Oct 8, 2013

Hasil Diskusi dengan Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk Dewasa dan Anak




Dear all,

Berikut adalah kesimpulan sementara hasil diskusi dengan beberapa Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk orang dewasa dan anak kecil:

Marsigit Dr MA, Lecturer at Yogyakarta State University, concludes the following:

"I am sad to find that most of math teachers around the world are unable to differentiate between adults and young math. That's why from time to time, at every educational context, there are always bad news of math teaching practices in term of students' participation and motivation.

Hereby I wish to blame the currently educational systems including recruitment system of math teachers and the system they are prepared to be a math teachers.In the big countries or in the West, this circumstances is very significant.

Therefore, I wish also to blame the currently state that Pure Math and Pure Sciences have been too deep and too far intervening Math Teaching; because significantly, they do not able to perform their accountability in their involvement in Math teaching.

Further, I may label the Pure Math and Pure Science as a Golden Kids of contemporary Power Now; in which not only big countries but also the small ones are now in the state of emergency, confusing, hegemonic, and not in a healthy interaction each other.

The only victim of this situation are the younger learner. They are the victim of adult ambitions (Pure Math, Pure Science through their system and the teachers inside) in the name of technology and contemporary life. That's why we then found that there are more and more unpredictable phenomena reflecting the students' under pressure by their adults.

I wish to call Math teachers who still have their empathy to their young generation to think critically and to do anything to change the situation.

Math teachers should stand beside their young learner and to protect them from inappropriate adults behavior in which their thinking are full of motive and ambitions."

Diskusi selengkapnya masih dapat diakses pada link berikut:

http://www.linkedin.com/groupAnswers?viewQuestionAndAnswers=&discussionID=276248584&gid=33207&commentID=167136771&trk=view_disc&fromEmail=&ut=2uA5P9sed83RY1

Terimakasih

Marsigit, UNY

174 comments:

  1. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika untuk anak lebih menekankan pada kegiatan-kegiatan mencoba oleh anak serta pemberian contoh-contoh. Bagi anak matematika bukan merupakan definisi, sehingga tidak ada definisi bagi anak (SD). Selain itu matematika yang diberikan juga bukan matematika yang abstrak/analitik seperti pada matematika murni. Itu lebih cocok bagi matematika dewasa. Kegiatan yang dapat dilakukan anak yaitu mencari pola, investigasi, dan komunikasi. Maka dari itu kegiatan pembelajaran matematika bagi anak perlu dirancang dengan tidak memaksa anak dengan matematikanya orang dewasa yaitu dengan banyak melakukan kegiatan mencoba sehingga anak mengerti matematika dengan megkonstruknya sendiri dalam benaknya.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Matematika orang dewasa dan matematika anak itu berbeda. Pembahasan ini terkait dengan pure mathematics dan school mathematics. Matematika untuk orang dewasa lebih mengkaji tenatang objek matematika yang sifatnya abstrak, sedangkan matematika untuk anak itu harus disesuaikan dengan tingkatan kognisi anak, serta kajiannya haruslah tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupannya.

    ReplyDelete
  3. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Manusia yang berlainan usia tentu saja memiliki kebutuhan, kompetensi, dan level kemampuan kognitif yang berlainan pula. Hal ini sangat penting dipertimbangkan dalam pengajaran; guru harus memetakan pikiran ketika mengatur segala hal untuk diajarkan berdasarkan pertimbangan usia siswa. Adalah sebuah hal yang signifikan pula bagi seorang pengajar untuk mengetahui siapa siswanya: bagaimana cara belajar mereka, latar belakang sosial-ekonominya, gaya belajarnya yang berbeda-beda, motivasi yang dimiliki, dan banyak faktor lainnya. Dengan memahami secara komprehensif terhadap faktor-faktor ini, seorang guru tidak akan memperoleh kesulitan yang berarti dalam membelajarkan siswanya. Untuk lebih menukik pada pembahasan, kita akan bahas faktor penting yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran bagi siswa yaitu usia.

    ReplyDelete
  4. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Matematika untuk anak sangatlah berbeda dengan matematika untuk orang dewasa. Matematika untuk orang dewasa itu matematika formal sedangkan yang untuk anak lebih kepada matematika konkret, dimana mereka haruslah menemukan matematikanya sendiri melalui pengalaman mereka. Disini selanjutnya adalah peran guru untuk dapat menggunakan metode yang tepat, jangan sampai anak hanya dijejali rumus rumus yang akhirnya merusak intuisi mereka. Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak memang perlu dibedakan karena perkembangan pola pikir mereka juga berbeda. Selain itu kebutuhan belajar antara dewasa dan anak juga berbeda. Tidak semua soal yang dikerjakan oleh orang dewasa dapat dikerjakan oleh anak.

    ReplyDelete
  5. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika untuk dewasa dan anak anak memang seharusnya dibedakan, karena pola pikir dan daya pikirnya berbeda pula, menurut saya pembelajaran untuk anak anak dikemas semenarik mungkin dengan menggunakan games atau media pembelajaran sehingga sejak dini anak anak di ajak untuk menyukai matematika, dengan pengemasan proses pembelajaran yang menarik membuat siswa senang dan tertarik belaajar matematika. sedangka untuk pembelajaran orang dewasa lebih menekankan pada cara menaganalisis suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  6. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perkembangan pola pikir. Pola pikir anak-anak dan orang dewasa tentu sangatlah berbeda. Dalam usianya, tahap pemikiran anak-anak dalam belajar matematika ada pada tahap operasi konkrit yang merupakan tahap dimana anak-anak akan dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Sementara orang dewasa sudah dapat belajar matematika dalam tahap problem soving. Dalam belajar matematika, kemampuan berpikir orang dewasa sudah dapat menganalisis hal-hal yang bersifat abstrak yang tidak dapat dilakukan oleh anak-anak. Selain itu kebutuhan belajar matematika antara orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Hal ini menjadikan perlakuan pemenuhan akan kebutuhan tersebut tentu juga berbeda. Oleh sebab itu, matematika untuk orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan.

    ReplyDelete
  7. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan artikel di atas, dapat dikatakan bahwa matematika untuk dewasa dan anak memang berbeda. Matematika dewasa menjadi beban berat bagi anak dan mengakibatkan rasa tertekan dalam diri anak. Hal tersebut dikarenakan tahapan perkembangan anak yang belum siap dan belum sampai untuk mempelajari matematika dewasa.

    ReplyDelete
  8. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tulisan di atas, saya sangat setuju bahwa pendidikan anak tidak dapat disamakan dengan pendidikan orang dewasa, karena pola pikirnya tentu saja berbeda. Pendidikan anak seharusnya menggunakan hal-hal yang konkret yang ada di lingkungan sekitar, bukan hal abstrak, karena akan sangat sulit untuk dipahami oleh anak.

    ReplyDelete
  9. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan yang telah saya pelajari pada perkuliahan etnomatematika, terdapat teori belajar dari Bruner yang mengemukakan bahwa pembelajaran matematika itu terdiri dari enaktif, ikonik, simbolik. Sesuai dengan tulisan di atas, tahap enaktif inilah yang seharusnya diterapkan untuk anak (TK dan SD), kemudian untuk ikonik dan sudah mengenal simbolik pada anak SMP, dan pada SAMA atau yang lebih tinggi menggunakan simbolik saja.

    ReplyDelete
  10. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pembelajaran untuk orang dewasa atau andragogi dan pembelajaran untuk anak sangatlah berbeda apalagi dalam setiap matapelajaran terlebih lagi dalam pembelajaran matematika. Perbedaan terlihat pada partisipasi siswa atau keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan motivasi siswa maupun guru dalam pembelajaran matematika. Pada faktanya sekarang dalam pendidikan guru lebih mengejar hasil atau nilai daripada proses siswa untuk memahami setiap matapelajaran yang diajarkan, guru menggunakan cara-cara instan dan langsung memberikan konsep tanpa siswa mengetahui asal konsep tersebut diperoleh dari apa. Ego guru yang seperti ini yang harus dihilangkan sedikit demi sedikit agar terwujud pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas.

    ReplyDelete
  11. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematikanya anak memanglah berbeda dengan Matematika dewasa. Matematika bagi anak SD adalah bermain. Sehingga tugas guru SD adalah menyajikan Matematika dalam permainan yang menarik bagi sang anak. Jika anak SD sudah diberikan matematikanya orang dewasa maka jangan heran jika menjadi sulit. Oleh karena itu guru SD harus bisa mengemas materi sesuai dengan usia anak sebagai permainan yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  12. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematikanya orang dewasa adalah matematika murni bersifat abstrak. Hal ini dikarenakan orang dewasa telah mencapai tahap itu. Sehingga perlu dipahami bila matematika murni adalah milik orang yang sudah dewasa jangan sampai diberikan kepada anak-anak karena dapat berakibat sukar. Biarlah setelah mereka dewasa atau sampai mampu untuk berpikir abstrak, formal agar anak-anak tidak salah belajar.

    ReplyDelete
  13. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika untuk dewasa dan anak-anak berbeda. Anak-anak hanya mampu menyerap konsep matematika yang bersifat konkret, sedangkan orang dewasa sudah mampu menyerap konsep matematika yang bersifat abstrak. Oleh karenanya mengajarkan matematika ke anak-anak dengan ke orang dewasa juga jelas berbeda. Jika mengajarkan matematika ke anak-anak kita tidak bisa memulainya dengan definisi/rumus, namun dengan contoh dan non contoh. Berbeda dengan orang dewasa yang bisa memulai belajar matematika dari definisi/rumus.

    ReplyDelete
  14. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya sependapat dengan Bapak Prof. Marsigit tentang banyaknya kabar buruk tentang matematika yang salah satunya diakibatkan karena ketidaksadaran guru untuk membedakan matematika sekolah atau matematika anak dan Matematika bagi orang dewasa. Memang perlu dipertegas perbedaan antara keduanya. Dikarenakan untuk melindungi anak-anak dari Matematika yang belum waktunya mereka pelajari. Ketika anak sudah belajar matematika yang abstrak secara murni maka anak yang tidak siap akan mengalami kecemasan Matematika. Untuk itu penting bagi guru khususnya sekolah dasar dn SMP untuk memerhatikan Matematika sekolah sebagai Matematika yang dipelajari bersama siswa-siawanya.

    ReplyDelete
  15. Dewasa dan Anak tentu berbeda. Berbeda usia, dimensi, pengalaman, pengetahuan, motivasi, rasa percaya diri. Apa yang dapat dipahami oleh orang dewasa belum tentu dapat dipahami oleh anak. Pikiran anak masih senang untuk menuruti egonya sendiri dan lebih mudah belajar dengan cara melihat atau pengamatan pada benda nyata/kongkrit. Matematika yang diajarkan pada anak harus lebih banyak dengan memperbanyak siswa melakukan kegiatan atau percobaan bukan ceramah atau ekspositori. Siswa menemukan sendiri dan memahami sendiri apa yang dipelajari dengan melakukan kegiatan. Pembelajaran untuk dewasa lebih pada diskusi sedang pada anak lebih pada kegiatan.

    ReplyDelete
  16. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya tertarik dengan kalimat Bapak yang berbunyi “The only victim of this situation are the younger learner. They are the victim of adult ambitions...”. Tidak dipungkiri lagi bahwa banyak anak – anak yang takut dengan mata pelajaran matematika yang dianggapnya sulit. Dengan metode pembelajaran yang konvensional, di mana pembelajaran masih bersifat teacher centered, terlihat jelas bahwa siswa hanya diberi ilmu oleh guru tanpa memerhatikan kondisi siswanya. Sehingga terkesan bahwa guru hanya menjalankan tugas dengan mengajar siswa agar siswa paham akan matematika. Sehingga matematika yang diperoleh anak – anka tidak bermakna.

    ReplyDelete
  17. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Matematika untuk dewasa dan anak – anak jelas berbeda. Guru matematika sebaiknya memberikan fasilitas yang baik kepada anak – anak untuk memeroleh ilmu matematika yang baik sehingga anak –anak dapat menggunakan matematika selayaknya dengan fungsinya. Guru bukan sebagai sumber belajar tetapi fasilitator dan mendampingi siswa dalam memeroleh ilmu. Ini sesuai dengan kalimat “Math teachers should stand beside their young learner”. Karena sejatinya matematika untuk anak – anak adalah aktivitas bukan definisi. Karena definisi itu matematika untuk dewasa.

    ReplyDelete
  18. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sudah bukan merupakan rahasia umum bahwa matematika membawa ketakutan tersendiri bagi mayoritas pelajar. Salah satu penyebabnya adalah mungkin dikarenakan karena konten dan metode pembelajaran matematika yang terlalu sulit untuk diikuti oleh anak. Dalam belajar matematika, anak harusnya diajak untuk melakukan sesuatu dengan suatu media nyata, bukan dengan suatu simbol (misal angka). Dari sanalah mungkin munculnya kecemasan matematika karena memang sesungguhnya anak-anak belum dapat menerima sesuatu yang abstrak.

    ReplyDelete
  19. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika sebagai ilmu yang wajib dipelajari oleh anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, memiliki tahapan-tahapan dalam pembelajarannya disesuaikan dengan usia peserta didik saat itu. Salah satu tahapan dalam belajar matematika adalah yang dicetuskan oleh bruner yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Tahapan-tahapan tersebut dirancang agar anak dapat belajar sesuai dengan usianya, sehingga mereka dapat lebih mudah menerima materi yang ingin disampaikan oleh guru.

    ReplyDelete
  20. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Oleh karena matematika memiliki tahapan-tahapan dalam metode penyampaiannya, sehingga sangat wajar apabila saat ini terdapat kecemasan-kecemasan anak dalam belajar matematika. Karena metode/cara penyampaian guru dalam matematika saat ini untuk anak-anak belum dibedakan. Misalnya untuk anak SD yang dituntut untuk bisa mengerjakan 4 × 3, yang faktanya angka adalah merupakan suatu simbol. Jadi sudah seharusnya matematika anak dan matematika dewasa mulai untuk dibedakan agar anak tidak terbebani dan enjoy dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  21. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari tulisan pak Prof diatas, ternyata kesadaran tentang perbedaan matematika untuk dewasa dan anak-anak masih minim, apalagi di dunia. Guru matematika terkadang disiapkan dengan bekal matematika murni, yang sifatnya formal. Sedangkan dalam pembelajaran, dibutuhkan matematika sekolah yang sesuai dengan karakteristik siswa nya

    ReplyDelete
  22. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Matematika yang diajarkan di sekolah dengan matematika murni tidak bisa disamakan. Karakteristik siswa yang dipaparkan oleh Piaget mengarahkan kita bahwa siswa memahami matematika secara intuisi, mengandalkan benda konkrit, dan pembelajarannya adalah menemukan pola, penarikan kesimpulannya berdasarkan contoh dan digeneralisasi.

    ReplyDelete
  23. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sedangkan matematika untuk orang dewasa merujuk kepada matematika formal/matematika murni, berisi hal abstrak dan tidak dapat dibayangkan. Matematika ini memang sesuai dengan kemampuan orang dewasa dalam mempelajarinya, juga digunakan dalam pendalaman suatu konsep matematika tertentu. Sebagai seorang guru maupun calon guru sebaiknya memang mendalami matematika murni, tetapi harus mampu membatasi mana yang disampaikan ke siswa maupun yang digunakan sendiri, sehingga siswa tidak menjadi "korban" akan pembelajaran yang kurang sesuai

    ReplyDelete
  24. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Berdasarkan tulisan yang dibuat oleh pak Marsigit, terlihat bahwa masih banyak guru yang tidak bisa dan tidak tau perbedaan pengajaran untuk dewasa dan anak anak, pembelajaran untuk dewasa dan anak anak tentunya harus berbeda, perbedaan itu karena daya pikir untuk dewasa dan anak anak berbeda, ketika pengajarannya disamakan maka akan adanya ketidaksinkronan dan akan ada salah satu yang tertekan dan tidak berkembang, pembelajaran untuk anak anak lebih menggunakan benda benda konkret agar siswa mudah memahami, namun untuk orang dewasa lebih menggunakan hal hal abstrak.

    ReplyDelete
  25. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Pemberian materi pelajaran matematika dan penilaiannya memang harus sesuai dengan umur pelajar. Namun, apabila matematika dibatasi dengan kepemilikan berdasarkan umur, saya tidak setuju. Sebagai pendidik, kita memang tidak boleh memaksakan pelajaran matematika yang banyak kepada anak-anak. Namun, saya pernah menemukan anak didik yang memiliki kemauan yang sangat tinggi dalam mempelajarinya. Sampai saya hampir mengatakan, “matematika ini bukan untuk anak SMP kayak kamu, ini untuk SMA”. Namun setelah saya pikir, tidak ada salahnya apabila dia ingin mengetahui matematika yang isinya lebih banyak, dan butuh kemampuan tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak rata-rata seusianya. Karena inilah permata pendidikan, “rasa penasaran”. Rasa penasaran tidak terbatas usia. Rasa penasaranlah yang membuat ilmu pengetahuan berkembang sampai saat ini. Jika belajar harus dibatasi oleh umur. Dulu, pernah ada zamannya angka 0 tidak dikenali dan tidak dipelajari oleh orang dewasa. Kesimpulan dari saya, matematika boleh dibatasi dengan porsi-porsi, dan diajarkan berdasarkan kesiapan anak didik. Namun, apabila anak didik butuh, dan menginginkannya, juga tidak bisa disalahkan apabila dia belajar dengan porsi yang lebih banyak.

    ReplyDelete
  26. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Berbagai model pembelajaran diciptakan untuk membantu siswa belajar sesuai kategorinya, dewasa atau muda. Sebagai guru, penting untuk mengetahui apakah seorang siswa cocok dalam menggunakan salah satu metode dan model pembelajaran tertentu.

    ReplyDelete
  27. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak tentu harus dibedakan. Hal ini dikarenakan pola pikir antara orang dewasa dan anak tentu berbeda. Orang dewasa mulai dapat berpikir abstrak sedangkan anak-anak masih berupa bend konkret. Selain itu, kebutuhan matematika antara orang dewasa dan anak juga berbeda. Jadi, pembelajaran matematika untuk orang dewasa dan anak berbeda sesuai dengan karakteristiknya.

    ReplyDelete
  28. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Secara umum dari pemikiran orang dewasa denga anak anak jelas berbeda. Orang dewasa memiliki nalar dan logika yang lebih tinggi dari anak. Begitu juga dengan ilmu matematika yang tergolong abstrak. Oleh karena itu, dalam pembelajaran anak anak pada dasarnya harus diperkenalkan benda yang konkret baru ke abstrak dimana menggunakan konteks kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran dibuat lebih menyenangkan da bermakna bisa melalui konteks bermain. Sementara orang dewasa sudah dapat belajar matematika dalam tahap problem soving. Dalam belajar matematika, kemampuan berpikir orang dewasa sudah dapat menganalisis hal-hal yang bersifat abstrak yang tidak dapat dilakukan oleh anak-anak. Selain itu kebutuhan belajar matematika antara orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Hal ini menjadikan perlakuan pemenuhan akan kebutuhan tersebut tentu juga berbeda. Oleh sebab itu, matematika untuk orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan.

    ReplyDelete
  29. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Matematika orang dewasa dengan matematika anak tentu berbeda. Matematika dewasa tak cocok jika diterapkan untuk anak, begitu pula sebaliknya. Sebagai pendidik, maka harus benar-benar diperhatikan perbedaannya. Matematika untuk anak-anak bukanlah matematika para dewa, tetapi matematika yang lebih memperkenalkan dari hal-hal konkret. Oleh karena itu, ketika melakukan pembelajaran seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan kemampuan anak. Tingkat dan kemampuan anak tersebut dapat kita ketahui dari berbagai teori belajar seperti piage dan yang lainnya. Karena itu akan membantu pendidik dalam menentukan metode apa yang cocok dengan peserta didik.

    ReplyDelete
  30. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Matematika dalam pendidikan dibagi menjadi dua yaitu pure mathematics dan mathematics school. Matematika murni diberikan kepada siswa tinggi seperti mahasiswa karena pure mathematic ini mempelajari matematika yang abstrak. Matematika sekolah adalah matematika yang masuk ke jenjang sekolahan SD SMP yang masih menggunakan realita sebagai objeknya, pada tingkat SMA suda mulai diperkenalkan sedikit tentang keabstrakan matematika.

    ReplyDelete
  31. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Matematika orang dewasa dan anak-anak itu berbeda. Matematika dewasa tidak cocok diterapkan pada pembelajaran matematika anak-anak, begitu pula sebaliknya. Matematika anak-anak bukanlah matematika para dewa, tetapi matematika yang berawal dari kehidupan nyata mereka. Oleh karena itu, ketika melakukan pembelajaran matematika seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan.

    ReplyDelete
  32. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan. Dikarenakan perkembangan pola pikir antara anak- anak dan orang dewasa sangatlah berbeda. Tahap pemikiran anak-anak dalam belajar matematika ada pada tahap operasi konkrit yang merupakan tahap dimana anak-anak akan dapat memahami suatu konsep dalam matematika dengan bantuan benda-benda konkrit. Sementara orang dewasa sudah dapat belajar matematika dalam tahap problem soving.

    ReplyDelete
  33. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Matematika untuk orang dewasa dan anak kecil memanglah berbeda. Saya setuju dengan pendapat dalam artikel ini bahwa banyak guru yang tidak dapat membedakan matematika untuk pemula dan bukan. Kesalahan seperti ini dapat menyebabkan jiwa dan mental anak pemula menjadi tidak terkendali sehingga tidak dapat menerima matematika dengan baik.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  34. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Sistem pendidikan yang menuntut terlalu banyak dari pemula akan membuat mereka terhimpit dengan banyak hal, entah itu aturana tau materi yang seharusnya belum mereka pelajari. Di indonesia sendiri anak kecil mempelajari matematika secara vertical, padahal hal tersebut sangat tidak baik untuk intuisi anak. Hal itu dapat merusak insting anak dalam mempelajari matematika secara horizontal.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  35. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Menindaklanjuti artikel tersebut, sebagai calon pendidik kita hendaknya meningkatkan empati kita pada dunia pendidikan yang saat ini sedang mengalami krisis dalam berbagai aspek. Hal itu dapat dilakukan dengan cara mempelajari metode pembelajaran yang lebih manusiawi dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  36. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. matematika untuk anak kecil merupakan matematika sekolah, sebab anak kecil masih terus belajar dan berusaha untuk mengembangkan matematikanya. Matematika sekolah itu dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, hal tersebut agar anak lebih mudah untuk mempelajari matematika. sendakan matematika untuk orang dewasa, terutama yang bekerja di bidang keilmuan lebih pada matematika murni yang telah terlepas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  37. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saat ini, masih banyak guru-guru di dunia yang mengajarkan anak tentang matematika masih menggunakan pembelajaran matematika untuk orang dewasa. Hal ini tentu akan menjadikan anak-anak tidak menyukai bahkan phobia dengan pelajaran matematika. Yang dimaksud pembelajaran matematika untuk orang dewasa ialah pembelajaran yang sudah bisa menggunakan simbol-simbol atau bentuk yang abstrak. Hal tersebut tentu akan susah dipahami oleh anak-anak.

    ReplyDelete
  38. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika pada anak dan orang dewasa adalah berbeda. Hal ini disebabkan oleh kemampuan berpikir anak masih terbatas terutama dalam membayangkan bentuk-bentuk abstrak. Seperti yang pernah dikatakan Pak MArsigit bahwa pembelajaran matematika untuk anak adalah berbentuk aktivitas, terutama aktivitas yang menyenangkan bagi anak.

    ReplyDelete
  39. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam proses pembelajaran peran guru sangatlah penting, bagaimana guru dapat mengembangkan potensi-potensi siswa-siswanya. Tetapi pada kenyataanya, masih terdapat guru yang salah kaprah dalam penerapan pembelajaran matematika anak yang mana masih saja menerapkan pembelajaran matematika untuk orang dewasa. Pembelajaran matematika anak seharusnya lebih mengedepankan contoh yang nyata agar lebih bermakna untuk anak. Guru harus lebih mengeksplorasi lagi tentang metode-metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran matematika anak.

    ReplyDelete
  40. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan di atas berisi tentang kesedihan karena pendidikan matematika untuk anak masih disamaratakan dengan pendidikan matematika orang dewasa, padahal seharusnya berbeda. Pendidikan anak seharusnya dimulai dari aktivitas untuk menemukan konsep, bukan dimulai dari membelajarkan konsep, karena akan sangat menakutkan bagi siswa, terutama siswa SD.

    ReplyDelete
  41. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya tertarik dengan kalimat yang intinya anak-anak adalah korban, ya, mereka adalah korban dari keegoisan orang dewasa yang memaksakan membelajarkan matematika murni kepada anak-anak. Anak-anak banyak yang takut dengan matematika, tidak suka dengan matematika karena mereka kesulitan memahami rumus, kesulitan mengikuti pembelajaran matematika, itu karena matematika yang diajarkan bukan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  42. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Matematika untuk anak adalah kegiatan, tanpa kegiatan itu bukan matematika. "Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar (SD dan SLTP) dan Pendidikan Menengah (SLTA dan SMK)." matematika adalah kegiatan yang dapat membuat siswa dapat menemukan dan mengkonstruk sendiri pengetahuannya.

    ReplyDelete
  43. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    "Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar (SD dan SLTP) dan Pendidikan Menengah (SLTA dan SMK)". Fungsi matematika sekolah adalah menjadi alat, pola pikir dan ilmu atau pengetahuan bagi siswa (Suheman, 2003).

    ReplyDelete
  44. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Tujuan pembelajaran matematika sekolah menurut Suherman (2003):
    a. mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia nyata yang kita ketahui bahwa dunia kini begitu cepat dalam berkembang. Melalui pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat jujur dan tak lupa efektif dan efisien.
    b. mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematikanya dalam menghadapi kehidupan sehari hari.

    ReplyDelete
  45. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Peranan Matematika sekolah adalah sangat penting. Matematika yang dipelajari sehari hari dapat membantu siswa dalam berhitung, mengolah menafsirkan data, kemudian menyajikan data tersebut. Matematika juga berperan dalam pentingnya siswa untuk dapat melajutkan studi selanjutnya atau tidak.

    ReplyDelete
  46. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika untuk siswa yang masih anak-anak (siswa SD) adalah berwujud aktivitas bahkan untuk SD awal dapat berupa permainan yang dapat mengkonstruksi pemahaman siswa. Akan jadi hal yang fatal apabila anak yang harusnya masih belajar matematika sebagai aktivitas namun sudah diberikan matematika yang abstrak maka dapat merusak intuisinya. Hal ini juga dapat menyebabkan matematika dianggap sulit oleh siswa. Oleh karena itu guru perlu tahu perbedaan matematika dewasa dan anak-anak.

