Nov 20, 2014

Hasil Observasi dan Refleksi Pembelajaran Matematika pada kegiatan Lesson Study di Kec. Bantul (20 Nopember 2014)

Oleh Marsigit



Berikut saya sampaikan hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika di sebuah smp swasta model di Kabupaten Bantul, yang saya rekam pada hari Kamis, 20 Nopember 2014. Saya, disamping sebagai Koordinator Lesson Study FMIPA untuk sekolah-sekolah di Bantul, tetapi juga sebagai Pendamping Lesson Studi di SMP Kecamatan Bantul. Untuk menjaga privasi, maka saya tidak menyebut nama sekolah, tidak menyebut nama Koordinator MGMP, dan tidak menyebut nama Guru Model; kecuali hanya nama simbolik saja.

Kegiatan Lesson Studi yang saya observasi adalah kegiatan pada fase Do dan See; yaitu fase menyelenggarakan pbm atau open-class, dan kegiatan refleksi. Kebetulah hari ini karena tg 20, maka ada yang unik dari para guru karena mereka semuanya mengenakan Baju Kebaya dan Sorjan (tradisional Jawa).

Sebelum Observasi (pk 09.00 sd 09.50)

Ramah Tamah:
Sebelum observasi ada kegiatan ramah-tamah dan sedikit komunikasi tentang persiapan yang telah dibuat oleh guru Model. Acara ramah tamah dihadiri oleh Kepala Sekolah, Ketua MGMP, Guru Model, dan dosen Pendamping (saya). Jumlah guru yang hadir sebanyak 20 guru SMP Negeri/Swasta dari Kec Bantul. Yang menjadi Guru Model adalah seorang guru muda (yayasan), lulusan LPTK th 2011. Guru Model belum memunyai pengalaman sebelumnya sebagai guru model (ini adalah pertama kali untuk menjadi guru model pada sebuah kegiatan DO Lesson Study).

Hasil wawancara tak langsung (wawancara informal) dengan Guru Model diperoleh bahwa Guru Model mengindikasikan sebagai berikut:

1. Bahwa Guru Model memunyai pengalaman mengajar selama 2 (dua) tahun. Selama mengajar dia
merasa sudah menerapkan metode inovatif, yaitu selalu mengadakan diskusi kelompok bagi siswa dan menggunakan berbagai alat bantu, termasuk komputer.

2. Untuk kali ini Guru Model akan mengajar berdasar Kurikulum 2013, terutama sumber atau buku teksnya. Kurikulum dan Silabus berdasar Kurikulum 2013 sudah tersedia. Tetapi hingga sekarang sekolah belum mendapatkan Buku Teks dari pemerintah. Maka solusinya adalah dengan mengunduh (down load) dari E-book yang berupa file buku Teks pelajaran Matematika berbasis Kurikulum 2013.

3. Setiap siswa sudah memunyai Laptop sehingga cara menggunakan buku adalah dengan menghidupkan Laptop dan membuka file buku.

4. Guru Model bersama-sama tim pada kegiatan PLAN sudah membuat RPP dan LKS

Identitas PBM:

Sekolah                : SMP
Mata Pelajaran      : Matematika
Kelas/Semester     : VII (tujuh)/ I (satu)
Materi Pokok       : Garis dan Sudut
Alokasi Waktu      : 1 pertemuan (2 x 40 menit)
Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Pembelajaran , dan Penilaian terekam dalam dokumen RPP.

Pendamping menemukan secara khusus metode yang tertulis di RPP adalah : "Model Pembelajaran Discovery Learning"; tetapi Sintak pada Langkah-langkah Pembelajaran meliputi : Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Data, Mengasosiasi, dan Mengomunikasi (Metode Saintifik). Sintak juga tidak tercantum di LKS, artinya LKS belum memuat langkah-langkah seperti yang ditulis di RPP.

Kegiatan Do dan Observasi PBM: (pk 09.50 sd pk 11.10)

Berikut beberapa aktivitas yang terekam:


(Photo by Aslan)

Kegiatan SEE (Refleksi) (Pk 11.10 sd 12.30):

Kegiatan SEE atau Refleksi di pimpin oleh Ketua MGMP, didampingi Kepala Sekolah, Guru Model dan Dosen Pendamping.

Acara Pertama : Pembukaan oleh Ketua MGMP

Acara Kedua     : Sambutan Kepala Sekolah

Acara Ketiga    : Refleksi dari Guru Model

Berikut adalah Refleksi yang tercatat oleh Pendamping:
1. Guru Model mengucapka terimakasih kepada semua pihak yang mendukung kegiatan LS
2. Guru mengakui masih banyak kekurangan terutama: a. dalam mengatur waktu, b. lupa tidak menginformasikan tentang tujuan pembelajaran
3. Guru Model menyadari terdapat beberapa siswa yang belum terampil dalam bekerjasama di dalam kelompok
4. Guru model menemukan ada siswa yang belum dapat mengukur besar sudut dengan alat bantu
5. Guru Model mengaku terlalu lama dalam kegiatan Apersepsi
6. Guru Model mengaku dikarenakan waktu yang terbatas, maka presentasi siswa kurang dan sebagian presentasi dilakukan oleh Guru Model

Acara Keempat:
Ketua MGMP memimpin kegiatan diskusi meliputi tanggapan dan saran dari guru observer yang lain dengan semangat bukan untuk menghakimi Guru Model, tetapi untuk mencari solusi bersama meningkatkan kualitas pembelajaran.

1. Guru L: Ada kelompok yang semua anggotanya menghidupkan Laptop sehingga diskusinya kurang efektif, bagaimana solusinya?
Solusi yang muncul: 1. Agar yang menghidupkan Laptop 2 siswa saja, tetapi menggunakan Laptop penting untuk melihat buku electronik sebagai sumber belajar; 2. Perlu penyesuaian tata letak meja dan kursi untuk berdiskusi; 3. Ketua MGMP menyerahkan kepada guru masing-masing untuk menentukan solusinya berdasar konteks dan pengalamannya.

2.  Guru M: Kenapa untuk menemukan sudut-sudut dalam sepihak dan luar berseberangan, guru menyarankan agar siswa menggunakan Busur Derajat. Menurut Guru M, Busur Derajat tidak diperlukan karena sudut-sudut yang ditemukan tidak secara spesifik menunjuk kepada besar sudut. Untuk itu guru M menyarankan agar digunakan alternatif alat bantu/media misalnya menggunakan "mal" sudut yang sudah dipotong-potong.

3. Guru S: Sebetulnya bagaimana menentukan anggota kelompok? Apakah ditentukan sebelum pbm atau pada saat pbm sudah mulai?
Tanggapan Guru W: Penentuan anggota kelompok seyogyanya sejak awal; agar siswa dapat diskemakan sebelum pbm.
Tanggapan Guru I: Saya menemukan ada kecanggungan komunikasi atau komunikasi yang tidak lancar karena di dalam kelompok terdapat perbedaan gender. Apakah tidak sebaiknya, anggota kelompok laki-laki semua atau perempuan semua.
Tanggapan Guru W: Perbedaan gender dalam kelompok tidak masalah; justru jika terdapat berbeda-beda kemampuan dalam kelompok hasilnya akan lebih baik.
Tanggapan Ketua MGMP: Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa anggota kelompok hendaknya heterogen agar dapat saling membelajaran.

4. Ketua MGMP: Bagaimana tentang penggunaan Busur Derajat, kenapa tidak ada alternatif lain?
Jawaban Guru I: Dalam kegiatan PLAN sebetulnya kelompok guru tim model sudah mendiskusikan, tetapi Guru Model sudah membuat RPP dan LKS secara lengkap dan baik, sehingga akhirnya kami pun ingin menyobanya seperti apa?
Tanggapan Ketua MGMP: Itulah pentingnya kegiatan Penelitian, untuk meneliti dengan metode yang bagaima untuk mengajar Garis dan Sudut, khususnya untuk menemukan sudut-sudut dalam sepihak dan sudut luar berseberangan; agar kita dapat memeroleh berbagai alternatif metode pbm.

5. Guru I: Bagaimana memfasilitasi bermacam-macam kemampuan yang ada pada kelompok; karena saya melihat ada anggota kelompok yang pandai tetapi malah dianggap mengganggu oleh anggota yang lain? (untuk pertanyaan ini tidak ada yang menjawabnya)

6. Guru W: Bagaimana tentang jumlah LKS? Apakah setiap anak perlu mendapat LKS masing-masing, atau satu kelompok hanya mendapat dua LKS atau bahkan satu saja?
Jawaban Guru I: Setiap kelompok dapat memeroleh banyak LKS secara fleksibel bergantung kondisinya, bisa 1, 2, 3 atau 4 LKS.

