Nov 9, 2014

Kutarunggu Menjunjung Langit

Oleh Marsigit



Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa.

Cantraka:
Bagindha Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.


Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena langit telah menemukan buminya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang sedikit ragu apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Maka kematiannya disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Maka kematiannya adalah karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang guru matematika. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.

Cantraka:
Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang Spiritualis Idealis. Dia rajin mengikuti program-program yang diberikan oleh gurunya. Namun kelihatannya dia mengambil jarak dan tidak mau terlibat sepenuh hati melaksanakan kegiatannya. Kadang-kadang dia bertindak melampaui batas, seakan ingin mengajari gurunya juga. Dia juga berlaku determinis kepada siapapun dan kepada apapun, termasuk kepada gurunya. Kelihatannya dia tidak konsisten, karena dia rajin ikut kegiatan tetapi tidak mau terlibat secara ikhlas. Saya ragu apakah dia hanya ingin memeroleh penialain semu. Di satu sisi kelihatan memerlukan program itu, tetapi di sisi yang lain dia menghujat habis-habisan. Pada akhirnya dia berusaha juga untuk mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Berarti dia sudah pernah bergaul dengan para Dewa Transenden Barat dan Utara. Berarti dia mengikuti program tidak ikhlas karena sudah memunyai Motif dan Tujuan lain. Saya ragu apakah Spiritualitasnya konsisten dan komitmen atau tidak, karena sebenar-benar Spiritual itu adalah konsisten dan komitmen. Jangan-jangan dia prajuritnya Power Now. Waspadalah karena sebenar-benar Power Now itu adalah Penebar Kemunafikan. Ilmunya para Motivist adalah bersifat manipulatif, karena dia akan memberikan fatamorgana kebenaran, yaitu kebenaran palsu. Dia abai dan bermaksud memanipulasi ruang dan waktu. Sebenar-benar dia adalah si pemangsa Ruang dan Waktu itu sendiri. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:
Ada seseorang yang ragu-ragu kemudian pulang untuk bertanya kepada gurunya. Dia belum berani mengangkat langit, maka dia bertanya kepada gurunya. Dia adalah aku. Maka bagaimana petunjukmu guru?


Bagawat:
Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetu-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah diriku juga. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih atau Bagawat, mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Maka hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu maka niscaya engkau akan peroleh ilmu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan langit tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Bagawat:
Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, maka berangkatlah mencari ilmumu dan gunakan ilmumu sebaik-baiknya.Untuk sementara, diantara sekian banyak yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya. Tetapi ingat ini hanyalah bersifat sementara, maka jagalah prestasimu itu dengan keikhlasanmu. Amiin

Bagawat:
Silahkan Cantraka istirahatlah.

Cantraka:
???

Bagawat:
Silahkan Cantraka istirahatlah. Cantraka, diajak bicara kok diam saja. Apa engkau kelihatannya malah menitikkan air mata ya? Masih ada persoalan apa?

Cantraka:
Maaf guru, karena sepulang dari mengikuti lomba menjunjung langit saya sempat tertidur.

Bagawat:
Lha kalau cuma tertidur, apa masalahnya?

Cantraka:
Tetapi saya tidak berani menyampaikan kepada Guru, karena ini menyangkut diri Guru sendiri.

Bagawat;
Sebagai seorang Bagawat, mestinya saya harus sudah ikhlas lahir bathin apapun yang menimpa kepada apa yang ada dan yang mungkin ada, termasuk diriku. Silahkan.

Cantraka:
Tetapi maaf sebelumnya.

Bagawat:
Ra po po. Kok kelihatannya serius amat nih.

Cantraka:
Saya bermimpi bahwa Bagawat itu juga mengikuti lomba menjunjung langit.

Bagawat:
Lha..apa? Trus..apa yang terjadi.

Cantraka:
Itulah maka saya merasa sedih.

Bagawat:
Trus..

Cantraka:
Ternyata Bagawat sang guruku, juga terjatuh lalu mati...maaf lalu meninggal dunia.

Bagawat:
Astaghfirullah al adzimu...ya Allah ampunilah semua dosa-dosaku, ampunilah semua dosa baik yang aku sadari maupun yang tidak aku sadari, baik yang aku sengaja maupun yang tidak aku sengaja. Tiadalah sebenar-benar kebaikan dan kebenaran dapat aku gapai melainkan hanyalah aku berihtiar dalam doa. Segala puja dan puji ialah milik Mu ya Rab.


Cantraka:
Amin. Maaf guru. Terimakasih atas semua nasehatmu. Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah SWT. Mohon doa restumu.

Bagawat:
Amin. Silahkan Cantraka. Amin.

12 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Kutarunggu Menjunjung Langit ini mengingatkan saya pada penjelasan tentang ilmu yang bersifat ekstensif dan intensif. Ilmu yang kita anggap luas dan dalam ternyata dapat diperdalam dan diperluas lagi oleh orang lain atau pun oleh diri kita sendiri pada waktu yang lain. Oleh karena itu, janganlah kita merasa puas, bangga dan bersikap sombong akan ilmu yang telah kita miliki saat ini sebab mungkin saja ada orang lain yang mempunyai ilmu dengan kedudukan lebih tinggi dari kita. Ingatlah “Diatas langit masih ada langit”. Keikhlasan pun diperlukan oleh setiap orang yang menjalani kehidupan di dunia pana ini.
    Kutarunggu menjunjung langit ini memberikan pelajaran, bahwa untuk mencapai tingkatan berfikir spiritual, seseorang tidak dipandang dari pangkat, jabatan, kaya, miskin, tua, muda, cantik, tampan bahkan presiden dan raja sekalipun. Namun untuk menggapai langit, haruslah dengan ikhlas hati dan ikhlas pikiran yang tuntun oleh ilmu yang berkah yang di ridhoi oleh Allah swt. Kesombongan akan membuat kita terjerumus ke jalan yang sesat, bahkan dapat berakibat kematian sekalipun. Sebagaimana Sesuai dengan yang dikisahkan dalam kutarunggu di atas. Semoga kita termasuk orang yang bisa menahan diri dari sifat sombong dan takabbur.. amiin

    ReplyDelete
  2. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Untuk mendapatkan pengetahuan diperlukan beberapa hal yang penting dan tidak semua orang dapat melihatnya dengan langsung. Mereka yang dengan sungguh-sungguh ingin mendapatkan ilmu akan menjaga ketulusan, kejujuran, kerendahan hati, kerja keras, dan doa yang selalu dipanjatkan kepada Allah. Selain itu, kita juga harus memiliki kemauan untuk menjaga hubungan baik dengan guru kita. Semua itu akan menjadi bekal kita dalam memperoleh pengetahuan. Dalam mencari pengetahuan, hanya orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan pemikiran kritis yang akan berhasil mendapatkan pengetahuan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa mendapatkan pengetahuan yang benar jika mereka hanya mencoba untuk mencapai itu, karena ilmu itu sebenarnya hanya milik Allah SWT. Siapa pun yang mencoba untuk mencapai dunia dan akhirat tanpa meraih ridha Allah maka dia akan terancam kematian. Dan kematian yang dimaksud adalah kematian dalam arti yang luas dan mendalam. Kematian bisa berarti gagal, kematian bisa berarti kesalahan, kematian bisa berarti tidak tahu, kematian bisa berarti sadar, kematian bisa berarti tidak tepat, kematian bisa berarti kesalahan ruang, kematian bisa berarti kesalahan waktu, kematian bisa berarti dosa, kematian bisa berarti panas dari api neraka.

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Kesombongan bisa membuat kita mati, mati yang memiliki banyak arti, mati yang berarti kegagalan, mati yang berarti salah ruang, mati yang berarti salah, dll. Sebagai seorang yang memiliki ilmu tidaklah baik untuk menyombongkan apa yang dimiliki. Ilmu yang sebaiknya kita gunakan untuk membantu sesama, bukan untuk disombongkan. Ilmu yang kaya adalah ilmu yang dapat kita tularkan agar orang itu bisa mendapatkan manfaat dari ilmu itu sendiri. Selama ini kita selalu mengejar ilmu, bahkan tanpa kita kejar sekalipun ilmu sudah Tuhan berikan kepada kita secara percuma, tinggal kita yang mau memperkaya ilmu kita untuk berbagi atau tidak

    ReplyDelete
  4. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahat. Dua kalimat tersebut memiliki arti yang dalam. Bahwa sesungguhnya ilmu itu luas, maka carilah ilmu hingga kemanapun karena ilmu tak akan habis. Ilmu itu luas, sehingga selama kita bernafas, teruslah mencari ilmu. Karena "Jika kita menginginkan dunia, tuntutlah ilmu. Jika kita menginginkan akhirat, tuntutlah ilmu. Dan jika kita menginginkan keduanya maka tuntutlah ilmu."
    "semakin berisi semakin merunduk". Orang-orang yang memiliki banyak ilmu, dia akan semakin merasa bahwa apa yang dia ketahui belumlah seberapa, sehingga sebenar-benarnya orang yang berilmu dia tidak akan sombong. Tapi, orang yang merasa ilmunya banyak dan kemudian dia berlaku sombong maka sangatlah jelas bahwa ilmunya sangat sedikit, sehingga dia akan mati (dalam banyak arti) dengan ilmu yang sedikit dan kesombongannya tersebut.

    ReplyDelete
  5. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Belajar memang harus lepas dari rasa sombong. Hal ini berlaku tidak hanya untuk belajar tetapi juga dalam hal mengajar. Keseombongan haruslah dihilangkan dari pikiran kita. Agar semua materi yang seharusnya diperoleh dapat digunakan dan dapat diterima dengan baik.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Segala sesuatu yang kita lakukan pasti ada ilmunya. Kita harus terus mencari ilmu dimanapun, kapanpun. Hendaknya jangan merasa bosan untuk mencari ilmu. Namun, Setinggi apapun ilmu jika diliputi oleh kesombongan maka akan padamlah ilmu yang telah kita miliki itu. Tak akan berarti jika ilmu itu diliputi dengan kesombongan. Semoga kita dilindungi dari sifat sombong.aamiin.

    ReplyDelete
  7. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Manusia itu ada batasnya. Setiap manusia pasti memiliki keterbatasan yang di milikinya. Cerita diatas menceritakan bahwa seorang murid yang haus akan ilmu yaitu cantraka, yang ingin selalu dan akan selalu tahu. Walaupun teman-temannya sudah bepergi meninggalkan dia dan ingin mengujikan ilmunya kepada orang lain catraka masih setia berada di sana, karena dia masih belum puas akan ilmu nya. Hidup di dunia seperti itu apalagi kita sbegai pendidikan dan bergelut dengan dunia pendidkan, selalu haus akan ilmu.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Saya mendapatkan pelajaran bahwa dalam menuntut ilmu tidak ada batasnya. Secara filsafat juga disebutkan sebagai pengetahuan yang sedalam-dalamnya (instensif) dan seluas-luasnya (ekstensif). Bidang ilmu yang ada sangat banyak dan beragam, sehingga hanya mau saja kita dapat mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Dengan kata lain kita bebas mencari ilmu setinggi-tingginya. Pada elegi ini kalimat menjunjung langit itu diibaratkan untuk menjunjung ilmu dan mencari ilmu tinggi langit. Karena ilmu kita bisa menjadi manusia lebih berarti. Sehingga seorang pengajar itu tugasnya sangat mulia. Agama kita-pun meninggikan derajat orang yang berilmu dan ilmu yang bermanfaat pun menjadi salah satu amalan yang tidak terputus walaupun manusianya telah tidak ada lagi di dunia ini.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Terkadang, kita memandang dan merasa apa yang kita punya jauh lebih baik, lebih bagus, lebih tinggi dari orang lain. Begitupun dengan ilmu, dapat membuat orang menjadi sombong dan merasa paling pintar dari yang lain. Maka satu hal yang paling penting dalam memeroleh ilmu yaitu janganlah sombong. Pepatah menyatakan bahwa berlakulah seperti padi semakin berisi semakin menunduk. Pepatah ini mengajarkan untuk kita bahwa semakin kita berilmu maka sepatutnya kita semakin tawaduk. Karena bentuk kesombongan ini banyak menjerumuskan orang berilmu kedalam ketamakan. Merasa telah cukup berilmu pun ternyata dikatakan sombong karena tidak berusaha melengkapi ilmunya. Sehingga wajar kiranya, semakin berilmu seseorang maka semakin santun ucapan dan perilakunya (tidak sombong) dan terus berusaha menambah ilmunya karena belajar adalah tugas setiap insan di muka bumi ini. Manusia adalah khalifah di muka bumi ini. Selain itu kita para penuntut ilmu dalam mencari dan menuntut ilmu diibaratkan seperti layang-layang yang diterbangkan dengan seutas tali. Layang-layang bebas mau menuju langit bagian manapun tetapi tetap terikat pada tali itu karena ketika putus talinya maka layang-layang tidak tahu arah kembali dan jatuh. Tali itu adalah aturan agama maupun hukum yang berlaku.

    ReplyDelete
  10. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Ilmu Tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh. Ilmu dan agama merupakan dua instrumen penting bagi manusia untuk menata diri, berperilaku, bermasyarakat, berbangsa, bernegara serta bagaimana manusia memaknai hidup dan kehidupan. Keduanya diperlukan dalam mendorong manusia untuk hidup secara benar. Sebagai makhluk berakal, manusia sangat menyadari kebutuhannya untuk memperoleh kepastian, baik pada tataran ilmiah maupun ideologi. Melalui sains, manusia berhubungan dengan realitas dalam memahami keberadaan diri dan lingkungannya. Sedangkan agama menyadarkan manusia akan hubungan keragaman realitas tersebut, untuk memperoleh derajat kepastian mutlak, yakni kesadaran akan kehadiran Tuhan

    ReplyDelete
  11. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Menuntut ilmu tentu tidak ada batasnya. Bahkan dalah sebuah pepatah arab dikatakan "Tuntlah ilmu sampai ke negeri Cina" atau "Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat". Bahkan sampai kita mati pun masih harus menuntut ilmu. ilmu bisa kita dapatkan dimana saja, darimana saja, dan dari siapa saja. Oleh karena itu, dalam menuntut ilmu hendaknya kita menerapkan ilmu padi yaitu semakin berisi semakin merunduk. Yang artinya bahwa kita tidak boleh sombong apabila telah diberikan allah ilmu, semestinya ilmu kita haruslah bermanfaat bagi orang banyak. Agar keberkahan di dunia dan di akhirat kita dapati

    ReplyDelete
  12. Heni Lilia dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Sangat jelas firman Allah SWT bahwa Dia akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Maka sudah sepatutnya kita sebagai hamba-Nya untuk selalu menggapai ilmu, dan menghindari logos. Namun, ilmu yang kita dapatkan tidak untuk kita sombongkan apalagi kita salah gunakan. Hukum ini sangat jelas berlaku, bahwa ilmu yang tidak dimanfaatkan dengan baik maka akan sia-sia.

    ReplyDelete