    ReplyDelete
  47. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    menurut saya matematika anak adalah pembelajaran matematika sekolah yang d tujukan untuk membangun konsep berpikir yang tepat. Sedangkan matematika dewasa adalah ilmu yang mepelajari kebiasaan atau pola pola alam yang di jadikan sebagai jalan ma'rifatulloh

    ReplyDelete
  48. Elli susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Mengajarkan matematika kepada anak-anak seperti artikel di atas betul sekali berbeda saat mengajarkan matematika kepada orang dewasa. Mengajarkan matematika kepada anak-anak memang tidak mudah. Anak-anak sebaiknya didekatkan kepada hal-hal yang berbasis kontekstual, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari2. Anak-anak jika diajarkan seperti orang dewasa akan bingung dan mempengaruhi pembelajaran matematika di saat dewasa.

    ReplyDelete
  49. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan untuk anak-anak dan dewasa sangatlah berbeda. perbedaan tersebut dikarenakan prior knowledge yang dimiliki anak-anak lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa. beserta pola berpikir dari orang dewasa tentunya lebih logis dan lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak. sehingga penyusunan pembelajaran di kelas harus dibedakan.

    ReplyDelete
  50. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika untuk anak-anak lebih kepada proses mengkonstruk pengetahuan mereka dengan benda yang konkrit, namun untuk pembelajaran matematika bagi orang dewasa yaitu lagsung dengan matematika formal, dimana langsung menggunakan notasi dan mengarahkan kepada pola pikir yang abstrak.

    ReplyDelete
  51. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran yang kontekstual atau matematika realistik cocok bagi pembelajaran matematika anak-anak. Anak akan lebih senang dengan penggunaan media yang menarik, sehingga proses belajar menjadi menyenangkan dan psikologis anak akan tetap baik. Namun di lapangan sering ditemukan bahwa guru mengajarkan matematika kepada anak-anak langsung secara abstrak, padahal anak-anak masih asing dengan notasi atau simbol-simbol yang abstrak.

    ReplyDelete
  52. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pada proses pembelajaran matematika anak merupakan proses pembelajaran utama dalam pembentukan konsep dalam benak siswa. Menurut teori belajar Jean Piaget, pada usia anak 2-15 tahun, pengamatan sangat penting dilakukan dan menjadi dasar dalam menuntun proses berfikir anak, berbeda dengan perbuatan melihat yang hanya melibatkan mata, pengamatan melibatkan seluruh indra, menyimpan kesan lebih lama dan menimbulkan sensasai yang membekas pada siswa

    ReplyDelete
  53. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut Piaget, praktek pembelajaran hendaknya guru menyesuaikan proses pembeljaran yang dilakukan dengan tahapan-tahapan kognitif yang dimikik anak didik. karena tanpa penyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan kognitifnya guru maupun siswa akan mendapatkan kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

    ReplyDelete
  54. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Contoh pembelajaran yang dapat memberikan makna bagi anak adalah pembelajaran matematika yang beorientasi pada pembelajaran kontekstual atau matematika realistik. Dengan pembelajaran tersebut anak dapat mengaitkannya dalam kehidupan sehari-harinya yang bersifat nyata bukan abstrak.

    ReplyDelete
  55. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari postingan yang saya baca tentang hasil diskusi dengan guru matematika, menurut saya pembelajaran matematika untuk umur anak-anak dan umur dewasa memang sepatutnya dibedakan. Karena usia anak-anak pemikirannya masih berdasarkan apa yang mereka lihat, maka pembelajaran yang harusnya diterapkan pada usia-usia anak anak yaitu pembelajaran yang kontekstual, yang dikaitkan benda-benda konkrit.

    ReplyDelete
  56. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Untuk pembelajaran matematika pada usia dewasa memang sudah bisa diajak berfikir abstrak meskipun sejatinya pembelajaran tersebut juga bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran saat usia anak-anak dipersiapkan sematang mungkin agar saat penerapan pada usia dewasa tidak lagi sulit.

    ReplyDelete
  57. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Jika dilihat, memang pendidik yang mengajar pelajaran pada usia anak-anak lebih mudah dibandingkan usia dewasa. Karena materi pembelajarannya sangat mudah. Tetapi menurut saya, pembelajaran yang sebenarnya itu kalau difikirkan lebih susah saat mengajar usia anak-anak. Karena pada usia anak-anak mereka tidak hanya diajarkan materi saja, tapi juga makna dari pembelajaran itu sendiri dari segi keterkaitan terhadap kehidupan sehari-hari bahkan sampai penanaman karakter -karakter yang bermoral. Karena sejatinya usia anak-anak itu adalah usia dimana proses pembentukan penanaman karakter yang akan melekat sampai usia dewasa.

    ReplyDelete
  58. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika anak-anak dan dewasa jelas berbeda hal ini disebabkan perbedaan perkembangan kognitiv anak anak masih sederhana sedangkan struktur kognitiv orang dewasa sudah dalam tahapan kompleks. Sehingga seharusnya pendekatan pembelajaran matematika anak-anak dan orang dewasa juga berbeda.

    ReplyDelete
  59. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendekatan pembelajaran matematika anak-anak dapat menggunakan pendekatan yang sifatnya kontekstual dan induktif (dapat dibayangkan oleh siswa) seperti Matematika realistik, Etnomatematika, contextual mathematic learning, mathematics in conteks dan lain sebagainya. Sedangkan pada orang dewasa sudah dapat dikenalkan menggunakan pendekatan deduktif yakni berupa definisi , teorema, ataupun lema.

    ReplyDelete
  60. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan matematika yang baik adalah pendidikan yang disesuaikan dengan usia anak ataupun siswa yang akan menerima pembelajaran. Pembelajaran matematika untuk anak-anak tidak dapat disamakan dengan pembelajaran matematika dengan orang dewasa. Hal ini dikarenakan kemampuan dan pola pikir dari anak-anak dan orang dewasa tidak sama. Orang dewasa yang dianggap memiliki kemampuan dan pola pikir yang lebih luas, melakukan pembelajaran yang lebih kompleks terkait dengan pembuktian rumus-rumus, teorema dan aksioma-aksioma. Sementara pembelajaran untuk anak-anak lebih kearah pembelajaran dengan mengandalkan benda-benda konkrit.

    ReplyDelete
  61. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pada saat ini memang masih banyak guru yang mengajar sesuai dengan jalan pikiran guru tersebut sendiri tanpa menyadari bahwa pemikiran orang dewasa dengan pemikiran anak anak itu sangat berbeda. Sebuah konsep yang dianggap mudah oleh logika orang dewasa tidak sejalan dengan logika anak anak, sehingga diharapkan nantinya seorang guru dalam proses pembelajaran memperhatikan perbedaan karakteristik anak didiknya dan bisa memberikan pembelajaran matematika yang sesuai dengan dunia anak-anak

    ReplyDelete
  62. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Seorang guru mempunyai peranan yang penting dalam mempersiapkan masa depan anak didiknya. Guru mengajarkan anak didiknya dari yang tidak tahu menjadi tahu. Akan tetapi sayangnya, kesejahteraan guru belum merata terutama di negara kita. Contohnya, untuk guru-guru honorer yang terkadang pekerjaannya lebih banyak dari guru PNS, digaji 3 bulan sekali dan jumlahnya pun kecil. Untuk guru yang di daerah tepencil, terkadang mereka harus mengajar dengan fasilitas apa adanya dan juga dengan honor yang kecil. Sebenarnya tak masalah bagi mereka, karena mereka mempunyai ikhlas melakukan itu semua. Tetapi, alangkah baiknya jika hal ini ditindak lanjuti. Karena hal ini tidak sebanding dengan guru-guru yang PNS di kota besar. Fasilitas mereka lengkap, gaji mereka datang tepat waktu dengan jumlah yang besar, mengikuti berbagai pelatihan mengajar, dll. Bahkan, dengan keadaan yang seperti itu masih ada yang bermalas-malasan. Semoga hal ini ditindaklnjuti oleh pemerintah dan semoga kesejahteraan guru merata di seluruh Indonesia.

    ReplyDelete
  63. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan pemaparan Bapak Marsigit dalam postingan di atas, saya menyimpulkan alasan mengapa guru sangat berambisi pada para siswanya karena tuntutan kurikulum. Beban materi matematika yang semakin berat, membuat guru terus-terusan forcing dan forcing materi, rumus, soal-soal, pada siswanya, tanpa memberikan kesempatan siswa untuk berkreasi dan berpikir kritis. Maka saya setuju dengan postingan di atas, kalau “younger learner” menjadi korban dalam situasi ini. Untuk menyelesaikan masalah di atas, bukan hanya dari lingkup guru saja yang harus berbenah, melainkan dengan perombakan sistem pendidikan di negara kita.

    ReplyDelete
  64. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Saya setuju bahwa ada perbedaan pemikiran dalam memahami matematika bagi matematika dewasa dan matematika anak. Matematika pada dasarnya adalah ilmu abstrak dan sifat kebenarannya berdasarkan logika dan deduktif (setidaknya itulah matematika dewasa). Terkadang ada seseorang yang memiliki pemahaman matematika dewasa memaksakan pola pemikiran matematika dewasa kepada orang yang masih awam dengan matematika (matematika anak) sehingga membuat orang yang awam terhadap matematika tersebut tertekan. Saya setuju jika mengenalkan matematika kepada anak sebaiknya dengan pendekatan pola pikir si anak itu sendiri, jika memang diperlukan bisa dengan menggunakan visualisasi, intuisi dan secara induktif.

    ReplyDelete
  65. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari artikel di atas, saya dapat merangkum beberapa hal penting. Beberapa diantaranya adalah bahwa kita harus mengetahui perbedaan siswa dan orang dewasa dalam hal pemahaman merekan tentang matematika. Orang dewasa sudah memahami matematika formal yang abstrak sedangkan siswa masih belum paham. Siswa harus dijelaskan mulai dari hal-hal yang konkret karena dunia mereka belum sampai ke matematika abstrak.

    ReplyDelete
  66. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Pengajaran matematika untuk anak-anak dan dewasa tentunya berbeda. Dalam mempelajari matematika, anak-anak masih membutuhkan model atau hal-hal konkrit dan kontekstual. Anak-anak dalam mempelajari matematika membutuhkan alasan mengapa mereka harus mempelajarinya dan untuk apa kegunaannya. Dengan menggunakan model benda konkrit atau masalah yang sesuai dengan konteks kehidupan siswa, diharapkan pertanyaan-pertanyaan semacam “untuk apa saya harus mempelajari ini?” sudah tidak lagi ditanyakan. Sedangkan bagi orang dewasa, matematika yang dipelajari adalah formal mathematics atau bahkan matematika terapan. Orang dewasa sudah mengetahui apa kegunaan matematika yang dipelajarinya dan mengapa ia harus mempelajarinya. Hal ini lah yang masih menjadi problematika di kancah pendidikan matematika Indonesia. Sekarang, sesuai dengan kurikulum 2013, pengajaran di sekolah disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam lingkungannya. Sehingga diharapkan siswa memahami pelajaran, termasuk matematika karena pelajaran tersebut disesuaikan dengan konteks kehidupan siswa. Pendidikan di Indonesia sedang dalam masa bangkit kembali dan melepaskan diri dari model pengajaran yang teacher-centered

    ReplyDelete
  67. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Dari artikel diatas, saya dapat menangkat pembelajaran matematika untuk anak dan dewasa tersebut harus dibedakan. dalam pembelajaran matematika pada anak-anak, pembelajran matematika diajarkan dengan membutuhkan model -model atau alat yang membuat pembelajaran matematika itu dapat dilihat secara nyata, konkrit atau secara kontekstual. berbeda dengan seorang yang sudah dewasa dalam mempelajari matematika karena dalam pemikiran nya sudah matang dan siap dalam mempelajari matematika secara lebih mendalam dalam bentuk konkrit maupun abstrak. Problematika yang dihadapi di Indonesia bahwa beberapa masih berjuang untuk membangkitkan sikap kritis, kreatif dari siswa dengan motivasi yang tinggi, harapan tersebut sesuai dengan kurikulum yang terbaru dalam pendidikan di Indonesia yaitu kurikulum 2013, Sehinggan diharapkan dapat berprogres dengan baik dan mempunyai hasil yang memuaskan.

    ReplyDelete
  68. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Dalam postingan ini telah dirangkum hasil diskusi dengan guru matematika internasional oleh Prof Marsigit. Topik yang diangkat adalah matematika murni dan pendidikan matematika.
    Sebagai tambahan dari komentar saya di atas.

    Saya setuju dengan pendapat bahwa matematika murni sudah ikut campur “terlalu banyak” dalam pendidikan matematika. Pendidikan matematika berbeda substansinya dengan matematika murni. Seperti yang disebutkan dalam postingan ini bahwa matematika murni cenderung formal, sedangkan pendidikan matematika adalah matematika yang terjadi di kehidupan sosial. Pendidikan matematika berangkat dari masalah-masalah yang terjadi di kehidupan kebanyakan orang dalam kesehariannya, sehingga sifatnya general. Sedangkan matematika murni cenderung ke arah matematika terapan, dimana tidak semua orang mampu mengikuti atau memahaminya. Matematika formal yang telah masuk ke matematika sekolah misalnya adalah fungsi eksponen dan logaritma. Ketika mempelajari eksponen dan logaritma, kemungkinan besar siswa belum mengetahui apakah sebenarnya fungsi atau kegunaan dari eksponen dan logaritma? Mengapa harus dipelajari? Seperti itulah sifatnya matematika formal. Berbeda dengan pendidikan matematika yang berangkat dari hal-hal konkret, sehingga harapannya dengan pendidikan matematika pertanyaan "mengapa harus dipelajari" tidak lagi muncul, khususnya dari siswa.

