Oct 8, 2013

Hasil Diskusi dengan Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk Dewasa dan Anak




Dear all,

Berikut adalah kesimpulan sementara hasil diskusi dengan beberapa Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk orang dewasa dan anak kecil:

Marsigit Dr MA, Lecturer at Yogyakarta State University, concludes the following:

"I am sad to find that most of math teachers around the world are unable to differentiate between adults and young math. That's why from time to time, at every educational context, there are always bad news of math teaching practices in term of students' participation and motivation.

Hereby I wish to blame the currently educational systems including recruitment system of math teachers and the system they are prepared to be a math teachers.In the big countries or in the West, this circumstances is very significant.

Therefore, I wish also to blame the currently state that Pure Math and Pure Sciences have been too deep and too far intervening Math Teaching; because significantly, they do not able to perform their accountability in their involvement in Math teaching.

Further, I may label the Pure Math and Pure Science as a Golden Kids of contemporary Power Now; in which not only big countries but also the small ones are now in the state of emergency, confusing, hegemonic, and not in a healthy interaction each other.

The only victim of this situation are the younger learner. They are the victim of adult ambitions (Pure Math, Pure Science through their system and the teachers inside) in the name of technology and contemporary life. That's why we then found that there are more and more unpredictable phenomena reflecting the students' under pressure by their adults.

I wish to call Math teachers who still have their empathy to their young generation to think critically and to do anything to change the situation.

Math teachers should stand beside their young learner and to protect them from inappropriate adults behavior in which their thinking are full of motive and ambitions."

Diskusi selengkapnya masih dapat diakses pada link berikut:

http://www.linkedin.com/groupAnswers?viewQuestionAndAnswers=&discussionID=276248584&gid=33207&commentID=167136771&trk=view_disc&fromEmail=&ut=2uA5P9sed83RY1

Terimakasih

Marsigit, UNY

103 comments:

  1. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan dalam usianya anak-anak dalam belajar matematika ada pada tahap operasi konkrit yang simpel dengan bantuan benda-benda konkrit. Sementara orang dewasa sudah dapat belajar matematika dalam tahap problem solving. orang dewasa sudah dapat menganalisis hal-hal yang bersifat abstrak yang tidak dapat dilakukan oleh anak-anak. Matematika untuk orang dewasa pastinya sudah lebih abstrak dibanding dengan matematika anak. Matematika orang dewasa dipelajari seperti di perguruan tinggi.

    ReplyDelete
  2. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak memang perlu dibedakan karena perkembangan pola pikir mereka juga berbeda. Selain itu kebutuhan belajar antara dewasa dan anak juga berbeda. Tidak semua soal yang dikerjakan oleh orang dewasa dapat dikerjakan oleh anak. Jadi matematika dewasa dan anak memang harus dibedakan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristiknya.

    ReplyDelete
  3. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah.....
    Matematika untuk orang dewasa adalah matematika murni yakni ilmu yang bersifat deduksi. Matematika murni membahas tentang teorema, aksioma, lemma, definisi, dan sebagainya, yakni matematika yang berpondasi. Karenanya, untuk mengajarkan matematika kepada anak kecil akan sangat berbeda. Hal ini dikarenakan anak kecil belum mampu berpikir deduktif. Mereka baru mampu pada tahap berpikir secara intuitif. Sehingga, untuk mengajarkan matematika kepada anak kecil diperlukan pendekatan yaitu mendefinisikan matematika bukan sebagai ilmu yang berpondasi, tetapi sebagai pengetahuan intuitif. Matematika sebagai pengetahuan intuitif tersebut kemudian ditemukan sebagai Matematika Sekolah yang kemudian didefinisikan sebagai kegiatan sosial. Oleh karena itu, di dalam setiap proses belajar mengajar, diperlukan diskusi kelompok sebagai sarana untuk membangun matematika intuitif yang bersifat kegiatan sosial.

    ReplyDelete
  4. Hening Carrysa
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    14301241012

    Pembelajaran matematika untuk orang dewasa dan anak memang harus dibedakan. Pembelajaran matematika untuk anak lebih menekankan pada pembelajaran dari contoh dan bukan contoh yang bersifat nyata. Hal ini dikarenakan jika proses pembelajaran matematika ketika TK atau SD sudah membosankan dan menyulitkan maka akan berdampak pada ketidaksukaan anak terhadap mata matematika, untuk itu pembelajaran matematika anak harus dirancang sedemikan rupa sehingga membuat anak suka terhadap mata pelajaran matematika tidak lagi slalu merasa cemas ketika mengikuti pelajaran matematika. Sebaliknya pembelajaran matematika untuk orang dewasa harus lebih menekankan pada proses pembelajaran matemaitka yang lebih abstrak, hal ini disebabkan kemampuan matematika orang dewasa haruslah meningkat seiring berjalannya waktu sehingga dapat mengajarkan pengetahuan yang dimilikinya kepada anak-anak.

    ReplyDelete
  5. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari bacaan di atas mengenai Hasil Diskusi dengan Guru Matematika Internasional tentang Perbedaan Matematika untuk Dewasa dan Anak bahwa seharusnya matematika itu dibedakan untuk orang dewasa dan anak-anak. Karena menurut Piaget, anak-anak masih pada tahap operasional konkrit dimana dalam pembelajaran matematika memerlukan benda-benda konkrit untuk membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  6. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    PPs. P.Mat C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Matematika untuk dewasa dan untuk anak memang dibedakan, hal ini terkait dengan pola pikir, usia, dan tahapan belajar yang berbeda. Matematika dewasa lebih abstrak, konkrit, dan memiliki dimensi yang lebih tinggi. Matematika dewasa dibangun dari matematika anak, sedangkan matematika anak tidak dapat dibangun dari matematika dewasa. Logos memiliki tingkatan dan dimensi yang berbeda. Oleh karena itu, matematika miliki perbedaan terkait dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  7. Sebagai guru matematika seharusnya bisa membedakan porsi matematika untuk dewasa dan untuk pembelajar muda. Pada pembelajar muda, guru matematika harus bisa menjadi fasilitator sehingga pemikirannya menjadi termotivasi untuk menjadi lebih baik. Guru matematika juga harus menanamkan sikp menemukan dalam pembelajaranya, agar lebih bermakna dan membekas dalam benak siswa. Sehingga mereka tidak cepat lupa. Mental siswa akan hancur jika diberikan porsi matematika murni yang sebenarnya bukan porsinya.

    ReplyDelete
  8. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Pelajar muda adalah korban dari ambisi dewasa (Matematika Murni, Ilmu Murni) atas nama teknologi dan kehidupan kontemporer. Dan diharapkan untuk kita calon pendidik Matematika agar memiliki empati kepada generasi muda mereka untuk berpikir kritis dan melakukan apa pun untuk mengubah situasi yang tidak sesuai tersebut. Guru matematika harus berdiri di samping pelajar muda untuk melindungi mereka pemikiran dewasa di mana penuh dengan motif dan ambisi.

