Oct 6, 2013

Elegi Menggapai Menilai Normatif




Oleh Marsigit

Formal:
Wahai normatif, dikarenakan alasan formal, maka aku perlu penilaian sifat diriku oleh dirimu?



Normatif:
Menilai sifat dirimu itu termasuk wilayah normatif.

Formal:
Ya silahkan, itu alasanmu.

Normatif:
Aku lebih enjoy menikmati hidupku yang normatif daripada harus memberi sifat formal pada dirimu.

Formal:
Tetapi ini adalah tanggung jawabmu?

Normatif:
Tanggung jawab yang mana?

Formal:
Bukankah engkau telah menyediakan diri bergaul secara formal denganku?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Apakah engkau lupa dengan jadwal-jadwalmu. Bukankah engkau mempunyai jadwal mengajar bagi para formal pada hari Senin, Selasa, Rabu, dst..?

Normatif:
Oh..iya maaf saya sampai agak lupa. Terimakasih anda telah mengingatkan hal itu kepadaku. Lalu kenapa engkau begitu semangat menginginkan penilaian formal dariku?

Formal:
Bukankah engkau tahu bahwa penilaian formalmu itu secara formal juga menunjukkan dimensi formalku. Sehingga penilaian formalmu itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan dimensi formal diriku.

Normatif:
Tetapi apakah engkau tahu betapa sulitnya aku memberikan penelaian formal terhadap dirimu?

Formal:
Mengapa sulit, cukup berikan saja nilai bagiku?

Normatif:
Engkau menginginkan nilai berapa?

Formal:
Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Lho apa buktinya aku memaksa. Bukankah aku telah memberikan engkau beberapa alternatif bagimu untuk menilai diriku. Terserah saja bagimu, asalkan aku mendapat nilai “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Siang dan malam aku berdoa agar darimu aku mendapatkan nilai “terbaik”. Jika engkau memberikan nilai “terbaik” maka berarti terkabulah doaku itu.

Normatif:
Sikapmu itulah yang membuat saya merasa berat untuk memberikan penilaian terhadap dirimu?

Formal:
Kalau engkau enggan menilai maka bagaimana tanggungjawabmu?

Normatif:
Baiklah, sebelum aku akhirnya terpaksa memberikan penilaian terhadapmu, maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku berikut?

Normatif:
Apakah engkau sudah melaksanakan semua nasehatku?

Formal:
Nasehatmu terasa tidak cocok dengan hati dan pikiranku.

Normatif:
Bukankah aku telah mengembangkan skema agar semua hati dan pikiranmu dapat terfasilitasi dalam skema yang aku kembangkan?

Formal:
Aku tidak peduli dengan skemamu. Dan aku juga tidak mau hati dan pikiranku terfasilitasi oleh skemamu.

Normatif:
Terus apa maumu dan bagaimana saranmu kepada diriku.

Formal:
Pertama memandang dirimu, aku tidak suka denganmu.

Normatif:
Kalau begitu engkau telah bicara tentang “normatif”.

Formal:
Apa buktinya?

Normatif:
Bukankah engkau bicara tentang “suka” atau “tidak suka”

Formal:
Terserah apa penilaianmu teradap diriku, tetapi itulah faktanya bahwa aku tidak suka kepadamu.

Normatif:
Baik, karena suka dan tidak suka adalah hakmu, tetapi kenapa engkau memaksa diriku untuk memberikan nilai “terbaik”?

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Ternyata engkau masih berkutat dalam bidang normatif saja. “Memaksa” adalah aspek normatif.

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Jika di dunia ingin diterapkan keadilan maka yang berhak memaksa bukan hanya dirimu, tetapi diri yang lain juga berhak memaksa. Artinya sikapmu yang demikian akan menimbulkan keadaan anarkhis. Itulah kekacauan aturan yang ada. Bukankah engkau tahu bahwa salah satu tugasku adalah juga menegakkan peraturan?

Formal:
Aku lebih baik diam, sambil berharap-harap cemas?

Normatif:
Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal.

Formal:
Ah..omong kosong. Karena engkau juga tidak sepenuhnya melaksanakan yang formal?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Engkau tidak menyediakan buku bagiku. Engkau tidak menunjuk buku bagiku. Engkau tidak memberi petunjuk teknis bagiku. Engkau mengajar tidak urut dan tidak sistematis.

Normatif:
Semua yang engkau sebut itu adalah material, mekanistis dan paling banter formal. Tetapi belumlah normatif.

Formal:
Wahai normatif, janganlah bersembunyi dan berdalih dibalik normatif. Memangnya engkau juga tidak membutuhkan material dan formal?

