Oct 6, 2013

Elegi Menggapai Menilai Normatif




Oleh Marsigit

Formal:
Wahai normatif, dikarenakan alasan formal, maka aku perlu penilaian sifat diriku oleh dirimu?



Normatif:
Menilai sifat dirimu itu termasuk wilayah normatif.

Formal:
Ya silahkan, itu alasanmu.

Normatif:
Aku lebih enjoy menikmati hidupku yang normatif daripada harus memberi sifat formal pada dirimu.

Formal:
Tetapi ini adalah tanggung jawabmu?

Normatif:
Tanggung jawab yang mana?

Formal:
Bukankah engkau telah menyediakan diri bergaul secara formal denganku?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Apakah engkau lupa dengan jadwal-jadwalmu. Bukankah engkau mempunyai jadwal mengajar bagi para formal pada hari Senin, Selasa, Rabu, dst..?

Normatif:
Oh..iya maaf saya sampai agak lupa. Terimakasih anda telah mengingatkan hal itu kepadaku. Lalu kenapa engkau begitu semangat menginginkan penilaian formal dariku?

Formal:
Bukankah engkau tahu bahwa penilaian formalmu itu secara formal juga menunjukkan dimensi formalku. Sehingga penilaian formalmu itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan dimensi formal diriku.

Normatif:
Tetapi apakah engkau tahu betapa sulitnya aku memberikan penelaian formal terhadap dirimu?

Formal:
Mengapa sulit, cukup berikan saja nilai bagiku?

Normatif:
Engkau menginginkan nilai berapa?

Formal:
Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Lho apa buktinya aku memaksa. Bukankah aku telah memberikan engkau beberapa alternatif bagimu untuk menilai diriku. Terserah saja bagimu, asalkan aku mendapat nilai “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Siang dan malam aku berdoa agar darimu aku mendapatkan nilai “terbaik”. Jika engkau memberikan nilai “terbaik” maka berarti terkabulah doaku itu.

Normatif:
Sikapmu itulah yang membuat saya merasa berat untuk memberikan penilaian terhadap dirimu?

Formal:
Kalau engkau enggan menilai maka bagaimana tanggungjawabmu?

Normatif:
Baiklah, sebelum aku akhirnya terpaksa memberikan penilaian terhadapmu, maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku berikut?

Normatif:
Apakah engkau sudah melaksanakan semua nasehatku?

Formal:
Nasehatmu terasa tidak cocok dengan hati dan pikiranku.

Normatif:
Bukankah aku telah mengembangkan skema agar semua hati dan pikiranmu dapat terfasilitasi dalam skema yang aku kembangkan?

Formal:
Aku tidak peduli dengan skemamu. Dan aku juga tidak mau hati dan pikiranku terfasilitasi oleh skemamu.

Normatif:
Terus apa maumu dan bagaimana saranmu kepada diriku.

Formal:
Pertama memandang dirimu, aku tidak suka denganmu.

Normatif:
Kalau begitu engkau telah bicara tentang “normatif”.

Formal:
Apa buktinya?

Normatif:
Bukankah engkau bicara tentang “suka” atau “tidak suka”

Formal:
Terserah apa penilaianmu teradap diriku, tetapi itulah faktanya bahwa aku tidak suka kepadamu.

Normatif:
Baik, karena suka dan tidak suka adalah hakmu, tetapi kenapa engkau memaksa diriku untuk memberikan nilai “terbaik”?

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Ternyata engkau masih berkutat dalam bidang normatif saja. “Memaksa” adalah aspek normatif.

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Jika di dunia ingin diterapkan keadilan maka yang berhak memaksa bukan hanya dirimu, tetapi diri yang lain juga berhak memaksa. Artinya sikapmu yang demikian akan menimbulkan keadaan anarkhis. Itulah kekacauan aturan yang ada. Bukankah engkau tahu bahwa salah satu tugasku adalah juga menegakkan peraturan?

Formal:
Aku lebih baik diam, sambil berharap-harap cemas?

Normatif:
Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal.

