Nov 6, 2014

Tanya Jawab Filsafat




Dialog berikut merupakan kegiatan Tanya Jawab Filsafat dimana para Mahasiswa membuat pertanyaan dan saya (Marsigit) berusaha menjawabnya, pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PM A) Hari Kamis, 30 Oktober 2014 pk 07.30 sd 09.10 di R. 306 B Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta.



1. Furintasari bertanya:
Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama

2. Ainun Fitriani:
Bagaimana menerapkan Filsafat secara bijaksana?

3. Fitratul Wulan Fatmasuci:
Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat?

4. Samsul Feri Apriyadi:
Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian?

5. Maryana:
Bagaimana memahami karakteristik siswa dalam pbm matematika menurut sudut pandang Filsafat?

6. Aris Kartikasari:
Bagaimana menanggulangi pengaruh kehidupan kontemporer yang negatif, menurut sudut pandang Filsafat?

7.

46 comments:

  1. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat? Kita harus senantiasa bersyukur akan sesuatu. Memiliki semangat untuk maju adalah hal terpenting untuk dapat meraih kesuksesan dalam hidup. Motivasi sukses seringkali menjadi kunci meraih keberhasilan. Sejarah berbicara, baik pengusaha, negarawan, akademisi, dan bintang-bintang dunia mengakui bahwa bahwa dorongan motivasi inilah yang membuat orang mau menapaki setiap jalan setapak menuju kesuksesan. Agar kita bermanfaat untuk orang lain, selayaknya kita ikhlas akan sesuatu. Kita tidak boleh merasa diri paling benar dan manfaat. Karena yang berlebih-lebihan itu tidak baik.

    ReplyDelete
  2. Kusuma Wardani D.S
    14301241027
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Sedikitnya ada tiga aliran besar dalam filsafat matematika (sugiman, 2009), yaitu Platonisme,
    Formalisme, dan Intuisionisme. Para penganut Platonisme menganggap bilangan
    adalah abstrak, memerlukan eksistensi objek, dan bebas dari akal budi manusia.
    Menurut aliran Formalisme, matematika adalah tidak lebih dan tidak kurang dari
    bahasa matematika (mathematical language). Sedangkan menurut paham
    Intuisionisme, matematika adalah suatu kreasi dari akal budi manusia (Anglin, 1994: p.
    218-219)

    ReplyDelete
  3. Kusuma Wardani D.S
    14301241027
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Menjawab pertanyaan tenatang bagaimana kiat-kiat agar hari-hari seseorang penuh semanagt dan manfaat?
    caranya adalah dengan selalu mengawali setiap apa yang kita lakukan dengan berdoa terlebih dahulu, melakukan dengan sebaik mungkin, kemudian belajar ikhlas, dan belajar bersyukur dengan setiap hasil yang kita tunai selagi kita sudah berusaha sebaik mungkin

    ReplyDelete
  4. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Agar hari-hari kita penuh dengan semangat dan manfaat menurut saya adalah kembali kepada tujuan hidup kita. Sebagai manusia hakekat hidup kita adalah beribadah kepada Allah. Maka dari itu dalam menjalani kehidupan hendaknya kita senantiasa mengingat dan memohon ridha dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Afiramita Hertanti
    S2- PMA 2017
    NIM. 17709251008

    mohon maaf, pak. pada judul tertulis "tanya jawab filsafat". namun tulisan hanya berisi 6 list pertanyaan tanpa jawaban dari bapak. nah, jujur, saya sangat penasaran apa jawaban bapak dari ke enam pertanyaan tersebut. saya akan sangat senang jika bapak dapat menuliskan jawabannya disini.

    ReplyDelete
  6. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Mohon maaf sebelumnya saya ingin mencoba menjawab, sesuai dengan pengalaman saya, pertanyaan dari saudari Ainun Fitriani tentang bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksana. Menurut saya dalam berfilsafat kita harus memahami ruang dan waktu. Dalam berfilsafat harus sesuai ruang dan waktu. Jika tidak sesuai ruang dan waktu maka hanya akan menjadi omong kosong belaka. Contoh yang pertama yaituharus sesuai umur. Berfilsafatlah dengan orang dewasa yang sudah mengenal filsafat bukan dengan anak kecil atau malah balita. Contoh yang kedua adalah lokasi tang tepat. Berfilsafatlah di dalam mata kuliah filsafat jangan di mata kuliah yang serius seperti kalkulus. Contoh ketiga perhatikan kemampuan orang yang kita ajak berfilsafat. Berfilsafatlah dengan orang yang mengenal ilmu filsafat bukan dengan tukang sayur di kampung atau penjual pecel di pasar.
    Selanjutnya saya akan mencoba menjawab pertanyaan no.4 dari saudara Samsul Feri Apriyadi tentang bagaimana filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian? Sesungguhnya filsafat itu adalah olah pikir, dengan kata lain adalah hal yang ada di pikiran kita begitu pula dengan sesuatu yang pasti hanya ada di dalam pikiran kita atau hanya yang telah terjadi atau takdir. Dengan kata lain menurut filsafat jika kehidupan di dunia nyata penuh dengan ketidakpastian itu hal yang wajar. Karena kita hanya dapat menciptakan kepastian di dalam pikiran kita atau kita hanya dapat menemi kepastian itu setelah hal itu terjadi alias sudah takdir.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  7. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Mohon maaf sebelumnya Pak, saya ingin mencoba menyampaikan pendapat saya mengenai pertanyaan point 1 yaitu mengenai bagaimana menyeimbangkan antara adat dan agama. Dan dalam hal ini saya memandang dari sudut pandang adat Minangkabau.
    Menurut saya, jika memperbincangkan adat berarti kita telah dihadapkan kedalam suatu lingkaran yang luas dan kompleks, karena adat itu sendiri telah mencakup semua aspek kehidupan dalam masyarakat (Minangkabau). Falsafah adat Minangkabau itu sendiri adalah “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”, atau “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah”.
    Jika diartikan kata per kata, “adat” bermakna peraturan, “sandi/sendi” bermakna landasan, “syara’” bermakna kumpulan buku-buku Islam, dan “kitabullah” bermakna kitab Allah SWT yang diturunkan kepada rasul-Nya. Jadi dari falsafah adat Minangkabau ini dapat kita lihat hubungan antara adat dengan agama, bahwa aturan-aturan yang terdapat dalam adat minangkabau berada dibawah syariat Islam.
    Dengan kata lain, jika masyarakat Minangkabau telah benar-benar menerapkan dan mengamalkan “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”, maka berjalanlah syariat Islam ditengah-tengah masyarakat Minangkabau.

    ReplyDelete
  8. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini sya akan mencoba berpendapat mengenai pertanyaan no 1, bagaimana memnyeimbangkan adat dan agama. Menurut saya, agama adalah urusan manusia dengan Tuhan dan adat adalah urusan manusia dengan manusia. Kita harus menyeimbangkan keduanya, namun dalam hal ini tentu saja berbeda antara seseorang dan orang lainnya, hal ini disebabkan prioritas satu orang dan orang lain terhadap agama dan adat berbeda. Karena itu, penyeimbangan yang bisa dilakukan adalah menyelaraskan hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia, jika menitik beratkan pada satu sisi, maka akan tidak seimbang. Namun, menurut saya kadang kita bisa hidup dalam ketidakseimbangan, karena sesuai dengan prioritas hidup kita yang lebih memilih pada satu komponen saja.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Disini saya tertarik dengan pertanyaan dari bapak Samsul Feri Apriyadi “Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian?”. Hidup itu memang penuh dengan ketidakpastian, akan tetapi ada sesuatu yang pasti yaitu “Bapak Samsul menanyakan Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian” adalah suatu kepastian, dan “saya (angga) tertarik dengan pertanyaan ini adalah suatu kepastian” mirip dengan filsafat dasar dari Rene Descartes bahwa dia meragukan semua hal, dan dia hanya meyakini satu kepastian yaitu dirinya yang meragukan kesemua hal. Lalu untuk mengenai kehidupan berikut ada beberapa tips dari Immanuel Kant untuk kebahagiaan hidup (Hardiman, 2007:153):
    1) Tak seorang pun dapat memaksaku untuk bahagia menurut caranya
    2) Kebahagiaan tak terdapat di manapun di dunia ini. Yang dapat dimenangkan oleh manusia hanyalah kehormatan untuk berbahagia
    3) Orang mengenyangkan hasrat tidak lewat cinta, melainkan lewat perkawinan
    4) Pria itu mudah untuk diteliti, tetapi wanita tidak menyikap rahasianya
    5) Barang siapa tidak bekerja akan menderita kebosanan dan paling-paling dibius hal yang menyenangkan dan lelah, tetapi tak akan pernah sekalipun merasa segar dan puas
    6) Kemiskinan tidak boleh dibuat menjadi alat mata pencaharian bagi orang-orang malas.

    Terimaksih banyak Pak.

    ReplyDelete
  10. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Mengenai pertanyaan pertama, yaitu 'Bagaimana menyeimbangkan agama dan adat?'. Menurut saya tidak perlu bagi kita untuk menyeimbangkan agama dengan adat. Agama telah sempurna diciptakan Tuhan, sesempurna penciptaan manusia sendiri sehingga agama tidak perlu tambahan dari luar, baik dari adat, kebiasaan, budaya maupun tradisi setempat. Justru adat lah yang harus menyesuaikan standar agama. Selayaknya hanya kebiasaan adat yang tidak bertentangan dengan agama saja yang diikuti.

