Mar 20, 2013

Mathematics and Language 11





For those who may be puzzled by some of this discussion, let me say this:

In the academic world, there is a fair amount of nonsense published. You can do it yourself, in fact. Just go here: http://www.elsewhere.org/pomo/ -- a little light editing to insert the buzz-words of your field, plus perhaps a bit of Politically-Correct pieties, and you've got a publishable article!

But no one is actually supposed to take it seriously! The mathematics and science which the naked ape has painfully worked out over the last few hundred years really are the best approach to reality we have so far. And everyone knows it.

No one would want to fly in an airplane designed by people who think that truth is just something socially constructed, probably a reflection of the interests of the dominant hetero-normative white male power structures, blah blah blah. And you can be sure that when the post-modernist nonsense spouters collect their nice paychecks each month, they want them to be calculated according to THE laws of arithmetic, full stop.

But if, in this so often shocking and disappointing world, you need a little light entertainment, do go and read Fashionable Nonsense: Postmodern Intellectuals' Abuse of Science
[http://www.amazon.com/Fashionable-Nonsense-Postmodern-Intellectuals-Science/dp/0312204078/ref=sr_1_1?ie=UTF8&qid=1363703221&sr=8-1&keywords=sokal
]

or
The Sokal Hoax: The Sham that Shook the Academy [http://www.amazon.com/Sokal-Hoax-Sham-Shook-Academy/dp/0803279957/ref=sr_1_1?s=books&ie=UTF8&qid=1363703332&sr=1-1&keywords=sokal+hoax ]

It's how a wing of the modern intelligentsia amuse themselves on the taxpayers' dollar. As the late Alan Sokal put it, it's the reaction of a Disappointed Academic Left, who saw all their cherished utopias turn out to be horrible dystopias.

It's mainly confined to those areas of academia, like literary criticism and some corners of so-called "social science", where there really is no objectively-establishable truth, and whoever is the most clever (or obscure) debater is the winner. (For additional amusement, see here: http://denisdutton.com/bad_writing.htm )

I suppose it's better than working for the victory of those dystopias. But actually, I preferred the Old Left which wanted to appropriate not only the productive assets of the bourgeoisie, but also the educational system the bourgeoisie had developed for its own children (which very definitely taught that 1 + 1 = 2, that there was an objective reality, since they owned it) , and which the Old Left wanted to make available to all.

Not a bad aspiration, actually. (I guess there's a connection with Mathematics and Language here, mainly by way of negative examples.) 



@ Doug and others:
I try to response your notions, first before I read the webs you indicated; second, I will then try to learn them.

In my perception, based on my experiences, this is the forum of random people to express the ideas in which, to some extent, they have no strong ground. I found that some of them deliver ideas hypothetically and possibly not meet with a certain academic criteria. One’s utterances can be perceived as rubbish by the others. However, the strength of this forum is the freedom to express. We just take the benefit from this freedom; and learn each other while simultaneously reflect the selves in order to respect others. I admit that it is not easy for adults or powerful peoples to do so.

I feel strange if I then find the people from the sponsorship of freedom to be inconvenient with the situation. If it goes up into the level of impatient and furious realm then there should be a serious problem. The problems should come from the maker. It is very clear that the problem maker should not be the younger or powerless, but the adults or powerful people; because, they who have authority to do so.

It is the business of adults or powerful people to fly the airplane, to go to Mars, to produce sophisticated weapon, to name the stars, or even to buy the Planet. What are their motives trying to involve the kids in their business by teaching them very formal mathematics? The very clear motif is economy and business.

So I think, for many centuries, adults and powerful peoples have been employed their younger generations to achieve their ambitions and self-ego. They never and even not willing to hear the cry of young generation about their difficulties in learning formal mathematics.

You forgot (or may do not understand) the origin and the nature of all kinds of the (mathematics) laws. I suspect that you are not able to answer this question, because you probably only use or dig it up imperfectly. Purposefully I am still keeping this answer; to be hope next may be it can be a puzzle for you. I am not doing entertaining by this notions but trying to exchange that we possibly find something useful for our each younger generations.

Sorry, for 1+ 1 = 2 I found not only objective reality but also subjective reality, contextual reality, intuition reality, psychological reality, anthropological reality, or even spiritual reality. One example, for space intuitively reality 1+1= 2 is not usually true e.g. 1 book + 1 pencil is not equal to 2 books or two pencils. This is still relevant with the relationship between mathematics and language.

36 comments:

  1. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Emprisme diperlukan dalam kebenaran matematika. Namun ketika pengalaman berlawanan berlawanan dengan kebenaran matematika dasar, kita punt tidak akan dapat menyangkalnya (Davis dan Hersh, 1980). Kita justru akan berasumsi bahwa mungkin ada kesalahan dalam penalaran kita karena ada kesepakatan bersama tentang matematika sehingga kita tidak dapat menolak kebenaran matematika . Oleh karena itu, “1 + 1 = 3” sangat jelas salah, bukan karena jika seekor kelinci ditambahkan ke kelinci lainnya tidak dapat berjumlah tiga kelinci tetapi dengan definisi “1 + 1” artinya “pengganti dari 1” dan “2” adalah pengganti dari “1”. Misalkan pada suatu hari saya menyimpan 1 ekor kelici di dalam sebuah kandang, hari berikutnya saya menyimpan 2 ekor kelinci di dalam sebuah kandang, hari ketiga saya menyimpan 1 ekor kelinci di dalam sebuah kandang, setelah dihitung ternyata jumlahnya cuman 2, itu bukan kesalahan perhitungan namun mungkin saja kelinci itu dicuri.

    ReplyDelete
  2. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Manusia diciptakan dengan dibekali kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Persepsi antar manusia satu dengan manusia yang lainnya pun akan berbeda semua manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya saling melengkapi dan saling berbagi. kontradiksi dan perbedaan pandangan atau persepsi dari suatu masalah wajar jika terjadi. Mengenai 2 + 4 = 6 akan bernilai benar jika ruang lingkup pembahasannya berada pada dimensi yang dibatasi. Untuk itu sangat diperlukan komunikasi yang baik untuk menjelaskan pendapat kita apabila pendapat kita berbeda dengan orang lain agar tidak terjadi salah paham diantara yang berpendapat.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam kajian pembelajaran matematika, matematika untuk anak-anak berbeda dengan matematika orang dewasa. Matematika anak sifatnya konkret, berhubungan dengan dengan dunia nyata atau yang ada di sekitarnya, maka oleh sebab itu tugas guru sebenarnya yang paling susah dalam membelajarkan matematika adalah membawa konsep matematika ke dalam hal-hal konkret. Matematika orang dewasa bersifat lebih kompleks. Oleh karena itu, guru harus fleksibel dalam memberikan pelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi peserta didik.

    ReplyDelete
  4. Suatu diskusi akan menemukan banyak sekali hal yang menarik. Diskusi akan menemukan titik temu jika masing-masing mempunyai pemahaman yang menjadi satu. Kadang diskusi tidak menemukan apapun dan menjadi hal yang sia-sia karena masing-masing berpegang pada pendapatnya. Baik ada titik temu atau tidak tetap ada manfaatnya. Diskusi mengungkapkan jadidiri sesorang melalui penjelasannya, berada dimana pengetahuan dan pengalamannya. Diskusi mengembangkan dan meningkatkan sudut pandang-sudut pandang yang tidak diduga tau terpikirkan. Diskusi akan mengasah diri pribadi dengan ungkapan atau mencari pendukung untuk ide kita dari orang lain.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Matematika itu kompleks dan dibutuhkan dalam kehidupan. Dengan segala bentuk kompleksitas terkadang banyak asumsi yang berbeda pandangan mengharuskan adanya titik temu demi menggapai suatu kebenaran serta kejelasan. Dalam hal ini dibutuhkan kesepakatan para ahli, karena tidak semua matematika itu dapat diungkap dan dibuktikan kebenarannya tergantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  6. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Seringkali kita menjumpai otoritas orang tua kepada anak-anak. Tidak hanya dalam keluarga, tetapi dalam pendidikan bahkan dalam pemerintahan. Jika di dalam keluarga, kita menjumpai adanya orang tua yang memaksakan keinginannya kepada anak-anak mereka. Mereka ingin anak yang begini dan begitu dan mereka kurang menghargai keinginan anak mereka. Selain itu, di sekolah, masih ada praktik mengajar seorang guru yang memaksakan kehendaknya kepada siswa. guru yang tidak menyesuaikan siswanya, tetapi justru dia yang memaksa siswa untuk menyesuaikan diri. Yang lebih parah mungkin pada tingkat pemerintahan. Khususnya dalam pendidikan yang secara langsung melibatkan anak-anak. Tak dipungkiri bahwa bergantinya sistem pendidikan atau kurikulum sejalan dengan bergantinya jajaran pemerintahan. Dengan ego mereka yang ingin membangun image membuat perubahan yang dianggap baik, tetapi semua itu sedikit banyak mempengaruhi anak, sebagai pelaku pendidikan. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak benar. Orang dewasa memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Seharusnya anak diberikan kebebasan untuk menentukan apa yang terbaik untuk mereka. Orang dewasa hanya memberikan arahan, tuntunan, dan perlindungan.

    ReplyDelete
  7. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam suatu konsep 1 jeruk + dengan 1 pisang tidaklah dapat dijumlahkan dan menghasilkan 2 jeruk atau 2 pisang. Hal ini dikarenakan melihat jeruk dan pisang bukan suatu yang sama. Nah konteks empiris disini digunakan di dalam matematika. Tidak semua dapat dijumlah seperti pada semestinya. Terdapat keterbatasan antara ruang dan waktu di dalamnya.

    ReplyDelete
  8. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Setiap manusia mmeiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing, serta mempunyai potensi yang berbeda-beda. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya saling melengkapi, saling berbagi, dan saling menghormati. Sebuah forum dapat memberikan seseorang untuk mengekspresikan ide-ide atau saling bertukar ide. Terkadang ide seseorang tidak dapat diterima oleh orang lain. Namun, kekuatan dari forum ini adalah kebebasan untuk mengekspresikan dan belajar satu sama lain sekaligus mencerminkan diri untuk saling menghormati pendapat orang lain. Misal anggapan 1+1 = 2 itu benar. Namun ada yang menyebutkan bahwa 1+1 belum tentu jawabannya adalah 2. Semua tergantung bagaimana konteks pertanyaannya.

    ReplyDelete
  9. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari sini seharusnya kita menyadari tentang adanya komuikasi dengan baik pada para anak didik dalam mengajarkan matematika, mengubah mindset mereka dari kebiasaan mengajarkan matematika formal pada anak-anak ke pengajaran yang lebih konkret. Bagaimanapun, dalam berpikir anak memerlukan proses dan tidak mungkin untuk langsung melesatkan mereka ke sebuah dunia formal yang mana mereka tidak memahami asal-usulnya. Oleh karena itu pentingnya peserta didik harus memahami konsep-konsep dasar dalam mempelajari matematika sehingga dapat mengaplikasikan konsep(asal-usul) ke dalam kehidupan mereka.

    ReplyDelete
  10. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menanamkan konsep matematika pada siswa memang tidaklah mudah. Dalam emnanamkan konsep perlu adanya komunkasi. Komunikasi memerlukan bahasa sebagai perantaranya. Agar konsep matematika dapat dipahami dengan baik maka sebaiknya menggunakan bahasa yang tepat, karena daya tangkap setiap siswa berbeda dan persepsi siswa tentang suatu hal pun juga berbeda. Pemahaman tentang penjumlahan, pengurangan atau pun operasi yang lain dalam matematika memerlukan penyampaian yang tepat dalam menjelaskannya agar siswa semakin memahami materi yang diberikan.

    ReplyDelete
  11. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Sesuai dengan pendapat Prof. di atas, untuk 1+ 1 = 2 tidak menemukan realitas objektif tapi juga realitas subyektif, realitas kontekstual, realitas intuisi, realitas psikologis, kenyataan antropologis, atau bahkan kenyataan spiritual. Salah satu contoh, untuk ruang realitas secara intuitif 1 + 1 = 2 biasanya tidak benar. 1 buku + 1 pensil tidak sama dengan 2 buku atau dua pensil.
    Pernyataan diatas, 1 + 1 = 2 adalah absolut pada dunianya para logicist-formalist-foundalist yaitu dunia yang terbebas ruang dan waktu. Tetapi sampai pada pernyataan 1 buku ditambah 1 pensil memang tidak bisa kita katakan sebagai 2 pensil atau 2 buku karena memang pensil dan buku itu hal yang berbeda. Sering terjadi kesalahan konsep bahwa perbedaan itulah yang disebut dengan variabel. Namun, jika konsep variabel yang benar misalnya adalah banyaknya pensil, lalu pensil itu sendiri dipandang sebagai apa dalam pengandaian di matematika, misalkan pensil = buku. Maka akan sah-sah saja jika 1 pensil + 1 Buku = 2 Buku ataupun 2 Pensil.

    ReplyDelete
  12. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Karena manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda maka, setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap manusia juga pasti memiliki perbedaan persepsi sebagai akibat dari perbedaan dimensi yang dimilikinya. Dari itulah, kontradiksi dan perbedaan pandangan atau persepsi dari suatu masalah wajar jika terjadi. Mengenai 1 + 1 = 2 akan bernilai benar jika ruang lingkup pembahasannya berada pada dimensi yang dibatasi. 1+1 belum tentu sama dengan 2, karena 1 pensil ditambah 1 buku tidak sama dengan 2 pensil/buku. Jadi dari perbedaan bahasa dan komunikasi itu juga dapat menimbulkan perbedaan persepsi. Guru harus dapat menjelaskan dengan komunikasi yang baik agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi dari siswanya.

    ReplyDelete
  13. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Matematika sangat erat kaitan nya dengan bahasa, pada dasarnya sebenarnya matematika itu sama halnya dengan bahasa dimana sama sama memiliki pola tertentu dalam menyampaikan maksud dan tujuan tertentu. Paradigma matematika adalah bahasa perlu kita tanamkan kepada siswa, ketika siswa beranggapan matematika adalah bahasa maka ia akan mengerjakan matematika itu tanpa paksaan layaknya mereka berbahasa. Bahasa yang baik tentu bahasa yang baku, begitu juga matematika, penjabaran matematika yang baik adalah matematika dengan jabaran sesuai dengan ketentuan. Belajar matematika diharapkan dapat dilakukan ketika kita belajar bahasa.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Kita juga sangat tahu bahwa matematika dan bahasa itu sangatberhubungans ekali, dimana dengan bahasa kita bisa menucapkan dan menjelaskan kepada siswa kita akan materi yang disampaikan. Memang benar matematika itu sulit dan apabila seorang guru tidak kompeten di bidangnya lalu di mengajar dan saat mengajar guru itu belum mempunya kompeten dalam segi bahasanya, sehingga membuat siswa yang mendengarkan menjadi tambah bingung. Misalkan 1+1= 2 maka kita tidak bisa mengatakan kepada anak sd tepatnya kelas 1 bahwa 1+1=2 itu begitu saja kan tetapi haus menggunakan bahasa matematika yang mudah dimengerti bagi mereka. Bisa menggunakan benda real atau sebagainya.

    ReplyDelete
  15. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Permasalahan yang dihadapi sekarang ini adalah otoritas yang dilakukan oleh para dewasa, yang menekankan matematika yang sangat formal kepada siswa. Simbolik, dan drill terhadap latihan konsep saja, tanpa penekanan atas makna yang terkandung dalam konsep tersebut. Bahasa formal inilah yang menjadi bencana dalam matematika, karena penanaman dan pemahaman konsep adalah yang terpenting. Seperti pemisalan yang dipaparkan dalam artikel ini bahwa 1+1=2 mengandung banyak arti, meliputi realitas subyektif, masalah kontekstual, intuisi, filosofi, psikologi, antropologi bahkan spiritual. Inilah salah satu kaitannya antara matematika dengan bahasa.

    ReplyDelete
  16. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menanamkan konsep matematika kepada siswa memang tidak mudah. Diperlukan komunikasi matematika yang sesuai dengan dunia mereka. Hal ini dikarenakan dunia anak-anak dan dunia orang dewasa adalah dua dunia yang berbeda. Untuk anak-anak, matematika perlu diawali dengan tahap konkret ke tahap abstrak. Karena jika disajikan secara tidak tepat, maka bisa saja akan memunculkan missunderstanding pada diri siswa. Sebagai contoh, 1 + 1 = 2 akan bernilai benar jika ruang lingkup pembahasannya berada pada dimensi yang dibatasi. Satu pensil + satu buku tidak sama dengan 2 pensil atau 2 buku. Jadi dari perbedaan bahasa dan komunikasi itu juga dapat menimbulkan perbedaan persepsi dan dapat memunculkan missunderstanding. Guru harus dapat menjelaskan dengan komunikasi yang baik agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi dari siswa.

    ReplyDelete
  17. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Sempurna, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita sampai karena tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Allah dan kehendakNya. Manusia diciptakan dengan berbagai jenis, karakteristik kekurangan dan kelebihan yang berbeda-beda. Dari hal tersebut juga menimbulkan perbedaan persepsi. misalnya saja anggapan 1+1 = 2 itu benar. Namun ada yang menyebutkan bahwa 1+1 belum tentu jawabannya adalah 2. semua itu tergantung konteks pertanyaaanya. begitu pula dengan kehidupan. Dalam kehidupan perbedaan pendapat itu akan selalu ada. Untuk menyatukannya adalah tergantung pendapat tersebut akan digunakan dalam konteks apa.

    ReplyDelete
  18. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Dalam mateatika ada tentang penjumlahan. 1+1 = 2. Kita dapat membahasakan operasi ini dengan menggunakan objek seperti 1 pensil + 1 pensil = 2 pensil. Ini benar, sehingga kita dapat menggunakannya dalam mengajarkan kepada siswa. Namun ketika diganti dengan 1 pensil + 1 penghapus maka keduanya tidak bisa dioperasikan. Inilah tentang matematika dan bahasa. Tidak semuanya dapat kita aplikasikan ke dalam matematika. Seperti contoh yang diberikan di atas.

    ReplyDelete
  19. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pada artikel ini bahwa adanya berbagai pendapat mengenai 1+1=2 yaitu benar dan 1+1 belum tentu jawabanya 2. Karena 1 bunga + 1 daun tidak sama dengan 2 bunga atau 2 daun. Disinilah sebenarnya terdapat konteks yang menjelaskan makna dari pertambahan tersebut. Sehingga tergantung konteksnya ketika menjawab.

    ReplyDelete
  20. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah paradigma pendidikan tradisional sudah mnempatkan siswa dibawah kendali guru, sehingga apa yang dilakukan guru adalah membawa siswa untuk menjadi apa yang ada dalam pikirannya. Ingin menjadikan ssiwa menjadi sosok yang cerdas sehingga memberikan materi secara beruntun dan banyak dalam hal kuantitas, namun kualitas sendiri masih perlu dipertanyakan. Siswa menjadi kurang paham pada satu materi namun tetap dilanjutkan ke materi berikutnya yang bisa dibilang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi sehingga hal ini menimbulkan ketidakmengertian bertingkat bagi siswa.

    ReplyDelete
  21. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika untuk orang dewasa dan anak-anak jelas berbeda. Orang dewasa sudah mampu berpikir matematika secara abstrak, sedangkan anak-anak tidak. Memang tidak mudah mengajarkan matematika ke anak-anak dimana anak-anak belum bisa menerima konsep matematika yang abstrak. Guru dalam membelajarkan matematika ke siswa harus bisa mengubah konsep yang abstrak menjadi konsep yang konkret agar siswa mudah untuk memahami konsep tersebut.

    ReplyDelete
  22. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Matematika bersifat kompleks. Matematika 1 + 1 = 2 itu bernilai tak tentu. Karena matematika kompleks inilah bisa berarti jika 1 + 1 =3 tergantung pada konteks yang ada. Pada school mathematics siswa yang masi disebut anak kecil belum sampai ke ranah ini, siswa masi diberikan matematika yang realistik dengan lingkungannya.

    ReplyDelete
  23. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Dalam penggunaannya, konsep-konsep dalam matematika memiliki hubungan antara suatu konsep dengan konsep yang lain. Sehingga, simbol-simbol turut berperan dalam mempermudah hubungan antara konsep-konsep tersebut. Konsep-konsep tersebut berkembang dari hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Matematika adalah bahasa simbol yang digunakan sebagai alat komunikasi untuk membentuk suatu pemahaman menegenai matematika itu sendiri. Penting sekali bagi guru dalam menguasai bahasa. Tidak hanya bahasa dalam berkomunikasi dengan siswa, akan tetapi juga dituntut adanya kemampuan dan keterampilan guru dalam menguasai berbagai bahasa, tidak terkecuali bahasa simbol atau lambang-lambang. Sehingga guru dapat menyampaikan pesan yang berupa simbol-simbol tersebut kepada siswa dengan makna atau terjemahan yang tepat. Sehingga tidak menimbulkan salah persepsi.

    ReplyDelete
  24. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    orang dewasa harusnya memfasilitasi siswa tentang matematika (matematika sekolah) sehingga orang dewasa tidak hanya membagikan pengetahuan tetapi juga mengembangkan keterampilan, sikap, pengalaman siswa yang lebih muda sehingga mereka bisa tahu kehidupan mereka dengan menggunakan matematika.

    ReplyDelete
  25. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. interaksi antara guru dan siswa merupakan salah satu bentuk komunikasi. Guru perlu memfasilitasi siswa untuk dapat berkomunikasi matematika dengan lingkungannya. Matematika diajarkan dengan menngkomunikasikan ide-ide matematika yang didapat siswa dari lingkungan dan maslah yang dihadapi ke ide-ide abstrak yang dilambangkan dalam bentuk simbol-simbol.

    ReplyDelete
  26. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan semestinya melihat kondisi dan kemampuan peserta didik. Pada konteks pembelajaran matematika, hendaknya kurikulum dan pembelajaran matematika disesuaikan dengan kemampuan kognitif siswa. Agar terjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi semua pihak

    ReplyDelete
  27. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Namun permasalahan sekarang adalah adanya pembelajaran matematika yang tidak cocok untuk siswa (yang termuat dalam kurikulum), yaitu saat siswa diberikan matematika formal, yang seharusnya diberikan untuk orang dewasa. Penyebab dari adanya hal ini menurut pak Prof adalah kepentingan bisnis dan ekonomi. Memang jika dirunut akan menuju hal tersebut, namun sebagai mahasiswa hendaknya dapat mengatasi hal-hal yang kita dapat lakukan

    ReplyDelete
  28. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pembelajaran matematika pada jenjang SD seharusnya menjadi fondasi yang kuat bagi siswa, terutama penanaman konsep-konsep dasar matematika berdasarkan karakteristik matematika itu sendiri, karena penguasaan konsep dasar matematika yang kuat sangat diperlukan oleh siswa. Apabila konsep dasar yang diberikan kurang tepat dan diterima oleh siswa, maka sangat sulit mengubah konsep pikiran siswa tersebut. Seperti yang telah diuraikan bahwa konsep abstrak matematika juga dapat tersajikan dalam bentuk kongkrit. Konsep-konsep dalam matematika tidak diajarkan melalui definisi, melainkan melalui contoh-contoh yang relevan dengan melibatkan konsep tertentu yang sudah terbentuk dalam pikiran siswa. Pembelajaran secara bermakna terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka, bukan hanya sekedar menghafal.

    ReplyDelete
  29. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    1+1 = 2 hanya benar dalam pikiran. Namun belum tentu benar jika dibawa ke dalam dunia nyata. Matematika dan Bahasa memang tidak bisa digabungkan menjadi satu. Namun diantara keduanya terdapat irisan yang bisa dijadikan objek bahasan. Bahkan dalam buku Ernest, bahasa disebut-sebut sebagai landasan dalam mempelajari matematika. Karena matematika juga menggunakan bahasa sebagai alat untuk mentransfer konsep matematika antar personal.

    ReplyDelete
  30. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Matematika dan ilmu pengetahuan alam sama-sama memiliki pendekatan realistik dalam pembelajarannya. Dalam pembelajaran matematika guru harusnya memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu materi. Contoh yang digunakana sebaiknya menggunakan kalimat yang positif jangan menggunakan kalimat atau pernyataan yang negatif. Pembelajaran yang terjadi disekolah juga harus berangkat dari permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, hindari pemberian konsep dan penggunaan simbol di awal pembelajaran karena jika hal demikian terjadi bukan lagi matematika sekolah yang diajarkan tetapi matematika untuk orang dewasa yang terjadi.

    ReplyDelete
  31. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Orang dewasa atau para penguasa berupaya untuk menggunakan para generasi muda untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya sehingga mereka tidak mendengar para generasi muda yang menangis karena kesulitan akibat pembelajaran matematika yang tidak tepat, pembelajaran matematika formal. Padahal seharusnya pelajaran matematika yang berhak dipelajari siswa adalah matematika sekolah yang memiliki sifat yang tentunya berbeda dengan sifat matematika formal. Oleh karena itu, guru harus mengubah pandangannya dari menggunakan matematika formal pada pembelajaran menjadi menggunakan matematika sekolah yang ramah untuk siswa.

    ReplyDelete
  32. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Masih ditemukan penggunaan matematika formal bagi anak-anak, padahal hal tersebut dapa menghambat proses pemahaman konsep bagi siswa. Seyogyanya pembelajaran bagi anak-anak yaitu dengan realistik.

    ReplyDelete
  33. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Kemampuan komunikasi merupakan salah satu kemmapuan yang penting yang perlu dimiliki oleh setiap individu. Terutama bagi guru, guru harus mempunyai kemampuan komunikasi yang baik sehingga guru mampu membahasakan materi nya sehingga dapat dimengerti dengan baik oleh siswa. Matematika juga merupakan sebuah bahasa, bagaimana guru mampu membahasakan matematika tersebut dengan dunia siswa nya sehingga dapat dimengerti dengan baik oleh siswa nya.

    ReplyDelete
  34. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Matematika adalah bahasa simbol yang digunakan sebagai alat komunikasi untuk membentuk suatu pemahaman menegenai matematika itu sendiri. Suatu rumus berupa lambang atau simbol matematika perlu pemahaman yang tepat agar tepat dalam mengkomunikasikannya. Artinya penting sekali bagi guru dalam menguasai bahasa. Sehingga guru dapat menyampaikan pesan yang berupa simbol-simbol tersebut kepada siswa dengan makna atau terjemahan yang tepat.

    ReplyDelete
  35. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Seorang guru memang terkadang menggunakan egonya sendiri dalam menilai sesuatu hal. Dan mereka kadang tidak memahami apa yang menjadi kesulitan para siswanya, dan jika siswanya mengalami kesulitan un hanya dihiraukan dan dianggap angin lalu saja. Hal ini yang seharusnya tidak dilakukan, karena sebagai seorang guru pun sebaiknya bisa memahami kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para siswa, sehingga kita harus membantu mereka untuk memecahkan masalah yang dialami siswanya.

    ReplyDelete
  36. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Belajar amtematika seharusnya menyenangkan bagi siswanya. Matematika yang dipelajari siswa seharusnya juga dapat menjadikan siswa menyenangi matematika. Apa yang sering kita dengar justru sebaliknya, bahwa matematika menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Dalam hal ini, siswa kesulitan dalam memahami matematika. hal ini disebabkan siswa tidak dapat memahami matematika formal, yang menyuguhi banyak konsep-konsep abstrak bagi siswa. Sehingga tidak aneh rasanya jika siswa akan lebih menghindari matematika tersebut dan semakin jauh siswa dari matematika maka makna dari konsep-konsep matematika yang harusnya dekat dengan kehidupan siswa tidak akan tersampaikan dengan baik.

    ReplyDelete