Formal:
Ah..omong kosong. Karena engkau juga tidak sepenuhnya melaksanakan yang formal?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Engkau tidak menyediakan buku bagiku. Engkau tidak menunjuk buku bagiku. Engkau tidak memberi petunjuk teknis bagiku. Engkau mengajar tidak urut dan tidak sistematis.

Normatif:
Semua yang engkau sebut itu adalah material, mekanistis dan paling banter formal. Tetapi belumlah normatif.

Formal:
Wahai normatif, janganlah bersembunyi dan berdalih dibalik normatif. Memangnya engkau juga tidak membutuhkan material dan formal?

Normatif:
Aku membutuhkan itu semua. Tetapi aku mengharapkan bahwa dimensimu juga bisa naik menjadi tataran normatif.

Formal:
Jangan mengguruiku. Aku telah menyadari bahwa diriku juga bisa normatif.

Normatif:
Normatif yang mana?

Formal:
Normatifku lain dengan normatifmu.

Normatif:
Beri contohnya.

Formal:
Normaku adalah walau aku tak bisa ya jangan sampai ketahuan tidak bisa. Walau aku tak berusaha ya jangan sampai tahu kalau tak berusaha. Walau aku salah ya jangan sampai ketahuan kalau aku salah. Walau aku membaca ya jangan sampai ketahuan kalau aku belum membaca. Walau cuma tahu sedikit ya aku minta nilai “terbaik”.

Normatif:
Padahal normaku itu bertentangan dengan normamu.

Formal:
Lho, normamu harus sama dengan normaku.

Normatif:
Lho main paksa.

Formal:
Siapa yang main paksa, cuma merayu agak keras.

Normatif:
Wahai formal, lama-lama habis kesabaranku. Engkau telah bersifat tidak normatif terhadap diriku dengan cara memaksakan normamu kepada diriku.

Formal:
Lau apa maumu?

Normatif:
Aneh juga?

Formal:
Apanya yang aneh?

Normatif:
Tidaklah semua formal menyadari yang normatif. Sebaliknya yang normatif berusaha menampung yang formal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Engkau formal berusaha menampung semua normatif. Maka itulah salah satu bentuk kesombonganmu.

Formal:
Ah..berfilsafat lagi. Bosan aku.

Normatif:
Itulah yang engkau sebut bahwa filsafat adalah normatif.

Formal:
Apa relevansinya?

Normatif:
Itulah kontradiksinya. Tiadalah mudah memberikan memberi nilai kepada dirimu.

Formal:
Bagiku sangat mudah. Tulis saja “terbaik”. Beres.

Normatif:
Wahai formal. Ternyata engkau tidak hanya sombong, tetapi juga berpotensi anarkhis, karena selalu main paksa.

Formal:
Apa teorimu menilai diriku?

Normatif:
Oh yang ini engkau berusaha menyadari? Menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan.

Formal:
Bertele-tele.

Normatif:
Baik akan aku katakan bahwa penilaian itu sesuai dengan dimensinya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Menilai kemampuan bayi yang baru lahir, dari gejalanya apakah bisa menangis, bergerak ..dsb.
Menilai siswa SD dari kemampuannya sesuai dengan kemampuan tingkat ke SD an.

Formal:
Lha kalau saya?

Normatif:
Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.

Formal:
Aku ini formal, bukan normatif. Tidak perlu pertimbangan macamn-macam.

Normatif:
Bukankah engkau telah teken kontrak bersedia bergaul dengan diriku. Artinya engkau bersedia menaikkan dimensi dirimu menuju tataran normatif? Itulah sebenar-benar refleksi.

Formal:
A..aa.ku bersedia tetapi normaku berbeda dengan normamu. lagi pula dimensiku itu kelihatannya lebih tinggi daripada kamu.

