Nov 8, 2014

Elegi Konferensi Internasional II Para Transenden




Oleh Marsigit

Transenden Ketua:

Wahai para Transenden, dari perbedaan diantara engkau semua apakah kira-kira kita bisa mencari solusi yang adil bagi semua transenden yang ada. Silahkan!

Transenden Dunia Barat dan Transenden Dunia Utara:
Hemm...gampang saja untuk mencari solusi persoalan dunia secara adil itu. Adil itu harus berdasar fakta, potensi dan manfaatnya. Jika seseorang punya kompetensi 10 maka tidak adil jika hanya diberi haknya 5. Jika seseorang mempunyai kompetensi 4 maka tidak adil kalau menuntut haknya 9. Bukankah engkau tahu bahwa Dunia Barat dan Dunia Utara itu telah bekerja dan berkarya banyak. Menurut refleksiku maka kerja dan karyaku itu perlu mendapat nilai 10. Maka keadilah yang pantas buat Dunia Barat dan Dunia Utara adalah mendapatkan haknya yang 10 itu. Jika kami hanya mendapat haknya di bawah 10 maka itu namanya tidak adil.

Transenden Dunia Timur dan Transenden Dunia Selatan:
Hemm...gampang saja untuk mencari solusi persoalan dunia secara adil itu. Adil itu harus berdasar norma, konteks dan local genious. Jika seseorang berasal dari Dunia Timur dan Dunia Selatan maka dia harus memperoleh hak sesuai dengan karakteristik dunia Timur dan Dunia Selatan. Jika tidak demikian maka tidak adil namanya. Maka saya agak keberatan dengan kriteria adil dari Dunia Barat dan Dunia Utara. Saya juga agak keberatan dengan inervensi Dunia barat dan Dunia Utara terhadap Dunia Timur dan Dunia Selatan. Dari pada selalu merugi lebih baik aku tidak usah bergaul dengan Dunia Barat dan Dunia Timur.

Transenden Ketua:
O.oo..sebentar. Aku menangkap nuansa yang berbeda dari dua dunia yang berbeda. Jika dibiarkan maka Dunia Barat dan Dunia Utara cenderung menguasai dan mengeksploitasi Dunia Timur dan Dunia Selatan. Tetapi agak sulit jika kita sudah berbicara fakta. Wahai Dunia Timur dan Dunia Selatan, kenyataannya berbicara lain. Faktanya, tiada sudut-sudut pintumu yang dapat tertutup oleh karena teknologi dan kecanggihan pengaruh Dunia Barat dan Dunia Timur. Jika engkau tetap bersikukuh tidak mau bergaul maka dalam jangka pendek engkau akan mengalami degradasi identitasmu. Dalam jangka panjang engkau akan kehilangan jati dirimu. Bagaimana menurut pendapatmu?

Transenden Dunia Timur:

Wahai Transenden Ketua. Aku tidak setuju dengan kriteria pembagian dunia oleh dirimu. Ketahuilah bahwa sejarah perkembangan diriku menyatakan bahwa walaupun di masa lampau aku itu engkau sebut sebagai Dunia Timur, tetapi dikarenakan pergaulan eleganku dengan Dunia Barat dan Dunia Utara serta karena kuatnya kepribadianku maka aku sekarang telah menjelma menjadi Dunia Timur Barat Utara. Tidak masalah aku bergaul dengan Dunia Barat dan Dunia Utara. Ketahuilah kompetensi-kompetensiku justru hampir menyamai bahkan melebihi kompetensi Dunia Barat dan Dunia Utara. Aku sekarang telah menjadi ancaman nyata bagi mereka. Aku telah merebut pusat perdagangan mereka. Memang aku mengakui bahwa aku agak bersifat kanibal, artinya untuk menjamin kehidupan duniaku maka aku juga ikut-ikutan untuk mengekploitasi Dunia Selatan.

Transenden Dunia Selatan:
Oh..Transenden Ketua. Oh..Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara...ternyata aku menemukan bahwa sebagai dunia itu harus bersifat mandiri, karena faktanya sekarang aku tidak mempunyai teman. Aku sebagai Dunia Selatan telah dijadikan ladang eksploitasi dari semua Dunia Maju. Jika aku mampu berjuang untuk bangkit dan menyamai kompetensi Dunia Maju maka siapa yang akan dijadikan lahan eksploitasi. Jika mereka subyek maka siapa obyeknya. Maka akan bertentangan dengan hukum alam karena akan di dapat subyek tanpa obyek. Aku merasa iba kepada Dunia Maju jika mereka kehilangan obyek eksploitasi. Oh..kok lucu..sebagai satu-satunya obyek korban eksploitasi kok merasa iba dengan para subyek pengeksploitasinya. Tak sadar aku sudah terkena anomali. Wah ternyata dikarenakan sejarah panjangku tereksploitasi maka aku mengalami hancur-hancuran, mengalami krisis multidimensi. Repotnya kesempatan emas yang ada selalu disia-sikan baik oleh para Pemimpinnya maupun oleh rakyatnya. Aku tidak pernah menggapai kesadaranku. Ibarat mendengar suara pesawat terbang. Ketika suara itu datang, maka bayangan pesawatnya sudah pergi. Oh nasib..nasib.. itulah pantas mengapa semua penghuniku mengalami anomali atau komplikasi. Sebesar-besar anomali adalah anomali dunia selatan. Tidak peduli presiden, menteri, pejabat, rokhaniawan, guru, dosen, mahasiswa, para bankir, tokoh politik ...semuanya mengalami anomali. Semakin biasa pemandangan produk baru dari anomaliitu. Tawuran antar kampung, tawuran antar desa, tawuran antar mahasiswa, tawuran antar anggota dpr, dst. Kanibalisme mulai menggejala, mutilasi mulai menggejala, hukum rimba juga mulai menggejala. Ibarat lingkaran syaetan..maka dimulai dari manapun tidak akan membawa solusi. Oh..nasib..nasib...aku menjadi teringat kesombongan seorang Profesor dari Dunia Utara yang mengatakan kepadaku “Aku kaya karena miskin..sedangkan engkau miskin karena kaya”. Kenapa wilayahku yang begitu luas, kenapa hartaku yang begitu melimpah malah membuat diriku menjadi fakir miskin. Aku telah menjadi fakir buktinya aku tidak pernah memahami setiap skenario meraka dalam mengekploitasiku. Aku telah menjadi miskin buktinya aku selalu menanti dan meminta bantuan dan sumbangan dari mereka.

Transenden Ketua:
Wahai ...Dunia Selatan ...engkau itu bicara apa komat-kamit sendiri. Ingat waktumu untuk bicara adalah terbatas. Sampaikan secara singkat apa pokok persoalanmu untuk kemudian jika mungkin nanti kita rundingkan dengan para Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara.

Transenden Dunia Selatan:
Oh...wahai Transenden Ketua..maafkanlah daku. Dari semua Transenden yang ada ternyata hanya diriku sendiri yang mengalami sakit. Tetapi sakitku itu tidak main-main. Aku mengalami sakit ontologis yaitu anomali pada segenap unsur-unsurku. Maka aku bicara dan bertindak apapun di hadapan para Transenden yang lain, tidak akan pernah sinkron, tidak akan pernah betul dan bersifat aneh serta lucu bagi mereka. Semakin banyak aku bicara semakain tampak bahwa diriku itu bersifat anomali.

Transenden Ketua:
Singkat saja..karena waktunya hampir habis.

Transenden Dunia Selatan:
Aku menyerah tanpa syarat.

Transenden Ketua:
Apa maksudmu menyerah tanpa syarat?

Transenden Dunia Selatan:
Karena tidak ada solusi terbaik dari segala persoalan duniaku, maka dengan ini aku menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Dunia Barat, Dunia Utara dan Dunia Timur Barat Utara. Silahkan mereka bebas menerapkan segala syarat-syarat eksploitasi mereka kepada diri kami. Hanya satu saja permintaan saya kepada mereka yaitu “agar aku tetap diberi hak hidup di dunia kami sendiri”.

Transenden Ketua:
Wahai Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat dan Utara. Engkau telah mendengar sendiri pernyataan menyerah tanpa syarat dari Dunia Selatan. Hanya satu permintaan mereka yaitu agar tetap diberi hak hidup di dunianya sendiri.

Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara:
Hah aku ingin berkata dalam hati “Permintaan untuk hidup adalah permitaan yang bodhoh. Emangnya hidup itu tidak pakai syarat-syarat. Pernyataan menyerah itu sendiri sudah menunjukkan bahwa Dunia Selatan itu mengakhiri hidupnya alias mati. Maka permintaan agar tetap diberi hak hidup di dunianya sendiri itu sebetulnya sudah terjawab. Yaitu tidak mungkin dikabulkan karena lha memang dia itu sudah mati atau sudah tiada. Karena Dunia Selatan telah tiada maka tidak ada pula haknya, tidak ada pula sifatnya, tidak ada pula pikrannya, tidak ada pula karyanya, tidak ada pula tulisannya, tidak ada pula jejaknya, tidak ada pula kegiatannya, tidak ada pula orangnya yang mengikuti konferensi internasional, tidak ada pula kompetensinya, tidak ada pula harga dirinya, tidak ada pula hak memiliki, tidak ada pula ...yang terakhir ...akan segera terwujud tidak ada pula ..namanya”

Transenden Ketua:

Wahai Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara, di ajak bicara malah ngedumel sendiri. Bagaimana tanggapanmu mendengar pernyataan menyerah tanpa syarat dari Transenden Dunia Selatan?

Transenden Dunia Barat, Transenden Dunia Utara dan Transenden Dunia Timur Barat Utara:

O..oo..o iya...iya..iya aku menerima dengan baik. Akan aku jamin hak hidup Transenden Dunia Selatan selama dia mengikuti semua syarat-syarat dan kepentinganku. Aku ingin tersenyum dalam hatiku dan berkata "Tetapi ketahuilah wahai Transenden Dunia Selatan, benar kata Bagawatku tuan Francis Bacon bahwa Ilmu itu adalah Kekuasaan. Ketahuilah aku sekarang berkuasa atas dirimu itu dikarenakan Ilmuku. Ilmuku itu termasuk menggunakan dan memanfaatkan jargonmu untuk meniadakan jati dirimu. Ketahuilah bahwa salah satu jargonmu yang aku gunakan adalah Si Fakir itu akan menjadi Miskin dan si Miskin itu juga akan menjadi Fakir. Maka Jejaring Sistemiku telah dan akan menghisap semua cairan kehidupanmu. Dan untuk menjamin kelangsungan hidupku dan menghidupi anak cucuku, maka bagaimanapun aku akan selalu berusaha agar engkau tetap Fakir dan tetap Miskin. Inilah juga pembalasanku kepadamu karena berani-beraninya engkau pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima, engkau menggebug diriku dan menyatakan kemerdakaanmu. Apa bekalmu berani bertindak seperti itu. Nyatanya engkau hanya puas maunya hanya sebagai Ada Merdeka, tetapi tidaklah ada kemampuan Mengada Merdeka dan Pengada Merdeka. Itulah sebenar-benar tindakan bodhohmu. Dan tindakan bodhohmu itulah yang membawa kematianmu". Huh hah hah hah hah....

41 comments:

  1. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dunia Selatan diibaratkan salah satunya sebagai Indonesia yang dijadikan lahan eksploitasi oleh para negara maju (Dunia Utara, Timur, dan Barat). Indonesia sebetulnya sedang dijajah, tidak diberi hak hidup karena dieksploitasi hartanya. Seharusnya Indonesia lebih tegas menindak eksploitasi besar-besaran ini. Indonesia itu Negara kaya yang seharusnya bisa sejajar dengan negara maju lainnya. Kurangnya ilmu mungkin salah satu alasan mengapa Dunia Selatan di eksploitasi. Namun faktanya banyak orang pintar yang ada di Indonesia. Tapi sedikit orang jujur.

    ReplyDelete
  2. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Globalisasi yang terjadi saat ini membawa dampak, yaitu dampak positif juga sekaligus dampak negatif. Dampak positifnya dalam bidang teknologi, kita menjadi bisa menikmati perkembangan teknologi yang pesat. Smartphone, Gadget, dan aplikasi-aplikasinya yang menjamur menjadi bukti bahwa kita telah mengikuti arus globalisasi.

    ReplyDelete
  3. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Akan tetapi benarkah kita mendapatkan dampak positif lebih banyak dari dampak negatifnya?. Jika kita renungkan sejenak siapa sebenarnya yang diuntungkan dari beredarnya barang-barang canggih tersebut? Apakah bangsa Indonesia? Jawabnya tidak. Justru bangsa asing (dalam elegi digambarkan dunia barat, dunia utara, dunia timur barat utara) yang diuntungkan. Kita dipandang seolah-olah hanya bisa menikmati/memakai, tetapi tidak bisa membuat/berkarya. Kita terlena dengan barang-barang luar sampai-sampai tidak sadar kita belum banyak berkarya.

    ReplyDelete
  4. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Gaya hidup menjadi konsumerisme. Hal ini menjadikan kita akan selalu terjajah oleh bangsa asing. Padahal itu baru dari satu aspek/bidang saja yaitu teknologi, belum bidang yang lain. Jika kita merdeka pada tahun 1945, justru sebenarnya kita belum merdeka sama sekali karena kita sedang dihadapkan dengan yang namanya penjajah era modern (penjajahan ekonomi, sosial, budaya, dan politik). Semoga permasalah bangsa ini cepat terselesaikan.

    ReplyDelete
  5. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini yang kami (saya) dapat adalah kebodohannya Transenden Dunia Selatan menjadi terpuruk. Karena ketertinggalannya dia jadi tidak mempunyai posisi tawar. Karena ketertinggalannya dia jadi “kurang” dihormati. Dan karena kekurangannya dia menjadi objek eksploitasi dari transenden-transenden yang lain.

    Terimaksih banyak Pak, elegi ini sangan menginspirasi dan bisa menjadi renungan kami (saya) seperti apa dunia yang kami(saya) tempati saat ini.

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Saat membaca elegi ini saya tertarik dengan Transenden Dunia Timur Barat Utara, karena saya menganggap ketika Dunia Timur dapat "memanfaatkan" pengaruh dari Dunia Barat dan Dunia Utara, membuatnya semakin kuat, seimbang dengan yang lain dan bahkan lebih unggul. Hal ini mencerminkan betapa kita seharusnya lebih fleksibel menerima perubahan namun harus cerdas dalam pemfilterannya sehingga kita masih memiliki ciri khas diri kita sendiri namun dapat menjadikan ciri yang lain sebagai acuan selama hal tersebut bermanfaat.

