Mar 20, 2013

Mathematics and Language 11





For those who may be puzzled by some of this discussion, let me say this:

In the academic world, there is a fair amount of nonsense published. You can do it yourself, in fact. Just go here: http://www.elsewhere.org/pomo/ -- a little light editing to insert the buzz-words of your field, plus perhaps a bit of Politically-Correct pieties, and you've got a publishable article!

But no one is actually supposed to take it seriously! The mathematics and science which the naked ape has painfully worked out over the last few hundred years really are the best approach to reality we have so far. And everyone knows it.

No one would want to fly in an airplane designed by people who think that truth is just something socially constructed, probably a reflection of the interests of the dominant hetero-normative white male power structures, blah blah blah. And you can be sure that when the post-modernist nonsense spouters collect their nice paychecks each month, they want them to be calculated according to THE laws of arithmetic, full stop.

But if, in this so often shocking and disappointing world, you need a little light entertainment, do go and read Fashionable Nonsense: Postmodern Intellectuals' Abuse of Science
[http://www.amazon.com/Fashionable-Nonsense-Postmodern-Intellectuals-Science/dp/0312204078/ref=sr_1_1?ie=UTF8&qid=1363703221&sr=8-1&keywords=sokal
]

or
The Sokal Hoax: The Sham that Shook the Academy [http://www.amazon.com/Sokal-Hoax-Sham-Shook-Academy/dp/0803279957/ref=sr_1_1?s=books&ie=UTF8&qid=1363703332&sr=1-1&keywords=sokal+hoax ]

It's how a wing of the modern intelligentsia amuse themselves on the taxpayers' dollar. As the late Alan Sokal put it, it's the reaction of a Disappointed Academic Left, who saw all their cherished utopias turn out to be horrible dystopias.

It's mainly confined to those areas of academia, like literary criticism and some corners of so-called "social science", where there really is no objectively-establishable truth, and whoever is the most clever (or obscure) debater is the winner. (For additional amusement, see here: http://denisdutton.com/bad_writing.htm )

I suppose it's better than working for the victory of those dystopias. But actually, I preferred the Old Left which wanted to appropriate not only the productive assets of the bourgeoisie, but also the educational system the bourgeoisie had developed for its own children (which very definitely taught that 1 + 1 = 2, that there was an objective reality, since they owned it) , and which the Old Left wanted to make available to all.

Not a bad aspiration, actually. (I guess there's a connection with Mathematics and Language here, mainly by way of negative examples.) 



@ Doug and others:
I try to response your notions, first before I read the webs you indicated; second, I will then try to learn them.

In my perception, based on my experiences, this is the forum of random people to express the ideas in which, to some extent, they have no strong ground. I found that some of them deliver ideas hypothetically and possibly not meet with a certain academic criteria. One’s utterances can be perceived as rubbish by the others. However, the strength of this forum is the freedom to express. We just take the benefit from this freedom; and learn each other while simultaneously reflect the selves in order to respect others. I admit that it is not easy for adults or powerful peoples to do so.

I feel strange if I then find the people from the sponsorship of freedom to be inconvenient with the situation. If it goes up into the level of impatient and furious realm then there should be a serious problem. The problems should come from the maker. It is very clear that the problem maker should not be the younger or powerless, but the adults or powerful people; because, they who have authority to do so.

It is the business of adults or powerful people to fly the airplane, to go to Mars, to produce sophisticated weapon, to name the stars, or even to buy the Planet. What are their motives trying to involve the kids in their business by teaching them very formal mathematics? The very clear motif is economy and business.

So I think, for many centuries, adults and powerful peoples have been employed their younger generations to achieve their ambitions and self-ego. They never and even not willing to hear the cry of young generation about their difficulties in learning formal mathematics.

You forgot (or may do not understand) the origin and the nature of all kinds of the (mathematics) laws. I suspect that you are not able to answer this question, because you probably only use or dig it up imperfectly. Purposefully I am still keeping this answer; to be hope next may be it can be a puzzle for you. I am not doing entertaining by this notions but trying to exchange that we possibly find something useful for our each younger generations.

Sorry, for 1+ 1 = 2 I found not only objective reality but also subjective reality, contextual reality, intuition reality, psychological reality, anthropological reality, or even spiritual reality. One example, for space intuitively reality 1+1= 2 is not usually true e.g. 1 book + 1 pencil is not equal to 2 books or two pencils. This is still relevant with the relationship between mathematics and language.