Normatif:
Janganlah selalu bersembunyi dibalik perbedaan norma. Bukankah diantara kita masih bisa dicari norma-norma universal? Tentang perbedaan dimensi, tentu ada orang lain yang lebih berhak menilainya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Secara universal, jika formal menginginkan penilaian normatif ya harus memenuhi normatif universal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Jika engkau enggan membaca tulisanku maka nilai normatifmu rendah.
Jika engkau enggan membaca buku-buku referensiku maka nilai normatifmu ya rendah.

Formal:
Apakah engkau akan manilai diriku “rendah”. Oh jangan jangan nilai aku “rendah”. Jika terpaksa engkau akan menilai diriku “rendah”, boleh asal bukan “rendah”. Tetapi silahkan menilai apaun asal jangan “rendah”. Karena aku tidak mau nilai “rendah”. Silahkan sembarang nilai diriku, asal bukan nilai “rendah”.

Normatif:
Bukakan banyaknya permintaanku itu telah menunjukkan sebenar-benar dimensimu? Terbukti saya menemukan banyak sekali pertentangan dalam dirimu. Membiarkan pertentangan dalam diri sendiri tanpa berusaha mengatasinya itu adalah perbuatan mitos.

Formal:
Engkau rupanya mengetahui apa di balik uraianku?

Normatif:
Bukanlah aku ini seorang paranormal. Aku sekedar membuat sintesis saja.

Formal:
Lalu apa saranmu bagiku?

Normatif:
Turunkan egomu. Tidak semestinyalah egomu itu engkau lebih-lebihkan sehingga melampaui batasmu. Bukankah engkau menyadari bahwa setinggi-tinggi norma kita secara universal adalah menjunjung peraturan dan kesepakatan serta komitmen kita masing-masing. Jika engkau telah menihilkan keberadaanku sebagai normatif, maka setinggi itu pulalah penilaianku terhadapmu. Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif.

Formal:
Aku tak mengerti maksudku.

Normatif:
Inilah peringatanku bagimu, agar berusahalah sesuai dengan suratan-suratan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, dan juga sesuai dengan normatif-normatifnya.

Formal:
Aku juga masih tidak tahu.

Normatif:
Itulah sikap dirimu yang sombong yang tidak pernah mau mendengarkan secara normatif diriku. Makajangankan nilai normatifmu, sedangkan nilai formalmu juga aku menilainya rendah.

Formal:
Wueh..

Normatif:
Aku hanya berdoa agar orang-orang sepertimu diberi petunjuk dan mampu merefleksikan dirimu agar segera menyadari kelemahan-kelamahanmu.

Formal:
Wueh..pakai doa segala. Emangnya yang bisa berdoa hanya dirimu. Doaku lebih makbul.

Normatif:
Ya Allah SWT ampunilah dosa-dosa orang-orang disekitarku. Berikan petunjukmu ya Allah, agar kita semua diberi keikhlasan baik pikir maupun hati. Agar kami memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamanat di akhirat?

Formal:
Wueh..silahkan berdoa. Wueh...paskan saja doamu dengan perbuatanmu. Aku akan menyaksikannya.
Tiadalah ampun bagi orang-orang yang tidak aku sukai.

Normatif:
Kelihatannya engkau marah berat kepada diriku? Bahkan pakai menyumpah segala.

Formal:
Tidak cuma marah aku juga tersinggung berat. Dan aku tidak akan pernah mengampuni dirimu. kalau aku menyumpah dirimu, karena aku tidak suka terhadap dirimu.

Normatif:
Aku serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME.

Formal:
Wuehh...pakai berserah kapada TuhanYME segala.

...

Orang Tua Berambut Putih:
Untuk kali ini aku datang walaupun tidak engkau undang. Nanti dulu ...
Wahai normatif dan formal...hati-hatilah ..sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya. Aku minta agar normatif dan formal bisa saling menahan diri, sebab jika tidak bisa menahan diri, maka dunia ini akan semakin anarkhis. Maka tawaduklah engkau itu.

Normatif:
Amiin..

Formal:
Preeeek..apa itu orang tua rambut putih. Konyol. Sia-sia aku memikirkannya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ohh..Allah hu Allah.

32 comments:

  1. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Setiap pembelajaran membutuhkan proses dari pembelajar untuk mempelajari dan memahami. Seperti saat berfilsafat, membutuhkan proses untuk mempelajari, memahami dan membiasakan diri. Seperti ketika saya memberikan komentar-komentar, di awalnya saya merasa hanya memberi komentar tapi semakin banyak saya membaca tulisan-tulisan ini saya dituntut untuk merefleksikan diri saya. Dialog formal dan normative menyadarkan saya bahwa yang utama adalah ikhlas untuk berproses sehingga akan menghasilkan kualitas yang baik nantinya.

    ReplyDelete
  2. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Antara hak dan kewajiban harus berjalan secara seimbang. Jika belum melaksanakan kewajiban, maka jangan memaksakan untuk mendapatkan hak. Dalam dimensi filsafat, nilai normatif mempunyai keduduka lebih tinggi dibandingkan dengan nilai formal. Jangan sombong jika masih dalam dimensi formal, karena masih ada dimensi yang lebih tinggi. Untuk dapat mencapai dimensi yang lebih tinggi perlu adanya keikhlasan dalam melakukan berbagai hal. Jauhkan dari sifat sombong dan teruslah berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi.
    Wassalamaualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  3. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Penilaian normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda. Penilaian formal merupakan penilaian berdasarkan aturan-aturan dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai dengan ruang dan waktu. Seperti siswa dikatakan lulus apabila mencapai nilai KKM. Sedangkan penilaian normatif merupakan penilaian menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dimensinya. Dalam segala pencapaian tujuan untuk mendapatkan suatu penilaian kita harus memperhatikan keduanya. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas sesuai dengan aturan atau ketentuan yang telah diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatif, seperti sopan santun, jujur, tidak plagiarisme, dan sebagainya. Oleh karena itu lakukan segala sesuatu dengan hati yang ikhlas agar apa yang kita peroleh mendapatkan nilai normatif yang baik sesuai apa yang kita usahakan.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

  6. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Normatif dan formal adalah dua dimensi filsafat yang saling berkaitan dan saling melengkapi. Normatif itu sesuai kaidah atau norma kaitannya dengan etis atau tidak etis, sedangkan formal itu keresmian sesuai dengan peraturan yang sah jadi formal berkaitan dengan resmi atau tidak resmi. Didalam formal ada normatif, namun normatif tanpa formal itu tidak ada jaminan. Misal Menikah siri secara normatif itu sudah etis, namun itu tidak sah atau tidak resmi karena tidak tercatat di KUA sehingga pernikahannya tidak terjamin dan nasib anak-anaknyapun turut tidak terjamin, anak yang terlahir dari nikah siri akan sulit mendapat akte lahir.
    Contoh lain ialah secara formal ikut perkuliahan, mengerjakan tugas-tugas, mengikuti UAS namun jika ternyata dalam mengerjakan tugas itu dia hanya mengcopy paste, dan dalam UTS itu dia menjawab dari hasil contekan maka hilanglah nilai normatifnya.
    Jadi normatif itu isi dari formalitas dan formalitas itu adalah wadah dari normatif.

    ReplyDelete
  7. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Formal dan normative adalah dua hal yang berbeda namun saling berkaitan. Formal merupakan suatu hal yang sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Sedangkan normative merupaka suatu hal yang berkaitan dengan kaidah-kadiah yang berlaku. Seseorang yang telah membuat kartu tanda penduduk (KTP) baru bisa dikatakan sebagai penduduk suatu negara karena ia telah terdaftar dalam data keanggotaan negara, hal tersebut dikatakan aturam formal. Sedangkan contoh dari aturan normative yaitu seseorang dapat dikatakan penduduk yang baik jika ia tidak berbuat onar atau melakukan perbuatan yang dapat menganggu kenyamanan orang lain tanpa melihat tanda penduduk atau darimana ia berasal.