    ReplyDelete
  7. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari elegi di atas saya berpendapat bahwa Bnagsa Indonesia ini ibaratkan Dunia Selatan. Negeri yang memiliki kekayaan alam yang banyak sekali tetapi tidak mampu memanfaatkannya secara mandiri. Hanya menjadi obyek korban eksploitasi negara-negara maju. Parahnya lagi para pemimpinnya atau tokoh-tokoh masyarakatnya enggan memperjuangkan kemajuan bangsa ini. Sebagian besar enggan untuk bergaul, meperkaya ilmu, dan melakukan inovasi demi memajukan bangsa ini. Indonesia hanya pasrah saja dengan segala peraturan atau standar internasional yang ditetapkan oleh “penguasa dunia”. Hanya berharap agar tetap dapat hidup sebagai negara yang merdeka dan bebas dari penjajahan. Padahal, tanpa disadari dengan sikap kita yang pasrah dan menutup pergaulan internasional seperti itu akan membuat bangsa ini terjajah secara jelas. Tetapi bukan terjajah fisiknya melainkan akhlaknya.
    Kita tidak bisa menyalahkan negara-negara maju yang telah mengeksploitasi negara berkembang seperti Indonesia. Karena pada kenyataannya bangsa kita teutama para pemimpin dan tokoh masyarakatnya masih takut denan kebijakan yang dikeluarkan oleh negara maju. Kita tidak berani membuat kebijakan secara mandiri sesuai karakter bangsa kita. tetapi mengadopsi dari dunia barat yang kemudian secara paksa seolah-olah telah disisipi dengan budaya sendiri. Padahal tidak sama sekali. Sebenarnya kita hanya belum memiliki kemauan yang kuat untuk bersaing dengan negara-negara maju. Pemerintahan kita cenderung malas dan nurut-nurut saja apa kata bangsa barat. Diatur atur ya mau, dieksploitasi ya mau, dibodohi ya mau, dicurangi ya mau, bahkan diracuni juga mau. Hal ini dikarenakan kurangnya ilmu yang dimiliki oleh pemimpin, tokoh masyarakat, bahkan seluruh rakyat indonesia.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  8. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Sungguh miris melihat nasib Dunia Selatan yang saking tidak berdayanya cuma bisa menyerahkan dirinya kepada tiga dunia lain dan harus memohon untuk dibiarkan hidup di dunianya sendiri. Di sisi lain, saya kagum dengan Dunia Timur yang dengan ‘pergaulan elegan’ dibarengi ‘kepribadian yang kuat’ dengan Dunia Barat dan Dunia Utara mampu mengubah dirinya menjadi Dunia Timur Barat Utara. Saya rasa Dunia Selatan juga bisa terbebas dari belenggu dunia lain jika mereka melakukan hal yang sama dengan Dunia Timut Barat Utara, yakni dengan tetap fleksibel memanfaatkan modernisasi yang dibawa oleh dunia lainnya namun tetap membantengi diri dengan nilai-nilai luhur yang sesuai dengan kepribadiannya sehingga tidak semata-mata menjadi budak modernisasi tersebut.

    ReplyDelete
  9. Junianto
    17709251065
    PM C

    Sungguh perumpamaan yang sangat bagus. Cerita ini menggambarkan adanya pengaruh dunia barat yang sangat besar terhadap dunia yang lainnya, termasuk dunia selatan. Di dalamnya termasuk Indonesia yag saat ini terus dijajah dalam berbagai aspek kehidupan. Secara fisik mungkin tidak terlihat layaknya penjajahan jaman dulu, namun dampaknya jauh lebih besar. Bahkan kita seperti menjadi penumpang d bus milik kita sendiri.

    ReplyDelete
  10. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum. Wr. WB
    Terimakasih atas postingannya pak. Perumpamaan yang luar biasa, dari cerita diatas dapat disimpulkan masih ada yang namanya penjajahan dunia, masih ada yang namanya menjatuhkan dunia, seharusnya antar negara antar belahan dunia harus saling mendukung, membantu sama lain, bukanya menjatuhkan. Disinilah penyebabnya ada yang namanya dunia yang di anggap lemah lalu di jajah. Inilah PR kita bagaimana cara kita membuat hubungan baik antar negara.

    ReplyDelete
  11. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamulaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Ilmu adalah hal yang sangat luar biasa. Karena kesenjangan ilmu pengetahuanlah maka dunia barat, dunia utara, dan dunia timur dapat menguasai dan mengeksploitasi dunia selatan dan dunia selatan hanya menyerah tanpa syarat. Disinilah bisa kita lihat bahwa betapa pentingya ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab semua generasi dunia selatan untuk memperjuangkan ilmu agar tidak ditindas lagi oleh dunia barat, utara, atau timur

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Menurut saya sungguh ironi situasi bangsa kita ini prof. Kita merasa hidup padahal kita telah terpedaya oleh kehidupan kontemporer yang dibangun oleh negara-negara maju. Kekuasaan yang mereka miliki karena ilmu mereka yang sekarang jauh lebih maju daripada kita. Kenyataannya kita tidak bisa terbebas dari pengaruh kekuasaan negara-negara maju. Kita belum mampu mengungguli ilmu yang mereka miliki. Bahkan Demokrasi Pancasila dan nilai spiritualitas yang semestinya kita junjung tinggi justru telah pudar akibat berbagai teknologi dan budaya serba instan yang diciptakan oleh negara-negara maju. Kita dibuat terbuai dan tidak sadar bahwa kita tengah diperdaya dengan kehebatan ilmu mereka.

    ReplyDelete
  13. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sungguh sebuah perumpamaan yang menohok, disaaat negara lain 'kaya' dengan keterbatasan wilayahnya, bangsa kita justru dikenal 'miskin' di tengah kekayaan anugerah Tuhan. Apakah yang terjadi, dimanakah letak kesalahannya? SDM? Ilmu pengetahuan? Panggilan jiwa? Ibarat kita diberikan mobil tapi tak bisa mengendarai, lalu kita biarkan seseorang menjadi supir maka terserah padanya mobil akan dibawa kemana. Dan sampai kapanpun kita hanya seorang pengikut, tidak menjadi pengontrol atas apa yang kita punya.

    ReplyDelete
  14. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dunia selatan yang bisa dikatakan dunia yang hidup tanpa adanya keteguhan jiwa guna menjunjung tinggu dunia mereka sendiri. Dunia yang masih belum sadar akan kekayaan yang melimpah sehingga membiarkan dunia lain khususnya dunia barat perlahan menggerogoti kekayaan yang ada. Seharusnya dengan adanya sumber daya manusia yang ada sekarang ini yang memang berbeda dengan zaman dahulu dimana untuk memperoleh pendidikan saja susah, kita semua seharusnya sudahmulai melek akan kekayaan dan akan penjajahan yang berbeda dari dunia lain sehingga secara perlahan potensi-potensi yang ada bermunculan satu persatu guna menyaingi dunia lain. Tidak menutup kemungkinan pada suatu saat dunia selatan yang akan memimpin seluruh aspek ekonomi, politik, dll. Mari kita mulai bergerak tidak hanya mempermasalahkan apa agamamu dan apa sukumu. Mari kita bersama-sama bergotong royong dalam mengembangkan dunia selatan dan berfikir ke depan.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  15. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika

    Bismillah

    Pada postingan ini benar-benar menggambarkan secara jelas tentang keadaan dunia saat ini, dan keadaan negara kita yang termasuk dalam salah satu transenden di atas. kita benar-benar harus bangun, agar tidak menjadi mangsa.

    ReplyDelete
  16. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Deskripsi di atas sunguh sangat elegan, kita sebagai orang timur meskipun harus mengadopsi budaya barat begitu juga terhadap sektor pendidikannya namun kita tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan budaya kita sebagai orang timur yang memiliki rasa menghargai, menghormati, lemah lembut dan peduli kepada sesama serta bukan sebagai mahluk yang atheis yang di dalam hidup mempunyai pedoman sebagai mahluk religius.

    ReplyDelete
  17. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Setelah membaca postingan ini, saya memahami bahwa Dunia Transenden Utara dan Barat adalah negara-negara maju di daerah barat sana, seperti amerika dan negara-negara eropa. Kemudian dunia transenden timur adalah Jepang, China, dan Korea. Sedangkan dunia transenden selatan adalah Indonesia. Negara-negara barat dapat dikatakan adalah negara-negara yang maju. Mereka menganggap keadilan adalah jika seseorang diberikan kesempatan atau porsi sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan kemampuan seseorang, seseorang itu sendirilah yang mengukurnya. Maka jika si A menganggap kemampuannya 10, maka ia akan menuntut untuk diberikan kesempatan 10 pula. Lain lagi dengan dunia transenden selatan, yang boleh dikatakan adalah Indonesia. Di Indonesia, keadilan adalah pemberian sesuai dengan kebutuhan. Keadilan terkait juga dengan norma yang berlaku di masyarakat, karena Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi norma-norma. Saat ini, di Indonesia juga menerapkan pasar bebas. Itu berarti dunia transenden barat dan utara dapat mendatangi dunia transenden selatan kapanpun mereka ingin. Yang berbahaya adalah jika pemikiran atau paham-paham dunia transenden barat dan utara kemudian diikuti oleh dunia transenden selatan, yang seharusnya tidak ditelan bulat-bulat, karena dunia transenden selatan adalah negara yang berbudaya dan menjunjung tinggi norma dan kepercayaan.

    ReplyDelete
  18. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Berdasarkan elegi yang Pak Prof. posting kali ini, sangat menggambarkan kondisi dunia saat ini. Akan tetapi satu hal yang cukup membuat saya membuka mata bahwa dunia selatan yang dibicarakan dalam elegi ini tidak lain merupakan kondisi yang sedang di hadapi oleh bangsa Indonesia. Sedangkan dunia barat, dunia utara dan dunia timur menggambarkan negara-negara maju.
    Sungguh ironis memang situasi yang sedang dihadapi “dunia selatan” yang digambarkan dalam eligi ini, dimana ia berada dalam pengaruh kehidupan dunia yang dibentuk oleh negara maju. Sehingga lama kelamaan “dunia selatan” tidak mampu berbuat apa-apa melainkan hanya pasrah terbawa arus yang dimainkan oleh negara maju. Padahal jika dilihat lebih jauh, justru “dunia selatan” mempunyai lebih banyak “modal” untuk berkembang menjadi negara maju. Akan tetapi ia cepat merasa puas dengan apa yang telah dicapainya saat ini sehingga tidak tergerak untuk terus maju kedepan. Seperti kalimat yang terdapat pada elegi ini, “aku kaya karena miskin, sedangkan engkau miskin karena kaya”.

