Oct 17, 2015

ARTI HIDUP DALAM KACAMATA FILSAFAT

Minggu, 27 September 2015
Refleksi Pertemuan Ketiga



ARTI HIDUP DALAM KACAMATA FILSAFAT
Oleh : Tri Kurniah Lestari, S.Pd.
(15709251065)
http://trikurniahlestari-ririn-mpm.blogspot.co.id/2015/09/refleksi-pertemuan-ketiga.html#more

Bismillahirrahmanirahim
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatu

Pertemuan ketiga ini dilaksanakan pada selasa tanggal 22 September 2015 jam 11.10 sampai dengan 12.50 diruang 305b gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Matematika kelas a pada matakuliah Filsafat Ilmu dengan dosen pengampuh pak Marsigit. Perkuliahan ini diawali dengan mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang harus dibuat setiap minggunya.

Sistem perkuliahan masih sama seperti 2 pertemuan sebelumnya, yaitu lebih banyak mendengar dan merekam apa yang disampaikan oleh Bapak. Topik yang dibicarakan saat ini yaitu membahas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara lisan. Beliau juga menyampai informasi seputar Facebook beliau, kemudian beliau juga memberitahukan bahwa ada dua orang yang hasil refleksi pertemuan keduanya telah di postkan ke Facebook beliau, karena beliau menganggap hasilnya cukup baik.

Pertanyaan secara lisan untuk pertamakalinya di sampaikan oleh bu Retno Kusuma Dewi, petanyaan beliau yaitu : “Menurut sudut pandang filsafat memahami tentang kehidupan kenapa kok kira-kira siswa sekarang ini cenderung memilih hal mudah?, mudah maksudnya segala sesuatu yang instan”

Setelah mendengar pertanyaan yang disampaikan, pak marsigit kemudian menjawab : “Jadi gini bu, ibu meluncurnya telalu tajam, dari filsafat sampai ke siswa, tetapi selain meluncur terlalu tajam ada pantulan yang bagus yaitu budaya instan, anda semua perlu membaca di akademia edu mengenai narasi besar ideology dan politik pendidikan dunia, itu saya uraikan persis dari jaman Yunani sampai jaman sekarang, sehingga kita bisa mengetahui alasan dan sebab-sebab adanya budaya instan, ceritanya panjang dan disamping cerita panjang disitu juga memerlukan pengetahuan-pengetahuan lain. Uraian saya tidak membosankan karna disajikan dalam bentuk power point, sehingga dapat dibaca sekilas saja, ulangi kembali dan bisa menyimpulkan point-pointnya, ratusan ribu orang membaca, intisarinya sebetulnya merupakan atmosfirnya, kurun waktunya memang sampai pada kehidupan saat ini.”

Beliau menambahkan kembali “kalau memang ada yang mudah kenapa musti cari yang sulit, saya juga menjelaskan di kelas lain kalau itu tesis maka ada anti tesisnya. Anti tesisnya aku buat begini, kalau bisa mengerjakan yang sulit kenapa cari yang mudah, didengar juga gak begitu jelas diucapkan juga gampang tapi dilaksanakan sangat sulit, silahkan anda uji diri anda dan dari dua kata itu, andai kata anda laksanakan maka dampaknya itu seluas dunia akhirat, karena secara psikologi antara yang pertama (sebelah kiri) : ‘kalau ada yang mudah kenapa cari yang sulit, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit,’ dan yang kedua (sebelah kanan) ‘kalau bisa mengerjakan yang sulit kenapa cari yang mudah’ saja sudah berbeda. Bila dilihat dari keadaannya dari segi pelakunya yang sebelah kiri tidak mau berjuang, nyaman dizona aman, tidak mau meningkatkan diri, santai, gampang menyerah, tidak ingin berkembang, tidak mau bekerja keras, motivasi kurang, difensif, tidak kreatif, masa bodoh, tidak cerdas, bodoh,termasuk juga cara yang singkat, dan budaya instan; semiliar pangkat semiliar pun belum bisa aku menyebutkannya, karna itu dunia, dunia si dia. Lawannya sebelah kanan memiliki keadaan yang kreatif, cerdas, pekerja keras, ulet, suka tantangan, ingin berkembang, ingin tahu yang tinggi, dan motivasinya tinggi. Jadi hidup itu adalah interaksi antara yang pertama dan kedua, hidup yang lebih baik adalah gejala dari yang pertama menuju yang kedua”.

Pertanyaan selanjutnya disampaikan oleh saudara Heru Tri Rizky Novi : “bagaimana tanggapan filsafat tentang pendapat ilham nokhen tentang penciptaan alam ini yang dalam konsep ada dan tiada?”

Bapak menyampaikan bahwa pertanyaan yang diajukan mempunyai maksud sama seperti bagaimana pandangan Agama tentang makhluk pertama manusia dan seperti temuan Darwin yaitu nenek moyang manusia itu adalah binatang (monyet). Sementara orang beragama  percaya bahwa nenek moyang manusia itu adalah manusia juga, nabi Adam AS. Darwin membuat teori evolusi, hukum sebab akibat, jika manusia itu setiap pagi belajar terbang selama hidupnya, begitu pula anaknya belajar terbang selama kurun waktu bermiliyar-milyar keturunan diharapkan suatu ketika manusia bisa terbang. Itu merupakan teori pengembangan potensi diri. Yang ditangkap oleh Immanuel Kant sebagai Teleologi, segala macam perkembangan masa depan masuk kedalam Teleologi. Jadi Teori Evolusi dasarnya adalah filsafat, segala sesuatu mengalami perubahan dan tidak ada didunia ini yang tidak mengalami perubahan, tapi pendapat seperti itu merupakan pendapat separuh dunia, karna separuhnya lagi memiliki pendapat bahwa sesuatu itu bersifat tetap, tidaklah sesuatu didunia ini yang tidak bersifat tetap. Masing-masing memiliki tokoh, yang tetap memiliki tokoh Permenides dan yang berubah tokohnya adalah Herakleitos, kemudian dari kacamata filsafat memandang bahwa ternyata hidup itu adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah, jadi hidup dapat di definisikan sebanyak yang ada dan mungkin ada.

Interaksi dari yang tetap dan berubah, kalau dilihat dari kacamata filsafat, pandangan yang tetap itu seperti cintaku tetap padamu istriku, keyakinanku tetap kepadamu Engkau wahai Tuhanku sejak aku lahir sampai mati pun tetap begitu dan tidak akan mengalami perubahan, sebelum dan sesudah dunia kiamat tetap saja aku ciptaan Tuhan, tetap begitu. Jadi dalam diri ini ada dua unsur yaitu ada yang tetap dan ada yang berubah. Hal tersebut berkaitan dengan mengidentifikasi objek filsafat, objek filsafat yang terdiri dari ada dan yang mungkin ada yang jumlahnya tak berhingga pangkat tak berhingga aku belum bisa mengidentifikasi sifat-sifatnya. Sifat yang penting adalah, ia memiliki sifat tetap atau sifat berubah, ternyata hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Itu lah hidup dan kalau tidak hidup berarti tetap didalam ketetapan contohnya seperti walau aku jadi istrimu aku masih tetap ingat pada pacar lama saya. Terjadilah kerusakan dalam kehidupan. Itu lah mengapa pentingnya mengalami perubahan, makanya penting juga manusia memiliki sifat lupa.

Didalam filsafat itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, yang benar atau yang tepat itu adalah tidak sesuai dengan ruang dan waktu, dalam spiritual kebenaran bersifat absolut, agama itu dokma, suatu kebulatan yang harus dilaksanakan, kitab suci tidak bisa diotak-atik lagi, apakah ada amandemen Al Qur’an?, yang diamandemen itu  Undang-Undang Dasar, tidak ada amandemen al Qur’an, al Qur’an itu dokma yang sudah menjadi ketetapan (absolutely) dan harus laksanakan, serta percaya bahwa manusia memiliki nenek moyang yaitu Nabi Adam AS. Sekarang gunakanlah pikiran, orang silahkan saja membuat Teori, ambil contoh seekor tikus yang diberi radiasi nuklir, nanti pada suatu saat tikus yang diberi radiasi itu bisa menjadi mutan, bisa jadi kelinci dan bisa jadi yang lebih besar lagi seperti kelinci jumbo, karna mutan dipengaruhi radiasi nuklir. Coba dari jaman penciptaan sampai dengan sekarang itu radiasi nuklir dialam sebanyak apa sehingga bisa mempengaruhi jenis dan pola perilaku manusia, kita lihat saja nabi Adam AS. sebagai wadah memiliki banyak karakteristik, punya istri Hawa, dan punya anak-anak. Dari sisi agama dikatakan final, maka orang timur yang didominasi kehidupannya oleh agama biasanya pemikirannya final, sedangkan orang barat yang mengandalkan pikiran biasanya berpikir tebuka, terbuka di belakang atau open di bagian ended, maka ada metode pembelajaran open ended dengan metodenya adalah scientific. Jadi, timur dan barat memiliki beda kultur dan budaya. Secara agama, dogma dan ketentuannya harus diakui, kalau meyakini Tuhan harus lewat keyakinan hati, dan kalau hanya lewat pikiran untuk mencari Tuhan maka belum ada jaminan bisa menemukan Tuhan. Itulah kalau dunia barat menuju ketimur ketemu dengan imam Al-Ghazali, ‘jika engkau ingin bertemu Tuhanmu jangan kau pikirkan tapi kerjakanlah’, filsafat timur mengenalnya dengan ontology gerak, jadi jika ingin ketemukan Tuhan maka kerjakanlah, yang Kristen ke Gereja dan yang Islam ke Masjid, sholatlah kalau Tuhan mengijinkan insyaAllah pasti bisa bertemu Tuhan.

