Oct 6, 2013

Elegi Menggapai Menilai Normatif




Oleh Marsigit

Formal:
Wahai normatif, dikarenakan alasan formal, maka aku perlu penilaian sifat diriku oleh dirimu?



Normatif:
Menilai sifat dirimu itu termasuk wilayah normatif.

Formal:
Ya silahkan, itu alasanmu.

Normatif:
Aku lebih enjoy menikmati hidupku yang normatif daripada harus memberi sifat formal pada dirimu.

Formal:
Tetapi ini adalah tanggung jawabmu?

Normatif:
Tanggung jawab yang mana?

Formal:
Bukankah engkau telah menyediakan diri bergaul secara formal denganku?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Apakah engkau lupa dengan jadwal-jadwalmu. Bukankah engkau mempunyai jadwal mengajar bagi para formal pada hari Senin, Selasa, Rabu, dst..?

Normatif:
Oh..iya maaf saya sampai agak lupa. Terimakasih anda telah mengingatkan hal itu kepadaku. Lalu kenapa engkau begitu semangat menginginkan penilaian formal dariku?

Formal:
Bukankah engkau tahu bahwa penilaian formalmu itu secara formal juga menunjukkan dimensi formalku. Sehingga penilaian formalmu itu sangat bermanfaat untuk meningkatkan dimensi formal diriku.

Normatif:
Tetapi apakah engkau tahu betapa sulitnya aku memberikan penelaian formal terhadap dirimu?

Formal:
Mengapa sulit, cukup berikan saja nilai bagiku?

Normatif:
Engkau menginginkan nilai berapa?

Formal:
Aku menginginkan kalau tidak “terbaik”, ya “terbaik” atau boleh yang lain yaitu “terbaik”. Tetapi setidaknya jika engkau tidak mau memberikan nilai “terbaik” kepadaku, maka cukup berikan saja nilai “terbaik” kepadaku. Sehingga jika engkau tidak mau memberikan nilai tertinggi “terbaik” kepadaku, aku pun bersedia diberikan nilai terendah asalkan engkau tulis dengan huruf “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Lho apa buktinya aku memaksa. Bukankah aku telah memberikan engkau beberapa alternatif bagimu untuk menilai diriku. Terserah saja bagimu, asalkan aku mendapat nilai “terbaik”.

Normatif:
Lho kok memaksa?

Formal:
Siang dan malam aku berdoa agar darimu aku mendapatkan nilai “terbaik”. Jika engkau memberikan nilai “terbaik” maka berarti terkabulah doaku itu.

Normatif:
Sikapmu itulah yang membuat saya merasa berat untuk memberikan penilaian terhadap dirimu?

Formal:
Kalau engkau enggan menilai maka bagaimana tanggungjawabmu?

Normatif:
Baiklah, sebelum aku akhirnya terpaksa memberikan penilaian terhadapmu, maka jawablah pertanyaan-pertanyaanku berikut?

Normatif:
Apakah engkau sudah melaksanakan semua nasehatku?

Formal:
Nasehatmu terasa tidak cocok dengan hati dan pikiranku.

Normatif:
Bukankah aku telah mengembangkan skema agar semua hati dan pikiranmu dapat terfasilitasi dalam skema yang aku kembangkan?

Formal:
Aku tidak peduli dengan skemamu. Dan aku juga tidak mau hati dan pikiranku terfasilitasi oleh skemamu.

Normatif:
Terus apa maumu dan bagaimana saranmu kepada diriku.

Formal:
Pertama memandang dirimu, aku tidak suka denganmu.

Normatif:
Kalau begitu engkau telah bicara tentang “normatif”.

Formal:
Apa buktinya?

Normatif:
Bukankah engkau bicara tentang “suka” atau “tidak suka”

Formal:
Terserah apa penilaianmu teradap diriku, tetapi itulah faktanya bahwa aku tidak suka kepadamu.

Normatif:
Baik, karena suka dan tidak suka adalah hakmu, tetapi kenapa engkau memaksa diriku untuk memberikan nilai “terbaik”?

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Ternyata engkau masih berkutat dalam bidang normatif saja. “Memaksa” adalah aspek normatif.

Formal:
Memangnya kenapa, apakah aku tidak boleh memaksa dirimu?

Normatif:
Jika di dunia ingin diterapkan keadilan maka yang berhak memaksa bukan hanya dirimu, tetapi diri yang lain juga berhak memaksa. Artinya sikapmu yang demikian akan menimbulkan keadaan anarkhis. Itulah kekacauan aturan yang ada. Bukankah engkau tahu bahwa salah satu tugasku adalah juga menegakkan peraturan?

Formal:
Aku lebih baik diam, sambil berharap-harap cemas?

Normatif:
Normatif berusaha menggapai dan merangkum semua yang formal.

Formal:
Ah..omong kosong. Karena engkau juga tidak sepenuhnya melaksanakan yang formal?

Normatif:
Maksudmu?

Formal:
Engkau tidak menyediakan buku bagiku. Engkau tidak menunjuk buku bagiku. Engkau tidak memberi petunjuk teknis bagiku. Engkau mengajar tidak urut dan tidak sistematis.

Normatif:
Semua yang engkau sebut itu adalah material, mekanistis dan paling banter formal. Tetapi belumlah normatif.

Formal:
Wahai normatif, janganlah bersembunyi dan berdalih dibalik normatif. Memangnya engkau juga tidak membutuhkan material dan formal?

Normatif:
Aku membutuhkan itu semua. Tetapi aku mengharapkan bahwa dimensimu juga bisa naik menjadi tataran normatif.

Formal:
Jangan mengguruiku. Aku telah menyadari bahwa diriku juga bisa normatif.

Normatif:
Normatif yang mana?

Formal:
Normatifku lain dengan normatifmu.

Normatif:
Beri contohnya.

Formal:
Normaku adalah walau aku tak bisa ya jangan sampai ketahuan tidak bisa. Walau aku tak berusaha ya jangan sampai tahu kalau tak berusaha. Walau aku salah ya jangan sampai ketahuan kalau aku salah. Walau aku membaca ya jangan sampai ketahuan kalau aku belum membaca. Walau cuma tahu sedikit ya aku minta nilai “terbaik”.

Normatif:
Padahal normaku itu bertentangan dengan normamu.

Formal:
Lho, normamu harus sama dengan normaku.

Normatif:
Lho main paksa.

Formal:
Siapa yang main paksa, cuma merayu agak keras.

Normatif:
Wahai formal, lama-lama habis kesabaranku. Engkau telah bersifat tidak normatif terhadap diriku dengan cara memaksakan normamu kepada diriku.

Formal:
Lau apa maumu?

Normatif:
Aneh juga?

Formal:
Apanya yang aneh?

Normatif:
Tidaklah semua formal menyadari yang normatif. Sebaliknya yang normatif berusaha menampung yang formal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Engkau formal berusaha menampung semua normatif. Maka itulah salah satu bentuk kesombonganmu.

Formal:
Ah..berfilsafat lagi. Bosan aku.

Normatif:
Itulah yang engkau sebut bahwa filsafat adalah normatif.

Formal:
Apa relevansinya?

Normatif:
Itulah kontradiksinya. Tiadalah mudah memberikan memberi nilai kepada dirimu.

Formal:
Bagiku sangat mudah. Tulis saja “terbaik”. Beres.

Normatif:
Wahai formal. Ternyata engkau tidak hanya sombong, tetapi juga berpotensi anarkhis, karena selalu main paksa.

Formal:
Apa teorimu menilai diriku?

Normatif:
Oh yang ini engkau berusaha menyadari? Menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan.

Formal:
Bertele-tele.

Normatif:
Baik akan aku katakan bahwa penilaian itu sesuai dengan dimensinya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Menilai kemampuan bayi yang baru lahir, dari gejalanya apakah bisa menangis, bergerak ..dsb.
Menilai siswa SD dari kemampuannya sesuai dengan kemampuan tingkat ke SD an.

Formal:
Lha kalau saya?

Normatif:
Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif. Maka ikhlas lebih unggul dibanding pandai. Membaca banyak elegi dan buku-buku dengan iklhas itu lebih unggul dibanding nilai yang engkau dapat di kelas. Rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati. Logos lebih unggul dibanding mitos. Sabar lebih unggul dibanding tergesa-gesa. Berdoa adalah paling tinggi dibanding yang lainnya. Bertanya lebih unggul daripada mengumpat. Tidak prejudice lebih unggul dari pada prejudice. Memaafkan lebih unggul dari pada mendendam. Ikhlas lebih unggul dari pada tersingung di hati. Menyadari ruang dan waktu akan lebih baik lagi. Artinya sopan santun akan lebih unggul daripada vulgar dan arogan. Normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Itulah dasar-dasar penilaianku kepadamu.

Formal:
Aku ini formal, bukan normatif. Tidak perlu pertimbangan macamn-macam.

Normatif:
Bukankah engkau telah teken kontrak bersedia bergaul dengan diriku. Artinya engkau bersedia menaikkan dimensi dirimu menuju tataran normatif? Itulah sebenar-benar refleksi.

Formal:
A..aa.ku bersedia tetapi normaku berbeda dengan normamu. lagi pula dimensiku itu kelihatannya lebih tinggi daripada kamu.

Normatif:
Janganlah selalu bersembunyi dibalik perbedaan norma. Bukankah diantara kita masih bisa dicari norma-norma universal? Tentang perbedaan dimensi, tentu ada orang lain yang lebih berhak menilainya.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Secara universal, jika formal menginginkan penilaian normatif ya harus memenuhi normatif universal.

Formal:
Maksudmu?

Normatif:
Jika engkau enggan membaca tulisanku maka nilai normatifmu rendah.
Jika engkau enggan membaca buku-buku referensiku maka nilai normatifmu ya rendah.

Formal:
Apakah engkau akan manilai diriku “rendah”. Oh jangan jangan nilai aku “rendah”. Jika terpaksa engkau akan menilai diriku “rendah”, boleh asal bukan “rendah”. Tetapi silahkan menilai apaun asal jangan “rendah”. Karena aku tidak mau nilai “rendah”. Silahkan sembarang nilai diriku, asal bukan nilai “rendah”.

Normatif:
Bukakan banyaknya permintaanku itu telah menunjukkan sebenar-benar dimensimu? Terbukti saya menemukan banyak sekali pertentangan dalam dirimu. Membiarkan pertentangan dalam diri sendiri tanpa berusaha mengatasinya itu adalah perbuatan mitos.

Formal:
Engkau rupanya mengetahui apa di balik uraianku?

Normatif:
Bukanlah aku ini seorang paranormal. Aku sekedar membuat sintesis saja.

Formal:
Lalu apa saranmu bagiku?

Normatif:
Turunkan egomu. Tidak semestinyalah egomu itu engkau lebih-lebihkan sehingga melampaui batasmu. Bukankah engkau menyadari bahwa setinggi-tinggi norma kita secara universal adalah menjunjung peraturan dan kesepakatan serta komitmen kita masing-masing. Jika engkau telah menihilkan keberadaanku sebagai normatif, maka setinggi itu pulalah penilaianku terhadapmu. Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif.

Formal:
Aku tak mengerti maksudku.

Normatif:
Inilah peringatanku bagimu, agar berusahalah sesuai dengan suratan-suratan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Kuasa, dan juga sesuai dengan normatif-normatifnya.

Formal:
Aku juga masih tidak tahu.

Normatif:
Itulah sikap dirimu yang sombong yang tidak pernah mau mendengarkan secara normatif diriku. Makajangankan nilai normatifmu, sedangkan nilai formalmu juga aku menilainya rendah.

Formal:
Wueh..

Normatif:
Aku hanya berdoa agar orang-orang sepertimu diberi petunjuk dan mampu merefleksikan dirimu agar segera menyadari kelemahan-kelamahanmu.

Formal:
Wueh..pakai doa segala. Emangnya yang bisa berdoa hanya dirimu. Doaku lebih makbul.

Normatif:
Ya Allah SWT ampunilah dosa-dosa orang-orang disekitarku. Berikan petunjukmu ya Allah, agar kita semua diberi keikhlasan baik pikir maupun hati. Agar kami memperoleh kebahagiaan di dunia dan keselamanat di akhirat?

Formal:
Wueh..silahkan berdoa. Wueh...paskan saja doamu dengan perbuatanmu. Aku akan menyaksikannya.
Tiadalah ampun bagi orang-orang yang tidak aku sukai.

Normatif:
Kelihatannya engkau marah berat kepada diriku? Bahkan pakai menyumpah segala.

Formal:
Tidak cuma marah aku juga tersinggung berat. Dan aku tidak akan pernah mengampuni dirimu. kalau aku menyumpah dirimu, karena aku tidak suka terhadap dirimu.

Normatif:
Aku serahkan saja semuanya kepada Tuhan YME.

Formal:
Wuehh...pakai berserah kapada TuhanYME segala.

...

Orang Tua Berambut Putih:
Untuk kali ini aku datang walaupun tidak engkau undang. Nanti dulu ...
Wahai normatif dan formal...hati-hatilah ..sekarang ini kita sudah memasuki jaman praktis, instant dan berburu nikmat. Maka jika tidak hati-hati semuanya akan terkena imbasnya. Aku minta agar normatif dan formal bisa saling menahan diri, sebab jika tidak bisa menahan diri, maka dunia ini akan semakin anarkhis. Maka tawaduklah engkau itu.

Normatif:
Amiin..

Formal:
Preeeek..apa itu orang tua rambut putih. Konyol. Sia-sia aku memikirkannya.

Orang Tua Berambut Putih:
Ohh..Allah hu Allah.

27 comments:

  1. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Berdasarkan dari kisah elegi di atas, kita mendapatkan pelajaran bahwa kita sebagai manusia sebaiknya dapat mengimbangi antara nilai formal dan nilai normatif dalam hidup. Kita sebaiknya dapat menghargai nilai formal dan nilai normatif yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari kita. Tidak baik jika kita memaksakan nilai normatif atau nilai formal (condong salah satu) kepada seseorang. Dalam menilai filsafat itu perlu secara formal sekaligus normatif.

    ReplyDelete
  2. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Ada jangkauan dimana kita bersifat formal, dan adakalanya normatif. Masing – masing dari formal dan normatif ada dalam kehidupan. Oleh karena itu harus bisa seimbang, memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Sebab bila masing – masing formal dan normatif tersebut saling mengungguli maka akan terjadi hal – hal yang tidak baik karena keduanya mempunyai keinginan untuk menonjolkan. Maka ikhlas adalah hal dibutuhkan.

    ReplyDelete
  3. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Normatif dan formatif itu harus berjalan bersama-sama dan seimbang tanpa berat sebelah. Jikalau tidak demikian, maka yang terjadi adalah pemberontakan, pemaksaan, dan tiada keikhlasan di dalamnya. Oleh karena itu, dalam menggapai hidup di dunia yang harmonis haruslah ikhlas serta berlaku adil tanpa adanya keperpihakan kepada salah satu kubu.

    ReplyDelete
  4. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Penilaian normatif sudah tidak asing lagi jika terjun dalam dunia pendidikan. Terkadang ada beberapa orang yang berpikiran ingin mencapai segala sesuatunya dengan cara instant tanpa berusaha. Contohnya dalam ujian kenaikan kelas, siswa yang ingin mendapatkan nilai yang besar, tetapi ia tidak belajar melainkan melakukan perbuatan yang tidak baik (mencontek) ketika ujian. Sehingga pentinglah pembentukan karakter bagi siswa itu diajarkan untuk membentuk norma- norma. Nilai itu sebagai hasil, tetapi ada yang lebih penting yaitu proses untuk mencapai nilai tersebut. Dan ini juga tugas guru untuk menanamkan dalam benak siswa, bahwa yang terpenting ialah proses dalam menggapai pengetahuan.

    ReplyDelete
  5. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dari elegi di atas kita bisa melihat bahwa Setinggi-tinggi penilaian formal tidaklah mampu melebihi penilaian normatif. Norma adalah landasan setiap aktivitas yang akan kita lakukan, jika formalitas tidak diseimbangkan dengan normatif maka akan terjadi kekacauan, bayangkan aktivitas kita tidak berlandaskan norma-norma yang berlaku, tentu timbul sikap yang semena-semena.

    ReplyDelete
  6. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016

    dalam kehidupan selalu kita temui hal yang berpasang-pasangan, hak dan kewajiban, reward dan punihment, tinggi rendah, tua muda, dan lain sebagainya. dalam hal ini kita mengetahui bahwa dalam dunia pendidikan ada yang namanya penilaian normatif dan formal.
    dalam menjalankan keduanya haruslah sejalan.

    ReplyDelete
  7. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Norma adalah landasan setiap aktivitas yang akan kita lakukan. Maka setinggi-tinggi penilaian formatif, tidaklah mampu melebihi penilai normatif. Keduanya harus seimbang dan sejalan. Jika penilaian formatif yang ditonjolkan maka akan terjadi pemaksaan, kekacauan, ketidakikhlasan, dsb.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Penilaian adalah suatu hal yang penting dilakukan dalam kehidupan ini. Penilaian dilakukan demi perbaikan kedepannya agar menjadi lebih baik dari sekarang. Setelah membaca elegi ini saya dapat mengetahui hakikat menilai formal dan normatif. Dalam hidup ini penilaian adalah hal yang sangat penting. Dengan penilaian tersebut kita dapat introspeksi diri.

    ReplyDelete

  9. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016
    Elegi diatas menceritakan bahwa kita harus bisa menilai diri kita sendiri dengan normatif dan formatif, yanag mana kedua itu harus seimbang. Seimbang dalam penilai seimbang dalam hal apapaun. Norma adlaah berati teguh pada pendirian, terhuig pada norma, aturan, dan ketentuan yang berlaku sehinggankedua nya hraus seimbang. Walaupun demikian kita juga kadang kala bisa menjadi normatif dan bisa juga formatif.

    ReplyDelete
  10. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Formal saja tidak cukup bagi seseorang dalam kehidupan ini. Memang benar bahwa secara formal telah tercakup aturan-aturan tetapi ada kemungkinan aturan tersebut kurang tegas daripada norma sebenenarnya. Kita harus menyeimbangkan antara formal dan normatif. Boleh formal tetapi tidak melampaui batas dan tidak sesuai dengan normatif. Apalagi di kehidupan saat ini serba modern. Semunya menjadi lebih mudah didapatkan secara instran. Maka kita haruslah berhati-hati dalam hal ini.

    ReplyDelete
  11. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya sependapat bahwa normatif itu lebih unggul dibanding hanya formal. Seperti yang kita tahu bahwa zaman sekarang ini serba praktis dan instan, yang kerapkali perbuatan yang kita lakukan bertentangan dengan aturan, kesepakatan dan norma yang berlaku. Formal saja dengan mengabaikan norma maka akan menjadi berbahaya. Yang perlu kita upayakan adalah menyeimbangkan antara formal dan normatifnya.

    ReplyDelete
  12. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Penilaian normatif dan formal adalah penilaian yang berbeda namun harus seimbang dalam menjalani hidup ini. Formal terikat oleh ruang dan waktu dan hanya mencakup dunia saja sedangkan normatif mencakup dunia dan akhirat. Formal meliputi sesuatu yang memiliki dasar aturan- aturan dan kesepakatan dari pihak yang bersangkutan sesuai ruang dan waktunya. Setinggi-tinggi pencapaian kemampuan dibidang normatif adalah kemampuan normatif, misalnya ikhlas lebih unggul dibanding pandai, rendah hati lebih unggul dibanding tinggi hati, logos lebih unggul dibanding mitos, apalagi menyadari ruang dan waktu itu akan lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  13. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dalam menuntut ilmu, hendaknya kita mementingkan pemahaman dari ilmu tersebut, jangan hanya sekedar mengejar nilai yang baik tetapi tidak mementingkan pemahaman, hal tersebut berarti kita menuntut ilmu secara formalitas saja, hanya untuk mendapat nilai baik saja. Sebenar-benarnya, kita hanya mampu menilai dalam diri kita berdasarkan ilmu yang telah kita miliki, sejumlah apa ilmu yang kita miliki akan menentukan sebaik apa penilaian terhadap diri kita sendiri atau kepada sekitar kita, dan juga sebaik apa kita melakukan perbaikan terhadap segala kekeliruan.

    ReplyDelete
  14. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    elegi ini berisi dialog antara dua pihak yang terlihat saling bertolak belakang dan saling memberikan penilaian satu sama lain. formal dan normatif merupakan dua pihak yang benar adanya. tidak mungkin ada hanya salah satu. begitu juga dalam kita memaknai hidup. kita bersekolah secara formal juga harus diiringi dengan pengembangan diri secara normatif, sesuai dengan masing-masing hukum yang ada. keseimbangan antara formal dan normatif juga harus dipertahankan, agar tidak terjadi kekacauan di alam semesta ini.

    ReplyDelete
  15. Nurul Faizah
    14301241022
    Pendidikan Matematika A 2014 (S1)

    Elegi menggapai menilai normatif ini mengajarkan bahwa dalam menjalani kehidupan ini janganlah kita terfokuskan dengan hal formal saja tanpa sekalipun memperhatikan normatif atau norma yang ada. Kita sering kali ingin mendapatkan segala sesuatunya dengan cepat dan mendapatkan hasil baik sehingga melakukan segala cara tanpa memperhatikan norma yang ada. Tentu ini sangat tidak benar, karena dalam hal ini kita sama saja mengunggulkan penilaian formal daripada normatif. Seharusnya kita bisa adil dalam hal formal dan normatif agar hidup ini dapat berjalan dengan baik.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Elegi yang menyiratkan pesan di dalamnya. Dalam kehidupan nilai formatif tidaklah dapat berjauhan dengan nilai normative. Hal ini dikarenakan keduanya saling melengkapi. Ada kalanya kita menerapkan nilai normative dan ada kalanya kita mendapati nilai formatif. Namun semua itu memenuhi batasan – batasan yang tepat.

    ReplyDelete
  17. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Ada saat dimana kita bersifat formal atau normatif. Norma adalah dasar dari setiap aktivitas yang akan kita sebagai manusia lakukan, namun setinggi-tingginya penilaian formal dalam elegi diatas tidak dapat melampaui penilaian normatif. Memang keduanya harus seimbang dan sejalan, agar semua tetap harmonis dan tidak ada perpecahan.

    ReplyDelete
  18. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi menggapai menilai normatif. Tulisan yang memberikan pesan mengenai penilaian. Terdapat dua penilaian, normatif dan formal. Seringkali manusia hanya memikirkan penilaian formal dan mengabaikan penilaian normatif. Ingin yanng serba instan dan bahkan dengan melanggar norma, demi memperoleh penilaian formal yg baik. Padahal dengan begitu ia telah mendapat penilaian normatif yang buruk.
    Untuk mendapatkan kesuksesan dunia dan akhirat serta ketentraman dan kedamaian, seharusnya kita harus menyeimbangkan keduanya, tidak boleh kita abaikan salah satu.

    ReplyDelete
  19. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, dapat disimpulkan bahwa tanpa disadari masih banyak di antara kita yang egois, tidak bersyukur, dan selalu menginginkan doa-doanya dapat terkabulkan tanpa adanya ikhtiar. Na’udzubillah...Banyak orang yang mengutamakan nilai sebagai acuan utama, sehingga mereka menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh nilai tertinggi. Saya setuju dengan pernyataan di atas, menilai filsafat itu tidaklah cukup formal tetapi juga normatif. Menilai spiritual juga tidak cukup material, tetapi juga formal, dan normatif, tetapi setinggi-tinggi penilaian adalah spiritual. Tiadalah manusia itu mampu melaksanakan. Oleh karena itu, buang jauh-jauh selimut mitos yang berambisi untuk menjadi yang ‘terbaik’. Tetapi, berusahalah menjadi orang yang mampu menebarkan kebermanfaatan bagi orang lain.

    ReplyDelete
  20. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Suatu objek dapat dinilai dengan melihat material, formal, dan normatifnya. Dari ketiganya, jika penilaian yang diberikan adalah sekiranya jika telah memenuhi syarat normatif yang ada maka nilai terbaik yang diberikan adalah jika benar-benar sudah memenuhi standar normatif yang ada. Namun sebenar-benar penilaian spiritual yang yang penilainya adalah Allah SWT. Sebab hanya Allah yang mengetahui apa-apa yang tidak tampak oleh manusia termasuk apa yang ada di hati dan pikiran setiap manusia.

    ReplyDelete
  21. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Penilaian Acuan Normatif digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya. Penilaian Acuan Normatif menggunakan kriteria yang bersifat “relative”. Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut. Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya). Penilaian Acuan Normatif memiliki kecenderungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius.

    ReplyDelete
  22. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Salah satu cara untuk membedakan antara tes, penilaian dalam pengajaran adalah dengan mengetahui dan membedakan antara penilaian informal dan formal. Di sisi lain, penilaian formal memiliki prosedur yang spesifik untuk melihat sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan siswa. Penilaian formal bersifat sistematis, memiliki teknik yang terstruktur untuk menilai pencapaian siswa.

    ReplyDelete
  23. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Dalam hal ini ada dua istilah dimensi, yaitu dimensi formal dan dimensi normatif. Dimensi normatif dan formal merupakan dua hal yang berbeda, tetapi dalam menjalani kehidupan ini keduanya haruslah seimbang. dimensi normatif menurut pada norma dan kaidah yang berlaku serta sesuai dengan dimensinya. Sedangkan dimensi formal menurut pada peraturan yang berlaku. Sebagai seseorang yang sedang belajar, dalam berusaha meraih nilai yang baik kita juga seharusnya memperhatikan dimensi normatif dan formal. Selain melaksanakan dan mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh guru sesuai dengan ketetuan yang diberikan, kita juga harus memperhatikan nilai normatifnya, seperti sopan santun serta baik dan buruk, sehingga kita dapat melaksanakan tugas-tugas kita dengan jujur, bertanggung jawab, dan ikhlas. Seringkali manusia hanya memikirkan penilaian formal dan mengabaikan penilaian normatif. Ingin yanng serba instan dan bahkan dengan melanggar norma, demi memperoleh penilaian formal yg baik. Padahal dengan begitu ia telah mendapat penilaian normatif yang buruk.

    ReplyDelete
  24. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, karena melalui dialog antara normatif dan formal ini mengingatkan saya untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang mahasiswa dalam matakuliah Etnomatematika. Salah satu kewajiban saya adalah membuat komentar di blog ini. Membaca artikel-artikel pendidikan matematika yang ada di dalam blog ini merupakan suatu proses belajar dan membangun sebuah ilmu pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  25. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam suatu proses pembelajaran, penilaian merupakan hal yang sangat penting. Guru melakukan suatu penilaian untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik. Penilaian yang baik meliputi penilaian proses dan hasil yang telah dicapai oleh peserta didik. Penilaian ini mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik peserta didik. Dalam melakukan penilaian, guru harus bersikap objektif, jujur dan adil.

    ReplyDelete
  26. Woro Sophia Amirul Kusumawati
    14301241048
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Makna dari Elegi ini adalah bahwa kita jangan hanya melihat dari salah satu sudut pandang penilaian formal ataupun penilaian normatif. Penilaian formal dan penilaian normatif haruslah seimbang. Dalam proses pembelajaran penilaian formal adalah penentu keberhasilan prestasi belajar siswa akan tetapi akan lebih baik lagi apabila diimbangi dengan penilaian normatif.

    ReplyDelete
  27. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca elegi di atas, pelajaran yang dapat saya ambil adalah bahwa hal yang terbaik adalah ikhlas dalam menjalani segala hal. Ikhlas dalam belajar tentu lebih baik dari terpaksa belajar, dan sebagainya. Selain itu, juga mengajarkan untuk tidak boleh sombong dan selalu merasa paling benar.

    ReplyDelete