    ReplyDelete
  8. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Objek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Secara formal adalah objek formal dan material. Sebenar-benarnya berfilsafat, sebenar-benarnya berpikir, sebenar-benarnya orang belajar yaitu mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada di dalam pikiran.
    Sedangkan untuk kesalahan normatif adalah suatu kontradiksi. Hidup di dunia prinsipnya kontradiksi atau bertentangan. Sebenar-benarnya hidup pasti bertentangan. Setiap hari seorang suami bisa bertentangan dengan istrinya karena suami adalah laki-laki dan istri adalah perempuan. Karena kontradiksi setiap saat maka timbullah ilmu dan kehidupan. Sebenar-benarnya hidup adalah kontradiksi. Sebenar-benarnya hidup adalah perbedaan.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  9. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb..
    Perdebatan antara normatif dan formal masih saja berlangsung. Normatif dan formal harus seimbang, atau bahkan saling bersaingan untuk menjadi yang terdepan. Tetapi, ada baiknya setelah menjalankan secara normatif, dilanjutkan dengan menjalankan formal, begitu sebaliknya. Maka akan adil bagi keduanya, karena dilakukan secara beriringan dan merasakan manfaatnya bersama-sama pula. Jangan berlebihan pula dalam melakukan salah satunya, agar tidak menjomplang.

    ReplyDelete
  10. Diana Prastiwi
    PPs P.Mat A 2018
    18709251004

    Setelah baca postingan diatas saya menangkap bahwa kedua sifat normatif dan formal merupakan dua hal sifat yang dimiliki oleh manusia dengan sadar atau tidak sadar. Sifat formal yang ada pada manusia adalah sifat yang dapat membuat orang berbuat secara emosional sehingga hanya dapat menerima pandangan nya sendiri dari sifat itu manusia dapat menjadi congak dan sombong atas apa yang di milikinya, kemudian sifat normatif tersebut adalah sifat dimana seseorang dapat berfikir mana yang baik dan mana yang terbaik, sehingga tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi juga mementingkan orang lain dan lingkungannya, sehingga kombinasi kedua sikap ini dapat disesuaikan ruang dan waktu dalam kehidupan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengendalikan sifat normative dan formal agar seimbang.

    ReplyDelete
  11. Rosi anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Kehidupan manusia memang tidak lepas dari nilai dan aturan-aturan di dalamnya. Sebagai contohnya nilai formal dan normatif, kedua nilai tersebut tentu erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat.Tidak untuk membandingkan kedua nilai tersebut, namun dalam kehidupan kedua nilai tersebut harus seimbang agar mencapai kehidupan yang damai sesuai dengan aturan-aturan serta norma yang berlaku di masyarakat.

    ReplyDelete
  12. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Sebenar-benar hidup adalah ketika kita bisa mengkolaborasikan antara formal dan normatif. Formal saja atau normatif saja karena kita hidup di negara dan bangsa yang terdiri dari beragam jenis masyarakat. Sebaiknnya, kita gunakan keduanya (normatif dan formal) untuk menahan arus instant, praktis yang dapat merenggut generasi penerus bangsa.

    ReplyDelete
  13. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Penilaian dapat dilakukan secara formal maupun normatif. Yang kita ketahui saat ini, penilaian sering kali hanya dilakukan dalam bentuk penilaian formal saja, padahal terdapat penilaian normatif yang tidak kalah penting dengan penilaian formal. Formal dan normatif dapat kita misalkan dengan penampilan dan karakter seseorang. Ketika kita hanya menilainya secara formal dari penampilannya yang rapi namun ternyata ada sisi lain yang kontradiksi pada penilaian formatif karakternya yang mungkin tidak menunjukkan sopan santun, jujur dan sebagainya. Begitu juga dalam pembelajaran matematika, bagaimana siswa dapat menangkap dan dapat dinilai dari segi nilai normatifnya. Maka dari itu, nilai normatif juga penting sperti halnya nilai formal

    ReplyDelete
  14. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Elegi di atas merupakan "perdebatan" dari normatif dan formal. Saya setuju dengan orang tua berambut putih yang megatakan bahwa saat ini kita sudah memasuki zaman praktis dan instan oleh karena itu kita harus berhati-hati. Sifat normatif dan formal dalam diri manusia harus ditekan, tanpa mementingkan egho sehingga tidak melukai pihak lain.

    ReplyDelete
  15. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Sekarang ini kebanyakan orang lebih memilih cara yang cepat meskipun tidak tepat. Proses-proses yang seharusnya menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dikedepankan justru diabaikan. Yang dipentingkan hanyalah bentuk formalnya saja. Seharusnya bentuk formatif mempertimbangkan bentuk normatifnya, yaitu norma-norma yang sesuai dengan normatif yang ada. Maka bila dikaitkan dengan menilai dalam pembelajaran, alangkah baiknya bila guru dalam melakukan penilaian pada siswa dengan menggunakan normatif sebagai acuan utamanya sebelum menhghasilkan penilaian yang formatif.

    ReplyDelete
  16. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Didalam kehidupan kita ini ada dua hal sistem penilaian yang tidak dapat kita hindari, yaitu penilaian normatif dan penilaian formal. Penilaian formal merupakan sistem penilaian yang berdasarkan aturan yang sedang berlaku. Sedangkan penilaian formatif merupakan sistem penilaian yang berdasarkan pada kaidah dan norma yang berlaku saat ini. Sebagai calon pendidik kita harus mampu untuk mengimplementasikan kedua sistem penilaian tersebut. Dimana hal tersebut bertujuan agar nilai yang diperoleh siswa bukan hanya berdasarkan pada aturan yang berlaku.

    ReplyDelete
  17. Aji Joko Budi Pramono
    PEP-S3-2018
    18701261003

    Secara umum Nilai normatif adalah suatu konstitusi yang resmi diterima oleh suatu bangsa dan bagi mereka konstitusi itu tidak hanya berlaku dalam arti hukum (legal), tetapi juga nyata berlaku dalam masyarakat dalam arti berlaku efgektif dan dilaksanakan secara murni dan konsekuen. Dalam teori normatif, nilai adalah apa yang mengandung kebaikan intrinsik yang digunakan sebagai standard penilaian. Karena itu, nilai normatif selalu dipandang baik dan benar, tempat mengikat kebebasan manusia. Manusia wajib mematuhi norma-norma yang ia anut. Pada nilai normatif, manusia menaruh komitmen dan ketertarikan psikhis untuk mematuhinya. Nilai normatif bersifat subyektif karena ketertarikan seseorang pada suatu norma tidak dapat dikritik

    ReplyDelete
  18. SUHERMI
    18709251007
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA A

    Sulit untuk memberikan penilaian formal untuk hal-hal yang bersifat normatif, dan nilai normatif selalu lebih tinggi daripada nilai formal. Seperti nasihat orang tua Berambut putih, bersikap tawadhuk adalah yang terbaik, untuk bersikap rendah hati dihadapan Allah SWT dan dihadapan manusia, sehingga sikap dan perilaku kita menjadi lebih baik kedepannya.

    ReplyDelete
  19. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian orang sangat berpatokan pada nilai dan ranking. Padahal kadang setiap orang memiliki keunikan dan kecerdasan sendiri yang kadng tidak bisa dilihat dari nilai. Penilaian dibagi menjadi dua yaitu nilai formatif dan nilai formal. Penilaian formal merupakan sistem penilaian yang berdasarkan aturan. Sedangkan penilaian formatif merupakan sistem penilaian yang berdasarkan pada kaidah dan norma. Semoga sebagai guru dapat menilaidan mengembangkan potensi siswa dengan baik.

    ReplyDelete
  20. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Normatif dan Formal memanglah dua hal berbeda namun saling berhubungan dan tidak dapat terpisahkan satu sama lainnya. Sepert halnya dengan akal dan hati. Akal bertemu dengan hati itulah setinggi-tinggi dimensi manusia. Tetapi itu juga belum cukup jika belum menggapai rakhmat dan hidayah. Akal dan hati diibiratkan sebagai 2 sisi mata uang. Ketajaman Akal harus diimbangi dengan kecerdasan Hati. Dalam menentukan sesuatu keduanya harus bersinergi. Akal dan hati merupakan dua alat berfikir, yang satu dengan logika rasio dan yang satu lagi dengan logika rasa. Namun apalah arti akal dan hati yang mampu berpadu secara harmoni jika digunakan bukan untuk memperoleh rahmat dan hidayah Allah yang telah menciptakan akal dan hati untuk manusia.

    ReplyDelete
  21. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Ulasan yang sangat bermanfaat prof, hal yang sangat penting untuk diambil sebagai pembelajaran adalah seperti ulasan pak prof yaitu “Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu”. terimaksih

    ReplyDelete
  22. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Elegy diatas menggambarkan tentang penilaian yang normative dan formal. Kedua penilaian tersebut merupakan dua hal yang tidak terpisahkan karena saling melengkapi, tidak terelakkan lagi, pda saat ini banyak diantara kita yang hanya mengejar penilaian formal dan mengabaikan penilaian normatif. Seringkali seseorang hanya melihat luarnya saja padahal terdapat hal-hal yang luar biasa dari dalam diri seseorang tersebut. Sebaik-baiknya penilaian adalah perpaduan antara penilaian penilaian formal dan penilaian normatif.

    ReplyDelete
  23. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Menurut KBBI, Normatif adalah berpegang teguh pada norma; menurut norma atau kaidah yang berlaku; sedangkan formal adalah sesuai dengan peraturan sah; menurut adat kebiasaan yang berlaku; resmi. Sekilas formal dan normatif terkesan mirip dan tidak ada bedanya, normatif berpegang teguh pada norma, dan formal sesuai dengan peraturan sah. Menurut saya keduanya dibedakan dengan kata norma dan peraturan sah, norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagi panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan berterima; aturan, ukuran, atau kaidah yang dipakai sebagi tolak ukur untuk menilai atau memperbandingkan sesuatu. Sedangkan peraturan adalah tatanan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yang dibuat untuk mengatur. Berarti normatif lebih kepada sesuatu yang berlaku sebagai pengendali atau penilai sedangkan formal lebih kepada peraturan yang mengatur. Maka tidak heran pada elegi tersebut sang formal meminta penilaian dari normatif.

    ReplyDelete
  24. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Dalam elegi tersebut formal terlalu memaksa dan mengatur nilai yang diberikan normatif, kegiatan tersebut dalam elegi disebut dengan anarkis. Anarkis dapat memicu perpecahan. Memaksa kehendak agar nilai dirinya terbaik adalah perbuatan sombong dan kurang bersyukur. Jika saya menjadi guru dan kemudian menghadapi seorang siswa yang mengaku dirinya adalah yang terbaik atau bertemu dengan wali murid yang mengatakan bahwa anaknya adalah yang terbaik maka saya tentunya enggan untuk memberikan nilai terbaik meskipun awalnya saya ingin memberikan nilai terbaik, namun semua itu akan berubah sebaliknya. Karena tidak ada orang baik yang mengaku baik dan tidak ada orang ikhas yang mengaku ikhlas, belajarlan dari surah Al-Ikhlas yang meskipun judulnya ikhlas tapi tetap saj tidak menyebutkan satu kata ikhlaspun didalamnya. Elegi ini mengajarkan kepada kita bahwa janganlah memberitahukan nilai dirimu kepada orang lain, karena orang lain mempu menilai dirimu tanpa diberitahu, semua terlihat dari bagaimana ia berpikir dan bertindak. Memberitahu nilai diri kepada orang lain hanya akan merusak penilaian seseorang terhadap diri kita.