    ReplyDelete
  11. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PMA

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 1 dari Furintasari "Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama" sesuai dengan sudut pandang saya miliki.

    Adat sangat lekat dengan tradisi. Apalagi saya berasal dari Jawa yang pasti berhubungan dengan tradisi jawa. Dimana di dalam tradisi tersebut pasti terdapat Uborampe (sesajen) disetiap kegiatan keagaaman. katakanlah bunga setaman dan pisang raja pasti saya dapati di setiap acara keagamaan. Sehingga penting bagi kita menyadari keberagaman yang ada. Di sisi lain, manusia juga harus melestarikan adat dan budaya yang berkembang, namun tetap tidak meninggalkan ke-Islaman.
    Haruslah memiliki batasan-batasan dalam berpikir dan bertindak sehingga aqidah tidak goyah.

    ReplyDelete
  12. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3 "Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat? " Saya akan berpendapat dengan sudut pandang saya. Menurut saya agar seseorang bersemangat dalam menjalani kehidupannya sehari-hari maka harus selalu bersyukur atas nikmat hari-hari yang sudah di dapat. Dan selalu menjalani hari hari dengan ikhlas. Insya Allah jikalau kita ikhlas mengerjakannya, maka kita akan selalu semangat dalam menjalani kehidupan ini. Lalu bagaimana agar dalam menjalani kehidupan selalu bermanfaat. Intinya jika kita mendekatkan diri kepada Allah maka, diri kita akan ingin berbuat yang baik-baik. Yang bermanfaat untuk orang lain. Ketika kita menjadi sesuatu yang bermanfaat maka, Allah akan membalas berkali lipat kepada kita atas kebaikan yang bermanfaat tadi.

    ReplyDelete
  13. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Saya tertarik menanggapi pertanyaan bagaimana menanggulangi pengaruh kehidupan kontemporer yang negatif menurut sudut pandang Filsafat. Kehidupan kontemporer yang menyuguhkan berbagai teknologi canggih, budaya serba instan, dan juga hiburan tidak bisa kita hindari. Padahal hal-hal tersebut banyak memberikan pengaruh yang negatif kepada kita. Terlebih jika kita tidak mampu untuk mengendalikan diri. Namun, kita bisa meminimalisir dampak negatif dari kehidupan kontemporer ini. Misalnya dengan menggunakan teknologi secara bijak, jangan sampai hal tersebut membuat kita lupa akan kehidupan spiritualitas kita. Kita bisa manfaatkan kelebihannya, menggunakan sesuai dengan fungsinya secara maksimal untuk hal-hal yang positif. Akan lebih baik lagi bila segala kecanggihan yang ditawarkan bisa kita gunakan untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Maka mohon pertolongan Allah agar kita senantiasa ditunjukkan jalan yang benar dan di ridhoi oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  14. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya mencoba memberi tanggapan untuk pertanyaan nomor 1. Adat dan agama menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan di negara kita. Berbagai macam suku dan budaya menjadi salah satu dominan sehingga kita harus bisa menyeimbangkan antara adat dan agama. Menurut saya, cara menyeimbangkan kedua hal itu adalah dengan melakukan keduanya sesuai dengan proporsinya, jangan mencampur adukkan hal yang tidak semestinya dan menghargai perbedaan baik adat amupun agama. Banyak orang berpikiran bahwa adata dan agama itu saling bertentangan, namun menurut saya hal ini tidak sepenuhnya benar jika kita cerdas dalam menhyikapinya. Jadi, kita harus berusahan melakukan adat yang tidak bertentangan dengan agama, jangan sebaliknya membenturkan adat dan agama.

    ReplyDelete
  15. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari Fitratul Wulan Fatmasuci, “Bagaimanakah kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh semangat dan manfaat?”
    kiat-kiat agar seseorang hari-hari nya penuh semangat menurut versi saya yaitu mulai dari bangun tidur dipagi hari kita meniatkan semua hal yang akan kita lakukan hari ini, memotivasi diri dengan mengingat kedua orang tua kemudian menjalani segala sesuatunya dengan hati yang ikhlas dan selalu bersyukur.

    ReplyDelete
  16. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Assalamu'alaikum
    Terima kasih Pak atas sharing seputar tanya jawab filsafat. Saya tertarik dengan pertanyaan nomor 1 "Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama". Islam datang sebagai agama yang menetapkan boleh tidaknya adat diamalkan karena dalam Islam sudah jelas mana yang halal dan haram. Jika adat merupakan kebiasaan buruk dan bertentangan dengan Islam maka harus dibuang, sementara jika adat yang baik dan tidak bertentangan dengan Islam maka masih boleh diamalkan/dijalankan.
    Jika agama ini berdasarkan adat maka sungguh tidak akan ada lagi yang tersisa dari agama, karena adat merupakan tradisi yg diciptakan atau kreasi manusia, sedangkan agama adalah ciptaan Allah swt, sesuatu yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

    ReplyDelete
  17. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Pertanyaan nomor 4 sangat menarik, yaitu bagaimana filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian. Secara umum saya merasa tidak ada hal yang pasti di dunia ini, kecuali telah ditetapkan oleh Allah SWT. Namun untuk mengetahui apa bentuk ketetapanNya pun kita sebagai manusia tidak berhak. Saya memandang hidup yang penuh dengan ketidakpastian sebagai tantangan yang akan menuntun kita pada suatu kepastian, yang akan kita dapatkan setelah melalui suatu proses. Bukankah hidup adalah upaya memperoleh apa yang menjadi tujuan hidup kita? Jika memahami tujuan dan usaha yang kita lalui maka seharusnya ketidakpastian tersebut bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ya, hidup memang tidak pasti, untuk itulah muslim selalu mengucapkan Inshaallah pada setiap hal yang akan dilakukan, karena tidak ada yang bisa menjamin sesuatu dapat terjadi sesuai kehendak kita. Dalam bahasa yang sederhana, tidak ada yang pasti. Maka ketidakpastian, adalah bagian dari hidup yang satu persatu akan kita lalui seiring berjalannya waktu.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    1. Menurut saya, antara adat dan agama itu bisa saling berkesinambungan. Namun, antara adat dan agama menurut saya adatlah yang ada dahulu baru disusul agama (yang memiliki aturan dari sang kholiq). Namun, antara adat dan agama bisa saling berhubungan dengan yang lainnya, yaitu seperti yang dilakukan oleh para wali sanga dengan memasukan unsur agama dalam adat yang biasa mereka lakukan. Secara perlahan adat yang dibumbui unsur agama akan diterima oleh masyarakat karena tidak menghilangkan adat mereka dan menghargai adat mereka.
    2. Menerapkan filsafat secara bijaksana menurut saya untuk kalangan saya seabagai mahasiswa masih terlalu rumit. Karena, masih belajar filsafat, jadi ke egoan dan ke subyetivitasan kita masih tinggi. Oleh karena itu, hilangkan segala hal yang menyangkut ke egoan kita agar bisa menerapkan filsafat secara bijaksana.
    3. Selalu bersyukur dan semangat menuju Ridho Alloh SWT. Karena menurut saya, hal yang membuat kita semangat menjalani hidup adalah kita memiliki acuan atau target yang ingin kita peroleh.
    4. Kehidupan aslinya memiliki kepastian. Namun, karena kita yang tidak mengetahuinya kita beranggapan sesuatu tersebut tidak pasti. Seperti takdir misalnya, kita diberikan takdir dan kita disuruh memilik. Jika kita memilih jalan ini pasti takdir ke sini, jika memilih takdir yang itu maka takdir ke situ, dan seterusnya. Jadi, hidup itu pasti namun kita saja yang berfikir bahwa hidup itu bukan sesuatu yang pasti.
    5. Guru adalah dewanya siswa, sehingga guru merupakan paralogosnya siswa. Oleh karena itu, agar memahami siswa, kita harus berfikir sesuai dengan logika siswa serta memperhatikan metafisik siswa tersebut.
    6. Jangan selalu mengandalkan fikiran kita dalam mengikuti sesuatu, selain diimbangi dengan hati namun juga dengan doa yang ikhlas.

    ReplyDelete
  19. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Maaf sebelumnya pak Prof, saya akan sedikit mencoba menjawab pertanyaan no 1 diatas, Bagaimana cara menyeimbangkan antara adat dan agama? Memang pada dasarnya antara adat dan agama mempunyai hubungan yang sangat erat, namun pembiasaan dalam adat juga harus di landasi oleh agama, karena jika adat tidak dikorelasikan dengan agama bisa membentuk manusia yang salah dalam hidup beragama. Adat adalah suatu perlakuan yang timbul akibat kebiasaan yang dilakukan secara turun menurun dari kepercayaan nenek moyang yang mengandung nilai moral dan budaya. Yang terkadang membentuk pola mitos yang harus dibuktikan dulu kebenarannya, sehingga disinilah pentingnya peranan konsep agama untuk menjadi batas diri dalam menafsirkan setiap kebiasaan yang dilakukan. Agar apa yang dilakukan tidak bertentangan dan berdampak negatif jika ditinjau dari sudut pandang keagamaan.

    ReplyDelete
  20. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Pertanyaan ini,

    "Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama" (Furnitasari)

    Bingung juga menjawabnya. Mari kita berdiskusi. Adat dan agama, bagaimana menyeimbangkannya? Menurut saya yang harus diseimbangkan bukan adatnya atau agamanya, bukan adat dan agamanya. Tapi yang harus mawas diri dan seimbang adalah kita, manusianya. Menyusun kehidupan yang seimbang, dimulai dari diri sendiri. Kenapa harus manusianya yang seimbang? Karena manusia dibekali akal pikir dan nurani. Saya rasa, dengan bekal tersebut manusia mapu menempatkan diri pada adat dan agama yang dijalaninya.

    ReplyDelete
  21. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya tertarik dengan pertannyaaan bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksana.Berawal dari pengertian filsafat.Filsafat berasal dari dua patah kata bahasa Yunani, yaitu “philos” dan “sopia”.Secara etimologis. Philos berarti cinta (loving) dalam bahasa inggris, sedangkan shopia berarti kebijaksanaan (wisdom dalam bahasa inggris), atau kepahaman yang mendalam.Jadi pengertian filsafat menurut bahasa aslinya adalah “ cinta pada kebijaksnaan”Sebagaiman yang seringkali dipaparkan sebelumnya bahwa sebanar-benar filsafat adalah dirimu sendiri.Filsafat adalah proses berpikir.Dan landasan pikiran adalah hati.Jika pikiran kacau tidak mengapa yang penting hati tidak kacau.Jangan sampai lepas landas.Dan jangan lupa beriktiar dan berdo’a untuk mendapatkan ridho dari Allah.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  22. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya tertarik untuk menanggapai pertanyaan “bagaimana menyeimbangkan agama dan budaya”. Seperti yang kita ketahi bahwa budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi sedangkan agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sangat penting untuk menjaga budaya yang “baik” namun adalah pula budaya yang menuju ke arah negatif. Dsinilah agama memberikan petunjuk bagia manusia untuk menilai yang baik dan yang buruk. Jangan sampai budaya memanifestasi agama karena agama adalah kepercayaan yang berasal dari yang Kuasa.

    ReplyDelete
  23. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Dengan keterbatasan yang saya miliki, sebelumnya izinkan saya untuk menjawab pertanyaan dari saudara Samsul Feri Apriyadi tentang Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian.
    Bagi saya, filsafat bukanlah persoalan memikirkan kehidupan, filsafat bukanlah bagaimana cara membaca buku filsafat, bagi saya filsafat adalah tentang menghidupkan pikiran. Ketidakpastian atau kepastian bukanlah akhir dari temuan berfilsafat. Hanya dengan mempertanyakan dan berani untuk menghidupkan pikiran maka itulah yang dikatakan filsafat. Bagi saya, filsafat berbeda dengan cabang ilmu lain yang mencari titik ideal atau kebenaran dari cabang ilmu tersebut. Filsafat adalah soal mempertentangkan dalil-dalil filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  24. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Sangat menarik menyimak beberapa pertanyaan filsafat ini, saya tertarik untuk menyampaikan pendapat mengenai bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat?
    Menurut pemikiran saya, menjadi bermanfaat adalah ketika kita mampu memberikan sesuatu yang positif kepada orang lain maupun lingkungan disekitar kita. Tentu tidak harus selalu dengan sesuatu yang besar, bisa dengan hal-hal kecil sesuai dengan kemampuan kita. Memberikan nasihat yang baik, memberikan senyum yang tulus ikhlas, memberikan semangat atau motivasi, berkomunikasi dengan baik dan menyenangkan, termasuk bagian dari proses kita menjadi bermanfaat. Nah untuk dapat melakukannya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kita harus mengatur dalam benak kita bahwa apa yang kita miliki saat ini, apa yang membuat kita bahagia, adalah hasil pemberian. Dengan demikian, apakah kita akan terus menjadi penerima? Tentu menjadi pemberi akan jauh lebih mulia. Kedua kita harus selalu ikhlas hati dan pikir. Dengan keikhlasan tersebut, tentu saja kita akan menjadi lebih bersemangat untuk terus bermanfaat.

    ReplyDelete
  25. BUlan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Saya tertarik untuk mencoba menyampaikan pandangan saya tentang persoalan bagaimana agar kehidupan yang kita jalani bermanfaat dan penuh semangat. Sebenarnya kesemua hal yang kita ingin temukan jawabannya, jawaban itu sendiri telah ada dalam diri kita. namun kita menolak untuk menerimanya karena kita merasa jawaban hati kita tersebut bukan hal yang benar atau dalam kata lain kita masih memiliki keraguan atas diri kita sendiri. Padahal segala sesuatu berangkat dari dalam diri, maka percayalah pada kemampuan diri sendiri. Karena meskipun banyak motivasi atau dorongan yang kita peroleh, kalau hati enggan menerimanya maka itu semua tidak berarti.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika
    Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Bagaimana menanggulangi pengaruh kehidupan kontemporer yang negatif, menurut sudut pandang Filsafat?
    Menurut saya dalam blog ini juga telah banyak disampaikan hal-hal yang menjadi pengaruh komtemporer yang negatif, misalnya hedonisme dan pragmatisme. Lalu bagaimana sudut pandang filsafat?
    Menurut saya filsafat memandangnya sebagai mitos-mitos yang harus kita lawan dengan hati dan pikiran yang ikhlas dalam meraih logos yang sesungguhnya. Kita harus ikhtiar sekuat tenaga untukk tidak berlaku hedonisme dan pragmatisme.

    ReplyDelete
  27. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan agama?
    Menurut saya hakikat yang tertinggi dalam hidup ini adalah agama. Karena agama berasal dari sang pencipta, sedangkan adat adalah kebiasaan yang dibuat oleh manusia. Maka yang perlu diutamakan adalah agama terlebih dahulu. Adat yang menyimpang dari ajaran agama lebih baik tidak perlu diikuti.

    ReplyDelete
  28. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat?
    Agar hari-hari penuh semangat maka seseorang itu harus menetapkan tujuan hidup, terutama apa target-target yang ingin dicapai pada hari ini. Agar hari penuh manfaat maka setiap kegiatan yang dilaksanakan setiap harinya harus positif. Kerjakan yang bisa dikerjakan sekarang, karena jika ditunda-tunda maka akan bertumpuk-tumpuk dengan pekerjaan yang akan datang.

    ReplyDelete
  29. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksana? Menerapkan filsafat secara bijaksana adalah dengan menyadari bahwa filsafat adalah dirimu sendiri. Apa yang kamu pikirkan adalah siapa dirimu sebenarnya. Untuk itu jadilah diri sendiri yang selalu berada pada pedoman-pedoman agama dalam berfilsafat maupun melakukan kegiatan lainnya.

    ReplyDelete
  30. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Bagaimana menerapkan Filsafat secara bijaksana?
    Filsafat itu cara berpikir. Filsafat itu mengenai yang ada dan yang mungkin ada. Filsaat itu mengenai tesis dan antitesis kemudian disintesa apakan menjadi baik atau menjadi buruk atau bukan baik atau bukan buruk. Filsafat menuntun untuk berpikiran luas dari semua sudut. Filsat mengajarkan adil untuk berpikir. Sehingga, menerapkan filsafat dengan bijaksana itu dengan cara ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  31. Junianto
    17709251065
    PM C

    44. Saya mencoba menanggapi pertanyaan nomor 3 tentang bagaimana kiat-kiat agar hari-hari penuh dengan semangat dan manfaat. Setiap manusia tentu punya arah dan tujuan dalam hidupnya. Manusia mempunyai cita-cita yang berusaha dicapai dimasa mendatang. Inilah yang akan menjadi pemicu semangat dalam hidup. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial dan perlu diyakini bahwa apa yang kita dapatkan akan berbanding lurus dengan apa yang kita berikan. Maka dari itu, jika hidup kita ingin dipenuhi dengan manfaat maka kita harus selalu menebar kebermanfaatan di dunia. Jika manusia mampu memberikan manfaat bagi orang lain, maka manfaat itu sejatinya akan kembali kepadanya pula.

    ReplyDelete
  32. Saya mencoba memberikan tanggapan pertanyaan nomor 2 berkaitan dengan bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksana. Tentu saya menanggapinya dengan pemahaman yang saya ketahui. Filsafat adalah meliputi segala hal dalam kehidupan, sehingga kebijaksanaan dalam penerapannya pun meliputi berbagai aspek kehidupan. Menempatkan segala sesuatu sesuai dengan porsinya masing-masing dan melakukan amanah/ tugas sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku bisa dijadikan sebagai salah satu cara melaksanakan filsafat dengan bijaksana. Maka dari itu, menurut saya bersikap proposrsinal dan tidak berlebihan dalam segala hal merupakan salah satu cara menerapkan filsafat secara bijaksana.

    ReplyDelete
  33. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Mohon izin untuk berbagi pendapat prof
    2. Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat?
    Dengan bersyukur, mengingat setiap kenikmatan, kebaikan dan kesempatan yang tidak Allah berikan pada selain kita akan membuat kita semangat dalam menjalani hidup. Dengan menyelesaikan setiap urusan kita dengan Allah (beribadah) juga akan memberikan energy bagi kita dalam menjalani hidup. Dengan membaca firman-firman Allah dalam kitab-Nya juga akan memberikan energy bagi kita, sebagaimana kata seorang ulama Mesir bahwa dalam Al-Quran mengalir ruh-ruh perjuangan

    ReplyDelete
  34. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Mohon izin untuk berbagi pendapat prof
    2. Bagaimana menerapkan Filsafat secara bijaksana?
    Menerapkan filsafat secara bijaksana adalah dengan tidak memaksakan filsafat kita kepada orang lain. karena sebenar-benar filsafat adalah filsafatmu sendiri.

    ReplyDelete
  35. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Mohon izin untuk berbagi pendapat prof
    1. Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama?
    Menurut saya, menyeimbangkan antara adat dan agama adalah dengan tidak mempertarungkannya dan dengan mencari titik temunya. adat adalah kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun, sehingga ia pasti memiliki sejarah. sejarah berlakunya sebuah adat inilah yang perlu kita pelajari, karena beberapa adat merupakan sebuah cara memasukkan agama ke dalam kehidupan masyarakat. hanya terkadang proses tersebut belum selesai karena ditengah jalan ulama/wali meninggal dunia terlebih dahulu

    ReplyDelete
  36. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya mencoba menjawab pertanyaan “Bagaimana Filsafat memandang kehidupan yang penuh ketidakpastian?”. Semua di dunia ini itu tidak pasti. Hanya Allah yang mengetahui kehidupan ini secara pasti. Sebagai manusia, memiliki pikiran yang positif itu sangat perlu. Berhusnudzon kepada Allah itu wajib hukumnya. Apapun yang dikehendaki Allah, itu adalah yang terbaik versi Allah. karena Allah Maha Tahu dan Bijaksana. Musibah, Kebahagiaan, ataupun yang lain itu adalah cobaan yang diberikan kepada manusia. Sebagai manusia, kita hanya berusaha dan berdoa. Menurut kita tidak baik, menurut Allah itu baik untuk kita. Hanya saja kita harus memandang apapun keadaan itu dengan sudut pandang yang positif.

    ReplyDelete
  37. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Saya mencoba menjawab pertanyaan dari Furintasari yang bertanya :Bagaimana menyeimbangkan antara adat dan Agama? Menurut saya antara adat dan Agama bisa seimbang bahkan saling mendukung. Salah Seorang wali kita (senan Kalijaga) telah membuktikan itu, beliau menyebarkan agama dengan kesenian pemasangan, dan dari segi penampilan (berdasarkan cerita dan film) beliau selalu menggunakan pakaian adat jawa. Namun jika kita lihat kondisi saat ini banyak sekali adat yang tidak seimbang dengan agama (dalam hal ini agama islam), ini terjadi karena beberapa sebab salah satunya karena adat kita sudah dipengaruhi oleh budaya barat, seperti contohnya adat nyongkolan di Lombok, yang dulunya masih seimbang dengan agama sekarang sudah mulai kebarat-baratan baik dari segi pakaian maupun tarian ya.

    ReplyDelete
  38. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Untuk pertanyaan kedua, bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksana, salah satu yang mungkin adalah dengan mengingat metafisik. Melihat apa yang Ada di balik segala yang Ada dan yang mungkin ada. Pak Marsigit telah membekali Kita dengan pengalaman nolisasi, yang saya refleksikan sebagai peringatan sepanjang hidup, agar Kita tidak merasa paling hebat, paling tahu, benar, day. Di atas langit masih ada langit. Dan cobalah melihat apa yang ada di balik sesuatu pengalaman atau apa yang Kita lihat. Dengan demikian kita tidak serta merta membuat penilaian tentang sesuatu hal. Berhati-hati dalam menginterpretasi-berhermenetika dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  39. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya mencoba memberikan pendapat saya mengenai pertanyaan nomor 2 yaitu tentang bagaimana menerapkan filsafat secara bijaksana. Berfilsafat artinya melakukan yang dipikirkan dan memikirkan yang dilakukan. Orang yang belajar filsafat artinya memandang yang ada secara berhirarki mulai dari material, formal, normatif dan spiritual. Cara pandang tersebut tentunya akan disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Oleh karena itu menurut saya berfilsafat dengan bijaksana adalah kita mampu membaca ruang dan waktu sehingga tahu memandang sesuatu dari dimensi yang mana.

    ReplyDelete
  40. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, Saya akan mencoba menjawab pertanyaan “bagaimana menanggulangi pengaruh kehidupan kontemporer yang negatif, menurut sudut pandang filsafat?”
    Jawab:
    Semua yang ada dan yang mungkin ada adalah potensi. Manusia adalah potensi. Potensi yang satu menghasilkan potensi yang lain. Ketika potensi itu mampu dikendalikan sesuai ruang dan waktunya, pengaruh dari luar pun dapat terkendali dan perlahan jargon keburukan pun dapat dikalahkan sedikit demi sedikit. Maka, hendaklah manusia itu mampu berhermeneutika, terutama hermeneutika hidup. Ketika manusia sudah mampu mengenali dan menafsirkan untuk apa hidupnya dan apa yang hars dia lakukan dalam hidupnya, maka jargon kebaikan pun akan menguasai dirinya. Ada dan hidup di jaman kontemporer/ masa kini memang tidak lah mudah. Karena mengada adalah hakikat hidup, maka setiap saat kita adalah pengada. Sekarang kita diminta memilih. Memilih untuk sebagai pengada yang buruk atau yang baik, memilih hidup dalam dunia kegelapan tanpa keberkahan, atau sebaliknya. Memang, sejak kecil intuisilah yang menjadikan kita berpengetahuan dasar. Namun, seiring berjalannya waktu akan ada banyak hal yang mampu kita korelasikan dari abstrak dan nyata, terutama pada perilaku dan tindakan sehari-hari. Semoga kita mampu menahan nafsu buruk selama kita hidup di jaman kontemporer ini agar kita terhindar dari pengaruh yang dapat menjerumuskan dan menyia-nyiakan hidup kita. Amin.

    ReplyDelete
  41. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Bismillahirrahmanirrahim..
    saya tertarik menjawab pertanyaan dari saudari Fitratul Wulan Fatmasuci tentang Bagaimana kiat-kiat seseorang agar hari-harinya penuh dengan semangat dan manfaat?. orang akan bersemangat menjalani apapun ketika ia memiliki tujuan, tujuan hidup, target mimpi-mimpi. karena dengan begitu manusia akan tau arah kemana ia melangkah. dan jika ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain gunakan lah kelebihan mu untuk membantu teman teman yang ada disekitarmu. misalnya kamu jago dalam menulis maka tulislah hal-hal yang bermanfaat bagi sang pembaca. kamu jago dalam hal pelajaran maka bantulah teman temanmu dalam menyelesaikan kesulitannya pada pembelajaran tersebut.
    demikianlah jika ada kata-kata yang salah saya mohon maaf. allahu'alam..

    ReplyDelete
  42. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Menurut saya dalam blog ini juga telah banyak disampaikan hal-hal yang menjadi pengaruh komtemporer yang negatif, misalnya hedonisme dan pragmatisme. Lalu bagaimana sudut pandang filsafat? Menurut saya filsafat memandangnya sebagai mitos-mitos yang harus kita lawan dengan hati dan pikiran yang ikhlas dalam meraih logos yang sesungguhnya. Kita harus ikhtiar sekuat tenaga untukk tidak berlaku hedonisme dan pragmatisme.

    ReplyDelete
  43. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menanggapi soal no 2, belajar filsafat sangat erat kaitannya dengan kebijaksanaan. Belajar filsafat bisa membantu seseorang untuk cekatan dalam mengatasi masalah kehidupan, karena di filsafat dituntut selalu berpikir kritis. Dengan berfilsafat maka akan membantu kemampuan kita dalam memahami sesuatu atau pandangan orang lain, sehingga kita menjadi bijak dalam memandang sudut pandang yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  44. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B
    Menanggapi pertanyaan yang pertama, bagaimana menyeimbangkan antara dan agama? Negara Indonesia memiliki banyak pulau dan setiap pulau pasti memiliki adat yang beragam. Jangankan setiap pulau, setiap provinsi di Indonesia memiliki adat yang sangat beragam. Di Indonesia juga mengakui lima agama. Setiap agama pasti mengajarkan untuk berhubungan baik dengan Tuhan dan sesama manusia (manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia). Setiap individu harus bisa menyikapi adanya beragam agama dan adat dengan cara mengedepankan toleransi. Sebab setiap individu memiliki kepercayaan masing-masing kepada Tuhan dan menjunjung tinggi adat istiadat daerahnya sebab agama dan adat harus berjalan beriringan. Hal ini dikarenakan, manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan satu dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  45. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Saya akan mencoba mejawab pertanyaan nomor 5, yaitu bagaimana memahami karakteristik siswa dalam pbm matematika menurut sudut pandang filsafat. Filsafat adalah dasarnya ilmu, sehingga setiap guru yang mempunyai ilmu dalam memahami karakteristik siswa yang bervariasi dan bisa mengolah kelas pbm matematika dengan baik, maka guru itu bisa dianggap bisa berfilsafat. Dalam memahami karakteristik siswa, guru atau pengajar harus memahami dulu dunia dan pemikiran siswa. Untuk lebih mengetahui karakteristik siswa, maka guru harus mengawasi dan memperhatikan siswa kegiatan pbm.

    ReplyDelete
  46. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan "Bagaimana menerapkan filsafat secara bijakasana?". Dari hasil yang saya dapatkan saat kuliah dgn prof marsigit, saya tau bahwa ketika bersilfat hendaknya kita memperhatikan ruang dan waktunya. Jangan sampai kita berbicara dengan orang yang tidak mengerti filsafat, karena cara berpikir filsafat berbeda dengan orang awam. Misalnya ketika berhadapan dengan anak SD jangan kita menjelaskan bahwa 2 tidak sama dengan 2, atau ketika ada orang asing yang bertanya jam berapa, maka jangan dijawab dengan jam berjalan, jika tidak mau dicap sebagai orang aneh.

    ReplyDelete