Jan 17, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu




Puncak pencapaian belajar Filsafat adalah diperolehnya kesadaran akan Ruang dan Waktunya yang ada dan yang mungkin ada. Betapa tidak mudah seseorang menggapai kesadaran Ruang dan waktu. Sekali lagi, untuk mengimbangi pengembaraan pikiran kita yang jauh menembus melampaui Ruang dan Waktu, maka Elegi berikut saya tarik ke depan untuk bisa dibaca bagi yang mungkin belum membacanya. Elegi ini termasuk ranah Aksiologi/Etik/Estetika. Selamat membaca.

 Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu
Oleh: Marsigit

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:

Hah... tiadalah satupun di depanku bisa lepas dari kendaliku.


Selama ini aku merasa punya kelebihan. Aku merasa tiada satu halpun di dunia ini lepas dari kesadaranku. Aku merasa lebih dari orang-orang disekitarku. Aku bahkan merasa kemampuanku bisa mengendalikan apapun yang aku inginkan. Hah.. orang-orang itu. Di hadapanku, mereka itu tidaklah lebih dari hanya kecoa-kecoa. Jika aku mau maka aku bisa tentukan semua nasib-nasibnya. Yah dasar aku. Aku memang sudah kondhang, dan ketenaranku itu akan aku pertahankan hingga titik darah penghabisan. Tetapi siapalah berani menghalangi setiap langkahku. Kiranya tak ada orang sebanding dengan diriku. Oleh karena itu mengapa aku harus risau. Ah risau tidak ada gunanya. Aku pun tidak memerlukan jasa baiknya. Aku paling banter hanya perlu mereka sebagai bahan bakarku. Yah jika mereka berbaik-baik dan membawa manfaat padaku maka barulah aku singkap ujung mataku. Tiadalah catatan dan kamusnya bahwa diriku tidak dapat menggapai tujuan-tujuan dan keinginanku. Mereka baru bangun aku sudah berpikir. Mereka baru mulai berpikir, aku sudah bertindak. Mereka baru mulai bertindak, aku sudah selesai. Lalu apalah daya mereka.

Makhluk Pemangsa Ruang dan Waktu
Maka tiadakah daya dan pikiran mereka mampu menghalangiku. Oleh karena kedudukanku yang istimewa maka tentulah aku harus dan harus mempunyai hak istimewa bagi mereka. Aku adalah previligeku. Maka kareka kuasaku yang berlebih bagi mereka maka aku tentulah punya hak atas mereka. Aku umumkan sepihak dan hanya perlu sepihak saja. Aku tidak memerlukan persetujuannya. Kalau perlu aku paksakan saja. Karena mareka sesungguhnya tiadalah arti bagiku. Aku adalah keinginanku. Aku adalah ambisiku. Yah, jika mereka ramai menamaiku bahwa aku adalah nafsuku, peduli amat. Biarkan mereka berkata semaunya. Bahkan jika mereka katakan bahwa aku adalah syaitannya, aku juga tidak perduli. Peduli amat, syaitan dan bukan kan tergantung kacamatanya. Jika kacamataku adalah sensualku maka syaitan itu bisa saja bidadariku. Demikainlah gumamku. Siapakah ingin menguji diriku? Siapakah ingin menjadi kompetitorku. Mari kita bertarung di sembarang ruang dan waktu pun aku okey-okey saja. Ha..ha..ha..sebenar-benar diriku adalah pemangsa ruang dan waktu.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu memberi perintah kepada wakilnya:

Wahai wakilku tahukah engkau apa tugas-tugasmu? Aku mengangkatmu bukanlah sekedar kebetulan. Aku sengaja mengangkatmu untuk menyubur-suburkan aku. Aku kuutus engkau pergi kemanapun untuk mencari bahan bakar penyuburku. Maka, patuh adalah absolut untuk mu. Kamu hanya boleh melaporkan yang baik-baik saja kepadaku. Yakinkan bahwa di dunia ini tidak ada yang melebihiku. Jika kau temukan ada orang yang melebihiku, maka segera musnahkanlah. Jika engkau tidak mampu maka laporkanlah kepadaku. Jika engkau tidak lapor kepadaku maka engkau pulalah yang akan aku musnahkan.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu mencari tempat berteduh:
Aduhai tidak kusangka aku menemukan tempat begitu teduhnya bagiku. Ah ada makanan juga di sini. Tetapi mengapa aku musti perlu tempat berlindung. Ah keparat. Bukankah seyogyanya aku itu yang menjadi pelindung bagi mereka. Mengapa mesti aku menemukan istilah bahwa aku mesti berlindung. Walaupun tempat berlindungku sekedar tempat. Andaikata ini bukan tempat. Andaikata ini sesama manusia pasti sudah aku hancurkan.

Tempat berteduh ternyata bisa berkata:
Wahai seseorang yang tidak tahu diri. Mengapa engkau datang bertamu tidak meminta ijin terlebih dulu. Lebih dari itu, disamping tidak sopan engkau juga telah memakan makanan yang ada di sini tanpa ijin juga. Lebih dari itu, engkau juga telah bergumam ingin menghancurkanku. Sungguh angkau adalah orang yang tidak tahu balas berbudi. Engkau lahap dan telan apapun yang ada di depanmu. Engkau rampas setiap hak-hak orang lain. Engkau rampas setiap kesempatan yang ada. Engkau tulisi kertas putihku. Engkau koreksi pekerjaanku tanpa legalitas. Bahkan engkau butakan penglihatanmu. Engkau tidak dapat membedakan batas-batas wilayahku. Engkau tidak mau membaca tanda-tanda. Engkau telah berlaku begitu sombongnya. Engkau telah berlaku sebagai hakim bagi semua manusia. Engkau ambil aku setiap saat, tetapi engkau campakkan pula aku setiap saat. Pantaslah kemudian jika orang-orang menyebutmu sebagai pemangsa ruang dan waktu. Sebenar-benar pemangsa ruang dan waktu adalah jika seseorang tidak kenal ruang dan waktu. Tidak kenal ruang karena engkau tidak mau tahu kepada siapa engkau bicara, apa yang dibicarakan, kepada siapa engkau menuntut hak. Tidak kenal waktu karena engkau tidak peduli kapan engkau bicara, kapan engkau bertindak dan bagaimana engkau bertindak. Sungguh luar biasakah engkau itu. Perilakumu tidak hanya merugikan mereka, tetapi telah mengeliminasi mereka. Tahukah engkau dosa-dosa yang engkau tanggung? Mengeliminasi sifat-sifat sesama tidak lian tidak bukan adalah membunuh sebagian karakter mereka. Maka terkutuklah engkau, wahai pemakan ruang dan waktu. Tetapi ingatlah bahwa aku tidaklah dalam posisi membetul-betulkan perilakumu. Bahkan sebaliknya, jika engkau masih mau, maka aku masih akan menawarkan perlindunganku kepadamu dari teriknya matahari. Itulah semata-mata fungsi dan tugasku, yaitu menolong sesama.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:

Ha..ha..dari banyak kalimatmu yang tidak enak, maka kalimat terakhirmu itulah yang masih bagus. Jika memang engkau mempunyai tugas menolong sesama, maka sekarang akan engkau uji dirimu itu. Tolong pinjamkan pada diriku anak panah dan pedangmu itu kepadaku, karena aku memerlukannya untuk berperang.

Tempat berteduh:
Tengoklah pada lengan dan leherku. Jikalau engkau cermat maka apakah warna darahku itu. Warna darahku adalah putih, itu artinya aku memang ditakhdirkan untuk selalu ikhlas membantu orang lain. Maka apapun permintaanmu kepadaku, begitu memang telah engkau lantunkan, aku kabulkan. Maka ambillah anak panah dan pedangku itu.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Terimakasih. Ha..ha.. dasar bodoh. Ketahuilah wahai tempat berlindung, karena dungumu, maka engkau tidak mengetahui bahayamu. Ketahuilah, orang pertama yang akan kubunuh dengan pedangmu ini tidak lain tidak bukan adalah dirimu itu.
Maka terimalah tebasan padangku ini. (Dalam cerita, matilah tempat berteduh tersebut).

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wahai semuanya, dimanakah engkau semua. Inilah diriku. Jika tiadalah yang menemuiku maka aku akan protes dan menggugat siapakah penyebab adaku ini.
Mengapa aku harus diciptakan di dunia ini? Kalaupun pertanyaanku tiadalah yang menjawab, maka akan aku bunuh pula sang penciptaku.

Hamba penjaga ruang dan waktu datang:
Astaghfirullah aladzhim, ya Allah ampunilah segala dosa dan kekhilafanku. Ampunilah dosa-dosa leluhurku. Ampunilah dosa-dosa para pemimpinku. Ampunilah dosa-dosa orang-orang yang telah berbuat aniaya dan berbuat kerusakan di atas bumi ini. Ya Allah ya Robbi, turunkan dan berikan rakhmat danhidayah Mu kepada orang-orang yang sabar dan tawakal. Tiadalah daya dan upayaku kecuali atas ridhlo dan kehendakmu ya Allah.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu berjumpa hamba penjaga ruang dan waktu

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wahai orang asing yang berperilaku aneh. Aku perhatikan engkau komat-kamit sendiri. Sedang bicara apakah engkau. Orang seburuk engkau kenapa engkau duduk di situ. Bukankah tempatmu itu hanya pantas bagi tempat duduk orang-orang seperti ku. Kenapa juga engkau mempunyai banyak harta dan peralatan di situ? Bukankah harta dan peralatan itu hanyalah orang-orang sepertiku yang pantas memilikinya. Aneh juga, mengapa engkau mempunyai banyak rencana-rencana? Bukankah rencana-rencana itu sesungguhnya akulah yang paling pantas memilikinya? Aneh pula mengapa engkau punya banyak program-program, bukankah program-program itu, akulah yang paling pantas mengembangkannya. Aneh pula mengapa engkau punya banyak teman-teman, bukankah teman-temanmu itu sesungguhnya paling pantas adalah temanku. Coba lihat rencanamu, oh kaya beginikah rencanamu itu? Mengapa rencanamu tidak sesuai dengan pikiranku. Kenapa engkau sempat pula berpikir, bukankah hanya dirikulah orang yang paling berhak berpikir? Kenapa engkau sempat menulis, bukankah itu sebenar-benar adalah hak istimewaku? Kenapa engkau sempat bicara lantang, bukankah itu juga hak istimewaku? Maka tidak terimalah diriku ini atas keadaan ini. Tetapi kenapakah engkau tidak duduk di antara ruang-ruang, karena ketika engkau duduk disitulah aku akan mudah memangsamu. Dan kenapa pula engkau tidak duduk di antara waktu-waktu, karena ketika engkau duduk di situlah aku akan lebih mudah memangsamu. Aku tidak peduli engkau kena kutukan atau bukan. Tetapi aku juga tidak peduli titah nenek moyangmu bahwa janganlah berkeliaran di waktu maghrib. Aku tidak pedula nenek moyangmu mengutukku sebagai candik ala.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Alhamdullilah, bahwa Tuhan telah memberi aku kesempatan bersilaturakhim kepadamu. Semoga keselamatan ada pada diri anda dan tentunya diriku juga. Amien.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Hah, jangan sok pura-pura alim. Pakai doa-doa segala. Ini, ni ini, engkau tidak becus. Kamu punya banyak hal tetapi semuanya tidak ada yang tepat. Ketahuilah bahwa tepat tidaknya sesuatu milikmu itu jika sesuai dengan pikiranku. Maka tiadalah sebenar-benar kebenaran, jika dia berada di luar diriku. Maka semestinyalah bahwa engkau seharusnya selalu minta ijin kepadaku sebelum engkau melakukan berbagai hal. Tetapi yang sebenar-benar terjadi adalah aku tidak akan pernah ridhlo kepadamu walaupun engkau sudah minta restu kepadaku sekalipun. Satu-satunya ikhlasku adalah jikalau engkau enyah dari depanku. Maka terimalah pukulan dan tebasan padangku ini.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu tersungkur terkena pedangnya sendiri

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wadala .. oh kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa musti aku bisa dikalahkan oleh seseorang buruk rupa. Wahai orang buruk rupa, apa pula yang engkau lakukan kepadaku sehingga aku tersungkur, terkena pedangku sendiri.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah aku tidak berbuat apa-apa terhadapmu. Tetapi ulah perbuatan dirimu sendirilah yang telah menyebabkan engkau jatuh tersungkur.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Tidak mungkin. Aku tahu persis bahwa engkaulah yang memukulku.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Terserah dirimulah. Tetapi perlu engkau ketahui bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah kamu telah diperingatkan oleh Tuhan atas perilakumu yang merusak di atas bumi ini.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wah semakin sombong saja engkau ini. Coba kalau aku mampu berdiri, pasti engkau sudah ku bunuh.

Hamba penjaga ruang dan waktu:

Ketahuilah, inilah sebenar-benar yang akan terjadi. Umurmu tidak akan lama lagi. Adalah kodrat Nya bahwa engkau segera akan mati dan akan menghuni neraka jahanam. Inilah sebenar-benar peringatan agar manusia ingat dan paham akan ruang dan waktu. Sebenar-benar malapetaka di dunia adalah jika orang-orang sudah tidak sadar akan ruang dan waktu. Maka sebenar-benar dirimu adalah godfathernya orang-orang yang tidak kenal dan tidak mau tahu ruang dan waktu. Bukankah mengurusi hal yang bukan haknya itu pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah pekerjaan yang melampaui batas itu pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah menggunakan peralatan tidak sesuai dengan peruntukannya, itu pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah memaksakan kehendak itu pertanda bahwa engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah menginginkan sesuatu diluar kemampuan dan wewenang itu juga pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah usul yang tidak proporsional itu juga pertanda bahwa engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah terlambat kerja itu pertanda bahwa engkau tidak paham ruang dan waktu? Bukankah terlambat shalat itu pertanda engkau tidak paham ruang dan waktu? Bukankah promosi diri berlebihan itu juga pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah berpakaian yang tidak pantas itu juga pertanda tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah berbicara yang tidak sopan itu juga tidak kenak ruang dan waktu? Dan inapropriate behaviour itu juga tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah menyalahi prosedur itu juga tidak kenal ruang waktu. Bukankah orang jawa mengatakan bahwa orang-orang demikian sering disebut pula “nggege mangsa”. Jikalaulah tidak demikian maka ada orang menyebutnya sebagai meritokrasi, yaitu ikhtiar, yaitu kerja keras, yaitu perjuangan, yaitu mengisi kemerdekaan. Bukankah Wal a’sri artinya adalah demi masa.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Bukankah sadar ruang dan waktu itu sebenar-benarnya adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Itulah sebenar-benar hermeneutika. Maka agar engkau sadar ruang dan waktu, maka pandai-pandailah menterjemahkan dan ikhlaslah untuk diterjemahkan. Bukankah kita belajar sejak nenek moyang bahwa sebenar-benar rakhmat adalah bagi orang-orang yang sadar akan ruang dan waktu. Itulah sebenar-benar orang Jawa mengatakan sebagai “ruwatan” adalah cara agar orang menjadi sadar ruang dan waktu. Maka perlulah diruwat bagi orang-orang yang tidak sadar ruang dan waktu agar dunia menjadi tenteram dan damai. Maka yang sebenar-benar terjadi pada dirimu inilah sebuah ruwatan dimana engkau sebagai Bathara Kala, yaitu orang yang tidak paham ruang dan waktu, diruwat tertembus oleh senjata Cakra nya Bathara Khrisna, yaitu perlambang orang-orang yang sadar akan ruang dan waktu. Kematianmu adalah kematian Bathara Kala, yaitu kematiannya orang-orang yang tidak sadar ruang dan waktu. Kemenanganku adalah kemenangannya Batara Khrisna, yaitu kemenangan bagi orang-orang yang sadar akan ruang dan waktu. Maka ingat dan waspadalah wahai orang-orang untuk selalu ingat ruang dan waktu. Maka waktu atau mandala itu memang senjatanya sang raja dewa. Orang Jawa menggelar pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk dengan tema Ruwatan, yaitu matinya Sang Batara Kala, si pemangsa ruang dan waktu, agar masyarakat mampu belajar dan menghargai ruang dan waktu.

Datanglah seorang hamba menggapai ruang dan waktu

Hamba menggapai ruang dan waktu:
Terimakasih hamba penjaga ruang dan waktu. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku telah menyaksikan semuanya yang terjadi. Lebih dari itu, aku bahkan mendengar semua yang engkau katakan. Maka terimakasihlah aku kepadamu yang telah menolongmu dari kekejaman Makhluk pemangsa ruang dan waktu.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Bukankah engkau telah mati karena dibunuh Makhluk pemangsa ruang dan waktu?

Hamba menggapai ruang dan waktu:
Wahai hamba penjaga ruang dan waktu. Sesungguhnya atas jasa dan keikhlasan para saudara-saudara dan akar-rumput disekitarku itulah aku dapat bangkit kembali. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa tiadalah kata kematian itu ada pada diriki. Karena sebenar-benar diriku adalah tempat berteduh bagi mereka. Aku adalah kendarannya mereka. Aku adalah sistemnya mereka. Aku adalah fasilitas bagi mereka. Aku yang satu adalah mereka yang banyak. Aku yang banyak bisa juga dia yang satu. Aku boleh koperasi. Aku boleh organisasi. Aku boleh fakultas. Aku boleh jurusan. Aku boleh bis kota. Aku boleh pegadaian. Aku boleh komputer. Aku boleh sekolahan. Aku boleh laboratorium. Aku boleh sepatu. Aku boleh baju. Aku boleh kacamata. Dan aku boleh apa saja selama engkau dan mereka bermaksud menggunakanku. Sehingga aku pun bisa sebagai badanmu, jikalau engkau telah mengaku sebagai rohmu. Maka sebenar-benar diriku adalah hamba menggapai ruang dan waktu.

21 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Jika kita ingin sukses, hendaklah menerapkan kriteri filsafat yaitu sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Sesungguhnya yang menjadi masalah adalah bagaimana dalam hidup ini mempunyai keterampilan menggapai ruang dan waktu. Dalam upaya menggapai ruang dan waktu maka memerlukan perbendaharaan kata karena sebenar-benar dunia itu adalah bahasa. Maka dalam filsafat bahasa (analitik) menerangkan bahwa duniaku itu adalah kata-kataku. Maka sesungguhnya sebenar-benar kata-katamu menunjukkan duniamu. Maka berhati-hatilah dalam berkata. Karena dunia ke atas menjadi spiritual, maka kata-katamu itu adalah doa (dilihat dari sisi spiritulitasnya). Maka perjuangan hidup yang benar adalah menggapai ruang dan waktu yang bijaksana. Dalam filsafat kita dapat membangun dunia dari yang ada dan mungkin ada. Lalu agar kita dapat membangun dunia maka diperlukan keterampilan menembus ruang dan waktu. Kemudian agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar dan baik sesuai tujuan maka diperlukan perbendaharaan kata.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Melalui elegi ini, kita belajar bahwa dalam melakukan segala sesuatu hendaknya dikondisikan dengan ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah dua hal yang selalu ada yang belum dapat terpikirkan ketidakadaannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus dapat menyesuaikan diri terhadap ruang dan waktu, artinya kapanpun dan dimanapun kita berada harus dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Kita harus bisa memposisikan diri kita dengan orang lain, baik ketika berbicara, bertindak ataupun dalam hal lain. Janganlah kita menganggap remeh dengan orang lain. Kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Gunakan waktu yang ada sebaik mungkin, dengan melakukan hal-hal yang baik, yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Kita harus sadar ruang dan waktu. Agar kita menyadari ruang dan waktu maka kita harus pandai-pandai menterjemahkan dan ikhlas untuk diterjemahkan. Mengetahui saja tidaklah cukup, kita juga harus mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Sebenar-benar malapetaka di dunia adalah jika orang-orang sudah tidak sadar akan ruang dan waktu. Tanpa adanya serangan dari luar, dengan sendirinya tidak sadar ruang dan waktu mencelakan dirinya sendiri. Dia akan berbuat kerusakan terhadap dirinya dan orang lain. Maka sungguh merugilah orang yang tidak sadar ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  4. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Manusia hidup dengan aturan baik dalam beribadah, dalam kehidupan sosial masyarakat, dalam berbangsa dan bernegara dan lain-lain. Dalam hidup, manusia hendaknya sesuai dengan aturan yang ada sehingga dapat hidup dalam ruang dan waktu. Menjalani hidup sesuai dengan kodratnya. Mengontrol pikiran dan perbuatan dengan hati yang bersih dalam rangka menggapai ruang dan waktu. Selain itu, selalu memohon ridho Allah SWT agar dijauhkan dari hal-hal yang menjauhkan dari ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Refleksi dari elegi ini adalah jangan menjadi pemangsa ruang dan waktu, karena pemangsa ruang dan waktu akan membuat orang menjadi sombong. Pemangsa ruang dan waktu adalah jika seseorang tidak kenal ruang dan waktu. Tidak kenal ruang karena seseorang tidak mau mengtahui kepada siapa dia bicara, apa yang dibicarakan, kepada siapa dia menuntut hak. Tidak kenal waktu karena dia tidak peduli kapan dia bicara, kapan dia bertindak dan bagaimana dia bertindak. Selain itu, pemangsa ruang dan waktu tidak tahu balas berbudi, merampas setiap hak-hak orang lain, tidak dapat membedakan batas-batas wilayah dan berlaku begitu sombongnya. karena hal itu sebagai manusia selalu berusaha tidak menjadi pemangsa ruang dan waktu dengan selalu berpikir positif dan selalu rendah hati

    ReplyDelete
  6. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Yang saya pahami adalah manusia terikat dalam ruang dan waktu. Saya yang tadi membaca tulisan ini telah berbeda dengan saya yang sekarang berpikir keras untuk menulis komentar. Saya yang baru membaca mungkin masih kurang paham mengenai konsep ruang dan waktu, sementara saya yang sekarang sedang berkomentar sudah sedikit lebih paham mengenai ruang dan waktu meskipun masih perlu banyak belajar dan memahami ruang dan waktu yang memiliki makna yang sungguh dalam. Adanya ruang dan waktu membuat manusia sadar bahwa perubahan sangat mungkin terjadi. Masa depan saya tertumpu pada keputusan yang saya buat dalam ruang dan waktu. Semua hal di muka bumi ini ada masanya, semua ditempatkan dalam ruang dan waktunya masing-masing.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas elegi yang bermakna ini

    Bukan perkara mudah bagi saya untuk memahami elegi ini. Jika boleh jujur, di pertengahan proses membaca, saya sangat menanti-nantikan kehadiran "orang tua berambut putih". Karena beliaulah salah satu yang memberikan pemahaman-pemahaman bagi saya. Tapi sayangnya, beliau tidak hadir. Tapi tunggu dulu, ternyata ada "hamba penjaga ruang dan waktu" dan "hamba menggapai ruang dan waktu". Lewat mereka lah saya mulai sedikit demi sedikit meraba-raba apa yang dimaksutkan elegi ini. Lewat mereka, saya kembali disadarkan betapa kita hidup harus sadar ruang dan waktu. Satu lagi, ini benar-benar membuat saya terhentak. Adalah hermeneutika, terjemah dan menterjemahkan. Hidup adalah menterjemahkan, maka kita juga harus ikhlas untuk diterjemahkan.

    ReplyDelete
  8. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi seorang hamba menggapai ruang dan waktu ini mengajarkan serta mengingatkan pada kita untuk tidak terlena dan tidak menyia-nyiakan waktu, sebab waktu akan terus berlalu dan dimensinya terus berubah, agar kelak apa yang telah kita lalui dan kita kerjakan tersebut tidak mendatangkan penyesalan bagi kita akan segala sesuatunya yang telah berlalu tersebut.

    ReplyDelete
  9. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ruang dan waktu memang sangat berbahaya jika kita tidak bisa menyesuaikan diri, karena bukan ruang dan waktu yang menyesuiakan kepada diri kita. Jika kita tidak dapat mengontrol hati dan pikiran kita, maka kita akan terjebak oleh ruang dan waktu sehingga pikiran dan hati kita akan dikuasai oleh syaitan yang tak pernah bersyukur atas semua yang sudah Allah berikan kepada kita, bukan hanya itu saja sikap kita juga akan merugikan banyak orang akibat sikap kita yang tidak bisa terkontrol. Maka, untuk menggapai ruang dan waktu dibutuhkan hati yang ikhlas dan pikiran yang positif dan selalu menyukuri segala yang Allah berikan kepada kita.

    ReplyDelete
  10. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Pada dasarnya setiap makhluk (baik hidup maupun tak hidup) terikat pada ruang dan waktu, demikian halnya dengan manusia, setiap manusia juga pasti terikat oleh ruang dan waktu. Ketika seseorang mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri terhapad ruang dan waktu pada saat ini maka dia akan mampu bersikap dengan bijaksana. Apabila seseorang terjebak pada suatu ruang dan waktu dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada maka dia pasti akan mengalami kerugian. Ketika dia mampu terbuka dengan ruang dan waktu maka pribadinya akan bisa berkembang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  11. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Segala sesuatu tak terlepas darI ruang dan waktu.Yang tak terikat oleh ruang dan waktu hanyalah Allah SWT.Elegi di atas mengajarkan kepada kita bagaimana bertindak dan bersikap sesuai dengan ruang dan waktu.Sebab sebenar-benarya ruang dan waktu adalah bagaimana memposisikan diri kita sesuai dengan ruang dan waktunya.Tokoh yang diperankan oleh Makhluk pemangsa ruang dan waktu di dalam elegi tersebut terselip sifat kesombongan hingga ia bertindak tanpa mengenal ruang dan waktunya. Maka ketika hal itu terjadi hukum langit akan menimpa diri kita.Yang pastinya, yang menjadi bahan renungan bagi kita , jangan lupa ikut sertakan keikhlasan dan kesadaran diri dalam mengapai ruang dan waktu. Sebab hanya orang-orang yang ikhlas yang dapat menempatkan dirinya sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  12. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    Sebagai manusia tentu tidak luput dari perasaan lupa atau lalai. Hal yang sering kali terjadi adalah lupa akan waktu yang akan terus berjalan sehingga membuat manusia membuang waktunya dengan melakukan hal-hal kurang baik. Selain itu, hal yang bisa terjadi adalah seorang manusia yang tidak bisa menempatkan dirinya akan ruang atau tempat dimana ia berada. Manusia yang sekarang akan berbeda dengan manusia satu detik kemudian, satu jam kemudian, dan seterusnya. Pentingnya kesadaran akan ruang dan waktu ini sudah seyogyanya ditanamkan dalam diri setiap manusia. karena hidup akan terus berjalan dan berubah sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    sopan dan santun adalah puncak dari ilmu filsafat. sopan dan santun dan harus bergerak sesuai ruang dan waktu ialah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. tidaklah elok dilihat orang yang mempunyai ilmu namun tidak beradab dan sopan serta santun. namun juga apapun yang dilakukan manusia memang harus sesuai dengan ruang dan waktu. agar kita semua menjadi orang orang yang tau menempatkan diri dimanapun kita berada.

    ReplyDelete
  15. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Segala sesutunya memanglah harus sesuai dengan ruang dan waktu agar kita tidak salah bertindak dalam suatu keadaan. Didalam belajar filsafat saya baru memahami makna dari ruang dan waktu. Ruang dan waktu sepertinya salah satu yang menjadi dasar dalam belajar filsafat. Sehingga kita tidak dapat bertindak sesuka hati, karena semua harus ada batasannya sesuai dengan ruang dan waktu yang ada. Dengan menjaga sikap sesuai dengan Ruang dan waktu, dapat menjaga kita agar tidak salah langkah dalam bertindak, dan tindakan kita tidak merugikan dan mengecewakan orang lain maupun diri sendiri.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Kesadaran terhadap ruang dan waktu merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk dimiliki. Kesadaran terhadap ruang dan waktu tersebut dapat diartikan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dengan kesadaran terhadap ruang dan waktu, segala tindakan, perbuatan, ucapan, dan seluruh kegaiatannya akan sesuai dengan peruntukannya, sesuai tempatnya, sesuai waktunya, sesuai konteksnya, sesuai batasnya, dan lain sebagainya. Bahkan berbuat baik pun harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Tidak sembarang berbuat kebaikan dapat menjadi baik apabila tidak sesuai dengan ruang dan waktunya, bahkan hanya akan mendatangkan kerugian.

    ReplyDelete
  17. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas artikel diatas. Menggapai ruang dan waktu bukanlah hal yang mudah. Keseharian kita dalam berperilaku, bertindak, berkata-kata, dan berpikir, baik sadar maupun tidak pasti kita sering luput dan tidak menempatkan diri sesuai ruang dan waktu. Hanya Allah swt lah yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Bahkan Dialah yang mengatur adanya ruang dan waktu tersebut. Salah satu di ambil atau dihilangkan antara ruang atau waktu saja, sudah kacau dunia ini. Sehingga, sebagai makhluk yang diberikan akal pikiran dan hati nurani, hendaklah terus berusaha mencapai diri yang berperangai dan berkarakteristik baik, sesuai ruang dan waktu yang sesuai. Berusaha lebih baik dari pada tidak sama sekali. Karena salah satu tujuan kita hidup adalah untuk memperbaiki kualitas diri dan iman dalam hati. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  18. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Terkadang sebagai manusia suka terlena dengan ruang dan waktu yang sepertinya sepengetahuan kita tidak terbatas. Padahal manusia memiliki jumlah waktu yang sudah ditetapkan oleh Allah swt dan tidak tahu kapan kita akan sampai di batas waktu itu.

    ReplyDelete
  19. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Kesesuaian terhadap ruang dan waktu merupakan suatu hal yang sulit untuk diraih apabila memilki pemahaman terhadap filsafat yang masih kurang. Disini pun pembaca belajar dari elegi-elegi agar dapat menembus ruang dan waktu. Juga supaya tidak kalah dari makhluk pemangsa ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  20. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Ruang dan waktu adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Apapun yang kita lakukan selalu mempertimbangkan ruang dan waktu yang ada dan seseorang yang bijak ialah seseorang yang tahu menempatkan ruang dan waktu dengan baik. Menggapai ruang dan waktu dapat kita lakukan dengan selalu mempertimbangkan apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan ruang dan waktu yang sedang berjalan. Dalam agama Islam, Allah sudah bersumpah dengan waktu dalam surat al-asr (Demi Masa), Allah bersumpah dengan waktu karena kebanyakan manusia terlena dengan waktu dan tidak menggunkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita menjadi seseorang yang memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  21. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Seseorang disebut pemangsa ruang dan waktu adalah jika seseorang tidak kenal ruang dan waktu. bertindak dan brbuat yang tidak sesuai dengan normalnya atau aneh itu berarti seorang bertindak tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Tidak kenal ruang karena seseorang tidak mau tahu kepada siapa dia bicara, apa yang dibicarakan, kepada siapa dia menuntut hak. Tidak kenal waktu karena dia tidak peduli kapan dia bicara, kapan dia bertindak dan bagaimana dia bertindak. Selain itu, pemangsa ruang dan waktu tidak tahu balas berbudi, merampas setiap hak-hak orang lain, tidak dapat membedakan batas-batas wilayah dan berlaku begitu sombongnya. Sehingga jangan sampai menjadi pemangsa ruang dan waktu, karena hal itu sebagai manusia selalu berusaha tidak menjadi pemangsa ruang dan waktu dengan selalu berpikir positif dan selalu rendah hati. Seseorang yang yang bertindak sesuai dengan porsinya dan juga mneghargai hak-hak orang lain adalah orang yang cerdas menenpatkan diri sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete