Jan 13, 2013

PYRRHONISM





Ass, jika ingin membaca tentang Pyrrhonism, bisa konek berikut:


Wss

11 comments:

  1. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Kelahiran skeptisisme sebagai metode di abad pertengahan lebih disebabkan oleh adanya penemuan kembali teks-teks kuno. Teks-teks tersebut pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh para pemikir Humanis di Italia. Kemudian teks-teks tersebut tersebar dan semakin berkembang di Eropa Barat dan Eropa Utara. Seperti sudah disinggung sebelumnya, teks-teks yang berpengaruh adalah tulisan Cicero, Diogenes, dan (yang terpenting) adalah tulisan Sextus Empiricus. Pada awalnya teks-teks tulisan Empiricus lebih dikenal sebagai teks-teks sejarah dan literatur biasa. Namun setelah terbit dua teks terjemahan milik Empiricus, yakni Outlines of Pyrrhonism dan Against the Professors, para filsuf pada waktu itu mulai menempatkan teks-teks itu sebagai teks yang memiliki problem filosofis (pada abad ke 14 dan 15).

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang apapun. Orang yang menganut skeptisisme menyatakan bahwa mustahil orang mengetahui sesuatu, atau paling tidak orang tidak pernah merasa pasti atau yakin apakah ia bisa mencapai pengetahuan tertentu. Hal yang mendasarinya yaitu manusia perlu mempunyai bukti untuk mengetahui ia telah tahu sesuatu. Contohnya bila kita yakin bahwa besok akan turun hujan, maka keyakinan tersebut patut diragukan karena kita tidak tahu akan apapun. Kita hanya menduga-duga apa yang akan terjadi, karena besok akan turun hujan memang bukanlah sesuatu yang pasti. Bagi kaum skeptis orang tidak akan pernah tahu tentang apapun, karena mustahil orang mengetahui sesuatu tanpa memiliki bukti yang cukup (misalnya untuk membuktikan bahwa besok akan turun hujan).

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Pyrrhonism adalah sekolah skeptisisme didirikan oleh pengikut Aenesidemus di abad pertama SM dan dicatat oleh Sextus Empiricus pada akhir abad ke-2 atau awal abad 3 Masehi. Selanjutnya, dalam "New Academy" Arcesilaus (c. 315-241 SM) dan Carneades (c. 213-129 SM) mengembangkan perspektif teoritis yang lebih dimana konsepsi kebenaran mutlak dan kepalsuan yang membantah sebagai tidak pasti. Carneades mengkritik pandangan dogmatis, terutama pendukung Stoicisme, menegaskan bahwa kepastian mutlak pengetahuan adalah mustahil. Sextus Empiricus (c. 200 CE), otoritas utama untuk skeptisisme Yunani, mengembangkan posisi lanjut, menggabungkan aspek empirisme ke dasar untuk menegaskan pengetahuan.

    ReplyDelete
  4. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    PPs PM B

    Meunurut saya paham Pyrrhonisme dalam pembelajaran mtematika akan berpengaruh buruk kepada siswa, hal tersebut dikarenakan siswa akan takut untuk menyatakan pendapat, alasan, dan pemikiran yang disebabkan oleh berkuasanya pendidik dalam mengekang pendapat siswa atau menganggap bahwa yang benar adalah guru seorang sedangkan siswa harus mengikuti semua pendapat guru. Tentu saja hal tersebut akan berpengaruh secara signifikan kepada siswa karena siswa akan sulit mengembangkan pemikirannya dan memiliki rasa takut untuk menyampaikan pemikirannya. Oleh karena sebagai seorang pendidik dari semua kegiatan mulai dari LKS, modul dan media belajar lain siswa dibebaskan dalam berpikir matematika bisa dengan soal yang open maksdunya dengan soal yang memiliki lebih dari satu jawaban dan siswa diberikan kesempatan untuk menampilkan hasil jawaban dikelas dan selanjutnya guru memberi feed back denga dari jawaban siswa tersebut.

    ReplyDelete
  5. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Menurut sumber yang saya baca pyrrhonism memiliki konotasi makna. Konotasi dari pyrrhonism adalah skepticism. Skepticism merupakan tindakan mempertanyakan atau sikap ketidakpercayaan. Tokoh filsuf yang merintis skepticism adalah Rene descates. Menurut Rene descates skepticism adalah sebuah sifat metodis yang tujuan akhir untuk mendapatkan kepastian yang tak tergoyahkan. Sedangkan dalam filsafat islam, filsuf yang mendirikan skepticism adalah Al-Ghazali, dimana metode skepticism yang dianutnya banyak terdapat kesamaan dengan metode skepticism R.Descates.

    ReplyDelete
  6. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami Pyrrhonisme sering disebut juga sebagai skeptisisme Pyrrhonian. Pada abad ke-4 SM Pyrro mendirikan sekolah skeptisisme. Keberadaan sekolah ini cukup singkat. Kemudian dihidupkan kembali oleh Aenesidemus pada abad ke-1 SM dan dicatat oleh Sextus Empiricus pada akhir abad ke-2 atau awal abad ke-3 Masehi. Sebuah kebangkitan penggunaan "pyrrhonisme" sebagai sinonim untuk "skeptisisme" terjadi selama abad ke-17. Skeptisme adalah satu ideologi dimana seseorang menyatakan dirinya merupakan seorang penyidik. Artinya orang yang skeptis adalah orang yang tidak mudah dengan segala sesuatu. Dia akan menyelidikan sendiri sehingga dia mampu mempercayai dan meyakininya.

    ReplyDelete
  7. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualikum Wr. Wb. Terima kasih atas link yang bapak sajikan. Dari link tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa pyrrhonism membawa semangat skeptisme dalam memandang setiap fenomena di dunia. Di Wikipedia juga menjelaskan bahwa pyrrhonism adalah sekolah yang didirikan oleh Aenesidemus skeptisisme. Meragukan segala sesuatu adalah salah-satu prinsip dalam pendekatan sains. Tentunya skeptisme memberikan semangat untuk melakukan penyelidikan-penyelidiakn berbasis bukti untuk menemukan kebenaran.

    ReplyDelete
  8. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Pyrrhonism merupakan sekolah skeptism yang didirikan oleh Pyrrho pada abad ke-4 sebelum masehi. Pyrrhonism ini mempunyai semangat skeptism, yakni meragukan segala sesuatu. Oleh karena itu, pyrrhonism tidak akan mempercayai sesuatu sampai mereka menyelidikinya sendiri. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hal ini perlu untuk dimiliki agar kita tidak gampang diperdaya atau termakan omongan orang lain yang belum tentu kebenarannya. Sebenarnya hal ini perlu juga dimiliki oleh orang muslim dalam mengungkap ilmu-ilmu yang ada di dalam Al-Quran agar semakin bertambah iman kita karena yakin bahwa apa yang ada di dalam Al-Quran tersebut memang dapat dibuktikan kebenarannya.

    ReplyDelete
  9. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Pyrrhonism atau skeptisisme pyrrhonoan merupakan sekolah skeptisisme yang didirikan oleh pengikut Aenesidemus pada abad pertama sebelum masehi. Pyrrhonian merupakan paham keraguan, yaitu posisi filsafat yang harus menangguhkan setiap keputusan dalam penyelidikan. Pyrrhonian menolak setiap persetujuan atau keputusan yang berhubungan dengan proposisi yang tidak jelas sehingga perlu dilakukan penyelidikan secara terus menerus. Mereka membantah kemungkinan dalam mencapai kebenaran oleh ketakutan sensorik, alasan, atau keduanya. Mereka berusaha membuat skeptis secara universal.

    ReplyDelete
  10. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Paham ini memandang bahwa seseorang harus menerima fakta bahwa pengetahuannya terbatas dan tidak ditujukan untuk menyelidiki lebih dari pada yang dapat diketahui atau dipahami. Paham ini membuat seseorang sadar bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Allah swt. Maka dari itu semua orang diwajibkan untuk selalu belajar dan menuntut ilmu agar bisa memperbaiki diri kearah yang lebih berkualitas baik dari segi jasmani maupun rohani.

    ReplyDelete
  11. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, thank you prof. Marsigit over the links you have presented. Based on the links above, I just learned that pyrrhonism or better known as pyrrhonoan skepticism is a school of skepticism founded by followers of Aenesidemus in the first century BC. The Pyrrhonian is a doubt. Same with skepticism which is an act of questioning or attitude of unbelief. The character is Rene Descrates. As in the spiritual realm of agalam Islam, something that makes you doubt then leave it. That's because we do not know whether what we are doing is right or wrong and causes something positive or negative. So we should not be able to easily believe with the invitations, words, and beliefs of others that are not necessarily true. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete