Dec 27, 2011

Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika

Oleh Marsigit

Guru Matematika:


Wahai muridku, engkau kelihatan berbeda dan kelihatan cerdas. Sekiranya aku ditugaskan untuk menjadi Guru Matematika di kelasmu maka apakah permintaan-permintaanmu kepadaku?

Murid:

Aku menginginkan agar pelajaran matematika itu menyenangkan bagi diriku, memberi semangat kepadaku, dan bermanfaat bagiku.

Aku juga ingin bahwa pelajaran matematika itu mudah aku pelajari.

Aku harap engkau juga menghargai pengetahuan-pengetahuan yang sudah aku miliki.

Aku ingin juga bahwa pelajaran matematika itu mempunyai keindahan, sesuai dengan norma dan nilai agama.

Aku mohon agar aku diberi kesempatan untuk berdoa sebelum pelajaran matematika itu dimulai.

Aku ingin agar persoalanku sehari-hari dapat digunakan dalam belajar matematika.

Ketahuilah wahai guruku bahwa rasa senang itu juga milikku, walaupun engkau juga berhak mempunyai rasa senang.

Tetapi menurutku, rasa senang itu tidaklah engkau berikan kepadaku, melainkan harus muncul dari dalam diriku sendiri.

Engkau tidaklah bisa memaksa diriku menyenangi matematika, kecuali hanya dengan keikhlasanku.

Aku juga ingin engkau agar memberi kesempatan kepada diriku agar aku bisa mempersiapkan psikologis diriku dalam mengikuti pelajaran matematika.

Ketahuilah wahai guruku, bahwa diriku dan diri teman-temanku semua itulah yang sebenar-benarnya melakukan persiapan.

Itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai Apersepsi.

Maka berilah kami semua tanpa kecuali untuk melakukan kegiatan-kegiatan agar kami bisa melaukan Apersepsi, dan tidak hanya engkau ceramahi atau engkau hanya bertanya kepada sedikit siswamu yang duduk di depan.

Aku juga berharap agar pelajaran matematika itu engkau persiapakan sebaik-baiknya agar aku dapat melakukan berbagai aktivitas di kelas.

Aku juga memohon agar engkau bersikap adil, tidak pilih kasih. Jika nilaiku jelek, janganlah engkau remehkan diriku, tetapi jika nilaiku terbaik maka janganlah terlalu disanjung-sanjung.

Menurutku, belajar matematika itu adalah hak dari setiap murid-muridmu di kelas. Oleh karena itu mohon agar perhatianmu jangan hanya yang duduk di bagian depan saja, melainkan harus meliputi semuanya.

Aku juga memohon agar engkau tidak bersikap otoriter. Tetapi aku mohon agar engkau dapat bersikap demokratis.

Oleh karena itu, aku mohon agar engkau jangan terlalu banyak bicara apalagi terkesan menggurui.

Berikanlah kami beraneka ragam aktivitas matematika.

Karena jika engkau terlalu banyak bercerita dan mengguruiku maka sebenar-benar diriku merasa tersinggung dan kasihan terhadap dirimu karena engkau terkesan sombong.

Aku juga mohon agar engkau tidak hanya bercerita, tetapi hendaknya memberikanku kesempatan untuk beraktivitas.

Aku ingin agar engkau guruku, dapat membuat atau menyiapkan LKS agar aku bisa berlatih di situ, sekaligus aku akan mempunyai catatan dan informasi-informasi.

Aku mohon agar LKS yang engkau siapkan bukan sekedar kumpulan soal, melainkan dapat menjadi sarana bagiku untuk belajar mandiri maupun kelompok.

Kata Pamanku, LKS merupakan sarana yang sangat strategis bagi guru agar mampu melayani kebutuhan belajar matematika siswa-siswanya yang beraneka ragam kemampuan.

Aku mohon juga agar engkau jangan menilai aku hanya dari test saja, tetapi tolonglah agar penilaianmu terhadap diriku itu bersifat komprehensif, lengkap meliputi proses kegiatanku dan juga hasil-hasilku.

Aku juga menginginkan dapat menampilkan karya-karyaku.

Aku sungguh merasa jemu jika engkau hanya menggunakan metode ceramah saja.

Wahai guruku, seberapakah engkau menyadari betapa kecewanya murid-muridmu ketika sudah engkau minta untuk unjuk jari bertanya, tetapi engkau hanya menunjuk satu saja diantara kami. Padahal hal itu engkau lakukan setiap hari dan dari waktu ke waktu. Menurut Pamanku, ini disebabkan karena pengelolaan kelas yang belum bagus.

Aku dan teman-temanku juga merasa tidak begitu nyaman, jika engkau selalu bertanya dengan kalimat panjang dan kalimat terbuka, kemudian menyuruhku untuk menjawab secara koor/choir. Seakan-akan engkau telah memperlakukan diriku hanya sebagai obyek pelengkap kalimat-kalimatmu. Sungguh guru hal yang demikian telah membuat diriku telah tidak berdaya dihadapanmu. Lagi-lagi menurut Pamanku, metode mengajar yang demikian perlu segera diubah.

Oleh karena itu aku memohon agar engkau menggunakan berbagai variasi metode mengajar, variasi penilaian, variasi pemanfaatan sumber belajar.

Aku juga menginginkan agar engkau mampu menggunakan teknologi canggih seperti website dalam pembelajaranmu. Kenapa guru, aku belajar matematika musti menunggu hari Selasa, padahal pada hari Selasa yang telah aku tunggu-tunggu terkadang engkau tidak dapat mengajar dikarenakan mendapat tugas yang lebih penting. Aku sangat kecewa akan hal ini.

Aku ingin agar engkau guruku, dapat membuat Website yang memungkinkan aku belajar matematika setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung dengan keberadaanmu. Aku juga ingin bertanya persoalan matematika kepadamu setiap saat, kapan saja dan dimana saja, tidak tergantung keberadaanmu. Menurut Pamanku, itu semua bisa dilayani jika engkau membuatkan Wbsite atau Blog untuk murid-muridmu.

Aku ingin engkau menunjukkiku di mana sumber-sumber belajar matematika yang baik.

Aku juga akan merasa bangga jika engkau sebagai guruku mampu membuat modul-modul pembelajaran, apalagi jika engkau dapat pula membuat buku-buku teks pelajaran matematika untukku.

Aku juga menginginkan engkau dapat memberi kesempatan kepadaku untuk memperoleh keterampilan matematika.

Aku ingin agar matematikaku bermanfaat tidak hanya untuk diriku tetapi juga untuk orang lain.

Aku juga menginginkan masih tetap bisa berkonsultasi denganmu di luar jam pelajaran.

Pak Guru, aku ingin sekali tempo juga belajar di luar kelas. Kelihatannya belajar diluar kelas udaranya lebih segar dan menyenangkan.

