Oct 6, 2013

Elegi Menggapai Menilai Normatif




Oleh Marsigit

Formal:
Wahai normatif, dikarenakan alasan formal, maka aku perlu penilaian sifat diriku oleh dirimu?



Normatif:
Menilai sifat dirimu itu termasuk wilayah normatif.

Formal:
Ya silahkan, itu alasanmu.

Normatif:
Aku lebih enjoy menikmati hidupku yang normatif daripada harus memberi sifat formal pada dirimu.

Formal:
Tetapi ini adalah tanggung jawabmu?

Normatif:
Tanggung jawab yang mana?

Formal:
Bukankah engkau telah menyediakan diri bergaul secara formal denganku?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Apakah engkau lupa dengan jadwal-jadwalmu. Bukankah engkau mempunyai jadwal mengajar bagi para formal pada hari Senin, Selasa, Rabu, dst..?

Normatif:
Oh..iya maaf saya sampai agak lupa. Terimakasih anda telah mengingatkan hal itu kepadaku. Lalu kenapa engkau begitu semangat menginginkan penilaian formal dariku?

Formal:
Bukankah engkau tahu bahwa penilaian formalmu itu secara formal juga menunjukkan dimensi formalku. Sehingga penilaian formalmu itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan dimensi formal diriku.

Normatif:
Tetapi apakah engkau tahu betapa sulitnya aku memberikan penelaian formal terhadap dirimu?

Formal:
Mengapa sulit, cukup berikan saja nilai bagiku?

Normatif:
Engkau menginginkan nilai berapa?

Formal:
Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Lho apa buktinya aku memaksa. Bukankah aku telah memberikan engkau beberapa alternatif bagimu untuk menilai diriku. Terserah saja bagimu, asalkan aku mendapat nilai “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Siang dan malam aku berdoa agar darimu aku mendapatkan nilai “terbaik”. Jika engkau memberikan nilai “terbaik” maka berarti terkabulah doaku itu.

Normatif:
Sikapmu itulah yang membuat saya merasa berat untuk memberikan penilaian terhadap dirimu?

Formal:
Kalau engkau enggan menilai maka bagaimana tanggungjawabmu?

Normatif:
Baiklah, sebelum aku akhirnya terpaksa memberikan penilaian terhadapmu, maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku berikut?

Normatif:
Apakah engkau sudah melaksanakan semua nasehatku?

Formal:
Nasehatmu terasa tidak cocok dengan hati dan pikiranku.

Normatif:
Bukankah aku telah mengembangkan skema agar semua hati dan pikiranmu dapat terfasilitasi dalam skema yang aku kembangkan?

Formal:
Aku tidak peduli dengan skemamu. Dan aku juga tidak mau hati dan pikiranku terfasilitasi oleh skemamu.

Normatif:
Terus apa maumu dan bagaimana saranmu kepada diriku.

Formal:
Pertama memandang dirimu, aku tidak suka denganmu.

Normatif:
Kalau begitu engkau telah bicara tentang “normatif”.

Formal:
Apa buktinya?

Normatif:
Bukankah engkau bicara tentang “suka” atau “tidak suka”

Formal:
Terserah apa penilaianmu teradap diriku, tetapi itulah faktanya bahwa aku tidak suka kepadamu.

Normatif:
Baik, karena suka dan tidak suka adalah hakmu, tetapi kenapa engkau memaksa diriku untuk memberikan nilai “terbaik”?

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Ternyata engkau masih berkutat dalam bidang normatif saja. “Memaksa” adalah aspek normatif.

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Jika di dunia ingin diterapkan keadilan maka yang berhak memaksa bukan hanya dirimu, tetapi diri yang lain juga berhak memaksa. Artinya sikapmu yang demikian akan menimbulkan keadaan anarkhis. Itulah kekacauan aturan yang ada. Bukankah engkau tahu bahwa salah satu tugasku adalah juga menegakkan peraturan?

Formal:
Aku lebih baik diam, sambil berharap-harap cemas?

Normatif:
Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal.

Formal:
Ah..omong kosong. Karena engkau juga tidak sepenuhnya melaksanakan yang formal?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Engkau tidak menyediakan buku bagiku. Engkau tidak menunjuk buku bagiku. Engkau tidak memberi petunjuk teknis bagiku. Engkau mengajar tidak urut dan tidak sistematis.

Normatif:
Semua yang engkau sebut itu adalah material, mekanistis dan paling banter formal. Tetapi belumlah normatif.

Formal:
Wahai normatif, janganlah bersembunyi dan berdalih dibalik normatif. Memangnya engkau juga tidak membutuhkan material dan formal?

Normatif:
Aku membutuhkan itu semua. Tetapi aku mengharapkan bahwa dimensimu juga bisa naik menjadi tataran normatif.

Formal:
Jangan mengguruiku. Aku telah menyadari bahwa diriku juga bisa normatif.

Normatif:
Normatif yang mana?

Formal:
Normatifku lain dengan normatifmu.

Normatif:
Beri contohnya.

Formal:
Normaku adalah walau aku tak bisa ya jangan sampai ketahuan tidak bisa. Walau aku tak berusaha ya jangan sampai tahu kalau tak berusaha. Walau aku salah ya jangan sampai ketahuan kalau aku salah. Walau aku membaca ya jangan sampai ketahuan kalau aku belum membaca. Walau cuma tahu sedikit ya aku minta nilai “terbaik”.

Normatif:
Padahal normaku itu bertentangan dengan normamu.

Formal:
Lho, normamu harus sama dengan normaku.

Normatif:
Lho main paksa.

Formal:
Siapa yang main paksa, cuma merayu agak keras.

Normatif:
Wahai formal, lama-lama habis kesabaranku. Engkau telah bersifat tidak normatif terhadap diriku dengan cara memaksakan normamu kepada diriku.

Formal:
Lau apa maumu?

Normatif:
Aneh juga?

Formal:
Apanya yang aneh?

Normatif:
Tidaklah semua formal menyadari yang normatif. Sebaliknya yang normatif berusaha menampung yang formal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Engkau formal berusaha menampung semua normatif. Maka itulah salah satu bentuk kesombonganmu.

Formal:
Ah..berfilsafat lagi. Bosan aku.

Normatif:
Itulah yang engkau sebut bahwa filsafat adalah normatif.

Formal:
Apa relevansinya?

Normatif:
Itulah kontradiksinya. Tiadalah mudah memberikan memberi nilai kepada dirimu.

Formal:
Bagiku sangat mudah. Tulis saja “terbaik”. Beres.

Normatif:
Wahai formal. Ternyata engkau tidak hanya sombong, tetapi juga berpotensi anarkhis, karena selalu main paksa.

Formal:
Apa teorimu menilai diriku?

Normatif:
Oh yang ini engkau berusaha menyadari? Menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan.

Formal:
Bertele-tele.

Normatif:
Baik akan aku katakan bahwa penilaian itu sesuai dengan dimensinya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Menilai kemampuan bayi yang baru lahir, dari gejalanya apakah bisa menangis, bergerak ..dsb.
Menilai siswa SD dari kemampuannya sesuai dengan kemampuan tingkat ke SD an.

Formal:
Lha kalau saya?

Normatif:
Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.

Formal:
Aku ini formal, bukan normatif. Tidak perlu pertimbangan macamn-macam.

Normatif:
Bukankah engkau telah teken kontrak bersedia bergaul dengan diriku. Artinya engkau bersedia menaikkan dimensi dirimu menuju tataran normatif? Itulah sebenar-benar refleksi.

Formal:
A..aa.ku bersedia tetapi normaku berbeda dengan normamu. lagi pula dimensiku itu kelihatannya lebih tinggi daripada kamu.

Normatif:
Janganlah selalu bersembunyi dibalik perbedaan norma. Bukankah diantara kita masih bisa dicari norma-norma universal? Tentang perbedaan dimensi, tentu ada orang lain yang lebih berhak menilainya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Secara universal, jika formal menginginkan penilaian normatif ya harus memenuhi normatif universal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Jika engkau enggan membaca tulisanku maka nilai normatifmu rendah.
Jika engkau enggan membaca buku-buku referensiku maka nilai normatifmu ya rendah.

Formal:
Apakah engkau akan manilai diriku “rendah”. Oh jangan jangan nilai aku “rendah”. Jika terpaksa engkau akan menilai diriku “rendah”, boleh asal bukan “rendah”. Tetapi silahkan menilai apaun asal jangan “rendah”. Karena aku tidak mau nilai “rendah”. Silahkan sembarang nilai diriku, asal bukan nilai “rendah”.

Normatif:
Bukakan banyaknya permintaanku itu telah menunjukkan sebenar-benar dimensimu? Terbukti saya menemukan banyak sekali pertentangan dalam dirimu. Membiarkan pertentangan dalam diri sendiri tanpa berusaha mengatasinya itu adalah perbuatan mitos.

