Nov 8, 2014

Peta 4- Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest



Ass Wr Wb, jika ingin mengetahui bentuk, posisi atau keadaan Pendidikan di Indonesia dan hubungannya dengan apa yang terjadi di Dunia, kita dapat menggunakan Peta/Bagan atau Tabel berikut (bagian ke 4).


Catatan: Tiga kolom sebelah kiri meliputi: Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, penerapan Pendidikan bersifat Tradisional/Conventional, dan menerapkan sistem Evaluasi bersifat Exernal (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS), dan dengan demikian lebih menyukai sistem sentralisasi. Sedangkan dua kolom sebelah kanan menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, dan demikian lebih menyukai bersistem Desentralisasi.Di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan, itulah sebabnya setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek; sehingga menjadikannya bersifat Tumpul ketika berjuang di tataran Dunia.

56 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Berkaca pada Indonesia, Memang kebijakan di negara ini tidak terlepas dari pengaruh politik. Sehingga timbul persaingan di 2 kubu yaitu sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi masih mengacu pada cara konvensional berpusat pada pendidik yang memberikan pengetahuan. Sedangkan desentralisasi menekankan hubungan etnik atau budaya di lingkungan sekitar sebagai bahan materi pembelajaan. Menurut saya, desentraslisasi perlu diterapkan karena metode yang dulu sudah usang dan perlu revolusi untuk meningkatkan mutu yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan adalah kita mau untuk berubah menjadi lebih baik tidak? Jika iya, kita harus respect mengenai apa kebutuhan dan kendala siswa sehingga kita mampu melayani mereka.

    ReplyDelete
  2. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Saya setuju dengan pendapat Prof Marsigit di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan politik. Niat UN/UNAS/EBTA/EBTANAS yang baik banyak yang dimanfaatkan pula oleh individu-individu untuk keuntungan pribadinya. Entah kenapa, saya tetap setuju jika penilaian seperti itu tetap dijalankan di Indonesia, karena menurut saya Indonesia masih membutuhkan kontril yang mengawasi penyebaran pendidikan di Indonesia ini berjalan dengan baik. Penyebaran pendidikan di Indonesia ini banyak menjadi sorotan, sehingga banyak program pemerintah yang ditujukan untuk pemerataan pendidikan baik di seluruh bagian di Indonesia.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Saya setuju dengan pendapat Prof bahwa di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan politik. UN sebenarnya diperlukan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dan mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/ kota, dan sekolah/madrasah. Tapi kenyataannya beberapa tahun belakang sebelum kelulusan diserahkan kepada sekolah masing-masing, banyak terjadi penyimpangan dan kecurangan yang dilakukan oleh beberapa pihak tertentu. Sebagian besar satuan pendidikan berlomba-lomba meluluskan semua peserta didiknya. Praktek Ujian Nasional cenderung berorientasi pada hasil, bukan proses, dan penyimpangan lainnya.

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Memang tidak mudah dan memerlukan waktu yang cukup lama bagi pendidikan Indonesia untuk menemukan identitasnya yang jelas. Apalagi dikarenakan pengaruh kepentingan politik. Kita harus memahami dan benar-benar menghayati serta mengimplementasikan bahwa pendidikan adalah kunci perubahan, kesuksesan dan kemajuan suatu bangsa. Harapan saya, semoga pendidikan di Indonesia secepatnya mampu menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portofolio, penilaian proses dan sikap serta memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik.

    ReplyDelete
  5. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Pada zaman sekarang di Indonesia masih banyak sekolah yang resources atau sumber-sumber belajarnya sama seperti industrial trainer yaitu dengan papan tulis dan kapur serta tidak diperbolehkan menggunakan kalkulator. Belajar matematika merupakan suatu kegiatan bagi siswa. Siswa dapat belajar menggunakan benda konkret yang ada di lingkungan sekitar. Belajar matematika dengan mengaitkan kehidupan sehari-hari. kemudian siswa diberikan lembar kerja atau fortofolio untuk diselesaikan dan ditarik kesimpulan beersama-sama.

