Nov 8, 2014

Peta 4- Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest



Ass Wr Wb, jika ingin mengetahui bentuk, posisi atau keadaan Pendidikan di Indonesia dan hubungannya dengan apa yang terjadi di Dunia, kita dapat menggunakan Peta/Bagan atau Tabel berikut (bagian ke 4).


Catatan: Tiga kolom sebelah kiri meliputi: Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, penerapan Pendidikan bersifat Tradisional/Conventional, dan menerapkan sistem Evaluasi bersifat Exernal (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS), dan dengan demikian lebih menyukai sistem sentralisasi. Sedangkan dua kolom sebelah kanan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, dan demikian lebih menyukai bersistem Desentralisasi.Di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan, itulah sebabnya setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek; sehingga menjadikannya bersifat Tumpul ketika berjuang di tataran Dunia.

112 comments:

  1. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sistem pendidikan industrial trainer, technological pragmatis, dan old humanis pendidikan masih bersifat tradisional/convensional dimana guru menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran matematika sehingga hanya ada transfer ilmu saja tanpa adanya pembelajaran bermakna yang dirasakan oleh siswa sehingga ilmu yang diperoleh siswa hanya sementara tidak selamanya. Dan jika dihadapkan oleh permasalahan/soal yang berbeda dengan contoh maka siswa akan merasa kesulitan untuk mencari pemecahannya. Proses tidaklah penting, yang terpenting ialah hasilnya seperti pelaksanaan EBTANAS. Tetapi untuk sistem pendidikan progressive educator dan public educator sesuai dengan Kurikulum 2013 dimana penilaian yang digunakan tidak hanya penilaian pengetahuan saja tetapi ada penilaian ketrampilan dan sosial siswa.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Sistem pendidikan di Indonesia berubah-ubah sesuai dengan kepentingan politik yang memegangnya. Sehingga terkesan tarik ulur. Menurut saya tidak masalah jika tetap menggunakan sistem penilaian UN, namun juga melaksanakan penilaian autentik. Asalkan jelas, pemetaan hasil penilaian tersebut mau dibawa dan digunakan untuk apa. Jika untuk penilaian hasil pencapaian, sebaiknya menggunakan penilaian autentik, karena penilaian ini lebih fleksibel mengingat keberagaman daerah masing-masing di Indonesia yang bersifat multidimensi dan multikultural. Sedangkan untuk penilaian terstandar, penilaian UN lebih tepat untuk digunakan.

    ReplyDelete
  3. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Autentik assesmen yang disebutkan dalam peta pendidikan dunia diatas merupakan bentuk penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan bentuk dari inovasi yang diberlakukan berdasarkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan yang senantiasa berubaha-ubah menjadikan penilaian yang tidak konsisren terhadap satu hal yang pada dasarnya sama. Padahal ketika sebuah penerapan baru dilayangkan, seharusnya semua pihak turut mendukung, dan bukan malah menguji coba semua hal yang dirasa baik bahkan ketika semua baru dibangun.

    ReplyDelete
  4. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berbicara soal indonesia tidak lepas dari pendidikan di dalamnya. Masih menjadi persoalan antara sentralisasi dan desentralisasi. berdasarka tabel paul ernest tersebut, posisi indonesia masih pada sentralisasi atau terpusat pada pendidik dalam proses pembelajarannya. Sebagai buktinya adalah masih menerapkannya sistem evaluasi eksternal yaitu berupa UN/UNAS/EBTA/EBTANAS. adanya evalusi yang bersifat eksternal ini tidak lepas dari urusan politik, dimana masih banyak pihak-pihak yang menyalahgunakan ini untuk kepentingan dirinya maupun golongannya, sehingga diperlukan gebrakan baru dalam sistem evaluasi pendidikan di indonesia yang terpusat pada siswa dan dapat mengurangi peluang pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menyalahgunakannya.

    ReplyDelete
  5. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Desentralisasi pendidikan adalah salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan serta sumber daya manusia termasuk profesionalitas guru yang belakangan ini dirisaukan oleh berbagai pihak baik secara regional maupun secara internasional. berdasarkan tabel paul ernest, berbeda dengan sentralisasi yang evaluasinya bersifat eksternal, evaluasi atau penilaian desentralisasi bersifat Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik. dengan demikian, untuk mewujudkan pendidikan indonesia yang lebih baik, diperlukan sistem desentralisasi agar dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  6. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Di Indonesia pendidikan dipengaruhi oleh kepentingan politik sehingga belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan. Banyak pendidikan di Indonesia yang masih bersifat tradisional/conventional, dan menerapkan sistem evaluasi berupa UN. Tetapi ada juga pendidikan di Indonesia yang sudah menggunakan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa portofolio, penilaian proses dan sikap, dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik.

    ReplyDelete
  7. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di Indonesia menerapkan pendidikan dengan evaluasi exernal yaitu dengan menggunakan UN sebagai alat evaluasi. UN bisa menjadi salah satu tolok ukur nilai siswa namun sebaiknya tidak hanya UN yang digunakan sebagai alat evaluasi karena banyak hal yang dapat mempengaruhi nilai dari UN. Evaluasi pada dunia progressive educator dan dunia publik educator yaitu dengan evaluasi menggunakan portofolio dan saat ini sudah mulai diberlakukan di Indonesia. Selain itu di kurikulum 2013 ada juga penilaian terhadap sikap spiritual dan sikap sosial siswa.

    ReplyDelete
  8. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti yang berupa kekuatan batin, karakter, pikiran anak didik. jadi seorang pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih atau bentuk ke-kreatifitasan dalam membentuk atau menumbuhkan karakter anak didiknya seperti yang disebutkan sebelumnya. seorang pendidik mempunyai tugas yang tidak mudah. kedua-duanya harus berperan aktif, selalu ada respon dan stimulus. tidak ada yang bersifat pasif dalam pelaksanaannya. Dalam dunia pendidikan ada lima perbedaan yang menekankan pada resource (sumber), evaluation (penilaian) dan diversity (keberagaman). Dalam hal ini evaluasi dalam pembelajaran merupakan salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran. Evaluasi yang dimaksudkan disini ialah evaluasi dengan menggunakan portofolio. Dengan dilakukannya portofolio dapat diketahui sejauh mana perkembangan peserta didik dalam pembelajaran tersebut.

    ReplyDelete
  9. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan peta 4 ini, kita dapat mengklasifikasikan, dimana keadaan Pendidikan Indonesia sekarang ini. Dari paparan pak Prof, memang benar adanya bahwa di Indonesia masih terjadi tarik ulur antara sentralisasi atau desentralisasi yang diterapkan, namun untuk pertimbangan, memang apabila kebijakan bersifat sentralisasi, akan bersifat jangka pendek, dan akan terjadi ketidakstabilan pada pelaksanaan pendidikan, dan akan mengakibatkan kurangnya daya saing terhadap dunia

    ReplyDelete
  10. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sistem evaluasi di Indonesia sampai saat ini belum memiliki identitas yang jelas antara sentralisasi-desentralisasi. Meskipun penerapan evaluasi bersifat eksternal (UN/UNAS/EBT/EBTANAS) masih diterapkan yang membuat indonesia lebih condong ke 3 kolom sebelah kanan. Padahal Indonesia amatlah luas, beragam karakter dan budaya di masing-masing wilayah membuat proses perkembangan peserta didik juga akan beragam pula. Penerapan penilain berupa authentic assessment sebenarnya lebih cocok bila diterapkap di Indonesia, dimana proses dirasa lebih penting daripada berorientasi pada hasil yang belum tentu benar dalam langkah untuk memperolehnya.

    ReplyDelete
  11. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pendidikan dengan sistem sentralisasi membuat siswa hanya fokus pada UN atau ujian akhir, sehingga siswa hanya berlatih materi lingkup soal UN , sedangkan pondasi atau konsep dasarnya kebanyakan siswa tidak mempelajari dengan benar, siswa hanya berlatih mengerjakan soal UN saja, disini menurut saya sistem desentralisasi lebih baik, karena penilaian berdasarkan bagaimana siswa memahami konsep dengan benar melalui portofolio, proses dan sikap.

    ReplyDelete
  12. Dengan banyakna pendapat yang menentang sistem sentralisasi, belakangan ini di Indonesia, sistem desentralisasi mulai dtumbuhkan. Misalnya saja dengna tidak dijadikannya hasil UN sebagai satu-satunya parameter kelulusan. Namun, saat ini, sumber belajar Industrial Trainer begitu mirip dengan kebanyakan sekolah yang ada di Indonesia (jika saya lihat mendominasi di daerah). Di mana masih banyak menggunakan sumber belajar yang terpusat pada guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

    ReplyDelete
  13. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Indonesia belum memiliki identitas dalam dunia pendidikan, karena setiap kebijakan dalam dunia pendidikan terkadang mementingkan urusan politik. Sehingga kebijakan pendidikan yang berskala nasional justru malah hanya berlaku untuk beberapa daerah saja, atau malah hanya menguntungkan beberapa oknum. Hal tersebut berakibat kepada sedikit kacaunya sistem pendidikan di Indonesia yang berpengaruh pula dalam proses di lapangan, bagaimana cara untuk menghadapi siswa.

