Nov 7, 2014

Mengungkap Fenomena Belajar Mengajar Matematika melalui Filsafat (Disertai Penjelasan Singkat Dosen Pengampu untuk menjawabnya)

Ass Wr Wb.


Pada hari ini Jumat, 7 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PMP2TK di R 106 A diganti R 100 A Pasca Lama pk 15.40 sd 17.10, yang di hadiri oleh 16 mahasiswa, saya meminta mahasiswa untuk mengidentifikasi fenomena-fenomena apa saja, dalam kelas pembelajaran matematika yang dapat dijelaskan melalui/dengan filsafat.



Sebagai pengantar saya ingin sampaikan bahwa mengungkap secara filsafati segala fenomena yang ada dan yang mungkin ada dalam proses belajar mengajar matematika di kelas, adalah semata-mata dari dan untuk kepentingan orang dewasa, dalam hal ini, Guru. Tidaklah pada tempatnya andaikata kita berkehendak mengajak berkomunikasi secara filsafati kepada anak-anak atau siswa, kecuali dalam kondisi yang memungkinkan. Tujuan dari telaah filsafat ini adalah untuk meningkatkan sensitivitas orang dewasa (guru) agar lebih santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada dalam proses belajar mengajar matematika.

Berikut hasil identifikasinya, beserta Petunjuk yang saya berikan untuk menjawab dari beberapa pertanyaan:

1.Bagaimana menjelaskan secara filsafat tentang diagonal ruang suatu Balok?

Petunjuk Dosen:

Saya kurang sreg dengan istilah "guru menjelaskan", tetapi lebih cocok dengan istilah "siswa memelajari". Diagonal ruang suatu bangun geometri (Balok) adalah satu dari sekian banyak sifat yang ada dari bangun tersebut. Secara filsafat, saya mendefinisikan "belajar" sebagai segala usaha untuk "mengadakan" dari beberapa sifat "yang mungkin ada". Jadi usaha siswa belajar untuk memahami konsep "diagonal ruang"dapat dipandang sebagai mengadakan segala sifat diagonal ruang yang mungkin ada. Seperti halnya untuk mengetahui siat-sifat yang lainnya, maka secara filsafat cara memahami konsep diagonal ruang dapat dilakukan dengan metode hermenitika yaitu terjemah dan diterjemahkan, yang di dalamnya terkandung kegiatan interaksi atau saling bersilaturakhim, baik antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun siswa dengan objek belajar yaitu Balok. Bagi siswa yang relatif muda usia (siswa SD) belajar akan lebih bermakna jika mampu menumbuhkembangkan intuisinya; berarti diperlukan objek belajar yang lebih konkrit. Demikian, penjelasan saya, semoga dapat menjadi pembuka bagi usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Selamat menjawab.

2. Bagaimana penjelasan filsafat tentang nilai Phi yang merupakan perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya?

Petunjuk Dosen:
Bahwa Phi adalah perbandingan keliling lingkaran dengan diameternya, dapat dipandang sebagai definisi yang merupakan kesepakatan awal atau dibuat sebagai pengertian awal. Sedangkan penemuannya Phi diterangkan dalam sejarahnya; dan pembuktiannya dapat digunakan benda konkrit.

3. Bagaimana penjelasan filsafat mengenai berbagai macam konsep himpunan, misalnya Himpunan Semesta, Himpunan Kosong, Relasi Himpunan dan Operasi Himpunan?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat konsep Himpunan dapat dipandang sebagai Penggolongan atau Pembeda atau Kategori. Sebenar-benar Ilmu adalah jika memuat Kategori. Dan sebenar-benar orang berilmu jika dia mampu mem Beda kan.

4. Bagaimana penjelasan filsafat mengenai konsep bilangan berpangkat negatif?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat konsep Bilangan Berpangkat Negatif termasuk ke dalam Pengertian Formal; dia hanya ada di dalam pikiran dan tidak ditemukan di luar pikiran (anak-anak). Itulah sebabnya akan sulit bagai anak kecil untuk memelajarinya.

5.  Bagaimana penjelasan filsafat tentang rumus Luas permukaan Bola?

 Petunjuk Dosen:

Secara filsafat, sebuah Rumus Matematika dapat dianggap sebagai Forma atau Bentuk atau Wadah.

6. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu.

7. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kegiatan pemecahan masalah?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, kegiatan Pemecahan Masalah dapat dipandang sebagai Vitalitas atau ikhtiar.

8. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep menemukan sendiri?

Petunjuk Dosen:
Menemukan sendiri, mengandung pengertian Membangun yang kemudian sesuai dengan paradigma Constructivisme.

9. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya konsep berbagai macam bilangan, hubungan antar bilangan, dan operasi bilangan? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Deret dan Barisan Bilangan?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, konsep Bilangan hanya dapat dipahami dalam Intuisi Ruang dan Waktu. Di dalam Pikiran, Bilangan bermakna karena Nilainya. Barisan atau Deret Bilangan dapat dianggap sebagai Petunjuk untuk memeroleh Keadaan di masa Depan, jadi dia sesuai dengan Aliran Filsafat Teleologi. 

10. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesamaan, persamaan, ketidaksamaa, dan pertidaksamaan?

Petunjuk Dosen:
Dalam filsafat, konsep Kesamaan setara dengan Sifat Identitas, yaitu tercapainya keadaan A = A; sedangkan konsep ketidaksamaan setara dengan Sifat Kontradiksi yaitu Predikat yang tidak akan mampu menyamai Subjeknya.

11. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep berbagai macam operasi bilangan?

Petunjuk Dosen:
Segala bilangan yang ada di dalam pikiran bersifat Tunggal, Unik, Absolut, Sempurna, Ideal. Sedangkan bilangan-bilangan yang ada di luar pikiran bersifat sebaliknya.

12. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya relasi dan fungsi matematika? Secara khusus bagaimana penjelasan filsafat tentang Limit Fungsi?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafati, Konsep Limit Fungsi berkaitan dengan ketakhinggaan, di mana dalam ketakhinggaan manusia menemukan ketidaksempurnaannya.

13. Bagaimana penjelasan filsafat tentang bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri?

Petunjuk Dosen:
Segala bentuk, ukuran, dan macam-macam bangun-bangun geometri hanya dapat dipahami di dalam Intuisi Ruang dan Waktu

14. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya berbagai macam Pola atau keteraturan dalam matematika?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Pola dapat diartikan sebagai Aturan/Ketentuan/atau Hukum, dan oleh karenanya Pola dapat digunakan sebagai Awal dari kegiatan berpikir. Suatu kegiatan Berpikir dimana mempunyai "awal" atau "starting point" disebutlah sebagai Aliran Foundationalisme. 

15. Bagaimana penjelasan filsafat tentang materi Logika dalam matematika?

Petunjuk Dosen:
Logika mempunyai kedudukan yang dominan dan sangat penting dalam filsafat, mulai dari jaman Aristoteles hingga tokoh Logicism (filsafat Logika) yaitu Sir Bertrand Russel. Namun Logika tidaklah sama dengan Logicism. Secara khusus, dalam bukunya " The Critics of Pure Reason", Immanuel Kant banyak sekali menguraikan tentang Logika dan logika. Logicism adalah suatu aliran filsafat matematika yang berusaha membawa semua matematika ke dalam alur pikir logika.

16. Bagaimana penjelasan filsafat tentang konsep Peluang/Probabilitas dan Statistika?

Petunjuk Dosen:
Secara filsafat, Peluang atau Probabilitas dapat dipandang sebagai "yang mungkin ada". Untuk mewujudkannya dilakukan dengan metode Hermenitika. Dikarenakan keterbatasannya, maka sebenar-benar manusia tidaklah mampu mengadakan semua yang mungkin ada. Sedangkan yang ada pun hanya bersifat sempurna jika dia ada di dalam pikiran, diandaikan, atau kalau sudah sampai di akhirat.


17.Bagaimana penjelasan filsafat tentang pembuktian Rumus Matematika: induksi dan deduksi?

 Petunjuk Dosen:

Membuktikan Rumus Matematika adalah ranah orang dewasa (SMA ke atas) dalam lingkup Matematika Formal/Matematika Aksiomatik. Membuktikan Matematika untuk dunia anak-anak (SD) harus diberi pengertian lain yaitu segala aktivitas memahami matematika dengan aktivitasnya berinteraksi dengan benda-benda konkrit. 
 
18. Bagaimana penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari?

Petunjuk Dosen:
Penggunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa; jadi jangan membebani generasi muda (anak-anak) untuk berpikir sampai tahap demikian. Menggunakan matematika adalah urusan dan kerja orang dewasa (matematikawan dan praktisi matematika).Kemudian (setelah diingatkan oleh Ivone Marlinda) saya masih menemukan bahwa ternyata Anak Kecil dalam ruang dan waktu yang terbatas juga dapat menggunakan matematika; saya ulangi dalam ruang dan waktu yang terbatas. Walaupun dalam ruang dan waktu yang terbatas, ternyata juga banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan oleh Anak Kecil menggunakan matematikanya misalnya: menghitung, mengukur, mengira-ira, belanja,..dst. Pernyataan saya di awal dikarenakan saya menekankan pada usaha mencegah orang dewasa berbuat semena-mena dengan menerapkan matematika formal dan menggunakan matematika tanpa mengetahui konsepnya.Hanya di sini saya akan membedakan antara "kemampuan menerapkan matematika" dan "matematika terapan". Untuk yang pertama, "kemampuan menarapkan matematika" dapat dipandang dari sisi kemampuan berpikir secara umum, seperti yang dikemukakan oleh Bloom, yaitu kemampuan berpikir sejak dari : Mengingat, Memahami, MENERAPKAN, Analisis, Sintesis,dan Evaluasi. Berarti setiap kegiatan berpikir terdapat aspek Menerapkan pemahamannya sebagai suatu kriteria tahapan berpikir. Demikian itulah yang terjadi jika siswa/anak kecil berpikir termasuk berpikir matematika; ini pulalah yang menurut saya yang dipersoalkan oleh Sdri Ivone Marlinda. Sedangkan yang kedua "matematika terapan" atau menerapkan matematika dalam kepentingan matematika bermanfaat bagi ilmu-ilmu lain itulah yang saya maksud sebagai domainnya orang dewasa. Demikianlah semoga bermanfaat.

19. Bagaimana penjelasan filsafat tentang Definisi, Postulat dan Theorema dalam Matematika?

Petunjuk Dosen:
Definisi, Postulat dan Theorema termasuk ranah Matematika Formal/Matematika Aksiomatik, dimana Matematika demikian didefinisikan sebagai ilmu yang bersifat deduktif, yang berlandaskan atau dimulai dengan mendefinisikan konsep-konsep, selanjutnya dibentuklah Teorema-teorema, Aksioma atau Dalil-dalil yang pada akhirnya diperoleh suatu Struktur Matematika yang di dalamnya tidak boleh terdapat kkontradiksi. Pendiri Matematika Formal adalah Hilbert.

20. Bagaimana penjelasan filsafat tentang adanya Simbol-simbolmatematika?

Petunjuk Dosen:
Secara khusus, terdapat apa yang disebut sebagai Filsafat Simbol

Selanjutnya dipersilahkan para pembaca yang budiman untuk mencoba menjelaskan satu atau lebih dari fenomena-fenomena yang telah didaftar tersebut di atas, dengan cara membuat Comment.

Demikianlah semoga bermanfaat. Amin.

Dosen ybs

Marsigit




16 comments:

  1. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Dari beberapa pembahasan diatas, saya tertarik untuk mengulas lebih dalam lagi tentang pertanyaan no 10 yaitu tentang 10. Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesamaan, persamaan, ketidaksamaa, dan pertidaksamaan?
    Pak Marsigit menjelaskan bahwa dalam filsafat, konsep Kesamaan setara dengan Sifat Identitas, yaitu tercapainya keadaan A = A; sedangkan konsep ketidaksamaan setara dengan Sifat Kontradiksi yaitu Predikat yang tidak akan mampu menyamai Subjeknya.
    Saya berpendapat dengan jawaban dari Pak Marsigit karena jika A = A maka salah karena di dunia kenyataan dan pasti ada dua A yaitu A yang di kiri dan ada A yang di kanan. A yang kiri bisa di depan pintu dan A bisa di depan jendela dan perlakuannya beda. Marsigit juga berbeda dengan Marsigit yang lainnya karena itu urusan dunia. Marsigit = Marsigit hanyalah berupa pikiran.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  2. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Berdasarkan pertanyaan dan jawaban yang ada dalam postingan tersebut, menurut saya matematika adalah objek yang ada dalam pikiran. Matematika yang dapat dituli atau symbol yang biasa digunakan adalah sebuah kesepakatan. Kesepakatan yang secara global digunakan. Sehingga digunakan untuk memperjelas apa yang ada di dalam pikiran.

    ReplyDelete
  3. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Belajar mengajar matematika dapat diungkapkan melalui filsafat. Kita ketahui bahwa kajian filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Secara filsafat belajar merupakan usaha mengadakan yang mungkin ada. Dalam memahami sebuah konsep matematika siswa difasilitasi untuk dapat menemukan konsep tersebut melalui pengalamannya sendiri. hal ini sesuai dengan paradigma Constructivisme dimana siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui pengalaman menarik yang telah dialaminya. Namun hal tersebut tentu tidak mudah untuk dilakukan apalagi jika siswa ada yang mengalami sulit belajar. Sulit belajar juga dimaknai sebagai kendala seseorang dalam usahanya menembus ruang dan waktu. Hal ini menjadi tugas guru untuk dapat memberikan pengalaman menarik tersebut sehingga siswa dapat menemukan sendiri pengetahuannya dan siswa dapat menembus ruang waktu yang ada. Jika siswa sulit menembus ruang dan waktu akan menyebabkan siswa tersebut tertinggal dan tidak dapat mencapai keberhasilan.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  4. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Ilmu filsafat sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Ilmu filsafat membantu membentuk pola pikir matematika yang ada maupun yang belum tentu ada. Ada pernyataan yang menarik perhatian saya yaitu poin 18 yang mengungkapkan bagaimana penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sdri Ivone Melinnda mengatakan bahwa penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa karena matematika terlalu rumit untuk anak-anak. yang saya tahu matematika membentuk pola pikir anak untuk dapat berpikir secara kompeks melalui cara yang bertahap. Matematika menjadi rumit bagi anak-anak jika tidak diajarkan sesuai dengan tingkatannya. Tingkat pengaplikasian matematika ke dalam kehidupan sehari-hari bagi anak-anak adalah menghitung, mengukur, mengira, dsb. Selain itu, bukanlah merupakan tahap keilmuan anak-anak. matematika orang dewasa merupakan matematika terapan yang berguna bagi perkerjaan sehari-hari yang mengharuskan menggunakan ilmu matematika sebagai dasar keilmuannya. Contohnya, arsitektur, tenik sipil, konstruksi, bisnis dan keuangan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, filsafat matematika adalah tentang definisi dalam penggunaan-penggunaan teori matematika yang lebih tepat jika digunakan oleh orang dewasa yang telah memahami aturan-aturannya.

    ReplyDelete
  5. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Proses pembelajaran matematika diungkapkan secara filsafat yaitu mengungkapkan fenomena yang ada dan yang mungkin ada dalam proses tersebut. Pembelajaran matematika dilihat dari sudut pandang filsafat adalah proses mengadakan dari sesuatu yang ada dan yang mungkin ada dalam matematika. Penting bagi guru untuk mengetahui filsafat matematika. Hal ini akan membuat guru menjadi tahu apa yang harus dilakukan dalam pembelajaran. Contohnya mengenai definisi, aksioma, dan teorema adalah bagian dari matematika formal yang sesuai dengan tahap berpikirnya orang dewasa maka tidak cocok bagi guru SD untuk mengajarkannya definisi dan sebagainya secara langsung, melainkan diajarkan dengan sesuatu yang konkrit yang dekat dengan siswa. Selain itu pentingnya filsafat bagi guru adalah dapat mengaitkan persoalan dalam matematika dengan nilai-nilai kehidupan. Seperti telah dijelaskan mengenai limit berkaitan dengan ketidakhinggan. Dalam pembelajarannya bisa dikaitkan dengan nilai-nilai bahwa manusia itu memiliki keterbatasan dan tidak seberapa dibanding dengan kuasa Alloh yang tidak terhingga. Ini dapat diarahkan kepada nilai untuk selalu rendah diri dan selalu bersyukur atas apa yang telah Alloh berikan.

    ReplyDelete
  6. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan dan juga jawaban di atas membuktikan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini bisa dijawab melalui cara pandang filsafat. Seperti yang dikatakan Johnn Gotlich fickte berpendapat bahwa filsafat merupakan ilmu dari ilmu-ilmu, yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Filsafat membicarakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu untuk mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.

    ReplyDelete
  7. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Setiap kegiatan proses pembelajaran dalam matematika dapat dijelaskan menurut pandangan filsafat. Salah satu contohnya filsafat mengungkap fenomena belajar mengajar matematika tentang diagonal ruang suatu balok. Pembelajaran terebut akan lebih bermakna jika dihadirkan objek pembelajaran yang konkrit, yaitu dengan menghadirkan balok tersebut, sehingga siswa secara langsung dapat melihat sifat-sifat balok tersebut kemudian mereka mengkonstruk pengetahuan yang telah dimilikinya dengan menemukan sendiri konsep diagonal ruang balok tersebut. Dalam proses pembelajarn tersebut tidak terlepas dari interkasi siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru, karena guru juga peran aktif dalam membimbing dan membantu siswa dalam mengatasi kesulitan ataupun kendala-kendala selama proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  8. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan diatas bisa kita ketahui bahwa filsafat dapat diterapkan diberbagai lini kehidupan termasuk dalam pembelajaran matematika. Belajar dalam filsafat diartikan sebagai usaha untuk "mengadakan" dari beberapa sifat yang mungkin ada. Disini guru sebagai pendidik memiliki peranan penting untuk memahami hal ini. Guru berusaha untuk membuat para siswanya mengerti tentang pelajarannya sehingga sesuatu yang sebelumnya bersifat mungkin ada menjadi ada dalam pemikiran siswa.Dengan penerapan filsafat dalam pembelajaran guru juga mampu untuk menerangkan kepada siswa pembelajaran dalam bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  9. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Saya setuju bahwa mempelajari atau mengajarkan matematika harus berdasarkan pada konsep. Konsep di sini bisa sesuai ruang dan waktu. Mengajar matematika dewasa sudah pasti akan berbeda dengan matematika sekolah. Anak-anak memang bisa menggunakan matematika seperti dijelaskan sebelumnya, tetapi terbatas pada ruang dan waktu. Oleh karena itu, ketika kita mengajar matematika, maka, sesuaikan dengan ruang dan waktu supaya tidak terjadi miskonsepsi.

    ReplyDelete
  10. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Dalam menanggapi pertanyaan nomor 18 mengenai penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari, Prof memberikan petunjuk bahwa terdapat perbedaan antara menerapkan matematika dan penerapan matematika. Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa. Sementara untuk menerapkan matematika bisa menjadi ranah anak-anak. Maka kita sebagai guru hendaknya tidak membebani anak-anak untuk sampai ke tahap matematika terapan. Guru hanya perlu membekali siswa agar siswa dapat berpikir matematis dan memiliki kemampuan pemecahan masalah.

    ReplyDelete
  11. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Filsafat mencakup segala sesuatu yang luas mengenai akal, pikiran, pengetahuan yang tentu masih berlandaskan spritualisme, filsafat juga mengkaji tentang pembuktian suatu kebenaran akan suatu hal. Filsafat erat kaitannya dengan matematika, matematika adalah sumber dari segala pengetahuan, contoh simplenya saja matematika adalah sarana berpikir deduktif dimana semua konsep yng ada pada matematika perlu adanya pembuktian agar dapat dikatakan benar hal itu tentunya berkaitan pula dengan filsafat yang memandangnya dari sudut pandang yang berbeda

    ReplyDelete
  12. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, wb.
    Saya sangat tertari pada pertanyaan ke 18 tentang Bagaimana penjelasan filsafat tentang penggunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari?. Jawaban dari pertanyaan tersebut bahwa Penggunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah ranahnya orang dewasa; jadi jangan membebani generasi muda (anak-anak) untuk berpikir sampai tahap demikian. sebenarnya perlu juga dalam pembelajaran siswa diberitahukan tentang penggunakan matematika dalam pembelajaran agar dibenak anak tertanam bahwa matematika itu bermanfaat. Walaupun dalam pemikiran matematika tetap disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.

    ReplyDelete
  13. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, wb.
    Saya sangat tertarik pada pertanyaan ke 6 yaitu Bagaimana penjelasan filsafat tentang kesulitan belajar? Petunjuk Dosen menjelaskan bahwa secara filsafat, Kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya Menembus Ruang dan waktu. Kesulitan belajara merupakan kendala yang sering ditemui disetiap pembelajaran oleh siswa. Siswa dikelas yang heterogen memberikan pemahaman yang berbeda-beda pula dan kadang mengalami kesulitan. Sebagai guru kita harus menanggulangi berbagai kesulitan belajar. Kita dapat memfasilitasi siswa agar tidak mengalami kesulitan dan dapat memahami pembelajaran.

    ReplyDelete
  14. Muhammad Fendrik
    18706261001
    S3 Dikdas 2018
    Assalamu'alaikum Wr Wb.
    Saya ingin memberikan komentar berkaitan dengan nomor 8 tentang paradigma filsafat tentang konsep menemukan sendiri (kontruktivisme) dalam proses belajar mengajar aliran konstruktivisme memberikan keleluasaan pada anak untuk aktif membangun kebermaknaan sesuai dengan pemahaman yang telah mereka miliki, memerlukan serangkaian kesadaran akan makna bahwa pengetahuan tidak bersifat obyektif atau stabil, tetapi bersifat temporer atau selalu berkembang tergantung pada persepsi subyektif individu dan individu yang berpengetahuan menginterpretasikan sertamengkonstruksi suatu realisasi berdasarkan pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan. Paradigma konstruk ini sangat diperlukan anak agar pengetahuan yang diperolehnya dapat bertahan lama dalam ingatannya serta mengembangkan pengethauan tersebut dalam konteks atau objek yang lain.

    ReplyDelete
  15. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan nomor 17, bagaimana penjelasan filsafat tentang pembuktian rumus matematika, menurut saya pembuktian rumus merupakan pembelajaran yang sesuai diterapkan ketika siswa berada pada tingkat SMA atau perguruan tinggi. Dimana siswa sudah dapat berpikir secara induksi dan deduksi terkait gabungan dari konsep konsep matematika yang telah dipelajari. Dalam pembelajaran tingkat SD maupun SMP, matematika diajarkan dalam tahap perkenalan hal yang abstrak dan pembentukan skema pada anak. Oleh karena itu, saya rasa kurang sesuai jika pada tingkat dasar siswa sudah diajarkan pembuktian mengingat tahap berpikirnya belum mampu mencapai hal tersebut. Dalam pembelajaran pun,pada tingkat dasar, sebuah definisi saja tidak dianjurkan di kemukan di awal namun harus memberikan hal nyata untuk mengabstraksi konsep matematika agar lebih mudah untuk dipahami siswa tingkat dasar

    ReplyDelete
  16. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat siang Prof.
    Filsafat memiliki pengertian yang sangat luas. Filsafat hadir ditengah-tengah kehidupan manusia. Artinya filsafat dekat sekali dengan kita. Hal yang sama juga terjadi dalam pembelajaran matematika. Setiap pembelajaran memerlukan pikiran dan logika berpikir. Hal ini juga diperlukan dalam belajar mengajar matematika. Filsafat yang dekat sekali atau dapat dikatakan menyatu dengan alam sekitar kita akan membantu dalam belajar mengajar matematika. Bagaimana caranya? Memberikan pembelajaran matematika dengan menggunakan fenomena kontekstual merupakan salah satu contoh filsafat yang bisa digunakan dalam belajar mengajar matematika. Mengapa demikian? Filsafat dapat berbentuk apa saja. Dalam konteks ini, filsafat berbentuk fenomena kontekstual yang digunakan dalam belajar pembelajaran matematika. Adanya makna dari pembelajaran matematika ini membuat siswa juga merasakan secara langsung manfaat belajar matematika itu sendiri. Terima kasih.

    ReplyDelete