    ReplyDelete
  6. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    sentralisasi-desentralisasi adalah yang terjadi sekarang di indonesia yang mana dua kutub ini sellau bertentangan sehingga membuat sisitem pendidikan kita masih belum kuat pondasinya. Sistem yang satunya bersifat tradisonal dan masih tetap menjadi acuan sistem Evaluasi bersifat Exernal (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS) dan itu yang mengarah ke setralisasi, sedangkan satunya yang menerapkan pembelajaran yang inovatif yang selalau menekankan dalam penilaian proses dan sikap, dimana kedunay iitu sangat penting dalam mempengaruhi peserta didik.sehingga menyebabkan setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu kurang mempunyai justifikasi yang kuat, bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek; sehingga menjadikannya bersifat Tumpul ketika berjuang di tataran Dunia

    ReplyDelete
  7. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari tabel mengenai bentuk, posisi atau keadaan pendidikan di Indonesia dan hubungannya dengan apa yang terjadi di dunia, dengan menggunakan tabel dari Paul Ernest, terlihat bahwa pendidikan di Indonesia mengarah pada tiga kolom sebelah kiri yang meliputi industrial trainer, technologist pragmatist, dan old humanis karena pendidikan di Indonesia masih menggunakan papan tulis, kapus, anti kalkulator, dan melakukan system evaluasi berupa UN.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Saat ini evaluasi yang dilakukan di Indonesia yaitu kedua penilaian tersebut (UN dan autentik). Saat ini terdapat banyak orang yang pro-kontra terhadap keputusan dihapuskan UN. Sehingga sampai saat ini masih diadakan UN untuk siswa tingkas SD, SMP, dan SMA. Memang sangat sulit untuk melakukan hal demikian dalm menentukan keputusan tetap adanya UN atau UN benar-benar dihapuskan. Keduanya memiliki dampak yang besar untuk pendidikan di Indonesia. Seperti, adanya UN menyebabkan ketakutan bagi siswa ketika menghadapinya sedangkan UN dihapuskan bagaimana nasib bangsa ini ketika motivasi anak bangsa telah menurun karena evaluasi tidak ada. Maka saya setuju dengan keputusan saat ini diman UN tetap diadakan tetapi kelulusan ditentukan oleh sekolah. Siswa memperoleh keringanan namun evaluasi tetap berjalan.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kebijakan-kebijakan di Indonesia terkait sistem pendidikan memang masih gamang dan belum tahu duduknya. Hal ini disebabkan karena ketidakstabilan antara sentralisasi dan desentralisasi. Sebenarnya jika Kurikulum 2013 di Indonesia dalam implementasinya benar-benar terlaksana dengan baik, maka kecondongan ke kolom sebelah kanan semakin dekat karena dikembangkannya pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa penilaian autentik seperti Portfolio, penilaian proses dan sikap seperti yang tertuang dalam Kurikulum 2013.

    ReplyDelete
  10. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bentuk pendidikan di Indonesia yang masih mengarah pada 3 kolom sebelah kiri, salah satunya diindikasikan dengan evaluasi yang masih berupa tes eksternal (UN). Beberapa kali telah muncul isu yang mengatakan bahwa UN akan dihapuskan, namun seperti yang Prof Marsigit tuliskan bahwa telah terjadi tarik ulur diantara 2 kutub sentralisasi dan desentralisasi yang menyebabkan Indonesia hingga saat ini belum mempunyai identitas yang kuat dalam hal pendidikannya.
    Indikasi lainnya adalah sumber belajar yang belum mengeksplor lingkungan sekitar. Selama pembelajaran, siswa masih jarang diajak keluar untuk menggali pengetahuan berdasarkan pengalaman secara langsung. Hal tersebut salah satunya dikarenakan oleh keterbatasan waktu dan karena adanya tes yang bersifat eksternal maka guru harus memenuhi kompetensi dasar tertentu dalam waktu tertentu yang tidak memungkinkan untuk melakukan eksplorasi langsung oleh siswa.

    ReplyDelete
  11. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan peta-peta Pendidikan Dunia sebelumnya dan yang keempat ini, bentuk sistem Pendidikan Indonesia masih belum mempunyai identitas. Hal tersebut terlihat dari Kurikulum 2013 yang mulai mengarah pada pendidikan formal dan informal, tetapi juga masih bersifat sentralisasi dan evaluasi eksternal yang ditandai dengan sistem penilaian Ujian Nasional, EBTANAS, dan sebagainya. Tarik-ulur sistem pendidikan di Indonesia juga dipengaruhi oleh kepentingan Politik, hal itu menyebabkan 'mentah'nya sistem pendidikan di Indonesia sehingga tidak bertahan lama. Setiap ganti menteri, kurikulum juga diganti. Mungkin, sebagai calon guru dan guru, yang bisa dilakukan adalah menjadi fasilitator yang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri meskipun masih menggunakan tes eksternal (UN).

    ReplyDelete
  12. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Bentuk pendidikan di Indonesia selama ini sesuai dengan tiga kolom sebelah kiri tabel dimana dalam penerapannya masih bersifat Tradisional dengan menerapkan sistem evaluasi seperti UN/UNAS/EBTA/EBTANAS. Sistem pendidikan sentralisasi ini dirasa belum memberikan pengaruh yang baik bagi pendidikan di Indonesia. Oleh karenanya sistem pendidikan di Indonesia harus terus dikembangkan dengan menerapkan pembelajaran yang inovatif dan menghargai nilai-nilai budaya yang ada agar dapat bersaing dengan dunia.