57 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Sesuai dengan pendapat Prof. di atas, untuk 1+ 1 = 2 tidak menemukan realitas objektif tapi juga realitas subyektif, realitas kontekstual, realitas intuisi, realitas psikologis, kenyataan antropologis, atau bahkan kenyataan spiritual. Salah satu contoh, untuk ruang realitas secara intuitif 1 + 1 = 2 biasanya tidak benar. 1 buku + 1 pensil tidak sama dengan 2 buku atau dua pensil.
    Pernyataan diatas, 1 + 1 = 2 adalah absolut pada dunianya para logicist-formalist-foundalist yaitu dunia yang terbebas ruang dan waktu. Tetapi sampai pada pernyataan 1 buku ditambah 1 pensil memang tidak bisa kita katakan sebagai 2 pensil atau 2 buku karena memang pensil dan buku itu hal yang berbeda. Sering terjadi kesalahan konsep bahwa perbedaan itulah yang disebut dengan variabel. Namun, jika konsep variabel yang benar misalnya adalah banyaknya pensil, lalu pensil itu sendiri dipandang sebagai apa dalam pengandaian di matematika, misalkan pensil = buku. Maka akan sah-sah saja jika 1 pensil + 1 Buku = 2 Buku ataupun 2 Pensil.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Karena manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda maka, setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap manusia juga pasti memiliki perbedaan persepsi sebagai akibat dari perbedaan dimensi yang dimilikinya. Dari itulah, kontradiksi dan perbedaan pandangan atau persepsi dari suatu masalah wajar jika terjadi. Mengenai 1 + 1 = 2 akan bernilai benar jika ruang lingkup pembahasannya berada pada dimensi yang dibatasi. 1+1 belum tentu sama dengan 2, karena 1 pensil ditambah 1 buku tidak sama dengan 2 pensil/buku. Jadi dari perbedaan bahasa dan komunikasi itu juga dapat menimbulkan perbedaan persepsi. Guru harus dapat menjelaskan dengan komunikasi yang baik agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi dari siswanya.

    ReplyDelete
  3. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Matematika sangat erat kaitan nya dengan bahasa, pada dasarnya sebenarnya matematika itu sama halnya dengan bahasa dimana sama sama memiliki pola tertentu dalam menyampaikan maksud dan tujuan tertentu. Paradigma matematika adalah bahasa perlu kita tanamkan kepada siswa, ketika siswa beranggapan matematika adalah bahasa maka ia akan mengerjakan matematika itu tanpa paksaan layaknya mereka berbahasa. Bahasa yang baik tentu bahasa yang baku, begitu juga matematika, penjabaran matematika yang baik adalah matematika dengan jabaran sesuai dengan ketentuan. Belajar matematika diharapkan dapat dilakukan ketika kita belajar bahasa.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Kita juga sangat tahu bahwa matematika dan bahasa itu sangatberhubungans ekali, dimana dengan bahasa kita bisa menucapkan dan menjelaskan kepada siswa kita akan materi yang disampaikan. Memang benar matematika itu sulit dan apabila seorang guru tidak kompeten di bidangnya lalu di mengajar dan saat mengajar guru itu belum mempunya kompeten dalam segi bahasanya, sehingga membuat siswa yang mendengarkan menjadi tambah bingung. Misalkan 1+1= 2 maka kita tidak bisa mengatakan kepada anak sd tepatnya kelas 1 bahwa 1+1=2 itu begitu saja kan tetapi haus menggunakan bahasa matematika yang mudah dimengerti bagi mereka. Bisa menggunakan benda real atau sebagainya.

    ReplyDelete
  5. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Permasalahan yang dihadapi sekarang ini adalah otoritas yang dilakukan oleh para dewasa, yang menekankan matematika yang sangat formal kepada siswa. Simbolik, dan drill terhadap latihan konsep saja, tanpa penekanan atas makna yang terkandung dalam konsep tersebut. Bahasa formal inilah yang menjadi bencana dalam matematika, karena penanaman dan pemahaman konsep adalah yang terpenting. Seperti pemisalan yang dipaparkan dalam artikel ini bahwa 1+1=2 mengandung banyak arti, meliputi realitas subyektif, masalah kontekstual, intuisi, filosofi, psikologi, antropologi bahkan spiritual. Inilah salah satu kaitannya antara matematika dengan bahasa.

    ReplyDelete
  6. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menanamkan konsep matematika kepada siswa memang tidak mudah. Diperlukan komunikasi matematika yang sesuai dengan dunia mereka. Hal ini dikarenakan dunia anak-anak dan dunia orang dewasa adalah dua dunia yang berbeda. Untuk anak-anak, matematika perlu diawali dengan tahap konkret ke tahap abstrak. Karena jika disajikan secara tidak tepat, maka bisa saja akan memunculkan missunderstanding pada diri siswa. Sebagai contoh, 1 + 1 = 2 akan bernilai benar jika ruang lingkup pembahasannya berada pada dimensi yang dibatasi. Satu pensil + satu buku tidak sama dengan 2 pensil atau 2 buku. Jadi dari perbedaan bahasa dan komunikasi itu juga dapat menimbulkan perbedaan persepsi dan dapat memunculkan missunderstanding. Guru harus dapat menjelaskan dengan komunikasi yang baik agar tidak menimbulkan perbedaan persepsi dari siswa.