    ReplyDelete
  9. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika UNY 2014

    Terdapat perbedaan pembelajaran matematikan untuk dewasa dan untuk anak-anak. Dilihat secara usia, terjadi perbedan pola pikir. Anak-anak masih cenderung memahami matematika melalui benda-benda konkrit. Sedangkan untuk dewasa sudah bisa menyelesaikan masalah dan dapat berpikir analitik. Kebutuhan matematika pada anak-anak dan dewasa juga berbeda. Jadi pendidik tidak bolem menyamakan pembelajaran matematika untuk anak-anak dan dewasa.

    ReplyDelete
  10. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Matematika untuk orang dewasa dan matematika untuk anakkecil itu berbeda, cara dan pendekatannya juga berbeda keduany, jadi kita tidak dapay menyamakan mereka berdua. Matematika jika matematika dewasa diajarkan kepada matematika anak kecil maka mereka dewasa sebelum waktunya padahal kemempuan mereka masih belum kuat untuk menerima hal itu behkan sebaliknya jika matematika anak kecil diajarkan kepada matematima deasa maka itu tidak konsisten dan tidak relevan pengajaran itu. Hal itulah yang harus dibedakan dalam mengajarkan matematika dewasa dan anak kecil. Terima kasih

    ReplyDelete
  11. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Orang dewasa dan anak kecil memiliki cara berpikir, daya tangkap, kemampuan analisis yang berbeda. Cara anak kecil dan orang dewasa dalam belajar sangat jauh berbeda. Anak kecil tentu dalam kesehariannya lebih bisa aktif bergerak dibandingkan orang dewasa. Maka pembelajaran yang dibutuhkan oleh anak kecil itu adalah berupa berbagai aktivitas untuk membangun konsep mereka. Sedangkan orang dewasa lebih kepada membaca atau menganalisis sendiri karena telah banyak memiliki konsep dasar. Anak kecil baru mau membangun konsep mereka, baru mau melatih intuisi dan kemampuan berpikir mereka. Hal ini sangat berpengaruh pada cara berpikir mereka selanjutnya maka sebagai guru SD haruslah memberikan konsep yang benar. Untuk pelajaran matematika anak kecil diberikan kesempatan untuk penyelidikan sederhana yang mampu membantu mereka membangun intuisinya. Maka Prof Marsigit sering menyatakan bahwa untuk matematika SD guru tidak boleh memberikan definisi sesuatu tetapi mereka memahami sesuatu menggunakan intuisinya.

    ReplyDelete
  12. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Memang proses berpikir dan cara pemerolehan antara orang dewasa dan anak jelas berbeda, sesuai tingkat perkembangan kognitifnya. Hal ini juga ditegaskan betul oleh teori Piaget dalam perkembangan kognitifnya orang dewasa sudah mampu berpikir deduksi secara terstruktur untuk memperoleh pengetahuan, namun lain hal nya dengan anak. Termasuk dalam pembelajaran matematika, ketika orang dewasa sudah mampu berpikir abstrak, anak-anak haruslah berpikir kongkrit terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  13. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Pembelajaran matematika memiliki tingkat keabstrakan yang berbeda di setiap jenjang sekolah dan usianya baik yang SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Keabstrakan matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa. Pada usia anak-anak, matematika perlu ditunjukkan dan diperkenalkan sebagai bentuk yang dekat dengan kehidupan mereka sehingga mereka dapat memahami bahwa matematika dan kehidupan bukanlah dua hal yang saling asing dan tidak berhubungan. Sedangkan pada usia dewasa dimana kemampuan dan intelektualnya meningkat, siswa perlu ditunjukkan matematika dalam bentuk permasalahan untuk diselesaikan atau dianalisis. Tingkat keabstrakan matematika untuk dewasa pun bertingkat sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Disinilah tantangan guru dan juga calon guru untuk terus belajar mengembangkan dan memahami ilmu untuk selanjutnya disesuaikan dengan siswa yang kelak akan diajar.

    ReplyDelete
  14. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ketika anak-anak mengaplikasikan matematikannya anak-anak lebih terbiasa dalam kehiduoan sehari-hari, baik ketika untuk komunikasi di dalam rumah, maupun ketika berada di dalam sebuah masyarakat, berbeda dengan matematika untuk orang dewasa yang dalam penerapnnya lebih menekankan pada sebuah teori-teori yang digunakan untuk memperkuat kajian tentang cara penerapannya. Matematika untuk orang dewasa itu matematika formal sedangkan yang untuk anak-anak lebih kepada matematika konkret, ketika beranjak dewasa mulai mempelajari keabstrakan dimana mereka haruslah menemukan matematikanya sendiri melalui pengalaman mereka. Selanjutnya merupakan kebijakan guru dalam pengelolaan kelas sesuai siswa yang menerima pembelajaran.

    ReplyDelete
  15. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Amat sangat disayangkan sekali memang dimana ambisi tanpa pengetahuan yang cukup tentang pendidikan itu sendiri pada akhirnya malah menyebabkan penyimpangan dalam proses pembelajaran yang berakibat fatal. Lagi-lagi tentu saja para siswa yang polos dan hanya menerima apa yang diberikan gurunya saja itu lah yang pada akhirnya merasakan akibatnya.

    ReplyDelete
  16. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Kesalahan pemahaman atas dua macam pengetahuan yang sangat berbeda itu menyebabkan matinya intuisi siswa pada pengetahuan itu sendiri. Matematika untuk orang dewasa dan anak-anak tentulah dua hal yang sangat berbeda. Walaupun pada akhirnya dua hal tersebut memiliki inti yang sama, tetapi pendekatan dan bentuknya sangatlah berbeda. Matematika untuk orang dewasa adalah matematika formal yang akan sangat sulit dimengerti oleh anak-anak. Sedangkan matematika untuk anak-anak adalah matematika sekolah yang pendekatannya lebih menggunakan benda-benda real untuk membantu membangun intuisi anak.

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Pada hakikatnya siswa belajar matematika sesuai dengan kebutuhannya. Matematika sekolah dasar untuk anak – anak yang masih membutuhkan perkenalan dengan matematika, tidak perlu guru mengajarkan hingga pada pembuktian teorema. Mengapa? Karena siswa sekolah dasar belum membutuhkan pengetahuan tersebut untuk seumurannya. Namun setelah menginjak sekolah menengah atas siswa telah membutuhkan pembuktian teorema tersebut, karena mereka akan penasaran dan menimbulkan rasa ingin tahu benar apa tidak teorema tersebut, bagaimana cara membuktikannya. Hal ini juga didukung dari perkembangan penalaran siswa dalam bermatematika.