    ReplyDelete
  13. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam dunia pendidikan terdapat lima perbedaan yaitu yang menekankan pada resource, evaluation dan diversity. Evaluasi pembelajaran merupakan salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran. Dengan evalusi seorang guru dapat mengetahui kemampuan belajar siswa dan mengetahui tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Evaluasi pada dunia progressive educator dan dunia publik educator yaitu dengan evaluasi menggunakan portofolio.

    ReplyDelete
  14. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sudah saatnya pendidikan di Indonesia berbenah. Beberapa tahun lalu sempat beredar isu penghapusan UN (sebagai sentralisasi) ,namun tidak jadi diberlakukan karena Indonesia belum siap dan banyak pihak yang menolaknya dengan berbagai alasan. Memang Indonesia harusnya mulai menerapkan pembelajaran yang inovatif dengan memperjelas apa yang harus disentralisasikan dan memberikan porsi untuk penilaian desentralisasi seperti portofolio dan semacamnya. Dengan itu diharapkan kekayaan etnik di Indonesia dapat dijadikan sumber yang menarik bagi pembelajaran di daerah masing-masing.

    ReplyDelete
  15. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sampai saat ini pendidikan di Indonesia masih melakukan evaluasi dengan adanya UN walaupun bukan sebagai satu-satunya kriteria kelulusan siswa. Adanya tarik ulur antara sentralisasi-desentralisasi sepertinya tidak akan membuat pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik. Maka dari itu perlunya diciptakan kerja sama dan kekompakan antara pusat dan daerah. Kegiatan evaluasi juga perlu dibenahi agar semua aspek siswa dapat diperhatikan seperti penilaian proses dan sikap (sudah mulai dibenahi dengan adanya K13). Inovasi pembelajaran pada dua kolom sebelah kiri dengan memandang masyarakat sebagai pluralitas dan menghargai nilai-nilai budaya lokal sangat dapat diterapkan dalam pendidikan di Indonesia sebab keberagaman suku bangsa kita serta keberagaman budaya kita dapat dimanfaatkan sebagai penunjang kegiatan pembelajaran yang realistik bagi siswa sehingga belajar akan lebih bermakna.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sistem pendidikan di Indonesia masih bergonta – ganti akan fondasinya, termasuk evaluasi di dalamnya. Ketidakkonsistenan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan negara yang bergonta-ganti kepemimpinan yang berganti kebijakan di dalam sistem pendidikan pula. Penggerak pendidikan hanya dapat menjalankan sistem. Sang pembuat sistemlah yang harus mempertanggungjawabkannya.

    ReplyDelete
  17. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Melihat peta pendidikan dunia bagian ke empat ini kita bisa melihat bahwa pendidikan Indonesia berada pada tiga kolom sebelah kiri yang meliputi: Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis, penerapan Pendidikan bersifat Tradisional/Conventional, dan menerapkan sistem Evaluasi bersifat Exernal (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS), dan dengan demikian lebih menyukai sistem sentralisasi. Namun beberapa bulan terakhir di Indoneisa tengah diupayakan untuk pendidikan berkembang ke arah pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik, dan demikian lebih menyukai bersistem Desentralisasi.

    ReplyDelete
  18. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sistem pendidikan industrial trainer, technological pragmatis, dan old humanis pendidikan masih bersifat tradisional/convensional dimana guru menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran matematika sehingga hanya ada transfer ilmu saja tanpa adanya pembelajaran bermakna yang dirasakan oleh siswa sehingga ilmu yang diperoleh siswa hanya sementara tidak selamanya. Dan jika dihadapkan oleh permasalahan/soal yang berbeda dengan contoh maka siswa akan merasa kesulitan untuk mencari pemecahannya. Proses tidaklah penting, yang terpenting ialah hasilnya seperti pelaksanaan EBTANAS. Tetapi untuk sistem pendidikan progressive educator dan public educator sesuai dengan Kurikulum 2013 dimana penilaian yang digunakan tidak hanya penilaian pengetahuan saja tetapi ada penilaian ketrampilan dan sosial siswa.

    ReplyDelete
  19. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Sistem pendidikan di Indonesia berubah-ubah sesuai dengan kepentingan politik yang memegangnya. Sehingga terkesan tarik ulur. Menurut saya tidak masalah jika tetap menggunakan sistem penilaian UN, namun juga melaksanakan penilaian autentik. Asalkan jelas, pemetaan hasil penilaian tersebut mau dibawa dan digunakan untuk apa. Jika untuk penilaian hasil pencapaian, sebaiknya menggunakan penilaian autentik, karena penilaian ini lebih fleksibel mengingat keberagaman daerah masing-masing di Indonesia yang bersifat multidimensi dan multikultural. Sedangkan untuk penilaian terstandar, penilaian UN lebih tepat untuk digunakan.

