Oct 11, 2013

Elegi Menggapai Hati Kesatu




Oleh Marsigit

Logos Muda:
Wahai Logos Tua, aku ingin memberitakan kepadamu bahwa aku baru saja mengikuti pemberontakan para logos. Kemudian aku ingin bertanya kepada dirimu. Bagaimanakah komentarmu tentang Elegi Pemberontakan Para Logos. Apakah engkau juga ikut memberontak?
Apa pula sebenarnya yang dimaksud dengan pemberontakan para logos itu?



Logos Tua:
Wahai Logos Muda, ketahuilah bahwa aku juga terlibat dalam pemberontakan itu. Berdasar pengamatanku, maka semua logos tanpa kecuali terlibat di sana.

Logos Muda:
Apa alasanmu dan apa alasan mereka mengadakan pemberontakan para logos?

Logos Tua:
Menurutku, aku mempunyai alasan yang berbeda dengan dirimu. Aku juga menemukan bahwa setiap logos mempunyai alasan yang berbeda. Ternyata tidak hanya itu. Aku juga menemukan bahwa setiap logos juga mempunyai sasaran pemberontakan yang berbeda.

Logos Muda:
Bolehkah aku mengetahui alasan apa sehingga engkau melakukan pemberontakan?

Logos Tua:
Aku memberontak karena aku merasa selalu dikejar-kejar oleh mitos? Alasan yang lain adalah karena aku juga merasa dikejar-kejar oleh ruang gelap dan waktu tiada. Ketahuilah bahwa setiap aku membangun logosku maka seketika itu pula muncul mitosku. Maka dalam rangka mengusir mitos-mitosku itulah aku melakukan pemberontakan.

Logos Muda:
Lalu apa yang engkau maksud dengan ruang gelap.

Logos Tua:
Ketahuilah, yang aku maksud sebagai ruang gelap adalah ruang dimana aku telah merasa nyaman untuk tinggal di situ sehingga aku enggan untuk melanjutkan perjalananku. Padalah aku menyadari bahwa tiadalah aku itu dalam keadaan berhenti. Maka sebenar-benar ruang gelap itu adalah keadaan dimana saya mengalami kontradiksi.

Logos Muda:
Lalau apa yang engkau maksud dengan waktu tiada?

Logos Tua:
Waktu tiada adalah saat dimana aku tidak dapat memutuskan segala sesuatu. Aku merasa di waktu tiada, ketika aku tidak dapat memilih baik dari yang buruk, manfaat dari yang merugi, dan benar dari yang salah. Itulah sebenar-benar keadaan dimana saya paling merasa takut untuk menjalaninya.

Logos Muda:
Wahai orang tua. Aku telah mendapatkan bahwa engkau itu ternyata telah mengalami keadaan kontradiksi dalam kontradiksi.

Logos Tua:
Mengapa engkau katakan demikian?

Logos Muda:
Bukankah engkau selalu katakan bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontradiktif. Tetapi mengapa engkau merasa ketakutan berada di ruang gelap yang menyebabkan engkau bersifat kontradiktif?

Logos Tua:
Oh terimakasih, ternyata engkau adalah Logos Muda yang cerdas. Setelah engkau deskripsikan keadaanku yang demikian, sekarang aku juga mengakui dan merasakan bahwa aku dalam keadaan kontradiktif dalam kontradiktif.

Logos Muda:
Tunggu dulu Logos Tua, aku belum selesai. Ternyata aku juga telah menemukan kontradiktif mu dalam kontradiktifmu yang lain?

Logos Tua:
Lho mengapa?

Logos Muda:
Bukankah engkau telah mengatakan bahwa engkau merasa ketakutan tidak dapat memilih baik dari yang buruk, manfaat dari yang merugi, dan benar dari yang salah; yang engkau sebut sebagai waktu tiada? Bukankah dengan pernyataanmu itu engkau telah menunjukkan bahwa engkau telah memutuskan untuk mendeskripsikan dirimu sebagai keadaan dimana menurutmu engkau tidak dapat memutuskan. Bukankah itu juga keputusanmu yang menyatakan bahwa engkau tidak dapat memutuskan?

Logos Tua:
Subhanallah. Terimakasih Logos Muda. Engkau memang betul-betul cerdas. Engkau telah mengingatkan ku kembali bahwa ternyata hidupku itu telah dipenuhi oleh kontradiksi di atas kontradiksi yang lain? Lalu bagaimana tentang dirimu?

Logos Muda:
Lho jangan tanyakan beberapa hal kepada diriku. Karena sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa saya hanya mampu bertanya. Maka semua itu hanyalah pertanyaanku. Sedangkan jawabannya aku tidak mengetahui atau mungkin masih saya pikirkan.

Wahai Logos Muda yang Centhil:
Boleh aku tersenyum sedikit?

