Oct 11, 2013

Elegi Menggapai Hati Kesatu




Oleh Marsigit

Logos Muda:
Wahai Logos Tua, aku ingin memberitakan kepadamu bahwa aku baru saja mengikuti pemberontakan para logos. Kemudian aku ingin bertanya kepada dirimu. Bagaimanakah komentarmu tentang Elegi Pemberontakan Para Logos. Apakah engkau juga ikut memberontak?
Apa pula sebenarnya yang dimaksud dengan pemberontakan para logos itu?



Logos Tua:
Wahai Logos Muda, ketahuilah bahwa aku juga terlibat dalam pemberontakan itu. Berdasar pengamatanku, maka semua logos tanpa kecuali terlibat di sana.

Logos Muda:
Apa alasanmu dan apa alasan mereka mengadakan pemberontakan para logos?

Logos Tua:
Menurutku, aku mempunyai alasan yang berbeda dengan dirimu. Aku juga menemukan bahwa setiap logos mempunyai alasan yang berbeda. Ternyata tidak hanya itu. Aku juga menemukan bahwa setiap logos juga mempunyai sasaran pemberontakan yang berbeda.

Logos Muda:
Bolehkah aku mengetahui alasan apa sehingga engkau melakukan pemberontakan?

Logos Tua:
Aku memberontak karena aku merasa selalu dikejar-kejar oleh mitos? Alasan yang lain adalah karena aku juga merasa dikejar-kejar oleh ruang gelap dan waktu tiada. Ketahuilah bahwa setiap aku membangun logosku maka seketika itu pula muncul mitosku. Maka dalam rangka mengusir mitos-mitosku itulah aku melakukan pemberontakan.

Logos Muda:
Lalu apa yang engkau maksud dengan ruang gelap.

Logos Tua:
Ketahuilah, yang aku maksud sebagai ruang gelap adalah ruang dimana aku telah merasa nyaman untuk tinggal di situ sehingga aku enggan untuk melanjutkan perjalananku. Padalah aku menyadari bahwa tiadalah aku itu dalam keadaan berhenti. Maka sebenar-benar ruang gelap itu adalah keadaan dimana saya mengalami kontradiksi.

Logos Muda:
Lalau apa yang engkau maksud dengan waktu tiada?

Logos Tua:
Waktu tiada adalah saat dimana aku tidak dapat memutuskan segala sesuatu. Aku merasa di waktu tiada, ketika aku tidak dapat memilih baik dari yang buruk, manfaat dari yang merugi, dan benar dari yang salah. Itulah sebenar-benar keadaan dimana saya paling merasa takut untuk menjalaninya.

Logos Muda:
Wahai orang tua. Aku telah mendapatkan bahwa engkau itu ternyata telah mengalami keadaan kontradiksi dalam kontradiksi.

Logos Tua:
Mengapa engkau katakan demikian?

Logos Muda:
Bukankah engkau selalu katakan bahwa sebenar-benar hidupmu adalah kontradiktif. Tetapi mengapa engkau merasa ketakutan berada di ruang gelap yang menyebabkan engkau bersifat kontradiktif?

Logos Tua:
Oh terimakasih, ternyata engkau adalah Logos Muda yang cerdas. Setelah engkau deskripsikan keadaanku yang demikian, sekarang aku juga mengakui dan merasakan bahwa aku dalam keadaan kontradiktif dalam kontradiktif.

Logos Muda:
Tunggu dulu Logos Tua, aku belum selesai. Ternyata aku juga telah menemukan kontradiktif mu dalam kontradiktifmu yang lain?

Logos Tua:
Lho mengapa?

Logos Muda:
Bukankah engkau telah mengatakan bahwa engkau merasa ketakutan tidak dapat memilih baik dari yang buruk, manfaat dari yang merugi, dan benar dari yang salah; yang engkau sebut sebagai waktu tiada? Bukankah dengan pernyataanmu itu engkau telah menunjukkan bahwa engkau telah memutuskan untuk mendeskripsikan dirimu sebagai keadaan dimana menurutmu engkau tidak dapat memutuskan. Bukankah itu juga keputusanmu yang menyatakan bahwa engkau tidak dapat memutuskan?

Logos Tua:
Subhanallah. Terimakasih Logos Muda. Engkau memang betul-betul cerdas. Engkau telah mengingatkan ku kembali bahwa ternyata hidupku itu telah dipenuhi oleh kontradiksi di atas kontradiksi yang lain? Lalu bagaimana tentang dirimu?

Logos Muda:
Lho jangan tanyakan beberapa hal kepada diriku. Karena sebetul-betulnya yang terjadi adalah bahwa saya hanya mampu bertanya. Maka semua itu hanyalah pertanyaanku. Sedangkan jawabannya aku tidak mengetahui atau mungkin masih saya pikirkan.

Wahai Logos Muda yang Centhil:
Boleh aku tersenyum sedikit?

Logos Muda:
Lho kenapa?

Logos Tua:
Aku bangga mempunyai teman Logos Muda sepertimu. Tidaklah penting bagi diriku seberapa pengetahuanmu itu. Tetapi yang labih penting adalah engkau telah memahami ruang dan waktu. Kita telah saling memahami ruang dan waktu kita masing-masing.

Logos Muda:
Lho jangan ngledhek begitu Logos Tua.

Logos Tua:
Bukan ngeledhek karena aku juga ingin mengatakan bahwa aku juga telah menemukan kontradiktif dalam dirimu.

Logos Muda:
Lho kontradiktif yang mana?

Logos Tua:
Bukankah engkau telah mengaku hanya bisa bertanya. Tetapi kenapa engkau buat pengakuanmu itu di dahapanku. Bukankah itu juga keputusanmu bahwa engkau telah mendeskripsikan dirimu sebagai orang yang hanya bisa bertanya. Maka aku ternyata juga telah menemukan bahwa engkaupun bersifat kontradiktif.

Logos Muda:
Oh maaf..oh terimakasih Logos Tua. Benar katamu, ternyata aku juga telah mengalami kontradiktif.

Logos Tua:
Ntar dulu..aku belum selesai. Aku juga telah menemukan kontradiktifmu yang lain atas di atas kontradiktifmu.

Logos Muda:
Apa itu Logos Tua?

Logos Tua:
Engkau kelihatannya sangat menikmati pujianku sebagai Logos Muda yang Chentil, yang pandai yang kreatif. Artinya engkau telah merasa bangga dengan predikat yang telah aku berikan sebagai Logos Hebat. Bukankah hal yang demikian adalah juga bahwa engkau akan terancam oleh mitosku dan juga oleh mitosmu?

Logos Muda:
Oh ampunilah..maksudku aku mohon maaf atas keadaanku yang demikian itu.

Logos Tua:
Permohonan maafmu itu telah menunjukkan bahwa engkau telah bersifat kontradiktif kembali atas kontradiktifmu yang lain.

Logos Muda:
Wah...wahai Logos Tua. jangan engkau mentang-mentang lebih tua dari diriku. Bicara seenaknya saja. Begini salah, begitu salah. Lantas saya harus bagaimana? Aku ini sudah mulai emosional dan sebentar lagi bisa marah kepadamu.

Logos Tua:
Emosi dan amarahmu itu menunjukkan dimensimu.

Logos Muda:
Wah whe lah dhalah..apakah engkau sudah merasa bisa menjunjung langit? Apakah engkau sudah merasa bisa memadamkan api neraka? Apakah engkau sudah bisa membakar surga?

Orang Tua Berambut Putih datang:
Stop..stop..jangan melampaui batas. Wahai para logos janganlah lanjutkan pemberontakanmu itu? Karena hal yang demikian tidak akan membawa keuntungan apapun.

Logos Tua dan Logos Muda menjawab bersama:
Wahai Orang Tua Berambut putih, untuk kali ini juga kami telah menemukan bahwa engkau telah berlaku kontradiktif. Bukankah pemberontakan para logos itu merupakan sifat hakiki para logos. Jika tiadalah pemberontakan maka itu berarti bukan logos namanya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ooh maafkan aku, aku telah keliru menilai keadaan. Tetapi aku juga telah menemukan bahwa kedua dirimu itu juga berlaku konradiktif. Kelihatannya engkau menyalahkan diriku telah berlaku kontradiktif. Bukankah engkau tahu bahwa sebenar-benar diri kita semua, selama masih berada di dunia ini, maka kita itu selalu bersifat kontradiktif?

Orang Tua Berambut Putih dan Para Logos berkompromi:
Marilah kita konsultasikan persoalan ini kepada para hati.

.... Elegi ini belum selesai...dan insyaallah dilanjutkan dengan ...Elegi menggapai Hati Kedua.

Amii.

58 comments:

  1. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi menggapai hati kesatu saya menyadari bahwa ketika kita berada di zona nyaman dan tidak mau terlepas darinya maka kita berada di ruang yang gelap, kita belum bisa menembus ruang dan waktu, serta kehidupan kita masih terbelenggu. Oleh karena itu untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan lebih maju hendaknya kita keluar dari zona nyaman dan bersiap untuk menghadapi tantangan yang akan menghadang, ketika kita menjalani kehidupan kita di dunia ini.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Kehidupan manusia di dunia ini tidak terlepas dari namanya kontradiksi, baik itu dalam tutur kata maupun perbuatan kita. Untuk menghadapi hal tersebut, maka hendaknya kita dengan ikhlas hati menjauhkan segala perbuatan dan tutur kata yang tidak berkenan, agar tidak merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

    ReplyDelete
  3. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Setiap kita membangun logos kita maka secara otomatis muncul mitos-mitos. Maka dalam rangka mengusir mitos-mitos tersebut kita sebagai para logos melakukan pemberontakan. Karena sesungguhnya musuh terbesar logos adalah mitos. Hidup kita takkan lepas dengan kontradiktif, karena sesungguhnya sebenar-benar kita adala selalu bersifat kontradiktif. Kontradiktif tersebut cukup lah berada dalam pikiran kita, jangan sampai tersimpan dalam hati. Karena jika sudah sampai hati, maka kita berhadapan dengan setan. Semoga ketika terhidar dari hal tersebut dan sebagai para logos terus berusaha belajar dan menghindari mitos-mitos, yang lebih penting lagi adalah kita mampu memahami ruang dan waktu kita masing-masing.

    ReplyDelete
  4. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam hidup, pasti selalu ada kontradiktif, seperti kontradiktif antara pikiran dan hati, kontradiktif antara perkataan dan perbuatan, dll. Padahal, dalam hidup kita sering dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan kita memutuskan sesuatu. Agar dapat memutuskan sesuatu yang benar dan tidak benar, baik dan buruk, maka hati dan pikiran kita harus selaras.

    ReplyDelete
  5. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Agar dapat terhindar dari waktu tiada, kita harus dapat menentukam yang baik dan buruk, yang benar dan salah. Untuk dapat menentukan yang baik dan buruk, yang benar dan yang salah dalam hidup kita, maka hati dan pikiran kita harus selalu selaras. Hati kita harus didasari dengan iman yang kuat dan pikiran kita harus selalu terbuka.

    ReplyDelete
  6. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam hidup kita pasti ada yang lebih suka menetap pada zona nyaman. Zona nyaman berarti rutinitas. Dengan menjalani hidup sesuai rutinitas maka seseorang tidak dituntut untung berpikir ke depan. Sehingga, orang yang tidak mau meninggalkan zona nyaman tidak akan pernah maju. Berarti, agar dapat manu, seseorang harus berani meninggalkan zona nyamannya dan berani menghadapi tantangan. Dengan menghadapi tantangan, seseorang akan belajat bagaimana bertahan dan akan memiliku banyak pengalaman hidup. Sehingga, dia akan terus maju.

    ReplyDelete
  7. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ketika hidup dalam masyarakat, penilaian seseorang terhadap orang lain pasti berbeda-beda. Apa yang dianggap baik belum tentu dianggap baik oleh orang lain, begitu pula sebaliknya. Dan orang yang dianggap berilmu belum tentu cukup berilmu diantara orang lain, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, kita harus dapat memposisikan dengan baik diri kita di masyarakat agar dalam hidup bermasyarakat menjadi lebih tentram dan nyaman.

    ReplyDelete
  8. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Sangat bersemangat ingin melanjutkan membaca Elegi menggapai Hati Kedua. Karena sejujurnya, ketika membaca tulisan ini saya pun ikut berlaku kontradiktif. Ketika membacaca jawaban logos tua, saya mengamini. Ketika membaca jawaban logos muda, saya pun iku mengamini. Jika berkenan, saya meminta penjelasan lebih dalam (mungkin juga akan saya jadikan pertanyaan dalam perkuliahan Filsafat Ilmu minggu depan).

    ReplyDelete
  9. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Terimakasih Prof, Elegi diatas kembali menyadarkan saya bahwa kita punya comfort zone masing-masing. Ruang yang membuat kita tenang dan nyaman berada disitu sehingga sering terlena oleh waktu dan melupakan hal lain yang ingin kita lakukan. Semakin kita nyaman, semakin sulit kita keluar dan semakin menjauhkan kita dari terangnya dunia luar. Semakin membuat kita malas menemukan hal lain diluar batas ruang tersebut. Sehingga tak jarang meskipun kita sadar, kaki sudah tak ingin melangkah karena terlalu ketakutan kita menghadapi tantangan-tantangan di luar sana.
    Saat ingin mencoba keluar dari ruang gelap ini, ketakutan menjadi hal wajar. Seringnya kekhawatiran kita tentang berbagai hal di luar sana membuat kita semakin takut untuk melangkah.

    ReplyDelete
  10. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya mendapatkan sebuah nilai yakni, bagaimana kita tidak mudah termakan oleh kata-kata atau terlalu terpengaruh oleh keadaan karenabelum tentu pemikiran itu bisa membuat kita tetap berpegang teguh pada pendirian kita, dimana kita tidak boleh merasa cukup atas pencapaian kita namun juga tidak merasa lelah untuk berusaha membangun pengetahuan.

    ReplyDelete
  11. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Percakapan yang menarik dari ketiga tokoh. Percakapan tersebut menunjukkan sifat kontradiksi masing-masing tokoh. Hal itu menunjukkan bahwa manusia sering tidak menyadari bahwa dalam dirinya terdapat kontradiksi. Komentar yang saya tulis ini pun mungkin tanpa saya sadari mengandung kontradiksi. Pelajaran yang saya peroleh adalah sebagai manusia tidak boleh merasa sombong.

    ReplyDelete
  12. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini yang saya pahami adalah Logos Muda dan Logos Tua menggunakan logika dan rasio dalam pemikiriannya. Menurut Hegel kehidupan manusia itu tidak lain adalah mendapati kemajemukan, oposisi-oposisi, dan kontradiksi dalam pengalaman sehari-harinya. Tentu saja baik Logos Muda dan Logos Tua akan senantiasa menemukan kontradiksi. Rasio (Vernunft) menurut Hegel memiliki kepentingan dasarah yaitu mengusahakan kesatuan yang utuh dari kontradiksi-kontradiksi tersebut, karena kontradiksi-kontradiksi tersebut tidak memuaskan pikiran, dengan kata lain rasio selalu menginginkan mencapai apa yang dinamakan dengan “Yang Absolut” yang hanya bisa dicapai dengan cara refleksi. (Hardiman, 2007:176)

    ReplyDelete
  13. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Prof. Jika Logos atau logika mewakili ilmu pengetahuan maka keinginan Logos tua memberontak karena selalu dikejar oleh mitos dan ruang gelap, maka benarlah pemberontakan itu. Ilmu pengetahuan selayaknya bebas dari mitos dan harus benar-benar objektif. Kemudian Ilmu pengetahuan juga tidak boleh mandeg di satu titik melainkan harus terus berkembang dari waktu ke waktu.

    ReplyDelete
  14. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Hakikatnya, manusia hidup di dunia ini penuh kontradiktif. Terkadang apa yang kita lakukan ini tidak sesuai dengan keinginan kita maupun kondisi yang ada. Namun perlu kita ketahui bahwa kontradiksi itu merupakan hal yang membuat kita lebih mengerti arti hidup. Banyak pengalaman yang tidak sesuai dengan keinginnan kita, namun rencana Tuhan itu pasti lebih baik atau indah.

    ReplyDelete
  15. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari Elegi ini yang saya pahami yaitu dalam diri setiap orang pasti ada dari kita yang tidak sesuai dengan diri kita, kita mempunyai prinsip tapi kadang apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan prinsip kita, ini sering sekali terjadi. Dalam diri kita selalu ada saja kekurangan, kesalahan, dan kekeliruan, ada banyak kontradiksi dalam diri kita selama kita masih didunia. Sehingga yang perlu dilakukan yaitu menjada hati, menjaga prinsip agar meminimalisir kontradiksi yang ada pada diri kita.

    ReplyDelete
  16. Junianto
    PM C
    17709251065

    Memang manusia haruslah saling mengingatkan karena manusia tidak pernah luput dari salah dan khilaf. Hal ini yang saya pahami dari elegi ini. Para logos saling mengingatkan dan membenarkan apa yang seharusnya dibenarkan. Dan di dunia ini juga selalu ada dua hal yang saling kontradiktif. Maka dari itu, adanya kontradiktif sudah menjadi hal yang wajar.

    ReplyDelete
  17. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Postingan ini bercerita tentang dialog antara logos tua dan logos muda. Dari percakapan kedua logos ini diketahui bahwa mereka saling menemukan banyak kontradiksi di dalam diri mereka. Salah satunya adalah ketika logos tua menyebut logos muda sebagai logos yang pintar, logos muda merasa senang akan sebutan tersebut. Padahal sejatinya seseorang semakin berilmu akan semakin rendah hatinya, sehingga tidak akan tersanjung dengan sebutan pandai atau pintar. Logos muda kemudian meminta maaf atas sikapnya, yang kemudian juga disebut sebagai kontradiksi dalam diri logos muda oleh logos tua. Logos muda yang kemudian emosi karena apa yang dilakukannya serba salah kemudian dinilai sebagai kontradiksi yang lain juga oleh logos tua.
    Memang dalam hidup ini, banyak hal yang sebenarnya penuh dengan kontradiksi. Bahkan apa yang kita ucapkan dan pikirkan sekarang juga mengandung kontradiksi.

    ReplyDelete
  18. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Pada postingan artikel diatas merupakan sifat manusia satu dengan yang lain, sifat manusia tersebut tidak semua sejalan dan tidak semua bertolak belakang, hanya saja sifat manusia itu unik, namun sejatinya manusia yang berilmu semakin tingginya ilmu maka dia semakin bijaksana dalam menanggapi masalah. Allah juga menyukai orang yang berilmu. Namun, tidak bisa di pungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, sehingga manusia haruslah saling mengingatkan karena dasar nya manusia banyak salah dan khilafnya. Dunia ini ada banyak hal yang kontradiktif yang berjalan di dunia, dan sudah menjadi hal yang umum. Walaupun banyak kontradiktif tetapi kita juga harus menjadi manusia yng bisa mengingatkan dan dingatkan orang lain.

    ReplyDelete
  19. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Perbedaan di dalam menjalani kehidupan merupakan hal yang tidak aneh, pro dan kontra selalu ada di dalam dinamika kehidupan. Perbedaan pendapat merupakan suatu keindahan dan anugrah, karena dengan adanya perbedaan pendapat bisa memperkaya pengetahuan yang ada sebelumnya. Namun, pada kenyataannya banyak sekali individu maupun kelompok yang mengalami perbedaan pendapat tetapi malah berdebat tidak sesuai dengan etika, bahkan di dalam proses perdebatan tersebut tak jarang bahasa yang digunakan melewati batas sehingga menimbulkan caci maki, saling menghujat, bahkan saling menjatuhkan satu sama lain. Jika kita perhatikan, perdebatan semacam itu sangat tidak mencontoh perilaku sebagai orang yang memilki ilmu, celakanya mereka yang mengalami hal seperti itu justru dari kalangan yang berilmu.

    ReplyDelete
  20. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Di dalam dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Manusia identik dengan ketidaksempurnaanya sehingga sering melakukan kesalahan. Akan tetapi kita tidak boleh menyerah dalam ketidaksempurnaan, di dalam ketidaksempurnaan ada suatu kebaikan yang bisa kita kembangkan sehingga kita bisa mendekati kesempurnaan itu. Kuncinya adalah berada pada hati kita masing-masing. Mari kita bersihkan hati kita dari penyakit-penyakit hati.

    ReplyDelete
  21. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Sebagai tambahan untuk komentar saya di atas. Segala yang ada di dunia ini memiliki kontradiksi. dalam elegi ini dikisahkan bahwa logos tua dan logos muda saling tuding bahwa satu dan yang lainnya memiliki kontradiksi atas dirinya sendiri. Ketika logos muda mengaku bahwa ia hanya dapat bertanya, kemudian pengakuannya bahwa ia hanya dapat bertanya menjadi kontradiksi terhadap dirinya, karena ia telah membuat pernyataan, bukan pertanyaan. Demikian juga dengan logos tua yang mengaku tidak dapat membuat keputusan, sebenarnya dengan membuat pengakuan tersebut logos tua telah memutuskan bahwa ia tidak dapat memutuskan. Memang rumit, tapi benar adanya.

    ReplyDelete
  22. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Hidup penuh dengan kontradiktif, merasa berada dikeadaan kontradiktif dalam kontradiktif mungkin pernah masing-masing dari kita mengalaminya. Pertentangan, ketidaksesuaian, keinginan bertentangan dengan kenyataan. Kontradiktif itu datangnya dari pikiran termasuk ketakutan dalam memilih, tidak bisa memilih, ketakutan dalam memutuskan, takut mengambil keputusan, namun melalui kontradiktif itulah kita belajar dan memahami arti keberadaan sesuatu.

    ReplyDelete
  23. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    1770251013

    Saya teramat menyukai akan bagaimana mengkonsultasikan persoalan ini kepada hati

    Karena disitu letak manusia tak dapat menipu diri.

    Terimakasih Prof ini bacaan yang sangat menarik rasa saya

    ReplyDelete
  24. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Keadaan disaat kita berhenti, tidak mau lagi belajar, sudah merasa puas terhadap apa yang sudah dimiliki, merupakan keadaan kita yang sudah terjebak oleh mitos. Sementara itu, ketika kita melampaui batasan kita dengan merasa mampu memikirkan hal-hal yang berada di luar kemampuan kita, maka kita juga terjebak mitos. Seperti yang digambarkan dalam elegi ini, bahwa setiap yang ada di dunia bersifat kontradiksi. Bahkan apa saja yang kita ungkapkan, pikirkan, dan yakini terdapat kontradiksinya. Pesan lain yang saya dapat dari elegi menggapai hati kesatu ini adalah janganlah mudah terjebak oleh pujian yang membuat kita merasa bangga dan merasa hebat, padahal hal tersebut justru akan mengancam diri kita. Maka selalu kembalikan pada hati yang bersih.

    ReplyDelete
  25. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada dasarnya manusia itu sifat, karena memiliki hati. Pada elegi ini, hati kesatu menggambarkan perasaan yang bertentangan dalam diri manusia yaitu kontradiksi. Ketika senang, kita memikirkan kapan kita sedih, ketika sedih kita memikirkan kapan kita senang. Kadang perasaan seperti itu membuat hati kita gundah. Tetapi kita harus selalu positif thinking dan percaya bahwa Tuhan sudah merencanakan apa yang terbaik bagi kita. Oleh karena itu, dalam memikirkan segala sesuatu, haruslah kita dasari dengan rasa ikhlas sehingga bagaimana pun keadaannya kita akan tetap bersyukur dan menerima apa yang diberikan Tuhan kepada kita.

    ReplyDelete
  26. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Dari dialog di atas baik logos muda maupun logos tua harus mengetahui dasar atas segala tindakan yang dilakukan agar tidak terancam kembali menjadi mitos. Sehingga dalam menyelami keilmuan tidak hanya asal-asalan, tetapi mempunyai dasar teorinya. Dialog para logos ini juga menyadarkan saya bahwa setiap kita berada dalam kontradiktif terhadap kontradiktif yang kontradiktif lainnya di dunia ini. Kontradiktif sangat wajar terjadi selama kita terikat oleh ruang dan waktu. Menyalahkan satu sama lain tidak akan ada gunanya. Menerima adalah kuncinya.

    ReplyDelete
  27. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika 2017

    Assalamualaikum wr wb

    Dari dialog diatas dapat dikatakan bahwasannya setiap pemikiran, baik berjiwa muda ataupun berjiwa tua, mempunyai jalan pemikiran yang berberbeda-beda, sehingga setiap insan tidak memiliki pemikiran yang sama. Dan setiap insan yang mempunyai pikiran pun memiliki kontradiksi terhadap pemikiran atau pendapatnya sendiri. Kontradiktif itu sangat wajar adanya karena setiap logos akan terikat dengan ruang dan waktu. Kalaupun ada logos yang menjadi penengah diantara kedua yang saling berkontradiktif, tetap saja sikap saling menerima dan terbuka untuk setiap hal yang berkontradiktif haruslah dipunyai setiap insan agar setiap logos bisa hidup berdampingan.

    ReplyDelete
  28. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika 2017

    Untuk setiap logos juga haruslah mempunyai ilmu atau wawasan yang luas sebelum mengeluarkan pemikiran meraka, agar meraka tidak mudah digoyahkan oleh pemikiran yang lain. Karena jika tidak didampingi oleh ilmu, maka pemikiran atau pendapat tersebut hanya akan menjadi sebuah kemungkinan yang ada atau sebuah mitos.

    ReplyDelete
  29. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Mitos adalah mengikuti suatu hal tanpa tahu ilmunya terlebih dahulu. Mitos tidak selamanya merupakan hal negatif. Namun akan bahaya jika kita lebih sering menggunakan mitos daripada logos karena malakukan sesuatu tanpa memiliki ilmunya maka akan sia-sia saja melakukannya. Oleh karena itu, perlu ada usaha untuk mengubah mitos menjadi logos dengan menggunakan banyak pembuktian.

    ReplyDelete
  30. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamaulaikum wr wb.Hidup ini memang kotradiktif.Hidup mampunyai pasangannya masing-masing.Ada yang baik dan buruk.Ada yang terang dan gelap.Ada yang tampan dan jelek.Begitulah nuansa takdir hidup .Karena hidup adalah pilihan makanya kita ditakdirkan untuk memilih.Dan kita harus mematahkan dan membunuh satu pilihan demi mengabaikan pilihan yang lain.Namun, sebenar-benarnya pilihan itu adalh pilihan kita sendiri.Kita tak bisa mengelak dari pilihan.Harapannya adalah apa yang menjadi pilihan kita adalah pilihan yang terbaik.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  31. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi menggapai hati kesatu ini saya memahami bahwa dalam hidup ini manusia tidak akan terlepas dari berbagai kontradiksi-kontradiksi. Dalam melakukan sesuatu terkadang harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, tidak sesuai ruang dan waktunya. Namun kontradiksi itulah yang membuat kita hidup. Untuk itu, dalam menghadapi berbagai kontradiksi kembalikanlah semuanya kepada hati, pikirkan dengan hati. Agar diri selalu terjaga dari timbulnya pemberontakan.

    ReplyDelete
  32. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Elegi yang diberikan pada permasalahan disini memang sangat benar adanya. Seringkali kita manusia selalu nyaman dalam keadaan yang tidak membuat kita berkembang. Padahal pada dasarnya mereka mengetahui bahwa zona yang mereka anggap nyaman merupakan zona yang tidak baik. Karena manusia jika selalu berada di dalam zona nyaman bisa dikatakan dengan mayat hidup. Mereka hidup tidak memiliki tantangan apapun. Salah satu zona nyaman yang tidak baik adalah zona nyaman dalam melakukan hal yang buruk. Mereka tahu bahwa melakukan hal yang buruk itu tidak baik. Namun, karena mereka tidak mau tahu dan tidak peduli akan adanya kesadaran mereka, akhirnya mereka selalu nyaman dalam keadaan yang mereka tinggali walaupun itu perbuatan buruk. Untuk itu, kita sebagai manusia jangan selalu puas dengan apa yang kita peroleh. Karena dengan kepuasan berarti kita sudah merasakan suatu kenyamanan dan itu akan membuat kita tidak berkembang lagi, bisa juga akan membuat kita tertinggal dengan orang lain.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  33. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi yang sangat menarik. Betapa susahnya ketika kita dihadapkan ke dalam kontradiksi, dan kita seolah-olah sangat jernih untuk melihat kontradiksi yang ada di dalam diri orang, namun kesulitan dalam memahami kontradiksi yang ada di dalam diri sendiri, refleksi yang sangat mencerahkan.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia diciptakan sebagai makluk yang sempurna dengan bekal pikiran dan hati nurani, meski sempurna dalam artian yang terbatas. Meski demikian, tentu seharusnya manusia bersyukur atas anugrah besar yang diberikan Tuhan berupa kemampuan untuk berpikir atau menalar. Salah satu bentuk syukur adalah dengan senantiasa berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Yang jadi persoalan bagaimana cara melakukannya? Pertama tentu manusia harus keluar dari zona nyamannya. Kemampuan berpikir manusia akan optimal ketika dihadapkan dengan suatu permasalahan yang itu diluar zona nyaman. Keluar dari zona nyaman berarti mengacaukan pikiran kita. Pikiran yang kacau ini adalah awal untuk dapat berpikir maju, berpikir lebih keras untuk menemukan titk terang. Namun, hati tidak boleh kacau. Selama berpikir untuk menemukan ilmu-ilmu baru dan pemahaman baru, hati harus tetap terjaga dengan do’a-do’a yang selalu menaunginya. Itulah kunci agar manusia dapat terus maju dan berkembang.

    ReplyDelete
  35. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam percakapan kedua logos diatas, saya mnarik kesimpulan bahwa, manusia itu cenderung pandai menilai orang lain, namun tidak mampu melihat sisi diri sendiri. Selain itu manusia juga cenderung enggan bergerak dari zona amannya, sehingga ia lebih berusaha bertahan dalam zona nyamannya, tanpa berusaha mencari zona baru sebagai ladang penambah ilmu dan pengalaman. Hal lainnya adalah secara sadar ataupun tidak ternyata kita sering menilai dan memposisikan driri kita sendiri dalam keadaan yang kurang baik, sehingga dalam hati dan pikiran kita termaktub bahwa kita benar-benar demikian. Oleh karena itu mari instropeksi diri.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  36. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini menjadi jawaban dari pertanyaan saya pada elegi menggapai rumah paradoks dan jawabannya adalah sejatinya selama masih berada di dunia semuanya bersifat kontradiktif. Sebelumnya saya sendiri berpikir apakah dapat dikatakan salah jika seseorang berlaku secara kontradiktif. Ini juga telah dijelaskan oleh Prof. Marsigit saat belajar di kelas, sesuatu yang dipandang salah jika tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Saya senang saat mendapatkan jawaban melalui bacaan-bacaan yang langsung saya baca. Kekhawatiran saya terkait kekurangan waktu saat belajar di kelas juga hilang seketika. Semoga saya dapat terus konsisten melibatkan diri dalam pencarian ilmu. Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  37. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C


    Banyak cara untuk menginterpretasikan makna elegi ini. Ketika saya membaca elegi ini hingga akhir (walaupun belum melanjutkan ke bagian kedua), saya merasa pernah berada di posisi tersebut. Berada di zona aman memang awalnya enak, tapi lama-lama kita akan berada di bawah tekanan untuk melanjutkan hidup. Dapat dikatakan orang yang berada di ruang gelap itu tidak berani menerima tantangan untuk berubah, tidak berani menerima kritikan. Orang seperti itu hanya menganggap dirinya yang paling benar dan tidak ingin dianggap tertinggal padahal ia menyadari bahwa ia keliru.

    ReplyDelete
  38. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari elegi tersebut setiap makhluk hidup memiliki sifat kontradiktif. Hanya saja terkadang kita tidak menyadarinya. Seperti yang sudah digamabrkan oleh para logos. Tetapi baiknya adalah para logos ini saling menegur dan menasehati satu sama lain. Sehingga, orang yang ditegur itu menyadari kesalahannya dan ingin memperbaikinya. Karena ketika tidak menyadari kelemahannya, manusia bisa saja bersifat sombong. Seperti logos muda yang dipuji logos tua.

    ReplyDelete
  39. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Dari percakapan antara logos muda, logos tua dan orang tua berambut putih ini kita melihat bahwa awalnya logos muda menilai logos tua sebagai berlaku kontradiktif. Kemudian logos tua juga menyadari bahwa logos muda pun berlaku kontradiktif. Logos muda mengaku di depan logos tua bahwa ia hanya bisa bertanya, namun ternyata ia juga bisa memberi pengakuan, sehingga gugurlah klaim logos muda bahwa ia hanya bisa bertanya. Oleh karena itu benar apa yang dikatakan orang tua berambut putih bahwa sebenar-benar diri kita selama di dunia adalah bersifat kontradiktif.

    ReplyDelete
  40. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi yang asik untuk dibaca, ketika saya membacanya saya seolah-olah ikut masuk dalam perbincangan tersebut. Setiap kita memiliki sifat kontradiktif diatas kontradiktif yang lain, maka kita tidak berhak dengan seenaknya menyatakan baik atau buruk sifat orang lain, karna setiap sifat memiliki kontradiksi. Seperti halnyaOrang Tua Berambut Putih dan Para Logos yang berkompromi:untuk mengkonsultasikan persoalan yang kontradiktif kepada para hati, mari kita juga melakukan hal yang sama.

    ReplyDelete
  41. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Ruang gelap menurut saya bisa juga dikatakan sebagai zona nyaman, yang mana ketika kita berada di sana, maka akan sangat berat hati untuk meninggalkan atau pergi dari zona tersebut. Padahal jika ingin melangkah barang satu langkah saja, maka banyak sekali pengalaman yang dapat dijalani. Apalagi jika langkah yang diambil lebih banyak lagi. Dan sesungguhnya perjalanan hidup bukan berhenti di satu titik saja, seseorang harus selalu melangkah agar hidup berkembang tidak begitu-begitu saja.

    ReplyDelete
  42. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Walaupun belum selesai, saya menjadi penasaran bagaimana orang tua berambut putih menyikapi pemberontakan yang seakan tiada mau diberhentikan oleh para logos. Disini saya menangkap, bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada didunia ini memiliki sifat kontradiktif. Ketika para logos berusaha mengusir dan membuat pemberontakan untuk para mitos, maka itulah kontradiktifnya. Manusia pun juga begitu, namun baiknya ketika seorang yang kontradiktif terus mengikuti pikiran mitos dan sifat buruknya, maka haruslah ada yang berperan sebagai pengingat dan penasehat. Seperti halnya yang dikatakan orang tua berambut putih, untuk mengkonsultasikan persoalan yang kontradiktif kepada para hati, maka seyogyanya manusia juga memasrahkan dan mengadu nya kepada Allah swt, Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  43. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Semua yang ada di kenyataan bersifat kontradiktif maka jika bawa ke dunia pikir dan dianalisis menggunakan logika juga akan bersifat kontradiktif. Namun usaha kita dalam memikirkan sesuatu menunjukkan bahwa kita terus belajar sehingga tidak terjebak dalam mitos. Karena orang yang berhenti belajar dikatakan terjebak dalam mitos dan bersifat sombong. Namun tentunya obyek pikir itu ada batasnya karena ada beberapa fenomena dan noumena yang tidak dapat digapai dengan logika namun dapat digapai oleh hati.

    ReplyDelete
  44. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pada elegi ini bisa saya pahami sedikit yang bisa dikaitkan dengan kehidupan sesama manusia. Saya memahami bersikap kontradiktif sebagai salah satu tindakan berbuat kesalahan/ dosa. Seperti halnya manusia biasa, tidak mengenal usia, agama, suku, dll semuanya pasti pernah berbuat kesalahan/ dosa. Tetapi, tidak jarang para orang tua/ pemimpin menggunakan kekuasaanya untuk menyembunyikan kesalahannya dan cenderung mencari kesalahan anak muda/ rakyat biasa. Maka dari itu, agar kehidupan menjadi tenteram sebaiknya baik dari golongan muda/ rakyat dan golongan tua/ pemimpin duduk bersama dan memusyawarahkan segala sesuatu agar ditemukan solusi dan kesepakatan.

    ReplyDelete
  45. Elegi ini juga bisa dikaitkan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Jika setiap orang dari berbagai kalangan mau dan mampu duduk bersama untuk musyawarah dan mencari kesepakatan demi kebaikan bersama maka saya percaya segala persoalan bangsa ini bisa terpecahkan demi kebaikan. Pemimpin, pejabat, rakyat dan semua elemen masyarakat akan hidup damai manakala mereka tau posisi dan tugas masing-masing dan kemudian melaksanakan tugas itu dengan penuh tanggungjawab. Apalagi dalam indeologi bangsa kita yaitu Pancasila juga mengajarkan untuk selalu musyawarah untuk mengambil keputusan bersama.

    ReplyDelete
  46. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari dialog di atas baik logos muda maupun logos tua harus mengetahui dasar atas segala tindakan yang dilakukan agar tidak terancam kembali menjadi mitos. Sehingga dalam menyelami keilmuan tidak hanya asal-asalan, tetapi mempunyai dasar teorinya. Dialog para logos ini juga menyadarkan saya bahwa setiap kita berada dalam kontradiktif terhadap kontradiktif yang kontradiktif lainnya di dunia ini. Kontradiktif sangat wajar terjadi selama kita terikat oleh ruang dan waktu. Menyalahkan satu sama lain tidak akan ada gunanya. Menerima adalah kuncinya.

    ReplyDelete
  47. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Berapapun umur kita maka kita harus senantiasa berpikir dan berpikir, karena sejatinya orang yang tidak mau berpikir maka dia sudah terkena mitos. Sama juga jika kita sudah puas dengan mengikuti pendapat maupun teori seseorang dengan menelannya mentah-mentah, maka juga bisa dikatakan terkena mitos. Selain terus berpikir, kita juga jangan sampai terjebak pada zona nyaman hidup kita, perlu mencari tantangan-tantangan baru, sehingga hidup kita akan terasa lebih hidup. Kalau kita terjebak pada zona nyaman maka kita ada pada ruang gelap. Selain berpikir kita juga harus mengoptimalkan hati, sehingga dalam menentukan baik dan buruk, kita akan tepat menetukannya.

    ReplyDelete
  48. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dua hal utama yang saya garis bawahi pada elegi ini, yaitu terkait ruang dan waktu, dan kontradiktif.
    Ruang selalu berganti menyesuaikan waktu. Begitu pula waktu, berjalan seiring dengan ruang. Ruang dan waktu yang tepat akan mendorong kita untuk selalu bergerak sehingga kita menyadari bahwa kebenaran tidak hanya pada satu waktu, namun kebenaran akan selalu ada sesuai dengan waktu yang tepat serta keputusan yang benar dapat kita raih sesuai ruang yang tepat.
    Semua kenyataan adalah kontradiksi dan dengan kontradiksi itulah manusia dapat hidup. Kontradiktif bukan berarti buruk, dengan kontradiksi menempatkan kita pada ruang dan waktu dimana kita perlu mengevaluasi diri, introspeksi diri, rendah hati dan selalu mencari pengetahuan atau ilmu. Maka sebenar-benar yang harus kita lakukan adalah menjernihkan hati agar kita tidak terperangkap pada ruang gelap dan waktu tiada serta dalam kekeliruan menilai keadaan.

    ReplyDelete
  49. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti bersifat kontradiktif (A tidak sama dengan A), sebab hari ini dia bersifat baik belum tentu besok juga bersifat baik. Pada dasarnya sifat manusia selalu berubah sesuai dengan ruang dan waktu, maka manusia bersifat kontrdiktif. Selain itu, manusia juga harus bisa menembus ruang dan waktu. Jika dia tidak ada kemauan untuk menembus ruang dan waktu maka akan berada pada posisi ruang gelap dan waktu tiada. Dimana dia hanya berhenti pada suatu keadaan dan tidak bisa menentukan pilihannya. Sebab sebenar-benarnya hidup adalah diantara memilih dan terpilih. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  50. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Pepatah mengatakan apabila berteman dengan penjual daging busuk, maka kita akan tertular dengan bau daging busut tersebut. Namun apabila kita berteman dengan penjual minyak wangi kita akan tertular bau wangi dari parfum tersebut. Maksud dari pepatah ini adalah kita harus berhati-hati dalam berteman. Namun juga tidak boleh terlalu memilih-milih dari berteman. Hal itu karena apabila orang jahat berteman dengan orang jahat juga siapa yang membantu dia untuk mengarahkan ke jalan yang lebih baik. Maka teman yang mau menyadarkannyalah yang akan memiliki peran besar dalam hidupnya. Maka dalam pertemanan bukanlah seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki oleh teman kita namun seberapa hebat teman kita dalam mengolah kemampuan tersebut sehingga dapat mengarahkan orang lain menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  51. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Baik buruknya suatu sikaf merupakan sebuah identitas dari diri seseorang. Pada hakikatnya hidup ini penuh dengan kontradiksi baik terhadap pemikiran maupun terhadap prilaku sehari-hari. Karena sebenar-benarnya identitas hanya di miliki oleh tuhan dan sebenar-benarnya kontradiksi hanya ada pada diri manusia. Maka dari itu manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan, sehingga dari pada membuat penilaian terhadap orang lain lebih baik melakukan intropeksi diri sambil memperbaiki segala kekurangan diri.

    ReplyDelete
  52. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  53. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Terima kasih, elegi yang sangat menarik Prof.
    Dari elegi tersebut saya dapat mengambil beberapa pelajaran hidup. Bahwa dalam hidup akan selalu ada kontradiksi-kontradiksi. Ketika kita bingung memilih A atau B dan pada akhirnya kita tidak memilih A maupun B, maka itu pun termasuk pilihan kita. Setiap pilihan pasti akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Ketika akan memilih A atau B, memilih keduanya, atau tidak memilih keduanya, kita harus bertanya dengan hati nurani kita.

    ReplyDelete
  54. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca ini menyadarkan saya, bahwa setiap kita memiliki zona nyaman dalam diri kita masing-masing. Saat kita terjebak dan terlenan dengan zona nyaman, maka kita akan sulit untuk keluar darinya. Kita akan sulit berkembang dan ciut dalam mengahadapi tantangan ke depan. Oleh karena itu, kita harus selalu belajar dan berinovasi serta mencoba hal-hal yang baru, agar kita dapat berkembang dan dimensi kitapun meningkat. Terimakasih.

    ReplyDelete
  55. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Membaca elegi ini benar-benar serasa memecuti hati sendiri. Karena terjebak dalam ruang yang gelap dan waktu itulah diri kami saat ini. Setelah menyelesaikan studi s1 masih saja berada di jogja. seharusnya kami pulang ke kampung membagikan ilmu yang di peroleh dari jogja dan mengembangkan ilmu bersama masyarakan dan melanjutkan s2 merupakan keputusan dilematis antara pelarian dan memang tujuan. Untuk menghadapi keterjebakan dalam ruang gelap dan waktu kita benar benar membutuhkan teman yang senantiasa memberi masukan dan saran serta tempat untuk mencurahkan segala keadaan yang di rasakan layaknya logos mudan dan logos tua. Terima.kasih.

    ReplyDelete
  56. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    dari tulisan tersebut hal yang dapat saya ambil adalah bahwa dalam hidup ini kita selalu berhadapan dengan kontradiksi pun tanpa kita sadari. hal-hal yang kita dapatkan seperti pujian dari orang lain hendaknya jangan membuat kita berbangga diri karena pujian justru bisa menjatuhkan. hal yang harus dilakukan ketika menerima pujian adalah berdoa kepada allah semoga kita sebaik yang orang lain sangkakan.

    ReplyDelete
  57. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    terimakasih prof. dari elegi ini saya belajar kita sebagai manusia jangan kaku dalam menghadapi masalah. kita harus berani keluardari zona nyaman. zona nyaman dalam kehidupan membuat kita tidak bisa berkembang kreatif. memang selalu ada kontadiksi-kontadiksi dalam segala hal yang kita pilih. namun kita harus berani dalam menghadapinya.

    ReplyDelete
  58. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assaamu'alaikum Wr.Wb.

    Didalam kehidupan didunia kita selalau dihadapkan dengan kontradiksi-kontradiksi. Semua manusia tanpa tekecuali mereka akan selalu dilingkari dengan kontradikisi didalam kehidupannya. Akan tetapi kita sebagai manusia lebih cepat menilai kontradiksi yang ada pada orang lain, dan seakan lupa dengan kontradiksi yang ada pada diri sendiri.

    ReplyDelete