Tiadalah seseorang di muka bumi ini selain diriku sama dengan diriku. Oleh karena itu dalam pelajaran matematika itu nanti aku berharap agar engkau dapat mengenalku dan mengerti siapa diriku.

Tetapi aku juga mengetahui bahwa diri yang lain juga saling berbeda satu dengan yang lain.

Maka sesungguh-sungguhnya dirimu sebagai guru akan menghadapi murid-muridmu sebanyak empat puluh ini, juga sebanyak empat puluh macam yang berbeda-beda.

Oleh karena itu aku memohon agar engkau jangan hanya menggunakan metode tunggal dalam mengajarmu, supaya engkau dapat membantu belajarku.

Menurutku, untuk melayani sebanyak empat puluh siswa-siswa yang berbeda-beda ini, maka tidaklah bisa kalau engkau hanya menggunakan metode mengajar tradisional atau ceramah.

Menurut bacaan di internet dan menurut Pamanku, maka untuk dapat melayani siswa-siswamu yang beraneka ragam, maka engkau perlu mengembangkan RPP yang flesibel, perlu membuat LKS dan yang penting lagi adalah engkau sebagai guruku harus mempercayai bahwa jika diberi kesempatan maka muridmu ini mampu mempelajari matematika.

Itulah yang aku ketahui bahwa engkau harus lebih berpihak kepada kami.
Keberpihakan engkau kepada kami itulah yang menurut Pamanku disebut sebagai student centered.

Mohon agar engkau lebih sabar menunggu sampai aku bisa mengerjakan matematika. Usahakanlah agar matematika itu menjadi miliku, maka janganlah aku hanya diberi kesempatan untuk melihat atau menonton saja.

Yang betul-betul perlu belajar matematika itu adalah diriku.
Aku ingin betul-betul belajar dan melakukan kegiatan belajar dan tidak hanya menonton engkau yang mengerjakan matematika.

Maka jikalau engkau mempunyai alat peraga, maka biarkan aku dapat menggunakannya dan jangan hanya engkau taruh di depan saja.

Aku bahkan dapat mempelajari matematika lebih efektif jika belajar bersama-sama dengan teman-temanku.

Oleh karena itu wahai guruku, maka dalam pelajaran matematika itu nanti berikan kami kesempatan untuk belajar bersama-sama dalam kelompok.

Tetapi jika engkau telah menyuruhku belajar dalam kelompok, maka berikanlah aku waktu yang cukup untuk berdiskusi dan janganlah engkau terlalu banyak memberikan petunjuk dan ceramah lagi ketika aku sedang bekerja dalam kelompok.

Karena hal demikian sangat mengganggu konsentrasiku dan terkesan engkau menjadi kurang menghargai kepada murid-muridmu.

Aku juga mohon agar engkau memberikan kesempatan kepada diriku untuk membangun konsepku dan pengertianku sendiri.

Wahai guruku, ketahuilah bahwa aku juga ingin menunjukkan kepada teman-temanku bahwa aku juga dapat menarik kesimpulan dari tugas-tugasmu mengerjakan matematika.

Ketahuilah wahai guruku bahwa kesimpulan-kesimpulan dari tugas-tugasmu itu sebenarnya adalah milikku.

Oleh karena itu janganlah engkau sendiri yang menyimpulkan tetapi berikan kesempatan kepadaku agar aku juga bisa menemukan rumus-rumus matematika.

Rumus yang aku temukan sendiri itu sebenar-benarnya akan bersifat lebih awet dan langgeng dari pada hal demikian hanya sekedar pemberianmu.

Maka jika aku sudah susah-susah melakukan kegiatan kearah menemukan rumus, sementara pada akhirnya malah engkau yang menyimpulkan, maka sebetulnya aku menjadi marah kepadamu.

Janganlah engkau membuat pesan ganda kepada diriku. Janganlah engkau memberi hukuman kepadaku dengan menyuruh aku untuk mengerjakan sebanyak-banyak soal. Karena bagiku, hukuman adalah jelek sedangkan mengerjakan soal adalah baik.

Jangan pula engkau pura-pura memberi soal yang sangat sulit kepadaku padahal engkau sesungguhnya bermaksud untuk menghukumku.

Aku memohon agar engkau mempercayaiku. Kepercayaanmu kepadaku itu merupakan kekuatan bagiku untuk memperoleh pengetahuanku. Tolong sekali lagi tolong, percayailah diriku, bahwa jika aku diberi kesempatan maka insyaAllah aku bisa.

Aku akan bangga jika guruku suatu ketika dapat muncul di kegiatan seminar baik secara nasional maupun internasinal. Wahai guruku, gunakanlah data-dataku, hasil-hasilku, dan proses belajarku sebagai data penelitianmu. Menurut Pamanku, jika engkau mampu menggunakan data-data dikelas mengajarmu, maka engkau akan menghasilkan karya ilmiah setiap tahunnya.

Wahai guruku, aku juga bangga dan ingin membaca karya-karya ilmiahmu. Setidaknya hal demikian juga akan memotivasi diriku.

Wahai guruku yang baik hati, aku merasa dari waktu ke waktu terdapat perubahan dalam diriku. Aku juga melakukan percobaan atau eksperimen mencari cara belajar yang baik. Kelihatannya aku belum menemukan cara belajar yang terbaik bagi diriku. Tetapi aku dapat menyimpulkan bahwa cara belajarku haruslah dinamis, fleksibel, dan kreatif menyesuaikan dengan kompetensi yang harus aku kuasai. Oleh karena itu sungguh aneh jika engkau guruku hanya mengajar diriku dengan metode yang sama dari waktu ke waktu.

Permintaan terakhirku adalah apakah bisa engkau Guruku, untuk kami yang beraneka ragam, berilah kesempatan untuk mempelajari matematika yang beraneka ragam pula, dengan alat peraga atau fasilitas yang beraneka ragam pula, dengan buku matematika yang beraneka ragam pula, dengan kompetensi yang beraneka ragam pula, dengan waktu yang beraneka ragam pula, walaupun kami semua ada dalam satu kelas, yaitu kelas pembelajaran matematika yang akan engkau selenggarakan.

Demikian guru permohonanku, saya minta maaf atas banyaknya permintaanku karena sesungguhnya permintaanku itu telah aku kumpulkan dalam jangka waktu yang lama. Sampai aku menunggu ada seorang guru yang bersifat terbuka untuk menerima permohonan dan saran dari muridnya.

Sekali lagi mohon maaf guruku. Mohon doa restunya. Amin


Guru Matematika:

Astagfirullah al adzimu....ya Allah ya Robi ampunilah segala dosa-dosaku.

Wahai muridku, aku tidak bisa berkata apapun dan aku merasa terharu mendengar semua permintaanmu itu.

Mulutku seakan terkunci mendengar semua permintaan dan penuturanmu itu.

Tubuhku tergetar dan keringat dingin membasahi tubuhku.

Aku tidak mengira bahwa diantara murid-muridku ada murid yang secerdas kamu.

Aku tidak mengira bahwa jika aku beri kesempatan dan aku beri sarana penyambung lidah bagi suara hati nuranimu, maka ternyata harapan-harapanmu, permintaan-permintaanmu, dan pikiran-pikiranmu bisa melebihi dan di luar apa yang aku pikirkan dewasa ini.

Setelah mendengar semua permintaanmu, aku menjadi tahu betapa tidak mudah menjadi Guru Matematika bagimu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menjadi ragu tentang kepastianku.

Setelah mendengar permintaanmu, aku merasa malu dihadapanmu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku merasakan betapa diriku itu bersifat sangat
egois.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa aku telah berbuat sombong dihadapanmu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa malas diriku itu.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat tidak adil terhadapmu.

Selama ini aku telah berbuat aniaya terhadap dirimu karena aku telah selalu menutupi sifat-sifatmu, aku selalu menutupi potensi-potensimu, aku selalu mendominasi inisiatifmu, aku selalu menimpakan kesalahan pada dirimu, dan
sebaliknya aku selalu menutupi kesalahanku.

Selama ini aku telah berpura-pura menjadi manusia setengah dewa dihadapanmu.

Dihadapanmu, aku telah menampilkan diriku sebagai manusia sempurna yang tiada cacat, serba bisa, serba unggul, serba hebat, tiada gagal, wajib digugu, dan wajib ditiru.

Setelah mendengar permintaanmu, aku menyadari betapa selama ini aku telah berbuat munafik di depanmu, karena aku selalu menyembunyikan keburukan-keburukanku sementara aku menuntumu untuk menunjukkan kebaikan-kebaikanmu.

Oh muridku hanyalah tetesan air mataku saja yang telah mengalir merenungi menyadarai bahwa KERAGUANKU terhadap praktek pembelajaran matematika ternyata benar adanya.

Ternyata yang aku lakukan selama ini lebih banyak mendholimi murid-muridku.

Wahai orang tua berambut putih salahkan jika aku berusaha membimbing murid-muridku?

Orang Tua Berambut Putih:

Ketahuilah wahai guru, jikalau engkau renungkan, maka hakekat membimbing adalah memberdayakan siswa. Sudahkah kegiatan membimbingmu memberdayakan siswa? Saya khawatir jangan-jangan niatmu membimbing, tetapi yang terjadi sebetulnya justeru membuat siswamu tidak berdaya.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Orang tua berambut putih, salahkan jika aku mewajibkan murid-muridku untuk belajar giat?

Orang Tua Berambut Putih:

Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat belajar itu adalah kebutuhan dan kesadaran siswa, dan bukanlah kewajiban dan perintah-perintahmu. Saya khawatir jangan-jangan dibalik kegiatanmu mewajib-wajibkan dan perintah-perintah kepada siswamu itu, sebetulnya terselip sifat egoismu.

Guru Matematika:
Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika aku mengajar dengan cepat dan tergesa-gesa untuk memberi bekal sebanyak-banyaknya kepada siswa. Apalagi beban kurikulum yang banyak sementara waktunya terbatas.

Orang Tua Berambut Putih:

Wahai guru, jika engkau renungkan, maka hakekat pendidikan itu adalah kegiatan jangka panjang. Cepat dan tergesa-gesa itu artinya tidak teliti dan memaksa. Maka tiadalah gunanya engkau dipundakmu membawa segunung pengetahuanmu untuk engkau tuangkan kepada siswamu sementara siswa-siswamu meninggalkan dirimu. Sebaliknya jika siswamu telah berdaya, merasa senang, menyadari dan memerlukan mempelajari matematika, maka sedikit saja engkau memberinya, maka mereka akan meminta dan mencari yang lebih banyak lagi.

Guru Matematika:
Subhanallah....baru kali ini aku menyadarinya.
Salahkah jika saya menggunakan metode tunggal saja yaitu metode ekspositori?


Orang Tua Berambut Putih:

Metode ekspositori atau ceramah itu metode yang sudah kadaluwarsa, tidak mampu lagi melayani kebutuhan siswa dalam belajarnya. Metode ekspositori selalu sajalah merupakan siklus dari kegiatan: menerangkan, memberi contoh, memberi soal, memberi tugas, dan menerangkan kembali, demikian seterusnya. Selamanya ya seperti itu. Itu hanya cocok jika paradigma mengajarmu adalah paradigma lama yaitu trasfer of learning. Jaman sekarang dan kecenderungan internasional, metode yang dikembangkan adalah multi metode, yaitu metode yang bervariasi, dinamis dan fleksibel.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian bagaimanakah caranya aku melayani kebutuhan siswa-siswaku mempelajari dan menemukan sendiri matematikanya? Sementara murid-muridku itu jumlahnya banyak dan kemampuannya berbeda-beda pula?

Orang Tua Berambut Putih:
Tidaklah mungkin engkau mampu melayani kebutuhan belajar murid-muridmu, jika engkau tidak merubah paradigmamu.

Guru Matematika:
Paradigma seperti apa sehingga saya mampu melayani siswa-siswaku mempelajari matematika?

Orang Tua Berambut Putih:
Hijrahlah, berubahlah, bergeraklah.
Ubahlah paradigmamu:
-dari transer of knowledge menjadi to facilitate
-dari directed-teaching menjadi less directed-teaching
-dari menekankan kepada teaching menjadi menekankan kepada learning
-dari metode tunggal menjadi metode jamak
-dari metode yang monoton menjadi metode yang dinamis dan fleksibel
-dari textbook oriented menjadi problem-based oriented
-dari UNAS oriented menjadi process-product oriented
-dari cepat dan tergesa-gesa menjadi sabar dan menunggu
-dari mewajibkan menjadi menyadarkan
-dari tanya jawab menjadi komunikasi dan interaksi
-dari otoriter menjadi demokrasi
-dari penyelesaian tunggal menjadi open-ended
-dari ceramah menjadi diskusi
-dari klasikal menjadi klasikal, kelompok besar, kelompok kecil dan individual
-dari guru sebagai aktor menjadi siswa sebagai aktor
-dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa
-dari mencetak menjadi menembangkan
-dari guru menanamkan konsep menjadi siswa membangun atau menemukan konsep
-dari motivasi eksternal menjadi motivasi internal
-dari siswa mendengarkan menjadi siswa berbicara
-dari siswa duduk dan menunggu menjadi siswa beraktivitas
-dari siswa pasif menjadi siswa aktif
-dari kapur dan papan tulis saja menjadi media dan alat peraga
-dari abstrak menjadi kongkrit
-dari inisiatif guru menjadi inisiatif siswa
-dari contoh oleh guru menjadi contoh oleh siswa
-dari penjelasan oleh guru menjadi penjelasan oleh siswa
-dari kesimpulan oleh guru menjadi kesimpulan oleh siswa
-dari konvensional menuju teknologi
-dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu
-dari hasil yang tunggal menjadi hasil yang plural

Guru Matematika:

Subhanallah ...ya Allah ya Rab ampunilah segala dosa-dosaku. Baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian, secara kongkrit, bagaimanakah aku dapat melayani kebutuhan belajar siswa-siswaku yang banyak itu.

