Oct 6, 2013

Elegi Menggapai Menilai Normatif




Oleh Marsigit

Formal:
Wahai normatif, dikarenakan alasan formal, maka aku perlu penilaian sifat diriku oleh dirimu?



Normatif:
Menilai sifat dirimu itu termasuk wilayah normatif.

Formal:
Ya silahkan, itu alasanmu.

Normatif:
Aku lebih enjoy menikmati hidupku yang normatif daripada harus memberi sifat formal pada dirimu.

Formal:
Tetapi ini adalah tanggung jawabmu?

Normatif:
Tanggung jawab yang mana?

Formal:
Bukankah engkau telah menyediakan diri bergaul secara formal denganku?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Apakah engkau lupa dengan jadwal-jadwalmu. Bukankah engkau mempunyai jadwal mengajar bagi para formal pada hari Senin, Selasa, Rabu, dst..?

Normatif:
Oh..iya maaf saya sampai agak lupa. Terimakasih anda telah mengingatkan hal itu kepadaku. Lalu kenapa engkau begitu semangat menginginkan penilaian formal dariku?

Formal:
Bukankah engkau tahu bahwa penilaian formalmu itu secara formal juga menunjukkan dimensi formalku. Sehingga penilaian formalmu itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan dimensi formal diriku.

Normatif:
Tetapi apakah engkau tahu betapa sulitnya aku memberikan penelaian formal terhadap dirimu?

Formal:
Mengapa sulit, cukup berikan saja nilai bagiku?

Normatif:
Engkau menginginkan nilai berapa?

Formal:
Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Lho apa buktinya aku memaksa. Bukankah aku telah memberikan engkau beberapa alternatif bagimu untuk menilai diriku. Terserah saja bagimu, asalkan aku mendapat nilai “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Siang dan malam aku berdoa agar darimu aku mendapatkan nilai “terbaik”. Jika engkau memberikan nilai “terbaik” maka berarti terkabulah doaku itu.

Normatif:
Sikapmu itulah yang membuat saya merasa berat untuk memberikan penilaian terhadap dirimu?

Formal:
Kalau engkau enggan menilai maka bagaimana tanggungjawabmu?

Normatif:
Baiklah, sebelum aku akhirnya terpaksa memberikan penilaian terhadapmu, maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku berikut?

Normatif:
Apakah engkau sudah melaksanakan semua nasehatku?

Formal:
Nasehatmu terasa tidak cocok dengan hati dan pikiranku.

Normatif:
Bukankah aku telah mengembangkan skema agar semua hati dan pikiranmu dapat terfasilitasi dalam skema yang aku kembangkan?

Formal:
Aku tidak peduli dengan skemamu. Dan aku juga tidak mau hati dan pikiranku terfasilitasi oleh skemamu.

Normatif:
Terus apa maumu dan bagaimana saranmu kepada diriku.

Formal:
Pertama memandang dirimu, aku tidak suka denganmu.

Normatif:
Kalau begitu engkau telah bicara tentang “normatif”.

Formal:
Apa buktinya?

Normatif:
Bukankah engkau bicara tentang “suka” atau “tidak suka”

Formal:
Terserah apa penilaianmu teradap diriku, tetapi itulah faktanya bahwa aku tidak suka kepadamu.

Normatif:
Baik, karena suka dan tidak suka adalah hakmu, tetapi kenapa engkau memaksa diriku untuk memberikan nilai “terbaik”?

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Ternyata engkau masih berkutat dalam bidang normatif saja. “Memaksa” adalah aspek normatif.

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Jika di dunia ingin diterapkan keadilan maka yang berhak memaksa bukan hanya dirimu, tetapi diri yang lain juga berhak memaksa. Artinya sikapmu yang demikian akan menimbulkan keadaan anarkhis. Itulah kekacauan aturan yang ada. Bukankah engkau tahu bahwa salah satu tugasku adalah juga menegakkan peraturan?

Formal:
Aku lebih baik diam, sambil berharap-harap cemas?

Normatif:
Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal.

Formal:
Ah..omong kosong. Karena engkau juga tidak sepenuhnya melaksanakan yang formal?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Engkau tidak menyediakan buku bagiku. Engkau tidak menunjuk buku bagiku. Engkau tidak memberi petunjuk teknis bagiku. Engkau mengajar tidak urut dan tidak sistematis.

Normatif:
Semua yang engkau sebut itu adalah material, mekanistis dan paling banter formal. Tetapi belumlah normatif.

Formal:
Wahai normatif, janganlah bersembunyi dan berdalih dibalik normatif. Memangnya engkau juga tidak membutuhkan material dan formal?

Normatif:
Aku membutuhkan itu semua. Tetapi aku mengharapkan bahwa dimensimu juga bisa naik menjadi tataran normatif.

Formal:
Jangan mengguruiku. Aku telah menyadari bahwa diriku juga bisa normatif.

Normatif:
Normatif yang mana?

Formal:
Normatifku lain dengan normatifmu.

Normatif:
Beri contohnya.

Formal:
Normaku adalah walau aku tak bisa ya jangan sampai ketahuan tidak bisa. Walau aku tak berusaha ya jangan sampai tahu kalau tak berusaha. Walau aku salah ya jangan sampai ketahuan kalau aku salah. Walau aku membaca ya jangan sampai ketahuan kalau aku belum membaca. Walau cuma tahu sedikit ya aku minta nilai “terbaik”.

Normatif:
Padahal normaku itu bertentangan dengan normamu.

Formal:
Lho, normamu harus sama dengan normaku.

Normatif:
Lho main paksa.

Formal:
Siapa yang main paksa, cuma merayu agak keras.

Normatif:
Wahai formal, lama-lama habis kesabaranku. Engkau telah bersifat tidak normatif terhadap diriku dengan cara memaksakan normamu kepada diriku.

Formal:
Lau apa maumu?

Normatif:
Aneh juga?

Formal:
Apanya yang aneh?

Normatif:
Tidaklah semua formal menyadari yang normatif. Sebaliknya yang normatif berusaha menampung yang formal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Engkau formal berusaha menampung semua normatif. Maka itulah salah satu bentuk kesombonganmu.

Formal:
Ah..berfilsafat lagi. Bosan aku.

Normatif:
Itulah yang engkau sebut bahwa filsafat adalah normatif.

Formal:
Apa relevansinya?

Normatif:
Itulah kontradiksinya. Tiadalah mudah memberikan memberi nilai kepada dirimu.

Formal:
Bagiku sangat mudah. Tulis saja “terbaik”. Beres.

Normatif:
Wahai formal. Ternyata engkau tidak hanya sombong, tetapi juga berpotensi anarkhis, karena selalu main paksa.

Formal:
Apa teorimu menilai diriku?

Normatif:
Oh yang ini engkau berusaha menyadari? Menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan.

Formal:
Bertele-tele.

Normatif:
Baik akan aku katakan bahwa penilaian itu sesuai dengan dimensinya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Menilai kemampuan bayi yang baru lahir, dari gejalanya apakah bisa menangis, bergerak ..dsb.
Menilai siswa SD dari kemampuannya sesuai dengan kemampuan tingkat ke SD an.

Formal:
Lha kalau saya?

Normatif:
Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.

Formal:
Aku ini formal, bukan normatif. Tidak perlu pertimbangan macamn-macam.

Normatif:
Bukankah engkau telah teken kontrak bersedia bergaul dengan diriku. Artinya engkau bersedia menaikkan dimensi dirimu menuju tataran normatif? Itulah sebenar-benar refleksi.

Formal:
A..aa.ku bersedia tetapi normaku berbeda dengan normamu. lagi pula dimensiku itu kelihatannya lebih tinggi daripada kamu.

Normatif:
Janganlah selalu bersembunyi dibalik perbedaan norma. Bukankah diantara kita masih bisa dicari norma-norma universal? Tentang perbedaan dimensi, tentu ada orang lain yang lebih berhak menilainya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Secara universal, jika formal menginginkan penilaian normatif ya harus memenuhi normatif universal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Jika engkau enggan membaca tulisanku maka nilai normatifmu rendah.
Jika engkau enggan membaca buku-buku referensiku maka nilai normatifmu ya rendah.