Normatif:
Aku membutuhkan itu semua. Tetapi aku mengharapkan bahwa dimensimu juga bisa naik menjadi tataran normatif.

Formal:
Jangan mengguruiku. Aku telah menyadari bahwa diriku juga bisa normatif.

Normatif:
Normatif yang mana?

Formal:
Normatifku lain dengan normatifmu.

Normatif:
Beri contohnya.

Formal:
Normaku adalah walau aku tak bisa ya jangan sampai ketahuan tidak bisa. Walau aku tak berusaha ya jangan sampai tahu kalau tak berusaha. Walau aku salah ya jangan sampai ketahuan kalau aku salah. Walau aku membaca ya jangan sampai ketahuan kalau aku belum membaca. Walau cuma tahu sedikit ya aku minta nilai “terbaik”.

Normatif:
Padahal normaku itu bertentangan dengan normamu.

Formal:
Lho, normamu harus sama dengan normaku.

Normatif:
Lho main paksa.

Formal:
Siapa yang main paksa, cuma merayu agak keras.

Normatif:
Wahai formal, lama-lama habis kesabaranku. Engkau telah bersifat tidak normatif terhadap diriku dengan cara memaksakan normamu kepada diriku.

Formal:
Lau apa maumu?

Normatif:
Aneh juga?

Formal:
Apanya yang aneh?

Normatif:
Tidaklah semua formal menyadari yang normatif. Sebaliknya yang normatif berusaha menampung yang formal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Engkau formal berusaha menampung semua normatif. Maka itulah salah satu bentuk kesombonganmu.

Formal:
Ah..berfilsafat lagi. Bosan aku.

Normatif:
Itulah yang engkau sebut bahwa filsafat adalah normatif.

Formal:
Apa relevansinya?

Normatif:
Itulah kontradiksinya. Tiadalah mudah memberikan memberi nilai kepada dirimu.

Formal:
Bagiku sangat mudah. Tulis saja “terbaik”. Beres.

Normatif:
Wahai formal. Ternyata engkau tidak hanya sombong, tetapi juga berpotensi anarkhis, karena selalu main paksa.

Formal:
Apa teorimu menilai diriku?

Normatif:
Oh yang ini engkau berusaha menyadari? Menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan.

Formal:
Bertele-tele.

Normatif:
Baik akan aku katakan bahwa penilaian itu sesuai dengan dimensinya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Menilai kemampuan bayi yang baru lahir, dari gejalanya apakah bisa menangis, bergerak ..dsb.
Menilai siswa SD dari kemampuannya sesuai dengan kemampuan tingkat ke SD an.

Formal:
Lha kalau saya?

Normatif:
Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.

Formal:
Aku ini formal, bukan normatif. Tidak perlu pertimbangan macamn-macam.

Normatif:
Bukankah engkau telah teken kontrak bersedia bergaul dengan diriku. Artinya engkau bersedia menaikkan dimensi dirimu menuju tataran normatif? Itulah sebenar-benar refleksi.

Formal:
A..aa.ku bersedia tetapi normaku berbeda dengan normamu. lagi pula dimensiku itu kelihatannya lebih tinggi daripada kamu.

Normatif:
Janganlah selalu bersembunyi dibalik perbedaan norma. Bukankah diantara kita masih bisa dicari norma-norma universal? Tentang perbedaan dimensi, tentu ada orang lain yang lebih berhak menilainya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Secara universal, jika formal menginginkan penilaian normatif ya harus memenuhi normatif universal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Jika engkau enggan membaca tulisanku maka nilai normatifmu rendah.
Jika engkau enggan membaca buku-buku referensiku maka nilai normatifmu ya rendah.

Formal:
Apakah engkau akan manilai diriku “rendah”. Oh jangan jangan nilai aku “rendah”. Jika terpaksa engkau akan menilai diriku “rendah”, boleh asal bukan “rendah”. Tetapi silahkan menilai apaun asal jangan “rendah”. Karena aku tidak mau nilai “rendah”. Silahkan sembarang nilai diriku, asal bukan nilai “rendah”.

Normatif:
Bukakan banyaknya permintaanku itu telah menunjukkan sebenar-benar dimensimu? Terbukti saya menemukan banyak sekali pertentangan dalam dirimu. Membiarkan pertentangan dalam diri sendiri tanpa berusaha mengatasinya itu adalah perbuatan mitos.

Formal:
Engkau rupanya mengetahui apa di balik uraianku?

Normatif:
Bukanlah aku ini seorang paranormal. Aku sekedar membuat sintesis saja.

