Jan 22, 2013

Elegi Pemberontakan Para Berhenti




Elegi Pemberontakan Para Berhenti
Oleh Marsigit

Elegi ini sengaja dibiarkan terbuka. Pembaca dipersilahkan untuk membuat Comment, Tesis, Analisis, atau Sintesis, perihal apa saja baik secara Formalnya maupun Substansinya jika Elegi ini diteruskan. Siapa saja yang terlibat, apa yang dibicarakan, kemudian referensi yang mungkin digunakan. Apa hubunannya dengan Elegi-elegi terdahulu. Apa juga kemungkinan kelanjutan dari Elegi ini. Selamat memikirkannya. Semoga kita semua memperoleh kecerdasan Pikir dan Hati. Amin


2 comments:

  1. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Berhenti memiliki arti yang luas dan beragam. Menurut saya, manusia yang berhenti bukanlah manusia yang mati jasadnya, namun mati hatinya. Sebagai contoh: para pahlawan alaupun mati, jasanya akan tetap dikenang. Pengorbanan2 beliau tidak berhenti dihargai oleh penerus2nya. Berbeda lagi dengan manusia yang mati hatinya, yang tidak berguna bagi yang lain. Walaupun secara fisik ia hidup, ia tidak dianggap oleh orang lain.

    ReplyDelete
  2. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Elegi pemberontakan para berhenti, konteks ini dapat menimbulkan persepsi yang sangat beragam dan dapat menggambarkan berbagai hal, yang mana tidak terlepas dari situasi yang menyertai. Menurut saya pemberontakan para berhenti dapat pula dibahasakan dengan berbicara dalam diam. Diam merupakan bahasa yang bersifat pasif. Ini juga dapat diartikan wujud pengekspersian emosi seseorang, seperti rasa marah. Hal ini bertujuan agar seseorang terhindar dari rasa amarah yang berada di luar kendali diri dan hal-hal yang bersifat negatif.

    Dalam sudut pandang islami, ada pemberontakan dengan berdiam diri, yang mana kembali memupuk kekuatan rohani dan merenungkan diri serta mencurahkan masalah-masalah kehidupan duniawi kepada Sang-Khaliq. Untuk melakukan hal tersebut seseorang rela meninggalkan aktivitas yang berkaitan dengan duniawi dalam rentang waktu tertentu dan semata-mata hanya untuk beribadah. Hal ini bertujuan untuk mencapai ketenangan bathin agar kerikil-kerikil yang menutupi hati dapat terkikis. Tentunya, seseorang mendapatkan dorongan-dorongan baru yang bersifat positif dan dapat kembali berpikir cerdas.

    ReplyDelete