    ReplyDelete
  69. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Pemahaman akan perbedaan matematika sekolah dan matematika formal belum sepenuhnya dapat dimengerti oleh semua matematikawan. padahal, hal tersebut sangatlah penting untuk dimengerti guru maupun orang-orang yang bertugas untuk mencetak guru. ketidak pahaman tersebut pada akhirnya menimbulkan kesewenang-wenangan para petinggi untuk menentukan siapa yang akan mendidik anak-anak bangsa kita, tidak peduli seseorang tersebut berasal dari matematika murni atau pendidikan, selama ia lulus mengikuti tes maka ia akan menjadi guru.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  70. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Matematika bagi orang dewasa dan anak-anak adalah dua hal yang berbeda. untuk anak-anak, konsep matematika yang ia pahami seluruhnya berasal dari intuisi, dari manakah intuisi tersebut ia dapatkan? tentu saja dari pengalaman. pendidik yang mengerti tentang hal ini akan berusaha untuk memberikan berbagai macam aktvitas, pengalaman-pengalaman kepada anak sehingga siswa akan memiliki banyak intuisi dan sesuai yang dapat membantu mereka untuk membangun matematikanya. pendidik yang tidak mengerti akan hal ini akan seenaknya memaksakan matematikanya terhadap siswa tanpa menimbang kebutuhan siswa, matematika yang disampaikan juga akan sangat sulit diterima oleh anak karena anak belum memiliki intuisi yang cukup untuk mencernanya, sehingga bukannya akan membuat siswa menjadi semakin pintar, tetapi malah hanya akan menumbuhkan kebencian sang anak terhadap matematika.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  71. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Pada dasarnya perbedaan pembelajaran matematika untuk dewasa dan anak-anak adalah tentang keabstrakannya. Semakin dewasa usia seseorang semakin abstrak pikirannya. Begitu sebaliknya, semakin rendah usia anak-anak semakin konkrit. Maka anak-anak pada usia awal belum mampu memikirkan matematika yang sebenarnya bersifat abstrak. Oleh karena itu, matematika yang disajikan untuk anak-anak awal harus melalui hal-hal yang konkret, yang mudah diterima bagi siswa. Ini merupakan tugas guru untuk dapat memanfaatkan hal-hal konkret di sekitar anak untuk membangun pengetahuan matematikanya.

    ReplyDelete
  72. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Pembelajaran matematika dibagi menjadi beberapa tahap, karena pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan pola pikir. Dalam pembelajaran matematika anak harus dimulai dengan sesuatu yang dianggap konkrit oleh anak, anak belum mampu untuk berpikir secara abstrak. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah mampu untuk belajar secara abstrak.

    ReplyDelete
  73. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    tidak lah sama pemikiran orang dewasa dan anak-anak. itu terjadi karena perbedaan pola pikir dan pertumbuhan otak yang masih dalam perkembangannya masing-masing. maka dari itu dibutuhkan lah kegiatan kegiatan diskusi seperti ini karena dengan begitu maka akan muncul ide baru dalam menangani bagaimana cara mengajar anak dan dewasa.

    ReplyDelete
  74. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.I agree on the mistakes in the teacher recruitment system, not just the math teacher but related to all the subject teachers. If analyzed, there is a deviation in this case. The purpose of teacher screening should be based on the credibility of his ability not on anything else. The most important factor is how to educate the students because they are the generation of change. Finally, if you look at this situation students become victims of this education system error.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  75. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan tulisan di atas mengenai kesimpulan sementara hasil diskusi mengenai perbedaan matematika untuk dewasa dan anak serta berdasarkan pengamatan saya tentang pembelajaran matematika ini memang terdapat perbedaan dalam memahamkan atau membelajarkan matematika terhadap orang dewasa dan anak-anak. Sebab, bagi orang dewasa akan mampu menerima materi matematika formal yang bersifat abstrak karena telah sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan bagi anak-anak, matematika dikenalkan sesuai dengan dunia dan pola pikirnya yaitu matematika yang dikaitkan dengan kenyataan, sesuai keadaan riilnya.
    Sehingga, dalam menyampaikan materi matematika hendaklah guru harus mampu menyesuaikan terhadap siapa yang akan diajarnya. Apakah itu orang dewasa atau anak-anak. Janganlah memaksakan pemikiran orang dewasa terhadap anak-anak karena akan berdampak pada perkembangannya nanti.

    ReplyDelete
  76. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Matematika untuk anak-anak adalah matematika yang konkrit. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di lower grade anak-anak sangat senang dengan matematika yang bisa mereka lihat dan yang bisa mereka rasakan keberadaannya. Anak-anak juga memilki karakter yang tidak hanya duduk diam dan mendengarkan penjelasan dari guru, mereka ingin bergerak, mereka ingin melakukan sesuatu, maka dari itu games dan permainan yang berhbungan dengan matematika dapat memacu mereka untuk menykai matematika.

    ReplyDelete
  77. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dalam proses pembelajaran matematika, sangat diharapkan siswa berperan aktif. Karena jika siswa tidak aktif/pasif besar kemungkinan penjelasan yang disampaikan oleh guru tidak membuahkan hasil yang maksimal. Terkadang untuk membuat siswa aktif, cara yang digunakan guru kurang tepat, sehingga bukannya menjadikan siswa aktif malah menjadikan siswa pasif. Salah satu cara yang dapat digunakan supaya siswa aktif dalam proses pembelajaran yaitu dengan memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan bemakna, sehingga siswa lebih antusias untuk belajar dan menimbulkan semangat dan motivasi yang dapat menjadikan siswa lebih aktif. Sedangkan pembelajaan untuk siswa yang sudah dewasa sebaiknya lebih kepada tahap pemecahan masalah, mengkaji gagasan, dan menerapkan apa yang telah dipelajari. Jelas sangat berbeda proses pembelajaran yang diberikan untuk anak-anak dan siswa yang sudah dewasa. Sehingga penting bagi guru untuk memahami berbagai metode pembelajaan yang sesuai dengan usia siswanya.

    ReplyDelete
  78. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Differ between adults and young students is must. Because they have a big differences on them. We know that mathematics learning problem is more founded from a young student. it is caused by the teacher that cannot teaach them as their age. The teacher only delivere their knowledges as they know from the theories that they learned. Its is the biggest fault of teacher. The real teacher is someone who can teach some lesson and deliver it as the student’s age. If they are nor carrying that thing, the teacher should recorrect their teaching proses. So that why more young students’ score is low.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  79. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Menjadi guru bagi anak-anak sama artinya dengan menjadi bagian dari anak-anak itu sendiri. Anak-anak sudah pasti tidak bisa menjadi orang dewasa, namun orang dewasa harus mampu menjadi anak-anak. Pola pengertian akan keadaan dan situasi siswa seperti itulah yang sudah menjadi pondasi pendidikan matematika. Hanya saja, demi sains dan teknologi, pemangku kebijakan justru terlalu banyak melibatkan ilmu-ilmu murni yang jauh dari dunia anak-anak. Akbiatnya, anak menjadi kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan ‘keinginan’ ilmu orang dewasa tersebut.

    ReplyDelete
  80. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Matematika dalam dunia anak dan orang dewasa tentu sangat berbeda. Matematika orang dewasa adalah matematika tingkat tinggi, dengan tingkatan yang sudah dilevel matematika abstrak, sehingga mereka mampu memikirkannya hanya didalam pikiran. Sedangkan matematika bagi anak-anak adalah matematika konkrit, yang dipelajari melalui contoh-contoh yang nyata yang dapat dipanca indara, matematika yang dekat dengan dirinya. Konsep-konsep dalam benak siswa harus ditanamkan melalui contoh-contoh konkret yang sedikit demi sedikit diarahkan ke konsep matematis. Maka sebenar-benar belajar matematika bagi siswa adalah aktivitas, misalnya aktivitas menemukan pola.

    ReplyDelete
  81. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam proses belajar mengajar, memang pembelajaran di tingkat kanak-kanak dan dewasa memang harus dibedakan. Mengapa demikian?. Karena tingkat kognitif mereka memang sangatlah berbeda. Oleh karenanya hal ini merupakan aspek yang mendasar yang harus dipahami dengan baik. Seperti halnya dalam mengajarkan matematika. Bagi anak-anak pembelajaran matematika harus dimulai dengan hal-hal yang konkrit untuk menuju ke hal yang abstrak. Sedangkan bagi remaja atau dewasa mereka sudah mampu untuk menelaah hal-hal yang abstrak sehingga pendekatan secara konkrit hukan merupakan hal yang utama. Harapannya jika dapat memahami kognisi siswa pembelajaran menjadi lebih efesien.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  82. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    targets in learning mathematics also need to be considered. Certainly children and adults are also given different treatment, both in terms of presentation of the material and how to deliver it. For children using concrete theory, they can understand what is learned with the help of concrete objects, whereas adult mathematics is abstract because adult thinking ability can analyze abstract things. The point is, mathematics for adults and children is not same.

    ReplyDelete
  83. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seorang pendidik harus mengerti konsep bahwa setiap siswa berbeda tingkat kemampuan dan skill yang dimiliki nya. Oleh sebab itu, perbedaan tingkat kemampuan berpikir anak-anak dan dewasa sudah pasti jauh berbeda. Jangankan untuk matematika, cara menyampaikan informasi saja sudah berbeda. Konsep matematika bagi anak-anak adalah real, mereka belum mampu mengolah konsep abstrak. Jika semakin lama kita mengabaikan fakta ini, maka anak-anak akan tersesat di dalam dunia pendidikan yang memaksa anak-anak untuk dewasa sejak dini. Artinya, mereka melewatkan masa-masa di mana mereka menerima konsep-konsep kontekstual dan konkret, yang akan menjadi dasar pijakan kuat untuk melangkah lebih jauh.

    ReplyDelete
  84. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Matematika untuk dewasa dan anak jelas sangat berbeda. Mereka mimiliki pola pikir dan pandangan yang berbeda. Orang dewasa sudah bisa berpikir secara teoritis sedangkan seorang anak masih susah, melainkan mereka hanya dapat berpikir sesuai dengan apa yang dibayangkan maupun apa yang ada di lingkungan sekitar. Karena seorang guru termasuk orang dewasa, terkadang guru salah memposisikan siswa. kebanyakan guru menganggap jika siswa itu memiliki pola pikir dan kemmapuan bernalar yang sama dengan dirinya. Dalam kesimpulan diatas, juga disebutkan bahwa orang dewasa iu lebih memiliki motif dan ambisi yang terlalu kuat. Misal guru matematika berharap siswa itu dapat menjadi X dalam satu pertemuan saja, padahal siswa tersebut memiliki daya pikir yang berbeda. Sehingga sulit untuk dicapainya.

    ReplyDelete
  85. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    I strongly agree that we have to distinguish between math for young learner and math for adults. Math for young learner should be learning about daily life, whatever students can touch, see, hear, taste, feel... It's about social life, it has relationship with others and environment.
    I use realistic mathematics method to teach my students. When I discuss about time, then it will be the time that students need to do something, etc.
    Math should be meaningful and enjoying.
    Actually it's about the joy of clear thinking. We hope that students are joyful doing math and learn about logic in the way of children learn. Not in the way of adults learn.

    ReplyDelete
  86. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Saya ssetuju dengan diskusi di atas. Benar-benar mewakili fenomena yang terjadi saat ini. Ya, saat ini, pembelajaran matematika saat ini, antara guru dan siswa, seperti ada garis yang terputus. Tidak sedikit guru dan stakeholder pendidikan saat ini memukul rata metode yang digunakan dalam pembelajaran matematika anak dan dewasa. Pada anak, ironinya, mereka seakan-akan dipaksa belajar dengan cara orang dewasa. Sungguh itu menyakitkan bagi pembelajar anak-anak, mereka seperti dipaksa, mereka seperti diseret. Tentu ada benturan, utamanya benturan dengan tugas perkembangan mereka. Karena pada dasarnya anak-anak belajar dengan sistem yang dibuktikan oleh inderawi mereka, akan tetapi saat ini beberapa pendidik terkesan membawa siswa belajar secara abstraksi. Semoga keadaan seperti ini segera mendapatkan perbaikan. Kita sebagai orang dewasa, sebagai pelaku pendidikan, tidak ada salahnya memulai untuk menggunakan metode-metode yang tepat. Bismillah, semoga kita selalu dala lindungan-Nya. Amin

    ReplyDelete
  87. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Kalimat terakhir "Math teachers should stand beside their young learner and to protect them from inappropriate adults behavior in which their thinking are full of motive and ambitions" sangat menginspirasi dan memberikan pesan yang mendalam bagi para guru dan calon guru, untuk bisa mendampingi siswa dalam mengembangkan pengetahuannya, bukan memaksa siswa mengikutinya dari belakang dan tidak dapat berkembang sesuai bakatnya sendiri.

    ReplyDelete
  88. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Matematika untuk dewasa dan untuk anak memang harus dibedakan karena proses berpikir keduanya sangatlah berbeda. Orang dewasa bisa mempelajari matematika melalui definisi kemudian teorema-teorema , karena kemampuan penalaran mereka sudah mampu menerima hal-hal yang sudah kompleks, sedangkan anak harus diajari matematika berdasarkan hal-hal yang konkret di lingkungan sekitarnya, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa atau pernyataan matematika dan menyelesaikan suatu persoalan matematika, hingga akhirnya anak dapat menemukan definisi dari apa yang sudah dipahaminya. Tidak bisa kita memaksa anak untuk berpikir selayaknya tahap berpikir orang dewasa.

    ReplyDelete
  89. Junianto
    PM C
    17709251065

    Based on this discussion with international mathematics teacher, I can understand that until now pure mathematics and school mathematics stiil mixed each other when both of them were implemented in learning process. This implementation has a big effect to student especially in elementary, junior or senior high school. Student cannot understand the material because the material was abstract and it’s mean that they have been given pure mathematics not school mathematics. Education system also give an effect and caused this condition occured. Therefore, education system has to be evaluated so thic condition would be better in the next day.

    ReplyDelete
  90. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ulasan yang membuat saya menjadi sedikit tahu situasi pembelajaran matematika. Berangkat dari pengalaman ibu saya yang saat ini sedang bersama dengan anak-anak didiknya di bangku Sekolah Dasar mengatakan bahwa adanya soal-soal latihan matematika yang tidak sesuai dikerjakan oleh anak-anak kelas tiga SD. Bahkan, ibu saya juga mengkhawatirkan saat anak-anak diberi PR apakah orang tuanya sendiri mampu mendampingi anak-anaknya saat mengerjakannya. Ini salah satu kesulitan yang dirasakan oleh ibu saya saat mendampingi anak-anak belajar matematika. Mungkin ini adalah salah satu motif dan ambisi dari orang dewasa yang memaksakan anak-anak untuk memahaminya. Saya merasa sedih melihat dinamika dalam pembelajaran saat ini. Sampai saya sendiri berpikir, bagaimana dampak yang akan anak-anak rasakan saat untuk belajar saja mesti ada paksaan dari orang dewasa. Ini tentunya akan menjadi tekanan tersendiri bagi anak-anak yang menjalaninya.

    ReplyDelete
  91. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Di dalam psikologi perkembangan terdapat tahapan-tahapan perkembangan anak. Tahapan perkembanganan anak di golongkan berdasaekan umurnya, mulai dari anak, remaja, dewasa. Tahapan ini juga mempengaruhi cara berfikir anak. Guru yang dianggap sebagai orang dewasa memiliki pemikiran yang berbeda dengan siswa yang dianggap sebagai anak. Guru sudah dapat mengkritisi sesuatu. Oleh karema itu, pembelajaran untuk orang dewasa dan anak juga berbeda khususnya dalam bidang matematika. Tugas guru adalah memikirkan cara agar dapat memberikan materi matematika yang dapat oleh anak yaitu berasal dari masalah nyata/konkrit, dengan begitu akan membentuk konsep pada anak. Jangan pernah guru menganggap posisi anak sama, karena itu akan merusak cara berfikir anak dan akan berpengaruh pada ketertarikan anak dengan mata pelajaran matematika. Oleh karena itu, jadilah guru yanh bisa memahami kondisi anak dan kreatif untuk mengkonstruk pemikiran anak pada materi matematika. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  92. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pembelajaran matematika anak dengan pembelajaran matematika dewasa berbeda. Kalau pembelajaran matematika pada anak (SD) masih bersifat intuitif, sedangkan pada sekolah menengah sudah menuju pembelajaran dewasa. Saya melihat pada usia anak sekarang waktu bermainnya semakin berkurang, karena lebih banyak untuk mengerjakan PR dan tugas dari guru, untuk orang dewasa mungkin lumrah, namun untuk anak anak sangat berbahaya. Pun saya juga mengamati perubahan kurikulum ktsp yang diubah menjadi k13, beban belajar anak sepertinya semakin bertambah, jadi perlu dipikir bersama solusinya agar ke depan anak-anak tetap mendapat hak belajar yang baik namun tidak tercampuri belajar orang dewasa.

    ReplyDelete
  93. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Ketidakpahaman siswa terhadap suatu materi bisa saja disebabkan bukan dari diri siswa sendiri tetapi berasal dari sikap guru yang menganggap siswa memiliki pegetahuan yang sama dengan dirinya. Seharusnya guru matematika yang berasal dari pendidikan dapat memahami setiap keadaan siswa dan menyesuaikan strategi dan model yang sesuai dengan siswa dan harus memahami tingkatan siswa jangan dipaksa ketika siswa masih belum dapat memahami hal yang abstrak guru memberikannya tanpa mendahului merepresentasikan hal nyata ke abstrak

    ReplyDelete
  94. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Matematika untuk anak dan matematika untuk dewasa seharusnya dibedakan. Seorang anak dengan segala potensi yang dimiliki tidak akan pas apabila diajarkan menggunakan matematika untuk orang dewasa. Seorang anak belajar dari pengalamannya, belajar dengan kegiatan, belajar melalui aktivitas yang membuat siswa merasa senang, termotivasi, dan semangat untuk mengemukakan ide-ide mereka. Apabila seorang anak diajar menggunakan matematika untuk orang dewasa rasanya semua itu merupakan kejahatan bagi anak. Anak menjadi korbannya, mereka kehilangan saat-saat dimana belajar dengan kegiatan, saling berbagi dengan teman sebayanya, menggunakan intuisinya untuk mengembangkan pemikirannya. Semoga solusi dari permasalahan ini segera dapat ditemukan.

    ReplyDelete
  95. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Pemikiran anak-anak dan pemikiran orang dewasa memang berbeda. Apa yang dipahami oleh orang dewasa belum tentu dapat dipahami oleh anak-anak. Hendaknya sebagai guru haruslah memberi pelajaran dan penjelasan yang sesuai dengan tingkat pemikiran anak-anak. Guru pernah mengalami masa menjadi siswa, sedangkan siswa belum pernah mengalami masa menjadi guru. Oleh karena itu guru yang menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat pemikiran siswa bukan malah sebaliknya.

    ReplyDelete
  96. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Menurut saya, untuk menjadi guru yang pengertian terhadap siswa yang memahami bagaimana pola pikir sebagian besar siswa, ada baiknya guru melihat ke masa lalu, sosok guru yang bagaimana yang ia perlukan pada saat masih bersekolah. Seiring bertambahnya usia, terkadang seseorang melupakan bagaimana dia dulu berproses. Sehingga, terkadang memang perlu melihat masa lalu, untuk belajar dari masa lalu tersebut. Dalam beberapa kasus, memang terdapat beberapa orang yang memiliki pemikiran yang agak berbeda dengan teman sebayanya saat mereka masih bersekolah sehingga memiliki kesulitan untuk memahami pola pikir sebagian besar siswa. Menanggapi hal ini, sebaiknya (calon) guru bersedia untuk ikhlas memahami pola pikir yang berbeda (dengan dia pada saat bersekolah) tersebut, dan mengingat bahwa guru mempunyai tujuan mulia, yaitu untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Dalam proses "pencerdasan" tersebut, tentunya harus memperhatikan kebutuhan emosional siswa dan tidak terlalu memaksakan kehendak untuk memenuhi ambisi semata.

    ReplyDelete
  97. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Siswa itu ibarat seorang client yang harus didengarkan apa kebutuhannya dan keinginannya, bukan sebagai objek keegoisan guru. saya dapat memahami bahwa persoalan terkait pembelajaran matematika ini entah sampai kapan tuntasnya. hal ini mendorong/memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, meningkatkan kualitas diri saya dalam pembelajaran agar kelak sanggup menyalurkan ilmu yang saya punya kepada peserta didik dengan efektif dan efisien, sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  98. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Matematika untuk orang dewasa berbeda dengan matematika untuk anak-anak. Matematika untuk orang dewasa dilakukan dengan penalaran dan logika, sedangkan matematika untuk anak-anak dilakukan dengan intuisi. Matematika untuk orang dewasa objeknya berupa definisi dan teorema, sedangkan matematika untuk anak-anak objeknya benda-benda konkret yang ada di sekitarnya. Matematika untuk orang dewasa adalah konsep, sedangkan matematika untuk anak-anak berupa aktivitas. Dengan demikian, karakteristik-karakteristik ini dapat dijadikan landasan bagi para pendidikan dalam mengajarkan matematika sehingga tidak salah perlakuan ketika mengajar. Misalnya, mengajarkan materi penjumlahan dengan menggunakan obyek-obyek konkret, tidak dengan menggunakan definisi ataupun teorema.

    ReplyDelete
  99. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Pemahaman matematikan untuk anak dan dewasa sudah seharusnya berbeda. Hal itu karena stuktur kognitif anak dan dewasapun berbeda. Orang dewasa normalnya sudah mampu berpikir secara komplek, sedangkan anak normalnya pola pikirnya masih sederhana. Matematika pada dasarnya merupakan ilmu abstrak. Jika sedari awal para pembelajar matematika sudah diajarkan dengan matematika yang abstrak, maka wajar saja jika banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar matematika. Hal itu karena apa yang diajarkan tidak sesuai dengan struktur kognitif anak yang sejatinya masih memiliki pola pikir yang sederhana dan konkrit. Oleh karena itu, menjadi tugas guru untuk dapat membimbing para siswanya dalam belajar matematika sesuai dengan pola pikirnya agar matematika itu bukan menjadi “momok” bagi para pemula. Terimakasih

    ReplyDelete
  100. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Pembelajaran matematika untuk anak dan untuk dewasa memang seharusnya dibedakan dan diterapkan sesuai tahap perkembangan kognitif siswa, untuk anak-anak perkembangan kognitif mereka masih berada ditahap berpikir konkrit, mereka lebih mudah memahami dan belajar matematika dalam bentuk atau dengan benda konkrit. Berbeda dengan pembelajaran matematika untuk dewasa dimana tahap perkembangan kognitifnya sudah berada tahap formal dan mereka sudah mampu berfikir abstrak sehingga matematika yang dipelarinya pun sudah berada dilevel yang berbeda yaitu matematika formal.

    ReplyDelete
  101. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pada hakikatnya antara anak-anak dan orang dewasa terdapat perbedaan yang sangat jelas. Terutama dalam kemampuan menalar dan belajar. Terlebih terkait belajar matematika yang objeknya terdapat dalam pikiran. Hal ini berkorelasi dengan pendidikan matematika yang akan diberikan kepada anak dan orang dewasa. Anak-anak masih senang bermain dalam belajar sehingga pembelajaran matematika yang diberikan haruslah menarik dan memancing aktifitas siswa. Penggunaan media pelajaran yang menarik dan bersifat dapat diindara seperti dilihat dan diraba tentu akan sangat membantu meningkatkan antusias anak dalam belajar sekaligus sebagai media untuk membangun konsepnya. Sedangkan untuk orang dewasa hal ini sudah tidak dibutuhkan. Matematika untuk orang dewasa sudah harus lebih kompleks terutama dalam hal melatih pemikiran untuk menyelesaikan permasalahan tingkat tinggi.

    ReplyDelete
  102. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Pada hakikatnya pemikiran tentang matematika pada anak-anak dan orang dewasa sangat berbeda. Pada anak-anak pola berfikir matematikanya dimulai dari hal-hal yang bersifat sederhana mengarah kepada hal-hal yang bersifat kompleks. Sedangkan pola berfikir matematika orang dewasa lebih bersifat mengabstraksikan konsep menjadi hal yang bersifat konkret. Selain itu, pada orang dewasa penalarannya sudah mampu melakukan manipulasi matematis, sehingga lebih mudah di dalam melakukan pemecahan masalah matematis.

    ReplyDelete
  103. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Selama ini pelajaran matematika sering dianggap siswa sebagai mata pelajaran yang berisi rumus-rumus saja. Karena itulah dalam pembelajaran matematika guru seharusnya memfasilitasi siswa melalui kegiatan sehingga dapat memahami konsep dalam matematika dan mengetahui bagaimana menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimaksudkan agar siswa memahami matematika sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan siswa.

    ReplyDelete
  104. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Matematika untuk dewasa jelas matematika yang sudah lebih rumit namun fungsional sedangkan untuk anak anak maka yang digunakan adalah matematika yang sederhana namun belum terpakai dalam kehidupan sehari-hari, dengan begitu perlu ada perbedaan dalam pola mengajar untuk dewasa dan anak-anak karena sesuai dengan fungsinya bahwa untuk orang dewasa diperlukan ketrampilan untuk mengubah menjadi hal yang bermafaat di dunia nyata.

    ReplyDelete
  105. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Seorang guru harus memahami cara berpikir siswanya. Dan itulah modal bagi guru dalam menjalankan proses pembelajaran. Guru harus memahami bahwa taraf berpikir orang dewasa dan anak-anak jelas memiliki perbedaan sehingga anak-anak tidak menjadi korban dalam pembelajaran. Oleh karena itu cara penyampaian materipun harus berbeda. Sesuatu yang ‘ada’ masih tegolong ‘mungkin ada’ bagi anak-anak karena belum lahir dipikiran mereka. Dengan demikian, hendaklah dalam pembelajaran matematika untuk anak-anak dimulai dengan sesuatu yang bersifat konkrit agar lebih mudah dipahami.

    ReplyDelete
  106. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Matematika sebagai ilmu pengetahuan diberikan sesuai dengan pembelajarnya. Artinya matematika harus menyesuaikan dengan anak maupun orang dewasa. Untuk melatih matematika bagi anak-anak yaitu dengan menghadirkan contoh konkret yang akan dikenali oleh anak-anak akan lebih mudah dipahami oleh anak. Sedangkan bagi orang dewasa sudah bisa lebih bersifat abstrak. Karena pada hakikatnya bagi anak-anak, belajar matematika akan lebih disenangi dengan adanya kegiatan atau aktivitas yang mengandalkan pengalamn mereka. Dengan begitu anak dapat mengkonstruksi pengetahuannya.

    ReplyDelete
  107. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Matematika pada orang dewasa dan pada anak itu berbeda. Matematika dewasa tidak cocok jika diterapkan untuk anak, begitu pula sebaliknya. Hal ini harus benar-benar dapat kita perhatikan. Matematika anak bukanlah matematika para dewa, namun matematika yang berawal dari hal-hal konkret. Oleh karena itu, ketika melakukan pembelajaran seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan kemampuan anak

    ReplyDelete
  108. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Senada dengan refleksi hasil diskusi yang ditampilkan oleh Prof. Marsigit, Matematika bagio siswa tentu saja berbeda dengan matematika bagi orang dewasa. Anak berpikir masih dalam taraf kongkrit, sesuai tahap psikologis mereka. Sehingga matematika yang diberikan kepada siswa terlebih materi yang siswa belum memiliki prior knowledge yang sesuai, maka guru harus sangat berhati-hati dalam menyampaikan konsepsi matematika tersebut kepada siswa, jangan sampai siswa terjebak dalam miskonsepsi yang dapat menuntun siswa menuju pemikiran yang berbeda mengenai matematika yang selanjutnya akan menimbulkan persepsi yang tidak diinginkan mengenai kehiduoan mereka terlebih yang berbau matematika. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  109. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Jika berbicara mengenai ilmu matematika-sains murni, maka sama saja kita tengah berbicara mengenai matematika-sains yang ada di dunia orang dewasa. Matematika bagi orang dewasa berada pada taraf abstrak, sehingga pembelajaran matematika bagi orang dewasa harus menyesuaikan level berpikirnya. Pada level ini, matematika penuh dengan definisi, teori, aksioma, ranah pembuktian, aplikasi, sintesis, evaluasi, dan sebagainya. Namun jika matematika seperti ini diterapkan pada anak-anak maka hal tersebut akan berdampak buruk bagi pemahaman siswa dan penghayatan mereka. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  110. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Bila diibaratkan, matematika langit adalah matematika yang abstrak yaitu matematika orang dewasa, sedangkan matematika yang di bumi adalah matematika konkret yaitu matematika anak-anak. Tentulah keduanya sangat berbeda, baik dari segi subjek dan objeknya. Sebagai guru, kita harus paham betul bahwa penyajian materi yang dilakukan mesti sesuai ruang dan waktunya. Sebelum menyajikan materi, kita harus mencoba untuk berpikir seperti siswa kita juga agar kita paham cara berpikir mereka dan dapat memilih teknik penyajian yang tepat.

    ReplyDelete
  111. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Sangat berbeda tentunya pembelajaran matematika tingkat dasar dengan tingkat lanjut. Secara kematangan mental dan psikologis, maupun kematangan dalam berpikir, siswa tingkat dasar masih dalam taraf matematika intuitif dan imajinasi. Pada kenyataannya, karena ideology yang berkembang, pragmatism, kapitalisme, materliasme semakin mempengaruhi dunia pendidikan. Belajar matematika ditarget untuk mampu bersaing dalam pencarian kerja, dunia industry. Bukan lagi sebagai aktivitas membangun pengetahuan bagi siswa. Tentu hal ini sangat disayangkan sekali. Untuk itu, lebih baik kita mulai dari kelas kita dalam membelajarkan matematika sesuai tingkat piker siswa

    ReplyDelete
  112. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Kaitannya pembelajran matematika sekolah, banyak guru yang hanya mengandalkan satu buku sumber belajar. Buku teks sebenarnya adalah pikiran orang dewasa yang ditransfer ke pengetahuan anak, wajar jika siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Tingak berpikir yang berbeda antara orang dewasa dan anak menjadi factor utamanya. Terkadang anak juga menjadi korban kemauan orang dewasa agar nantinya dapat memenuhi syarat dunia kerja (industry).

    ReplyDelete
  113. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Seperti pada postingan serupa bahwa guru matematika zaman sekarang tidka mampu membedakan mana matematika untuk dewasa dan mana matematika untuk ana. Matematika dewasa iala matematika murni yang mempelaari ilmu matematika berdasarkan teori dan definisi oleh tokoh atau penemunya. Matematika ini wajarnya dipelajari oleh mahasiswa di perguruan tinggi khususnya mahsiswa matemmatika murni. Sedangkan matematika anak ialah matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari yang dipelajari dengan kegiatan. Matematika ini wajarnya diberikan kepada anak sekolah dasar dan menengah.

    Namun, guru-guru sering keliru menerapkan matematika dewasa kepada siswanya di sekolah dasar dan menengah. Tentu saja siswa akan kebingungan dan pembelajaran menjadi tida bermakna. Siswa cenderung menganggap matematika sebagai kegiatan menghapalkan rusmus-rumus tanpa tau esensi dibalik itu semua. Sehingga materi yang diajarkan bersifat sementara dan mudah dilupakan. Selain itu juga menyebabkan siswa pobia kepada matematika karena dianggap sulit untuk dipelajari. Oleh karena itu marilah kita sebagai guru anak usia sekolah dasar dan menenga baik di sekola maupun sebagai orangtua agar mampu membedakan matematika anak dan dewasa. Hal ini agar kita tida keliru menerapkan matematika dewasa untuk anak yang berakibat fatal di kemudian hari.

    ReplyDelete
  114. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pada saat ini masih ada guru yang memberikan konsep-konsep matematika sesuai jalan pikirannya, tanpa memperhatikan bahwa jalan pikiran siswa dan jalan pikiran orang dewasa itu sangat berbeda. Orang dewasa sudah bisa memahami konsep-konsep matematika yang abstrak. Sesuatu yang dianggap mudah pleh orang dewasa kadang masih sulit dimengerti oleh anak. Oleh karena itu dalam pembelajaran matematika pada anak, konsep matematika yang abstrak yang dianggap mudah dan sederhana oleh pikiran orang dewasa hendaknya di proses dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan karakteristik pada anak didik dan konsep konsep tersebut harus dibawa ke dunia matematika anak.

    ReplyDelete
  115. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dewasa ini pendidikan dibuat bingung dengan perbedaan mateamtika dewasa dan anak. Dengan adanya perbedaan namun dalam penyampaiannya, guru tidak mengetahui perbedaan maka akan terjadi kebingungan oleh siswa dalam memperlajarinya. Siswa seperti dibawah tekanan orang dewasa untuk mengetahui matematika tersebut.

    ReplyDelete
  116. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Dari postingan ini, kita memperoleh informasi bahwa matematika untuk orang dewasa telah mulai memasuki matematika untuk anak-anak. Matematika untuk orang dewasa yang dimaksud dalah matematika murni. Anak-anak seharusnya diajarkan matematika yang berkaitan dengan dunia nyata atau realistik atau konkret. Dengan begitu mereka akan lebih termotivasi dalam mempelajari matematika. Jika sejak dini telah diperkenalkan dengan matematika murni yang bersifat lebih abstrak maka dikhawatirkan akan menurunkan motivasi belajar siswa karena materinya terlalu rumit utuk dipelajari.

    ReplyDelete
  117. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Persepsi saya tentang matematika untuk orang dewasa dan matematika untuk anak-anak yaitu bukan sekedar isi materinya saja tetapi metode pengajaran pendidik yang harus dibedakan. Matematika untuk anak-anak tidak bisa menggunakan metode ceramah atau berpusat pada guru. Matematika untuk anak-anak harus jelas menggunakan alat peraga, sumber belajar, metode pembelajaran yang berpusat pada siswa, materi yang disampaikan sifatnya kontekstual dan aplikatif.

    ReplyDelete
  118. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Pada matematika untuk orang dewasa, konteks matematika merupakan matematika murni atau kompleks, dimana peserta didik sudah mampu berfikir abstrak dan kritis. Biasanya pada tingkat perguruan tinggi, pembelajaran matematika sering menggunakan metode pembelajaran ceramah oleh dosen. Tidak hanya itu, matematika untuk orang dewasa diharapkan mampu menciptakan produk matematika untuk anak-anak yaitu pembelajaran matematika yang konkret, menyenangkan dan membuat konsep matematika menjadi lebih mudah.

    ReplyDelete
  119. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Anak-anak dan orang dewasa merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang secara jelas memiliki potensi yang berbeda. Memiliki kemampuan berpikir dan dunia yang berbeda. Dunia anak-anak masih terisi dengan main-main, senang-senang, atau berkegiatan. Seorang pendidik matematika harus mampu menyadari hal itu, masuk dan memahami dunia anak-anak tersebut sehingga pembalajaran yang diberikan pun yang sesuai dengan ruang dan waktunya anak-anak bukan yang sesuai dengan orang dewasa. Bukan hanya sebatas mengaku sebagai pendidik namun pada kenyataannya aktivitas dan ambisinya adalah orang dewasa.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  120. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Pendidikan matematika yang baik adalah pendidikan yang disesuaikan dengan usia anak ataupun siswa yang akan menerima pembelajaran. Pembelajaran matematika untuk anak-anak tidak dapat disamakan dengan pembelajaran matematika dengan orang dewasa. Hal ini dikarenakan kemampuan dan pola pikir dari anak-anak dan orang dewasa tidak sama. Orang dewasa yang dianggap memiliki kemampuan dan pola pikir yang lebih luas, melakukan pembelajaran yang lebih kompleks terkait dengan pembuktian rumus-rumus, teorema dan aksioma-aksioma. Sementara pembelajaran untuk anak-anak lebih kearah pembelajaran dengan mengandalkan benda-benda konkrit.

    ReplyDelete
  121. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Proses belajar memang tak kunjung berhenti hingga akhir hayat. Semua orang terus berproses dalam kehidupannya dan tak ada kata puas dalam menggapai pendidikan. Tetapi memang, kehidupan itu berjenjang. Ada bedanya belajar ketika kanak-kanak dengan belajar ketika dewasa. Sayangnya banyak orang yang lalai membedakannya. Hal ini menjadi sangat gawat, apalagi ketika guru yang lalai. Pendidikan yang menjawab kebutuhan siswa menjadi tidak teraplikasikan dengan baik. Inilah yang sulit ketika buku dan perangkat pembelajaran dibuat oleh orang yang tak mengerti perkembangan anak. Maka efeknya, siswa hanya akan belajar melalui transfer of knowledge tanpa benar-benar mengalami sendiri pengalaman belajar yang membantu mereka memahami konten pelajaran.

    ReplyDelete
  122. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Matematika berbeda antara untuk anak dan untuk dewasa. Jika matematika untuk orang dewasa berkutat dengan matematika murni dan matematika sebagai pengetahuan. Maka berbeda untuk matematika untuk anak-anak. Matematika untuk anak-anak seharusnya dapat memotivasi anak untuk aktif melakukan kegiatan, menyelesaikan masalah, menemukan pola dan sebagai sarana motivasi. Sehingga kesadaran seorang guru akan bedanya matematika untuk anak ini mengakibatkan perubahan cara mengejar guru yang tadinya tradisional beralih ke pembelajaran yang memotivasi dan penuh ambisi dari siswa.

    ReplyDelete
  123. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Matematika bukanlah pelajaran tentang rumus-rumus semata, tetapi tentang bagaimana memahami konsep dalam matematika. Karena itu dalam pembelajaran sebaiknya ajaklah siswa untuk memahami bagaimana rumus itu ditemukan, bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dimaksudkan agar siswa paham pentingnya pembelajaran, tentunya cara dalam mengajarkannya juga harus berbeda, harus sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Pembelajaran bukan hanya guru yang menyampaikan tetapi bagaimana siswa membangun pengetahuanya sendiri.

    ReplyDelete
  124. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebagian guru matematika tidak dapat membedakan matematika untuk orang dewasa dan untuk anak-anak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi. Guru biasanya mengajar berdasarkan pengalamannya diajar dahulu, sehingga hal tersebut mempengaruhi cara mengajarnya. Selain itu saat ini siapapun bisa menjadi guru,terutama di pedesaan, sehingga kompetensi mengajarnyapun dipertanyakan. Sehingga seharusnya sebelum seseorang menjadi guru maka hendaknya ia sudah mengetahui perbedaan antara matematika untuk dewasa dan untuk anak.

    ReplyDelete
  125. Ilania Eka Andari
    17709251050
    pps Pmat c 2017

    Belajar matematika untuk anak-anak seharusnya merupakan kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas mereka sehari-hari. Namun pada kenyataannya cara mengajar guru di kelas lebih sering menggunakan definisi untuk menerangkan suatu materi yang akan sulit dipahami oleh siswa. Pada akhirnya anak-anak nanti hanya akan menghafal definisi tersebut tanpa mengerti maksudnya. Seperti yang telah disampaikan oleh Pak Marsigit pada perkuliahan lalu bahwa anak-anak 100% menggunakan pengetahuan intuisi. Oleh karena itu untuk memberi penjelasan suatu materi kepada siswa seharusnya tidak menggunakan definisi melainkan dengan hal-hal yang telah familiar di kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih mudah memahami karena sudah mengenal hal-hal tersebut dari pada menggunakan definisi yang akan membuat siswa tidak mendapatkan makna dari belajar tersebut.

    ReplyDelete
  126. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  127. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Matematika yang diajarkan untuk prang dewasa sangatlah berbeda dengan matematika yang seharusnya diajarkan untuk anak-anak. Pola pikir dan perkembangan orang dewasa sudah memenuhi untuk menerima matematika formal. Namun, jika anak anak diberi matematika formal, ini akan merusak intuisi mereka. Sedangkan matematika untuk anak-anak harus dapat menunjang perkembangan intuisi anak.
    Sehingga, hal terpenting bagi guru adalah untuk mengerti perbedaan matematika untuk dewasa dan anak.

    ReplyDelete
  128. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Matematika di Indonesia adalah matematika orang dewasa dan ambisis orang dewasa. Sehingga sangat menakutkan bagi anak usia sekolah yang akan mempelakjari matematika. Mereka tidak ramah sama sekali. Bahkan anak enggan untuk mendekat dengannya dan justru selalu ingin menjauhinya. Harapan kita semua agar orang dewasa mau melunakkan hati untuk menjadikan matematika ramah kepada anak sehingga mereka dapat menyukai matematika.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  129. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. matematika untuk anak kecil merupakan matematika sekolah, sebab anak kecil masih terus belajar dan berusaha untuk mengembangkan matematikanya. Matematika sekolah itu dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, hal tersebut agar anak lebih mudah untuk mempelajari matematika. sendakan matematika untuk orang dewasa, terutama yang bekerja di bidang keilmuan lebih pada matematika murni yang telah terlepas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  130. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Anak-anak dan orang dewasa berada pada tahap kognitif yang berbeda, sehingga matematika untuk anak-anak dan matematika untuk orang dewasa tidaklah sama. Matematika anak-anak lebih bersifat konkret, sedangkan matematika orang dewasa bersifat lebih abstrak, lebih formal. Oleh karena itu, guru haruslah menyesuaikan pandangannya terkait dengan subjek didik. Ketika siswa masih anak-anak, guru sebaiknya menggunakan pendekatan matematika yang membuat siswa merasa matematika dekat dengan kehidupannya, seperti pendekatan matematika realistik. Ketika siswa masih anak-anak, guru tidak boleh memberikan matematika formal kepada siswa

    ReplyDelete
  131. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    sudah jelas bahwa kemampuan berpikir dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. guru harus mampu menembus ruang dan waktu subjek siswanya. anak-anak cenderung kesulitan untuk dapat mempelajari sesuatu secara abstrak, jadi dalam memberikan materi kepada anak-anak seharusnya dilakukan dengan memberikan sebuah pengalaman atau contoh yang real, itu akan mempermudah anak-anak dalam memahami materi.

    ReplyDelete
  132. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  133. Shelly Lubis
    S2 P.Mat B
    17709251040

    Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi belum berhasilnya sistem pendidikan saat ini. seperti yang disebutkan di atas, benar sekali bahwa dalam proses prekrutan guru-guru sekolah, harus melalui prosedur yang ketat, seleksi yang ketat. namun masih saja kadang terdengar kasus nepotisme disini. begitu pula dengan sistem pendidikan di perguruan tinggi harus lebih ketat dalam mempersiapkan calon guru.

    ReplyDelete
  134. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  135. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Memang untuk para matematika murni mereka lebih condong emenerapkan matematika berdasarkan konsep yang ada sehingga mereka tidak memahami karakteristik dari peserta didik yang mereka ajarkan. Kebenaran menurut mereka adlah menerangkan matematika sesuai apa yang mereka pelajari. Jadi tidak peduli latar belakang peserta didik, mereka akan mengajarkan matematika berdasarkan definisi dan lain sebagainya yang masih dirasa abstrak bagi peserta didik.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  136. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Setiap individu memiliki pemikiran yang berbeda, apa lagi pemikiran orang dewasa dengan anak. Dalam mengajarkan matematika seorang pendidik harus menyesuaikan cara mengajar dengan proses berpikir yang sesuai dengan umurnya. Ketidakpahaman siswa terhadap suatu materi bisa saja di sebabkan bukan dari diri siswa sendiri tetapi berasal dari sikap guru yang menganggap siswa memiliki pegetahuan yang sama dengan dirinya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  137. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Seharusnya guru matematika yang berasal dari pendidikan dapat memahami setiap keadaan siswa dan menyesuaikan strategi dan model yang sesuai dengan siswa dan harus memahami tingkatan siswa jangan dipaksa ketika siswa masih belum dapat memahami hal yang abstrak guru memberikannya tanpa mendahului merepresentasikan hal nyata ke abstrak.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  138. Rosnida Nurhayati
    PPs PMB 2017
    17709251042

    Memang tidaklah mudah menjadi guru yang baik, namun yakin kita semua bisa. Membutuhkan perjalanan yang panjang dan proses yang berat memang untuk menjadi seorang guru yang baik. dalam pembelajaran kita tidak hanya memberikan materi, mengejar kurikulum, namun diperlukan pendekatan lain, dasi segi motivasi agar siswa bisa lebih baik dalam belajar, sisi simpaty, untuk lebih mendekati siswa yang memang memtutuhkan bantuan seorang guru secara personal.

    ReplyDelete
  139. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B
    Masalah pendidikan matematika sekolah dalah satunya berada pada strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran. Seringkali guru mencampur adukkan antara matematika bagi anak-anak dengan matematika untuk dewasa dalam menyampaikan materi. Anak-anak yang masih mengandalkan intuisinya dalam bermateamtika melalui pengalamn yang konkrit, namun dalam pembelajaran guru memaksa siswa untuk langsung memahami matematika melalu defini si dan rumus-rumus. Yang notabene defini merupakan hal yang sangat baru dan begitu absrak bagi siswa. Hal itulah salah satunya yang membuat siswa beranggapan bahwa matematika itu sangat sulit dan jauh dari kehiupan. Terimaksih

    ReplyDelete
  140. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Menilik fenomena di lapangan, masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami karakteristik setiap siswanya dan belum mampu menempatkan matematika yang mereka ajarkan pada tempat/kondisi yang tepat. Memang membutuhkan waktu dan proses yang cukup lama dalam mengimplementasikan hal ini. Peran guru tentu tidak hanya sekedar mengajarkan materi saja, guru yang baik adalah yang paham betul apa yang dibutuhkan oleh para siswanya. Seorang guru akan menghadapi anak-anak yang pola pikirnya mash belum stabil, maka dari itu peran guru dirasa penting dalam membangun motivasi dan semangat belajar siswa.

    ReplyDelete
  141. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    Pend. Matematika S2 Kelas C

    Di seluruh dunia ini, bahkan di negara-negara besar belum dapat membedakan matematika untuk orang dewasa dan untuk anak-anak. Bahkan para guru juga belum bisa membedakan mengajar anak-anak dan mengajar untuk orang dewasa. Pembelajaran untuk anak-anak hendaknya sesuai dengan porsi mereka. Seperti, makanan untuk bayi berbeda dengan makanan untuk orang dewasa, pembelajaran matematika sekarang ini diandaikan seperti menyuapi anak bayi dengan jagung bakar, padahal mereka seharusnya masih minum asi atau makan bubur. Porsi tersebut jelas tidak tepat jika dilakukan. Begitupun dalam pembelajaran matematika, dibutuhkan pembelajaran yang sesuai untuk usia anak-anak yang berbeda dengan pembelajaran untuk orang dewasa.

    ReplyDelete
  142. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Seorang peserta didik seharusnya mendapatkan matematika anak, bukan matematika dewasa. Sebab, jika mereka diajarkan matematika dewasa akan mengalami kesulitan dalam memahaminya dan jika tetap dipaksakan akan menjadi hafalan tanpa makna. Pembelajaran ada porsinya masing-masing saat anak-anak seharusnya diajarkan dengan matematika anak, bukan malah menjadi korban ambisi dari orang dewasa.

    ReplyDelete
  143. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Matematika dewasa dan matematika anak itu berbeda jauh, bagai bumi dan langit yang berbeda. Karena matematika orang dewasa itu abstrak sedangkan matematika anak itu bersifat konkret. Jadi sebagai guru harus dapat menyesuaikan ruang dan waktu. Saat mengajar anak sebaiknya posisikan pikiran guru seperti pikiran anak, dapat tidak anak memahami apa yang disampaikan guru jika dilakukan dengan salah satu cara? Jangan-jangan anak malah bingung, dan berakhir dengan pembelajaran tanpa makna.

    ReplyDelete
  144. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Matematika anak dan matematika dewasa sangatlah berbeda. Matematika anak adalah matematika intutifi yang dekat dengan kehidupan anak atau konkret, sedangkan matematika dewasa adalah matematika yang sifatnya abstrak. Jadi dalam mengajarkan matematika pada anak harus disesuaikan dengan kemampuan anak agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dan matematika menjadi bermakna dibenak anak.


    ReplyDelete
  145. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  146. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1-Pendidikan Matematika A 2015

    Matematika orang dewasa dan anak-anak merupakan dua hal yang berbeda. Saya setuju bahwa mengajarkan matematika kepada anak-anak dan orang dewasa itu juga berbeda. Seperti pada pendekatan gunung es terdapat matematika konkret, model konkret, model formal dan matematika formal. Matematika konkret merupkan matematika untuk anak-anak karena pemikiran anak-anak adalah pada ranah konkrit, sedangkan matematika formal yang bersifat abstrak merupakan matematika untuk orang dewasa. Sebagai pendidik harus bisa mengajar dengan baik dan melihat subjek yang belajar sehingga dapat mengajar sesuai tingkat berpikir siswa.

    ReplyDelete
  147. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Terima kasih Prof. atas informasi dan ilmunya yang telah dibagikan. Dari sumber informasi pada link tersebut saya belajar bahwa matematika anak dan matematika dewasa adalah suatu hal yang berbeda. Matematika anak masih bersifat intuitif serta konkret sementara matematika dewasa sudah ke arah abstrak. Sehingga sebagai pendidik yang bertugas sebagai fasilitator sudah seharusnya kita memfasilitasi perbedaan tersebut dengan cara menciptakan inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  148. Eka Susanti
    NIM. 15301241006
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Pembelajaran matematika memang harus diajarkan sesuai dengan subjeknya. Beda orang tentu beda perlakuannya. Hal ini juga sama jika kita mengajarkan matematika pada orang dewasa dan anak-anak. Guru haruslah memberikan contoh yang dekat dengan lingkungan siswa tertentu. Misal dengan anak-anak dapat dikaitkan dengan makanan kecil, permainan tradisional atau kalkulasi yang mudah sedang untuk orang dewasa dapat menggunakan konteks harga bahan pokok,gaji, dan konteks lain dengan kalkulasi yang lebih rumit, tentu disesuaikan pula dengan materi yang akan diajarkan

    ReplyDelete
  149. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Anak-anak dan dewasa pada dasarnya memiliki kemampuan berfikir matematika yang berbeda. Anak-anak memiliki pola berfikir matematika yang sifatnya sederhana dan nyata, sedangkan orang dewasa memiliki pola berfikir kompleks dan abstrak. Seorang guru hendaknya memahami cara berfikir siswanya sebagai modal dalam menyelenggarakan pembelajaran. Oleh karena itu, dengan mengetahui karakteristik siswa guru dapat mudah menyajikan materi yang sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  150. Rosmiyati Putri UtamiMay 13, 2018 at 4:55 PM

    Rosmiyati Putri Utami
    15301241031
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pada dasarnya pemikiran matematika anak-anak dan orang dewasa itu berbeda, jadi dalam proses pembelajaran jika diterapkan metode yang sama hasilnya akan berbeda. Hal yang mendasar yaitu, anak-anak belum bisa berpikir secara abstrak layaknya orang dewasa. Jika metode yang diterapkan pada orang dewasa diterapkan pada anak-anak ini akan membawa dampak pada tidak tercapainya tujuan pembelajaran itu sendiri.

    ReplyDelete
  151. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Setelah membaca hasil diskusi tersebut, bahwa sangat disayangkan masih banyak guru yang tidak dapat membedakan matematika anak-anak dan matematika dewasa. Padahal matematika anak-anak dan matematika dewasa sangatlah berbeda. Pola berfikir matematika anak-anak ialah menyusun dari hal-hal yang sederhana kemudian mengarah kepada hal-hal yang lebih kompleks. Sedangkan pada matematika dewasa telah bersifat abstrak dan membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Penalaran antara anak-anak dan orang dewasa tidak dapat disamakan. Oleh karena itu, pembelajaran matematika hendaknya perlu disesuaikan dengan tingkatan berpikir siswa.

    ReplyDelete
  152. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Matematika dewasa dn juga matematika merupakan dua hal yang berbeda. Seorang guru harus memahami anatara matematika anak dan jug dewasA. Keduanya berbeda satu dengan yang lain pada anak-anak masih berpikiran matematika yang konkrit sedangkan pada orang dewasa belajar matematika yang abstrak dan fungsional. Jadi guru harus memahami seubyek mana yang akan diajarkan.

    ReplyDelete
  153. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Kapasitas ilmu yang dimiliki anak di tiap tingkatan usa itu berbeda-beda. Missal anak di jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah, mereka lebih mudah memahami hal-hal yang bersifat konkret sedangkan remaja dan orang dewasa sudah dapat diajak untuk berpikir secara abstrak. Guru dalam menyampaikan pembelajaran harus memperhatikan siapa objek yang beliau ajar. Guru harus mampu menyediakan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat pengetahuan siswanya. Dengan demikian pengalaman pembelajaran yang diperoleh siswa akan menjadi menarik dan lebih bermakna.

    ReplyDelete
  154. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  155. Finda Ayu Annisa
    15301241024
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Kita sebagai guru atau calon pendidik harus mengetahui perlakuan yang pas bagi peserta didiknya agar proses pembelajaran dan tujuan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Perlakuan mengajarkan matematika pada anak dan dewasa tentu beda. Begitu juga dengan peserta didik SD dengan SMP atau SMA tentu berbeda. Ketika guru mengajarkan matematika pada peserta didik SD, tentunya guru harus menjelma menjadi peserta didik SD. Untuk mengajarkan matematika ke peserta didik SD perlu adanya contoh yang nyata berdasarkan pengalaman anak dan ketika kita mengajarkan matematika dewasa kita dapat menggunakan definisi, teorema dan aksioma.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  156. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof, artikel yang sangat inspiratif. Sebagai calon pendidik, sangat penting untuk dapat membedakan antara matematika anak dan matematika dewasa. Matematika pada anak-anak masih bersifat konkret, dalam belajar matematika anak-anak masih menggunakan benda-benda konkret yang ada di sekitarnya. Matematika pada anak tidak bersifat abstrak, menggunakan teorema maupun definisi. Kesalahan pembelajaran matematika pada anak dapat berakibat pada rendahnya minat, partisipasi dan motivasi anak dalam belajar matematika. Sehingga menyebabkan rendahnya hasil belajar serta kurangnya kemampuan matematika pada anak.

    ReplyDelete
  157. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    15301241046
    Pendidikan Matematika A 2015
    Terimakasih banyak atas artikelnya Prof. artikel tersebut sangat dibutuhkan bagi mahasiswa pendidikan seperti saya. Pikiran anak-anak dan orang dewasa tentu berbeda. Pikiran anak-anak itu konkret, jadi mengajarkan anak-anak mengajar matematika pada anak-anak juga harus konkret. Ajarkan matematika dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, bukan dengan sesuatu yang abstrak seperti definisi. Tentu hal ini berbeda dengan pikiran orang dewasa yang sudah bisa membayangkan hal-hal yang abstrak.

    ReplyDelete
  158. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Matematika anak dan orang dewas tentunya berbeda. Karena kemampuan berpikir nya pun berbeda. Matematika anak adalah matematika kongkret. Nyata adanya di kehidupan sehari-hari sehingga siswa lebih mudah mempelajarinya, lebih mudah memvisualisasikan. Matematika anak bukan matematika abstrak yang menggunakan definisi dan teorema. Tentu jika anak sudah dicekoki dengan definisi dan teorema anak akan merasa berat, beban, dan akhirmya minat nya pada matematika akan hilang.

    ReplyDelete
  159. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Matematika untuk orang dewasa dan matematika untuk anak-anak tentu saja berbeda. Orang dewasa dapat mempelajari matematika yag bersifat abstrak, tetapi tidak dengan anak-anak. Oleh karena itu, dalam membelajarkan matematika kepada anak, pembelajaran kontekstual sangat membantu anak untuk belajar matematika karena anak memiliki wujud konkret dari ilmu matematika yang dipelajari. Jangan sampai kita membelajarkan matematika ke anak-anak hanya dengan menjejalkan rumus tanpa membelajarkan makna dari rumus tersebut dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  160. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Terima kasih prof atas artikelnya. Pada dasarnya kemampuan anak jauh berbeda dibandingkan dengan kemampuan orang dewasa. Beberapa waktu yang lalu saya sudah membaca artikel Bapak bahwa untuk mendidik anak atau dalam lingkup pendidikan adalah peserta didik, pendidik harus bisa melepaskan kedewaannya, dalam artian pendidik harus bisa menyesuaikan pola pikir dari peserta didik, jangan menganggap bahwa peserta didik memiliki pola berpikir yang sama dengan pendidik. Hal ini sangat sesuai dengan artikel ini karena jelas bahwa anak-anak dalam belajar matematika masih dilaksanakan dengan cara bermain, dan dengan bantuan dari alat peraga dan media-media pembelajaran yang menarik supaya siswa dapat memikirkan atau mengindra suatu objek untuk membantu peserta didik mengkonsep ilmu pengetahuannya. Sedangkan orang dewasa, sudah mampu menalar jauh lebih baik sehingga matematika yang diajarkan dan dipelajari oleh orang dewasa harus lebih kompleks. Dengan demikian sangat penting bahwa seorang pendidik harus mampu membedakan dan memilah antara matematika untuk anak dengan matematika untuk dewasa sehingga seorang anak dapat belajar matematika sesuai dengan tingkat kognitif yang sedang dilalui

    ReplyDelete
  161. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya sangat setuju bahwa matematika untuk orang dewasa (atau biasa kita kenal dengan matematika murni) dan matematika anak-anak (matematika sekolah) adalah berbeda. Untuk mengajarkan matematika pada anak-anak, kita tidak dapat menyamakannya dengan matematika untuk dewasa. Diperlukan rasa empati dari guru untuk memahami proses kognitif yang sedang dilalui oleh siswanya, dengan kata lain sangatlah penting bagi seorang guru untuk mencoba berpikir dan merasakan dari sudut pandang siswanya. Dengan melandaskan rasa empati tersebut, tentunya akan membantu guru dalam memahami pemikiran siswanya sehingga apa yang ingin diajarkannya pun dapat dengan lebih mudah ditangkap oleh siswa.

    ReplyDelete
  162. Zayan Nur Ansito Rini
    15301241003
    S1 Pendidikan Matematika

    Salah satu hal yang kurang diperhatikan oleh guru ketika mengajar adalah bahwa kadang, guru masih memaksakan cara berpikir tertentu (yang sebenarnya cara berpikir tersebut merupakan cara berpikir orang dewasa) kepada siswa, padahal siswa tersebut masih tergolong kelas bawah. Tahap perkembangan siswa bertahap, sehingga guru perlu memahami hal tersebut sebagai dasar proses pembelajaran. Maka dari itu, sebisa mungkin guru dituntut kreatif dan inovatif agar mampu menyelenggarakan pembelajaran yang sesuai dengan siswa.

    ReplyDelete
  163. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Sebagai calon pendidik penting bagi kita memahami bahwa matematika untuk anak dan matematika untuk dewasa memang berbeda. Matematika untuk anak merupakan matematika yang lebih kongkret dan sesuai dengan pengalaman mereka. Kita sebagai guru jangan sampai memaksakan matematika yang abstrak dan analitik kepada anak, karena itu akan berdampak buruk bagi anak.

    ReplyDelete
  164. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Setelah membaca postingan ini, saya menjadi lebih menyadari betapa pentingnya bagi guru ataupun calon pendidikan untuk memahami hakekat matematika sekolah. Dengan memahami hakekat matematika sekolah tersebut, diharapkan guru dapat memahami bagaimana cara memfasilitasi siswa untuk belajar matematika sesuai dengan tingkatan berpikir dan bernalar siswa.

    ReplyDelete
  165. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Seperti yang telah dituliskan oleh Bapak Prof. Marsigit bahwa antara matematika murni (atau matematika formal) dan matematika sekolah itu berbeda. Jangan sampai membelajarkan matematika sekolah sama seperti membelajarkan matematika formal yang biasanya diawali dengan definisi-definisi. Matematika sekolah sudah seharusnya untuk dibelajarkan melalui kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman yang berkaitan langsung dengan kehidupan mereka.

    ReplyDelete
  166. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat dikatakan sama. Hal ini dikarenakan perkembangan pola pikir antara anak-anak dengan orang dewasa sangatlah berbeda. Tahap pemikiran anak-anak dalam belajar matematika ada pada tahap operasi konkrit yang merupakan tahap dimana anak-anak akan dapat memahami suatu konsep dalam matematika dengan bantuan benda-benda konkrit. Sementara orang dewa sudah dapat belajar matematika dalam tahap formatif.

    ReplyDelete
  167. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Terimakasih prof, dari hasil diskusi diatas terlihat bahwa sebagaian besar guru matematika tidak dapat membedakan antara orang dewasa dan matematika muda. Hal tersebut yang mengakibatkan selalu terjadi berita buruk mengenai praktik mengajar matematika dalam hal partisipasi dan motivasi. Sehingga diperlukan gaya belajar yang tepat guna menumbuhkan partisipasi dan memotivasi belajar siswa dengan baik. Salah satu korban situasi tersebut adalah pelajar yang lebih muda yang menjadi korban ambisi orang dewasa. Sehingga pguru matematika harus berdiri disamping pelajar muda untuk melindungi mereka dari perilaku ambisi orang dewasa yang penuh dengan motif dan ambisi.

    ReplyDelete
  168. Okta islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Memang benar, matematika untuk anak harus dibedakan dengan matematika untuk orang dewasa. Mengapa demikian? Karena pola pikir anak berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak cenderung berpikir secara konkrit, mereka belum dapat melihat sesuatu yang abstrak. Itulah mengapa, ada yang namanya matematika sekolah. Matematika sekolah ini dikhususkan bagi anak-anak atau siswa dan cara mengajar ataupun materi yang disampaikan akan disesuaikan dengan siswa.

    ReplyDelete
  169. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Matematika untuk orang dewasa (biasa kita kenal sebagai Pure Mathematics) tentu berbeda dengan matematika untuk anak-anak (Matematika Sekolah). Namun sayangnya, masih banyak guru matematika yang tidak dapat membedakannya. Padahal dengan mengetahui perbedaan keduanya, guru dapat memberikan pembelajaran matematika yang lebih bermakna kepada anak-anak. Pembelajaran bermakna ini bisa dilewati dengan mengetahui alur kognitif siswa dalam mempelajari matematika, juga mengetahui sudut pandang berfikir siswa dalam mempelajari matematika. Dengan seperti itu, guru dapat dikatakan sudah dapat memfasilitasi siswa dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  170. Yuntaman Nahari
    18709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Berdasarkan artikel di atas, saya menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika untuk anak berbeda dengan orang dewasa. Matematika anak bersifat kontekstual, sedangkan matematika dewasa bersifat formal abstrak. Guru matematika hendaknya memahami tahap perkembangan berpikir anak. Mengajarkan matematika sesuai dengan perkembangan kognitif anak yang terdapat dalam teori-teori belajar.

    ReplyDelete
  171. Assalamu Alaikum Wr.Wb
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    S2 Pendidikan Matematika 2018


    "Therefore, I wish also to blame the currently state that Pure Math and Pure Sciences have been too deep and too far intervening Math Teaching; because significantly, they do not able to perform their accountability in their involvement in Math teaching", the statment from Hasil Diskusi dengan Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk Dewasa dan Anak.

    Acording to the statment, I'm believe that the axperience/knowledge of adult and child has more divergences

    ReplyDelete
  172. Agnes Teresa Panjaitan
    S2 pendidikan matematika A 2018
    18709251013

    Pemahaman saya berdasarkan tulisan diatas adalah perlu adanya pembedaan perlakuan dalam membelajarkan matematika terhadap anak-anak dan dewasa. Tidak dipungkiri bahwa, terdapat perbedaan yang signifikan akan kemampuan berpikir dewasa dan anak-anak. Dalam tulisan ini, saya cukup mengerti bahwa landasan dalam persoalan ini adalah pengetahuan guru. Bagaimana seharusnya seseorang ditetapkan sebagai seorang guru. Guru tidak hanya mengetahui materi yang diajarkan tetapi mengetahui bagaimana mengaplikasikan materi tersebut dalam pembelajaran dengan mempertimbangkan tahapan perkembangan anak. Ketika guru menganggap bahwa setiap metode dapat ddiberikan kepada setiap jenjang pendidikan siswa, tentu hal tersebut akan berdampak pada banyak hal. Untuk itu, diharapkan sebagai tenaga pendidik, guru mampu mengikuti dan menyadari perbedaan perlakuan yang harus mereka berikan.

    ReplyDelete
  173. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika B

    Matematika untuk anak-anak dan dewasa itu berbeda dan memang harus dibedakan. Matematika untuk anak-anak harus lebih dikaitkan atau dekat dengan kehidupan sehari-hari karena anak-anak belajar dari imajinasi kehidupan sehari-harinya. Guru seharusnya benar-benar memahami matematika dan cara mengajar yang baik agar siswa dapat belajar bermakna.

    ReplyDelete
  174. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Matematika adalah salah satu aspek yang paling penting yang wajib dibekali kepada anak sekolah dasar. Anak di sekokah dasar dalam pembelajaran matematika seharusnya lebih ditekankan pada pemberian pola, belajar yang sifatnya sambil bermain tidak sekadar guru menjelaskan, contoh soal lalu latihan. Tapi matematika harus dibuat sebagai pelajaran yang menyenangkan agar anak dapat mengexplore sendiri pengetahuannya terhadap matematika berbeda dengan orang dewasa yang lebih bersifat formal dalam belajar matematika, lebih kepada guru hanya benar-benar membimbing dan siswa perlu mencari dan memahaminya sendiri.

    ReplyDelete