Orang Tua Berambut Putih:

Selama ini mengajarmu berpola atau berprinsip: "untuk siswa-siswa yang bermacam-macam kemampuan, engkau hanya mengajarinya matematika yang sama, dalam waktu yang sama, dengan tugas yang sama, dengan metode mengajar yang sama, dan mengharapka hasil yang sama, yaitu hasil yang sama dengan apa yang engkau pikirkan". Itulah sebenar-benar metode mengajar Tradisional yang tidak mampu lagi dipertahankan. Berubah dan berubahlah segera...

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kemudian akau harus mengubah pola mengajarku yang bagaimana?

Orang Tua Berambut Putih:

Jika engkau menginginkan mampu menerapkan metode pembelajaran inovatif, maka terapkanlah prinsip:"untuk siswa yang berbeda-beda, seyogyanya mempelajari matematika yang berbeda dan bermacam-macam, walau memerlukan waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan metode yang berbeda-beda pula, alat yang berbeda-beda pula, serta hasil yang boleh berbeda, yaitu boleh berbeda dengan apa yang engkau pikirkan"

Guru Matematika:

Subhanallah ...baru kali ini aku menyadarinya.
Apakah yang dimaksud teknologi atau alat agar aku mampu melayani kebutuhan siswa belajar matematika?

Orang Tua Berambut Putih:

LKS sementara ini dianggap sebagai teknologi atau alat yang sangat strategis. Namun jangan salah paham, LKS bukanlah sekedar kumpulan soal, melainkan LKS adalah wahana bagi siswa untuk beraktivitas untuk menemukan ilmu atau menemukan rumus matematikanya. Maka seorang guru harus menembangkan sendiri LKS nya. Tiadalah orang lain mengetahui kebutuhan guru ybs. Maka tidaklah bisa mengadakan LKS hanya dengan cara membeli. Itu betul-betul salah dan tidak proesional.

Guru Matematika:

Subhanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Kenapa musti siswa harus belajar dengan berdiskusi dalam kelompoknya.

Orang Tua Berambut Putih:
Hakekat ilmu itu diperoleh dengan cara berinteraksi antara obyektif dan subyektif, antara teori dan praktek, antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa, ..dst. Maka diskusi kelompok itu sebenarnya adalah sunatullah.

Guru Matematika:
Subahanallah...baru kali ini aku menyadarinya.
Terimakasih orang tua berambut putih.
Ya Allah ya Robbi, ampunilah segala dosa dan kesombonganku selama ini, yang telah mengabaikan betapa pentingnya aspek psikologis belajar matematika itu, yang telah meremehkan kemandirian siswa, yang telah serampangan dan hantem kromo terhadap perlakuan pedagogis belajar matematika, yang telah merasa cukup dan puas terhadap ilmu dan pengetahuanku selama ini.
Permohonan ampunku yang terus menerus kiranya belum cukup untuk menghapus dosa-dosaku.
Ya Allah ya Rab semoga Engkau masih bersedia melindungi dan meridai pekerjaan-pekerjaanku.

Amin

332 comments:

  1. Wah.. menakjubkan Pak! itulah masukan yang berharga buat kita yang selama ini jadi guru matematika, yang selalu menggunakan metode CTL (Catat Tulis Latihan)...mudah-mudahan mulai hari ini sedikit demi sedikit mencoba keinginan-keinginan yang di wakili oleh si Murid Cerdas!!!

    ReplyDelete
  2. Ass Pak Iwan selamat lanjut ibadah puasa, semoga diterima oleh Allah SWT. Amin. Terimakasih atas komennya. Saya sekarang lagi banyak nulis di indoms@yahoogoups.com dikarenakan kebutuhan berkomunikasi dengan komunitas matematika dan pendidikan matematika Indonesia. Saya sarankan agar teman-teman guru matematika bisa bergabung di milinglis tersebut dengan cara mendaftar sebagai anggota indoms. Silahkan kirim pertanyaan pendaftaran lewat email di atas. Sekian trim

    ReplyDelete
  3. selamat siang bapak....
    saya muncul kembali pak, sudah cukup lama menghilang.

    sebelum saya beranikan diri untuk belajar lagi di UNY, saya sebagai guru yang didalammya saya selelu belajar bersama dengan anak2 didik saya.

    sanangan mejadi kenyataan bagi kami yang belalajar bersama anak2 kampung, jauh dari kota. beragam cara, ketertarikan dan latar belang terjadi di tempat saya bersama anak2 belajar. seperti dalam elegi bapak, demikian sungguh terjadi. susah untuk dimengerti dan dimaknai ketika panggilan sebagai guru itu bener2 harus diwujudkan.
    dengan menangung banyak hal, saya beranikan diri untuk belajar disini bukan untuk saya banggakan ketia saya lulus nanti, tetapi saya ingin anak2 nanti dapat belajar lebih baik dengan bertambahnya pengalaman, pengetahuan dan ilmu yang tentuny asaya peroleh dari sini.

    ReplyDelete
  4. Assalamua'alaikum Pak Marsigit ingkang kawulo hormati ...

    Seiring dengan tugas dunia yang semakin padat, saya kangen tulisan Bapak, rasanya tulisan Bapak memberikan kesejukan tersendiri bagi saya, alumni mahasiswa filsafat p. matematika UPY.

    Suara-suara murid di seluruh Indonesia rasanya sudah terwakili oleh "murid" dalam elegi di atas. Semoga kita sebagai guru mau berendah hati untuk memahami kondisi yang dialami oleh murid-murid kita.

    Terima kasih Pak untuk spiritnya selama ini...
    Sukses selalu buat Bapak...