7. Guru W: Bagaimana tentang pencapaian Kurikulum? Jika terlalau banyak memberi kesempatan kepada siswa, maka Kurikulumnya tidak selesai?

8. Ketua MGMP: Bagaimana cara meningkatkan kemamuan Menjelaskan /Menerangkan bagi para siswa; karena sebagian siswa mengalami kesulita ketika disuruh Menerangkan matematika?
Tanggapan Guru I: Siswa diberi kesempatan maju ke depan kelas untuk menerangkan matematika.

Acara kelima:
Ketua MGMP menyilahkan Guru Model untuk menanggapi segala macam pertanyaan dan tanggapan.
Guru Model: sementara cukup dulu, karena perlu mendengarkan tanggapan dari Dosen Pendamping

Acara keenam:

Tanggapan Dosen Pendamping (Marsigit)

Sebelum menanggapi semua persoalan yang muncul termasuk mendeskripsikan apa yang terjadi di kelas, Dosen Pendamping terlebih dulu memberikan pengalaman mengamati sebuah kelas pembelajaran matematika di Inggris beberapa tahun yang lalu, tentang bagaimana seorang guru mampu mengelola kelas untuk melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika.

Kesimpulan dari uraian tersebut adalah agar guru mampu mencari solusi dari semua persoalan tersebut di atas, intinya guru perlu melakukan overhauled atau perubahan persepsi atau perubahan paradigma, yaitu dengan cara memromosikan: Matematika Sekolah, Pembelajaran Konstruktivisme, Matematika yang Plural, Belajar adalah membangun atau menkonstruksi, Mengajar adalah kegiatan riset atau to teach is to research, dst.

Secara spesifik guru diminta membaca atau membuka posting :

http://powermathematics.blogspot.com/search?q=menentukan+kurikulum

Sebagai referensi atau gambaran, berikut saya cuplikan dari konten di atas, yang menggambarkan apa yang terjadi jauh di sana yaitu disebuah sekolah di tenggara kota London (sekitar 15 tahun yang lalu):

"Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin guru bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya. Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut: Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok. Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa. Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran. Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya. Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras. Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS. Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi. Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.
Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun. Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Referensi di atas mengajarkan kepada kita bahwa untuk dapat melayani kebutuhan siswa dengan aneka perbedaan kemampuan, maka seorang guru matematika perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Menggunakan matematika yang tepat untuk siswa smp yaitu Matematika Sekolah, seperti yang diberikan oleh Ebbutt dan Straker (1995) bahwa hakikat Matematika Sekolah adalah sebagai aktivitas atau kegiatan: a. mencari pola atau hubungan, b. menyelesaikan masalah, c. melakukan investigasi, d. komunikasi.

2. Mendefinisikan "belajar" sebagai "membangun konsep/teori/hidup", yaitu menggunakan pendekatan konstruktivisme, di mana siswa sendirilah yang pada hakikatnya melakukan kegiatan belajar.

3. Mendefinisikan "mengajar" sebagai "melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika". Agar mampu melayani kebutuhan belajar siswa maka guru perlu secara terus menerus melakukan kegiatan riset tentang kegiatan pembelajarannya. Maka pada tahap selanjutnya kita harus menuju atau bisa mendefinisikan bahwa sebenar-benar mengajar adalah kegiatan riset; atau "to teach is to research".

Berdasarkan uraian yang sudah saya buat, maka berikut ini saya akan menanggapi kegiatan Guru Model dan juga pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh guru observer lainnya, dengan semangat bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai sarana silaturakhim bidang pendidikan matematika dengan semangat saling asah, sih dan asuh, sebagai berikut:

Secara umum, saya ingin menyampaikan apresiasi yang tinggi dan salut kepada Guru Model, yang menjadi guru masih relatif muda tetapi sudah menunjukkan usaha yang keras dan hebat untuk menjadi guru yang inovatif.

Namun saya ingin memberi catatan dan komen agar usaha mencapai guru inovatif dapat diwujudkan sebaik-baiknya, sebagai berikut:

1. RPP sudah cukup bagus; hanya metode saintifik perlu disebutkan secara eksplisit.

2. LKS disamping perlu memuat identitas sekolah, nama mapel, standard kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, dst; tetapi juga perlu memuat Informasi tentang bagaimana para siswa bekerja menggunakan LKS dan bekerja di dalam kelompoknya. LKS perlu disusun berdasarkan Sintak atau langkah-langkah sesuai dengan yang disebutkan di RPP (metode saintifik). Fungsi LKS adalah untuk membantu atau melayani kebutuhan belajar matematika agar siswa mampu membangun/menemukan konsep matematika. LKS bukanlah hanya kumpulan soal. Oleh karena itu yng sebenarnya berhak membuat LKS adalah guru itu sendiri.

3. Apersepsi sudah cukup baik yaitu dengan cara mengingatkan para siswa tentang apa yang sudah dipelajari; namun Apersepsi masih dilakukan secara Klasikal dan Teacher centered. Ingat bahwa Apersepsi adalah kesiapan siswa, jadi dia milik siswa, dan tidak hanya seorang siswa tetapi semua siswa. Sehingga Apersepsi hendaknya berlaku untuk semuanya sesuai dengan prinsip "Education is for all". Jadi Apersepsi bukan hanya untuk siswa yang di depan saja. Untuk itu guru perlu mencari alternatif kegiatan untuk Apersepsi misalnya dengan membuat soal kecil yang harus dikerjakan oleh semua siswa tanpa kecuali.

4. Diskusi Kelompok sudah berjalan dengan baik, tetapi secara Akademik masih mempunyai problem mendasar, karena LKS hanya dibuat 1 (satu) macam untk semua siswa; sehingga berpotensi menimbulkan kebosanan bagi mereka yang sudah selesai atau bagi siswa yang relatif pandai (karena mereka harus menunggu yang lain).

5. Metode mengajar guru didominasi dengan Expektasi yang sangat tinggi untuk mengarahkan semua pendapat siswa agar sama dengan satu pendapat guru. Artinya, guru menerapkan paradigma hidup "walaupun", artinya walaupun terdapat banyak siswa, tetapi guru menggunakan matematika yang tunggal. Ke depan, perlu dicoba agar guru perlu memromosikan paradigma "karena", yaitu karena siswanya bermacam-macam, maka siswa dapat memelajari bermacam-macam matematika pula. Matematika yang tunggal adalah matematika yang ada di dalam pikiran/matematika formal/matematika/aksiomatik/matematika yang diandaikan/matematika murni/matematika perguruan tinggi/matematika untuk orang dewasa. Sedangkan Matematika yang tidak tunggal adalah matematika yang banyak/matematika yang konkret/matematika dunia nyata/matematika dalam kehidupan sehari-hari/matematika untuk anak kecil/matematika intuitif/matematika sekolah.

6. Akibat guru memunyai Ekspektasi yang sangat tinggi untuk bermatematika tunggal; maka mangakibatkan munculnya fenomena misalnya guru sangat berusaha keras (semi berteriak-teriak) untuk memeroleh perhatian siswa; guru menganggap dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar dan sumber kebenaran (walaupun pernah terjadi guru melakukan kesalahan-artinya ini adalah potensi untuk menjadi tidak konsisten); fenomena yang lain adalah guru mengharapkan jawaban Choir dan jawaban pendek untuk setiap pertanyaannya; fenmena yang lain adalah guru menjadi sangat tergesa-gesa untuk menyelesaikan target kurikulum; guru mengimplementasikan very strong guided teaching; guru merasa tidak memunyai waktu yang cukup untuk memberikan waktu kepada siswa untuk melakukan presentasi di muka kelas sehingga posisi murid cenderung untuk mengamini pendapat guru.

7. Untuk pertanyaan dan tanggapan guru tentang pembentukan kelompok, banyaknya LKS dan kemampuan memahami matematika, dengan sendirinya terjawab dari kasus yang saya angkat dari pbm di London. Untuk memfasilitasi kebutuhan siswa, maka bentuk dan anggota kelompok dapat beragam; demikian juga konten dari LKS. Seperti yang terjadi di Inggris, dalam satu kelas pembelajaran matematika, terdapat 6 Kelompok Belajar terdiri 2 kelompok beranggotakan 2 siswa, 3 kelompok beranggotakan 4 siswa, dan 1 kelompok besar beranggotakan 16 yang selanjutnya akan bekerja bersama-sama dengan guru. Untuk setiap kelompok disediakan sejumlah LKS berseri LKS1, 2, 3..dst. Jadi guru memunyai stok LKS. Dengan beragam kelompok dan beragam LKS maka tidak akan ada lagi siswa yang pandai (the Quicker) harus menunggu siswa yang lambat (the Slower).

