Oct 8, 2013

Hasil Diskusi dengan Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk Dewasa dan Anak




Dear all,

Berikut adalah kesimpulan sementara hasil diskusi dengan beberapa Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk orang dewasa dan anak kecil:

Marsigit Dr MA, Lecturer at Yogyakarta State University, concludes the following:

"I am sad to find that most of math teachers around the world are unable to differentiate between adults and young math. That's why from time to time, at every educational context, there are always bad news of math teaching practices in term of students' participation and motivation.

Hereby I wish to blame the currently educational systems including recruitment system of math teachers and the system they are prepared to be a math teachers.In the big countries or in the West, this circumstances is very significant.

Therefore, I wish also to blame the currently state that Pure Math and Pure Sciences have been too deep and too far intervening Math Teaching; because significantly, they do not able to perform their accountability in their involvement in Math teaching.

Further, I may label the Pure Math and Pure Science as a Golden Kids of contemporary Power Now; in which not only big countries but also the small ones are now in the state of emergency, confusing, hegemonic, and not in a healthy interaction each other.

The only victim of this situation are the younger learner. They are the victim of adult ambitions (Pure Math, Pure Science through their system and the teachers inside) in the name of technology and contemporary life. That's why we then found that there are more and more unpredictable phenomena reflecting the students' under pressure by their adults.

I wish to call Math teachers who still have their empathy to their young generation to think critically and to do anything to change the situation.

Math teachers should stand beside their young learner and to protect them from inappropriate adults behavior in which their thinking are full of motive and ambitions."

Diskusi selengkapnya masih dapat diakses pada link berikut:

http://www.linkedin.com/groupAnswers?viewQuestionAndAnswers=&discussionID=276248584&gid=33207&commentID=167136771&trk=view_disc&fromEmail=&ut=2uA5P9sed83RY1

Terimakasih

Marsigit, UNY

40 comments:

  1. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika anak-anak dan dewasa jelas berbeda hal ini disebabkan perbedaan perkembangan kognitiv anak anak masih sederhana sedangkan struktur kognitiv orang dewasa sudah dalam tahapan kompleks. Sehingga seharusnya pendekatan pembelajaran matematika anak-anak dan orang dewasa juga berbeda.

    ReplyDelete
  2. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendekatan pembelajaran matematika anak-anak dapat menggunakan pendekatan yang sifatnya kontekstual dan induktif (dapat dibayangkan oleh siswa) seperti Matematika realistik, Etnomatematika, contextual mathematic learning, mathematics in conteks dan lain sebagainya. Sedangkan pada orang dewasa sudah dapat dikenalkan menggunakan pendekatan deduktif yakni berupa definisi , teorema, ataupun lema.

    ReplyDelete
  3. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan matematika yang baik adalah pendidikan yang disesuaikan dengan usia anak ataupun siswa yang akan menerima pembelajaran. Pembelajaran matematika untuk anak-anak tidak dapat disamakan dengan pembelajaran matematika dengan orang dewasa. Hal ini dikarenakan kemampuan dan pola pikir dari anak-anak dan orang dewasa tidak sama. Orang dewasa yang dianggap memiliki kemampuan dan pola pikir yang lebih luas, melakukan pembelajaran yang lebih kompleks terkait dengan pembuktian rumus-rumus, teorema dan aksioma-aksioma. Sementara pembelajaran untuk anak-anak lebih kearah pembelajaran dengan mengandalkan benda-benda konkrit.

    ReplyDelete
  4. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pada saat ini memang masih banyak guru yang mengajar sesuai dengan jalan pikiran guru tersebut sendiri tanpa menyadari bahwa pemikiran orang dewasa dengan pemikiran anak anak itu sangat berbeda. Sebuah konsep yang dianggap mudah oleh logika orang dewasa tidak sejalan dengan logika anak anak, sehingga diharapkan nantinya seorang guru dalam proses pembelajaran memperhatikan perbedaan karakteristik anak didiknya dan bisa memberikan pembelajaran matematika yang sesuai dengan dunia anak-anak

    ReplyDelete
  5. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menjadi seorang guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Seorang guru mempunyai peranan yang penting dalam mempersiapkan masa depan anak didiknya. Guru mengajarkan anak didiknya dari yang tidak tahu menjadi tahu. Akan tetapi sayangnya, kesejahteraan guru belum merata terutama di negara kita. Contohnya, untuk guru-guru honorer yang terkadang pekerjaannya lebih banyak dari guru PNS, digaji 3 bulan sekali dan jumlahnya pun kecil. Untuk guru yang di daerah tepencil, terkadang mereka harus mengajar dengan fasilitas apa adanya dan juga dengan honor yang kecil. Sebenarnya tak masalah bagi mereka, karena mereka mempunyai ikhlas melakukan itu semua. Tetapi, alangkah baiknya jika hal ini ditindak lanjuti. Karena hal ini tidak sebanding dengan guru-guru yang PNS di kota besar. Fasilitas mereka lengkap, gaji mereka datang tepat waktu dengan jumlah yang besar, mengikuti berbagai pelatihan mengajar, dll. Bahkan, dengan keadaan yang seperti itu masih ada yang bermalas-malasan. Semoga hal ini ditindaklnjuti oleh pemerintah dan semoga kesejahteraan guru merata di seluruh Indonesia.

    ReplyDelete
  6. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berdasarkan pemaparan Bapak Marsigit dalam postingan di atas, saya menyimpulkan alasan mengapa guru sangat berambisi pada para siswanya karena tuntutan kurikulum. Beban materi matematika yang semakin berat, membuat guru terus-terusan forcing dan forcing materi, rumus, soal-soal, pada siswanya, tanpa memberikan kesempatan siswa untuk berkreasi dan berpikir kritis. Maka saya setuju dengan postingan di atas, kalau “younger learner” menjadi korban dalam situasi ini. Untuk menyelesaikan masalah di atas, bukan hanya dari lingkup guru saja yang harus berbenah, melainkan dengan perombakan sistem pendidikan di negara kita.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Saya setuju bahwa ada perbedaan pemikiran dalam memahami matematika bagi matematika dewasa dan matematika anak. Matematika pada dasarnya adalah ilmu abstrak dan sifat kebenarannya berdasarkan logika dan deduktif (setidaknya itulah matematika dewasa). Terkadang ada seseorang yang memiliki pemahaman matematika dewasa memaksakan pola pemikiran matematika dewasa kepada orang yang masih awam dengan matematika (matematika anak) sehingga membuat orang yang awam terhadap matematika tersebut tertekan. Saya setuju jika mengenalkan matematika kepada anak sebaiknya dengan pendekatan pola pikir si anak itu sendiri, jika memang diperlukan bisa dengan menggunakan visualisasi, intuisi dan secara induktif.

    ReplyDelete
  8. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari artikel di atas, saya dapat merangkum beberapa hal penting. Beberapa diantaranya adalah bahwa kita harus mengetahui perbedaan siswa dan orang dewasa dalam hal pemahaman merekan tentang matematika. Orang dewasa sudah memahami matematika formal yang abstrak sedangkan siswa masih belum paham. Siswa harus dijelaskan mulai dari hal-hal yang konkret karena dunia mereka belum sampai ke matematika abstrak.

    ReplyDelete
  9. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Pengajaran matematika untuk anak-anak dan dewasa tentunya berbeda. Dalam mempelajari matematika, anak-anak masih membutuhkan model atau hal-hal konkrit dan kontekstual. Anak-anak dalam mempelajari matematika membutuhkan alasan mengapa mereka harus mempelajarinya dan untuk apa kegunaannya. Dengan menggunakan model benda konkrit atau masalah yang sesuai dengan konteks kehidupan siswa, diharapkan pertanyaan-pertanyaan semacam “untuk apa saya harus mempelajari ini?” sudah tidak lagi ditanyakan. Sedangkan bagi orang dewasa, matematika yang dipelajari adalah formal mathematics atau bahkan matematika terapan. Orang dewasa sudah mengetahui apa kegunaan matematika yang dipelajarinya dan mengapa ia harus mempelajarinya. Hal ini lah yang masih menjadi problematika di kancah pendidikan matematika Indonesia. Sekarang, sesuai dengan kurikulum 2013, pengajaran di sekolah disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam lingkungannya. Sehingga diharapkan siswa memahami pelajaran, termasuk matematika karena pelajaran tersebut disesuaikan dengan konteks kehidupan siswa. Pendidikan di Indonesia sedang dalam masa bangkit kembali dan melepaskan diri dari model pengajaran yang teacher-centered