Formal:
Apakah engkau akan manilai diriku “rendah”. Oh jangan jangan nilai aku “rendah”. Jika terpaksa engkau akan menilai diriku “rendah”, boleh asal bukan “rendah”. Tetapi silahkan menilai apaun asal jangan “rendah”. Karena aku tidak mau nilai “rendah”. Silahkan sembarang nilai diriku, asal bukan nilai “rendah”.

Normatif:
Bukakan banyaknya permintaanku itu telah menunjukkan sebenar-benar dimensimu? Terbukti saya menemukan banyak sekali pertentangan dalam dirimu. Membiarkan pertentangan dalam diri sendiri tanpa berusaha mengatasinya itu adalah perbuatan mitos.

Formal:
Engkau rupanya mengetahui apa di balik uraianku?

Normatif:
Bukanlah aku ini seorang paranormal. Aku sekedar membuat sintesis saja.

Formal:
Lalu apa saranmu bagiku?

Normatif:
Turunkan egomu. Tidak semestinyalah egomu itu engkau lebih-lebihkan sehingga melampaui batasmu. Bukankah engkau menyadari bahwa setinggi-tinggi norma kita secara universal adalah menjunjung peraturan dan kesepakatan serta komitmen kita masing-masing. Jika engkau telah menihilkan keberadaanku sebagai normatif, maka setinggi itu pulalah penilaianku terhadapmu. Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif.

Formal:
Aku tak mengerti maksudku.

Normatif:
Inilah peringatanku bagimu, agar berusahalah sesuai dengan suratan-suratan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, dan juga sesuai dengan normatif-normatifnya.

Formal:
Aku juga masih tidak tahu.

Normatif:
Itulah sikap dirimu yang sombong yang tidak pernah mau mendengarkan secara normatif diriku. Makajangankan nilai normatifmu, sedangkan nilai formalmu juga aku menilainya rendah.

Formal:
Wueh..

Normatif:
Aku hanya berdoa agar orang-orang sepertimu diberi petunjuk dan mampu merefleksikan dirimu agar segera menyadari kelemahan-kelamahanmu.

Formal:
Wueh..pakai doa segala. Emangnya yang bisa berdoa hanya dirimu. Doaku lebih makbul.

Normatif:
Ya Allah SWT ampunilah dosa-dosa orang-orang disekitarku. Berikan petunjukmu ya Allah, agar kita semua diberi keikhlasan baik pikir maupun hati. Agar kami memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamanat di akhirat?

Formal:
Wueh..silahkan berdoa. Wueh...paskan saja doamu dengan perbuatanmu. Aku akan menyaksikannya.
Tiadalah ampun bagi orang-orang yang tidak aku sukai.

Normatif:
Kelihatannya engkau marah berat kepada diriku? Bahkan pakai menyumpah segala.

Formal:
Tidak cuma marah aku juga tersinggung berat. Dan aku tidak akan pernah mengampuni dirimu. kalau aku menyumpah dirimu, karena aku tidak suka terhadap dirimu.

Normatif:
Aku serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME.

Formal:
Wuehh...pakai berserah kapada TuhanYME segala.

...

Orang Tua Berambut Putih:
Untuk kali ini aku datang walaupun tidak engkau undang. Nanti dulu ...
Wahai normatif dan formal...hati-hatilah ..sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya. Aku minta agar normatif dan formal bisa saling menahan diri, sebab jika tidak bisa menahan diri, maka dunia ini akan semakin anarkhis. Maka tawaduklah engkau itu.

Normatif:
Amiin..

Formal:
Preeeek..apa itu orang tua rambut putih. Konyol. Sia-sia aku memikirkannya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ohh..Allah hu Allah.

29 comments:

  1. Dalam kehidupan pun banyak sekali aturan-aturan “formal” yang harus manusia jalani. Secara tidak tertulispun hokum “normative” berlaku dalam masyarakat. Namun seringkali kita terlalu memaksakan hokum “formal” tersebut. Sebenranya yang bisa membawa keseimbangan antara normative dan formal adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita mengendalikannya, mengaturnya dalam diri kita.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  2. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Di dalam tatanan budaya masyarakat yang bersifat edukatif pasti memiliki berbagai macam norma atau aturan, baik yang bersifat mengikat seperti norma hukum, maupun yang tidak mengikat seperti norma budaya yang lebih bersifat tentang kebiasaan hidup sehingga akan menimbulkan nilai estetika jika dilaksanakan. Namun, jika kita menjalani hidup tanpa mengikuti norma-norma yang ada maka kita akan dikenakan sanksi sebagai bukti bahwa kita adalah masyarakat yang hidup dinegara hukum. Sanksi tersebut bisa bersifat hukuman fisik maupun hukuman mental yang bersifat impact dari kehidupan sosial-budya.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam penilaian normatif, ilmu yang di peroleh, buku yang dibaca dengan keikhlasan lebih unggul dibanding nilai yang di peroleh di kelas. Maka proses pembelajaran, sikap siswa lebih penting dibanding nilai berupa angka-angka. Karena itulah sebenarnya sulit untuk menilai siswa hanya dengan memberikan angka-angka pada raport karena banyak aspek lain yang tidak ternilai dibalik angka-angka tersebut.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Menurut saya memang agak sulit untuk mendapat nilai terbaik jika hanya mengandalkan penilaian formatif saja. Memang benar ada baiknya jika normatif juga ikut melengkapi dalam menentukan nilai. Saya rasa tidak perlu diperdebatkan kenapa normatif kenapa formatif, toh keduanya tetap mempunyai aspek-aspek atau rambu-rambu penilaian. Yang terpenting adalah menghormati kesepakatan yang ada. Ikhlas dalam menjalaninya. Semoga menghasilkan nilai yang terbaik dan berkah.

    ReplyDelete
  5. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Kita tidak boleh memaksakan sesuatu karena segala sesuatu sudah ada takarannya, sudah diatur oleh sang maha kuasa. Begitu pula terhadap orang lain. Bagaimanapun pendapat orang lain harus kita terima karena setiap orang memiliki hak untuk mengungkapkan pemikirannya. Maka kita harus saling menghargai, jangan mudah terbawa emosi. Karena sebenar-benar orang yang kalah adalah mereka yang kalah terhadap dirinya sendiri yaitu karena tidak dapat menahan amarahnya.

    ReplyDelete
  6. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Segala sesuatu yang bersifat formal memang lihai menyembunyikan sesuatu. Formal selalu dibayang-bayangi peraturan dan harus terlihat atau memiliki image yang sempurna. Formal sangat dekat dengan idealisme yang segala sesuatunya harus terbaik dan sempurna. Namun hal tersebut berbenturan dengan fakta yang ada di lapangan yang lebih cenderung normatif, dialog tersebut mengindikasikan bahwa antara formal dan normatif menyandang banyak perdebatan dan perselisihan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  7. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menukil perkatan dari orang tua berambut putih yang menyatakan bahwa zaman dimana kita hidup ialah zaman yang serba instan, sehingga harus sangat berhati-hati dalam bertindak. Baik itu formal maupun normatif tidaklah perlu menonjolkan hal-hal yang tidak diperlukan, sebaliknya harus bahu membahu memperbaiki dunia ini menuju yang lebih baikj. Sedangkan dari dialog tersebut formal lebih keras kepala dan merefleksikan jenis-jenis manusia yang ada di dunia ini, ada yang terlalu saklek memandang suatu peraturan formal sehingga mengabaikan nilai-nilai normatif yang telah berlaku di kehidupan yang sebenarnya jika dirunut "bijaksana". Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  8. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    "sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya"
    Perkataan dari orang tua berambut putih itu benar dan sudah seharusny kita menjalani hidup secara seimbang. Tidak bisa kita sepenuhnya mengutamakan yang satu dan menghilangkan satu lainnya karena hal itu akan mengganggu kestabilan dalam hidup. Salah satu hal yang perlu kita jalankan secara beriringan dan seimbang adalah tentang dimensi formal dan normative.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Penilaian adalah suatu hal yang penting dilakukan dalam kehidupan ini. Penilaian dilakukan demi perbaikan kedepannya agar menjadi lebih baik dari sekarang. Setelah membaca elegi ini saya dapat mengetahui hakikat menilai formal dan normatif. Dalam hidup ini penilaian adalah hal yang sangat penting. Dengan penilaian tersebut kita dapat introspeksi diri.

    ReplyDelete
  10. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saat ini memang dunia mengalami kemajuan yang sangat pesat di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Setiap orang mencoba untuk mendapatkan dan mengerjakan sesuatu secara instan dan cepat. Bahkan terkadang orang sudah tidak peduli akan penilaian yang diberikan oleh orang lain. Penilaian, baik yang normatif atau formal sebenarnya perlu dan tidak terlepas dari kehidupan kita. Dalam prakteknya diperlukan keikhlasan agar menjadi berkah.

    ReplyDelete
  11. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Pada dasarnya tingkatan dapat dibagi menjadi material, formal, norma, dan spiritual. Bisa juga ditmbah dengan legal. Berkaitan elegi tersebut, adakalanya dari tataran formal menuju ke tataran nrmatif perlu usaha yang tidak mudah. Harus mampu menghilangkan ego formal diri, untuk menggapai normative diri. Masyarakat, atau sekolah sebagai wadah yang lebih luas, mempunyai nilai formal dan normative sendiri, masingmasing memahami kedudukan diri dan tida saling memaksa. Maka sebenar-benar formal menjadi normative adalah ketika tidak saling memaksa untuk menilai satu dengan yang lain.

    ReplyDelete
  12. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba merefleksikan apa yang saya pahami tentang formatif dan normatif. Di dalam pendidikan, contoh formatif ialah nilai UN, jadwal belajar, jadwal ulangan, dan yang lainnya yang tercantum secara formal pada peraturan. Sedangkan contoh normatif ialah sopan santun, tata karma dan pesan moral lainnya yang diyakini di masyarakat namun tidak tertulis dalam peraturan.

    Sayangnya pelaksanaan normatif di masyarakat cenderung memaksa dan menjadi pencitraan belaka. Misalnya, guru mengajar sesuai jadwal agar memenuhi tuntutan jam mengajar saja tanpa memperhatikan apakah siswanya belajar dengan baik atau tidak. Contoh lain, siswa dipaksa mengejar nilai UN yang tinggi dengan berlatih soal-soal UN tanpa mengerti makna dibalik apa yang ia pelajari. Oleh karena itu hendaknya kegiatan formatif dilakukan dengan diiringi normatif dan dengan ikhlas.


    ReplyDelete
  13. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Penilaian normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda, tetapi dalam menjalani kehidupan ini keduanya haruslah seimbang. Formal dibutuhkan untuk mewujudkan suatu tujuan sehingga formal juga sebagai pegangan tapi terbatas pada dunia, sedang hal yang lebih penting dari itu adalah normatifnya karena mencakup dunia dan akhirat. Mengenali berbagai kesalahan dalam berdoa merupakan salah satu bentuk ikhtiar agar Allah berkenan mengabulkan doa kita. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanpa disadari masih banyak di antara kita yang egois dan tidak bersyukur karena tidak adanya ihtiar.

    ReplyDelete
  14. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa unutk menggapai normative maka diperlukan tulisan dan bacaan normative itu sendiri. Jika telah membaca dan menulis maka nilai normative akan berubah tidak menjadi rendah. Normative juga menyarankan untuk menurukan ego. Tidak semestinya kita meninggikan ego melapaui batas. Sehingga perlu kita unutk mengontrol ego kita masing masing.

