Nov 7, 2014

Mengungkap Fenomena Belajar Mengajar Matematika melalui Filsafat (Disertai Penjelasan Singkat Dosen Pengampu untuk menjawabnya)

Ass Wr Wb.


Pada hari ini Jumat, 7 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PMP2TK di R 106 A diganti R 100 A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.10, yang di hadiri oleh 16 mahasiswa, saya meminta mahasiswa untuk mengidentifikasi fenomena-fenomena apa saja, dalam kelas pembelajaran matematika yang dapat dijelaskan melalui/dengan filsafat.



Sebagai pengantar saya ingin sampaikan bahwa mengungkap secara filsafati segala fenomena yang ada dan yang mungkin ada dalam proses belajar mengajar matematika di kelas, adalah semata-mata dari dan untuk kepentingan orang dewasa, dalam hal ini, Guru. Tidaklah pada tempatnya andaikata kita berkehendak mengajak berkomunikasi secara filsafati kepada anak-anak atau siswa, kecuali dalam kondisi yang memungkinkan. Tujuan dari telaah filsafat ini adalah untuk meningkatkan sensitivitas orang dewasa (guru) agar lebih santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada dalam proses belajar mengajar matematika.

Berikut hasil identifikasinya, beserta Petunjuk yang saya berikan untuk menjawab dari beberapa pertanyaan:

1.Bagaimana menjelaskan secara filsafat tentang diagonal ruang suatu Balok?

Petunjuk Dosen:

Saya kurang sreg dengan istilah "guru menjelaskan", tetapi lebih cocok dengan istilah "siswa memelajari". Diagonal ruang suatu bangun geometri (Balok) adalah satu dari sekian banyak sifat yang ada dari bangun tersebut. Secara filsafat, saya mendefinisikan "belajar" sebagai segala usaha untuk "mengadakan" dari beberapa sifat "yang mungkin ada". Jadi usaha siswa belajar untuk memahami konsep "diagonal ruang"dapat dipandang sebagai mengadakan segala sifat diagonal ruang yang mungkin ada. Seperti halnya untuk mengetahui siat-sifat yang lainnya, maka secara filsafat cara memahami konsep diagonal ruang dapat dilakukan dengan metode hermenitika yaitu terjemah dan diterjemahkan, yang di dalamnya terkandung kegiatan interaksi atau saling bersilaturakhim, baik antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan objek belajar yaitu Balok. Bagi siswa yang relatif muda usia (siswa SD) belajar akan lebih bermakna jika mampu menumbuhkembangkan intuisinya; berarti diperlukan objek belajar yang lebih konkrit. Demikian, penjelasan saya, semoga dapat menjadi pembuka bagi usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Selamat menjawab.

2. Bagaimana penjelasan filsafat tentang nilai Phi yang merupakan perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya?

Petunjuk Dosen:
Bahwa Phi adalah perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya, dapat dipandang sebagai definisi yang merupakan kesepakatan awal atau dibuat sebagai pengertian awal. Sedangkan penemuannya Phi diterangkan dalam sejarahnya; dan pembuktiannya dapat digunakan benda konkrit.

3. Bagaimana penjelasan filsafat mengenai berbagai macam konsep himpunan, misalnya Himpunan Semesta, Himpunan Kosong, Relasi Himpunan dan Operasi Himpunan?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat konsep Himpunan dapat dipandang sebagai Penggolongan atau Pembeda atau Kategori. Sebenar-benar Ilmu adalah jika memuat Kategori. Dan sebenar-benar orang berilmu jika dia mampu mem Beda kan.

4. Bagaimana penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat konsep Bilangan Berpangkat Negatif termasuk ke dalam Pengertian Formal; dia hanya ada di dalam pikiran dan tidak ditemukan di luar pikiran (anak-anak). Itulah sebabnya akan sulit bagai anak kecil untuk memelajarinya.

5.  Bagaimana penjelasan filsafat tentang rumus Luas permukaan Bola?

 Petunjuk Dosen:

Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah.

6. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu.

7. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kegiatan pemecahan masalah?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar.

8. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep menemukan sendiri?

Petunjuk Dosen:
Menemukan sendiri, mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme.

9. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya konsep berbagai macam bilangan, hubungan antar bilangan, dan operasi bilangan? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Deret dan Barisan Bilangan?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, konsep Bilangan hanya dapat dipahami dalam Intuisi Ruang dan Waktu. Di dalam Pikiran, Bilangan bermakna karena Nilainya. Barisan atau Deret Bilangan dapat dianggap sebagai Petunjuk untuk memeroleh Keadaan di masa Depan, jadi dia sesuai dengan Aliran Filsafat Teleologi. 

10. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesamaan, persamaan, ketidaksamaa, dan pertidaksamaan?

Petunjuk Dosen:
Dalam filsafat, konsep Kesamaan setara dengan Sifat Identitas, yaitu tercapainya keadaan A = A; sedangkan konsep ketidaksamaan setara dengan Sifat Kontradiksi yaitu Predikat yang tidak akan mampu menyamai Subjeknya.

11. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep berbagai macam operasi bilangan?

Petunjuk Dosen:
Segala bilangan yang ada di dalam pikiran bersifat Tunggal, Unik, Absolut, Sempurna, Ideal. Sedangkan bilangan-bilangan yang ada di luar pikiran bersifat sebaliknya.

12. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya relasi dan fungsi matematika? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Limit Fungsi?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafati, Konsep Limit Fungsi berkaitan dengan ketakhinggaan, di mana dalam ketakhinggaan manusia menemukan ketidaksempurnaannya.

13. Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?

Petunjuk Dosen:
Segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu

14. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya berbagai macam Pola atau keteraturan dalam matematika?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Pola dapat diartikan sebagai Aturan/Ketentuan/atau Hukum, dan oleh karenanya Pola dapat digunakan sebagai Awal dari kegiatan berpikir. Suatu kegiatan Berpikir dimana mempunyai "awal" atau "starting point" disebutlah sebagai Aliran Foundationalisme. 

15. Bagaimana penjelasan filsafat tentang materi Logika dalam matematika?

Petunjuk Dosen:
Logika mempunyai kedudukan yang dominan dan sangat penting dalam filsafat, mulai dari jaman Aristoteles hingga tokoh Logicism (filsafat Logika) yaitu Sir Bertrand Russel. Namun Logika tidaklah sama dengan Logicism. Secara khusus, dalam bukunya " The Critics of Pure Reason", Immanuel Kant banyak sekali menguraikan tentang Logika dan logika. Logicism adalah suatu aliran filsafat matematika yang berusaha membawa semua matematika ke dalam alur pikir logika.

16. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep Peluang/Probabilitas dan Statistika?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Peluang atau Probabilitas dapat dipandang sebagai "yang mungkin ada". Untuk mewujudkannya dilakukan dengan metode Hermenitika. Dikarenakan keterbatasannya, maka sebenar-benar manusia tidaklah mampu mengadakan semua yang mungkin ada. Sedangkan yang ada pun hanya bersifat sempurna jika dia ada di dalam pikiran, diandaikan, atau kalau sudah sampai di akhirat.


17.Bagaimana penjelasan filsafat tentang pembuktian Rumus Matematika: induksi dan deduksi?

 Petunjuk Dosen:

Membuktikan Rumus Matematika adalah ranah orang dewasa (SMA ke atas) dalam lingkup Matematika Formal/Matematika Aksiomatik. Membuktikan Matematika untuk dunia anak-anak (SD) harus diberi pengertian lain yaitu segala aktivitas memahami matematika dengan aktivitasnya berinteraksi dengan benda-benda konkrit. 
 
