Apr 10, 2015

Pengembangan LPTK Pendidikan Guru dewasa ini di Indonesia

Aslm, berikut ini saya tayangkan tulisan dari 3 (tiga) mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Konsentrasi 



Matematika, Pascasarjana UNY, yaitu Sdr Alkusaeri, Sdr Dafid Slamet Setiana, dan Sdri Rahayu Condro Murti yang menulis tentang pengembangan LPTK sebagai tugas matakuliah Kajian Kurikulum Matematika yang saya ampu pada semester ini Januari-juni 2015. Silahkan dicermati dan boleh membuat komentar atau tanggapannya.
Wslm, dosen yang bersangkutan Marsigit


Alkusaeri:


Berdasarkan hasil perkuliahan di kelas, membaca refrensi berbagai macam yang ada (web, blog, online, buku, jurnal, dsb) dan pengetahuan saya sebagai pendidika matematika di Fakultas Tarbiyah IAIN Mataram, maka berkaitan dengan praktek dan pengembangan LPTK pendidikan Guru dewasa ini di Indonesia, maka saya dapat mengidentifikasi permasalahan yang ada dan kemungkinan solusi sebagai berikut
A.    Permasalahan
1.      Pelaksanaan perkuliahan bagi tenaga pengajar yang sedang mengikuti program meningkatkan kualifikasi pendidikannya masih terkesan sampingan dari mahasiswa regular, dikarenakan kebijakan tentang perekrutan mahasiswa penyetaraan tidak disertai dengan kebijakan tentang sarana dan prasarana serta Sumber Daya.
(Diperlukan kebijakan tentang perekrutan sumber daya meskipun berstatus tenaga pendidik tidak tetap pada LPTK agar dapat mendukung kelancaran layanan pendidikan, serta kebijakan tentang kelengkapan sarana dan prasarana).
2.      LPTK tidak terlibat secara langsung merekrut calon mahasiswa penyetaraan, akan tetapi dilakukan oleh Dinas Kabupaten, sehingga terkadang terjadi permasalahan legalisasi pendidkan awal serta ketentuan-ketentuan lainnya sebagai syarat sah menjadi calon mahasiswa.
(Singkronisasi juknis perekrutan calon mahasiswa khususnya program kualifikasi, PPG, ataupun PLPG, agar tidak terjadi pelanggaran aturan).

3.      LPTK masih kurang membekali mahasiswa yang merupakan calon guru dengan keahlian dan keterampilan yang memadai.
(Mengembangkan unit-unit pengembangan minat dan bakat untuk mendukung keterampilan mengajar serta kemampuan inovasi pendidikan mahasiswa).

4.      LPTK saat ini masih sebatas lembaga untuk mencetak guru akan tetapi bukan sebagai peningkat kualitas profesionalisme guru.
(Diperlukan desain program penyelengggaraan program akademik LPTK yang berorientasi pada pengembangan profesionalisme guru).
5.      LPTK masih belum bisa mengimbangi kemajuan teknologi, mengingat belum banyak inovasi-inovasi pendidikan yang dihasilkan berbasis teknologi.
(Pengembangan sistem informasi akademik serta pembelajaran berbasi IT).

6.      Belum  ada sinkronisasi antara LPTK dengan Depdiknas yang berperan  sebagai distributor sekaligus user.
(Diperlukan koordinasi dan komunikasi yang lebih inten, berdasarkan batasan-batasan serta aturan yang sudah disepakit bersama, sehingga dapat mengontrol dan menyiapkan guru sesuai dengan yang dibutuhkan sekolah).

7.      Kurikulum LPTK belum sepenuhnya membekali kompeten dengan bekal dari aspek psikologi,  pedagogi/ilmu pendidikan yang merupakan modal dasar bagi calon guru.
(Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada pengembangan dan pemantapan kompetensi guru dalam menjalankan tugasnya).

8.      Masih ada Komplain dari sekolah tentang kemampuan mengajar mahasiswa LPTK ketika melaksankan PPL.
(Optimalisasi kegiatan di laboratorium micro teaching, dengan mengembangkan program-program yang mendukung pengembangan keterampilan mengajar guru).

9.      LPTK tidak banyak diminati oleh lulusan sekolah menengah, hal ini terlihat dri LPTK merupakan pilihan akhir setelah tidak diterima di program studi non kependidikan.
(Merumuskan dan sosialisasi program-program unggulan berkualitas, sehingga dapat menarik minat masuk calon mahasiswa ke LPTK).


10.  Motivasi calon mahasiswa masuk LPTK hanya berorientasi pekerjaan, bukan menjadi guru yang professional, kebanyakan tergiur oleh program sertifikasi.
(Diperlukan regulasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, agar peogram sertifikasi guru tidak dianggap formalitas semata, setelah seorang guru dinyatakan lulus sertifikasi, akan tetapi tidak berdampak pada peningkatan kualitas mengajar dan pendidikan secara umum).

11.  Berbagai program LPTK seperti PPG, UKG, Program Kualifikasi dimanfaatkan oleh sarjana non kependidikan untuk mendapatkan ijazah kependidikan, dan dapat mengusulkan dirinya pada program sertifikasi, karena pekerjaannya di tempat lain kurang menjajikan secara kesejahteraan, dan bahkan ada yang hanya sambilan.
(Diperlukan rumusan sistem pendidikan yang mengarah pada usaha menyiapkan guru professional, bukan hanya sekedar ahli dalam bidang tertentu).

12.   Banyak mahasiswa atau lulusan dari LPTK yang tidak paham dengan hal-hal yang terjadi dan dibutuhkan oleh dunia pendidikan. Kebanyakan dari mereka hanya paham bahwa realita dunia pendidikan sesuai dengan materi perkuliahan yang selama ini mereka dapat, dan ini riel terjadi di dunia pendidikan kita.
(Dibutuhakan berbagai program lapangan atau praktek, agar tersedia wadah untuk menguji teori mengajar atau pendidikan yang dipelajari oleh mahasiswa LPTK, sehingga pada saat lulus nantinya, dapat memahami dengan benar permasalahn yang terjadi di tengah masyarakat serta mencari solusi penyelesaiannya).

B.     Permasalahan Kelembagaan
1.      Bertambahnya beban program yang di selenggarakan oleh LPTK tidak diimbangin dengan pengembangan struktur organisasi LPTK, khususnya unit pelayanan akademik, sehingga masih tumpang tindih antara pelayanan bagi mahasiswa regular dan mahasiswa program lainnya.
(Penyesuaian struktur organisasi dengan tujuan untuk memaksimalkan pelayanan akademik secara merata).
2.      Lembaga Penjamin Mutu tidak langsung dapat berkoordinasi dengan pemerintah atau sekolah sebagai sumber dan pengguna mahasiswa program kualifikasi.
(Lembaga penjamin mutu tidak harus diposisikan sebagai audit internal saja, akan tetapi diarahkan untuk lebih proaktif menjaring informasi tentang keberadaan LPTK menurut pengguna dan stoakeholder).

3.      Belum berkembangnya unit-unit pengembangan produk hasil karya mahasiswa LPTK, sehingga terkesan mahasiswa LPTK hanya mampu secara teori akan tetapi tidak berkembang kreativitasnya, dari itu alumni LPTK cendrung kalah bersaing dengan jurusan-jurusan kejuruan lainnya.
(Membentuk laboratorium pengembangan kemampuan serta menghasilkan produk yang berkaitan dengan inovasi pendidikan).

4.      Leboratorium Micro Teaching sebagai pusat kegiatan keahlian mahasiswa LPTK belum dilengkapi dengan sarana prasarana yang memadai.
(Merekrut sumber daya yang kompten serta melengkapi sarana pendukung laboratorium micro teaching dengan perangkat-perangkat yang inovatif dan up to date).

5.      Lembaga Penelitian belum sepenuhnya fokus pada program penelitian pengembangan metode dan model pembelajaran, sehingga berdampak pada kurangnya kemampuan dosen dan mahasiswa dalam melakukan inovasi pembeajaran.
(Memperbanyak program penelitian yang berorientasi pada inovasi program pembelajaran).

C.    Permasalahan Yuridis
Berdasarkan Depdiknas untuk menjadi pendidik haruslah memenuhi standar pendidik dan tenaga pendidik seperti yang tertuang dalam Pasal 28 Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidikan yang isinya sebagai berikut :
Ayat (1) : Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Ayat (2) : Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan /atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Ayat (3) : Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidik anak usia dini meliputi: (a) kompetensi pedagogik; (b) kompetensi kepribadian, (c) kompetensi profesional, dan (d) kompetensi sosial.
Ayat (4) : Seseorang yang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian sebagaimana dimaksud ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
Ayat (5) : Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Selanjutnya Depdiknas (2005, 24) pada Pasal 36 ayat (1) mengatakan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi harus memiliki kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sesuai dengan bidang tugasnya.
Pembahasan : Pada ayat 4 dijelaskan bahwa seseorang yang memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi tenaga pendidik setelah melewati uji kelayakan. Ayat tersebut membukakesempatan bagi lembaga-lembaga non kependidikan membuka program studi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, akan tetapi tidak maksimal dibekali kemampuannya sebagai pendidik. Dengan harapan, pada saat nantinya alumninyapun dapat menjadi guru setelah mengikuti program singkat agar dapat dikatakan layak sebagai tenaga pendidik.
Hal tersebut yang menyebabkan calon mahasiswa menjadikan LPTK menjadi pilihan kedua, karena jika nanti tidak sukses secara karir dengan latar belakang pendidikannya, maka dia dapat mengikuti program penyetaraan agar mendapatkan ijazah sebagai tenaga pendidik. Fenomena ini, yang merupakan salah satu pemicu bagi LPTK kurang termotivasi melakukan inovasi, dikarenakan animo masyarakat kurang berminat menjadi guru, akan tetapi profesi guru menjadi rebutan ketika di tempat lain tidak sukses mendapat pekerjaan.
Peranan LPTK sebagai lembaga penyelenggara program pendidikan bagi calon guru yang profesional mendapat tantangan. Dengan diberlakukannya UU.No.14/2005 tentang Guru dan Dosen, setiap orang yang memiliki sertifikat pendidik memiliki kesempatan untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu. Dengan demikian profesi guru menjadi profesi “terbuka” artinya mereka yang diterima menjadi guru tidak harus lulusan LPTK. Peluang lulusan LPTK menjadi berkurang sebab harus bersaing dengan mereka yang berasal dari lulusan Non-LPTK. LPTK sebagai lembaga profesi pencetak guru hendaknya senantiasa meningkatkan peranannya sehingga dapat mewujudkan guru yang profesional.
Peran strategis pengembangan kurikulum lembaga pendidikan dan tenaga kependidikan (LPTK), sebagai elemen proses pendidikan untuk menelurkan calon guru yang berkualitas patut dipertanyakan. Tuntutan globalisasi pendidikan memaksa LPTK untuk melakukan peninjauan ulang tentang kurikulumnya. Kendatipun amanat dari perubahan kurikulum merujuk SK Mendiknas No: 232 telah diluncurkan implementasinya masih dijumpai beberapa kendala dalam konteks penetapan perumusan kompetensi utama dan pendukung yang terumus dalam penetapan profil lulusan memperkuat eksistensi dalam sistem pendidikan Indonesia.
Kondisi ini diperparah oleh, mandat sertifikasi guru yang sepenuhnya diberikan kepada LPTK yang sudah seyogyanya direspon dalam bentuk penataan kelembagaan dan piranti pendukung dalam menyelenggarakan program sertifikasi yang berkualitas belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan tuntutan. Masih dijumpai ketimpangan belum terbangunnya meritokrasi antara tuntutan program diklat dengan harapan yang ingin dicapai yang disebabkan oleh beberapa kendala dasar, sangat dibutuhkan perhatian secara serius.
Tuntutan kualitas LPTK semakin diperkuat dengan adanya sertifikasi guru, LPTK melakukan pembenahan, LPTK memiliki peran sentral dalam peningkatan kualitas guru. LPTK dituntut untuk memahami pengembangan profesi guru sebagi upaya pembinaan guru dalam konteks pembekalan kompetensi sosial dan kepribadian. Pengembangan profesi, kompetensi dan sertifikasi merupakan mata rantai dalam upaya peningkatan kualitas guru sudah diamanatkan dalam UU no. 14 tahun 2005.
Ada faktor-faktor lain yang menyebabkan kemerosotan tersebut, yaitu: ketersediaan pendidik yang belum memadai baik kuantitas maupun kualitasnya, keengganan siswa untuk belajar, fasilitas belajar belum memadai, manajemen pendidikan yang belum efektif dan efesien, pendidik dan tenaga kependidikan, pembelajaran, prasarana/sarana, peserta didik, lingkungan/konteks belajar, kerjasama kemitraan dengan institusi lain, maupun pembiayaan dan lain-lainnya.
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang menyiapkan calon guru pendidikan di sekolah/madrasah, saat ini dihadapkan dengan masalah baru, yaitu menyiapkan lulusan yang memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional sebagaimana tertuang dalam Permendiknas No. 16/2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
Masalah tersebut menuntut adanya peninjauan kembali (review) terhadap kurikulumnya. Apalagi dengan keluarnya Permendiknas No. 18/2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, menuntut semua guru untuk diuji kompetensinya guna memperoleh sertifikat pendidik, LPTK perlu mengantisipasi berbagai kebijakan tersebut di atas, melalui upaya pengembangan kurikulum dan arah pengembangan LPTK dalam rangka peningkatan kompetensi lulusan. Seorang guru dituntut untuk memiliki kualifikasi dan standar kompetensi tertentu sebagaimana tertuang dalam Permendiknas No. 16/2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Agar standar kompetensi tersebut bisa dipenuhi, maka LPTK (termasuk Fakultas Tarbiyah) dituntut untuk menyeleggarakan  pendidikan dan mengembangkan kurikulumnya dengan menggunakan pendekatan berbasis kompetensi.
Pengembangan profesi guru (pembinaan guru sebagai profesional utamanya hendaknya diberikan pembekalan kompetensi sosial dan kepribadian), kurikulum LPTK dalam konteks menciptakan guru yang berkualitas. Pembenahan dan efisiensi pengelolaan ketenagakerjaan guru, redefinisi dan refungsi kelembagaan LPTK. Peningkatan kapasitas kelembagaan, Proses pendidikan dan pembelajaran yang diselenggarakan oleh LPTK seharusnya tidak tampil terpisah dari konteks pembelajaran riil (empty paedagogy) dan tidak sekedar penguasaan ilmu (diciplinary content) namun memberi kesempatan untuk mengemas dan mengiprahkan materi itu ke dalam konteks pembelajaran nyata (subject-spesific paedagogy).
Selama ini LPTK mengenal dua model penyelenggaraan pendidikan guru. Pertama, “Concurrent Model” (model seiring), di mana penyiapan calon guru dilakukan dalam satu napas, satu fase, antara penguasaan bidang studinya (subject matter) dengan kompetensi pedagogi (ilmu pendidikan). Model kedua, “Consecutive Model” (pendekatan berlapis).

Selama ini LPTK hanya diposisikan sebagai lembaga lisensi profesi guru. Dalam pola ini penyiapan subject matter dengan kompetensi pedagogi, sosial, dan kepribadian adalah hal yang berbeda, bukan desain pendidikan profesional yang terpadu. Melihat semangat UU Guru yang dijadikan rujukan dewasa ini tampaknya consecutive model akan menjadi arah baru model pendidikan guru di Indonesia. Implikasinya LPTK hanya akan difungsikan sebagai lembaga sertifikasi yang diperluas fungsinya (wider mandate) dengan basis ke-LPTK-an. Concurrent model yang dijadikan acuannya dengan memberikan penguatan lebih dalam pada penguasaan bidang ilmu (subject matter). Artinya, perguruan tinggi yang berperan sebagai LPTK harus semakin diperkuat dan didorong untuk lebih bagus lagi. Pemerintahpun wajib memberikan perhatian yang tinggi terhadap penyelenggaraan pendidikan guru di LPTK. kecenderungan tereduksinya keberadaan dan fungsi LPTK hanya sebagai lembaga sertifikasi profesi guru. 

Dafid Slamet Setiana:


Berdasarkan Hasil Perkuliahan di Kelas, Membaca Referensi yang Ada (Web Blog, Online, buku, jurnal, dll.) dan Pengalaman Saya Sebagai Pendidik Matematika Perguruan Tinggi, maka Berkaitan dengan Praktik dan Pengembangan LPTK Pendidikan Guru Dewasa ini di Indonesia saya dapat Mengidentifikasi Permasalahan-permasalahan dan
Kemungkinan Solusinya Sebagai Berikut:
(Ditulis oleh: Dafid Slamet Setiana, 14703261004, Program Pascasarjana, UNY)

Permasalahan-permasalahan pedidikan di Indonesia:

1.      Rendahnya Efektifitas Pendidikan
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna. Edwin S dalam Rochmat Wahab (2009) menegaskan bahwa Effective teaching and effective student learning have been a central focus of current educational reform movements. Artinya bahwa mengajar dan belajar efektif merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam proses pembelajaran. Pembelajaran harus bermakna, sehingga berdampak positif, terutama bagi peserta didik sendiri.
Namun pada kenyataannya banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia. Tidak peduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat.
 Ø  Solusi:
Solusi untuk meningkatkan efektifitas pendidikan adalah dengan melakukan inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran merupakan jawaban strategis untuk mengimbangi perkembangan pendidikan dengan pendekatan masalitas selama ini, sekaligus menjawab tantangan dunia pendidikan dalam membina manusia Indonesia seutuhnya. Semua ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang terkait dengan pendidikan. Selain itu juga dibutuhkan pembelajaran bermakna. Belajar bermakna adalah proses mengaitkan dalam informasi baru dengan konsep-konsep yang relevan dan terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Dalam menerapkan teori David Ausubel dalam pembelajaran, guru dianjurkan untuk mengetahui terlebih dahulu kondisi awal siswa. hal ini sesuai dengan pandangan bahwa ada satu faktor yang sangat mempengaruhi belajar, yaitu pengetahuan yang telah diterima siswa.

2.      Standarisasi Pendidikan yang Kurang Tepat
Standar dan kompetensi dalam pendidikan formal maupun informal terlihat hanya keranjingan terhadap standar dan kompetensi. Kualitas pendidikan diukur oleh standar  kompetensi di dalam berbagai versi, sehingga dibentuk badan-badan baru untuk melaksanakan standardisasi dan kompetensi tersebut seperti Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).
Sebagai contoh konkret standar pendidikan di Indonesia menggunakan tolok ukur UN. Pada dasarnya tujuan utama sistem evaluasi UN cukup baik, namun pada kenyataannya hanya digunakan untuk menentukan lulus tidaknya peserta didik dalam mengikuti pendidikan, dan hanya dilaksanakan sekali saja tanpa melihat proses yang dilalui peserta didik yang telah menempuh proses pendidikan selama beberapa tahun. Selain hanya berlangsung sekali, evaluasi seperti itu hanya mengevaluasi beberapa bidang studi saja tanpa mengevaluasi bidang studi lain yang telah diikuti oleh peserta didik.
 Ø  Solusi:
Pihak yang mengetahui kemampuan peserta didik secara keseluruhan adalah guru, sehingga pihak yang semestinya berhak menentukan lulus atau tidaknya seorang siswa adalah guru masing-masing. Terlebih pada kurikulum KTSP sekolah diberi kesempatan seluas-luasnya dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan karakter, budaya dan lingkungan sekolah. Di samping itu, jika nilai yang digunakan untuk pengambilan keputusan kelulusan hanya nilai UN, merupakan suatu hal yang tidak adil bagi siswa. Proses belajarnya selama beberapa tahun seakan tidak dihargai. Oleh karena itu seharusnya penentuan kelulusan mengikutsertakan semua nilai yang telah dicapai siswa.
Solusi alternatif untuk mengatasi masalah standarisasi pendidikan yang kurang tepat adalah dengan menerapkan pendidikan karakter.  Kualitas peserta didik tidak  semata-mata diukur oleh hasil prestasi belajar, misalnya angka UN, melainkan dimensi akhlak dari peserta didik. Oleh karena itu pendidikan karakter perlu sekali diterapkan. Pendidikan karakter adalah suatu sistem nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan  untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam hal ini peranan guru, orang tua dan lingkungan harus saling mendukung.

2.      Kesempatan pendidikan yang tidak merata
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh warga negara untuk memperoleh pendidikan. Sehingga pendidikan itu menjadi wahana bagi pembangunan sumber daya manusia untuk menunjang pembangunan. Masalah pemerataan pendidikan timbul apabila masih banyak warga negara khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat ditampung di dalam sistem aatau lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia.
Masalah pemerataan memperoleh pendidikan dipandang penting sebab jika anak-anak usia sekolah memperoleh kesempatan belajar pada SD. Maka mereka memiliki bekal dasar berupa kemampuan membaca menulis, dan berhitung. Sehingga mereka dapat mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media masa dan sumber belajar yang tesedia, baik, mereka nantinya berperan sebagai produser dan konsumen. Dengan demikian merka tidak terbelakang dan menjadi penghambat derap pembangunan
Ø  Solusi:
Banyak macam pemecahan yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-langkah yang ditempuh melalui cara-cara konvensional dan cara inovatif :
Cara konvensional antara lain :
a.       Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan belajar.
b.      Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore)
                  Sehubungan dengan hal itu, yang perlu digalakkan utamanya untuk pendidikan dasar ialah                        membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat / keluarga yang kurang mampu agar mau                       menyekolahkan anaknya.
            Cara inovatif antara lain :
a.       Sistem Pamong (Pendidikan Oleh Masyarakat, Orang Tua dan Guru) atau Inpact Sistem (Instructional Management by Parent, Community and Teacher). Sistem ini dirintis di Solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi)
b.      SD kecil pada daerah terpencil
c.       Sistem Guru Kunjung
d.      SMP Terbuka (ISOSA – In School Out off School Approach)
e.       Kejar paket A dan B
f.       Belajar jarak jauh, seperti Universitas Terbuka

4.      Rendahnya mutu pendidikan
Empat hal penting yang perlu dilakukan dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, yaitu: (1) Pengkajian mutu pendidikan, (2) Analisis dan pelaporan mutu pendidikan, (3) Peningkatan mutu pendidikan, (4) Penumbuhan budaya peningkatan mutu berkelanjutan, dan (5) Peningkatan mutu merujuk pada Standar Nasional Pendidikan (Satori, 2012).
Kondisi mutu pendidikan di seluruh tanah air menunjukan bahwa di daerah pedesaan utamanya di daerah terpencil lebih rendah dari pada di daerah perkotaan, acuan usaha pemerataan mutu pendidikan barmaksud agar sistem pendidikan khususnya sistem persekolahan dengan segala jenis dan jenjangnya di seluruh pelosok tanah air (kota atau desa) mengalami peningkatan mutu pendidikan sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing.
Ø  Solusi
Penanganan mutu secara menyeluruh dilakukan dengan melibatkan semua pihak yang terkait mulai dari hulu sampai hilir, mencakup semua proses yang dilakukan sesuai standar mutu (quality control), penjaminan mutu (quality assurance), ke arah peningkatan mutu berkelanjutan (continuous quality improvement). Penjaminan mutu dan peningkatan mutu pendidikan memerlukan standar mutu, dilakukan dalam satu prosedur tata kerja yang jelas, strategi, kerjasama dan kolaborasi antar pemangku kepentingan; dan dilakukan secara terus-menerus berkelanjutan. Kebijakan pembangunan pendidikan pada dewasa ini menunjukkan adanya modal kuat untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) menyediakan acuan untuk mengkaji pencapaian pendidikan, mutu pendidikan dan bidang yang membutuhkan peningkatan mutu pendidikan. Delapan (8) SNP yang dimaksudkan meliputi: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (3) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) s.tandar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan.
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia, dan manajemen sebagai berikut :
a.       Menyeleksi lebih rasional terhadap masukan SLTA dan PT
b.      Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut
c.       Penyempurnaan kurikulum
d.      Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tentram untuk belajar
e.       Penyempurnaan sarana belajar
f.       Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai anggaran
g.      Kegiatan pengendalian mutu yang berupa kegiatan – kegiatan :
1)       Laporan-laporan penyelengaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan
2)      Supervisi dan monitoring pendidikan oleh pemilik dan pengawas
3)      Sistem pendidikan nasional atau negara seperti UN dan SBMPTN.
4)      Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu lembaga
5.      Rendahnya Kualitas Infrastruktur dan Sarana Fisik
Banyak sekali sekolah maupun perguruan tinggi yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki laboratorium dan sebagainya.
Ø  Solusi:
Masalah fisik berupa gedung maupun ruangan merupakan tanggung jawab pemerintah bagi sekolah negeri, dan tanggung jawab yayasan bagi sekolah swasta, sehingga perlu kebijakan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Namun untuk sarana fisik yang lain seperti media belajar, semestinya bukan menjadi alasan untuk menghambat atau mengurangi kualitas pembelajaran. Justru saat ini guru dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan media pembelajaran sendiri. Pada saat pembelajaran guru menggunakan media pembelajaran yang sesuai yang membuat anak tidak jenuh mengikuti pelajaran. Guru memanfaatkan dan menyiapkan media pembelajaran diantaranya LKS (student worksheet) dan media tabel angka yang ditempel pada papan tulis. LKS dibuat berfungsi tidak hanya sesempit sebagai kumpulan soal-soal akan tetapi dengan adanya LKS dapat pula menemukan informasi-informasi dan penemuan-penemuan lainnya yang sifatnya terbimbing. Melalui media pembelajaran yang disediakan siswa diberi kebebasan untuk mengeksplor kemampuannya untuk menemukan hal-hal baru yang belum pernah ditemukan, memecahkan berbagai persoalan yang semakin mengembangkan olah pikir siswa.