Logos Muda:
Lho kenapa?

Logos Tua:
Aku bangga mempunyai teman Logos Muda sepertimu. Tidaklah penting bagi diriku seberapa pengetahuanmu itu. Tetapi yang labih penting adalah engkau telah memahami ruang dan waktu. Kita telah saling memahami ruang dan waktu kita masing-masing.

Logos Muda:
Lho jangan ngledhek begitu Logos Tua.

Logos Tua:
Bukan ngeledhek karena aku juga ingin mengatakan bahwa aku juga telah menemukan kontradiktif dalam dirimu.

Logos Muda:
Lho kontradiktif yang mana?

Logos Tua:
Bukankah engkau telah mengaku hanya bisa bertanya. Tetapi kenapa engkau buat pengakuanmu itu di dahapanku. Bukankah itu juga keputusanmu bahwa engkau telah mendeskripsikan dirimu sebagai orang yang hanya bisa bertanya. Maka aku ternyata juga telah menemukan bahwa engkaupun bersifat kontradiktif.

Logos Muda:
Oh maaf..oh terimakasih Logos Tua. Benar katamu, ternyata aku juga telah mengalami kontradiktif.

Logos Tua:
Ntar dulu..aku belum selesai. Aku juga telah menemukan kontradiktifmu yang lain atas di atas kontradiktifmu.

Logos Muda:
Apa itu Logos Tua?

Logos Tua:
Engkau kelihatannya sangat menikmati pujianku sebagai Logos Muda yang Chentil, yang pandai yang kreatif. Artinya engkau telah merasa bangga dengan predikat yang telah aku berikan sebagai Logos Hebat. Bukankah hal yang demikian adalah juga bahwa engkau akan terancam oleh mitosku dan juga oleh mitosmu?

Logos Muda:
Oh ampunilah..maksudku aku mohon maaf atas keadaanku yang demikian itu.

Logos Tua:
Permohonan maafmu itu telah menunjukkan bahwa engkau telah bersifat kontradiktif kembali atas kontradiktifmu yang lain.

Logos Muda:
Wah...wahai Logos Tua. jangan engkau mentang-mentang lebih tua dari diriku. Bicara seenaknya saja. Begini salah, begitu salah. Lantas saya harus bagaimana? Aku ini sudah mulai emosional dan sebentar lagi bisa marah kepadamu.

Logos Tua:
Emosi dan amarahmu itu menunjukkan dimensimu.

Logos Muda:
Wah whe lah dhalah..apakah engkau sudah merasa bisa menjunjung langit? Apakah engkau sudah merasa bisa memadamkan api neraka? Apakah engkau sudah bisa membakar surga?

Orang Tua Berambut Putih datang:
Stop..stop..jangan melampaui batas. Wahai para logos janganlah lanjutkan pemberontakanmu itu? Karena hal yang demikian tidak akan membawa keuntungan apapun.

Logos Tua dan Logos Muda menjawab bersama:
Wahai Orang Tua Berambut putih, untuk kali ini juga kami telah menemukan bahwa engkau telah berlaku kontradiktif. Bukankah pemberontakan para logos itu merupakan sifat hakiki para logos. Jika tiadalah pemberontakan maka itu berarti bukan logos namanya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ooh maafkan aku, aku telah keliru menilai keadaan. Tetapi aku juga telah menemukan bahwa kedua dirimu itu juga berlaku konradiktif. Kelihatannya engkau menyalahkan diriku telah berlaku kontradiktif. Bukankah engkau tahu bahwa sebenar-benar diri kita semua, selama masih berada di dunia ini, maka kita itu selalu bersifat kontradiktif?

Orang Tua Berambut Putih dan Para Logos berkompromi:
Marilah kita konsultasikan persoalan ini kepada para hati.

.... Elegi ini belum selesai...dan insyaallah dilanjutkan dengan ...Elegi menggapai Hati Kedua.

Amii.

9 comments:

  1. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya mendapatkan sebuah nilai yakni, bagaimana kita tidak mudah termakan oleh kata-kata atau terlalu terpengaruh oleh keadaan karenabelum tentu pemikiran itu bisa membuat kita tetap berpegang teguh pada pendirian kita, dimana kita tidak boleh merasa cukup atas pencapaian kita namun juga tidak merasa lelah untuk berusaha membangun pengetahuan.

    ReplyDelete
  2. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Percakapan yang menarik dari ketiga tokoh. Percakapan tersebut menunjukkan sifat kontradiksi masing-masing tokoh. Hal itu menunjukkan bahwa manusia sering tidak menyadari bahwa dalam dirinya terdapat kontradiksi. Komentar yang saya tulis ini pun mungkin tanpa saya sadari mengandung kontradiksi. Pelajaran yang saya peroleh adalah sebagai manusia tidak boleh merasa sombong.

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini yang saya pahami adalah Logos Muda dan Logos Tua menggunakan logika dan rasio dalam pemikiriannya. Menurut Hegel kehidupan manusia itu tidak lain adalah mendapati kemajemukan, oposisi-oposisi, dan kontradiksi dalam pengalaman sehari-harinya. Tentu saja baik Logos Muda dan Logos Tua akan senantiasa menemukan kontradiksi. Rasio (Vernunft) menurut Hegel memiliki kepentingan dasarah yaitu mengusahakan kesatuan yang utuh dari kontradiksi-kontradiksi tersebut, karena kontradiksi-kontradiksi tersebut tidak memuaskan pikiran, dengan kata lain rasio selalu menginginkan mencapai apa yang dinamakan dengan “Yang Absolut” yang hanya bisa dicapai dengan cara refleksi. (Hardiman, 2007:176)

    ReplyDelete
  4. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Jika Logos atau logika mewakili ilmu pengetahuan maka keinginan Logos tua memberontak karena selalu dikejar oleh mitos dan ruang gelap, maka benarlah pemberontakan itu. Ilmu pengetahuan selayaknya bebas dari mitos dan harus benar-benar objektif. Kemudian Ilmu pengetahuan juga tidak boleh mandeg di satu titik melainkan harus terus berkembang dari waktu ke waktu.

    ReplyDelete
  5. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Hakikatnya, manusia hidup di dunia ini penuh kontradiktif. Terkadang apa yang kita lakukan ini tidak sesuai dengan keinginan kita maupun kondisi yang ada. Namun perlu kita ketahui bahwa kontradiksi itu merupakan hal yang membuat kita lebih mengerti arti hidup. Banyak pengalaman yang tidak sesuai dengan keinginnan kita, namun rencana Tuhan itu pasti lebih baik atau indah.

    ReplyDelete
  6. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari Elegi ini yang saya pahami yaitu dalam diri setiap orang pasti ada dari kita yang tidak sesuai dengan diri kita, kita mempunyai prinsip tapi kadang apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan prinsip kita, ini sering sekali terjadi. Dalam diri kita selalu ada saja kekurangan, kesalahan, dan kekeliruan, ada banyak kontradiksi dalam diri kita selama kita masih didunia. Sehingga yang perlu dilakukan yaitu menjada hati, menjaga prinsip agar meminimalisir kontradiksi yang ada pada diri kita.

    ReplyDelete
  7. Junianto
    PM C
    17709251065

    Memang manusia haruslah saling mengingatkan karena manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf. Hal ini yang saya pahami dari elegi ini. Para logos saling mengingatkan dan membenarkan apa yang seharusnya dibenarkan. Dan di dunia ini juga selalu ada dua hal yang saling kontradiktif. Maka dari itu, adanya kontradiktif sudah menjadi hal yang wajar.

    ReplyDelete
  8. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Postingan ini bercerita tentang dialog antara logos tua dan logos muda. Dari percakapan kedua logos ini diketahui bahwa mereka saling menemukan banyak kontradiksi di dalam diri mereka. Salah satunya adalah ketika logos tua menyebut logos muda sebagai logos yang pintar, logos muda merasa senang akan sebutan tersebut. Padahal sejatinya seseorang semakin berilmu akan semakin rendah hatinya, sehingga tidak akan tersanjung dengan sebutan pandai atau pintar. Logos muda kemudian meminta maaf atas sikapnya, yang kemudian juga disebut sebagai kontradiksi dalam diri logos muda oleh logos tua. Logos muda yang kemudian emosi karena apa yang dilakukannya serba salah kemudian dinilai sebagai kontradiksi yang lain juga oleh logos tua.
    Memang dalam hidup ini, banyak hal yang sebenarnya penuh dengan kontradiksi. Bahkan apa yang kita ucapkan dan pikirkan sekarang juga mengandung kontradiksi.

    ReplyDelete
  9. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Pada postingan artikel diatas merupakan sifat manusia satu dengan yang lain, sifat manusia tersebut tidak semua sejalan dan tidak semua bertolak belakang, hanya saja sifat manusia itu unik, namun sejatinya manusia yang berilmu semakin tingginya ilmu maka dia semakin bijaksana dalam menanggapi masalah. Allah juga menyukai orang yang berilmu. Namun, tidak bisa di pungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, sehingga manusia haruslah saling mengingatkan karena dasar nya manusia banyak salah dan khilafnya. Dunia ini ada banyak hal yang kontradiktif yang berjalan di dunia, dan sudah menjadi hal yang umum. Walaupun banyak kontradiktif tetapi kita juga harus menjadi manusia yng bisa mengingatkan dan dingatkan orang lain.

    ReplyDelete