    ReplyDelete
  10. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Dari artikel diatas, saya dapat menangkat pembelajaran matematika untuk anak dan dewasa tersebut harus dibedakan. dalam pembelajaran matematika pada anak-anak, pembelajran matematika diajarkan dengan membutuhkan model -model atau alat yang membuat pembelajaran matematika itu dapat dilihat secara nyata, konkrit atau secara kontekstual. berbeda dengan seorang yang sudah dewasa dalam mempelajari matematika karena dalam pemikiran nya sudah matang dan siap dalam mempelajari matematika secara lebih mendalam dalam bentuk konkrit maupun abstrak. Problematika yang dihadapi di Indonesia bahwa beberapa masih berjuang untuk membangkitkan sikap kritis, kreatif dari siswa dengan motivasi yang tinggi, harapan tersebut sesuai dengan kurikulum yang terbaru dalam pendidikan di Indonesia yaitu kurikulum 2013, Sehinggan diharapkan dapat berprogres dengan baik dan mempunyai hasil yang memuaskan.

    ReplyDelete
  11. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Dalam postingan ini telah dirangkum hasil diskusi dengan guru matematika internasional oleh Prof Marsigit. Topik yang diangkat adalah matematika murni dan pendidikan matematika.
    Sebagai tambahan dari komentar saya di atas.

    Saya setuju dengan pendapat bahwa matematika murni sudah ikut campur “terlalu banyak” dalam pendidikan matematika. Pendidikan matematika berbeda substansinya dengan matematika murni. Seperti yang disebutkan dalam postingan ini bahwa matematika murni cenderung formal, sedangkan pendidikan matematika adalah matematika yang terjadi di kehidupan sosial. Pendidikan matematika berangkat dari masalah-masalah yang terjadi di kehidupan kebanyakan orang dalam kesehariannya, sehingga sifatnya general. Sedangkan matematika murni cenderung ke arah matematika terapan, dimana tidak semua orang mampu mengikuti atau memahaminya. Matematika formal yang telah masuk ke matematika sekolah misalnya adalah fungsi eksponen dan logaritma. Ketika mempelajari eksponen dan logaritma, kemungkinan besar siswa belum mengetahui apakah sebenarnya fungsi atau kegunaan dari eksponen dan logaritma? Mengapa harus dipelajari? Seperti itulah sifatnya matematika formal. Berbeda dengan pendidikan matematika yang berangkat dari hal-hal konkret, sehingga harapannya dengan pendidikan matematika pertanyaan "mengapa harus dipelajari" tidak lagi muncul, khususnya dari siswa.

    ReplyDelete
  12. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Pemahaman akan perbedaan matematika sekolah dan matematika formal belum sepenuhnya dapat dimengerti oleh semua matematikawan. padahal, hal tersebut sangatlah penting untuk dimengerti guru maupun orang-orang yang bertugas untuk mencetak guru. ketidak pahaman tersebut pada akhirnya menimbulkan kesewenang-wenangan para petinggi untuk menentukan siapa yang akan mendidik anak-anak bangsa kita, tidak peduli seseorang tersebut berasal dari matematika murni atau pendidikan, selama ia lulus mengikuti tes maka ia akan menjadi guru.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  13. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Matematika bagi orang dewasa dan anak-anak adalah dua hal yang berbeda. untuk anak-anak, konsep matematika yang ia pahami seluruhnya berasal dari intuisi, dari manakah intuisi tersebut ia dapatkan? tentu saja dari pengalaman. pendidik yang mengerti tentang hal ini akan berusaha untuk memberikan berbagai macam aktvitas, pengalaman-pengalaman kepada anak sehingga siswa akan memiliki banyak intuisi dan sesuai yang dapat membantu mereka untuk membangun matematikanya. pendidik yang tidak mengerti akan hal ini akan seenaknya memaksakan matematikanya terhadap siswa tanpa menimbang kebutuhan siswa, matematika yang disampaikan juga akan sangat sulit diterima oleh anak karena anak belum memiliki intuisi yang cukup untuk mencernanya, sehingga bukannya akan membuat siswa menjadi semakin pintar, tetapi malah hanya akan menumbuhkan kebencian sang anak terhadap matematika.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  14. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Pada dasarnya perbedaan pembelajaran matematika untuk dewasa dan anak-anak adalah tentang keabstrakannya. Semakin dewasa usia seseorang semakin abstrak pikirannya. Begitu sebaliknya, semakin rendah usia anak-anak semakin konkrit. Maka anak-anak pada usia awal belum mampu memikirkan matematika yang sebenarnya bersifat abstrak. Oleh karena itu, matematika yang disajikan untuk anak-anak awal harus melalui hal-hal yang konkret, yang mudah diterima bagi siswa. Ini merupakan tugas guru untuk dapat memanfaatkan hal-hal konkret di sekitar anak untuk membangun pengetahuan matematikanya.

    ReplyDelete
  15. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Pembelajaran matematika dibagi menjadi beberapa tahap, karena pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan pola pikir. Dalam pembelajaran matematika anak harus dimulai dengan sesuatu yang dianggap konkrit oleh anak, anak belum mampu untuk berpikir secara abstrak. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah mampu untuk belajar secara abstrak.

    ReplyDelete
  16. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    tidak lah sama pemikiran orang dewasa dan anak-anak. itu terjadi karena perbedaan pola pikir dan pertumbuhan otak yang masih dalam perkembangannya masing-masing. maka dari itu dibutuhkan lah kegiatan kegiatan diskusi seperti ini karena dengan begitu maka akan muncul ide baru dalam menangani bagaimana cara mengajar anak dan dewasa.

    ReplyDelete
  17. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.I agree on the mistakes in the teacher recruitment system, not just the math teacher but related to all the subject teachers. If analyzed, there is a deviation in this case. The purpose of teacher screening should be based on the credibility of his ability not on anything else. The most important factor is how to educate the students because they are the generation of change. Finally, if you look at this situation students become victims of this education system error.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  18. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan tulisan di atas mengenai kesimpulan sementara hasil diskusi mengenai perbedaan matematika untuk dewasa dan anak serta berdasarkan pengamatan saya tentang pembelajaran matematika ini memang terdapat perbedaan dalam memahamkan atau membelajarkan matematika terhadap orang dewasa dan anak-anak. Sebab, bagi orang dewasa akan mampu menerima materi matematika formal yang bersifat abstrak karena telah sesuai dengan kemampuannya. Sedangkan bagi anak-anak, matematika dikenalkan sesuai dengan dunia dan pola pikirnya yaitu matematika yang dikaitkan dengan kenyataan, sesuai keadaan riilnya.
    Sehingga, dalam menyampaikan materi matematika hendaklah guru harus mampu menyesuaikan terhadap siapa yang akan diajarnya. Apakah itu orang dewasa atau anak-anak. Janganlah memaksakan pemikiran orang dewasa terhadap anak-anak karena akan berdampak pada perkembangannya nanti.

    ReplyDelete
  19. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Matematika untuk anak-anak adalah matematika yang konkrit. Berdasarkan pengalaman saya mengajar di lower grade anak-anak sangat senang dengan matematika yang bisa mereka lihat dan yang bisa mereka rasakan keberadaannya. Anak-anak juga memilki karakter yang tidak hanya duduk diam dan mendengarkan penjelasan dari guru, mereka ingin bergerak, mereka ingin melakukan sesuatu, maka dari itu games dan permainan yang berhbungan dengan matematika dapat memacu mereka untuk menykai matematika.

    ReplyDelete
  20. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Dalam proses pembelajaran matematika, sangat diharapkan siswa berperan aktif. Karena jika siswa tidak aktif/pasif besar kemungkinan penjelasan yang disampaikan oleh guru tidak membuahkan hasil yang maksimal. Terkadang untuk membuat siswa aktif, cara yang digunakan guru kurang tepat, sehingga bukannya menjadikan siswa aktif malah menjadikan siswa pasif. Salah satu cara yang dapat digunakan supaya siswa aktif dalam proses pembelajaran yaitu dengan memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan bemakna, sehingga siswa lebih antusias untuk belajar dan menimbulkan semangat dan motivasi yang dapat menjadikan siswa lebih aktif. Sedangkan pembelajaan untuk siswa yang sudah dewasa sebaiknya lebih kepada tahap pemecahan masalah, mengkaji gagasan, dan menerapkan apa yang telah dipelajari. Jelas sangat berbeda proses pembelajaran yang diberikan untuk anak-anak dan siswa yang sudah dewasa. Sehingga penting bagi guru untuk memahami berbagai metode pembelajaan yang sesuai dengan usia siswanya.

    ReplyDelete
  21. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Differ between adults and young students is must. Because they have a big differences on them. We know that mathematics learning problem is more founded from a young student. it is caused by the teacher that cannot teaach them as their age. The teacher only delivere their knowledges as they know from the theories that they learned. Its is the biggest fault of teacher. The real teacher is someone who can teach some lesson and deliver it as the student’s age. If they are nor carrying that thing, the teacher should recorrect their teaching proses. So that why more young students’ score is low.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  22. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Menjadi guru bagi anak-anak sama artinya dengan menjadi bagian dari anak-anak itu sendiri. Anak-anak sudah pasti tidak bisa menjadi orang dewasa, namun orang dewasa harus mampu menjadi anak-anak. Pola pengertian akan keadaan dan situasi siswa seperti itulah yang sudah menjadi pondasi pendidikan matematika. Hanya saja, demi sains dan teknologi, pemangku kebijakan justru terlalu banyak melibatkan ilmu-ilmu murni yang jauh dari dunia anak-anak. Akbiatnya, anak menjadi kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan ‘keinginan’ ilmu orang dewasa tersebut.

    ReplyDelete
  23. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Matematika dalam dunia anak dan orang dewasa tentu sangat berbeda. Matematika orang dewasa adalah matematika tingkat tinggi, dengan tingkatan yang sudah dilevel matematika abstrak, sehingga mereka mampu memikirkannya hanya didalam pikiran. Sedangkan matematika bagi anak-anak adalah matematika konkrit, yang dipelajari melalui contoh-contoh yang nyata yang dapat dipanca indara, matematika yang dekat dengan dirinya. Konsep-konsep dalam benak siswa harus ditanamkan melalui contoh-contoh konkret yang sedikit demi sedikit diarahkan ke konsep matematis. Maka sebenar-benar belajar matematika bagi siswa adalah aktivitas, misalnya aktivitas menemukan pola.

    ReplyDelete
  24. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam proses belajar mengajar, memang pembelajaran di tingkat kanak-kanak dan dewasa memang harus dibedakan. Mengapa demikian?. Karena tingkat kognitif mereka memang sangatlah berbeda. Oleh karenanya hal ini merupakan aspek yang mendasar yang harus dipahami dengan baik. Seperti halnya dalam mengajarkan matematika. Bagi anak-anak pembelajaran matematika harus dimulai dengan hal-hal yang konkrit untuk menuju ke hal yang abstrak. Sedangkan bagi remaja atau dewasa mereka sudah mampu untuk menelaah hal-hal yang abstrak sehingga pendekatan secara konkrit hukan merupakan hal yang utama. Harapannya jika dapat memahami kognisi siswa pembelajaran menjadi lebih efesien.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  25. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    targets in learning mathematics also need to be considered. Certainly children and adults are also given different treatment, both in terms of presentation of the material and how to deliver it. For children using concrete theory, they can understand what is learned with the help of concrete objects, whereas adult mathematics is abstract because adult thinking ability can analyze abstract things. The point is, mathematics for adults and children is not same.

    ReplyDelete
  26. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seorang pendidik harus mengerti konsep bahwa setiap siswa berbeda tingkat kemampuan dan skill yang dimiliki nya. Oleh sebab itu, perbedaan tingkat kemampuan berpikir anak-anak dan dewasa sudah pasti jauh berbeda. Jangankan untuk matematika, cara menyampaikan informasi saja sudah berbeda. Konsep matematika bagi anak-anak adalah real, mereka belum mampu mengolah konsep abstrak. Jika semakin lama kita mengabaikan fakta ini, maka anak-anak akan tersesat di dalam dunia pendidikan yang memaksa anak-anak untuk dewasa sejak dini. Artinya, mereka melewatkan masa-masa di mana mereka menerima konsep-konsep kontekstual dan konkret, yang akan menjadi dasar pijakan kuat untuk melangkah lebih jauh.

    ReplyDelete
  27. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Matematika untuk dewasa dan anak jelas sangat berbeda. Mereka mimiliki pola pikir dan pandangan yang berbeda. Orang dewasa sudah bisa berpikir secara teoritis sedangkan seorang anak masih susah, melainkan mereka hanya dapat berpikir sesuai dengan apa yang dibayangkan maupun apa yang ada di lingkungan sekitar. Karena seorang guru termasuk orang dewasa, terkadang guru salah memposisikan siswa. kebanyakan guru menganggap jika siswa itu memiliki pola pikir dan kemmapuan bernalar yang sama dengan dirinya. Dalam kesimpulan diatas, juga disebutkan bahwa orang dewasa iu lebih memiliki motif dan ambisi yang terlalu kuat. Misal guru matematika berharap siswa itu dapat menjadi X dalam satu pertemuan saja, padahal siswa tersebut memiliki daya pikir yang berbeda. Sehingga sulit untuk dicapainya.

    ReplyDelete
  28. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    I strongly agree that we have to distinguish between math for young learner and math for adults. Math for young learner should be learning about daily life, whatever students can touch, see, hear, taste, feel... It's about social life, it has relationship with others and environment.
    I use realistic mathematics method to teach my students. When I discuss about time, then it will be the time that students need to do something, etc.
    Math should be meaningful and enjoying.
    Actually it's about the joy of clear thinking. We hope that students are joyful doing math and learn about logic in the way of children learn. Not in the way of adults learn.

    ReplyDelete
  29. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Saya ssetuju dengan diskusi di atas. Benar-benar mewakili fenomena yang terjadi saat ini. Ya, saat ini, pembelajaran matematika saat ini, antara guru dan siswa, seperti ada garis yang terputus. Tidak sedikit guru dan stakeholder pendidikan saat ini memukul rata metode yang digunakan dalam pembelajaran matematika anak dan dewasa. Pada anak, ironinya, mereka seakan-akan dipaksa belajar dengan cara orang dewasa. Sungguh itu menyakitkan bagi pembelajar anak-anak, mereka seperti dipaksa, mereka seperti diseret. Tentu ada benturan, utamanya benturan dengan tugas perkembangan mereka. Karena pada dasarnya anak-anak belajar dengan sistem yang dibuktikan oleh inderawi mereka, akan tetapi saat ini beberapa pendidik terkesan membawa siswa belajar secara abstraksi. Semoga keadaan seperti ini segera mendapatkan perbaikan. Kita sebagai orang dewasa, sebagai pelaku pendidikan, tidak ada salahnya memulai untuk menggunakan metode-metode yang tepat. Bismillah, semoga kita selalu dala lindungan-Nya. Amin

    ReplyDelete
  30. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Kalimat terakhir "Math teachers should stand beside their young learner and to protect them from inappropriate adults behavior in which their thinking are full of motive and ambitions" sangat menginspirasi dan memberikan pesan yang mendalam bagi para guru dan calon guru, untuk bisa mendampingi siswa dalam mengembangkan pengetahuannya, bukan memaksa siswa mengikutinya dari belakang dan tidak dapat berkembang sesuai bakatnya sendiri.

    ReplyDelete
  31. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Matematika untuk dewasa dan untuk anak memang harus dibedakan karena proses berpikir keduanya sangatlah berbeda. Orang dewasa bisa mempelajari matematika melalui definisi kemudian teorema-teorema , karena kemampuan penalaran mereka sudah mampu menerima hal-hal yang sudah kompleks, sedangkan anak harus diajari matematika berdasarkan hal-hal yang konkret di lingkungan sekitarnya, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa atau pernyataan matematika dan menyelesaikan suatu persoalan matematika, hingga akhirnya anak dapat menemukan definisi dari apa yang sudah dipahaminya. Tidak bisa kita memaksa anak untuk berpikir selayaknya tahap berpikir orang dewasa.

    ReplyDelete
  32. Junianto
    PM C
    17709251065

    Based on this discussion with international mathematics teacher, I can understand that until now pure mathematics and school mathematics stiil mixed each other when both of them were implemented in learning process. This implementation has a big effect to student especially in elementary, junior or senior high school. Student cannot understand the material because the material was abstract and it’s mean that they have been given pure mathematics not school mathematics. Education system also give an effect and caused this condition occured. Therefore, education system has to be evaluated so thic condition would be better in the next day.

    ReplyDelete
  33. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ulasan yang membuat saya menjadi sedikit tahu situasi pembelajaran matematika. Berangkat dari pengalaman ibu saya yang saat ini sedang bersama dengan anak-anak didiknya di bangku Sekolah Dasar mengatakan bahwa adanya soal-soal latihan matematika yang tidak sesuai dikerjakan oleh anak-anak kelas tiga SD. Bahkan, ibu saya juga mengkhawatirkan saat anak-anak diberi PR apakah orang tuanya sendiri mampu mendampingi anak-anaknya saat mengerjakannya. Ini salah satu kesulitan yang dirasakan oleh ibu saya saat mendampingi anak-anak belajar matematika. Mungkin ini adalah salah satu motif dan ambisi dari orang dewasa yang memaksakan anak-anak untuk memahaminya. Saya merasa sedih melihat dinamika dalam pembelajaran saat ini. Sampai saya sendiri berpikir, bagaimana dampak yang akan anak-anak rasakan saat untuk belajar saja mesti ada paksaan dari orang dewasa. Ini tentunya akan menjadi tekanan tersendiri bagi anak-anak yang menjalaninya.

    ReplyDelete
  34. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Di dalam psikologi perkembangan terdapat tahapan-tahapan perkembangan anak. Tahapan perkembanganan anak di golongkan berdasaekan umurnya, mulai dari anak, remaja, dewasa. Tahapan ini juga mempengaruhi cara berfikir anak. Guru yang dianggap sebagai orang dewasa memiliki pemikiran yang berbeda dengan siswa yang dianggap sebagai anak. Guru sudah dapat mengkritisi sesuatu. Oleh karema itu, pembelajaran untuk orang dewasa dan anak juga berbeda khususnya dalam bidang matematika. Tugas guru adalah memikirkan cara agar dapat memberikan materi matematika yang dapat oleh anak yaitu berasal dari masalah nyata/konkrit, dengan begitu akan membentuk konsep pada anak. Jangan pernah guru menganggap posisi anak sama, karena itu akan merusak cara berfikir anak dan akan berpengaruh pada ketertarikan anak dengan mata pelajaran matematika. Oleh karena itu, jadilah guru yanh bisa memahami kondisi anak dan kreatif untuk mengkonstruk pemikiran anak pada materi matematika. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  35. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pembelajaran matematika anak dengan pembelajaran matematika dewasa berbeda. Kalau pembelajaran matematika pada anak (SD) masih bersifat intuitif, sedangkan pada sekolah menengah sudah menuju pembelajaran dewasa. Saya melihat pada usia anak sekarang waktu bermainnya semakin berkurang, karena lebih banyak untuk mengerjakan PR dan tugas dari guru, untuk orang dewasa mungkin lumrah, namun untuk anak anak sangat berbahaya. Pun saya juga mengamati perubahan kurikulum ktsp yang diubah menjadi k13, beban belajar anak sepertinya semakin bertambah, jadi perlu dipikir bersama solusinya agar ke depan anak-anak tetap mendapat hak belajar yang baik namun tidak tercampuri belajar orang dewasa.

    ReplyDelete
  36. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Ketidakpahaman siswa terhadap suatu materi bisa saja disebabkan bukan dari diri siswa sendiri tetapi berasal dari sikap guru yang menganggap siswa memiliki pegetahuan yang sama dengan dirinya. Seharusnya guru matematika yang berasal dari pendidikan dapat memahami setiap keadaan siswa dan menyesuaikan strategi dan model yang sesuai dengan siswa dan harus memahami tingkatan siswa jangan dipaksa ketika siswa masih belum dapat memahami hal yang abstrak guru memberikannya tanpa mendahului merepresentasikan hal nyata ke abstrak

    ReplyDelete
  37. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Matematika untuk anak dan matematika untuk dewasa seharusnya dibedakan. Seorang anak dengan segala potensi yang dimiliki tidak akan pas apabila diajarkan menggunakan matematika untuk orang dewasa. Seorang anak belajar dari pengalamannya, belajar dengan kegiatan, belajar melalui aktivitas yang membuat siswa merasa senang, termotivasi, dan semangat untuk mengemukakan ide-ide mereka. Apabila seorang anak diajar menggunakan matematika untuk orang dewasa rasanya semua itu merupakan kejahatan bagi anak. Anak menjadi korbannya, mereka kehilangan saat-saat dimana belajar dengan kegiatan, saling berbagi dengan teman sebayanya, menggunakan intuisinya untuk mengembangkan pemikirannya. Semoga solusi dari permasalahan ini segera dapat ditemukan.

    ReplyDelete
  38. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Pemikiran anak-anak dan pemikiran orang dewasa memang berbeda. Apa yang dipahami oleh orang dewasa belum tentu dapat dipahami oleh anak-anak. Hendaknya sebagai guru haruslah memberi pelajaran dan penjelasan yang sesuai dengan tingkat pemikiran anak-anak. Guru pernah mengalami masa menjadi siswa, sedangkan siswa belum pernah mengalami masa menjadi guru. Oleh karena itu guru yang menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat pemikiran siswa bukan malah sebaliknya.

    ReplyDelete
  39. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Menurut saya, untuk menjadi guru yang pengertian terhadap siswa yang memahami bagaimana pola pikir sebagian besar siswa, ada baiknya guru melihat ke masa lalu, sosok guru yang bagaimana yang ia perlukan pada saat masih bersekolah. Seiring bertambahnya usia, terkadang seseorang melupakan bagaimana dia dulu berproses. Sehingga, terkadang memang perlu melihat masa lalu, untuk belajar dari masa lalu tersebut. Dalam beberapa kasus, memang terdapat beberapa orang yang memiliki pemikiran yang agak berbeda dengan teman sebayanya saat mereka masih bersekolah sehingga memiliki kesulitan untuk memahami pola pikir sebagian besar siswa. Menanggapi hal ini, sebaiknya (calon) guru bersedia untuk ikhlas memahami pola pikir yang berbeda (dengan dia pada saat bersekolah) tersebut, dan mengingat bahwa guru mempunyai tujuan mulia, yaitu untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. Dalam proses "pencerdasan" tersebut, tentunya harus memperhatikan kebutuhan emosional siswa dan tidak terlalu memaksakan kehendak untuk memenuhi ambisi semata.

    ReplyDelete
  40. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Siswa itu ibarat seorang client yang harus didengarkan apa kebutuhannya dan keinginannya, bukan sebagai objek keegoisan guru. saya dapat memahami bahwa persoalan terkait pembelajaran matematika ini entah sampai kapan tuntasnya. hal ini mendorong/memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, meningkatkan kualitas diri saya dalam pembelajaran agar kelak sanggup menyalurkan ilmu yang saya punya kepada peserta didik dengan efektif dan efisien, sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete