Nov 8, 2014

Elegi Konferensi Internasional II Para Transenden




Oleh Marsigit

Transenden Ketua:

Wahai para Transenden, dari perbedaan diantara engkau semua apakah kira-kira kita bisa mencari solusi yang adil bagi semua transenden yang ada. Silahkan!

Transenden Dunia Barat dan Transenden Dunia Utara:
Hemm...gampang saja untuk mencari solusi persoalan dunia secara adil itu. Adil itu harus berdasar fakta, potensi dan manfaatnya. Jika seseorang punya kompetensi 10 maka tidak adil jika hanya diberi haknya 5. Jika seseorang mempunyai kompetensi 4 maka tidak adil kalau menuntut haknya 9. Bukankah engkau tahu bahwa Dunia Barat dan Dunia Utara itu telah bekerja dan berkarya banyak. Menurut refleksiku maka kerja dan karyaku itu perlu mendapat nilai 10. Maka keadilah yang pantas buat Dunia Barat dan Dunia Utara adalah mendapatkan haknya yang 10 itu. Jika kami hanya mendapat haknya di bawah 10 maka itu namanya tidak adil.

Transenden Dunia Timur dan Transenden Dunia Selatan:
Hemm...gampang saja untuk mencari solusi persoalan dunia secara adil itu. Adil itu harus berdasar norma, konteks dan local genious. Jika seseorang berasal dari Dunia Timur dan Dunia Selatan maka dia harus memperoleh hak sesuai dengan karakteristik dunia Timur dan Dunia Selatan. Jika tidak demikian maka tidak adil namanya. Maka saya agak keberatan dengan kriteria adil dari Dunia Barat dan Dunia Utara. Saya juga agak keberatan dengan inervensi Dunia barat dan Dunia Utara terhadap Dunia Timur dan Dunia Selatan. Dari pada selalu merugi lebih baik aku tidak usah bergaul dengan Dunia Barat dan Dunia Timur.

Transenden Ketua:
O.oo..sebentar. Aku menangkap nuansa yang berbeda dari dua dunia yang berbeda. Jika dibiarkan maka Dunia Barat dan Dunia Utara cenderung menguasai dan mengeksploitasi Dunia Timur dan Dunia Selatan. Tetapi agak sulit jika kita sudah berbicara fakta. Wahai Dunia Timur dan Dunia Selatan, kenyataannya berbicara lain. Faktanya, tiada sudut-sudut pintumu yang dapat tertutup oleh karena teknologi dan kecanggihan pengaruh Dunia Barat dan Dunia Timur. Jika engkau tetap bersikukuh tidak mau bergaul maka dalam jangka pendek engkau akan mengalami degradasi identitasmu. Dalam jangka panjang engkau akan kehilangan jati dirimu. Bagaimana menurut pendapatmu?

Transenden Dunia Timur:

Wahai Transenden Ketua. Aku tidak setuju dengan kriteria pembagian dunia oleh dirimu. Ketahuilah bahwa sejarah perkembangan diriku menyatakan bahwa walaupun di masa lampau aku itu engkau sebut sebagai Dunia Timur, tetapi dikarenakan pergaulan eleganku dengan Dunia Barat dan Dunia Utara serta karena kuatnya kepribadianku maka aku sekarang telah menjelma menjadi Dunia Timur Barat Utara. Tidak masalah aku bergaul dengan Dunia Barat dan Dunia Utara. Ketahuilah kompetensi-kompetensiku justru hampir menyamai bahkan melebihi kompetensi Dunia Barat dan Dunia Utara. Aku sekarang telah menjadi ancaman nyata bagi mereka. Aku telah merebut pusat perdagangan mereka. Memang aku mengakui bahwa aku agak bersifat kanibal, artinya untuk menjamin kehidupan duniaku maka aku juga ikut-ikutan untuk mengekploitasi Dunia Selatan.