    ReplyDelete
  15. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017
    Assalamualaikum, wr.wb.
    Setingi-tingginya penilaian, penilaian yang paling tinggi adalah penilaian spiritual, karena mampu menampung samua ranah penilaian. Penilaian normative menampung ranah fomatif dan material sehingga dalam kehidupan penilaian material (penilaian keberadaan mu secara fisik) dan penilaian formal (sesuai ilmu) saja tidak cukup penilaian itu harus ditingkatkan ke penilaian normative (penilaian sesuai sikap,normanya). Akan tetapi penilaian nya juga masih harus ditingakat lagi hingga ke penilaian spiritual (sesuai dengan ibadah mu kepada Tuhan). Orang yang memiliki ilmu akan lebih baik daripada yang tidak, akan tetapi ilmu tidak aka nada manfaatnya jika tidak berkah, tidak dicari dengan ikhlas dan tidak diperoleh dengan cara yang sejalan dengan aturanNya. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  16. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Penilaian normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda, tetapi dalam menjalani kehidupan ini keduanya haruslah seimbang. Penilaian normatif menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dengan dimensinya. Sedangkan penilaian formal menurut pada peraturan yang berlaku. Sebagai seseorang yang sedang belajar, dalam berusaha meraih nilai yang baik kita juga seharusnya memperhatikan penilaian normatif dan formal. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketetuan yang diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatifnya, seperti sopan santun serta baik dan buruk, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas kita dengan jujur, bertanggung jawab, dan ikhlas.

    ReplyDelete
  17. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Penilaian normatif dan formal haruslah seimbang agar tidak bentrok dan anarkhis. Menjadi seorang guru yang memberikan nilai pada peserta didiknya haruslah adil. Jika tidak adil maka sesungguhnya guru tersebut telah berbuat dzalim kepada anak didiknya.

    ReplyDelete
  18. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sesuatu yang paling bagus, paling baik, paling keren, paling canggih, dan paling-paling lainnya yang terbaik belum tentu cocok untuk kita. Karena itu semua belum tentu yang terbaik untuk kita. Yang terbaik untuk kta adalah yang sesuai dengan ruang dan waktu kita. Segala sesuatu jika tidak sesuai dengan ruang dan waktu yang kita miliki, tidak akan menimbulkan sebuah kenyamanan, tetapi justru keresahan, kebimbangan, kekhawatiran dan lain sebagainya. Dengan demikian, sebenar-benar permohonan kepada Tuhan adalah meminta yang terbaik, bukan yang paling baik.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  19. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan komentar saya sebelumny, saya bersyukur bisa membaca elegi ini. Terutama dangan apa yang dikatakan oleh normatif. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Kalimat-kalimat ini mengingatkan saya agar selalau ikhlas dalam menjalani hidup. Yakin kepada Allah SWT ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan. RencanaNya jauh lebih indah daripada rencana kita.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  20. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Dunia ini terdapat normatif dan formal. Hal yang kontradiktif, dan juga saling melengkapi. Normatif dan formal harus saling melengkapi dalam hidup. salah satunya tidak dapat brediri sendiri.

    ReplyDelete
  21. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dalam kehidupan seorang manusia menginginkan hasil yang terbaik. Dalam mencapai hasil tersebut tidak dapat terjadi secara instan, dibutuhkan proses untuk mencapainya. Proses terbaik akan menghasilkan output terbaik. Tidak ada batasan untuk hasil atau proses terbaik selama kita melakukannnya sebaik yang bisa kita lakukan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  22. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Nilai normatif maupun nilai proses, sebenarnya tidak ada yang instant. Selain itu, pada hakikatnya tidak ada batasan untuk nilai terbaik, namun jika terdapat batasan, itu karena dari penilai itu menetapkan batasan-batasan untuk memudahkan penilaian.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  23. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kenormatifan sebuah nilai itu sebenarnya sangat mendukung untuk memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lagi dengan cara diberitahukan nilai yang sesungguhnya. Karena jika mereka selalu memiliki nilai yang objektif, maka hal ini akan memberikan dampak bagi yang selalu mendapatkan nilai yang rendah. Kebanyakan pesimisme peserta didik dikarenakan selalu mendapatkan nilai ulangan yang jelek dan diketahui banyak kawan mereka.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  24. Rosnida Nurhayati
    PPs PMB 2017
    17709251042