    ReplyDelete
  14. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Peta pendidikan 4 di atas mengklasifikasikan pendidikan berdasarkan sumber belajar, evaluasi, dan diversity (keberagaman). Dari tabel di atas disebutkan salat satu alat evaluasi, yaitu dengan menggunakan lembar portofolio. Lembar portofolio memiliki beberapa tujuan, antara lain:
    1.Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung.
    2.Memahami prestasi kerja seluruh peserta didik.
    3.Meningkatkan proses efektivitas pembelajaran.
    4.Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri.

    ReplyDelete
  15. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari berbagai tujuan portofolio dapat disimpulkan bahwa lembar portofolio dapat mendukung proses pembelajaran, khusunya untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan pengetahuan peserta didik dan dapat dijadikan sebagai bahan tindak lanjut guru dalam mendidik siswanya.

    ReplyDelete
  16. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Peta pendidikan dunia 4 menjelaskan tentang sumber pembelajaran, evaluasi dan keragaman pada setiap kaum. Berikut dijelaskan pendapat dari ideologi progressive educator dan public educator, yang mana merupakan idealnya pendidikan yang diterapkan. Yang pertama progressive educator,
    a. Resources
    Sumber matematika pada ideologi ini bersifat abstrak dan diajarkan melalui hal-hal yang sifatnya kongkrit, yang menjadi masalah di masyarakat, melalui proses diskusi dan invertigasi siswa berusaha untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan berdasarkan konteks dunia nyata yang diberikan.
    b. Evaluation
    Penilaian yang dilakukan menggunakan berbagai metode atau portofolio dengan menggunakan konteks sosial. Dengan ini, guru dapat mengetahui kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah.
    c. Diversity
    Melalui pola pendidikan ini siswa menjadi heterogen, karena dikenalkan dengan berbagai isu-isu atau masalah atau gejala sosial yang nampak dimasyarakat dengan berbagai variasinya. Dengan demikian, siswa mengakomodir berbagai variasi tersebut dan mengembangkan berbagai kemampuan yang ada pada dirinya, atau heterogen.

    ReplyDelete
  17. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Sedangkan untuk public educator, adalah sebagai berikut
    a. Resources
    Sumber matematika pada ideologi ini bersifat abstrak dan diajarkan melalui hal-hal yang sifatnya kongkrit, yang menjadi masalah di masyarakat, melalui proses diskusi dan invertigasi siswa berusaha untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan berdasarkan konteks dunia nyata yang diberikan.
    b. Evaluation
    Penilaian yang dilakukan menggunakan berbagai metode atau portofolio dengan menggunakan konteks social. Penilaian dilakukan dengan porto-folio dimana tidak hanya melihat dari kemampuan praktis siswa tetapi juga menilai dari proses mendapatkannya. Guru menerima banyak solusi yang diutarakan oleh siswa, karena pembelajarannya berbasis pada penemuan. Dengan ini, guru dapat mengetahui kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah.
    c. Diversity
    Berdasarkan jenis evaluasi portofolio sehingga siswa mengakomodir berbagai variasi tersebut dan mengembangkan berbagai kemampuan yang ada pada dirinya, atau heterogen.
    Menurut saya, sesungguhnya menggabungkan/kombinasi sentralisasi dan desentralisasi dalam pendidikan tidak ada salahnya. Ini bukan berarti ragu-ragu, bimbang atau tidak berpendirian. Kita lihat mana kah yang memiliki manfaat lebih pada kondisi tertentu. Terkadang sentralisasi perlu, namun tidak lupa menerapkan desentralisasi.
    Referensi:
    http://anisyaseptiana20.blogspot.com/2014/01/implementasi-filsafat-dalam-kurikulum.html
    http://trysagustyamanda.blogspot.com/2014/01/implementasi-filsafat-dalam-pendidikan.html

    ReplyDelete
  18. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Indonesia merupakan negara yang luas dan negara yang memiliki keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini tentunya membutuhkan penerapan pendikan yang dapat menitikberatkan pada sikap-sikap toleransi. Hal ini tentu sejalan dengan 2 kolom sebelah kanan dimana pendidikan yang diterapkan mampu menciptakan generasi yang berjiwa saintis.

    ReplyDelete
  19. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam dunia pendidikan sumber, penilaian dan keberagaman merupakan aspek yang penting dalam pembelajaran. Sumber pembelajaran hendaknya tidak hanya terpaku pada apa yang disampaikan guru namun bisa berasal dari sumber mana saja yang berkaitan pembelajaran yang diberikan. Penilaian juga sangat penting dalam mengukur sejauh mana pemahaman siswa dalam pembelajaran dan tentunya tidak hanya dilihat dari hasilnya saja tetapi dari setiap proses yang dijalani dalam pembelajaran. Keberagaman dalam pembelajaran meliputi berbagai solusi yang diberikan dalam menunjang kegiatan belajar seperti penggunaaan alat peraga dan penenrapan metode pembelajaran yang tidak monoton.

    ReplyDelete
  20. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. pendidikan di Indonesia hendaknya memegang prinsip penilaian portofolio dan penilaian portofolio dalam konteks sosila agar siswa-siswa lebih dapat dipantau penilaiannya. Siswa-siswa di Indonesia perlu lebih membaur dalam masyarakat, untuk itu sekiranya perlu juga masyarakat dilibatkan dalam penilaian pembelajaran.

    ReplyDelete
  21. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Saat ini sistem pendidikan di Indonesia selalu berubah. Ini menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia belum jelas arahannya. Setiap kurikulum tidak bertahan lama. Bahkan ada pernyataan “ganti menteri berarti ganti kurikulum”. Adanya kurkulum 2013 sudah mengarahkan pada metode mengajar yang bervariasi, teknik penilaian yang bervariasi pula dan proses pembelajaran menuntut keaktifan siswa (student centered).

    ReplyDelete
  22. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Peta 4 Pendidikan Dunia yang dibuat oleh Prof. Marsigit dari Paul Ernes, kita mengetahui bahwa tiga kolom sebalah kiri yaitu Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis mengimplementasikan Pendidikan yang berciri tradisional. Tiga jenis ini pembelajaran berpusat pada guru.

    ReplyDelete
  23. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Berdasarkan Peta 4 Pendidikan Dunia yang dibuat oleh Prof. Marsigit dari Paul Ernes, kita mengetahui bahwa dua kolom sebalah kanan, yaitu progressive educator dan public educator mengimplementasikan Pendidikan yang berciri pembelajaran inovatif . Dua jenis pembelajaran ini bepusat pada siswa.

    ReplyDelete
  24. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Peta 4 Pendidikan Dunia yang dibuat oleh Prof. Marsigit dari Paul Ernes, yang paling membuat saya tertarik adalah bagian Assesment yang meliputi Portfolio. Suatu inovasi pada perkembangan zaman saat ini. Misal, siswa diminta untuk membuat blog yang berisi catatan-catatan tentang setiap pertemuannya.

    ReplyDelete

  25. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika secara konvensional, pembelajaran hanya menggunakan papan tulis maka pembelajaran yang inovatif dapat menggunakan berbagai media pembelajaran. Misalnya aplikasi untuk mempermudah mengerjakan suatu persamaan garis. Kemudian juga bisa menggunakan berbagai alat teknologi lain dalam menunjang pembelajaran.

    ReplyDelete
  26. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika sistem pendidikan hanya menerapkan merode konventional, dengan hanya fokus kepada hasil akhir (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS) maka tidak ada gunanya pembelajaran selama bertahun-tahun di sekolah. Kalau hanya ingin mengedepankan hasil UN baik, cukup hanya berlatih terus-menerus soal latihan UN. Tanpa memperdulikan nilai-nilai lain dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  27. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Pengelolaan pendidikan yang baik akan menghasilkan Indonesia yang baru.Desentralisasi pendidikan merupakan suatu keharusan jika kita ingin cepat mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Melalui pendidkan yang demokratis akan melahirkan masyarakat yang kritis dan bertanggung jawab.
    Masyarakat yang demokratis akan mampu menciptakan masyarakat madani yaitu masyarakat yang berbudaya tinggi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang mana sangat menghargai hak-hak asasi manusia.
    Desentralisasi pendidikan perlu dijaga dari kemungkinan –kemungkinan terjadi hal-hal negatif seperti desentralisasi kebablasan, misalnya penyerahan tanggung jawab pendidikan kepada daerah for the sake of autonomy.

    ReplyDelete
  28. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Hal yang kami (saya) pelajari dari tabel di atas adalah bahwa pendidikan kita sejauh yang saya pahami dari yang saya dengar dari guru-guru yang pernah saya temui. Berdasarkan tabel yang keempat ini pembelajaran matematika sampai saat ini memang masih didominasi dengan pemanfaatan Papan tulis dan spidol, pemanfaatan alat peraga, pemanfaatan visualisasi, serta pula penggunaan kalkulator masih sangat dibatasi, sedangkan untuk evaluasi masih tetap diberlakukan UN , serta kurikulum kita pada dasarnya berbasis kompetensi yaitu kompetensi inti dan kompetensi dasar. Sehingga dari sisi resource, evaluation dan diversity pendidikan matematika kita masih berada pada Indusrial Trainer, Technological Pragmatis dan Old Humanis

    ReplyDelete
  29. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Berdasarkan peta pendidikan dunia bagian keempat ini terlihat bagaimana posisi pendidikan di Indonesia dan perbandingannya dengan pendidikan dunia. Dari tabel tersebut terlihat pendidikan indonesia berada pada industrial trainer, technological pragmatist, dan old humanist. Dari segi resources, pendidikan di Indonesia memang didominasi penggunaan papan tulis dan kapur atau spidol, belum memanfaatkan teknologi dan media dengan optimal. Dari segi evaluation, pendidikan di Indonesia menerapkan sistem external test dengan pelaksanaan ujian nasional (UN). Dengan demikian, diharapkan pendidikan di Indonesia bisa berkembang lebih jauh lagi, terutama dalam pemanfaatan media dan teknologi.

