Jan 17, 2013

Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu




Puncak pencapaian belajar Filsafat adalah diperolehnya kesadaran akan Ruang dan Waktunya yang ada dan yang mungkin ada. Betapa tidak mudah seseorang menggapai kesadaran Ruang dan waktu. Sekali lagi, untuk mengimbangi pengembaraan pikiran kita yang jauh menembus melampaui Ruang dan Waktu, maka Elegi berikut saya tarik ke depan untuk bisa dibaca bagi yang mungkin belum membacanya. Elegi ini termasuk ranah Aksiologi/Etik/Estetika. Selamat membaca.

 Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu
Oleh: Marsigit

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:

Hah... tiadalah satupun di depanku bisa lepas dari kendaliku.


Selama ini aku merasa punya kelebihan. Aku merasa tiada satu halpun di dunia ini lepas dari kesadaranku. Aku merasa lebih dari orang-orang disekitarku. Aku bahkan merasa kemampuanku bisa mengendalikan apapun yang aku inginkan. Hah.. orang-orang itu. Di hadapanku, mereka itu tidaklah lebih dari hanya kecoa-kecoa. Jika aku mau maka aku bisa tentukan semua nasib-nasibnya. Yah dasar aku. Aku memang sudah kondhang, dan ketenaranku itu akan aku pertahankan hingga titik darah penghabisan. Tetapi siapalah berani menghalangi setiap langkahku. Kiranya tak ada orang sebanding dengan diriku. Oleh karena itu mengapa aku harus risau. Ah risau tidak ada gunanya. Aku pun tidak memerlukan jasa baiknya. Aku paling banter hanya perlu mereka sebagai bahan bakarku. Yah jika mereka berbaik-baik dan membawa manfaat padaku maka barulah aku singkap ujung mataku. Tiadalah catatan dan kamusnya bahwa diriku tidak dapat menggapai tujuan-tujuan dan keinginanku. Mereka baru bangun aku sudah berpikir. Mereka baru mulai berpikir, aku sudah bertindak. Mereka baru mulai bertindak, aku sudah selesai. Lalu apalah daya mereka.

Makhluk Pemangsa Ruang dan Waktu
Maka tiadakah daya dan pikiran mereka mampu menghalangiku. Oleh karena kedudukanku yang istimewa maka tentulah aku harus dan harus mempunyai hak istimewa bagi mereka. Aku adalah previligeku. Maka kareka kuasaku yang berlebih bagi mereka maka aku tentulah punya hak atas mereka. Aku umumkan sepihak dan hanya perlu sepihak saja. Aku tidak memerlukan persetujuannya. Kalau perlu aku paksakan saja. Karena mareka sesungguhnya tiadalah arti bagiku. Aku adalah keinginanku. Aku adalah ambisiku. Yah, jika mereka ramai menamaiku bahwa aku adalah nafsuku, peduli amat. Biarkan mereka berkata semaunya. Bahkan jika mereka katakan bahwa aku adalah syaitannya, aku juga tidak perduli. Peduli amat, syaitan dan bukan kan tergantung kacamatanya. Jika kacamataku adalah sensualku maka syaitan itu bisa saja bidadariku. Demikainlah gumamku. Siapakah ingin menguji diriku? Siapakah ingin menjadi kompetitorku. Mari kita bertarung di sembarang ruang dan waktu pun aku okey-okey saja. Ha..ha..ha..sebenar-benar diriku adalah pemangsa ruang dan waktu.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu memberi perintah kepada wakilnya:

Wahai wakilku tahukah engkau apa tugas-tugasmu? Aku mengangkatmu bukanlah sekedar kebetulan. Aku sengaja mengangkatmu untuk menyubur-suburkan aku. Aku kuutus engkau pergi kemanapun untuk mencari bahan bakar penyuburku. Maka, patuh adalah absolut untuk mu. Kamu hanya boleh melaporkan yang baik-baik saja kepadaku. Yakinkan bahwa di dunia ini tidak ada yang melebihiku. Jika kau temukan ada orang yang melebihiku, maka segera musnahkanlah. Jika engkau tidak mampu maka laporkanlah kepadaku. Jika engkau tidak lapor kepadaku maka engkau pulalah yang akan aku musnahkan.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu mencari tempat berteduh:
Aduhai tidak kusangka aku menemukan tempat begitu teduhnya bagiku. Ah ada makanan juga di sini. Tetapi mengapa aku musti perlu tempat berlindung. Ah keparat. Bukankah seyogyanya aku itu yang menjadi pelindung bagi mereka. Mengapa mesti aku menemukan istilah bahwa aku mesti berlindung. Walaupun tempat berlindungku sekedar tempat. Andaikata ini bukan tempat. Andaikata ini sesama manusia pasti sudah aku hancurkan.

Tempat berteduh ternyata bisa berkata:
Wahai seseorang yang tidak tahu diri. Mengapa engkau datang bertamu tidak meminta ijin terlebih dulu. Lebih dari itu, disamping tidak sopan engkau juga telah memakan makanan yang ada di sini tanpa ijin juga. Lebih dari itu, engkau juga telah bergumam ingin menghancurkanku. Sungguh angkau adalah orang yang tidak tahu balas berbudi. Engkau lahap dan telan apapun yang ada di depanmu. Engkau rampas setiap hak-hak orang lain. Engkau rampas setiap kesempatan yang ada. Engkau tulisi kertas putihku. Engkau koreksi pekerjaanku tanpa legalitas. Bahkan engkau butakan penglihatanmu. Engkau tidak dapat membedakan batas-batas wilayahku. Engkau tidak mau membaca tanda-tanda. Engkau telah berlaku begitu sombongnya. Engkau telah berlaku sebagai hakim bagi semua manusia. Engkau ambil aku setiap saat, tetapi engkau campakkan pula aku setiap saat. Pantaslah kemudian jika orang-orang menyebutmu sebagai pemangsa ruang dan waktu. Sebenar-benar pemangsa ruang dan waktu adalah jika seseorang tidak kenal ruang dan waktu. Tidak kenal ruang karena engkau tidak mau tahu kepada siapa engkau bicara, apa yang dibicarakan, kepada siapa engkau menuntut hak. Tidak kenal waktu karena engkau tidak peduli kapan engkau bicara, kapan engkau bertindak dan bagaimana engkau bertindak. Sungguh luar biasakah engkau itu. Perilakumu tidak hanya merugikan mereka, tetapi telah mengeliminasi mereka. Tahukah engkau dosa-dosa yang engkau tanggung? Mengeliminasi sifat-sifat sesama tidak lian tidak bukan adalah membunuh sebagian karakter mereka. Maka terkutuklah engkau, wahai pemakan ruang dan waktu. Tetapi ingatlah bahwa aku tidaklah dalam posisi membetul-betulkan perilakumu. Bahkan sebaliknya, jika engkau masih mau, maka aku masih akan menawarkan perlindunganku kepadamu dari teriknya matahari. Itulah semata-mata fungsi dan tugasku, yaitu menolong sesama.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:

Ha..ha..dari banyak kalimatmu yang tidak enak, maka kalimat terakhirmu itulah yang masih bagus. Jika memang engkau mempunyai tugas menolong sesama, maka sekarang akan engkau uji dirimu itu. Tolong pinjamkan pada diriku anak panah dan pedangmu itu kepadaku, karena aku memerlukannya untuk berperang.

Tempat berteduh:
Tengoklah pada lengan dan leherku. Jikalau engkau cermat maka apakah warna darahku itu. Warna darahku adalah putih, itu artinya aku memang ditakhdirkan untuk selalu ikhlas membantu orang lain. Maka apapun permintaanmu kepadaku, begitu memang telah engkau lantunkan, aku kabulkan. Maka ambillah anak panah dan pedangku itu.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Terimakasih. Ha..ha.. dasar bodoh. Ketahuilah wahai tempat berlindung, karena dungumu, maka engkau tidak mengetahui bahayamu. Ketahuilah, orang pertama yang akan kubunuh dengan pedangmu ini tidak lain tidak bukan adalah dirimu itu.
Maka terimalah tebasan padangku ini. (Dalam cerita, matilah tempat berteduh tersebut).

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wahai semuanya, dimanakah engkau semua. Inilah diriku. Jika tiadalah yang menemuiku maka aku akan protes dan menggugat siapakah penyebab adaku ini.
Mengapa aku harus diciptakan di dunia ini? Kalaupun pertanyaanku tiadalah yang menjawab, maka akan aku bunuh pula sang penciptaku.

Hamba penjaga ruang dan waktu datang:
Astaghfirullah aladzhim, ya Allah ampunilah segala dosa dan kekhilafanku. Ampunilah dosa-dosa leluhurku. Ampunilah dosa-dosa para pemimpinku. Ampunilah dosa-dosa orang-orang yang telah berbuat aniaya dan berbuat kerusakan di atas bumi ini. Ya Allah ya Robbi, turunkan dan berikan rakhmat danhidayah Mu kepada orang-orang yang sabar dan tawakal. Tiadalah daya dan upayaku kecuali atas ridhlo dan kehendakmu ya Allah.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu berjumpa hamba penjaga ruang dan waktu

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wahai orang asing yang berperilaku aneh. Aku perhatikan engkau komat-kamit sendiri. Sedang bicara apakah engkau. Orang seburuk engkau kenapa engkau duduk di situ. Bukankah tempatmu itu hanya pantas bagi tempat duduk orang-orang seperti ku. Kenapa juga engkau mempunyai banyak harta dan peralatan di situ? Bukankah harta dan peralatan itu hanyalah orang-orang sepertiku yang pantas memilikinya. Aneh juga, mengapa engkau mempunyai banyak rencana-rencana? Bukankah rencana-rencana itu sesungguhnya akulah yang paling pantas memilikinya? Aneh pula mengapa engkau punya banyak program-program, bukankah program-program itu, akulah yang paling pantas mengembangkannya. Aneh pula mengapa engkau punya banyak teman-teman, bukankah teman-temanmu itu sesungguhnya paling pantas adalah temanku. Coba lihat rencanamu, oh kaya beginikah rencanamu itu? Mengapa rencanamu tidak sesuai dengan pikiranku. Kenapa engkau sempat pula berpikir, bukankah hanya dirikulah orang yang paling berhak berpikir? Kenapa engkau sempat menulis, bukankah itu sebenar-benar adalah hak istimewaku? Kenapa engkau sempat bicara lantang, bukankah itu juga hak istimewaku? Maka tidak terimalah diriku ini atas keadaan ini. Tetapi kenapakah engkau tidak duduk di antara ruang-ruang, karena ketika engkau duduk disitulah aku akan mudah memangsamu. Dan kenapa pula engkau tidak duduk di antara waktu-waktu, karena ketika engkau duduk di situlah aku akan lebih mudah memangsamu. Aku tidak peduli engkau kena kutukan atau bukan. Tetapi aku juga tidak peduli titah nenek moyangmu bahwa janganlah berkeliaran di waktu maghrib. Aku tidak pedula nenek moyangmu mengutukku sebagai candik ala.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Alhamdullilah, bahwa Tuhan telah memberi aku kesempatan bersilaturakhim kepadamu. Semoga keselamatan ada pada diri anda dan tentunya diriku juga. Amien.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Hah, jangan sok pura-pura alim. Pakai doa-doa segala. Ini, ni ini, engkau tidak becus. Kamu punya banyak hal tetapi semuanya tidak ada yang tepat. Ketahuilah bahwa tepat tidaknya sesuatu milikmu itu jika sesuai dengan pikiranku. Maka tiadalah sebenar-benar kebenaran, jika dia berada di luar diriku. Maka semestinyalah bahwa engkau seharusnya selalu minta ijin kepadaku sebelum engkau melakukan berbagai hal. Tetapi yang sebenar-benar terjadi adalah aku tidak akan pernah ridhlo kepadamu walaupun engkau sudah minta restu kepadaku sekalipun. Satu-satunya ikhlasku adalah jikalau engkau enyah dari depanku. Maka terimalah pukulan dan tebasan padangku ini.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu tersungkur terkena pedangnya sendiri

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wadala .. oh kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa musti aku bisa dikalahkan oleh seseorang buruk rupa. Wahai orang buruk rupa, apa pula yang engkau lakukan kepadaku sehingga aku tersungkur, terkena pedangku sendiri.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah aku tidak berbuat apa-apa terhadapmu. Tetapi ulah perbuatan dirimu sendirilah yang telah menyebabkan engkau jatuh tersungkur.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Tidak mungkin. Aku tahu persis bahwa engkaulah yang memukulku.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Terserah dirimulah. Tetapi perlu engkau ketahui bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah kamu telah diperingatkan oleh Tuhan atas perilakumu yang merusak di atas bumi ini.

Makhluk pemangsa ruang dan waktu:
Wah semakin sombong saja engkau ini. Coba kalau aku mampu berdiri, pasti engkau sudah ku bunuh.

Hamba penjaga ruang dan waktu:

Ketahuilah, inilah sebenar-benar yang akan terjadi. Umurmu tidak akan lama lagi. Adalah kodrat Nya bahwa engkau segera akan mati dan akan menghuni neraka jahanam. Inilah sebenar-benar peringatan agar manusia ingat dan paham akan ruang dan waktu. Sebenar-benar malapetaka di dunia adalah jika orang-orang sudah tidak sadar akan ruang dan waktu. Maka sebenar-benar dirimu adalah godfathernya orang-orang yang tidak kenal dan tidak mau tahu ruang dan waktu. Bukankah mengurusi hal yang bukan haknya itu pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah pekerjaan yang melampaui batas itu pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah menggunakan peralatan tidak sesuai dengan peruntukannya, itu pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah memaksakan kehendak itu pertanda bahwa engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah menginginkan sesuatu diluar kemampuan dan wewenang itu juga pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah usul yang tidak proporsional itu juga pertanda bahwa engkau tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah terlambat kerja itu pertanda bahwa engkau tidak paham ruang dan waktu? Bukankah terlambat shalat itu pertanda engkau tidak paham ruang dan waktu? Bukankah promosi diri berlebihan itu juga pertanda engkau tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah berpakaian yang tidak pantas itu juga pertanda tidak kenal ruang dan waktu? Bukankah berbicara yang tidak sopan itu juga tidak kenak ruang dan waktu? Dan inapropriate behaviour itu juga tidak kenal ruang dan waktu. Bukankah menyalahi prosedur itu juga tidak kenal ruang waktu. Bukankah orang jawa mengatakan bahwa orang-orang demikian sering disebut pula “nggege mangsa”. Jikalaulah tidak demikian maka ada orang menyebutnya sebagai meritokrasi, yaitu ikhtiar, yaitu kerja keras, yaitu perjuangan, yaitu mengisi kemerdekaan. Bukankah Wal a’sri artinya adalah demi masa.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Bukankah sadar ruang dan waktu itu sebenar-benarnya adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Itulah sebenar-benar hermeneutika. Maka agar engkau sadar ruang dan waktu, maka pandai-pandailah menterjemahkan dan ikhlaslah untuk diterjemahkan. Bukankah kita belajar sejak nenek moyang bahwa sebenar-benar rakhmat adalah bagi orang-orang yang sadar akan ruang dan waktu. Itulah sebenar-benar orang Jawa mengatakan sebagai “ruwatan” adalah cara agar orang menjadi sadar ruang dan waktu. Maka perlulah diruwat bagi orang-orang yang tidak sadar ruang dan waktu agar dunia menjadi tenteram dan damai. Maka yang sebenar-benar terjadi pada dirimu inilah sebuah ruwatan dimana engkau sebagai Bathara Kala, yaitu orang yang tidak paham ruang dan waktu, diruwat tertembus oleh senjata Cakra nya Bathara Khrisna, yaitu perlambang orang-orang yang sadar akan ruang dan waktu. Kematianmu adalah kematian Bathara Kala, yaitu kematiannya orang-orang yang tidak sadar ruang dan waktu. Kemenanganku adalah kemenangannya Batara Khrisna, yaitu kemenangan bagi orang-orang yang sadar akan ruang dan waktu. Maka ingat dan waspadalah wahai orang-orang untuk selalu ingat ruang dan waktu. Maka waktu atau mandala itu memang senjatanya sang raja dewa. Orang Jawa menggelar pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk dengan tema Ruwatan, yaitu matinya Sang Batara Kala, si pemangsa ruang dan waktu, agar masyarakat mampu belajar dan menghargai ruang dan waktu.

Datanglah seorang hamba menggapai ruang dan waktu

Hamba menggapai ruang dan waktu:
Terimakasih hamba penjaga ruang dan waktu. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku telah menyaksikan semuanya yang terjadi. Lebih dari itu, aku bahkan mendengar semua yang engkau katakan. Maka terimakasihlah aku kepadamu yang telah menolongmu dari kekejaman Makhluk pemangsa ruang dan waktu.

Hamba penjaga ruang dan waktu:
Bukankah engkau telah mati karena dibunuh Makhluk pemangsa ruang dan waktu?

Hamba menggapai ruang dan waktu:
Wahai hamba penjaga ruang dan waktu. Sesungguhnya atas jasa dan keikhlasan para saudara-saudara dan akar-rumput disekitarku itulah aku dapat bangkit kembali. Sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa tiadalah kata kematian itu ada pada diriki. Karena sebenar-benar diriku adalah tempat berteduh bagi mereka. Aku adalah kendarannya mereka. Aku adalah sistemnya mereka. Aku adalah fasilitas bagi mereka. Aku yang satu adalah mereka yang banyak. Aku yang banyak bisa juga dia yang satu. Aku boleh koperasi. Aku boleh organisasi. Aku boleh fakultas. Aku boleh jurusan. Aku boleh bis kota. Aku boleh pegadaian. Aku boleh komputer. Aku boleh sekolahan. Aku boleh laboratorium. Aku boleh sepatu. Aku boleh baju. Aku boleh kacamata. Dan aku boleh apa saja selama engkau dan mereka bermaksud menggunakanku. Sehingga aku pun bisa sebagai badanmu, jikalau engkau telah mengaku sebagai rohmu. Maka sebenar-benar diriku adalah hamba menggapai ruang dan waktu.

37 comments:

  1. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Dalam menjalani kehidupan yang berdimensi, manusia seharusnya dapat menyadari hingga memahami ruang dan waktu. Mampu menembus ruang dan waktu merupakan impian dari setiap orang karena pada titik itulah kebijaksanan tertinggi diraih. Namun, tentunya tidak mudah untuk menembus ruang dan waktu, maka bagi saya memahami dan bersikap ruang dan waktu sudah cukup sebagai awal pembelajaran menembus ruang dan waktu. Dengan memahami ruang dan waktu maka kita lebih mudah bersikap adil dan bijak sejak dalam pikiran.

    ReplyDelete
  2. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Menggapai ruang dan waktu adalah sesuai dengan ruang dan waktunya, tidalah orang yang sukses apabila tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Menggapai ruang dan waktu juga sebagai kehidupan, juga disebut belajar. Seumur hidup manusia selalu belajar, maka itulah sebenarnya berusaha menggapai ruang dan waktu. Ada yang berhenti belajar, maka berhetilah ruang dan waktunya, maka dia akan terjebak pada dimensi ruang dan waktu, hilang tertelah zaman. Sama seperti pemangsa ruang dan waktu yang musnah.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  3. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Menggapai ruang dan waktu berarti mampu utnuk meletakkan sesuatu sesuai dengan kondratnya. Maka janganlah menjadi orang yang melampaui ruang dan waktu. Janganlah menjadi manusia yang serakah yang menjamah ruang dan waktunya orang lain. Janganlah menjadi benalu dalam ruang dan waktunya orang lain. Dan jangan pula menjadi neraka bagi ruang dan waktunyanya orang lain. Maka berjalanlah sesuai dengan waktumu sendiri agar kehidupanmu mampu menggapai ruang dan waktu yang sebenar-benarnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  4. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017

    Kita memang tidak bisa lepas dari ruang dan waktu. Oleh karenanya benar yang dikatakan bahwa kesadaran mengenai ruang dan waktu adalah pucak dari pencapaian belajar filsafat. Dengan memiliki kesadaran terhadap ruang dan waktu, kita akan menjadi orang yang bijak, yang bisa menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan ruang dan waktunya. Kita tau kapan dan dimana harus berkata lembut, kapan dan dimana harus bersikap tegas, berlaku aktif, berlaku diam. Semua sikap, kata maupun perbuatan kita akan tepat bila kita memiliki kesadaran terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Adakalanya kita harus terlepas dari ruang dan waktu untuk bisa menembus ruang dan waktu yang memiliki dimensi lain untuk menggapai logos dan terhidnari dari paramitos. Denagn terikat ruang dan waktu maka kita bisa menempatkan diri kita dengan proporsi tertentu dan tidak merasa sombong dengan apa yang dimiliki. Karena benar diatas ilmu itu masih ada ilmu, maka rendah diri dalam mencari ilmu dan terus berusaha untuk mencapai apa yang diinginkan. Semoga kita berada pada ruang dan waktu yang sesuai dengan apa yang kita inginkan dan terbaik bagi kita.

    ReplyDelete
  6. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Ruang dan waktu adalah duahal hal disatukan dan tidak bisa terpisahkan tiada ruang tanpa waktu, tiada waktu tanpa ruang. Ruang dan waktu merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan dalam bertindak. Kesesuaian tindakan dan pikiran manusia dengan adalah upaya untuk menjaga dan menggapai keseimbangan hidup, maka tindakan yang tidak sesuai dan waktunya dapat menjadi hantu. Tantangan manusia untuk menggapai ruang dan waktu memang selaku ada saja, segala penyakit hati dapat memalingkan dari manusia adakn kesadaran ruang dan waktu, dan melanggar-melanggar batasan ruang dan waktu seperti sombong merupakan salah satu pemberontakan terhadap ruang dan waktu. Marilah selalu bersyukur, ikhtiar , sadar , berdoa seraya meminta kepada tuhan agar kita selalu diberi kesadaran terhadap ruang dan waktu. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  7. Sebagai seorang manusia yang terlahir ke bumi tanpa mengetahui apapun. Manusia mulai belajar mengenai ruang dan waktu nya sedari manusia tersebut kecil. Setelah memahami makna dari ruang dan waktunya maka manusia bisa melangkah kea rah tujuan kehidupan yang sesungguhnya dari seorang manusia. Terimakasih bapak atas inspirasi dari tulisannya yang membantu kami membangun hati.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  8. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Seseorang akan menjadi pemangsa ruang dan waktu adalah seseorang yang tidak dapat menggunakan sesuatu sesuai dengan waktu dan tempat. Seseorang yang menjadi pemangsa ruang dan waktu akan menjadi perusak di muka bumi. Misalkan, api akan bermanfaat jika digunakan untuk memasak. Tetapi ditangan pemangsa ruang dan waktu, api bisa saja digunakan untuk membakar hutan sehingga menyebabkan kerusakan. Karena itulah kita harus memiliki kesadaran akan ruang dan waktu. Kita harus memikirkan terlebih dahulu apakah sesuatu ini bermanfaat silakukan di ruang dan waktu ini.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Junianto
    PM C

    Saya mencoba mengomentari pendapat seorang hamba menggapai ruang dan waktu yang berkata bahwa semua yang ia raih adalah karena keikhlasan. Hal ini menurut saya merupakan analogi untuk kehidupan kita yang sebenarnya. Apa yang kita dapatkan saat ini bisa jadi adalah karena keikhlasan orang-orang baik baik yang rela mendoakan dan membantu kita. Maka dari itu, tidak ada yang patut disombongkan terhadap apa yang kita raih saat ini.

    ReplyDelete
  11. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Ruang dan waktu merupakan dua hal yang sangat penting dalam filsafat. Seseorang dapat dikatakan berfilsafat apabila dapat menerapkan filsafat itu sendiri sesuai pada ruang dan waktu yang tepat, bukan karena kehendak diri sendiri. Dengan begitu maka akan timbul sifat toleransi, serta mereduksi sifat egois. Elegi seorang hamba menggapai ruang dan waktu ini salah satu nasehat yang selalu disampaikan oleh prof Marsigit selama pembelajaran di kelas. Karena dengan berpegangan teguh dengan ruang dan waktu yang tepat, kita akan dapat menempatkan diri dimanapun kita berada. Misalnya kita berpergian ke luar daerah, jika kita berpegangan dengan ruang dan waktu yang tepat maka kita akan sadar dengan pepatah dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Dalam artian, kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kita, namun dengan catatan dalam hal yang positif.

    ReplyDelete
  12. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Merasa diri memiliki dan memegang kendali atas segalanya adalah perangkap mitos. Perasaan yang demikian akan menuntun kita keluar dari jalan yg benar dan tersungkur seperti cerita elegi di atas. Tidaklah benar bahwa kita berpikir kita akan terus menerus sukses, terus menerus berada di atas yang lain. Tidaklah benar bahwa kita yakin bahwa kita akan sama sehatnya, kayanya, pintarnya, suksesnya, rukunnya, bahagianya, seperti saat sekarang ini. Bahkan untuk mendefinisikan diri kita sendiri kita tidak bisa karena kita selalu berubah dalam ruang dan waktu. Maka sebaik-baiknya orang yang berpikir adalah orang yang juga bertawakkal karena ia menyadari apa yang diberikan padanya adalah sebuah titipan yang suatu waktu dapat diambil kembali oleh Allah dalam sekejap mata. Kita tidak akan pernah bisa menerka dan memastikan sesuatu menembus ruang dan waktu. Berjalan dan berpikirlah dengan rendah hati sehingga kita tidak akan tersungkur akibat pedang kita sendiri. Kekalahan yang paling telak adalah saat kita tidak dapat mengendalikan diri kita sendiri dan tersesat bersama mitos.

    ReplyDelete
  13. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seorang jika sudah menggapai ruang dan waktu mereka, maka mereka tidak akan mungkin hanya menggunakan logika mereka yang terbebas dari ruang dan waktu, namun mereka condong pada hati yang mengatur mereka hidup berdasarkan fakta pada bayangan dari logika yaitu kenyataan yang ada. Mereka akan menggapai kehidupan yang hakiki karena hati mereka lebih ditonjolkan dibandingkan dnegan logika mereka
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  14. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu. Dalam elegi tersebut dikisahkan tentang seseorang yang disebut sebagai makhluk pemangsa ruang dan waktu dan makhluk menggapai ruang dan waktu. Manusia hidup di dunia terbatas ruang dan waktu, hendaknya kita dapat berlaku sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Manusia tidak bisa menaklukan ruang dan waktu seperti apa yang ada dalam pikiran karena hidup ini nyata. Makhluk pemangsa ruang dan waktu dapat dianalogikan seorang manusia yang sombong terhadap ruang dan waktu, dia yakin dapat melakukan apapun, bertindak bagaimanapun sesukan hatinya tanpa terbatas ruang dan waktu. Bukankah kita sebagai manusia hanya akan hidup pada satu waktu dan satu tempat saja?
    Diceritakan pula bahwa manusia yang berlaku demikian nantinya akan mendapatkan kesulitan yang setimpal karena ulahnya. Tidak semestinya kita berlaku sombong dan meremehkan keadaan ruang dan waktu karena hanya ALLAH-lah yang Maha Segalanya, Mengatur Segalanya.
    Mempelajari filsafat berarti mempelajari cara untuk menjadi sopan dan santun terhadap ruang dan waktu, berlaku bijak terhadapanya dengan melakukan sesuatu sesuai porsi dan hanya kepada Allah kita memohon perlindungan.

    ReplyDelete
  15. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Dengan membaca tulisan Elegi Seorang Hamba Menggapai Ruang dan Waktu, kita menjadi tau bahwa dunia ini sangat luas. Seseorang dapat mengetahui luasnya dunia jika ia mampu melihat dari berbagai konteks, menembus ruang dan waktu. Dengan begitu, manusia dapat lebih bersyukur dan memanfaatkan serta bermanfaat yang ada di sekitarmnya

    ReplyDelete
  16. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas kita belajar terkait ruang dan waktu. Secerdas-cerdas orang adalah orang yang mampu menembus ruang dan waktu. Menembus ruang dan waktu bisa berarti sadar dan menaruh sesuai porsinya. Dalam menembus ruang dan waktu ini dibutuhkan keikhlasan. Keikhalasan menembus ruang dan waktu adalah keikhlasan itu sendiri. Keikhalasan ini pula adalah bekal untuk menjalani hidup, karena itu sunnatullahnya aturan dari Sang Pencipta. Dari bagian pertanyaan para dewa dan powernow dapat diketahui bahwa dunia itu ada kalanya diatas dan adakalanya dibawah, dan itu saling berhubungan seperti rantai. Seperti yang telah dicontohkan ayam itu dewanya cacing, cacing itu dewanya tanah. Cacing disini bisa menjadi subjek dan juga objek sekaligus. Dan pada pertannyaan perbedaan agama menurut filsafat yang tetap dikedepankan adalah toleransi seperti yang telah dicontohkan.

    ReplyDelete
  17. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Pemangsa ruang dan waktu tidak tahu balas budi, merampas hak-hak orang lain, tidak dapat membedakan batas-batas wilayah dan berlaku begitu sombongnya. Sehingga jangan sampai menjadi pemangsa ruang dan waktu,karena hal itu sebagai manusia selalu berusaha tidak menjadi pemangsa ruang dan waktu dengan selalu berpikir positif dan selalu rendah hati.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  18. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Ada sesuatu yang lucu dari makhluk pemangsa ruang dan waktu. Ada script disaat dia tersungkur dan mengucapkan "Wadala .. oh kenapa Tuhan tidak adil?", Padahal sebelumnya dia berkata akan membunuh Tuhan. Tapi disisi lain dia juga menyadari bahwa Tuhan lah yang menggenggam takdirnya. Ya intinya kesombongan yang bernaung dalam diri harus kita bunuuh sendiri sebelum dia yang akan membunuh kita.

    ReplyDelete
  19. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Menembus ruang dan waktu haruslah sesuai dengan hukum/aturan/sunatullah. Jika kita memaksakan untuk menembus ruang dan waktu itu berarti kita tidak ikhlas dalam menembus ruang dan waktu. Kita dapat menembus ruang dan waktu apabila kita melakukannya penuh dengan ikhlas dan menjauhi sombong. Orang yang menembus ruang dan waktu dengan kesombongan adalah orang yang tidak tahu balas budi, orang yang dengan sengajanya merampashak orang lain, orang yang seperti inilah yang merupakan pemangsa ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  20. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Ruang dan waktu di dunia ini akan terus berjalan dan berputar. Seseoranga yang mengingin sehat jiwa dan raganya maka akan berusaha untuk senantiasa menjaganya, Manusia yang senantiasa tabah, ikhlas dalam menghadapi masalah dan cobaan hidup serta menjalani peristiwa demi peristiwa kehidupan sesuai ruang dan waktu. Itulah salah satu kiat khusus manusia dalam menjalani lorong ruang dan waktu yang bwlum tahu ujungnya.

    ReplyDelete
  21. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C


    Melalui elegi ini, kita belajar bahwa dalam melakukan segala sesuatu hendaknya dikondisikan dengan ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah dua hal yang selalu ada yang belum dapat terpikirkan ketidakadaannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus dapat menyesuaikan diri terhadap ruang dan waktu, artinya kapanpun dan dimanapun kita berada harus dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Kita harus bisa memposisikan diri kita dengan orang lain, baik ketika berbicara, bertindak ataupun dalam hal lain. Janganlah kita menganggap remeh dengan orang lain. Kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Gunakan waktu yang ada sebaik mungkin, dengan melakukan hal-hal yang baik, yang bermanfaat bagi diri kita dan orang lain.

    ReplyDelete
  22. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Sekali lagi kita diingatkan agar jangan sombong akan apa yang dimiliki, karena pada akhirnya manusia akan kembali pada kematian. Segala yang dilakukan harus sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebagai manusia harus pandai-pandai menempatan diri, jangan memaksakan ruang dan waktu untuk menyesuaikan dengan diri. Hargai ruang dan waktu dan manfaatkan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  23. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menjelaskan tentang bagaimana kita menghargai ruang dan waktu. Kita hidup di dunia dibatasi oleh ruang dan waktu, hendaknya kita berlaku sopan . manusia memang tidak bisa menaklukkan ruang dan waktu pada kenyataan, menaklukan dan menembus ruang dan waktu hanya bisa kita lakukan dalam pikiran kita. Pemangsa ruang dan waktu dianalogikan sebagai manusia yang sombong, maka hendaknya kita menghargai ruang dan waktu sehingga ruang dan waktupun akan menghargai kita.

    ReplyDelete

  24. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya semakin memahami bagaimana kita harus menghormati ruang dan waktu. Seseorang yang telah mampu menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu berarti dia telah memahami bagaimana bersikap santun kepada sesama makhluk hidup, tidak hanya kepada manusia tetapi juga seluruh makhluk ciptaan Allah. Namun, memang untuk terampil menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu, memerlukan banyak pengalaman dan pengarahan dari orang yang berpengalaman. Tidak mudah untuk terampil menyesuaikan diri denga ruang dan waktu, tetapi jika kita mau berusaha tentunya kita akan mampu untuk mencapainya. Seseorang yang tidak mau menyesuaikan dengan ruang dan waktu, maka dia masih memiliki sifat egois yang tinggi. Selain itu dia juga dapat kita sebut sebagai orang yang sombong karena dia memaksakan kehendak bahwa apapun yang terjadi harus sesuai dengna keinginannya. Tetapi sesungguhnya hal itu akan merugikan dirinya sendiri seperti yang digambarkan pada elegi ini.

    ReplyDelete
  25. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Seseorang yang melakukan segala aktifitasnya tidak sesuai dengan ruang dan waktu sesungguhnya ialah orang yang mengikuti hawa bafsunya atau bisiskna syaitan. Contohnya guru yang bertindak otoriter terhadap kelasnya mementingkan pencitraan guru lain bahwa muridnya pintar. Ia melakukan segala cara agar siswanya mampu mendapat nilai yang bagus sekalipun siswanya harus penat dan jenuh karena dituntut untuk menghafal. Contoh lain yang tidak sesuai ruang dan waktu ialah seorang pejabat atau penguasa yang menggunakan kekuasaannya untuk memperoleh keuntungan dengan cara mengambil hak orang lain demi memperkaya dirinya sendiri. Dari contoh tersebut, marilah kita selalu menggunakan hati kita, tidak hanya pikiran kita, dalam melakukan tindakan. Artinya, segala yang kita lakukan haruslah sesuai dengan ruang dan waktu. Semoga kita selalu menjadi manusia yang mampu menghindari hawa nafsu dan bisiskan syaitan.

    ReplyDelete
  26. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tujuan kehidupan manusia di samping untuk beribadah kepada-Nya adalah untuk mencapai harmonisasi kehidupan. Harmonisasi kehidupan dapat digapai apabila kehidupan dijalani dengan ikhlas hati dan jernih pikiran. Dengan berbekal keduanya manusia dapat menjunjung langitnya masing-masing, artinya manusia dapat menyadari akan kodratnya sebagai makhluk yang tidak pernah sempurna namun tak pernah luput dari khilaf dan salah. Dengan kesadaran tersebut manusia dengan pikiran yang kritis akan terus bergerak mencari kebenaran ilmu pengetahuan. Dan itulah sebenar-benar mereka yang menggapai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  27. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  28. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Namun manusia sempurna dalam keterbatasan dan terbatas dalam kesempurnaan. Maka memaksakan sesuatu di luar keterbatasan sama artinya dengan meletakkan isi pada wadah yang salah. Dan itulah sebenar-benar manusia yang merugi. Maka tiadalah yang harus dilakukan agar tidak menjadi bagian orang yang merugi selain berusaha menggapai ruang dan waktu. Dan tiada pulalah jalan menggapai ruang dan waktu selain berhemenetika dengan ikhlas hati dan jernih pikir.

    ReplyDelete
  29. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Proses mencapai kesadaran ruang dan waktu juga merupakan hermenitika. Di dalam nya diperlukan proses diterjemahkan dan menerjemahkan. Dalam berfilsafat, proses terjemah dan menerjemahka ini sangat diperlukan, dan hal ini bisa dilakukan dengan terus membaca. Maka dari itu, sering didengar bahwa filsafat adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  30. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Belajar filsafat dengan Prof membuka pemikiran saya bahwa segala yang ada dan mungkin ada di dunia ini tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Untuk mencapai pemahaman yang demikian tidaklah mudah. Kesabaran dan keikhlasan untuk senantiasa membaca artikel dalam blog akan mengantarkan kita menuju pemahaman yang demikian. Proses ini dinamakan komunikasi atau hermeunitika. Jadi tiadalah seseorang mampu menggapai kesadaran akan ruang dan waktu tanpa bersilaturahim dengan membaca artikel-artikel yang ada di blog powermathematics.blogspot.co.id.

    ReplyDelete
  31. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Kehidupan di dunia ini memiliki ruang dan waktunya. Segala objek yang ada dan mungkin ada mempunyai ruang dan waktunya masing-masing. dan tugas manusia adalah menggapai mereka karena jika tidak maka ia akan terkena dengan mitos. Ruang dan waktu dapat berbentuk apa saja tergantung dari objek pembicaran yang menggunakannya.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  32. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Filsafat mempunyai objek ada dan yang mungkin ada dan terikat oleh ruang dan waktu. Dengan logo kita berusaha untuk berinteraksi denan ruang dan waktu. Ruang dan waktu merupakan dua hal yang sangat berkaitan, mereka salah menerjemahkan satu dan lainnya. Maka dari itu kita perlu untuk berusha memahaminya sehingga terjadi keharmonisan hidup.

    ReplyDelete
  33. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Sebenarnya sejak manusia berada dalam kandungan, manusia secara tidak sadar telah berada dalam ruang dan waktu. Namun karena belum menydari dan belum mampu memberikan respon kesadaran terhadap ruang dan waktu, manusia sesungguhnya belum menggapainya. Manusia dapat dikatakan telah berada dalam proses menggapai ruang dan waktu ketika mereka dengan penuh kesadaran menyadari keberadannya di dunia yang fana ini dan memberikan respon dalam upaya untuk mempertahankan kehidupannya. Wallahu a’lam bishawab.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Manusia hidup dalam dinemsi ruang dan waktu. Maka dalam konteks ini, sebaik-baik manusia adalah yang mampu sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Ia memiliki kesadaran akan dimensi ruang dan waktunya. Ia paham bahwa setiap ruang dan waktu memiliki karakternya sendiri, sehingga ia tidak pukul rata. Ia mampu menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan elegan di setiap ruang dan waktu yang ia tempati. Untuk dapat melakukan hal seperti ini dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas serta pengalaman.

    ReplyDelete
  35. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Dari elegi ini hikmah yang dapat diambil adalah bahwa sebagai manusia yang selalu bergerak dan berinteraksi dengan segala hal yang ada di luar diri kita, maka kita harus melakukan hal-hal yang sesuai dengan ruang dan waktunya. Contoh : seorang guru mengajarkan matematika kepada siswa dengan tidak memaksakan kehendakny/caranya sendiri tetapi memperhatikan kebutuhan siswa, itu berarti guru tersebut telah tepat secara ruang dan waktu dalam mengajar siswanya. Ataupun contoh lainnya ketika kita berada disuatu daerah maka kita harus mengikuti/menghormati ada istiadat daerah tersebut. Dimanapun kita berada harus sesuai dengan ruang dan waktunya agar tidak sesat dan merugikan orang lain.

    ReplyDelete
  36. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi ini mengajarkan kita untuk sopan dan menghargai ruang dan waktu. Saya teringat contoh kasus yang belakangan ini marak dibicarakan orang. Tentang salah seorang menteri yang baru terpilih di kabinet presiden Jokowi. Mungkin sudah umum terdengar kabar beritanya bahwa sang mentri wanita ini sebut saja Ibu Susi yang merokok saat akan diwawancarai media sesaat setelah selesai acara pengumuman mentri yang terpilih di Istana Negara. Pro dan kontra menghujani sang Ibu Menteri. Sebagian mengatakan bahwa Ibu Mentri tidak memberi contoh yang baik, merusak citra perempuan karena dipandang tidak etis seorang perempuan merokok, meragukan kinerja beliau karena budi pekertinya buruk, bahkan beberapa pihak menghubungkan masalah ini dengan lulusan Ibu Mentri yang hanya Sekolah Menengah saja. Namun di sisi lain, banyak pihak yang memberi pembelaan bahwa kinerja Ibu Menteri sebelum menjabat di pemerintahan patut diapresiasi juga. Saya berusaha bersikap netral dan memandang bahwa memang merokok adalah hak dan pilihan seseorang, tidak terkecuali untuk perempuan atau bahkan sekelas Ibu Menteri. Tidak etis kiranya jika mengaitkan perilaku seseorang dengan kualifikasi pendidikannya, karena seorang lulusan sarjana pun kadang sering bertingkahlaku buruk. Hanya saja, menurut pandangan saya, Ibu Mentri salah meletakkan kebiasaannya ini. Saya rasa beliau memang lupa akan ruang dan waktu dimana ia merokok. Terkait masalah kinerja, bukankah lebih bijaksana jika kita lihat saja dulu kinerjanya kedepan bagaimana baru dapat menilai baik-buruknya.

    ReplyDelete
  37. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Makna dari elegy ini yaitu kita harus mampu menempatkan segala sesuatu sesuai dengan konteks, ranah, serta porsinya masing-masing. Kita sebagai mahluk yang bersifat dinamis maka akan selalu berusaha mencari wadah agar dapat selalu meningkatkan potensi-potensi indrawi kita dalam mencapai kesuksesan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Maka dari itu agar dapat mengapai ruang dan waktu kehidupan kita memerlukan landasan yaitu Al-qur’an dan Hadits agar kita tidak hanya memperoleh pengetahuan dunia tetapi juga bekal bagi kita untuk menenpuh kehidupan di alam akhirat kelak.

    ReplyDelete