    ReplyDelete
  20. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Autentik assesmen yang disebutkan dalam peta pendidikan dunia diatas merupakan bentuk penilaian portofolio. Penilaian portofolio merupakan bentuk dari inovasi yang diberlakukan berdasarkan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan yang senantiasa berubaha-ubah menjadikan penilaian yang tidak konsisren terhadap satu hal yang pada dasarnya sama. Padahal ketika sebuah penerapan baru dilayangkan, seharusnya semua pihak turut mendukung, dan bukan malah menguji coba semua hal yang dirasa baik bahkan ketika semua baru dibangun.

    ReplyDelete
  21. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berbicara soal indonesia tidak lepas dari pendidikan di dalamnya. Masih menjadi persoalan antara sentralisasi dan desentralisasi. berdasarka tabel paul ernest tersebut, posisi indonesia masih pada sentralisasi atau terpusat pada pendidik dalam proses pembelajarannya. Sebagai buktinya adalah masih menerapkannya sistem evaluasi eksternal yaitu berupa UN/UNAS/EBTA/EBTANAS. adanya evalusi yang bersifat eksternal ini tidak lepas dari urusan politik, dimana masih banyak pihak-pihak yang menyalahgunakan ini untuk kepentingan dirinya maupun golongannya, sehingga diperlukan gebrakan baru dalam sistem evaluasi pendidikan di indonesia yang terpusat pada siswa dan dapat mengurangi peluang pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menyalahgunakannya.

    ReplyDelete
  22. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Desentralisasi pendidikan adalah salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan serta sumber daya manusia termasuk profesionalitas guru yang belakangan ini dirisaukan oleh berbagai pihak baik secara regional maupun secara internasional. berdasarkan tabel paul ernest, berbeda dengan sentralisasi yang evaluasinya bersifat eksternal, evaluasi atau penilaian desentralisasi bersifat Authentic Assesment meliputi Portfolio, penilaian proses dan sikap; sementara memandang masyarakat sebagai Pluralitas (heterogonomous) dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik. dengan demikian, untuk mewujudkan pendidikan indonesia yang lebih baik, diperlukan sistem desentralisasi agar dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  23. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Di Indonesia pendidikan dipengaruhi oleh kepentingan politik sehingga belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan. Banyak pendidikan di Indonesia yang masih bersifat tradisional/conventional, dan menerapkan sistem evaluasi berupa UN. Tetapi ada juga pendidikan di Indonesia yang sudah menggunakan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa portofolio, penilaian proses dan sikap, dan menghargai nilai-nilai budaya lokal/etnik.

    ReplyDelete
  24. Aditya Raenda A
    14301241036
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di Indonesia menerapkan pendidikan dengan evaluasi exernal yaitu dengan menggunakan UN sebagai alat evaluasi. UN bisa menjadi salah satu tolok ukur nilai siswa namun sebaiknya tidak hanya UN yang digunakan sebagai alat evaluasi karena banyak hal yang dapat mempengaruhi nilai dari UN. Evaluasi pada dunia progressive educator dan dunia publik educator yaitu dengan evaluasi menggunakan portofolio dan saat ini sudah mulai diberlakukan di Indonesia. Selain itu di kurikulum 2013 ada juga penilaian terhadap sikap spiritual dan sikap sosial siswa.

    ReplyDelete
  25. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti yang berupa kekuatan batin, karakter, pikiran anak didik. jadi seorang pendidik dituntut untuk memiliki kemampuan yang lebih atau bentuk ke-kreatifitasan dalam membentuk atau menumbuhkan karakter anak didiknya seperti yang disebutkan sebelumnya. seorang pendidik mempunyai tugas yang tidak mudah. kedua-duanya harus berperan aktif, selalu ada respon dan stimulus. tidak ada yang bersifat pasif dalam pelaksanaannya. Dalam dunia pendidikan ada lima perbedaan yang menekankan pada resource (sumber), evaluation (penilaian) dan diversity (keberagaman). Dalam hal ini evaluasi dalam pembelajaran merupakan salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran. Evaluasi yang dimaksudkan disini ialah evaluasi dengan menggunakan portofolio. Dengan dilakukannya portofolio dapat diketahui sejauh mana perkembangan peserta didik dalam pembelajaran tersebut.

