Jan 22, 2013

Elegi Pemberontakan Para Berhenti




Elegi Pemberontakan Para Berhenti
Oleh Marsigit

Elegi ini sengaja dibiarkan terbuka. Pembaca dipersilahkan untuk membuat Comment, Tesis, Analisis, atau Sintesis, perihal apa saja baik secara Formalnya maupun Substansinya jika Elegi ini diteruskan. Siapa saja yang terlibat, apa yang dibicarakan, kemudian referensi yang mungkin digunakan. Apa hubunannya dengan Elegi-elegi terdahulu. Apa juga kemungkinan kelanjutan dari Elegi ini. Selamat memikirkannya. Semoga kita semua memperoleh kecerdasan Pikir dan Hati. Amin


23 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berhenti dapat diartikan mengakhiri segala sesuatu baik itu suatu proses, kegiatan, atau aktivitas. Berhenti dapat disesuaikan dengan ruang dan waktu. Berhenti tidak terbatas pada perilaku atau perbuatan, berhenti juga berlaku pada tulisan, ucapan, pikiran, dan perasaan. Dalam menjalani hidup ini, ibaratnya kita menjalani proses dari kita lahir hingga kita meninggal dunia. Ketika kita meninggal dunia maka semua proses akan berhenti. Dan kita akan memulai kehidupan baru di dunia akhirat.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam belajar dan mendalami filsafat, hendaknya kita mendalami iman dan takwa kepada Tuhan YME. Ketika kita tidak mendalami iman dan takwa kepada Tuhan YME, kita terjebak dalam filsafat, dan hal inilah yang harus kita hindari. Belajar filsafat bukan sekedar belajar tetapi kita harus benar-benar mendalami dan menghayati dalam kehidupan sehari-sehari. Filsafat itu sangat penting. Melalui elegi-elegi ini, banyak manfaat yang dapat kita ambil sebagai pedoman dalam menjalani hidup ini. Hendaknya kita senantiasa dengan tulus hati berfilsafat, kita membaca elegi-elegi yang ada ini, dan kita mengamalkan dalam kehidupan kita. Jangan pernah berhenti dalam berproses. Karena perjalanan hidup ini sangat panjang. Akan ada hikmah dibalik setiap proses yang kita lewati.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16


    Para berhenti akan memberontak karena mungkin tidak ada yang berhenti secara mutlak. Semua akan mengisi ruang dan waktunya masing-masing. Benda-benda tidak dikatakan berhenti jika sudah tidak dipakai lagi. Benda tersebut tetap ada mengisi ruang dan waktunya meskipun sudah berubah warna menjadi kusam. Berhenti jika sudah datangnya kiamat. Tetapi tidak untuk manusia dan amalnya. Justru manusia akan memulai babak baru lagi setelah kiamat. Dan hal itu pun tidak akan berhenti karena di akhirat itu kekal. Kekal di neraka. “singgah” di neraka kemudian ke surga. Atau kekal di surga. Jadi tidak ada kata berhenti untuk manusia.

    ReplyDelete
  4. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Berhenti memiliki arti yang luas dan beragam. Menurut saya, manusia yang berhenti bukanlah manusia yang mati jasadnya, namun mati hatinya. Sebagai contoh: para pahlawan alaupun mati, jasanya akan tetap dikenang. Pengorbanan2 beliau tidak berhenti dihargai oleh penerus2nya. Berbeda lagi dengan manusia yang mati hatinya, yang tidak berguna bagi yang lain. Walaupun secara fisik ia hidup, ia tidak dianggap oleh orang lain.

    ReplyDelete
  5. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Elegi pemberontakan para berhenti, konteks ini dapat menimbulkan persepsi yang sangat beragam dan dapat menggambarkan berbagai hal, yang mana tidak terlepas dari situasi yang menyertai. Menurut saya pemberontakan para berhenti dapat pula dibahasakan dengan berbicara dalam diam. Diam merupakan bahasa yang bersifat pasif. Ini juga dapat diartikan wujud pengekspersian emosi seseorang, seperti rasa marah. Hal ini bertujuan agar seseorang terhindar dari rasa amarah yang berada di luar kendali diri dan hal-hal yang bersifat negatif.

    Dalam sudut pandang islami, ada pemberontakan dengan berdiam diri, yang mana kembali memupuk kekuatan rohani dan merenungkan diri serta mencurahkan masalah-masalah kehidupan duniawi kepada Sang-Khaliq. Untuk melakukan hal tersebut seseorang rela meninggalkan aktivitas yang berkaitan dengan duniawi dalam rentang waktu tertentu dan semata-mata hanya untuk beribadah. Hal ini bertujuan untuk mencapai ketenangan bathin agar kerikil-kerikil yang menutupi hati dapat terkikis. Tentunya, seseorang mendapatkan dorongan-dorongan baru yang bersifat positif dan dapat kembali berpikir cerdas.

    ReplyDelete
  6. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Filsafat berupaya menggali ilmu secara terus-menerus tanpa berhenti. Sejak manusia lahir hingga mati, manusia akan terus melalui proses berfikir. Jadi dalam berfilsafat, tidak ada kata berhenti berfikir. Berhenti berfikir jika pola pikir sudah tidak sejalan dengan olah hati. Dimensi spiritualitas menjadi satu-atunya alasan berhenti, karena spiritualitas adalah suatu keyakinan hakiki yang tak terbantahkan dan menjadi pedoman hidup manusia.

    ReplyDelete
  7. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berhenti berarti tidak bergerak, dan berhenti adalah keadaan tidak bergerak namun setelah bergerak. Sehingga berhenti adalah proses interval antara pergerakan. Ketika kita kaitkan dengan berfilsafat berhenti dapat diartikan sebagai proses untuk tidak mempelajari para filsuf untuk sementara waktu, atau bahkan untuk waktu yang lama. Berhenti yang terlalu lama akan menghambat proses berpikir kita, hendaknya kita tidak berhenti dalam segala perbuatan baik, namun terkadang kita butuh untuk berhenti, maka berhenti yang sebentar itu kita umpamakan sebagai istirahat. Ketika pikiran kacau, maka berhentilah, kemudian lanjutkan kembali.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Elegi Pemberontakan Para Berhenti". Bisa jadi yang memberontak adalah kita. Bisa jadi yang memberontak adalah kesadaran kita. Bisa jadi yang memberontak adalah ilmu. Tiada ilmu yang berhenti, bukan? Maka benar-benar bisa jadi dia si pemberontaknya. Tapi bisa jadi pula saya salah. Bila salah, wahh panjang betul kesalahanku. Sudah beberapa waktu ini saya keukeuh dengan definisi bahwa ilmu itu tidak akan berhenti. Sebenarnya saya tetaplah masih menyetujuinya. Ilmu selalu dalam garis proses, tidalah ilmu yang berhenti. Maka tidak adalah seorang jawara pada perlombaan yang tidak memiliki titik usai. Maka di sini adalah kita, yang harus sadar dengan ruang dan waktu. Apakah wajar kita berhenti? Sedangkan ilmu yang kita cari teruslah berlari.

    ReplyDelete
  9. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Mati berarti seseorang tersebut berhenti dari berpikir, karena dalam filsafat sebenar-benarnya filsafat adalah berfikir. Apablia seseorang berhenti berpikir disebabkan oleh kejelasan, karena saat seseorang sudah jelas maka dia sudah menganggap proses berpikir telah selesai sehingga dia tidak berpikir lagi atau dapat dikatakan mati. Selain itu berhenti berarti tidak bergerak lagi atau dapat dikatakan tetap. Berhenti juga berarti tidak berusaha kembali. Behenti dalam mencari ilmu merupakan hal yang berbahaya, karena dalam mencari ilmu dikatakan pendidikan sepanjang hayat. Artinya selama masih hidup tidak ada kata berhenti dalam mencari ilmu. Apabila dalam mencari ilmu berhenti maka hal tersebut menandakan kematian berpikir dari manusia.

    ReplyDelete
  10. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Filsafat memiliki ruang lingkup yang luas tanpa ada batasan-batasan tertentu, sehingga dalam belajar filsafat tidak ada yang namanya berhenti terutama dalam hal berfikir, senantiasa tidak pernah merasa puas, selalu meragu (bukan dalam konteks hati/spiritual), selalu ingin mencari tahu serta selalu bertanya-tanya, sejatinya itulah yang dinamakan dengan sebenar-benarnya hidup sebab filsafat akan berhenti bila manusia telah berhenti mempertanyakan sesuatu.

    ReplyDelete
  11. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Berhenti dalam segala hal apapun akan terncam oleh mitos, saat kita tidak lagi bergerak dan menganggap suatu hal sudah pada titik terakhir dan tidak lagi bisa berkemabang, maka saat itulah mitos datang pada pikiran kita, dan bahayanya jika pikiran sudah terperangkap mitos bisa jadi hati akan kacau. Jika kita berhenti dalam kehidupan itulah sebenar-benar kematian, karena pada saat kematian itulah segala sesuatu akan berhenti menurut dimensi yang mati. Jika berhenti dalam pikiran, perbuatan, dan lain sebagainya, maka bersiaplah menjadi orang yang merugi. Itulah tanda-tanda diri yang tidak bisa menggapai ikhlas pikir maupun ikhlas hati.

    ReplyDelete
  12. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Inti dari filsafat adalah olah pikir sehingga bisa dikatakan berfilsafat itu artinya berpikir. Sehingga dalam filsafat “berhenti” memiliki arti ketika seseorang sedang tidak berpikir maka dia sedang berhenti. “Berhenti” bukan lah suatu hal yang buruk, karena baik atau buruk sesuatu itu tergantung pada ruang dan waktunya. Apabila seseorang sudah merasakan lelah dalam berpikir maka dia dianjurkan untuk berhenti dan istirahat sejenak. Karena otak juga merupakan organ manusia yang memiliki keterbatasan dan organ ini juga bisa kelelahan. Akan tetapi ketika kita berhenti sejenak untuk berpikir sebenarnya otak tidak benar-benar berhenti bekerja, otak pada bawah sadar tetap melakukan aktifitasnya misalnya memerintahkan paru-paru, hidung, dll untuk bernafas.

    ReplyDelete
  13. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Di dalam menggapai sesuatu kita perlu melibatkan diri di dalamnya,perlu mengenalnya, perlu mengetahui seluk beluknya.Hal yang pasti terjadi dalam menggapai hal tersebut akan ada hambatan, tantangan ,rintangan, serta godaan.Kita dihadapkan dengan pilihan –pilihan karena sebenar-benar hidup dalah pilihan.Pilihan berhenti atau melanjutkan perjalanan.Bagaikan menggapai sebuah ilmu akan ada kerikil-kerikil tajam di tengah jalan yang senantiasa menghampiri.Matahari menyengat kulit dan keringat bercucuran mengalir di sekujur tubuh.Jika kita berhenti di tengah jalan berarti kita berada pada keragu-raguan.Keragu-raguan akan berwujud menjadi mitos.Sebab ilmu itu bersifat kontiyu terus,terus dan terus berlanjut.Untuk menghindari adanya hal tersebut,sertakan ikhtiar dan doa serta memohon ampun kepada Allah SWT .

    ReplyDelete
  14. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof Marsigit atas ketersediannya untuk membuat elegi tak berisi ini agar kami sebagai mahasiswa mampu berpikir dan mencurahkan cara berpikirnya dalam ranah filsafat. "Elegi Pemberontak Para Berhenti", yang pertama kali di benak saya adalah subjek-subjek seperti kita yang enggan ikhlas dalam menuntut ilmu hingga akhirnya ketidakpuasan itu dikeluarkan dan ditunjukkan pada ruang dan waktunya. Jika kita analisis dan kita ibaratkan, apakah setiap anak yang belajar di sekolah merupakan kegiatan yang dilakukan karena tergerak oleh hati mereka, tentu tidak. Semua berawal dari tuntutan. Ia dituntut untuk datang ke sekolah, kemudian bersosial dengan teman, lalu tiba intinya yaitu belajar bersama guna menyerap ilmu pengetahuan dan informasi. Berangkat dari para berhenti, dapat diartikan sebagai bagaimana peran siswa di sekolah apakah ia langsung aktif dan berpartisipasi dengan segala pembelajaran yang ada, tentu tidak. Siswa yang berkarakter mungkin mampu, namun tidak dengan siswa yang tidak. Dia mampu mencurahkan segala kitidaknyamannan dia dan mungkin akan melakukan segala sesuatu yang terjadi diluar dugaan. Bak para pemberontak, setiap insan terlebih siswa mereka juga manusia, yang juga tidak mau dan bersedia terus menerus hidup dalam tuntutan. Sehingga seyogyanya bagaimana caranya agar para pendidik atau oranglain disekililingnya mampu menjadikan dia "para berjalan" yang aktif bukan "para berhenti" yang pasif, supaya mereka mampu mengahadapi segala yang ada dan yang mungkin ada terutama hambatan, rintangan,dan tantangan di kemudian hari. Wallahu'alam bishowab, saya selalu berdoa semoga apa yang saya pahami di setiap elegi bapak bukanlah mitos belaka, amin.

    ReplyDelete
  15. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalmu'alikum wr.wb

    Elegi pemberontakan para berhenti. Pemberontakan adalah perlawanan. Berhenti adalah terdiam. Tidak semua perlawanan mengarah kearah yang negatif dan terdiam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Terdiam yang dimaksud adalah berpikir dalam diam. Perlawanan dalam diam adaalah perlawanan untuk melawan hal yang negatif agar yang psotif dapat ditegakkan, yang perlu dilakukan adalah berpikir dengan cermat. berpikir untuk mencapai sebuah perencanaan yang matang untuk melakukan perlawanan yang bijak.

    ReplyDelete
  16. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    Filsafat berasal dari pemikiran para filsuf. Kemudian, kita sebagai manusia yang mempelajari filsafat, maka secara tidak langsung, kita mempelajari pemikiran para filsuf. Berfilsafat artinya berpikir secara radikal. Filsuf adalah pemikir yang radikal. Sehingga, ia tidak pernah terpaku hanya kepada satu fenomena tertentu dan tidak akan berhenti pada satu jawaban tertentu. Filsafat berupaya untuk menemukan jawaban dari akar permasalahan yang ada dan mencari hakikat yang sesungguhnya dari segala sesuatu. Filsafat akan tetap ada, dan akan terus ada selama kehidupan manusia. Filsafat akan berhenti pada saat manusia telah berhenti mempertanyakan segala sesuatu. Sehingga makna berhenti menurut saya, ketika tidak ada lagi kehidupan yang mengakibatkan tidak ada seorangpun yang akan melakukan berbagai kegiatan.

    ReplyDelete
  17. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Elegi Pemberontakan Para Berhenti. Berhenti ialah tidak bergerak, bergerak menuju diam. Namun pada dasarnya tidak ada yang benar benar berhenti didunia ini. semua nya bergerak teratur ruang dan waktu. bahkan ketika kita berniat menghentikan badan untuk istirahat sejenak saja semua sesuai dengan ruang dan waktu nya. berhenti karena memang waktu nya berhenti. jadi sebenar-benarnya berhenti ialah bergerak dan sebenar-benarnya bergerak ialah berhenti.

    ReplyDelete
  18. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Di dalam elegi-elegi yang lain, berhenti selalu dijudge sebagai keadaan yang tidak baik. Dapat dikatakan bahwa berhenti ialah mitos. Misalnya jika kita merasa sudah memahami suatu ilmu atau menggapai sesuatu kemudian berhenti berusaha, maka kita telah terjebak mitos. Namun, jika kita memperluas lagi pemikiran dan pembicaraan kita, berhenti tidak selalu merupakan keadaan negatif. Misalnya, ketika kita berdoa, untuk dapat berdoa secara kusyu kita harus berhenti berpikir dan berhenti melakukan aktivitas lain yang tidak terkait dengan berdoa. Selain itu, kita juga harus berhenti ketika pikiran-pikiran kita telah melampaui batas. Maka hakekat, etik dan estetika berhenti pun relatif terhadap ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  19. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berhenti tidak sama dengan selesai karena ada istlah berhenti sejenak. Bisa saja dengan berhenti maka akan dapat menentukan ulang apakah arah yang diambil sebelumnya sudah tepat atau belum. Kesempatan untuk berpikir kembali akan lebih luas. Berhenti tidak akan pernah benar-benar berhenti apabila hayat masih dikandung badan. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang berpikir. Bahkan ketika tidur saja masih banyak hal-hal yang sering terlintas di pikiran. Jadi, selama masih hidup, berhenti tidak akan pernah benar-benar berhenti.

    ReplyDelete
  20. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Sepertinya elegi tentang nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, keadilan, dan berpikir positif menarik untuk dibahas. Semoga bapak akan terus menuliskan elegi-eleginya di dalam blog ini sebagai bahan pembelajaran untuk pembaca dalam menemukan nilai-nilai kehidupan secara substansial dalam bacaan-bacaan yang menarik.

    ReplyDelete
  21. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Berhenti ialah ketika tidak meneruskan lagi apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Makna berhenti akan bernilai baik atau buruk itu relatif berdasarkan ruang dan waktunya. Ketika seseorang yang dulunya memiliki kebiasaan yang tidak baik seperti merokok, kemudian akhirnya ia sadar dan ingin berhenti dari merokok ini, maka berhenti yang ia lakukan adalah hal yang baik. Akan tetapi, jika seseorang merasa bahwa ilmu yang ia miliki sudah cukup baginya dan tidak ingin lagi menuntut ilmu atau berhenti menuntut ilmu, maka berhenti yang ia lakukan adalah hal yang tidak baik. Dengan demikian, berhenti itu relatif nilai kebaikannya, sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  22. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Elegi pemberontakan para berhenti. Menurut saya, beranjak dari tema tersebut, para berhenti memberontak karena berhenti sering dikonotasikan sebagai sesuatu yang kurang baik, contoh:berhenti belajar, berhenti berpikir, dan berhenti berusaha. Para berhenti memberontak karena dari berbagai anggapan tidak baik terhadap berhenti, berhenti juga mempunyai sifat yang baik. Karena ada kalanya, kita harus berhenti pada ruang dan waktu yang tepat. Contoh paling simple dapat dilihat pada saat seseorang makan. Apakah dia akan terus menerus makan walaupun sudah kenyang? Apa sebaiknya dia tidak sebaiknya berhenti makan? Tentu saja tidak. Disinilah, pentingnya untuk berhenti. Contoh yang lebih kompleks dapat dilihat pada saat seseorang terus menerus mengira-ngira bagaimanakah bentuk Tuhan? Tentu saja orang tersebut akan terjebak pada imajinasinya, karena orang tersebut belum pernah bertemu Tuhan sehingga mungkin hidupnya menjadi kurang terarah. Disinilah, menurut saya perlunya 'berhenti'.

    ReplyDelete
  23. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Berhenti. Sesungguhnya berhenti adalah pilihan. Berhenti tak selamanya buruk. Bagaimana dengan: berhenti berbuat jahat, berhenti mengeluh, berhenti menyalahkan orang lain.
    Berhenti itupun harus sesuai ruang dan waktunya. Berhenti sejenak, karena lelah. Berhenti seutuhnya untuk meninggalkan yang buruk. Menuju ke arah lebih baik tentu merupakan pilihan selanjutnya. Jika berhenti itu pilihan, maka memulai kembali atau bahkan memulai dari awal sesuatu yang baru merupakan kelanjutan dari pilihan untuk berhenti.

    ReplyDelete