Transenden Dunia Selatan:
Oh..Transenden Ketua. Oh..Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara...ternyata aku menemukan bahwa sebagai dunia itu harus bersifat mandiri, karena faktanya sekarang aku tidak mempunyai teman. Aku sebagai Dunia Selatan telah dijadikan ladang eksploitasi dari semua Dunia Maju. Jika aku mampu berjuang untuk bangkit dan menyamai kompetensi Dunia Maju maka siapa yang akan dijadikan lahan eksploitasi. Jika mereka subyek maka siapa obyeknya. Maka akan bertentangan dengan hukum alam karena akan di dapat subyek tanpa obyek. Aku merasa iba kepada Dunia Maju jika mereka kehilangan obyek eksploitasi. Oh..kok lucu..sebagai satu-satunya obyek korban eksploitasi kok merasa iba dengan para subyek pengeksploitasinya. Tak sadar aku sudah terkena anomali. Wah ternyata dikarenakan sejarah panjangku tereksploitasi maka aku mengalami hancur-hancuran, mengalami krisis multidimensi. Repotnya kesempatan emas yang ada selalu disia-sikan baik oleh para Pemimpinnya maupun oleh rakyatnya. Aku tidak pernah menggapai kesadaranku. Ibarat mendengar suara pesawat terbang. Ketika suara itu datang, maka bayangan pesawatnya sudah pergi. Oh nasib..nasib.. itulah pantas mengapa semua penghuniku mengalami anomali atau komplikasi. Sebesar-besar anomali adalah anomali dunia selatan. Tidak peduli presiden, menteri, pejabat, rokhaniawan, guru, dosen, mahasiswa, para bankir, tokoh politik ...semuanya mengalami anomali. Semakin biasa pemandangan produk baru dari anomaliitu. Tawuran antar kampung, tawuran antar desa, tawuran antar mahasiswa, tawuran antar anggota dpr, dst. Kanibalisme mulai menggejala, mutilasi mulai menggejala, hukum rimba juga mulai menggejala. Ibarat lingkaran syaetan..maka dimulai dari manapun tidak akan membawa solusi. Oh..nasib..nasib...aku menjadi teringat kesombongan seorang Profesor dari Dunia Utara yang mengatakan kepadaku “Aku kaya karena miskin..sedangkan engkau miskin karena kaya”. Kenapa wilayahku yang begitu luas, kenapa hartaku yang begitu melimpah malah membuat diriku menjadi fakir miskin. Aku telah menjadi fakir buktinya aku tidak pernah memahami setiap skenario meraka dalam mengekploitasiku. Aku telah menjadi miskin buktinya aku selalu menanti dan meminta bantuan dan sumbangan dari mereka.

Transenden Ketua:
Wahai ...Dunia Selatan ...engkau itu bicara apa komat-kamit sendiri. Ingat waktumu untuk bicara adalah terbatas. Sampaikan secara singkat apa pokok persoalanmu untuk kemudian jika mungkin nanti kita rundingkan dengan para Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara.

Transenden Dunia Selatan:
Oh...wahai Transenden Ketua..maafkanlah daku. Dari semua Transenden yang ada ternyata hanya diriku sendiri yang mengalami sakit. Tetapi sakitku itu tidak main-main. Aku mengalami sakit ontologis yaitu anomali pada segenap unsur-unsurku. Maka aku bicara dan bertindak apapun di hadapan para Transenden yang lain, tidak akan pernah sinkron, tidak akan pernah betul dan bersifat aneh serta lucu bagi mereka. Semakin banyak aku bicara semakain tampak bahwa diriku itu bersifat anomali.

Transenden Ketua:
Singkat saja..karena waktunya hampir habis.

Transenden Dunia Selatan:
Aku menyerah tanpa syarat.

Transenden Ketua:
Apa maksudmu menyerah tanpa syarat?

Transenden Dunia Selatan:
Karena tidak ada solusi terbaik dari segala persoalan duniaku, maka dengan ini aku menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara. Silahkan mereka bebas menerapkan segala syarat-syarat eksploitasi mereka kepada diri kami. Hanya satu saja permintaan saya kepada mereka yaitu “agar aku tetap diberi hak hidup di dunia kami sendiri”.

Transenden Ketua:
Wahai Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat dan Utara. Engkau telah mendengar sendiri pernyataan menyerah tanpa syarat dari Dunia Selatan. Hanya satu permintaan mereka yaitu agar tetap diberi hak hidup di dunianya sendiri.

Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara:
Hah aku ingin berkata dalam hati “Permintaan untuk hidup adalah permitaan yang bodhoh. Emangnya hidup itu tidak pakai syarat-syarat. Pernyataan menyerah itu sendiri sudah menunjukkan bahwa Dunia Selatan itu mengakhiri hidupnya alias mati. Maka permintaan agar tetap diberi hak hidup di dunianya sendiri itu sebetulnya sudah terjawab. Yaitu tidak mungkin dikabulkan karena lha memang dia itu sudah mati atau sudah tiada. Karena Dunia Selatan telah tiada maka tidak ada pula haknya, tidak ada pula sifatnya, tidak ada pula pikrannya, tidak ada pula karyanya, tidak ada pula tulisannya, tidak ada pula jejaknya, tidak ada pula kegiatannya, tidak ada pula orangnya yang mengikuti konferensi internasional, tidak ada pula kompetensinya, tidak ada pula harga dirinya, tidak ada pula hak memiliki, tidak ada pula ...yang terakhir ...akan segera terwujud tidak ada pula ..namanya”

Transenden Ketua:

Wahai Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara, di ajak bicara malah ngedumel sendiri. Bagaimana tanggapanmu mendengar pernyataan menyerah tanpa syarat dari Transenden Dunia Selatan?

Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara:

O..oo..o iya...iya..iya aku menerima dengan baik. Akan aku jamin hak hidup Transenden Dunia Selatan selama dia mengikuti semua syarat-syarat dan kepentinganku. Aku ingin tersenyum dalam hatiku dan berkata "Tetapi ketahuilah wahai Transenden Dunia Selatan, benar kata Bagawatku tuan Francis Bacon bahwa Ilmu itu adalah Kekuasaan. Ketahuilah aku sekarang berkuasa atas dirimu itu dikarenakan Ilmuku. Ilmuku itu termasuk menggunakan dan memanfaatkan jargonmu untuk meniadakan jati dirimu. Ketahuilah bahwa salah satu jargonmu yang aku gunakan adalah Si Fakir itu akan menjadi Miskin dan si Miskin itu juga akan menjadi Fakir. Maka Jejaring Sistemiku telah dan akan menghisap semua cairan kehidupanmu. Dan untuk menjamin kelangsungan hidupku dan menghidupi anak cucuku, maka bagaimanapun aku akan selalu berusaha agar engkau tetap Fakir dan tetap Miskin. Inilah juga pembalasanku kepadamu karena berani-beraninya engkau pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, engkau menggebug diriku dan menyatakan kemerdakaanmu. Apa bekalmu berani bertindak seperti itu. Nyatanya engkau hanya puas maunya hanya sebagai Ada Merdeka, tetapi tidaklah ada kemampuan Mengada Merdeka dan Pengada Merdeka. Itulah sebenar-benar tindakan bodhohmu. Dan tindakan bodhohmu itulah yang membawa kematianmu". Huh hah hah hah hah....

42 comments:

  1. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini, saya setuju jika Indonesia seaharusnya berani untuk mengambil langkah tegas untuk menghentikan eksploitasi terhadap SDM maupun SDA oleh Negara lain. Perlu adanya kebijakan pemerintah yang tegas untuk mengatasi hal tersebut. Generasi muda yang terlena dengan kemudahan dan kenikmatan teknologi dan informasi yang semakin berkembang ini tidak menyadari hal tersebut. Indonesia seharusnya bersyukur atas kenikmatan SDA yang telah diberikan dengan menjaga dan memanfaatkannya dengan baik dan bertangggung jawab serta mencegah adanya eksploitasi yang menguntungkan pihak tertentu dan dapat merugikan rakyat Indonesia di kemudian hari.

    ReplyDelete
  2. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Sebagai bangsa yang telah merdeka, tidak cukup apa yang kita mau dengan kata merdeka itu jika semua yang kita lakukan untuk bangsa kita masih dalam angan. Janganan untuk bangsa kita, saat ini untuk memerdekakan diri kita masing-masing saja masih susah untuk diperjuangkan, walalupun kata-kata merdeka itu sudah digenggaman. Perjuangkan hak, dan majukan kemampuan kita, jangan pernah mau untuk dimanfaatkan oleh bangsa lain, jika memang kita tidak mendapat manfaat pula dari hal-hal itu. Simbiolis mutualisme, diibaratkan hubungan yang baik adalah seperti, bukan dengan hanya kita yang dimanfaatkan dan semakin tenggelamlah kita karena dibodohi oleh bangsa lain.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Jika bisa diumpamakan, Indonesia merupakan bagian dari dunia selatan pada elegi ini. Masyarakat Indonesia menyukai yang serba instan, bersifat konsumtif, terlena dengan kemudahan dan kenikmatan teknologi yang ada, sehingga tidak menyadari bahwa negaranya sedang di ekploitasi secara besar-besaran oleh negara-negara lain. Hal tersebut berupa eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kekayaan SDA yang melimpah tapi masih rendahnya kualitas SDM di Indonesia, kurangnya pengetahuan untuk mengolah secara baik menjadikan mudahnya negara lain untuk melakukan eksploitasi. Masyarakat Indonesia dengan mudahnya melakukan ekspor beberapa SDM yang masih mentah, dan perusahaan asing yang mengolah dan hasil olahan tersebut diimpor ke Indonesia, masyarakat Indonesia masih belum bisa bertindak sebagai produsen. Salah satu PR terbesar bangsa ini adalaha bagaimana meningkatkan kualitas SDM. Memang tidak mudah untuk menyelesaikan masalah ini, diperlukan usaha keras dan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat Indonesia.

    ReplyDelete
  4. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2017

    Penjajahan pada saat ini bukan lagi penjajahan yang scara langsung menggunakan senjata api dan perang. Ada banyak cara untuk menjajah suatu kaum, diantaranya masuk pada kaum tersbut dan hancurkan mental dan moralnya. Begitulah yang telah terjadi saat ini, negara kita saat ini sendang dijajah secara halusoleh bangsa lain. Modus jajahannya sangat cerdik menyelinap dan bernia utnuk menguasai segala yang ada milik Indonesia. Wajar terjadi, karena negara mulai keropos, SDM tak lagi kompatible dan warganya tidak total dalam melindungi kekayaan yang dimiliki.