6.      Rendahnya Kualitas Pendidik (Guru)
Sedangkan kompetensi guru didefinisikan sebagai himpunan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, dan keyakinan yang dimiliki seorang guru dan ditampilkan untuk situasi mengajar (Anderson dalam Jacob, 2002a, h.1) Dalam dunia pendidikan guru menduduki posisi tertinggi dalam hal penyampaian informasi dan pengembangan karakter. Walaupun pendidik dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan pendidikan, tetapi pengajaran merupakan titik sentral pendidikan dan kualifikasi, mengingat guru melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Disinilah kualitas pendidikan terbentuk dimana kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru ditentukan oleh kualitas guru yang bersangkutan.
Pada kenyataannya keadaan guru di Indonesia cukup memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Ø  Solusi:
Dalam meningkatkan mutu pendidikan, perlu dilakukan pendampingan terhadap guru-guru di Indonesia dan pemberian apresiasi lebih kepada guru-guru kreatif. Pendampingan dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan profesionalitas, kreatifitas, dan kompetensi guru dengan model pendampingan berupa seminar, lokakarya, konsultasi, pelatihan dan praktek. Pendampingan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan yang didukung oleh pemerintah dan pihak terkait.
Selain pendampingan juga perlu dilakukan mediasi antara masyarakat, pendidik, dan pihak terkait lainnya untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah dalam memperbaiki kurikulum pendidikan. Diharapkan dengan adanya lembaga ini, ide-ide kreatif untuk memperbaiki kurikulum pendidikan dapat tertampung dan pemerintah dapat mempertimbangkan ide masyarakat untuk kebijakan yang dibuat
Upaya lain yaitu perlu guru harus selalu meningkatkan kualitas pembelajaran dan menyesuaikan proses pembelajaran dengan karakteristik peserta didik maupun dengan tuntutan perkembangan zaman. Guru tidak menempatkan diri sebagai satu-satunya sumber ilmu bagi siswanya. Guru seharusnya lebih berperan sebagai fasilitator, motivator, dan konselor. Sebagai fasilitator, guru memberikan jalan pada kelancaran proses belajar secara mandiri siswanya. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sendiri potensi-potensi mereka sehingga siswa lebih berkembang, mandiri, dan kreatif. Sebagai motivator, guru memiliki tugas untuk membangkitkan minat siswa untuk belajar secara mandiri. Sesekali guru memberikan motivasi terhadap siswa-siswanya agar mereka tetap bersemangat dan tidak putus asa. Sedangkan sebagai konselor, guru membantu siswa menemukan dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswanya, Ketika siswa sedang berdiskusi, guru memberi arahan/ bimbingan kepada siswa satu persatu dalam kelompok kecil yang telah dibuat, tidak terpaku pada satu siswa tetapi kepada seluruh siswanya, sehingga siswa lebih paham terhadap apa yang mereka pelajari. Dengan demikian guru harus bisa memahami setiap siswanya karena setiap siswa mempunyai karakteristik, dan potensi yang berbeda-beda.

7.      Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan rendahnya sarana fisik dan kualitas guru, pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai contoh pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat. Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya. Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
Ø  Solusi:
Prestasi siswa tidak lepas dari kualitas pembelajaran yang mereka alami. Dengan demikian, untuk mengatasi masalah prestasi siswa hendaknya mengevaluasi proses pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Kegiatan pembelajaran seharusnya dipusatkan pada siswa (student centered), sehingga siswa menjadi lebih aktif dan kreatif. Siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran tidak hanya merupakan kegiatan transfer of knowledge dari guru ke siswa saja melainkan merupakan kegiatan pembelajaran untuk membangun pengertian terhadap suatu konsep oleh diri siswa masing-masing. Dengan metode diskusi siswa diberi kesempatan untuk mengeksplor kemampuannya sendiri dengan menganalisis persoalan dalam diskusi tersebut dan selanjutnya siswa menyampaikan hasil diskusinya didepan kelas.

8.      Tindak Kecurangan pada saat Ujian Nasional
Ketika Ujian Nasional berlangsung, banyak fakta di lapangan yang menunjukkan adanya kecurangan yang terjadi secara sistemik di berbagai sekolah. Bukan hanya siswa yang terlibat tapi juga para gurunya. Alasan yang paling mendasari beberapa guru melakukan kecurangan adalah perasaan tidak siap jika sekolahnya ternyata nanti mendapati  banyak siswanya yang tidak lulus dalam Ujian Nasional. Jika hal itu terjadi, maka akan mempengaruhi akreditasi sekolah. Selanjutnya masalah akreditasi ini akan berpengaruh terhadap berkurangnya daya tarik siswa untuk sekolah disana. Fakta yang didapat dari seorang guru yang dipaksa untuk memberi kelonggaran sewaktu ujian di sebuah sekolah yang diawasinya agar para siswa bisa sedikit leluasa mendapatkan bocoran jawabannya. Masalah penerapan kejujuran yang tidak tegas diterapkan di sekolah merupakan bahaya laten. Pengaruhnya akan membentuk karakter siswa yang suka menipu dan curang. Ketika besar nanti bisa jadi karakter ini yang akan mendorongnya menjadi seorang koruptor.
Ø  Solusi:
Solusi yang mendasar bukan bagaimana cara meningkatkan pengawasan ujian yang lebih ketat, namun dengan memberikan pendidikan karakter terhadap siswa. Penanaman pendidikan karakter yang berkelanjutan yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran akan membentuk karakter siswa, sehingga dengan sendirinya siswa akan menghindari perbuatan-perbuatan curang, salah satunya tindak kecurangan saat ujian. Di samping hal itu perlu peningkatan kedisiplinan dan sportivitas pihak sekolah dalam penyelenggaraan ujian.
9.      Kurikulum yang kurang tepat sasaran
Penyusunan dan pengembangan kurikulum menurut Gerkhe, N.J, et al. (1992, p. 99) adalah menyangkut :
a.       Kurikulum ditawarkan dan diterima oleh siswa dalam kelompok yang berbeda-beda dan dengan cara berbeda-beda pula. Perbedaan dan kesenjangan kesempatan memperoleh pendidikan dan pendekatan pendidikan yang berbeda hendaknya menjadi pertimbangan agar tidak terlalu merugikan pihak siswa yang kurang beruntung. Isi mata pelajaran hendaknya lebih berorientasi pada adanya kenyataan perbedaan-perbedaan siswa dalam skala nasional agar relevan dengan tujuan pengembangan kognitif, pembentukan afeksi, dan keterampilan yang dapat diikuti oleh berbagai tipe peserta didik.
b.      Banyak usaha sering dilakukan untuk mereformasi kurikulum, dengan adopsi dan inovasi tanpa memperhitungan kondisi dan kesiapan sendiri, atau dengan mempertahankan apa yang dianggap hebat, dapat berdampak pada gagalnya dan tidak relevannya pengembangan sistem pendidikan.
c.       Guru membentuk dan memutuskan kurikulum dalam praktek perencanaan dan layanan belajar, yang bervariasi satu dengan lain, dan sangat sukar untuk mengeneralisasikan kesamaan isi kurikulum.
d.      Kurikulum berubah dari waktu ke waktu, meskipun sulit diukur apakah perubahan itu membawa dampak kemajuan.
Pada kenyataannya sekolah-sekolah di Indonesia memaknai kurikulum hanya sebatas melaksanakan tugas, tanpa memaknai tujuan pengimplementasian dan pengembangan kurikulum.
Ø  Solusi:
Penyempurnaan kurikulum serta pelaksanaannya. Costa (1999:26) menyatakan changing curriculum means changing your mind. Perubahan pola berpikir yang dimaksud tidak hanya dilakukan oleh guru di sekolah, tetapi juga oleh semua unsur praktisi dan teoretisi pendidikan. Perubahan pola pikir tersebut diperlukan agar para guru dapat secara optimal memfasilitasi siswanya belajar.
Beberapa penekanan perubahan pikiran yang diperlukan dalam penyempurnaan pelaksanaan kurikulum adalah: (1) dari peran guru sebagai transmiter ke fasilitator, pembimbing dan konsultan, (2) dari peran guru sebagai sumber pengetahuan menjadi kawan belajar, (3) dari belajar diarahkan oleh kurikulum menjadi diarahkan oleh siswa sendiri, (4) dari belajar dijadwal secara ketat menjadi terbuka, fleksibel sesuai keperluan, (5) dari belajar berdasararkan fakta menuju berbasis masalah dan proyek, (6) dari belajar berbasis teori menuju dunia dan tindakan nyata serta refleksi, (7) dari kebiasaan pengulangan dan latihan menuju perancangan dan penyelidikan, (8) dari taat aturan dan prosedur menjadi penemuan dan penciptaan, (9) dari kompetitif menuju kolaboratif, (10) dari fokus kelas menuju fokus masyarakat, (11) dari hasil yang ditentukan sebelumnya menuju hasil yang terbuka, (12) dari belajar mengikuti norma menjadi keanekaragaman yang kreatif (13) dari penggunaan komputer sebagai obyek belajar menuju penggunaan komputer sebagai alat belajar, (14) dari presentasi media statis menuju interaksi multimedia yang dinamis, (15) dari komunikasi sebatas ruang kelas menuju komunikasi yang tidak terbatas, (16) dari penilaian hasil belajar secara normatif menuju pengukuran unjuk kerja yang komprehensif.
10.  Permasalahan pendidikan di tingkat pendidikan dasar
Pemerintah memberikan layanan pendidikan dasar yang bermutu, merata dan berkeadilan, serta relevan dengan kebutuhan lulusan sebagai warga masyarakat dan negara. Pendidikan dasar membentuk karakter, literasi dasar, dan kecakapan dasar bagi semua warga negara melalui pelayanan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan. Pelayanan yang berkeadilan tidak membedakan suku bangsa, golongan, jenis kelamin, serta latar belakang sosial-ekonomi peserta didik.
Kriteria keberhasilan relevansi pendidikan dasar bukanlah dalam ukuran banyaknya gedung sekolah, guru, sarana belajar, dan banyaknya pengetahuan yang dihafal oleh peserta didik, tetapi yang lebih penting adalah pembentukan karakter dan kemampuan dasar untuk belajar untuk melaksanakan hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara yang bertanggungjawab.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukan gejala yang memprihatinkan. Satuan pendidikan dasar telah menjadi mesin pencetak pengetahuan bagi peserta didik. Pendidikan dasar oleh para penyelenggara lebih difahami sebagai ”kumpulan mata pelajaran” yang diajarkan oleh guru di SD, SMP, MI, MTs, atau paket A dan Paket B. Pemahaman ini dalam kenyataannya telah mereduksi esensi pendidikan dasar yang sejatinya membentuk karakter dan kemampuan dasar untuk belajar, menjadi suatu sekumpulan proses pengajaran teori dan hafalan di dalam kelas yang dikukur melalui tes hafalan. Pendidikan dasar tidak akan pernah relevan dan tidak berfungsi sebagai fondasi yang kokoh baik membentuk karakter dan peningkatan mutu pendidikan pada jenjang-jenjang berikutnya jika keadaan ini dibiarkan.
Ø  Solusi:
Usulan kebijakan pada pendidikan dasar dengan merujuk pada permasalahannya, maka program pendidikan dasar perlu dikaji ulang terutama berkaitan dengan struktur program, substansi program, esensi program, serta kriteria keberhasilannya. Pembangunan pendidikan dasar melalui pengadaan USB, RKB, sarana belajar, buku teks pelajaran, serta pengadaan sarana/prasarana fisik lainnya, perlu dikaji ulang, karena, menurut PP No. 38/2007, sebagian besar program ini merupakan urusan kabupaten/kota. Pemerintah pusat bertugas melahirkan kebijakan, menetapkan standar, mengembangkan kapasitas, menetapkan subsidi, insentif dan disintensif atas dasar keberhasilan sekolah, serta pengendalian mutu pendidikan secara nasional.
Isu kebijakan yang mendasar adalah melakukan retrukturisasi program dan kurikulum pendidikan dasar, termasuk sistem pembelajaran di sekolah. Program pendidikan dasar perlu direkonstruksi dan dibangun kembali agar semakin relevan dengan kebutuhan lulusan untuk hidup sebagai warga negara produktif dan bertanggungjawab (productive and responsible citizen). Pendidikan dasar setidaknya memiliki empat program, yaitu: Program literasi dasar; Program Pengetahuan Dasar; Program kecakapan hidup; dan Program pendidikan karakter.
11.  Permasalahan pendidikan di tingkat sekolah menengah atas
Relevansi SMA dapat dianalisis dari sisi fungsinya sebagai satuan pendidikan pra-akademik untuk menyiapkan peserta didik melanjutkan ke pendidikan tinggi atau pendidikan berkelanjutan dalam ranah PNF. SMA sebagai program pendidikan menengah,1 SMA membentuk dan mengembangkan seluruh potensi siswa agar memiliki dasar yang kuat untuk berfikir ilmiah melalui proses pembelajaran yang intensif dan sistematis. Peserta didik bukan hanya diberikan banyak teori dan pengetahuan yang dihafal, bukan juga banyaknya teori yang telah diajarkan oleh guru (daya serap) sebagai ukuran keberhasilan, tetapi memiliki kecakapapan dasar untuk mencari dan meneliti sendiri pengetahuan yang berguna melalui proses belajar inquri dan bersifat mandiri. Kecakapan dasar harus ditumbuhkan melalui program-program pendidikan, kurikulum dan pembelajaran, serta pendekatan dan proses pengelolaan sekolah.
Pendidikan di SMA masih menghadapi masalah dalam kaitan dengan relevansi kurikulum, pembelajaran, dan manajemen sekolah yang menciptakan proses belajar siswa yang mutunya rendah (rote learning). Proses pembelajaran kurang menumbuhkan potensi dan kreativitas siswa, tetapi menyuguhkan teori dan pengetahuan yang dihafal dengan muatan teoretis yang padat. Proses pembelajaran seperti ini sudah menjadi “tipikal” budaya belajar siswa di Indonesia, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. Sekolah belum mampu menciptakan proses pembelajaran yang nyaman, menarik dan menyenangkan bagi siswa untuk belajar optimal, sehingga prestasi belajar siswa rendah dan terkesan semakin buruk akhir-akhir ini.
Ø  Solusi:
Permasalahan yang cukup mendasar dalam pendidikan di SMA sebagai pendidikan pra-akademik adalah kurikulum, pembelajaran, dan manajemen sekolah yang kurang kondusif untuk belajar secara optimal karena proses belajar siswa yang rendah kualitasnya (rote learning). Proses ini terbukti tidak mampu menumbuhkan kreativitas siswa, karena pembelajaran lebih “menjejali” siswa dengan sejumlah besar pengetahuan teori dan hafalan dengan beban materi mata yang padat. Perlu dilakukan perubahan mendasar dalam menumbuhkan budaya belajar (learning culture) melalui penciptaan proses yang nyaman, menyenangkan, dan menarik sehingga peseta didik dapat belajar optimal.
Pendidikan di SMA sebagai pendidikan pra-akademik untuk mengikuti jenjang strata pendidikan tinggi, memiliki kemiripan dengan pendidikan dasar yang juga sebagai fondasi untuk pendidikan lebih lanjut. Kedua jenis pendidikan ini sama yaitu pendidikan umum yang relevansinya tidak tepat jika diukur berdasarkan kebutuhan lapangan kerja. Oleh karena itu empat program pendidikan dasar tersebut di atas yang bersifat generik juga dapat diterapkan melalui pendidikan di SMA,
Empat program pendidikan di atas, perlu juga diterapkan di SMA, namun bobot program pendidikan menengah harus lebih menekankan pada Program Pendidikan Kemampuan Belajar (learning tools), dan Program Substansi Belajar (learning content).
12.  Permasalahan pendidikan di tingkat sekolah menengah kejuruan
Proses pendidikan di pendidikan menengah kejuruan diindikasikan terdapat gejala yang konsisten bahwa program pendidikan di SMK, terisolasi dengan kebutuhan riil dunia usaha dan industri. Program pendidikan bersifat “supply driven” karena jenis program studi, materi pendidikan, cara mengajar, media belajar, evaluasi dan sertifikasi lebih ditentukan oleh provider utama, yaitu Pemerintah. Program pendidikan kejuruan di sekolah kaku dan tidak lentur terhadap perubahan kebutuhan lapangan kerja. Program pendidikan belum berorientasi terhadap kebutuhan pasar kerja yang berubah, sehingga terjebak ke dalam pemeo “membidik sasaran yang bergerak” (aimed at the moving target). Jumlah rumpun dan program studi “relatif tetap” tidak selaras dengan kebutuhan lapangan kerja yang berubah. Menurut statistik pengangguran, SMK merupakan satuan pendidikan yang melahirkan angka pengangguran tertinggi (Sakernas, 2005 s/d 2009).
Pendidikan kejuruan melalui kursus atau pendidikan kecakapan hidup (PKH) lebih relevan dengan kebutuhan lapangan kerja. Mereka lebih luwes dan dapat mengikuti perubahan kebutuhan lapangan kerja. Pendidikan kursus lebih bersifat “demand driven”, karena jenis program pendidikan berubah karena berubahnya kebutuhan para penerima kerja. Program pendidikan kursus dan PKH dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan masyarakat yang dibutuhkan sekarang juga.
Pendidikan kejuruan di sekolah telah menimbulkan permasalahan struktural yang menjadikan kurangnya relevansi dengan lapangan kerja. Perkembangan program studi bersifat konstan (constant) karena perangkat pendidikan dibentuk secara legal-formal, yang dapat membatasi ruang kreativitas para pengelola program dan terkesan “menghindari” perubahan. Sebaliknya dunia usaha terus berubah (variable), bahkan teknologi baru-pun lebih dahulu masuk ke dunia usaha karena mengikuti tuntutan pasar. Di lain pihak, program-program kursus sebagai training providers memiliki kesamaan sifat dengan dunia usaha dan industri, mereka bersifat “variable” terhadap tuntutan pasar yang terus berubah. Oleh karena itu integrasi antara pendidikan kejuruan di SMK dan kursus perlu dipertimbangkan sebagai agenda kebijakan pembangunan pendidikan kejuruan ke depan.
Ø  Solusi:
Pemerintah bertugas melayani penyelenggaraan semua jenis pendidikan kejuruan yang untuk menghasilkan lulusan yang produktif baik yang ingin bekerja maupun yang ingin menjadi pengusaha produktif dan mandiri. Pendidikan kejuruan adalah pendidikan untuk sebagian besar penduduk karena sasarannya adalah semua angkatan kerja yang berjumlah di atas 110 juta ditambah calon angkatan kerja yang masih bersekolah.
Belajar dari pengalaman Korea (Cathy, 2007), produktivitas pekerja Korea Selatan tidak ditingkatkan melalui SMK atau Politeknik yang sasarannya hanya sebagian kecil angkatan kerja. Pendidikan sepanjang hayat (life-long education) bagi Korea jauh lebih penting karena sasarannya bukan hanya anak usia sekolah, tetapi juga seluruh angkatan kerja, pekerja, atau pengusaha yang ingin meningkatkan produktivitasnya. Masyarakat dilayani melalui PNF kecakapan hidup (life skills), pelatihan kerja, berbagai kursus keterampilan, pendidikan kewirausahaan termasuk bagi penduduk miskin, serta pengakuan terhadap hasil belajar sebelumnya (recognition of prior learning) serta bentuk pendidikan berkelanjutan lainnya. Kebijakan perluasan SMK perlu ditinjau kembali, karena program tersebut baru melayani 0,4% dari calon angkatan kerja muda dengan biaya investasi yang cukup mahal, ditambah kenyataan bahwa lulusannya memiliki angka pengangguran tertinggi (BPS, 2008).
Tujuan pokok pendidikan kejuruan adalah menghasilkan pelaku ekonomi produktif; pekerja yang kreatif, dan pengusaha mandiri (Depdiknas, 2005). Pendidikan kejuruan tidak boleh terpisahkan dari program-program perekonomian nasional, serta dunia usaha dan industri sebagai ”penerima kerja”. Dunia usaha dan industri setiap saat membutuhkan pekerja terampil, ahli, dan profesional dalam perspektif sebagai pelaku ekonomi. Keberhasilan pendidikan kejuruan bukan diukur dari perspektif provider seperti ujian nasional atau ijazah, tetapi diukur dari perspektif users, seperti: daya-serap lapangan kerja, tingkat produktivitas, peningkatan karier, dan penghasilan lulusan. Penyelenggaraan pendidikan kejuruan, Kemdiknas perlu berkoordinasi secara sistemik dengan para pemegang kebijakan dan program perekonomian nasional, serta dengan dunia usaha dan dunia industri.
Supply tenaga yang cakap dan terampil tidak mungkin dipenuhi seluruhnya oleh SMK dan politeknik, karena program studi yang ditawarkan jauh lebih sedikit ketimbang jenis keterampilan dan kecakapan yang dibutuhkan oleh lapangan kerja. Konsep SMK perlu diperluas tidak hanya menyelenggarakan pendidikan formal kejuruan akan tetapi juga menyelenggarakan berbagai jenis kursus atau pelatihan singkat yang sengaja dibentuk untuk memenuhi kebutuhan pasar (demand diven), serta pengakuan terhadap pengalaman belajar yang lalu (recognition of prior learning) seperti: pendidikan berkelanjutan, pendidikan profesional berkelanjutan, serta berbagai bentuk community colleges.
Pengangguran merupakan permasalahan yang perlu diatasi, mind set yang bias tentang pendidikan formal (school education bias) perlu dirubah. Kebijakan perluasan SMK perlu dirubah menjadi perluasan pendidikan kejuruan. Pendidikan kejuruan dalam arti luas, seperti: pendidikan kejuruan non-sekolah, kursus-kursus, politeknik, pelatihan kerja, PKH, pendidikan keterampilan, kredit mikro, pendidikan wirausaha yang dikemas dalam berbagai bentuk pendidikan berkelanjutan dan pendidikan profesional berkelanjutan. Perluasan pendidikan kejuruan perlu ditempuh oleh Kemdiknas dengan berkordinasi antar-instansi agar pendidikan kejuruan memperoleh perimbangan dengan upaya perluasan investasi lapangan kerjanya.
13.  Permasalahan pendidikan di tingkat pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi diindikasikan terdapat gejala yang konsisten bahwa, semakin tinggi tingkat pendidikan angkatan kerja, semakin tinggi angka pengangguran. Kondisi ini konsisten dalam lima tahun terakhir, akibat dari terjadinya gejala ketimpangan antara struktur persediaan tenaga kerja dengan struktur lapangan kerja menurut pendidikan. Timpang, karena pada waktu pendidikan menawarkan pekerja lulusan pendidikan yang lebih tinggi, lapangan kerja masih bersifat subsistent karena ternyata lebih membutuhkan pekerja berpendidikan rendah bahkan tidak berpendidikan sama sekali.
Menurut ISCO (International Classification of Occupation), ada gejala yang konsisten; bahwa pendidikan nasional belum menumbuhkan kemandirian bagi lulusan. Kemandirian dalam berusaha justru lebih banyak dilakukan oleh yang berpendidikan rendah, walaupun produktivitasnya rendah. Gejala menunjukan bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin rendah persentase pekerja yang berusaha secara mandiri. Gejala ini menunjukan bahwa investasi pendidikan berdampak buruk terhadap menurunnya kemandirian pekerja. Untuk memacu keselarasan pendidikan, maka program pendidikan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan yang mandiri dan profesional. Kenyataan justru sebaliknya, kemandirian pekerja lulusan pendidikan tinggi belum tumbuh seperti yang diharapkan.
Ø  Solusi:
a. Pendidikan Vokasi
Pengangguran menurut bidang keahlian terdapat dua kelompok keahlian dengan karakteristik yang berbeda. Pertama adalah Kelompok lulusan diploma dengan pengangguran tinggi karena kualifikasinya tanggung8 (underqualified) jika hanya setingkat diploma karena yang lebih diperlukan adalah sarjana, magister bahkan doktoral. Kedua adalah lulusan diploma PT yang terlalu tingi kualifikasinya (over-qualified), yaitu lapangan kerja yang justru lebih banyak membutuhkan tenaga pelaksana teknis atau operator yang cukup dikerjakan oleh lulusan SMA atau lebih rendah tetapi yang terlatih (well trained), terampil, dan mahir. Jenis-jenis pekerjaan manajemen keuangan dan administrasi perkantoran masih cukup terbuka, namun pekerja jenis ini cukup dibentuk melalui aplikasi komputer yang dapat berubah dengan cepat seiring dengan teknologi ICT yang berkembang pesat. Agenda pengembangan program diploma PT adalah sebagai berikut.
1)      Pembukaan program pendidikan vokasi tidak dilakukan berdasarkan ijin yang sangat ketat dari Kementerian atau dinas pendidikan tetapi harus lebih banyak ditentukan oleh pasar, yang dapat dibuka pada waktu dibutuhkan dan ditutup jika pasar tidak membutuhkan lagi.
2)      Program pendidikan yang hanya diselenggarakan untuk menyiapkan tenaga-tenaga pelaksana di lapangan serta tenaga pertukangan atau kerajinan, tidak perlu diadakan pendidikan diploma, tetapi cukup disiapkan pada tingkat pendidikan menengah kejuruan plus kursus keterampilan yang sesuai;
3)      pembentukan program diploma manajemen keuangan dan administrasi perkantoran perlu sering diremajakan seiring dengan perkembangan program berbasis teknologi informasi setiap waktu;
4)      Pendidikan vokasi mungkin tidak diperlukan untuk menyiapkan pekerja yang cakap dan mahir bidang kesenian, senirupa dan sejenisnya. Pekerjaan bidang ini lebih ditentukan oleh bakat dan minat seseorang, sehingga lulusan setingkat SMA saja sudah memadai. Jenis-jenis pekerjaan seperti karikatur, RBT, film, multimedia, design, periklanan, musik merupakan produk kreatif yang berbasis kultur, dan Indonesia berpotensi untuk dapat bersaing dan menghasilkan devisa Negara cukup besar dari sektor ini;
5)      Program yang perlu dikembangkan ke depan adalah pendidikan vokasi dalam berbagai cabang industri kreatif, sebagai salah satu prioritas Pemerintah. Program pendidikan vokasi akan memberikan nilai tambah bagi mereka yang berbakat di bidang seni dan senirupa jika dikaitkan dengan pengembangan industri kreatif, untuk membantu mereka melahirkan berbagai inovasi, teknologi pengemasan, serta pemasaran yang lebih efektif; dan
6)      Penyiapan tenaga professional dalam konteks pengembangan agro-industry diperlukan setingkat magister atau doktoral yang mampu megembangkan produk-produk baru pertanian serta pemasarannya. Program pendidikan keahlian dan penelitian bidang pertanian, peternakan dan perikanan masih akan tetap dibutuhkan walaupun tidak dalam jumlah besar. Indonesia perlu mengembangkan program pendidikan vokasi dalam berbagai bidang industri agro, yaitu pertanian komersial dengan penggunaan teknologi tepat guna baik pra- maupun pasca panen.
b. Pendidikan Sarjana
Pertama, pengangguran sarjana terjadi karena gejala over-supply yaitu jumlah kebutuhan lebih kecil dibanding jumlah yang dihasilkan, tetapi terus diproduksi. Sarjana pendidikan (guru), misalnya, memang dibutuhkan namun tidak seluruh bidang keahlian karena ada bidang pengajaran yang kurang dibutuhkan, dan ada juga jurusan-jurusan LPTK yang sudah jenuh dan perlu dibatasi. Pendidikan sarjana LPTK perlu memprioritaskan program-program studi yang paling dibutuhkan. LPTK perlu melakukan studi kebutuhan dan persediaan guru bersama users, yaitu Dinas Pendidikan yang dianggap paling mengetahui bidang yang sangat atau kurang dibutuhkan. LPTK juga perlu melaksanakan program rutin penelitian pasar tenaga guru melalui survey sekolah.
Kedua, pengangguran terjadi karena gejala over-qualification yaitu kualifikasi sarjana yang terlalu tinggi untuk pekerjaan yang dapat dilakukan oleh lulusan pendidikan di bawahnya, misalnya lulusan diploma atau SMA yang terlatih melalui kursus singkat. Program pendidikan tinggi dalam bidang-bidang ini cukup hanya diselenggarakan sampai dengan tingkat program diploma yang menyiapkan tenaga pelaksana lapangan. Tenaga pertukangan atau kerajinan, cukup disiapkan pada tingkat pendidikan menengah kejuruan atau kursus keterampilan yang sesuai.
Ketiga, beberapa jenis tenaga sarjana, seperti kesenian dan senirupa yang dapat bekerja mandiri dan professional, tidak memerlukan lapangan kerja perkantoran. Sarjana kesenian dan senirupa adalah pekerja profesional karena bakatnya, bahkan pendidikan formal setinggi apapun tidak dapat menambah bakatnya. Pekerja kesenian dan senirupa paling tinggi cukup memerlukan program vokasi, karena pekerjaan ini pada dasarnya tidak memerlukan sarjana, magister, atau doktor. Program pendidikan sampai tingkat vokasi akan memberikan nilai tambah bagi yang berbakat di bidang seni daslam rangka melahirkan produk-produk kreatif, serta membantu melahirkan inovasi, teknologi kemasan, serta pemasaran produk yang lebih baik dibandingkan dengan cara-cara tradisional.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L. W. (1989). The Effective Teacher: Study Guide and Reading. New York: McGraw-Hill Book Company.
Badan Pusat Statistik (2008) Survey Sosial Ekonomi Nasional, Jakarta BPS
Cathy Andrew, Cindy Howe, John Kane, Reese Mattison (2007) “Dynamic Korea; Education Policies and Reform” Group Project: EPS530Z-Spring 2007.
Costa, A. L.1991. The school as a home for the mind. Palatine, Illinois: Skylight Training and Publishing, Inc.
Depdiknas, (2005) “Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan Nasional 2005-2009., Jakarta Sekretariat Jenderal Depdiknas
Rochmat Wahab. Pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik sesuai dengan Perkembangan teknologi modern, Seminar Pendidikan, Yogyakarta, 2009.

Satori, Prof. Dr. Djam’an, M.A. 2010. Peningkatan dan Penjaminan Mutu Pendidikan. Bandung: UPI


Rahayu Condro Murti:


Berdasarkan hasil perkuliahan di Kelas, membaca referensi yang ada di berbagai macam (Web, Blog, on line, buku, jurnal, dll) dan pengalaman saya sebagai pendidik  matematika diperguruan tinggi (PGSD) maka berkaitan dengan praktik pengembangan di LPTK, pendidikan guru dewasa ini di Indonesia maka saya dapat mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang ada dan kemungkinan solusinya sebagai berikut :


No.
permasalahan
Alternatif Solusi
1
Fenomena kurangnya penguasaan guru dalam materi terkait dengan konsep operasi bilangan terutama pada bilangan bulat dan pecahan, tampak pada saat dosen/instruktur memberikan pelatihan pada PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) SD dalam enam tahun terakhir (2008-2013). Hampir seluruh peserta pelatihan (guru-guru SD) tidak dapat menjawab beberapa pertanyaan dasar tentang operasi bilangan seperti “mengapa penjumlahan dua pecahan, harus menyamakan dulu penyebut?”, lalu “mengapa yang  dijumlahkan hanya pembilang sedang penyebutnya dituliskan tetap?”, “bagaimana dengan operasi perkalian dan pembagian pada pecahan?”.


Memberikan pelatihan materi matematika  ke SD an  dengan pendekatan  konstruktivis sehingga terjadi belajar bermakna. Dengan demikian meningkatkan pemahaman guru tentang matematika dan bagaimana memberikan pengalaman pembelajaran yang baik bagi peserta didiknya
2
berdasarkan pengalaman dosen dalam menguji skripsi beberapa mahasiswa yang terkait konsep operasi bilangan, masih ada kesalahan tentang konsep yang dipahami mahasiswa tersebut. Padahal seharusnya mahasiswa tersebut telah menguasai materi yang ditelitinya
Pembimbingan yang lebih intensif pada mahasiswa terutama berkaitan dengan penguasaan konsep matematikanya dan bagaimana pembelajarannya di SD
3
Berdasarkan pengalaman saya sebagai dosen peserta PPG SM3T selama 2 angkatan (2013 dan 2014), sebagian besar kurang penguasaan konsep matematika dasar, sehingga tidak menyadari adanya kekeliruan pada buku-buku di SD yang digunakannya saat menjadi guru di daerah 3T, seperti rumus volume kubus adalah sisi x sisi x sisi, yang seharusnya rusukxrusukxrusuk. Mereka juga “lupa” dengan teori belajar matematika dari para tokoh pembelajaran, seperti Bruner, Vygotsky, Piaget, dll, sehingga saat mereka menjadi guru di lokasinya masing-masing, hampir tidak pernah mengimplementasikannya.

Memberikan pengalaman pembelajaran di kelas yang sifatnya pemodelan sebagai guru SD yang baik yaitu dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi siswa untuk terlibat aktif dalam menemukan konsep yang ia pelajari.
Dengan semikian selain penguasaan konsep yang ia terima, ia juga memahami bagaimana mengajar matematika di SD.

4
Pengalaman saya sebagai dosen matematika di semester I tahun akademik 2012/2013 memperlihatkan para mahasiswa memang belum menguasai konsep operasi bilangan, walaupun mereka termasuk mahasiswa yang pintar-pintar karena telah dapat mengalahkan pesaingnya untuk menjadi mahasiswa S1 PGSD FIP UNY, yaitu dengan perbandingan 1:20.
Ternyata mereka pintar matematika orang dewasa, namun belum menguasai matematika anak-anak, padahal mereka nantinya akan bergelut dengan matematika sekolah dasar.
Para mahasiswa PGSD perlu membaca http://powermathematics.blogspot.com/2010/08/elegi-permintaan-si-murid-cerdas-kepada.html#more. Sehingga mereka menyadari dan mempersiapkan diri sedini mungkin bagaimana menjadi guru matematika di SD yang dicintai para peserta didiknya.
5
Berdasarkan pengalaman saya dalam membimbing maupun menguji  skripsi mahasiswa PGSD maupun non PGSD, sebagian besar dari mereka masih menggunakan hakikat matematika  murni, bukan matematika sekolah.
Perbedaan yang tajam  diantara keduanya mengharuskan kita untuk dapat menempatkan diri kita dalam menggunakan matematika.
Kesalahan lain juga pada saat mereka membuat instrumen penelitian berupa RPP dengan LKS. Kebanyakan dari mereka menyamakan LKS dengan soal-soal latihan, bukan sebagai panduan kepada siswa untuk belajar menemukan pengetahuannya sendiri.

Penegasan kepada mahasiswa bimbingan untuk dapat membedakan antara matematika murni dengan matematika sekolah (SD khususnya).
Perlu dibuat buku penunjang perkuliahan yang dapat memberikan pemahaman bagi mahasiwa tentang
6
Berdasarkan hasil survey mahasiswa PGSD kepada guru SD dari kurang lebih 30 SD  yang berada di DIY, lebih dari 50 % nya belum pernah mendengar matematika realistik, yang sudah pernah mendengarpun belum tentu melaksanakannya dalam pembelajaran matematika di kelasnya.
Pelatihan tentang matematika realistik kepada guru-guru yang bukan hanya teori, melainkan pelatihan yang mengaktifkan mereka. Pelatih dalam hal ini bukan penceramah semata, melainkan sebagai model pembelajaran yang menggunakan pendekatan matematika realistik.
7
Kesalahan konsep perkalian yang diunggah pada media sosial.  Penilaian guru terhadap PR yang dikerjakan siswa dinilai keliru. Padahal guru tersebut sudah benar. Sebagian besar komentar yang diberikan masyarakat yang ikut menyalahkan pak guru memperlihatkan sebagian besar masyarakat kita belum memahami konsep perkalian. Jadi ternyata matematika belum menjadi kegiatan di dalam kehidupannya.

Mengingatkan kembali kepada guru matematika SD untuk memberikan pembelajaran matematika yang bermakna sehingga menjadikan matematika sekolah lebih implementatif dalam kehidupannya.
8
Berdasarkan Pengalaman saya dalam mendampingi guru-guru SD mitra USAID dalam mengimplementasikan pelatihan yang telah diterimanya, rata-rata dari guru-guru tersebut awalnya mengajar merupakan “transfer of knowledge” dan meyakini bahwa siswa datang ke kelas dengan empty vessel. Sehingga mereka cenderung untuk ceramah. Juga apabila ada LKS, mereka membuatnya sama dengan lembar soal-soal latihan.
Pendampingan mulai dari perencanaan (membuat RPP dan perangkatnya termasuk menyiapkan LKS dan media yang diperlukan), mengobservasi pelaksanaan pembelajaran di kelas oleh guru ybs, sampai merefleksi pelaksanaan pembelajaran yang telah dilakukan.

Terima Kasih
Wassalam

Rahayu Condro Murti

84 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Mengambil pilihan menjadi seorang calon guru menurut saya bukan hal yang mudah. Pahlawan tanpa tanda jasa, itulah sebutan bagi seorang guru. Memutuskan untuk mempunyai profesi sebagai seorang guru seharusnya berasal dari hati nurani. Selain itu, seorang guru harus menyadari bahwa tugas utamanya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk mencerdaskan siswa-siswanya yang akan menjadi generasi penerus kita. Menjadi seorang guru haruslah ikhlas dari dalam hati, baik itu saat gaji seorang guru rendah maupun tinggi. Dengan hati yang ikhlas untuk mencerdaskan dan berbagi ilmu yang bermanfaat kepada siswa, maka seorang guru akan menjadi guru yang profesional walaupun tanpa tunjangan sertifikasi. Namun di lain pihak, sebaiknya pemerintah memang harus memperhatikan kesejahteraan guru dan pemerataan pendidikan di Indonesia. Walaupun guru yang mengajar sudah profesional dan ikhlas, kegiatan belajar mengajar tetap tidak akan maksimal jika sarana dan prasaranya tidak mendukung.

    ReplyDelete
  2. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Telah kita ketahui bersama bahwa guru merupakan ujung tombak dalam pendidikan, dimana tugas utamanya adalah mendidik siswa. Maka dalam rangka memajukan kualitas pendidikan di Indonesia, hendaknya guru selalu memperbaharui pengetahuannya dan keterampilannya dalam mendidik siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat mengimbangi kemajuan teknologi yang semakin hari semakin pesat perkembangannya. Oleh karena itu guru harus menyesuaikan keterampilan mendidik siswa sesuai dengan perkembangan dunia tersebut. Dengan demikian sebagai seorang guru harus selalu melakukan perubahan kea rah yang lebih baik agar tercipta pembelajaran yang inovatif

    ReplyDelete
  3. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Berdasarkan tulisan di atas dari para mahasiswa bimbingan prof Marsigit saya mengerti ternyata dalam LPTK masih memiiki permasalahan-permasalahan. Beberapa permasalahan jika dilihat dari peserta, lembaga, bahkan yuridis. Selain itu dalam tulisan lain pun juga menemukan permasalahan-permasalahan, dan memang beberapa solusi juga bisa menjadi pertimbangan dalam memperbaikinya,

    ReplyDelete
  4. Budiharti
    16703261068
    PPs IP kons PSD

    Dari ketiga tulisan di atas, ada beberapa permasalahan pada LPTK tentang penyiapan seorang guru. saya sebagai tenaga pengajar di PGSD kurang lebih mengalami permasalahan yang sama, bahwasannya kita memang harus menekankan tentang matematika sekolah bukan matematika dewasa. Permasalahan pada mahasiswa PGSD pun kurang lebih sama, bahwasannya mahasiswa mampu mengerjakan berbagai soal-soal matematika SD. namun, ketika mereka diminta menjelaskan bagaimana mahasiswa PGSD sebagai calon guru SD menjelaskan tentang konsep, mereka kesulitan, karena mereka sendiri belum memahami konsep. hal ini juga terlihat pada konsep dasar operasi bilangan seperti halnya penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian, terutama pada bilangan bulat.
    solusi-solusi yang ditawarkan di atas saya rasa, memang bisa untuk mengatasi berbagai masalah di atas, mahasiswa benar-benar harus disiapkan menjadi guru SD dengan baik, dan tentu saja memahamkan kepada mereka tentang matematika sekolah. mahasiswa perlu digali kemampuannya, dan bagaimana cara membelajarkan matematika melalui aktivitas-aktivitas, karena pada dasarnya matematika adalah sebuah kegiatan atau aktivitas yang tidak terlepas dari kehidupan anak-anak.

    ReplyDelete
  5. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    LPTK yang ada di berbagai daerah di indonesia sangat bervariasi dalm masalah mutunya. Walaupun begitu LPTK seharusnya menjadi acuan bagi guru untuk bisa memperbaiki kedepannya, walaupun LPTK sekarang ini banyak kekurangannya atau masalah, setiap masalah pasti ada solusinya.

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Menurut saya, kualitas lulusan yang dihasilkan oleh LPTK sangat terkait dengan berbagai hal mulai dari pelayanan tenaga administrasi, dosen/pengajar, kurikulum, tempat belajar, wawasan mahasiswa terhadap pendidikan, dan sarana penunjang proses belajar mengajar di LPTK

    ReplyDelete
  8. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas perlu dilakukan perbaikan pada saat rekruitment calon mahasiswa. Dengan kata lain, calon mahasiswa harus diseleksi secara ketat agar menghasilkan sarjana yang berkualitas. Selain itu juga harus melakukan pembenahan kurikulum, kualitas dosen, atmosfer akademik, sarana, dan budaya akademik juga harus dibangun untuk melahirkan sarjana pendidikan yang handal secara intelektual dan memiliki kualitas akhlak yang baik.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya menyoroti salah satu malasah dalam pelaksanaan dan pengembangan LPTK yaitu kurangnya bekal bagi calon guru. Memang benar masih ditemukan komplain dari sekolah tentang kemampuan mengajar mahasiswa LPTK ketika melaksankan PPL. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengalaman dari mahasiswa PPL dalam mengajar. Solusi yang perlu dilakukan salah satunya yaitu dengan pembekalan pada saat microteaching yang tidak hanya terbatas 1 atau 2 sks tetapi harus direncanakan dengan matang sebagai persiapan mahasiswa terjun langsung mengajar ke lapangan.

    ReplyDelete
  10. Dari tiga tulisan yang ditayangkan di atas mengindikasikan bahwa: masalah atau problematika selalu muncul beriringan dengan perkembambagan konsep kurikulum yang berlaku.Khususnya di LPTK, permasalahn yang muncul tentunya berkaitan dengan murid dewasa (dalam artian mahasiswa) siswa yang sudah maha saja masih bermasalah. Tentu hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi.Sebagaimana kurikulum Sekolah, pendidikan tinggi juga mengalami perubahan kurikulum seiring dengan adanya perubahan kebijakkan dalam rangka memperbaharui kepentingan yang ada, Twrkadang beberapa elemen yang terkait mengalami permasalahn karena adanya ketidakpahaman dalam menelaah hal yang semestinya menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing. sebagai contoh, Kebijakan yang ada di beberapa LPTK kurang merujuk pada tujuan kurikulum yang hendak dicapai, terkait dengan itu adanya permaslahan prestasi mahasiswa, mata kuliah yang belum relevan, dan juga beberapa elem terkait seperti fasilitas kampus. berkaitan dnegan prestasi mahasiswa, juga tidak terlupa dari masalah input dan ketersediaan SDM. terlebih-lebih jika LPTK tersebut berstatus SWASTA ataupun YAYASAN, tentu berbeda perlakuannya dengan LPTK yang NEGERI. berbagai kendala pasti banyak terjadi di sana.Minimnya fasilitas yang ada sebagai akibat adalah kurangnya bekal yang semestinya untuk para mahasiswanya.

    ReplyDelete
  11. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    memang masih banyak pekerjaan kita untuk merealisasikan solusi yang telah diberikan untuk setiap kendala yang dimiliki. namun perlu kita sadari bahwa untuk merealisasikan solusi tersebut banyak pihak yang harus digandeng untuk bekerja sama. karena pendidikan indonesia tidak hanya sebatas guru dan murid, karena itu, penting komunikasi dengan yang lain agar terwujudnya pendidikan indonesia yang semaikn baik kedepannya.

    ReplyDelete
  12. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tujuan dalam pendidikan adalah untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang baik bagi siswa. Pendidikan yang berhasil adalah ketika siswa dapat menerapkan ilmu yang didapatkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya mampu secara teori. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut dibutuhkan fasilitas yang memadai, salah satunya adalah guru sebagai fasilitator.
    Karena masih terdapat banyak masalah dalam pedidikan, maka pendidikan di Indonesia belumlah sesuai dengan cita-cita bangsa. Sehingga, diperlukan suatu lembaga yang dapat mencetak guru sedemikian sehingga guru dapat menjadi fasilitator yang baik, yang dapat mewujudkan cita-cita pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  13. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) adalah suatu lembaga perguruan tinggi yang mempersiapkan tenaga pendidik profesional. Setiap sekolah pastinya mengharapkan tenaga pendidik yang ahli dibidangnya, khususnya SMK. Guru SMK perlu dibekali agar memiliki kompetensi kepribadian, yang dalam pelaksanaannya tidak harus membekali secara terpisah dari mata – mata kuliah yang dirancang, tetapi untuk mencapai kompetensi kepribadian secara bertahap masuk pada setiap proses pembelajaran setiap mata kuliah, di samping dalam mata – mata kuliah kependidikan dan atau psikologi kependidikan sehingga para lulusan nanti memiliki kompetensi kepribadian, yaitu menjadi seorang pendidik yang bersifat dewasa, berwibawa, arif, bijaksana, dapat menguasai emosi dan dapat menjadi teladan bagi para peserta didik dan masyarakat lingkungannya.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Penanaman semangat belajar dengan bersekolah setidaknya dimulai sedini mungkin, yaitu sekolah dasar. Anak dididik dan diarahkan untuk 'haus' akan ilmu, untuk ilmu apa pun itu. Terutama di bidang tertentu yang ia senangi. Jika anak senang belajar, orang tua mana yang tega untuk melarang anaknya sekolah. Dan hal ini merupakan salah satu masalah yang dipaparkan di atas.

    ReplyDelete
  15. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Salah satu yang menjadi permasalahan berdasarkan artikel diatas adalah LPTK masih belum bisa mengimbangi kemajuan teknologi, mengingat belum banyak inovasi-inovasi pendidikan yang dihasilkan berbasis teknologi. Memang ini menjadi permasalahan bersama ketika arah perkembangan kemajuan teknologi hanya berpusat pada kota kota besar tanpa mengarah ke arah daerah daerah terkecil bahkan terpinggirkan. Ini menyebabkan Pengembangan sistem informasi akademik serta pembelajaran berbasi IT terjadi secara tidak merata, oleh karena itu hal ini perlu kita selesaikan dahulu sebelum dikembangkan lebih lagi LPTK ini.

    ReplyDelete
  16. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Paradigma mahasiswa LPTK saat ini memang memprihatinkan. Khususnya yang beranggapan menjalani pendidikan sebagai calon guru hanyalah untuk mendapatkan ijazah saja. Tentu kita tidak bisa menyalahkan dari sisi calon guru tersebut saja. Menurut saya, keputusan pemerintah dengan membuat program PPG juga merupakan salah satu penyebab memburuknya hal ini. Karena dengan program PPG, lulusan non-kependidikan juga bisa mendapatkan sertifikat pengajar. Padahal awalnya mereka tidak disiapkan untuk menjadi pengajar. Kemudian dari segi kebijakan kurikulum yang tidak disesuaikan dengan pengajar di LPTK membuat calon guru tidak mendapatkan pendidikan atau materi yang seharusnya. Kemudian, pendidikan di LPTK khususnya pada tingkat sarjana menempuh waktu 4 tahun. Sedangkan kebijakan kurikulum berubah dalam waktu yang singkat, sehingga LPTK harus bertindak cepat untuk menyesuaikan materi ajaran nya di LPTK agar selalu memperbaharui dan menyesuaikan dengan kebijakan kurikulum yang berlaku di sekolah tempat calon guru akan mengajar.

    ReplyDelete
  17. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    LPTK adalah singkatan dari Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan. Dari ketiga artikel di atas, kita mengetahui bahwa masih terdapat banyak permasalahan terkait praktek dan pengembangan LPTK di Indonesia. Alkusaeri menjabarkan permasalahan terkait praktek dan pengembangan LPTK di Indonesia ini mulai dari permasalahan kelembagaan hingga permasalahan yuridis. Kemudian dari tulisan Dafid Slamet Setiana, ia lebih banyak mengungkapkan terkait permasalahan pendididkan di Indonesia beserta solusi yang ia usulkan. Tidak jauh berbeda kedua artikel sebelumnya, Rahayu Condro Murti juga menjabarkan perkait permasalahan yang ada beserta alternative solusinya, namun ia lebih berfokus pada permasalahan yang dihadapi pada tingkat sekolah dasar.

    ReplyDelete
  18. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Guru sangat dibutuhkan di dunia ini, untuk mendidik para siswa agar bisa bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Saat ini sudah sangat banyak universitas yang mempunyai LPTK. Namun, banyak juga lulusan LPTK yang bingung harus bekerja sebagai apa dan dimana setelah mereka lulus. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana kualitas lulusan yang dihasilkan dari suatu LPTK dan bagaimana pemerintah menanggapi masalah lulusan LPTK yang masih belum bekerja padahal guru adalah profesi yang cukup penting untuk menunjang kualitas sebuah negara.

    ReplyDelete
  19. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dari ketiga pembahasan diatas terlihat bagaimana masalah-masalah yang ada dalam pendidikan Indonesia sekarang ini. masalah tersebut tidak meliputi satu aspek saja, tetapi keseluruhan aspek yang dibahas dalam postingan ini. pemerataan pendidikan di Indonesia masih jauh dari kenyataannya. Ada begitu banyak penyebab, salah satunya adalah belum adanya perubahan pola pikir dari pihak yang terlibat di dalam system pendidikan Indonesia. Kurikulum yang terus berubah tanpa melihat kondisi lapangan yang memadai, pemikiran guru yang merasa pelaksanaan guru yang sebatas tugas dan tidak menyikapi dari hati juga merupakan hal yang membuat pemerataan pendidikan di Indonesia belum tercapai.

    ReplyDelete
  20. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari tulisan diatas, dijabarkan beberapa kekurangan yang masih terdapat pada penyelenggaraan LPTK. Padahal yang kita ketahui bersama, LPTK sebagai pencetak guru-guru sebaiknya menghasilkan output yang berkualitas sehingga secara tidak langsung, kualitas pendidikan di Indonesia juga meningkat

    ReplyDelete
  21. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada tulisan tersebut juga dipaparkan beberapa permasalahan yang terjadi di Indonesia, dan solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Untuk menindaklanjutinya, kita sebagai salah satu komponen pendukung pendidikan di Indonesia dapat xsecara langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat dengan mudah dilakukan. Hal yang besar akan didapat setelah melakukan hal-hal kecil yang orientasinya ke arah tujuan

    ReplyDelete
  22. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Keberhasilan pendidikan sangatlah tergantung pada gurunya, jika gurunya profesional maka keterlaksana pendidikan akan menjadi lebih baik. Diamping itu pula ketersediannya media serta alat yang dapat membantu menunjangnya proses pendidikan lebih baik kedepannya. Disamping itu pula kurikulum menjadi patokan haruslah sesuai dengan kondisi di tiap daerah serta karakteristik siswa. Dengan keprofesionalan guru maka persoalan tersebut akan ditemukan titik terangnya. Maka menjadi guru haruslah ikhlas agar semuanya menjadi lancar. Dengan hati yang ikhlas untuk mencerdaskan dan berbagi ilmu yang bermanfaat kepada siswa, maka seorang guru akan menjadi guru yang profesional walaupun tanpa tunjangan sertifikasi. Namun di lain pihak, sebaiknya pemerintah memang harus memperhatikan kesejahteraan guru dan pemerataan pendidikan di Indonesia. Walaupun guru yang mengajar sudah profesional dan ikhlas, kegiatan belajar mengajar tetap tidak akan maksimal jika sarana dan prasaranya tidak mendukung.

    ReplyDelete
  23. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Jika kita menilik lebih mendalam pendidikan yang ada di Indonesia tentu kita masih banyak sekali menjumpai permasalahan pendidikan. Kualitas guru menjadi salah satu faktor munculmnya permasalahan pendidikan. Guru harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi kepribadian. Dalam hal ini difasilitasi melalui program PPG/SM3T. Dengan berbekal keempat kompetensi tersebut diharapkan kualitas pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas menjadi semakin baik. Disini, guru tentu tidak hanya sebagai agen transfer of knowledge, melainkan sebagai fasilitator, motivator, dan konselor bagi siswa.

    ReplyDelete
  24. Muhammad Nurfauzan
    14301241015
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    LPTK dewasa ini memang terbelit beberapa masalah. Terlebih LPTK hanya mencetak guru bukan pengembang kualitas guru. Padahal kketika hanya menyetak saja, itu masih sangat kurang karena kualitasnya belum dapat diketahui. Selain itu belum terkoordinasinya dengan Depdiknas membuat LPTK belum mengetahui sebenarnya guru seperti apa yang sebenarnya dibuthkan oleh Depdiknas (yang notabene adalah user). semoga bermanfaat

    Terimakasih

    ReplyDelete
  25. LPTK pendidikan guru mulai tahun 2010 mempunyai banyak peminat. Jika dahulu jalur pendidikan merupakan pilihan terakhir maka sekarang menjadi jurusan yang paling diminati. Ini terkait bahwa mulai tahun 2005 akan banyak guru yang memasuki masa pensiun kemudian adanya tunjangan sertifikasi menambah daya tarik untuk memilih jurusan pendidikan. LPTK yang telah ada menerima mahasiswa dengan jumlah yang cukup besar atau kelas paralel yang cukup banyak. Muncul pula LPTK baru di setiap daerah. Banyaknya peminat dan tumbuhnya LPTK baru jangan sampai sebatas uforia atau latah semata tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk mencetak calon guru yang berkualitas. Tumbuhnya LPTK dapat berarti pemerataan pendidikan yang tidak hanya berada di kota besar tetapi harus disertai dengan pemerataan kualitas. Standar LPTK di daerah harus sama dengan LPTK yang telah terstandar. Kemudian kejenuhan lulusan juga harus diperhatikan jangan sampai lulusan nantinya tidak mempunyai ruang untuk bekerja.

    ReplyDelete
  26. Desy Dwi Frimadani
    1670925150
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kesulitan yang dihadapi oleh mahasiswa LPTK dalam pembelajaran sama halnya kesulitan yang dialami seorang guru dalam mengajar. Dalam pembelajaran konsep pada siswa SD bukanlah hal yang mudah untuk membangun konsep dasar pada anak SD. dibutuhkan skill lebih dari seorang guru SD dalam membangun konsep dasar siswa dengan disiasati pemeblajaran yang menarik dan relevan.

    ReplyDelete
  27. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    LPTK merupakan perguruan tinggi yang diber wewenang oleh pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan nonkependidikan. Berdasarkan tulisan di atas terdapat beberapa permasalahandalam pengembangan LPTK diantaranya yaitu LPTK yang ada saat ini masih sebatas lembaga untuk mencetak guru bukan sebagai peningkat kualitas profesionalisme guru. Kurikulum LPTK belum sepenuhnya membekali kompeten dengan bekal dari aspek psikologi, pedagogi/ilmu pendidikan yang merupakan modal dasar bagi calon guru.

    ReplyDelete
  28. Adelina Diah Rahmwati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Berdasarkan postingan diatas diketahui terdapata beberapa permasalahan yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia salah satunnya yaitu standar kelulusan yang diberlakukan di Indonesia. Standar pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini kurang tepat karena meggunakan tolok ukur UN sebagai penentu kelulusan peserta didik dalam mengikuti pendidikan tanpa memperhatikan proses yang dialui peserta didik. Jika nilai UN dijadikan sebagai patokan dalam kelulusan siswa merupakan suatu hal yang tidak adil bagi siswa, karena proses belajar yangditempuh selama beberapa tahun seakan tidak dihargai. Oleh karena itu seharusnya penentuan kelulusan mengikutsertakan semua nilai yang telah dicapai siswa. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pihak mengerti dan memahami kemampuan yang dimiliki peserta didik adalah guru, sehingga pihak yang semestinya menentuka lulus atau tidaknya seorang siswa adalah guru masing-masing.

    ReplyDelete
  29. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Berbagai permasalahan yang telah diungkapkan di atas, semoga tidak hanya sekedar sebagai wacana belaka. Namun, ada tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah tersebut. ketika terdapat sebuah masalah yang serius, hendaknya segera diselesaikan agar tidak berlarut-larut dan malah menimbulkan permasalah-permasalahan baru yang lebih kompleks.

    ReplyDelete
  30. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    Pendidikan Matematika A 2014

    Postingan tersebut sangat bermanfaat karena banyak dicantumkan tentang fakta-fakta pendidikan di Indonesia saat ini, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan untuk merefleksi diri. Dari postingan tersebut juga diketahui bahwa LPTK sebagai lembaga yang mencetak calon pendidik yang profesional juga memiliki beberapa masalah. Dengan mengetahui fakta-fakta serta masalah tersebut, kita harus segera mencarikan solusi agar masalahnya tidak semakin serius.

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Salah satu permasalahan yang dihadapi pengajar yang tergabung dalam program penyetaraan kualifiaksi pendidikan adalah ketimpangan terkait kebijakan perekrutan mahasiswanya yang tidak dibarengi dengan kebijakan sarana dan prasarana dan Sumber Daya dimana pihak LPTK sendiri tidak ikut dalam penyeleksian calon kandidat peserta penyetaraan.

    ReplyDelete
  32. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    LPTK disini dipandang sebagai suatu lembaga yang mencipta tenaga kependidikan (guru) sehingga dalam praktiknya LPTK kurang memfasilitasi mahasiswa calon guru dengan kinerja profesionalisme (keahlian dan keterampilan).

    ReplyDelete
  33. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    LPTK di Indonesia masih sangat tradisional padahal di era sekarang ini teknologi tengah berkembang dengan pesat. Akan tetapi dalam prosesnya LPTK belum dapat memanfaatkan teknologi dalam dunia pendidikan. Hal ini dilihat dari masih minimnya inovasi dan kreativitas pembelajaran ataupun lingkup pendidikan yang berbasis tekhnologi.

    ReplyDelete
  34. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Dalam kurikulum pembelajaran di LPTK sendiri masih banyak kekurangan karena dalam tulisan tersebut dibahasa mengenai kurangnya kompeten mahasiswa calon guru dalam aspek psikologi dan pedagogis. Padahal kedua spek tersebut merupaka suatu yang melekat dalam diri guru itu sendiri.

    ReplyDelete
  35. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Keluhan terkait kemampuan dalam mengajar juga banyak dijumpai terutama saat mahasiswa melakukan PPL di sekolah-sekolah. Ssalah satu yang digaris bawahi disini adalah kurang optimalnya kegiatan dalam praktik micro-teaching yang mengembangkan program yang mendukung pengembangan keterampilan calon guru.

    ReplyDelete
  36. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    LPTK dijadikan sebagai alternatif cadangan bahkan pilihan akhir ketika tidak diterima pada program studi non-kependidikan. Artinya passion seseorang itu dalam bidang kependidikan dapat dikatakan rendah sehingga dalam prosesnya tidak dapat memberikan hasil yang maksimal.

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Masih banyaknya yang memilih LPTk karena berorienatsi pekerjaan terlebih lagi sekarang dapat dikatakan tunjangan menjadi guru besar seperti tunjangan sertifikasi. Karena tergiur dengan iming-iming tersebut berakibat pada kinerja profesionalitas guru yang kurang terlebih lagi syarat mendapat tunjangan sertifakasi sekarang memiliki total jam mengajar 24 jam/minggu. Sehingga untuk memenuhi itu semua kebanyakan guru cenderung berat terhadap quantity bukan quality.

    ReplyDelete
  38. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Adanya kebijakan pemerintah terkait PPG dan UKG yang juga menjadi pertanyaan saya ketika menempuh mata kuliah manajemen pendidikan. Kedudukan sarjana pendidikan dan non-kependidikan sama dapat mengambil PPG dan UKG padahal intisari PPG sama halnya dengan apa yang dipelajari mahasiswa kependidikan selama 4 tahun. Tidak ada perbedaan yang signifikan. Dosen Perencanaan saya juga mengatakan bahwa dengan adanya kebijakan PPG ini sama artinya pemerintah tidak mempercayai mahasiswa hasil didikan beliau selama 4 tahun yang dirasa cukup sebagai bekal menjadi seorang guru.

    ReplyDelete
  39. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Terjadinya “shock culture” ketika terjun ke dalam lapangan. Terkadang teorii tidak selalu sama dengan praktik lapangannya sehingga untuk orang yang baru masih sering dijumpai kebingungan dalam memilah apa yang memang tengah dibutuhkan dalam dunia pendidikan.

    ReplyDelete
  40. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Kebijakan program pemerintah mengenai LPTK tidak linear dengagn pengembangan sturktur organisasi layanan akademik. Ini mengakibatkan lambat dan terhambatnya layanan terhadap mahasiswa sendiri akibat terjadinya tumpang tindih antara mahasiswa satu dan lainnya.

    ReplyDelete
  41. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Rendahnya karya mahasiswa LPTK disini juga merupakan salah satu faktor penghambat. Masyarakat menilai bahwa mahasiswa hanya handal dalam teori saja akan tetapi dalam praktiknya nol besar. Berbeda halnya dengan mahasiswa vokasi yang memang khususnya diorienatsikan lebih pada praktiknya.

    ReplyDelete
  42. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Laboratorium mikro yang terbatas juga menjadi kendala penghambat berkembangnya kreativitas dan inovasi mahasiswa dalam mengembangkan pembelajaran. Terkadang dapat dijumpai laboratorium mikro sama halnya dengan kelas biasa pada umumnya.

    ReplyDelete
  43. Nurrita Sabrina (14301244010)
    Pendidikan Matematika I 2014
    S1 Pendidikan Matematika UNY
    Masih belum ada tindak lanjut lembaga penelitian yang fokus dalam mengembangan berbagai model serta metode pembelajaran. Akibatnya pengalaman serta pengetahuan mahasiswa menjadi terbatas dalam berkarya dan berinovasi karena kurang di eksplore. Padahal nyatanya di dunia ini banyak sekali model dan metode pembelajaran yang dapat diimplemenatsikan dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  44. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Banyak mahasiswa yang masuk ke LPTK hanya karena ada sertifikasi, memang banyak ditemukan kasus seperti ini, sehingga mereka tidak benar-benar tulus untuk meningkatkan profesionalitas dan kualitas kompetensi menjadi seorang guru.

    ReplyDelete
  45. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Pengembangan sumber daya manusia agar menjadi berkualitas tinggi dan memiliki keunggulan merupakan salah satu tujuan pendidikan Indonesia dan merupakan modal menghadapi persaingan di era globalisasi. Ini merupakan tanggung jawab LPTK untuk menciptakan tenaga pendidik yang professional untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  46. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) adalah suatu lembaga perguruan tinggi yang mempersiapkan tenaga pendidik profesional; termasuk tenaga pendidik SMK dan lebih khusus
    tenaga pendidik SMK kelompok parawisata bidang tata busana.
    Pendidikan kejuruan (Vocational Education) merupakan pendidikan jenjang menengah yang diarahkan untuk membekali para siswa dengan bidang-bidang tertentu mereka dapat mengisi peluang dan menekuni pekerjaan sesuai dengan bidangnya.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  47. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  48. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  49. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  50. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  51. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Permasalahan pendidikan di Indonesia tidak lepas dari masalah pendidik. Masalah pendidik juga tidak lepas dari masalah yang dialami oleh lembaga yang mencetak calon pendidik.

    ReplyDelete
  52. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Permasalahan pendidikan di Indonesia sangatlah beragam. Kualitas pendidikan yang rendah utamanya disebabkan oleh kurangnya minat dan kesadaran siswa terhadap pendidikan, rendahnya moralitas siswa maupun guru yang diindikasikan dari banyaknya kecurangan saat ujian, inovasi pembelajaran yang masih rendah, rendahnya kualitas pendidik, dan kurangnya semangat berubahan dan merubah kualitas pendidikan.

    ReplyDelete
  53. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Munculnya LPTK secara masal dengan tidak diimbangi dengan kualitas dari lembaganya sering kali membuat lulusan calon guru menjadi tidak berkualitas.

    ReplyDelete
  54. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    LPTK merupakan sebuah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan bagi calon atau tenaga kependidikan, seperti guru. LPTK diadakan sebagai salah satu cara penunjang kualitas tenaga kependidikan. Tetapi sebagaimana yang dipaparkan pada artikel di atas, bahwa masih banyak sekali permasalahan dalam LPTK. Hal tersebut perlu diperhatikan, karena LPTK merupakan penunjang kualitas seorang tenaga kependidikan, ketika LPTK mampu menghasilkan seorang tenaga kependidikan yang profesional dan berkualitas maka akan berdampak pula pada pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  55. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Saya setuju dengan no 8 yaitu Masih ada Komplain dari sekolah tentang kemampuan mengajar mahasiswa LPTK ketika melaksankan PPL, pengalaman saya berlajar dibangku kuliah sampai semester ini masih kurangnya mata kuliah yang menekan kan pada ketrampilan siswa, sebagian terfokus pada meningkatkan kognitif mahasiswa, padahal jika kita terjun langsung ke lapangan yang dibutuhkan tidak hanya kemampuan kognitif namun juga kemampuan ketrampilan kita sebagai calon guru.

    ReplyDelete
  56. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Secara umum ada dua fungsi LPTK yaitu fungsi pertama LPTK yang fungsinya hanya menyelenggarakan pendidikan prajabatan, dan yang kedua LPTK yang fungsinya menyelenggarakan pendidikan hanya dalam jabatan.

    ReplyDelete
  57. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Berdasarkan pemaparan guru kami, Alkusairi, M.Pd, LPTK mengenal dua model penyelenggaraan pendidikan guru yaitu Pertama, “Concurrent Model” (model seiring), yaitu sifatnya kekinian. Dan Model kedua, “Consecutive Model” (pendekatan berlapis) yaitu pendekatan berkelanjutan. Selama ini LPTK hanya diposisikan sebagai lembaga lisensi profesi guru. Dalam pola ini penyiapan subject matter dengan kompetensi pedagogi, sosial, dan kepribadian adalah hal yang berbeda, bukan desain pendidikan profesional yang terpadu. Melihat semangat UU Guru yang dijadikan rujukan dewasa ini tampaknya consecutive model akan menjadi arah baru model pendidikan guru di Indonesia. Implikasinya LPTK hanya akan difungsikan sebagai lembaga sertifikasi yang diperluas fungsinya (wider mandate) dengan basis ke-LPTK-an. Concurrent model yang dijadikan acuannya dengan memberikan penguatan lebih dalam pada penguasaan bidang ilmu (subject matter). Artinya, perguruan tinggi yang berperan sebagai LPTK harus semakin diperkuat dan didorong untuk lebih bagus lagi.

    ReplyDelete
  58. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Ada LPTK yang bertugas menghasilkan guru TK, SD, SMP, SMA. Dan ada LPTK yang khusus bertugas menyediakan guru untuk jenis sekolah tertentu atau bidang studi misalnya guru pendidikan luar biasa dan guru olahraga kesehatan. Dengan kata lain, tugas pokok LPTK adalah menyelenggarakan pendidikan untuk calon tenaga kependidikan untuk semua jenjang pendidikan serta keahliannya. Diharapkan LPTK akan terus maju dan memajukan pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  59. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    LPTK hendaknya ikut dalam perekrutan calon mahasiswa sehingga mahasiswa yang terpilih merupakan yang berkualitas.

    ReplyDelete
  60. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    LPTK hendaknya membekali mahasiswa dengan ketrampilan yang disesuaikan dengan mina dan bakat yang mendukung kemampuan mengajar.

    ReplyDelete
  61. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    LPTK harus mampu mencetak tenaga pendidik yang profesional. Bukan berapa banyak mahasiswa yang diluluskan tetapi sebeapa berkualitas alumni dari LPTK.

    ReplyDelete
  62. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    LPTK mengambangkan ketrampilan mendidik berbasis IT. Sehingga calon guru yang dihasilkan dapat memanfaatkan setiap teknologi untuk perbaikan pendidikan dan variasi dalam mengajar.

    ReplyDelete
  63. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    LPTK adalah singkatan dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan dan postingan di atas membahas tentang permasalahan-permasalahan yang ada di LPTK dalam mencetak guru atau tenaga kependidikan. Saya menyoroti pada poin 4 dan 10 bahwa dikatakan LPTK saat ini masih sebatas lembaga untuk mencetak guru akan tetapi bukan sebagai peningkat kualitas profesionalisme guru dan biasanya motivasi calon mahasiswa masuk LPTK hanya berorientasi pekerjaan, bukan menjadi guru yang professional, kebanyakan tergiur oleh program sertifikasi. Menurut saya, kedua masalah tersebut berkesinambungan, karena jika mahasiswa yang mendaftar bukan karena keinginan menjadi guru profesional, maka akan susah bagi LPTK untuk menjadi lembaga peningkat kualitas profesionalisme guru. Sehingga, untuk dapat tercapainya guru profesional, perlu kesinambungan antara penerimaan mahasiswa yang mendaftar dengan kegiatan yang diadakan

    ReplyDelete
  64. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perkembangan LPTK di Indonesia semakin bertambah. Hal ini dikarenakan minat masyarakat Indonesia sebagai seorang pendidik menjadi meningkat. Meningkatnya minat masyarakat tersebut diakibatkan oleh adanya sertifikasi yang dicanangkan pemerintah serta tidak ditrimanya masyarakat Indonesia dalam jurusan yang diinginkannya. Berbondong-bondong LPTK baik negeri maupun swasta selalu meluluskan mahasiswa dan mahasiswa sebagai calon pendidik. Namun sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan kompetensi dan kemampuan guru yang baik. Oleh karena itu selain mutu pendidikan menjadi menurun tingkat pengangguran di Indonesia pun semakin bertambah. Oleh karena itulah dibutuhkan peran dari pemerintah untuk menuntaskan masalah tersebut. Salah satu caranya misalkan pemerintah hanya akan memberikan surat persetjuan pembukaan untuk jurusan pendidikan hanya bagi LPTK yang memiliki kualifikasi dan kualitas yang sesuai dan baik.

    ReplyDelete
  65. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    LPTK hendaknya mengembangkan kurikulum yang membekali ketrampilan guru mengajar.

    ReplyDelete
  66. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Harusnya mahasiswa lulusan LPTK paham mengenai tugasnya sebagai guru yang profesional. Bukan hanya mencari lapangan pekerjaan.

    ReplyDelete
  67. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Struktur organisasi harusnya jelas agar tidak terjadi tumpang tindih antara mahasiswa regular dan non regular.

    ReplyDelete
  68. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mahasiswa LPTK hendaknya trampil dalam pelaksanaan di lapangan tidak hanya terbatas pada kemampuan secara teoritis.

    ReplyDelete
  69. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Lembaga penelitian fokus pada pengembangan metode pembelajaran sehingga akan menghasilkan inovasi pembelajaran yang efektif.

    ReplyDelete
  70. Dwi Kawuryani
    S1 Pendidikan Matematika 2014 (14301241049)
    Sebagai mahasiswa yang masih duduk disemester 6, saya tidak paham sepenuhnya tentang lptk, tetapi saya tertarik dengan pernyataan bahwa banyak anak yang dulunya me milih ilmu murni dan menempuh lptk demi pekerjaan yang lebih menjanjikan. Saya pribadi berpikir dapatkah hal itu sesuai dengan pendidikan yang sudah ditempuh selama beberapa tahun oleh para calon guru?

    ReplyDelete
  71. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut artikel diatas, memang masih banyak kendala yang dihadapi oleh LPTK. Masih belum bisa mengimbangi sesuai teknologi yang berkembang sampai saat ini. LPTK menghasilkan tenaga pendidik yang profesional. Bukan berdasarkan dari pendaftar yang mendaftar di LPTK, tapi kualitas dari alumni tersebut.

    ReplyDelete
  72. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Masih terdapat beberpa masalah yang dihadapi LPTK. Adanya masalah-masalah tersebut dapat dijadikan bahan refleksi kita untuk memikirkan solusi dari permasalahan tersebut.

    ReplyDelete
  73. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Terkait dengan keterampilan menjadi guru dosen mikro sayan pernah mengatakan ketika praktek pembelajaran mikro bahwasannya keterampilan mahasiswa dalam mengelola materi untuk dijadikan sebagi pembelajaran masih kurang salah satunya karena masih terbatasnya mata kuliah yang memfasilitasi mahasiswa dalam pengelolaan pembelajaran, masih terbatas teoritis. Selain itu dosen lainya juga mengatakan bahwa dahulu ketika beliau kuliah pelaksanaan PPL benar-benar intensif hingga 3 bulanan dan ini membiasakan mereka menjadi seorang guru tidak hanya magang saja.

    ReplyDelete
  74. Nurrita sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang pak Prof. Marsigit sampaikan dalam perkuliahan terkait micro teaching bahwa segala sesuatunya di-"mikro'-kan sehingga terkadang pengimplementasian sewaktu perkuliahan berbeda dengan lapangan. Kemaren sewaktu saya berkumpul dengan teman KKN kami berbagi pengalaman mengenai pembelajaran mikro bahwa untuk jurusan mereka (PG PAUD dan PGSD) pelaksanaan mikro mereka mereka melakukan praktek micro secara langsung diimplementasikan di sekolah dan dalam lingkup micro seperti kita biasanya. Jadi sebelum terjun langsung dalam PPL besok merekatidak mengalami shock culture menurut saya, lain halnya dengan mikro yang ada di kelas yakni berupa setingan. Ketika praktik langsung saya rasa mahasiswa memiliki gambaran mengenai keadaan lapangan yang sebenarnya tidak sebatas teoritis.

    ReplyDelete
  75. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memangalah benar yang disimpulkan dalam artikel di atas bahwa dalam programnya mencetak generasi guru-guru dalam jaman sekaran bahwa yang lulus dari lembaga-lembaga tersebut sudah over untuk memasuki profesi sebagai guru. Sehingga dalam hal ini diajukan program ppg untuk menyaring bibit-bibit yang sungguh-sungguh. Namun dalamn prakteknya masih belum saya kurang tahu karena saya belum sampai ketahap itu. Saya berpikir program PPG ini baik unutk menyaring dan sekaligus diharapkan untuk meningkatkan kemampuan profesi guru dan menyelamatkan daerah-daerah yang kekurangan guru.

    ReplyDelete
  76. Rizka Azizatul Latifah
    June 8, 2017 at 10:36 AM
    Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    LPTK merupakan lembaga yang mencetak tenaga pendidik harslah berbenah diri agar kualitas lulusan betul-betul calon guru profesional dan hendaknya dapat merubah mindset dari mahasiswanya untuk siap mengabdi menjadi tenaga pendidik yang bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan pasar sebagi guru.

    ReplyDelete
  77. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang telah diungkapkan Prof. Marsigit bahwa hendaknya LPTK dapat bekerjasama dengan depdiknas dalam menjaring guru, dapat memanfaatkan media dan teknologi untuk inovasi pembelajaran, membekali mahasiswa dengan aspek psikologi, dsb yang diperlukan untuk menjadi guru.

    ReplyDelete
  78. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Harusnya kemunculan LPTK dapat menjadi tolok ukur majunya pendidikan dengan berbagai macam perkembangan yang harusnya mereka tawarkan.

    ReplyDelete
  79. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam hal ini seharusnya pemerintah dapat ikut mengawasi keberadaan LPTK agar tidak lalai dengan tugas utamanya dalam membentuk calon guru profesional yang berdampak pada kualitas pendidikan Indonesia.

    ReplyDelete
  80. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dengan diberlakukannya UU.No.14/2005 tentang Guru dan Dosen, setiap orang yang memiliki sertifikat pendidik memiliki kesempatan untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu. Hal tersebut menjadi tantangan bagi LPTK karena guru yang bersertifikasi tersebut haruslah guru yang berkualitas, sehingga LPTK sebagai lembaga perlu menyiapkan pendidikan profesi guru demi menciptakan guru yang profesional dan memiliki kompetensi pedagogik, akademik, sosial, dan kepribadian.

    ReplyDelete
  81. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Bertambahnya hari seharusnya LPTK telah berusaha untuk memperbaiki evaluasi-evalusi dari tahun sebelumnya dan berusaha memberikan yang terbaik. Namun, mungkin banyaknya yang diatur membuat kurang lancarnya perjalanana sebuah sistem tersebut. Hal paling mudah kita lakukan adalah mulai dari diri sendiri dengan kesadaran sendiri untuk ikut berkontribusi memperbaiki.

    ReplyDelete
  82. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Misalnya, kesadaran bahwa pendidikan dan menjadi pendidik adalah tidak semata hanya untuk mengejar kesejahteraan karena program sertifikasi, namun jadilah pendidik yang didasari dengan niat ikhlas membagikan ilmu yang bermanfaat dan sebagai amal. Dengan konsep kecil seperti itu bisa jadi menyadarkan anak-anak bangsa dengan kecerdasan lebih untuk ikut menjadi pendidik sehingga dapat meningkatkan kualitas akademik siswa-siswa Negara Kita.

    ReplyDelete
  83. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Pendidikan merupakan hal yang penting karena maju tidaknya suatu negara dinilai dari mutu pendidikannya. Dalam pendidikan peran guru sangatlah penting dalam mencerdaskan bangsa sesuai dengan tujuan nasional bangsa Indonesia. Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan dan memberikan fasilitas kepada LPTK dalam merekrut calon guru / tenaga kependidikan. LPTK harus lebih selektif dalam memilih calon mahasiswa agar ke depannya calon mahasiswa tersebut benar - benar menjadi guru yang tidak sekedar mengajar, akan tetapi juga mampu mendidik siswanya sehingga mutu pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

    ReplyDelete
  84. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam tulisan di atas ditemukan bahwa belum maksimal nya produk LPTK. Hal ini jadi permasalahan yang harus segera dicari solusinya. Kreativitas dan inovasi haruslah menjadi dua hal yang tak lepas dari produk yang diciptakan oleh LPTK. Dengan dua hal ini diharapkan Pembelajaran di kelas akan merasakan hasilnya terutama media pembelajaran yang beragam karya LPTK.

    ReplyDelete