    ReplyDelete
  30. Junianto
    17709251065
    PM C

    Adanya sistem kelulusan dengan nilai UN memang bisa untuk mengetahui kemampuan siswa. Tetapi hanya untuk kemampuan kognitif saja. mungkin masalah ini sudah sering kita dengar dan terjadi polemik berkepanjangan di sekitar kita. Ada yang setuju dan ada yang menolak. Sebenarnya, semua tergantung bagaimana sikap dan tindakan kita. Jika kita mampu bersikap bijak dan menghargai perbedaan mungkin masalah ini bisa sedikit teratasi. Namun, sekali lagi UN seharusnya bukanlah satu-satuanya alat ukur kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  31. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Terima kasih prof atas informasi yang diberikan. Dalam peta pendidikan dunia ini dari Paul Ernest, Paul ernest menunjukkan kepada kita tentang pandangan Pelatih Industri, pragmatis teknologi, humanis lama, pendidik progresif dan pendidik publik tentang sumber daya, evaluasi, dan keragaman. Pandangan Pelatih industri, Pragmatis Teknologi, dan humanis lama tentang sumber daya hanyalah papan tulis, pantang menggunakan, alat bantu pengajaran, dan bantuan pengajaran visual untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Menurut pendidik progresif dan pendidik publik, sumber dayanya adalah berbagai sumber daya / lingkungan dan lingkungan sosial. Saya setuju dengan itu, sumbernya tidak hanya itu tapi juga segala sesuatu di sekitar kita bisa menjadi sumber belajar.

    ReplyDelete
  32. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Sistem pendidikan di Indonesia menginginkan perubahan paradigma pembelajaran inovatif dengan berdasarkan konstruktivisme. Namun, sistem tersebut belum secara utuh untuk mengarah ke perubahan. Mestinya jika memang menginginkan pembelajaran yang inovatif, kita perlu mengubah penilaian berupa asesmen autentik. Bukan hanya hasil akhir tetapi juga menilai proses dan sikap. Hal ini membuat adanya ketidakjelasan identitas pendidikan kita, dan juga ketidakjelasan mau dibawa kemana pendidikan kita. Namun, ini memang bukan persoalan yang mudah karena kita tengah mengalami krisis multidimensi yang disebabkan oleh kehidupan kontemporer.

    ReplyDelete
  33. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sistem pendidikan di Indonesia cenderung bersifat "ancaman" bagi siswa, guru, dan sekolah. Sekolah di ranking berdasarkan perolehan nilai UN, guru dituntut menghasilkan nilai sempurna untuk UN setiap mata pelajaran, sehingga pembelajaran di sekolah tidak lagi kondusif pada masa-masa mendekati UN. Adanya sentralisasi membuat seluruh aspek bersaing untuk terlihat bagus, bukan bersaing untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Aspek di kanan tabel dengan penilaian jangkan panjang berupa portofolio lebih mewakili aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa dengan pengalaman belajar yang lebih fleksibel, tidak kaku dan mengandalkan kognitif. Perlu diingat bahwa tidak semua siswa unggul di bidang tertentu. Aspek seni dan kreativitas siswa perlu diapresiasi lebih di Indonesia.

    ReplyDelete
  34. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dari postingan ini, saya akan memfokuskan pada resources atau sumber belajar. Di pendidikan Indonesia saat ini, sumber belajar sepertinya tidak merujuk pada satu kolom tertentu sesuai dengan peta di atas. Karena, tidak bisa dikatakan Indonesia sudah tidak menggunakan papan tulis kapur. Pada kenyataannya di sekolah-sekolah di Papua, misalnya, masih menggunakan papan tulis kapur sebagai sumber belajar, dimana guru menjadi orang yang memberikan penjelasan tentang materi di kelas. Di sekolah lain, digunakan alat peraga yang pada peta di atas disebut sebagai teaching aid. Di sekolah-sekolah kota, digunakan proyektor dan LCD yang dapat menampilkan slide powerpoint atau bahkan game interaktif dalam pembelajaran di kelas. Di sekolah lain yang menitikberatkan pada pembelajaran bermakna mungkin menggunakan benda-benda konkrit yang ada di lingkungan sekitar yang relevan dengan topik bahasan sebagai sumber belajar. Karena kini pendidikan Indonesia sedang dalam masa peralihan, maka Indonesia tidak memiliki bentuk atau struktur tertentu dalam pendidikan. Sampai saat ini, Indonesia masih berusaha mengadopsi cara-cara belajar dan sistem pendidikan negara lain yang lebih baik.

    ReplyDelete
  35. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Dari postingan ini, saya akan memfokuskan pada evaluasi pendidikann.Pada pendidikan di Indonesia Evaluasi yang diguanakan untuk mengukur kemampuan siswa yaitu menggunakan UN, Namun adanya UN ada pro dan kotra tersendiri. bebrapa orang menolak adanya UN dikarenakan membuat stres siswa, panik dll sehingga terdapat beberapa hal negatif yang timbul dari kekakutan UN. Dilihat dari evaluasi nya UN merupakan alat evaluasi yang dimiliki di Indonesia yang tarap nya nasional ada UNsendiri, dengan hal yang seperti setuju atau tidak setuju tentang UN yang dapat mengukur kemampuan siswa tetapi tidak secara keseluruhan dari kemampuan siswa. sehingga diharapkan dengan UN ini tidak menjadi patokan kelulusan siswa, tetapi sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  36. anisa safitri
    17701251038
    PEPB

    Peta 4 ini adalah lanjutan dari peta 3. Sekarang kita akan meninjau era pendidikan dunia dari segi sumber belajar, evaluasi pembelajaran, dan keanekaragaman. Pada era public educator seperti sekarang ini, sebaiknya kita berpandangan bahwa sumber belajar itu adalah lingkungan sosial. Kita harusnya bisa mengajak siswa untuk melihat dan menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan. Sedangkan untuk masalah evaluasi, sebaiknya evaluasi dilakukan dengan portofolio dan konteks sosial. Selain itu perlu disadari juga akan keanekaragaman yang ada, baik pada diri peserta didik, lingkungan pembelajaran, dsb. Pada bebrapatugas berbentuk portopolio yang dapat digunakan siswa untuk projek untuk memaju pemecahan masalah dari siswa.

    ReplyDelete
  37. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menilai kemampuan peserta didik memang sangat perlu guna mengetahui perkembangan pengetahuan mereka. Karena tujuan dari belajar akan diketahui salah satunya dengan melakukan penilaian. Seorang peserta didik dikatakan berhasil belajar jika memperoleh pengetahuan dari proses belajar sehingga yang awalnya tidak tahu menjadu tahu. Namu, polemik pendidikan di Indonesia sekarang adalah terkait dengan adanya Ujian Nasional yang dulu menjadi satu-satunya tolak ukur para peserta didik lulus sekolah maupun tidak. Sekarang tolak ukur Ujian Nasional tidak bergitu berpengaruh dalam kelulusan peserta didik. Sebab, sekolah diberi kewenangan untuk meluluskan peserta didik. Adanya Ujian Nasional sekarang guna mengetahui peta pendidikan yang ada di Indonesia. Jika saya mengatakan Ujian Nasional perlu dihapuskan, menurut saya sah-sah saja karena pemetaan pendidikan Indonesia tidak hanya dapat dilihat dari Ujian Nasional. Misal dengan penilaian dari masing-masing sekolah. Adanya Ujian Nasional dalam menentukan peta pendidikan Indonesia sebenarnya belum merata karena masih ada sekolah-sekolah yang belum mumpuni dari sumber daya guru maupun sumber bahan belajar yang dikatakan layak untuk proses pembelajaran. Selain itu, kewenangan sekolah guna meluluskan peserta didik sudah dilencengkan. Beberapa sekolah yang sebenarnya ada minimal satu peserta didik yang tidak lulus, namun karena gengsi maupun untuk meningkatkan prestasi sekolah akhirnya mereka meluluskan peserta didik. Jadi sudah melenceng dari niat pemerintah memberikan kewenangan karena mereka menganggap Ujian Nasional bukan satu-satunya alas an kita lulus, namun ada akhlaq dan yang mengetahuinya adalah sekolah masing-masing.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  38. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    UN/UNAS/EBTA/EBTANAS sebenarnya bagus untuk dijadikan bahan evaluasi penilaian terhadap peserta didik, namun bukan dijadikan sebagai tolak ukur kelulusan dan keberhasilan siswa karena keberhasilan siswa tidak bisa dinilai dalam waktu 3-7 hari masa ujian tersebut. Penilaian dilakukan mulai dari siswa masuk kesekolah sampai siswa tersebut lulus dari sekolah, barulah penilaian dikatakan otentik.

    ReplyDelete
  39. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya sangat setuju dengan pendapat bapak bahwa pendidikan sering terjadi tarik ulur karena mementingkan politik, sehingga pendidikan belum memiliki status yang jelas. Reformasi membawa perubahan disegala bidang salah satunya adalah otonomi daerah. Penerapan otonomi daerah dengan dasar dsentrealisari ini didasari oleh keinginan menciptakan demokrasi, pemerataan, dan efisiensi. Desentralisasi berimplikasi kebijakan bangsa harus berasal dari masyarakat bawah ke atas, bukan lagi dari atas ke bawah. Realitanya dalam bidang pendidikan sepertinya tidak berjalan sesuai keadaan. Kebijakan-kebijakan yang ada pada saat ini terkesan berasal dan disusun langsung oleh Dinas pendidikan tanpa memperhatikan partisipasi dari masyarakat. Padahal pendidikan yang seharusnya berpusat di masyarakat, harus untuk rakyat, sehingga harus berpedoman pada rakyat. Keterbukaan dan kesempatan untuk bertpartisipasi dalam bidang pendidikan harus dimanfaatkan dengan baik yakni dengan cara setiap mengambil kebijakan pemerintah harus menerapkan sistem botom up, yakni kebijakan yang berasal dari kondisi masyarakat (bawah ke atas).Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  40. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.
    Adanya tarik-ulur pada dua kutup sentralisasi dan desentralisasi membuat pendidikan di Indonesia kehilangan identitas bahkan bersifat temporer ataupun tumpul saat berjuang di tingkat dunia. Sungguh sangat disayangkan situasi yang seperti ini. Menurut saya ini tidak melemahkan semangat anak Indonesia untuk terus beprestasi di kancah internasional. Para educator juga terus memberikan motivasi dalam belajar kepada anak didiknya. Perlu juga ditekankan pada sistem yang inovatif di Indonesia agar dapat bersaing di dunia internasional. Sistem desentralisasi dapat diterapkan di negara Indonesia pada era sekarang dan mendatang. Mengingat pergerakan dan perkembangan teknologi pada era modern ini juga sudah sangat mendukung bidang pendidikan.

    ReplyDelete
  41. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Tabel diatas menggambarkan sistem pendidikan yang berkembang dari waktu ke waktu. Dimulai dari Industrial trainer, Technological Pragmatis, Old Humanis, Progressive educator, dan public educator. Sistem pendidikan industrial trainer, technological pragmatis, old humanis, menggambarkan sistem pendidikan yang tradisional, contohnya sumber belajar masih berupa papan tulis atau bersumber dari guru. Sedangkan sistem pembelajaran progressive educator dan public educator menggambarkan sistem pendidikan yang lebih modern, contohnya sumber belajar sudah berasal dari hal-hal yang ada di sekitar dan kehidupan sosial. Sehingga, baiknya sistem pendidikan Indonesia mengikuti sistem pendidikan yang modern yakni Progressive educator dan public educator.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  42. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk yang plural terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai macam adat istiadat yang berbeda. Kebutuhan setiap anak di setiap daerah di Indonesia tentunya berbeda. Sehingga dalam menyusun kebijakan pendidikan harusnya memperhatikan keberagaman tersebut, karena pendidikan hendaknya dapat disesuaikan dengan berbagai macam kondisi siswa.

    ReplyDelete
  43. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Indonesia termasuk ke dalam Public Educator dimana evaluasi menggunakan fortofolio, bersumber dari lingkungan sosial dengan masyarakat yang heterogen. Pembelajaran di Indonesia cocok dengan public educator, menggunakan proses berdiskusi, dengan teori pembelajaran berdiskusi dan menginvestigasi, dan melatih kemandirian, sehingga kemampuan siswa dapat terasah dan siswa dapat menjadi lebih percaya diri. Namun pada akhirnya, kesemua itu hanya akan diukur dengan UN. Banyak polemik mengenai UN ini, ada yang setuju tentunya, namun banyak pula yang menolaknya. Menurut saya, tolok ukur dari keberhasilan siswa belajar (siswa dinyatakan lulus) lebih baik tidak hanya UN saja, karena UN hanya dapat mengukur kemampuan kognitif saja.

    ReplyDelete
  44. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pelaksanaan Ujian Nasional nampaknya masih menjadi perbincangan publik dan menuai beberapa kritikan. Tidak sepantasnya proses belajar mengajar yang dilakukan bertahun-tahun hanya ditentukan oleh nilai ujian yang dilaksanakan beberapa jam saja. proses yang sangat panjang dalam belajar nampaknya tidak diperhatikan dan dihargai, yang dihargai adalah nilai dari ujian sesaat saja. Apalagi kecurangan-kecurangan sudah semakin merajalela.

    ReplyDelete
  45. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Salah satu permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan adalah masalah pemerataan. Sebenarnya tidak hanya di dunia pendidikan, namun juga di bidang ekonomi dan lain sebagainya. Salah satu terobosan untuk mengatasi belum ratanya kualitas pendidikan ini adalah dengan diterapkannya system zonasi. Dimana sekolah harus memprioritaskan anak didik dari wilayah terdekat untuk memasuki sekolah tersebut. Namun sebagaimana yang disampaikan Prof Marsigit, bahwa pembenahan-pembenahan maupun kebijakan yang diambil selama ini baru bersifat parsial/ sebagian, atau temporer/jangka pendek. Dan biasanya kebijakan-kebijakan yang dibuat sering kali diubah ketika berganti menteri. Hal ini membuat identitas pendidikan kita sampai sekarang menjadi belum jelas

    ReplyDelete
  46. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Saya sependapat dengan pernyataan Bp bahwa "Di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik", kondisi saat ini pendidikan Indonesia sedang berusaha menerapkan kutip desentralisasi dengan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap, yang disusun dalam kurikulum 2013.

    ReplyDelete
  47. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Dari peta pendidikan dunia ini dapat dilihat perkembangan pendidikan dunia dari tahun ketahun. Namun jika dilihat dari perkembangan pendidikan Indonesia, memang ada perubahan dari tahun ke tahun dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan dalam kegiatan pendidikan akan tetapi belum terlihat keberhasilan yang nyata dari setiap perkembangan dan perbaharuan yang dilakukan baik dalam sistem pendidikannya maupun dari kenyataan di lapangan. Baru-baru ini diberlakukan sistem rayon dengan tujuan memeratakan siswa yang memiliki kemampuan yang lebih sehingga tidak ada penumpukan siswa yang memiliki kemampuan lebih hanya di satu sekolah. Menurut saya dengan diberlakukan sistem ini akan timbul permasalahan-permasalahan baru, mungkin saja bukan memeratakan kemampuan siswa agar semua menjadi siswa yang memiliki kemampuan lebih dan dapat bersaing dengan dunia luar, namun mertakan siswa yang belum siap untuk bersaing dengan dunia luar. Karena fokus pada sistem perataan siswa saja namun pemerataan insfrastruktur dan pemerataan guru-guru yang memiliki kompetensi tinggi belum di lakukan.

    ReplyDelete
  48. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya sangat setuju dengan penjabaran Bapak mengenai tabel tersebut dan implementasinya dalam sistem pendidikan di Indonesia. Inkonsisten antara sentralisasi dan desentralisasi memberikan kebingungan yang nyata terutama kepada guru yang menjadi jembatan antara kebijakan dengan siswa yang harus menjalani. Guru tentunya ingin mengembangkan pembelajaran yang humanis namun saat penilaian pemerintah memberikan penilaian secara nasional dan tidak memberikan guru kesempatan untuk menilai. Kegalauan antara ingin mengembangkan siswa dengan mencapai ketrampilan mengerjakan soal dari pemerintah membuat kebayakan guru akhirnya kembali kepada pembelajaran teacher centered agar siswa mampu mengerjakan soal-soal UN.