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Memang suatu hal yang bagus jika kita menyadari akan kekurangan dan keterbatasan kita. Seperti dalam elegi ini, dunia selatan mengakui keterbatasan dan kekurangannya jika dibandingkan dengan dunia barat, timur, dan utara. Namun hendaknya sadar akan keterbatasan jangan lantas disertai dengan rasa menyerah. Kita harus terus berusaha, yakinlah bahwa kita juga dapat maju seperti mereka.

    ReplyDelete
  6. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dunia selatan:
    Karena tidak ada solusi terbaik dari segala persoalan duniaku, maka dengan ini aku menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara. Silahkan mereka bebas menerapkan segala syarat-syarat eksploitasi mereka kepada diri kami. Hanya satu saja permintaan saya kepada mereka yaitu “agar aku tetap diberi hak hidup di dunia kami sendiri”.
    Sangat menyedihkan jika kita ibaratkan Indonesia adalah dunia selatan yang tidak bisa mencari solusi atas masalahnya sendiri dan akhirnya menyerah pada negara-negara lain asalkan tetap dibiarkan hidup. Padahal kenyataannya Indonesia adalah negara yang kaya raya akan sumber daya alam yang tidak dimiliki negara-negara lain.

    ReplyDelete
  7. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Hidup jangan lah berputus asa seperti transenden dunia selatan yang menyerah dengan semua permasalhan yang menimpangan sehingga semangat untuk bertahan tidak ada lagi. Berbicara adil maka adil itu apabila kedua nya mendapat keduanya sama atau setara. Memang konsep dan pengertian adil menurut orang berbeda-beda, duni selatan , timur, utara barat aja berbeda konsep nya. Sehingga dapat disimpulkan berbeda-beda itu indah. Hargailah perebedaan itu akan tetapi dengan perbedaan itu kita jangan sampai menyerah sebelum berperang.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Adil itu ketika kita melakukan sesuatu sesuai dengan keadaaan yang ada dan tidak melanggar aturan yang ada. Untuk berlaku adil sangatlah sulit, dengan perkembangan yang pesat baik bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan manusia serakah ingin menguasai dunia. Namun, tidak semuanya demikian sebagian juga tetap profesional dalam menggunakan ilmu pengetahuan yang ia miliki. Karena mampu menjaga dan menahan diri untuk tetap baik dan kaya hati. Sesuatu bisa mengarah pada hal baik dan buruk tergantung dengan diri kita masing-masing. Sama halnya dengan ilmu bisa menjadi bahaya atau bermanfaat bergantung pada si pemilik ilmu tersebut. Karena pada saat ini senjata paling menakutkan bukanlah lagi senjata api dan sejenisnya, melainkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka untuk itu pintar saja tidak cukup haris diimbangi dengan emosional dan spiritual yang kuat.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Saat ini banyak orang pintar namun buruk moralnya. Merekalah menjadi sebagian dari orang yang menghancurkan dunia ini. Contohnya yaitu orang pintar yang memiliki kedudukan tinggi malah melakukan korupsi. Selain itu orang pintar dan menguasai teknologi malah melakukan kejahatan. Kemudian keadaan negara kita ini sedang dijajah secara halus oleh bangsa lain yang dengan cerdiknya mampu menyelinap dan berniat menguasai segala yang ada. Hal ini terjadi karena dasar negara mulai keropos, SDM manusia tidak mampu berlaku profesional dan tetap total dalam melindungi negeri ini. Sifat cinta tanah air telah menurun hanya memikirkan diri sendiri. Maka pendidikan saat ini harus lebih keras menilai dan membentuk karakter anak bangsa yang menjunjung tinggi nilai keadilan.

    ReplyDelete
  10. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Tipu daya dan 'iming-iming' memang menjadi senjata ampuh dunia barat untuk menyerang dunia selatan. Dengan segala kekuasaannya mereka seperti menjadikan dunia selatan sebagai budak mereka. Sumber daya yang meliputi sumber daya alam maupun sumber daya manusia menjadi bahan eksploitasi negara barat dikarenakan bangsa kita sendiri belum ammpu mengelola dengan baik. Sangat disayangkan Indonesia dengan potensi yang sangat bagus diperdaya oleh negara lain. Ini menjadi 'PR' bagi generasi muda untuk memajukan dan mengembangkan sumber daya di Indonesia.

    ReplyDelete
  11. Indonesia seharusnya tidak perlu takut dengan dunia barat, timur, selatan ataupun yang menegelilinginya. Sesungguhnya merekalah yang takut jika kita Indonesia berani berdikari, bangga dengan apa yang ada, bersyukur dengan kekayaan yang kita miliki.Subhanallah berapa banyak kekayaan yang berlipah di anugerahkan kepa kita. itu hal yang patut dan harus disyukuri dengan cara memelihara, dan juga mempertahankan agar apa yang kita miliki tidak di eksploitasi oleh para transenden. Sudah waktunya para murid cerdas bangkit menunjukkan kearifan dan kesantunannya. Kita adalah kita bukan siapa-siapa yang bisa diberdaya oleh para transenden itu. mari bangun dan tunjukkan kepedulian untuk membangun negeri tercinta.

    ReplyDelete
  12. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan elegi di atas, terdapat kengerian saat membaca tulisan “Aku kaya karena miskin..sedangkan engkau miskin karena kaya”. Menurut saya, hal tersebut sangat menyindir saya sebagai bangsa Indonesia dimana Indonesia yang telah diakui kekayaan sumber daya alamnya namun seperti tidak memiliki apapun karena seperti telah dikuasai oleh negara lain dan hutang yang sangat menumpuk. Kekayaan Indonesia sangat tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyatnya, karena tingkat kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi. Salah satu penyebabnya adalah Indonesia belum bisa mengolah sendiri sumber daya yang ada. Sehingga, Indonesia pasrah, Indonesia seperti Dunia Selatan yang menyerah dan hanya meminta untuk dibiarkan hidup.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Bangsa ini begitu bangga dengan menggunakan hasl karya negara orang lain, dibanding hasil dari negara sendiri. Bangsa ini begitu bangga menggunakan dibandingkan menciptakan. Oleh karena itu melalui pendidikan yang tepat bangsa ini dapat menciptakan SDM yang bermutu dan mengelolah SDA yang melimpah di negara ini dan menghasil peningkatan asset negara yang berkali – kali lipat.

    ReplyDelete
  14. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Sejarah mengajarkan kita untuk selalu berjuang dalam meraih sesuatu tidak penting bagaimana beratnya perjuangan tersebut yang terpenting adalah selalu berusaha yang terbaik mengarahkan segala kemampuan kita. Namun nilai ini sudah mulai luntur dibidang pendidikan, tak ada lagi pejuang pejuang pendidikan yang gigih seperti pejuang kemerdekaan. Sekarang pendidikan telah tergerus arus hedonism sifat konsumtif masyarakat yang nantinya berdampak buruk terhadap perkembangan pendidikan. Semoga dengan elegi ini pikiran kita akan terbuka untuk masa depan.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Melawan penjajah Indonesia bisa tetapi lawan yang dihadapi pada jaman ini bukan penjajah tetapi melawan bangsanya sendiri itu yang menyusahkan. Dan seperti yang sering kita lihat ditelevisi merupakan wujud dari anomali seperti tawuran antar pelajaran atau aksi-aksi yang dilakukan oleh anak-anak sekolah menengah atas yang meresahkan warga dijalan. Itu semua berasal dari keluarga dan lingkungan siswa. Jika semua orang tua menyayangi dan memberikan perhatian terhadap pendidikan anaknya dengan tulus dan selalu memantau kondisi siswa maka aksi-aksi yang merugikan orang lain tidak akan pernah terjadi.

    ReplyDelete
  16. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Persaingan yang makin menjadi antara Negara- Negara berkembang saat ini, maka apa saja dianggap baik jika pemanfaatannya ada di negaranya tanpa melihat siapa yang mengelola. Seperti produk “made in Indonesia” , seharusnya dengan bangga digunakan oleh masyrakat Indonesia juga. Sehingga marilah kita untuk mencintai produk kita sendiri. Jadi kita tidak hanya terlihat merdeka dari luar saja, pentinglah tanggung jawab kita sebagai generasi bangsa ini.

    ReplyDelete
  17. Elli Susilawati
    16709251073

    Sedih sekali jika kita melihat dan merasakan Indonesia saat ini, penjajahan saat ini bukan hanya penjajahan spt di masa lalu, tetapi penjajahan secara tertutup. Banyak hasil alam tambang kita yang dikuasai negara lain, kita hanya sebagai pekerja dan buruh di negeri sendiri. Produk-produk luar negeri mendominasi produk kita. Semoga semuanya dapat berubah dan memerdekakan diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  18. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Indonesia mempunyai banyak potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sayangnya, Indonesia belum mampu memanfaatkan potensi yang ada, sehingga mengundang negara luar untuk memanfaatkan potensi SDA dan SDM di Indonesia. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap masalah ini, jika ini terus terjadi, Indonesia akan terjajah, dan tidak akan bisa maju karena negara lain menguasai SDA dan SDM di Indonesia.

