Nov 8, 2014

Elegi Konferensi Internasional II Para Transenden




Oleh Marsigit

Transenden Ketua:

Wahai para Transenden, dari perbedaan diantara engkau semua apakah kira-kira kita bisa mencari solusi yang adil bagi semua transenden yang ada. Silahkan!

Transenden Dunia Barat dan Transenden Dunia Utara:
Hemm...gampang saja untuk mencari solusi persoalan dunia secara adil itu. Adil itu harus berdasar fakta, potensi dan manfaatnya. Jika seseorang punya kompetensi 10 maka tidak adil jika hanya diberi haknya 5. Jika seseorang mempunyai kompetensi 4 maka tidak adil kalau menuntut haknya 9. Bukankah engkau tahu bahwa Dunia Barat dan Dunia Utara itu telah bekerja dan berkarya banyak. Menurut refleksiku maka kerja dan karyaku itu perlu mendapat nilai 10. Maka keadilah yang pantas buat Dunia Barat dan Dunia Utara adalah mendapatkan haknya yang 10 itu. Jika kami hanya mendapat haknya di bawah 10 maka itu namanya tidak adil.

Transenden Dunia Timur dan Transenden Dunia Selatan:
Hemm...gampang saja untuk mencari solusi persoalan dunia secara adil itu. Adil itu harus berdasar norma, konteks dan local genious. Jika seseorang berasal dari Dunia Timur dan Dunia Selatan maka dia harus memperoleh hak sesuai dengan karakteristik dunia Timur dan Dunia Selatan. Jika tidak demikian maka tidak adil namanya. Maka saya agak keberatan dengan kriteria adil dari Dunia Barat dan Dunia Utara. Saya juga agak keberatan dengan inervensi Dunia barat dan Dunia Utara terhadap Dunia Timur dan Dunia Selatan. Dari pada selalu merugi lebih baik aku tidak usah bergaul dengan Dunia Barat dan Dunia Timur.

Transenden Ketua:
O.oo..sebentar. Aku menangkap nuansa yang berbeda dari dua dunia yang berbeda. Jika dibiarkan maka Dunia Barat dan Dunia Utara cenderung menguasai dan mengeksploitasi Dunia Timur dan Dunia Selatan. Tetapi agak sulit jika kita sudah berbicara fakta. Wahai Dunia Timur dan Dunia Selatan, kenyataannya berbicara lain. Faktanya, tiada sudut-sudut pintumu yang dapat tertutup oleh karena teknologi dan kecanggihan pengaruh Dunia Barat dan Dunia Timur. Jika engkau tetap bersikukuh tidak mau bergaul maka dalam jangka pendek engkau akan mengalami degradasi identitasmu. Dalam jangka panjang engkau akan kehilangan jati dirimu. Bagaimana menurut pendapatmu?

Transenden Dunia Timur:

Wahai Transenden Ketua. Aku tidak setuju dengan kriteria pembagian dunia oleh dirimu. Ketahuilah bahwa sejarah perkembangan diriku menyatakan bahwa walaupun di masa lampau aku itu engkau sebut sebagai Dunia Timur, tetapi dikarenakan pergaulan eleganku dengan Dunia Barat dan Dunia Utara serta karena kuatnya kepribadianku maka aku sekarang telah menjelma menjadi Dunia Timur Barat Utara. Tidak masalah aku bergaul dengan Dunia Barat dan Dunia Utara. Ketahuilah kompetensi-kompetensiku justru hampir menyamai bahkan melebihi kompetensi Dunia Barat dan Dunia Utara. Aku sekarang telah menjadi ancaman nyata bagi mereka. Aku telah merebut pusat perdagangan mereka. Memang aku mengakui bahwa aku agak bersifat kanibal, artinya untuk menjamin kehidupan duniaku maka aku juga ikut-ikutan untuk mengekploitasi Dunia Selatan.

Transenden Dunia Selatan:
Oh..Transenden Ketua. Oh..Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara...ternyata aku menemukan bahwa sebagai dunia itu harus bersifat mandiri, karena faktanya sekarang aku tidak mempunyai teman. Aku sebagai Dunia Selatan telah dijadikan ladang eksploitasi dari semua Dunia Maju. Jika aku mampu berjuang untuk bangkit dan menyamai kompetensi Dunia Maju maka siapa yang akan dijadikan lahan eksploitasi. Jika mereka subyek maka siapa obyeknya. Maka akan bertentangan dengan hukum alam karena akan di dapat subyek tanpa obyek. Aku merasa iba kepada Dunia Maju jika mereka kehilangan obyek eksploitasi. Oh..kok lucu..sebagai satu-satunya obyek korban eksploitasi kok merasa iba dengan para subyek pengeksploitasinya. Tak sadar aku sudah terkena anomali. Wah ternyata dikarenakan sejarah panjangku tereksploitasi maka aku mengalami hancur-hancuran, mengalami krisis multidimensi. Repotnya kesempatan emas yang ada selalu disia-sikan baik oleh para Pemimpinnya maupun oleh rakyatnya. Aku tidak pernah menggapai kesadaranku. Ibarat mendengar suara pesawat terbang. Ketika suara itu datang, maka bayangan pesawatnya sudah pergi. Oh nasib..nasib.. itulah pantas mengapa semua penghuniku mengalami anomali atau komplikasi. Sebesar-besar anomali adalah anomali dunia selatan. Tidak peduli presiden, menteri, pejabat, rokhaniawan, guru, dosen, mahasiswa, para bankir, tokoh politik ...semuanya mengalami anomali. Semakin biasa pemandangan produk baru dari anomaliitu. Tawuran antar kampung, tawuran antar desa, tawuran antar mahasiswa, tawuran antar anggota dpr, dst. Kanibalisme mulai menggejala, mutilasi mulai menggejala, hukum rimba juga mulai menggejala. Ibarat lingkaran syaetan..maka dimulai dari manapun tidak akan membawa solusi. Oh..nasib..nasib...aku menjadi teringat kesombongan seorang Profesor dari Dunia Utara yang mengatakan kepadaku “Aku kaya karena miskin..sedangkan engkau miskin karena kaya”. Kenapa wilayahku yang begitu luas, kenapa hartaku yang begitu melimpah malah membuat diriku menjadi fakir miskin. Aku telah menjadi fakir buktinya aku tidak pernah memahami setiap skenario meraka dalam mengekploitasiku. Aku telah menjadi miskin buktinya aku selalu menanti dan meminta bantuan dan sumbangan dari mereka.

Transenden Ketua:
Wahai ...Dunia Selatan ...engkau itu bicara apa komat-kamit sendiri. Ingat waktumu untuk bicara adalah terbatas. Sampaikan secara singkat apa pokok persoalanmu untuk kemudian jika mungkin nanti kita rundingkan dengan para Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara.

Transenden Dunia Selatan:
Oh...wahai Transenden Ketua..maafkanlah daku. Dari semua Transenden yang ada ternyata hanya diriku sendiri yang mengalami sakit. Tetapi sakitku itu tidak main-main. Aku mengalami sakit ontologis yaitu anomali pada segenap unsur-unsurku. Maka aku bicara dan bertindak apapun di hadapan para Transenden yang lain, tidak akan pernah sinkron, tidak akan pernah betul dan bersifat aneh serta lucu bagi mereka. Semakin banyak aku bicara semakain tampak bahwa diriku itu bersifat anomali.

Transenden Ketua:
Singkat saja..karena waktunya hampir habis.

Transenden Dunia Selatan:
Aku menyerah tanpa syarat.

Transenden Ketua:
Apa maksudmu menyerah tanpa syarat?

Transenden Dunia Selatan:
Karena tidak ada solusi terbaik dari segala persoalan duniaku, maka dengan ini aku menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara. Silahkan mereka bebas menerapkan segala syarat-syarat eksploitasi mereka kepada diri kami. Hanya satu saja permintaan saya kepada mereka yaitu “agar aku tetap diberi hak hidup di dunia kami sendiri”.

Transenden Ketua:
Wahai Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat dan Utara. Engkau telah mendengar sendiri pernyataan menyerah tanpa syarat dari Dunia Selatan. Hanya satu permintaan mereka yaitu agar tetap diberi hak hidup di dunianya sendiri.

Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara:
Hah aku ingin berkata dalam hati “Permintaan untuk hidup adalah permitaan yang bodhoh. Emangnya hidup itu tidak pakai syarat-syarat. Pernyataan menyerah itu sendiri sudah menunjukkan bahwa Dunia Selatan itu mengakhiri hidupnya alias mati. Maka permintaan agar tetap diberi hak hidup di dunianya sendiri itu sebetulnya sudah terjawab. Yaitu tidak mungkin dikabulkan karena lha memang dia itu sudah mati atau sudah tiada. Karena Dunia Selatan telah tiada maka tidak ada pula haknya, tidak ada pula sifatnya, tidak ada pula pikrannya, tidak ada pula karyanya, tidak ada pula tulisannya, tidak ada pula jejaknya, tidak ada pula kegiatannya, tidak ada pula orangnya yang mengikuti konferensi internasional, tidak ada pula kompetensinya, tidak ada pula harga dirinya, tidak ada pula hak memiliki, tidak ada pula ...yang terakhir ...akan segera terwujud tidak ada pula ..namanya”

Transenden Ketua:

Wahai Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara, di ajak bicara malah ngedumel sendiri. Bagaimana tanggapanmu mendengar pernyataan menyerah tanpa syarat dari Transenden Dunia Selatan?

Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara:

O..oo..o iya...iya..iya aku menerima dengan baik. Akan aku jamin hak hidup Transenden Dunia Selatan selama dia mengikuti semua syarat-syarat dan kepentinganku. Aku ingin tersenyum dalam hatiku dan berkata "Tetapi ketahuilah wahai Transenden Dunia Selatan, benar kata Bagawatku tuan Francis Bacon bahwa Ilmu itu adalah Kekuasaan. Ketahuilah aku sekarang berkuasa atas dirimu itu dikarenakan Ilmuku. Ilmuku itu termasuk menggunakan dan memanfaatkan jargonmu untuk meniadakan jati dirimu. Ketahuilah bahwa salah satu jargonmu yang aku gunakan adalah Si Fakir itu akan menjadi Miskin dan si Miskin itu juga akan menjadi Fakir. Maka Jejaring Sistemiku telah dan akan menghisap semua cairan kehidupanmu. Dan untuk menjamin kelangsungan hidupku dan menghidupi anak cucuku, maka bagaimanapun aku akan selalu berusaha agar engkau tetap Fakir dan tetap Miskin. Inilah juga pembalasanku kepadamu karena berani-beraninya engkau pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, engkau menggebug diriku dan menyatakan kemerdakaanmu. Apa bekalmu berani bertindak seperti itu. Nyatanya engkau hanya puas maunya hanya sebagai Ada Merdeka, tetapi tidaklah ada kemampuan Mengada Merdeka dan Pengada Merdeka. Itulah sebenar-benar tindakan bodhohmu. Dan tindakan bodhohmu itulah yang membawa kematianmu". Huh hah hah hah hah....

10 comments:

  1. Junianto
    17709251065
    PM C

    Sungguh perumpamaan yang sangat bagus. Cerita ini menggambarkan adanya pengaruh dunia barat yang sangat besar terhadap dunia yang lainnya, termasuk dunia selatan. Di dalamnya termasuk Indonesia yag saat ini terus dijajah dalam berbagai aspek kehidupan. Secara fisik mungkin tidak terlihat layaknya penjajahan jaman dulu, namun dampaknya jauh lebih besar. Bahkan kita seperti menjadi penumpang d bus milik kita sendiri.

    ReplyDelete
  2. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum. Wr. WB
    Terimakasih atas postingannya pak. Perumpamaan yang luar biasa, dari cerita diatas dapat disimpulkan masih ada yang namanya penjajahan dunia, masih ada yang namanya menjatuhkan dunia, seharusnya antar negara antar belahan dunia harus saling mendukung, membantu sama lain, bukanya menjatuhkan. Disinilah penyebabnya ada yang namanya dunia yang di anggap lemah lalu di jajah. Inilah PR kita bagaimana cara kita membuat hubungan baik antar negara.

    ReplyDelete
  3. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Ilmu adalah hal yang sangat luar biasa. Karena kesenjangan ilmu pengetahuanlah maka dunia barat, dunia utara, dan dunia timur dapat menguasai dan mengeksploitasi dunia selatan dan dunia selatan hanya menyerah tanpa syarat. Disinilah bisa kita lihat bahwa betapa pentingya ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab semua generasi dunia selatan untuk memperjuangkan ilmu agar tidak ditindas lagi oleh dunia barat, utara, atau timur

    ReplyDelete
  4. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Menurut saya sungguh ironi situasi bangsa kita ini prof. Kita merasa hidup padahal kita telah terpedaya oleh kehidupan kontemporer yang dibangun oleh negara-negara maju. Kekuasaan yang mereka miliki karena ilmu mereka yang sekarang jauh lebih maju daripada kita. Kenyataannya kita tidak bisa terbebas dari pengaruh kekuasaan negara-negara maju. Kita belum mampu mengungguli ilmu yang mereka miliki. Bahkan Demokrasi Pancasila dan nilai spiritualitas yang semestinya kita junjung tinggi justru telah pudar akibat berbagai teknologi dan budaya serba instan yang diciptakan oleh negara-negara maju. Kita dibuat terbuai dan tidak sadar bahwa kita tengah diperdaya dengan kehebatan ilmu mereka.

    ReplyDelete
  5. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sungguh sebuah perumpamaan yang menohok, disaaat negara lain 'kaya' dengan keterbatasan wilayahnya, bangsa kita justru dikenal 'miskin' di tengah kekayaan anugerah Tuhan. Apakah yang terjadi, dimanakah letak kesalahannya? SDM? Ilmu pengetahuan? Panggilan jiwa? Ibarat kita diberikan mobil tapi tak bisa mengendarai, lalu kita biarkan seseorang menjadi supir maka terserah padanya mobil akan dibawa kemana. Dan sampai kapanpun kita hanya seorang pengikut, tidak menjadi pengontrol atas apa yang kita punya.

    ReplyDelete
  6. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dunia selatan yang bisa dikatakan dunia yang hidup tanpa adanya keteguhan jiwa guna menjunjung tinggu dunia mereka sendiri. Dunia yang masih belum sadar akan kekayaan yang melimpah sehingga membiarkan dunia lain khususnya dunia barat perlahan menggerogoti kekayaan yang ada. Seharusnya dengan adanya sumber daya manusia yang ada sekarang ini yang memang berbeda dengan zaman dahulu dimana untuk memperoleh pendidikan saja susah, kita semua seharusnya sudahmulai melek akan kekayaan dan akan penjajahan yang berbeda dari dunia lain sehingga secara perlahan potensi-potensi yang ada bermunculan satu persatu guna menyaingi dunia lain. Tidak menutup kemungkinan pada suatu saat dunia selatan yang akan memimpin seluruh aspek ekonomi, politik, dll. Mari kita mulai bergerak tidak hanya mempermasalahkan apa agamamu dan apa sukumu. Mari kita bersama-sama bergotong royong dalam mengembangkan dunia selatan dan berfikir ke depan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  7. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika

    Bismillah

    Pada postingan ini benar-benar menggambarkan secara jelas tentang keadaan dunia saat ini, dan keadaan negara kita yang termasuk dalam salah satu transenden di atas. kita benar-benar harus bangun, agar tidak menjadi mangsa.

    ReplyDelete
  8. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Deskripsi di atas sunguh sangat elegan, kita sebagai orang timur meskipun harus mengadopsi budaya barat begitu juga terhadap sektor pendidikannya namun kita tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan budaya kita sebagai orang timur yang memiliki rasa menghargai, menghormati, lemah lembut dan peduli kepada sesama serta bukan sebagai mahluk yang atheis yang di dalam hidup mempunyai pedoman sebagai mahluk religius.

    ReplyDelete
  9. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Setelah membaca postingan ini, saya memahami bahwa Dunia Transenden Utara dan Barat adalah negara-negara maju di daerah barat sana, seperti amerika dan negara-negara eropa. Kemudian dunia transenden timur adalah Jepang, China, dan Korea. Sedangkan dunia transenden selatan adalah Indonesia. Negara-negara barat dapat dikatakan adalah negara-negara yang maju. Mereka menganggap keadilan adalah jika seseorang diberikan kesempatan atau porsi sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan kemampuan seseorang, seseorang itu sendirilah yang mengukurnya. Maka jika si A menganggap kemampuannya 10, maka ia akan menuntut untuk diberikan kesempatan 10 pula. Lain lagi dengan dunia transenden selatan, yang boleh dikatakan adalah Indonesia. Di Indonesia, keadilan adalah pemberian sesuai dengan kebutuhan. Keadilan terkait juga dengan norma yang berlaku di masyarakat, karena Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi norma-norma. Saat ini, di Indonesia juga menerapkan pasar bebas. Itu berarti dunia transenden barat dan utara dapat mendatangi dunia transenden selatan kapanpun mereka ingin. Yang berbahaya adalah jika pemikiran atau paham-paham dunia transenden barat dan utara kemudian diikuti oleh dunia transenden selatan, yang seharusnya tidak ditelan bulat-bulat, karena dunia transenden selatan adalah negara yang berbudaya dan menjunjung tinggi norma dan kepercayaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam postingan ini dikatakan bahwa dunia transenden selatan mempersilakan dunia transenden lain untuk mengekploitasi segala potensi dirinya, hanya dengan syarat agar membiarkan masyarakat dunia transenden selatan memiliki hak hidup di dunianya sendiri. Padahal dengan keadaan seperti ini, perlahan-lahan masyarakat dunia transenden selatan pun akan mati juga hak hidupnya. Beruntunglah di bidang pendidikan, Indonesia tidak terlalu dipengaruhi oleh dunia transenden barat dan utara, sehingga tetap memiliki karakteristik tersendiri.

      Delete