    ReplyDelete
  25. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Formal dan normative merupakan dua hal yang sebetulnya saling melengkapi. Barangkali penilaian secara formal lebih sering kita dengar dengan istilah formalitas. Formalitas artinya menilai hanya sekedar menilai, atau yang penting dinilai. Tidak peduli atau tidak mempertimbangkan bagaimana objek yang dinilai, apakah memang layak mendapat nilai tinggi atau justru pantas dinilai rendah. Intinya kalau punya kewajiban untuk menilai, ya sudah yang penting dinilai. Sementara penilaian normative mempertimbangkan kualitas objek yang akan dinilai. Penilaian normative tidak hanya sekedar memberi nilai, tetapi benar-benar memaknai dan mempertimbangkan segala hal dari objek yang dinilai.

    ReplyDelete
  26. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, tentu haruslah dimulai dari memperbaiki diri sendiri baik itu dari segi perbuatan, tingkah laku, ucapan, maupun antar sesama manusia. Karena baik tidaknya seseorang bukan kita yang menilai, melainkan orang lain lah yang menilai kita sesuai dengan perspektif masing-masing. Penilaian itu bisa saja berdasarkan penilaian normatif dan formal. Perlu diketahui bahwa kedua penilaian tersebut tidak sama, dan sebaik-baik menilai adalah nilai normatif.

    ReplyDelete
  27. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    "Sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya"
    Perkataan orang tua berambut putih itu memang benar dan sudah seharusny kita menjalani hidup ini secara seimbang. Tidak bisa kita sepenuhnya mengunggulkan yang satu dan meniadakan yang satu karena hal itu akan mengganggu kestabilan dalam hidup. Salah satu hal yang perlu kita jalankan secara beriringan dan seimbang adalah tentang dimensi formal dan normative.

    ReplyDelete
  28. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    Didalam kehidupan ini ada dua hal sistem penilaian, yaitu penilaian normatif dan penilaian formal. Penilaian normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda. Penilaian formal merupakan penilaian berdasarkan aturan-aturan dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai dengan ruang dan waktu. Sedangkan penilaian normatif merupakan penilaian menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dimensinya. Dalam segala pencapaian tujuan untuk mendapatkan suatu penilaian kita harus memperhatikan keduanya. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas sesuai dengan aturan atau ketentuan yang telah diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai seperti sopan santun, jujur, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  29. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Kaitannya dengan menilai normati dan formal, keduanya ada dalam pendidikan. Dalam pendidikan ada PAN (penilaian acuan normative) yaitu penilaian yang membandingakan hasil belajar siswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Sementara penilaian formati, Penilaian formatif adalah aktivitas guru dan siswa yang dimaksudkan untuk memantau kemajuan belajar siswa selama proses belajar berlangsung.

    ReplyDelete
  30. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Menyambung komentar di atas. Ada potensi bahwa pemberian nilai dan sistem perankingan menjadikan individu mengukur tingkat kecerdasan sehingga bisa menghambat seseorang untuk mengembangkan bakatnya. Ada kalanya pemberian feedback tidak melulu soal nilai dan ranking. Guru bisa memilih alternative feedback berupa pengharagaan terhadap proses yang telah dilalui siswa. Bahwa setiap prosesnya pasti ada suatu progress yang patut untk dihargai. Selain itu, yang perlu menjadi perhatian adalah pendidikan yang berbasis karakter.

    ReplyDelete
  31. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    Dari elegi di atas saya mendapatkan beebrapa pelajaran. Diantaranya selalu ikhlas dalam dalam menuntut ilmu, lebih mementingkan proses daripada hasil. Janganlah pernah merasa sombong dengan apa yang kita milki sekarang, selalu berusaha untuk rendah hati, menjadi lebih baik lagi kedepannya dalam ruang maupun waktu. Dan jangan lupa selalu berdoa memohon kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  32. hendra B
    18701261008
    PEP S3 2018

    salah satu pemicu terjadinya perpecahan adalah ketidak sepamahan. Perbedaan pemahan sangat gampang menyulut perpecahan sentil sedikit dibalas pakai sikut , seharusnya di sini kita dapat sebuha ceritra yang membuka khasanah berpikir kita tentang perbdaan. marilah saling menghargai perbedaan karena dari perbedaan prebedaan itu bisa jadi kita mendapatkan ilmu yang baru.

    ReplyDelete