    ReplyDelete
  19. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Setelah membaca Elegi Konferensi Internasional II Para Transenden, pelajaran yang dapat saya peroleh adalah kita harus berusaha terlebih dahulu dan pantang untuk menyerah. Menyerah tanpa syarat bukan merupakan ciri orang-orang yang mampu mengikuti perkembangan zaman seperti sekarang ini. Seseorang menyerah tanpa syarat berarti dia menerima nasib yang menimpa dirinya, bahkan dia tidak melakukan usaha apapun untuk mengubahnya. Oleh karena itu, kita harus menghindari sikap tersebut.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  20. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ilmu adalah senjata untuk menguasai dunia. Membaca percakapan tersebut menyadari betapa mirisnya dunia Selatan. Kurangnya ilmu menjadikan dunia Selatan menderita di tengah kecukupan sumber daya. Semua di eksploitasi untuk kepentingan yang lain. Banyak hal yang belum dilakukan untuk melanjutkan kemerdekaan yang telah diraih susah payah oleh para pahlawan. Kemerdekaan adalah awal dari perjuangan yang sebenarnya. Marilah bersama-sama berjuang untuk menuntut ilmu agar tidak menjadi bangsa yang terus ditindas dan dieksploitasi.

    ReplyDelete
  21. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada postingan ini, bangsa timur dan selatan seperti menjadi bulan-bulanan dalam konferensi itu, terlebih lagi setelah bangsa timur memiliki pandangan sendiri dalam menjalani kehidupannya. Sehingga tinggallah bangsa selatan sendiri yang berjuang untuk dapat mengembangkan sayapnya ditengah intimidasi oleh bangsa-bangsa lainnya. Banyak cara yang mereka lakukan untuk menjatuhkan bangsa selatan, karena memang mereka adalah negara-negara powernow. Kita sebagai bangsa selatan jangan kalah dengan mereka, kita memiliki karakter tersendiri, kita itu salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, kita itu kaya, kekayaan alam melimpah, tinggal bagaimana kita dalam menyikapinya.

    ReplyDelete
  22. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Sebenarnya negeri adalah negeri yang kaya.Namun, nahkoda kapal tak tau arah mau berlabuh kemana.Tanah ini, adalah tanah surga katanya.Hasil alam berlimpah ruah. Hamparan tanaman dan laut terbentang dimana-mana.Sayangnya,separuh negeri telah dikuasai oleh pihak lain.Berbagai iming-iming dan hadiah yang dijanjikan , berupa kesenangan dan kebahagiaan bagaikan sebuah khayalan yang tak mungkin jadi nyata.Salah satu daerah yang kaya akan emas yaitu daerah timur.Perkembangan teknologi sekarang berkembang pesat, mempunyai sisi negative dan sisi positif,tergantung bagaimana cara kita yang mengendalikannya.Kehadiran budaya asing juga memiliki, 2 potensi yang sama.Perlu memfilter ketika ingin menyerap budaya luar.Jangan sampai budaya sendiri terkikis dan hilang dari peredarannya.Semoga Allah melindungi negeri ini, dari berbagai ancaman yang dapat membahayakan kedamaian .Aminn.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  23. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ilmu yang dimiliki dapat memberikan kekuasaan atas diri sendiri. Namun, alangkah baiknya saat ilmu tersebut memiliki kebermanfaatan bagi orang lain bukan dijadikan sebagai alat untuk mengeksploitasi. Di zaman yang begitu canggih ini berdampak juga bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang berilmu. Karakter yang kuat mampu menjadi pondasi diri untuk menghadapi gejolak dari luar. Penting memiliki kepribadian seperti integritas akademik dan karakter yang membangun agar dapat survive dalam hidup.

    ReplyDelete
  24. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Elegi yang sangat reflektif. Saya mencerna bahwa saat ini pengetahuan cenderung digunakan sebagai alat eksploitasi. Saat pengetahuan semakin berkembang luas, justru banyak yang mengeksploitasi bagian dari dirinya sendiri. Di sinilah letak kesadaran dibutuhkan, yaitu kesadaran untuk berbenah, kesadaran untuk menghidupkan perubahan dan kesadaran untuk berpikir merdeka. Elemen-elemen tersebutlah yang kiranya mampu memberikan ruang kebebasan yang bersifat general.

    ReplyDelete
  25. Jika kita lihat terdapat perbedaan pendapat antar dunia :
    1. Transenden Dunia Barat dan Utara yaitu Adil itu harus berdasar fakta, potensi dan manfaatnya. Hal ini bagus, sehingga seseorang akan dihargai sesuai dengan kemampuan yang telah dilakukannya.
    2. Adil itu harus berdasar norma, konteks dan local genious. Hal ini juga bagus, karena jika manusia disertai dengan karakteristik baik, maka kesejahteraan tujuannya.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  26. Dari semua Transenden ini sebenarnya kita sebagai manusia yang diberi akal pikiran oleh Allah SWT mampu untuk membedakan mana sifat/ketentuan yang baik untuk membentuk bagaimana dunia kita akan terbentuk agar dapat hidup dengan nyaman. Kita dapat mengadopsi kebaikan-kebaikan dari setiap transendennya. Harus bisa memfilter dengan baik hal-hal tersebut agar hal yang buruk tidak ikut.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  27. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam dunia ini, semua transeden saling membutuhkan dan bersaing satu sama lain. Ada yang tetap kuat dan semangat berjuang, namun ada juga yang menyerah setelah menganggap tidak ada hal yang dapat dilakukan lagi. Padahal dengan menyerah maka transeden tersebut telah mengumumkan kematian mereka, sehingga layaknya orang mati, tidak ada daya dan upaya yang dia miliki lagi bahkan harga diri. Sehingga tidak salah jika para transeden yang lainnya memperlakukan dia seperti orang mati. Karena pada hakekatnya mereka telah mati.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  28. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dunia Selatan yang kaya pada akhirnya kalah karena adanya ilmu yang dimiliki oleh Dunia Barat, Dunia Utara, dan Dunia Timur Barat Utara. Dunia Selatan yang kaya menetapkan bahwa dirinya ingin berdiri sendiri tanpa adanya ilmu yang cukup, sehingga Dunia-Dunia lain yang berilmu mengeksploitasi kekayaan Dunia Selatan hingga ia fakir dan miskin. pada akhirnya Dunia Selatan pun menyerah dengan syarat dibiarkan untuk tetap hidup tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri telah dianggap mati oleh dunia-dunia lainnya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  29. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Indonesia merdeka tahun 1945, namun apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Faktanya kemerdekaan yang ada di Indonesia ini, bukanlah kemerdekaan dari banyak sektor, mungkin secara kasarnya hanya masih Ada Kata Merkeda saja. Namun, kehidupan rakyat Indonesia pada umumnya masih jauh dari kata merdeka, merdeka bidang sosial, merdeka bidang ekomomi, merdeka bidang politik, merdeka bidang budaya, dan lain sebagainya. Tugas dan tanggung jawab siapakah itu? Tugas dan tanggung jawab semua warga negara Indonesia. Dalam elegi ini, Indonesia masuk dalam transenden dunia selatan, yang dieksploitasi oleh negara maju yaitu transenden dunia utara barat timur.

    ReplyDelete
  30. Junianto
    17709251065
    PM C

    Secara kasat mata, penjajahan demi penjajahan masih bisa kita rasakan. Penjajahan yang meliputi berbagai bidang baik ekonomi, politik, sosial, dsb. Mungkin tidak memberikan dapak negatif sesaat namun hal ini justrue akan memberikan dampak yang berkepanjangan terhadap anak cucu kita kelak. Maka dari itu, ketahanan ekonomi terutama adalah hal mutlak yang harus segera dicanangkan dan dilaksanakan langkah konkretnya.

    ReplyDelete
  31. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih Prof untuk ilustrasinya. Ilustrasi dan dialog yang menggambarkan secara lebih sederhana dari pergulatan yang terjadi antara dunia barat, utara, timur dan selatan. Dimana kita melihat bahwa dunia selatan, meskipun didukung dengan kekayaan sumber daya alam yang begitu luar biasa namun ketika tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusianya pada akhirnya hanya menjadi santapan bagi belahan dunia barat, timur dan utara yang harus diakui lebih unggul dari segi kualitas sumber daya manusianya.
    setelah kita membaca dialog yang diucapkan transeden dunia timur dan dunia selatan dimana mereka memaknai konsep adil dengan mengedepankan norma atau konteks, kita menyadari bahwa pemaknaan ini dikalahkan oleh transeden barat dan utara dengan konsep keadilan mereka melalui konsep potensi, fakta dan manfaat atau karya. Hal ini memberi catatan bagi kita, bahwa kita harus segera mengejar ketertinggalan kita dalam hal potensi, penemuan fakta, manfaat atau karya

    ReplyDelete
  32. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya membaca elegi ini hingga akhir yang saya rasakan yaitu kesedihan sekaligus kemarahan. Saya sedih ternyata negeri ini merupakan negeri yang telah dianggap tidak ada dengan semua kekayaan yang dimiliki. Kita seperti tidak memiliki kekuatan dan kemampuan untuk melawan dunia luar sana dengan segala kemajuannya. Saya merasa marah ketika kalimat yang menyatakan orang berilmu itu berkuasa terhadap orang yang tidak berilmu. Sebenarnya kalimat ini benar. Namun, jika ditujukan dengan negeri ini aku merasa marah. Bukan marah dengan negeri luar, akan tetapi marah dengan diri sendiri dan pemuda-pemuda, dan masyarakat-masyarakatnya. Banyak sekali orang-orang yang berilmu di negeri ini namun tidak memiliki nyali untuk melawan negeri luar. Sehingga, patut untuk ditanamkan sifat berani dan tidak menerima saja apa yang diberikan oleh negeri luar.

    ReplyDelete
  33. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Terimakasih Prof. atas elegi yang sangat reflective menggambarkan kondisi dunia Selatan yang cukup memperhatikan, Ditengah kekuatan dan kekuasaan dunia barat, dunia Utara dan dunia Timur Barat Utara. Perlu adanya kesadaran dan tekat perubahan dari dunia Selatan agar selamat dari eksploitasi dunia Barat, dunia Utara, dan dunia Timur Barat Utara. Kesadaran akan kekayaan yang dimiliki dan tekat untuk bangkit dan melawan dunia barat, dunia Utara, dan dunia Timur Barat Utara, bukannya malah menyerah tanpa syarat, karena itu berarti kematian dunia Selatan.

    ReplyDelete
  34. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Elegi di atas menggambarkan peradaban dunia pada saat ini dimana dunia dibagi menjadi empat bagian dan dunia selatan merupakan gambaran dari bangsa kita. Refleksi yang dapat saya ambil dari elegi ini adalah bahwa kemerdekaan yang telah kita miliki masih dalam sekedar ada saja, namun dikatakan bahwa kita belum bisa mengada merdeka dan pengada merdeka. Oleh karena itu setiap aspek bangsa harus bersinergi untuk membangun kemandiria bangsa. Agar sumber daya alam kita tidak menjadi sasaran eksploitasi negara lain.

    ReplyDelete
  35. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Ada kebaikan dan keburukan ketika kita memiliki ilmu yang tinggi. Jika kita terlalu mengunggul-unggulkan ilmu, maka kita juga akan jatuh. Tetapi jika kita mengunggulkan ilmu dan sejalan dengan kenyataan itu akan menjadi kebaikan. Contohnya: ketika kita memiliki ilmu yang tinggi dan sampai bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri, kita berfikiran kalau disana lebih baik dan lebih tinggi pendidikannya. Kita akan enggan untuk kembali ke negara asal kita dan lebih memilih menetab, menggunakan ilmu kita untuk orang lain, dan secara tidak langsung kita sudah di kuasai berarti sudah di jajah orang lain. Namun kita tidak menyadari hal tersebut. Kita harus bisa menyadari kekurangan dari negara kita dan bagaimana memperkuat negara kita agar bisa lebih baik dengan ilmu yang kita miliki. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya .

    ReplyDelete
  36. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Ilmu adalah hal yang sangat luar biasa. Karena ilmu, dunia barat, dunia utara, dan dunia timur dapat menguasai dan mengeksploitasi dunia selatan. Lalu apakah yang dilakukan oleh dunia selatan? Jawaban yang sangat memprihatinkan yaitu menyerah tanpa syarat. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab semua generasi dunia selatan untuk memperjuangkan ilmu agar tidak ditindas lagi oleh dunia barat, utara, atau timur

    ReplyDelete
  37. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menurut Tsunzu pada seni berperang, ada enam kesalahan yang bisa menyebabkan kekalahan yaitu pengkhianatan, ketidakpatuhan, kesia-siaan, ketergesa-gesaan, kekacauan, dan kekurangmampuan. Mungkin ke enam-enamnya ada di dunia selatan saat ini. Supaya tidak menjadi obyek eksploitasi maka ke enam hal diatas harus selalu konsisten dihilangkan maupun di reduksi dari dunia selatan. Contohnya adalah kemampuan, dunia selatan harus meningkatkan kemampuan di berbagai bidang, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, militer, dll. Dengan meningkatnya kemampuan maka akan memberikan efek kejut bagi dunia belahan lainnya, sehingga mereka akan berpikir 2 kali untuk mengeksploitasi dunia selatan.

    ReplyDelete
  38. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 P.Mat UNY kelas B 2017

    gambaran yang menakutkan pak, tapi itulah realitanya. jadi terpacu untuk bangkit dan berkarya. jangan sampai hanya berakhir seperti ini dijajah perlahan dan tanpa perlawanan. indonesia harus bangkit. ayo anak muda terus berkarya, menulis dan menulis, we can achieve it.

    ReplyDelete
  39. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    berdasarkan konferensi para transenden terseut, yang membuat transenden barat dan transenden utara maju aialah karena ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka dapatkan. Sedangkan transenden timur mulai melebur dengan kedua transenden tersebut mengejar ketinggalannya walaupun dengan meleburkan jati dirinya sendiri menjadi trandensen yang baru. Transenden timur menyadari eksistensinya, potensi serta kiat untuk maju, sehingga transenden timur sedikit demi sedikit dapat menyusul ketertinggalannya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  40. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Transenden dunia selatan akan selamanya menjadi ladang eksploitasi jika tidak ada usaha yang berarti untuk maju dan mengusung strateginya sendiri. Sangat jelas bahwa para transenden ialah permisalan untuk negara-negara yang ada di dunia, negara barat dan utara yang maju dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya, sedangkan negara timur tengah berkembang menyusul kedua negara tersebut dengan strategi mereka sendiri, sedangkan kita dunia selatan masih pada zona nyaman karena kenyamanan dari "hasil eksploitasi" yang menggiurkan sehingga kita malas untuk keluar dari zona nyaman kita. Mari berkarya, mari maju tanpa meninggalkna identitas kita. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  41. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Pada elegi ini saya dapat menyimpulkan bahwa transenden di sini bermakna sebagai guru yang memiliki kuasa penuh dalam mengkondisikan dan menjadi aktor utama dalam kelas. Hal ini dapat terlihat saat guru dihadapkan oleh berbagai jenis siswa maka guru harus bijaksana dalam menghadapi berbagai siswa tersebut seperti memberikan penilaian sesuai kemampuan siswa. Apabila guru asal-asalan saja dalam membuat penilaian maka akan terjadi peluang yang memungkinkan usaha dan hasil tidak sesuai dengan kenyataan maka siswa yang benar-benar berusaha bisa saja mendapatkan nilai yang lebih rendah atau sama dengan nilai siswa yang belum berusaha maksimal. Hal ini justru merupakan salah satu kerugian apalagi ketika siswa langsung menyimpulkan bahwa untuk apa belajar ketika nilai yang didapatkan tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan, dan siswa mengetahui bahwa guru memberikan nilai asal-asalan.

    ReplyDelete