Nov 9, 2014

Kutarunggu Menjunjung Langit

Oleh Marsigit



Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa.

Cantraka:
Bagindha Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.


Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena langit telah menemukan buminya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang sedikit ragu apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Maka kematiannya disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Maka kematiannya adalah karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang guru matematika. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.

Cantraka:
Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang Spiritualis Idealis. Dia rajin mengikuti program-program yang diberikan oleh gurunya. Namun kelihatannya dia mengambil jarak dan tidak mau terlibat sepenuh hati melaksanakan kegiatannya. Kadang-kadang dia bertindak melampaui batas, seakan ingin mengajari gurunya juga. Dia juga berlaku determinis kepada siapapun dan kepada apapun, termasuk kepada gurunya. Kelihatannya dia tidak konsisten, karena dia rajin ikut kegiatan tetapi tidak mau terlibat secara ikhlas. Saya ragu apakah dia hanya ingin memeroleh penialain semu. Di satu sisi kelihatan memerlukan program itu, tetapi di sisi yang lain dia menghujat habis-habisan. Pada akhirnya dia berusaha juga untuk mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Berarti dia sudah pernah bergaul dengan para Dewa Transenden Barat dan Utara. Berarti dia mengikuti program tidak ikhlas karena sudah memunyai Motif dan Tujuan lain. Saya ragu apakah Spiritualitasnya konsisten dan komitmen atau tidak, karena sebenar-benar Spiritual itu adalah konsisten dan komitmen. Jangan-jangan dia prajuritnya Power Now. Waspadalah karena sebenar-benar Power Now itu adalah Penebar Kemunafikan. Ilmunya para Motivist adalah bersifat manipulatif, karena dia akan memberikan fatamorgana kebenaran, yaitu kebenaran palsu. Dia abai dan bermaksud memanipulasi ruang dan waktu. Sebenar-benar dia adalah si pemangsa Ruang dan Waktu itu sendiri. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:
Ada seseorang yang ragu-ragu kemudian pulang untuk bertanya kepada gurunya. Dia belum berani mengangkat langit, maka dia bertanya kepada gurunya. Dia adalah aku. Maka bagaimana petunjukmu guru?


Bagawat:
Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetu-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah diriku juga. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih atau Bagawat, mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Maka hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu maka niscaya engkau akan peroleh ilmu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan langit tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Bagawat:
Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, maka berangkatlah mencari ilmumu dan gunakan ilmumu sebaik-baiknya.Untuk sementara, diantara sekian banyak yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya. Tetapi ingat ini hanyalah bersifat sementara, maka jagalah prestasimu itu dengan keikhlasanmu. Amiin

Bagawat:
Silahkan Cantraka istirahatlah.

Cantraka:
???

Bagawat:
Silahkan Cantraka istirahatlah. Cantraka, diajak bicara kok diam saja. Apa engkau kelihatannya malah menitikkan air mata ya? Masih ada persoalan apa?

Cantraka:
Maaf guru, karena sepulang dari mengikuti lomba menjunjung langit saya sempat tertidur.

Bagawat:
Lha kalau cuma tertidur, apa masalahnya?

Cantraka:
Tetapi saya tidak berani menyampaikan kepada Guru, karena ini menyangkut diri Guru sendiri.

Bagawat;
Sebagai seorang Bagawat, mestinya saya harus sudah ikhlas lahir bathin apapun yang menimpa kepada apa yang ada dan yang mungkin ada, termasuk diriku. Silahkan.

Cantraka:
Tetapi maaf sebelumnya.

Bagawat:
Ra po po. Kok kelihatannya serius amat nih.

Cantraka:
Saya bermimpi bahwa Bagawat itu juga mengikuti lomba menjunjung langit.

Bagawat:
Lha..apa? Trus..apa yang terjadi.

Cantraka:
Itulah maka saya merasa sedih.

Bagawat:
Trus..

Cantraka:
Ternyata Bagawat sang guruku, juga terjatuh lalu mati...maaf lalu meninggal dunia.

Bagawat:
Astaghfirullah al adzimu...ya Allah ampunilah semua dosa-dosaku, ampunilah semua dosa baik yang aku sadari maupun yang tidak aku sadari, baik yang aku sengaja maupun yang tidak aku sengaja. Tiadalah sebenar-benar kebaikan dan kebenaran dapat aku gapai melainkan hanyalah aku berihtiar dalam doa. Segala puja dan puji ialah milik Mu ya Rab.


Cantraka:
Amin. Maaf guru. Terimakasih atas semua nasehatmu. Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah SWT. Mohon doa restumu.

Bagawat:
Amin. Silahkan Cantraka. Amin.

24 comments:

  1. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B


    Elegi ini mengandung banyak nilai kehidupan. Banyak orang yang menuntut ilmu tidak disertai dengan keikhlasan. Mereka lebih mempersoalkan urusan dunia yaitu bagaimana terlihat sempurna di mata orang lain. Golongan orang ini lebih mementingkan kepentingan pribadi serta mudah merasa puas atas pencapaiannya sehingga membuat dirinya hanyut dalam kesombongan. Dengan demikian, pelajaran bagi kita semua bahwa bak langit yang tidak perlu menjelaskan jika tinggi maka manusia juga tidak perlu menjelaskan dan memamerkan akan kelebihan diri karena sesungguhnya waktulah yang akan membuktikan semuanya pada ruang yang tepat. Dan tiadalah waktu bagi manusia untuk berhenti menuntut ilmu selain ajal yang sudah menjemput. Di samping itu pelajaran lain yang bisa kita petik bahwa manusia tidak pernah luput dari salah dan dosa maka mohonlah selalu petunjuk dari-Nya.

    ReplyDelete
  2. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017

    Dalam kutarunggu Menjunjung langit dimaknai sebagai proses dimana manusia menjunjung Allah sebagai junjungannya. Ketika manusia semakin ingat mengenai dosa. Manusia mulai menggapai kebenaran dan memahami mengenai apa yang harus dan yang tidak seharusnya terjadi.

    ReplyDelete
  3. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Dari penggalan cerita diatas terdapat seorang raja yang penampilannya luar biasa, dan memiliki banyak pengikut. Raja tersebut berusaha mengangkat langit dan dia terjatuh lalu mati. Menurut sang guru, raja tersebut berperilaku terlalu sombong karena kedudukannya sebagai raja yang memiliki kuasa untuk meengatur dunia dan sang guru berkata kematiannya itu karena kesombongannya sendiri. Kesombongan merupakan penyakit hati yang dimiliki oleh setiap manusia. Kesombongan sendiri dapat timbul dari berbagai alas an, yaitu harta, tahta, rupa dan bahkan kesombongan juga dapat berasal dari ilmu. Manusia yang memiliki ilmu yang lebih dari manusia-manusia lain, jika dirinya tidak dapat menjaga kerendahan hatinya maka akan munculah kesombongan dalam dirinya dan membuat keilmuan yang dimilikinya tidak akan bermanfaat bagi sekitarnya

    ReplyDelete
  4. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dari postingan bapak tentang "Kutarunggu Menjunjung Langit", saya mendapatkan hikmah bahwa kita tidak boleh sombong. Sombong dapat mengalahkan semua hal yang baik. Orang-orang yang pandai baik untuk urusan dunia maupun urusan akhirat akhirnya mati atau kalah karena kesombongannya sendiri. Setinggi-tingginya ilmu seseorang, akan menjadi tidak bermanfaat dan menjadi musibah apabila ia sombong. Sebagai manusia, hendaknya kita selalu ikhlas dan rendah hati. Kita tidak boleh sombong dan cepat puas. Kita harus banyak membaca dan terus-terus belajar sampai akhir hayat.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada ilmunya. Kita harus terus mencari ilmu dimanapun, kapanpun. Hendaknya jangan merasa bosan untuk mencari ilmu. Namun, Setinggi apapun ilmu jika diliputi oleh kesombongan maka akan padamlah ilmu yang telah kita miliki itu. Tak akan berarti jika ilmu itu diliputi dengan kesombongan. Semoga kita dilindungi dari sifat sombong.aamiin