    ReplyDelete
  26. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan peta 4 ini, kita dapat mengklasifikasikan, dimana keadaan Pendidikan Indonesia sekarang ini. Dari paparan pak Prof, memang benar adanya bahwa di Indonesia masih terjadi tarik ulur antara sentralisasi atau desentralisasi yang diterapkan, namun untuk pertimbangan, memang apabila kebijakan bersifat sentralisasi, akan bersifat jangka pendek, dan akan terjadi ketidakstabilan pada pelaksanaan pendidikan, dan akan mengakibatkan kurangnya daya saing terhadap dunia

    ReplyDelete
  27. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sistem evaluasi di Indonesia sampai saat ini belum memiliki identitas yang jelas antara sentralisasi-desentralisasi. Meskipun penerapan evaluasi bersifat eksternal (UN/UNAS/EBT/EBTANAS) masih diterapkan yang membuat indonesia lebih condong ke 3 kolom sebelah kanan. Padahal Indonesia amatlah luas, beragam karakter dan budaya di masing-masing wilayah membuat proses perkembangan peserta didik juga akan beragam pula. Penerapan penilain berupa authentic assessment sebenarnya lebih cocok bila diterapkap di Indonesia, dimana proses dirasa lebih penting daripada berorientasi pada hasil yang belum tentu benar dalam langkah untuk memperolehnya.

    ReplyDelete
  28. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pendidikan dengan sistem sentralisasi membuat siswa hanya fokus pada UN atau ujian akhir, sehingga siswa hanya berlatih materi lingkup soal UN , sedangkan pondasi atau konsep dasarnya kebanyakan siswa tidak mempelajari dengan benar, siswa hanya berlatih mengerjakan soal UN saja, disini menurut saya sistem desentralisasi lebih baik, karena penilaian berdasarkan bagaimana siswa memahami konsep dengan benar melalui portofolio, proses dan sikap.

    ReplyDelete
  29. Dengan banyakna pendapat yang menentang sistem sentralisasi, belakangan ini di Indonesia, sistem desentralisasi mulai dtumbuhkan. Misalnya saja dengna tidak dijadikannya hasil UN sebagai satu-satunya parameter kelulusan. Namun, saat ini, sumber belajar Industrial Trainer begitu mirip dengan kebanyakan sekolah yang ada di Indonesia (jika saya lihat mendominasi di daerah). Di mana masih banyak menggunakan sumber belajar yang terpusat pada guru dalam menyampaikan materi pelajaran.

    ReplyDelete
  30. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Indonesia belum memiliki identitas dalam dunia pendidikan, karena setiap kebijakan dalam dunia pendidikan terkadang mementingkan urusan politik. Sehingga kebijakan pendidikan yang berskala nasional justru malah hanya berlaku untuk beberapa daerah saja, atau malah hanya menguntungkan beberapa oknum. Hal tersebut berakibat kepada sedikit kacaunya sistem pendidikan di Indonesia yang berpengaruh pula dalam proses di lapangan, bagaimana cara untuk menghadapi siswa.

    ReplyDelete
  31. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Peta pendidikan 4 di atas mengklasifikasikan pendidikan berdasarkan sumber belajar, evaluasi, dan diversity (keberagaman). Dari tabel di atas disebutkan salat satu alat evaluasi, yaitu dengan menggunakan lembar portofolio. Lembar portofolio memiliki beberapa tujuan, antara lain:
    1.Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung.
    2.Memahami prestasi kerja seluruh peserta didik.
    3.Meningkatkan proses efektivitas pembelajaran.
    4.Meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri.

    ReplyDelete
  32. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari berbagai tujuan portofolio dapat disimpulkan bahwa lembar portofolio dapat mendukung proses pembelajaran, khusunya untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan pengetahuan peserta didik dan dapat dijadikan sebagai bahan tindak lanjut guru dalam mendidik siswanya.

    ReplyDelete
  33. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Peta pendidikan dunia 4 menjelaskan tentang sumber pembelajaran, evaluasi dan keragaman pada setiap kaum. Berikut dijelaskan pendapat dari ideologi progressive educator dan public educator, yang mana merupakan idealnya pendidikan yang diterapkan. Yang pertama progressive educator,
    a. Resources
    Sumber matematika pada ideologi ini bersifat abstrak dan diajarkan melalui hal-hal yang sifatnya kongkrit, yang menjadi masalah di masyarakat, melalui proses diskusi dan invertigasi siswa berusaha untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan berdasarkan konteks dunia nyata yang diberikan.
    b. Evaluation
    Penilaian yang dilakukan menggunakan berbagai metode atau portofolio dengan menggunakan konteks sosial. Dengan ini, guru dapat mengetahui kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah.
    c. Diversity
    Melalui pola pendidikan ini siswa menjadi heterogen, karena dikenalkan dengan berbagai isu-isu atau masalah atau gejala sosial yang nampak dimasyarakat dengan berbagai variasinya. Dengan demikian, siswa mengakomodir berbagai variasi tersebut dan mengembangkan berbagai kemampuan yang ada pada dirinya, atau heterogen.