    ReplyDelete
  19. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sungguh menyedihkan segala ketidakberdayaan yang dialami oleh bangsa selatan. Bangsa selatan mengingatkan saya pada Indonesia, negara dengan sumber daya alam melimpah yang sayangnya belum diimbangi dengan kekuatan sumber daya manusianya. Akibatnya, Indonesia bernasib hampir sama seperti bangsa selatan. Indonesia dikuasai oleh bangsa lain yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Sementara itu, Indonesia belum mendapatkan keuntungan yang sepadan. Permasalahan kompleks ini memang tidak mudah untuk diatasi. Sebab, butuh keberanian dan tekad yang besar untuk melepaskan diri dari pengaruh serta ketergantungan pada bangsa asing.

    ReplyDelete
  20. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Globalisasi, memungkinkan tidak ada sekat lagi antara barat, timur, utara maupun selatan. Dunia semakin datar (flat world). Geliat perubahan di ujung timur, akan juga terasa di ujung barat, utara dan selatan, demikian juga sebaliknya. Kekuatan karakter akan menjadi filter yang ideal agar masing masing dunia tetap menjadi dirinya sendiri ditengah marak pesta pora pesta globalisasi sehingga tidak akan kehilangan jati diri. Kekuatan terbesar ada pada manusianya itu sendiri. Seberapa mampu, manusia barat, timur, utara ataupun selatan, memfilter dirinya dari gelombang globalisasi, maka disitulah kemanusiannya di era modern diuji. Think globally, act locally.

    ReplyDelete
  21. Terjajah bukan berarti dari segi fisik saja yaitu adanya bangsa lain yang menguasai suatu negara. Penjajahan sekarang telah berubah dan berjalan secara halus. Penjajahan bisa berupa ekonomi, politik, pendidikan, dan teknologi. Sumber daya alam yang dimiliki oleh suatu negara tetapi dikelola oleh negara asing mungkin merupakan salah satu bentuk penjajahan. Teknologi yang dimiliki masih berupa impor dari negara asing juga dapat merupakan penajajahan. Jika segala hal yang ada di dalam negeri masih diatur atau menggunakan barang-barang atau produk dari luar negeri maka masih mungkin kita mengalami penjajahan. Kemerdekaan berarti kita bisa membuat dan menggunakan produk dalam negeri sendiri. pemerintah dapat mengatur dan menentukan kebijakan tanpa campur tangan dari orang asing. Bahwa pikiran pemerintah dan para bagawat masih didapat dicampuri oleh asing maka mungkin kita belum merdeka.

    ReplyDelete
  22. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Menyadari kekurangan dan keterbatasan bukan berarti menyerah namun terus berusaha dan yakin bahwa kita juga bisa maju seperti mereka bahkan melebihi mereka. Ini juga bisa dengan menjalin kerjasama antar negara yang terbagi menjadi empat kelompok besar, mewujudkan keadilan, semua itu bisa terlaksana apabila semua berpegang pada ketuhanan maka kita semua akan saling menjaga, namun kenyataannya memang persaingan untuk saling menguasai terlanjur terbangun sehingga kita sebagai dunia selatan harus memperluas pengetahuan untuk menghadapi perdagangan bebas yang akan terjadi.

    ReplyDelete
  23. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Berdasarkan elegi diatas saya membayangkan ini bagaikan pertemuan antara negara maju dan negara berkembang. Dimana seperti negara berkembang dijajah atau dimanfaatkan negara berkembang, dan sesuungguhnya ingin sekali terlepas dari negara maju tersebut, tetapi rasanya tak mungkin. Tetapi fakta yang menyedihkan yaitu dimana negara berkembang sesungguhnya menjadi objek eksploitasi para negara maju. Dan parahnya meski ia sadar akan hal tersebut tak ada tidak ada tindakan untuk mencegah hal tersebut yang tercermin dari perilaku para masyarakatnya. Elegi tersebut seolah mencerminkan negara kita Indonesia. Tetapi rasanya ada beberapa hal yang kurang pas jika dikaitkan dengan Indonesia. Seperti sifat masyarakatnya yang menunjukan anomali seperti “Tawuran antar kampung, tawuran antar desa, tawuran antar mahasiswa, tawuran antar anggota DPR, dst. Kanibalisme mulai menggejala, mutilasi mulai menggejala, hukum rimba juga mulai menggejala.” Namun jika dilihat Indonesia turut berkontribusi bagi dunia seperti pemikiran, tulisan, jejak dengan turut menyumbang pemikiran diberbagai ilmu hanya saja kurang terekspose. Ikut serta dalam konferensi internasional dan sebagai salah satu yang didengar pendapatnya seperti konferensi internasional G-20, Opec, Apec dsb. Kompetensinya diakui.

    ReplyDelete
  24. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca artikel di atas saya merasa sedih namun juga termotivasi. Jika Indonesia adalah Dunia Selatan maka menjadi PR yang besar bagi bangsa Indonesia sendiri untuk yang pertama membangun mental bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berani, berkomitmen, dan mandiri. Membangun mental bangsa Indonesia sama halnya dengan membangun Sumber Daya Manusia Indonesia. Salah satunya adalah melalui pendidikan. Dengan meningkatkan kualitas pendidikan diharapkan mampu membentuk karakter dan memfasilitasi kemampuan yang hebat anak Indonesia. Dengan karakter dan kemampuan yang hebat diharapkan kelak akan mampu mengelola SDM Indonesia yang sangat kaya dan melimpah.

    ReplyDelete
  25. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014


    Membangun karakter bangsa dapat dilakukakan oleh siapapun termasuk para pemangku pendidikan salah satunya guru. Seperti yang dilakukan Prof.Marsigit di kelas etnomatematika beberapa waktu yang lalu. Benar bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh para generasi peneerusnya. Yang dialami bangsa Indonesia adalah masih banyak bahkan sebagian besar generasi penerus bangsa memiliki mental yang masih terbelakang. Hal ini menunjukan bahwa kita belum bangkit dari penjajahan 350 tahun silam.

    ReplyDelete
  26. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. ilmu pengetahuan itu memiliki pengaruh yang besar pada hidup dan dunia. Dengan pengetahuan seseorang dapat menguasai dunia, seseorang yang memiliki pengetahuan lebih akan mampu membuat orang-orang menaruh kepercayaan pada dirinya. Manfaatkan ilmu pengetahuan dengan baik, jangan gunakan pengetahuan untuk mengambil keuntungan dari orang lain.

    ReplyDelete
  27. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Setelah membaca elegi Konferensi Internasional II Para Transenden, saya berkaca pada apa yang terjadi saat ini, Negeri yang subur dan kaya akan sumber daya alam nya tidak berarti, tidak dapat menopang kehidupan yang lebih maju, karena berada dalam tahap krisis pada multidimensi. Segala sumber daya alam kita yang melimpah ruah sudah menjadi milik asing, sumber daya manusia yang berkualitas sudah menjadi milik asing. Sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit dan mulai menanta diri bukan untuk menyerah tetapi untuk berusaha mengimbangi kemajuan dunia.

    ReplyDelete
  28. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dunia selatan sebenarnya adalah dunia yang paling kaya. Akan tetapi kenyataannya malah sebaliknya. Dunia selatan tak berdaya menghadapi kuatnya dunia barat, utara, dan timur. Mereka saudara yang ingin mematikan saudaranya sendiri (dunia selatan).

    ReplyDelete

  29. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada awalnya dunia barat dan utara menguasai dunia selatan dan timur. Seiring dengan pergaulan elegan dunia timur kepada dunia barat dan utara, sekarang dunia timur sudah mulai mengimbangi kekuatan dunia barat dan utara.

    ReplyDelete

  30. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dunia barat dan dunia utara merasa bahwa merekalah yang sempurna dan berhak memperoleh nilai 10 untuk penilaian kompetensi mereka. Mereka merasa bahwa mereka terhebat dan yang lain adalah rendah. Mereka berpikir mempunyai hak untuk mengeksploitasi dunia timur dan dunia selatan.

    ReplyDelete

  31. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sumber daya alam yang sangat melimpah di dunia selatan sudah banyak yang dikuasai oleh kelompok asing dari dunia barat, selatan, dan timur. Dunia selatan menjadi sapi perahnya mereka. Rakyat dunia selatan harus bekerja berat untuk mencari kehidupan sedangkan kelompok asing dengan hanya bermodalkan investasi dapat mengeksploitasi rakyat dunia selatan.

    ReplyDelete
  32. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dunia selatan ibarat negara yang sedang berkembang, kemudian dunia barat, utara, dan timur adalah negara yang sudah maju. Walaupun dunia selatan dipandang sebelah mata, akan tetapi banyak juga dari rakyat dunia selatan yang bisa berkiprah di dunia internasional. Semakin banyak tokoh-tokoh besar di dunia selatan maka akan menjadi harapan besar agar dunia selatan tidak hanya menjadi negara yang dieksploitasi.

    ReplyDelete
  33. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Fenomena sekarang ini yang muncul terutama semakin kecil dan kemudahan jangkauan informasi, komunikasi tukar pengetahuan dan condong mengkerucut menjadi satu dominasi persamaan yang terlihat nyata. Perekonomian yang semakin kompleks dapat diakses dengan mudah dengan teknologi, kebudayaan yang seakan tidak terlihat sekat perbedaan semakin kentara dan fenomena lain yang kita bahkan tidak sadar terbawa arusnya.

    ReplyDelete
  34. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Globalisasi merangkap sebagai sebuah corong berbagai kepentingan yang tidak terlihat kasat mata yang pada akhirnya dan kita mau atau tidak mau masuk di dalamnya. Disinilah kita yang bisa pintar memilih mana yang baik untuk tetap dimanfaatkan dan mana yang buruk yang perlu ditinggalkan.

    ReplyDelete
  35. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia memiliki keuniknya masing-masing. Sehingga manusia pun memilik sudut pandang yang berbeda-beda. Dalam elegi ini, memaknainya bahwa setiap sudut pandang memiliki keunggulannya dan kelemahannya masing-masing. Sehingga dalam hal menyikapi ini, janganlah maunya menang sendiri. Namun diharapkan dengan perbedaan ini, semua manusi mempunyai rasa menghormati dan keterbukaan untuk menerima kritik dan saran.

    ReplyDelete
  36. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca Elegi Konferensi Internasional II Para Transenden, pelajaran yang dapat saya peroleh adalah kita harus berusaha terlebih dahulu dan pantang untuk menyerah. Menyerah tanpa syarat bukan merupakan ciri orang-orang yang mampu mengikuti perkembangan zaman seperti sekarang ini. Seseorang menyerah tanpa syarat berarti dia menerima nasib yang menimpa dirinya, bahkan dia tidak melakukan usaha apapun untuk mengubahnya. Oleh karena itu, kita harus menghindari sikap tersebut.

    ReplyDelete
  37. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keadilan maknanya berbeda-beda tergantung dari bagaiamana kondisi dan sudut pandang kita melihatnya. Namun keadilan yang ada di dunia ini maknanya menjadi bergeser. Seperti yang kita tahu bahwa ketidakadilan di dunia ini terus saja terjadi. Dunia Barat yang merupakan negara maju dengan berbagai teknologi canggih masih kurang puas dengan apa yang mereka miliki, mereka menginginkan hak lebih yaitu dengan cara mengeksploitasi negara-negara berkembang yang sebenarnya membutuhkan dukungan dan bantuan dari negara-negara maju. Dari situ kita dapat melihat bahwa ketidakadilan mulai bermunculan dan semakin menyebar di dunia ini.

    ReplyDelete
  38. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas, dijelaskan bahwa terdapat perbedaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Dalam Al-Quran surat Al-Mujadalah ayat 11, Allah SWT berfirman:“…Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”. Oleh karena itu, orang yang berilmu akan lebih dihargai dan dianggap ada oleh orang lain.

    ReplyDelete
  39. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dunia Selatan diibaratkan salah satunya sebagai Indonesia yang dijadikan lahan eksploitasi oleh para negara maju (Dunia Utara, Timur, dan Barat). Indonesia sebetulnya sedang dijajah, tidak diberi hak hidup karena dieksploitasi hartanya. Seharusnya Indonesia lebih tegas menindak eksploitasi besar-besaran ini. Indonesia itu Negara kaya yang seharusnya bisa sejajar dengan negara maju lainnya. Kurangnya ilmu mungkin salah satu alasan mengapa Dunia Selatan di eksploitasi. Namun faktanya banyak orang pintar yang ada di Indonesia. Tapi sedikit orang jujur.

    ReplyDelete
  40. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Globalisasi yang terjadi saat ini membawa dampak, yaitu dampak positif juga sekaligus dampak negatif. Dampak positifnya dalam bidang teknologi, kita menjadi bisa menikmati perkembangan teknologi yang pesat. Smartphone, Gadget, dan aplikasi-aplikasinya yang menjamur menjadi bukti bahwa kita telah mengikuti arus globalisasi.

    ReplyDelete
  41. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Akan tetapi benarkah kita mendapatkan dampak positif lebih banyak dari dampak negatifnya?. Jika kita renungkan sejenak siapa sebenarnya yang diuntungkan dari beredarnya barang-barang canggih tersebut? Apakah bangsa Indonesia? Jawabnya tidak. Justru bangsa asing (dalam elegi digambarkan dunia barat, dunia utara, dunia timur barat utara) yang diuntungkan. Kita dipandang seolah-olah hanya bisa menikmati/memakai, tetapi tidak bisa membuat/berkarya. Kita terlena dengan barang-barang luar sampai-sampai tidak sadar kita belum banyak berkarya.

    ReplyDelete
  42. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Gaya hidup menjadi konsumerisme. Hal ini menjadikan kita akan selalu terjajah oleh bangsa asing. Padahal itu baru dari satu aspek/bidang saja yaitu teknologi, belum bidang yang lain. Jika kita merdeka pada tahun 1945, justru sebenarnya kita belum merdeka sama sekali karena kita sedang dihadapkan dengan yang namanya penjajah era modern (penjajahan ekonomi, sosial, budaya, dan politik). Semoga permasalah bangsa ini cepat terselesaikan.

    ReplyDelete