    ReplyDelete
  5. selamat pagi bapak....
    baru sehari saya mengikuti perkuliahan filsafat. Rasanya susah-susah sulit dan sulit-sulit susah. Tidak mudah untuk memahami filsafat. Tapi saya harus bisa. Elegi permintaan si murid cerdas kepada guru matematika sangatlah tepat untuk keadaan saat ini dan ke depannya.Sangat urgen untuk segera ditangani. Sudah banyak program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kulitas guru baik melalui pelatihan melalui KKG/MGMP,sertifikasi, dan kualifikasi guru (sesuai keinginan UU guru dan dosen). Semua kegiatan ini diharapkan dapat merubah kebiasaan guru yang dulu guru itu mulutnya sibuk dan telinganya kecil menjadi guru sekarang yang mulut kecil telinganya besar. Sehingga para murid akan mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka peroleh. Terima kasih Bapak untuk elegi yang sangat bermanfaat bagi peningkatan proses pembelajaran matematika bagi semua sekolah mulai dari sekolah yang ada di kota hingga ke daerah pedalaman yang sungguh susah memperoleh informasi seperti ini.

    Maria Yetsiana Wea
    PPs UNY PMat

    ReplyDelete
  6. Assalamu'alaikum...
    Elegi ini mengingatkan kita tentang pembelajaran yang semestinya. Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan agar siswa dapat belajar. Jika pembelajaran dilakukan seperti apa yang dikehendaki oleh Si Murid Cerdas,maka sesungguhnya pembelajaran seperti itulah yang akan mencapai tujuannya. Setiap siswa pasti memiliki keunikan serta bakat dalam diri mereka,dan tugas kita sebagai pendidik untuk memberikan mereka kesempatan mengembangkan bakatnya. Guru harus percaya kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya dengan cara yang mereka pilih sendiri..
    Semoga pembelajaran yang benar2 pembelajaran dapat kita wujudkan terhadap siswa.
    Terimakasih Bapak atas elegi yang mengingatkan bagaimana seharusnya seorang pendidik yang baik itu...

    ReplyDelete
  7. assalamu alaikum wb
    Memang sesungguhnya belajar ilmu itu adalah menemukan bukan diberikan karena sesuatu yang diberikan akan cepat habis tetapi sesuatu yang ditemukan akan awet, ilmu itu harus logos dan terjadi kontradiksi bukan mitos yang harus okey bos.

    ReplyDelete
  8. Suhartini (10709251028)
    (PM Kelas B)

    Assalamualaikum.....

    Terimakasih pak, dengan membaca wacana di atas saya lebih mengerti bagaimana cara guru mengajar matematika yang menyenangkan di kelas.

    Terimakasih....

    Wassalamualaikum.....

    ReplyDelete
  9. apakah setiap belajar ilmu itu harus menemukan apa bedanya dengan menemukan ilmu???

    ReplyDelete
  10. Tulisan ini mengingatkan kita bahwa tiap siswa menginginkan proses pembelajaran yang menyenangkan...
    Dan ternyata memang tidak mudah untuk menjadi seorang guru, kita dituntut untuk mampu membimbing siswa mendapatkan ilmu...
    Dalam sains digunakan metode scientific inquiry, dimana siswa diharapkan belajar melalui penyelidikan ilmiah sehingga semua indera dan pikiranya dapat dioptimalkan...
    yang menjadi permsalahan kita adalah bagaimana menyiapkan sarana, prasarana dan metode yang baik agar scientific inquiry dapat dilaksanakan...

    Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat "fadilah" bagi orang lain...

    ReplyDelete
  11. Siang pak,,,Tulisan Bapak sungguh bisa dijadikan pedoman bagi para guru untuk mengantarkan siswa siswi dalam mempelajari, menghayati, memahami dan menerapkannya ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari hari...
    Tapi bagaimana cerita jika seorang guru itu baru pertama mengajar dan sama sekali belum tahu bagaimana cara mengajar yang baik..mulai dari manakah guru itu harus memulai agar bisa menjadi guru yang terbaik,,,,????

    ReplyDelete
  12. Ibu Kristina dan yang lain, Pengalaman itu merupakan akumulasi keterampilan yang didukung oleh pengetahuan, sikap serta motivasi yang tinggi. Maka untuk memperoleh pengalaman salah satu caranya dengan metode hermenitika yaitu melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dalam ruang dan waktunya yang berkaitan dengan inovasi pembelajaran. Demikian sekilas tanggapan saya. Semoga bermanfaat. Amin.

    ReplyDelete
  13. kuliah sabtu : 13.00
    ass....sangat mengagumkan! saya sangat tertarik dengan tulisan ini pak, meskipun saya bukan guru matematika, namun saya merasa pedoman ini dapat kita jadikan acuan untuk mengajar apapun itu.Jika saya mampu menjadi guru yang di inginkan murid seperti itu, alangkah bahagianya. Dengan demikian saya harus terus membaca berbagai sumber ilmu agar tidak terus menzolimi siswa., makasih pak

    ReplyDelete
  14. ass...
    semoga kasih sayangNYA selalu tercurahkan untuk Bpk sekeluarga serta tidak lupa untuk kita semua. amin.
    luar biasa Pak, memang sudah seyogyanya seorang guru matemaika harus memilki kecapakan yang memadai seperti diatas, karena sekiranya semua itu ada dalam setiap kepribadain setiap guru matematika, saya yakin tidak akan ada lagi siswa yang menggerutu dalam mempelajari matematika. Tapi melihat penomena yang terjadi saat saat ini kecakapan tersebut ternyata masih sangat minim di miliki oleh guru matematika, lebih lebih di desa desa kecil. Akibatnya, apa yang dicita-citakan oleh bangsa masih sangat jauh dari yang diharapkan. nah, kalo sudah seperti ini, siapa yang harus di persalahkan? perintah, guru, murid atau semua kita yang salah.....!!!
    saya jadi bingung pak!
    terima kasih... wasslm.

    ReplyDelete
  15. Saya belum pernah jadi guru, tapi saya tidak menutup telinga dengan elegi di atas. Bahkan pikiran dan hati ikut terbuka bahwa sebenar benar guru adalah pikiran murid-muridnya.

    Terima kasih Pak..

    ReplyDelete
  16. Ass..
    Membaca elegi diatas kalau boleh saya katakan bahwa murid yang diajak diskusi oleh gurunya itu adalah anak yg tergolong cerdas istemewa.
    memang pada dasarnya anak yg seperti itu bisanya dia cenderung ingin mencari sesuatu yang beda dari apa yg dipelajari orang lain dan biasanya mereka sangat tidak suka apabila kita terlalu memaksakan kehendak kepadanya
    tapi tidaklah demikian dengan anak-anak yg kecerdasanya biasa saja dia pastinya akan selalu minta diajarkan oleh gurunya jadi tidaklah benar kalau semua murid memiliki pemikiran yang sama dengan elegi diatas.
    tetapi biar bagaimanapun kita sebagai guru tetap berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik bagi anak didik kita, Amin

    ReplyDelete
  17. Trisniawati(10709251030)
    PPs Pendidikan Mtk Kelas B

    elegi tersebut menambah wawasan saya...memang seharusnya bahwa pembelajaran matematika adalah seperti permintaan murid...kita hanya sebagai fasilitator...dan yang berperan aktif adalah murid kita...semoga kita semua bisa menjadi guru seperti yang diinginkan murid tersebut...amin

    ReplyDelete
  18. Inilah gambaran Guru yang aspiratif terhadap siswanya,gambaran kompetensi yang harus dicapai seorang guru.. Sangat ideal. Persoalannya : seorang guru bs memiliki kompetensi itu jika didukung oleh komponen-komponen lain dalam sebuah sistem dan tidak ada kontradiksi antara proses dan output/produk yang diinginkan..