Formal:
Engkau rupanya mengetahui apa di balik uraianku?

Normatif:
Bukanlah aku ini seorang paranormal. Aku sekedar membuat sintesis saja.

Formal:
Lalu apa saranmu bagiku?

Normatif:
Turunkan egomu. Tidak semestinyalah egomu itu engkau lebih-lebihkan sehingga melampaui batasmu. Bukankah engkau menyadari bahwa setinggi-tinggi norma kita secara universal adalah menjunjung peraturan dan kesepakatan serta komitmen kita masing-masing. Jika engkau telah menihilkan keberadaanku sebagai normatif, maka setinggi itu pulalah penilaianku terhadapmu. Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif.

Formal:
Aku tak mengerti maksudku.

Normatif:
Inilah peringatanku bagimu, agar berusahalah sesuai dengan suratan-suratan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, dan juga sesuai dengan normatif-normatifnya.

Formal:
Aku juga masih tidak tahu.

Normatif:
Itulah sikap dirimu yang sombong yang tidak pernah mau mendengarkan secara normatif diriku. Makajangankan nilai normatifmu, sedangkan nilai formalmu juga aku menilainya rendah.

Formal:
Wueh..

Normatif:
Aku hanya berdoa agar orang-orang sepertimu diberi petunjuk dan mampu merefleksikan dirimu agar segera menyadari kelemahan-kelamahanmu.

Formal:
Wueh..pakai doa segala. Emangnya yang bisa berdoa hanya dirimu. Doaku lebih makbul.

Normatif:
Ya Allah SWT ampunilah dosa-dosa orang-orang disekitarku. Berikan petunjukmu ya Allah, agar kita semua diberi keikhlasan baik pikir maupun hati. Agar kami memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamanat di akhirat?

Formal:
Wueh..silahkan berdoa. Wueh...paskan saja doamu dengan perbuatanmu. Aku akan menyaksikannya.
Tiadalah ampun bagi orang-orang yang tidak aku sukai.

Normatif:
Kelihatannya engkau marah berat kepada diriku? Bahkan pakai menyumpah segala.

Formal:
Tidak cuma marah aku juga tersinggung berat. Dan aku tidak akan pernah mengampuni dirimu. kalau aku menyumpah dirimu, karena aku tidak suka terhadap dirimu.

Normatif:
Aku serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME.

Formal:
Wuehh...pakai berserah kapada TuhanYME segala.

...

Orang Tua Berambut Putih:
Untuk kali ini aku datang walaupun tidak engkau undang. Nanti dulu ...
Wahai normatif dan formal...hati-hatilah ..sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya. Aku minta agar normatif dan formal bisa saling menahan diri, sebab jika tidak bisa menahan diri, maka dunia ini akan semakin anarkhis. Maka tawaduklah engkau itu.

Normatif:
Amiin..

Formal:
Preeeek..apa itu orang tua rambut putih. Konyol. Sia-sia aku memikirkannya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ohh..Allah hu Allah.

101 comments:

  1. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Suatu objek dapat dinilai dengan melihat material, formal, dan normatifnya. Dari ketiganya, jika penilaian yang diberikan adalah sekiranya jika telah memenuhi syarat normatif yang ada maka nilai terbaik yang diberikan adalah jika benar-benar sudah memenuhi standar normatif yang ada. Namun sebenar-benar penilaian spiritual yang yang penilainya adalah Allah SWT. Sebab hanya Allah yang mengetahui apa-apa yang tidak tampak oleh manusia termasuk apa yang ada di hati dan pikiran setiap manusia.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Penilaian Acuan Normatif digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya. Penilaian Acuan Normatif menggunakan kriteria yang bersifat “relative”. Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut. Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya). Penilaian Acuan Normatif memiliki kecenderungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius.

    ReplyDelete
  3. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Salah satu cara untuk membedakan antara tes, penilaian dalam pengajaran adalah dengan mengetahui dan membedakan antara penilaian informal dan formal. Di sisi lain, penilaian formal memiliki prosedur yang spesifik untuk melihat sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan siswa. Penilaian formal bersifat sistematis, memiliki teknik yang terstruktur untuk menilai pencapaian siswa.

    ReplyDelete
  4. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Dalam hal ini ada dua istilah dimensi, yaitu dimensi formal dan dimensi normatif. Dimensi normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda, tetapi dalam menjalani kehidupan ini keduanya haruslah seimbang. dimensi normatif menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dengan dimensinya. Sedangkan dimensi formal menurut pada peraturan yang berlaku. Sebagai seseorang yang sedang belajar, dalam berusaha meraih nilai yang baik kita juga seharusnya memperhatikan dimensi normatif dan formal. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketetuan yang diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatifnya, seperti sopan santun serta baik dan buruk, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas kita dengan jujur, bertanggung jawab, dan ikhlas. Seringkali manusia hanya memikirkan penilaian formal dan mengabaikan penilaian normatif. Ingin yanng serba instan dan bahkan dengan melanggar norma, demi memperoleh penilaian formal yg baik. Padahal dengan begitu ia telah mendapat penilaian normatif yang buruk.

    ReplyDelete
  5. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, karena melalui dialog antara normatif dan formal ini mengingatkan saya untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang mahasiswa dalam matakuliah Etnomatematika. Salah satu kewajiban saya adalah membuat komentar di blog ini. Membaca artikel-artikel pendidikan matematika yang ada di dalam blog ini merupakan suatu proses belajar dan membangun sebuah ilmu pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  6. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian merupakan hal yang sangat penting. Guru melakukan suatu penilaian untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik. Penilaian yang baik meliputi penilaian proses dan hasil yang telah dicapai oleh peserta didik. Penilaian ini mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik peserta didik. Dalam melakukan penilaian, guru harus bersikap objektif, jujur dan adil.

    ReplyDelete
  7. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Makna dari Elegi ini adalah bahwa kita jangan hanya melihat dari salah satu sudut pandang penilaian formal ataupun penilaian normatif. Penilaian formal dan penilaian normatif haruslah seimbang. Dalam proses pembelajaran penilaian formal adalah penentu keberhasilan prestasi belajar siswa akan tetapi akan lebih baik lagi apabila diimbangi dengan penilaian normatif.

    ReplyDelete
  8. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa hal yang terbaik adalah ikhlas dalam menjalani segala hal. Ikhlas dalam belajar tentu lebih baik dari terpaksa belajar, dan sebagainya. Selain itu, juga mengajarkan untuk tidak boleh sombong dan selalu merasa paling benar.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Penilaian normatif dan formal jelas berbeda dan dalam pembelajaran keduanya harus seimbang atau saling mengisi. Penilaian normatif sangat sesuai dengan kurikulum 2013 yang lebih mengutamakan siswa aktif dalam kelompoknya apapun pendekatannya sedangkan dalam KTSP normatif sangat berfungsi untuk penanaman karakter siswa di sekolah berdasarkan apa yang ia lakukan di dalam kelas. Penilaian tersebut harus diimbangi dengan penilaian formal.

    ReplyDelete
  10. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Nilai normatif lebih tinggi dibanding nilai formatif. Menilai secara normatif maksudnya menilai sesuatu sesuai dengan tingkat dimensinya dan sesuai dengan ruang dan waktu saat itu. Misalnya menilai pengetahuan anak SD haruslah berdasarkan kemampuan anak SD. Dalam pembelajan guru seharusnya tidak hanya melakukan penilaian formal tetapi juga harus melakukan penilaian secara normatif juga. Seorang anak dikatakan pintar tidak hanya dari nilai ujiannya saja yang bagus, namun juga karakternya yang bagus tentunya dengan memperhatikan tingkat dimensinya.

    ReplyDelete
  11. Banyak orang yang selalu melihat hasil akhir daripada proses. Kecenderungan bahwa kebanyakan orang melihat hasil akhir bukan proses menimbulkan dilema bagi sebagian orang. jika manusia sudah berusaha maksimal namun hasilnya belum sesuai harapan maka itu adalah bagian dari proses, hasil yang akan saya tuai di kemudian hari, yaitu suatu keberhasilan lain di waktu yang akan datang. Kegagalan adalah pelajaran berharga dalam kehidupan. Kegagalan menjadi pengalaman dalam berproses. Orang lebih memandang tinggi terhadap forma atau bentuk. Bentuk hasil akhir tanpa memeikirkan proses. Hal ini dapat mencipatakan karakter atau budaya instan. Formal ada karena ada proses, proses akan menuju pada formal.

    ReplyDelete
  12. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dalam filsafat, ada 6 jenis dimensi yang meliputi material, formal, normatif, spiritual, legal, dan politik. Antara formal dan normatif, satu dengan yang lain merentang, memiliki dimensi dan bahasanya masing-masing. Formal merupakan wadahnya, sedangkan normatif adalah isinya. Penilaian terhadap sesuatu tidak melulu harus secara formal saja, akan tetapi penilaian secara normatif juga sangat penting. Keduanya saling melengkapi. Misalnya saja seseorang yang gaya berpakaiannya formal, namun ternyata sebenarnya ia seseorang yang pembohong. Sementara itu, orang lain yang gaya berpakaiannya biasa-biasa saja, ternyata ia merupakan seseorang yang jujur dan berkomitmen terhadap pekerjaannya.

    ReplyDelete
  13. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam kehidupan, penilaian formatif dan normatif akan selalu ada. Keduanya harus berjalan berdampingan, dan tentunya untuk mendapatkan nilai formatif dan normatif harus ada usaha sebelumnya, sehingga itu adalah sebenar-benarnya penilaian. Jika sesuatu atau dalam hal ini adalah penilaian, didapatkan dengan cara instan maka semua itu hanyalah akan bertahan sebentar dan tidak akan mengandung nilai-nilai yang baik sampai kapanpun.

    ReplyDelete
  14. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    penilaian formal dan normatif itu berbeda, namun keduanya harus saling harmonis. untuk mendapatkan penilaian harus adanya usaha terlebih dahulu, sesungguhnya hal yang instan itu tidak akan bertahan lama.

    ReplyDelete
  15. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    Penilaian itu biaa berdasarkan formatif maupun normatif, penilaian secara formatif digunakan untuk melihat sejauh mana perkemabangan siswa, apakah sudah sesuai dengan tujuan pendidikan atau belum, sedangkan penilaian normatif berdasarkan nilai yang ada.

    ReplyDelete
  16. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    hal yang bisa saya ambil dari percakpan diatas salah satunya adalah mengenai keikhlasan, setiap orang tidak boleh menyombongkan diri sendiri, sesungghunya penilaian yang hakiki hanya pada Allah SWT, tidak sepantas nya kita menyombongkan diri padahal diatas ada yang maha kuasa atas seluruh dunia dan seisinya.

    ReplyDelete
  17. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Formatif artinya secara formal. Formal ada disinggung dalam bahasan dimensi pengetahuan menurut Immanuel Kant. Dalam bahasan tersebut, formal adalah apa yang tampak, sesuai bentuknya. Sedangkan normatif, dalam KBBI diartikan sebagai menurut norma atau kaidah yang berlaku. Apabila diartikan menurut bahasa sehari-hari, normatif adalah apa adanya. Sehingga, formatif lebih teliti daripada normatif. Karena formatif memperhatikan aspek yang lebih luas dari pada normatif.

    ReplyDelete
  18. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Sebagai manusia sudah seharusnya kita menjalani kehidupan ini secara seimbang. Kita tidak bisa sepenuhnya mengunggulkan yang satu dan meniadakan yang lain, karena hal itu akan mengganggu kestabilan hidup. Salah satu hal yang perlu kita jalankan secara beriringan dan seimbang adalah tentang dimensi formal dan normatif.

    ReplyDelete
  19. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Dunia ini terdapat normatif dan formal. Hal yang kontradiktif, dan juga saling melengkapi. Normatif dan formal harus saling melengkapi dalam hidup. salah satunya tidak dapat brediri sendiri.

    ReplyDelete
  20. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Karena hidup harus seimbang, maka nilai normatif dan nilai formal pun harus seimbang. Tidak boleh lebih mengarah ke salah satu saja.
    Selain itu, elegi ini juga kembali mengingatkan saya mengenai rasa ikhlas dalam belajar. Jangan sampai kita merasa sombong dan merasa tahu segalanya.

    ReplyDelete
  21. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, normatif adalah berpegang teguh pada norma atau kaidah yang berlaku, sedangkan formal adalah menurut adat kebiasaan yang berlaku. Dari pengertian tersebut, sebenarnya keduanya memiliki makna yang hampir sama, tetapi dapat terjadi perselisihan diantara keduanya seperti pada elegi di atas karena selalu mengagung-agungkan dirinya masing-masing, padahal bisa jadi keduanya benar atau malah keduanya salah.

    ReplyDelete
  22. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Nilai normatif merupakan salah satu unsur konstitutif dalam kebudayaan yakni bahasa, adat atau kebisaan, teknik. Unsur konstitutif ini yang menjadikan kelompok budaya yang satu berbeda dengan kelompok budaya yang lain. Nilai-nilai normatif ini akan menentukan sistem nilai atau sistem moral khas setiap kepribadian, setiap sosial dan setiap kebudayaan sehingga menjadi kekuatan-kekuatan integratif masnusia, masyarakat dan budaya.
    Sumber : Banasuru,Aripin.2014. Filsafat dan Filsafat Ilmu. Bandung : Alfabeta

    ReplyDelete
  23. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut sumber yang saya baca formal meliputi sesuatu yang memiliki dasar aturan- aturan dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai ruang dan waktunya. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Formal dibutuhkan untuk mewujudkan suatu tujuan sehingga formal juga sebagai pegangan tapi terbatas pada dunia, sedang hal yang lebih penting dari itu adalah normatifnya karena mencakup dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  24. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya dapat mengambil sebuah nilai. Bagaimana kita seharusnya tidaklah memandang suatu hal hanya dari satu sisi dan merasa berpuas diri. Karena dalam mencapai sesuatu kita haruslah terus berbenah diri, tidak merasa puas akan pencapaian saat ini dengan tetap rendah hati dan terus berusaha.

    ReplyDelete
  25. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika

    Mohon maaf, pak Prof. Saya tidak bisa melanjutkan dialog pada elegi di atas. Bukan karna saya capek untuk membaca, melainkan saya terhenti pada alternatif-alternarif yang ditawarkan formal kepada normati di bawah ini:

    Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

    Nah, saya tidak paham apa yang formal katakan dengan memberikan alternatif yang sama. Bukan kah dikatakan alternatif jika terdapat dua atau lebih pilihan yang berbeda? Entah apakah alternatif-alternatif tersebut memiliki makna filosofis yang berbeda? Namun secara harfiah, tidak ada alternatif yang ditawarkan. Bagi saya, alternatif-alternatif tersebut adalah anomali. Mohon penjelasannya, pak prof.

    ReplyDelete
  26. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Setelah membaca ini, satu hal yang saya pahami adalah ternyata saya kurang belajar, saya kurang membaca, saya kurang menjaga keseimbangan antara formalitas dan normalitas pada diri saya sendiri, dan saya juga harus lebih berusaha untuk memahami normalitas orang-orang di sekitar saya. Terima kasih Pak, elegi ini membuat saya lebih sadar diri.

    ReplyDelete
  27. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Filsafat ini mengajarkan kita untuk lebih menilai orang berdasarkan normatif bukan formal. Bukan pintar dan bodoh, kaya dan miskin, bangsawan atau kaum bawah, dewa atau hamba. melainkan berdasarkan perilaku dan akhlak seseorang. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi kita tidak boleh menjudge seseorang itu baik atau buruk hanya dengan melihat satu atau dus sisi aja, namun dari berbagai sisi.

    ReplyDelete
  28. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas yang dapat saya pahami yaitu adanya penilaian formal dan normatif. Kedua hal yang sangat berbeda namun menurut saya dapatlah beriringan dan saling melengkapi. Dimana penilaian formal itu melulu tentang sesuatu yang tetap, kaku pasti itu. sedangkan normatif ini berdasarkan apa prosesnya, pertimbangan pertimbangan. Sehingga perlulah kedua penilaian itu seimbang digunakan.

    ReplyDelete
  29. Junianto
    PM C
    17709251065

    Di dunia ini, nilai formal saja tidaklah cukup. Dengan menggunakan nilai formal akan membuat seseorang menjadi bangga dan cenderung menyombongkan dirinya. Maka diperlukan nilai normatif sebagai penyeimbang dan pengingat manusia dalam melakukan berbagai hal. Dengan nilai normatif, seseorang akan tahu mana yang baik dan buruk, sehingga tidak hanya kekuasaaan semata yang ia kejar di dunia

    ReplyDelete
  30. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    setelah baca postingan diatas saya menangkap bahwa kedua sifat normati dan formal merupakan dua hal sifat yang dimiliki oleh manusia dengan sadar atau tidak sadar. karena dalam hidup ini sifat formal saja tidak lah cukup. Sifat formal yang ada pada manusia adalah sifat yang dapat membuat orang berbuat secara emosional sehingga hanya dapat menerima pandangan nya sendiri dari sifat itu manusia dapat menjadi congak dan sombong atas apa yang di milikinya, kemudian sifat normatif tersebut adalah sifat dimanaseseorang dapat berfikir mana yang baik dan mana yang terbaik, sehingga tidak hanya mementingkan diri sendiri tetapi juga mementingkan orang lain dan lingkungannya, sehingga kombinasi kedua sikap ini dapat disesuaikan ruang dan waktu dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  31. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Di dunia ini pasti terdapat perbedaan, perbedaan ini lah yang membuat kehidupan ini menjadi harmoni dan terasa indah. Misalnya saja jika kita hidup dimana semua orang menjadi orang sukses dan konglomerat, tidak perlu bekerja, uang selalu tersedia, Apakah dia bisa hidup? Jawabannya tidak, mengapa? Karena bagaimana kita makan? Bahkan penjual makanan pun sudah kaya tak perlu bekerja.
    Tunjukkan pada dunia bahwa kamu berbeda, bahwa kamu spesial, bahwa kamu unik dimana tak ada seorang pun yang dapat menyamaimu. Maka bersyukurlah kamu atas segala nikmat yang Allah berikan. Jika kita tidak bahagia dengan apa yang kita miliki sekarang, apa yang membuat kamu berpikir bahwa memiliki segalanya akan membuat kita bahagia?
    Berdasarkan elegi di atas, ketika bapak menyuruh kita untuk memposting hasil di Internet, maka dengan cara itu kita menyadari bahwa ilmu kita nantinya akan bermanfaat untuk orang lain.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  32. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Kali kedua saya membaca elegi ini. Oh bukan kedua, hanya satu setengah. Eh atau malah satu seperempat. Pada waktu yang lalu pernah membaca, tapi saya kalah, menyerah, tidak dapat melanjutkan membaca hingga titik terakhir. Dan kali ini saya mencoba, hingga kata dan titik terakhir, tapi sepenuhnya sejujurnya saya masih meraba-raba apa yang "dikarepke" elegi ini. Indah, saya menilai ini indah. Seni, ya seni. Berupaya memahami. Melalui elegi ini saya melihat bahwa kehidupan manusia terdiri atas keseimbangan. Banyak hal memang, tapi ya harus seimbang. Sungguh, dominan itu tidak begitu baik. Sama halnya dengan ini (mungkin ya), normatif dan formal dua-duanya kita punyai. Tapi ya itu, pendapat saya semua harus seimbang. Ada kalanya sesuatu kita lihat secara formal, dan ada kalanya pula kita pandang secara normatif. Bukankah kedua-duanya memang diperlukan?

    ReplyDelete
  33. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Kadang kala kita terjebak dalam jebakan formal yang menjadikan kehidupan kita hanya menyesuaikan dengan gejala-gejala formalitas yang ada di kehidupan kita. Sehingga apa yang terjadi harus sesuai dengan standar yang ada dan sudah ditentukan. Padahal ketika kita hidup kita harus lebih bisa memaknai kehidupan kita sesuai dengan hakikat kita sebagai seorang manusia, seorang makhluk yang senantiasa berproses untuk menjadi lebih baik dan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

    ReplyDelete
  34. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PM A 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Sekarang ini kebanyakan orang lebih memilih cara yang cepat meskipun tidak tepat. Proses-proses yang seharusnya menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan dikedepankan justru diabaikan. Yang dipentingkan hanyalah bentuk formalnya saja. Seharusnya bentuk formatif mempertimbangkan bentuk normatifnya, yaitu norma-norma yang sesuai dengan normatif yang ada. Maka bila dikaitkan dengan menilai dalam pembelajaran, alangkah baiknya bila guru dalam melakukan penilaian pada siswa dengan menggunakan normatif sebagai acuan utamanya sebelum menhghasilkan penilaian yang formatif.

    ReplyDelete
  35. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ketika manusia menjalani kehidupan hanya memegang salah satu saja semisal hanya di formalitas, tentu akan terjadi ketimpangan ketika ia berada di luar wilayah formalitas. Maka akan menimbulkan perasaan superioritas yaitu merasa paling benar, sehingga akan dianggap berbeda oleh orang formatif. Ini akan dapat memicu konflik yang berkepanjangan. Oleh karenanya meskipun antara formalitas dan normatif itu dua hal yang berbeda namun sebaiknya keduanya dapat saling mendukung.

    ReplyDelete

  36. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualikum wr wb.Terimaksih pak prof. Setelah membaca alur dialognya, saya dapat mengambil hikmah dalam dialog tersebut.Dalam menggapai sesuatu kita tak perlu mamaksakan kehendak.Kita cenderung ingin dinilai baika oleh orang, namun tak pernak mengerti apa yang semestinya dilakukan untuk mendapatkan nilai baik tersebut.Dan yang paling penting adalah bagaimana kita berproses.Di dalam proses harus dibumbui dengan rasa yang ikhlas.Ikhlas dalam hal apapun.Agar segala sesuatuyang kita lakukan terasa mudah dan gampang.Dan satu hal yang perlu dihindari jangan pernah merasa bangga dengan apa yang telah kita lakukan takuktnya akan menciptakan rasa kesombongan.Tuhan tidak menyukai akan hal itu.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  37. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Formal meliputi sesuatu yang memiliki aturan-aturan dasar dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai ruang dan waktunya. Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Seperti ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Formal dibutuhkan untuk mewujudkan suatu tujuan sehingga formal juga sebagai pegangan tapi terbatas pada dunia, sedang hal yang lebih penting dari itu adalah normatifnya karena mencakup dunia dan akhirat. Tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual dan iadalah manusia itu mampu melaksanakan.

    ReplyDelete
  38. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Bersadarkan elegi menggapai menilai normatif, yang saya pahami adalah bahwa di dunia ini antara normatif dan formal berjalan beriringan. Karena dalam menilai sesuatu tidak cukup hanya penilaian secara formal tetapi juga penilaian secara normatif, dan setinggi-tinggi penilaian itu adalah penilaian spiritual. Untuk itu, selalulah berhati-hati agar keduanya berjalan secara seimbang untuk mencapai dunia yang harmonis.

    ReplyDelete
  39. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas dialog bermakna di atas. Semoga apa yang saya tangkap tidak bias konfirmasi dan salah paham. Bagaikan siswa yang mengharapkan nilai terbaik dari sang guru, dengan cukup memaksa namun tanpa usaha dan doa, maka guru tidak dapat memberikan nilai terbaik untuknya. Secara formal, siswa mungkin melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya untuk datang ke sekolah dan mengikuti segala proses pembelajaran. Namun tidak hanya nilai akademik saja yang diutamakan, secara normatif guru bertanggung jawab untuk mendidik dan membentuk karakter dan norma yang baik pada siswa. Siswa yang kurang peduli dalam peningkatan kemampuannya mungkin akan pasif dan tidak mau tahu apakah dirinya sudah mencapai kompetensi yang diinginkan atau belum. Jika siswa tidak bisa maka mereka akan pura-pura bisa atau menutupi ketidakmampuannya tersebut. Sedangkan guru tidak menghendaki hal seperti itu. Selain memberi penilaian akademik, siswa juga diharapkan memiliki norma-norma yang baik termasuk jujur pada diri sendiri dan orang lain, rendah hati, menerima kritik dan saran dari oranglain serta tidak memaksakan kehendak. Semua itu akan menjadi indah jika dilandasi dengan ikhlas agar siswa dan guru dapat selalu merefleksi dan mengintrospeksi diri. Jadi tidak hanya formalitas yang diutamakan namun kualitas normatif siswa juga penting untuk membentuk sikap dan karakter yang baik di masa mendatang.

    ReplyDelete
  40. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Membaca Elegi di atas saya menangkap bahwa Formal dan Normatif sama-sama belum bisa menahan ego mereka masing-masing. Mereka terjebak di dalam ruang yang sempit dan tidak bisa menempatkan diri dengan menembus ruang dan waktu. Jangan-jangan pandangan saya ini juga terperangkap ke dalam ruang kecil komentar saya sendiri. Semoga tetap jadi pembelajar, walau tak kunjung pandai.

    ReplyDelete
  41. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Melihat dunia sekitar, dari yang dekat keluarga kita, masyarakat sekitar kita, tidak sedikit yang menilai sesuatu dari segi formalnya. Bahkan di dunia pendidikan. Tidak sedikit orang memandang bahwa kesuksesan dalam belajar semata-mata dilihat dari penilaian formatif, skor ujian. Memang benar, salah satu tolok ukurnya adalah nilai formatif, namun demikian tentu tidak seharusnya penilaian normatif itu dinomor duakan. Bagaimana skill anak, bagaimana karakternya, bagaimana kemampuan toleransinya, hal-hal seperti itu tentu sangat diperlukan dalam kehidupan. Maka sebenar-benar penilaian haruslah beriringan antara formatif dan normatif.

