anti-tesis, anti tesis serta membuat  sintesis-sintesis. Hal demikian telah kita lakukan sejak dari kegiatan perkuliahan pertama hingga sekarang.

Saya mempunyai keyakinan, bahwa para mahasiswa peserta kuliah ini sudah mempunyai pengetahuan dan pengalaman masing-masing sebagai prerequisite dalam menjawab persoalan yang saya kemukakan pada hari ini yaitu bagaimana penerapan Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Matematika.

Untuk itu berikut ini saya akan memberi kesempatan brainstorming kepada para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya, sebagai berikut:

1. Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
2. Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
3. Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?
4. Apakah pembelajaran matematika berbasis proyek mempunyai landasan filsafat?
5. Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?
6. Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
7. Apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat?
8. Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat?
9. Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?
10. Bagaimana filsafat memandang bahwa dalam pembelajaran yang diselenggarakan oleh seorang guru, maka guru yang bersangkutan pun perlu berlaku santun? Santun terhadap apa dan siapa dan bagaimana mewujudkannya?
11. Secara filsafat, apakah yang dimaksud dengan kompetensi itu? Secara khusus apakah yang dimaksud dengan Kompetensi Siswa? Kompetensi Guru dan Kompetensi Matematika?
12. Apakah hakekat Mengajar, Mendidik, Belajar, Metode, RPP, LKS, Menilai, dst?
13. Secara filsafat, apakah sebenarnya konsep Pendidikan itu? Apakah perbedaan Pendidikan sebagai Investasi dan Sebagai Kebutuhan, serta bagaimana implikasinya terhadap Kurikulum?
14. Secara filsafat, Matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara labih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah dapat sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?
15. Apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat? Jika belum bagaimana penjelasannya?
16. Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
17. Bagaimana atau sejauh mana aliran-aliran filsafat, seperti Idealisme, Realisme, Rasionalisme dan Empirisime, menampakan diri dalam implementasi kegiatan praktis, seperti halnya pada pembelajaran matematika?
18. Bagaimana kedudukan Persepsi, Apersepsi, Imajinasi, dan Intuisi dalam Filsafat; serta bagaimana implikasinya dalam pendidikan/pembelajaran matematika?
19. Apakah yang dimaksud sebagai Pemecahan Masalah (Problem Solving) secara filsafati?
20. Apakah secara filsafati ada konsep keikhlasan dalam belajar matematika? Jika ada, mohon penjelasannya?
21. Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst?
22. Bagaimana filsafat memandang adanya praktik pembelajaran matematika yang masih tradisional dan yang sudah inovatif? Apakah ada konsep pembelajaran matematika kontemporer?
23. Apakah perbedaan filsafat dan ideologi pendidikan?; dan bagaimana implikasinya terhadap pembelajaran matematika? Secara lebih khusus apakah yang dimaksud dengan pembelajaran matematika yang bersifat Progresif dan Konservatif?

Baiklah saudara semua. Saya sangat mengapresiasi partisipasi dari anda untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaannya. Saya minta maaf karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak dapat menyebutkan setiap nama dari penanya.

Agar diperoleh pengetahuan yang bersifat cair, demokratis, natural, dan menanmpung semua aspirasi, maka saya menyilahkan pembaca yang budiman untuk menanggapi atau menjawab satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sebagai dosen pengampu akan memberikan/menguraikan jawaban-jawaban saya dalam perkuliahan di kelas dan ada kemungkinan akan saya posting juga.

Kuliah ini sengaja saya share agar dapat memberi manfaat yang lebih luas.

Demikianlah saya menunggu partisipasi anda semua. Semoga bermanfaat. Amin

Dosen ybs

Marsigit






44 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perbedaan itu bukanlah suatu penghalang, namun ujian untuk memperkuat mental siswa. Filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa adalah dengan mengembangkan potensi masing – masing siswa sesuai dengan karakternya masing – masing sehingga kemampuan mereka bisa berkembang.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat memandang tentang belajar matematika yang menyenangkan adalah sudut pandang yang digunakan untuk menilai sesuatu hal sesuai dengan apa yang sering kita pikirkan. Apa yang ada di pikiran kita adalah isi dunia ini. Dengan stimulus diri sendiri melalui pikiran maka matematika bisa dibuat menjadi sesuatu yang menyenangkan seperti bermain.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sejatinya , fIlsafat tentang konsep-konsep matematika adalah bahwa kebenaran belum tentu bernilai benar. Karena walaupun ada setiap hal di dunia ini masih ada kemungkinan untuk tetap ada. Sehingga matematika yang sejatinya merupakan ilmu pasti merupakan sesuatu yang ada di dunia ini. Kebenaran yang absolut hanya milik Tuhan.

    ReplyDelete
  4. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, sikap matematika secara filsafat adalah bagaimana matematika di pandang menjadi peranan utama suatu hal di dunia ini secara filsafat atau menggunakan sudut pandang filsafat. Peranan matematika tidak bisa disepelekan, karena matematika masuk dalam hamper setiap elemen kehidupan.

    ReplyDelete
  5. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Filsafat dapat memandang segala hal dalam konteks dirinya, seperti halnya dalam memandang matematika. Dalam postingan ini saja terdapat 23 pertanyaan yang teridentifikasi untuk mencari tesis dan anti tesis serta membuat sintesis-sintesisnya dalam dunia matematika.

    ReplyDelete
  6. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Filsafat dapat memandang segala hal dalam konteks dirinya, seperti halnya dalam memandang matematika. Dalam postingan ini saja terdapat 23 pertanyaan yang teridentifikasi untuk mencari tesis dan anti tesis serta membuat sintesis-sintesisnya dalam dunia matematika.

    ReplyDelete
  7. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana filsafat memandang interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Interaksi antara guru dan siswa di kelas hendaknya tidak sebatas transfer of knowledge, jika hanya sebatas itu maka guru akan menjadi sumber pengetahuan yang memberikan ilmu dan siswa secara pasif menerima. Interaksi yang baik adalah dengan adanya kolaborasi antara guru dan siswa. Yaitu saling paham dan memahami.

    ReplyDelete
  8. Nama: Ilma Rizki Nur Afifah
    NIM: 17709251020
    Kelas: S2 Pendidikan Matematika A

    Setelah membaca beberapa pertanyaan di atas, saya tertarik untuk menjawab pertanyaan berikut: Bagaimana menerapkan pendekatan Hermenitika dalam pembelajaran matematika?
    Hermenetika adalah menerjemahkan dan diterjemahkan. Hidup adalah hermenetika antar makhluk. Dalam pembelajaran matematika, antara guru dan siswa saling menerjemahkan, antara buku dan siswa juga saling menerjemahkan, antara materi yang diajarkan dengan guru dan siswa juga saling menerjemahkan. Jika tidak terjadi hermenetika, maka siswa jua tidak akan bisa memahami apa yang dijelaskan oleh guru. Bahkan guru juga akan kesulitan untuk menyampaikan materi matematika. Selain itu, pembelajaran matematika juga sebaiknya mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari, artinya siswa juga diajarkan untuk bisa mengaitkan antara matematika dan lingkungan sekitar karena pada hakikatnya semua yang ada di dunia ini saling menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  9. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no.5 yaitu bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dan sebagainya? Menurut saya semua itu adalah kesepakatan yang dibuat manusia dalam merepresentasikan ilmu matematikanya ke dalam dunia nyata. Geometri misalnya, hanya ada di dalam pikiran kita. Kalaupun ada yang mengaku-ngaku atau menunjuk suatu benda atau gambar sebagai bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri maka itu adalah salah. Contohnya adalah lingkaran, tidak ada di dunia ini yang merupakan lingkaran. Gambar yang dibuat manusia itu bukanlah lingkaran yang sesungghnya. Karena tidak bulat sempurna, masih memiliki ketebalan walau tipis sekali, dan banyak kecacatan yang lainnya. Lingkaran sesungguhnya hanya ada di dalam pikiran manusia. Yang kita lihat dan buat selama ini hanyalah model lingkaran dan pengandaian bahwa model lingkaran itu adalah lingkaran sempurna. Begitu pun dengan bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri yang lainnya.
    Selanjutnya saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no.7 yaitu apakah hakekat komunikasi dan komunikasi matematika secara filsafat? Komunikasi adalah bentuk dari upaya manusia menyampaikan atau menuangkan apa yang ada di dalam pikirannya saat ia berpikir. Dalam berkomunikasi, kita memiliki dua tujuan yaitu untuk bertanya jawab atau sekedar menyampaikan pendapat. Dalam matematika, obyek yang dipelajari sebagian besar atau bahkan seluruhnya merupakan obyek tak nyata. Dengan kata lain hanya ada di dalam pikiran manusia saja. Tentu untuk saling membagi penalaman berpikir matematika diperlukan komunikasi matematika antar manusia. Selain dengan kata-kata, komunikasi matematika juga dilakukan melalui perantara simbol, angka, rumus, gambar, model bangun, dan sebagainya.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  10. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Disini saya mencoba untuk menjabarkan pemahaman saya terkait Penerapan Filsafat Ilmu pada Pendidikan Matematika. Ernst Von Glasersfeld menyatakan bahwa ada sebuah pernyataan lama bahwa matematika berkaitan dengan simbol dan manipulasi simbol. (Ernest, 1996). Descartes mengatakan dalam “Direction of the Mind” bahwa matematika adalah ilmu keteraturan dan ukuran dan mencakup, selain aljabar dan geometri, astronomi, musik, optik, dan mekanik.(Kline, 1971). Paul Ernest menyatakan bahwa ideologi pendidik progresif dalam pendidikan matematika sebagian besar merupakan masalah dalam seratus tahun terakhir. Setidaknya ada tiga alur berbeda yang saling terkait dari tradisi ini yaitu:
    a. Penyediaan lingkungan dan pengalaman terstruktur dengan tepat untuk pembelajaran matematika;
    b. Pendampingan terhadap anak dalam penyelidikan aktif dan otonom dalam matematika;.
    c. Perhatian terhadap perasaan, motivasi, sikap, dan perilakunya dari aspek negatif.(Ernest, 2004).
    Sehingga pada Pendidikan matematika kita harus memberikan fasilitas peserta didik untuk belajar sendiri dan kita harus membimbing dan mendampingi dalam hal tersebut dalam mempelajari matematika yang merupakan bahasa simbol baik dalam aritmatika, aljabar, geometri dan yang lainnya sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah yang diberikan/ditemui dalam pembelajaran matematika.

    Terimaksih banyak Pak.

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Bismillah. Saya akan mencoba menanggapi pertanyan poin ke 5 yang berbunyi "Bagaimana filsafat memandang adanya konsep-konsep matematika seperti bilangan, geometri, dst?". Bilangan dan geometri adalah suatu yang tetap dan juga tidak tetap. Bilangan dan geometri adalah hal yang ada dan mungkin tidak ada. Bilangan ialah suatu yang tetap karena bilangan hanya mempunyai satu arti yakni suatu sebutan untuk menyatakan jumlah atau banyaknya sesuatu. Tetapi di sisi lain, bilangan ialah suatu hal yang tidak tetap. Contohnya bilangan menunjukan banyaknya sesuatu, tetapi ketika di kehidupan sehari-hari bilangan-bilangan tersebut berubah fungsinya seperti menjadi nama merk suatu produk atau hanya sebagai lambang saja yang tidak memiliki arti. Begitu juga dengan geometri, geometri terbatas dan tetap dalam pelajaran matematika, tetapi tidak jika dibawa di kehidupan sehari-hari. Di matematika kita hanya memandang geometri sebatas sisi, sudut, rusuk, titik sudut, dan diagonal. Tetapi di kehidupan sehari-hari geometri mempunyai sifat-sifatnya yang tidak terbatas dan berubah-ubah. Contohnya, ketika melihat benda yang berbentuk tabung, banyak aspek yang kita lihat seperti bahannya, warnanya, fungsinya, dan lain-lainnya. Itulah yang dapat saya tuliskan. Apabila ada kesalahan saya mohon maaf. Terimakasih Prof atas postingannya.

    ReplyDelete
  12. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Saya akan mencoba menanggapi poin ke-1 mengenai konsep pemecahan masalah (problem solving) dalam filsafat. Sejak lama, konsep pemecahan masalah ada hal yang tidak terpisahkan dari filsafat. Banyak filsafat yang juga matematikawan yang telah menggunakan konsep problem solving dalam penemuannya. Salah satunya adalah Descartes yang pada tahun 1628 mempublikasikan karyanya, 'Rules for the direction of the mind’. Dalam karyanya tersebut, terdapat penyederhanaan pertanyaan, generalisasi induktif, penggunaan diagram untuk penalaran, simbolisasi hubungan, representasi hubungan dengan persamaan aljabar dan penyederhanaan persamaan. Temuan ini kemudian banyak dijadikan alat bantu untuk mengajarkan materi problem solving dalam matematika. (Ernest, 2017)

    ReplyDelete
  13. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B

    Terimakasih pak atas postingannya.
    Menanggapi pertanyaan nomor 3 , menurut pendapat saya pembelajaran matematika yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bersifat bebas. Bebas dalam mempelajari dengan cara siswa sendiri tanpa kungkungan dikte dari sang guru. Sehingga siswa bebas mengekspresikan matematikanya, siswa akan merasakan pembelajaran matematika semakin menyenangkan.Tugas seorang guru di sini memfasilitasi siswa untuk membangun dan menemukan matematikanya. Jangan menghalangi jalan mereka dengan dikte-dikte yang malah akan menghalangi kreatifitas mereka. Biarkan mereka menjalani dunianya untuk menemukan matematika tersebut, namun tetap diawasi. Atau buatlah pembelajaran matematika semenarik mungkin, tidak membosankan. Agar siswa menyenangi dan akhirnya termotivasi untuk belajar matematika.

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Filsafat menjadi landasan seluruh aspek pendidikan matematika. Dari zaman Yunani hingga zaman sekarang muncul berbagai aliran filsafat. Seperti aliran idealisme, realisme, rasionalisme, empirisme, konstruktivisme, dan lain sebagainya. Menanggapi pertanyaan nomor 17 tentang aliran-aliran idealisme, realisme, rasionalisme, empirisme menempatkan diri dalam implementasi pendidikan matematika, aliran-aliran tersebut memberikan pengaruh terhadap pelaksanaan, pondamen dan juga seluruh aspek di dalam pendidikan matematika. Misalnya jika menganut aliran konstruktivisme, maka dalam pendidikan matematika semestinya pengetahuan matematika bukan ditransfer tetapi dibentuk secara mental maupun fisik. Pembentukan pengetahuan tersebut diperoleh dari persepsi siswa terhadap objek eksternal. Maka pembelajaran dilakukan melalui interaksi siswa dengan lingkungan, guru, dan juga dengan temannya.

    ReplyDelete
  15. Junianto
    PM C
    17709251065

    Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas?
    Saya mencoba memberikan pandangan terhadap pertanyaan tersebut. Interaksi guru dan siswa di kelas tidak lain adalah saling menterjemahkan dan silaturakhim. Suasana belajar bersama harus diterapkan sehingga siswa bukan sebagai objek belajar tetapi subjek belajar. Guru juga berperan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di kelas. Dalam kacamata filsafat, siswa yang menjawab soal tidak benar atau belum paham terhadap materi bukan menunjukkan siswa bodoh, tetapi peran guru disini sangat dibutuhkan. Guru juga tidak boleh menghakimi siswa karena mereka punya kelebihan masing-masing.

    ReplyDelete
  16. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, pada kesempatan ini saya ingin mengemukakan pendapat saya terkait pertanyaan no 14 yaitu secara filsafat, matematika yang seperti apa yang cocok dan yang tidak cocok untuk anak kecil? Apakah ada matematika yang hanya untuk orang dewasa? Secara lebih khusus, apakah sebenarnya yang disebut matematika sebagai Ratu atau matematika sebagai Pelayan? Apakah untuk seorang anak kecil dalam belajar matematika sudah sampai ke wacana menjadi Ratu atau Pelayan?.
    Matematika yang cocok untuk anak kecil adalah matematika yang disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitifnya sebab dimensi berpikir anak kecil berbeda tingkat dengan orang dewasa, anak-anak lebih cepat belajar melalui hal-hal yang konkret, matematika yang tidak cocok untuk anak kecil yaitu misalnya matematika analisis. Ada atau tidaknya matematika yang hanya untuk orang dewasa? Lalu secara tidak langsung maksudnya ada matematika yang dikhususkan hanya pada orang dewasa dan anak kecil tidak? Menurut saya tidak atau lebih tepatnya belum, dimensi berpikir orang dewasa itu sendiri sudah berbeda tingkatnya tentu matematika yang dipelajari adalah pendalaman dan perluasan materi yang dulu dasarnya dipelajari ketika masih anak-anak.
    Maksud dari matematika sebagai Ratu yaitu bahwa matematika adalah sebagai sumber ilmu dari ilmu lain, dengan kata lain, banyak ilmu-ilmu yang penemuan dan pengembangannya bergantung dari matematika. Sedangkan matematika sebagai Pelayan yaitu bahwa matematika melayani kebutuhan ilmu pengetahuan dalam perkembangan operasionalnya. Jika ditanya apakah anak kecil belajar matematika sudah sampai ke wacana menjadi ratu atau pelayan, jawabanya adalah belum. Sebab ini baru akan dipelajari di perguruan tinggi pada salah satu matakuliah tentang hakikat matematika.

    ReplyDelete
  17. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menurut Immanuel Kant, matematika adalah pengetahuan sintetik a proiri dimana eksistensi matematika tergantung kepada dunia pengalaman kita. Ilmu filsafat juga merupakan cerminan dari pemikiran yang ada pada diri kita. Maka sesungguhnya dalam mempelajari matematika dan berfilsafat dapat berjalan berdampingan. Pertanyaan yang diajukan mahasiswa pada artikel ini terbentuk dari berbagai aspek yang menjadi perhatian setiap mahasiswa yang berbeda-beda. Salah satu pertanyaannya adalah, Apakah hakikat penugasan kepada siswa itu? Termasuk di dalamnya apakah hakikat sebuah PR ditinjau secara filsafat? Penugasan memiliki tujuan reinforcement yaitu penguatan terhadap materi yang sudah diterima di dalam kelas. Namun pemberian PR cenderung menjadi momok tersendiri bagi siswa. Menurut saya, hakikat penugasan adalah diperlukannya penguatan agar materi yang telah didapatkan di kelas diperkuat dengan adanya latihan. Selanjutnya apakah esensi dari tugas/PR itu sendiri sudah memenuhi syarat, tergantung pada pengajar/pemberi tugas.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beebrapa mahasiswa yang ada, saya akan mencoba memberikan tanggapan dari soal nomor 15. Saya beranggapan bahwa dalam diri manusia dari kecil hingga besar itu sudah terdapat filsafat, entah itu dari yang paling muda hingga yang paling tua mereka sudah bisa berfilsafat. Namun, tingkatannya berbeda antara yang muda dan dewasa, antara yang mempelajari filsafat dan tidak. Karena, filsafat seseorang akan semakin mendalam jika mempelajari filsafat dan apabila sudah mengalaminya akan semakin tinggi filsafat seseorang. Saya memberikan jawaban tersebut berdasarkan pada pemahaman I Kant bahwa pengetahuan itu bersifat apriori dimana pengetahuan itu sudah berada pada diri manusia. Oleh karena itu seluruh pengetahuan yang ada di dunia ini sesungguhnya sudah berada pada diri manusia termasuk filsafat.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  19. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Pada pertanyaan-pertanyaan di atas saya akan mencoba memberi tanggapan pada kasus soal no 15 yaitu hakekat mengajar, mendidik, belajar, metode, RPP, LKS, dan Menilai. Mengajar dan mendidik merupakan 2 hal yang cukup berbeda karena orang yang bisa mengajar belum tantu bisa mendidik. Tapi orang yang mendidik sudah pasti bisa mengajar. Mengajar merupakan suatu usaha untuk membentuk lingkungan dimana terjadinya interaksi antara peserta didik dan materi pembelajaran sehingga menyebabkan terjadinya proses belajar mengajar. Sedangkan Mendidik merupakan suatu usaha untuk merubah tabiat atau prilaku peserta didik dari hal-hal atau prilaku yang kurang baik ke arah yang dapat menimbulkan manfaat baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya. Dalam proses belajar mengajar guru di tuntut untuk dapat menggunakan berbagai macam metode agar dapat mengeksplor segala kreatifitas yang ada pada diri peserta didik, namun untuk mewujudkan hal tersebut guru harus mempersiapkan secara optimal segala perangkat pembelajaran baik RPP, LKS maupun tes hasil belajar yang dapat digunakan sebagai penilaian sehingga guru bisa mengukur sejauh mana keberhasilan dalam mengajar.

    ReplyDelete
  20. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Melihat dan membaca berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh para mahasiswa ,bahwa sejatinya filsafat memiliki peran penting di dalam matematika.Gambaran pertanyaan akan membuat kami merasa penasaran dan termotivasi untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.Saya ingin menanggapi salah satu diantara banyaknya pertanyaan dari buku yang pernah saya baca,pertanyaan mengenai aliran filsafat seperti idealisme, rasionalisme, dan empirisisme.Sebelumnya saya ingin menjelaskan mengenai beberapa item filsafat tersebut.Yang pertama, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan spirit (roh).Istilah ini diambil dari “idea”, yaitu ssesuatu yang hadir dalam jiwa.Ideliasme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme.Yang kedua, rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.Rasionalisme berpendapat bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuaan datang dari penemuan akal.Contoh pemahaman yang jelas ialah pemahaman kita tentang logika dan matematika.Penemuan-penemuan logika dan mateamatika begitu pasti, kita tidak melihatnya sebagai benar, tetapi lebih dari itu kita melihatnya sebagai keebenaran yang tidak mungkin salah, kebenaran universal.Yang ketiga, emprisisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serata pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.Emprisisme adalah lawan rasionalisme.Teori aliran empirisisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep.Jika dikaitkan dengan matematika, berbagai aliran filsafat tersebut memiliki hubungan yang erat.Idelisame terkait dengan jiwa dan roh,rasionalime terkait dengan akal,dan empirisisme terkait dengan pengalaman yang melahirkan ide dan konsep.Kesemuanya itu ada dalam matematika.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari beberapa pertanyaan yang terdapat pada artikel diatas, saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut “Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?” Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik dan memilki karakter masing dalam belajar. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  22. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Saya tertarik untuk menanggapi pertanyaan tentang apakah pikiran para siswa (anak kecil) sudah dapat disebut sebagai berfilsafat. Saya jadi teringat buku novel Dunia Sophie, dalam novel tersebut secara menarik dikemas dengan menggunakan kata-kata yang sederhana, mendalam dan memposisikan anak sebagai tokoh utama. Dalam buku tersebut digambarkan seorang anak berumur 14 tahun yang bernama Sophie dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar melalui surat seperti; siapa saya?, dari mana saya berasal? Sejak muncul pertanyaan-pertanyaan tersebut Sophie mulai tertantang untuk menjawab secara rasional. Hingga ia mencoba untuk memahami sejarah filsafat sejak awal perkembangannya di Yunani hingga abad ke dua puluh. Yang menarik bagi saya bukan sekedar isi bukunya yang menarik, melainkan buku tersebut menjadi menarik dibaca oleh salah satu adik dari kawan saya yang masih SD kelas 6. Mulai saat itu saya asumsikan bahwa anak-anak memiliki dorongan dan ketertarikan untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidupnya melalui olah pikir dan berfilsafat.

    ReplyDelete
  23. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Saya tertarik untuk mengunggkapkan pendapat saya tentang bagaimana memandang perbedaan kemampuan berfikir siswa. Menurut hemat saya perbedaan cara berfikir bukanlah merupakan hal yang tidak baik, karena hal tersebut sangat wajar. Mengingat manusia diciptakan Tuhan dengan penuh perbedaan, bahkan kembar identikpun punya perbedaan apalagi jika ditinjau dalam konteks filsafat. Jadi perbedaan berfikir siswa boleh-boleh saja, asalkan siswa mampu menjelaskan apa yang dipikirkan. karena dalam jawaban tidak ada salah benar, asalkan kita mampu menjelaskan jawaban kita.

    Demikian, terimakasih.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  24. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih prof. Marsigit atas artikel kali ini. Setelah tiga kali bertatap muka dengan bapak dalam perkuliahan filsafat ilmu pendidikan, saya telah berhipotesis bahwa filsafat ilmu itu menjadi dasar dan landasan dalam segala hal, segala bidang, segala kejadian, segala potensi, segala gejala yang ada dan yang mungkin ada, tergantung pada eksistensinya dalam ruang dan waktunya masing-masing. Sehingga, filsafat ilmu menjadi dasar ilmu yang melatarbelakangi dan sudah seharusnya diterapkan pada bidang akademik, seperti matematika. Namun, sebagai mahasiswa pemula yang baru terjun ke dunia filsafat, saya belum tahu persis bagaimana kontribusi dan implementasi filsafat terhadap pendidikan matematika. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan di atas, ada 4 pertanyaan yang persis seperti yang rasakan dan sudah saya tulis di dalam buku catatan saya yang tentu saya ingin tanyakan ke bapak jikalau ada kesempatan.
    1.Apakah pikiran anak kecil sudah dapat dikatakan sebagai berfilsafat? Bagaimana cara menjelaskan ke mereka agar mereka memahaminya dengan benar dan tepat?
    2.Apa yang dimaksud sikap matematika secara filsafat?
    3.Sejauh mana nilai-nilai spiritual berpengaruh terhadap pembelajaran matematika?
    4.Bagaimana filsafat di implementasikan dalam pembelajaran matematika?
    Semoga bapak bisa menjelaskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, melalui elegi yang biasa bapak gunakan agar kami dapat meleburkan pikiran kami untuk masuk ke ranah filsafat yang sesungguhnya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Menanggapi pertanyaan nomor 3 , menurut pendapat saya. pembelajaran matematika yang menyenangkan adalah pembelajaran yang bersifat bebas. bebas dalam mempelajari dengan cara siswa sendiri tanpa kungkungan dikte dari sang guru , bebas membangun matematikanya sendiri, bebas mengekspresikan matematikanya sendiri. itulah hal-hal yang akan membuat pembelajaran matematika semakin menyenangkan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sebagai guru, tugas kita adalah memfasilitasi siswa untuk membangun dan menemukan matematikanya. berikan fasilitas-fasilitas yang akan membimbing mereka untuk menemukan matematikanya sendiri. jangan menghalangi jalan mereka dengan dikte-dikte yang malah akan menghalangi kreatifitas mereka. biarkan mereka berpetualang sendiri di dunianya untuk menemukan matematika tersebut, namun tetap ikuti dan amati mereka , pastikan terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  27. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Saya ingin mencoba turut berpendapat pada pertanyaan berikut.
    Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?
    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  28. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang pertanyaan “Sejauh mana kita dapat mengambangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika?”
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 9. Dalam kehidupan ini sebagai seorang makhluk yang hidup berdampingan hendaknya selalu menempatkan spiritual sebagai pegangan hidup. Landasan spiritual digunakan sebagai acuan untuk bertindak. Termasuk dalam belajar, ketika kita berpikir dan belajar jangan sampai melupakan landasan spiritual, termasuk juga belajar matematika. Apabila kita peka, banyak hal yang dapat dimaknai dari konsep matematika untuk memperkokoh spiritual. Misalnya : pusat pada koordinat adalah tunggal dapat dihubungkan dengan nilai spiritual bahwa pusat dari segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini adalah tunggal yaitu Kuasa Tuhan.
    Jadi untuk dapat memaknai belajar matematika guna mengembangkan nilai-nilai spiritual adalah dengan berusaha belajar dan belajar agar memiliki pikiran yang luas serta tak lupa selalu mengharapkan ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih atas postingannya prof, saya ingin menanggapi pertanyaan nomor 9 yakni “sejauh mana kita dapat mengembangkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran matematika”. Menoleh kembali ke pengalaman saya saat mengajar di salah satu sekolah islam di makassar, dalam membuat perangkat pembelajaran guru dituntut agar membuat integrasi imtaq dalam setiap materi pembelajaran matematika, dan memang saat membuat perangkat tersebut saya sadari bahwa memang semua materi pembelajaran khususnya matematika mempunyai keterkaitan dengan nilai-nilai spiritual. Jadi dalam pembelajaran matematika di kelas saya menghubungkan dengan nilai-nilai spiritual yang ada.

    ReplyDelete
  30. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas kesempatannya dalam memberikan tanggapan dari pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan pada mata kuliah yang bapak ampu. Saya akan menanggapi pertanyaan "Bagaimana pandangan filsafat tentang belajar matematika yang menyenangkan?". Filsafat itu terdiri dari banyak paham-paham baik yang bersifat absolute, kontruktiv, empiris, intuitif dan lain sebagainya. Belajar matematika yang menyenangkan itu dapat dimulai dengan melihat siapa yang akan mempelajarai matematika, anak kecil atau orang dewasa. Paham kontruktiv dan empiris mungkin menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk anak kecil. Paham intuitiv mungkin bisa menjadi salah satu solusi untuk anak kecil. Sehingga menurut saya untuk membuat belajar matematika itu menyenangkan harus dengan ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  31. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan “filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa”. Setiap siswa memiliki pengalaman, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda-beda. Walaupun mungkin secara fisik siswa satu dengan siswa yang lain memiliki bentuk tubuh yang sama, jelas apa yang dimiliki secara metafisik itu berbeda. Seperti halnya seorang pendidik yang berusaha mencari metode pembelajaran yang baik dan sesuai untuk diterapkan di kelas. Bukan hanya sesuai dengan materinya, tetapi juga harus diimbangi dengan kebutuhan yang dibutuhkan siswa. karakter dan kemampuan berpikir juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang juga berperan dalam memberikan pengelaman bagi siswa tersebut.

    ReplyDelete
  32. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Dari 23 pertanyaan diatas saya mencoba berkomentar mengenai pertanyaan "Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?", sebagaimana ungkapkan sering disampaikan oleh Prof. Marsigit dalam perkuliahan bahwa "filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangun filsafatmu sendiri" ini berarti bahwa karakter berpikir masing-masing orang berbeda-beda dan cara mereka membangun pola pikir mereka pun berbeda. Untuk itu perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa secara filsafat adalah hal yang wajar dan normal. Sehingga perlu diterapkan metode pembelajaran yang inovatif agar mampu memenuhi kebutuhan dari berbagai karakter dan kemampuan berpikir siswa yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  33. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    terimakasih banyak prof atas ilmu yang diberikan pada postingan diatas.
    disini saya akan mencoba untuk menjawaba petanyaan no satu yang berbunyi Bagaimana filsafat memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa?. didalam filsafat sendiri filsafat itu ialah diri kita sendiri, perbedaan karakter dan kemampuan berfikir siswa bukanlah hal rumit, karena memang didalam setiap diri manusia terdapat kerakter yang berbeda-beda. biarlah sang murid mencari tau jawaban dengan cara mereka masing-masing kita sebagai fasilitator pendidikan hanya menuntun mereka ke arah yang tidak menyimpang dari pembelajaran itu sendiri.

    ReplyDelete
  34. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Terimakasih atas kesempatan yang diberikan Bapak, saya akan mencoba menuliskan pendapat saya tentang bagaimana penerapan pendekatan hermenetika dalam pembelajaran matematika. Seperti yang telah saya pelajari sebelumnya bahwa hementika digambarkan dalam dua garis yaitu berupa satu garis lurus dan satu garis spiral. Garis spiral ini menggambarkan bahwa pengetahuan matematika bersifat spiral yaitu memeiliki hubungan antara satu dengan yang lain, juga dapat diartikan bahwa saat mempelajari suatu konsep A maka konsep A ini akan digunakan lagi saat mempelajari konsep B, sehingga dapat dikatakan akan terjadi pengulangan. Kemudian garis lurus akan menggambarkan bahwa belajar matematika itu berkelanjutan sehingga jika sudah mempelajari dasar tidak akan kembali dari titik awal namun terus berkelanjutan sesuai aliran waktu.

    ReplyDelete
  35. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Hakikat penugasan adalah tanggung jawab. Dari melaksanakan tugas atau tidak maka akan tercermin sikap tanggung jawab dalam diri siswa. Selain itu penugasan juga berfungsi untuk mengasah lagi ilmu yang sudah dapat di sekolah. Karena belajar di sekolah saja akan kurang maksimal apabila siswa tidak diberikan tugas lain sebagai pembelajaran di rumah.

    ReplyDelete
  36. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Apersepsi dalam pembelajaran matematika berfungsi untuk mengaitkan materi baru dengan apa yang sudah diketahui sebelumnya. Dari sini guru akan mengatahui sampai manakah basic yang sudah dimiliki siswa, sehingga memudahkan guru untuk membelajarkan suatu materi baru. Apalagi matematika materinya bersifat berkesinambungan antara suatu materi dengan materi lain.

    ReplyDelete
  37. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  38. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan berkaitan dengan bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas. Proses pembelajaran yang terjadi di kelas merupakan suatu interaksi antara siswa dan guru yang saling menerjemahkan. Guru menerjemahkan perilaku siswa, sedangkan siswa menerjemahkan apa yang disampaikan guru. Kegiatan saling menerjemahkan ini harus berjalan dengan baik karena jika terjadi kegagalan maka proses pembelajaran akan terhambat. Guru menjadi tidak paham apa yang dialami siswa, demikian juga siswa tidak paham apa yang disampaikan guru. Guru sebagai fasilitator sudah seharusnya memahami psikologi siswa dalam belajar agar guru mampu menerjemahkan perilaku siswa.

    ReplyDelete
  39. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Menurut saya sudah menjadi Sunatullah bahwa setiap manusia, tak luput pula siswa, terlahir secara unik. Semua bersifat heterogen. Maka dalam memperlakukan siswa dalam setiap pembelajaran juga harus menerapkan sifat-sifat heterogen. Dengan demikian, siswa dapat memperoleh tujuan belajarnya sesuai dengan potensi masing-masing

    ReplyDelete
  40. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor dua, Bagaimana pandangan filsafat perihal interaksi antara guru dan siswa di kelas? Interaksi antara guru dan siswa di kelas sesuai dengan teori hemenitika yaitu diterjemahkan dan menerjemahkan. Ketika guru dapat memahami siswa (keadaannya) maka interaksi antara guru dan siswa akan berjalan dengan baik. Ini akan membuat guru memahami siswa dan siswa paham akan yang disampaikan guru. Interaksi yang terjalin dengan baik akan membuat kenyamanan dan proses belajar mengajar di kelas akan berjalan dengan baik serta tujuan pembelajaran akan tercapai.

    ReplyDelete
  41. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Mencoba menjawap pertanyaan no tiga mengenai cara belajar matematika yang menyenangkan menurut filsafat. Menurut Imanuel kant, sebenar-benar ilmu adalah pengalaman yang dipikirkan atau pikiran yang dilaksanakan. Menurut saya dengan belajar matematika secara kontekstual, yaitu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, bahkan juga bisa di praktekkan maka belajar matematika akan menjadi menyenangkan. Siswa bisa belajar dari kehidupan nyata atau dari pengalamannya di luar kelas, kemudian di eksplor di kelas untuk di diskusikan bersama.

    ReplyDelete
  42. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    saya akan coba menjawab pertanyaan nomor 1, bagaimana filsafat memandang perbedaan karakteristik dan kemampuan berpikir siswa?
    Jika seorang guru mampu berfilsafat dengan memandang perbedaan karakter dan kemampuan siswa dalam bidang matematika, maka akan memudahkan guru dalam mengimplementasikan kegiatan dan tujuan pembelajaran. Karakter siswa adalah apa dan bagaimana yang menjadi ciri khas siswa dalam belajar matematika, sedangkan kemampuan berpikir adalah daya pikir siswa dalam memperoleh konsep dalam belajar matematika. Menurut saya yang ilmu filsafatnya sangat dangkal, setiap siswa memiliki bawaan atau ciri khasnya tersendiri yang ada sejak lahir atau sejak kecil, ada yang bisa diubah atau dingkatkan dan ada pula yang tidak. Kemampuan berpikir antar siswa pasti berbeda, tapi sebagai guru kita harus mampu meningkatkan kemampuan berpikir tersebut dengan karakteristik siswa yang bermacam-macam pula.

    ReplyDelete
  43. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Filsafat ilmu dalam pendidikan matematika tak ubahnya akar dan batang. Keduanya saling berhubungan dan berkesinambungan. Perpaduan yang asyik ketika belajar filsafat ilmu dalam pendidikan matematika karena hal tersebut jarang sekali kami temui. Menanggapi pertanyaan nomor 7 diatas bahwa hakikat komunikasi adalah interaksi dari dua atau lebih subyek maupun obyek meskipun sifat interaksinya hanya isyarat. Sedangkan komunikasi dalam matematika tidak cukup hanya komunikasi namun juga memadukannya dengan koneksi matematis yakni semua konsep harus saling berkesinambungam dan tidak boleh di lupakan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  44. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Menurut saya, filsafat dalam memandang perbedaan karakter dan kemampuan berpikir siswa merupakan hal yang wajib dilakukan oleh guru., karena setiap siswa itu unik dan guru tidak bisa memperlakukannya dengan sama. guna mengoptimalkan kemampuan ataupun prestasi siswa guru hendaknya memberikan metode pembelajaran yang mengakomodasi keberagaman siswa.

    ReplyDelete