    ReplyDelete
  34. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Sedangkan untuk public educator, adalah sebagai berikut
    a. Resources
    Sumber matematika pada ideologi ini bersifat abstrak dan diajarkan melalui hal-hal yang sifatnya kongkrit, yang menjadi masalah di masyarakat, melalui proses diskusi dan invertigasi siswa berusaha untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan berdasarkan konteks dunia nyata yang diberikan.
    b. Evaluation
    Penilaian yang dilakukan menggunakan berbagai metode atau portofolio dengan menggunakan konteks social. Penilaian dilakukan dengan porto-folio dimana tidak hanya melihat dari kemampuan praktis siswa tetapi juga menilai dari proses mendapatkannya. Guru menerima banyak solusi yang diutarakan oleh siswa, karena pembelajarannya berbasis pada penemuan. Dengan ini, guru dapat mengetahui kesulitan siswa dalam menyelesaikan masalah.
    c. Diversity
    Berdasarkan jenis evaluasi portofolio sehingga siswa mengakomodir berbagai variasi tersebut dan mengembangkan berbagai kemampuan yang ada pada dirinya, atau heterogen.
    Menurut saya, sesungguhnya menggabungkan/kombinasi sentralisasi dan desentralisasi dalam pendidikan tidak ada salahnya. Ini bukan berarti ragu-ragu, bimbang atau tidak berpendirian. Kita lihat mana kah yang memiliki manfaat lebih pada kondisi tertentu. Terkadang sentralisasi perlu, namun tidak lupa menerapkan desentralisasi.
    Referensi:
    http://anisyaseptiana20.blogspot.com/2014/01/implementasi-filsafat-dalam-kurikulum.html
    http://trysagustyamanda.blogspot.com/2014/01/implementasi-filsafat-dalam-pendidikan.html

    ReplyDelete
  35. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Indonesia merupakan negara yang luas dan negara yang memiliki keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini tentunya membutuhkan penerapan pendikan yang dapat menitikberatkan pada sikap-sikap toleransi. Hal ini tentu sejalan dengan 2 kolom sebelah kanan dimana pendidikan yang diterapkan mampu menciptakan generasi yang berjiwa saintis.

    ReplyDelete
  36. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam dunia pendidikan sumber, penilaian dan keberagaman merupakan aspek yang penting dalam pembelajaran. Sumber pembelajaran hendaknya tidak hanya terpaku pada apa yang disampaikan guru namun bisa berasal dari sumber mana saja yang berkaitan pembelajaran yang diberikan. Penilaian juga sangat penting dalam mengukur sejauh mana pemahaman siswa dalam pembelajaran dan tentunya tidak hanya dilihat dari hasilnya saja tetapi dari setiap proses yang dijalani dalam pembelajaran. Keberagaman dalam pembelajaran meliputi berbagai solusi yang diberikan dalam menunjang kegiatan belajar seperti penggunaaan alat peraga dan penenrapan metode pembelajaran yang tidak monoton.

    ReplyDelete
  37. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. pendidikan di Indonesia hendaknya memegang prinsip penilaian portofolio dan penilaian portofolio dalam konteks sosila agar siswa-siswa lebih dapat dipantau penilaiannya. Siswa-siswa di Indonesia perlu lebih membaur dalam masyarakat, untuk itu sekiranya perlu juga masyarakat dilibatkan dalam penilaian pembelajaran.

    ReplyDelete
  38. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Saat ini sistem pendidikan di Indonesia selalu berubah. Ini menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia belum jelas arahannya. Setiap kurikulum tidak bertahan lama. Bahkan ada pernyataan “ganti menteri berarti ganti kurikulum”. Adanya kurkulum 2013 sudah mengarahkan pada metode mengajar yang bervariasi, teknik penilaian yang bervariasi pula dan proses pembelajaran menuntut keaktifan siswa (student centered).

    ReplyDelete
  39. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Peta 4 Pendidikan Dunia yang dibuat oleh Prof. Marsigit dari Paul Ernes, kita mengetahui bahwa tiga kolom sebalah kiri yaitu Industrial trainer, Technological Pragmatis, dan Old Humanis mengimplementasikan Pendidikan yang berciri tradisional. Tiga jenis ini pembelajaran berpusat pada guru.

    ReplyDelete
  40. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  41. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Berdasarkan Peta 4 Pendidikan Dunia yang dibuat oleh Prof. Marsigit dari Paul Ernes, kita mengetahui bahwa dua kolom sebalah kanan, yaitu progressive educator dan public educator mengimplementasikan Pendidikan yang berciri pembelajaran inovatif . Dua jenis pembelajaran ini bepusat pada siswa.

    ReplyDelete
  42. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan Peta 4 Pendidikan Dunia yang dibuat oleh Prof. Marsigit dari Paul Ernes, yang paling membuat saya tertarik adalah bagian Assesment yang meliputi Portfolio. Suatu inovasi pada perkembangan zaman saat ini. Misal, siswa diminta untuk membuat blog yang berisi catatan-catatan tentang setiap pertemuannya.

    ReplyDelete

  43. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika secara konvensional, pembelajaran hanya menggunakan papan tulis maka pembelajaran yang inovatif dapat menggunakan berbagai media pembelajaran. Misalnya aplikasi untuk mempermudah mengerjakan suatu persamaan garis. Kemudian juga bisa menggunakan berbagai alat teknologi lain dalam menunjang pembelajaran.

    ReplyDelete
  44. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika sistem pendidikan hanya menerapkan merode konventional, dengan hanya fokus kepada hasil akhir (UN/UNAS/EBTA/EBTANAS) maka tidak ada gunanya pembelajaran selama bertahun-tahun di sekolah. Kalau hanya ingin mengedepankan hasil UN baik, cukup hanya berlatih terus-menerus soal latihan UN. Tanpa memperdulikan nilai-nilai lain dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  45. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Pendidikan kita memang kerap terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan politik, itulah sebabnya setiap kebijakan pendidikan berskala nasional selalu bersifat parsial, temporer/sementara/jangka pendek. Sehingga menjadikannya bersifat tumpul ketika berjuang di tataran Dunia. semoga budaya akademik kita lebih penting dan selalu menjadi patokan dalam melakukan segala hal.

    ReplyDelete
  46. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Berdasarkan peta 4 pendidikan dunia tersebut kita dapat mengetahui bahwa pada masyarakat industrial trainer, sumber belajar yang digunakan adalah, kapur, papan tulis, dan tidak boleh menggunakan kalkulator. Pada masyarakat technological pragmatis, sumber berlajar yang digunakan adalah media pembelajaran. Pada masyarakat old humanis, sumber berlajar yang digunakan adalah media pembelajaran visual yang bertujuan untuk memotivasi. Pada masyarakat progressive educator, sumber belajar yang digunakan adalah berbagai sumber atau lingkungan. Sedangkan pada masyarakat public educator, sumber belajar yang digunakan adalah lingkungan sosial.

    ReplyDelete
  47. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Sistem evaluasi seperti UN/UNAS/EBTA/EBTANAS sebenarnya bertujuan bagus, yaitu mengukur persebaran/kemerataan pendidikan yang ada di Indonesia, sehingga pemerintah dapat memfokuskan dalam membangun pendidikan di daerah yang masih rendah pendidikannya. Akan tetapi, pada kenyataannya justru malah disalahgunakan sebagai alat untuk menakuti-nakuti siswa, bahkan dijadikan bahan promosi sekolah yang bagus lulus UN 100%. Hal ini menjadikan sekolah melakukan berbagai upaya agar lulus UN 100% tercapai dan yang lebih parah lagi sekolah rela melakukan kecurangan.

    ReplyDelete
  48. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Kalau dulu UN digunakan sebagai standar kelulusan, namun sekarang UN sudah tidak dijadikan satu-satunya alat yang mementukan siswa lulus atau tidak. Ini menunjukkan di Indonesia sedang menjalani proses perbubahan yang baik. Semoga pemerintah Indonesia dalam mengambil kebijakan berdasarkan fakta/data yang ada dilapangan, tidak sekedar teori/pemikiran sehingga kebijakan yang dibuat benar-benar bermanfaat untuk rakyat.

    ReplyDelete
  49. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Dua kolom sebelah kanan padatabel menerapkan pembelajaran inovatif dengan sistem penilaian berupa Authentic Assesment meliputi Portfolio, Authentic Assesment adalah produk-produk dan kinerja yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman kehidupan nyata. Menurut Grant Wiggins Asesmen otentik memberikan siswa seperangkat tugas yang mencerminkan prioritas dan tantangan yang ditemukan dalam aktifitas-aktifitas pengajaran: melakukan penelitian; menulis, merevisi dan membahas artikel; memberikan analisa oral terhadap peristiwa politik terbaru; berkolaborasi dengan siswa lain melalui debat, dst.