    ReplyDelete
  18. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pendidikan matematika untuk dewasa dan anak-anak pasti sangat berbeda. Pada tahap anak-anak, dalam mempelajari matematika membutuhkan contoh-contoh konkrit sehingga anak-anak dapat membayangkannya dengan mudah dan mudah memahami materi yang sedang mereka pelajari saat itu. Sedangkan matematika dewasa sudah pasti akan penuh dengan simbol-simbol atau lambang yang rumith dan bersifat abstrak. Kemampuan guru dalam mengajar matematika pun sangat berpengaruh. Guru tidak cukup hanya memiliki kepintaran yang tinggi, namun guru pun harus pintar dalam menyampaikan materi sehingga siswa lebih mudah paham dengan materi yang akan mereka pelajari

    ReplyDelete
  19. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016

    matematika sebagai ilmu dasar dalam berkehidupan pastinya sudah dikenalkan kepada anak-anak kecil untuk membekali mereka dalam tumbung dan berkembang. namun jika matematika dimaknai secara mendalam dan meluas maka matematika tidak dapat diartikan hanya sebagai ilmu hitung. dewasa ini, perkembangan ilmu matematika semakin maju dan pesat, tingkat kerumitannya juga pasti meningkat. masalah yang dihadapi sekarang adalah masih ada sebagian guru (yang mendampingi dan memdidik anak-anak)yang kurang tepat dalam memposisikan matematika di dalam kelas dan memposisikan matematika sebagai ilmu pengetahuan yang telah berkembang pesat. terkadang terjadi kerancuan dan membawakan matematika di kelas. mungkin beliau lupa bahwa yang menerima adalah anak-anak. sehingga anak-anak tersebut menjadi korban, dalam artian anak-anak tidak lagi memepelajari matematika sesuai dengan kebutuhan mereka, namun mereka mempelajari matematika sesuai dengan yang berkembang saat ini.

    ReplyDelete
  20. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika untuk anak lebih menekankan pada kegiatan-kegiatan mencoba oleh anak serta pemberian contoh-contoh. Bagi anak matematika bukan merupakan definisi, sehingga tidak ada definisi bagi anak (SD). Selain itu matematika yang diberikan juga bukan matematika yang abstrak/analitik seperti pada matematika murni. Itu lebih cocok bagi matematika dewasa. Kegiatan yang dapat dilakukan anak yaitu mencari pola, investigasi, dan komunikasi. Maka dari itu kegiatan pembelajaran matematika bagi anak perlu dirancang dengan tidak memaksa anak dengan matematikanya orang dewasa yaitu dengan banyak melakukan kegiatan mencoba sehingga anak mengerti matematika dengan megkonstruknya sendiri dalam benaknya.

    ReplyDelete
  21. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Matematika orang dewasa dan matematika anak itu berbeda. Pembahasan ini terkait dengan pure mathematics dan school mathematics. Matematika untuk orang dewasa lebih mengkaji tenatang objek matematika yang sifatnya abstrak, sedangkan matematika untuk anak itu harus disesuaikan dengan tingkatan kognisi anak, serta kajiannya haruslah tentang sesuatu yang dekat dengan kehidupannya.

    ReplyDelete
  22. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Manusia yang berlainan usia tentu saja memiliki kebutuhan, kompetensi, dan level kemampuan kognitif yang berlainan pula. Hal ini sangat penting dipertimbangkan dalam pengajaran; guru harus memetakan pikiran ketika mengatur segala hal untuk diajarkan berdasarkan pertimbangan usia siswa. Adalah sebuah hal yang signifikan pula bagi seorang pengajar untuk mengetahui siapa siswanya: bagaimana cara belajar mereka, latar belakang sosial-ekonominya, gaya belajarnya yang berbeda-beda, motivasi yang dimiliki, dan banyak faktor lainnya. Dengan memahami secara komprehensif terhadap faktor-faktor ini, seorang guru tidak akan memperoleh kesulitan yang berarti dalam membelajarkan siswanya. Untuk lebih menukik pada pembahasan, kita akan bahas faktor penting yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran bagi siswa yaitu usia.

    ReplyDelete
  23. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Matematika untuk anak sangatlah berbeda dengan matematika untuk orang dewasa. Matematika untuk orang dewasa itu matematika formal sedangkan yang untuk anak lebih kepada matematika konkret, dimana mereka haruslah menemukan matematikanya sendiri melalui pengalaman mereka. Disini selanjutnya adalah peran guru untuk dapat menggunakan metode yang tepat, jangan sampai anak hanya dijejali rumus rumus yang akhirnya merusak intuisi mereka. Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak memang perlu dibedakan karena perkembangan pola pikir mereka juga berbeda. Selain itu kebutuhan belajar antara dewasa dan anak juga berbeda. Tidak semua soal yang dikerjakan oleh orang dewasa dapat dikerjakan oleh anak.

    ReplyDelete
  24. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika untuk dewasa dan anak anak memang seharusnya dibedakan, karena pola pikir dan daya pikirnya berbeda pula, menurut saya pembelajaran untuk anak anak dikemas semenarik mungkin dengan menggunakan games atau media pembelajaran sehingga sejak dini anak anak di ajak untuk menyukai matematika, dengan pengemasan proses pembelajaran yang menarik membuat siswa senang dan tertarik belaajar matematika. sedangka untuk pembelajaran orang dewasa lebih menekankan pada cara menaganalisis suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  25. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perkembangan pola pikir. Pola pikir anak-anak dan orang dewasa tentu sangatlah berbeda. Dalam usianya, tahap pemikiran anak-anak dalam belajar matematika ada pada tahap operasi konkrit yang merupakan tahap dimana anak-anak akan dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Sementara orang dewasa sudah dapat belajar matematika dalam tahap problem soving. Dalam belajar matematika, kemampuan berpikir orang dewasa sudah dapat menganalisis hal-hal yang bersifat abstrak yang tidak dapat dilakukan oleh anak-anak. Selain itu kebutuhan belajar matematika antara orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Hal ini menjadikan perlakuan pemenuhan akan kebutuhan tersebut tentu juga berbeda. Oleh sebab itu, matematika untuk orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan.

    ReplyDelete
  26. Fina Fitri Nurjannah
    14301244005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan artikel di atas, dapat dikatakan bahwa matematika untuk dewasa dan anak memang berbeda. Matematika dewasa menjadi beban berat bagi anak dan mengakibatkan rasa tertekan dalam diri anak. Hal tersebut dikarenakan tahapan perkembangan anak yang belum siap dan belum sampai untuk mempelajari matematika dewasa.

    ReplyDelete
  27. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tulisan di atas, saya sangat setuju bahwa pendidikan anak tidak dapat disamakan dengan pendidikan orang dewasa, karena pola pikirnya tentu saja berbeda. Pendidikan anak seharusnya menggunakan hal-hal yang konkret yang ada di lingkungan sekitar, bukan hal abstrak, karena akan sangat sulit untuk dipahami oleh anak.

    ReplyDelete
  28. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan yang telah saya pelajari pada perkuliahan etnomatematika, terdapat teori belajar dari Bruner yang mengemukakan bahwa pembelajaran matematika itu terdiri dari enaktif, ikonik, simbolik. Sesuai dengan tulisan di atas, tahap enaktif inilah yang seharusnya diterapkan untuk anak (TK dan SD), kemudian untuk ikonik dan sudah mengenal simbolik pada anak SMP, dan pada SAMA atau yang lebih tinggi menggunakan simbolik saja.

    ReplyDelete
  29. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pembelajaran untuk orang dewasa atau andragogi dan pembelajaran untuk anak sangatlah berbeda apalagi dalam setiap matapelajaran terlebih lagi dalam pembelajaran matematika. Perbedaan terlihat pada partisipasi siswa atau keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan motivasi siswa maupun guru dalam pembelajaran matematika. Pada faktanya sekarang dalam pendidikan guru lebih mengejar hasil atau nilai daripada proses siswa untuk memahami setiap matapelajaran yang diajarkan, guru menggunakan cara-cara instan dan langsung memberikan konsep tanpa siswa mengetahui asal konsep tersebut diperoleh dari apa. Ego guru yang seperti ini yang harus dihilangkan sedikit demi sedikit agar terwujud pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas.

    ReplyDelete
  30. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematikanya anak memanglah berbeda dengan Matematika dewasa. Matematika bagi anak SD adalah bermain. Sehingga tugas guru SD adalah menyajikan Matematika dalam permainan yang menarik bagi sang anak. Jika anak SD sudah diberikan matematikanya orang dewasa maka jangan heran jika menjadi sulit. Oleh karena itu guru SD harus bisa mengemas materi sesuai dengan usia anak sebagai permainan yang menyenangkan.

    ReplyDelete
  31. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematikanya orang dewasa adalah matematika murni bersifat abstrak. Hal ini dikarenakan orang dewasa telah mencapai tahap itu. Sehingga perlu dipahami bila matematika murni adalah milik orang yang sudah dewasa jangan sampai diberikan kepada anak-anak karena dapat berakibat sukar. Biarlah setelah mereka dewasa atau sampai mampu untuk berpikir abstrak, formal agar anak-anak tidak salah belajar.

    ReplyDelete
  32. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika untuk dewasa dan anak-anak berbeda. Anak-anak hanya mampu menyerap konsep matematika yang bersifat konkret, sedangkan orang dewasa sudah mampu menyerap konsep matematika yang bersifat abstrak. Oleh karenanya mengajarkan matematika ke anak-anak dengan ke orang dewasa juga jelas berbeda. Jika mengajarkan matematika ke anak-anak kita tidak bisa memulainya dengan definisi/rumus, namun dengan contoh dan non contoh. Berbeda dengan orang dewasa yang bisa memulai belajar matematika dari definisi/rumus.

    ReplyDelete
  33. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya sependapat dengan Bapak Prof. Marsigit tentang banyaknya kabar buruk tentang matematika yang salah satunya diakibatkan karena ketidaksadaran guru untuk membedakan matematika sekolah atau matematika anak dan Matematika bagi orang dewasa. Memang perlu dipertegas perbedaan antara keduanya. Dikarenakan untuk melindungi anak-anak dari Matematika yang belum waktunya mereka pelajari. Ketika anak sudah belajar matematika yang abstrak secara murni maka anak yang tidak siap akan mengalami kecemasan Matematika. Untuk itu penting bagi guru khususnya sekolah dasar dn SMP untuk memerhatikan Matematika sekolah sebagai Matematika yang dipelajari bersama siswa-siawanya.

    ReplyDelete
  34. Dewasa dan Anak tentu berbeda. Berbeda usia, dimensi, pengalaman, pengetahuan, motivasi, rasa percaya diri. Apa yang dapat dipahami oleh orang dewasa belum tentu dapat dipahami oleh anak. Pikiran anak masih senang untuk menuruti egonya sendiri dan lebih mudah belajar dengan cara melihat atau pengamatan pada benda nyata/kongkrit. Matematika yang diajarkan pada anak harus lebih banyak dengan memperbanyak siswa melakukan kegiatan atau percobaan bukan ceramah atau ekspositori. Siswa menemukan sendiri dan memahami sendiri apa yang dipelajari dengan melakukan kegiatan. Pembelajaran untuk dewasa lebih pada diskusi sedang pada anak lebih pada kegiatan.

    ReplyDelete
  35. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya tertarik dengan kalimat Bapak yang berbunyi “The only victim of this situation are the younger learner. They are the victim of adult ambitions...”. Tidak dipungkiri lagi bahwa banyak anak – anak yang takut dengan mata pelajaran matematika yang dianggapnya sulit. Dengan metode pembelajaran yang konvensional, di mana pembelajaran masih bersifat teacher centered, terlihat jelas bahwa siswa hanya diberi ilmu oleh guru tanpa memerhatikan kondisi siswanya. Sehingga terkesan bahwa guru hanya menjalankan tugas dengan mengajar siswa agar siswa paham akan matematika. Sehingga matematika yang diperoleh anak – anka tidak bermakna.

    ReplyDelete
  36. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Matematika untuk dewasa dan anak – anak jelas berbeda. Guru matematika sebaiknya memberikan fasilitas yang baik kepada anak – anak untuk memeroleh ilmu matematika yang baik sehingga anak –anak dapat menggunakan matematika selayaknya dengan fungsinya. Guru bukan sebagai sumber belajar tetapi fasilitator dan mendampingi siswa dalam memeroleh ilmu. Ini sesuai dengan kalimat “Math teachers should stand beside their young learner”. Karena sejatinya matematika untuk anak – anak adalah aktivitas bukan definisi. Karena definisi itu matematika untuk dewasa.

    ReplyDelete
  37. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sudah bukan merupakan rahasia umum bahwa matematika membawa ketakutan tersendiri bagi mayoritas pelajar. Salah satu penyebabnya adalah mungkin dikarenakan karena konten dan metode pembelajaran matematika yang terlalu sulit untuk diikuti oleh anak. Dalam belajar matematika, anak harusnya diajak untuk melakukan sesuatu dengan suatu media nyata, bukan dengan suatu simbol (misal angka). Dari sanalah mungkin munculnya kecemasan matematika karena memang sesungguhnya anak-anak belum dapat menerima sesuatu yang abstrak.

    ReplyDelete
  38. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika sebagai ilmu yang wajib dipelajari oleh anak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, memiliki tahapan-tahapan dalam pembelajarannya disesuaikan dengan usia peserta didik saat itu. Salah satu tahapan dalam belajar matematika adalah yang dicetuskan oleh bruner yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Tahapan-tahapan tersebut dirancang agar anak dapat belajar sesuai dengan usianya, sehingga mereka dapat lebih mudah menerima materi yang ingin disampaikan oleh guru.

    ReplyDelete
  39. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Oleh karena matematika memiliki tahapan-tahapan dalam metode penyampaiannya, sehingga sangat wajar apabila saat ini terdapat kecemasan-kecemasan anak dalam belajar matematika. Karena metode/cara penyampaian guru dalam matematika saat ini untuk anak-anak belum dibedakan. Misalnya untuk anak SD yang dituntut untuk bisa mengerjakan 4 × 3, yang faktanya angka adalah merupakan suatu simbol. Jadi sudah seharusnya matematika anak dan matematika dewasa mulai untuk dibedakan agar anak tidak terbebani dan enjoy dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  40. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari tulisan pak Prof diatas, ternyata kesadaran tentang perbedaan matematika untuk dewasa dan anak-anak masih minim, apalagi di dunia. Guru matematika terkadang disiapkan dengan bekal matematika murni, yang sifatnya formal. Sedangkan dalam pembelajaran, dibutuhkan matematika sekolah yang sesuai dengan karakteristik siswa nya

    ReplyDelete
  41. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Matematika yang diajarkan di sekolah dengan matematika murni tidak bisa disamakan. Karakteristik siswa yang dipaparkan oleh Piaget mengarahkan kita bahwa siswa memahami matematika secara intuisi, mengandalkan benda konkrit, dan pembelajarannya adalah menemukan pola, penarikan kesimpulannya berdasarkan contoh dan digeneralisasi.

    ReplyDelete
  42. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sedangkan matematika untuk orang dewasa merujuk kepada matematika formal/matematika murni, berisi hal abstrak dan tidak dapat dibayangkan. Matematika ini memang sesuai dengan kemampuan orang dewasa dalam mempelajarinya, juga digunakan dalam pendalaman suatu konsep matematika tertentu. Sebagai seorang guru maupun calon guru sebaiknya memang mendalami matematika murni, tetapi harus mampu membatasi mana yang disampaikan ke siswa maupun yang digunakan sendiri, sehingga siswa tidak menjadi "korban" akan pembelajaran yang kurang sesuai

    ReplyDelete
  43. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Berdasarkan tulisan yang dibuat oleh pak Marsigit, terlihat bahwa masih banyak guru yang tidak bisa dan tidak tau perbedaan pengajaran untuk dewasa dan anak anak, pembelajaran untuk dewasa dan anak anak tentunya harus berbeda, perbedaan itu karena daya pikir untuk dewasa dan anak anak berbeda, ketika pengajarannya disamakan maka akan adanya ketidaksinkronan dan akan ada salah satu yang tertekan dan tidak berkembang, pembelajaran untuk anak anak lebih menggunakan benda benda konkret agar siswa mudah memahami, namun untuk orang dewasa lebih menggunakan hal hal abstrak.

    ReplyDelete
  44. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Pemberian materi pelajaran matematika dan penilaiannya memang harus sesuai dengan umur pelajar. Namun, apabila matematika dibatasi dengan kepemilikan berdasarkan umur, saya tidak setuju. Sebagai pendidik, kita memang tidak boleh memaksakan pelajaran matematika yang banyak kepada anak-anak. Namun, saya pernah menemukan anak didik yang memiliki kemauan yang sangat tinggi dalam mempelajarinya. Sampai saya hampir mengatakan, “matematika ini bukan untuk anak SMP kayak kamu, ini untuk SMA”. Namun setelah saya pikir, tidak ada salahnya apabila dia ingin mengetahui matematika yang isinya lebih banyak, dan butuh kemampuan tinggi jika dibandingkan dengan anak-anak rata-rata seusianya. Karena inilah permata pendidikan, “rasa penasaran”. Rasa penasaran tidak terbatas usia. Rasa penasaranlah yang membuat ilmu pengetahuan berkembang sampai saat ini. Jika belajar harus dibatasi oleh umur. Dulu, pernah ada zamannya angka 0 tidak dikenali dan tidak dipelajari oleh orang dewasa. Kesimpulan dari saya, matematika boleh dibatasi dengan porsi-porsi, dan diajarkan berdasarkan kesiapan anak didik. Namun, apabila anak didik butuh, dan menginginkannya, juga tidak bisa disalahkan apabila dia belajar dengan porsi yang lebih banyak.

    ReplyDelete
  45. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Berbagai model pembelajaran diciptakan untuk membantu siswa belajar sesuai kategorinya, dewasa atau muda. Sebagai guru, penting untuk mengetahui apakah seorang siswa cocok dalam menggunakan salah satu metode dan model pembelajaran tertentu.

    ReplyDelete
  46. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak tentu harus dibedakan. Hal ini dikarenakan pola pikir antara orang dewasa dan anak tentu berbeda. Orang dewasa mulai dapat berpikir abstrak sedangkan anak-anak masih berupa bend konkret. Selain itu, kebutuhan matematika antara orang dewasa dan anak juga berbeda. Jadi, pembelajaran matematika untuk orang dewasa dan anak berbeda sesuai dengan karakteristiknya.

    ReplyDelete
  47. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Secara umum dari pemikiran orang dewasa denga anak anak jelas berbeda. Orang dewasa memiliki nalar dan logika yang lebih tinggi dari anak. Begitu juga dengan ilmu matematika yang tergolong abstrak. Oleh karena itu, dalam pembelajaran anak anak pada dasarnya harus diperkenalkan benda yang konkret baru ke abstrak dimana menggunakan konteks kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran dibuat lebih menyenangkan da bermakna bisa melalui konteks bermain. Sementara orang dewasa sudah dapat belajar matematika dalam tahap problem soving. Dalam belajar matematika, kemampuan berpikir orang dewasa sudah dapat menganalisis hal-hal yang bersifat abstrak yang tidak dapat dilakukan oleh anak-anak. Selain itu kebutuhan belajar matematika antara orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Hal ini menjadikan perlakuan pemenuhan akan kebutuhan tersebut tentu juga berbeda. Oleh sebab itu, matematika untuk orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan.

    ReplyDelete
  48. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Matematika orang dewasa dengan matematika anak tentu berbeda. Matematika dewasa tak cocok jika diterapkan untuk anak, begitu pula sebaliknya. Sebagai pendidik, maka harus benar-benar diperhatikan perbedaannya. Matematika untuk anak-anak bukanlah matematika para dewa, tetapi matematika yang lebih memperkenalkan dari hal-hal konkret. Oleh karena itu, ketika melakukan pembelajaran seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkatan kemampuan anak. Tingkat dan kemampuan anak tersebut dapat kita ketahui dari berbagai teori belajar seperti piage dan yang lainnya. Karena itu akan membantu pendidik dalam menentukan metode apa yang cocok dengan peserta didik.

    ReplyDelete
  49. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Matematika dalam pendidikan dibagi menjadi dua yaitu pure mathematics dan mathematics school. Matematika murni diberikan kepada siswa tinggi seperti mahasiswa karena pure mathematic ini mempelajari matematika yang abstrak. Matematika sekolah adalah matematika yang masuk ke jenjang sekolahan SD SMP yang masih menggunakan realita sebagai objeknya, pada tingkat SMA suda mulai diperkenalkan sedikit tentang keabstrakan matematika.

    ReplyDelete
  50. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Matematika orang dewasa dan anak-anak itu berbeda. Matematika dewasa tidak cocok diterapkan pada pembelajaran matematika anak-anak, begitu pula sebaliknya. Matematika anak-anak bukanlah matematika para dewa, tetapi matematika yang berawal dari kehidupan nyata mereka. Oleh karena itu, ketika melakukan pembelajaran matematika seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan.

    ReplyDelete
  51. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak tidak dapat disamakan. Dikarenakan perkembangan pola pikir antara anak- anak dan orang dewasa sangatlah berbeda. Tahap pemikiran anak-anak dalam belajar matematika ada pada tahap operasi konkrit yang merupakan tahap dimana anak-anak akan dapat memahami suatu konsep dalam matematika dengan bantuan benda-benda konkrit. Sementara orang dewasa sudah dapat belajar matematika dalam tahap problem soving.