Formal:
Lalu apa saranmu bagiku?

Normatif:
Turunkan egomu. Tidak semestinyalah egomu itu engkau lebih-lebihkan sehingga melampaui batasmu. Bukankah engkau menyadari bahwa setinggi-tinggi norma kita secara universal adalah menjunjung peraturan dan kesepakatan serta komitmen kita masing-masing. Jika engkau telah menihilkan keberadaanku sebagai normatif, maka setinggi itu pulalah penilaianku terhadapmu. Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif.

Formal:
Aku tak mengerti maksudku.

Normatif:
Inilah peringatanku bagimu, agar berusahalah sesuai dengan suratan-suratan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, dan juga sesuai dengan normatif-normatifnya.

Formal:
Aku juga masih tidak tahu.

Normatif:
Itulah sikap dirimu yang sombong yang tidak pernah mau mendengarkan secara normatif diriku. Makajangankan nilai normatifmu, sedangkan nilai formalmu juga aku menilainya rendah.

Formal:
Wueh..

Normatif:
Aku hanya berdoa agar orang-orang sepertimu diberi petunjuk dan mampu merefleksikan dirimu agar segera menyadari kelemahan-kelamahanmu.

Formal:
Wueh..pakai doa segala. Emangnya yang bisa berdoa hanya dirimu. Doaku lebih makbul.

Normatif:
Ya Allah SWT ampunilah dosa-dosa orang-orang disekitarku. Berikan petunjukmu ya Allah, agar kita semua diberi keikhlasan baik pikir maupun hati. Agar kami memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamanat di akhirat?

Formal:
Wueh..silahkan berdoa. Wueh...paskan saja doamu dengan perbuatanmu. Aku akan menyaksikannya.
Tiadalah ampun bagi orang-orang yang tidak aku sukai.

Normatif:
Kelihatannya engkau marah berat kepada diriku? Bahkan pakai menyumpah segala.

Formal:
Tidak cuma marah aku juga tersinggung berat. Dan aku tidak akan pernah mengampuni dirimu. kalau aku menyumpah dirimu, karena aku tidak suka terhadap dirimu.

Normatif:
Aku serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME.

Formal:
Wuehh...pakai berserah kapada TuhanYME segala.

...

Orang Tua Berambut Putih:
Untuk kali ini aku datang walaupun tidak engkau undang. Nanti dulu ...
Wahai normatif dan formal...hati-hatilah ..sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya. Aku minta agar normatif dan formal bisa saling menahan diri, sebab jika tidak bisa menahan diri, maka dunia ini akan semakin anarkhis. Maka tawaduklah engkau itu.

Normatif:
Amiin..

Formal:
Preeeek..apa itu orang tua rambut putih. Konyol. Sia-sia aku memikirkannya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ohh..Allah hu Allah.

36 comments:

  1. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Nilai normatif merupakan salah satu unsur konstitutif dalam kebudayaan yakni bahasa, adat atau kebisaan, teknik. Unsur konstitutif ini yang menjadikan kelompok budaya yang satu berbeda dengan kelompok budaya yang lain. Nilai-nilai normatif ini akan menentukan sistem nilai atau sistem moral khas setiap kepribadian, setiap sosial dan setiap kebudayaan sehingga menjadi kekuatan-kekuatan integratif masnusia, masyarakat dan budaya.
    Sumber : Banasuru,Aripin.2014. Filsafat dan Filsafat Ilmu. Bandung : Alfabeta

    ReplyDelete
  2. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut sumber yang saya baca formal meliputi sesuatu yang memiliki dasar aturan- aturan dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai ruang dan waktunya. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Formal dibutuhkan untuk mewujudkan suatu tujuan sehingga formal juga sebagai pegangan tapi terbatas pada dunia, sedang hal yang lebih penting dari itu adalah normatifnya karena mencakup dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  3. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya dapat mengambil sebuah nilai. Bagaimana kita seharusnya tidaklah memandang suatu hal hanya dari satu sisi dan merasa berpuas diri. Karena dalam mencapai sesuatu kita haruslah terus berbenah diri, tidak merasa puas akan pencapaian saat ini dengan tetap rendah hati dan terus berusaha.

    ReplyDelete
  4. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika

    Mohon maaf, pak Prof. Saya tidak bisa melanjutkan dialog pada elegi di atas. Bukan karna saya capek untuk membaca, melainkan saya terhenti pada alternatif-alternarif yang ditawarkan formal kepada normati di bawah ini:

    Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

    Nah, saya tidak paham apa yang formal katakan dengan memberikan alternatif yang sama. Bukan kah dikatakan alternatif jika terdapat dua atau lebih pilihan yang berbeda? Entah apakah alternatif-alternatif tersebut memiliki makna filosofis yang berbeda? Namun secara harfiah, tidak ada alternatif yang ditawarkan. Bagi saya, alternatif-alternatif tersebut adalah anomali. Mohon penjelasannya, pak prof.

    ReplyDelete
  5. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, satu hal yang saya pahami adalah ternyata saya kurang belajar, saya kurang membaca, saya kurang menjaga keseimbangan antara formalitas dan normalitas pada diri saya sendiri, dan saya juga harus lebih berusaha untuk memahami normalitas orang-orang di sekitar saya. Terima kasih Pak, elegi ini membuat saya lebih sadar diri.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Filsafat ini mengajarkan kita untuk lebih menilai orang berdasarkan normatif bukan formal. Bukan pintar dan bodoh, kaya dan miskin, bangsawan atau kaum bawah, dewa atau hamba. melainkan berdasarkan perilaku dan akhlak seseorang. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi kita tidak boleh menjudge seseorang itu baik atau buruk hanya dengan melihat satu atau dus sisi aja, namun dari berbagai sisi.

    ReplyDelete
  7. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas yang dapat saya pahami yaitu adanya penilaian formal dan normatif. Kedua hal yang sangat berbeda namun menurut saya dapatlah beriringan dan saling melengkapi. Dimana penilaian formal itu melulu tentang sesuatu yang tetap, kaku pasti itu. sedangkan normatif ini berdasarkan apa prosesnya, pertimbangan pertimbangan. Sehingga perlulah kedua penilaian itu seimbang digunakan.

    ReplyDelete
  8. Junianto
    PM C
    17709251065

    Di dunia ini, nilai formal saja tidaklah cukup. Dengan menggunakan nilai formal akan membuat seseorang menjadi bangga dan cenderung menyombongkan dirinya. Maka diperlukan nilai normatif sebagai penyeimbang dan pengingat manusia dalam melakukan berbagai hal. Dengan nilai normatif, seseorang akan tahu mana yang baik dan buruk, sehingga tidak hanya kekuasaaan semata yang ia kejar di dunia

    ReplyDelete
  9. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    setelah baca postingan diatas saya menangkap bahwa kedua sifat normati dan formal merupakan dua hal sifat yang dimiliki oleh manusia dengan sadar atau tidak sadar. karena dalam hidup ini sifat formal saja tidak lah cukup. Sifat formal yang ada pada manusia adalah sifat yang dapat membuat orang berbuat secara emosional sehingga hanya dapat menerima pandangan nya sendiri dari sifat itu manusia dapat menjadi congak dan sombong atas apa yang di milikinya, kemudian sifat normatif tersebut adalah sifat dimanaseseorang dapat berfikir mana yang baik dan mana yang terbaik, sehingga tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi juga mementingkan orang lain dan lingkungannya, sehingga kombinasi kedua sikap ini dapat disesuaikan ruang dan waktu dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Di dunia ini pasti terdapat perbedaan, perbedaan ini lah yang membuat kehidupan ini menjadi harmoni dan terasa indah. Misalnya saja jika kita hidup dimana semua orang menjadi orang sukses dan konglomerat, tidak perlu bekerja, uang selalu tersedia, Apakah dia bisa hidup? Jawabannya tidak, mengapa? Karena bagaimana kita makan? Bahkan penjual makanan pun sudah kaya tak perlu bekerja.
    Tunjukkan pada dunia bahwa kamu berbeda, bahwa kamu spesial, bahwa kamu unik dimana tak ada seorang pun yang dapat menyamaimu. Maka bersyukurlah kamu atas segala nikmat yang Allah berikan. Jika kita tidak bahagia dengan apa yang kita miliki sekarang, apa yang membuat kamu berpikir bahwa memiliki segalanya akan membuat kita bahagia?
    Berdasarkan elegi di atas, ketika bapak menyuruh kita untuk memposting hasil di Internet, maka dengan cara itu kita menyadari bahwa ilmu kita nantinya akan bermanfaat untuk orang lain.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Kali kedua saya membaca elegi ini. Oh bukan kedua, hanya satu setengah. Eh atau malah satu seperempat. Pada waktu yang lalu pernah membaca, tapi saya kalah, menyerah, tidak dapat melanjutkan membaca hingga titik terakhir. Dan kali ini saya mencoba, hingga kata dan titik terakhir, tapi sepenuhnya sejujurnya saya masih meraba-raba apa yang "dikarepke" elegi ini. Indah, saya menilai ini indah. Seni, ya seni. Berupaya memahami. Melalui elegi ini saya melihat bahwa kehidupan manusia terdiri atas keseimbangan. Banyak hal memang, tapi ya harus seimbang. Sungguh, dominan itu tidak begitu baik. Sama halnya dengan ini (mungkin ya), normatif dan formal dua-duanya kita punyai. Tapi ya itu, pendapat saya semua harus seimbang. Ada kalanya sesuatu kita lihat secara formal, dan ada kalanya pula kita pandang secara normatif. Bukankah kedua-duanya memang diperlukan?

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Kadang kala kita terjebak dalam jebakan formal yang menjadikan kehidupan kita hanya menyesuaikan dengan gejala-gejala formalitas yang ada di kehidupan kita. Sehingga apa yang terjadi harus sesuai dengan standar yang ada dan sudah ditentukan. Padahal ketika kita hidup kita harus lebih bisa memaknai kehidupan kita sesuai dengan hakikat kita sebagai seorang manusia, seorang makhluk yang senantiasa berproses untuk menjadi lebih baik dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

    ReplyDelete
  13. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Sekarang ini kebanyakan orang lebih memilih cara yang cepat meskipun tidak tepat. Proses-proses yang seharusnya menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dikedepankan justru diabaikan. Yang dipentingkan hanyalah bentuk formalnya saja. Seharusnya bentuk formatif mempertimbangkan bentuk normatifnya, yaitu norma-norma yang sesuai dengan normatif yang ada. Maka bila dikaitkan dengan menilai dalam pembelajaran, alangkah baiknya bila guru dalam melakukan penilaian pada siswa dengan menggunakan normatif sebagai acuan utamanya sebelum menhghasilkan penilaian yang formatif.

    ReplyDelete
  14. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ketika manusia menjalani kehidupan hanya memegang salah satu saja semisal hanya di formalitas, tentu akan terjadi ketimpangan ketika ia berada di luar wilayah formalitas. Maka akan menimbulkan perasaan superioritas yaitu merasa paling benar, sehingga akan dianggap berbeda oleh orang formatif. Ini akan dapat memicu konflik yang berkepanjangan. Oleh karenanya meskipun antara formalitas dan normatif itu dua hal yang berbeda namun sebaiknya keduanya dapat saling mendukung.

    ReplyDelete

  15. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualikum wr wb.Terimaksih pak prof. Setelah membaca alur dialognya, saya dapat mengambil hikmah dalam dialog tersebut.Dalam menggapai sesuatu kita tak perlu mamaksakan kehendak.Kita cenderung ingin dinilai baika oleh orang, namun tak pernak mengerti apa yang semestinya dilakukan untuk mendapatkan nilai baik tersebut.Dan yang paling penting adalah bagaimana kita berproses.Di dalam proses harus dibumbui dengan rasa yang ikhlas.Ikhlas dalam hal apapun.Agar segala sesuatuyang kita lakukan terasa mudah dan gampang.Dan satu hal yang perlu dihindari jangan pernah merasa bangga dengan apa yang telah kita lakukan takuktnya akan menciptakan rasa kesombongan.Tuhan tidak menyukai akan hal itu.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  16. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Formal meliputi sesuatu yang memiliki aturan-aturan dasar dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai ruang dan waktunya. Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Seperti ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Formal dibutuhkan untuk mewujudkan suatu tujuan sehingga formal juga sebagai pegangan tapi terbatas pada dunia, sedang hal yang lebih penting dari itu adalah normatifnya karena mencakup dunia dan akhirat. Tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual dan iadalah manusia itu mampu melaksanakan.

    ReplyDelete
  17. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Bersadarkan elegi menggapai menilai normatif, yang saya pahami adalah bahwa di dunia ini antara normatif dan formal berjalan beriringan. Karena dalam menilai sesuatu tidak cukup hanya penilaian secara formal tetapi juga penilaian secara normatif, dan setinggi-tinggi penilaian itu adalah penilaian spiritual. Untuk itu, selalulah berhati-hati agar keduanya berjalan secara seimbang untuk mencapai dunia yang harmonis.

    ReplyDelete
  18. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas dialog bermakna di atas. Semoga apa yang saya tangkap tidak bias konfirmasi dan salah paham. Bagaikan siswa yang mengharapkan nilai terbaik dari sang guru, dengan cukup memaksa namun tanpa usaha dan doa, maka guru tidak dapat memberikan nilai terbaik untuknya. Secara formal, siswa mungkin melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya untuk datang ke sekolah dan mengikuti segala proses pembelajaran. Namun tidak hanya nilai akademik saja yang diutamakan, secara normatif guru bertanggung jawab untuk mendidik dan membentuk karakter dan norma yang baik pada siswa. Siswa yang kurang peduli dalam peningkatan kemampuannya mungkin akan pasif dan tidak mau tahu apakah dirinya sudah mencapai kompetensi yang diinginkan atau belum. Jika siswa tidak bisa maka mereka akan pura-pura bisa atau menutupi ketidakmampuannya tersebut. Sedangkan guru tidak menghendaki hal seperti itu. Selain memberi penilaian akademik, siswa juga diharapkan memiliki norma-norma yang baik termasuk jujur pada diri sendiri dan orang lain, rendah hati, menerima kritik dan saran dari oranglain serta tidak memaksakan kehendak. Semua itu akan menjadi indah jika dilandasi dengan ikhlas agar siswa dan guru dapat selalu merefleksi dan mengintrospeksi diri. Jadi tidak hanya formalitas yang diutamakan namun kualitas normatif siswa juga penting untuk membentuk sikap dan karakter yang baik di masa mendatang.

    ReplyDelete
  19. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Membaca Elegi di atas saya menangkap bahwa Formal dan Normatif sama-sama belum bisa menahan ego mereka masing-masing. Mereka terjebak di dalam ruang yang sempit dan tidak bisa menempatkan diri dengan menembus ruang dan waktu. Jangan-jangan pandangan saya ini juga terperangkap ke dalam ruang kecil komentar saya sendiri. Semoga tetap jadi pembelajar, walau tak kunjung pandai.

    ReplyDelete
  20. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Melihat dunia sekitar, dari yang dekat keluarga kita, masyarakat sekitar kita, tidak sedikit yang menilai sesuatu dari segi formalnya. Bahkan di dunia pendidikan. Tidak sedikit orang memandang bahwa kesuksesan dalam belajar semata-mata dilihat dari penilaian formatif, skor ujian. Memang benar, salah satu tolok ukurnya adalah nilai formatif, namun demikian tentu tidak seharusnya penilaian normatif itu dinomor duakan. Bagaimana skill anak, bagaimana karakternya, bagaimana kemampuan toleransinya, hal-hal seperti itu tentu sangat diperlukan dalam kehidupan. Maka sebenar-benar penilaian haruslah beriringan antara formatif dan normatif.

    ReplyDelete
  21. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Setelah membaca elegi ini, saya jadi mengerti bahwa menilai secara formal saja tidaklah cukup namun perlu mempertimbangkan penilaian normatif juga, setiap penilaian memiliki dimensi tersendiri namun sebagaimana yang dikatakan pada elegi tersebut bahwa setinggi-tingginya penilaian formal tidaklah akan mampu melebihi penilaian normatif namun keduanya tidak akan pernah melebihi nilai spiritual.
    Setinggi-tingginya pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif, yaitu mempertimbangkan bahwa “sesuatu” lebih di atas atau lebih baik dari “sesuatu yang lainnya”, namun bukan berarti mengabaikan keberadaan dari salah satunya sebab keduanya memiliki keterkaitan. misalnya dalam pembelajaran menilai siswa tidak hanya formatifnya saja tetapi juga mempertimbangkan bagaimana proses yang dilalui siswa untuk memperoleh nilai formatif tersebut, sebab keduanya diperlukan.

    ReplyDelete
  22. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Manusia terkadang memang seperti digambarkan dalam elegi tersebut. Manusia selalu ingin dipandang menjadi yang baik, bahkan terbaik. Meskipun untuk menutupi hal yang tidak baik dalam dirinya. Hal inilah yang menjadikan manusia tertutup mata hatinya karena orientasinya adalah terlihat baik, bukan menjadi lebih baik. Sehingga secara tidak langsung dia telah memaksa orang lain untuk memberi penilaian yang terbaik baginya, walaupun sebenarnya ia tidak pantas menerimanya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kemampuan kita akan sesuatu terkadang akan membentuk diri kita yang baik maupun yang buruk. Sifat-sifat kita, tutur kata kita, perbuatan kita, semuanya adalah gambaran dari siapa diri kita sebenarnya. Dalam menilai diri sendiri, tidak bisa sama dengan yang dinilai oleh orang lain. karena pada hakikatnya masing-masing individu memiliki perbedaan dalam memberikan penilaian. Jika memang kita dirasa tidak baik oleh orang lain, lantas kita akan marah kepada orang yang menilai kita. Namun, hal yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana caranya kita bisa memperbaiki diri kita agar tidak dinilai negatif oleh orang lain. Ini akan membuat kita selalu mengintrospeksi diri kita dari apa yang dikatakan orang lain terhadap kita. Janganlah sekali0kali berfikir kita yang terbaik. Ego adalah salah satu yang menghancurkan diri kita. Rendahkan ego dan bersikaplah tawadu’. Karena itu yang akan memberikan kenyamanan dalam hidup kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Perdebatan antara normatif dan formal tidak akan berhenti karena memang tidak akan ketemu benang merahnya. Mereka berada pada daerah yang berbeda, namun alangkah indahnya bila saling melengkapi. Kita memang ingin menjadi yang terbaik, tentu saja. Namun jika kita hanya fokus untuk menjadi yang terbaik melalui cara pandang formal dan mengabaikan aturan-aturan yang ada dalam normatif, maka usaha kita akan sia-sia karena hasilnya hanya dinikmati oleh diri sendiri. Kita tidak memikirkan sekitar, tidak memiliki koneksi, tidak dipandang baik, tidak mengikuti aturan. Namun jika keduanya disinkronkan, maka akan jauh lebih baik.

    ReplyDelete
  25. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Menurunkan ego dan kesombongan itu diperlukan dalam hal menuntut ilmu. Kita menuntut ilmu juga sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang guru. Ikhlas dalam menemba ilmu dan selalu berusaha serta berdoa juga diperlukan. Semua yang ada itu pasti ada cara mainnya. Bukan dengan sesuatu yang instan saja. Dengan cara dan fasilitas yang telah diberikan, kita dapat menerima dan menggali ilmu yang lebih dalam lagi ketimbang harus dengan cara yang instan. Kesombongan dan ego bisa merusak pengetahuan kita sendiri. Hanya diri kita yang dapat mengendalikannya.

    ReplyDelete
  26. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ilmu yang sudah diberikan. Begitu asiknya saya membaca ulasan di atas. Normatif masih mau menerima masukan dari orang berambut putih. Ini pertanda bahwa normatif masih memiliki sikap terbuka terhadap masukan dari orang berambut putih. Sedangkan formal hanya mengacuhkan saja dan masih mengedepankan ego sendiri. Saya sangat senang belajar filsafat, yang mana telah meruntuhkan ego saya terlebih dahulu. Tuhan juga mengizinkan saya perlahan-lahan memahami ilmu filsafat itu sendiri. Saya juga semakin menyadari betapa sulitnya proses yang dilalui saat ingin meruntuhkan ego di dalam diri. Hal ini membuka pandangan bagi saya bahwa jika menghendaki suatu ilmu yang lebih tinggi, maka hendaklah bersiap-siap untuk meruntuhkan ego dan melepaskan jubah kesombongan sejauh mungkin. Semoga Tuhan mengarahkan pada arah kebaikan bagi kita yang sedang berjihad di jalan Allah, yaitu berjihad menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  27. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi menggapai menilai normative ini menjadi pengingat bagi kami karena relevan dengan situasi pembelajaran filsafat yang kami lalui. Elegi ini mengingatkan kami bahwa kami harus terus rendah hati, tidak sombong, sabar, ikhlas dalam mengikuti pembelajaran filsafat, termasuk dalam membaca dan membuat komentar dari elegi-elegi yang Prof Marsigit buat. Bila kami merasa bisa, tidak ikhlas, tidak rendah hati kemudian memaksa untuk mendapatkan nilai yang terbaik maka itulah sebenar-benar kesombongan bagi kami. Terima kasih Prof Marsigit atas elegi-elegi yang Bapak buat. Semoga senantiasa menjadi pengingat bagi kami.

    ReplyDelete
  28. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi diatas saya menyimpulkan bahwa kita harus bisa menempatkan sifat Normatif dan Formal sesuai ruang dan waktunya. Dalam kondisi Normatif kita harus lebih terbuka namun tetap berkarakter, sedangkan dalam kondisi Formal kita harus mengikuti aturan yang ditetapkan atau ego dari si Formal. Menilai Normatif terkadang lebih dibutuhkan dibandingkan menilai Formal, namun pada akhirnya menilai Formal yang lebih sering digunakan.

    ReplyDelete
  29. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca refleksi di atas, saya mencoba merefleksikan terhadap disi saya sendiri sesuai dengan pesan moral yang saya peroleh dari elegi tersebut. Refleksi yang saya lakukan terutama tentang usaha saya mengikuti perkuliahan filsafat. Terkadang saya memang masih sombong, tidak berusaha tetapi seoalh ingin terlihat berusaha, belum membaca tetapi seolah ingin terlihat sudah membaca, maka tidak heran jika saya seing mendapat nilai nol di tes jawab singkat. Semua hal ingin saya lakukan dengan instan, tetapi sesungguhnya proses itulah yang harusnya penting yang mampu membawa kita mendapat nilai yang terbaik.

    ReplyDelete
  30. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Tanpa disadari sikap normatif dan formal melekat pada diri kita. Kita sering menilai orang hanya berdasarkan penampilan. Penilaian yang digunakan di sekolah juga berdasarkan hasil belajar (mangedepankan formal). Namun kurikulum di Indonesia sekaranh yaitu Kurikulum 2013 dia memandang dari dua sudut pandang yaitu formal dan normatif. Formal dari pencapaian prestasi akademik sedangkan normatif dari prilaku anak di kelas. Jika kurikulum ini diterapkan dengan baik maka akan membentuk karakter anak yang kuat berlandaskan Pancasila dan memiliki kecerdasan yanh baik pula.

    ReplyDelete
  31. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi menggapai menilai normatif, saya menangkap bahwa dalam kehidupan yang kita jalani ini antar sesama manusia harus saling menghargai sesuatu berdasarkan proses-prosesnya dengan tidak melupakan pertimbangan-pertimbangan. Itulah pemahaman nilai normatif yang saya pahami dari elegi ini. Untuk menilai sesuatu dibutuhkan beberapa penilaian, diantaranya penilaian formal dan normatif. Dalam menilai ini, tidak boleh condong ke salah satunya saja, entah itu ke formalnya saja atau ke normatifnya saja, tetapi formal dan normatif harus seimbang. Inilah sebenar-benar penilaian relatif manusia.

    ReplyDelete
  32. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Dalam kehidupan seorang manusia menginginkan hasil yang terbaik. Banyak hal dilakukan dengan berbagai acam cara dalam menncapai hasil tersebut. Namun tidak dapat terjadi secara instan, dibutuhkan proses untuk mencapainya. Nilai normatif maupun nilai proses, sebenarnya tidak ada yang instant. Bahkan sesuatu yang instant akan menimbulkan ketidakharmonisan karena tidaksamanya proses yang dialami dengan hasil yang diperoleh. Semua memiliki prosesnya masing-masing. Tergantung cara kita dalam menghadapi proses tersebut, apakah menikmati proses atau menjadi proses yang membebankan.

    ReplyDelete
  33. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terkadang seseorang merasa bangga atas penilaian formal yang baik atas dirinya dan berpuas diri apabila telah berhasil meraih predikat baik pada penilaian formatif. Padahal penilaian yang sesungguhnya adalah penilaian normatif walaupun tidak secara formal jelas diungkapkan.

    ReplyDelete
  34. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini menyadarkan saya bahwa dalam kehidupan ini jangan memandang sesuatu hal dari satu sisi saja. Janganlah hanya memandang sesuatu secara formal saja, karena itu akan menyebabkan kita dipenuhi rasa kebanggaan dan berujung pada kesombongan. Misalnya kita menilai sesuatu hanya secara formal saja seperti kaya atau miskin. Hal itu bukanlah segalanya karena masih ada pandangan normatif yang menilai sesuatu dari baik dan buruknya. Sejatinya kita manusia itu sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan taqwa kita kepadaNya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  35. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Penilaiaan formal maupun normatif sama-sama penting tergantung ruang dan waktunya. Dalam mengukur proses kita bisa menggunakan penilaian normatif, sedangkan untuk menilai hasil bisa dengan penilaian formal. Dalam mengevaluasi pembelajaran, maka kita bisa memakai kedua-duanya.

    ReplyDelete
  36. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    menurut KBBI normatif berarti memegang teguh pada norma; menurut norma atau kaidah yang berlaku, sedangkan formal adalah sesuai dengan peratural yang sah; menurut adat kebiasaan yang berlaku; resmi. dari dialog antara fromal dan normatif di postingan ini, hal yang dapat saya pahami adalah bahwa terkadang manusia (mahasiswa) ingin dianggap terbaik namun tidak mementingkan norma-norma yang ada untuk mengantarkannya kepada kategori "terbaik" tersebut sehingga muncullah sifat angkuh/sombong untuk itu kita harus selalu mengoreksi diri kita jangan sampai ingin yang terbaik namun tidak mau menikmati proses menjadi yang terbaik itu (menginginkan hal yang serba instan).

    ReplyDelete