    ReplyDelete
  50. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Melihat peta 4 pendidikan dunia dan ketiga peta pendidikan sebelumnya, maka pendidikan Indonesia masih berada di posisi yang tidak pasti. Pemerintah memang sudah mulai menerapkan sistem pendidikan inovatif yang berpusat pada siswa dalam pembelajarannya. Namun dalam praktiknya, masih banyak sekolah yang menggunakan pembelajaran tradisional dan dalam evaluasinya Indonesia masih menggunakan sistem evaluasi eksternal. Oleh karena itu, diperlukan justifikasi yang kuat dari pihak pemerintah dalam menetapkan sistem pendidikan yang harus digunakan. Di samping itu, dibutuhkan kerja sama antara pemerintah, guru, kepala sekolah, dan lingkungan untuk dapat memperkuat identitas pendidikan bangsa ini.

    ReplyDelete
  51. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Melalui asesmen otentik, siswa lebih terlibat dalam tugas dan guru dapat lebih yakin bahwa asesmen yang diberikannya itu bermakna dan relevan. Sehingga penerapannya dilakukan dengan benar diharapkan penilaian dapat menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  52. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya menyoroti pada bagian evaluasi dari tabel di atas. Tiga kolom sebelah kiri yaitu industrial trainer, technological pragmatism, dan old humanism pada bagian evaluasi tertulis external test, ini berarti untuk tiga kolom kiri merupakan UN centered atau pembelajarannya karena mengejar hasil UN yang baik. Sedangkan dua kolom sebelah kanan yaitu progressive educator dan public educator pada bagian evaluasi yaitu berupa portofolio, ini berarti pembelajaran tidak test centered, penilaian untuk siswa dilakukan dengan menilai kegiatan siswa selama pembelajaran, tugas-tugas portofolio yang dikerjakan siswa baik di kelas maupun di rumah, atau disebut penilaian proses, bukan penilaian hasil.

    ReplyDelete
  53. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di Indonesia selalu terjadi tarik-ulur antara dua kutup sentralisasi-desentralisasi di atas kepentingan Politik, itulah sebabnya kita belum mempunyai identitas yang jelas dalam hal pendidikan, Seperti inilah keadaannya sulit disadari rasanya namun dampaknya sangat besar. Karena pandangan pendidikan itu bagaiman siswa. Namun politik berparagdigma yang lain. Sehingga dalam eksekusinya tidak tepat, karena seharusnya guru atau sekolah diberikan kebebasan untuk mengatur kurikulumnya sendiri

    ReplyDelete
  54. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kesimpulan dari keempat peta tersebut bahwa: (1) Industrial trainer yaitu siswa melakukan kegiatan pelatihan misalnya metode latihan, hafalan, dan praktek agar siswa siap dalam menghadapi dunia kerja. (2) Technological Pragmatist adalah kelompok modern yang turun dari industri trainer yang bertugas untuk mempromosikan ideologi versi modern dengan tujuan utilitarian (azaz kemanfaatan). (3) Old Humanist merupakan aliran yang sudah mementingkan pemahaman konsep matematika, tetapi pembelajaran yang dilakukan guru masih menggunakan metode ceramah. (4) Progressive Educator berpandangan bahwa siswa merupakan subjek yang aktif dalam kegiatan pembelajaran. (5) Public educator merupakan aliran yang berideologi demokrasi

    ReplyDelete
  55. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan Industrial Trainer, Technological Pragmatist dan Old Humanist melakukan pembelajaran yang bersifat tradisonal/konvesional dengan menggunakan papan dan kapur. Dalam industrial trainer sumber pembelajaran adalah papan tulis dan kapur kapur dengan penilaian yang dilakukan menggunakan tes eksternal dengan keberagaman siswanya tunggal, technological pragmatis sumber pelajaran semuanya berasal dari guru, dengan penilaian menggunakan tes eksternal, keberagaman siswanya desentralisasi. Sementara itu dalam Old humanist sumber pembelajaran berupa motivasi dari guru dengan penilaian yang digunakan adalah tes eksternal dan berdasarkan kurikulum yang berlaku.

    ReplyDelete
  56. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Pengelolaan pendidikan yang baik akan menghasilkan Indonesia yang baru.Desentralisasi pendidikan merupakan suatu keharusan jika kita ingin cepat mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Melalui pendidkan yang demokratis akan melahirkan masyarakat yang kritis dan bertanggung jawab.
    Masyarakat yang demokratis akan mampu menciptakan masyarakat madani yaitu masyarakat yang berbudaya tinggi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang mana sangat menghargai hak-hak asasi manusia.
    Desentralisasi pendidikan perlu dijaga dari kemungkinan –kemungkinan terjadi hal-hal negatif seperti desentralisasi kebablasan, misalnya penyerahan tanggung jawab pendidikan kepada daerah for the sake of autonomy.

    ReplyDelete