    ReplyDelete
  7. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Sempurna, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita sampai karena tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Allah dan kehendakNya. Manusia diciptakan dengan berbagai jenis, karakteristik kekurangan dan kelebihan yang berbeda-beda. Dari hal tersebut juga menimbulkan perbedaan persepsi. misalnya saja anggapan 1+1 = 2 itu benar. Namun ada yang menyebutkan bahwa 1+1 belum tentu jawabannya adalah 2. semua itu tergantung konteks pertanyaaanya. begitu pula dengan kehidupan. Dalam kehidupan perbedaan pendapat itu akan selalu ada. Untuk menyatukannya adalah tergantung pendapat tersebut akan digunakan dalam konteks apa.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Dalam mateatika ada tentang penjumlahan. 1+1 = 2. Kita dapat membahasakan operasi ini dengan menggunakan objek seperti 1 pensil + 1 pensil = 2 pensil. Ini benar, sehingga kita dapat menggunakannya dalam mengajarkan kepada siswa. Namun ketika diganti dengan 1 pensil + 1 penghapus maka keduanya tidak bisa dioperasikan. Inilah tentang matematika dan bahasa. Tidak semuanya dapat kita aplikasikan ke dalam matematika. Seperti contoh yang diberikan di atas.

    ReplyDelete
  9. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pada artikel ini bahwa adanya berbagai pendapat mengenai 1+1=2 yaitu benar dan 1+1 belum tentu jawabanya 2. Karena 1 bunga + 1 daun tidak sama dengan 2 bunga atau 2 daun. Disinilah sebenarnya terdapat konteks yang menjelaskan makna dari pertambahan tersebut. Sehingga tergantung konteksnya ketika menjawab.

    ReplyDelete
  10. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah paradigma pendidikan tradisional sudah mnempatkan siswa dibawah kendali guru, sehingga apa yang dilakukan guru adalah membawa siswa untuk menjadi apa yang ada dalam pikirannya. Ingin menjadikan ssiwa menjadi sosok yang cerdas sehingga memberikan materi secara beruntun dan banyak dalam hal kuantitas, namun kualitas sendiri masih perlu dipertanyakan. Siswa menjadi kurang paham pada satu materi namun tetap dilanjutkan ke materi berikutnya yang bisa dibilang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi sehingga hal ini menimbulkan ketidakmengertian bertingkat bagi siswa.

    ReplyDelete
  11. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika untuk orang dewasa dan anak-anak jelas berbeda. Orang dewasa sudah mampu berpikir matematika secara abstrak, sedangkan anak-anak tidak. Memang tidak mudah mengajarkan matematika ke anak-anak dimana anak-anak belum bisa menerima konsep matematika yang abstrak. Guru dalam membelajarkan matematika ke siswa harus bisa mengubah konsep yang abstrak menjadi konsep yang konkret agar siswa mudah untuk memahami konsep tersebut.

    ReplyDelete
  12. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Matematika bersifat kompleks. Matematika 1 + 1 = 2 itu bernilai tak tentu. Karena matematika kompleks inilah bisa berarti jika 1 + 1 =3 tergantung pada konteks yang ada. Pada school mathematics siswa yang masi disebut anak kecil belum sampai ke ranah ini, siswa masi diberikan matematika yang realistik dengan lingkungannya.

    ReplyDelete
  13. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Dalam penggunaannya, konsep-konsep dalam matematika memiliki hubungan antara suatu konsep dengan konsep yang lain. Sehingga, simbol-simbol turut berperan dalam mempermudah hubungan antara konsep-konsep tersebut. Konsep-konsep tersebut berkembang dari hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Matematika adalah bahasa simbol yang digunakan sebagai alat komunikasi untuk membentuk suatu pemahaman menegenai matematika itu sendiri. Penting sekali bagi guru dalam menguasai bahasa. Tidak hanya bahasa dalam berkomunikasi dengan siswa, akan tetapi juga dituntut adanya kemampuan dan keterampilan guru dalam menguasai berbagai bahasa, tidak terkecuali bahasa simbol atau lambang-lambang. Sehingga guru dapat menyampaikan pesan yang berupa simbol-simbol tersebut kepada siswa dengan makna atau terjemahan yang tepat. Sehingga tidak menimbulkan salah persepsi.

    ReplyDelete
  14. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    orang dewasa harusnya memfasilitasi siswa tentang matematika (matematika sekolah) sehingga orang dewasa tidak hanya membagikan pengetahuan tetapi juga mengembangkan keterampilan, sikap, pengalaman siswa yang lebih muda sehingga mereka bisa tahu kehidupan mereka dengan menggunakan matematika.

    ReplyDelete
  15. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. interaksi antara guru dan siswa merupakan salah satu bentuk komunikasi. Guru perlu memfasilitasi siswa untuk dapat berkomunikasi matematika dengan lingkungannya. Matematika diajarkan dengan menngkomunikasikan ide-ide matematika yang didapat siswa dari lingkungan dan maslah yang dihadapi ke ide-ide abstrak yang dilambangkan dalam bentuk simbol-simbol.

