Apr 10, 2015

Keadaan Pendidikan dan Pendidikan Guru saat ini

Aslm, berikut saya tayangkan konsep dan pemikiran saya secara singkat berkaitan dengan keadaan 



pendidikan dan pendidikan guru di Indonesia, dalam rangka (bagian dari) memberikan masukan tentang reformasi LPTK, yang sedang digodog secara keseluruhan oleh tim kecil Majelis Guru Besar UNY. Selamat membaca dan memberi komentar atau berkontribusi pemikiran tambahan.

Keadaan Pendidikan dan Pendidikan Guru saat ini
Oleh: Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Pendidikan di Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan dan tantangan yang kompleks dan mendasar, sekaligus kita menyongsong harapan di tengan era global. Bangsa Indonesia dengan pasti tidak dapat menghindar dari pergaulan Pasar Bebas seperti GATT, WTO, AFTA dan pergaulan dunia yang mempengaruhi segala aspek berkehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Sebagai bangsa yang relatif muda (belum sampai berumur satu abad), tentulah jika masa depan kita berorientasi kepada kecenderungan modus (standar) internasional dewasa ini, akan banyak dijumpai kekurangan-kekurangan yang bersifat ontologis baik yang menyangkut sumber daya manusia maupun penguasaan teknologi.

Derasnya aliran barang, jasa, pengetahuan, dan teknologi dari luar negeri tidak diimbangi dengan kesadaran adanya aliran pemikiran/paham, karakter atau gaya hidup yang tidak sesuai dengan karakter dan budaya bangsa. Sehingga bangsa dan masyarakat Indonesia dewasa ini bersifat terbuka absolut dari pengaruh luar. Hal inilah yang menyebabkan bangsa Indonesia dewasa ini seakan mengalami disorientasi baik dari segi ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan. Dewasa ini Indonesia sedang mengalami disorientasi epoleksosbud, yang ditandai dengan bergesernya orientasi pendidikan dari nasionalisme dan jati diri bangsa menuju berorientasi isme-isme baru pengaruh dunia Barat seperti Pragmatisme, Kapitalisme, Utilitarianisme, Materialisme, Liberalisme, bahkan Hedonisme.   Revolusi mental yang digulirkan oleh Presiden Joko Widodo kiranya patut direnungkan, digali dan diimplementasikan untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya dan pendidikan. Revolusi mental perlu didukung dengan penguatan 4 (empat) pilar yaitu: Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI dan BhinekaTunggal Ika.

Kegamangan pendidikan salah satunya disebabkan oleh keraguan menetapkan komitmen terhadap konsep pendidikan yang berkarakter Indonesia. Selama ini bangsa Indonesia telah terbuai dengan janji dan implementasi berbagai konsep pendidikan dari luar yang ternyata hanya menjauhkan atau mencerabut marwah ke Indonesiaan dari generasi ke generasi berikutnya. Sudah saatnya kita menggali, mengembangkan dan mengimplementasikan harta karun konsep pendidikan asli Indonesia yaitu yang salah satunya telah digagas dan diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Hanya di Indonesialah terdapat konsep ing ngarsa sung tuladha dan tut wuri handayani. Sementara di negara-negara Barat, mereka hanya unggul ing madya mangun karsa. Sehingga pendidikan di negara-negara Barat bersifat linear yaitu maju berkelanjutan tanpa batas dan tanpa mengetahui akhir ujung bentuk masyarakat dan peradaban yang diinginkan; sedangkan di negara-negara Timur termasuk Indonesia, pendidikan mempunyai potensi besar untuk bersifat siklik, yaitu mengedepankan interaksi (Agama: silaturakhim) untuk melakukan ikhtiar dalam kodratnya untuk semata-mata memperoleh ridhla Allah SWT. Dengan demikian, jelaslah kiranya bahwa konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara cukup menjanjikan solusi untuk mengatasi krisis multidimensi bangsa. Adalah tantangan dan tugas kita semua, para pelaku dan stake holder pendidikan untuk mampu menggali dan mengimplementasikannya; sementara pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional diharapkan mampu memfasilitasi dan membuat kebijakan kependidikan yang selaras dengan semangat pengembangan jati diri bangsa.

Ditengah kegamangan politik, ekonomi, sosial dan budaya maka dalam bidang pendidikan terdapat pertanyaan guru seperti apakah dewasa ini yang dianggap ideal bagi bangsa ini? Berbagai penelitian menunjukkan bahwa selama ini, walaupun telah mengalami berbagai fase perubahan kurikulum yang dibarengi dengan berbagai macam peraturan perundangan, masih saja kualitas pendidikan belum seperti yang diharapkan, terutama jika dilihat dari prestasi yang dibandingkan dengan prestasi pendidikan bangsa-bangsa lain. Walaupun hasil penelitian OECD tahun 2015 menunjukkan adanya inovasi pembelajaran, tetapi herannya mengapa prestasi belajar masih belum memuaskan? Penjelasannya adalah bahwa inovasi pembelajaran yang terjadi dan sudah mulai menampakan bentuknya merupakan kerja keras dan hasil dari pelaksanaan kurikulum KTSP beserta segala usaha inovatif lainnya seperti adanya projek-projek SEQIP, PEQIP, IMSTEP-JICA, Lesson Study, CTL, dst. Disorientasi bidang epoleksosbud ditengarai sebagai biangnya segala persoalan yang muncul dalam bidang pendidikan, sehingga mengaburkan bahwa inovasi yang berhasil dilakukan adalah baru langkah awal, sedangkan prestasi belajar adalah langkah berikutnya. Disorientasi epoleksosbud menyebabkan timbulnya anomali paradigma kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, yang pada gilirannya menghasilkan ketidakteraturan pola kehidupan masyarakat yang dapat berujung pada perikehidupan yang anarkhis dan mendegradasi peradaban bangsa.

Pengembangan pendidikan di Indonesia terkendala oleh adanya anomali paradigma pendidikan yaitu: pendidikan jangka panjang versus pendidikan jangka pendek, pendidikan terdesentralisasi versus pendidikan terpusat, pendidikan terbuka versus pendidikan tertutup, inovasi pendidikan versus status quo pendidikan, pendidikan sebagai kebutuhan versus pendidikan sebagai investasi, pendidikan yang melestarikan versus pendidikan yang konstruktif, pendidikan berorientasi proses versus pendidikan berorientasi hasil, pendidikan untuk semua versus pendidikan terkanalisasi, pendidikan berorientasi jati diri bangsa versus pendidikan berorientasi pasar dst. Selama anomali paradigma tersebut belum memperoleh solusinya maka selama itu pula persoalan pendidikan masih bersifat imanent dan latent.

Akibat lanjut dari adanya persoalan pendidikan yang belum tuntas maka berdampak pula pada pengembangan kualitas pendidikan, profesional guru dan prestasi belajar. Anomali paradigma pada gilirannya juga muncul dalam pengembangan pendidikan guru di Indonesia, misalnya: guru sebagai pengembang pendidikan versus guru sebagai pelaksana pendidikan, guru kelas versus guru mata pelajaran, guru pusat versus guru daerah, pendidikan guru concurant versus pendidikan guru consecutive, tanggung jawab masyarakat versus tangung jawab pemerintah, idealitas pendidikan versus pragmatisme pendidikan, dst.

Dengan kondisi seperti tersebut di atas maka banyak persoalan pendidikan yang menghadang didepan kita: kegamangan penerapan kurikulum, kontroversi (fungsi) ujian nasional, persoalan sertifikasi guru dan dipenuhinya jam mengajar, penguatan peran LPTK, sinergitas antar lembaga birokrasi pendidikan, persoalan penempatan guru, pengembangan profesionalitas guru, peran lembaga penjaminan mutu yang overlaping dengan peran LPTK, reformasi pendidikan, overlaping permendiknas, sustainabilitas dan akuntabilitas pendidikan, pemerataan pendidikan, partisipasi pendidikan, standar nasional pendidikan guru, pendidikan karakter dan karakter bangsa, dst.

Terdapat harapan dari apa yang disampaikan oleh Mendikbud Anies Baswedan bahwa pengembangan pendidikan guru akan dilakukan dengan memperkuat kompetensi kepala sekolah, guru, dan pemangku kepentingan lainnya; meningkatkan kualitas dan akses; dan meningkatkan efektivitas birokrasi pendidikan dan pelibatan publik dalam penyelesaian persoalan pendidikan.


Yogyakarta, 9 April 2015


19 comments:

  1. Selalu mengupdate pengetahuan seputar pendidikan dan juga pendidikan guru memberikan banyak sekali manfaat. Salah satunya misalnya dengan mengetahui hal itu maka kita akan lebih mudah paham tentang masalah-masalah yang ada dan bagaimana cara menyikapinya. Uraian pak Profesor yang ringkas tapi padat ini memberikan sumbangan banyak untuk memahami hal itu.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP A

    ReplyDelete
  2. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Untuk menggambarkan pendidikan dan pendidikan guru saat ini khususnya di Indonesia sangat memprihatinkan. Lihat saja pendidikan yang belum merata, sarana prasarana yang belum memadai, di tambah lagi dengan perubahan kurikulum dari tahun ke tahun hingga yang sedang memanas saat ini yaitu Ujian Nasional yang sedang digodok. Akibatnya banyak guru yang belum siap untuk menghadapi perubahan ini karena pendidikan guru yang semuanya belum Sarjana. Mungkin ini sebagai salah satu faktor kenapa pendidikan di Indonesia hanya berkutat pada sistem yang ada dan tak mengalami perubahan. Keadaan seperti ini sangat memprihantinkan. Dan untuk mengubah semua itu, harus dimulai dari diri kita sendiri, sehingga secara perlahan namun pasti keadaan seperti ini dapat diatasi.

    ReplyDelete
  3. Data Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB), lebih dari 50 persen kabupaten/kota kelebihan guru SMA. Kelebihan guru juga terjadi untuk guru TK. Fakta tersebut hampir menujukkan kondisi pendidikan dan LPTK saat ini.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  4. Setiap SD di kecamatan tertentu, guru PNSnya paling banyak 5 itu termasuk kepala sekolah. Kekurangannya diisi honorer. Kenapa jadi guru PNS banyak diminat? Karena gaji pasti lebih besar dan kerjaan jauh lebih ringan daripada honorer.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  5. Jumlah sekolah dan jumlah pengajar belum seimbang, bukan berarti produk LPTK tidak baik, salah satu faktor terjadinya karena tidak meratanya pendidik di Indonesia

    ReplyDelete
  6. LPTK di Indonesia belum tersebar dengan merata dan terpola. Di sisi lain, pemerintah selalu mewacanakan masalah kurikulum tingkat satuan pendidikan. Wilayah Indonesia yang secara konkret terdiri atas pulau dan memiliki suku bangsa berbeda-beda, seharusnya menjadikan pengambil kebijakaan diIndonesia berpikir. Hanya pendidikan di wilayah atau daerah yang dapat di jangkau pemerintah pusat dan pemerintah daerah sajalah yang diperhatikan.

    Memet sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  7. Pendidikan adalah salah satu alat yang bisa memutus tali kemiskinan. Tapi di sisi lain, sudahkah bangsa ini membiarkan rakyatnya berpesta pora merayakan pendidikan?

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  8. Maka pengambil kebijakan harus jeli dan teliti dalam melihat kondisi daerah yang membutuhkan penananganan serius, terutama sarana dan prasarana. Semestinya pemerintah lebih selektif dalam mengambil putusan nasional yang berdampak global.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  9. Program pendidikan gratis (berbagai jenjang) di Indonesia yang diumbar wakil rakyat hanya omong kosong belaka. Sekolah negeri yang oleh pemerintah ditujukan untuk menampung masyarakat miskin agar dapat menempuh pendidikan ternyata lebih banyak diisi oleh masyarakat kelas menegah atas.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  10. Satu lagi, pemerintah juga belum secara gamblang dan penuh membantu menyelesaikan permasalahan global maupun lokal. Di masing-masing jenjang pun sebagian besar pemerintah diduduki bukan pemerhati pendidikan.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  11. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan dipenuhi oleh para scientist yang akhirnya, arah pendidikan Indonesia sangat ilmiah namun melupakan konsep pendidik dan peserta didik.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  12. LPTK belum mampu menginvestasikan input yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan pada proses pembelajarannya. Di satu sisi, pendidikan dalam aspek paling minimal juga lupa membuat standard setting di tingkat pendidikan untuk output dan keluaran. Jangan sampai, pendidikan membuat proses yang benar dan baik pada setiap prosedurnya, namun lupa untuk menanamkan mental agar outputnya juga baik.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  13. Di sisi dunia lain,
    Krisis global semakin membuat kehidupan yang sudah sulit menjadi semakin rumit bahkan telah menjadi suatu dilema dan masalah klasik yang tidak pernah kunjung selesai. Permasalahan yang kian nampak dan semakin menjadi-jadi adalah semakin meningkatnya jumlah masyarakat kurang berpendidikan juga masih banyak


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  14. Sulit mencari guru yang dengan empat kompetensi pendidiknya, sedia mengajar di sekolah-sekolah di daerah terpencil. Masalah utamanya adalah kesediaan untuk priceless yang jelas akan jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan mengajar di kota-kota besar.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  15. Tidak usah muluk-muluk, guru dengan karakter yang bisa menjadikan diri siswa menghargai dirinya sendiri pun masih kesusahan. Aspek paling penting di dunia pendidikan adalah menanamkan karakter diri anak, dan itu dilupakan di LPTK yang saat ini berkembang pesat.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEp

    ReplyDelete
  16. dengan kata lain, standar LPTK yang tidak sama dan prosedural pengembangan programs studi yang ada kalanya tidak teapat dan tidak sejalan pada proses yang berbasis pada diri anak adalah kesalahan. LPTK harus dibatasi di satu daerah, dan kesamaan standar harus ditegakkan lagi.

    memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  17. Permasalahan dalam bidang pemerataan pendidikan bisa ditanggulangi dalam menyediakan prasarana, fasilitas, dan sarana belajar bagi setiap lapisan masyarakat yang wajib mendapatkan pendidikan.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  18. menurut sy, andaikan semua elemen dunia pendidikan baik itu pemerintah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat saling bahu-membahu membentuk kerjasama yang bersinergi maka bukan tidak mungkin dunia pendidikan Indonesia akan mengalami kemajuan dan menjadi salah satu negara yang diperhitungkan di dunia pendidikan internasional. kita sebagai pendidik mempunyai peran penting terhadap siswa karena siswa terkadang banyak yang masih pasif dan bisa dikatakan kurang merespon pada saat kegiatan belajar, oleh itu menjadi hard working untuk kita sebagai pendidik agar siswa menjadi bersemangat dalam belajar di kelas misalnya kita dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi siswa dan kita menjadi fasilitator yang baik bagi mereka untuk membangun dan menemukan pengetahuan baru buat anak didik untuk bekal mereka dikemudian hari.

    M Saufi Rahman
    PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  19. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Ketika kita berbicara mengenai pendidikan, maka masih banyak hal yang perlu kita perbaiki bersama untuk menjadikan kenyamanan bersama. Keadaan pendidikan yang masih saja menggunakan tradisional methode dirasa tidak memberikan metode. Setiap metode pembelajaran akan memberikan manfaatnya sendiri. Guru dihharapkan mampu mendidik anak sebagai seorang fasilitator.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.