18. Bagaimana penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari?

Petunjuk Dosen:
Penggunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa; jadi jangan membebani generasi muda (anak-anak) untuk berpikir sampai tahap demikian. Menggunakan matematika adalah urusan dan kerja orang dewasa (matematikawan dan praktisi matematika).Kemudian (setelah diingatkan oleh Ivone Marlinda) saya masih menemukan bahwa ternyata Anak Kecil dalam ruang dan waktu yang terbatas juga dapat menggunakan matematika; saya ulangi dalam ruang dan waktu yang terbatas. Walaupun dalam ruang dan waktu yang terbatas, ternyata juga banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan oleh Anak Kecil menggunakan matematikanya misalnya: menghitung, mengukur, mengira-ira, belanja,..dst. Pernyataan saya di awal dikarenakan saya menekankan pada usaha mencegah orang dewasa berbuat semena-mena dengan menerapkan matematika formal dan menggunakan matematika tanpa mengetahui konsepnya.Hanya di sini saya akan membedakan antara "kemampuan menerapkan matematika" dan "matematika terapan". Untuk yang pertama, "kemampuan menarapkan matematika" dapat dipandang dari sisi kemampuan berpikir secara umum, seperti yang dikemukakan oleh Bloom, yaitu kemampuan berpikir sejak dari : Mengingat, Memahami, MENERAPKAN, Analisis, Sintesis,dan Evaluasi. Berarti setiap kegiatan berpikir terdapat aspek Menerapkan pemahamannya sebagai suatu kriteria tahapan berpikir. Demikian itulah yang terjadi jika siswa/anak kecil berpikir termasuk berpikir matematika; ini pulalah yang menurut saya yang dipersoalkan oleh Sdri Ivone Marlinda. Sedangkan yang kedua "matematika terapan" atau menerapkan matematika dalam kepentingan matematika bermanfaat bagi ilmu-ilmu lain itulah yang saya maksud sebagai domainnya orang dewasa. Demikianlah semoga bermanfaat.

19. Bagaimana penjelasan filsafat tentang Definisi, Postulat dan Theorema dalam Matematika?

Petunjuk Dosen:
Definisi, Postulat dan Theorema termasuk ranah Matematika Formal/Matematika Aksiomatik, dimana Matematika demikian didefinisikan sebagai ilmu yang bersifat deduktif, yang berlandaskan atau dimulai dengan mendefinisikan konsep-konsep, selanjutnya dibentuklah Teorema-teorema, Aksioma atau Dalil-dalil yang pada akhirnya diperoleh suatu Struktur Matematika yang di dalamnya tidak boleh terdapat kkontradiksi. Pendiri Matematika Formal adalah Hilbert.

20. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya Simbol-simbolmatematika?

Petunjuk Dosen:
Secara khusus, terdapat apa yang disebut sebagai Filsafat Simbol

Selanjutnya dipersilahkan para pembaca yang budiman untuk mencoba menjelaskan satu atau lebih dari fenomena-fenomena yang telah didaftar tersebut di atas, dengan cara membuat Comment.

Demikianlah semoga bermanfaat. Amin.

Dosen ybs

Marsigit




94 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Setiap hal dapat diterjemahkan melalui filsafat. Begitu pun tentang belajar mengajar matematika. Dalam artikel di atas, belajar diartikan sebagai suatu kegiatan dimana siswa aktif untuk mempelajari suatu pengetahuan, bukan suatu kegiatan dimana guru hanya mentrasnsfer ilmunya kepada siswa. Selain itu, belajar suatu konsep juga dapat dilakukan dengan metode hermenitika dimana siswa memahami konsep tersebut dengan cara saling menerjemahkan dan diterjemahkan, saling bersilaturahmi antara komponen pendidikan.

    ReplyDelete
  2. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Hidup ini adalah hermeneutika yaitu menterjemahkan dan diterjemahkan. Untuk memahami konsep matematika dapat dilakukan dengan metode hermeneutika ini, yang di dalamnya terkandung kegiatan interaksi atau saling bersilaturakhim, baik antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan objek belajar. Dalam hal pendidikan matematika maka hermeneutikanya merupakan suatu proses mengkonstruksi pengetahuan hingga menerapkannya. Dimana siswa mengkonstruksi pengetahuannya berangsur-angsur dari konkrit hingga abstrak, serta menggunakan matematisasi vertikal dan matematisasi horizontal. Bagi siswa SD belajar akan lebih bermakna jika mampu menumbuhkembangkan intuisinya; berarti diperlukan objek belajar yang lebih konkrit.

    ReplyDelete
  3. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Bagaimana penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif?
    Petunjuk Dosen:
    Secara filsafat konsep Bilangan Berpangkat Negatif termasuk ke dalam Pengertian Formal; dia hanya ada di dalam pikiran dan tidak ditemukan di luar pikiran (anak-anak). Itulah sebabnya akan sulit bagai anak kecil untuk memelajarinya.
    Sangat jelas disini bahwa filsafat sangat berhubungan dnegan matematika dan kegiatan belajar mengajar. Karena itulah penting bagi calon pengajar untuk mempelajari filsafat.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Semua yang ada dan yang mungkin tidak ada di dunia bisa dijelaskan menggunakan filsafat, sehingga pembelajarn matematika juga bsia di ejlaskan menggunakan filsafat, berbagai pertanyaan diatas juga dapat menjawab menggunakan filsafta, saya tertarik mengenai nilai phi dan saya mencari sumber di internet bahwa “Nilai yang lazim digunakan adalah 3,14 atau namun untuk lebih tepatnya, sudah dicari sampai > 1,241,100,000,000 tempat desimal. Nilai sampai 10 tempat desimal adalah 3,14159265358” (sumber: https://pujilestari251094.wordpress.com/sejarah-phi-%CF%80/). Bahwa sejarah phi berawal dari yunani semoga link tersebut dapat menjadi referensi buat mengetahui sejarah nilai Phi.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan di atas semakin meyakikan kita bahwa filsafat mencakup segalanya. Sehingga filsafat pun bisa menjelaskan matematika dengan jelas dan sangat logis. Dari pertanyaan nomor satu hingga tujuh filsafat mampu menjelaskan berbagai materi matematika seperti geometri, himpunan dan lain-lain. Pertanyaan depalan pun menjelaskan bagaimana mengajarkan matematika dengan cara siswa menemukan sendiri. Dimana dalam filsafat ada aliran constructivism yang menganggap bahwa pengetahuan itu dapat dibangun oleh setiap individu yang belajar. Dalam belajar matematika siswa sangat dianjurkan untuk menemukan sendiri konsepnya agar lebih memahami konsep tersebut. Di mana dengan menemukan sendiri memungkinkan bagi siswa untuk melakukan kegiatan yang menarik baginya dalam proses penemuan konsep itu sehingga pembelajaran tidak membosankan. Tujuan pembelajaran pun dapat tercapai dengan optimal.

    ReplyDelete
  6. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Jika ditelusuri secara filsafat, setiap aspek dalam pembelajaran matematika dijelaskan secara rinci. Pertanyaan beserta jawaban dalam artikel ini menggambarkan bahwa belajar mengajar adalah suatu proses yang didasarkan pada filsafat dan merupakan kegiatan aktif transfer ilmu dua arah, tidak hanya siswa menerima materi dari guru. Dalam filsafat, aliran konstruktivisme sangat dibutuhkan terutama dalam pembelajaran. Terlebih untuk materi matematika, yang sejatinya dapat diterapkan dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga guru harus berinovasi dalam membelajarkan materi.

    ReplyDelete
  7. Anwar Novianto
    16706261005
    S3 Pendidikan Dasar 2016

    Peserta didik mempelajari matematika dengan menggunakan sesuatu yang “konkret” atau “nyata”, yang berarti dapat diamati dengan menggunakan panca indera. Anak dalam belajar konsep berhubungan dengan benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya. Peserta didik belajar menggunakan konkret dapat dengan memanipulasikan, menyusun, mengutak-ngatik, dan lainya.
    Contoh pembelajaran menggunakan benda-benda konkret dalam pembelajaran SD, ketika akan membahas penjumlahan dan pengurangan di awal pembelajaran, siswa dapat belajar dengan menggunakan buku, pensil, penghapus, topi, dan lain-lain. Ketika akan menjelaskan operasi hitung (pengerjaan) penjumlahan pada anak-anak SD kelas 1, dapat dimulai dari model konkret, yaitu menggunakan benda-benda nyata dalam hal ini “pensil” seperti berikut. “Anwar mempunyai 2 pensil, diberi lagi 1 pensil oleh ayahnya, berapa buah banyaknya pensil Anwar sekarang?”.
    sehingga benda konkret memungkinkan anak membangun koneksi antara pengalaman sehari-hari dan pengetahuan mereka tentang konsep matematika.

    ReplyDelete
  8. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang guru harus menjadi fasilitator yang baik bagi siswa-siswinya. Sehingga, seorang guru harus mampu memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada selama proses belajar mengajar untuk dapat memfasilitasi semua kebutuhan siswa dalam mencapai pengetahuanya. Dalam memfasilitasi, guru harus mempertimbangkan psikologis siswa-siswinya, sehingga guru tidak membebani siswa dengan memberikan sesuatu yang sebenarnya adalah ranahnya orang dewasa. Dengan telaah secara filsafat seperti yang telah dituliskan oleh Prof Marsigit, dapat menjadi salah satu cara guru untuk menjadi lebih sensitif terhadap kebutuhan siswa.

    ReplyDelete
  9. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Kesulitan dapat dimaknai sebagai kendala yang dihadapi seseorang dalam usahanya menembus ruang dan waktu. Usaha untuk belajar pada masing-masing orang pun berbeda antara orang satu dengan orang yang lainnya, ada orang yang hanya memerlukan waktu sebentar dalam belajar, ada pula yang membutuhkan waktu yang lama dalam belajar, bahkan ada pula yang harus mengulang-ulang beberapa kali dan baru dapat memahami apa yang dimaksudkan. Sehingga sebagai guru tidaklah pantas jika memarahi siswanya yang kesulitan dalam belajar, siswa yang sedang mengalami kesulita belajar sebaiknya mendapatkan bimbingan dan perhatian lebih dari gurunya, bukannya dimarahi.

    ReplyDelete
  10. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2104

    Berdasarkan uraian dari postingan blog ini yaitu 'Mengungkap Fenomena Belajar Mengajar Matematika melalui Filsafat (Disertai Penjelasan Singkat Dosen Pengampu untuk menjawabnya)', terlihat bahwa filsafat berkaitan erat terhadap belajar mengajar matematika. Filsafat mampu menjelaskan mengenai berbagai konsep matematika dan bagaimana belajar mengajar matematika yang baik. Melaui ini, guru dapat menerapkan belajar mengajar matematika mengenai materi yang diberikan sesuai pada konsepnya, sehingga siswa lebih mudah menangkap mengenai materi yang dipelajari.

    ReplyDelete
  11. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam pembukian matematika menggunakan pendekatan deduktif lebih tepatnya induksi matematis. Mengapa demikian? Karena siswa SMa ke atas telah dibekali pengetahuan matematika informal. Maka yang harus dilakukannya adalah pembuktian matematika dengan menggunakan matematika formal dengan induksi matematis.

    ReplyDelete
  12. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menurut saya dalam mengamati fenomena-fenomena yang ada dalam belajar mengajar adalah segala sesuatu apapun permasalahannya/ fenomenanya yang terpenting adalah bagaimana intuisi siswa dibangun pada matematika sekolah, dimana usia matematika sekolah yang relatif muda usia (siswa SD) belajar akan lebih bermakna jika mampu menumbuhkembangkan intuisinya; berarti diperlukan objek belajar yang lebih konkrit. Pengalaman menjadi hal yang mutlak harus ada dalam pikiran siswa agar pengalaman tersebut berbuah konstruktivitas sebuah pengetahuan.

    ReplyDelete
  13. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Refleksi perkuliahan yang dilakukan menjelaskan hubungan antara matematika dalam filsafat dan filsafat dalam pembelajaran matematika di sekolah. Filsafat mengenai diagonal ruang suatu balok diharapkan siswa lebih aktif atau student center dari pada teacher center. Pembuktian yang dilakukan dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan benda-benda nyata yang ada di sekitar siswa. Konsep dari Materi himpunan merupakan pengelompokkan. Seperti halnya limit dan trigonometri, konsep bilangan berpangkat negatif merupakan pengertian formal yang hanya ada di dalam pikiran dan sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehati-hari siswa.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dengan membaca ini, saya jadi tertarik meniru pak Marsigit menerjemahkan matematika menggunakan filsafat. Meskipun hasil tiruan saya tidak bisa seperti pak Marsigit, karena saya bukanlah pak Marsigit. Saya mencoba menerjemahkan fungsi eksponensial e^x. Fungsi e^x sangat teguh pendiriannya, mengerti akan diri, kompetensi, serta batasan dirinya. Sehingga mau diturunkan atau dinaikkan berapa kali pun tetap saja seperti itu. Mau orang puji atau dicaci orang dia tetap seperti itu. Fungsi e^x seperti orang lain, bisa mengalami penurunan nilai namun tidak pernah menjadi 0. Fungsi e^x sangat mengerti bahwa daerah yang membuat dirinya bisa berkembang pesat adalah pada x positif.

    ReplyDelete
  15. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Membangun pengetahuan baru dengan cara mengkonstruk apa yang diketahui sebelumnya. Dalam mempelajari filsafat yang merupakan diri sendiri, tidak mungkin masing- masing orang sama. Karena filsafat yang sifatnya terbuka, jadi belajar filsafat sebenarnya mempelajari diri sendiri.

    ReplyDelete
  16. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang dapat dipelajari dan dikaitkan dengan berbagai hal dalam kehidupan ini. Begitupun dengan ilmu matematika yang dapat dikaitkan dengan filsafat. seperti halnya, "guru menjelaskan tentang teori geometri", filsafat memandang bukanlah guru mengajar, akan tetapi "siswa mempelajari tentag teori geometri". lain hal nya dengan istilah siswa menemukan konsep, filsafat memandang akan hal ini adalah membangun konsep sehingga nantinya siswa dapat merekonstruksi sediri atau sesuai dengan paradigma kontrustivistik. Matematika dan filsafat adalah 2 hal yang saling terkait.

    ReplyDelete
  17. Elli Susilawati
    16709251073
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Matematika dalah ilmu yang dapat diterapkan oleh siapa saja sesuai dengan kapasitas dan levelnya. Anak-anak biasanya lebih tepat mengenal matematika secara konseptual. Anak-anak memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah dijelaskan di atas, sedangkan matematika untuk orang dewasa beban kognitifnya sangat jauh berbeda dengan matematika anak-anak.

    ReplyDelete
  18. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Segala hal di dunia dapat dipandang melalui filsafat. Termasuk fenomena belajar mengajar matematika. Oleh karenanya filsafat dalam fenomena belajar matematika sangat penting, sehingga bagus untuk guru mengetahui apa itu filsafat. Seperti yang sudah dijelaskan, salah satunya yaitu penjelasan filsafat tentang teori peluang/probabilitas dan statistika. Berbicara tentang peluang maka kita akan berbicara tentang kemungkinan. Secara filsafat, peluang atau probabilitas dapat dipandang sebagai yang mungkin ada. Karena dalam teori peluang selalu ada peluang sukses dan ada peluang gagal. Manusia adalah makhluk yang sempurna namun terbatas kemampuannya. Manusia tidak akan mampu mengadakan semua yang mungkin ada. Sedangkan yang ada pun hanya bersifat sempurna jika dia ada di dalam pikiran, diandaikan, atau kalau sudah sampai di akhirat.

    ReplyDelete
  19. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya konsep menemukan sendiri itu penting bagi siswa, karena siswa mengalami proses belajar dan mendapat pengalaman belajar. Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika siswa menemukan sendiri konsep yang akan mereka pelajari melalui pengalaman belajar. Konsep menemukan sendiri juga diartikan dengan membangun sebuah konsep baru dan memperhatikan konsep lama yang pernah dipelajarinya.

    ReplyDelete
  20. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat teramat dekat dengan kehidupan kita. Filsafat pun berkaitan terhadap seluruh aspek dalam kehidupan. Begitu juga terhadap kegiatan belajar mengajar matematika. Banyak materi yang dapat dibangun dan didekati oleh filsafat. Namun, tidak pada tempatnya bila filsafat disampaikan secara gamblang pada siswa. Mengkonstruksi pengetahuan melalui filsafat perlu disesuaikan oleh keadaan siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  21. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    pada elegi ini saya tertarik pada topi 6. yaitu

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar?

    Petunjuk Dosen:
    Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu

    Menurut saya benar adanya bahwa kesulitan belajar dimaknai oleh berbagai kendala dalam usaha menembus ruang dan waktu. Orang yang mampu mengatasi kesulitan belajar maka ia bisa dikatakan mampu menembus ruang dan waktu. Dimana orang itu mau melakukan usaha untuk memperoleh pengetahuan agar tidak terjebak pada kesulitan belajar yang membuat terperangkap dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  22. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Menanggapi pertanyyan filsafat yakni “Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya berbagai macam Pola atau keteraturan dalam matematika?” berdasarkan petunjuk beliau yang diberikan bahwa “Secara filsafat, Pola dapat diartikan sebagai Aturan/Ketentuan/atau Hukum, dan oleh karenanya Pola dapat digunakan sebagai Awal dari kegiatan berpikir. Suatu kegiatan Berpikir dimana mempunyai "awal" atau "starting point" disebutlah sebagai Aliran Foundationalisme.” Disinilah letak keteraturan dalam matematika dimana matematika dimulai dari sebuah kesepakatan yang kemudian disebut menjadi definisi disinilah bermula kemudian melahirkan teorema-teorema dimana antara satu dengan yang lainnya saling terkait tanpa adanya kotradiksi. Pola merupakan penggambaran simbol dama matematika itu sendiri dimana sering digunakan dalam perumusan matematika sehingga matematika akan mudah diingat dan diaplikasikan

    ReplyDelete
  23. Hal yang ada dan mungkin ada dapat ditemukan filosofinya. Demikian dengan pengetahuan dapat dijelaskan dalam filsafat. Karena filsafat adalah mencari kejelasan dari sesuatu. Dalam filsafat metode dalam memahami suatu konsep yaitu menggunakan metode hermenitika yaitu terjemah dan diterjemahkan struktur-struktur ide/gagasan.
    Di dalam proses memahami konsep tersebut perlu adanya interaksi antar guru dengan siswa. Interaksi berarti ada dua pihak yang aktif melakukan timbal balik. Apa yang dilakukan guru harus ditanggapi oleh siswa. Jika siswa tidak menanggapi maka guru menjadi dominan. Guru juga berperan untuk memunculkan tanggapan dari siswa dengan memberikan pertanyaan atau masalah yang dapat menggerakan siswa. Para siswa membutuhkan scaffolding yang bisa diperoleh dari guru ataupun dari temannya. Untuk tingkat dasar, siswa belajar memerlukan objek konkrit supaya pembelajaran bermakna dan dapat mengembangkan intuisinya.

    ReplyDelete
  24. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Segala aspek yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar matematika atau bahkan hingga materi yang diajarkan dapat dijelaskan filsafatnya. Seperti petunjuk-petunjuk pak Prof diatas, kita dapat memaknai beberapa macam poin yang ditawarkan dengan pendekatan filsafat, sehingga tercapai tujuan sebenarnya tentang apa yang kita jalani

    ReplyDelete
  25. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pembelajaran itu bukan bagaimana guru mentransfer pengetahuannya, namun bagaimana guru memfasilitasi siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri. memancing siswa untuk menggunakan intuisi nya dalam menyelesaikan permasalahan matematika itu penting.

    ReplyDelete
  26. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berfilsafat itu berfikir, filsafat itu luas tak terbatas oleh ruang dan waktu. Begitupun dalam mendefinisikan belajar mengajar matematika. Dalam elegi ini memberikan pengetahuan bahwa sebagai guru bukanlah untuk mentransfer ilmu, tetapi bagiamana guru slalu belajar metode-metode pembelajaran yang dapat menfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya serta aktif dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Yang artinya bahwa dalam proses belajar mengajar haruslah ada saling terikatan antar komponen pendidikan, saling silaturahmi antar komponen pendidikan.

    ReplyDelete
  27. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Matematika memang membutuhkan sesuatu yang dapat melatih intuisi siswa. Untuk hal-hal yang bersifat konkrit akan lebih baik jika menggunakan media yang dapat dieksplor secara langsung oleh siswa. Untuk beberapa materi yang tidak dapat dieksplor secara langusng dapat menggunakan pemodelan yang sesuai dan mudah dipahami siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  28. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Memahami tentang tulisan diatas, saya berusaha memahami kesulitas belajar siswa. Siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam usahanya menembus ruang dan waktu dalam artian seseorang didimensi ruang dan waktu yang berbeda telah menguasai suatu materi, berbeda dengan dirinya saat ini yang masih kesulitan dalam memahami dan memaknai sesuatu. Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitannay menembus ruang dan waktu untuk menuju dirinya yang telah memahami didimensi ruang dan waktu yang berbeda tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  29. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Begitu menyeluruhnya filsafat, sehingga bisa menjelaskan matematika dengan rapi. Menggaris bawahi pertanyaan nomor 8, Aliran constructivism percaya bahwa pengetahuan itu dapat dibangun oleh setiap individu yang belajar. Rasanya tepat memang, mengingat yang mengenali diri sendiri ada dirinya sendiri. Sehingga paham betul apa maunya, bagaimana bagusnya, bagaimana kelanjutannya dan lainnya. Proses membangun pengetahuan tidak akan terjadi jika tidak memiliki pengetahuan dasar. Karena membangun pengetahuan pada hakikatnya tetap mengembangakan pengetahuan yang telah dimiliki dengan memperhatikan hal baru yang diperoleh dari luar dirinya untuk selanjutnya membentuk pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  30. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Seperti yang kita ketahui bahwa filsafat merupakan dasar berbagai ilmu lain. Demikian halnya dalam pembelajaran matematika, peran filsafat tidak dapat dipisahkan terutama dalam mengkaitkan berbagai macam permasalahan matematika sehingga menjadi suatu rangkaian yang saling. Begitu juga yang kita ketahui bahwa matematika dipandang sebagai ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir, dengan tujuan akhir bahwa filsafat dan proses pembelajaran matematika yaitu sama-sama mencari kebenaran. Dalam menemukan jawaban kebenaran, pembelajaran matematika tidak terlepas dari metode ilmiah (deduktif dan Induktif), hal ini sejalan dengan peran filsafat yang mengedepankan suatu rangkaian yang saling berkaitan untuk mencari jawaban. Kebenaran itu adalah sebuah pengetahuan baru yang akan diterapkan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  31. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    filsafat dapat dihubungkan ke berbagai unsur dan aspek di dunia ini, dariyang ada dan yang mungkin ada. begitu juga matematika dan meteri-materi yang ada di dalam nya. postingan ini menjelaskan beberapa materi matematika dari segi filsafat, dan menurut saya ini dapat menguntungkan bagi para pembaca, khususnya guru. karena dengan mengetahui filsafat atau inti dari materi tersebut maka akan mengarahkan kita untuk mengadakan pembelajaran (materi tersebut) dengan baik dan benar, sesuai dengan hakikatnya.

    ReplyDelete
  32. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Terkait pertanyaan nomer dua yaitu mengenai nilai Phi, saya teringat kuliah umum yang pernah saya ikuti yang diampu oleh salah satu dosen dari Jepang (mohon maaf karena saya lupa namanya). Disana beliau memutarkan sebuah video bagaimana guru mengajarkan nilai phi, tidak dengan menjelaskan didepan kelas namun dengan invetigasi dan percobaan. Dengan mengukur berbagai benda dengan permukaan lingkaran yang diukur keliling dan diameternya. Benda-benda ynag digunakan pun sangat kontektual karena mereka bawa sendiri dari rumah. Hingga pada akhirnya mereka menemukan nilai perbandingan keliling lingkaran dengan diameter ynag hasilnya sama yaitu PHI.

