Nov 7, 2014

Bagaimana Konsep Membangun Hidup Menurut Kacamata Filsafat

Ass Wr Wb.


Pada hari ini Jumat, 7 Nopember 2014, pada kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika Kelas PM D di R 100 B Pasca Lama pk 10.00 sd 11.40, yang di hadiri oleh 22 mahasiswa, saya mengajukan pertanyaan kepada para mahsiswa : "Bagimana Konsep Membangun Hidup Menurut Filsafat?".


Para mahasiswa diberi waktu beberapa saat untuk menuliskan jawabannya dan menyampaikan di forum klasikal yang kemudian saya berusaha untuk mengkompilekannya dan menayangkan ke posting ini.

Menurut hemat saya konsep hidup adalah konsep yang mendasar, berstruktur, berdimensi, bersifat intensif dan ekstensif, berkaitan dengan masalah pribadi, sosial, ketatanegaraan, adat, suku, tata kemasyarakatan, ideologi, politik, hingga ke tataran spiritualitas atau keyakinan. Oleh karena itu konsep hidup dapat dipandang dari berbagai sudut, tergantung dari mana kita berkehendak memandangnya. Dikarenakan pada kesempatan ini kita sedang dalam melakukan telaah Filsafat Ilmu yang beberapa aspeknya juga terkait dengan konsep hidup, maka perlu juga kita mencoba menelaah bagaimana pandangan filsafat mengenai konsep hidup itu.

Mengingat uraian yang telah saya berikan tersebt di atas, maka saya sebagai Dosen di sini, tidak bermaksud mengintervensi konsep-konsep yang teah terbangun oleh para mahasiswa berdasar pengalaman hidupnya; melainkanjustru ingin memberikan peluang agar kita semua dapat mengetahui pandangan yang satu dengan yang lainnya.

Jawaban atau uraian mahasiswa yang dikarenakan secara teknis memang tidak mengacu kepada suatu referensi tertentu, melainkan hanyalah merupakan refleksi spontan, maka hal yang demikian saya sebut sebagai jawaban yang bersifat hypothetical analyses. Jawaban hypothetical analyses mendasarkan pada intuisi dan penetahuan yang terbangun berdasarkan pengalaman. Tentulah jawaban demikian akan bersifat subjektif, dan kurang berkualitas ditinjau dari sisi ilmiahnya. Oleh karena itu, tahap selanjutnya jika ingin meningkatkan kualitas jawabannya, maka di kolom Comment, para mahasiswa masih mempunyai kesempatan untuk merefleksikan jawabannya berdasar referensi-referensi yang ada. Sebenar-benar referensi konsep filsafat adalah pikiran para filsuf; maka silahkan menggunakan/merefer pikiran para filsuf untuk membuat Comment-comment.

Berikut adalah jawaban-jawaban mahasiswa:

"Membangun hidup adalah berpikir untuk mengadakan yang mungkin ada dengan cara berinteraksi untuk memeroleh kebermaknaan hidup; membangun hidup dapat dilakukan dengan bertindak dan berpikir dengan cara menerjemahkan dan diterjemahkan, dengan bertindak hidup menjadi tidak kosong, dengan berpikir hidup menjadi tidak buta; membangun hidup dapat dilakukan dengan cara silaturkahim, di mana sebenar-benar silaturakhim adalah kketika sesama manusia dapat saling memahami dan memberikan kebaikan kepada orang lain; membangun hidup perlu dilakukan dengan semangat dan ikhlas, serta berusaha memunculkan gagasan-gagasan baru dalam setiap tindakan kehidupan untuk memeroleh hidup yang lebih hidup; dalam membangun hidup harus ada sinergi antara apa yang dipikirkan dengan hati karena hati merupakan aspek spiritualitasnya, karena sesungguh-sungguhhidup adalah untuk beribadah kapada Allah SWT agar apa yang kita ikhtiarkan mendapat ridhlonya; membangun hidup memerlukan modal pengetahuan dan ilmu, kemudian dipraktekan dan dipadukan dengan nilai-nilai spiritual, sehingga sebenar-benar yang membangun hidup adalah kebermanfaatan bagi orang banyak; hidup seharusnya dibangun dengan berpikir yang diimplementasikan dengan ikhtiar dan doa, dan semua komponen atau aspek kehidupan seyogyanya berlangsung secara selaras dan harmonis; membangun hidup dapat dilakukan dari hal-hal yang kecil dimana kemudian dikembangkan menjadi hal yang lebih luas yang meliputi sifat-siat yang ada dan yang mungkin ada, sehingga akan memeroleh saling keterkaitan antara unsur-unsurnya; membangun hidup juga dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan misalnya formal dan normatif; untuk membangun hidup kita memerlukan pengetahuan untuk apa dan kemana hidup itu dan dengan kesadaran di dalam ruang dan waktunya; membangun hidup dalam filsafat dapat dilakukan dengan cara membangunpikiran yaitu mengidentifikasi tesis, anti-tesis dan melakukan sintesis sehingga kita mampu mengonstruksi pengetahuan sekaligus hidup itu sendiri; membangun hidup dalam filsafat adalah usaha untuk memahami makna dari fenomena dan noumena melalui pikiran kita; hidup seharusnya hidup yaitu adanya perkembangan dari waktu ke waktu ditandai dengan adanya perubahan sikap dan pikiran agar kita saling mengisi, melengkapi dan menerima; membangun hidup perlu dilakukan dengan cara menggunakan dan menyukuri apa yang telah dimilikinya dengan sikap tidak berlebihan dalam ucapan dan tindakan, serta berusaha berpikir dan bertindak dengan baik dan bermanfaat bagi orang lain;membangun hidup adalah menempatkan aspek hidup dalam ruang dan waktu yang tepat dengan cara menggunakan hati yang bersih dan pikiran yang jernih agar dapat terhindar dari segala keburukan dan dapat memeroleh segala kebaikan; membangun hidup perlu dilakukan dengan cara melakukan refleksi yaitu melihat ke dalam pikiran kita tentang apa yang ada dan yang mungkin ada di dalam dan menuju spiritualitas; kunci dalam membangun hidup adalah keikhlasan dan bersyukur atas segala nikmat dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memeroleh kehidupan yang lebih baik; dalam membangun hidup kita perlu secara terus menerus mengembangkan potensi untuk bekal mengarungi samodra kehidupan yang sangat luas; membangun hidup juga merupakan usaha menyinergikan tesis dan anti-tesis untuk menggapai harmoni dengan cara selalu berikhtiar secara ikhlas; membangun hidup juga dapat dimaknai sebagai mengonsep, menjalankan, dan mengusahakan keadilan dalam setiap partisi kehidupan sebagai sebuah sintesis dari proses penyiptaan dan penghambaan; yang perlu diingat adalah bahwa di dalam kehidupan terdapat permasalahan-permasalahan yang silih berganti sehingga dapat digambarkan sebagai struktur berdimensi dari sifat-sifat ber dua kutup yang saling berhermenitika; dan yang terakhir bahwa dalam setiap hidup itu haruslah ada pengharapan sehingga akan memeperkokoh usaha untuk melakukan ikhtiar yang sesuai dengan tuntunan yang diberikan oleh Tuhan YME."

Saya mengapresiasi dan mengucapkan syukur alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan kepada kita semua sehingga pada kesempatan yang baik ini telah mampu memroduksi notion-notion perihal aspek kehidupan ditinjau dari kacamata filsafat. Mohon maaf karena terbatasnya ruang dan waktu sehingga saya tidak mampu menyebutkan nama mahasiswa kontributor satu persatu.

Khusus untuk mahasiswa yang terlibat dan berkontribusi dalam pemikiran di atas, masih dapat memberikan tanggapan atau komen dengan cara meningkatkan kualitas notionnya dengan lebih merefer atau merujuk pada pikiran para filsuf khususnya Sumber Primer atau Sekunder.

Demikian saya berharap kontribusi dari para pembaca yang budiman untuk menambah atau memerbaiki atau mengritisi dari karya-karya mahasiswa tersebut di atas.

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Amin

Wss. Wr Wb

Dosen ybs

Marsigit


10 comments:

  1. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan diatas saya ingin berpendapat mengenai pemikiran salah satu mahasiswa yakni "Membangun hidup kita memerlukan pengetahuan untuk apa dan kemana hidup itu dan dengan kesadaran di dalam ruang dan waktunya". Mengetahui tujuan hidup kita masing-masing, tentu dibutuhkan agar kita memiliki arah yang jelas. Menentukan ilmu-ilmu apa yang lebih kita konsenkan untuk pelajari, walau tentu saja kita juga belajar tentang ilmu yang lain. Menentukan arah hidup juga diperlukan agar kita tidak lalai akan sesuatu dan terus berusaha untuk mencapai tujuan tanpa mngenal lelah dan terus bertawakal.

    ReplyDelete
  2. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM:17701251032
    PEP S2 B

    Matur suwun pak. Membangun hidup menurut saya adalah hidup itu sendiri. Jika dalam konsep hidup terdapat masalah pribadi, sosial, ketatanegaraan, adat, suku, tata kemasyarakatan, ideologi, politik, hingga ke tataran spiritualitas atau keyakinan, serta hal lainnya, maka menurut saya membangun hidup adalah menjaga beberapa aspek tersebut agar senantiasa berjalan. Menjaga dengan apa? Menurut saya dengan keseimbangan pikir dan hati, masuk juga dimensi ruang dan waktu, agar kita dapat membangun hidup yang bermanfaat. Karena bisa saja hidup itu kurang bermanfaat atau bahkan tidak bermanfaat. Mungkin kalau saya boleh mengambil contoh dalam kehidupan saya, saya menemui satu hal dalam dunia perkuliahan saya, sebut saja UAS. Maka proses membangun hidup pada diri saya aalah dengan menjalankan UAS dengan keseimbangan hati dan pikiran (mempersiapkan diri dengan belajar dan membekali diri denan berdoa). Setelah itu, saya letakkan sudut pandang saya pada UAS yang saya tempuh tersebut; untuk mengejar nilai bagus kah?; atau benar-benar untuk mencari ilmu? Sudut pandang yang akan saya ambil itulah yang akan menetukan saya dalam mencapai kebermanfaatan hidup. Mungkin itu cara saya membangun hidup, salah satunya

    ReplyDelete
  3. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A

    Konsep hidup manusia tentunya adalah mencari kehidupan yang lebih baik. Untuk mencapai hal tersebut manusia harus memiliki arah dan tujuan. Dalam mewujudkannya maka diperlukan pengetahuan sebagai alat berpikir manusia dalam menjalani kehidupannya. Sehingga hidup yang dijalani lebih kritis dan bijaksana. Sebagai umat Islam, pengetahuan yang dicari harus berlandaskan kepada Al-Qur’an dan hadits. Pengetahuan yang diperoleh nantinya dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul dalam perjalanan hidupnya agar tidak melenceng dari aturan agama. Untuk membuat keputusan yang benar juga diiringi dengan pengetahuan sehingga terwujud kehidupan yang baik.

    ReplyDelete
  4. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya membangun hidup adalah meningkatkan terus kualitas hidup tanpa mengganggu kehidupan orang lain. Setiap orang memiliki hak untuk membangun hidupnya tanpa gangguan atau intervensi dari orang lain. Oleh karena itu, untuk dapat membangun hidupnya, sesorang harus fokus untuk menggali potensi—potensi yang ia miliki, sehingga ia akan terus berkembang dan justru dapat membantu orang lain bahkan masyarakat untuk membangun kehidupan mereka. Jadi membangun hidup itu seperti membangun rumah atau istana sendiri, dimana orang lain juga dapat berteduh di dalamnya.

    ReplyDelete
  5. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Membangun hidup dalam konsep spiritual adalah yang paling tinggi. Hidup merupakan karunia dari Tuhan. Allah SWT menciptakan manusia untuk menjadi kholifah di bumi. Menjalani hidup kaitannya dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Manusia percaya bahwa seluruh kehidupannya nantinya diminta pertanggung jawaban setelah di akhirat. Oleh karena itu dalam membangun hidup sebagai orang yang beragama sudah menyangkut konsep membangun hidup sebelunya, yaitu mengumpulkan harta untuk menghidupi dirinya dan keluarga, mencari ilmu setinggi-tingginya serta menjalani kehidupan sebaik-baiknya dengan berbuat kebaikan.

    ReplyDelete
  6. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum Wr.Wb
    Terimakasih pak atas postingannya, saya akan mencoba untuk menyampaikan argumen saya.
    Menurut saya membangun hidup adalah usaha manusia untuk maju, dengan cara kreatif. Membangun hidup adalah usaha untuk mencapai tujuan hidup sesuhngguhnya. Sebagai makhluk tuhan yang paling lemah, kita hanya bisa berusaha dan doa dalam keikhlasan. Syukuri apa yang ada saat ini, dan berusaha untuk mendapatkan lebih. Setiap manusia harus punya dorongan untuk berfikir kritis, kreatif dan berjuang untuk membangun hidup. Bahwa sebenar-benarnya hidup adalah orang yang mampu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, dan berjuang atas sesuatu yang diharapkan.

    ReplyDelete
  7. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Konsep membangun hidup dapat diintensifkan dan ekstensifkan. Konsep tersebut juga berdimensi dan berhierarki. Jika dipersempit, saya memandang konsep membangun hidup sebagai proses mengembangkan ilmu pengetahuan. Merujuk pada Immanuel Kant, pengetahuan merupakan hasil dari pengalaman yang digeneralisasikan dengan melibatkan intuisi murni. Kita mempersepsikan pengalaman kita dengan menggunakan intuisi murni sehingga kita bisa mendapatkan pemahaman. Menurutnya, pengalaman tanpa adanya intuisi murni tidak akan menjadikan pemahaman di dalam pikiran kita.

    ReplyDelete
  8. Junianto
    PM C
    17709251065

    Sedikit mengutip dari tulisan di atas bahwa Membangun hidup adalah berpikir untuk mengadakan yang mungkin ada dengan cara berinteraksi untuk memeroleh kebermaknaan hidup dan dilakukan dengan bertindak dan berpikir dengan cara menerjemahkan dan diterjemahkan. Selain itu, membangun hidup dapat dilakukan dengan cara silaturahim. Jadi, sebenarnya membangun hidup itu punya berbagai macam makna menurut masing-masing orang. Membangun hidup bukan semata-mata bagaimana kita bisa hidup, seperti terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan papan. Menurut saya konsep sepertiini adalah konsep paling sederhana, karena hidup itu haruslah bermakna dan bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  9. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Konsep membangun hidup menurut saya merupakan cara kita bagaimana mempersiapkan diri secara matang dengan berusaha belajar secara maksimal agar bisa menutupi kekurangan secara perlahan-lahan dan berusaha memperbesar peluang meskipun peluang kesuksesan hanya terlihat seperti sebuah celah. Sesuatu tidak ada yang tidak mungkin jika kita benar-benar berusaha mewujudkannya karena seperti sebuah pepatah usaha tidak akan pernah membohongi hasil. Namun terlepas dari itu kita juga tidak boleh mengabaikan unsur-unsur agama agar memperoleh kesuksesan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan yang tidak kalah penting dalam membangun konsep kehidupan adalah jadilah pribadi yang bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan.

    ReplyDelete
  10. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Menurut saya, membangun hidup adalah ibarat membangun rumah. Membangun rumah memerlukan proses yang panjang. Panjangnya proses tersebut pun tergantung rumah seperti apa yang ingin kita bangun. Misalkan rumah sederhana berlantai satu, mungkin hanya membutuhkan waktu empat bulan, namun untuk membangun rumah mewah lantai dua dengan sebuah menara memerlukan waktu 1,5 tahun. Begitu juga dengan membangun hidup. Hidup seperti apa yang ingin kita miliki? Masing-masing orang lah yang harus menentukan hidup seperti apa yang ingin dimiliki, kemudian bisa membangunnya. Dalam membangun rumah, kita membutuhkan pondasi sebagai langkah awal. Pondasi seperti apa yang diinginkan? Apakah yang biasa saja atau yang kuat? Begitu juga dalam membangun hidup, kita memerlukan pondasi, yaitu menurut saya adalah agama/kepercayaan, norma, dan prinsip. Agama yang kuat adalah bukti bahwa seseorang mempercayai adanya Tuhan, Sang Pencipta jagad raya, sehingga tidak akan takabur ataupun cepat merasa sombong. Norma adalah aturan, dalam masyarakat, dalam berbangsa dan bernegara.

    Indonesia adalah negara yang memiliki tata krama dan budaya masih sangat dijunjung tinggi di masyarakat, sehingga norma-norma yang telah ada sejak zaman dulu pun masih dipegang. Prinsip adalah hal yang dipegang teguh oleh seseorang. Prinsip masing-masing orang berbeda, sehinga saya tidak dapat menjelaskannya di sini. Namun yang saya tahu, prinsip adalah bukti keteguhan seseorang. Seseorang dalam hidupnya haruslah memiliki prinsip. Dengan adanya ketiga hal ini sebagai pondasi hidup, apa-apa yang dilakukan akan sesuai dengan ketiga hal, yaitu agama, norma, dan prinsip. Syukur-syukur bila prinsip hidup tidak bertolak belakang dengan agama dan norma. Kemudian langkah selanjutnya adalah memilih bahan-bahan bangunan untuk membangun rumah. Jika ingin rumah yang kokoh, seseorang akan memilih bahan yang baik. Memilih bahan bangunan sama seperti ketika membangun hidup, kita memilih hal-hal yang dilakukan setiap harinya. Misalkan pagi hari, saya memiliki opsi untuk bangun dari tempat tidur, berolah raga pagi, atau tetap di tempat tidur. Jika saya memilih untuk tetap di tempat tidur, tentu saya akan membuang-buang waktu dengan berbaring dan menjadikan waktu yang saya gunakan untuk membangun hidup saya semakin panjang.

    ReplyDelete