8. Untuk pertanyaan guru tentang bagaimana cara menyelesaikan target Kurikulum padahal waktunya terbatas? Jawaban saya adalah "sebesar-besar dua gunung ilmu yang kita bawa di atas pundak kita untuk kita berikan kepada siswa, maka itu semua akan mubazir, jika siswa lari menjauh atau melarikan diri dari kita; tetapi sedikit saja saya memberikan ilmu kepada siswa, maka akan sangat efektif dan berguna jika siswa berjalan mendekati atau menuju saya, bahkan mereka akan mencari sendiri ilmu yang lebih banyak lagi"

9. Agar guru tidak dihantui dan merasa dikejar-kejar waktu untuk penilaian, maka guru perlu mencari alternatif penilaian atau mengubah paradigma menuju ke Penilaian Authentic dengan Portfolio Siswa dan Keeping Record. Tepatnya terminologi yang menunjang adalah lebih baik Asesmen dari pada sekedar Evaluation.

8. Secara spesifik saya sangat memuji dan menilai tinggi kemampuan para guru untuk melakukan observasi serta mengungkap fenomena pedagogik yang terjadi di kelas, sehingga terjadi dialog saling asah, asih dan asuh yang sangat baik. Mungkin hal ini disebabkan karena sudah berpengalaman melakukan kegiatan Lesson Study beberapa tahun, sementara saya sendiri baru kali ini mendampinginya. Atmosphere ini adalah harta karun yang tak ternilai harganya, dan saya mempunyai ekpektasi bahwa untuk waktu-waktu mendatang, para guru yang terlibat dalam Lesson Study seperti di Kabupaten Bantul ini akan leading atau memimpin guru-guru dari tempat lai dalam hal melakukan inovasi pendidikan. Semoga. Amin.

9. Ketahuilah bahwa guru-guru di Dunia Barat, untuk satu atau dua kali mengajar, mereka kemudian sudah mampu membuat Karya Ilmiah/Makalah/Artikel yang dapat di Seminarkan atau/kemudian dikirim ke jurnal/atau membuat buku, kenapa? Sekali lagi karena mereka menerapkan paradigma "to teach is to research". Maka dalam setiap pembelajaran, dokumentasi segala macam aktivitas menjadi sangat penting misalnya foto dan video atau arsiprsip. 

10. Secara spesifik, saya sangat menghargai peran Ketua MGMP yang telah mampu memotivasi dan menggali problematika pedagogik dan berusaha mengomunikasikan untuk mencari solusinya.

11. Secara khusus, saya juga menyampaikan penghargaan kepada Kepala Sekolah MTs Muhammadiyah Unggulan Bantul dan segenap guru dan karyawan. Sebagian guru matematika di sekolah tersebut dan juga Guru Modelnya adalah mantan murid-murid saya ketika di S1 Pendidikan Matematika FMIPA UNY.

Demikian, selamat berjuang para guru. Amin

Marsigit
Dosen Pendamping, FMIPA UNY




91 comments:

  1. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Penerapan lesson study yang tidak kalah menarik juga. Kita menjadi tahu kendala di lapangan dan solusi yang mungkin untuk dilaksanakan jika kita akan menerapkan lesson study.
    beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama mengenai Matematika Sekolah, Pembelajaran Konstruktivisme, Matematika yang Plural, Belajar adalah membangun atau menkonstruksi, Mengajar adalah kegiatan riset atau to teach is to research, dst.

    ReplyDelete
  2. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Lesson study, saya baru mengetahui adanya lesson study dari tulisan Prof Marsigit tertanggal 24 Nov 2014 yang berjudul Lesson Study di Universitas. Sedikit membaca tentang lesson study dari beberapa sumber dan setelah membaca praktik lesson study seperti yang tertulis di atas, saya merasa bahwa lesson study seperti yang Prof Marsigit tulis ini, dengan adanya dosen pendamping, sangat membantu guru untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Karena menurut pengetahuan saya, setelah observasi sekolah, guru sudah paham bagaimana pembelajaran harus dilakukan, namun para guru tersebut menurut saya harus diingatkan kembali, para guru tersebut membutuhkan masukkan langsung setelah mereka melakukan pembelajaran. Karena sesungguhnya to teach is to research, sehingga guru yang melakukan kegiatan pembelajaran langsung, sangat membutuhkan saran dari pihak-pihak yang mengamati.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Selaku guru yang profesional tentunya tidak lepas dalam pembuatan perangkat pembelajaran sebagai sebagai pedoman agar bisa melakukan pengajaran yang tepat. Dimana salah satu perangkat pembelajaran yang amat penting untuk dipersiapkan adalah RPP yang berfungsi sebagai acuan untuk melaksanakan pembelajaran di dalam kelas, dan LKS yang berfungsi selain sebagai bahan evaluasi bagi siswa, memuat soal-soal untuk dikerjakan oleh siswa, juga memuat materi menyajikan bahan ajar yang memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan materi yang diberikan. Seyogyanya RPP dan LKS yang digunakan dibuat sendiri oleh guru, sehingga apa yang dalam di dalam LKS sesuai dengan RPP yang telah di susun sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun, pada kenyataan yang ada di lapaangan biasanya guru hanya menggunakan RPP yang secara turun menurun digunakan di sekolah tersebut dan LKS yang digunakan pun didistribusikan dari pihak luar sehingga biasa terjadi kesenjangan antara apa yang terdapat di RPP dengan yang ada di LKS.

    ReplyDelete
  5. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Setiap manusia pasti diciptakan berbeda, cara berpikir juga berbeda, setiap guru pasti cara mengajar berbeda-beda, ada guru yang mnegajar seperti ini dan ada guru yang mengajar seperti itu. Seperi pada uraian diatas bahwa guru M dan guru S : Kenapa untuk menemukan sudut-sudut dalam sepihak dan luar berseberangan, guru menyarankan agar siswa menggunakan Busur Derajat. Menurut Guru M, Busur Derajat tidak diperlukan karena sudut-sudut yang ditemukan tidak secara spesifik menunjuk kepada besar sudut. Untuk itu guru M menyarankan agar digunakan alternatif alat bantu/media misalnya menggunakan "mal" sudut yang sudah dipotong-potong. Dengan seperti ini sudah cara mengajar nya berbeda ada yang menggunakan busur ada yang menggunakan “mal” sudut yag suah dipotong-potong.

    ReplyDelete
  6. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pembelajaran lesson study memungkinkan kita mendapatkan banyak masukan dalam mengajar dari teman-teman satu tim. Inilah kelebihan lesson study kita dapat memperbaiki pembelajaran yang dilakukan maupun perangkat yang digunakan seperti LKS.Sehingga kegiatan lesson study seperti ini sangat baik jika ditingkatkan kuantitasnya. Hendaknya kegiatan seperti ini semakin sering dilakukan di berbagai sekolah demi meningkatkan kulitas mengajar. Kegiatan lesson study sangat yang efektif akan meningkatkan kualitas kinerja guru. Guru menjadi lebih aktif dan berkoordinasi dengan sesama guru dan pembelajaran yang dilakukan semakin baik dan optimal. Kemudian siswa pun menjadi senang dan mendapatkan materi dengan baik juga.

    ReplyDelete
  7. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dari hasil observasi dan refleksi pada pembelajaran matematika pada kegiatan lesson study di kec bantul, kita ketahui bahwa Guru Model menyadari terdapat beberapa siswa yang belum terampil dalam bekerjasama di dalam kelompok. Dari pernyataan guru tersebut, kita bisa melihat bahwa dengan adanya lesson study ini, guru bisa mengetahui siapa saja siswa yang belum terampil dalam bekerja di dalam kelompok.

    ReplyDelete
  8. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Lesson study yang didisain dengan baik akan menjadikan guru yang profesional dan inovatif. Dengan melaksanakan lesson study para guru dapat menentukan kompetensi yang perlu dimiliki siswa, merencanakan dan melaksanakan pembelajaran (lesson) yang efektif, mengkaji dan meningkatkan pelajaran yang bermanfaat bagi siswa, memperdalam pengetahuan tentang mata pelajaran yang disajikan para guru, menentukan standar kompetensi yang akan dicapai para siswa, merencanakan pelajaran secara kolaboratif, mengkaji secara teliti belajar dan perilaku siswa, mengembangkan pengetahuan pembelajaran yang dapat diandalkan, dan melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan siswa dan koleganya.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kelengkapan RPP dan seperangkat pembelajaran memang menjadi syarat mutlak dalam pembelajaran, temasuk lesson study di Kec. Bantul ini. Hasil observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan lesson study sudah cukup baik dengan adanya pemberian apersepsi oleh guru, pengelolaan kelas dengan kooperatif (berkelompok). Namun yang perlu diperhatikan bahwa penilaian tidak hanya melalui tes, namun juga dapat melihat kinerja dan keterampilan siswa yang dapat diukur melalui portofolio atau hasil lembar kerja diskusi siswa. Ini akan sangat membantu guru dalam mengevaluasi pembelajaran agar lebih baik ke depannya.