Dunia Barat dan Timur ada perbedaan nilai bijaksana. Bijaksananya dunia barat dalam keadaan masyarakat yang terbuka. Orang yang sedang mencari ilmulah yang bijaksana menurut versi barat, tetapi versi timur karna masyarakatnya sudah tertutup maka yang dikatakan bijaksana dalam versi timur adalah orang yang memberi ilmu. Maka tidak mudah jadi pejabat di Dunia Timur, karena harus bisa mensejahterakan rakyatnya kalau perlu memberi, jadi lurah kalau perlu berani tombok, kalau tidak manipulasilah yang terjadi, makanya korupsi tumbuh subur di dunia Timur, jadi nilai kebijakan di Dunia Timur itu harus mampu memberi. Bapak kembali memberi contoh “Umur 38 dulu saya kuliah di Inggris kemudian 47 saya kuliah filsafat di Gajah Mada, nah dikampung saya ditanyalah a: kok bapak tidak kekampus? Saya menjawab kalau saya kuliah, a: lah terus kalau bapak kuliah anak-anak bapak yang kecil-kecil mau di kasih apa pak ? diambil semua oleh bapak?” (dalam konteks bercanda). Orang tua kuliah itu di Timur canggung, sedangkan di dunia barat dikatakan bijaksana. Karna orang tua di Dunia Timur dianggap sudah saatnya memberi. Maka di Indonesia terjadi interaksi dan transisi budaya, yang pantas di pantas-pantaskan, bahkan yang kurang pantas di pantaskan juga.

Pak marsigit kemudian menceritakan tentang pengalaman beliau, Ketika beliau mengajar di S1, beliau mengajak seorang professor matematika dari salah satu perguruan tinggi terkenal di Amerika untuk ikut ke kelas dimana beliau mengajar, setelah selesai dosen tersebut bertanya kepada pak marsigit, “Pak Marsigit kenapa pada saat mengajar Matematika anda memulainya dengan berdoa?, apa hubungannya antara matematika dengan doa”, pak Marsigit agak kaget dengan pertanyaan dosen tersebut, kemudian pak Marsigit bertanya kembali “Apakah anda tidak percaya dengan Tuhan?”, dia menjawab “belum, karna saya tidak tahu”. Padahal umurnya sudah 60 tahun tapi belum mengenal Tuhan sehingga dia belum percaya, kemudian dia menambahkan “saya berusaha melakukan kegiatan setelah saya memahaminya”. Dari situ bisa tertangkap ketidak konsistenannya. Pak Marsigit bertanya kembali “kamu datang kesini apa tahu akan bertemu saya?”, dia menjawab “tidak”, lanjut pak Marsigit “berarti anda ngomongnya tidak konsisten, kenapa anda datang kesini padahal anda tidak tahu akan ketemu saya”. Jadi berpikir itu mudah sekali kalau ingin tidak konsisten seperti itu. Beliau mengatakan “untuk mengetahui Tuhan tidak cukup hanya dengan pikiran saja, tapi dengan hati, karna itu adalah ranah hati, itu kasusnya mengenai feeling “.  Itu merupakan salah satu contoh. Jadi kalau kita masuk kedunia internasional, itu menjadi sangat plural. Orang yang pecaya dengan Tuhan dan tidak percaya dengan Tuhan sama-sama punya hak. Karena disana adalah Liberal yang absolut, sama-sama punya hak untuk mengiklankan di Televisi tergantung bisa membayar saja, sebenarnya kalau kita tidak kuat atau memperkokoh diri dari sini maka semua perasaan, pikiran dan kebiasaan kita bisa habis disana.

Pertanyaan selanjutnya yaitu dari saudara Ricky yang mengatakan bahwa : “Menanggapi pernyataan yang  ada tadi, agama merupakan suatu dokma yang kita terima secara utuh, seperti halnya juga terhadap fisika, ilmu fisika dapat dibuktikan. Dalam teori evolusi Darwin belum ada bukti yang bisa diterima tapi kenapa bisa dipublikasikan seperti itu, mohon penjelasannya?”

Jawaban dari pak Marsigit : Pertama Teori bisa dikenal itu karna ditulis dan ada buku yang menjadi rujukan, kedua dipublikasikan, ketiga ada sponsornya dan dihidup-hidupkan, dan yang keempat memang ada manfaat. Memang ada manfaat, misalnya orang mau ke Jakarta juga butuh kendaraan dan kenapa harus dibuang motornya, padahal motor juga bermanfaat untuk mengantar ke stasiun kereta atau kebandara. Sama juga kalau kita berpikir tentang teori Big Bang, bermanfaat juga tapi pada level tertentu saja, yang kemudian orang bisa berpikir liar dan berpikir tanpa batas menyimpulkan dengan teori big bang bahwa alam semesta itu terjadinya begitu saja tidak perlu campur tangan Tuhan, tentu dari sisi spiritualitas itu adalah kesombongan yang luar biasa. Akhirnya, ketinggian ilmu dipakai untuk menyombongkan diri, bagaimanapun juga kita tetap manusia, sehebat-hebat apapun dia tetap manusia. Agar kita belajar filsafat ini tetap dalam koridor, tetapkan hati kita kalau sudah menyentuh seperti itu yah sudah cukup untuk pengetahuan saja bukan sebagai sesuatu yang harus kita yakini. Karena itu sudah merubah dunia, begitu kita yakin dan percaya tentang hal itu yang lain akan tereliminasi. Sama saja kalau kita membuka tabir siang maka tabir malam akan tereliminasi.

Jadi, telah diterangkan pada pertemuan yang lalu tentang objek filsafat adalah yang ada dan mungkin ada, semua yang engkau pikirkan apapun itu adalah sebuah wadah, wadah apapun yang ada dan meliputi yang  mungkin ada, ternyata dia juga merupakan isi, rambut berwarna hitam, rambut itu wadahnya sedangkan hitam itu isinya, itulah sebenar-benar wadah adalah subjek dan isi adalah predikat,maka tidak akan pernah didunia ini predikat sama dengan subjeknya, tidak akan pernah warna hitam sama dengan rambut, karna rambut mempunyai sifat tidak hanya hitam, bisa hitam ringan, hitam lebat, panjang, pendek, semiliar pangkat semiliar aku belum bisa menyebutkan sifat-sifat rambut itu. Ternyata sifat-sifat rambut yang merupakan isi dari rambut merupakan wadah juga, hitam kelam, selamanya hitam tidak sama dengan kelam, dan kelam adalah salah satu sifat dari hitam.”Hitam kelam banget”, selamanya kelam tidak sama dengan banget, karna banget merupakan salah satu sifat dari kelam. Jadi, dunia itu berstruktur, salah satu struktur memiliki dua komponen, pengertian apapun komponennya dua yaitu wadah dan isi. Rambut itu isinya kepala, kemudian isinya kepala itu banyak ada kutu, belalang, kepala merupakan isi dari bagian tubuh, demikian seterusnya dan kalau dinaikkan kearah spiritual, wadah dan isi yang berpangkat tadi lama-lama terangkum menjadi satu yaitu kuasa Tuhan yang Esa.

Orang didunia yang sifatnya plural tapi bersikap tunggal dalam filsafat disebut fatal, itulah kaum fatal yang hidupnya seratus persen digantungkan pada takdir, misalnya ditanyakan a: kamu punya uang b?, b: kalau Tuhan mengijinkan akan datang dengan sendirinya, a: tadi motormu dicuri kamu nanti gak bisa pulang b: kalau Tuhan menghendaki nanti motornya kembali. Beliau mengatakan “saya pernah kethailand dengan pejabat, tapi pejabat ini agak sedikit fatal, a: pak laptopnya disimpan pak atau dibawa, b: kalau memang nasibnya hilang ya hilang kalau gak ya nggak, a: kalau orang yang pemikirannya beda dengan bapak gimana, nanti kalau hilang beneran gimana ? b: iya ya”. Urusan akhirat fatal, urusan dunia fital, ternyata susah untuk mendefinikan hidup, bahwa sebenar-benarnya hidup adalah interaksi dinamik antara fatal dan fital. Berikhtiarlah seakan-akan masih hidup seribu tahun lagi, berdoalah seakan-akan besok mau mati, itu sudah kodratnya berinteraksi seperti itu, sifat yang ada dan mungkin ada, kalau ada yang bersifat tunggal itu disebut monoisme disingkat monisme. Monisme itu urusan langit, seperti pertanyaan bu Retno tadi, satu sisi sibuk dengan urusan dunia. Indonesia ini negeri pancaroba (negeri peralihan), apapun ada di Indonesia yang Fatal maupun Vital. Teknologi mengefektifkan dan mengefisienkan urusan dunia, harapannya syukur-syukur bisa mensuport urusan akhirat. Di negri yang paling fatal seperti Birma negri para biksu, biksu tidak butuh apa-apa cukup makan dari pemberian orang-orang disekitarnya, tapi akhir-akhir ini ada hal lucu di Birma, para biksu demo minta listrik, disini dapat terlihat jebolnya tembok pertahanannya dan sudah mulai dipengaruhi capitalism.

Yang ada tadi didalam dan diluar pikiran, yang ada bersifat tetap dan berubah, dan yang ada bersifat satu dan banyak, dari sekian sifat itu mari kita identifikasi kaitannya dengan yang ada didalam dan diluar pikiran. Yang tetap berada didalam pikiran, karena lebih sering terjadi didalam pikiran. Yang tunggal ini ada didalam pikiran, tergantung levelnya, misalnya wanita, kalau didalam pikiran wanita hanya ada satu, kalau diturunkan kebawah wanita itu adalah istri. Istri yang satu itu didalam pikiran. Yang tadi malam ditemui, sekarang di kantor, yang dirumah juga merupakan istri. Contohnya banyak tapi dalam pikiran istri cuma ada satu, dari situlah lahir berbagai macam aliran filsafat.

Pertanyaan berikutnya dari saudari Ulin yang mengatakan “Berkaitan dengan takdir-takdir, ada takdir yang memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT., salah satunya kematian, cara kematian itu berbeda-beda pak ada yang dibunuh diri, ada yang dibunuh, ada yang kecelakaan dan lain-lainnya, yang ingin saya tanyakan mengenai bunuh diri pak, kalau orang bunuh diri itu apakah sudah ketetapan dari Tuhan, kalau memang sudah ketetapan dari Tuhan, dalam islam bunuh diri itu termasuk dosa pak, apakah amal-amalnya sia-sia pak?”

Cara pandang berdimensi yang dipandang pun berdimensi itulah filsafat kemudian di interaksikan dan dari sisi spiritual jelas tadi anda sudah katakan bahwa bunuh diri itu dosa, cara pandang kita bukan seperti itu kalau berfilsafat. Dalam filsafat takdir itu adalah sesuatu yang sudah terjadi, karna itu merupakan pikiran manusia. Kalau dinaikan sedikit ke spiritual, takdir itu bukan yang sudah terjadi saja tetapi yang akan terjadi pula, sekarang kata-katanya dibalik pasti benar bahwa yang terjadi itulah takdir, lebih baik saya katakan yang kedua dari pada yang pertama, yang kedua adalah yang terjadi sudah pasti takdirnya, maka yang belum terjadi masih bisa diikhtiarkan. Hubungannya dengan fatal dan fital yaitu fatal itu takdirnya dan fital itu ikhtiarnya, manusia bisa berikhtiar karna manusia punya potensi dan hidup manusia tidak bisa lepas dari takdir. Tidak bisa anda berikhtiar untuk menentukan hidup diri anda atau anak anda besok, misalnya anda membuat proposal anak anda besok lahir dengan berjenis kelamin laki-laki, tampang sekian, berat segini, dengan rambut seperti ini, mengajukan proposal kepada Tuhan, coba saja apakah akan sesuai dengan selera anda atau tidak. Yakinlah bahwa Tuhan akan membuat jalannya sendiri. Kalau bisa seperti itu “pasti saya sudah pesan sama Tuhan, dilahirkan dari Rahim ratu Elisabeth supaya mendapat warisan istana Backingham”, ternyata hidup itu pilihan tapi yang memilih itu Tuhan, kita tidak bisa memilih kita lahir dari Rahim siapa. Tiga hal yang pokok yaitu lahir jodoh dan kematian, itu sama beratnya, oleh karena itu jangan main-main tentang jodoh karna sama beratnya dengan lahir dan kematian, barang siapa yang bermain-main tentang jodoh, dia akan menderita kesedihan seperti setara dengan menghadapi kematian. Dari sisi agama itu adalah rasa bersyukur, karna yang terbaik seperti itulah. Pikiran ini bersifat parallel yang ingin diucapkan begitu bayak dan sudah menyundul-nyundul dikepala, tapi mulut bersifat seri jadi satu persatu kalimat saling bergantian dikeluarkan. Sehingga dikatakan bahwa manusia hidup karena tidak sempurna. Dalam berkata saja masih harus memilih kata-katanya. Maka sebenar-benarnya hidup itu adalah pilihan. Sungguh manusia itu tidak pernah adil, dia tidak bisa melihat kebelakang karena matanya hanya ada didepan. Manusia itu terpilih, dalam filsafat disebut sebagai aliran Reduksionisme. Manusia itu terpilih atau dipilih. Penglihatan, nafas, hidup semua dipilih. Jadi manusia hidup karna pilihan.

Pertanyaan berikutnya di sampaikan oleh Ricky, “Tadi bapak mengatakan bahwa istri bapak cuma satu dipikiran bapak, bagaimana dengan yang berpoligami? Apakah istrinya cuma satu saja dipikirannya dan yang lain menjadi contoh atau sudah berganti lebih banyak lagi pak?”

Dari sisi filsafat itu level pemahaman tadi, dari mana aku mau mengklaim yang satu itu, kalau aku naikan bahwa yang satu itu istri dan turunkan bahwa empat istri itu adalah contoh, tapi tetap saja dalam pikiran saya istri cuma satu sebagai wadah, sedangkan empat tadi adalah isinya. Yang empat tadi memiliki contoh-contoh yang lainnya. Itulah level pemahaman, dimensi berpikir dan dimensi hidupnya. Hidup ini memang berlevel, tapi kalau sudah sampai kebawah (istri yang ke satu, dua, tiga dan empat) itu sudah temasuk kedalam aspek psikologis, tergantung pada psikologi orang yang mengalaminya.

Pertanyaan selanjutnya ditanyakan oleh saudari Azmi, “pak apakah filsafat itu bertentangan dengan motivator?, tadikan kata bapak kalau segala sesuatu yang terjadi sudah ditetapkan oleh Tuhan, sedangkan motivator itu punya target untuk berubah dan menuju kesempurnaan.”

Segala sesuatu itu berpasang-pasangan dan selalu mencari jodohnya, setiap yang ada dan mungkin ada itu adalah tesis, dan selain yang ada satu itu merupakan anti tesisnya, diriku merupakan tesis, maka semua selain diriku merupakan anti tesisnya. Dalam agama semua ketetapan yang telah diatur merupakan tesis sedangkan anti tesisnya merupakan ikhtiar. Tesisnya takdir maka anti tesisnya fital, tesisnya fatal maka anti tesisnya potensi, sehingga motivator itu mengembangkan potensi supaya manusia itu punya potensi, dan sebenar-benarnya hidup adalah berkembang menjadi suatu potensi dari ada menjadi pengada melalui mengada. Maka segala sesuatu yang berubah diikhtiarkan semua keatas, disitulah duduk yang namanya keikhlasan. Tiadalah perubahan terjadi kalau tanpa keikhlasan. Kalau kita lihat diruangan ini terdapat bermilyar-milyar keikhlasan, terjadinya kaca dan tembok yang sempurna  berasal dari bahan mentah hingga proses pembuatannya itu adalah keikhlasan. Jadi namanya keikhlasan adalah terwujudnya pengada (wadah) dari yang ada melalui mengada (ikhtiar). Selaras dan terangkum yang namanya motivator itu. Apa bedanya motivator dan filosofer? Kalau motivator itu sudah turun sedikit kemudian datar untuk kontrol dan kendali, apa bedanya Filosofer dan Psykologi ? sama. Seorang filosofer itu duduk di lobi dan melakukan refleksi, dia tidak masuk gang-gang sempit yang didalamnya ada psykologi, matematika, dan ilmu-ilmu lainnya.

Kemudian pertanyaan terakhir berasal dari saudari Fitri, “Saya ingin bertanya pak, bagaimana cara mensinergikan apa yang ada dihati dan pikiran sehingga tidak menimbulkan penyesalan dan kontradiksi-kontradiksi terhadap apa yang telah kita lakukan?”

Yang ditemukan Immanuel Kant, isi bisa sekaligus menjadi wadah, tapi isi tidak sama dengan wadahnya. Contohnya tadi rambutnya berwarna hitam, itu yang disebut sebagai kontradiksi dalam filsafat , hidup itu penuh dengan kontradiksi. Prinsip yang kedua adalah prinsip identitas, A sama dengan A itu hanya terjadi didalam pikiran, karna pikiran sudah terbebas dari ruang dan waktu, jadi selagi dia diucapkan maka A yang aku ucapkan pertama dan A yang aku ucapkan kedua, A yang kurus dan A yang gemuk, jadi dalam kehidupan tidak ada A sama dengan A, matematika yang kamu pelajari itu hanya ada sebatas didalam pikiran semata. Padahal Dunia Anak adalah dunia di luar pikiran. Oleh karena itu manusia selalu diwarnai dengan kontradiksi-kontradiksi, saya bisa makan, minum dan bernapas itu semua karna hasil kontradiksi antara oksigen dan darah merah. Dengan kontradiksi itulah maka kita bisa hidup, maka manusia tidak bisa terhindar dari kontradiksi, yang jadi persoalan sekarang adalah bagaimana cara kita mengidentifikasi kontradiksi seperti apa, mana yang produktif dan mana yang kontraproduktif. Selanjutnya, kedudukan kontradiksi itu ada dimana? Isi atau wadah bagian mana yang mengalami kontradiksi ? semakin rendah posisi semakin dia ada didalam predikat semakin tinggi dia mengalami kontradiksinya, semakin tinggi posisinya maka semakin kecil kontradiksinya, paling tinggi dirangkum kedalam kekuasaan Tuhan yang absolut dan tidak ada kontradiksi didalamnya. Tuhan tidak mengenal kontradiksi yang mengenal kontradiksi hanyalah manusia. Manusia siapa? Bagi adikmu kamu sama sekali tidak mempunyai kontradiksi sedangkan bagi dirimu adikmu itu penuh dengan kontradiksi, karna dia adalah keseluruhan penggambaran dari sifat-sifatmu, karna wadah memiliki banyak sifat dan adikmu itu adalah salah satu isinya. Semilyar kali kamu belum bisa menjawab kontradiksi dari adikmu itu. Orang jawa punya solusi, solusinya adalah “ngono yo ngono, neng ojo ngono”, yang artinya “begitu ya begitu, tetapi jangan begitu”, yang satu wadah dan yang satu isi. Minum ya minum (wadahnya) tetapi jangan sambil berdiri (isinya). Ngomong ya ngomong tapi ya jangan sambil marah.(Terkadang belajar filsafat itu harus dipikir dulu baru lucu). Itu kejadiannya, sekarang bagaimana didalam hati kita, perasaan menyesal tadi psikologi. Sekali lagi pengetahuan itu bersifat kontradiksi, bersifat pertarungan antara tesis dan antithesis yang bersintesis menghasilkan pengetahuan baru. Anda sebagai peneliti harus siap untuk mensintesis pengetahuan-pengetahuan lama menjadi pengetahuan baru. Silahkan perbesar kontradiksi anda tapi jangan sampai turun kedalam hati karna kalau sampai turun keranah hati itu adalah syaitan, dan cara agar tidak ada kontradiksi dihati (seperti menyesal, dan lainnya) itu adalah dengan doa kepada Sang Pemilik hati, setinggi-tingginya doa adalah menyebut namaNya. Cuma kalau orang awam seperti kita ini bermilyar-milyar memanggil namaNya belum tentu didengar. Mustajabnya suatu doa karna dijalankan. “Pengalaman spiritual saya yaitu diam didalam masjid yang saya tuangkan dalam ritual ikhlas.” Agar kita terbebas dari godaan syaitan jangan diberi peluang. Syaitan sekarang sudah canggih, syaitan sekarang sudah menempel di diri manusia, syaitan sekarang sudah berwujud manusia, yang koruptor, para preman dan lainnya. Cara menghindarinya yaitu disetiap menit walaupun kau sadar dan tidak sadar penuhilah dengan doa dan doa yang paling tinggi yaitu memanggil namaNya. Apabila engkau merefleksikan terjaminlah di dunia dan diakhirat.

Dari jawaban-jawaban diatas dapat dikatakan bahwa hidup merupakan suatu interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Didalam hidup manusia memiliki objek filsafat yang ada dan mungkin ada. Yang ada berada didalam dan diluar pikiran, yang bersifat tetap dan berubah, dan yang bersifat satu dan banyak. Yang tetap dan satu  berada didalam pikiran, karena lebih sering terjadi didalam pikiran. Semua yang dipikirkan merupakan suatu wadah dan memiliki isi. Isi dapat menjadi wadah, tetapi isi selamanya tidak akan sama dengan wadahnya. Hidup manusia merupakan pilihan dan hidup manusia dipenuhi dengan kontradiksi, itulah mengapa manusia dikatakan tidak sempurna dan jika manusia sempurna maka ia tidak akan hidup didunia ini. Begitu pentingnya filsafat untuk memahami semua hal tentang kehidupan ini, semakin banyak engkau belajar berfilsafat maka semakin banyak engkau dapat mengetahui tentang arti kehidupan. Marilah kita bersama-sama belajar berfilsafat dengan cara membaca, membaca dan membaca. Semoga bermanfaat.


Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatu

74 comments:

  1. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bersyukur bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah dengan rajin kepada Tuhan, bukan hanya tentang bagaimana kita mencari pahala sebanyak-banyaknya. tetapi bersyukur juga mencakup bagaimana kita menggunakan semua potensi dan anugerah yang Tuhan berikan kepada kita dengan sebaik-sebaiknya dengan maksimal dan tentu untuk kebaikan umat manusia di dunia

    ReplyDelete
  2. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjalani hidup bukanlah hal mudah apabila tidak dapat menikmatinya. Kunci dari kebahagiaan hidup adalah bersyukur dan menikmati setiap dinamikanya.

    ReplyDelete
  3. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berusaha menjadi yang terbaik dalam segala hal adalah lumrah bagi setiap manusia, hanya saja semua harus dilakukan dengan cara yang baik pula.

    ReplyDelete
  4. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, kita mengetahui bahwa hidup adalah suatu interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Sebaiknya kita selalu berproses mengarah dalam kebaikan dan meningkatkan potensi kita.

    ReplyDelete
  5. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kita berawal dari tidak tahu menjadi tahu. Ada kalanya kita lebih baik bergerak dari zona nyaman ke zona yang lebih ada tantangan agar kita dapat merasakan perubahan dan berpikir terbuka, serta dapat berkembang. Melewati ini jelas tidak mudah. Akan tetapi saat kita sudah melewatinya otomatis dimensi kita akan naik.



    ReplyDelete
  6. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam hidup ini jika ingin maju maka tidak lepas dari yang namanya berikhtiar. Ikhtiar adalah berusaha melakukan segala daya dan upaya untuk mencapai sesuatu sesuai dengan yang dikehendaki. Artinya usaha itu merupakan pilihan bagi manusia. Jika ia melakukan usaha maksimal maka Insya Allah hasilnya juga memuaskan.

    ReplyDelete
  7. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Martabat seseorang juga tidak lepas dari usahanya untuk bisa bermartabat. Manusia dilahirkan denga n potensi masing-masing. Jika manusia berusaha memaksimalkan potensi dirinya maka tidak mungkin ia bisa berubah kondisinya dari yang mulanya mungkin kurang bisa menjadi orang yang lebih berilmu dan berada.

    ReplyDelete
  8. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Saat hidup seseorang sudah berusaha, kemudian ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Dia bisa melakuka banyak hal, bermartabat secara materi, bermartabat secara ilmu, dan juga punya jabatan. Ada sesuatu yang patut diingat baik-baik, yaitu tidak boleh terlena dengan keadaan yang ada. Sesungguhnya kekayaan, jabatan adalah ujian. Jangan sampai bersikap sombong dan meremehkan orang lain.

    ReplyDelete
  9. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Budaya instan, berkaitan dengan matematika di sekolah. Khususnya saat menjelang ujian akhir atau UN, siswa pasti lebih mengedepankan cara instan dari pada cara aslinya atau cara logic nya. Biasanya pada bimbel, pasti pada akhir pembelajaran akan diberikan cara instan. Walau sebelumnya sudah diberikan cara dasarnya, tetapi bagi siswa pasti akan lebih mengedepankan cara cepatnya

    ReplyDelete
  10. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Menggunakan yang isntan itu tidak akan mengembangkan pola pikir siswa. Cara instan hanya berlaku pada syarat-syarat tertentu, sedang jika kita menggunakan cara dasarnya, kita bisa mengerjakan semua tanpa harus menghafalkan banyak cara-cara instan. Cara sewajarnya, membuat siswa bisa lebih mengembangkan cara berpikirnya

    ReplyDelete
  11. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kebanyakan orang pasti akan meilih jalan yang mudah dari pada jalan yang sulit, tetapi orang yang berkembang akan lebih mengutamakan jalan yang lebih sulit dibanding jalan yang mudah. Karena hidup itu pilihan, dan kebanyakan orang memilih jalan yang mudah. Misal dalam suatu tes, jika orang yang suka budaya instan pasti akan memilih jalur ilegal seperti membayar agar langsung diloloskan. Berbeda dengan orang berkembang, ia akan berusaha mengerjakan tes tersebut dengan cara belajar dan belajar

    ReplyDelete
  12. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam hidup urusan antara duniawi dan urusan spiritual haruslah seimbang. Kita berusaha di dunia tanpa adanya ikatan spiritual dengan Tuhan akanlah susah. Jika Tuhan tidek berkehendak, tidak akan terwujud apa yang kita inginkan sekeras apapun kita berusaha

    ReplyDelete
  13. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Ddalam fiilsafat tidak ada benar dan salah, karena itu berkaitan dengan ruang dan waktunya. Yang dapat menilai benar dan salah hanyalah pikiran masig-masing orang, karena filsafat adalah berkaitan dengan pikiran

    ReplyDelete
  14. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Dalam refleksi yang dipaparkan diatas sangat menarik untuk diikuti, Jika ada yang mudah mengapa dipersulit. menunjukkan kemalasan, cenderung berada pada zona nyaman. Namun dari sisi lain mempunyai kesan dan pesan yang tinggi untuk saling memberikan kemudahan, tidak mempersulit sehingga waktu, tenaga, pikiran tidak terbuang sia-sia. Hal ini yang diajarkan dalam nilai kehidupan, sebab ada hal yang sangat banyak yang harus segera di tangani. Yang kedua, Jika bisa mengerjakan yang sulit mengapa pilih yang mudah. Hal ini tepat di terapkan pada dataran praktik pembelajaran dan proses belajar seorang. Dengan hal itu seorang akan tertantang untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

    ReplyDelete
  15. Setelah membaca, saya memahami bahwa di dalam filsafat itu tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Tiadalah perubahan terjadi kalau tanpa keikhlasan. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari pertanyaan dan jawaban-jawaban dari Bapak.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  16. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Ketika dulu masih menjadi siswa, mempelajari tentang teori revolusi, bagaimana asal nenek moyang manusia, menurut teori darwin berasal dari monyet, padahal saya sebagai seorang muslim ditanamkan dalam diri bahwa Allah menurunkan Nabi Adam sebagai manusia pertama yang diturunkan di dunia. Tentu terjadi pergolakan antara pikiran dan perasaan. Namun karena absolut adalah milik Allah, dan manusia memiliki banyak elemen kontradiksi dihidupnya, pergolakan memang akan sering terjadi.

    ReplyDelete
  17. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Setelah membaca refleksi perkuliahan tersebut, kami (saya) merasa tambah yakin bahwa dalam kehidupan ini kita senantiasa di hadapkan pada kontradiksi-kontradiksi. Bagaimana kita dalam menghadapi dan menyikapi kontradiksi-kontradiksi itu lah yang perlu kita pelajari. Setelah membaca ini, saya merasa ada tambahan wawasan dalam bagaimana menghadapi situasi demikian.

    Terima kasih banyak atas share refleksi yang sangat menginspirasi ini.

    ReplyDelete
  18. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Saya tertarik membaca tulisan ini, meskipun ternyata bagi saya tulisan ini panjang dan melelahkan. Yang menggelitik saya untuk membacanya adalah sapaan Pak Marsigit pada kuliah tadi siang, “What is your life?” Pertanyaan yang menohok (sebagai seorang yang pernah mempelajari Bahasa tersebut), sekaligus menggembirakan karena bisa menertawakan diri sendiri (yang menjawab tepat seperti apa yang Anda duga, bahwa saya tidak bisa menjawabnya, haha…).
    Pertanyaan sederhana yang bermakna “Bagaimana kabarmu?”, yang Anda tutup dengan ungkapan ‘bahasa itu pengalaman’, bukan hanya teori saja. Anda ceritakan bahwa pertama kali ditanya demikian ketika di London, Anda juga kebingungan apa maksudnya. Saya mengira Anda sedang bertanya apa itu hidup bagi saya. Ternyata menanyakan kabar. Tepat di sini saya mulai menerima untuk mengalami ‘kebingungan-kebingungan’ yang membuat saya hidup dan berada di sini, bertemu Anda dan teman-teman, yang kelak akan menjadi goresan ‘pengalaman’. Yah, filsafat itu pengalaman juga. Karena pengalaman, lalu lucunya belakangan, setelah dicoba dikisahkan lagi, haha…

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Melihat betapa herannya professor dari Amerika Serikat yang ikut masuk ke dalam kelas bersama Pak Marsigit, saya menyayangkan negara sebesar Amerika Serikat tidak biasa menerapkan berdoa sebelum belajar. Kita tahu sebagian besar penduduk AS masih mempercayai Tuhan, tentu saja sesuai dengan kepercayaan masing-masing yang beragam. Saya hanya tidak habis pikir mengapa pemerintah tidak terpikir untuk menggalakkan berdoa sebelum belajar ke dalam sistem pendidikan di Amerika Serikat.

    ReplyDelete
  20. nama : Alfiramita Hertanti
    kelas : S2-PMA 2017
    NIM : 17709251008

    terima kasih, pak. tulisan ini lumayan panjang namun menarik untuk direnungkan bersama. saya ingin sedikit menambahkan bahwa, filsafat mengajarkan kita untuk berfikir jernih agar tidak terjebak dalam kesesatan dalam berifikir. menurut Enrich Fromm, masalah fundamental dalam kehidupan manusia adalah masalah eksistensi. dalam sejarah umat manusia, filsafat telah menjadi salah satu jawaban untuk menjawab perihal eksistensi manusia di bumi ini. meskipun ada banyak cabang dan alisan filsafat, namun orientasinya tetap sama yaitu untuk mencapai kebijaksanaan hakiki. saya sepakat dengan Fromm bahwa kebermaknaan hidup akan hadir dalam aktivitas produktif seperti mngembangkan seluruh kepribadian yang berdiri atas ilmu pengetahuan. salah satu contohnya adalaha kegiatan mengajar (transfer of value)

    ReplyDelete
  21. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Dari banyak sekali ilmu dan pengalaman yang bapak bagikan ketika kuliah (berdasarkan refleksi diatas). Saya tertarik dengan kisah dosen yang tidak mempercayai Tuhan. Seperti kata bapak "Untuk mengetahui Tuhan tidak cukup hanya dengan pikiran saja, tapi dengan hati, karna itu adalah ranah hati, itu kasusnya mengenai feeling." Disini saya melihat adanya keseimbangan hati dan pikiran dalam menjalani hidup. Dimana saat ini mungkin banyak orang lebih mengutamakan pikiran dan tidak menggunakan hati mereka dengan semestinya. Mengerucut ke bidang pendidikan, perlukah seorang pendidik, menggunakan hati dalam proses pembelajaran? Dalam hal ini mungkin pendidik atau guru menemui kesuliatn dalam mengajar beberapa siswa yang memiliki " keistimewaan" yang tentu saja mmbutuhkan kesabaran dan keikhlasan tidak hanya keikhlasan pikiran, namun juga keikhlasan hati.

    ReplyDelete
  22. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dari segala hal yang diberikan pada artikel ini, saya memiliki benang merah pada saat kita berfikir tentang filsafat. Benang merah tersebut adalah Spiritualisme yang tidak boleh selalu ditinggalkan dalam memahami filsafat atapun cabang ilmu yang lainnya. Karena sesungguhnya memang benar adanya jika kita menentukan membenarkan teori karena mengandalkan akal kita saja tanpa diiringi dengan hati, maka tampak kesombongan manusia yang menganggap inilah yang paling benar. Karena pada hakikatnya memang benar seperti yang saya katakan pada komentar di artikel-artikel sebelumnya bahwa pernyakit orang yang memiliki ilmu yang lebih adalah kesombongan. Contoh yang bapak berikan mengenai wadah dan isi memang sebenarnya kita selalu hidup dengan adanya wadah dan isi naming keduanya tidak memiliki kesamaan. Setelah mebaca hal tersebut saya berfikir memang benar adanya, jika kita mengungkapkan suatu keyakinan, belum tentu semua orang itu memiliki keyakinan yang sesuai dengan keyakinan kita. Itulah yang disebut dengan antithesis dari apa yang kita yakini. Karena kontradiktif dalam kehidupan kita itu selau terjadi dimanapun dan kapapnpun kita berada. Kontradiktif disini saya menyimpulkan tidak terbatas oleh perbedaan pandangan saja, karena yang memiliki pandangan yang sama itu juga bisa dikatakan dnegan kontradiktif karena pemahaman kita yang saling berbeda satu sama lain.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  23. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Refleksi kali ini mengajarkan bahwa kehidupan ini memang penuh dengan kontradiksi. Contohnya saja dalam hal kebaikan, perbuatan baik kita pun bisa dipandang buruk bagi orang lain. Standar kebaikan kita belum tentu sama dengan standar kebaikan dengan yang lain. Sebagai manusia, kita hanya bisa berfikir dan bersikap mempertahankan nilai-nilai yang kita anggap benar. Dengan kontradiksi-kontradiksi dalam hidup, kita dapat mencari jalan untuk memperbaiki hidup agar menjadi lebih baik. Jadi kita harus terbiasa dengan kontradiksi dalam pikiran tetapi jangan berkontradiksi menggunakan hati. Karena apabila terjadi kontradiksi di dalam hati maka semua akan menjadi kacau.

    ReplyDelete
  24. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Bagi yang agama Islam, kita mengetahui bahwa arti hidup kita di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah. Ternyata, arti hidup dalam kacamata filsafat pun sejalan dengan arti hidup menurut agama Islam. Secara umumm, arti hidup menurut kacamata filsafat adalah, dalam hidup ini berikhtiarlah seakan-akan masih hidup seribu tahun lagi, berdoalah seakan-akan besok mau mati. Manusia hidup di dunia ini juga sudah ditentukan takdirnya oleh Allah SWT, tetapi kita sebagai manusia tidak boleh hanya menerima saja, karena apa yang terjadi itulah takdirnya, dan yang belum terjadi masih bisa kita ikhtiarkan. Selain itu, kita juga sering mengatakan bahwa hidup ini adalah pilihan. Tetapi yang lengkapnya menurut kacamata filsafat ialah, hidup itu pilihan tetapi yang memilih itu adalah Tuhan. Sehingga dalam hidup ini, jangan sedih apabila yang kita harapkan tidak tercapai, karena itu adalah pilihan dari Allah SWT dan Insyaallah yang terbaik untuk kita.

    ReplyDelete
  25. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya Pak. Refleksi kali ini kembali mengingatkan saya bahwa sebaik-baik perubahan adalah perubahan menjadi lebih baik. Salah satu contohnya adalah perubahan dari pribadi yang tidak mau berjuang, berada di zona nyaman, tidak mau meningkatkan diri dan berbudaya instan menjadi orang yang kreatif, cerdas, pekerja keras, suka tantangan dan ingin berkembang sebagaimana yang Bapak kemukakan pada tulisan di atas.

    ReplyDelete
  26. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Saya sangat menikmati saat membaca salah satu refleksi dari perkuliahan Filsafat Ilmu ini. Hal ini dikarenakan saya juga telah menemukan arti hidup melalui pengalaman pribadi saya sendiri. Segala sesuatu yang terjadi baik itu baik dan buruk, menurut saya semuanya sudah atas izin Tuhan dan sebagai manusia diharapkan dapat menghayati segala peristiwa yang terjadi. Pengalaman merupakan guru yang berharga di dalam hidup. Melalui pengalaman jugalah manusia dapat berubah menjadi lebih baik lagi dan memiliki pola pikir yang lebih terarah.

    ReplyDelete
  28. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof, selamat malam.
    Dengan berfilsafat saya semakin tahu tentang arti hidup. Arti hidup yang yang kerap menimbulkan kebingungan, karena di dalam hidup ini memang dipenuhi dengan kontradiksi. Namun, kebingungan itulah yang akan mengantarkan pada pengetahuan yang baru. Semakin banyak yang dipikirkan maka akan semakin banyak yang dipahami. Satu hal penting yang perlu kita ingat dalam memikirkan hidup ini, yaitu jangan sekali-kali meninggalkan hati. Gunakan hati sebagai pedoman, ketika pikiran sudah mengembara jauh dan kita tidak tahu harus berhenti dimana, maka ingat agama kita masing-masing. Maka saya sangat setuju dengan pernyataan di atas untuk berikhtiar seakan-akan masih hidup seribu tahun lagi dan beribadah seakan-akan besok mau mati

    ReplyDelete
  29. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Banyak penemuan-penemuan mutakhir muncul pada zaman dahulu denga pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Tidak bisa dipungkiri bahwa orang-orang yang hidup saat ini sangat banyak yang memilih jalan instan.
    Keputusannya kembali pada diri masing-masing. Memilih instan maka kita memilih menjadi manusia yang pasif, malas, dan tidak mau berkembang. Namun, jika memilih tidak instan maka kita memilih menjadi orang yang aktif, produktif, dan selalu ingin menjadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  30. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum. Wr.Wb
    Terimakasih bapak atas postingannya. Postingan refleksi ini memberi wawasan kepada saya mengenai hidup dalam kacamata filsafat. Jadi dalam hidup itu ada dua jenis manusia yaitu manusia yang pantang menyerah, dan manusia yang punya usaha lebih untuk maju. Jadi, ada manusia yang hanya memilih mengerjakan sesuatu dengan yang mudah karena disini manusia tidak mau berfikir kritis, hanya sekedar menjalani A ya A saja, tidak mau ambil pusing. Dan manusia yang kedua adalah manusia yang lebih memilih mengerjakan yang sulit selagi dia bisa, ini adalah orang yang punya tekad, dan motivasi untuk melakukan sesuatu, ingin sesuatu yang menantang. Selain itu, di
    kacamata filsafat memandang juga bahwa ternyata hidup itu adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah, jadi hidup dapat di definisikan sebanyak yang ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  31. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Setelah saya membaca postingan Bapak saya belajar tentang arti hidup. Manusia tidak memiliki hak untuk bersikap sombong. Hidup manusia hendaknya dipenuhi dengan sikap rendah hati dan keikhlasan. Arti hidup manusia adalah ketika bisa memposisikan sebagai makhluk di hadapan Tuhan dan bisa mengelola kontradiksi-kontradiksi dalam hidup dengan baik.

    ReplyDelete
  32. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B / 2017

    Semakin saya berhadapan dengan komputer yang menyangkan postingan-postingan bapak, saya baca (walau baru beberapa), semakin saya lupa bagaimana cara menyimpulkan. Sejujurnya, saya pernah salah, menyimpulkan padahal baru melihat luar yang paling luar milik satu luar, habis itu menyesal. Yang saya simpulkan terdahulu saya anggap benar, saya baca yang lain, saya sadar kesimpulan saya terdahulu salah. Apakah akan terjadi, jika saya mampu menyelesaikan membaca postingan bapak (dan bacaan sumber lain) saya akan menjadi bisu? kehabisan kata untuk berkata?
    Yang selalu saya ingat pesan bapak, "jangan biarkan hati saya kacau."

    ReplyDelete
  33. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari postingan di atas pada bagian ‘budaya instan’ saya dapat menyimpulkan bahwa manusia cenderung menginginkan yang cepat atau instan. Hal ini seenis dengan sifat manusia yang tidak mau berjuang, nyaman di zona aman, tidak mau meningkatkan diri, santai, gampang menyerah, tidak ingin berkembang, tidak mau bekerja keras, motifasi kurang, difensif, tidak kreatif, masa bodoh, tidak cerdas,. Sedangkan kebalikan dari sifat-sifat buruk tersebut adalah keinginan berjuang bukandengan instan yang sejenis dengan kreatif, cerdas, pekerja keras, ulet, suka tantangan, ingin, berkembang, serta motivasi yang tinggi. Kadang manusia berperilaku atau memiliki sifat yang baik kadang yang buruk. Namun, hidup yang lebih baik adalah apabila dari sifat yang buruk berubah menjadi sifat yang baik.
    Saya akan menanggapi tentang penciptaan alam dalam konsep ada dan tiada, khususnya dalam penciptaan manusia di bumi ini. Dalam filsafat ada yang tetap dan ada yang berubah. Saya setuju bahwa hidup ini merupakan interaksi yang tetap dan yang berubah. Hal ini juga saya gunakan untuk menanggapi bagaimana penciptaan manusia di bumi. Menurut saya sebagai seorang yang memiliki spiritual, saya yakin bahwa manusia itu memang dari dulu sudah berwujud manusia sempurna bukan kera atau sejenisnya. hal yang tetap terlihat pada wujud manusia itu. Sedangkan pikiran, perilaku, dan budaya manusia pertama hingga sekarang itu pasti berubah dan berkembang sesuai dengan zaman dan potensi manusia itu sendiri. Inilah yang disebut perubahan yang terjadipada manusia. Jadi dalam menyikapi penciptaan manusia di dunia ini saya meyakini bahwa kehidupan di dunia khususnya manusia merupakan interaksi yang tetap dan yang berubah.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  34. Assalamualaikum WR. Wb
    Junianto
    17709251065
    PM C

    Berbagai hal yang bersifat instan nampaknya sudah mulai membudaya di kehidupan kita. Misalnya dari segi makanan, sudah banyak sekali makanan yang instan dan hanya membutuhkan waktu sebentar saja kita sudah bisa makan. Namun, sesuatu yang instan tentu memiliki dampak positif dan negatif, segitu juga dalam hal pembelajaran matematika. Sesuatu yang instan memang lebih cepat dan terkadang lebih mudah dipahami, tetapi dampak jangka panjangnya yang perlu kita antisipasi. Dengan budaya instan tersebut akan membuat pikiran siswa tertanam sesuatu yang cepat dan tidak mengutamakan proses dan hasil. Padahal proses adalah hal yang sangat penting dan perlu
    di perhatikan secara mendalam.

    ReplyDelete
  35. Assalamualaikum. Wr.Wb

    Arina Husna Zaini
    17701251024
    PEP B
    Menanggapi tentang siswa yang pada saat ini lebih memilih hal instan memang tidak dapat di pungkiri lagi bahwasanya.
    Pada era globalisasi seperti ini manusia telah di suguhkan oleh berbagai hal instan dan teknologi yang mempermudah pekerjaan dan kebutuhannya. tentunya berbagai kemudahan akan di ambil dan digunakan apabila manusia tersebut dapat menjangkaunya. contoh seperti ketika dia ingin naik pesawat otomatis dia harus memiliki biaya yg cukup untuk membeli tiket pesawat. dan ketika manusia merasa lapar tidak harus memasak, namun cukup pesan melalui aplikasi jasa pembelian makanan untuk di antar d rumah tentunya dia harus membayar lebih untuk jasa ini.oleh karena itu segala hal yg instan dan yang mempermudah manusia harus di bayar dg imbalan yg setimpal. Jika manusia menginginkan kemudahan ataupun hal instan namun tidak sanggup untuk membayar atau mengganti jasa dg hal yg setara, sementara ia kesukitan mencari hal yg digunakan untuk membayar jasa atau uang, bisa saja ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. oleh karena itu dengan adanya teknologi dan berbagai kemudahan yang bersifat instan tidak lepas dengan berbagai dampat baik dan buruk yang di timbulkan. sebagai manusia ciptaan Tuhan kita harus tetap taqwa, istiqomah guna menghadapi segala dinamika hidup ini.
    terlebih siswa yg pada masanya masih dalam masa yg labil dan gampang terjerumus dalam nafsunya, seringkali tegiur dg hal hal yg saat ini sedang ngetren pada hal belum tentu memberi manfaat.oleh karenya agar mereka yakni siswa sebagai remaja tetap tumbuh dg baik tanpa tergiur hal2 yg instan karena nafsu, dibutuhkan berbagi pihak meliputi orang tua, teman, keluarga dan lingkungan untuk mendukung dg memberikan hal hal yg positif. terima kasih

    ReplyDelete
  36. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Refleksi yang disampaikan Saudari Tri sangat baik. Saya tertarik mengenai budaya instan. Saat ini, banyak generasi muda yang lebih menyukai budaya instan yang katanya lebih simpel dan tidak ribet. Namun perlu disadari bahwa budaya instan telah membawa generasi saat ini menjadi pribadi yang malas-malasan, tidk mengenal proses, dan yang penting mendapatkan hasil yang baik. Begitu juga dalam dunia pendidikan, siswa lebih sukan diajari cara cepat tanpa harus mengetahui proses menemukan konsep itu sendiri. Yang penting mendapatkan nilai yang bagus atau bahkan sempurna tanpa mengetahui proses mengerjakannya.
    Solusinya adalah dimulai dari dini di lingkungan sekolah. Siswa sedari TK atau SD dibiasakan untuk memperoleh konsep materi pembelajaran dari pengalaman siswa menemukan konsep tersebut sehingga ia terbiasa untuk melakukan proses sebelum memperoleh hasil. Oleh karena itu, guru hendaknya mempersiapkan pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai subjek belajar bukan sebagai objek belajar.

    ReplyDelete
  37. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari postingan diatas mengenai refleksi perkuliahan, saya tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh Heru Tri Rizky Novi yang menanyakan bagaimana tanggapan filsafat tentang pendapat Ilham Nokhen tentang penciptaan alam ini yang dalam konsep ada dan tiada. Jawaban Bapak yaitu dari kacamata filsafat memandang bahwa hidup itu adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah, jadi hidup dapat di definisikan sebanyak yang ada dan yang mungkin ada.
    Dari sini saya memahami bahwa di dalam diri seseorang terdapat kolaborasi yang hebat antara dua unsur yaitu yang tetap dan yang berubah. Artinya hidup itu tetap di dalam perubahan, dan berubah di dalam ketetapan. Maka sebagai manusia, sudah seharusnya kita mempunyai keseimbangan antara keduanya. Karena jika tidak, maka akan terjadi kerusakan di dalam hidup.

    ReplyDelete
  38. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika

    Saya setuju dengan pernyataan bahwa dengan berfilsafat kita jadi bisa lebih memahami arti kehidupan. Salah satu kunci nya yaitu dengan memperbanyak bacaan. Tetapi tidak hanya itu, bahkan jika bergaul dengan seseorang yang mempelajari filsafat pun dapan membuat pola pikir kita ikut berubah.

    ReplyDelete
  39. Insan A N/Magister PMat C 2017
    Pertanyaan tentang budaya instan sangat menggelitik, terutama bagian kalimat "kalau ada yan susah, kenapa cari yang mudah" . Menggelitik sekaligus menarik karena saya punya pengalaman terkait hal ini. Pada suatu even kegitan sekolah, terkesan teman2 panitia menyukai hal yang ribet, padahal bisa dilakakukan dengan cara sederhana.Contohnya tentang menata bunga, hanya perkara menata bunga sampai harus rapat lumayan lama. Oleh karena muncullah istilah "kalau ada yan susah, kenapa cari yang mudah".

    ReplyDelete
  40. Assalamualaikum. Wr.Wb

    Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B

    "Silahkan perbesar kontradiksi anda tapi jangan sampai turun kedalam hati karna kalau sampai turun keranah hati itu adalah syaitan, dan cara agar tidak ada kontradiksi dihati (seperti menyesal, dan lainnya) itu adalah dengan doa kepada Sang Pemilik hati, setinggi-tingginya doa adalah menyebut namaNya" dari sini saya paham. Apapun yang akan kita lakukan sekarang, atau dimasa depan libatkan Allah dalam segala hal. Kita boleh mencari ilmu dengan setinggi-tingginya, mencari tahu apapun yang kita mau, namun jika itu sudah termasuk Aqidah maka jangan sampai ilmu tersebut dilibatkan dengan hati. dan dari bacaan ini saya bisa menyimpulkan "Teguh Pendirian" adlah hal yang terpenting dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  41. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Izinkan saya mengutip sedikit “ hidup manusia merupakan pilihan, dan hidup manusia dipenuhi dengan kontradiksi, itulah mengapa manusia dikatakan tidak sempurna, dan jika sempurna maka tidak akan hidup di dunia ini” pernyataan ini merefleksikan bagaimana memaknai hidup dengan menata pola pikir pada perubahan didalam ketetapan agar manusia mempunyai keseimbangan diantara keduanya.

    ReplyDelete
  42. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    “Kalau ada tesis, maka ada anti tesisnya” Sesuatu yang instan merupakan akibat dari teknologi yang mulai berkembang pesat. Yang instan dapat mempermudah pekerjaan yang sulit. Siswa yang cenderung menggunakan hal instan juga pasti ada sebab dan akibatnya. Semua ada kelebihan dan kekurangan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ada contoh, suatu soal matematika dapat dikerjakan dengan cara mudah dan sulit. Cara mudah menggunakan langkah yang cukup panjang, sedangkan cara sulit menggunakan langkah yang cukup pendek. Tetapi kedua cara itu memiliki teorema yang bisa dibuktikan. Semua siswa pasti akan memilih menggunakan cara mudah untuk menyelesaikan soal. Seperti anti tesis yang Pak Marsigit buat, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit. Hal ini juga tergantung dari segi individu masing-masing. Cara instan yang seperti apa yang diinginkan? Yang dapat meningkatkan kreativitas atau yang hanya duduk di zona nyaman saja

    ReplyDelete
  43. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mencermati ulasan-ulasan di atas mengingatkan saya akan satu ayat yang mengatakan bahwa Allah itu memiliki Nama-nama yang indah, maka berdoalah dengannya. paparan dari pak marsigit tersebut mengingatkan kembali bahwa kita memang makhluk yang tidak memiliki kuasa apapun atas apa yang terjadi, karena semuanya berada dalam genggamanNya. Hidup dalam dunia yang penuh kontradiksi ini kita senantiasa disarankan untuk berdoa demi mengurangi kontradiksi tersebut. Saya percaya bahwa Allah akan mengabulkan segala yang kita minta padaNya. Hanya saja kapan waktunya, kita diberi dalam bentuk apapun hanyalah Allah yang tahu. SSAtu hal yang pasti, Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Karena manusiawi sifat rakus menempel pada diri kita, dan Allah tahu segalanya bahkan apa yang tidak mampu kita katakan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  44. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mengenai pertanyaan dari Sdr. Ulin, saya teringat quote:
    "Life lies from Born (B) until Death (D). But Between B and D, there is C (Choice). Choose well to life Wisely"
    Sepakat dengan paparan Pak Marsigit bahwa hidup itu penuh akan pilihan. Dalam islam dikenal shalat istikhoroh, yakni shalat yang dilakukan jika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Namun ternyata sebenarnya shalat istikhoroh tidak hanya dilakukan di saat demikian, namun kita bisa melanggengkannya di setiap malam, supaya dalam hidup kita dituntun untuk memilih yang terbaik sesulit apapun itu. Karena hidup tidak pernah lepas dari yang namanya pilihan. Setuju? ;-)

    ReplyDelete
  45. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Pertanyaan kedua mengenai teori evolusi kemudian merambat kearah yang tetap dan yang berubah. Bahwa di dunia ini semua mengalami perubahan. Namun pada yang berubah itu terdapat sifat-sifat yang tidak berubah. Yang tetap itu sifatnya tidak menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu. Misalkan, jeruk tetaplah termasuk golongan buah, tidak pernah berubah menjadi golongan hewan. Atau bahwa saya adalah anak dari orangtua saya.

    Hal-hal di dunia ini terbagi antara yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada adalah hal-hal yang eksis atau ada secara fisik, dapat dilihat atau diraba atau dirasakan. Sedangkan yang mungkin ada adalah hal-hal yang belum diketahui kebenarannya, sifatnya, bentuk dan strukturnya. Yang mungkin ada belum tentu ada, namun juga bisa jadi ada.

    ReplyDelete
  46. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Terkadang memang adanya, sebagian orang menginginkan yang gampang-gampang aja (instan) dalam hidup ini.Namunya indahnya Allah yang menciptakannya secara bepasang-pasangan.Gampang sepaket dengan susah,bahagia sepaket dengan sedih, dan gagal sepaket sukses,dsb.Hidup kalau tidak ada tantangan tidak akan terasa indah.Sayangnya, banyak yang menafsirkan bahwa ujian hanya yang bersifat susah- susah saja.Pada kenyataanya harta yang juga merupakan kesenangan, kebahagiaan adalah ujian.Apakah dengan harta membuat kita taat kepada Tuhan atau justru membuat kita lalai pada-Nya.Ujian itu adalah tanda cinta Tuhan kepada hambanya.Ketika Tuhan jatuh cinta ketika itulah Dia menurunkan ujian berupa musibah agar seorang hamba lebih lekat dan dekat dengan-Nya.Begitulah cara Allah mengungkapkan kerinduan-Nya.Porsi cinta manusia beda dengan Cinta Allah.Kalau manusia mecintai sesuatu, maka dia memberikan sesuatu yang ia senangi sehingga orang tersebut merasa senang dan bahagia.Namun tidak dengan Allah,Kalau Allah cinta, Dia akan memberikan sedikit kesusahan, katakutan, kehilangan agar kita lebih berharap dengan-Nya.
    Orang – orang barat banyak tertarik ingin mempelajari lebih dalam tentang al-qur’an karena eksistensi Al-qu’ran sangat absolut seperti yang dipaparkan oleh Bapak sebelumnya.Kebenaran yang tak dapat diubah-ubah (mutlak) dan tak dapat diganggu gugat.Sebagaimana sejalan dengan firman Allah di dalam Al-qur’an surah Al-baqaroh ayat 2 yang artinya: “Kitab al-qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  47. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    "Anti tesisnya aku buat begini, kalau bisa mengerjakan yang sulit kenapa cari yang mudah, didengar juga gak begitu jelas diucapkan juga gampang tapi dilaksanakan sangat sulit, silahkan anda uji diri anda dan dari dua kata itu, andai kata anda laksanakan maka dampaknya itu seluas dunia akhirat,..." Jadi, bergembiralah jika kita mendapatkan tugas-tugas yang sulit. Tanpa tugas-tugas yang sulit, kita tidak akan pernah berkesempatan untuk mengeluarkan kemampuan kita yang sepenuhnya dan kelak kita akan menjadi orang yang biasa-biasa saja jika tidak mengalami tantangan.

    ReplyDelete
  48. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas ulasan-ulasan berupa tanya jawab berfaedah untuk menjawab rasa penasaran mahasiswa. Satu hal yang menarik bagi saya ketika bapak mengatakan bahwa Al Quran itu dokma yang sudah menjadi ketetapan, tidak bisa diamandemen, dan apa yang tertulis di dalamnya harus dilaksanakan bagi yang berpedoman hidup padanya. Dalam filsafat, hidup itu interaksi antara yang tetap dengan yang berubah. Melihat keterkompleksan yang terjadi dalam kehidupan, hendaklah manusia memiliki pedoman hidup yang kuat agar tidak terjerumus pada arus yang salah. Hidup adalah interaksi dan korelasi antara dunia yang fital dan akhirat yang fatal, janganlah berhenti untuk berikhtiar seakan-akan kita masih dapat hidup lebih lama lagi dan tetaplah berdoa seakan-akan besok kita kembali kepada Sang Pencipta. Hidup ini hanya sekali dan apa yang telah terjadi tidak dapat diulang kembali. Bagaikan manusia dalam sebuah perjalanan, lalu ia mampir sejenak untuk minum dan beristirahat, kemudian melanjutkan perjalanannya lagi. Maka sebaik-baik manusia adalah yang pintar mengatur perjalanan hidupnya agar bermanfaat bagi oranglain dengan filsafat diri yang ia miliki. Sehingga, begitu penting filsafat untuk memahami semua hal tentang kehidupan dan dengan berfilsafat, manusia akan mengetahui arti kehidupan.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  49. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2017

    Setelah membaca hasil refleksi belajar di atas, mengenai budaya instan, menurut saya tidak masalah asalkan tidak melanggar prinsip-prinsip moral serta prinsip-prinsip norma yang berlaku dan tidak merugikan orang lain. Budaya instan yang tidak masalah misalnya, food delivery order dengan menggunakan aplikasi yang terdapat pada gadget.

    ReplyDelete
  50. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B 2017

    Budaya dalam kehidupan akan selalu berubah dan berkembang mengikuti perkembangan zaman. Dan kesemuanya itu akan terus menerus berkembang menjadi semakin modern, serba instan. Semakin modern, semakin instan, semakin memudahkan manusia untuk menjalani kehidupan. Ada banyak segi positif dari perkembangan zaman yang semakin modern, namun perkembangan yang serba instan bukan tidak mungkin akan memberikan pengaruh negatif seperti timbulnya rasa malas dalam diri. Oleh karena itu, seharusnya manusia selalu berusaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan dengan membuang rasa malas yang ada. Memanfaatkan segala hal positif dalam hidup itu penting, namun tidak berarti menjadi malas melakukan hal positif.

    ReplyDelete
  51. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Hidup adalah suatu kegiatan untuk berusaha menembus ruang dan waktu, berkejar-kejaran dengan waktu karena waktu tidak bisa diputar kembali tetapi bisa berhenti yaitu ketika tuhan meminta malaikat mautnya untuk memberhentikan waktu terhadap seorang manusia. Hidup juga merupakan kegiatan untuk mempelajari sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, hidup juga merupakan suatu tindakan untuk menjadi terpilih atau memilih, jadi maknailah dan isilah hidup dengan selalu berorientasi pada kegiatan-kegiatan positif dan bermanfaat bagi hidup orang banyak.

    ReplyDelete
  52. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pada saat ini segala sesuatu yang dicari adalah yang instan, dan itu sangat bisa dipahami pada zaman hal ini. Namun berdasarkan uraian diatas memang hal itu tidak langsung terjadi, ternyata gaya hidup kearah instan dilalui dengan tahap-tahapan yang berlangsung sampai ke pada tahapan instan. Kejadian itu tidak mengherankan karena memang sifat manusia mencari yang lebih mudah, dengan semboyan kalau ada yang mudah kenapa cari yang susah.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  53. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017
    Assalamualaikum, wr.wb.
    Terima kasih bapak atas pembelajaran yang telah diberikan melalui postingan ini. Melalui penjelasan-penjelasan jawaban dari beberapa pertanyaan tadi, dapat disimpulkan bahwa hidup itu penuh kontradiksi karena segala hal memiliki tesis dan antitesisnya dan hidup merupakan interaksi antara tesis dan antitesisnya, oleh karena itu arti hidup bagi manusia adalah pilihan, memilih untuk melakukan yang mana, memilih untuk menjadi apa, dan sebagainya. Sehingga agar hidup lebih berarti dan baik maka sebaiknya memilih untuk melakukan sesuatu yang dapat membuat hidup kita menjadi semakin berkembang dan maju.

    ReplyDelete
  54. Pada zaman ini ketika semua semua teknologi dan dunia yang semakin maju dan canggih, setiap manusia selalu lebih memilih untuk melakukan sesuatu yang instan, untuk hal-hal kecil seperti memasak hingga ke hal-hal besar seperti halnya dalam dunia pendidikan (misalnya tidak ingin belajar menambah wawasannya, memilih jalan pintas dalam mengerjakan tugas(mencontek), dan lain-lain). Oleh karena itu sering sekali rasanya kita mendengarkan orang-orang mengucapkan pepatah “kenapa cari yang sulit, kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit”. Sulit sekali bagi mereka untuk keluar dari zona nyamannya, padahal jika kita hanya terus-terusan berada di zona nyaman maka kita hanya akan bisa menjadi orang-orang yang tidak bermakna karena hanya bisa terpengaruh dan terbawa arus zaman dan juga kita tidak akan bisa menjadi orang-orang yang sukses yang mampu menghadapi tantangan dunia dan zaman yang semakin maju. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  55. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Saya melihat kebijaksanaan yang luar biasa dalam tulisan ini. Menempatkan Agama dalam logika memang seringkali menyebabkan kekacauan hati yang luar biasa. Sebaliknya, Menempatkan pengetahuan dalam hati akan menyebabkan kekacauan di pikiran. Hal tersebut menarik bagi saya, pasalnya akhir-akhir ini banyak orang yang sering kali menghubungkan agama dengan sains. Saya memiliki ketidaksepahaman dengan hal tersebut. Bagi saya sudah mutlak menempatkan agama dalam hati dan pengetahuan dalam pikiran.
    Problema yang terjadi akhir-akhir ini adalah kita memiliki kecenderungan menaruh hati kita ke pola pemikiran Barat. Padahal, banyak orang-orang barat yang mengasah hati mereka ke Timur. Pemahaman kita yang minim dalam dua aspek penting itulah yang kerap menjadi problema di kalangan Timur.