    ReplyDelete
  19. Nurel Amelya
    10708259016
    Pend.Sains kalsel 2010

    Assalam...
    yach...permintaan dan harapan" siswa itu memang jauh dengan apa yang kita lakukan, tapi seorang gurupun sebenarnya sangat menginginkan hal tersebut. Guru seharusnya menyadari bahwa diluar dirinya ada siswa, diluar kepentingannya ada kepentingan siswa, diluar tujuannya ada tujuan siswa. Beggitu juga sebaliknya siswa juga berpikir demikian bahwa diluar dirinya ada guru dengan segala variabelnya.
    Disamping itu juga guru dan siswa harus menyadari bahwa selain mereka ada alam sekitar yang memayunginya yaitu sistem...
    jadi bekerja maksimallah semua...bersama" tuk mencapai tujuan bersama.

    ReplyDelete
  20. Assalamualaikum Wr Wb.
    Elegi Bapak ini telah menambah wawasan sy bagaimana seharusnya menjadi guru yang baik.
    Selanjutnya Pak, bagaimana agar seorang guru MAU melaksanakan wawasan pembelajaran yang sudah dimiliki. Karena setelah terjun langsung di kelas, kebanyakan guru tidak melaksanakan kegiatan pembelajan seperti apa yang di dapat di bangku kuliahnya dulu.

    ReplyDelete
  21. Assalamu 'alaikum wr wb
    Selama ini saya sebagai guru memang terkadang berbuat ketidak adilan.
    Sebagai guru yang masih banyak keterbatasan.
    Masih banyak hal yang mesti dipelajari dan dipahami. Memang seharusnya sebanyak murid dikelas sebanyak itu pula gaya dan cara guru mengajar. Mudah-mudahan Allah memudahkan dan memberi taufik dan hidayahnya. Dan mengampuni dosa-dosa kita semua. Amien

    ReplyDelete
  22. terimakasih untuk saran yang telah bapak berikan, semoga saya bisa terus belajar belajar dan belajar. dengan tetap belajar sehingga menjadi seorang yang lebih baik lagi

    ReplyDelete
  23. Assalamualaikum,
    Terimakasih, tulisan bapak memberikan kesadaran pada saya. Saya harus berusaha menjadi guru yang mendengarkan permintaan-permintaan muridnya.

    ReplyDelete
  24. Ass...
    Permintaan dan keinginan siswa untuk mengekspresikan kemampuan dan potensinya sering terabaikan, hal itu disebabkan karena guru terlalu dominan ketika pembelajaran di kelas dan dikarenakan ingin kejar target.
    Banyak-banyaklah beristigfar karena telah banyak dosa-dosa kita kepada siswa...
    Wassalam...

    ReplyDelete
  25. Ternyata yang aku lakukan selama ini lebih banyak mendholimi murid-muridku. Ya Allah ya Robbi, ampunilah segala dosa dan kesombonganku selama ini, yang telah mengabaikan betapa pentingnya aspek psikologis belajar matematika itu, yang telah meremehkan kemandirian siswa, yang telah serampangan dan hantem kromo terhadap perlakuan pedagogis belajar matematika, yang telah merasa cukup dan puas terhadap ilmu dan pengetahuanku selama ini...

    Apa yang bapak tulis dalam elegi ini benar-benar terjadi pada diri saya, terimakasih banyak pak, bapak telah membuka mata hati saya, InsyaAllah kedepan saya bisa menjadi guru yang mampu hidup dan menghidup-hidupkan murid2… Amin

    ReplyDelete
  26. Bismillah..Wallahu'alam
    Terimakasih bapak..kau ingat kan daku betapa selama ini ku tak sadar telah zhalim pada murid-muridku. amanah yang telah dibebankan pada ku belum kulaksanakan..Allahu arina haqa haqa warzukna tiba'ah..wa arina bhatila bhatila warzukna tiba'ah..

    ReplyDelete
  27. Faujiah Herlina PMat2010 Kelas BNov 4, 2010 02:01 PM

    Assalamualaikum WrWb
    Sebenarnya pembelajaran yang diinginkan si murid cerdas juga dinginkan oleh guru. Tetapi manakala sistem yang ada tidak mendukung, maka semuanya hanya menjadi sebuah harapan.Guru dituntut untuk menuntaskan sejumlah SK, KD dalam jangka waktu tertentu, kalau tidak kurikulum tidak tercapai. Guru dituntut untuk menyiapkan siswanya menghadapi UN, kalau siswnya gagal guru yang menjadi tumpuan kesalahan. Kalau siswanya berhasil jarang orang bertanya siapa gurunya, tetapi jika siswa tersebut gagal orang akan bertanya siapa gurunya...lain lagi tugas guru sebagai administrator. Mengadministrasikan nilai, laporan nilai, mengurusi siswa yang bermasalah, menyiapkan administrasi pengajaran. Ditambah lagi tugas-tugas lain yang diberikan oleh kepala sekolah. Sepertinya guru tidak ada waktu untuk mengembangkan pembelajaran.Semoga ada perubahan

    ReplyDelete
  28. Assalamualikum Wr.Wb.
    Elegi ini merupakan masukan bagi para guru bahwa sebenarnya apa yang diminta oleh murid cerdas itu adalah sesungguhnya harapan dan keingginan para murid pada gurunya agar dapat mendidik dengan sepenuh hati dan bukan hanya mengajar. Bagi para guru hendaknya menjadikan elegy ini sebagai pijakan untuk menuju kea rah perubahan yang lebih baik dalam proses pembelajaran di kelas, karena interaksi dengan murid bukan hanya satu arah tetapi dua arah seperti harapan murid cerdas tersebut. Semoga kita bias menjadi guru yang benar-benar digugu dan ditiru dan mendidik bukan mengajar. Amin

    ReplyDelete
  29. Terimakasih Bapak, betapa baru ini kusadari,ternyata murid itu mempunyai bermacam keinginan yang dipendamnya terhadap gurunya, keinginan yang tak pernah terucap pada gurunya, karena mungkin rasa takutnya apalagi pada seorang guru matematika yang dikenal killer. Mulai ini kan kucoba untuk mendengar keluh kesah mereka tentang belajar matematika dan mencoba untuk memenuhi keinginan mereka.

    ReplyDelete
  30. Membunuh rasa ego memang sesuatu yang cukup sulit. Kita berpikir apa yang telah kita perbuat dan berikan pada murid kita adalah benar dan baik untuk mereka, namun belum tentu nyaman dan baik menurut mereka.Mungkin selama ini aku pun telah berbuat tidak adil pada muridku. Ya Allah bimbing Aku, agar bisa menjadi guru yang baik dan mengerti muridku sehingga ia gemar belajar matematika.serta ampuni segala dosaku jika selama ini aku telah berbuat tidak adil pada mereka.

    ReplyDelete
  31. Ass...
    Keterbatasan pikiran kita bisa membatasi keinginan dan harapan murid...
    Wassalam...

    ReplyDelete
  32. Leny Zubaidah
    PSN KS 2010

    Ass. Pa...

    Semua guru pasti menginginkan yang terbaik bagi muridnya. Apa yang diinginkan murid tersebut juga saya inginkan sebagai seorang murid/mahasiswa..tapi tidak semua keinginan saya dapat dipenuhi, dan itu sama sekali tidak mebuat saya merasa tidak puas karena setiap orang pasti memiliki keterbatasan..Posisi saya sebagai murid selain punya keinginan juga harus memberikan yang terbaik buat guru saya. Dan posisi saya sebagai guru yang sadar memiliki keterbatasan maka saya akan selalu beruasaha untuk memperbaiki diri...

    ReplyDelete
  33. Ken Budiarti .H. (07410057/UPY)

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Untuk menjadi seorang guru matematika yang baik dan profesional bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebagai seorang calon guru matematika, saya dan teman-teman masih harus banyak belajar dan berlatih agar kita mau dan mampu untuk memberikan mata pelajaran matematika dengan menggunakan metode yang variatif dan inofatif serta menerapkan pembelajaran yang bersifat student centered bukan teacher centered.
    Selama ini banyak siswa yang menganggap bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan membosankan hingga akhirnya mereka tidak menyukai mata pelajaran ini. Hal seperti ini dapat terjadi karena selama ini masih banyak guru yang hanya menggunakan metode pembelajaran yang tradisional dan kurang menarik minat siswa. Metode yang kurang tepatlah yang menyebabkan siswa menjadi bosan dan jenuh dengan mata pelajaran matematika hingga lama-kelamaan mereka tidak menyukai bahkan membenci mata pelajaran ini. Sebagai seorang siswa tentunya mereka memiliki berbagai macam keinginan yang berkaitan dengan pembelajaran matematika. Akan tetapi mereka merasa takut untuk mengungkapkannya kepada guru mereka. Mereka hanya diam, diam, dan diam. Tugas seorang guru itu selain mengajar juga harus peka dan paham dengan keinginan murid-muridnya.
    Sebagai seorang calon guru matematika, kita harus mampu merubah anggapan yang ada di benak siswa selama ini. Kita harus mampu membuktikan bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang menyenangkan dan mudah dipahami. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan inofatif ketika menyampaikan mata pelajaran matematika.

    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  34. Sri Lestari (07410065)
    Pend. Matematika UPY

    Memang tidak sedikit guru mengajar siswanya dengan mengabaikan perbedaan yang ada pada masing-masing siswa, mereka mengesampingkan kepentingan siswa, sistim mengajarnya monoton yang hanya menggunakan satu metode pembelajaran saja yaitu ceramah sehingga tidak membuat siswa menjadi aktif dalam belajar matematika. Guru bahkan juga mengabaikan perasaan siswa apakah mereka merasa jenuh atau tidak yang penting bagi guru, informasi sudah tersampaikan. Semua itu mengakibatkan kurangnya tingkat sosialisasi siswa, siswa cenderung pasif, tidak punya semangat dan yang paling fatal lagi minat siswa terhadap pelajaran matematika menurun karena mereka merasa tertekan dan tidak bisa berargumen secara bebas dan luas.

    ReplyDelete
  35. 10708251041, PSn C

    Ass.Wr.Wb...
    Elegi ini merupakan salah satu dari sekian elegi yang Bapak postingkan, yang menurut saya bisa menjadi acuan bagi kita semua khususnya dalam proses belajar-mengajar dan dalam proses menjadi guru yang ideal. Tidak mudah memang menjadi guru yang bisa memenuhi semua permintaan yang ada, namun kita dapat mendekati dari apa yang menjadi kriteria seperti yang telah dijabarkan di atas. Dengan selalu menggunakan berbagai variasi di dalam PBM misalnya dengan memilih model, pendekatan, strategi ataupun metode yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan serta yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Selain itu dengan menggunakan berbagai media yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam menemukan suatu konsep dan mampu membantu siswa mengkonstruksi ilmu di dalam dirinya, insya Allah kita dapat mewujudkan student centered. Banyak belajar dan membaca karena hanya dengan itu, kita sebagai guru dapat menciptakan inovasi pembelajarn yang dapat berpihak kepada siswa. Dan tujuan dari pembelajaran itu dapat tercapai dengan baik.

    ReplyDelete
  36. Guru adalah sosok yang menjadi panutan bagi semua murid-muridnya dan peran yang melekat padanya sangat penting bagi pembentukan karakter-karakter murid-muridnya.Untuk menjadi seorang guru, sangatlah perlu mengetahui lebih jelas tentang etika seorang guru sehingga dapat memahami tentang perilaku tepat yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam proses belajar mengajar di kelas.Dengan pengetahuan tentang etika seorang guru,diharapkan akan mampu menjadi seorang guru dengan pribadi yang menyenangkan dan bisa mendidik murid-muridnya dengan baik serta ikhlas dalam memberikan ilmu yang ia miliki.

    ReplyDelete
  37. Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru matematika
    Oleh Dr. Marsigit M. A
    Refleksi Oleh : Windarti.P.Mat(A) 11709251011

    Tidak ada cara Belajar dan mengajar yang paling baik dan sempurna, karena manusia adalah orang yang memiliki keterbatasan. Tetapi manusia harus berusaha untuk mencari cara belajar dan mengajar yang paling tepat, dan sesuai dengan karakter siswa. Dalam elegi ini siswa menghendaki agar guru mengajar dengan menggunakan metode yang bervariasi, kontekstual dan kooperatif, serta pembelajaran harus memberi kebebasan pada siswa untuk mengkontruksi atau membangun pengetahuannya sendiri, di sini guru bukan satu-satunya sumber belajar, guru hanya sebagai fasilitator dan siswa dapat mencari referensi dimana saja. Jadi siswa juga harus berusaha untuk mendapatkan cara belajar yang paling tepat dan sesuai dengan dirinya sendiri. Sedangkan guru harus berusaha untuk memberi kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk belajar.

    ReplyDelete
  38. 11709251036
    Kelas B P_Matematika 2011

    Ada keinginan serta sejuta harapan dari para peserta didik baik peserta didik yang cerdas maupun perseta didik yang IQ rendah, peserta didik yang kaya dan peserta didik yang miskin, sejuta harapan dan keinginan dari mereka untuk dirinya dan untuk banga, muda-mudahan dengan harapan dan keingginan dari peserta didik bisa kita penuhi dengan keter batasan kita sebagai guru keterbatasan fasilitas yang dimilki, serta keterbatasan ruang dan waktu yang masin-masing dimiki oleh peserta didik dan juga pengajar. Muda-mudahan kita semua bisa menjadi guru yang diharapkan oleh murid kita dan harapan orang tua mereka serta harapan bangsa dan negara dengan menerapakan metode pembelajaran yang aksik menyenangkan, gembira, semangat, kekeluargaan, karakter serta berkebangsaan. Amin

    ReplyDelete
  39. Aleksius Madu
    PMat B
    Saya juga ikut terharu ketika membaca elegi bagaimana permintaan seorang murid kepada gurunya. Kita sebagai guru tentu merasakan apa yang kita rasakan selama ini. Elegi yang bapak buat ini menjadi bahan permenungan kami. Saya secara pribadi merasakan banyak kekurangan dalam mendesain pembelajaran ketika saya menjadi seorang guru. Dengan adanya elegi ini, nudah-mudahjan kita dapat membuka cakrawala pikiran kita untuk mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan pembelajaran dan karakteristik anak. Trimaksih........

    ReplyDelete
  40. Paulus Roy Saputra
    PPs PMat C

    Mudah-mudahan setelah kami lulus dari PPs UNY ini, kami akan membuka mata guru, bagaimana matematika itu menjadi milik siswa, berpusat kepada siswa dan menjadi pembelajaran yang penuh makna baik disekolah dan di masyarakat luas bagi siswa(meaningfull learning in math)...

    ReplyDelete
  41. ERNI GUSTIEN VIRGIANTI
    PPS UNY PMAT A (11709251046)
    Elegi Permintaan Si Murid Cerdas Kepada Guru Matematika

    Menjadi Guru adalah sebuah pilihan yang mulia, tetapi penuh dengan tantangan. Banyak aspek yang harus diperhatikan ketika kita membuat perencanaan dikelas seperti kemampuan siswa, alat yang digunakan, bahan ajar dan factor lingkungan lainnya. Memang tidak semua hal dapat terkontrol dengan baik dan tidaklah mudah untuk merencanakan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan siswa yang ada dikelas. Tetapi saya rasa setiap guru pasti memiliki tujuan yang baik tetapi keterbatasannyalah yang menjadikannya terkadang mengabaikan hal-hal yang seharusnya dilakukan.
    Terima kasih telah mengingatkan pak, semoga kelak saya menjadi seorang guru yang lebih memperhatikan hak-hak muridnya bukan seorang guru yang selalu minta dituruti keinginannya tanpa memperhatikan keinginan siswanya.

    ReplyDelete
  42. Subhanalloh.. sungguh realita yang ada dan dikemas dengan bahasa yang menakjubkan (jujur ini Pak) :D
    sebuah karya yang meampu memberikan gambaran keadaan nyata akan kinerja guru dan kebutuhan siswa.. dan ini lain dan tak lain adalah untuk membuat guru menjadi lebih peka terhadap apa apa yang telah dikerjakannya dan lebih peka bagaimana dalam memperlakukan para siswanya.. saya sedikit memberikan gagasan saya sejak dulu bahwa bagaimanapun ketika siswa tidak mampu menguasai konsep matematika adalah karena guru, agaimana guru menjelaskan, lebih dari itu bagaimana guru mengelola siswa dan mengelola kelas.. semua hal yang ada dan mungkin ada dalam pembelajaran sudah nampak jelas dalam elegi ini,, beribu terimakasih atas kekritisan terhadap keadaan yang nyata dan ini adalah bekal bagi guru guru dan calon guru seperti kami.. :D

    ReplyDelete
  43. Subhanalloh.. sungguh realita yang ada dan dikemas dengan bahasa yang menakjubkan (jujur ini Pak) :D
    sebuah karya yang meampu memberikan gambaran keadaan nyata akan kinerja guru dan kebutuhan siswa.. dan ini lain dan tak lain adalah untuk membuat guru menjadi lebih peka terhadap apa apa yang telah dikerjakannya dan lebih peka bagaimana dalam memperlakukan para siswanya.. saya sedikit memberikan gagasan saya sejak dulu bahwa bagaimanapun ketika siswa tidak mampu menguasai konsep matematika adalah karena guru, agaimana guru menjelaskan, lebih dari itu bagaimana guru mengelola siswa dan mengelola kelas.. semua hal yang ada dan mungkin ada dalam pembelajaran sudah nampak jelas dalam elegi ini,, beribu terimakasih atas kekritisan terhadap keadaan yang nyata dan ini adalah bekal bagi guru guru dan calon guru seperti kami.. :D

    Deki Sulistiyo
    11709251027
    PMAT B

    ReplyDelete
  44. PM A PPs S2 UNY
    11709251043

    Elegi yang sangat menyentuh dan memotivasi kita (para guru) untuk hijrah dari paradigma "guru mengajar" menjadi "siswa belajar".

    Belajar matematika merupakan aktifitas membangun pengetahuan di bidang matematika. Oleh karena itu para guru matematika sudah seharusnya memberi kesempatan yang luas kepada para siswanya untuk berperan lebih aktif dalam proses pembelajarannya, sehingga mereka mempunyai kesempatan yang luas untuk membangun pengetahuan matematikanya sendiri sesuai dengan potensi dan pengalamannya masing-masing. Guru dituntut untuk lebih berperan sebagai fasilitator daripada sebagai satu-satunya sumber utama dalam proses pembelajaran. Sebaliknya, siswa harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan lebih aktif dalam proses pembelajaran.

    Dengan keterlibatan siswa yang tinggi dalam proses pembelajaran maka kreatifitas mereka akan muncul dan proses pembelajaran menjadi lebih aktif dan menyenangkan, sehingga tujuan pembelajaran tercapai sesuai dengan yang harapkan.

    ReplyDelete
  45. Sumarno
    NIM 11709251028
    P MAT Kelas A

    Ketika hak-hak seorang siswa diabaikan oleh guru, maka sebenarnya tak berartilah dalam pembelajaran . Murid bukanlah kerbau yang harus dikasih makan ini itu, tetapi murid dengan kemampuannya sendiri untuk dibimbing menemukan jati dirinya, murid bukanlah sebagai obyek untuk dijejali dengan makanan soal UAN , tetapi siswa merupakan subyek