    ReplyDelete
  42. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Setelah membaca elegi ini, saya jadi mengerti bahwa menilai secara formal saja tidaklah cukup namun perlu mempertimbangkan penilaian normatif juga, setiap penilaian memiliki dimensi tersendiri namun sebagaimana yang dikatakan pada elegi tersebut bahwa setinggi-tingginya penilaian formal tidaklah akan mampu melebihi penilaian normatif namun keduanya tidak akan pernah melebihi nilai spiritual.
    Setinggi-tingginya pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif, yaitu mempertimbangkan bahwa “sesuatu” lebih di atas atau lebih baik dari “sesuatu yang lainnya”, namun bukan berarti mengabaikan keberadaan dari salah satunya sebab keduanya memiliki keterkaitan. misalnya dalam pembelajaran menilai siswa tidak hanya formatifnya saja tetapi juga mempertimbangkan bagaimana proses yang dilalui siswa untuk memperoleh nilai formatif tersebut, sebab keduanya diperlukan.

    ReplyDelete
  43. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Manusia terkadang memang seperti digambarkan dalam elegi tersebut. Manusia selalu ingin dipandang menjadi yang baik, bahkan terbaik. Meskipun untuk menutupi hal yang tidak baik dalam dirinya. Hal inilah yang menjadikan manusia tertutup mata hatinya karena orientasinya adalah terlihat baik, bukan menjadi lebih baik. Sehingga secara tidak langsung dia telah memaksa orang lain untuk memberi penilaian yang terbaik baginya, walaupun sebenarnya ia tidak pantas menerimanya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  44. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kemampuan kita akan sesuatu terkadang akan membentuk diri kita yang baik maupun yang buruk. Sifat-sifat kita, tutur kata kita, perbuatan kita, semuanya adalah gambaran dari siapa diri kita sebenarnya. Dalam menilai diri sendiri, tidak bisa sama dengan yang dinilai oleh orang lain. karena pada hakikatnya masing-masing individu memiliki perbedaan dalam memberikan penilaian. Jika memang kita dirasa tidak baik oleh orang lain, lantas kita akan marah kepada orang yang menilai kita. Namun, hal yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana caranya kita bisa memperbaiki diri kita agar tidak dinilai negatif oleh orang lain. Ini akan membuat kita selalu mengintrospeksi diri kita dari apa yang dikatakan orang lain terhadap kita. Janganlah sekali0kali berfikir kita yang terbaik. Ego adalah salah satu yang menghancurkan diri kita. Rendahkan ego dan bersikaplah tawadu’. Karena itu yang akan memberikan kenyamanan dalam hidup kita.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  45. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Perdebatan antara normatif dan formal tidak akan berhenti karena memang tidak akan ketemu benang merahnya. Mereka berada pada daerah yang berbeda, namun alangkah indahnya bila saling melengkapi. Kita memang ingin menjadi yang terbaik, tentu saja. Namun jika kita hanya fokus untuk menjadi yang terbaik melalui cara pandang formal dan mengabaikan aturan-aturan yang ada dalam normatif, maka usaha kita akan sia-sia karena hasilnya hanya dinikmati oleh diri sendiri. Kita tidak memikirkan sekitar, tidak memiliki koneksi, tidak dipandang baik, tidak mengikuti aturan. Namun jika keduanya disinkronkan, maka akan jauh lebih baik.

    ReplyDelete
  46. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Menurunkan ego dan kesombongan itu diperlukan dalam hal menuntut ilmu. Kita menuntut ilmu juga sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan seorang guru. Ikhlas dalam menemba ilmu dan selalu berusaha serta berdoa juga diperlukan. Semua yang ada itu pasti ada cara mainnya. Bukan dengan sesuatu yang instan saja. Dengan cara dan fasilitas yang telah diberikan, kita dapat menerima dan menggali ilmu yang lebih dalam lagi ketimbang harus dengan cara yang instan. Kesombongan dan ego bisa merusak pengetahuan kita sendiri. Hanya diri kita yang dapat mengendalikannya.

    ReplyDelete
  47. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terima kasih Prof atas ilmu yang sudah diberikan. Begitu asiknya saya membaca ulasan di atas. Normatif masih mau menerima masukan dari orang berambut putih. Ini pertanda bahwa normatif masih memiliki sikap terbuka terhadap masukan dari orang berambut putih. Sedangkan formal hanya mengacuhkan saja dan masih mengedepankan ego sendiri. Saya sangat senang belajar filsafat, yang mana telah meruntuhkan ego saya terlebih dahulu. Tuhan juga mengizinkan saya perlahan-lahan memahami ilmu filsafat itu sendiri. Saya juga semakin menyadari betapa sulitnya proses yang dilalui saat ingin meruntuhkan ego di dalam diri. Hal ini membuka pandangan bagi saya bahwa jika menghendaki suatu ilmu yang lebih tinggi, maka hendaklah bersiap-siap untuk meruntuhkan ego dan melepaskan jubah kesombongan sejauh mungkin. Semoga Tuhan mengarahkan pada arah kebaikan bagi kita yang sedang berjihad di jalan Allah, yaitu berjihad menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  48. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Elegi menggapai menilai normative ini menjadi pengingat bagi kami karena relevan dengan situasi pembelajaran filsafat yang kami lalui. Elegi ini mengingatkan kami bahwa kami harus terus rendah hati, tidak sombong, sabar, ikhlas dalam mengikuti pembelajaran filsafat, termasuk dalam membaca dan membuat komentar dari elegi-elegi yang Prof Marsigit buat. Bila kami merasa bisa, tidak ikhlas, tidak rendah hati kemudian memaksa untuk mendapatkan nilai yang terbaik maka itulah sebenar-benar kesombongan bagi kami. Terima kasih Prof Marsigit atas elegi-elegi yang Bapak buat. Semoga senantiasa menjadi pengingat bagi kami.

    ReplyDelete
  49. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi diatas saya menyimpulkan bahwa kita harus bisa menempatkan sifat Normatif dan Formal sesuai ruang dan waktunya. Dalam kondisi Normatif kita harus lebih terbuka namun tetap berkarakter, sedangkan dalam kondisi Formal kita harus mengikuti aturan yang ditetapkan atau ego dari si Formal. Menilai Normatif terkadang lebih dibutuhkan dibandingkan menilai Formal, namun pada akhirnya menilai Formal yang lebih sering digunakan.

    ReplyDelete
  50. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca refleksi di atas, saya mencoba merefleksikan terhadap disi saya sendiri sesuai dengan pesan moral yang saya peroleh dari elegi tersebut. Refleksi yang saya lakukan terutama tentang usaha saya mengikuti perkuliahan filsafat. Terkadang saya memang masih sombong, tidak berusaha tetapi seoalh ingin terlihat berusaha, belum membaca tetapi seolah ingin terlihat sudah membaca, maka tidak heran jika saya seing mendapat nilai nol di tes jawab singkat. Semua hal ingin saya lakukan dengan instan, tetapi sesungguhnya proses itulah yang harusnya penting yang mampu membawa kita mendapat nilai yang terbaik.

    ReplyDelete
  51. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Tanpa disadari sikap normatif dan formal melekat pada diri kita. Kita sering menilai orang hanya berdasarkan penampilan. Penilaian yang digunakan di sekolah juga berdasarkan hasil belajar (mangedepankan formal). Namun kurikulum di Indonesia sekaranh yaitu Kurikulum 2013 dia memandang dari dua sudut pandang yaitu formal dan normatif. Formal dari pencapaian prestasi akademik sedangkan normatif dari prilaku anak di kelas. Jika kurikulum ini diterapkan dengan baik maka akan membentuk karakter anak yang kuat berlandaskan Pancasila dan memiliki kecerdasan yanh baik pula.

    ReplyDelete
  52. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Setelah membaca elegi menggapai menilai normatif, saya menangkap bahwa dalam kehidupan yang kita jalani ini antar sesama manusia harus saling menghargai sesuatu berdasarkan proses-prosesnya dengan tidak melupakan pertimbangan-pertimbangan. Itulah pemahaman nilai normatif yang saya pahami dari elegi ini. Untuk menilai sesuatu dibutuhkan beberapa penilaian, diantaranya penilaian formal dan normatif. Dalam menilai ini, tidak boleh condong ke salah satunya saja, entah itu ke formalnya saja atau ke normatifnya saja, tetapi formal dan normatif harus seimbang. Inilah sebenar-benar penilaian relatif manusia.