    ReplyDelete
  6. Latifah Fitriasari
    PM C

    Orang sombong tidak menyukai untuk kaum mukminin kebaikan yang dia sukai untuk dirinya. Dia tidak mampu bersikap rendah hati dan meninggalkan hasad, dendam, dan marah. Dia juga tidak mampu manahan murka, dia tidak menerima nasehat, dan tidak selamat dari sifat merendahkan dan menggibah manusia. Hal itu tak hanya buruk bagi siapapun, namun juga dapat membuat seseorang berperilaku tercela. Karena sifat tersebut salah satu sifat yang paling dibenci oleh Allah SWT dan juga dibenci oleh manusia. Jika kita terlalu sombong maka kesombongan itulah yang akan menghancurkan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  7. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dari dialog kutarungu menjunjung langit diatas, diperoleh bahwa jika kita terlalu menggebu gebu dalam menggapai dunia tanpa berusaha menggapai ridhonya, maka akan terancam oleh kematian. Kematian yang dimaksud ini adalah kegagalan, kesalahan, ketidaktahuan, hingga berarti panasnya api neraka. Sehingga selagi kita mampu untuk mencari ilmu, maka jangan lupa untuk mencari ridhonya kapan pun dan dimanapun kita berada.

    ReplyDelete
  8. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Elegi ini memberikan pembelajaran kehidupan bagi kita bahwa sesungguhnya ilmu hanya milik Allah SWT. Ilmu yang kita miliki tidaklah sempurna oleh karenanya janganlah bersikap sombong atas ilmu yang terbatas tersebut. Setinggi-tingginya ilmu akan kalah dengan motif/niat. Jika dalam memperoleh ilmu tidak diawali dengan niat yang baik dan ikhlas maka ilmu yang diperoleh pun akan menjadi tidak bermakna dan hanya kesombongan lah yang akan diperoleh. Sekian dan Terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  9. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    astagfirullah halazim
    semoga selalu dalam lindungan Allah swt, aamiin ya allah
    berdasarkan artikel diatas mengingatkan saya bahwa tak ada yang tak mungkin untuk "mati" sebesar apa ilmu yang dimiliki, tinggi apa jabatan yang disinggahi, secantik apa paras yang dikaruniai dan sebagi apa seorang guru. mereka tetap hambah yang memerlukan pertolongan dari Allah, karena hanya manusia yang ga luput dari kesalahan. bahkan diri saya sendiri dan mungkin pengkritik yang lainnya.
    terimakasih pak untuk ilmunya, menjadikan saya belajar untuk lebih bersyukur dan tidak sombong. serta memaklumi kesalahan orang lain, karena saya sendiri jauh dari baik

    ReplyDelete
  10. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Elegi ini memberikan pesan bahwa sebanyak-banyaknya ilmu yang kita miliki, kita tidak boleh sombong dan merasa jika hanya kita lah yang memiliki ilmu paling tinggi. Orang-orang yang berpikir demikian, pasti akan mendapat balasan yang setimpal. Dalam elegi ini digambarkan jika seseorang merasa paling pintar, kemudian dia merasa bisa menjunjung langit, maka dia akan terjatuh dan meninggal. Hal ini dikarenakan orang tersebut merasa sombong dan berpikir dia lah yang paling kuat yang dapat memenangkan sayembara menjunjung langit, sehingga dia mendapat balasan atas kesombongannya tersebut

    ReplyDelete
  11. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Takabbur atau sifat sombong hanyalah Milih Tuhan semata. Walaupun memang dalam diri manusia terdapat semua sifat Tuhan, namun sifat takabbur disuahakan jangan pernah ditampakkan sama sekali. Karena yang Maha Besar adalah Tuhan. Jika seseorang lupa akan kuasa Tuhan yang begitu besar maka akan menerima balasan yang tidak pernah disangka-sangka. Dalam filsafat, jika seseorang lebih pada sifat sombong mereka, maka apa yang menjadi pengetahuan mereka akan condong pada mengutamakan logika dibandingkan dengan hati. Hal ini akan membahayakan bagi dirinya dan juga bagi mereka yang mengikuti pemahamannya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  12. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    tidaklah ada yang pantas untuk disombongkan. sekalipun orang tersebut sangat cerdas, menemukan sesuatu yang baru, dia tidak boleh merasa puas sehingga tidak menggali ilmunya lagi. sifat itu dapat membunuh diri sendiri dan yang pasti membuat seseorang itu merugi.

    ReplyDelete
  13. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Bagaimana sifat sombong dalam diri manusia dapat mematikannya. Padahal sesungguhnya kesempurnaan hanya milik Tuhan, namun saat ini sifat sombong dengan merasa sempurna menjadikan manusia lalai menggali ilmunya, lalai berbuat kebaikan dan sebagainya. Padi semakin berisi semakin merunduk, seharusnya orang yang berilmu semakin rendah hati.

    ReplyDelete
  14. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs pM B 2017

    sebuah kalimat diatas, mampu memberi sedikit gambaran terkait tentang esensi mengangkat lagi. Kalimatnya sebagai berikut "Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu". Dari kalimat tersebut menjelaskan apa sebenarnya esensinya adalah ilmu. Dalam mencari ilmu seseorang tidak akan mendapatkan suatu ilmu yang berkah jika, didalam hatinya memiliki niat yang buruk dengan ilmu tersebut. Bahkan tidak jarang ilmu yang dimiliki digunakan dalam jalan yang salah, serta disertai dengan kesombongan. Maka ia tidak akan pernah menjunjung langit.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  15. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari elegi diatas saya merefleksi bahwa jangan pernah sombong akan suatu hal telah dilakukan dan ikhlaslah dalam melakukan segala yang direncanakan. Pengetahuan didapatkan secara bertahap, tidak dalam waktu singkat yang instan. Nikmati waktu untuk belajar agar hasil yang didapatkan sesuai yang diinginkan.

    ReplyDelete
  16. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Pendidikan tidak terbatas dengan umur, pendidikan sepanjang hayat. Salah satu mencapai pendidikan adalah dengan belajar. Belajar adalah proses meraih ilmu secara terus menerus diiringi rasa ikhlas. Setinggi-tinggi ilmu, masih terdapat ilmu yang lebih tinggi. Oleh karena itu, mencari ilmu tidak akan pernah habisnya karena ilmu selalu hidup dan berkembang.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  17. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi ini sangat menyentuh hati. Berdasarkan elegi ini ada beberapa poin yang dapat saya tangkap yaitu:
    1. Sebenar-benar ilmu adalah milik Allah SWT.
    2. Kunci memperoleh ilmu adalah keikhlasan dan berpikir kritis.
    3. Dalam menggapai atau memahami ilmu kita membutuhkan Ridho Allah SWT, karena jika tidak dpat mengancam kematian. Kematian disini berarti gagal, tidak tahu, tidak sadar, salah ruang , salah waktu, dosa dll.
    4. Kita selayaknya menggunakan ilmu sebaik-baiknya dan jangan lupa berbagi ilmu.
    5. Mempertahankan prestasi yang diraih dengan keikhlasan.

    ReplyDelete
  18. Menjunjung langit berarti memperoleh ilmu. Jika kita mampu menjunjung langit artinya kita mampu memperoleh imu. Hanya yang memiliki keikhlasan dan mau berpikir kritislah yang bisa memperoleh ilmu. Tidak bisa jika hanya Ikhlas atau berpikir kritis saja namun harus meliputi keduanya. Kesombongan dapat menghambat kita memperoleh ilmu entah karena sombong telahmemiliki ilmu atau merasa kuat atau punya wewenang, dll. Pasrah juga dapat menghambat menuntut ilmu oleh karena itu keikhlasan dan mau berpikir merupakan kunci memperoleh ilmu.