    ReplyDelete
  16. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendidikan semestinya melihat kondisi dan kemampuan peserta didik. Pada konteks pembelajaran matematika, hendaknya kurikulum dan pembelajaran matematika disesuaikan dengan kemampuan kognitif siswa. Agar terjadi pembelajaran yang bermanfaat bagi semua pihak

    ReplyDelete
  17. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Namun permasalahan sekarang adalah adanya pembelajaran matematika yang tidak cocok untuk siswa (yang termuat dalam kurikulum), yaitu saat siswa diberikan matematika formal, yang seharusnya diberikan untuk orang dewasa. Penyebab dari adanya hal ini menurut pak Prof adalah kepentingan bisnis dan ekonomi. Memang jika dirunut akan menuju hal tersebut, namun sebagai mahasiswa hendaknya dapat mengatasi hal-hal yang kita dapat lakukan

    ReplyDelete
  18. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pembelajaran matematika pada jenjang SD seharusnya menjadi fondasi yang kuat bagi siswa, terutama penanaman konsep-konsep dasar matematika berdasarkan karakteristik matematika itu sendiri, karena penguasaan konsep dasar matematika yang kuat sangat diperlukan oleh siswa. Apabila konsep dasar yang diberikan kurang tepat dan diterima oleh siswa, maka sangat sulit mengubah konsep pikiran siswa tersebut. Seperti yang telah diuraikan bahwa konsep abstrak matematika juga dapat tersajikan dalam bentuk kongkrit. Konsep-konsep dalam matematika tidak diajarkan melalui definisi, melainkan melalui contoh-contoh yang relevan dengan melibatkan konsep tertentu yang sudah terbentuk dalam pikiran siswa. Pembelajaran secara bermakna terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka, bukan hanya sekedar menghafal.

    ReplyDelete
  19. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    1+1 = 2 hanya benar dalam pikiran. Namun belum tentu benar jika dibawa ke dalam dunia nyata. Matematika dan Bahasa memang tidak bisa digabungkan menjadi satu. Namun diantara keduanya terdapat irisan yang bisa dijadikan objek bahasan. Bahkan dalam buku Ernest, bahasa disebut-sebut sebagai landasan dalam mempelajari matematika. Karena matematika juga menggunakan bahasa sebagai alat untuk mentransfer konsep matematika antar personal.

    ReplyDelete
  20. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Kemampuan komunikasi merupakan salah satu kemmapuan yang penting yang perlu dimiliki oleh setiap individu. Terutama bagi guru, guru harus mempunyai kemampuan komunikasi yang baik sehingga guru mampu membahasakan materi nya sehingga dapat dimengerti dengan baik oleh siswa. Matematika juga merupakan sebuah bahasa, bagaimana guru mampu membahasakan matematika tersebut dengan dunia siswa nya sehingga dapat dimengerti dengan baik oleh siswa nya.

    ReplyDelete
  21. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Matematika adalah bahasa simbol yang digunakan sebagai alat komunikasi untuk membentuk suatu pemahaman menegenai matematika itu sendiri. Suatu rumus berupa lambang atau simbol matematika perlu pemahaman yang tepat agar tepat dalam mengkomunikasikannya. Artinya penting sekali bagi guru dalam menguasai bahasa. Sehingga guru dapat menyampaikan pesan yang berupa simbol-simbol tersebut kepada siswa dengan makna atau terjemahan yang tepat.

    ReplyDelete
  22. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Seorang guru memang terkadang menggunakan egonya sendiri dalam menilai sesuatu hal. Dan mereka kadang tidak memahami apa yang menjadi kesulitan para siswanya, dan jika siswanya mengalami kesulitan un hanya dihiraukan dan dianggap angin lalu saja. Hal ini yang seharusnya tidak dilakukan, karena sebagai seorang guru pun sebaiknya bisa memahami kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para siswa, sehingga kita harus membantu mereka untuk memecahkan masalah yang dialami siswanya.

    ReplyDelete
  23. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Belajar amtematika seharusnya menyenangkan bagi siswanya. Matematika yang dipelajari siswa seharusnya juga dapat menjadikan siswa menyenangi matematika. Apa yang sering kita dengar justru sebaliknya, bahwa matematika menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Dalam hal ini, siswa kesulitan dalam memahami matematika. hal ini disebabkan siswa tidak dapat memahami matematika formal, yang menyuguhi banyak konsep-konsep abstrak bagi siswa. Sehingga tidak aneh rasanya jika siswa akan lebih menghindari matematika tersebut dan semakin jauh siswa dari matematika maka makna dari konsep-konsep matematika yang harusnya dekat dengan kehidupan siswa tidak akan tersampaikan dengan baik.

    ReplyDelete
  24. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    In this article, I strongly agree on opinion Mr. Marsigit. Mathematics is not only to deal with a serious problem. Mathematics is not to compete with each other in technology. Mathematics is not just for the money, technology or specific business. Okay, everyone needs mathematics. Mathematics should not be reserved only for people who are experts only. Math is necessary for the little people. Yes, the people around us for example. Math is not to demonstrate the existence in creating sophisticated tools. But how matematic current teaching practices? Lots of learning mathematics that is incompatible with the ability of students. Too subjective if students are given the materials and concepts that are so complicated for her age.
    On the other hand, can be said to be the language of mathematics. But not contextually. However the language of mathematics is different from other languages. We know that 1 + 1 = 2, but we can not conclude that 1 pencil + 1 book = 2 pencil or 2 books. Yeah that's when math concepts needed.

    ReplyDelete
  25. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Dalam diskusi tersebut Prof. Dr. Marsigit, MA menyatakan keprihatinannya tentang kejadian di banyak negara bahwa orang orang dewasa seperti pembuat kebijakan dan pemilik kekuasaan memaksakan siswa demi ambisi dan egonya. Mereka tidak pernah dan bahkan tidak mau mendengar kesulitan siswa dalam belajar matematika formal. Padahal matematika formal tidak akan sulit dipahami oleh siswa karena sifat-sifat matematika formal tersebut. Misalnya siswa, terutama siswa di sekolah dasar akan sulit mengerti matematika jika matematika dimulai dari definisi atau prosedur tanpa ada komunikasi lain yang menjembataninya.

    ReplyDelete
  26. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Dalam dunia, tidak sedikit orang-orang yang tumbuh dewasa dengan ego yang kuat. Begitu pula dengan kekuasaan, terkadang kekuasaan digunakan justru untuk melemahkan orang-orang yang tidak dapat bersuara. Seperti contoh pendidikan anak yang terlalu menitikberatkan pada ego orang dewasa. Saya tertarik dengan konsep kebenaran matematika dan bahasa yang membedakan bahwa 1+1 = 2, secara matematika benar. Namun, jika diperhatikan dengan kacamata bahasa tentu satu buku ditambah dua pensil tidak sama dengan dua buku atau dua pensil.

    ReplyDelete
  27. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Sebagai golongan kaum muda saya merasa sebuah ambisi dan ego cukup penting ditanamkan namun ambisi dan ego yang dimaksud disini adalah dalam konteks untuk menuntut ilmu guna mencapai kesuksesan. Dengan adanya sifat ambisius di dalam pikiran dan hati maka kita akan selalu merasa termotivasi karena adanya rasa yang belum puas untuk memperoleh suatu kesuksesan. Dengan perasaan ambisius kita akan membuat suatu perencanaan yang matang apa langkah yang akan kita gunakan untuk menjemput sebuah kesuksesan yang kita impikan dan kita harapkan.

    ReplyDelete
  28. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Yang menjadi catatan penting terutama bagi diri pribadi saya melalui postingan ini bagaimana untuk menghilangkan rasa keangkuhan dalam diri.Cara yang tak bersih dalam mengajari bibit-bibit muda akan memberikan efek yang buruk baik dari bibit muda itu sendri maupun masa depan matematika.Waktu kuliah sayapun sempat berpikir mengapa 1+1=2 ?.Akhirnya saya mengerti bahwa matematika yang dikenalkan selama ini adalah matematika formal.Untuk memahami makna dibalik pertanyaan tersebut maka kita perlu yang namanya unsur identitas.

    ReplyDelete
  29. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Bahasa adalah kunci dunia. Bahasa kita pakai untuk berkomunikasi, termasuk dalam pembelajaran matematika. Membahasakan matematika dengan baik, maka kompetensi matematika siswa yang ingin dicapai menjadi lebih mudah tercapai serta menurunkan miskonsepsi. seperti halnya konsep matematika formal yang menyatakan bahwa 1+1=2, namun jika konsep tersebut tidak dibahasakan dengan benar akan menjadi salah arti, karena dalam penafsiran berbeda maka akan menyebabkan salah konsepsi. dalam matematika 1+1=2 adalah benar, tetapi jika dibahasakan 1pensil ditambah 1buku tentu sama dengan bukan 2buku maupun 2 pensil.oleh kaarena itu, pembahsaan yang benar akan menyebabkan konsep yang benar. Dapat dilakukan dengan pemilihan kata yang tepat sesuai dengan siapa yang ada dihadapannya.

    ReplyDelete
  30. Junianto
    17709250165
    PM C

    Terkadang fakta dilapangan jauh berbeda dengan teori yang kita yakini. Guru yang telah belajar matematika formal di tingkat universitas, terkadang juga lupa dengan matematika sekolah yang seharusnya diajarkan kepada siswa. Sehingga, kebiasaan belajar matematika formal terbawa begitu saja dan tersampaikan kepada siswa yang seharusnya mereka belum mendapatkannya. Inilah yang membuat siswa menjadi kebingungan dengan materi. Padahal ditingkat dasar dan menengah matematika adalah aktivitas, sedangkan di matematika formal semua objek hampir tidak ada dalam dunia nyata.

    ReplyDelete
  31. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Mathematics in mind is different from mathematics in reality. Mathematics is in fact an identity while mathematics in reality is contradictory. Mathematics in reality involves and considers space and time. Thus, the language used between mathematics in thought and in reality must also be considered. The use of mathematical language in accordance with space and time will be more easily understood by students.

    ReplyDelete
  32. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Mathematics in mind is different from mathematics in reality. Mathematics is in fact an identity while mathematics in reality is contradictory. Mathematics in reality involves and considers space and time. Thus, the language used between mathematics in thought and in reality must also be considered. The use of mathematical language in accordance with space and time will be more easily understood by students.

    ReplyDelete
  33. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Matematika memang tidak akan pernah bisa dipadukan dengan bahasa standar karena matematika memang adalah sesuatu pemikiran abstrak yang diterjemahkan dalam pemikiran sendiri.

    ReplyDelete
  34. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Biasanya seseorang yang kemasukan setan tersebut pikirannya dalam keadaan kosong , kondisi tubuhnya sedang lelah serta iman yang kurang kuat. Keadaan ini akan dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh kekuatan gaib yang biasanya tidak dapat terkendali oleh orang yang kesurupan itu. Banyak alasan kenapa mahluk halus merasuki tubuh manusia, salah satunya adalah untuk menakut-nakuti manusia agar percaya kepada hal-hal mistik. Fenomena kerasukan jin adalah kenyataan yang tidak mungkin dibantah. Di samping kejadian di lapangan, realita ini juga dibuktikan dengan dalil Alquran, hadis dan kesepakatan ulama.
    Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangannya. Semuanya itu tergantung kepada manusianya mengenai bagaimana ia akan meng-eksplor kelebihannya atau terpuruk dengan kekurangannya. Cara mengendalikan diri manusia yaitu dengan Agama, dengan itulah manusia diatur untuk tidak saling merugikan. Mengenai 1+1=2 itu benar?, semua itu tergantung dengan persepsi bagaimana kita melihat soal tersebut dengan sudut pandang yg kita miliki dan juga bagaimana maksud dari perintah soal tersebut bagai mana cara mengerjakannya.

    ReplyDelete
  35. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya setuju dengan pernyataan Prof: “ adults and powerful peoples have been employed their younger generations to achieve their ambitions and self-ego.” Selama bertahun-tahun, anak-anak hanya dianggap pekerja untuk memenuhi ambisi orang tua. Anak-anak hanya dituntut untuk memahami materi matematika yang kompleks dan abstrak tanpa mempertimbangkan daya atau kemampuan mereka. Lebih lagi orang tua mengharapkan anak-anak mereka pandai dalam matematika, mendapat nilai 100, atau juara olimpiade matematika. Begitulah ambisi orang dewasa yang sebenarnya telah memforsir anak-anak mereka.

    ReplyDelete
  36. Matematika dan bahasa masih sangat memiliki hubungan. Dengan membahasakan matematika yang baik, maka kompetensi matematika yang ingin dicapai menjadi lebih mudah serta menurunkan miskonsepsi. Membahasakan matematika yang baik dapat dilakukan dengan pemilihan kata yang tepat sesuai dengan siapa ia berhadapan. Misalnya untuk mengajarkan matematika penjumlahan pada anak-anak yakni bila dibahasakan 1 buku + 1 pensil tidak sama dengan 2 buku atau dua pensil.

    ReplyDelete
  37. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Hal yang dapat saya simpulakn dari postingan ini adalah adanya perbedaan pendapat mengenai suatu masalah tertentu. Perbedaan pendapat memang sifat alamiah yang sering terjadi dalam konteks komunikasi apalagi dalam forum-forum tertentu seperti debat atau pun jejak pendapat. Namun yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara kita menyampaikan pendapat tersebut menggunakan bahasa yang mudah dimenerngerti oleh lawan komunikasi kita sehingga tidak menjadi kesalahpahaman. Selain itu karena pemikiran setiap orang berbeda-beda maka kita tidak bisa menjadi kaku dengan terus memaksakan kehendak untuk orang lain menyetujui pendapat kita namun sebaiknya didiskusikan untuk menemukan kesepakatan bersama.

    ReplyDelete
  38. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Allah dan kehendakNya. Manusia diciptakan dengan berbagai jenis, karakteristik, kekurangan dan kelebihan yang berbeda-beda. Dari hal tersebut juga menimbulkan perbedaan persepsi. Misalnya saja anggapan 1+1 = 2 itu benar. Namun ada yang menyebutkan bahwa 1+1 belum tentu jawabannya adalah 2. semua itu tergantung konteks pertanyaaanya.

    Begitu pula dengan kehidupan. Dalam kehidupan perbedaan pendapat itu akan selalu ada. Untuk menyatukannya adalah tergantung pendapat tersebut akan digunakan dalam konteks apa. Akan tetapi, kita harus bisa menghargai pendapat orang lain, dan apabila ingin berpendapat harus dengan dasar yang kuat.

    ReplyDelete
  39. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Tidak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Allah dan kehendakNya. Manusia diciptakan dengan berbagai jenis, karakteristik, kekurangan dan kelebihan yang berbeda-beda. Dari hal tersebut juga menimbulkan perbedaan persepsi. Misalnya saja anggapan 1+1 = 2 itu benar. Namun ada yang menyebutkan bahwa 1+1 belum tentu jawabannya adalah 2. semua itu tergantung konteks pertanyaaanya.

    Begitu pula dengan kehidupan. Dalam kehidupan perbedaan pendapat itu akan selalu ada. Untuk menyatukannya adalah tergantung pendapat tersebut akan digunakan dalam konteks apa. Akan tetapi, kita harus bisa menghargai pendapat orang lain, dan apabila ingin berpendapat harus dengan dasar yang kuat.

    ReplyDelete
  40. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dominasi guru dalam proses pembelajaran mengakibatkan proses pembelajaran dikuasai oleh guru itu sendiri. Di dunia sekolah, masih banyak dijumpai guru yang memanfaatkan siswa untuk memenuhi ambisi dan egonya. Guru seolah memaksa siswa untuk menyukai pelajaran matematika dan mendapatkan nilai yang bagus. Aspek-aspek pembelajaran pun menjadi terabaikan karena semua berorientasi pada hasil saja. Namun, terkadang semua perubahan yang akan dilakukan terkendala oleh sistem pendidikan yang ada.

    ReplyDelete
  41. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Kita harus berhati-hati dalam membahas atau berdiskusi tentang pendidikan matematika. Yang pertama kita harus memperhatikan dengan siapa kita berdiskusi atau dalam forum apa kita berdiskusi. Jika forum diskusinya terlau melenceng dengan topik matematika dikhawatirnkan pembahasan matematikanya juga tidka serius. Yang kedua bagaimana konten yang disamaikan orang lain terkait dengan pendidikan matematika. Apakah sesuai dengan referensi dan acuan atau hanya pendapat pribadi tanpa didasari referensi (hypotectical). Selain memperhatikan dua hal tadi, sebaiknya dalam mencari tahu bagaimana seharusnya kita mengajarkan matematika kepada siswa ialah dengan mendengarkan keluhan siswa itu sendiri. Dengan mendengarkan siswa kita menjadi tahu bagaimana sebaiknya menyajikan materi matematika, kita jadi tahu bagaimana kendala atau kesulitan yang dihadapi siswa sehingga kita dapat menentukan sikap yang tepat. Karena siswa merupaan subjek pembelajaran.

    ReplyDelete
  42. Latifah Fitriasari
    PM C

    Matematika dapat dipandang sebagai bahasa karena dalam matematika terdapat sekumpulan lambang/simbol dan kata. Bahasa merupakan suatu sistem yang terdiri dari lambang-lambang, kata-kata, dan kalimat-kalimat yang disusun menurut aturan tertentu dan digunakan sekelompok orang untuk berkomunikasi. Penulisan kata atau kalimat harus diperhatikan agar bahasa yang kita gunakan tidak hanya baik, tetapi juga benar. Matematika lebih tepat kalau kita kategorikan sebagai bahasa, karena matematika itu adalah alat kita untuk bisa berkomunikasi dengan lebih baik.

    ReplyDelete
  43. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Seorang guru memang terkadang menggunakan egonya sendiri dalam menilai sesuatu hal. Dan mereka kadang tidak memahami apa yang menjadi kesulitan para siswanya, dan jika siswanya mengalami kesulitan hanya dihiraukan dan dianggap angin lalu saja. Hal ini yang seharusnya tidak dilakukan, karena sebagai seorang guru pun sebaiknya bisa memahami kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para siswa, sehingga kita harus membantu mereka untuk memecahkan masalah yang dialami siswanya.

    ReplyDelete
  44. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Diluar dari isi materi diskus, kami setuju atas apa yang disampaikan diatas bahwa dalam bediskusi hendaknya memberikan refensi atau bahan serta informasi yang real nyata dan dapat dipertanggung jawabkan kevalidannya. Informasi yang dijadikan landasan dalam berdiskusi bukanlah informasi yang hoax. Dalam diskusi diatas beberapa informasi yang tidak relevan yg disampaiakan saudari doug lainen. Oleh karena itu, pembahasan isi materi matematika sekolah harus sesuai dengan keadaan dan penelitian yang sah. Selanjutnya, membahas isi materi diskusi bahwa memang berat memberika pembelajaran matematika yang secara sempurna dapat dipahami siswa sehingga mereka dapat mengaplikasikannaya. Oleh karena itu, guru perlu untuk terus belajar dan belajar dalam memahami keadaan agar apa yang dirancangnya dapat dipahami oleh siswa. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  45. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Setiap orang bebas untuk mengekspresikan ide-ide mereka. Di Indonesia sendiri hal tersebut telah dijamin oleh Undang-Undang. Demikian pula matematika dan bahasa. Kita bebas untuk berdebat. Misalnya dalam matematika, kita harus mencari cara lain untuk memecahkan masalah, dan tidak setiap orang dapat melakukan dengan cara yang sama.

    ReplyDelete
  46. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Matematika dan bahasa merupakan unsur yyang tidak bisa dilepaskan. Mereka merupakan dua unsur yang saling berkaitan. Mateamtika mampu menjelaskan bahasa dan bahasa mampu menjelaskan matematika. matematika yang merupakan bahasa simbol dengan bahasa umum dapat diterjemahkan kedalam bahasa yang mampu dimengerti oleh masyarakat.

    ReplyDelete
  47. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP S2 B
    Membahas tentang pelaksanaan pembelajaran matematika untuk anak, ternyata alasan dari pembelajaran yang bersifat formal selama ini terus dilaksanakan meskipun siswa merasa kesulitan mempelajarinya karena kepentingan ekonomi dan bisnis dari kaum penguasa. Orang-orang yang kuat memiliki wewenang untuk menetapkan peraturan yang berdampak baik bagi dirinya sendiri tetapi tidak memikirkan hak dan kepentingan anak. Sehingga hal tersebut akan sulit untuk melakukan revolusi pembelajaran yang benar-benar untuk siswa.

    ReplyDelete
  48. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    A fatal mistake often occurs when the student is less master of a material but still proceeds to the next material that can be said to have a higher difficulty level, so this causes double confusion for the students. It is undeniable that traditional educational paradigm has put students under control teacher, so what the teacher does is bring the student into what he has in mind. Want to make students into a smart person so as to give the material in streak and a lot in terms of quantity, but the quality itself is still to be questioned.

    ReplyDelete
  49. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada dasarnya setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda karena karakternya juga berbeda-beda. Tetapi perbedaan bukanlah menjadi permasalahan karena dengan adanya perbedaan itulah setiap orang bisa saling melengkapi.Sehingga kita harus saling menghargai dan menghormati atas perbedaan yang ada. Oleh karena itu proses komunikasi menjadi sangatlah penting. Di dalam proses pembelajaran guru sebaiknya menerima masukan dari siswa. Dengan masukan-masukan tersebut maka guru dapat memperbaiki metode pembelajaran yangdigunakan saat proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  50. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. interaksi antara guru dan siswa merupakan salah satu bentuk komunikasi. Guru perlu memfasilitasi siswa untuk dapat berkomunikasi matematika dengan lingkungannya. Matematika diajarkan dengan menngkomunikasikan ide-ide matematika yang didapat siswa dari lingkungan dan maslah yang dihadapi ke ide-ide abstrak yang dilambangkan dalam bentuk simbol-simbol.

    ReplyDelete
  51. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    in teaching mathematics to children at school, we tell them that 1 + 1 = 2, and they accept it, even if it is true or false depending on the context, language, and scope of the subject. if that is discussed only the operation of the same object, eg 1 book plus 1 book is 2 books, then the statement is true. but if the object is different, then the statement becomes wrong. then to teach these things to children, just as a description, so they are not confused.

    ReplyDelete
  52. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Suatu rumus, lambang atau simbol matematika yang sudah benar dan tepat akan menjadi tidak benar dan tidak tepat bila tidak tepat dalam meneerjemahkannya. Ini menjadikan guru perlu untuk menguasai bukan hanya bahasa dalam berkomunikasi dengan siswa, akan tetapi juga kemampuan dan keterampilan guru dalam menguasai bahasa simbol atau lambang-lambang dalam matematika, sehingga guru dapat menyampaikan pesan yang berupa simbol-simbol atau lambang-lambang tersebut kepada siswa dengan makna atau terjemahan yang tepat.

    ReplyDelete
  53. Tidaklah seharusnya orang yang memiliki kekuasaan dan merasa dewasa memaksakan generasi lebih muda untuk mengerti mambisi mereka dan keegoisan mereka atas tuntutan terhadap berbagai materi matematika formal. Bukannya mereka yang dewasa dulu pernah menjadi generasi muda dan tidak berkuasa. Sudah selayaknya mereka membimbing generasi yang lebih muda untuk mempelajari matematika sesuai dengan dimensi mereka.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  54. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Orang dewasa atau para penguasa berupaya untuk menggunakan para generasi muda untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya sehingga mereka tidak mendengar para generasi muda yang menangis karena kesulitan akibat pembelajaran matematika yang tidak tepat, pembelajaran matematika formal. Padahal seharusnya pelajaran matematika yang berhak dipelajari siswa adalah matematika sekolah yang memiliki sifat yang tentunya berbeda dengan sifat matematika formal. Oleh karena itu, guru harus mengubah pandangannya dari menggunakan matematika formal pada pembelajaran menjadi menggunakan matematika sekolah yang ramah untuk siswa.

    ReplyDelete
  55. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    setiap manusia memiliki hak untuk merasakan kebebasan, biarpun demikian kebebasan setiap orang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Sejalan dengan hal itu ilmu kita pakai untuk membantu kita mendefinisikan batas-batas tersebut. Sedangkan seseorang yang telah mampu mendefinisikannya ialah yang dapat mengkomunikasikan apa yang ada di pikirannya dengan baik. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  56. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    Pend. Matematika S2 Kelas C

    Lambang-lambang yang digunakan dalam matematika melambangkan suatu makna dari pernyataan matematika. Makna dari simbol atau lambang tersebut biasanya disesuaikan dengan konteks penyajiannya pada soal. Misalkan “kecepatam jalan kaki seorang anak” dilambangkan sebagai “x”, dan “jarak yang ditempuh seorang anak” dilambangkan sebagai “y”. Maka untuk menyatakan hubungan keduanya kita bisa memisalkannya sebagai “z = y/x”. z dalam hal ini melambangkan “waktu berjalan seorang anak”. Sehingga dapat disimpulkan dari soal tersebut bahwa untuk mencari jawaban berapa lama anak tersebut berjalan dengan jarak dan kecepatan yang telah ia tempuh tersebut. Lambang tersebut hanya menyatakan hubungan antara ketiganya, memberikan informasi yang jelas tanpa mempunyai konotasi secara emosional. Maka suatu pernyataan matematika itu memiliki sifat yang jelas, spesifik dan informative serta tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.

    ReplyDelete
  57. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2105

    Matematika berkaitan erat dengan bahasa yang nantinya akan menimbulkan komunikasi matematika. Akan tetapi, setiap manusia memiliki persepsi yang berbeda-beda karena perbedaan dimensi. Karena perbedaan sudut pandang itulah yang sering menyebabkan kontradiksi. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika, kita perlu membawanya dari contoh kongkrit agar bisa diterima.

    ReplyDelete