Nov 7, 2014

Mengungkap Fenomena Belajar Mengajar Matematika melalui Filsafat (Disertai Penjelasan Singkat Dosen Pengampu untuk menjawabnya)

Ass Wr Wb.


Pada hari ini Jumat, 7 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PMP2TK di R 106 A diganti R 100 A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.10, yang di hadiri oleh 16 mahasiswa, saya meminta mahasiswa untuk mengidentifikasi fenomena-fenomena apa saja, dalam kelas pembelajaran matematika yang dapat dijelaskan melalui/dengan filsafat.



Sebagai pengantar saya ingin sampaikan bahwa mengungkap secara filsafati segala fenomena yang ada dan yang mungkin ada dalam proses belajar mengajar matematika di kelas, adalah semata-mata dari dan untuk kepentingan orang dewasa, dalam hal ini, Guru. Tidaklah pada tempatnya andaikata kita berkehendak mengajak berkomunikasi secara filsafati kepada anak-anak atau siswa, kecuali dalam kondisi yang memungkinkan. Tujuan dari telaah filsafat ini adalah untuk meningkatkan sensitivitas orang dewasa (guru) agar lebih santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada dalam proses belajar mengajar matematika.

Berikut hasil identifikasinya, beserta Petunjuk yang saya berikan untuk menjawab dari beberapa pertanyaan:

1.Bagaimana menjelaskan secara filsafat tentang diagonal ruang suatu Balok?

Petunjuk Dosen:

Saya kurang sreg dengan istilah "guru menjelaskan", tetapi lebih cocok dengan istilah "siswa memelajari". Diagonal ruang suatu bangun geometri (Balok) adalah satu dari sekian banyak sifat yang ada dari bangun tersebut. Secara filsafat, saya mendefinisikan "belajar" sebagai segala usaha untuk "mengadakan" dari beberapa sifat "yang mungkin ada". Jadi usaha siswa belajar untuk memahami konsep "diagonal ruang"dapat dipandang sebagai mengadakan segala sifat diagonal ruang yang mungkin ada. Seperti halnya untuk mengetahui siat-sifat yang lainnya, maka secara filsafat cara memahami konsep diagonal ruang dapat dilakukan dengan metode hermenitika yaitu terjemah dan diterjemahkan, yang di dalamnya terkandung kegiatan interaksi atau saling bersilaturakhim, baik antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan objek belajar yaitu Balok. Bagi siswa yang relatif muda usia (siswa SD) belajar akan lebih bermakna jika mampu menumbuhkembangkan intuisinya; berarti diperlukan objek belajar yang lebih konkrit. Demikian, penjelasan saya, semoga dapat menjadi pembuka bagi usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Selamat menjawab.

2. Bagaimana penjelasan filsafat tentang nilai Phi yang merupakan perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya?

Petunjuk Dosen:
Bahwa Phi adalah perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya, dapat dipandang sebagai definisi yang merupakan kesepakatan awal atau dibuat sebagai pengertian awal. Sedangkan penemuannya Phi diterangkan dalam sejarahnya; dan pembuktiannya dapat digunakan benda konkrit.

3. Bagaimana penjelasan filsafat mengenai berbagai macam konsep himpunan, misalnya Himpunan Semesta, Himpunan Kosong, Relasi Himpunan dan Operasi Himpunan?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat konsep Himpunan dapat dipandang sebagai Penggolongan atau Pembeda atau Kategori. Sebenar-benar Ilmu adalah jika memuat Kategori. Dan sebenar-benar orang berilmu jika dia mampu mem Beda kan.

4. Bagaimana penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat konsep Bilangan Berpangkat Negatif termasuk ke dalam Pengertian Formal; dia hanya ada di dalam pikiran dan tidak ditemukan di luar pikiran (anak-anak). Itulah sebabnya akan sulit bagai anak kecil untuk memelajarinya.

5.  Bagaimana penjelasan filsafat tentang rumus Luas permukaan Bola?

 Petunjuk Dosen:

Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah.

6. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu.

7. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kegiatan pemecahan masalah?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar.

8. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep menemukan sendiri?

Petunjuk Dosen:
Menemukan sendiri, mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme.

9. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya konsep berbagai macam bilangan, hubungan antar bilangan, dan operasi bilangan? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Deret dan Barisan Bilangan?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, konsep Bilangan hanya dapat dipahami dalam Intuisi Ruang dan Waktu. Di dalam Pikiran, Bilangan bermakna karena Nilainya. Barisan atau Deret Bilangan dapat dianggap sebagai Petunjuk untuk memeroleh Keadaan di masa Depan, jadi dia sesuai dengan Aliran Filsafat Teleologi. 

10. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesamaan, persamaan, ketidaksamaa, dan pertidaksamaan?

Petunjuk Dosen:
Dalam filsafat, konsep Kesamaan setara dengan Sifat Identitas, yaitu tercapainya keadaan A = A; sedangkan konsep ketidaksamaan setara dengan Sifat Kontradiksi yaitu Predikat yang tidak akan mampu menyamai Subjeknya.

11. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep berbagai macam operasi bilangan?

Petunjuk Dosen:
Segala bilangan yang ada di dalam pikiran bersifat Tunggal, Unik, Absolut, Sempurna, Ideal. Sedangkan bilangan-bilangan yang ada di luar pikiran bersifat sebaliknya.

12. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya relasi dan fungsi matematika? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Limit Fungsi?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafati, Konsep Limit Fungsi berkaitan dengan ketakhinggaan, di mana dalam ketakhinggaan manusia menemukan ketidaksempurnaannya.

13. Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?

Petunjuk Dosen:
Segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu

14. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya berbagai macam Pola atau keteraturan dalam matematika?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Pola dapat diartikan sebagai Aturan/Ketentuan/atau Hukum, dan oleh karenanya Pola dapat digunakan sebagai Awal dari kegiatan berpikir. Suatu kegiatan Berpikir dimana mempunyai "awal" atau "starting point" disebutlah sebagai Aliran Foundationalisme. 

15. Bagaimana penjelasan filsafat tentang materi Logika dalam matematika?

Petunjuk Dosen:
Logika mempunyai kedudukan yang dominan dan sangat penting dalam filsafat, mulai dari jaman Aristoteles hingga tokoh Logicism (filsafat Logika) yaitu Sir Bertrand Russel. Namun Logika tidaklah sama dengan Logicism. Secara khusus, dalam bukunya " The Critics of Pure Reason", Immanuel Kant banyak sekali menguraikan tentang Logika dan logika. Logicism adalah suatu aliran filsafat matematika yang berusaha membawa semua matematika ke dalam alur pikir logika.

16. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep Peluang/Probabilitas dan Statistika?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Peluang atau Probabilitas dapat dipandang sebagai "yang mungkin ada". Untuk mewujudkannya dilakukan dengan metode Hermenitika. Dikarenakan keterbatasannya, maka sebenar-benar manusia tidaklah mampu mengadakan semua yang mungkin ada. Sedangkan yang ada pun hanya bersifat sempurna jika dia ada di dalam pikiran, diandaikan, atau kalau sudah sampai di akhirat.


17.Bagaimana penjelasan filsafat tentang pembuktian Rumus Matematika: induksi dan deduksi?

 Petunjuk Dosen:

Membuktikan Rumus Matematika adalah ranah orang dewasa (SMA ke atas) dalam lingkup Matematika Formal/Matematika Aksiomatik. Membuktikan Matematika untuk dunia anak-anak (SD) harus diberi pengertian lain yaitu segala aktivitas memahami matematika dengan aktivitasnya berinteraksi dengan benda-benda konkrit. 
 
18. Bagaimana penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari?

Petunjuk Dosen:
Penggunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa; jadi jangan membebani generasi muda (anak-anak) untuk berpikir sampai tahap demikian. Menggunakan matematika adalah urusan dan kerja orang dewasa (matematikawan dan praktisi matematika).Kemudian (setelah diingatkan oleh Ivone Marlinda) saya masih menemukan bahwa ternyata Anak Kecil dalam ruang dan waktu yang terbatas juga dapat menggunakan matematika; saya ulangi dalam ruang dan waktu yang terbatas. Walaupun dalam ruang dan waktu yang terbatas, ternyata juga banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan oleh Anak Kecil menggunakan matematikanya misalnya: menghitung, mengukur, mengira-ira, belanja,..dst. Pernyataan saya di awal dikarenakan saya menekankan pada usaha mencegah orang dewasa berbuat semena-mena dengan menerapkan matematika formal dan menggunakan matematika tanpa mengetahui konsepnya.Hanya di sini saya akan membedakan antara "kemampuan menerapkan matematika" dan "matematika terapan". Untuk yang pertama, "kemampuan menarapkan matematika" dapat dipandang dari sisi kemampuan berpikir secara umum, seperti yang dikemukakan oleh Bloom, yaitu kemampuan berpikir sejak dari : Mengingat, Memahami, MENERAPKAN, Analisis, Sintesis,dan Evaluasi. Berarti setiap kegiatan berpikir terdapat aspek Menerapkan pemahamannya sebagai suatu kriteria tahapan berpikir. Demikian itulah yang terjadi jika siswa/anak kecil berpikir termasuk berpikir matematika; ini pulalah yang menurut saya yang dipersoalkan oleh Sdri Ivone Marlinda. Sedangkan yang kedua "matematika terapan" atau menerapkan matematika dalam kepentingan matematika bermanfaat bagi ilmu-ilmu lain itulah yang saya maksud sebagai domainnya orang dewasa. Demikianlah semoga bermanfaat.

19. Bagaimana penjelasan filsafat tentang Definisi, Postulat dan Theorema dalam Matematika?

Petunjuk Dosen:
Definisi, Postulat dan Theorema termasuk ranah Matematika Formal/Matematika Aksiomatik, dimana Matematika demikian didefinisikan sebagai ilmu yang bersifat deduktif, yang berlandaskan atau dimulai dengan mendefinisikan konsep-konsep, selanjutnya dibentuklah Teorema-teorema, Aksioma atau Dalil-dalil yang pada akhirnya diperoleh suatu Struktur Matematika yang di dalamnya tidak boleh terdapat kkontradiksi. Pendiri Matematika Formal adalah Hilbert.

20. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya Simbol-simbolmatematika?

Petunjuk Dosen:
Secara khusus, terdapat apa yang disebut sebagai Filsafat Simbol

Selanjutnya dipersilahkan para pembaca yang budiman untuk mencoba menjelaskan satu atau lebih dari fenomena-fenomena yang telah didaftar tersebut di atas, dengan cara membuat Comment.

Demikianlah semoga bermanfaat. Amin.

Dosen ybs

Marsigit




144 comments:

  1. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Refleksi perkuliahan yang dilakukan menjelaskan hubungan antara matematika dalam filsafat dan filsafat dalam pembelajaran matematika di sekolah. Filsafat mengenai diagonal ruang suatu balok diharapkan siswa lebih aktif atau student center dari pada teacher center. Pembuktian yang dilakukan dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan benda-benda nyata yang ada di sekitar siswa. Konsep dari Materi himpunan merupakan pengelompokkan. Seperti halnya limit dan trigonometri, konsep bilangan berpangkat negatif merupakan pengertian formal yang hanya ada di dalam pikiran dan sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehati-hari siswa.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dengan membaca ini, saya jadi tertarik meniru pak Marsigit menerjemahkan matematika menggunakan filsafat. Meskipun hasil tiruan saya tidak bisa seperti pak Marsigit, karena saya bukanlah pak Marsigit. Saya mencoba menerjemahkan fungsi eksponensial e^x. Fungsi e^x sangat teguh pendiriannya, mengerti akan diri, kompetensi, serta batasan dirinya. Sehingga mau diturunkan atau dinaikkan berapa kali pun tetap saja seperti itu. Mau orang puji atau dicaci orang dia tetap seperti itu. Fungsi e^x seperti orang lain, bisa mengalami penurunan nilai namun tidak pernah menjadi 0. Fungsi e^x sangat mengerti bahwa daerah yang membuat dirinya bisa berkembang pesat adalah pada x positif.

    ReplyDelete
  3. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Membangun pengetahuan baru dengan cara mengkonstruk apa yang diketahui sebelumnya. Dalam mempelajari filsafat yang merupakan diri sendiri, tidak mungkin masing- masing orang sama. Karena filsafat yang sifatnya terbuka, jadi belajar filsafat sebenarnya mempelajari diri sendiri.

    ReplyDelete
  4. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah ilmu yang dapat dipelajari dan dikaitkan dengan berbagai hal dalam kehidupan ini. Begitupun dengan ilmu matematika yang dapat dikaitkan dengan filsafat. seperti halnya, "guru menjelaskan tentang teori geometri", filsafat memandang bukanlah guru mengajar, akan tetapi "siswa mempelajari tentag teori geometri". lain hal nya dengan istilah siswa menemukan konsep, filsafat memandang akan hal ini adalah membangun konsep sehingga nantinya siswa dapat merekonstruksi sediri atau sesuai dengan paradigma kontrustivistik. Matematika dan filsafat adalah 2 hal yang saling terkait.

    ReplyDelete
  5. Elli Susilawati
    16709251073
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Matematika dalah ilmu yang dapat diterapkan oleh siapa saja sesuai dengan kapasitas dan levelnya. Anak-anak biasanya lebih tepat mengenal matematika secara konseptual. Anak-anak memahami dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang telah dijelaskan di atas, sedangkan matematika untuk orang dewasa beban kognitifnya sangat jauh berbeda dengan matematika anak-anak.

    ReplyDelete
  6. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Segala hal di dunia dapat dipandang melalui filsafat. Termasuk fenomena belajar mengajar matematika. Oleh karenanya filsafat dalam fenomena belajar matematika sangat penting, sehingga bagus untuk guru mengetahui apa itu filsafat. Seperti yang sudah dijelaskan, salah satunya yaitu penjelasan filsafat tentang teori peluang/probabilitas dan statistika. Berbicara tentang peluang maka kita akan berbicara tentang kemungkinan. Secara filsafat, peluang atau probabilitas dapat dipandang sebagai yang mungkin ada. Karena dalam teori peluang selalu ada peluang sukses dan ada peluang gagal. Manusia adalah makhluk yang sempurna namun terbatas kemampuannya. Manusia tidak akan mampu mengadakan semua yang mungkin ada. Sedangkan yang ada pun hanya bersifat sempurna jika dia ada di dalam pikiran, diandaikan, atau kalau sudah sampai di akhirat.

    ReplyDelete
  7. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya konsep menemukan sendiri itu penting bagi siswa, karena siswa mengalami proses belajar dan mendapat pengalaman belajar. Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika siswa menemukan sendiri konsep yang akan mereka pelajari melalui pengalaman belajar. Konsep menemukan sendiri juga diartikan dengan membangun sebuah konsep baru dan memperhatikan konsep lama yang pernah dipelajarinya.

    ReplyDelete
  8. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat teramat dekat dengan kehidupan kita. Filsafat pun berkaitan terhadap seluruh aspek dalam kehidupan. Begitu juga terhadap kegiatan belajar mengajar matematika. Banyak materi yang dapat dibangun dan didekati oleh filsafat. Namun, tidak pada tempatnya bila filsafat disampaikan secara gamblang pada siswa. Mengkonstruksi pengetahuan melalui filsafat perlu disesuaikan oleh keadaan siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  9. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    pada elegi ini saya tertarik pada topi 6. yaitu

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar?

    Petunjuk Dosen:
    Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu

    Menurut saya benar adanya bahwa kesulitan belajar dimaknai oleh berbagai kendala dalam usaha menembus ruang dan waktu. Orang yang mampu mengatasi kesulitan belajar maka ia bisa dikatakan mampu menembus ruang dan waktu. Dimana orang itu mau melakukan usaha untuk memperoleh pengetahuan agar tidak terjebak pada kesulitan belajar yang membuat terperangkap dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  10. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Menanggapi pertanyyan filsafat yakni “Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya berbagai macam Pola atau keteraturan dalam matematika?” berdasarkan petunjuk beliau yang diberikan bahwa “Secara filsafat, Pola dapat diartikan sebagai Aturan/Ketentuan/atau Hukum, dan oleh karenanya Pola dapat digunakan sebagai Awal dari kegiatan berpikir. Suatu kegiatan Berpikir dimana mempunyai "awal" atau "starting point" disebutlah sebagai Aliran Foundationalisme.” Disinilah letak keteraturan dalam matematika dimana matematika dimulai dari sebuah kesepakatan yang kemudian disebut menjadi definisi disinilah bermula kemudian melahirkan teorema-teorema dimana antara satu dengan yang lainnya saling terkait tanpa adanya kotradiksi. Pola merupakan penggambaran simbol dama matematika itu sendiri dimana sering digunakan dalam perumusan matematika sehingga matematika akan mudah diingat dan diaplikasikan

    ReplyDelete
  11. Hal yang ada dan mungkin ada dapat ditemukan filosofinya. Demikian dengan pengetahuan dapat dijelaskan dalam filsafat. Karena filsafat adalah mencari kejelasan dari sesuatu. Dalam filsafat metode dalam memahami suatu konsep yaitu menggunakan metode hermenitika yaitu terjemah dan diterjemahkan struktur-struktur ide/gagasan.
    Di dalam proses memahami konsep tersebut perlu adanya interaksi antar guru dengan siswa. Interaksi berarti ada dua pihak yang aktif melakukan timbal balik. Apa yang dilakukan guru harus ditanggapi oleh siswa. Jika siswa tidak menanggapi maka guru menjadi dominan. Guru juga berperan untuk memunculkan tanggapan dari siswa dengan memberikan pertanyaan atau masalah yang dapat menggerakan siswa. Para siswa membutuhkan scaffolding yang bisa diperoleh dari guru ataupun dari temannya. Untuk tingkat dasar, siswa belajar memerlukan objek konkrit supaya pembelajaran bermakna dan dapat mengembangkan intuisinya.

    ReplyDelete
  12. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Segala aspek yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar matematika atau bahkan hingga materi yang diajarkan dapat dijelaskan filsafatnya. Seperti petunjuk-petunjuk pak Prof diatas, kita dapat memaknai beberapa macam poin yang ditawarkan dengan pendekatan filsafat, sehingga tercapai tujuan sebenarnya tentang apa yang kita jalani

    ReplyDelete
  13. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pembelajaran itu bukan bagaimana guru mentransfer pengetahuannya, namun bagaimana guru memfasilitasi siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri. memancing siswa untuk menggunakan intuisi nya dalam menyelesaikan permasalahan matematika itu penting.

    ReplyDelete
  14. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berfilsafat itu berfikir, filsafat itu luas tak terbatas oleh ruang dan waktu. Begitupun dalam mendefinisikan belajar mengajar matematika. Dalam elegi ini memberikan pengetahuan bahwa sebagai guru bukanlah untuk mentransfer ilmu, tetapi bagiamana guru slalu belajar metode-metode pembelajaran yang dapat menfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya serta aktif dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Yang artinya bahwa dalam proses belajar mengajar haruslah ada saling terikatan antar komponen pendidikan, saling silaturahmi antar komponen pendidikan.

    ReplyDelete
  15. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Matematika memang membutuhkan sesuatu yang dapat melatih intuisi siswa. Untuk hal-hal yang bersifat konkrit akan lebih baik jika menggunakan media yang dapat dieksplor secara langsung oleh siswa. Untuk beberapa materi yang tidak dapat dieksplor secara langusng dapat menggunakan pemodelan yang sesuai dan mudah dipahami siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  16. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Memahami tentang tulisan diatas, saya berusaha memahami kesulitas belajar siswa. Siswa yang mengalami kesulitan belajar dalam usahanya menembus ruang dan waktu dalam artian seseorang didimensi ruang dan waktu yang berbeda telah menguasai suatu materi, berbeda dengan dirinya saat ini yang masih kesulitan dalam memahami dan memaknai sesuatu. Kesulitan yang dimaksud adalah kesulitannay menembus ruang dan waktu untuk menuju dirinya yang telah memahami didimensi ruang dan waktu yang berbeda tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  17. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Begitu menyeluruhnya filsafat, sehingga bisa menjelaskan matematika dengan rapi. Menggaris bawahi pertanyaan nomor 8, Aliran constructivism percaya bahwa pengetahuan itu dapat dibangun oleh setiap individu yang belajar. Rasanya tepat memang, mengingat yang mengenali diri sendiri ada dirinya sendiri. Sehingga paham betul apa maunya, bagaimana bagusnya, bagaimana kelanjutannya dan lainnya. Proses membangun pengetahuan tidak akan terjadi jika tidak memiliki pengetahuan dasar. Karena membangun pengetahuan pada hakikatnya tetap mengembangakan pengetahuan yang telah dimiliki dengan memperhatikan hal baru yang diperoleh dari luar dirinya untuk selanjutnya membentuk pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  18. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Seperti yang kita ketahui bahwa filsafat merupakan dasar berbagai ilmu lain. Demikian halnya dalam pembelajaran matematika, peran filsafat tidak dapat dipisahkan terutama dalam mengkaitkan berbagai macam permasalahan matematika sehingga menjadi suatu rangkaian yang saling. Begitu juga yang kita ketahui bahwa matematika dipandang sebagai ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir, dengan tujuan akhir bahwa filsafat dan proses pembelajaran matematika yaitu sama-sama mencari kebenaran. Dalam menemukan jawaban kebenaran, pembelajaran matematika tidak terlepas dari metode ilmiah (deduktif dan Induktif), hal ini sejalan dengan peran filsafat yang mengedepankan suatu rangkaian yang saling berkaitan untuk mencari jawaban. Kebenaran itu adalah sebuah pengetahuan baru yang akan diterapkan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  19. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    filsafat dapat dihubungkan ke berbagai unsur dan aspek di dunia ini, dariyang ada dan yang mungkin ada. begitu juga matematika dan meteri-materi yang ada di dalam nya. postingan ini menjelaskan beberapa materi matematika dari segi filsafat, dan menurut saya ini dapat menguntungkan bagi para pembaca, khususnya guru. karena dengan mengetahui filsafat atau inti dari materi tersebut maka akan mengarahkan kita untuk mengadakan pembelajaran (materi tersebut) dengan baik dan benar, sesuai dengan hakikatnya.

    ReplyDelete
  20. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Terkait pertanyaan nomer dua yaitu mengenai nilai Phi, saya teringat kuliah umum yang pernah saya ikuti yang diampu oleh salah satu dosen dari Jepang (mohon maaf karena saya lupa namanya). Disana beliau memutarkan sebuah video bagaimana guru mengajarkan nilai phi, tidak dengan menjelaskan didepan kelas namun dengan invetigasi dan percobaan. Dengan mengukur berbagai benda dengan permukaan lingkaran yang diukur keliling dan diameternya. Benda-benda ynag digunakan pun sangat kontektual karena mereka bawa sendiri dari rumah. Hingga pada akhirnya mereka menemukan nilai perbandingan keliling lingkaran dengan diameter ynag hasilnya sama yaitu PHI.

    ReplyDelete
  21. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan di atas memang diperuntukkan untuk dijawab oleh pembaca blog ini. Saya akan mencoba menjawab atau menjelaskan tentang fenomena-fenomena di atas menurut pendapat saya. Dengan menjawab atau menjelaskan fenomena-fenomena di atas, secara tidak langsung saya telah belajar untuk memahami fenomena dan memecahkan fenomena, sehingga penting bagi saya untuk mencoba menjelaskan fenomena-fenomena di atas.

    ReplyDelete
  22. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang nilai Phi yang merupakan perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya?
    Petunjuk yang diberikan Dosen adalah bahwa Phi adalah perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya, dapat dipandang sebagai definisi yang merupakan kesepakatan awal atau dibuat sebagai pengertian awal. Sedangkan penemuannya Phi diterangkan dalam sejarahnya; dan pembuktiannya dapat digunakan benda konkrit. Pembuktian menggunakan benda konkrit inilah yang seharusnya dilakukan pada siswa yang relatif muda yaitu SMP. Siswa menghubungkan dari yang ada yaitu benda konkrit lingkaran dengan yang mungkin ada yaitu hipotesis yang mereka miliki untuk menemukan pembuktian dari nilai Phi sehingga mereka lebih memahami nilai Phi itu sendiri di kemudian hari untuk masalah matematika yang lebih kompleks.

    ReplyDelete
  23. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang rumus Luas permukaan Bola?
    Petunjuk yang diberikan Dosen adalah secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah. Rumus luas permukaan bola berarti bentuk lain yang menggambarkan permukaan bola. Untuk siswa yang relatif muda, tidak relevan jika memberikan langsung rumus luas permukaan bola, karena rumus dapat diartikan wadah, maka rumus adalah wadah untuk siswa menemukan dirinya, yaitu siswa melakukan aktivitas yang dapat membuktikan rumus luas permukaan bola yaitu dengan bola plastik yang kemudian dipotong-potong kulitnya dan disusun kemudian dihitung menurut pengetahuan yang telah dimiliki siswa, setelah itu siswa membuat hipotesis mengenai rumus luas permukaan bola.

    ReplyDelete
  24. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya konsep berbagai macam bilangan, hubungan antar bilangan, dan operasi bilangan? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Deret dan Barisan Bilangan?
    Petunjuk dari Dosen adalah bahwa secara filsafat, konsep bilangan hanya dapat dipahami dalam intuisi ruang dan waktu. Maka deret dan barisan bilangan juga dapat dipahami dalam intuisi ruang dan waktu. Untuk siswa yang relatif muda, agar deret dan barisan bilangan mudah dipahami, maka dibutuhkan benda konkrit untuk menjelaskannya. Tidak langsung pada contoh barisan bilangan, tetapi dimulai dari konteks yang ada di sekitar atau konteks budaya, seperti atap candi yang membentuk barisan bilangan.

    ReplyDelete
  25. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesamaan, persamaan, ketidaksamaan, dan pertidaksamaan?
    Petunjuk dari Dosen adalah bahwa dalam filsafat, konsep kesamaan setara dengan sifat identitas, yaitu tercapainya keadaan A = A; sedangkan konsep ketidaksamaan setara dengan sifat kontradiksi yaitu predikat yang tidak akan mampu menyamai subjeknya. Sedangkan persamaan adalah kesamaan suatu objek tetapi dengan objek yang berbeda (bukan dengan dirinya sendiri) yang jika kemudian persamaan tersebut diselesaikan akan tercapai dari nilai objek yang diinginkan dan pertidaksamaan adalah kontradiksi dari persamaan.

    ReplyDelete
  26. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?
    Petunjuk dari Dosen adalah segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu, seperti halnya juga pada bilangan. Maka untuk mempelajari berbagai macam bangun-bangun geometri perlu menggunakan benda-benda nyata dalam kehidupan sehari-hari atau biasa disebut konteks. Terlebih untuk siswa yang relatif muda, sangat diharuskan untuk menggunakan benda nyata untuk mempelajari konsep bangun geometri di sekolah agar siswa tidak terbebani dan bisa mengembangkan pengetahuannya di kemudian hari.

    ReplyDelete
  27. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Peran guru sebagai fasilitator dan motivator di dalam proses pembelajaran matematika sangat dibutuhkan. Dengan adanya guru sebagai faslitator mampu membantu siswa dalam mempelajari materi matematika. Sementara peran guru sebagai motivator sangat bermanfaat dalam mendorong timbulnya semangat siswa untuk mempelajari materi matematika. Oleh karena itu peran guru sebagai fasilitator dan motivator harus dapat dioptimalkan dan diterapkan dengan baik sehingga proses pembelajaran dikelas dapat berjalan dengan lancar dan juga bermakna bagi siswa. Peran guru sebagai fasiltator dan motivator dapat ditingkatkan dengan mempelajari materi berdasarkan filsafat. Dengan mempelajari matematika dilihat dari sudut pandang filsafat dapat menambah tingkat kepekaan guru terhadap apa yang dibutuhkan siswanya, sehingga kebutuhan siswa dapat tercukupi dengan baik.

    ReplyDelete
  28. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. jika siswa belajar sebenarnya siswa secara tidak langsung juga berfilsafat. Siswa memikirkan hakekat dari ilmu yang dipelajarinya. Siswa sebenarnya memikirkan sisi ontologis, epitimologis, dan aksiologis dari ilmu yang dipelajari. Yang diperlukan guru ialah membantu siswa belajar dengan memfasilitasi segala kebutuhan belajar siswa.

    ReplyDelete
  29. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dengan filsafat kita dapat melihat proses pembelajaran dan konsep matematika dari sudut pandang yang lain. Filsafat menjelasksn semua komponen matematika yaitu definisi, postulat, teorema, kesulitan belajar, penggunaan matematika dan lain lain-lain sehingga memberikan referensi yang berbeda untuk memperkaya pengetahuan kita dalam melakukan proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  30. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014


    Setelah membaca artikel di atas, dapat dipahami bahwa filsafat mampu memberikan berbagai definisi dan penjelasan mengenai fenomena belajar mengajar matematika. Hal ini sangat membantu dalam memberikan pembelajaran yang inovatif khususnya bagaimana kita akan menyampaikan suatu konsep. Selain masalah konsep, dengan adanya bacaan ini juga menambah wawasan mengenai bagaimana kita memandang kesulitan belajar melalui kacamata filsafat sehingga diharapkan semakin mempermudah kita dalam mencari solusi dari kesulitan belajar.

    ReplyDelete
  31. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran yang constructivisme yaitu membentuk pengetahuan siswa sendiri, jadi guru sebagai fasilitataor. dalam pembelajaran di kelas, tidak dianjurkan guru yang aktif memberikan penjelasan namun diharuskan guru memfasiitasi siswa untuk mengexplore pengetahuannya sendiri namun tetap sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

    ReplyDelete
  32. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Sebenar-benar ilmu itu ialah dirimu sendiri yang berdasarkan pengalaman dan pikiranmu. Dapat menembus ruang dan waktu berarti sukses dalam menangani kesulitan belajar, dan dimensi dalam hidup kita menjadi lebih baik dari pada sebelumnya. Suatu ilmu yang telah dipelajari tidak terasa apa manfaatnya jika kita tidak mengkaitankannya dengan kehidupan. Ilmu itu digunakan untuk membantu manusia menyelesaikan permasalahannya.

    ReplyDelete
  33. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, kita mengetahui bahwa secara filsafat pembelajaran matematika mampu memberikan definisi dan penjelasan mengenai fenomena pada pembelajaran matematika. Penyampain suatu konsep matematika dapat diberikan kepada siswa secara lebih inovatif dan mudah dipahami.

    ReplyDelete

  34. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat memberikan sentuhan berbeda dalam cara pandang pembelajaran matematika. Prof. Marsigit secara filsafat "belajar" adalah segala usaha untuk "mengadakan" dari beberapa sifat "yang mungkin ada". Guru bisa mendapatkan banyak referensi pembelajaran inovatif dari cara pandang filsafat terhadap matematika.

    ReplyDelete

  35. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dengan filsafat, guru bisa lebih membuka kepekaan dirinya terhadap perkembangan siswanya. Cara berpikir yang tidak hanya linier akan membukakan pintu inovasi pembelajaran matematika. Peran guru sendiri adalah sebagai fasilitator siswa untuk mengembangkan pola pikir mereka dalam menyelesaikan masalah matematika.

    ReplyDelete

  36. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    “Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?
    Petunjuk Dosen: Segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu.” Filsafat memberikan pandangan bahwa pembelajaran yang baik itu mempertimbangkan intuisi ruang dan waktu. Jadi pembelajaran bangun geometri dapat dibantu dengan adanya keadaan nyata pada ruang saat waktu pembelajaran matematika.

    ReplyDelete

  37. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, salah satu hal menarik menurut saya dalam pembelajaran matematika jika dipandang secara filsafat yaitu Peluang atau Probabilitas bisa dipandang sebagai "yang mungkin ada". Untuk mewujudkannya dilakukan dengan metode Hermenitika.

    ReplyDelete
  38. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Geometri adalah ilmu yang membahas tentang hubungan antara titik, garis, sudut, bidang, dan bangun ruang. Geometri memungkinkan kita untuk memahami ruang dalam sebuah kehidupan nyata yang membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang lebih baik. Sementara itu bangun adalah semua informasi geometri yang tersisa pada saat lokasi, skala, dan efek putar yang disaring dari suatu objek. Jenis bangun geometri ada dua yaitu, bangun datar dan juga bangun ruang. Dalam ilmu filsafat bangun geometri dapat dipelajari siswa dengan mengandalkan intuisi.

    ReplyDelete
  39. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pola diartikan sebagai bentuk atau model (atau lebih abstrak yaitu suatu set peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat atau untuk menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu, khususnya jika sesuatu yang ditimbulkan cukup mempunyai suatu yang sejenis untuk pola dasar yang dapat ditunjukkan atau terlihat. Pola dapat dijadikan sebagai awal dari kegiatan berfikir yang disebut aliran foundationalisme. Foundationalisme adalah teori pembenaran yang menyatakan bahwa suatu klaim kebenaran pengetahuan untuk dapat dipertanggungjawabkan secara rasional perlu didasarkan atas suatu fondasi atau basis yang kokoh, yang jelas dengan sendirinya, tak dapat diragukan lagi kebenarannya, dan tak memerlukan koreksi lebih lanjut

    ReplyDelete
  40. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Beberapa poin yang saya dapatkan dari artikel ini adalah cara terbaik untuk mengajarkan adalah bukan guru menjelaskan namun siswa mempelajari. Dengan siswa mempelajari berarti siswa membangun sendiri pengathuan mereka. Sehingga pengetahuan itu lebih melekat dalam benak siswa. hal semacam ini disebut pendekatan Constructivisme. Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar. siswa harus berusaha untuk menyelesaikan masalah mereka. Ikhtiar disini diartikan sebagai usaha.

    ReplyDelete
  41. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    [Saya kurang sreg dengan istilah "guru menjelaskan", tetapi lebih cocok dengan istilah "siswa memelajari"]. Saya sependapat dengan pernyataan tersebut. Hakikat belajar adalah menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan bukan semata-mata diperoleh dari guru secara langsung, tetapi melalui siswa mempelajari dan mengalami sendiri proses menemukan pengetahuannya.

    ReplyDelete
  42. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Kesulitan belajar siswa dalam menemukan solusi permasalahan matematika adalah tahapan untuk menembus kemampuan ruang dan waktu yang sebelumnya belum di dapatkan siswa. Hal seperti ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa dan di sinilah peran guru dalam membantu siswa menemukan dirinya sendiri dengan motivasi, kolaborasi dan mempfasilitasi pembelajaran. Mengantarkan siswa pada taraf berfikir 'filsafat' pada batasnya mengokohkan pendapat yang akan ia temukan dan menjadikan pembelajaran sebagai construktivisme.

    ReplyDelete
  43. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Melalui postingan ini saya menyadari bahwa belajar mengajar matematika dapat dijelaskan melalui filsafat. Cara pandang filsafat mampu menjelaskan berbagai konsep dalam matematika bahkan sampai penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai seorang calon guru postingan ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai belajar mengajar matematika yang nantinya dapat diterapkan saat mengajar matematika di sekolah.

    ReplyDelete
  44. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Filsafat yang dikaitkan dengan matematika akan membentuk filsafat matematika. Dengan filsafat, kita dapat menerjemahkan objek matematika yang bersifat abstrak, yaitu hanya ada didalam pikiran. Untuk pembelajaran matematika siswa SD sebaiknya menggunakan media/alat/benda kongkrit sehingga siswa lebih tertarik dalam mempelajari matematika. Jangan dipaksa untuk memahami matematika formal seperti orang dewasa.

    ReplyDelete
  45. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak Marsigit.
    Setelah saya membaca artikel Bapak, saya menjadi sadar bahwa belajar mengajar matematika melalui filsafat akan sangat berguna untuk mencapai tujuan dari belajar mengajar tersebut. Melalui filsafat, guru dapat mengetahui tentang apa saja yang dibutuhkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

    ReplyDelete
  46. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Saya akan mencoba menjawab petanyaan no.5 yaitu bagaimana penjelasan filsafat tentang rumus luas permukaan bola. Seperti petunjuk yang telah diberikan oleh dosen bahwa secara filsafat, sebuah rumus matematika dapat dianggap sebagai forma atau bentuk atau wadah. Maka penjelasan filsafat tentang rumus luas permukaan bola maka bola dapat diubah bentunya ke dalam bentuk yang lebih mudah dijangkau atau dipahami. Hal ini tentu saja tidak akan mempengaruhi luas permukaannya karena di sini luas permukaan sebagai isi sedangkan merubah bentuknya berarti merubah wadahnya saja tetapi isinya sama. Luas permukaan bola yang tadinya berwujud menyerupai bola diubah menjadi bentuk bangun datar menyerupai lingkaran. Maka akan didapat luas permukaan bola itu empat kali luas lingkaran yang berdiameter sama dengan bentuk bola sebelumnya. Disini kita dapat menyimpulkan bahwa hal yang terlihat sulit dipahami bisa jadi mudah apabila kita merubah wadahnya tanpa merubah isi. Memahami isi tidak monoton dari satu wujud atau satu wadahnya saja. Tetapi cobalah memahaminya melalui wadahnya yang lain.
    Selanjutnya saya akan mencoba menjawab pertanyaan no.13 yaitu bagaiman penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri? Sesuai dengan petunjuk dosen bahwa segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam intuisi ruang dan waktu. Maka secara filsafat sesungguhnya bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri itu tidak ada di dunia nyata. Semua itu hanya ada di dalam pikiran kita. kalaupun ada yang mengaku-ngaku atau menunjuk suatu benda atau gambar sebagai bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri maka itu adalah salah. Contohnya adalah lingkaran, tidak ada di dunia ini yang merupakan lingkaran. Gambar yang dibuat manusia itu bukanlah lingkaran yang sesungghnya. Karena tidak bulat sempurna, masih memiliki ketebalan walau tipis sekali, dan banyak kecacatan yang lainnya. Lingkaran sesungguhnya hanya ada di dalam pikiran manusia. Yang kita lihat dan buat selama ini hanyalah model lingkaran dan pengandaian bahwa model lingkaran itu adalah lingkaran sempurna. Begitu pun dengan bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun geometri yang lainnya.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  47. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Dari tulisan di atas, saya mendapatkan pengetahuan baru bagaimana filsafat menjelaskan beberapa objek matematika. Menurut saya, dari beberapa point pertanyaan di atas beserta jawabannya, saya meyakini bahwa beberapa objek matematika adalah hal yang abstrak dan hanya ada di dalam fikiran. Contohnya seperti pada pertanyaan nomor 4, penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif. Secara filsafat konsep bilangan berpangkat hegatif termasuk ke dalam pengertian formal, hanya ada di dalam pikiran dan tidak ditemukan di luar pikiran (anak-anak). Itulah sebabnya akan sulit bagai anak kecil untuk mempelajarinya. Menurut saya atas dasar inilah materi-materi matematika dibuat berjenjang di sekolah-sekolah. Materi matematika yang objeknya konkret diajarkan di tingkat sekolah dasar, kemudian materi matematika yang objeknya mulai terdapat hal-hal abstrak diajarkan di tingkat SMP, sedangkan yang benar-benar abstrak dan membutuhkan pemikiran tingkat tinggi diajarkan di jenjang SMA.

    ReplyDelete
  48. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017
    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit.
    Setelah membaca materi diatas, saya akan mencoba untuk menanggapi terkait fenomena "2. Bagaimana penjelasan filsafat tentang nilai Phi yang merupakan perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya?". Pernah dulu ada seorang siswa yang bertanya kenapa pendekatan phi itu 22/7? Maka saya pun menjawab (mungkin secara apriori) ambillah sebuah benda lingkaran carilah atau potonglah lidi sehingga panjangnya merupakan diameter lingkaran tsb. Lalu ukurlah keliling lingkaran tersebut dengan benang. Lalu bandingkanlah benang dengan lidi tersebut, seharusnya perbandinganya adalah panjang benang sama dengan 3 kali panjang lidi ditambah "sedikit", nah panjang lidi seharusnya 7 kali panjang "sedikit" tersebut.

    ReplyDelete
  49. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Setelah saya membaca tulisan ini, saya semakin mengagumi keindahan ilmu matematika dan proses belajar mengajar, karena melalui filsafat bisa mengungkapkan segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Seperti yang Pak Prof. sampaikan bahwa tujuan dari telaah filsafat adalah untuk meningkatkan sensitivitas guru agar lebih santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada dalam proses belajar mengajar matematika.
    Dalam fenomena belajar mengajar matematika ini, saya tertarik dengan point 18, yaitu yang menjabarkan penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dari point ini, yang saya garisbawahi adalah bahwa porsi penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari bagi anak-anak dan orang dewasa berbeda. Bagi anak-anak, matematika hanya berperan sebagai aspek “menerapkan” pemahaman. Maksudnya disini adalah anak-anak hanya menerapkan pemahaman matematika yang mereka dapatkan untuk diaplikasikan dalam kehidupan, seperti menghitung kembalian uang setelah belanja. Sedangkan bagi orang dewasa, yang dalam hal ini adalah matematikawan dan praktisi matematika, matematika berperan sebagai aspek “menggunakan” pemahaman. Maksudnya disini adalah orang dewasa menggunakan ilmu matematika sehingga bermanfaat bagi ilmu lainnya.

    ReplyDelete
  50. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya Pak. Saya sangat setuju bahwa bagi siswa SD atau SMP awal Matematika masih sangat abstrak. Mereka mengetahui sebatas apa yang mereka pelajari dan belum dapat melakukan pembuktian teorema. Kita tidak bisa terlalu tegas dalam penggunaan istilah atau definisi Matematika pada mereka. Misalnya saja, siswa SD akan bingung jika diberikan definisi ‘Lingkaran adalah kumpulan titik yang berjarak sama dari satu titik yang dinamakan titik pusat’. Tetapi jika menggambarkannya di papan atau menunjukkan objek nyata yang berbentuk lingkaran mereka pasti mengerti. Contoh lain adalah materi pecahan. Banyak siswa yang bingung jika mereka mempelajari pecahan lewat angka-angka yang disusun vertikal dan dibatasi garis datar. Mereka akan mengerti jika kita menggunakan gambar roti atau pizza kesukaan mereka.

    ReplyDelete
  51. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.MatA 2017

    Bismillah. Saya akan mencoba untuk menanggapi pertanyaan nomor 7 yang berbunyi "Bagaimana penjelasan filsafat tentang kegiatan pemecahan masalah?". Pemecahan masalah dalam pelajaran matematika merupaka kegiatan yang memerlukan kemampuan siswa untuk berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, kegiatan pemecahan masalah ini memerlukan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan sifat pantang menyerah dari siswa. Jika tidak ikhtiar dengan sungguh-sunggguh dan mudah menyerah, maka soal yang berupa pemecahan masalah tidak dapat terselesaikan. Selain itu saya juga ingin menanggapi pertanyaan nomor 13 yang berbunyi "Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?". Menurut saya, geometri dalam pelajaran matematika bersifat terbatas. Seperti balok kita hanya melihat titik sudut, rusuk, sisi. Sedangkan dalam kehidupan nyata, dalam balok kita mempertimbangkan juga warna balok, kepadatan balok, bahan balok, dll. Begitulah tanggapan saya terhadap 2 pertanyaan dari postingan Bapak, lebih dan kurang saya mohon maaf.

    ReplyDelete
  52. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berikut penjelasan filsafat tentang adanya berbagai macam Pola atau keteraturan dalam matematika.Dalam setiap pola dalam matematika terdapat adanya keteraturan dalam susunannya, sehingga kita bisa mencari bilangan dengan urutan ke berapa dengan memperhatikan keteraturan tersebut. Untuk mencari bagaimana pola suatu urutan bilangan, maka yang kita butuhkan adalah bilangan yang paling awal. Begitu pula dalam berpikir. Untuk mengetahui tujuan kita dalam berfikir, maka yang kita butuhkan adalah titik awal. Titik awal ini adalah niat kita untuk memulai berpikir dan memikirkan apa-apa yang dapat diikirkan.
    Pada matematika sekolah usahakan untuk menganalkan matematika secara konkret melalui kegitan-kegiatan yang dapat dijadikan pengalaman bagi siswa. Hal ini dapat membantu siswa memikirkan matematika melalui pengalamannya. Pembelajaran melalui contoh dan non contoh dapat dijadikan alternatif pembelajaran matematika. Seperti yang kita ketahuii bahwa secara formal matematika adalh ilmu deduktif. Tantangan bagi guru di sekolah untuk menggunakan pendekatan secara induktif dalam mempelajari matematika yang bersifat deduktif.

    ReplyDelete
  53. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Ass. Bismillahirrahmanirrahim.
    Terimakasih pak postingannya, saya akan mencoba menanggapi poin ke 18 mengenai penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari, saya setuju sama bapak, bahwa matematika dalam kehidupan sehari hari memang tanpa disengaja telah digunakan oleh setiap kalangan, yang dewasa maupun anak-anak. Namun untuk menggunakan matematikanya sendiri dalam kehidupan sehari-hari hanyalah tugas orang dewasa. Anak kecil biasanya hanya tanpa disadari menggunakan matematika, namun tanpa mereka tahu bahwa mereka telah menerapkan konsep matematika dikehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  54. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Dalam menanggapi pertanyaan nomor 18 mengenai penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari, Prof memberikan petunjuk bahwa terdapat perbedaan antara menerapkan matematika dan penerapan matematika. Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa. Sementara untuk menerapkan matematika bisa menjadi ranah anak-anak. Maka kita sebagai guru hendaknya tidak membebani anak-anak untuk sampai ke tahap matematika terapan. Guru hanya perlu membekali siswa agar siswa dapat berpikir matematis dan memiliki kemampuan pemecahan masalah.

    ReplyDelete
  55. Junianto
    PM C
    17709251065
    Filsafat bisa menjadi satu media untuk menjelaskan konsep matematika kepada siswa. Konsep-konsep matematika dapat dianalogikan dengan kehidupan melalui filsafat. Dan benar, ada beberapa konsep yang tidak bisa dianalogikan. Hal ini menyebabkan ada beberpa siswa khususnya yang masih kecil, sulit untuk memahaminya. Namun, dengan filsafat dapat dibantu dan adannya saling menterjemahkan juga merupakan solusinya.

    ReplyDelete
  56. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Ada beberapa hal menarik dari postingan ini. Postingan ini memuat pertanyaan-pertanyaan dan tanggapan mengenai filsafat dalam fenomena belajar mengajar. Hal pertama yang saya komentari adalah pertanyaan nomor 4 mengenai filsafat bilangan berpangkat negatif. Profesor Marsigit menjelaskan bahwa bilangan berpangkat negatif adalah bilangan yang berada di luar pikiran, dalam hal ini di luar pikiran maksudnya adalah anak-anak. Jawaban ini berkaitan dengan jawaban nomor 11 yang menyatakan bahwa “Segala bilangan yang ada di dalam pikiran bersifat tunggal, unik, absolut, ideal. Sedangkan bilangan-bilangan yang berada di luar pikiran bersifat sebaliknya.” Ini berarti sebuah implikasi bahwa bilangan berpangkat negatif memiliki sifat yang berkebalikan dengan sifat tunggal, unik, absolut, dan ideal. Menurut saya, karena konsep kebalikan inilah kita dapat mengajarkan bahwa bilangan berpangkat negatif adalah kebalikan dari suatu bilangan berpangkat positif. Dari sini, siswa diperkenalkan dengan istilah “inverse”.

    ReplyDelete
  57. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Terimakasih pak Prof atas penjelasannya karena dari deskripsi yang bapak uraikan saya baru tau ternyata filsafat juga bisa dikohorenkan dalam pembelajaran matematika terutama dalam penyusunan bahasa penyampaian. Selain itu filsafat juga berpengaruh dalam menjelaskan konsep dan definisi di dalam pembelajaran matematika itu sendiri. Sunguh bahwasanya cakupan filsafat itu sangat luas untuk dimengerti oleh akal pikiran. Namun perlahan tapi pasti saya yakin akan bisa menggunakan unsur-unsur filsafat dalam menjalani hidup sebagai mahluk edukatif dan sosial.

    ReplyDelete
  58. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menanggapi persoalan nomor 18, saya juga berpikir apakah kita sudah boleh membiasakan penggunaan "matematika terapan" dalam mendidik anak-anak. Namun memang ada beberapa dasar yang sudah wajar diketahui oleh anak-anak, seperti menggunakan angka dalam menghitung jumlah mainan, menggunakan berhitung untuk berbelanja di kantin. Namun penggunaan bahasanya mungkin tidak sedalam "matematika terapan", namun ada beberapa matematika sangat sederhana yang dapat digunakan oleh anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  59. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Hal ketiga yang saya komentari adalah nomor 18, berkaitan dengan penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dijelaskan bahwa penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari dibedakan menjadi dua yaitu “matematika terapan” yang merupakan ranahnya orang dewasa dengan matematika formal dan “kemampuan menerapkan matematika” yang lebih fleksibel untuk siswa (anak-anak). Anak-anak juga menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-harinya, namun dengan cara yang berbeda dengan cara orang dewasa. Ketika berpikir secara matematis, anak akan cenderung mengamati terlebih dahulu masalah yang dihadapi, kemudian mengingat apa yang telah dipelajarinya untuk memecahkan masalah semacam itu, baru kemudian menerapkannya. Anak-anak menggunakan matematika untuk kehidupannya, sedangkan orang dewasa menggunakan matematika untuk "menghidupi dirinya" (karena matematika yang diterapkan oleh orang dewasa adalah untuk kepentingan misalnya kuliah atau bekerja)

    ReplyDelete
  60. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Saya akan mencoba menjawab nomor 11 tentang bagaimana filsafat menjelaskan operasi bilangan. Penjelasan ini didasari oleh tulisan Prof. Marsigit menenai hakikat penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.
    a. Penjumlahan
    Dalam mengarahkan pengetahuan siswa mengenai penjumahan menurut filsafat, kita memberikan perumpamaan dalam kehidupan kita jika selalu berbuat baik kepada orang lain. jika kita selalu berbuat baik kepada orang lain maka teman kita akan banyak, saudara kita akan banyak, tempat bersinggah kita akan banyak, penolong kita akan banyak dan lain sebagainya.
    b. Pengurangan
    Dalam mengarahkan pengetahuan siswa mengenai pengurangan menurut filsafat, kita memberikan perumpamaan dalam kehidupan kita jika selalu berbuat tercela kepada orang lain. jika kita selalu berbuat tercela kepada orang lain maka teman kita, saudara kita, tempat bersinggah kita, penolong kita akan berkurang sedikit demi sedikit dan bahkan bisa hingga habis tak tersisa.
    c. Perkalian
    Mengarahkan siswa mengenai konsep perkalian menurut filsafat ini dapat dijelaskan dengan menerapkan budaya mereka maupun bahasa mereka. Misal, dalam bahasa jawa, perkalian bisa disebut sebagai “ping” jadi 2 dikali 3 sama dengan “loro ping telu”. Kita menjelaskan, ketika kita menyuruh “mlumpat ping telu” itu kita menjelaskan bahwa kita melakukan lompatan tiga kali yaitu satu lompatan, ditambah satu lompatan lagi, lalu ditambah satu lompatan lagi sehingga menghasilkan tiga kali lompatan.
    d. Pembagian
    Dalam mengarahkan pengetahuan pikir anak pada proses pembagian, kita harus menjelaskan sesuai dengan logika anak. Hal ini dapat kita fasilitasi dengan alat peraga seperti permainan dakocan. Permainan ini memberikan pemahaman yang lebih jika kita disuruh membagi sesuatu secara rata.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  61. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaualikum wr wb.Setelah membaca beberapa pertanyaan yang disertakan dengan jawabannya, ternyata filsafat mempunyai peran penting dalam.memecahkan masalah yang dimana, bercbicara tentang logika, definisi, postulat,aksioma dan teorema.Filsafat juga mengajarkan bagaimana cara memecahkan masalah yang sulit di dalam matematika, yaitu dengan banyak beriktiar dan do’a.Saya tertarik dengan pembahasan matemtik aksiomatik.Saya pernah membaca sebuah buku.Sistem matemtik aksiomatik berawal dari system logika matematik Euclides.Sistem matematik Euclides merupakan system deduktif, berangkat dari aksioma atau kebenaran deduktif abstraktif.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  62. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Matematika umumnya selalu dipersepsikan sebagai sesuatu yang sulit untuk dipelajari karena objeknya yang abstrak. Namun, dengan sentuhan filsafat, matematika dapat disajikan menjadi sesuatu yang menarik. Dengan menggunakan ilmu filsafat dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan mampu untuk menganalogikan konsep - konsep matematika yang abstrak dengan sesuatu yang kongkrit dan akrab di dunia nyata, sehingga anak akan lebih mudah untuk diajak berimajinasi dan memahami konsep - konsep matematika tersebut. Saya tertarik dengan pertanyaan nomor 13 mengenai penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam bangun geometri. Dijelaskan dalam postingan ini bahwa kesemuanya itu hanya dapat dipahami dalam intuisi ruang dan waktu, yang artinya hal ini tentu akan sangat sulit bagi anak-anak untuk dapat memahaminya. Oleh sebab itu, salah satu cara yang dinilai efektif untuk membantu anak sampai ke level itu adalah dengan memulainya dengan memberikan contoh-contoh konkrit dari macam-macam bangun geometri. Setelah itu, selangkah demi selangkah anak dibimbing untuk dapat sampai pada tahap pemahaman intuitifnya.

    ReplyDelete
  63. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Saya tertarik dengan pertanyaan dan jawaban tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan pemahaman kita terhadap pembelajaran adalah kurang adanya pemahaman dalam menempatkan ilmu. Akhir-akhir ini banyak anak yang pembelajarannya justru menggunakan logika-logika orang dewasa, sehingga tujuan pembelajaran tidak sampai kepada siswa. Pembelajaran yang baik dari anak bukanlah pembelajaran terapan, melainkan pembelajaran bermakna. Sedangkan orang dewasa memiliki domain yang lebih kompleks dan bersifat terapan yang dimana manfaat matematika berdampak bagi ilmu-ilu lain.

    ReplyDelete
  64. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam pertanyaan no 18, tentang filsafat memandang kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun kegunaan matematika lebih dapat digunakan dan dipahami oleh orang dewasa, namun ternyata anak-anak juga dapat menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-harinya, yang tergantung pada konsep ruang dan waktu, walaupun ruang dan waktu yang terbatas. Misalnya mengitung, mengukur dan sebagainya.

    Demikian, terimakasih

    ReplyDelete
  65. Junianto
    17709251065
    PM C

    Fenomena belajar siswa saat ini sangatlah kompleks dan beragam. Hal ini seperti anak dipaksa untuk berpikir seperti layaknya orang dewasa karena materi yang mereka terima hampir di luar batas kemampuan. Dengan adanya fisafat matematika, siswa dapat dibantu dengan mengaitkan materi dengan apa yang mereka alami dalam dunia nyata. Karena filsafat adalah kehidupan dan materi matematika sekolah adalah berkaitan erat dengan kehidupan pula.

    ReplyDelete
  66. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih Prof Marsigit atas ulasannya. Ulasan Prof Marsigit membuktikan bahwa ilmu matematika memberikan makna lebih jika ditelaah dengan menggunakan pendekatan filsafat.
    Salah satu kegelisahan yang sering kali dimunculkan ketika perdebatan mengenai urgensi belajar matematika seperti belajar integral, diferensial, limit juga telah Prof Marsigit jawab di poin ke 18. Bahwa pertanyaan mengenai aplikasi ilmu matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa, sehingga jangan dibebankan pada anak kecil. karena gaya berfikir anak kecil tidaklah cocok dengan pertanyaan yang demikian.

    ReplyDelete
  67. Wisniarti
    177089251037
    PM B Pascasarjana

    Fenomena belajar mengajar yang disampaikan pada postingan ini sering ditemui di setiap kegiatan belajar mengajar. Materi yang bersifat abstrak menjadi pembelajaran yang sulit dimengerti oleh siswa. Sehingga, diperlukan pandangan filsafat untuk memcahkan persoalan pada fenomena belajar mengajar.

    ReplyDelete
  68. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Setelah membaca 20 pertanyaan serta petunjuk yang Bp berikan, saya ingin berkomentar pada pertanyaan Nomor 6 yaitu Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar?, Menurut saya kesulitan belajar merupakan kontradiksi antara usaha memahami sebuah kejadian atau teori dengan pemahaman yang didapatkan oleh siswa, ketika usaha yang diberikan maksimal namun pemahamannya belum maksimal itulah yang kemudian dianggap sebagai kesulitan belajar oleh siswa, namun jika yang terjadi adalah sebaliknya (usaha yang dilakukan sedikit namun pemahaman yang didapatkan banyak) siswa akan menemukan kenikmatan belajar.

    ReplyDelete
  69. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Matemtika itu sifatnya bertingkat, mulai dari matematika sekolah yaitu matematika untuk anak SD dan berupa aktivitas sehingga sangat terkait dengan benda nyata, kemudian ketika naik ke jenjang SMP matematika akan menjadi matematika semi formal yaitu walaupun masih ada yang berupa aktivitas dengan benda konkrit namun telah mempelajari beberapa matematika formal yaitu yang ada dipikiran dan bersifat abstrak. Kemudian saat jenjang SMA porsi matematika formal akan meningkat sehingga pembuktian rumus seperti yang disebutkan pada salah satu poin di artikel ini, akan cocok jika diterapkan di SMA dan bukan di SD.

    ReplyDelete
  70. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsgiti atas penjelasan bapak dalam menjawab pertanyaan matematika dengan ranah filsafat. Beberapa hal yang menarik bagi saya adalah penjelasan filsafat tentang himpunan, pemecahan masalah, dan limit fungsi. Dalam konsep himpunan, dapat dilihat sebagai penggolongan, pengelompokan, atau pembeda. Benar sekali bahwa sebenar-benar ilmu jika didalamnya memuat kategori, yang mana itu memudahkan kita dalam mempelajari dan memhaminya. Dan sebaik-baik manusia, adalah manusia yang mampu membedakan, antara baik dan buruk, antara benar dan salah, antara logis dan khayal, antara haq dan yang bathil. Untuk konsep pemecahan masalah saya juga setuju jika filsafat hanya menjawabnya dengan pandangan bahwa pemecahan masalah itu merupakan ikhtiar. Semua penyelesaian dari permasalahan yang ada dan yang mungkin ada merupakan bentuk vitalitas atau usaha dan ikhtiar kita kepada Allah, karena sejatinya Dia lah sang pemilik kunci permasalahan hidup hanya saja kita harus mampu berusaha terlebih dahulu dengan diiringi doa dan memohon kemudahan dariNya. Yang terakhir adalah tentang limit fungsi. Seringkali saya menemui siswa pusing dan mengeluh tentang penyelesaiansoal limit fungsi. Itulah hikmah dan maknanya, bahwa dalam ketakhinggaan manusia akan menemukan dan sadar akan ketidaksemournaannya. Wallahualam bishowab.
    Wassalamualaiku wr.wb.

    ReplyDelete
  71. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Istilah guru menjelaskan mungkin saat ini kurang relevan dengan tujuan pembelajaran pada kurikulum saat ini, karena dengan pendekatan saintifik (pendekatan yang direkomndasikan untuk penerapan kurikulum 2013), peran guru bukan sebagai pemberi materi jadi, tetapi sebagai fasilitator dan pemberi evaluasi serta penguatan terhadap kegiatan pembelajaran. Oleh sebab itu, bagaimana siswa mempelajari adalah sasaran utamanya.

    ReplyDelete
  72. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep menemukan sendiri? Menemukan sendiri artinya bukan menemukan suatu hal yang benar-benar baru ditemukan. Akan tetapi penemuan tersebut berasal dari apa yang telah diketahui sebelumnya dan mengaitkannya dengan apa fenomena yang terjadi saat ini.

    ReplyDelete
  73. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Pada dasarnya seorang guru berperan untuk membimbing siswa menembus ruang dan waktu. Ketika siswa sudah dapat menembus ruang dan waktu maka siswa dapat memahami materi yang disampaikan. Di dalam menyampaikan materi guru harus menggunakan teori hermenetika yaitu terjemahkan dan menerjemahkan. Guru harus menurunkan tingkat keilmuannya dan setara dengan siswa agar siswa lebih mudah memahami apa yang disampaikan. Seorang guru harus lebih kreatif untuk membentuk konsep di dalam benak siswa sebab konsep merupakan fondasi dalam ilmu. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  74. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah. Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu.Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar. Menemukan sendiri, mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme.Banyak cara yang unik filsafat dalam memandang beberapa hal yang ada di sekitar kita. Sangat menarik untuk dipelajaribahwa semua bersifat divergen. Hal ini untuk menuju keseimbangan dalam hidup

    ReplyDelete
  75. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Belajar filsafat berarti kita diajak berpikir dengan sudut pandang yang berbeda dalam melihat suatu kondisi. Harapannya supaya kita menjadi lebih bijaksana dalam memberi solusi permasalahan itu. Sebagai contoh dalam mengajar anak-anak dan dewasa berbeda, kalau anak-anak masih bisa memahami jika dikaitkan dengan benda konkrit, sedangkan orang dewasa sudah lebih dari itu sampai ke abstrak.

    ReplyDelete
  76. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Saya akan mencoba menanggapi poin pertanyaan nomor 18. Ketika saya berada di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama saya masih dapat menemukan penggunaan matematika yang saya pelajari di kehidupan nyata. Namun ketika menginjak sekolah menengah atas, pelajaran matematika di sekolah mulai mempelajari trigonometri, limit, logaritma, dll yang membuat saya bertanya-tanya apa gunanya belajar semua itu untuk kehidupan saya. Ternyata tingkatan matematika saya masih dalam tingkat anak-anak yang belum mampu menerapkan matematika dalam keseharian.

    ReplyDelete
  77. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Ada berbagai macam cara untuk menjelaskan materi matematika. Cara menjelaskan tersebut tentu saja akan membantu siswa yang beragam dengan pengetahuan yang dimiliki oleh siswanya. Cara menjelaskan matematika yang berbeda juga akan membuat guru tidak monoton dalam mengajar dan akan adanya variasi dalam model, strategi, pedekatanyang digunakan. Hal ini akan berdampak pada atmosfer kelas yang berbeda setiap materi yang dipelajar dan dengan berbagai metode tersebut diharapkan dapat mendekatkan matematika dengan siswa dan lebih termotivasi lagi dalam belajar.

    ReplyDelete
  78. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 P.Mat UNY kelas B 2017

    dalam membelajarkan matematika kepada siswa hendaknya guru memfasilitasi siswa untuk melakukan aktivitas matematika, seperti yang pernah bapak tuliskan di postingan yang saya baca sebelumnya bahwa pembelajaran jangan didominasi oleh guru karena siswalah yang belajar, siswa yang menemukan. menurut saya untuk no 13, guru bisa memberikan LKS kepada siswa yang berisi petunjuk, langkah-langkah dalam mengenali bangun datar.

    ReplyDelete
  79. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya tertarik dengan penjelasan pemecahan masalah secara filsafat. Sedikit petunjuk yang diberikan yaitu dipandang sebagai vitalitas atau ikhtiar. Dalam memecahkan masalah, ada baiknya dilihat seberapa besar tingkat kesulitan atau kemudahan pada masalah itu sendiri. Mengidentifikasi masalah dapat dilakukan sendiri atau dengan bantuan orang lain. Setelah diidentifikasi maka dapat mencari solusi untuk memecahkan masalah. Mencari solusi adalah salah satu bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan manusia. Sebenar-benar hidup sejatinya diliputi dengan masalah. Adanya masalah bertanda bahwa manusia itu hidup. Masalah bukan berarti menjadi penghambat dalam menjalani kehidupan. Bentuk sederhana memecahkan masalah adalah adanya kemauan untuk mengambil keputusan. Mencoba untuk tidak memikirkan masalah secara terus-menerus juga dapat dijadikan sebagai bentuk ikhtiar.

    ReplyDelete
  80. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C
    Pembelajaran matematika pada saat ini menggunakan pendekatan saintifik yang menekankan bahwa siswa dalam kegiatan pembelajaran dianggap sebagai pusatnya, dan siswa mamperoleh materi atau pengetahuan baru dengan cara menemukan kembali melalui eksperimen-eksperimen kecil di kelas. sejalan dengan Clue yang diberikan Prof Marsigit, bahwa dalam penemuannya phi dijelaskan dengan sejarahnya. Phi merupakan perbandingan keliling dan diameternya, sehingga dalam penemuannya kembali, siswa pertama-tama diajari untuk menemukan diameter suatu lingkaran secara presisi, baru kemudian mengukur kelilingnya dan membandingkan dengan diameternya sehingga ditemukan nilai phi dengan perbandingan beberapa kasus serupa dan ukuran yang berbeda. Wallahua'lam

    ReplyDelete
  81. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menukil penjelasan Prof Marsigit mengenai Limit fungsi bahwa "Secara filsafati, Konsep Limit Fungsi berkaitan dengan ketakhinggaan, di mana dalam ketakhinggaan manusia menemukan ketidaksempurnaannya". Hal ini dapat dijadikan pedoman bagi guru untuk mengintegrasikan matematika dengan kehidupan keseharian siswa, baik dengan sosialnya maupun kehidupan keberagamaan siswa. Siswa diajak berpikir bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang sempurna. Walaupun Nabi sekalipun beliau tidaklah sempurna, melainkan hanya mendekati sempurna, konsep mendekati sempurna inilah yang kemudian dikenalkan kepada siswa sebagai konsep limit dengan harapan siswa mengetaui aplikasi dan implikasi pengetahuan yang didapatnya sehingga pembelajaran siswa menjadi lebih bermakna. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  82. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Fenomena belajar matematika melalui yang saya pahami dari bacaan diatas berarti bahwa pembelajaran yang menggunakan konsep yang ada dan yang mungkin ada serta dengan metode hermeneutika yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan. Hal ini ditunjukkan dengan aktifitas siswa yaitu membuktikan atau menemukan dengan benda kongkrit. Dalam hal ini contohnya yaitu untuk menentukan diagonal ruang dan nilai Phi. Kemudian ada pula yang menerapkan konsep penggunaan prinsip dalam filsafat yaitu yang ada pada pikiran, dimana ini yang berkaitan dengan konsep konsep yang mana anak hanya mampu memikirkannaya.

    ReplyDelete
  83. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam bacaan ini pula secara keseluruhan saya menemukan suatu hal lain dimana bahwa filsafat ini sangat berkaitan dengan matematika. Yaitu disebutkan bahwa untuk rumus matematika ini merupakan suatu Formal atau bentuk atau wadah, dikatakan pula kesulitan belajar terdapat kaitannya dengan menembus ruang dan waktu. Kemudian ada pula pemecahan masalah yang dilihat sebagai bentuk ikhtiar. Kemudian mengenai definisi, postulat dan teorema menurut filsafat ini merupakan buah dari apa yang ada dalam pikiran yang haruslah konsisten.

    ReplyDelete
  84. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saya mencoba menanggapi fenomena yang ketujuh tentang bagaimana pemecahan masalah secara filsafat. Manusia dilahirkan dengan dilengkapi dua potensi yaitu potensi fatal dan vital. Potensi fatal yaitu takdir yang dituliskan Tuhan kepada kita. sedangkan potensi vital adalah berupa ikhtiar/usaha maka yang menentukan maju mundurnya kehidupan kita adalah seberapa besar ihktiar kita. Bagaimana usaha kita menggambarkan bagaimana jalan yang kita pilih. Masalah dalam kehidupan adalah hal yang tidak akan pernah habisnya. Bagaimana cara kita menghadapi masalah akan mempengaruhi bagaimana pola pikir dan menentukan jalan kehidupan kita selanjutnya. maka tiadalah jalan terbaik untuk setiap masalah selain memilih untuk menghadapinya yaitu dengan jalan ikhtiar.

    ReplyDelete
  85. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Membaca lagi elegi ini membuat saya semakin menyadari peranan filsafat yang begitu luas. Penjabaran fenomena balajar dalam matematika di atas seakan menegaskan bahwa setiap konsep matematika memiliki pondamen yang kuat maka tiadalah alasan bagi guru kesulitan dalam membelajarkan siswa. Menanggapi pertanyaan no 6. Segala sesuatu dalam kehidupan kita merentang mulai dari sulit hingga tidak sulit. Dan semua itu bersifat relatif. Hal yang lumrah bila kita mengalami kesulitan belajar karena sejatinya kesulitan tergantung usaha kita dalam menghadapinya. Kesulitan belajar yang kita hadapi adalah bentuk kendala kita dalam menembus ruang dan waktu. Maka langkah terbaik dalam menghadapi kendala adalah meningkatkan ihktiar/usaha karena tiadalah kemudahan tanpa usaha. Semakin kuat usaha maka semakin besar kekuatan dalam menembus ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  86. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya berbagai macam Pola atau keteraturan dalam matematika?

    Dalam setiap pola dalam matematika terdapat adanya keteraturan dalam susunannya, sehingga kita bisa mencari bilangan dengan urutan ke berapa dengan memperhatikan keteraturan tersebut. Untuk mencari bagaimana pola suatu urutan bilangan, maka yang kita butuhkan adalah bilangan yang paling awal. Begitu pula dalam berpikir. Untuk mengetahui tujuan kita dalam berfikir, maka yang kita butuhkan adalah titik awal.

    ReplyDelete
  87. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang di anggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Perubahan tingkah laku yang terjadi harus secara sadar. Seseorang di katakana belajar apabila setelah melakukan kegiatan belajar ia menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan. Stimulus adalah apa saja yang di berikan guru kepada siswa, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang di berikan oleh guru.

    ReplyDelete
  88. Insan A N/PPs PmC 2017
    Dari pemaparan Prof di atas, terkait belajar adalah mempelajari sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Dalam matematika, sering siswa kesulitan karena menganngap matematika abstrak, di dalam pikiran, tidak dapat di konkretkan, sebagai contoh pangkat bilangan negative. Bagaimana menjelaskan kepada siswa secara konkret, tentu akan kesulitan. Oleh karena itu siswa harus memiliki pengetahuan awal yang cukup (prior knowledge) sebagai starting poin.

    ReplyDelete
  89. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sebelum mempelajari filsafat bersama Prof, saya selalu menganggap bahwa filsafat hanya berhubungan tentang ajaran-ajaran filsuf dan mengenai keeksistensian. Setelah belajar filsafat bersama Prof., seperti yang sering Prof katakan, objek filsafat itu meliputi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat dapat dihubungkan dan berkaitan dengan berbagai hal, termasuk matematika. Seperti yang dituliskan pada artikel di atas, matematika yang notabenenya abstrak dapat berhubungan dan dapat dijelaskan melalui kacamata filsafat.

    ReplyDelete
  90. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Belajar mengajar merupakan dinamika yang pasti terjadi pada setiap manusia entah secara langsung atau tidak dan dalam system pendidikan formal maupun tidak. Artikel diatas memberikan pengetahuan bagi kami bahwa betapa indah dan asyiknya perpaduan belajar mengajar dengan filsafatnya dan sangat langka sekali refensi yang menjelaskan hal ini (saya baru menemui ini). menanggapi pertanyaan nomor 2 bahwa yang tak kalah penting dalam menjelaskan suatu materi (dalam hal ini nilai phi) adalah menjelaskan pula sejarah serta asal usul serta pembuktianny agar siswa yang belajar mampu mempelajarinya dengan baik. Terima Kasih

    ReplyDelete
  91. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari beberapa pertanyaan di atas, saya mencoba menanggapi ulasan tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Disini dijelaskan bahwa penggunaan matematika sebenarnya merupakan ranah orang dewasa, bukan ranah generasi muda (anak-anak). Sehingga tidak boleh dipaksakan anak-anak untuk berfikir sampai tahap sejauh ini. Bagi anak-anak, mereka belajar berdasarkan apa yang ia alami (pengalaman) mereka, melalui trial and error. Artinya dari kehidupan sehari-hari baru menuju pengenalan terhadap pola sampai symbol serta matematika formal. Berbeda dengan orang dewasa, mereka sudah menyentuh ranah matematika formal, artinya dalam menggunakan matematika mereka lebih mahir serta menerapkan matematika sehingga bermanfaat bagi ilmu-ilmu lainnya.

    ReplyDelete
  92. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan “Bagaimana penjelasan filsafat tentang rumus Luas permukaan Bola?” Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah. Rumus tersebut dapat juga dikatakan sebagai formula. Sebagai wadah, artinya ada sesuatu yang menjadi isi. Jika rumus dari luas permukaan bola adalah sebagai wadah, maka “isinya” adalah phi dan jari-jari bola tersebut. Melalui persamaan volume bola dengan jumlah n volume limas (dengan r sebagai tinggi limas, dan luas alas n limas sebagai luas permukaan bola).

    ReplyDelete
  93. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Dengan membaca elegi di atas, seperti sedang berada dalam suatu ruang diskusi dengan interaksi aktif di dalamnya. Dari awal sampai akhir artikel berhasil membawa saya akan kekaguman dengan filsafat. Bagaimana filsafat mampu merasuk dalam semua aspek kehidupan. Salah satu yang menarik ialah definisi filsafat tentang kesulitan, bahwa kesulitan dalam kacamata filsafat dimaknai sebagai kendala seseorang dalam usahanya menembus ruang dan waktu. Ruang dan waktu, selama belajar filsafat dalam mata kuliah Filsafat Ilmu, saya merasa sudah semakin akrab dengan kategori ruang dan waktu. Akan tetapi, hal itu bukan berarti saya dengan gamblang mampu mendefinisikan ruang dan waktu tersebut serta bagaimana cara menembusnya. Apakah saya sedang dalam kesulitan? Itu artinya saya sedang berhadapan dengan kendala dalam menembus ruang dan waktu tentang makna ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  94. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam artikel ini saya teratrik dengan kalimat “saya kurang sreg dengan istilah “guru menjelaskan” tetapi lebih cocok dengan istilah “siswa memelajari”. Kalimat ini mengungkapkan bahwa ketika menggunakan kalimat “guru menjelaskan” maka hal ini kan merujuk kepada pembelajaran teacher-centered, sedangkan menggunakan istilah “siswa memelajari” maka akan merujuk kepada pembelajaran student-centered yang mana akan membuat siswa lebih aktif unutk menggali ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  95. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Filsafat dapat menjangkau ke dalam berbagai ranah kehidupan termasuk dalam pembelajaran matematika. Melalui filsafat guru dapat mengetahui bagaimana memberikan matematika dengan semudah-mudahnya, menjadikan anak mampu membangun bangunan pengetahuannya sendiri, menjadikan matematika sebagai kegiatan/aktivitas intuitif, kegiatan yang sesuai dengan ranah anak-anak bukan sebagai matematikanya orang dewasa. Sekian dan terima kasih
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  96. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  97. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Komponen yang mencakup hermenetika ialah spiritual, normatif, formal, dan material yang saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Keempat komponen ada dalam kehidupan ini dengan lintasan spiral yang Saya mengutip beberapa hal yang menarik menurut saya diantaranya :a)Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah. b)Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu. d)Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar. e)Menemukan sendiri, mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme. Begitu banyak cara yang unik filsafat dalam memandang beberapa hal yang ada di sekitar kita. Hal ini untuk menuju keseimbangan dalam hidup.

    ReplyDelete
  98. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Tulisan ini menjelaskan bagaimana pembelajaran matematika dipandang dari kacamata Filsafat. Terimakasih Prof. atas penjelasan yang disampaikan. Semoga banyak para guru maupun calon guru yang membaca tulisan ini dna kemudian diterapkan dalam proses pembelajaran. Selain itu juga mengubag paradigma “guru menjelaskan” menjadi “siswa mempelajari”. Sehingga bukan guru yang menjadi subyek, tetapi siswa.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  99. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan komentar saya sebelumnya, salah satu cabang ilmu filsafat pendidikan adalah filsafat pendidikan matematika, yaitu suatu studi yang menelaah yang ada dan yang mungkin ada dalam dunia pendidikan dan khususnya pendidikan matematika. Salah satu hal yang terjadi dalam pendidikan adalah proses belajar mengajar (PBM) di sekolah. Jadi kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat dikaji dan diterjemahkan dari sudut pandang filsafat.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  100. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pembelajaran matematika merupakan sesuatu yang dapat dijelaskan secara filsafat. hampir semua materi materi dalam matematika itu berkaitan dengan filsafat. Misalnya saja phi, dapat dijelaskan dengan sejarah penemuannya maupun menggunakan benda konkrit. Deret bilangan merupakan sesuatu yang dapat dimaknai sebagai prediksi akan masa depan, dan lain sebagainya. Orang yang mampu memahami apa yang ia pelajari berarti dia telah menembus ruang dan waktu karena makna belajar itu sendiri adalah menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  101. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Berfilsafat adalah belajar mengenai ada dan yang mungkin ada yang artinya dalam belajar matematika dengan menggunakan filsafat adalah belajar dengan bermain menggunakan logika. Sedangkan peran filsafat ilmu dalam proses pembelajaran matematika dijadikan sebagai dasar. Dalam pembelajaran matematika peran filsafat ilmu tidak dapat dipisahkan terutama dalam mengaitkan yang bermacam-macam permasalahan matematika sehingga menjadi rangkaian yang berkaitan.

    ReplyDelete
  102. Ilania Eka Andari
    1709251050
    s2 pmat c 2017

    Pembuktian matematika merupakan wilayah kegiatan matematika bagi orang dewasa. Pembuktian matematika merupakan matematika formal. Sedangkan untuk anak-anak pembelajaran matematika yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan benda-benda konkrit. Orang dewasa tidak boleh memaksakan matematika formal kepada anak-anak karena akan dapat merusak intuisi siswa

    ReplyDelete
  103. Ilania Eka Andari
    17709251050
    Pendidikan Matematika (int

    Seorang pendidik memang perlu memahami filsafat, walau belum bisa menerapkan dalam pembelajaran, namun filsafat dapat menambah wawasan seseorang. Namun, sangat perlu bagi guru untuk menerapkan filsafat pendidikan karena tujuan pendidikan juga merupkan tujuan hidup, tujuan hidup ini tentu dikaji dalam filsafat.

    ReplyDelete
  104. Filsafat pendidikan nantinya akan memberikan pedoman pada guru yang memahaminya. Guru dapat menggunakan filsafat pendidikan dalam mengelola pembelajarannya di kelas. Selain itu, guru yang mempunyai pemahaman filsafat akan terhindar dari sikap hanya meraba-raba, atau melakukan sesuatu tanpa rencana dan dasar yang pantas.

    ReplyDelete
  105. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Filsafat dalam segala hal pembelajaran memang diperlukan untuk mengenalkan segala sesuatu berdasarkan filosofi mengapa kita harus belajar. Karena pada dasarnya jika kita tidak memberitahu kepada peserta didik untuk apa belajar matematika khususnya, maka hal tersebut akan memberikan anggapan yang tidak baik terhadap matematika sehingga anggapan akan sulitnya matematika akan semakin mendalam.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  106. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    saya setuju dengan pernyataan dalam jawaban dari pertanyaan pertama yaitu lebih setuju jika siswa mempelajari materi daripda guru yang menjelaskan. kenapa? karena dengan siswa memplajari sendiri, materi yang ia dapatkan akan dapat tersimpan dalam long term memory, sebaliknya jika guru menjelaskan biasanya hanya akan didengar dan selanjutnya siswa akan lupa.

    ReplyDelete
  107. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dari uraian diatas, maka terlihat dengan jelas. Bahwa filsafat itu dapat dilihat dari segala sisi. Sehingga tidak heran jika benar adanya bahwa filsafat itu bisa masuk dalam segala ranah, karena dia itu ranah olah pikir. Jadi jika kita mau berhemenetika atau mau terjemah dan menerjemahkan maka, semuanya akan dapat dipahami.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  108. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. jika siswa belajar sebenarnya siswa secara tidak langsung juga berfilsafat. Siswa memikirkan hakekat dari ilmu yang dipelajarinya. Siswa sebenarnya memikirkan sisi ontologis, epitimologis, dan aksiologis dari ilmu yang dipelajari. Yang diperlukan guru ialah membantu siswa belajar dengan memfasilitasi segala kebutuhan belajar siswa.

    ReplyDelete
  109. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Hermenetika mencakup spiritual, normatif, formal, dan material yang saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Keempat komponen ada dalam kehidupan ini dengan lintasan spiral yang Saya mengutip beberapa hal yang menarik menurut saya. Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah.Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu.Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar. Menemukan sendiri, mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme. Banyak cara yang unik filsafat dalam memandang beberapa hal yang ada di sekitar kita. Sangat menarik untuk dipelajaribahwa semua bersifat divergen. Hal ini untuk menuju keseimbangan dalam hidup.

    ReplyDelete
  110. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Ada berbagai macam cara untuk menjelaskan materi matematika seperti metode hermenitika, pembuktian, penggolongan, intuisi ruang dan waktu, starting point, Logicism, Definisi, Postulat dan Theorema. Banyaknya variasi teorema itu diharapkan dapat melengkapi kebutuhan siswa yang brbeda-beda.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  111. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Berbagai metode tersebut diharapkan dapat mendekatkan matematika dengan siswa, agar terciptanya variasi dalam mengajar sehingga siswa tidak merasa jenuh dalam pembelajaran
    matematika. Semakin banyak permaslaahan pendidikan yang muncul, semakin banyak pula variasi solusi yang harus ditawarkan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  112. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep menemukan sendiri?"
    Kontruktivisme. Prinsip konstruktivisme itu belajar dengan membangun. Anak-anak membangun pemahamannya sendiri atas suatu pengetahuan. Hal ini benar-benar dapat membela kepentingan anak-anak. Pengnetahuan yang dibangun sendiri tentunya akan lebih berguna dan dapat bertahan lebih lama.

    ReplyDelete
  113. Melalui filsafat maka bisa diterangkan tentang berbagai lingkup materi matematika. misalnya bahwa filsafat mampu menjelaskan tentang symbol-simbol matematika. symbol ada karena adanya kesepakatan para ahli matematika terdahulu, mereka membentuk symbol yang bisa mewakili suatu ide atau gagasan dalam matematika.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  114. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Secara filsafat, konsep limit fungsi berkaitan dengan ketakhinggaan, dimana dalam ketakhinggaan manusia menemukan ketidaksempurnaannya. Saya paham dengan pernyataan tersebut, karena dalam sepanjang perjalanan hidup benar adanya bahwa semakin jauh, manusia akan semakin banyak menemukan bahwa dirinya sendiri tidaklah sempurna. Tentu kesadaran akan ketidaksempurnaan ini akan muncul setelah melalui berbagai macam pengalaman dalam hidup namun seperti konsep limit, tak ada sesuatu yang sempurna, namun kita masih tetap harus berusaha mendekati kesempurnaan.

    ReplyDelete
  115. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Konsep bilangan erpangkat negatif memang agak abstrak, sehingga sesuai jika tidak dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah dasar. di SMP pun pengenalan tentang bilangan bulat negatif hanya sekedar bagian permukaan. memasuki SMA baru kemudian dibimbing untuk mengeksplorasi lebih mendalam.

    ReplyDelete
  116. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Saya akan mencoba mengomentari terkait kesulitan belajar matematika. Petunjuk dari Prof. Marsigit kesulitan belajar matematika diakibatkan karena kesulitan menembus ruang dan waktu. Paradigma Matematika sebagai pelajaran masih menganggap matematika abstrak. Bahkan di awal pembelajaran pun apersepsi yang digunakan masih bersifat abstrak. Kemampuan menebus ruang dan waktu hanya dapat dilakukan oleh akal atau logos. Akan tetapi sebelumnya siswa harus memiliki bekal kemampuan benda konkret sebagai dasar konstruktivisme mencapai logosnya. 10 jeruk diberikan pada 2 anak sama banyak maka tiap anak akan memperoleh 5 Ini kongkret dalam kenyataan. Modal ini digunakan untuk mengantar pada materi pembagian siswa bahwa pembagian berarti menjadikan 2 bagian berbeda, menjadikan 2 bagian yang sama, mempartisi dsb. Dalam konsep matematika pembagian yaitu membagi menjadi bentuk yang sama seperti 6 : 2 adalah 3

    ReplyDelete
  117. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya tertarik pada pertanyaan yang menanyakan konsep tentang phi. Banyak siswa bahkan guru yang mengetahui phi hanya nilai 22/7 atau 3,14. Mereka tidak memahami apa makna 22/7 atau 3,14 tersebut. Phi pada dasarnya adalah perbandingan antara keliling dan diameter lingkaran. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan menguji pada berbagai lingkaran yang berbeda diameter maupun kelilingnya. Namun nilai phi hanyalah suatu pendekatan, bukan nilai aslinya.

    ReplyDelete
  118. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sebagai calon pendidik dalam bidang matematika sidah selayaknya kita mengetahui asal usul nilai “PHI” karena suatu saat pasti ada siswa yang kreatif menanyakan hal tersebut, kenapa nilai π=22/7 atau π=3,14?. Phi merupakan hasil dari perbandingan keliling dan diameter. Untuk menyelidikinya kita bisa mengarahkan siswa untuk melakukan penelitian menggunakan beberapa lingkaran dengan ukuran yang berbeda, kemudian mengukur diameter dan kelilingnya (Menggunakan benang kemudian diukur panjangnya). Kemudian dibandingkan keduanya. Dari beberapa hasil kita akan mengetahui b ahwa nilai PHI akan mendekati 22/7 atau 3, 14. Jika ada perbedaan koma yang kecil tidak masalah karena hal ini tergantung ketelitian dalam pengukuran. Kita juga bisa menjelaskan kepada siswa bahwa nilai Phi merupakan kesepakatan awal para pakar matematika sehingga hal tersebut tidak perlu dibuktikan lagi. Namun untuk menambah pengetahuan siswa kita bisa menjelaskan sejarah singkat siapa saja penemu phi dan angka phi yang ditemukan.

    ReplyDelete
  119. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Mencoba menanggapi pertanyaan Bagaimana filsafat mampu menjelaskan fenomena psikologi dalam belajar matematika, misalnya rasa percaya diri, motivasi, rasa ingin tahu, ingin bertanya, belajar sendiri, ingin bekerja sama, kecemasan, kreativitas, daya juang, sikap matematika, sikap terhadap matematika, sikap menghargai, sikap toleransi, dst? : Keistimewaan psikologi adalah dapat dikaitkan dengan ilmu lain yang masih berhubungan dengan kegiatan manusia. Psikologi dan filsafat juga memiliki hubungan tersendiri, jika filsafat merupakan bentuk olah pikir, maka psikologi dapat dikategorikan sebagai bentuk oleh sikap. Psikologi dalam belajar memiliki peranan penting karena dapat memengaruhi berhasil tidaknya seseorang dalam memahami atau mempelajari sesuatu. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, motivasi, daya juang, rasa ingin tahu, kreatifitas, sikap dan sebagainya merupakan komponen penting dalam terciptanya nuansa belajar yang efektif. Tanpa adanya motivasi, seseorang akan malas untuk belajar, untuk memahami. Tanpa adanya daya juang, seseorang akan mudah menyerah. Tanpa adanya rasa ingin tahu, seseorang tidak akan berusaha menemukan kebenaran dibalik fakta. Tanpa adanya kreatifitas, maka seseorang tidak akan berkembang.

    ReplyDelete
  120. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah. Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu.Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar. Menemukan sendiri, mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme.Banyak cara yang unik filsafat dalam memandang beberapa hal yang ada di sekitar kita. Sangat menarik untuk dipelajaribahwa semua bersifat divergen. Hal ini untuk menuju keseimbangan dalam hidup

    ReplyDelete
  121. Pendidikan Matematika
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    banyak cara yang unik filsafat dalam memandang beberapa hal yang ada di sekitar kita. Sangat menarik untuk dipelajaribahwa semua bersifat divergen. Hal ini untuk menuju keseimbangan dalam hidup

    ReplyDelete
  122. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Banyak cara menjelaskan pengertian-pengertian dari Matematika. Saya tertarik dari filsafat kesamaan dan ketidaksamaan. Dua objek dikatakan sama jika keduanya itu mirip, sama atau memenuhi sifat identitas. Dua objek ini sama jika kedua komponen sama (identik). Sedangkan ketidaksamaan jika ada salah satu komponen dari salah satu objek ada yang tidak sama maka kedua objek tersebut tidak sama atau dengan kata lain kontradiksinya dari kesamaan.

    ReplyDelete
  123. Siti Efiana
    S-1 P. Matematika I 2015
    15301241029

    Terima kasih atas artikelnya, Prof. Saya akan membahas mengenai nilai Phi. Saya setuju bahwa nilai phi merupakan kesepakatan awal. Kemudian, siswa dijelaskan pula sejarahnya dan diminta untuk mencari tahu nilai phi dalam benda-benda sehari-hari yang berbentuk lingkaran, yaitu dengan mengukur keliling menggunakan benang dan mengukur diameter. Dengan begitu, pembelajaran akan lebih bermakna karena siswa tidak hanya menghapal bahwa nilai phi adalah 3.14.
    .
    Kemudian saya juga setuju mengenai kesulitan belajar yang dipandang sebagai kendala seseorang dalam menembus ruang dan waktu yang dalam matematika dapat diartikan kesulitan dalam membayangkan matematika abstrak. Oleh karena itu, guru sebisa mungkin harus membantu anak membangun jembatan antara matematika konkrit dan matematika abstrak yang salah satunya dengan menggunakan masalah-masalah yang dekat dengan kehidupan siswa (masalah kontekstual) baru kemudian dibawa ke hal-hal abstrak, sehingga siswa akan lebih mudah memahaminya.

    ReplyDelete
  124. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Menurut saya, jembatan keledai merupakan hal yang terkadang sangat dibutuhkan ketika harus mengajarkan hal yang abstrak agar dapat dibayangkan secara konkrit. Dalam pembelajaran matematika, kebutuhan akan nalar dan kecerdasan visual spatial sangat dibutuhkan. Sehingga sering mengakibatkan fenomena belajar mengajar yang menyulitkan bagi peserta didik untuk menembus “ruang dan waktu” dalam pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  125. Alvi Khoirunnisak
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241012

    Menanggapi poin 6. Pandangan filsafat tentang kesulitan belajar sebagai kendala seseorang dalam menembus ruang dan waktu.
    Jika dijabarkan lagi, dimensi ruang yang dimaksud disini termasuk dalam media pembelajaran, serta sarana prasarana belajar. Sementara dimensi waktu termasuk metode belajar dan kurikulum yang berlaku dalam sistem pendidikan saat itu.
    Karena memang keulitank belajar erat kaitannya dengan hal-hal tersebut.
    Tapi filsafat dapat merangkumnya menjadi dimensi ruang dan waktu..

    ReplyDelete
  126. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang sangat luas. Beberapa ilmu pengetahuan yang belum terjawab, dapat dijawab menggunakan ilmu filsafat.
    Pada poin 4, Bagaimana Penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif?
    Memang benar, konsep bilangan berpangkat negatif sangat sulit untuk dinalar oleh siswa karena merupakan sesuatu yang abstrak dan tidak ada contoh konkritnya. Namun, dalam ilmu filsafat ini dikategorikan kedalam pengertian formal.

    ReplyDelete
  127. Raudhah Nur Pratiwi
    (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Terimakasih Prof atas eleginya. Setelah saya membaca elegi tersebut, saya menyadari betapa pentingnya filsafat dalam pembelajaran matematika.
    Saya tertarik dengan point no. 7 : “Bagaimana penjelasan filsafat tentang kegiatan pemecahan masalah?”. Petunjuk Dosen : Secara filsafat, kegiatan pemecahan masalah dapat dipandang sebagai vitalitas atau ikhtiar.
    Ikhtiar adalah usaha manusia ntuk memperoleh suatu tujuan yang dikehendaki. Saya sangat setuju. Bahwa ketika siswa sedang berusaha memecahkan masalah matematika, siswa tersebut sama saja sedang berikhtiar, dengan tujuan agar bisa menyelesaikan permasalahan.

    ReplyDelete
  128. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari artikel ini saya menyoroti bagian kesulitan belajar matematika yang kemudian dijawab dengan petunjuk berikut: “Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu.”
    Dalam hal ini kesulitan diartikan sebagai kendala dalam usaha menembus ruang dan waktu. Tujuan yang ingin diraih yaitu menembus ruang dan waktu maka dari itu, untuk mnegatasi kesulitan dalam belajar hendaknya kita berusaha menemukan jalan yang tepat yang dapat mengantarkan kita menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  129. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof atas artikel ini. Dalam filsafat, beberapa ilmu dapat dijelaskan. Disini saya akan coba menjabarkan point 14. Point 14 ini membahas pola atau keteraturan dalam matematika. Dalam filsafat, pola diartikan sebagai Aturan/Ketentuan/Hukum. Pola digunakan sebagai awal atau starting point dari kegiatan berpikir. Pada beberapa pembahasan dalam matematika, dewasa ini anak dituntut untuk mempelajari pola yang terjadi pada suatu kejadian. Bukan hanya suatu pola terhadap bilangan. Pola dalam matematika juga dikaitkan dengan masalah yang lain. Pola ini sama halnya menjadi awal anak memahami suatu materi. Sehingga penjelasan dalam ilmu filsafat sudah mulai terlihat.

    ReplyDelete
  130. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Dari artikel diatas saya tahu bahwa Filsafat adalah ilmu yang sangat luas. Beberapa ilmu pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan atau belum terjawab dapat terjawab menggunakan ilmu filsafat.
    Namun karena ilmu filsafat sangat luas tidak semua orang dengan mudah dapat mempelajari ilmu filsafat.

    ReplyDelete
  131. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Terima kasih pak atas informasi yang Bapak sampaikan. Saya setuju dengan penjelasan pada nomor 17, terkait dengan bagaimana penjelasan filsafat tentang pembuktian rumus matematika : induksi dan deduksi. Saya setuju bahwa membuktikan rumus matematika adalah ranah kognitif dari orang dewasa, bukan ranah untuk dunia anak. Dalam kognitif anak SD, anak baru memasuki ranah mengingat dimana aktivitas untuk memahami dan mempelajari matematika masih berasal dari aktivitas langusng dan dari benda-benda yang kongkrit. Anak tidak mungkin langsung dididik untuk masuk ke dalam ranah orang dewasa (matematika formal), karena dalam kenyataannya, anak dalam membentuk pengetahuannya masih menggunakan aktivitas belajar dan bermain.

    ReplyDelete
  132. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Selanjutnya, saya setuju dengan jawaban Bapak, bahwa suatu bilangan berpangkat negatif termasuk ke dalam pengertian formal dimana hanya ada di dalam pikiran orang dewasa bukan dalam pikiran anak. Hal ini dikarenakan, pangkat negatif adalah akibat dari suatu pembagian bilangan berpangkat dengan basis yang sama dengan pangkat dari pembilang lebih kecil daripada pangkat dari penyebut. Dalam kata lain, perlu adanya pembuktian untuk menentukan perpangkatan negatif sehingga hal ini tepat apabila perpangkatan negatif bukan termasuk dalam ranah dari anak.

    ReplyDelete
  133. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Terimakasih Bapak artikelnya, poin 1-5 sangat bermanfaat bagi kami calon guru untuk proses pembelajaran atau penyampaian materi kelak. Saya tertarik dengan penjalasan mengenai phi, bahwa pembuktiannya dapat digunakan benda konkrit. pembuktian disini kita bisa menggunakan benda-benda yang berbentuk lingkaran kemudian meminta siswa menghitung diameter dan keliling dari beberapa lingkaran tersebut, maka mereka akan menemukan nilai phi tersebut. Pembelajaran ini dapat menggunakan model pembelajaran Project Based Learning.

    ReplyDelete
  134. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya setuju dengan filsafat mengenai "menemukan sendiri" yang mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme. Mengingat pendidikan di Indonesia saat ini menerapkan kurikulum 2013 yang mengutamakan student centered sehingga penting bagi seorang guru memahami pengertian menemukan sendiri yang berarti sesuai dengan paradigma constructivisme.

    ReplyDelete
  135. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya juga tertarik mengenai pola. Secara filsafat, Pola dapat diartikan sebagai Aturan/Ketentuan/atau Hukum, dan oleh karenanya Pola dapat digunakan sebagai Awal dari kegiatan berpikir. Karena banyak ilmu matematika yang berkaitan erat dengan pola, maka penting bagi kita untuk memahami pola ini sendiri.

    ReplyDelete
  136. Muhammad Labib Hidayaturrohman
    15301241023
    Pend. Matematika 2015

    Sebelumnya terimakasih pak atas ilmu yang bapak berikan. Saya cukup tertarik dengan nomor 17 yaitu mengenai pembuktian induksi dan deduksi. Saya sejutu atas pernyataan bapak bahwa hal tersebut merupakan ranah SMA keatas. Menurut Bloom tingkatan inilah dimana cara berpikir manusia mulai abstrak sehingga dapat menerima materi seperti induksi dan deduksi. Saat masih SD dan SMP sebagian besar peserta didik belum dapat berpikir secara abstrak oleh karena itu akan sulit bagi mereka mempelajari materi seperti ini. Terimakasih

    ReplyDelete
  137. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Terima kasih pak atas artikel mengenai “Mengungkap Fenomena Belajar Mengajar Matematika melalui Filsafat”. Dari beberapa diskusi yang ada, saya menyoroti kalimat “Bagi siswa yang relatif muda usia (siswa SD) belajar akan lebih bermakna jika mampu menumbuhkembangkan intuisinya; berarti diperlukan objek belajar yang lebih konkrit”. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Hal ini berkaitan dengan praktik matematika sekolah, dimana sebagai guru harus memperhatikan tahap kognitif yang dialami oleh siswa. Maka tepat sekali jika ingin mengajarkan matematika kepada siswa SD dibutuhkan objek belajar yang lebih konkrit agar siswa dapat lebih mudah menangkap materi yang ingin disampaikan.

    ReplyDelete
  138. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Terimakasih Prof atas artikel yang mengandung banyak sekali informasi. Dari artikel diatas saya mengetahui bahwa filsafat merupakan ilmu yang luas, salah satunya yaitu fisafat dalam matematika seperti yang dijelaskan diatas. Dan sesuai dengan pertanyaan no 6 tentang bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar dan kemudian dijelaskan bahwa kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya untuk menembus ruang dan waktu. Dan sesuai no 7 tentang pemecahan ,asalah dipandang sebagai suatu ikhtiar.

    ReplyDelete
  139. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Dari beberapa diskusi di atas, saya tertarik dengan penjelasan filsafat mengenai konsep menemukan sendiri.
    Menemukan sendiri berarti membangun pengetahuan sendiri oleh siswa yang sesuai dengan paradigma konstruktivisme. Pendidikan di Indonesia saat ini menerapkan kurikulum 2013 dimana pembelajaran harus melibatkan keaktifan siswa. Sehingga guru harus bisa memberikan kesempatan dan fasilitas pada siswa untuk menemukan sendiri konsep matematika yang sedang dipelajari.

    ReplyDelete
  140. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Terimakasih, Pak atas ilmunya. Salah satu hal yang dapat saya ambil dari tulisan tersebut yaitu matematika anak SD dan matematika anak SMA sangatlah berbeda, dalam artian jangan sampai kita mengajar matematika SD dengan cara mengajar anak SMA atau sebaliknya. Karena anak SD cenderung menggunakan benda-benda konkret untuk belajar. Kegiatan membuktikan di SD berupa kegiatan pembelajaran dengan benda konkret dimana pembuktian di SMA sudah menggunakan pembuktian formal.

    ReplyDelete
  141. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Selain itu, untuk poin ke-7 bahwa pemecahan masalah merupakan suatu vitalitas atau ikhtiar, saya setuju dengan hal ini. Pemecahan masalah membuat kita berpikir, kita berusaha untuk menyelesaikan persoalan tersebut berdasarkan pengetahuan atau pengalaman yang telah kita miliki. Begitu pula dengan peserta didik, menyelesaikan masalah pada saat pembelajaran maupun ujian juga merupakan usaha. Oleh karena itu, alangkah lebih baik jika penilaian tidak hanya melihat nilai akhir saja, tetapi juga usaha dari peserta didik tersebut. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh guru yaitu dengan tidak memberikan nilai 0 jika siswa menjawab soal esai dengan salah. biasanya guru akan memberikan nilai minimal 1 sebagai apresiasi usaha yang dilakukan siswa untuk menyelesaikan soal tsb.

    ReplyDelete
  142. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih prof untuk tulisan yang sangat bermanfaat bagi kami semua. Dari sini terlihat bahwa ternyata filsafat merupakan ilmu yang dapat menjangkau di berbagai ilmu yang lainnya, termasuk matematika. Misalnya penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negative. Bahwa dalam filsafat itu termasuk dalam pengertian formal. Dan benar bahwa bilangan berpangkat negative tidak dapat dijangkau oleh pikiran anak-anak, oleh karena itu sulit bagi mereka untuk mempelajarinya.

    ReplyDelete
  143. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Setelah membaca postingan ini, saya menyadari bahwa peranan filsafat sangat luas dalam proses belajar-mengajar matematika.
    Saya tertarik dengan filsafat dalam pemecahan masalah, di sini dituliskan bahwa pemecahan masalah dapat dipandang sebagai vitalitas atau ikhtiar. Ikhtiar bisa diartikan sebagai usaha. Oleh karena itu, masalah yang ada harus selalu diusahakan untuk dipecahkan. Sejalan dengan kehidupan, tentu tidak ada yang terlepas dari masalah. Namun, yang harus dilakukan manusia adalah ikhtiar atau berusaha memecahkan masalah yang ada.
    Dengan menanamkan konsep pemecahan masalah sebagai ikhtiar, diharapkan peserta didik akan lebih gigih dalam melakukan pemecahan masalah-masalah yang diberikan dalam pembelajaran matematika.

    ReplyDelete