    ReplyDelete
  52. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Matematika untuk orang dewasa dan anak kecil memanglah berbeda. Saya setuju dengan pendapat dalam artikel ini bahwa banyak guru yang tidak dapat membedakan matematika untuk pemula dan bukan. Kesalahan seperti ini dapat menyebabkan jiwa dan mental anak pemula menjadi tidak terkendali sehingga tidak dapat menerima matematika dengan baik.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  53. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Sistem pendidikan yang menuntut terlalu banyak dari pemula akan membuat mereka terhimpit dengan banyak hal, entah itu aturana tau materi yang seharusnya belum mereka pelajari. Di indonesia sendiri anak kecil mempelajari matematika secara vertical, padahal hal tersebut sangat tidak baik untuk intuisi anak. Hal itu dapat merusak insting anak dalam mempelajari matematika secara horizontal.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  54. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Menindaklanjuti artikel tersebut, sebagai calon pendidik kita hendaknya meningkatkan empati kita pada dunia pendidikan yang saat ini sedang mengalami krisis dalam berbagai aspek. Hal itu dapat dilakukan dengan cara mempelajari metode pembelajaran yang lebih manusiawi dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  55. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. matematika untuk anak kecil merupakan matematika sekolah, sebab anak kecil masih terus belajar dan berusaha untuk mengembangkan matematikanya. Matematika sekolah itu dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, hal tersebut agar anak lebih mudah untuk mempelajari matematika. sendakan matematika untuk orang dewasa, terutama yang bekerja di bidang keilmuan lebih pada matematika murni yang telah terlepas dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  56. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saat ini, masih banyak guru-guru di dunia yang mengajarkan anak tentang matematika masih menggunakan pembelajaran matematika untuk orang dewasa. Hal ini tentu akan menjadikan anak-anak tidak menyukai bahkan phobia dengan pelajaran matematika. Yang dimaksud pembelajaran matematika untuk orang dewasa ialah pembelajaran yang sudah bisa menggunakan simbol-simbol atau bentuk yang abstrak. Hal tersebut tentu akan susah dipahami oleh anak-anak.

    ReplyDelete
  57. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika pada anak dan orang dewasa adalah berbeda. Hal ini disebabkan oleh kemampuan berpikir anak masih terbatas terutama dalam membayangkan bentuk-bentuk abstrak. Seperti yang pernah dikatakan Pak MArsigit bahwa pembelajaran matematika untuk anak adalah berbentuk aktivitas, terutama aktivitas yang menyenangkan bagi anak.

    ReplyDelete
  58. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam proses pembelajaran peran guru sangatlah penting, bagaimana guru dapat mengembangkan potensi-potensi siswa-siswanya. Tetapi pada kenyataanya, masih terdapat guru yang salah kaprah dalam penerapan pembelajaran matematika anak yang mana masih saja menerapkan pembelajaran matematika untuk orang dewasa. Pembelajaran matematika anak seharusnya lebih mengedepankan contoh yang nyata agar lebih bermakna untuk anak. Guru harus lebih mengeksplorasi lagi tentang metode-metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran matematika anak.

    ReplyDelete
  59. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tulisan di atas berisi tentang kesedihan karena pendidikan matematika untuk anak masih disamaratakan dengan pendidikan matematika orang dewasa, padahal seharusnya berbeda. Pendidikan anak seharusnya dimulai dari aktivitas untuk menemukan konsep, bukan dimulai dari membelajarkan konsep, karena akan sangat menakutkan bagi siswa, terutama siswa SD.

    ReplyDelete
  60. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya tertarik dengan kalimat yang intinya anak-anak adalah korban, ya, mereka adalah korban dari keegoisan orang dewasa yang memaksakan membelajarkan matematika murni kepada anak-anak. Anak-anak banyak yang takut dengan matematika, tidak suka dengan matematika karena mereka kesulitan memahami rumus, kesulitan mengikuti pembelajaran matematika, itu karena matematika yang diajarkan bukan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  61. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Matematika untuk anak adalah kegiatan, tanpa kegiatan itu bukan matematika. "Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar (SD dan SLTP) dan Pendidikan Menengah (SLTA dan SMK)." matematika adalah kegiatan yang dapat membuat siswa dapat menemukan dan mengkonstruk sendiri pengetahuannya.

    ReplyDelete
  62. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    "Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan di Pendidikan Dasar (SD dan SLTP) dan Pendidikan Menengah (SLTA dan SMK)". Fungsi matematika sekolah adalah menjadi alat, pola pikir dan ilmu atau pengetahuan bagi siswa (Suheman, 2003).

    ReplyDelete
  63. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Tujuan pembelajaran matematika sekolah menurut Suherman (2003):
    a. mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan dunia nyata yang kita ketahui bahwa dunia kini begitu cepat dalam berkembang. Melalui pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat jujur dan tak lupa efektif dan efisien.
    b. mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematikanya dalam menghadapi kehidupan sehari hari.

    ReplyDelete
  64. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Peranan Matematika sekolah adalah sangat penting. Matematika yang dipelajari sehari hari dapat membantu siswa dalam berhitung, mengolah menafsirkan data, kemudian menyajikan data tersebut. Matematika juga berperan dalam pentingnya siswa untuk dapat melajutkan studi selanjutnya atau tidak.

    ReplyDelete
  65. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika untuk siswa yang masih anak-anak (siswa SD) adalah berwujud aktivitas bahkan untuk SD awal dapat berupa permainan yang dapat mengkonstruksi pemahaman siswa. Akan jadi hal yang fatal apabila anak yang harusnya masih belajar matematika sebagai aktivitas namun sudah diberikan matematika yang abstrak maka dapat merusak intuisinya. Hal ini juga dapat menyebabkan matematika dianggap sulit oleh siswa. Oleh karena itu guru perlu tahu perbedaan matematika dewasa dan anak-anak.

    ReplyDelete
  66. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    menurut saya matematika anak adalah pembelajaran matematika sekolah yang d tujukan untuk membangun konsep berpikir yang tepat. Sedangkan matematika dewasa adalah ilmu yang mepelajari kebiasaan atau pola pola alam yang di jadikan sebagai jalan ma'rifatulloh

    ReplyDelete
  67. Elli susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Mengajarkan matematika kepada anak-anak seperti artikel di atas betul sekali berbeda saat mengajarkan matematika kepada orang dewasa. Mengajarkan matematika kepada anak-anak memang tidak mudah. Anak-anak sebaiknya didekatkan kepada hal-hal yang berbasis kontekstual, hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari2. Anak-anak jika diajarkan seperti orang dewasa akan bingung dan mempengaruhi pembelajaran matematika di saat dewasa.

    ReplyDelete
  68. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan untuk anak-anak dan dewasa sangatlah berbeda. perbedaan tersebut dikarenakan prior knowledge yang dimiliki anak-anak lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa. beserta pola berpikir dari orang dewasa tentunya lebih logis dan lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak. sehingga penyusunan pembelajaran di kelas harus dibedakan.

    ReplyDelete
  69. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika untuk anak-anak lebih kepada proses mengkonstruk pengetahuan mereka dengan benda yang konkrit, namun untuk pembelajaran matematika bagi orang dewasa yaitu lagsung dengan matematika formal, dimana langsung menggunakan notasi dan mengarahkan kepada pola pikir yang abstrak.

    ReplyDelete
  70. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran yang kontekstual atau matematika realistik cocok bagi pembelajaran matematika anak-anak. Anak akan lebih senang dengan penggunaan media yang menarik, sehingga proses belajar menjadi menyenangkan dan psikologis anak akan tetap baik. Namun di lapangan sering ditemukan bahwa guru mengajarkan matematika kepada anak-anak langsung secara abstrak, padahal anak-anak masih asing dengan notasi atau simbol-simbol yang abstrak.

