Nov 8, 2014

Peta 4- Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest



Ass Wr Wb, jika ingin mengetahui bentuk, posisi atau keadaan Pendidikan di Indonesia dan hubungannya dengan apa yang terjadi di Dunia, kita dapat menggunakan Peta/Bagan atau Tabel berikut (bagian ke 4).


Catatan: Tiga kolom sebelah kiri meliputi: Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, penerapan Pendidikan bersifat Tradisional/Conventional, dan menerapkan sistem Evaluasi bersifat Exernal (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS), dan dengan demikian lebih menyukai sistem sentralisasi. Sedangkan dua kolom sebelah kanan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, dan demikian lebih menyukai bersistem Desentralisasi.Di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan, itulah sebabnya setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek; sehingga menjadikannya bersifat Tumpul ketika berjuang di tataran Dunia.

34 comments:

  1. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B
    Terakit peta pendidikan dunia 4 kali ini merupakan hal yang menarik. Konsep kebijakan dan evaluasi pendidikan di Indonesia masih dalam tahap tarik ulur antara sentralisasi dan disentralisasi. Yang mengkhawatirkan adalah konsep sentralisasi yang selalu menjadi jalan pintas bagi pendidikan Indonesia. Sentralisasi kerap kali dibangun dengan landasan pragmatis, yaitu ingin memperbaiki pendidikan dengan asumsi meratakan kualitas siswa dan kualitas manajerial pendidik. Hal tersebut yang cenderung menimbulkan kesalahan persepsi guru terhadap suatu kebijakan dan sekaligus mematikan inovasi guru dalam pembelajaran. Selain itu, siswa secara potensi juga akan tertekan dengan adanya sentralisasi yang mengabaikan pendukung pembelajarannya. Maka dari itu bagi saya konsep yang sesuai bagi Indonesia adalah desentralisasi pendidikan dan menghidupkan kembali potensi-potensi lokal.

    ReplyDelete
  2. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sangat setuju dengan statement di atas, bahwa saat ini masih terjadi tarik ulur pada sistem pendidikan di Indonesia, apakah sentralistik, ataukah desentralistik. Akan tetapi, berdasarkan 3 postingan sebelumnya (peta pendidikan 1, peta pendidikan 2, peta pendidikan 3 berikut dengan penjelasannya), sepertinya pendidikan di Indonesia masih condong pada sistem yang sentralistik. Salah satunya dibuktikan dengan sistem evaluasi pendidikan di Indonesia yang sifatnya eksternal, yaitu lewat ujian nasional. Maka sudah menjadi hal wajar jika tiap kali mendekati ujian nasional muncul berbagai macam "ritual" UN beserta "kesurupan kesurupan" di dalamnya. Sesungguhnya UN bukanlah jalan yang tepat dalam mengevaluasi pembelajaran siswa, karena yang berhak memberikan penilaian dan judgemental pencapaian belajar pada siswa hanyalah guru yang setiap hari melihat perkembangan belajarnya. Maka untuk mencapai bentuk pendidikan yang demokrasi, bentuk pendidikan yang berpusat pada siswa, marilah sedikit demi sedikit kita perbaiki semuanya.

    ReplyDelete
  3. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pergantian sistem pendidikan Indonesia berjalan seiring pergantian kepemimpinan. Tidak heran bila ada yang menyebutkan bahwa pendidikan bagian dari politik. Salah satu pembahasan pendidikan yang tak pernah habisnya adalah pelaksanaan UN yang hingga saat ini masih dipertahankan. Namun sejatinya, pendidikan yang dibutuhkan adalah yang bersifat desentralisasi. Desentralisasi menerapkan penilaian yang berkelanjutan. Maka itulah yang sebenar-benar penilaian. Sejatinya kita tidak dapat melihat keberhasilan hanya dari hasil akhirnya saja namun penilaian itu sendiri telah dimulai saat proses itu berlangsung, serta tidak dapat dilihat dari satu aspek karena ujung dari proses pembelajaran adalah perkembangan tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017

    Evaluasi pembelajaran pada dua kolom sebelah kanan sudah sesuai dengan paradigm pendidikan modern yaitu menggunakan penilaian berbasis portofolio dimana hasil kerja siswa dapat diukur secara lebih komprehensif dan dapat dilihat dari semua aspek baik sikap, pengetahuan maupun ketrampilan.