    ReplyDelete
  53. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Dalam kehidupan seorang manusia menginginkan hasil yang terbaik. Banyak hal dilakukan dengan berbagai acam cara dalam menncapai hasil tersebut. Namun tidak dapat terjadi secara instan, dibutuhkan proses untuk mencapainya. Nilai normatif maupun nilai proses, sebenarnya tidak ada yang instant. Bahkan sesuatu yang instant akan menimbulkan ketidakharmonisan karena tidaksamanya proses yang dialami dengan hasil yang diperoleh. Semua memiliki prosesnya masing-masing. Tergantung cara kita dalam menghadapi proses tersebut, apakah menikmati proses atau menjadi proses yang membebankan.

    ReplyDelete
  54. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terkadang seseorang merasa bangga atas penilaian formal yang baik atas dirinya dan berpuas diri apabila telah berhasil meraih predikat baik pada penilaian formatif. Padahal penilaian yang sesungguhnya adalah penilaian normatif walaupun tidak secara formal jelas diungkapkan.

    ReplyDelete
  55. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini menyadarkan saya bahwa dalam kehidupan ini jangan memandang sesuatu hal dari satu sisi saja. Janganlah hanya memandang sesuatu secara formal saja, karena itu akan menyebabkan kita dipenuhi rasa kebanggaan dan berujung pada kesombongan. Misalnya kita menilai sesuatu hanya secara formal saja seperti kaya atau miskin. Hal itu bukanlah segalanya karena masih ada pandangan normatif yang menilai sesuatu dari baik dan buruknya. Sejatinya kita manusia itu sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan taqwa kita kepadaNya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  56. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Penilaiaan formal maupun normatif sama-sama penting tergantung ruang dan waktunya. Dalam mengukur proses kita bisa menggunakan penilaian normatif, sedangkan untuk menilai hasil bisa dengan penilaian formal. Dalam mengevaluasi pembelajaran, maka kita bisa memakai kedua-duanya.

    ReplyDelete
  57. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    menurut KBBI normatif berarti memegang teguh pada norma; menurut norma atau kaidah yang berlaku, sedangkan formal adalah sesuai dengan peratural yang sah; menurut adat kebiasaan yang berlaku; resmi. dari dialog antara fromal dan normatif di postingan ini, hal yang dapat saya pahami adalah bahwa terkadang manusia (mahasiswa) ingin dianggap terbaik namun tidak mementingkan norma-norma yang ada untuk mengantarkannya kepada kategori "terbaik" tersebut sehingga muncullah sifat angkuh/sombong untuk itu kita harus selalu mengoreksi diri kita jangan sampai ingin yang terbaik namun tidak mau menikmati proses menjadi yang terbaik itu (menginginkan hal yang serba instan).

    ReplyDelete
  58. Dalam kehidupan pun banyak sekali aturan-aturan “formal” yang harus manusia jalani. Secara tidak tertulispun hokum “normative” berlaku dalam masyarakat. Namun seringkali kita terlalu memaksakan hokum “formal” tersebut. Sebenranya yang bisa membawa keseimbangan antara normative dan formal adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita mengendalikannya, mengaturnya dalam diri kita.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  59. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Di dalam tatanan budaya masyarakat yang bersifat edukatif pasti memiliki berbagai macam norma atau aturan, baik yang bersifat mengikat seperti norma hukum, maupun yang tidak mengikat seperti norma budaya yang lebih bersifat tentang kebiasaan hidup sehingga akan menimbulkan nilai estetika jika dilaksanakan. Namun, jika kita menjalani hidup tanpa mengikuti norma-norma yang ada maka kita akan dikenakan sanksi sebagai bukti bahwa kita adalah masyarakat yang hidup dinegara hukum. Sanksi tersebut bisa bersifat hukuman fisik maupun hukuman mental yang bersifat impact dari kehidupan sosial-budya.

    ReplyDelete
  60. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam penilaian normatif, ilmu yang di peroleh, buku yang dibaca dengan keikhlasan lebih unggul dibanding nilai yang di peroleh di kelas. Maka proses pembelajaran, sikap siswa lebih penting dibanding nilai berupa angka-angka. Karena itulah sebenarnya sulit untuk menilai siswa hanya dengan memberikan angka-angka pada raport karena banyak aspek lain yang tidak ternilai dibalik angka-angka tersebut.

    ReplyDelete
  61. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Menurut saya memang agak sulit untuk mendapat nilai terbaik jika hanya mengandalkan penilaian formatif saja. Memang benar ada baiknya jika normatif juga ikut melengkapi dalam menentukan nilai. Saya rasa tidak perlu diperdebatkan kenapa normatif kenapa formatif, toh keduanya tetap mempunyai aspek-aspek atau rambu-rambu penilaian. Yang terpenting adalah menghormati kesepakatan yang ada. Ikhlas dalam menjalaninya. Semoga menghasilkan nilai yang terbaik dan berkah.

    ReplyDelete
  62. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Kita tidak boleh memaksakan sesuatu karena segala sesuatu sudah ada takarannya, sudah diatur oleh sang maha kuasa. Begitu pula terhadap orang lain. Bagaimanapun pendapat orang lain harus kita terima karena setiap orang memiliki hak untuk mengungkapkan pemikirannya. Maka kita harus saling menghargai, jangan mudah terbawa emosi. Karena sebenar-benar orang yang kalah adalah mereka yang kalah terhadap dirinya sendiri yaitu karena tidak dapat menahan amarahnya.

    ReplyDelete
  63. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Segala sesuatu yang bersifat formal memang lihai menyembunyikan sesuatu. Formal selalu dibayang-bayangi peraturan dan harus terlihat atau memiliki image yang sempurna. Formal sangat dekat dengan idealisme yang segala sesuatunya harus terbaik dan sempurna. Namun hal tersebut berbenturan dengan fakta yang ada di lapangan yang lebih cenderung normatif, dialog tersebut mengindikasikan bahwa antara formal dan normatif menyandang banyak perdebatan dan perselisihan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  64. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Menukil perkatan dari orang tua berambut putih yang menyatakan bahwa zaman dimana kita hidup ialah zaman yang serba instan, sehingga harus sangat berhati-hati dalam bertindak. Baik itu formal maupun normatif tidaklah perlu menonjolkan hal-hal yang tidak diperlukan, sebaliknya harus bahu membahu memperbaiki dunia ini menuju yang lebih baikj. Sedangkan dari dialog tersebut formal lebih keras kepala dan merefleksikan jenis-jenis manusia yang ada di dunia ini, ada yang terlalu saklek memandang suatu peraturan formal sehingga mengabaikan nilai-nilai normatif yang telah berlaku di kehidupan yang sebenarnya jika dirunut "bijaksana". Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  65. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    "sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya"
    Perkataan dari orang tua berambut putih itu benar dan sudah seharusny kita menjalani hidup secara seimbang. Tidak bisa kita sepenuhnya mengutamakan yang satu dan menghilangkan satu lainnya karena hal itu akan mengganggu kestabilan dalam hidup. Salah satu hal yang perlu kita jalankan secara beriringan dan seimbang adalah tentang dimensi formal dan normative.

    ReplyDelete
  66. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Penilaian adalah suatu hal yang penting dilakukan dalam kehidupan ini. Penilaian dilakukan demi perbaikan kedepannya agar menjadi lebih baik dari sekarang. Setelah membaca elegi ini saya dapat mengetahui hakikat menilai formal dan normatif. Dalam hidup ini penilaian adalah hal yang sangat penting. Dengan penilaian tersebut kita dapat introspeksi diri.

    ReplyDelete
  67. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Saat ini memang dunia mengalami kemajuan yang sangat pesat di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Setiap orang mencoba untuk mendapatkan dan mengerjakan sesuatu secara instan dan cepat. Bahkan terkadang orang sudah tidak peduli akan penilaian yang diberikan oleh orang lain. Penilaian, baik yang normatif atau formal sebenarnya perlu dan tidak terlepas dari kehidupan kita. Dalam prakteknya diperlukan keikhlasan agar menjadi berkah.

    ReplyDelete
  68. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Pada dasarnya tingkatan dapat dibagi menjadi material, formal, norma, dan spiritual. Bisa juga ditmbah dengan legal. Berkaitan elegi tersebut, adakalanya dari tataran formal menuju ke tataran nrmatif perlu usaha yang tidak mudah. Harus mampu menghilangkan ego formal diri, untuk menggapai normative diri. Masyarakat, atau sekolah sebagai wadah yang lebih luas, mempunyai nilai formal dan normative sendiri, masingmasing memahami kedudukan diri dan tida saling memaksa. Maka sebenar-benar formal menjadi normative adalah ketika tidak saling memaksa untuk menilai satu dengan yang lain.

    ReplyDelete
  69. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba merefleksikan apa yang saya pahami tentang formatif dan normatif. Di dalam pendidikan, contoh formatif ialah nilai UN, jadwal belajar, jadwal ulangan, dan yang lainnya yang tercantum secara formal pada peraturan. Sedangkan contoh normatif ialah sopan santun, tata karma dan pesan moral lainnya yang diyakini di masyarakat namun tidak tertulis dalam peraturan.

