Nov 8, 2014

Peta 4- Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest



Ass Wr Wb, jika ingin mengetahui bentuk, posisi atau keadaan Pendidikan di Indonesia dan hubungannya dengan apa yang terjadi di Dunia, kita dapat menggunakan Peta/Bagan atau Tabel berikut (bagian ke 4).


Catatan: Tiga kolom sebelah kiri meliputi: Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, penerapan Pendidikan bersifat Tradisional/Conventional, dan menerapkan sistem Evaluasi bersifat Exernal (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS), dan dengan demikian lebih menyukai sistem sentralisasi. Sedangkan dua kolom sebelah kanan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, dan demikian lebih menyukai bersistem Desentralisasi.Di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan, itulah sebabnya setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek; sehingga menjadikannya bersifat Tumpul ketika berjuang di tataran Dunia.

33 comments:

  1. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Pengelolaan pendidikan yang baik akan menghasilkan Indonesia yang baru.Desentralisasi pendidikan merupakan suatu keharusan jika kita ingin cepat mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Melalui pendidkan yang demokratis akan melahirkan masyarakat yang kritis dan bertanggung jawab.
    Masyarakat yang demokratis akan mampu menciptakan masyarakat madani yaitu masyarakat yang berbudaya tinggi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang mana sangat menghargai hak-hak asasi manusia.
    Desentralisasi pendidikan perlu dijaga dari kemungkinan –kemungkinan terjadi hal-hal negatif seperti desentralisasi kebablasan, misalnya penyerahan tanggung jawab pendidikan kepada daerah for the sake of autonomy.

    ReplyDelete
  2. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Hal yang kami (saya) pelajari dari tabel di atas adalah bahwa pendidikan kita sejauh yang saya pahami dari yang saya dengar dari guru-guru yang pernah saya temui. Berdasarkan tabel yang keempat ini pembelajaran matematika sampai saat ini memang masih didominasi dengan pemanfaatan Papan tulis dan spidol, pemanfaatan alat peraga, pemanfaatan visualisasi, serta pula penggunaan kalkulator masih sangat dibatasi, sedangkan untuk evaluasi masih tetap diberlakukan UN , serta kurikulum kita pada dasarnya berbasis kompetensi yaitu kompetensi inti dan kompetensi dasar. Sehingga dari sisi resource, evaluation dan diversity pendidikan matematika kita masih berada pada Indusrial Trainer, Technological Pragmatis dan Old Humanis

    ReplyDelete
  3. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Berdasarkan peta pendidikan dunia bagian keempat ini terlihat bagaimana posisi pendidikan di Indonesia dan perbandingannya dengan pendidikan dunia. Dari tabel tersebut terlihat pendidikan indonesia berada pada industrial trainer, technological pragmatist, dan old humanist. Dari segi resources, pendidikan di Indonesia memang didominasi penggunaan papan tulis dan kapur atau spidol, belum memanfaatkan teknologi dan media dengan optimal. Dari segi evaluation, pendidikan di Indonesia menerapkan sistem external test dengan pelaksanaan ujian nasional (UN). Dengan demikian, diharapkan pendidikan di Indonesia bisa berkembang lebih jauh lagi, terutama dalam pemanfaatan media dan teknologi.

    ReplyDelete
  4. Junianto
    17709251065
    PM C

    Adanya sistem kelulusan dengan nilai UN memang bisa untuk mengetahui kemampuan siswa. Tetapi hanya untuk kemampuan kognitif saja. mungkin masalah ini sudah sering kita dengar dan terjadi polemik berkepanjangan di sekitar kita. Ada yang setuju dan ada yang menolak. Sebenarnya, semua tergantung bagaimana sikap dan tindakan kita. Jika kita mampu bersikap bijak dan menghargai perbedaan mungkin masalah ini bisa sedikit teratasi. Namun, sekali lagi UN seharusnya bukanlah satu-satuanya alat ukur kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  5. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Terima kasih prof atas informasi yang diberikan. Dalam peta pendidikan dunia ini dari Paul Ernest, Paul ernest menunjukkan kepada kita tentang pandangan Pelatih Industri, pragmatis teknologi, humanis lama, pendidik progresif dan pendidik publik tentang sumber daya, evaluasi, dan keragaman. Pandangan Pelatih industri, Pragmatis Teknologi, dan humanis lama tentang sumber daya hanyalah papan tulis, pantang menggunakan, alat bantu pengajaran, dan bantuan pengajaran visual untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Menurut pendidik progresif dan pendidik publik, sumber dayanya adalah berbagai sumber daya / lingkungan dan lingkungan sosial. Saya setuju dengan itu, sumbernya tidak hanya itu tapi juga segala sesuatu di sekitar kita bisa menjadi sumber belajar.

    ReplyDelete
  6. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Sistem pendidikan di Indonesia menginginkan perubahan paradigma pembelajaran inovatif dengan berdasarkan konstruktivisme. Namun, sistem tersebut belum secara utuh untuk mengarah ke perubahan. Mestinya jika memang menginginkan pembelajaran yang inovatif, kita perlu mengubah penilaian berupa asesmen autentik. Bukan hanya hasil akhir tetapi juga menilai proses dan sikap. Hal ini membuat adanya ketidakjelasan identitas pendidikan kita, dan juga ketidakjelasan mau dibawa kemana pendidikan kita. Namun, ini memang bukan persoalan yang mudah karena kita tengah mengalami krisis multidimensi yang disebabkan oleh kehidupan kontemporer.

    ReplyDelete
  7. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sistem pendidikan di Indonesia cenderung bersifat "ancaman" bagi siswa, guru, dan sekolah. Sekolah di ranking berdasarkan perolehan nilai UN, guru dituntut menghasilkan nilai sempurna untuk UN setiap mata pelajaran, sehingga pembelajaran di sekolah tidak lagi kondusif pada masa-masa mendekati UN. Adanya sentralisasi membuat seluruh aspek bersaing untuk terlihat bagus, bukan bersaing untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Aspek di kanan tabel dengan penilaian jangkan panjang berupa portofolio lebih mewakili aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dengan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, tidak kaku dan mengandalkan kognitif. Perlu diingat bahwa tidak semua siswa unggul di bidang tertentu. Aspek seni dan kreativitas siswa perlu diapresiasi lebih di Indonesia.

    ReplyDelete
  8. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dari postingan ini, saya akan memfokuskan pada resources atau sumber belajar. Di pendidikan Indonesia saat ini, sumber belajar sepertinya tidak merujuk pada satu kolom tertentu sesuai dengan peta di atas. Karena, tidak bisa dikatakan Indonesia sudah tidak menggunakan papan tulis kapur. Pada kenyataannya di sekolah-sekolah di Papua, misalnya, masih menggunakan papan tulis kapur sebagai sumber belajar, dimana guru menjadi orang yang memberikan penjelasan tentang materi di kelas. Di sekolah lain, digunakan alat peraga yang pada peta di atas disebut sebagai teaching aid. Di sekolah-sekolah kota, digunakan proyektor dan LCD yang dapat menampilkan slide powerpoint atau bahkan game interaktif dalam pembelajaran di kelas. Di sekolah lain yang menitikberatkan pada pembelajaran bermakna mungkin menggunakan benda-benda konkrit yang ada di lingkungan sekitar yang relevan dengan topik bahasan sebagai sumber belajar. Karena kini pendidikan Indonesia sedang dalam masa peralihan, maka Indonesia tidak memiliki bentuk atau struktur tertentu dalam pendidikan. Sampai saat ini, Indonesia masih berusaha mengadopsi cara-cara belajar dan sistem pendidikan negara lain yang lebih baik.

    ReplyDelete
  9. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Dari postingan ini, saya akan memfokuskan pada evaluasi pendidikann.Pada pendidikan di Indonesia Evaluasi yang diguanakan untuk mengukur kemampuan siswa yaitu menggunakan UN, Namun adanya UN ada pro dan kotra tersendiri. bebrapa orang menolak adanya UN dikarenakan membuat stres siswa, panik dll sehingga terdapat beberapa hal negatif yang timbul dari kekakutan UN. Dilihat dari evaluasi nya UN merupakan alat evaluasi yang dimiliki di Indonesia yang tarap nya nasional ada UNsendiri, dengan hal yang seperti setuju atau tidak setuju tentang UN yang dapat mengukur kemampuan siswa tetapi tidak secara keseluruhan dari kemampuan siswa. sehingga diharapkan dengan UN ini tidak menjadi patokan kelulusan siswa, tetapi sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  10. anisa safitri
    17701251038
    PEPB

    Peta 4 ini adalah lanjutan dari peta 3. Sekarang kita akan meninjau era pendidikan dunia dari segi sumber belajar, evaluasi pembelajaran, dan keanekaragaman. Pada era public educator seperti sekarang ini, sebaiknya kita berpandangan bahwa sumber belajar itu adalah lingkungan sosial. Kita harusnya bisa mengajak siswa untuk melihat dan menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan. Sedangkan untuk masalah evaluasi, sebaiknya evaluasi dilakukan dengan portofolio dan konteks sosial. Selain itu perlu disadari juga akan keanekaragaman yang ada, baik pada diri peserta didik, lingkungan pembelajaran, dsb. Pada bebrapatugas berbentuk portopolio yang dapat digunakan siswa untuk projek untuk memaju pemecahan masalah dari siswa.

    ReplyDelete
  11. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menilai kemampuan peserta didik memang sangat perlu guna mengetahui perkembangan pengetahuan mereka. Karena tujuan dari belajar akan diketahui salah satunya dengan melakukan penilaian. Seorang peserta didik dikatakan berhasil belajar jika memperoleh pengetahuan dari proses belajar sehingga yang awalnya tidak tahu menjadu tahu. Namu, polemik pendidikan di Indonesia sekarang adalah terkait dengan adanya Ujian Nasional yang dulu menjadi satu-satunya tolak ukur para peserta didik lulus sekolah maupun tidak. Sekarang tolak ukur Ujian Nasional tidak bergitu berpengaruh dalam kelulusan peserta didik. Sebab, sekolah diberi kewenangan untuk meluluskan peserta didik. Adanya Ujian Nasional sekarang guna mengetahui peta pendidikan yang ada di Indonesia. Jika saya mengatakan Ujian Nasional perlu dihapuskan, menurut saya sah-sah saja karena pemetaan pendidikan Indonesia tidak hanya dapat dilihat dari Ujian Nasional. Misal dengan penilaian dari masing-masing sekolah. Adanya Ujian Nasional dalam menentukan peta pendidikan Indonesia sebenarnya belum merata karena masih ada sekolah-sekolah yang belum mumpuni dari sumber daya guru maupun sumber bahan belajar yang dikatakan layak untuk proses pembelajaran. Selain itu, kewenangan sekolah guna meluluskan peserta didik sudah dilencengkan. Beberapa sekolah yang sebenarnya ada minimal satu peserta didik yang tidak lulus, namun karena gengsi maupun untuk meningkatkan prestasi sekolah akhirnya mereka meluluskan peserta didik. Jadi sudah melenceng dari niat pemerintah memberikan kewenangan karena mereka menganggap Ujian Nasional bukan satu-satunya alas an kita lulus, namun ada akhlaq dan yang mengetahuinya adalah sekolah masing-masing.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  12. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    UN/UNAS/EBTA/EBTANAS sebenarnya bagus untuk dijadikan bahan evaluasi penilaian terhadap peserta didik, namun bukan dijadikan sebagai tolak ukur kelulusan dan keberhasilan siswa karena keberhasilan siswa tidak bisa dinilai dalam waktu 3-7 hari masa ujian tersebut. Penilaian dilakukan mulai dari siswa masuk kesekolah sampai siswa tersebut lulus dari sekolah, barulah penilaian dikatakan otentik.

    ReplyDelete
  13. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya sangat setuju dengan pendapat bapak bahwa pendidikan sering terjadi tarik ulur karena mementingkan politik, sehingga pendidikan belum memiliki status yang jelas. Reformasi membawa perubahan disegala bidang salah satunya adalah otonomi daerah. Penerapan otonomi daerah dengan dasar dsentrealisari ini didasari oleh keinginan menciptakan demokrasi, pemerataan, dan efisiensi. Desentralisasi berimplikasi kebijakan bangsa harus berasal dari masyarakat bawah ke atas, bukan lagi dari atas ke bawah. Realitanya dalam bidang pendidikan sepertinya tidak berjalan sesuai keadaan. Kebijakan-kebijakan yang ada pada saat ini terkesan berasal dan disusun langsung oleh Dinas pendidikan tanpa memperhatikan partisipasi dari masyarakat. Padahal pendidikan yang seharusnya berpusat di masyarakat, harus untuk rakyat, sehingga harus berpedoman pada rakyat. Keterbukaan dan kesempatan untuk bertpartisipasi dalam bidang pendidikan harus dimanfaatkan dengan baik yakni dengan cara setiap mengambil kebijakan pemerintah harus menerapkan sistem botom up, yakni kebijakan yang berasal dari kondisi masyarakat (bawah ke atas).Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.
    Adanya tarik-ulur pada dua kutup sentralisasi dan desentralisasi membuat pendidikan di Indonesia kehilangan identitas bahkan bersifat temporer ataupun tumpul saat berjuang di tingkat dunia. Sungguh sangat disayangkan situasi yang seperti ini. Menurut saya ini tidak melemahkan semangat anak Indonesia untuk terus beprestasi di kancah internasional. Para educator juga terus memberikan motivasi dalam belajar kepada anak didiknya. Perlu juga ditekankan pada sistem yang inovatif di Indonesia agar dapat bersaing di dunia internasional. Sistem desentralisasi dapat diterapkan di negara Indonesia pada era sekarang dan mendatang. Mengingat pergerakan dan perkembangan teknologi pada era modern ini juga sudah sangat mendukung bidang pendidikan.

    ReplyDelete
  16. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Tabel diatas menggambarkan sistem pendidikan yang berkembang dari waktu ke waktu. Dimulai dari Industrial trainer, Technological Pragmatis, Old Humanis, Progressive educator, dan public educator. Sistem pendidikan industrial trainer, technological pragmatis, old humanis, menggambarkan sistem pendidikan yang tradisional, contohnya sumber belajar masih berupa papan tulis atau bersumber dari guru. Sedangkan sistem pembelajaran progressive educator dan public educator menggambarkan sistem pendidikan yang lebih modern, contohnya sumber belajar sudah berasal dari hal-hal yang ada di sekitar dan kehidupan sosial. Sehingga, baiknya sistem pendidikan Indonesia mengikuti sistem pendidikan yang modern yakni Progressive educator dan public educator.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  17. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk yang plural terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai macam adat istiadat yang berbeda. Kebutuhan setiap anak di setiap daerah di Indonesia tentunya berbeda. Sehingga dalam menyusun kebijakan pendidikan harusnya memperhatikan keberagaman tersebut, karena pendidikan hendaknya dapat disesuaikan dengan berbagai macam kondisi siswa.

    ReplyDelete
  18. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Indonesia termasuk ke dalam Public Educator dimana evaluasi menggunakan fortofolio, bersumber dari lingkungan sosial dengan masyarakat yang heterogen. Pembelajaran di Indonesia cocok dengan public educator, menggunakan proses berdiskusi, dengan teori pembelajaran berdiskusi dan menginvestigasi, dan melatih kemandirian, sehingga kemampuan siswa dapat terasah dan siswa dapat menjadi lebih percaya diri. Namun pada akhirnya, kesemua itu hanya akan diukur dengan UN. Banyak polemik mengenai UN ini, ada yang setuju tentunya, namun banyak pula yang menolaknya. Menurut saya, tolok ukur dari keberhasilan siswa belajar (siswa dinyatakan lulus) lebih baik tidak hanya UN saja, karena UN hanya dapat mengukur kemampuan kognitif saja.

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pelaksanaan Ujian Nasional nampaknya masih menjadi perbincangan publik dan menuai beberapa kritikan. Tidak sepantasnya proses belajar mengajar yang dilakukan bertahun-tahun hanya ditentukan oleh nilai ujian yang dilaksanakan beberapa jam saja. proses yang sangat panjang dalam belajar nampaknya tidak diperhatikan dan dihargai, yang dihargai adalah nilai dari ujian sesaat saja. Apalagi kecurangan-kecurangan sudah semakin merajalela.

    ReplyDelete
  21. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Salah satu permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan adalah masalah pemerataan. Sebenarnya tidak hanya di dunia pendidikan, namun juga di bidang ekonomi dan lain sebagainya. Salah satu terobosan untuk mengatasi belum ratanya kualitas pendidikan ini adalah dengan diterapkannya system zonasi. Dimana sekolah harus memprioritaskan anak didik dari wilayah terdekat untuk memasuki sekolah tersebut. Namun sebagaimana yang disampaikan Prof Marsigit, bahwa pembenahan-pembenahan maupun kebijakan yang diambil selama ini baru bersifat parsial/ sebagian, atau temporer/jangka pendek. Dan biasanya kebijakan-kebijakan yang dibuat sering kali diubah ketika berganti menteri. Hal ini membuat identitas pendidikan kita sampai sekarang menjadi belum jelas

    ReplyDelete
  22. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Saya sependapat dengan pernyataan Bp bahwa "Di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik", kondisi saat ini pendidikan Indonesia sedang berusaha menerapkan kutip desentralisasi dengan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap, yang disusun dalam kurikulum 2013.

    ReplyDelete
  23. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Dari peta pendidikan dunia ini dapat dilihat perkembangan pendidikan dunia dari tahun ketahun. Namun jika dilihat dari perkembangan pendidikan Indonesia, memang ada perubahan dari tahun ke tahun dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan dalam kegiatan pendidikan akan tetapi belum terlihat keberhasilan yang nyata dari setiap perkembangan dan perbaharuan yang dilakukan baik dalam sistem pendidikannya maupun dari kenyataan di lapangan. Baru-baru ini diberlakukan sistem rayon dengan tujuan memeratakan siswa yang memiliki kemampuan yang lebih sehingga tidak ada penumpukan siswa yang memiliki kemampuan lebih hanya di satu sekolah. Menurut saya dengan diberlakukan sistem ini akan timbul permasalahan-permasalahan baru, mungkin saja bukan memeratakan kemampuan siswa agar semua menjadi siswa yang memiliki kemampuan lebih dan dapat bersaing dengan dunia luar, namun mertakan siswa yang belum siap untuk bersaing dengan dunia luar. Karena fokus pada sistem perataan siswa saja namun pemerataan insfrastruktur dan pemerataan guru-guru yang memiliki kompetensi tinggi belum di lakukan.

    ReplyDelete
  24. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya sangat setuju dengan penjabaran Bapak mengenai tabel tersebut dan implementasinya dalam sistem pendidikan di Indonesia. Inkonsisten antara sentralisasi dan desentralisasi memberikan kebingungan yang nyata terutama kepada guru yang menjadi jembatan antara kebijakan dengan siswa yang harus menjalani. Guru tentunya ingin mengembangkan pembelajaran yang humanis namun saat penilaian pemerintah memberikan penilaian secara nasional dan tidak memberikan guru kesempatan untuk menilai. Kegalauan antara ingin mengembangkan siswa dengan mencapai ketrampilan mengerjakan soal dari pemerintah membuat kebayakan guru akhirnya kembali kepada pembelajaran teacher centered agar siswa mampu mengerjakan soal-soal UN.

    ReplyDelete
  25. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B 2017

    Kurikulum di Indonesia selale berubah-ubah. Hampir setiap pergantian menteri mengubah kurikulum. Padahal penerepan kurikulum sebelumnya belum maksimal. Hal ini mengakibatkan guru bingung untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah. Guru hanya memikirkan administrasi yang perlu dibuat, sehingga guru mengesampingkan perannya dalam proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan guru tidak maksimal dalam mengajarkan sebuah materi dan membuat siswa tidak memahami materi yang diajarkan. Tidak hanya guru yang merasa bingung, siswa juga merasakan kebingungan. Bingung masa depannya yang terombang ambing akibat kebijakan pemerintah yang selalu berganti. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah Indonesia segera menemukan jati dirinya terkhusus pada aspek pendidikan agar masa depan kaum muda sekarang lebih terbuka lebar. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  26. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada 3 kolom kiri tentang evaluasi, evaluasi yang dipakai seperti ujian nasional. UN dari dulu sampai sekarang memunculkan pro dan kontra. Sempat UN akan dihapus namun ada penolakan dari bapak Jusuf kalla waktu itu, karena jika UN dihapus maka daya saing dan semangat siswa dalam belajar akan menurun. Kemudian sampai sekarang UN masih ada, namun tidak menjadi satu-satunya komponen penentu kelulusan. Menurut saya ini merupakan kabar baik, UN tetap ada untuk mengetahui kemampuan siswa secara nasional, pun sudah tidak menjadi momok bagi siswa, guru, dan orangtua. Ini terbukti saat saya mengamati siswa dalam berlatih soal, mereka malah sering berlatih soal-soal SBMPTN alih-alih soal UN, artinya ada pergeseran orientasi siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  27. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  28. Dari tabel diatas saya bisa mengetahui bahwa berdasarkan kategori ressources, evaluation, diversity berdasarkan 3 kolom disebelah kiri yang menganut pencapaian siswa hanya sebatas nilai ujian/UN saja seperti system pendidikan Indonesia pada era dahulu yang diterpakan oleh Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis. Sementara sekarang di dunia yang lebih maju pada kolom progressive educator dan public educator mulai berkembang system yang menilai keberhasilan siswa tidak hanya berdasarkan nilai/ujian saja tetapi pencapaiannya dari segi sikap dan keterampilan biasa disebut assesmen autentik. Sementara di Indonesia orientasi system kita masih terombang ambing diantara keduanya, yah… semoga pemerintah kita cepat bisa mengambil keputusan, mau dibawa kemana kita dalam memandang keberhasilan siswa kita.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  29. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Terakit peta pendidikan dunia 4 kali ini merupakan hal yang menarik. Konsep kebijakan dan evaluasi pendidikan di Indonesia masih dalam tahap tarik ulur antara sentralisasi dan disentralisasi. Yang mengkhawatirkan adalah konsep sentralisasi yang selalu menjadi jalan pintas bagi pendidikan Indonesia. Sentralisasi kerap kali dibangun dengan landasan pragmatis, yaitu ingin memperbaiki pendidikan dengan asumsi meratakan kualitas siswa dan kualitas manajerial pendidik. Hal tersebut yang cenderung menimbulkan kesalahan persepsi guru terhadap suatu kebijakan dan sekaligus mematikan inovasi guru dalam pembelajaran. Selain itu, siswa secara potensi juga akan tertekan dengan adanya sentralisasi yang mengabaikan pendukung pembelajarannya. Maka dari itu bagi saya konsep yang sesuai bagi Indonesia adalah desentralisasi pendidikan dan menghidupkan kembali potensi-potensi lokal.

    ReplyDelete
  30. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Indonesia adalah negara yang pluralisme dengan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu, sangat baik dan bijaksana jika pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan pluralnya Indonesia dimana keberagamannya heterogen

    ReplyDelete
  31. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Lanjutan dari peta 3 ini lebih mengarah pada hasil akhir atau penilaian dari proses pembelajaran. Penilaian akhir dalam proses belajar itu sangatlah penting. Tetapi jika penilaian itu hanya dilihat dan hanya berpatokan pada nilai hasil ujian nasional saja rasanya tidak adil, karena hal tersebut hanya berfokuskan pada hasil akhir saja, sehingga prosesnya dikesampingkan. Sehingga kualitas yang dihasilkan baik guru maupun siswa kurang begitu tinggi, karena semuanya sama-sama mengejar hasil, bukan prosesnya. Sedangkan pada dua kolom sebelah kanan, nilai yang didapatkan dari hasil penilaian otentik meliputi portofolio, proses dan sikap. Dan juga lebih menghargai segala keberagaman yang ada, dan juga tidak bersistem sentralisasi. Tetapi sistem di Indonesia masih belum sampai pada dua kolom sebelah kanan ini, hanya sedang menuju, semoga bisa, Indonesia harus bisa.

    ReplyDelete
  32. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 P.Mat UNY kelas B 2017

    memang jika dilihat sampai saat ini pendidikan kita masih belum jelas bentuknya. ibarat bangsa yang tidak mengerti jati dirinya. saya hanya berharap sellau ada perbaikan untuk memajukan pendidikan kita. semoga allah merestu dan menjadikan bangsa kita sebagai bangsa yang besar dan berakhlak baik. aamiin

    ReplyDelete
  33. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Politik dan pendidikan merupakan hal yang berbeda. Hampir semua orag berpikir ketia mentri pendidikannya berubah maka suatu kebijakannya juga akan berubah. Sehingga saat kegiatan dilakukan dengan mentri A namun berhenti ditengah jalan karena sudah ganti dengan mentri B. Itulah yang selama ini dipikirkan, termasuk oleh saya. Apabila hal ini memang benar adanya, maka tentu saja hal ini tidak baik dan akan berdampak langsung bagi siswa di Indonesia. Saya setuju dengan pendapat ahli pendidikan yang terlibat membuat kebijakan pendidikan agar saat mentrinya ganti maka kebijakan tersebut tidak mudah beralih karena sudah dikaji oleh ahli pendidikan

    ReplyDelete