    ReplyDelete
  5. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Peta 4 ini adalah lanjutan dari peta 3. Sekarang kita akan meninjau era pendidikan dunia dari segi sumber belajar, evaluasi pembelajaran, dan keanekaragaman. Pada era public educator seperti sekarang ini, sebaiknya kita berpandangan bahwa sumber belajar itu adalah lingkungan sosial. Kita harusnya bisa mengajak siswa untuk melihat dan menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan. Sedangkan untuk masalah evaluasi, sebaiknya evaluasi dilakukan dengan portofolio dan konteks sosial. Selain itu perlu disadari juga akan keanekaragaman yang ada, baik pada diri peserta didik, lingkungan pembelajaran, dsb. Pada bebrapatugas berbentuk portopolio yang dapat digunakan siswa untuk projek untuk memaju pemecahan masalah dari siswa.

    ReplyDelete
  6. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    eknik penilaian dalam Progressive educator adalah portofolio dan assessment. Penilaian Portofolio adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan cara menilai hasil karya peserta didik yang berupa kumpulan tugas, karya, prestasi akademik/non akademik, yang dikerjakan/dihasilkan peserta didik. Contohnya adalah karangan, puisi, surat, lukisan, laporan penelitian, laporan kerja kelompok, sertifikat atau tanda penghargaan yang pernah diterima oleh peserta didik. Portofolio juga merupakan kumpulan informasi yang perlu diketahui oleh guru sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah perbaikan pembelajaran, atau peningkatan belajar siswa.

    ReplyDelete
  7. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saya setuju dengan pendapat bapak bahwa di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutub sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan. Ini tercermin dari kebijakan-kebijakan pendidikan yang sering berubah. Kabinet kerja berganti, sistem kebijakan juga berganti, menteri berganti, berganti pulalah kebijakan-kebijakannya. Sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi, ini berpengaruh terhadap pendidikan di Indonesia. Hal-hal yang harusnya digunakan untuk kemajuan pendidikan justru di korupsi dan menjadikan kualitas pendidikan semakin rendah.

    ReplyDelete
  8. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B
    Pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan, perubahan yang terjadi diharapkan untuk kebaikan. Sistem penilaian di Indonesia masih mengalamai tarik ulur. Hal itu mengindikasikan adanya kepentingan pihak ketiga yang ingin mencari keuntungan dari kebijakan pendidikan. Untuk saat ini, nilai UN yang hanya mampu menilai kognitif siswa tidak lagi dijadikan sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran. Selain itu, dalam penilaian di kurikulum 2013 ini juga tidak hanya terfokus pada kognitif siswa namun juga mulai merambah pada penilaian afektif dan psikomotorik. Tentunya masih banyak kekurangan, dalam proses penilaian. Namun setidaknya sudah ada usaha untuk berproses menuju kebaikan. Terimakasih

    ReplyDelete
  9. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan pemaparan Bapak di atas, sistem penilaian pendidikan di Indonesia dinilai masih terjadi tarik ulur antara kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan. Namun melihat system evaluasi sekarang, kelulusan siswa tidak lagi hanya dinilai 100 persen dari nilai UN, namun juga dilihat dari nilai rapor. Artinya penilaian proses (authentic assessment) disini juga dilakukan. Penilaian yang tidak hanya sekedar melihat hasil, namun penilaian terhadap sikap, keterampilan dan tentu saja pengetahuan.

    ReplyDelete
  10. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya tertarik untuk membahsa tentang assessment atau penilaian/evaluasi pendidikan berdasarkan peta di atas. sebelumnya telah dijelaskan bahwa tiga kolom paing kiri penilaian/evaluasi yang dilakukan secara sentralisasi atau mengambil kesimpulan kecil dari seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan, contohnya ujian nasional yang dilakukan untuk beberapa mata pelajaran yang dianggap penting pada akhir jenjang sekolah sebagai salah satu penentu kelulusan siswa. Sedangkan dua kolom kanannya merupakan penilaian/evaluasi secara autentik dan berkelanjutan selama siswa tersebut menjalani kegiatan pembelajraannya di sekolah, contohnya laporan portofolio serta penilaian proses dan sikap.

    Kedua model penilaian/evaluasi tersebut baik untuk dilakukan. Ujian nasiona perlu dilakukan untuk publikasi pada masyarakat luas, khususnya sekolah di jenjang selanjutnya agar mampu menilai kemampuan aademik dari siswa tersebut walaupun hanya sebagian kecil yang dinilai. Sedangkan portofolio dan pengamatan proses dan sikap perlu dilakukan demi meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya oleh guru terhadap siswanya secara internal. Namun, yang dilakukan di lapangan lebih mementingkan penilaian ujian nasional dan mengabaikan penilaian secara autentik. Ha ini menyebabkan orientasi belajar siswa tertuju pada mencari nilai UN yang tinggi tanpa tahu esensi dari apa yang ia pelajari serta tidak memahami keiatan pembelajaran yang ia jalani selama masa sekolah.

    ReplyDelete
  11. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Pada bagan diatas diceritakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih mencari bentuk yang cocok untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan sistem di Indonesia masih tarik ulur antara penggunaan sentralisasi atau desentralisasi. Penggunaan kedua jenis itu bergantung kepada kepentingan politik yang sedang berkuasa di Indonesia. sehingga kebijakan pendidikan nasonal kurang mempunyai keputusan yang kuat.

    ReplyDelete
  12. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pada Peta Pendidikan Dunia yang keempat ini, terlihat bahwa output dari pendidikan Indonesia adalah sebuah portofolio, kemudian menekankan penilaian proses dan sikap, namun yang terjadi output pendidikan saat ini hanya dititik beratkan pada hasil UN. Padahal Indonesia adalah wilayah yang memiliki keberagaman wilayah, budaya dan kesejahteraan. Wilayah 3T, yang serba terbatas tentu akan memiliki mutu pendidikan yang jauh berbeda dengan yang berada di wilayah maju/perkotaan. Tidak adil rasanya jika usaha, perjuangan siswa selama bertahun-tahun menuntut ilmu hanya akan ditentukan oleh selembar kertas jawaban saja. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  13. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    terimakasih pak untuk ilmunya
    lagi-lagi saya semakin tertarik untuk belajar bagaimana pendidikan khususnya di Indonesia
    saya, belum bisa memberikan tanggapan berdasarkan artikel diatas, karena masih kurangnya ilmu saya pak
    maaf sebelumnya dan terimakasih untuk ilmu baru yang menjadi referensi untuk saya

    ReplyDelete
  14. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Waduh semakin kelihatan deh kalau lihat tabel yang ini. Kelihatan Indonesia masuk yang mana. Pakainya external evaluation mah benar-benar zaman old. Mana ada guru yang menilai pure dari portofolio saja?
    Weh lahdalaah.. saya baru mengerti mengapa kami diminta banyak membaca, mengomen blog dan membuat refleksi.. ya itu penilaian portofolio yang benar-benar.. waaah, ternyata kami ini sedang belajar di posisi zaman now lo. Bukan external evaluation lagi..

    ReplyDelete
  15. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Saat ini Indonesia masih menggunakan sistem UN sebagai assesment. Namun penilaian hasil belajar siswa (Nilai raport) telah mengalami berbagai perubahan. Sistem penilaian saat ini tidak hanya dari segi kognitif/pengetahuan siswa namun juga dari segi afektif dan psikomotorik siswa.

    ReplyDelete
  16. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C


    Tabel diatas menggambarakan mengenai perbandingan antara pendidik dengan sumber daya, evaluasi dan keragaman. Sumber daya yang dapat digunakan meliputi papan tulis, kapur,bantuan mengajar untuk pelatihan industri, bantuan mengajar untuk teknologi pragmatis,old humanist, dan sebagainya. Demikian pula untuk keragaman,masing -masing pendidik memiliki cara mereka sendiri.

    ReplyDelete
  17. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa hubungan antara diversity dengan old humanist adalah competence based curriculum. Dalam hal ini kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa adalah kompetensi yang telah dirancang oleh kurikulum. Jadi ketika kita membicarakan mata pelajaran yang belum lulus bukan berarti seluruh materi pelajaran tersebut yang tidak dilulusi oleh siswa tetapi bisa saja hanya kompetensi dasar tertentu saja yang tidak dilulusi oleh siswa. Sehingga imbasnya ketika siswa melakukan remedial, maka siswa tersebut tidaklah mengulangi seluruh materi dalam satu mata pelajaran, namun hanya terbatas pada KD yang tidak dilulusinya saja. Dalam hal ini tentunya mengandung efek positif dan negatifnya masing-masing.

    ReplyDelete
  18. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan Peta Pendidikan Dunia yang ke-4 yang diadopsi dari Paul Ernest, hampir sama dengan peta-peta sebelumnya. Harapan dunia pendidikan Indonesia tetap 2 kolom sebelah kanan. Penilaian yang menghargai sebuah proses, bukan hanya hasil, yaitu penilaian yang berupa uthentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap. Selain itu, kolom sebelah kanan juga memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, serta lebih menyukai sistem Desentralisasi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  19. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika berdasarkan pada standar nasional, disitu tertera ada yang namanya standar pnilai. Standar nilai yang dipatokkan disini sebagai standar minimal dari kemampuan peserta didik. Hal ini jika diolah sangat serius, maka sebenarnya akan memberikan dampak yang baik untuk perkembangan peserta didik tersebut. namun jika standar nilai disini hanya digunakan sebagai laporan telah berhasil mengembangkan peserta didik secara skor/nilai, maka kebutuhan yang mereka perlukan tidak akan terfasilitasi dengan baik, karena evaluasi yang dilakukan tidak dijalankan dengan baik pula untuk lebih memberikan perkembangan yang baik dalam menyajikan kebutuhan mereka.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Aspek yang diperhatikan dalam pendidikan tidak hanya aspek kognitif saja, melainkan ditambah dengan aspek psikomotor dan afektif. Ujian nasional tidak dapat dijadikan alat untuk mengukur ketercapaian aspek-aspek tersebut. Penilaian sacara otentik, melalui portofolio atau pengamatan terhadap siswa adalah contoh cara yang tepat untuk mengevaluasi ketiga aspek tersebut.
    Ujian nasional tidak dapat dijadikan penentu keberhasilan siswa dalam belajar, yang berhak menilai keberhasilan belajar siswa adalah gurunya. Karena guru adalah satu-satunya yang mengetahui kondisi siswa dan prosesnya dalam belajar.

    ReplyDelete
  21. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berdasarkan peta 4 pendidikan dunia tersebut kita dapat mengetahui bahwa pada masyarakat industrial trainer, sumber belajar yang digunakan adalah, kapur, papan tulis, dan tidak boleh menggunakan kalkulator. Pada masyarakat technological pragmatis, sumber berlajar yang digunakan adalah media pembelajaran. Pada masyarakat old humanis, sumber berlajar yang digunakan adalah media pembelajaran visual yang bertujuan untuk memotivasi. Pada masyarakat progressive educator, sumber belajar yang digunakan adalah berbagai sumber atau lingkungan. Sedangkan pada masyarakat public educator, sumber belajar yang digunakan adalah lingkungan sosial.

    ReplyDelete
  22. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    menurut saya, pendidikan di Indonesia masih pada tingkatan old humanism, dimana masih banyak pengajar dengan menggunakan konvensional, selanjutnya memberikan tes, dan kompetensi didasarkan pada kurikulum

    ReplyDelete
  23. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. pendidikan di Indonesia hendaknya memegang prinsip penilaian portofolio dan penilaian portofolio dalam konteks sosila agar siswa-siswa lebih dapat dipantau penilaiannya. Siswa-siswa di Indonesia perlu lebih membaur dalam masyarakat, untuk itu sekiranya perlu juga masyarakat dilibatkan dalam penilaian pembelajaran.

    ReplyDelete
  24. Dewi Thufaila
    17709251054/
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Apabila pendidikan dicampur adukkan dengan politik akan membuat Pendidikan di Indonesia belum mempunyai identitas yang jelas, setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054/
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Seharusnya pendidikan di Indonesia jangan dicampur adukkan dengan politik. Hal tersebut dapat dimulai dengan ahli pendidikan yang membuat kebijakan pendidikan bukan seseorang yang tidak mengetahui seluk beluk pendidikan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. 3 kolom di kiri menggambarkan pendidikan dengan sentralisme. Sedangkan dua kolom sebelah kanan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, dan demikian lebih menyukai bersistem Desentralisasi.
    Indonesia adalah negara yang pluralisme dengan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu, sangat baik dan bijaksana jika pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan pluralnya Indonesia dimana keberagamannya heterogen

    ReplyDelete
  27. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Ini merupakan pertanyaan yang sama yang saya lontarkan pada peta 1, peta 2, dan peta 3. Mengingat Pancasila adalah salah-satu ideologi yang unik di dunia yang menurut beberapa pandang mencakup dan toleransi pada ideologi-ideologi humanis lainnya, sehingga memunculkan pertanyaan dari saya, “di antara yang tercakup dalam peta pendidikan di atas, manakah bagian yang mengarah pada ideologi pancasila? Dan bagaimana posisi pancasila dalam khazanah pengetahuan ideologi pendidikan di dunia?

    ReplyDelete
  28. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Segala sesuatu tidak akan pernah terlepas dari unsur politik. Sebenarnya politik itu baik, yang tidak baik adalah oknum pembuat yang ada pada politik. Sifat dasar manusia memiliki kebaikan dan tujuan yang mulia. Apalagi ketika telah menjadi pemimpin. Hanya apa kita mau menggunakan ini atau Tidak ? Unsur-unsur politik lebih condong ke arah kebahagiaan sesaat bahkan slogan yang kental sekali yaitu kawan adalah lawan. Mereka sudah menjudgement diri mereka sendiri sehingga kebijakan yang dikeluarkan pun lebih ke arah mengamankan posisi mereka saat itu. Bisa jadi hal ini terjadi pada sistem pendidikan yang dicampuradukkan dengan kepentingan politik tertentu.

    ReplyDelete
  29. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Sistem pendidikan di negara kita saat ini memang rentan dengan eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan melalui proyek-proyek. oleh karena itu, disamping memperhatikan hal-hal terkait dunia pendidikan, kedisiplinan dan pengawasan yang ketat juga perlu dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang demikian sehingga dapat merugikan negara, terutama generasi muda yang menjadi korban.

    ReplyDelete
  30. Nama


    Membaca postingan di atas, saya menjadi tahu bahwa mengapa setiap kebijakan pendidikan di indonesia selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, sementara/jangka pendek yakni karena penerapan pendidikan bersifat Tradisional dan lebih menyukai sistem sentralisasi. Sistem pendidikan di negara kita saat ini memang rentan dengan eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan pribadi. sehingga kebijakan pendidikan nasonal kurang mempunyai keputusan yang kuat dan konsisten.

    ReplyDelete
  31. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Seringkali kita selalu mendewakan inovasi dan menganggap semua hal yang tradisional itu buruk dan tidak ada lagi yang relevan dengan saat ini. Padahal jika kita menilik sejarah sedikit saja, yang sekarang tradisional dulunya juga merupakan inovasi. Menurut saya, pendidikan tradisional atau konvensional tidak selamanya buruk, masih ada beberapa hal yang bisa diambil. Hanya saja tentu, perlu adanya penyesuaian. Pembelajaran yang dikatakan konvensional seperti guru mentransfer pengetahuan kepada siswa, sebenarnya dapat pula menjadi pembelajaran yang justru efektif dalam beberapa hal. Namun dalam prosesnya guru juga harus memberikan sentuhan ‘kekinian’, sehingga siswa tidak serta merta mendengarkan, tetapi juga berusaha mengaitkan apa yang mereka dengar dengan berbagai pengetahuan relevan lainnya dan menyusun peta konsep dalam pikirannya.

    ReplyDelete
  32. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Indonesia yang menganut paham demokrasi akan cocok jika menerapkan pendidikan berdasarkan public educator yang mengajarkan untuk bersikap sosial melalui pendidikan. Kemudian tes kelulusan menggunakan portofolio dengan mengetes pemahaman siswa, yang dinilai tidak hanya hasilnya, tetapi langkahnya. Jika kenaikan kelas menggunakan tes, maka guru tidak tahu bagaimana pemahaman siswa mengenai materi yang diajarkan. Sehingga yang paling mengetahui perkembangan siswa adalah gurunya sendiri, bukan sekedar melalui tes kemudian dinyatakan naik kelas atau tidak.

    ReplyDelete
  33. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Sumber belajar Industrial Trainer begitu mirip dengan kebanyakan sekolah yang ada di Indonesia (jika saya lihat mendominasi di daerah). Di mana masih banyak menggunakan sumber belajar yang terpusat pada guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dan yang paling menarik adalah larangan penggunaan kalkulator di sekolah. Para guru menganggap penggunaan kalkulator itu membuat siswa malas berfikir, sehingga masih sering ditemui bagaimana siswa diminta untuk menghafal teori dan konsep (misalnya perkalian, pembagian, dsb). Begitu kontras dengan keadaan di sekolah yang ada di luar negeri, di mana penggunaan kalkulator ilmiah diperbolehkan bahkan masuk ke dalam kurikulum untuk diajarkan oleh guru kepada siswa.

    ReplyDelete
  34. Indonesia adalah negara yang pluralisme dengan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu, sangat baik dan bijaksana jika pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan pluralnya Indonesia dimana keberagamannya heterogen

    ReplyDelete