    Sayangnya pelaksanaan normatif di masyarakat cenderung memaksa dan menjadi pencitraan belaka. Misalnya, guru mengajar sesuai jadwal agar memenuhi tuntutan jam mengajar saja tanpa memperhatikan apakah siswanya belajar dengan baik atau tidak. Contoh lain, siswa dipaksa mengejar nilai UN yang tinggi dengan berlatih soal-soal UN tanpa mengerti makna dibalik apa yang ia pelajari. Oleh karena itu hendaknya kegiatan formatif dilakukan dengan diiringi normatif dan dengan ikhlas.


    ReplyDelete
  70. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Penilaian normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda, tetapi dalam menjalani kehidupan ini keduanya haruslah seimbang. Formal dibutuhkan untuk mewujudkan suatu tujuan sehingga formal juga sebagai pegangan tapi terbatas pada dunia, sedang hal yang lebih penting dari itu adalah normatifnya karena mencakup dunia dan akhirat. Mengenali berbagai kesalahan dalam berdoa merupakan salah satu bentuk ikhtiar agar Allah berkenan mengabulkan doa kita. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanpa disadari masih banyak di antara kita yang egois dan tidak bersyukur karena tidak adanya ihtiar.

    ReplyDelete
  71. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa unutk menggapai normative maka diperlukan tulisan dan bacaan normative itu sendiri. Jika telah membaca dan menulis maka nilai normative akan berubah tidak menjadi rendah. Normative juga menyarankan untuk menurukan ego. Tidak semestinya kita meninggikan ego melapaui batas. Sehingga perlu kita unutk mengontrol ego kita masing masing.

    ReplyDelete
  72. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017
    Assalamualaikum, wr.wb.
    Setingi-tingginya penilaian, penilaian yang paling tinggi adalah penilaian spiritual, karena mampu menampung samua ranah penilaian. Penilaian normative menampung ranah fomatif dan material sehingga dalam kehidupan penilaian material (penilaian keberadaan mu secara fisik) dan penilaian formal (sesuai ilmu) saja tidak cukup penilaian itu harus ditingkatkan ke penilaian normative (penilaian sesuai sikap,normanya). Akan tetapi penilaian nya juga masih harus ditingakat lagi hingga ke penilaian spiritual (sesuai dengan ibadah mu kepada Tuhan). Orang yang memiliki ilmu akan lebih baik daripada yang tidak, akan tetapi ilmu tidak aka nada manfaatnya jika tidak berkah, tidak dicari dengan ikhlas dan tidak diperoleh dengan cara yang sejalan dengan aturanNya. Sekian dan Terima Kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  73. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Penilaian normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda, tetapi dalam menjalani kehidupan ini keduanya haruslah seimbang. Penilaian normatif menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dengan dimensinya. Sedangkan penilaian formal menurut pada peraturan yang berlaku. Sebagai seseorang yang sedang belajar, dalam berusaha meraih nilai yang baik kita juga seharusnya memperhatikan penilaian normatif dan formal. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketetuan yang diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatifnya, seperti sopan santun serta baik dan buruk, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas kita dengan jujur, bertanggung jawab, dan ikhlas.

    ReplyDelete
  74. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Penilaian normatif dan formal haruslah seimbang agar tidak bentrok dan anarkhis. Menjadi seorang guru yang memberikan nilai pada peserta didiknya haruslah adil. Jika tidak adil maka sesungguhnya guru tersebut telah berbuat dzalim kepada anak didiknya.

    ReplyDelete
  75. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Sesuatu yang paling bagus, paling baik, paling keren, paling canggih, dan paling-paling lainnya yang terbaik belum tentu cocok untuk kita. Karena itu semua belum tentu yang terbaik untuk kita. Yang terbaik untuk kta adalah yang sesuai dengan ruang dan waktu kita. Segala sesuatu jika tidak sesuai dengan ruang dan waktu yang kita miliki, tidak akan menimbulkan sebuah kenyamanan, tetapi justru keresahan, kebimbangan, kekhawatiran dan lain sebagainya. Dengan demikian, sebenar-benar permohonan kepada Tuhan adalah meminta yang terbaik, bukan yang paling baik.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  76. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Melanjutkan komentar saya sebelumny, saya bersyukur bisa membaca elegi ini. Terutama dangan apa yang dikatakan oleh normatif. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Kalimat-kalimat ini mengingatkan saya agar selalau ikhlas dalam menjalani hidup. Yakin kepada Allah SWT ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan. RencanaNya jauh lebih indah daripada rencana kita.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  77. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Dunia ini terdapat normatif dan formal. Hal yang kontradiktif, dan juga saling melengkapi. Normatif dan formal harus saling melengkapi dalam hidup. salah satunya tidak dapat brediri sendiri.

    ReplyDelete
  78. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dalam kehidupan seorang manusia menginginkan hasil yang terbaik. Dalam mencapai hasil tersebut tidak dapat terjadi secara instan, dibutuhkan proses untuk mencapainya. Proses terbaik akan menghasilkan output terbaik. Tidak ada batasan untuk hasil atau proses terbaik selama kita melakukannnya sebaik yang bisa kita lakukan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  79. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Nilai normatif maupun nilai proses, sebenarnya tidak ada yang instant. Selain itu, pada hakikatnya tidak ada batasan untuk nilai terbaik, namun jika terdapat batasan, itu karena dari penilai itu menetapkan batasan-batasan untuk memudahkan penilaian.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  80. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kenormatifan sebuah nilai itu sebenarnya sangat mendukung untuk memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lagi dengan cara diberitahukan nilai yang sesungguhnya. Karena jika mereka selalu memiliki nilai yang objektif, maka hal ini akan memberikan dampak bagi yang selalu mendapatkan nilai yang rendah. Kebanyakan pesimisme peserta didik dikarenakan selalu mendapatkan nilai ulangan yang jelek dan diketahui banyak kawan mereka.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  81. Rosnida Nurhayati
    PPs PMB 2017
    17709251042

    Perkembangan jaman memang terkadang menjadikan kita harus cepat bergerak untuk menyesuaikannya. Waktu yang semakinlama semakin berharga terkadang membuat manusia untuk ingin cepat mnyelesaikan suatu kegiatan. Terkadang ada hal-hal yang lupa dilakukan, terkadang menabrak aturan-aturan main sehingga menimbulkan suatu hal yang baru dengan keterpaksaan. Suatu kebiasaan baru yang kadang menjadi norma baru, bukan berarti suatu hal yang lama itu jelek. Mungkin perlu penyesuaian di segara lini. Tapi adat yang baik atau disebut norma, perlu dipertahankan.

    ReplyDelete
  82. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam kehidupan ini, kita harus menyadari kedudukan masing-masing dan berusahalah untuk selalu melangkah menuju kedudukan yang lebih tinggi lagi. Namun untuk itu, banyak sekali yang harus dilakukan dan harus dipahami. Orang yang paling merugi adalah orang-orang yang sombong atas kedudukannya, sedangkan diatas yang tinggi masih ada yang lebih tinggi, dan lebih tinggi lainnya.

    ReplyDelete
  83. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi, kita juga haruslah mampu mendengarkan masukan, nasehat dan semua kritikan yang bermanfaat untuk kebaikan kita. Bertindak lah sopan dan santun karena hal tersebut merupakan cerminan pribadi diri, jangan sampai apa yang kita lakukan hanya akan mempersulit diri sendiri untuk menggapai tingkatan yang lebih tinggi dari dimensi kehidupan.

    ReplyDelete
  84. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Yang sebenar-benarnya Benar pasti akan benar. dan tidak akan bersifat kontradiktif. Tetapi pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat egois. Sifat egois terjadi karena tidak kuasa menahan keinginan. Selalu merasa paling benar. Merasa menjadi yang terbaik. Tetapi, bukankah yang sebenar-benarnya Benar adalah benar? Terkadang manusia sibuk mencari cermin untuk diberikan kepada manusia lain. Sampai-sampai lupa bahwa dia sendiri yang sebenarnya jauh lebih membutuhkan cermin itu. Bukankah yang sebenar-benarnya Benar tidak akan kontradiktif? Semoga kita selalu menjadi manusia yang tawadhu' dan jauh dari rasa sombong. Serta mampu menemukan yang sebenar-benarnya Benar..

    ReplyDelete
  85. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Keadaan formal yang meminta nilai terbaik merupakan keangkuhan. Hal ini tentu bisa dengan jelas langsung direfleksikan ke pendidikan Indonesia. Siswa sebagai Formal yang menuntut nilai terbaik tapi belum mampu menjalanan normatifnya.Namun disisi lain, formal juga memberi standar yang sangat tinggi untuk digapai dan cenderung memaksakan. Cukup lah pertengkaran ini terjadi, karena membenci normatif itu tidak baik. Formal pun harus berproses untuk menghilangkan keangkuhannya.