    ReplyDelete
  10. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari membaca hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika di atas saya mengetahui bahwa perlu mempersiapkan kegiatan pembelajaran dengan inovatif sebelum mengajar, selain itu penggunaan media juga perlu diperhatikan apakah memang benar-benar memfasilitasi belajar atau justru tidak membantu proses sama sekali. Perlu pula memastikan bahwa semua komponen pendukung pembelajaran dapat benar-benar memfasilitasi siswa untuk belajar sehingga jangan sampai siswa justru dipaksakan untuk belajar sesuai dengan kehendak guru seperti yang tersaji dalam postingan di atas bahwa guru mengarahkan semua siswa agar sama dengan satu pendapat guru.

    Adanya kegiatan Lesson Study seperti ini sangat baik untuk dijadikan sebagai kegiatan meningkatkan kualitas pendidikan dengan saling memberi masukan dan saran guna menciptakan kegiatan pembelajaran yang lebih baik dan tepat bagi siswa.

    ReplyDelete
  11. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca postingan di atas, jujur saya kagum dengan usaha dari para guru untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran. Apalagi tanggapan yang disampaikan Prof. Marsigit, benar-benar membuka pemikiran saya. Salah satunya pada bagian bagaimana cara mengatasi keterbatasan waktu dengan target kurikulum. Dari sini saya memahami bahwa jadilah guru yang "dicari-cari" oleh siswa, bukannya malah membuat siswa menghindar (karena proses pembelajarannya). Oleh karena itu inovasi dalam proses pembelajaran sangat penting.
    Salah satu poin yang saya garis bawahi juga adalah paradigma "to teach is to research", seperti yang dilakukan guru-guru bangsa Barat. Dengan adanya paradigma tersebut, maka akan terjadi proses siklik, dimana guru akan membaca jurnal (belajar, menambah pengetahuan), kemudian menerapkan dan berinovasi, publikasi, lalu guru lain juga akan melakukan inovasi baru, dan seterusnya. Sehingga, dari proses siklik itu akan tercipta kualitas pembelajaran yang semakin meningkat seiring berjalannya waktu dan dapat memenuhi kebutuhan siswa.

    ReplyDelete
  12. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Lesson study memiliki manfaat ntuk guru-guru muda untuk mengembangkan kemampuannya dalam proses mengajar. Sedangkan untuk guru-guru model psati akan berusaha untuk meningkatkan kemampuan agar dapat menjadi contoh untuk teman guru yang lainnya. Hal-hal seperti ini dapat mempengaruhi kemampuan guru lain dengan baik, sehingga para guru dapat termotivasi untuk mengikuti pembelajaran yang dilakukan dalam Lesson Study tersebut.

    ReplyDelete
  13. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Artikel ini memberikan banyak pengetahuan baru mengenai lesson study dan praktik pembelajaran di kelas. Apersepsi merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pembelajaran. Tujuan apersepi adalah mengetahui kesiapan siswa untuk pembelajaran saat ini serta mengingatkan siswa mengenai materi sebelumnya, terutama yang berkaitan dengan materi pembelajaran saat ini. Fokus utama apersepsi adalah siswa sehingga apersepsi bukan dilakukan oleh guru, melainkan oleh siswa dengan bantuan guru. Seperti yang bapak ungkapkan di atas, apersepsi bisa dilakukan dengan membuat soal kecil. Soal yang diberikan secara klasikal ini akan mau tidak mau akan mengarahkan siswa untuk mengingat materi yang ada di soal, sehingga saat itulah siswa telah melakukan apersepsi dengan sebenar-benarnya.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Proses belajar mengajar tidak hanya berpusat pada guru semata. Namun siswa diajak untuk turut aktif dalam pembelajaran di kelas. Mengapa demikian? Karena siswa yang belajar, bukan gurunya. Oleh karena itu siswa harus mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  15. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Guru diharapkan memiliki ide-ide kreatif untuk menciptakan kondisi kelas yang aktif. Ide kreatif tersebut dapat dirasakan manfaatnya untuk siswa heterogen di dalam satu kelas. Guru harus mengetahui bahwa tida semua cara siswa belajar itu sama. Selain itu guru juga perlu mempersiapkan segala hal yang diperlukan sebelum pembelajaran di kelas sehingga pembelajaran dapat terlaksana dengan tepat waktu. Karena hal yang paling sulit dilakukan guru pada saat proses pembelajaran adalah mengatur waktu agar efektif dalam penggunaannya.

    ReplyDelete
  16. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Lesson study menurut saya adalah cara paling efektif untuk meningkatkan kualitas guru, karena dari mempelajari pengalaman orang lain kita bisa memperoleh pengetahuan baru dan solusi baru akan permasalahan yang mungkin juga kita alami dalam proses pembelajaran yang berlangsung. Dari lesson study diatas kita dapat mempelajari dari awal pembelajaran baik persiapan sampai ke penutupan pembelajaran.

    ReplyDelete
  17. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan postingan Bapak tentang observasi dan refleksi pembelajaran matematika pada kegiatan lesson study memberikan banyak pengetahuan kepada saya tentang lesson study. Lesson study sangat bermanfaat bagi guru untuk saling bertukar informasi dan pengalaman guna memperbaiki proses pembelajaran yang selama ini dilakukan. Lesson study ini sangatlah penting untuk dilaksanakan secara berkala guna meningkatkan kualitas seorang guru dalam proses inovasi pembelajaran.

    ReplyDelete
  18. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    LKS sementara ini dianggap sebagai teknologi atau alat yang sangat strategis. Namun jangan salah paham, LKS bukanlah sekedar kumpulan soal, melainkan LKS adalah wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan. Dimana terdapat informasinya, ada tahap-tahapannya, proses berpikir, proses menemukan. Maka seorang guru harus mengembangkan sendiri LKSnya, karena tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang dibutuhkan anak didiknya selain gurunya sendiri.

    ReplyDelete
  19. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setelah membaca hasil observasi ini saya mendapatkan bahwa dengan Lesson Study, baik guru model maupun guru yang lain dan pendamping dapat menghasilkan solusi-solusi atas masalah yang terjadi dan yang mungkin terjadi nanti. Sehingga proses pembelajaran ke depannya dapat dipersiapkan dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik pula. Proses evaluasi sebaiknya adalah proses untuk mencari solusi dan membangun pengetahuan yang mengikuti dan melakukan proses evaluasi maupun yang membaca hasil laporan evaluasi. Sehingga tidak perlu berniat untuk menjatuhkan atau menekan orang lain yang melakukan kesalahan.

    ReplyDelete
  20. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah saya membaca tulisan pak Prof diatas, saya menjadi tahu tentang tujuan diadakannya Lesson Study. Kegiatan ini sangat membantu para guru muda dalam mengevaluasi cara mengajar matematika pada khususnya. Setiap aspek dapat diberi masukan dan dapat meminta tanggapan seperti apa baiknya dan sebagainya. Apalagi bagi guru yang masih berorientasi mengejar waktu untuk menyelesaikan materi. Ternyata tidak ada gunanya saat kita mendesak siswa untuk cepat-cepat menyelesaikan materi disaat siswa belum memahami beberapa materi sebelumnya. Hal lain yang menurut saya menarik adalah paradigma to teach is to research. Benar juga bahwa saat kita telah memiliki bekal atau telah menemukan suatu hasil penelitian, hal tersebut akan sangat memudahkan kita dalam menentukan metode atau model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa

    ReplyDelete
  21. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebelum melakukan pembelajaran di kelas banyak hal yang perlu dilakukan oleh guru antara lain mempersiapkan RPP, LKS dan juga media pembelajaran untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Dengan adanya lesson study dapat membantu guru untuk lebih inovatif dalam pembelajaran matmatika sehingga kegiatan pembelajaran di dalam kelas berlangsung efektif.

    ReplyDelete
  22. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Lesson study bisa menjadi salah satu solusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi guru di dalam kegiatan pembelajaran. Guru-guru secara kolaboratif mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajan secara bersiklus dan terus menerus. Lesson study dapat membuat guru mengetahui cara mengajar mana yang tepat dan kurang tepat untuk siswanya.

    ReplyDelete
  23. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan matematika I 2014


    Terimakasih pak atas artikel yang dibuat mengenai lesson study, saya menjadi tau manfaat lesson study untuk mengevaluasi pengajaran matematika disekolah, sehingga kedepan pembelajaran akan lebih baik lagi. guru guru bersama sama mengembangkan perangkat pembelajaran secara bersiklus dan terus menerus.

    ReplyDelete
  24. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Perbedaan individu menuntut guru untuk mampu melayani kebutuhan siswa yang beragam. Untuk dapat melayani beraneka macam perbedaan kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar, guru perlu mendefinisikan kegiatan belajar sebagai kegiatan membangun teori atau konsep. Artinya, guru perlu menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme di mana siswa sendirilah yang melakukan kegiatan belajar. Akan tetapi, pembelajaran matematika selama ini masih cenderung bersifat teacher centered daripada student centered. Seperti guru model tersebut yang masih melakukan apersepsi secara klasikal. Alangkah lebih baik apabila apersepsi dapat menjangkau seluruh siswa. Salah satu caranya adalah dengan pemberian soal atau kuis yang wajib dikerjakan oleh semua siswa.
    Selain itu, guru perlu mendefinisikan kegiatan mengajar sebagai kegiatan pelayanan kebutuan siswa dalam belajar matematika. Agar dapat melaayani kebutuhan belajar siswa, guru perlu melakukan riset tentang kegiatan pembelajarannya. Sepengetahuan saya, guru-guru di Indonesia masih kurang berminat dalam melakukan riset atau menulis jurnal ilmiah. Padahal riset berguna untuk mengenali masalah dalam pembelajaran serta mencari solusinya. Inilah yang menjadi tugas kita, baik sebagai calon guru maupun sebagai guru untuk tidak pernah berhenti belajar dan berinovasi guna meningkatkan mutu pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  25. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca artikel Prof.Marsigit, dapat dikatakan bahwa guru di Bantul sebetulnya memiliki keinginan, motivasi, dan usaha yang gigih untuk memberika pembelajaran yang inovatif. Selain hal itu, guru-guru di Bantul juga memiliki kompetensi untuk membuat RPP yang berkualitas meskipun dalam pelaksanaannya dan implementasinya dalam LKS terdapat beberapa yang hal belum sesuai dan terdapat beberapa kekurangan. Saya meyakini bahwa dengan adanya bimbingan dan pendampingan dari para ahli pendidikan seperti Prof.Marsigit dapat membantu dan meningkat kualitas kemampuan guru baik dalam mengajar, mengelola kelas, membuat RPP, dan membuat LKS yang memfasilitasi berbagai kemampuan siswa yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  26. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari hasil observasi dan refleksi pembelajaran matematika, ada beberapa hal yang saya peroleh yaitu : (1) Guru hendaknya membuat perangkat pembelajaran agar proses belajar mengajar di kelas lebih terarah sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang maksimal. (2) Guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang tepat dalam menyampaikan materi, dan jangan terfokus hanya satu metode saja, karena akan mengakibatkan siswa jenuh dan membuat pembelajaran tidak menyenangkan. (3). Gunakan media pembelajaran apabila dibutuhkan untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait dengan materi yang diajarkan.

    ReplyDelete
  27. Lesson study mempunyai hambatan di Indonesia karena guru Indonesia (mungkin saya) tidak suka dinilai atau merasa dikritisi ketika ada orang lain dalam pembelajarannya. Padahal lesson study berusaha untuk menemukan pembelajaran yang terbaik yang sesuai dengan karakter siswa Indonesia. Mungkin pertama, guru harus mempunyai pandangan yang baik tentang lesson study dan menyingkirkan prasangka tentang kritik dan penilaian. Lesson study dapa dilakukan dengan setiap pembelajaran dilakukan dokumentasi. segala macam aktivitas menjadi sangat penting, misalnya melalui foto, video dan catatan. Hal baik ini bisa kita terapkan dalam pembelajaran di kelas dan juga sebagai sebagai bahan refleksi guru di setiap pembelajaran.

    ReplyDelete
  28. Sebuah bahan refleksi bagi kita bahwa dalam pembelajaran matematika, guru perlu melakukan perubahan persepsi atau perubahan paradigma, bahwa matematika sekolah adalah sebagai aktivitas dengan mencari pola atau hubungan, menyelesaikan masalah, melakukan investigasi, dan komunikasi. Hal yang jarang ditemukan dalam pendidikan di Indonesia adalah guru melakukan penelitian. Kegiatan lesson study dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian tentang kendala-kendala yang dihadapi oleh siswa atau guru dalam proses pembelajaran kemudian ditulis saran-saran atau solusinya. Jika ini ditulis atau dibuatkan laporannya maka aka menjadi hasil karya ilmiah yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  29. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Kegiatan Lesson Study sangat berguna untuk perkembangan pendidikan di Indonesia. Karena kualitas pembelajaran dapat meningkat seiring dengan meningkatnya kualitas para pendidik dalam menyampaikan kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut sangat bermanfaat apabila dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan sehingga para guru dapat memperoleh banyak ilmu dan pengetahuan bagaimana cara untuk membelajarkan siswa selama di kelas. Lesson study merupakan kegiatan kolaborasi para guru yang di dalamnya terdapat beberapa tahap yaitu, perencanaan, tindakan, dan evaluasi. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak, antara lain guru, kepal sekolah, dosen, dan lain-lain sehingga semua pendidik berkumpul menjadi satu untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang terjadi di lapangan dan diharapkan dapat memecahkan/ menentukan solusi untuk memecahkan masalah-masalah yang dijumpai pada saat proses pembelajaran di kelas sehingga kegiatan pembelajaran akan menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  30. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari hasil lesson study diatas, saran-saran yang diberikan pak Prof juga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua bagaimana menjadi pendidik yang inovatif, yaitu menerapkan variasi metode, LKS, strategi, dan contoh. Sehingga siswa tidak bosan dengan (seperti contoh diatas adalah LKS) yang diberikan guru agar tercapai pembelajaran yang aktif, berkelanjutan, dan bermakna bagi siswa itu sendiri

    ReplyDelete
  31. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Lesson study yang dilakukan di kecamatan Bantul memperlihatkan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan baik, guru telah mempersiapkan RPP dan LKS sebagai acuan pembelajaran, guru memberikan apresepsi kepada siswa, dan proses pembelajaran yang berlangsung juga mengedepankan pemahaman siswa, siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri. pembelajaran yang inovatif perlu dilakukan agar siswa tidak bosan dengan pola pembelajaran guru.

    ReplyDelete
  32. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Lesson Study memang sangat penting dilakukan, karena dengan adanya Lesson Study ini maka kita akan bisa mengetahui akan kekurangan kita dalam mengajar. Begitu juga dengan Lesson Study akan menambah wawasan kita dalam memberikan materi kepada peserta didik. Dan sudah seyogyanya kita guru-guru di Indonesia harus bangkit dan terus menambah wawasan, baik dengan Lesson Study maupun dengan melaksanakan penelitian.

    ReplyDelete
  33. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Lesson study merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat untuk perkembangan pendidikan di Indonesia saat ini. Salah satunya yang dilaksanakan di Bantul. Guru-guru yang berperan sebagai guru model memperoleh ilmu serta pengalaman baru dalam mengajar dengan pendekatan Saintifik. Mereka juga diberi kesempatan untuk berdiskusi untuk menemukan solusi dalam suatu permasalahan di kelas. Sehingga hasilnya nanti dapat menjadi acuan dalam pembelajaran di kelas sesuai kurikulum 2013 secara tepat.

    ReplyDelete
  34. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dari postingan Bapak, sangat menambah wawasan saya mengenai lesson study, apa hakikat belajar dan mengajar.
    Salah satu kalimat yang memotivasi saya agar menciptakan model pembelajaran yang inovatif yaitu "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula"
    Hal ini beda dengan Indonesia yang pbm matematika masih menganut paradigma bahwa dalan waktu yang sama, dengan kemampuan siswa yang berbeda akan mencapai hasil yang sama dengan yang guru harapkan.

    ReplyDelete
  35. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Permasalahan-permasalahan yang timbul dalam kelas harus bisa di selesaikan oleh guru. Seorang guru harus bisa membaca situasi dengan pengalaman yang dimiliki dan teori yang pernah dipelajari. Seringkali banyak masalah yang ditimbulkan siswa dalam kelas. Dengan masalah itu guru akan berkembang dan mendapatkan kemampuan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  36. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perlu diperbanyak kegiatan-kegiatan Lesson Study seperti di Kec. Bantul. Kegiatan ini sangnat bermanfaat bagi guru-guru di sekolah untuk memecahkan masalah di kelas. Mencari cara pembelajran yang tepat sesuai kurikulum 2013.

    ReplyDelete
  37. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran di kelas untuk menemui titik terbaik memerlukan juga yang namanya solusi berdasar konteks dan pengalaman. Pengalaman dan kondisi konteks yang dihadapi menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan solusi dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  38. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat dengan Ketua MGMP: “Sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa anggota kelompok hendaknya heterogen agar dapat saling membelajaran.” Perbedaan membuat mereka bisa saling mengisi pemikiran yang lebih terbuka dan solutif.

    ReplyDelete
  39. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    “Belajar adalah membangun atau menkonstruksi”. Pernyataan tersebut adalah sangat tepat. Belajar memberikan kesempatan siswan untuk membangun konsepnya dengan leluasa dan nyaman. Siswa berhak mengeluarkan ide pemikirannya dalam mneyimpulkan pembelajaran tanpa adanya paksaan dari guru.

    ReplyDelete
  40. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Pada tulisan di atas, dapat kita lihat bahwa lesson study dapat memberikan feedback yang bagus bagi guru sebagai acuan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas. Hal tersbeut dapat diperoleh pada saat tahap refleksi, dimana terjadi diskusi aktif antara observer, guru, dan dosen pamong. Sehingga dari diskusi tersebut akan diperoleh beberapa point yang dapat digunakan untuk memperbaiki permaslahan-permasalahan yang ada pada saat proses pembelajaran yang telah dilakukan.

    ReplyDelete
  41. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, kita dapat mengetahui adanya matematika tunggal dan tidak tunggal. Matematika tunggal adalah matematika untuk orang dewasa/perguruan tinggi sedangkan matematika tidak tunggal adalah matematika untuk anak kecil/matematika sekolah

    ReplyDelete
  42. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Salah satu hal yang bisa kita ambil ialah sebanyak-banyaknya ilmu yang kita berikan kedapa siswa, hal itu akan sia-sia jika siswa menjauhi kita. Akan tetapi sedikit demi sedikit kita memberikan ilmu kepada siswa bisa sangat efektif jika siswa berjalan mendekati kita tanpa ada paksaan.

    ReplyDelete
  43. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Paradigma "to teach is to research" sangatlah penting bagi guru. Hal ini ditandai dengan dokumentasi segala macam aktivitas misalnya foto dan video atau arsip dalam setiap pembelajaran. Kemampuan guru dalam membuat karya ilmiah sudah menjadi sesuatu hal lumrah di dunia barat.

    ReplyDelete
  44. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menanggapi solusi dari pertanyaan guru L tentang penggunaan laptop, saya sependapat dengan solusi yang didapat bahwa yang membuka buku referensi yang berada di laptop mungkin hanya 1-2 anak saja, karena fokus yang diinginkan oleh pendidik adalah siswa dapat mengkonstruksi berdasarkan hasil diskusi dengan memperhatikan referensi. referensi yang ada tidak selalu dilihat, tetapi hanya sebagai bantuan informasi ketika siswa mengalami kesulitan. mengkin hal tersebut bisa diantisipasi dengan peran guru sebagai fasilitator untuk memberikan pertanyaan pancingan agar siswa dapat mengerjakan LKS yang disediakan.

    ReplyDelete
  45. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Proses pembelajaran yang menarik. Dari berbagai pembahasan diatas, banyak pengalaman dan penjelasan pembelajaran yang saya dapatkan sebagai bekal jika menjadi guru kelak. Pembahasan yang mendapat perhatian dari saya adalah mengenai manajemen waktu. Hal ini karena kejadian yang sama yang saya rasakan ketika melaksanakan PPL. Mohon penjelasan lebihnya. Hal ini karena tidak mudah meminta siswa untuk belajar sendiri di rumah. Siswa pernah berkeluh jika PR yang mereka terima bukan hanya pelajaran Matematika. Selain itu PR dari mata pelajaran lain pun tidak terhitung sedikit, sehingga para siswa sulit memanajemen waktu. Ditambah lagi kegiatan siswa di luar sekolah pun tidak terbilang sedikit.

    ReplyDelete
  46. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan di atas menjelaskan tentang kegiatan Lesson Study yang dilaksanakan di Kabupaten Bantul. Menurut saya, kegiatan semacam ini sangat baik dilaksanakan karena dapat mengasah kemampuan dari guru matematika, bukan hanya untuk guru model tetapi juga untuk guru yang lainnya. Guru model dapat merasakan langsung dan mendapatkan banyak masukan, sedangkan guru-guru yang lain juga dapat belajar melalui masukan-masukan, dapat merefleksi diri sendiri melalui orang lain, ketika terdapat guru yang memberikan masukan kepada guru model, bisa jadi itu juga dapat dijadikan masukan untuk guru-guru yang lain.

    ReplyDelete
  47. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Melalui kegiatan Lesson Study yang juga dihadiri oleh Dosen Pendamping yaitu Prof Marsigit, guru midel dan guru-guru yang lain dapat mengambil banyak ilmu dari Prof Marsigit yang memiliki pengalaman melakukan observasi pembelajaran di London. Pembelajaran di London ini pernah dijelaskan oleh Prof Marsigit pada saat kuliah Etnomatematika, pembelajarannya sangat menarik tetapi sangat berbeda dengan di Indonesia, sehingga sangat sulit untuk dilaksanakan di Indonesia. Akan tetapi, dapat diadaptasi oleh guru di Indonesia dengan cara guru memfasilitasi siswa dengan membuat beragam LKS sesuai kebutuhan siswa dan penilaian dapat dilakukan melalui Portfolio.

    ReplyDelete
  48. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    RPP, LKS dan perangkat pembelajaran lainnya adalah hal-hal yang perlu dipersiapkan guru secara matang agar dapat melakukan pembelajaran dikelas sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun, RPP bukanlah sesuatu yang mudah untuk dibuat khususnya bagian apersepsi. Oleh karena itu pembuatan RPP membutuhkan keahlian dan juga jam terbang yang tinggi. Bagian apersepsi menjadi sulit dikarenakan untuk dapat membuatnya guru harus memahami rangkaian pembelajaran sebelum materi yang akan diajarkan guru diberikan kepada siswa.

    ReplyDelete
  49. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Matematika Sekolah mampu mengarahkan guru agar dapat merencanakan pembelajaran secara inovatif. Dengan penerapan matematika sekolah yang baik mampu menunjukkan tingkat keprofesionalitasan guru dalam mengajar dikelas. Matematika yang diajarkan disekolah dapat memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari siswa. Matematika yang diberikan disekolah memiliki fungsi sebagai media dan juga sarana siswa dalam mencapai kompetensi dan juga pengetahuan serta ilmu berhitung.

    ReplyDelete
  50. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, dengan dilakukannya kegiatan Lesson Study seperti yang telah dipaparkan oleh Prof. Marsigit, M.A sangat membantu guru dalam mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan di kelas. Selain itu, dengan adanya tanggapan-tanggapan yang telah diberikan dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi guru dan juga calon guru agar lebih memperhatikan hal-hal yang perlu dipersiapkan dan direncanakan secara matang sebelum melakukan proses pembelajaran di kelas dan juga pelaksanaan lesson study dapat menambah wawasan guru sehingga dapat melakukan inovasi di bidang pendidikan.

    ReplyDelete
  51. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Lesson study sangat bermanfaat bagi guru terutama untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dalam mengajar sehingga dapat dilakukan perbaikan. Dengan lesson study pula guru dapat menyebarkan inovasi-inovasi yang dilakukan. Menarik sekali membaca bagaimana lesson study dilakukan dan bagaimana cara melakukan refleksi terhadap lesson study.

    ReplyDelete
  52. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014


    Dengan adanya kegiatan lesson study yang rutin sangat membantu guru untuk senantiasa memperbaiki segala hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Termasuk LKS yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran. LKS yang memfasilitasi berbagai kebutuhan peserta didik perlu untuk diperbaiki karena LKS merupakan hak bagi peserta didik. Selain itu, metode mengajar Expektasi dapat diluruskan dan diberikan pengarahan dari pembimbing lesson study agar paradigma “walaupun” menjadi paradigma “karena” sehingga guru adalah fasilitator yang benar-benar memahami berbagai macam karakter dan potensi yang dimiliki siswa.

    ReplyDelete
  53. Rindang Wijayanto
    14301241028
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terimakasih atas informasi yang Bapak berikan, saya jadi lebih mengetahui lebih mendalam tentang bagaimana cara melakukan pembelajaran dengan baik agar fungsi guru sebagai fasilitator dapat terpenuhi dan siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri seperti yang telah Bapak jelaskan dalam posting ini.

    ReplyDelete
  54. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Lesson study memberikan manfaat bagi para pendidik, sehingga guru dapat mengevaluasi pembelajaran di kelas dengan guru yang lainnya. Dengan adanya lesson study, guru mengajar di depan tidak sepenuhnya dapat mengkontrol kelas secara keseluruhan, namun dengan bantuan guru lain, sehingga dapat mengontrol siswa yang lain sehingga saling melengkapi dalam menilai pembelajaran.

    ReplyDelete
  55. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kolaborasi antar pendidik ini mencerminkan bahwa setiap pendidik memiliki keinginan untuk meningkatkan kompetensinya dalam mengajar. Menentukan metode yang tepat untuk materi yang diajarkan. Sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

    ReplyDelete
  56. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam Lesson study guru bisa menilai bagimana RPP atau LKS yang baik atau efektif dalam pembeljaaran. Evaluasinya ketika RPP yang digunakan tidak efektif, maka pendidik bersama-bersama membuat RPP yang lebih baik.

    ReplyDelete
  57. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Penerapan lesson study yang menjadikan siswa lebih aktif dengan pembelajaran student center. Dengan begitu kita menjadi tahu kendala di lapangan dan solusi yang mungkin untuk dilaksanakan jika kita akan menerapkan lesson study.

    ReplyDelete
  58. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Setelah membaca elegi diatas, saya berpendapat bahwa ekspektasi terhadap bermatematika tunggal tinggi akan memunculkan fenomena yang akhirnya mengakibatkan proses pembelajaran yang cenderung teacher centered karena guru menganggap bahwa sumber pembelajaran matematika hanya bersumber pada dirinya sendiri. Keberhasilan guru dalam mengajar merupakan kunci utama keberhasilan pembelajaran. Salah satunya menyusun strategi pembelajaran agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Salah satu strategi pembelajaran yang sangat penting untuk dilakukan guru adalah mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Dengan persiapan baik materi ataupun kesiapan guru dalam mengajar menurut saya kunci utama PBM. Guru tidak menguasai materi ataupun melakukan persiapan dan perencanaan pembelajaran yang baik, sudah dapat dipastikan pembelajaran yang dilakukan tidak akan berhasil secara optimal.

    ReplyDelete
  59. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Banyak hal yang dapat saya pelajari dari tulisan di atas agar nantinya saya dapat menjadikan pembelajaran matematika yang inovatif. Hal-hal yang dapat saya kembangkan untuk menjadikan pembelajaran inovatif adalah terkait Lembar Kerja Siswa (LKS), apersepsi untuk kesiapan siswa, bagaimana cara membagikan ilmu pengetahuan kepada para siswa, dan hal yang harus dikembangan oleh guru itu sendiri.

    ReplyDelete
  60. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terkait LKS, LKS sebenarnya dibuat untuk melayani kebutuhan belajar matematika agar siswa mampu membangun/menemukan konsep matematika dan bukan hanya kumpulan soal. Sehingga, seharusnya LKS disusun oleh guru, tetapi kebanyakan guru di sekolah masih menggunakan LKS yang diterbitkan oleh suatu penerbit yang berisi ringkasan materi kumpulan soal. Dan juga, LKS tidak hanya satu macam untuk semua siswa, tetapi seharusnya dibuat beragam sesuai kebutuhan siswa agar tidak menimbulkan kebosanan untuk siswa dengan kemampuan tinggi dan tidak menimbulkan kebingungan untuk siswa dengan kemampuan rendah.

    ReplyDelete
  61. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terkait kegiatan apersepsi, kegiatan apersepsi ini dibutuhkan oleh semua siswa, bukan hanya untuk beberapa siswa, karena apersepsi berguna untuk mempersiapkan siswa agar siap untuk mengikuti pembelajaran matematika pada hari itu. Oleh karena itu, perlu adanya alternatif kegiatan untuk apersepsi agar dapat dirasakan semua siswa, misalnya dengan kegiatan yang disarankan oleh Bapak Marsigit yaitu membuat semacam tes kecil yang harus dikerjakan oleh semua siswa tanpa kecuali.

    ReplyDelete
  62. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari tulisan di atas, saya mengetahui bahwa matematika yang diajarkan di sekolah seharusnya adalah matematika yang konkret/matematika dunia nyata/matematika dalam kehidupan sehari-hari/matematika untuk anak kecil/matematika intuitif/matematika sekolah yaitu matematika yang berdasarkan aktivitas, sehingga siswa belajar melalui aktivitas-aktivitas yang disusun oleh guru bukan serta merta dijejali rumus-rumus. Membagikan ilmu bukan dengan mentransfer langsung semuanya, karena siswa justru akan menjauh, membagikan ilmu itu seharusnya dengan memberikan sedikit ilmu yang dapat dikembangkan sehingga siswa ingin mendekat dan menggalinya lebih dalam lagi.

    ReplyDelete
  63. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru-guru di Indonesia menganggap momok Karya Ilmiah atau Artikel Ilmiah, guru-guru telah merasa terbebani denga tugas-tuganya seperti mengajar dan tugas administrasi lainnya dan akan kesusahan untuk melakukan penelitian-penelitian. Padahal, guru-guru di negara-negara maju katakanlah dapat menyusun Karya Ilmiah/Makalah/Artikel dari beberapa kali mengajar di kelas, karena guru-guru tersebut menerapkan paradigma "to teach is to research". Hal ini seharusnya dapat dijadikan contoh untuk guru-guru di Indonesia agar lebih produktif dalam menghasilkan karya.

    ReplyDelete
  64. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Terlihat bahwa lesson study di kecamatan bantul tersebut sangat bermanfaat dalam mengetahui kelemhan pembelajaran yang ada, kemudian saling memberi solusi dan pendapat untuk mengatasi kesulitan kesulitan yang ada, contohnya saat pembelajaran yang menggunakan laptop membuat tidak kondusif , untuk solusinya dapat diatur kembali posisi duduk dan brapa siswa yang membuka laptop agar lebih tertata, untuk berdiskusi kelompok siswa lebih baik posisi melingkar.

    ReplyDelete
  65. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    Pendidikan Matematika A 2014

    Kegiatan Lesson study memang penting. Dengan lesson study, guru dapat bekerja sama dan belajar untuk menyusun rencana pembelajaran yang baik bersama dengan guru lain, kepala sekolah, serta para peneliti atau ahli pendidikan. Dengan lesson study tersebut para guru juga melakukan penelitian terhadap jalannya pembelajaran dan kemudian melakukan refleksi atau evaluasi. Sehingga, guru dapat mengetahui permasalahan yang ada dan juga mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan baik dalam perencanaan maupun selama pembelajaran berlangsung. Dengan begitu, guru dapat mencari solusi dan memperbaiki kesalahan yang sebelumnya dilakukan agar pembelajaran yang selanjutnya menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  66. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebagai seorang guru maupun calon guru, sudah seharusnya kita mengetahui apa itu matematika sekolah, belajar dan mengajar matematika, teori-teori belajar dan mengajar, serta macam-macam strategi/metode/model/pendekatan pembelajaran yang dapat diterapakan dalam pembelajaran. Sehingga, ketika kita menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan perangkat pembelajaran dapat sesuai dengan langkah-langkah dari strategi/metode/model/pendekatan yang dipilih dan dalam pelaksanaannya dapat sesuai dengan hakikat belajar mengajar yang sesungguhnya. Dengan begitu, kegiatan belajar akan menjadi bermakna dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

    ReplyDelete
  67. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Menggunakan matematika yang tepat untuk siswa smp yaitu Matematika Sekolah, seperti yang diberikan oleh Ebbutt dan Straker (1995) bahwa hakikat Matematika Sekolah adalah sebagai aktivitas atau kegiatan antara lain mencari pola atau hubungan serta menyelesaikan masalah. Sebaiknya pembelajaran pada SMP tidak lebih dalam lagi karena menyesuaikan kemampuan kognitif siswa.

    ReplyDelete
  68. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Penerapan Lesson Study pada tulisan tersebut sangat menarik, karena biasanya Prof Marsigit menjelaskan mengenai lesson study yang dilaksanakan di luar negeri. Tanggapan dari Prof Marsigit juga akan angat bermanfaat bagi pihak lain pada postingan tersebut, termasuk guru model dan ketua MGMP. Iya, lesson study maupun pembelajaran yang sebenarnya dalam ranah sekolah di Indonesia masih perlu beberapa perbaikan. Mengenai bagaimana seorang guru mampu mengelola kelas untuk melayani kebutuhan siswa untuk belajar matematika. Guru perlu untuk merubah paradigma dengan menggunakan matematika sekolah, pembelajaran konstruktivisme, matematika yang plural, teach to research, dst.

    ReplyDelete
  69. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Ebbutt dan Straker mengatakan bahwa hakikat Matematika Sekolah adalah sebagai aktivitas atau kegiatanantara lain melakukan investigasi dan komunikasi. Aktivitas inilah yang pada Lesson Study perlu dimunculkan untuk meningkatkan daya berprikir kritis dan melatih kemampuan berbicara siswa.

    ReplyDelete
  70. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Penerapan lesson study mungkin baru saja dikenal di masyarakat Indonesia khususnya para guru pada masa kini. Sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan ini guru dapat merefleksikan kegiatan belajar mengajar dikelas dengan disaksikan oleh ahli-ahli pendidikan lain sehingga mendapatkan masukan yang berguna untuk menjadi lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  71. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada tulisan di atas, pada bagian komentar dari dosen yang membimbing jalannya Lesson Study, dikatakan bahwa apersepsi harus diperuntukkan untuk semua siswa tanpa kecuali. Pada tulisan di atas dikatakan bahwa cara agar apersepsi dirasakan oleh semua siswa dengan menggunakan tes kecil di awal pembelajaran. Metode tersebut disebut metode Classroom Achievement Test (CAT) dan ternyata tidak hanya dengan tes kecil. Saya mendapatkannya dari dosen microteaching saya bahwa apersepsi pada metode CAT ini dapat dilakukan dengan cara tes jawab cepat, setiap siswa diberi kertas yang cukup besar, kemudian setiap pertanyaan dari guru akan dijawab cepat oleh siswa dan kertas diangkat (seperti permainan ranking 1).

    ReplyDelete
  72. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan sumber yang saya baca, Metode Classroom Achievement Test (CAT) memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya, yaitu step 1 : designing the test, step 2 : writing the question, step 3 : final check, kemudian dilanjutkan dengan interpreting the test results. Misal dengan cara tes kecil maupun dengan cara seperti permainan ranking 1 dilihat dari hasil jawaban siswa pada kertas, jika jawaban siswa masih banyak yang salah, maka guru harus sedikit mengulangi penjelasan materi sebelumnya, jika jawaban mayoritas sudah benar, maka dilanjutkan ke materi berikutnya.

    ReplyDelete
  73. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    LKS berfungsi untuk memfasilitasi pembelajaan siswa, bukan sebagai media latihan menegerjakan.

    ReplyDelete
  74. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Seluruh siswa hendaknya siap sebelum pembelajaran dimulai, artinya semua siswa harus terlibat dlam proses apersepsi.

    ReplyDelete
  75. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    LKS dibuat untuk disesuaikan dengan berbagai macam karakter kognitif siswa, sehingga setiap kelompok memiliki LKS yng berbeda-beda.

    ReplyDelete
  76. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Matematika yang tidak tunggal adalah matematika yang real dan konkret sesuai dengan dunia keseharian siswa, guru tidak dapat memaksakan pembelajaan matematika seperti yang diinginkan oleh guru.

    ReplyDelete
  77. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Guru hendaknya memberikan kesempatan yang banyak kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya dengan presentsi hasil diskusi kelompok, diskusi yang dilakukan merupakan cara untuk mendapatkan kesimpulan.

    ReplyDelete
  78. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Untuk mefasilitasi siswa pandai dan kurang pandai, maka LKS yang disediakan harus beragam. Sehingga siswa dapat terbantu sesuai dengan kapasitasnya.

    ReplyDelete
  79. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Tidak usah terlalau banyak materi yang diberikan asalkan dapat bermanfaat itu lebih baik. Pecah-pecah materi menjadi sedemiakian sehingga mudah dipahami oleh siswa. Konsep matang dan tidak ada miskonsepsi pada siswa.

    ReplyDelete
  80. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    untuk perbaikan kualitas pendidikan diharapkan kegiatan mengajar merupakan kegiatan penelitian sehingga dapat terdeteksi masalah yang dihadapi dan kebituhan apa yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan.

    ReplyDelete
  81. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Terimaksih Prof. Marsigit atas tulisannya sehingga saya dapat mengerti bagaimana pengembangan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan.

    ReplyDelete
  82. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hasil dari observasi dan refleksi pembelajaran matematika yang dilakukan oleh guru-guru di sekolah memberikan kesimpulan bahwa masih banyak guru yang mengalami kesulitan ketika melakukan pembelajaran di kelas yang berbasis kurikulum 2013 dengan mengedepankan pembelajaran yang inovatif, kreatif, interaktif dan menjadikan siswa sebagai pusat dari pembelajaran. Selain itu guru juga masih kesulitan dalam melakukan persiapan sebelum melakukan pembelajaran di kelas. Kesulitan tersebut diantaranya dalam pembuatan RPP, LKS, mesia/alat peraga serta perangkat pembelajaran lainnya.

    ReplyDelete
  83. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  84. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ebbutt and Straker (Marsigit, 2016) mendefinisikan SCHOOL MATHEMATICS, yang kemudian disebut saja sebagai Hakekat Matematika Sekolah sebagai berikut: (1) Matematika adalah kegiatan penelusuran pola atau hubungan. (2)Matematika adalah kegiatan problem solving. (3) Matematika adalah kegiatan investigasi (4)Matematika adalah komunikasi. Dalam hal ini guru dapat menjadikan keempat masalah ini menjadi objek dari lessen study untuk memperbaiaki paendidikan olh humanis jaman ini.

    Referensi : Marsigit. 2016. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berbasis Etnomatematika. https://uny.academia.edu/MarsigitHrd/

    ReplyDelete
  85. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    dari postingan di atas, terlihat bahwa hasil observasi yang dilakukan, masih banyak guru yang mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum 2013 atau biasa disebut dengan k13 di dalam kelas. Hal ini menjadi evaluasi bagi kita semua yang turut berperan atau akan berperan dalam dunia pendidikan. Hal seperti ini wajib diperhatikan agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai.

    ReplyDelete
  86. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Terimakasih Pak, saya sangat tertarik pada proses Lesson Study yang dilaksanakan di salah satu sekolah swasta di Bantul ini. Terdapat berbagai evaluasi yang dalam mengatasinya dibutuhkan diskusi antar guru model dan ketua MGMP. Hadirnya Pak Marsigit juga sangat berperan dalam diskusi ini. hal yang saya garis bawahi adalah terjadinya kecanggungan bagi siswa lawan jenis. Hal itu kerap terjadi bahkan ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Untuk cara mengatasinya kita harus memikirkannya secara matang. Jika kelompok dijadikan perempuan sesama perempuan dan laki-laki sesama laki-laki tentu saja hal ini akan membuat kondisi kelompok menjadi tidak heterogen. Baiknya sebagai seorang guru dapat membiasakan siswa untuk bekerja secara tim heterogen.

    ReplyDelete
  87. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Terimakasih, pak. Dengan artikel di atas telah memberikan gambaran kepada saya bagaimana lesson study itu diterapkan. Dan banyak pelajaran yang di dapat dengan membaca artikel ini.

    ReplyDelete
  88. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran kooperatif, pembentukan kelompok sebaiknya dilakukan sejak awal pembelajaran. Pembentukan kelompok ini dibuat seheterogen mungkin sehingga pembelajaran lebih efektif. Yang sudah bisa mengajari yang belum bisa, yang aktif bisa membantu yang pasif, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  89. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam diskusi kelompok seharusnya dilakukan dengan anggota dipilih secara heterogen. Agar pembelajaran berjalan efektif, seharusnya guru bisa mengatur pembagian kelompok dari awal dengan telah mempersiapkannya terlebih dahulu

    ReplyDelete
  90. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Guru juga harus membimbing agar di dalam kelompok bisa berkomunikasi degan baik, tidak hanya siswa pandai yang aktif dan membiarkan yang lain pasif, hal itu yg biasa menyebabkan dianggap mengganggu karena terlalu mendominasi

    ReplyDelete
  91. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Guru semestinya bisa menentukan atau menciptakan pembelajaran yang inovatif, sehingga muridnya bisa tertarik dalam mengikuti pembelajaran. jangan sampai murid bosan atau tidak tertarik sama sekali, hal itu menyebabkan tujuan pembelajaran tidak bisa tercapai

    ReplyDelete