    ReplyDelete
  49. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B 2017

    Kurikulum di Indonesia selale berubah-ubah. Hampir setiap pergantian menteri mengubah kurikulum. Padahal penerepan kurikulum sebelumnya belum maksimal. Hal ini mengakibatkan guru bingung untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah. Guru hanya memikirkan administrasi yang perlu dibuat, sehingga guru mengesampingkan perannya dalam proses pembelajaran. Hal ini mengakibatkan guru tidak maksimal dalam mengajarkan sebuah materi dan membuat siswa tidak memahami materi yang diajarkan. Tidak hanya guru yang merasa bingung, siswa juga merasakan kebingungan. Bingung masa depannya yang terombang ambing akibat kebijakan pemerintah yang selalu berganti. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah Indonesia segera menemukan jati dirinya terkhusus pada aspek pendidikan agar masa depan kaum muda sekarang lebih terbuka lebar. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  50. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada 3 kolom kiri tentang evaluasi, evaluasi yang dipakai seperti ujian nasional. UN dari dulu sampai sekarang memunculkan pro dan kontra. Sempat UN akan dihapus namun ada penolakan dari bapak Jusuf kalla waktu itu, karena jika UN dihapus maka daya saing dan semangat siswa dalam belajar akan menurun. Kemudian sampai sekarang UN masih ada, namun tidak menjadi satu-satunya komponen penentu kelulusan. Menurut saya ini merupakan kabar baik, UN tetap ada untuk mengetahui kemampuan siswa secara nasional, pun sudah tidak menjadi momok bagi siswa, guru, dan orangtua. Ini terbukti saat saya mengamati siswa dalam berlatih soal, mereka malah sering berlatih soal-soal SBMPTN alih-alih soal UN, artinya ada pergeseran orientasi siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  51. Dari tabel diatas saya bisa mengetahui bahwa berdasarkan kategori ressources, evaluation, diversity berdasarkan 3 kolom disebelah kiri yang menganut pencapaian siswa hanya sebatas nilai ujian/UN saja seperti system pendidikan Indonesia pada era dahulu yang diterpakan oleh Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis. Sementara sekarang di dunia yang lebih maju pada kolom progressive educator dan public educator mulai berkembang system yang menilai keberhasilan siswa tidak hanya berdasarkan nilai/ujian saja tetapi pencapaiannya dari segi sikap dan keterampilan biasa disebut assesmen autentik. Sementara di Indonesia orientasi system kita masih terombang ambing diantara keduanya, yah… semoga pemerintah kita cepat bisa mengambil keputusan, mau dibawa kemana kita dalam memandang keberhasilan siswa kita.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  52. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Terakit peta pendidikan dunia 4 kali ini merupakan hal yang menarik. Konsep kebijakan dan evaluasi pendidikan di Indonesia masih dalam tahap tarik ulur antara sentralisasi dan disentralisasi. Yang mengkhawatirkan adalah konsep sentralisasi yang selalu menjadi jalan pintas bagi pendidikan Indonesia. Sentralisasi kerap kali dibangun dengan landasan pragmatis, yaitu ingin memperbaiki pendidikan dengan asumsi meratakan kualitas siswa dan kualitas manajerial pendidik. Hal tersebut yang cenderung menimbulkan kesalahan persepsi guru terhadap suatu kebijakan dan sekaligus mematikan inovasi guru dalam pembelajaran. Selain itu, siswa secara potensi juga akan tertekan dengan adanya sentralisasi yang mengabaikan pendukung pembelajarannya. Maka dari itu bagi saya konsep yang sesuai bagi Indonesia adalah desentralisasi pendidikan dan menghidupkan kembali potensi-potensi lokal.

    ReplyDelete
  53. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Indonesia adalah negara yang pluralisme dengan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu, sangat baik dan bijaksana jika pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan pluralnya Indonesia dimana keberagamannya heterogen

    ReplyDelete
  54. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Lanjutan dari peta 3 ini lebih mengarah pada hasil akhir atau penilaian dari proses pembelajaran. Penilaian akhir dalam proses belajar itu sangatlah penting. Tetapi jika penilaian itu hanya dilihat dan hanya berpatokan pada nilai hasil ujian nasional saja rasanya tidak adil, karena hal tersebut hanya berfokuskan pada hasil akhir saja, sehingga prosesnya dikesampingkan. Sehingga kualitas yang dihasilkan baik guru maupun siswa kurang begitu tinggi, karena semuanya sama-sama mengejar hasil, bukan prosesnya. Sedangkan pada dua kolom sebelah kanan, nilai yang didapatkan dari hasil penilaian otentik meliputi portofolio, proses dan sikap. Dan juga lebih menghargai segala keberagaman yang ada, dan juga tidak bersistem sentralisasi. Tetapi sistem di Indonesia masih belum sampai pada dua kolom sebelah kanan ini, hanya sedang menuju, semoga bisa, Indonesia harus bisa.

    ReplyDelete
  55. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 P.Mat UNY kelas B 2017

    memang jika dilihat sampai saat ini pendidikan kita masih belum jelas bentuknya. ibarat bangsa yang tidak mengerti jati dirinya. saya hanya berharap sellau ada perbaikan untuk memajukan pendidikan kita. semoga allah merestu dan menjadikan bangsa kita sebagai bangsa yang besar dan berakhlak baik. aamiin

    ReplyDelete
  56. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Politik dan pendidikan merupakan hal yang berbeda. Hampir semua orag berpikir ketia mentri pendidikannya berubah maka suatu kebijakannya juga akan berubah. Sehingga saat kegiatan dilakukan dengan mentri A namun berhenti ditengah jalan karena sudah ganti dengan mentri B. Itulah yang selama ini dipikirkan, termasuk oleh saya. Apabila hal ini memang benar adanya, maka tentu saja hal ini tidak baik dan akan berdampak langsung bagi siswa di Indonesia. Saya setuju dengan pendapat ahli pendidikan yang terlibat membuat kebijakan pendidikan agar saat mentrinya ganti maka kebijakan tersebut tidak mudah beralih karena sudah dikaji oleh ahli pendidikan

    ReplyDelete
  57. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Sistem pendidikan yang dilaksanakan di suatu nagara tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Terlebih lagi Indonesia merupakan negara berkembang yang masih gencar-gencarnya melakukan perbaikan di sisi manapun. Jika kita hendak membicarakan sentralisasi atau desentralisasi pendidikan di Indonesia sepertinya sangat sulit dilakukan. Ambil contoh saat pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Setiap sekolah telah diberi kewenangan penuh untuk mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada di dekolahnya. Sistem ini telah merujuk ke desentralisasi pendidikan, namun kembali lagi di Indonesia terdapat juian nasional yang pelaksanaannya terpusat sehingga sistema desentralisasi pendidikan kembali bubar, hanya tersisa otonomi pendidikan walaupun sistem yang berlaku masih sentralisasi. Wallau a'lam

    ReplyDelete
  58. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Perbaikan dalam sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia semakin diperbarui dengan harapan akan semakin membawa perubahan menuju arah yang lebih baik. Jika di telusuri, perubahan kurikulum dari KTSP menjadi kurikulum K13 menggandenga banyak sekali aspek pendidikan yang berubah, mulai dari metode, materi, maupun evaluasi. Padahal jika kita berkaca pada dunia internsaional, perubahan kurikulum hanya berdasarkan beberapa aspek saja terlebih dahulu, namun pendidikan kita langsung diborong dalam sekali perubahan, sehingga guru dan siswa terkesan "kaget". Biarpun demikian, kita tentu masih berharap sistem pendidikan kali ini dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  59. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B
    Terakit peta pendidikan dunia 4 kali ini merupakan hal yang menarik. Konsep kebijakan dan evaluasi pendidikan di Indonesia masih dalam tahap tarik ulur antara sentralisasi dan disentralisasi. Yang mengkhawatirkan adalah konsep sentralisasi yang selalu menjadi jalan pintas bagi pendidikan Indonesia. Sentralisasi kerap kali dibangun dengan landasan pragmatis, yaitu ingin memperbaiki pendidikan dengan asumsi meratakan kualitas siswa dan kualitas manajerial pendidik. Hal tersebut yang cenderung menimbulkan kesalahan persepsi guru terhadap suatu kebijakan dan sekaligus mematikan inovasi guru dalam pembelajaran. Selain itu, siswa secara potensi juga akan tertekan dengan adanya sentralisasi yang mengabaikan pendukung pembelajarannya. Maka dari itu bagi saya konsep yang sesuai bagi Indonesia adalah desentralisasi pendidikan dan menghidupkan kembali potensi-potensi lokal.

    ReplyDelete
  60. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sangat setuju dengan statement di atas, bahwa saat ini masih terjadi tarik ulur pada sistem pendidikan di Indonesia, apakah sentralistik, ataukah desentralistik. Akan tetapi, berdasarkan 3 postingan sebelumnya (peta pendidikan 1, peta pendidikan 2, peta pendidikan 3 berikut dengan penjelasannya), sepertinya pendidikan di Indonesia masih condong pada sistem yang sentralistik. Salah satunya dibuktikan dengan sistem evaluasi pendidikan di Indonesia yang sifatnya eksternal, yaitu lewat ujian nasional. Maka sudah menjadi hal wajar jika tiap kali mendekati ujian nasional muncul berbagai macam "ritual" UN beserta "kesurupan kesurupan" di dalamnya. Sesungguhnya UN bukanlah jalan yang tepat dalam mengevaluasi pembelajaran siswa, karena yang berhak memberikan penilaian dan judgemental pencapaian belajar pada siswa hanyalah guru yang setiap hari melihat perkembangan belajarnya. Maka untuk mencapai bentuk pendidikan yang demokrasi, bentuk pendidikan yang berpusat pada siswa, marilah sedikit demi sedikit kita perbaiki semuanya.

    ReplyDelete
  61. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pergantian sistem pendidikan Indonesia berjalan seiring pergantian kepemimpinan. Tidak heran bila ada yang menyebutkan bahwa pendidikan bagian dari politik. Salah satu pembahasan pendidikan yang tak pernah habisnya adalah pelaksanaan UN yang hingga saat ini masih dipertahankan. Namun sejatinya, pendidikan yang dibutuhkan adalah yang bersifat desentralisasi. Desentralisasi menerapkan penilaian yang berkelanjutan. Maka itulah yang sebenar-benar penilaian. Sejatinya kita tidak dapat melihat keberhasilan hanya dari hasil akhirnya saja namun penilaian itu sendiri telah dimulai saat proses itu berlangsung, serta tidak dapat dilihat dari satu aspek karena ujung dari proses pembelajaran adalah perkembangan tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

    ReplyDelete
  62. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017

    Evaluasi pembelajaran pada dua kolom sebelah kanan sudah sesuai dengan paradigm pendidikan modern yaitu menggunakan penilaian berbasis portofolio dimana hasil kerja siswa dapat diukur secara lebih komprehensif dan dapat dilihat dari semua aspek baik sikap, pengetahuan maupun ketrampilan.

    ReplyDelete
  63. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Peta 4 ini adalah lanjutan dari peta 3. Sekarang kita akan meninjau era pendidikan dunia dari segi sumber belajar, evaluasi pembelajaran, dan keanekaragaman. Pada era public educator seperti sekarang ini, sebaiknya kita berpandangan bahwa sumber belajar itu adalah lingkungan sosial. Kita harusnya bisa mengajak siswa untuk melihat dan menyelesaikan masalah yang ada di lingkungan. Sedangkan untuk masalah evaluasi, sebaiknya evaluasi dilakukan dengan portofolio dan konteks sosial. Selain itu perlu disadari juga akan keanekaragaman yang ada, baik pada diri peserta didik, lingkungan pembelajaran, dsb. Pada bebrapatugas berbentuk portopolio yang dapat digunakan siswa untuk projek untuk memaju pemecahan masalah dari siswa.

    ReplyDelete
  64. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    eknik penilaian dalam Progressive educator adalah portofolio dan assessment. Penilaian Portofolio adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan cara menilai hasil karya peserta didik yang berupa kumpulan tugas, karya, prestasi akademik/non akademik, yang dikerjakan/dihasilkan peserta didik. Contohnya adalah karangan, puisi, surat, lukisan, laporan penelitian, laporan kerja kelompok, sertifikat atau tanda penghargaan yang pernah diterima oleh peserta didik. Portofolio juga merupakan kumpulan informasi yang perlu diketahui oleh guru sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah perbaikan pembelajaran, atau peningkatan belajar siswa.

    ReplyDelete
  65. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saya setuju dengan pendapat bapak bahwa di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutub sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan. Ini tercermin dari kebijakan-kebijakan pendidikan yang sering berubah. Kabinet kerja berganti, sistem kebijakan juga berganti, menteri berganti, berganti pulalah kebijakan-kebijakannya. Sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi, ini berpengaruh terhadap pendidikan di Indonesia. Hal-hal yang harusnya digunakan untuk kemajuan pendidikan justru di korupsi dan menjadikan kualitas pendidikan semakin rendah.

    ReplyDelete
  66. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B
    Pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan, perubahan yang terjadi diharapkan untuk kebaikan. Sistem penilaian di Indonesia masih mengalamai tarik ulur. Hal itu mengindikasikan adanya kepentingan pihak ketiga yang ingin mencari keuntungan dari kebijakan pendidikan. Untuk saat ini, nilai UN yang hanya mampu menilai kognitif siswa tidak lagi dijadikan sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran. Selain itu, dalam penilaian di kurikulum 2013 ini juga tidak hanya terfokus pada kognitif siswa namun juga mulai merambah pada penilaian afektif dan psikomotorik. Tentunya masih banyak kekurangan, dalam proses penilaian. Namun setidaknya sudah ada usaha untuk berproses menuju kebaikan. Terimakasih

    ReplyDelete
  67. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Berdasarkan pemaparan Bapak di atas, sistem penilaian pendidikan di Indonesia dinilai masih terjadi tarik ulur antara kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan. Namun melihat system evaluasi sekarang, kelulusan siswa tidak lagi hanya dinilai 100 persen dari nilai UN, namun juga dilihat dari nilai rapor. Artinya penilaian proses (authentic assessment) disini juga dilakukan. Penilaian yang tidak hanya sekedar melihat hasil, namun penilaian terhadap sikap, keterampilan dan tentu saja pengetahuan.

    ReplyDelete
  68. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya tertarik untuk membahsa tentang assessment atau penilaian/evaluasi pendidikan berdasarkan peta di atas. sebelumnya telah dijelaskan bahwa tiga kolom paing kiri penilaian/evaluasi yang dilakukan secara sentralisasi atau mengambil kesimpulan kecil dari seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan, contohnya ujian nasional yang dilakukan untuk beberapa mata pelajaran yang dianggap penting pada akhir jenjang sekolah sebagai salah satu penentu kelulusan siswa. Sedangkan dua kolom kanannya merupakan penilaian/evaluasi secara autentik dan berkelanjutan selama siswa tersebut menjalani kegiatan pembelajraannya di sekolah, contohnya laporan portofolio serta penilaian proses dan sikap.

    Kedua model penilaian/evaluasi tersebut baik untuk dilakukan. Ujian nasiona perlu dilakukan untuk publikasi pada masyarakat luas, khususnya sekolah di jenjang selanjutnya agar mampu menilai kemampuan aademik dari siswa tersebut walaupun hanya sebagian kecil yang dinilai. Sedangkan portofolio dan pengamatan proses dan sikap perlu dilakukan demi meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya oleh guru terhadap siswanya secara internal. Namun, yang dilakukan di lapangan lebih mementingkan penilaian ujian nasional dan mengabaikan penilaian secara autentik. Ha ini menyebabkan orientasi belajar siswa tertuju pada mencari nilai UN yang tinggi tanpa tahu esensi dari apa yang ia pelajari serta tidak memahami keiatan pembelajaran yang ia jalani selama masa sekolah.

    ReplyDelete
  69. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Pada bagan diatas diceritakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih mencari bentuk yang cocok untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan sistem di Indonesia masih tarik ulur antara penggunaan sentralisasi atau desentralisasi. Penggunaan kedua jenis itu bergantung kepada kepentingan politik yang sedang berkuasa di Indonesia. sehingga kebijakan pendidikan nasonal kurang mempunyai keputusan yang kuat.

    ReplyDelete
  70. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pada Peta Pendidikan Dunia yang keempat ini, terlihat bahwa output dari pendidikan Indonesia adalah sebuah portofolio, kemudian menekankan penilaian proses dan sikap, namun yang terjadi output pendidikan saat ini hanya dititik beratkan pada hasil UN. Padahal Indonesia adalah wilayah yang memiliki keberagaman wilayah, budaya dan kesejahteraan. Wilayah 3T, yang serba terbatas tentu akan memiliki mutu pendidikan yang jauh berbeda dengan yang berada di wilayah maju/perkotaan. Tidak adil rasanya jika usaha, perjuangan siswa selama bertahun-tahun menuntut ilmu hanya akan ditentukan oleh selembar kertas jawaban saja. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  71. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    terimakasih pak untuk ilmunya
    lagi-lagi saya semakin tertarik untuk belajar bagaimana pendidikan khususnya di Indonesia
    saya, belum bisa memberikan tanggapan berdasarkan artikel diatas, karena masih kurangnya ilmu saya pak
    maaf sebelumnya dan terimakasih untuk ilmu baru yang menjadi referensi untuk saya

    ReplyDelete
  72. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Waduh semakin kelihatan deh kalau lihat tabel yang ini. Kelihatan Indonesia masuk yang mana. Pakainya external evaluation mah benar-benar zaman old. Mana ada guru yang menilai pure dari portofolio saja?
    Weh lahdalaah.. saya baru mengerti mengapa kami diminta banyak membaca, mengomen blog dan membuat refleksi.. ya itu penilaian portofolio yang benar-benar.. waaah, ternyata kami ini sedang belajar di posisi zaman now lo. Bukan external evaluation lagi..

    ReplyDelete
  73. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Saat ini Indonesia masih menggunakan sistem UN sebagai assesment. Namun penilaian hasil belajar siswa (Nilai raport) telah mengalami berbagai perubahan. Sistem penilaian saat ini tidak hanya dari segi kognitif/pengetahuan siswa namun juga dari segi afektif dan psikomotorik siswa.

    ReplyDelete
  74. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C


    Tabel diatas menggambarakan mengenai perbandingan antara pendidik dengan sumber daya, evaluasi dan keragaman. Sumber daya yang dapat digunakan meliputi papan tulis, kapur,bantuan mengajar untuk pelatihan industri, bantuan mengajar untuk teknologi pragmatis,old humanist, dan sebagainya. Demikian pula untuk keragaman,masing -masing pendidik memiliki cara mereka sendiri.

    ReplyDelete
  75. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa hubungan antara diversity dengan old humanist adalah competence based curriculum. Dalam hal ini kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa adalah kompetensi yang telah dirancang oleh kurikulum. Jadi ketika kita membicarakan mata pelajaran yang belum lulus bukan berarti seluruh materi pelajaran tersebut yang tidak dilulusi oleh siswa tetapi bisa saja hanya kompetensi dasar tertentu saja yang tidak dilulusi oleh siswa. Sehingga imbasnya ketika siswa melakukan remedial, maka siswa tersebut tidaklah mengulangi seluruh materi dalam satu mata pelajaran, namun hanya terbatas pada KD yang tidak dilulusinya saja. Dalam hal ini tentunya mengandung efek positif dan negatifnya masing-masing.

    ReplyDelete
  76. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan Peta Pendidikan Dunia yang ke-4 yang diadopsi dari Paul Ernest, hampir sama dengan peta-peta sebelumnya. Harapan dunia pendidikan Indonesia tetap 2 kolom sebelah kanan. Penilaian yang menghargai sebuah proses, bukan hanya hasil, yaitu penilaian yang berupa uthentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap. Selain itu, kolom sebelah kanan juga memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, serta lebih menyukai sistem Desentralisasi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  77. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika berdasarkan pada standar nasional, disitu tertera ada yang namanya standar pnilai. Standar nilai yang dipatokkan disini sebagai standar minimal dari kemampuan peserta didik. Hal ini jika diolah sangat serius, maka sebenarnya akan memberikan dampak yang baik untuk perkembangan peserta didik tersebut. namun jika standar nilai disini hanya digunakan sebagai laporan telah berhasil mengembangkan peserta didik secara skor/nilai, maka kebutuhan yang mereka perlukan tidak akan terfasilitasi dengan baik, karena evaluasi yang dilakukan tidak dijalankan dengan baik pula untuk lebih memberikan perkembangan yang baik dalam menyajikan kebutuhan mereka.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  78. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Aspek yang diperhatikan dalam pendidikan tidak hanya aspek kognitif saja, melainkan ditambah dengan aspek psikomotor dan afektif. Ujian nasional tidak dapat dijadikan alat untuk mengukur ketercapaian aspek-aspek tersebut. Penilaian sacara otentik, melalui portofolio atau pengamatan terhadap siswa adalah contoh cara yang tepat untuk mengevaluasi ketiga aspek tersebut.
    Ujian nasional tidak dapat dijadikan penentu keberhasilan siswa dalam belajar, yang berhak menilai keberhasilan belajar siswa adalah gurunya. Karena guru adalah satu-satunya yang mengetahui kondisi siswa dan prosesnya dalam belajar.

    ReplyDelete
  79. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berdasarkan peta 4 pendidikan dunia tersebut kita dapat mengetahui bahwa pada masyarakat industrial trainer, sumber belajar yang digunakan adalah, kapur, papan tulis, dan tidak boleh menggunakan kalkulator. Pada masyarakat technological pragmatis, sumber berlajar yang digunakan adalah media pembelajaran. Pada masyarakat old humanis, sumber berlajar yang digunakan adalah media pembelajaran visual yang bertujuan untuk memotivasi. Pada masyarakat progressive educator, sumber belajar yang digunakan adalah berbagai sumber atau lingkungan. Sedangkan pada masyarakat public educator, sumber belajar yang digunakan adalah lingkungan sosial.

    ReplyDelete
  80. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    menurut saya, pendidikan di Indonesia masih pada tingkatan old humanism, dimana masih banyak pengajar dengan menggunakan konvensional, selanjutnya memberikan tes, dan kompetensi didasarkan pada kurikulum

    ReplyDelete
  81. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. pendidikan di Indonesia hendaknya memegang prinsip penilaian portofolio dan penilaian portofolio dalam konteks sosila agar siswa-siswa lebih dapat dipantau penilaiannya. Siswa-siswa di Indonesia perlu lebih membaur dalam masyarakat, untuk itu sekiranya perlu juga masyarakat dilibatkan dalam penilaian pembelajaran.

    ReplyDelete
  82. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. pendidikan di Indonesia hendaknya memegang prinsip penilaian portofolio dan penilaian portofolio dalam konteks sosila agar siswa-siswa lebih dapat dipantau penilaiannya. Siswa-siswa di Indonesia perlu lebih membaur dalam masyarakat, untuk itu sekiranya perlu juga masyarakat dilibatkan dalam penilaian pembelajaran.

    ReplyDelete
  83. Dewi Thufaila
    17709251054/
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Apabila pendidikan dicampur adukkan dengan politik akan membuat Pendidikan di Indonesia belum mempunyai identitas yang jelas, setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  84. Dewi Thufaila
    17709251054/
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Seharusnya pendidikan di Indonesia jangan dicampur adukkan dengan politik. Hal tersebut dapat dimulai dengan ahli pendidikan yang membuat kebijakan pendidikan bukan seseorang yang tidak mengetahui seluk beluk pendidikan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  85. 3 kolom di kiri menggambarkan pendidikan dengan sentralisme. Sedangkan dua kolom sebelah kanan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, dan demikian lebih menyukai bersistem Desentralisasi.
    Indonesia adalah negara yang pluralisme dengan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu, sangat baik dan bijaksana jika pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan pluralnya Indonesia dimana keberagamannya heterogen

    ReplyDelete
  86. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Ini merupakan pertanyaan yang sama yang saya lontarkan pada peta 1, peta 2, dan peta 3. Mengingat Pancasila adalah salah-satu ideologi yang unik di dunia yang menurut beberapa pandang mencakup dan toleransi pada ideologi-ideologi humanis lainnya, sehingga memunculkan pertanyaan dari saya, “di antara yang tercakup dalam peta pendidikan di atas, manakah bagian yang mengarah pada ideologi pancasila? Dan bagaimana posisi pancasila dalam khazanah pengetahuan ideologi pendidikan di dunia?

    ReplyDelete
  87. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Segala sesuatu tidak akan pernah terlepas dari unsur politik. Sebenarnya politik itu baik, yang tidak baik adalah oknum pembuat yang ada pada politik. Sifat dasar manusia memiliki kebaikan dan tujuan yang mulia. Apalagi ketika telah menjadi pemimpin. Hanya apa kita mau menggunakan ini atau Tidak ? Unsur-unsur politik lebih condong ke arah kebahagiaan sesaat bahkan slogan yang kental sekali yaitu kawan adalah lawan. Mereka sudah menjudgement diri mereka sendiri sehingga kebijakan yang dikeluarkan pun lebih ke arah mengamankan posisi mereka saat itu. Bisa jadi hal ini terjadi pada sistem pendidikan yang dicampuradukkan dengan kepentingan politik tertentu.

    ReplyDelete
  88. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Sistem pendidikan di negara kita saat ini memang rentan dengan eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan melalui proyek-proyek. oleh karena itu, disamping memperhatikan hal-hal terkait dunia pendidikan, kedisiplinan dan pengawasan yang ketat juga perlu dilakukan agar tidak terjadi hal-hal yang demikian sehingga dapat merugikan negara, terutama generasi muda yang menjadi korban.

    ReplyDelete
  89. Nama


    Membaca postingan di atas, saya menjadi tahu bahwa mengapa setiap kebijakan pendidikan di indonesia selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, sementara/jangka pendek yakni karena penerapan pendidikan bersifat Tradisional dan lebih menyukai sistem sentralisasi. Sistem pendidikan di negara kita saat ini memang rentan dengan eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan pribadi. sehingga kebijakan pendidikan nasonal kurang mempunyai keputusan yang kuat dan konsisten.

    ReplyDelete
  90. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Seringkali kita selalu mendewakan inovasi dan menganggap semua hal yang tradisional itu buruk dan tidak ada lagi yang relevan dengan saat ini. Padahal jika kita menilik sejarah sedikit saja, yang sekarang tradisional dulunya juga merupakan inovasi. Menurut saya, pendidikan tradisional atau konvensional tidak selamanya buruk, masih ada beberapa hal yang bisa diambil. Hanya saja tentu, perlu adanya penyesuaian. Pembelajaran yang dikatakan konvensional seperti guru mentransfer pengetahuan kepada siswa, sebenarnya dapat pula menjadi pembelajaran yang justru efektif dalam beberapa hal. Namun dalam prosesnya guru juga harus memberikan sentuhan ‘kekinian’, sehingga siswa tidak serta merta mendengarkan, tetapi juga berusaha mengaitkan apa yang mereka dengar dengan berbagai pengetahuan relevan lainnya dan menyusun peta konsep dalam pikirannya.

    ReplyDelete
  91. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Indonesia yang menganut paham demokrasi akan cocok jika menerapkan pendidikan berdasarkan public educator yang mengajarkan untuk bersikap sosial melalui pendidikan. Kemudian tes kelulusan menggunakan portofolio dengan mengetes pemahaman siswa, yang dinilai tidak hanya hasilnya, tetapi langkahnya. Jika kenaikan kelas menggunakan tes, maka guru tidak tahu bagaimana pemahaman siswa mengenai materi yang diajarkan. Sehingga yang paling mengetahui perkembangan siswa adalah gurunya sendiri, bukan sekedar melalui tes kemudian dinyatakan naik kelas atau tidak.

    ReplyDelete
  92. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Sumber belajar Industrial Trainer begitu mirip dengan kebanyakan sekolah yang ada di Indonesia (jika saya lihat mendominasi di daerah). Di mana masih banyak menggunakan sumber belajar yang terpusat pada guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Dan yang paling menarik adalah larangan penggunaan kalkulator di sekolah. Para guru menganggap penggunaan kalkulator itu membuat siswa malas berfikir, sehingga masih sering ditemui bagaimana siswa diminta untuk menghafal teori dan konsep (misalnya perkalian, pembagian, dsb). Begitu kontras dengan keadaan di sekolah yang ada di luar negeri, di mana penggunaan kalkulator ilmiah diperbolehkan bahkan masuk ke dalam kurikulum untuk diajarkan oleh guru kepada siswa.

    ReplyDelete
  93. Indonesia adalah negara yang pluralisme dengan bermacam-macam budaya. Oleh karena itu, sangat baik dan bijaksana jika pendidikan dikembangkan dengan memanfaatkan pluralnya Indonesia dimana keberagamannya heterogen

    ReplyDelete
  94. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Public educator sesuai dengan kondisi pendidikan di Indonesia dan sesuai dengan bangsa Indonesia yang menganut sistem demokrasi dan sesuai dengan karakter pendidikan yang ada di Indonesia

    ReplyDelete
  95. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas tabelnya, Prof. Saya setuju bahwa di Indonesia memang masih terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, karena sampai saat ini pun Indonesia masih menyelenggarkan UN meskipun juga melakukan penilaian proses dan sikap. Kemudian, dengan keberagaman di Indonesia, saya rasa 2 kolom sebelah kanan lebih cocok untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  96. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Memang benar, sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih terjadi tarik ulur. Namun, jika kita amati pendidikan di Indonesia yang mulanya masih condong pada sistem sentralistik, hal tersebut dibuktikan dengan adanya UN sebagai tolak ukur utama kelulusan , sekarang berubah yaitu adanya tolak ukur penilaian afektif dan psikomotorik. Sesungguhnya, suatu pembelajaran tidak cukup dilihat dari satu aspek saja, namun harus memenuhi tiga aspek yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.

    ReplyDelete
  97. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Apabila dilihat dari peta-peta sebelumnya posisi pendidikan Indonesia adalah sesuai dengan 3 kolom sebelah kiri, dan di peta 4 juga tidak berubah karena memang pendidikan di Indonesia masih menerapkan evaluasi bersifat eksternal melalui UASBN dan UN, kurikulum berbasis kompetensi (old humanisme).

    ReplyDelete
  98. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Dari artikel di atas saya belajar bahwa pendidikan di Indonesia seharusnya mempunyai kejelasan terhadap system apa yang dianutnya karena akan berpengaruh pada kegiatan dan proses kegiatan yang ada di dalamnya. Namun, di lain sisi saya pribadi berpikir bahwa tidak ada salahnya berdiri di atas dua system baik itu sentralistik maupun `desentralistik, toh juga penduduk Indonesia beragam. Siapa tahu kedua system tersebut lebih cocok dalam memfasilitasi pendidikan yang ada di Indonesia dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didiknya.

    ReplyDelete
  99. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Peta 4 - peta pendidikan dunia yang dibuat oleh Prof. Marsigit dari Paul Ernest ini menyoroti tentang pendekatan pembelajaran yang digunakan. Disebutkan bahwa tiga kolom sebelah kiri meliputi: Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, menerapkan pendekatan Tradisional/Conventional dalam pebelajaran dengan sistem Evaluasi bersifat Exernal sehingga mengarah pada sistem sentralisasi. Sedangkan dua kolom sebelah kanan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio yang menilai proses dan sikap. Meskipun di Indonesia belum jelas bentuk pendidikannya akan tetapi diharapkan pendidikan di Indonesia akan mengarah pada pendidikan student centered dengan berbagai macam variasi metode pembelajaran yang dalam peta pendidikan dunia disebutkan sebagai progressive educator dan atau public educator.

    ReplyDelete
  100. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pada postingan peta bagian 1,2, dan 3 pendidikan Indonesia berada pada dua kolom paling kanan. Begitu pula pada postingan peta bagian 4 ini. Pendidikan Indonesia berada pada dua kolom paling kanan dilihat melalui Resources, Evaluation, dan Diversity. Indonesia menggunakan berbagai macam portofolio dan assessment. Selain itu, pendidikan Indonesia menggunakan kegiatan beradaptasi dari kegiatan sosial atau dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Namun dalam pelaksanaan Pendidikan Indonesia pula terdapat beberapa tarik ulur pada beberapa kebijakan, misalnya saja kebijakan pelaksanaan UN.

    ReplyDelete
  101. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    Konsep evaluasi pendidikan di Indonesia masih terjadi tarik ulur antara sentralisasi dan desentralisasi. Melihat, realita yang ada saat ini konsep evaluasi pendidikan di indonesia bersifat sentralisasi. Hal ini dapat dilihat dari diberlakukannya UN. Mengingat Indonesia negara kepulauan yang besar, terdiri dari banyak daerah dengan beragam kebudayaan. Kedepannya saya mengharapkan agar sistem pendidikan di Indonesia lebih bersifat desentralisasi untuk menghidupkan budaya-budaya lokal yang ada di masing-masing daerah.

    ReplyDelete

  102. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Pendidikan seperti pada 3 kolom ke kiri bersifat monoton karena hanya mengandalkan penjelasan guru, hanya terfokus pada papan tulis, dan asesmen yang dilakukan juga hanya berupa tes pengetahuan.
    Sedangkan pendidikan pada 2 kolom ke kanan lebih bervariasi dilihat dari media yang digunakan tidak sekedar papan tulis, sumber belajar juga bervariasi, menggunakan masalah kontekstual yang bervariasi, kegiatan asesmen juga tidak hanya berdasarkan tes pengetahuan tetapi juga aspek sikap dan keterampilan. Pendidikan pada dua kolom ke kanan ini juga lebih menghargai keberagaman yang ada di sekitar kita.

    ReplyDelete

  103. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Pendidikan seperti pada 3 kolom ke kiri bersifat monoton karena hanya mengandalkan penjelasan guru, hanya terfokus pada papan tulis, dan asesmen yang dilakukan juga hanya berupa tes pengetahuan.
    Sedangkan pendidikan pada 2 kolom ke kanan lebih bervariasi dilihat dari media yang digunakan tidak sekedar papan tulis, sumber belajar juga bervariasi, menggunakan masalah kontekstual yang bervariasi, kegiatan asesmen juga tidak hanya berdasarkan tes pengetahuan tetapi juga aspek sikap dan keterampilan. Pendidikan pada dua kolom ke kanan ini juga lebih menghargai keberagaman yang ada di sekitar kita.

    ReplyDelete
  104. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Terimakasih prof, seperti yang diketahui dari peta pendidikan 1, 2 dan 3. Pada peta ke 4 ini juga menjelaskan bahwa Indonesia masih berada pada tiga kolom dari kiri. Bahwa Indonesia juga masih terjadi tarik ulur atara kutub sentralisasi dan desentralisasi untuk kepentingan politik.

    ReplyDelete
  105. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Pada peta pendidikan 4 ini 3 kolom kiri menunjukan pendidikan yang menganut sistem external assesment atau sentralisasi seperti UN, ini yang dari dulu dianut oleh pendidikan di Indonesia. sedangakan kolom sebelah kanan menunjukkan sistem assesment yang lebih desentralisasi atau oleh guru itu sendiri. Artikel ini Bapak tulis pada 2012 dan Bapak menyampaikan bahwa indonesia masih ditarik ulur antara kutub sentralisasi dan desentralisasi untuk kepentingan politik. Dan tahun 2018 ini Indonesia lebih terombang-ambing lagi masalah assesment ini, terbukti dari adanya penyelenggaraan UN namun tidak digunakan untuk kelulusan, bahkan sistem masuk jenjang selanjutnya pun ada kebijakan baru mengenai zonasi dimana jarak rumah ke sekolah lebih berpengaruh ketimbang nilai UN.

    ReplyDelete
  106. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  107. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Saya sependapat dengan pendapat prof, bahwa di Indonesia selalu terjadi tarik ulur antara dua kutub sentralisasi dan disentralisasi di atas kepentingan politik, itulah sebabnya Indonesia belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan. Dalam setiap pergantian kepemimpinan, berganti pula menteri, berubah juga kebijakan –kebijakan di Indonesia, termasuk kebijakan pendidikan. Sehingga kebijakan-kebijakan tersebut hanya seperti bersifat sementara saja

    ReplyDelete
  108. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Pada postingan ini, ditambah lagi pengetahuan pengenai pendidikan indonesia yang mengarah pada Industrial Traineer, Technoligal Pragmatis, dan Old Humanist yang berorientasi pada teacher centered dengan paradigma Transfer of Thinking serta pembelajaran yang konvensional. Tidak hanya teacher centered dengan paradigmanya, namun ketiga hal tersebut juga menjelaskan bahwa sistem evaluasinya adalah sistem evaluasi yang bersifat eksternal dan sentralisasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketiga hal tersebut memang sangat menunjukkan pendidikan di Indonesia. Seperti yang telah kita ketahui, pendidikan di Indonesia menggunakan sistem evaluasi atau penilaian eksternal seperti Ujian Nasional. Namun seperti yang dikatakan pada 3 postingan sebelumnya, bahwa Indonesia mulai bergerak menuju Progressive Educator dan Public Educator, hal ini berarti Indonesai juga harus mulai berbenah, bergerak dari sistem penialain yg bersifat sentralisasi menjadi desentralisasi yang dapat berupa authentic assessment portofolio.
    Setelah membaca 4 peta pendidikan yang dibuat Pak Prof. Marsigit dari Paul Ernest tersebut, semoga kita sebagai calon pendidik dapat menerapkan pendidikan yang mengarah kepada Public Educator dengan berorientasi pada student centered dengan paaradigma contructivism dan realiticism, menggunakan metode yang inovatif dengan berbagai variasi interaksi serta media, juga dengan menerapkan penilaian berbasis portofolio yang dilakukan selama proses pembelajaran.

    ReplyDelete