    ReplyDelete
  86. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Pertentangan antara formal dan normatif sudah menjadi pembahasan klasik. Namun sebenarnya kedua hal ini tidak semsetinya dipertentangkan, bahkan harus diseimbangkan. termasuk dalam hal penilaian. Sudah bukan jamannya lagi menilai segala sesuatu dar hasil dan angka-angka saja, namun proses juga harus diperhatikan. Bisa saja hasilnya baik namun dalam prosesnya melakukan berbagai kecurangan. Bisa saja hasilnya ditunjukkan dengan angka-angka yang tinggi, namun dalam prosesnya tidak jujur dan tidak ikhlas. Disisi lain, kita juga tidak bisa menyangkal bahwa hasil juga sangat penting dalam setiap hal. Maka dari itu antara penilaian formal dan normatif harus selaras.

    ReplyDelete
  87. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas eleginya, Prof. Saya setuju bahwa nilai itu bukan segalanya, yang paling penting adalah ilmu itu sendiri dan bagaimana proses mendapatkannya. Akan sia-sia jika nilai baik tapi diperoleh dari mencontek, akan sia-sia pula jika nilai baik namun akhlak tidak baik. PR pendidikan Indonesia saat ini adalah menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul dalam intelektual tetapi juga anggun dalam moral.

    ReplyDelete
  88. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1-Peendidikan Matematika A 2015

    Jika dilihat dari percakapan, formal dan normatif seprti dua hal yang berbeda. penilaian sebaiknya tidak secara formal saja namun juga menilai normatif. Antara formal dan normatif harus seimbang.

    ReplyDelete
  89. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Terima kasih Prof. atas informasi dan ilmunya yang telah dibagikan. Menurut saya, pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran seharusnya mendapatkan perhatian secara khusus karena hal tersebut merupakan rekapan hasil akhir dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dan penting adanya untuk melakukan penilaian secara formal maupun normative yang dapat memberikan motivasi serta tidak menjatuhkan harga diri siswa.

    ReplyDelete
  90. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Penilaian normatif dan formal memang berbeda. Penilaian normatif yaitu penilaian sesuai sikap atau norma, sedangkan penilaian formal yaitu penilaian sesuai ilmu. Penilaian formal saja tidak cukup, dalam kehidupan ini keduanya harus beriringan dan harus didasari rasa ikhlas dalam menjalankannya.

    ReplyDelete
  91. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Pada elegi tersebut, ada kalimat yang menarik perhatian saya, “…ikhlas lebih unggul daripada pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan ikhlas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. ..”.
    Saya sangat setuju dengan perkataan normatif. Bahwa ilmu yang diperoleh seseorang dengan keikhlasan jauuh lebih berharga dibandingkan nilai-nilai yang hanya berupa angka-angka.Menurut saya, nilai bagus dapat diperoleh dari berbagai cara, termasuk cara yang tidak baik. Sedangkan keikhlasan seseorang dalam menuntut ilmu merupakan sesuatu yang amat beharga, karena tidak semua orang dapat melakukannya. Sangat disayangkan, saya masih sering menjumpai orang tua maupun siswa itu sendiri yang berambisi dan beroerientasi pada nilai tinggi.

    ReplyDelete
  92. Elegi Menggapai Menilai Normatif
    Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Nilai itu bukan akhir dari segalanya. Akan tetapi sebuah proses untuk mendapatkan dan juga apa yang didapatakan itulah yang utama. Penilaian yang dilakukan seharusnya antara niai hasil test dan juga dan proses yang dilakukan. Agar antara keduanya saling seimbang.

    ReplyDelete
  93. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Formal dan normative merupakan dimensi-dimensi yang ada dalam filsafat. Formal diartikan sebagai dasar aturan- aturan dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai ruang dan waktunya. Menurut normative, ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Seseorang yang mampu menyadari ruang dan waktu akan menjadi lebih baik lagi. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Pandangan normative menyangkut pandangan dunia dan akhirat.

    ReplyDelete
  94. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    15301241046
    Pendidikan Matematika A 2015

    Dalam filsafat terdapat formal dan normatif. Menurut saya janganlah memandanh sesuatu sebagai formal tapi sebagai normatif. Seperti ikhlas lebih unggul dari pada pandai, logos lebih unggul daripada pandai. Normatif tidak hanya terpaku dengan kehidupan dunia tapi juga menyangkut kehidupan di akhirat nanti.

    ReplyDelete
  95. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Zaman semakin maju, penilaian pun semestinya tidak terus-terusan konvensional atau kuno. Melakukan penilaian atau dalam menilai sesuatu tidak dari hasil dan angka-angka saja. Namun, proses juga harus diperhatikan. Karena banyak sekali macam proses mencapai jawaban tersebut, apakah anak tersebut mencintai budaya instant yaitu dengan mencontek, atau dengen perjuangannya menganalisis soal kemudian langkah selanjutnya hingga kemudian ditemukan sebuah jawaban. Oleh karena itu penilaian formal dan normative harus selaras.

    ReplyDelete
  96. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Dalam tatanan kehidupan, khususnya dalam kehidupan masyarakat berbudaya, pasti ada suatu orma yang sekiranya mengikat maupun tidak terikat. Suatu penilaian normatif serta formal tidak bisa dipisahkan diantara keduanya. Tidak bisa suatu penilaian hanya dilakukan secara formal tanpa melihat aspek normatifnya, begitu pula kebalikannya, tidak mungkin hanya dilakukan penilaian dalam aspek normatif saja melainkan juga memerlukan penilaian dalam aspek formal. Jika hanya memandang dari salah satu aspek saja, kita tidak bisa mendapatkan suatu penilaian yang baik yang kedepannya sebagai bahan evaluasi bagi setiap individu.

    ReplyDelete
  97. Nur’aini Habibah Sa’diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Seperti yang dikatakan oleh Orang Tua Berambut Putih bahwa sekarang ini sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Terkadang orang sudah tidak peduli akan penilaian yang diberikan. Berdasarkan elegi ini pula penilaian terdapat dua yaitu formal dan normatif. Walaupun keduanya berbeda, formal dan normatif memiliki hubungan. Keduanya memiki peran dan tidak terlepas dari kehidupan, sehingga keduanya perlu ada. Keduanya perlu dilakukan dengan tawaduk dan ikhlas.

    ReplyDelete
  98. Okta islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Postingan di atas membuat kita melihat dari berbagai sudut pandang. Nilai-nilai yang ada didunia ini begitu banyak, namun yang sering diperdebatkan adalah nilai normatif dan nilai formatif. Kedua nilai tersebut harus berjalan beriringan, tidak bisa berat sebelah. Akan tetapi, nilai normatif memang jauh lebih unggul dibandingkan nilai formatif karena nilai normatiflah yang membentuk individu.

    ReplyDelete
  99. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi ini menceritakan tentang dua hal yang berbeda dimensi, yaitu formal dan normatif. Namun dalam hidup ini, keduanya harus berada dalam keadaan seimbang.
    Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Orang Tua Berambut Putih, bahwa kita sedang berada dalam jaman praktis, instan, dan berburu nikmat. Sekarang banyak sekali orang yang hanya peduli pada penilaian formatif, tanpa memikirkan bahwa manusia juga harus memperhatikan penilaian normatif yang di dalamnya berisi mengenai sopan santun dll.

    ReplyDelete
  100. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Saya sependapat dengan Orang Tua Berambut Putih bahwa saat ini kita sedang berada pada jaman yang serba instan dan praktif. banyak orang yang menghalalkan segara cara agar nilai formatifnya baik tanpa mempedulikan nilai normatif. padahal dengan seperti itu dia telah mendapatkan nilai normatif yang buruk. oleh karena itu, sebaiknya dalam hidup ini formatif dan normatif haruslah seimbang.

    ReplyDelete
  101. Yuntaman Nahari
    18709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal. Penilaian dalam pembelajaran terdiri dari penilaian materi, formal, dan normatif. Penilaian normatif adalah sebenar-benar penilaian yang ada. Hendaknya kita tidak hanya mengejar penilaian formal semata, tetapi alangkah baiknya juga memperhatikan dimensi normatifnya. Seringkali kita hanya sekedar memenuhi kewajiban tugas untuk menggapai nilai formal tanpa memperhatikan dimensi normatifnya seperti jujur dan bertanggungjawab. Melanggar norma untuk mengejar nilai formal bukanlah penilaian sesunggughnya. Karena sebenar-benar penilaian adalah penilaian Allah SWT.

    ReplyDelete