    ReplyDelete
  19. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Mendapatkan ilmu, sebagaimana mendapatkan suatu hal lain, memerlukan perjuangan. Tidak dapat serta merta kita mendapatkan ilmu tanpa usaha, minimal berusaha untuk berpikir dan menyadari keilmuan tersebut. Tidak semua orang dapat mendapatkan ilmu dalam tingkatan kebaikan, ilmu yang diberkahi.Mereka adalah yang dengan sungguh-sungguh ingin mendapatkan ilmu, dan melakukan usaha untuk mendapatkan ilmu tersebut dengan jalan yang baik. Mereka memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam hati dan pikirannya. Setiap iktiarnya senantiasa diliputi dengan doa-doa. Semua itu akan sesungguhnya sebaik-baik bekal kita dalam mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan, karena hanya orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan pemikiran kritis yang akan berhasil mendapatkan pengetahuan dan keberkahannya.

    ReplyDelete
  20. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PMC

    Sebagai seorang manusia kita seharusnya menyadari bahwa diatas langit masih ada langit. Maka kita tidak boleh memiliki kesombongan dalam diri kita. Seharusnya dengan memiliki ilmu kita menyadari bahwa ilmu yang kita miliki itu hanyalah sebagian kecil dari ilmu yang ada. Kita harus memahami bahwa sebenarnya diri kita belumlah paham. Dengan begitu kita akan terus belajar dengan keikhlasan dan menghilangkan kesombongan karena setiap yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini menyatakan, Tidaklah boleh berlaku sombong. Ilmu yang dimilik manusia masih sangat sedikit daripada Ilmu Yang Dimiliki oleh Allah. Maka manusia tidak boleh berlaku sombong. Di atas langit masih ada langit yang lain. semua yang ada pada diri manusia adalah titipan, termasuk potensi yang ada pada diri manusia, karena ini hanya titipan, maka kembangkan potensi yang telah diberikan dan terus belajar dengan ikhlas, serta belajar ikhlas juga diperlukan. seperti Langit yang mempunyai tingkatan, tetapi langit tidak melupakan bumi.

    ReplyDelete
  22. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B
    Menuntut ilmu itu diperlukan keikhlasan. Kita harus ikhlat hati dan ikhlas pikir. Karena dengan adanya keikhlasan dan kesungguhan maka kita dapat menguasai ilmu. Keikhlasan ini akan meleburkan rasa sombong dalam diri kita dan menimbulkan rasa rendah hati. Sehingga kita akan selalu haus akan ilmu, yang menjadikan kita selalu mengejar ilmu. Terimakasih

    ReplyDelete
  23. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Dari elegi ini bisa diambil hikmahnya, bahwa hanya mereka yang memiliki hati bersih dan pikiran yang kritis yang dapat memeroleh ilmu. Walaupun ilmu adalah milik Allah, usaha yang telah dilakukan bagi mereka yang mau berusaha ini akan membuahkan hasil yaitu diperolehnya ilmu pengetahuan. Namun perlu diingat bahwa ilmu pengetahuan yang telah diperoleh ini semestinya digunakan untuk tujuan yang baik, ilmu yang diperoleh ini haruslah dibarengi juga dengan keadaan hati yang tulus ikhlas. Satu hal yang paling penting dalam memeroleh ilmu yaitu janganlah sombong. Bentuk kesombongan ini banyak menjerumuskan orang yang justru telah memeroleh ilmu. Kesombongan karena menganggap telah berilmu dapat menjerumuskan kedalam ketamakan. Merasa telah cukup berilmu pun ternyata dikatakan sombong karena tidak berusaha melengkapi ilmunya. Sehingga wajar kiranya, semakin berilmu seseorang maka semakin santun ucapan dan perilakunya (tidak sombong) dan terus berusaha memperbaiki/menambah ilmunya karena belajar adalah tugas setiap insan di muka bumi ini.

    ReplyDelete
  24. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Sombong dapat mengalahkan semua hal yang baik. Itulah yang dapat saya tangkap dari kisah di atas. Orang-orang yang pandai baik untuk urusan dunia maupun urusan akhirat akhirnya mati atau kalah karena kesombongannya sendiri. Itu menjadi pesan kepada kita semua betapapun tinggi ilmu yang kita sudah punya, kita tidak boleh sombong dan cepat puas. Kita harus belajar lagi, belajar lagi, dan belajar terus sampai hayat yang menghentikan kita

    ReplyDelete