    Perkembangan jaman memang terkadang menjadikan kita harus cepat bergerak untuk menyesuaikannya. Waktu yang semakinlama semakin berharga terkadang membuat manusia untuk ingin cepat mnyelesaikan suatu kegiatan. Terkadang ada hal-hal yang lupa dilakukan, terkadang menabrak aturan-aturan main sehingga menimbulkan suatu hal yang baru dengan keterpaksaan. Suatu kebiasaan baru yang kadang menjadi norma baru, bukan berarti suatu hal yang lama itu jelek. Mungkin perlu penyesuaian di segara lini. Tapi adat yang baik atau disebut norma, perlu dipertahankan.

    ReplyDelete
  25. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam kehidupan ini, kita harus menyadari kedudukan masing-masing dan berusahalah untuk selalu melangkah menuju kedudukan yang lebih tinggi lagi. Namun untuk itu, banyak sekali yang harus dilakukan dan harus dipahami. Orang yang paling merugi adalah orang-orang yang sombong atas kedudukannya, sedangkan diatas yang tinggi masih ada yang lebih tinggi, dan lebih tinggi lainnya.

    ReplyDelete
  26. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi, kita juga haruslah mampu mendengarkan masukan, nasehat dan semua kritikan yang bermanfaat untuk kebaikan kita. Bertindak lah sopan dan santun karena hal tersebut merupakan cerminan pribadi diri, jangan sampai apa yang kita lakukan hanya akan mempersulit diri sendiri untuk menggapai tingkatan yang lebih tinggi dari dimensi kehidupan.

    ReplyDelete
  27. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Yang sebenar-benarnya Benar pasti akan benar. dan tidak akan bersifat kontradiktif. Tetapi pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat egois. Sifat egois terjadi karena tidak kuasa menahan keinginan. Selalu merasa paling benar. Merasa menjadi yang terbaik. Tetapi, bukankah yang sebenar-benarnya Benar adalah benar? Terkadang manusia sibuk mencari cermin untuk diberikan kepada manusia lain. Sampai-sampai lupa bahwa dia sendiri yang sebenarnya jauh lebih membutuhkan cermin itu. Bukankah yang sebenar-benarnya Benar tidak akan kontradiktif? Semoga kita selalu menjadi manusia yang tawadhu' dan jauh dari rasa sombong. Serta mampu menemukan yang sebenar-benarnya Benar..

    ReplyDelete
  28. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Keadaan formal yang meminta nilai terbaik merupakan keangkuhan. Hal ini tentu bisa dengan jelas langsung direfleksikan ke pendidikan Indonesia. Siswa sebagai Formal yang menuntut nilai terbaik tapi belum mampu menjalanan normatifnya.Namun disisi lain, formal juga memberi standar yang sangat tinggi untuk digapai dan cenderung memaksakan. Cukup lah pertengkaran ini terjadi, karena membenci normatif itu tidak baik. Formal pun harus berproses untuk menghilangkan keangkuhannya.

    ReplyDelete
  29. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pertentangan antara formal dan normatif sudah menjadi pembahasan klasik. Namun sebenarnya kedua hal ini tidak semsetinya dipertentangkan, bahkan harus diseimbangkan. termasuk dalam hal penilaian. Sudah bukan jamannya lagi menilai segala sesuatu dar hasil dan angka-angka saja, namun proses juga harus diperhatikan. Bisa saja hasilnya baik namun dalam prosesnya melakukan berbagai kecurangan. Bisa saja hasilnya ditunjukkan dengan angka-angka yang tinggi, namun dalam prosesnya tidak jujur dan tidak ikhlas. Disisi lain, kita juga tidak bisa menyangkal bahwa hasil juga sangat penting dalam setiap hal. Maka dari itu antara penilaian formal dan normatif harus selaras.

    ReplyDelete