    ReplyDelete
  71. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pada proses pembelajaran matematika anak merupakan proses pembelajaran utama dalam pembentukan konsep dalam benak siswa. Menurut teori belajar Jean Piaget, pada usia anak 2-15 tahun, pengamatan sangat penting dilakukan dan menjadi dasar dalam menuntun proses berfikir anak, berbeda dengan perbuatan melihat yang hanya melibatkan mata, pengamatan melibatkan seluruh indra, menyimpan kesan lebih lama dan menimbulkan sensasai yang membekas pada siswa

    ReplyDelete
  72. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut Piaget, praktek pembelajaran hendaknya guru menyesuaikan proses pembeljaran yang dilakukan dengan tahapan-tahapan kognitif yang dimikik anak didik. karena tanpa penyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan kognitifnya guru maupun siswa akan mendapatkan kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

    ReplyDelete
  73. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Contoh pembelajaran yang dapat memberikan makna bagi anak adalah pembelajaran matematika yang beorientasi pada pembelajaran kontekstual atau matematika realistik. Dengan pembelajaran tersebut anak dapat mengaitkannya dalam kehidupan sehari-harinya yang bersifat nyata bukan abstrak.

    ReplyDelete
  74. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari postingan yang saya baca tentang hasil diskusi dengan guru matematika, menurut saya pembelajaran matematika untuk umur anak-anak dan umur dewasa memang sepatutnya dibedakan. Karena usia anak-anak pemikirannya masih berdasarkan apa yang mereka lihat, maka pembelajaran yang harusnya diterapkan pada usia-usia anak anak yaitu pembelajaran yang kontekstual, yang dikaitkan benda-benda konkrit.

    ReplyDelete
  75. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Untuk pembelajaran matematika pada usia dewasa memang sudah bisa diajak berfikir abstrak meskipun sejatinya pembelajaran tersebut juga bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran saat usia anak-anak dipersiapkan sematang mungkin agar saat penerapan pada usia dewasa tidak lagi sulit.

    ReplyDelete
  76. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Jika dilihat, memang pendidik yang mengajar pelajaran pada usia anak-anak lebih mudah dibandingkan usia dewasa. Karena materi pembelajarannya sangat mudah. Tetapi menurut saya, pembelajaran yang sebenarnya itu kalau difikirkan lebih susah saat mengajar usia anak-anak. Karena pada usia anak-anak mereka tidak hanya diajarkan materi saja, tapi juga makna dari pembelajaran itu sendiri dari segi keterkaitan terhadap kehidupan sehari-hari bahkan sampai penanaman karakter -karakter yang bermoral. Karena sejatinya usia anak-anak itu adalah usia dimana proses pembentukan penanaman karakter yang akan melekat sampai usia dewasa.

    ReplyDelete
  77. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Segala sesuatu itu ada ruang dan waktunya. Begitu juga dalam belajar matematika. Pembelajaran matematika untuk orang dewasa tentu berbeda dengan matematika untuk anak-anak. Dalam pembelajaran matematika di sekolah akan lebih tepat jika kita menggunakan matematika sekolah. Tahap berpikir anak-anak dalam belajar matematika adalah pada tahap operasi konkrit, mereka membutuhkan hal-hal yang bersifat konkrit untuk memfasilitasi dalam mengkonstruksi pengetahuan matematika yang bersifat abstrak. Oleh Karena itu, guru atau calon guru harus memahami dan membedakan matematika yang dapat diaplikasikan untuk anak-anak dan orang dewasa.

    ReplyDelete
  78. Elli susilawati
    16709251073
    Pmat D

    Elli susilawati
    16709251073
    Pmat D
    Math teachers should stand beside their young learner and to protect them from inappropriate adults behavior in which their thinking are full of motive and ambitions. pengajar matematika diharapkan mendampingi siswa anak-anak belajar matematika dan melindungi mereka dari ketidaksesuaian kebiasaan orang dewasa dimana pembelajaran mereka harus penuh motifasi dan ambisi. Anak-anak yang belajar matematika dengan tepat akan meningkatkan motivasi mereka dan pembelajaran matematika akan semakin bermakna. Matematika bukan lagi pelajaran yang sulit.

    ReplyDelete
  79. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Anak-anak dan orang dewasa berada pada tahap kognitif yang berbeda, sehingga matematika untuk anak-anak dan matematika untuk orang dewasa tidaklah sama. Matematika anak-anak lebih bersifat konkret, sedangkan matematika orang dewasa bersifat lebih abstrak, lebih formal. Oleh karena itu, guru haruslah menyesuaikan pandangannya terkait dengan subjek didik. Ketika siswa masih anak-anak, guru sebaiknya menggunakan pendekatan matematika yang membuat siswa merasa matematika dekat dengan kehidupannya, seperti pendekatan matematika realistik. Ketika siswa masih anak-anak, guru tidak boleh memberikan matematika formal kepada siswa.

    ReplyDelete
  80. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari hasil diskusi dengan guru matematika internasional tentang perbedaan matematika untuk dewasa dan anak, matematika untuk dunia anak dan dunia dewasa adalah tidak sama. Perbedaaannya terletak pada materi yang disajikan. Untuk anak, materi matematika bersifat konkrit dan berupa aktivitas. Sedangkan untuk dewasa matematika berupa teori dan bersifat abstrak.

    ReplyDelete
  81. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika untuk anak seharusnya berupa aktivitas. Jika guru malah memberikan matematika berupa teori yang abstrak bagi anak. Bisa jadi anak menjadi takut belajar matematika. Sejatinya matematika untuk anak harus bisa menyenangkan.

    ReplyDelete
  82. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mengajarkan matematika kepada anak mungkin terlihat mudah secara materi. Akan tetapi pada kenyataannya tidak hanya pemberian materi. Perlu penanaman nilai-nilai karakter pada pembelajaran matematika terutama untuk anak. Dan juga pembelajaran matematika untuk anak sebaiknya dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  83. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Jika dibicarakan mengenai matematika untuk dewasa dan anak itu cukup menarik. Karena menurut saya, matematika untuk dewasa itu sebagai hakekatnya ilmu yaitu pure mathematics atau mathematics formal. Sedangkan untuk matemtika anak adalah matematika dengan aktivitas atau school mathematics sehingga siswa dengan caranya sendiri merasa ingin tahu untuk membangun bengunan rumah matematikanya sendiri.

    ReplyDelete
  84. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Perbedaan karakteristik orang dewasa dan anak anak tentunya membuat pembelajaran yang dilakukan di sekolah pun berbeda, siswa yang masih anak anak cenderung masing suka bermain dan lebih mudah memahami jika diberikan model model konkret terlebih dahulu, sehingga pembelajarannya dikemas sedemikian rupa sehingga menarik dan menyenangkan bagi siswa. Namun untuk siswa ynag sudah dewasa karna sudah dapat menalar dan menganalisis maka siswa cenderung diberikan model model abstark sudah bisa. Semuanya disesuaikan dengan kemampuan siswa dan karakteristik siswa, hal tersebut untuk meningkatkan motivasi siswa, jika tidak ada perbedaan pembelaran antara dewasa dan anak anak maka tidak akan harmonis, salah satunya akan tertekan dan tidak akan berkembang.

    ReplyDelete
  85. Hyldha Wafda Mufida
    14301241026
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Cara berpikir yang dilakukan oleh orang dewasa dan anak jelas berbeda. Sehingga Matematika yang merek dapatkan juga harus sesuai dengan porsi berpikirnya atau sesuai dengan tingkat kognitifnya, selain itu cara yang digunakan untuk menyampaikan kepada anak-anak juga pasti memiliki cara yang berbeda dengan orang Dewasa.

    ReplyDelete
  86. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    matematika untuk dewasa dan anak sangat berbeda. Dalam psikologi perkembangan kognitif, anak belum mampu untuk berabstraksi tanpa bantuan.

    ReplyDelete
  87. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    matematika anak adalah matematika seperti gunung es, dimana matematika konkret merupakan gunung es yang berada di bawah permukaan laut, dan matematika formal adalah matematika yang berada sedikit di atas permukaan laut.

    ReplyDelete
  88. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    matematika untuk anak adalah matematika yang dibangun dari hal-hal konkret untuk dapat menjadi matematika formal.

    ReplyDelete
  89. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    untuk dapat memahami matematika, siswa perlu diperkenalkan pada matematika yang ada di kehidupan nyata. pada usia anak, kemampuan abstraksi masih belum muncul, sehingga jika anak langsung diperkenalkan pada matematika formal maka akan sangat sulit bagi anak untuk menerima secara baik.

    ReplyDelete
  90. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    saat anak diperkenalkan dengan matemtika formal secara langsung, maka anak hanya kan mampu menghapal dan mencoba melatih kemamuannya untuk mengerjakan soal dengan cara yang dibiasakan guru.

    ReplyDelete
  91. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    berbeda dengan orang dewasa, matematika untuk orang dewasa dapat langsung dikenalkan secara formal, dalam tahap perkembangan kognitifnya orang dewasa teah mampu berbstraksi. sehingga matemtika orang dewasa adalah matematika formal yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan non formal.

    ReplyDelete
  92. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Jika melihat dari tahapan belajar Bruner, matematika untuk anak-anak adalah matematika pada tahap enaktif. Pada tahap ini, pembelajaran matematika diajarkan melalui benda-benda konkret yang ada di lingkungannya. Sedangkan matematika untuk dewasa adalah matematika pada tahap simbolik. Pada tahap ini, siswa sudah mampu mengggunakan simbol-simbol dalam belajar matematika.

    ReplyDelete
  93. Yuni Astuti
    14301241035
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Kita tahu bahwa yang pasti cara berpikir orang dewasa dengan anak-anak itu berbeda. Sehingga dalam mengajarkan atau mempelajari matematika bagi orang dewasa atau anak-anak itu memiliki porsi dan perlakuan yang masing-masing berbeda.

    ReplyDelete
  94. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika untuk anak kecil dan orang dewasa sangatlah berbeda. Pembelajaran anak sma tidak akan dipahami oleh anak sd. Sedangkan anak sma tidak mungkin mempelajari materi anak sd. Oleh karena itu, pembelajaran matematika memang seharusnya disesuaikan dengan perkembangan anak

    ReplyDelete
  95. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Pembelajaran matematika untuk anak-anak dan dewasa tentulah berbeda. Menurut Piaget anak usia SD masih berpikir pada tahap operasi konkrit artinya belum berpikir formal. Ciri-ciri anak-anak pada tahap ini dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit, belum dapat berpikir deduktif, berpikir secara transitif.

    ReplyDelete
  96. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Meskipun matematika mengubah pola pikir seseorang menjadi pola pikir yang matematis, sistematis, logis, kritis dan cermat. Tetapi sistem matematika ini tidak sejalan dengan tahap perkembangan mental anak, sehingga yang dianggap logis dan jelas oleh orang dewasa pada matematika, namun masih merupakan hal yang tidak masuk akal dan menyulitkan bagi anak.

    ReplyDelete
  97. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Pada pembelajaran untuk anak-anak tentu tingkat keabstrakannya berbeda dengan usia dewasa. Untuk anak-anak perlu adanya penyesuaian bahan pelajaran yang diajarkan dengan dunia anak, misalnya dengan memanfaatkan lingkungan. Sedangkan untuk dewasa bisa dengan bahan pelajaran yang lebih abstrak atau formal.

    ReplyDelete
  98. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di Indonesia, guru masih jarang memperhatikan bagaimana matematika untuk anak dan apa bedanya dengan matematika untuk dewasa. Padahal, guru-guru matematika Internasional memandang matematika untuk anak dan matematika untuk dewasa ini adalah hal yang sangat urgent, karena jika salah dalam menerapkannya, matematika dewasa justru untuk anak, akan berakibat fatal, yaitu tidak berkembangnya ilmu pengetahuan dan kreativitas anak.

    ReplyDelete
  99. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya dari hasil diskusi guru matematika tersebut, pembelajaran matematika kepada anak kecil dan dewasa sangatlah berbeda. Pada saat usia kecil, pembelajaran matematika diterapkan dengan menggunakan benda benda konkrit. Lalu, pada saat usia dewasa, anak tersebut sudah bisa diajak untuk berpikir secara saintifik dalam pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  100. Ajeng Puspitasari/ 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika dewasa dan matematika untuk anak sebaiknya memang dibedakan. Karena anak belum bisa berpikir abstrak, maka lebih untuk anak diberikan matematika konkrit. Jika untuk orang dewasa, matematika abstrak pun sudah tak apa.

    ReplyDelete
  101. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran matematika anak-anak dan dewasa jelas berbeda hal ini disebabkan perbedaan perkembangan kognitiv anak anak masih sederhana sedangkan struktur kognitiv orang dewasa sudah dalam tahapan kompleks. Sehingga seharusnya pendekatan pembelajaran matematika anak-anak dan orang dewasa juga berbeda.

    ReplyDelete
  102. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendekatan pembelajaran matematika anak-anak dapat menggunakan pendekatan yang sifatnya kontekstual dan induktif (dapat dibayangkan oleh siswa) seperti Matematika realistik, Etnomatematika, contextual mathematic learning, mathematics in conteks dan lain sebagainya. Sedangkan pada orang dewasa sudah dapat dikenalkan menggunakan pendekatan deduktif yakni berupa definisi , teorema, ataupun lema.

    ReplyDelete
  103. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan matematika yang baik adalah pendidikan yang disesuaikan dengan usia anak ataupun siswa yang akan menerima pembelajaran. Pembelajaran matematika untuk anak-anak tidak dapat disamakan dengan pembelajaran matematika dengan orang dewasa. Hal ini dikarenakan kemampuan dan pola pikir dari anak-anak dan orang dewasa tidak sama. Orang dewasa yang dianggap memiliki kemampuan dan pola pikir yang lebih luas, melakukan pembelajaran yang lebih kompleks terkait dengan pembuktian rumus-rumus, teorema dan aksioma-aksioma. Sementara pembelajaran untuk anak-anak lebih kearah pembelajaran dengan mengandalkan benda-benda konkrit.

    ReplyDelete