    ReplyDelete
  33. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan di atas memang diperuntukkan untuk dijawab oleh pembaca blog ini. Saya akan mencoba menjawab atau menjelaskan tentang fenomena-fenomena di atas menurut pendapat saya. Dengan menjawab atau menjelaskan fenomena-fenomena di atas, secara tidak langsung saya telah belajar untuk memahami fenomena dan memecahkan fenomena, sehingga penting bagi saya untuk mencoba menjelaskan fenomena-fenomena di atas.

    ReplyDelete
  34. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang nilai Phi yang merupakan perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya?
    Petunjuk yang diberikan Dosen adalah bahwa Phi adalah perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya, dapat dipandang sebagai definisi yang merupakan kesepakatan awal atau dibuat sebagai pengertian awal. Sedangkan penemuannya Phi diterangkan dalam sejarahnya; dan pembuktiannya dapat digunakan benda konkrit. Pembuktian menggunakan benda konkrit inilah yang seharusnya dilakukan pada siswa yang relatif muda yaitu SMP. Siswa menghubungkan dari yang ada yaitu benda konkrit lingkaran dengan yang mungkin ada yaitu hipotesis yang mereka miliki untuk menemukan pembuktian dari nilai Phi sehingga mereka lebih memahami nilai Phi itu sendiri di kemudian hari untuk masalah matematika yang lebih kompleks.

    ReplyDelete
  35. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang rumus Luas permukaan Bola?
    Petunjuk yang diberikan Dosen adalah secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah. Rumus luas permukaan bola berarti bentuk lain yang menggambarkan permukaan bola. Untuk siswa yang relatif muda, tidak relevan jika memberikan langsung rumus luas permukaan bola, karena rumus dapat diartikan wadah, maka rumus adalah wadah untuk siswa menemukan dirinya, yaitu siswa melakukan aktivitas yang dapat membuktikan rumus luas permukaan bola yaitu dengan bola plastik yang kemudian dipotong-potong kulitnya dan disusun kemudian dihitung menurut pengetahuan yang telah dimiliki siswa, setelah itu siswa membuat hipotesis mengenai rumus luas permukaan bola.

    ReplyDelete
  36. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya konsep berbagai macam bilangan, hubungan antar bilangan, dan operasi bilangan? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Deret dan Barisan Bilangan?
    Petunjuk dari Dosen adalah bahwa secara filsafat, konsep bilangan hanya dapat dipahami dalam intuisi ruang dan waktu. Maka deret dan barisan bilangan juga dapat dipahami dalam intuisi ruang dan waktu. Untuk siswa yang relatif muda, agar deret dan barisan bilangan mudah dipahami, maka dibutuhkan benda konkrit untuk menjelaskannya. Tidak langsung pada contoh barisan bilangan, tetapi dimulai dari konteks yang ada di sekitar atau konteks budaya, seperti atap candi yang membentuk barisan bilangan.

    ReplyDelete
  37. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesamaan, persamaan, ketidaksamaan, dan pertidaksamaan?
    Petunjuk dari Dosen adalah bahwa dalam filsafat, konsep kesamaan setara dengan sifat identitas, yaitu tercapainya keadaan A = A; sedangkan konsep ketidaksamaan setara dengan sifat kontradiksi yaitu predikat yang tidak akan mampu menyamai subjeknya. Sedangkan persamaan adalah kesamaan suatu objek tetapi dengan objek yang berbeda (bukan dengan dirinya sendiri) yang jika kemudian persamaan tersebut diselesaikan akan tercapai dari nilai objek yang diinginkan dan pertidaksamaan adalah kontradiksi dari persamaan.

    ReplyDelete
  38. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?
    Petunjuk dari Dosen adalah segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu, seperti halnya juga pada bilangan. Maka untuk mempelajari berbagai macam bangun-bangun geometri perlu menggunakan benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari atau biasa disebut konteks. Terlebih untuk siswa yang relatif muda, sangat diharuskan untuk menggunakan benda nyata untuk mempelajari konsep bangun geometri di sekolah agar siswa tidak terbebani dan bisa mengembangkan pengetahuannya di kemudian hari.

    ReplyDelete
  39. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Peran guru sebagai fasilitator dan motivator di dalam proses pembelajaran matematika sangat dibutuhkan. Dengan adanya guru sebagai faslitator mampu membantu siswa dalam mempelajari materi matematika. Sementara peran guru sebagai motivator sangat bermanfaat dalam mendorong timbulnya semangat siswa untuk mempelajari materi matematika. Oleh karena itu peran guru sebagai fasilitator dan motivator harus dapat dioptimalkan dan diterapkan dengan baik sehingga proses pembelajaran dikelas dapat berjalan dengan lancar dan juga bermakna bagi siswa. Peran guru sebagai fasiltator dan motivator dapat ditingkatkan dengan mempelajari materi berdasarkan filsafat. Dengan mempelajari matematika dilihat dari sudut pandang filsafat dapat menambah tingkat kepekaan guru terhadap apa yang dibutuhkan siswanya, sehingga kebutuhan siswa dapat tercukupi dengan baik.

    ReplyDelete
  40. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. jika siswa belajar sebenarnya siswa secara tidak langsung juga berfilsafat. Siswa memikirkan hakekat dari ilmu yang dipelajarinya. Siswa sebenarnya memikirkan sisi ontologis, epitimologis, dan aksiologis dari ilmu yang dipelajari. Yang diperlukan guru ialah membantu siswa belajar dengan memfasilitasi segala kebutuhan belajar siswa.

    ReplyDelete
  41. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dengan filsafat kita dapat melihat proses pembelajaran dan konsep matematika dari sudut pandang yang lain. Filsafat menjelasksn semua komponen matematika yaitu definisi, postulat, teorema, kesulitan belajar, penggunaan matematika dan lain lain-lain sehingga memberikan referensi yang berbeda untuk memperkaya pengetahuan kita dalam melakukan proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  42. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014


    Setelah membaca artikel di atas, dapat dipahami bahwa filsafat mampu memberikan berbagai definisi dan penjelasan mengenai fenomena belajar mengajar matematika. Hal ini sangat membantu dalam memberikan pembelajaran yang inovatif khususnya bagaimana kita akan menyampaikan suatu konsep. Selain masalah konsep, dengan adanya bacaan ini juga menambah wawasan mengenai bagaimana kita memandang kesulitan belajar melalui kacamata filsafat sehingga diharapkan semakin mempermudah kita dalam mencari solusi dari kesulitan belajar.

    ReplyDelete
  43. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran yang constructivisme yaitu membentuk pengetahuan siswa sendiri, jadi guru sebagai fasilitataor. dalam pembelajaran di kelas, tidak dianjurkan guru yang aktif memberikan penjelasan namun diharuskan guru memfasiitasi siswa untuk mengexplore pengetahuannya sendiri namun tetap sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

    ReplyDelete
  44. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Sebenar-benar ilmu itu ialah dirimu sendiri yang berdasarkan pengalaman dan pikiranmu. Dapat menembus ruang dan waktu berarti sukses dalam menangani kesulitan belajar, dan dimensi dalam hidup kita menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Suatu ilmu yang telah dipelajari tidak terasa apa manfaatnya jika kita tidak mengkaitankannya dengan kehidupan. Ilmu itu digunakan untuk membantu manusia menyelesaikan permasalahannya.

    ReplyDelete
  45. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, kita mengetahui bahwa secara filsafat pembelajaran matematika mampu memberikan definisi dan penjelasan mengenai fenomena pada pembelajaran matematika. Penyampain suatu konsep matematika dapat diberikan kepada siswa secara lebih inovatif dan mudah dipahami.

    ReplyDelete

  46. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat memberikan sentuhan berbeda dalam cara pandang pembelajaran matematika. Prof. Marsigit secara filsafat "belajar" adalah segala usaha untuk "mengadakan" dari beberapa sifat "yang mungkin ada". Guru bisa mendapatkan banyak referensi pembelajaran inovatif dari cara pandang filsafat terhadap matematika.

    ReplyDelete

  47. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan filsafat, guru bisa lebih membuka kepekaan dirinya terhadap perkembangan siswanya. Cara berpikir yang tidak hanya linier akan membukakan pintu inovasi pembelajaran matematika. Peran guru sendiri adalah sebagai fasilitator siswa untuk mengembangkan pola pikir mereka dalam menyelesaikan masalah matematika.

    ReplyDelete

  48. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    “Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?
    Petunjuk Dosen: Segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu.” Filsafat memberikan pandangan bahwa pembelajaran yang baik itu mempertimbangkan intuisi ruang dan waktu. Jadi pembelajaran bangun geometri dapat dibantu dengan adanya keadaan nyata pada ruang saat waktu pembelajaran matematika.

    ReplyDelete

  49. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, salah satu hal menarik menurut saya dalam pembelajaran matematika jika dipandang secara filsafat yaitu Peluang atau Probabilitas bisa dipandang sebagai "yang mungkin ada". Untuk mewujudkannya dilakukan dengan metode Hermenitika.

    ReplyDelete
  50. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, simbol dalam matematika menjadi bahasa analog dalam matematika. Simbol dalam matematika ada banyak dan simbol merupakan sebuah kesepakatan awal para ahli dimana kita hanya percaya, menerima dan menggunakan simbol tersebut tanpa harus mendefinisikan simbol itu dengan sesuatu yang baru.

    ReplyDelete
  51. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Mempelajari diagonal ruang suatu balok secara filsafat dapat dilakuakan siswa dengan mengunakan objek belajar yang lebih konkrit, yaitu objek-objek yang dapat dibayangkan dan dapat dilihat secara nyata oleh siswa. Siswa juga dapat mengunakan intuisi yang dimilikinya dalam memahami diagonal ruang suatu balok. Hal ini menjadi lebih bermakna karena siswa dapat mengetahui informasi yang didapatkannya dengan usaha sendiri sehingga pengetahuan yang didapatkan lebih melekat dalam benak siswa.

    ReplyDelete
  52. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam mempelajarai nilai phi secara filsafat siswa dapat menelaah kembali mengenai bagaimana nilai phi diperoleh yaitu dengan membandingkan keliling lingkaran dengan diameternya. Selain itu siswa dapat mencari sumber-sumber mengenai bagaimana pembuktian untuk memperoleh nilai phi, serta definisi dari nilai phi yang merupakan sebuah kesepakatan yang dilakukan oleh ahli matematika di dunia. Siswa dapat mencari nilai phi dengan menggunakan benda-benda kongkrit yang ada disekitar, tentu saja dengan bantuan dan arahan dari guru sebagai seorang fasilitator.

    ReplyDelete
  53. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Siswa mempelajari konsep himpunan secara filsafat baik himpunan semesta, himpuna kosong, relasi himpunan maupun operasi himpunan dengan cara melihat definisi sebuah himpunan secara filsafat. Dalam filsafat himpunan merupakan suatu penggolongan ataupun pengkategorian terhadap sesuatu. Sementara dalam ilmu matematika himpunan merupakan kumpulan benda/objek yang dapat didefinisikan dengan jelas. Dari pengertian tersebut siswa dapat mengetahui perbedaan pengertian himpunan secara ilmu filsafat ataupun ilmu matematika.

    ReplyDelete
  54. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berbicara mengenai simbol-simbol matematika dan istilah matematika terkadang terlalu abstrak. Seperti pada tulisan artikel pak prof. Marsigit yang mengatakan bahwa seluruh unsut Matematika itu tidak dapat dijumpai di dunia nyata karena hakikatnya ilmu matematika itu meruoakan hasil suatu pemikiran di dalam otak. Itulah mengapa dosen geometri saya ketika semester awal menekankan misalnya balok yang kita ketahui ternyata bukan balok akan tetapi model balok dan begitu yang lainnya.

    ReplyDelete
  55. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang dijelaskan juga dalam artikel ini bahwa ilmu matematika hanya berada di otak. Sehingga terkadang sulit bagi seseorang menjelaskan mengenai makna ataupin konsep matematika itu sendiri. Terlebih lagi jika kita mengebalkan itu ke anak SD. Dan salah satu kesulitan yang saya dan bahkan beberapa teman saya rasakan ketika berhadapan dengan anak SD yang belajar matematika adalah menjelaskan "keadaan" konsep matematika itu sendiri dari ketidakadaan.

    ReplyDelete
  56. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pend. Matematika I 2014

    Mengadakan ketiadaan itu merupakan suatu hal yang sulit memang. Oleh karena itulah guru berperan dalam memfasilitasi sebagai jalan untuk menyambungkan keadaan dan ketiadaan tersebut. Akibatnya kata menjelaskan disini tidak dibenarkan karena pada dasarnya belajar merupakan kegiatan membangun pengetahuan secara mandiri.

    ReplyDelete
  57. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam ilmu matematika bilangan berpangkat negatif dapat diartikan bilangan berpangkat tak sebenarnya. Hal ini dikarenakan bilangan berpangkat negatif tidak dapat diartikan sebagai hasil perkalian dari beberapa bilangan dengan faktor- faktor yang sama. Inilah yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mempelajarinya , karena ketidaklogisan dan juga penalaran yang berada di luar pikiran siswa. Siswa akan merasa kebingungan dalam mengkaitkan apa apa yang dimaksud dengan apa yang didefinisikan.

    ReplyDelete
  58. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam mempelajari luas permukaan bola siswa harus memahami pengertian dari bola yaitu bangun ruang sisi lengkung yang dibatasi oleh satu bidang lengkung. Bola juga dapat diperoleh dari bangun setengah lingkaran yang diputar satu putaran. Selain itu dalam mempelajarinya siswa dapat menggunakan alat peraga ataupun benda-benda konkret yang ada di sekitar.Untuk dapat melakukan pembuktian rumus luas permukaan bola siswa dapat dibantu oleh guru.

    ReplyDelete
  59. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Filsafat sebagai ilmu dari segala ilmu, maka penerapan filsafat dalam pembelajaran di proses pembelajaran baik disekolah dan perguruan tinggi menjadi salah satu hal yang menarik perhatian. Mengapa demikian? Karena biasanya filsafat hanya ada di perguruan tinggi, namun pada zaman sekarang filsafat juga ada di sekolah.

    ReplyDelete
  60. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan penjelasan dari setiap pertanyaan di atas, saya dapat memahami bahwa setiap kegiatan belajar mengajar matematika dapat diartikan melalui filsafat. Dalam filsafat, belajar diartikan sebagai aktifitas siswa dalam membangun pengetahuan, sedangkan mengajar diartikan sebagai kegiatan guru yang memfasilitasi siswanya agar mampu belajar. Dalam memfasilitasi siswanya, guru harus tahu psikologi dan tahap perkembangan siswanya agar mengetahui kebutuhan siswanya yang sebenarnya. Jadi dalam hal ini, kegiatan belajar mengajar bukan hanya sekedar transfer of knowledge tetapi to construct.

    ReplyDelete
  61. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Walaupun hanya sebagai pelengkap dalam pembelajaran, namun filsafat memberikan pengaruh yang besar dalam pembelajaran. Filsafat adalah kegiatan berpikir, sehingga dalam setiap pembelajaran siswa dan mahasiswa melakukan kegiatan filsafat.

    ReplyDelete
  62. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat mengenai berbagai macam konsep himpunan, misalnya Himpunan Semesta, Himpunan Kosong, Relasi Himpunan dan Operasi Himpunan? Secara filsafat semua pertanyaan pasti ada jawabanya baik jawabannya yang ada dan yang munkin ada. Sehingga manusia hanya berusaha mengadakan jawaban tersebut. Sehingga dalam siswa mempelajari himpunan maka siswa harus mengetahui apa itu himpunan. HImpunan itu kediatan mengkategoriakan. Sehingga dalam hal kategori siswa harus mengetahui sifat-sifat dari objek himpunan tersebut dan dengan sifatnya itu dikategorikan menjadi kategori sifat-sifat yang sama.

    ReplyDelete
  63. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif? Seperti yang dijelaskan dalam petunjuk secara filsafat maka siswa akan sulit mempelajari ini karena objeknya berada di pikiran siswa. Namun saya ambil cara dari konsep pekalian positif dan negative. Dalam pembelkajran siswa akan sulit untuk mempelajari ini karena negatef berada diluar pikiran mereka. Namun berangkat dari a priori mereka bahwa perkalian dengan 2 bilangan positif, siswa akan menemukan konsep perkalian bilangan postif dengan negative dengan cara memolakan hasil dari perkalian tersebut.

    ReplyDelete
  64. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Melihat pengalaman belajar ketika masih SMA, pada saat siswa diajak untuk mempelajari materi yang berkaitan dengan dimensi tiga, biasanya siswa menemukan banyak sekali kendala. Salah satunya adalah siswa belum mampu menerapkan logika mereka untuk memandang bagaimana dua garis dikatakan tegak lurus, tidak hanya tegak lurus berdasarkan gambar nyatanya saja, melainkan berdasarkan sifat dua buah garis. Dalam hal ini, intuisi siswa masih kurang maksimal dikarenakan minimnya kesempatan yang diberikan guru kepadanya untuk membangun sendiri pengalamannya.

    ReplyDelete
  65. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Solusi untuk permasalah pemerataan pendidikan yang paling utama adalah motivasi yang harus digalakkan serta adanya pemerataan sekolah di daerah terpencil serta kemudahan akses sekolah.

    ReplyDelete
  66. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Rendahnya mutu pendidikan harusnya dapat diatasi dengan efektivitas pendidikan dan inovasi pembelajaran sehingga meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatnya hasil atau outcome.

    ReplyDelete
  67. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari identifikasi kedua yang berkaitan dengan nilai phi, dalam kenyataannya ketika siswa diminta untuk menentukan perbandingan antara kelililing terhadap diameternya, hasil akhir antara satuan satu dengan ukuran lainnya (ketika ukuran keliling dan diameter diubah) maka diperoleh nilai yang berbeda-beda pula. Dengan demikian peran guru lah yang harusnya menyatupadukan pemikiran bahwa nilai phi yang digunakan dalam perhitungan adalah sebatas nilai pendekatan dari keseluruhan nilai yang ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  68. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mutu pendidikan yang direndah ditengarai oleh kualitas pendidikan maupun sarana dan prasarana pendidikan.

    ReplyDelete
  69. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat mengenai berbagai macam konsep himpunan, misalnya Himpunan Semesta, Himpunan Kosong, Relasi Himpunan dan Operasi Himpunan?
    Ketika mengkategorikan sesuatu akan terbatas akan substansi, kuantitas, kualitas, keadaan, serta ruang dan waktu. Dari kategori-kategori tersebut, dengan memadupadankan antara akal, pikiran, logika, serta perasaan maka pasti seorang siswa mampu membedakan mengenai sub kategori dari keadaan yang diberikan kepadanya

    ReplyDelete
  70. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif? Bilangan berpangkat negatif mulai dikenalkan pada satuan pendidikan SMP, akan tetapi baru benar-benar diterapkan pada jenjang SMA. Bahkan pada masa SMA saja masih banyak menemukan permasalahan-permasalahan yang menghampiri, diantaranya adalah anggapan siswa jika bilangan dipangkatkan negatif, maka hasilnya akan bernilai negatif pula, dsb.

    ReplyDelete
  71. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Relasi dan fungsi matematika, dilanjutkan dengan Limit Fungsi?
    Relasi kehidupan merupakan keterkaitan antar kejadian satu terhadap kejadian yang lainnya, kejadian satu mempengaruhi kejadian selanjutnya. Begitupula seterusnya, sehingga pada akhirnya rangkaian kejadian adalah tak berhingga, serta ketidakhinggaan pikiran manusia adalah menemukan ketidaksempurnaannya.

    ReplyDelete
  72. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kesulitan dalam filsafat diartikan sebagai kendala seseorang dalam menembus ruang dan waktu. Sehingga kesulitan belajar dapat diartikan sebagia kendala seseorang dalam memahami suatu hal baru, sehingga tidak adanya pertambahan pengetahuan yang melekat dalam pikiran siswa. Hal ini disebabkan karena kurangnya kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa mengenai hal baru yang dipelajari, kurangnya motivasi atau dorongan siswa untuk belajar

    ReplyDelete
  73. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat pemecahan masalah dipandang sebagai suatu ikhiar atau vitalitas yag berarti bahwa pemecahan masalah adalah sesuatu yang membutuhkan upaya dan juga jkerja keras. Sementara itu dalam ilmu matematika, pemecahan masalah dipandang sebagai proses berfikir dimana terdapat suatu rencana yang harus dilakukan agar masalah matematika dapat diselesaikan.

    ReplyDelete
  74. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menemukan sendiri adalah salah satu konsep dari pengetahuan dengan konstruktivistik. Dimana siswa membangun dan memperoleh informasi atau sesuatu yang ingin diketahuinya dengan kerja keras sendiri dalam mencari sumber yang terkait dengan informasi yang ingin diketahui. Selain itu dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri, diperlukan adanya arahan dari guru agar informasi yang didapatkan lebih akurat. Menemukan pengetahuan dengan usaha sendiri menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi siswa. Hal ini bertujuan agar potensi dan kemampuan berpikir siswa dapat diolah dan dikembangkan dengan baik.

    ReplyDelete
  75. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat memandang ilmu matematika dari sudut pandang yang berbeda. misalnya, penjelasan mengenai konsep diagonal ruang suatu balok dapat dilakukan dengan metode yang berbeda, yaitu metode hermenitika. Metode yang masih sangat asing bagi saya. Namun, terdapat hal penting yang saya garis bawahi dalam artikel ini yaitu "Agar lebih bermakna, maka objek belajar sebaiknya berupa benda konkret yang dapat membangun intuisi siswa."

    ReplyDelete
  76. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  77. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berkaitan dengan identifikasi bagaimana penjelasan filsafat tentang materi Logika dalam matematika yang disampaikan oleh Immanuel Kant berpendapat bahwa dalam belajar tidak hanya bertumpu dari apa yang dapat ditangkap dari benda itu, melainkan unsur apa saja yang terdapat dibelakang benda konkret tersebut, yakni dengan mempertajam logika yang dia punyai. Logika bukanlah suatu kemampuan yang dimiliki secara tiba-tiba, melainkan dapat diasah berdasarkan pembiasaan serta pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik.

    ReplyDelete
  78. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep Peluang/Probabilitas dan Statistika? Statistika merupakan kejadian yang pasti yang ada di lapangan, sedangkan peluang merupakan kemungkinan yang dapat terjadi dari kepastian yang ada. Sekali lagi disini jelas disebutkan bahwa dari sesuatu yang ada, tersimpan sesuatu yang mungkin ada. Begitu pula sebaliknya. Dalam hal ini, segala yang ada dan mungkin ada merupakan dua unsur pembangun utama dalam belajar filsafat.

    ReplyDelete
  79. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang pembuktian Rumus Matematika: induksi dan deduksi? Semakin tinggi tingkat satuan pendidikan seorang siswa, tentu metode pembuktian rumus akan semakin kompleks, semakin meninggalkan pembuktian secara konkret. Sebagaimana belajar filsafat dapat diklasifikasikan berdasarkam perkembangan hidup si pembelajar itu sendiri.

    ReplyDelete
  80. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berkaitan dengan bagaimana penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari? Saya sependapat bahwa kita tidak dapat memaksakan diri kepada individu yang sedang belajar. Mengingat sisi psikologis serta akademis antara satu individu dengan yang lainnya tidaklah sama, melainkan berbeda-beda. Jadi, menjadi sangat penting ketika akan mengkaitkan matematika terhadap keseharian kehidupan manusia agar disesuaikan dengan perkembangan usia siswa tersebut.

    ReplyDelete
  81. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Segala aspek yang dipelajari dalam matematika dapat dikaitkan dengan filsafatnya sesuai yang dituliskan oleh Prof. Sebagai contohnya dalam pembelajaran matematika, semuanya dapat dikaitkan dengan filsafat. Untuk memahami lebih jauh lagi mengenai filsafat matematika, saya perlu banyak membaca lagi postingan dari yang Prof posting di blog ini.

    ReplyDelete
  82. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bilangan dapat dipelajari berdasarkan intuisi antara ruang dan waktu yang bermakna karena memiliki nilai. Sementara deret adalah penjumlahan dari setiap anggota-anggota suatu barisan. Deret sesuai dengan aliran filsafat teleologi. Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju tujuan tertentu. Ada pula yang memandang teleologi sebagai sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperhatikan keteraturan, rancangan, tujuan akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal yang dicapai dalam suatu proses perkembangan. Keteraturan sebagai acuan dari aliran filsafat teleologi inlah yang menyebabkan kesesuaian deret sebagai aliran dari teleologi.

    ReplyDelete
  83. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat memandang konsep kesamaan sebagai sifat identitas, dimana hasil perlakuan terhadap sesuatu adalah sama dengan aslinya. Filsafat memandang ketidaksamaan sebagai sifat kontrakdisi, yaitu sebuah kesalahan. Dimana predikat tidak akan mungkin menyamai subyeknya.Dengan dua hal dalam kondisi yang sama tidak memiliki nilai kebenaran pada waktu dan pengertian yang sama.

    ReplyDelete
  84. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bilangan adalah suatu konsep matematika yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Prosedur-prosedur tertentu yang mengambil bilangan sebagai masukan dan menghasilkan bilangan lainnya sebagai keluaran disebut operasi. Selain itu operasi dapat diartikan sebagai pengerjaan hitung, pengerjaan aljabar, dan pengerjaan matematika yang lain. Operasi juga dapat dipandang sebagai suatu relasi khusus karena operasi adalah aturan untuk memperoleh elemen tunggal dari satu atau lebih elemen yang diketahui. Dalam filsafat bilangan yang berada di dalam pikiran dianggap bersifat tunggal, unik, absolut, sempurna dan ideal. Sedangkan bilangan yang berada di luar pikiran bersifat sebaliknya.

    ReplyDelete
  85. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang Definisi, Postulat dan Theorema dalam Matematika? Ketiga istilah di depan memiliki sifat yang kaku, dalam artian ketika A ya harus A, tidak boleh A tersebut dipandang sebagai B. Ketika siswa dihadapkan pada persoalan matematika (bukan soal yang jawabannya beragam), maka jawaban akhir dari permasalahan tersebut adalah tunggal. Meskipun untuk mendapatkan hasil akhir tersebut seorang siswa dapat menerapkan berbagai langkah yang mungkin tidak sama antara satu dengan yang lainnya.

    ReplyDelete
  86. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat Relasi adalah hubungan. Relasi dari himpunan A ke himpunan B adalah pemasangan anggota-anggota himpunan A dengan anggota-anggota himpunan B. Atau dapat diartikan bahwa relasi adalah suatu aturan yang memasangkan anggota suatu himpunan ke anggota himpunan yang lain. Fungsi adalah suatu relasi khusus yang memetakan himpunan A ke himpunan B, sehingga setiap anggota himpunan A dipasangkan dengan tepat satu anggota himpunan B. Dalam filsafat limit dipandang sebagai batas dari sesuatu. Limit fungi dapat menunjukkan kecenderungan nilai fungsi jika batas tertentu didekati.

    ReplyDelete
  87. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep Peluang/Probabilitas dan Statistika? Dalam folsafat peluang ini adalah yang dikatan dengan yang munkin ada. Manusia hanya bisa mengidentifikasikan kemungkinan kemungkinan yang ada seperti dalam memikirka peluang dari melempar koin. Pasti hanya diajarkan bahwa ada dua kemungkinan yang ada. Namun dalam filsafat mungkin bukan hanya 2 saja, misalnya jika koin itu dilempar dan berdiri di sisi koin atau miring ke kiri atau kekanan dan sebalikanya. Itu baru yang ada dipikiran saya bagai mana yang mungkin ada yang lain. Sehingga siswa diberikan kegiatan untuk menyelidiki semua kemungkinan bukan secara teori saja.

    ReplyDelete
  88. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Geometri adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara titik, garis, sudut, bidang, dan bangun ruang. Geometri memungkinkan kita untuk memahami ruang dalam sebuah kehidupan nyata yang membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang lebih baik. Sementara itu bangun adalah semua informasi geometri yang tersisa pada saat lokasi, skala, dan efek putar yang disaring dari suatu objek. Jenis bangun geometri ada dua yaitu, bangun datar dan juga bangun ruang. Dalam ilmu filsafat bangun geometri dapat dipelajari siswa dengan mengandalkan intuisi.

    ReplyDelete
  89. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pola diartikan sebagai bentuk atau model (atau lebih abstrak yaitu suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat. Pola dapat dijadikan sebagai awal dari kegiatan berfikir yang disebut aliran foundationalisme. Foundationalisme adalah teori pembenaran yang menyatakan bahwa suatu klaim kebenaran pengetahuan untuk dapat dipertanggungjawabkan secara rasional perlu didasarkan atas suatu fondasi atau basis yang kokoh, yang jelas dengan sendirinya, tak dapat diragukan lagi kebenarannya, dan tak memerlukan koreksi lebih lanjut

    ReplyDelete
  90. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Beberapa poin yang saya dapatkan dari artikel ini adalah cara terbaik untuk mengajarkan adalah bukan guru menjelaskan namun siswa mempelajari. Dengan siswa mempelajari berarti siswa membangun sendiri pengathuan mereka. Sehingga pengetahuan itu lebih melekat dalam benak siswa. hal semacam ini disebut pendekatan Constructivisme. Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar. siswa harus berusaha untuk menyelesaikan masalah mereka. Ikhtiar disini diartikan sebagai usaha.

    ReplyDelete
  91. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    [Saya kurang sreg dengan istilah "guru menjelaskan", tetapi lebih cocok dengan istilah "siswa memelajari"]. Saya sependapat dengan pernyataan tersebut. Hakikat belajar adalah menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan bukan semata-mata diperoleh dari guru secara langsung, tetapi melalui siswa mempelajari dan mengalami sendiri proses menemukan pengetahuannya.

    ReplyDelete
  92. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Kesulitan belajar siswa dalam menemukan solusi permasalahan matematika adalah tahapan untuk menembus kemampuan ruang dan waktu yang sebelumnya belum di dapatkan siswa. Hal seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa dan di sinilah peran guru dalam membantu siswa menemukan dirinya sendiri dengan motivasi, kolaborasi dan mempfasilitasi pembelajaran. Mengantarkan siswa pada taraf berfikir 'filsafat' pada batasnya mengokohkan pendapat yang akan ia temukan dan menjadikan pembelajaran sebagai construktivisme.

    ReplyDelete
  93. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Melalui postingan ini saya menyadari bahwa belajar mengajar matematika dapat dijelaskan melalui filsafat. Cara pandang filsafat mampu menjelaskan berbagai konsep dalam matematika bahkan sampai penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang calon guru postingan ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai belajar mengajar matematika yang nantinya dapat diterapkan saat mengajar matematika di sekolah.

    ReplyDelete
  94. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Filsafat yang dikaitkan dengan matematika akan membentuk filsafat matematika. Dengan filsafat, kita dapat menerjemahkan objek matematika yang bersifat abstrak, yaitu hanya ada didalam pikiran. Untuk pembelajaran matematika siswa SD sebaiknya menggunakan media/alat/benda kongkrit sehingga siswa lebih tertarik dalam mempelajari matematika. Jangan dipaksa untuk memahami matematika formal seperti orang dewasa.

    ReplyDelete