    ReplyDelete
  56. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Semua yang kita miliki di dunia ini adalah pilihan Allah yang dihadiahkan pada kita sebagai umatnya. Apa yang kita miliki di dunia ini, bukan untuk diratapi tetapi disyukuri. Semua yang Allah hadiahkan untuk kita, pastilah memiliki potensi. Sehingga kita sebagai manusia, harus mengoptimalkan potesi yang kita miliki agar menjadi sebuah kelebihan. Oleh karena itu, jaganlah ratapi sebuah ketidaksempurnaan yang ada didalam hidup kita. Sejatinya di dalam setiap manusia itu, dianugerahkan akal dan pikiran untuk mengoptimalkan potensi diri serta hati untuk membentengi diri agar selalu dikoridor kebaikan. Terimakasih

    ReplyDelete
  57. Dari hasil refleksi ini, saya dapat memahami bahwa hidup itu jangan kita sendiri yang persulit. Yang membuat sulit itu bukan keadaan di sekitar kita tapi diri sendirilah yang membuat hidup susah atau hidup itu senang. Dalam filsafat yang tidak ada hal “benar” dan “salah, sedangkan dalam agama “kebenaran” adalah absolut/ketetapan (Al-Quran).

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  58. Bijaksana menurut dunia barat adalah masyarakat yang terbuka sedangkan menurut dunia timur adalah orang yang memberi ilmu. Untuk dapat mengerti secara mendalam mengenai filsafat kuncinya adalah membaca, buku, berita, majalah, dll.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  59. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    “kalau memang ada yang mudah kenapa musti cari yang sulit”, kutipan bapak itu mengingatkan akan diri saya yang selalu suka mengerjakan matematika dengan trik cepat dan mudah. Ternyata memiliki makna terselip didalamnya, yaitu terlalu nyaman di zona yang mana dan tidak ingin berpikir kreatif. Jika yang mudah adalah tesis, maka yang sulitnya merupakan anti tesisnya. Akan tetapi ada waktu-waktu tertentu kapan cara cepat itu digunakan di dalam matematika, semisal ketika mengikuti ujian yang dibatasi oleh waktu. Maka menurut saya bisa saja digunakan trik trik cepat dalam menyelesaikan soal. Tentang pertanyaan kedua, menurut saya itu semua tergantung kepercayaan masing-masing baik di dunia barat maupun dunia timur, tetap saja bagi kita umat beragama akan selalu kita percayai bahwa dunia ini adalah ciptaan Tuhan, apapun isi nya merupakan ciptaan Tuhan. Isi yang didalam dunia ini ada yang terlihat dan ada yang tak terlihat, ada dan yang mungkin ada, ada dan mutlak adanya.

    ReplyDelete
  60. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Postingan tentang arti hidup dalam kacamata filsafat ini memuat pertanyaan mengenai permasalahan-permasalahan yang dijawab berdasarkan ilmu filsafat. Dari yang saya baca dari setiap postingan, mengajarkan kepada pembaca bahwa hidup itu antara tesis dan antitesis, antara yang ada dan yang mungkin ada. Terdapat keadilan pada setiap proses kehidupan. Adil yang dimulai dari dirisendiri akan menumbuhkan keadilan kepada orang lain, makhluk hidup lainnya, dan lingkungan sekitar. Jika ingin melihat kehidupan seseorang maka filsafat akan menjawab dengan melihat cara berpikir seseorang. Karena pikiran merupakan wadah yang akan diisi dengan apa yang menurut kita harus kita isi. Selain itu, dalam menerapkan tesis dan antitesis kita harus memperhatikan ruang dan waktu. Sehingga, kita dapat bijak dalam menggunakan yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  61. Junianto
    17709251065
    PM C

    Terkadang kemajuan teknologi membuat manusia semakin manja dengan kemudahan. Memang di lain sisi,banyak sekali manfaat yang kita rasakan. Namun, kita juga tidak boleh terlena karena dengan kemudahan-kemudahan terkadang membuat kita terbiasa dengna hal-hal yang instan. Sesuatu yang instan tentu memiliki dampak positif dan negatif, segitu juga dalam hal pembelajaran matematika. Sesuatu yang instan memang lebih cepat dan terkadang lebih mudah dipahami, tetapi dampak jangka panjangnya yang perlu kita antisipasi. Dengan budaya instan tersebut akan membuat pikiran siswa tertanam sesuatu yang cepat dan tidak mengutamakan proses dan hasil. Padahal proses adalah hal yang sangat penting dan perlu
    di perhatikan secara mendalam.

    ReplyDelete
  62. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Memang kadang orang-orang di jaman ini menginginkan apapun yang serba cepat. Terkadang untuk hal-hal tertentu keinstanan memang diperlukan karena tingkat mobilitas saat ini memang semakin tinggi dan membutuhkan hal yang cepat, tapi untuk beberapa hal membutuhkan adanya proses agar hal-hal tersebut bermakna. Dengan adanya proses maka akan melatih kita akan kesabaran, keuletan, dan kerja keras.

    ReplyDelete
  63. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Ilmu dan agama adalah dua hal yang sejalan. Semakin tinggi ilmu dunia tentu harus diimbangi dengan semakin meningkatnya ilmu agama yang kita punya agar manusia tidak menjadi sombong dan selalu sadar akan kodratnya sebagai manusia yang tidak apa-apanya dibandingkan seluruh ciptaan-Nya.

    ReplyDelete
  64. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih bapak atas ilmu yang diberikan.
    Saya pernah membaca dalam sebuah artikel singkat, bahwa tujuan berdirinya universitas di barat adalah untuk mencari kebenaran. Hal ini Nampak dari temuan-temuan ilmuwan barat yang berupa teori-teori. Teori-teori ini melambangkan kebenaran yang ia dapatkan dari sebuah kajian atau eksperimen. Hal ini mendukung kesan kita pada orang-orang barat yang terlihat lebih mengedepankan akal dibanding keyakinan. Termasuk dalam mencari kebenaran Tuhan, orang barat akan mencari dan terus mencari sampai mereka berhasil menemukan kebenaran Tuhan, yang bisa mereka dapatkan melalui gejala-gejala alam yang ternyata sudah dijelaskan oleh Allah dalam kitab-kitabNya yang telah lama diturunkan.

    ReplyDelete
  65. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum We.Wb.

    Refleksi yang membuat saya semakin yakin pentingnya berfilsafat untuk memahami arti mengenai kehidupan. Rasa syukur adalah kunci untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, rasa syukur akan membuat kita menjadi manusia yang lebih ikhlas, ikhlas didalam hati dan ikhlas didalam fikir.Semua yang sudah terjadi pasti sudah direncanakan oleh Allah, dan segala sesuatunya sudah ada hikmahnya masing-masing.

    ReplyDelete
  66. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Menurut saya, dengan belajar filsafat, kita akan lebih bijaksana dalam memandang hidup. Seperti dengan ibyek filsafat yang ada yang mungkin ada, yang ada di dalam pikiran kita dan yang ada di luar pikiran kita. Menandakan bahwa sebanyak apapun hal yang kita tahu, tentu patut kita sadari bahwa ternyata masih banyak sekali hal yang tidak kita ketahui, maka tumbuhlah rasa rendah hati terhadapt pengetahuan. Hidup menurut filsafat ada diantara ketetapan dalam perubahan dan perubahan dalam ketetapan. Sejatinya segala hal dalam hidup ini adalah perubahan, namun perlu kita sadari bahwa perubahan kita harus tidak melampaui segala yang memang sudah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai ketetapan yang absolut.

    ReplyDelete
  67. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Ketika berbicara tentang instan, maka konotasi makna yang muncul dalam benak adalah sesuatu yang langsung dan cepat. Budaya instan jika kita lihat dari sisi teknologi bernilai positif karena memudahkan manusia untuk menjalankan aktivitasnya, akan tetapi budaya instan yang saat ini meraja lela adalah keinginan untuk sukses instan. Mencari uang secara instan, tidak berlama-lama kerja langsung mendapat banyak uang, meskipun harus mengambil uang orang lain. Siswa yang mengerjakan tugas dari gurunyapun mengerjakannya secara instan, mereka hanya perlu melihat pekerjaan teman, mengerjakan ujian nasional dengan kunci jawaban, dan lain sebagainya. Namun yang perlu diingat sekarang ini adalah proses tidak akan menghianati hasil.

    ReplyDelete
  68. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sesuatu harus dipandang secara adil. Kadang-kadang hal yang mudah/instan itu lebih baik dari pada yang sulit. Adakalanya juga sesuatu yang sulit lebih baik daripada yang mudah. Tergantung ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  69. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  70. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Sesuatu yang mudah diperoleh seringkali diambil sebagai jalan pintas untuk tidak menunggu yang lama dan terkesan ribet. Pada dasarnya sifat manusia sebagai makhluk yang tidak pernah puas, ingin memperoleh banyak hal dengan usaha minimal. Sungguh sebanar-benar orang yang berpikiran seperti itu merupakan ciri-ciri orang yang tidak ingin berusaha dengan keras, padahal jika kita berusaha sungguh-sungguh maka akan memperoleh hasil yang maksimal, karena berdasarkan pepatah bahwa “usaha tidak akan pernah mengkhianati proses”. Namun pada era globalisasi seperti sekarang ini tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang yang berpikir instan karena situasi yang juga memanjakan diri untuk mengambil keinstanan tersebut. Padahal sebenar-benar hidup yang memiliki arti adalah hidup yang lebih baik dengan mengubah kebiasaan instan tersebut menjadi pekerja keras, memiliki motivasi tinggi dan berpikir kreatif.

    ReplyDelete
  71. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini bisa dipandang secara kacamata filsafat. Hal-hal poligami, motivator, penyesalan, segala yang instan, teori revolusi darwin, dan masih banyak lagi hal-hal yang lainnya.
    Saya tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh Mbak Azmi mengenai motivator. Dari jawaban Pak Marsigit bahwa motivator itu mengembangkan potensi, kemudian dari potensi-potensi yang motivator sampaikan diharapkan dapat menginspirasi manusia untuk memiliki potensi. Setelah manusia memiliki potensinya masing-masing, mereka harus mengikhtiarkan potensi tersebut ke atas untuk menuju ikhlas. karena tidak adalah sebuah perubahan itu jika kita tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  72. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 P.Mat UNY kelas B 2017

    sebelumnya saya pernah mengajukan pertanyaan kepada bapak tentang kebijaksanaan. di dalam tulisan ini saya kembali mendapat jawaban bahwa kebijaksanaan antara orang barat dan timur itu erbeda, jika orang barat bijaksana nya jika terbuka, menuntut ilmu, orang timur dikatakan bijaksana ketika bisa memberi. saya belajar banyak dari jawaban-jawaban yang diberikan bapak. terkadang ada hal-hal yang tidak terlihat dan awalnya tidak penting tapi ternyata penting. terimakasih banyak pak telah menambahkan isi di wadah saya.

    ReplyDelete
  73. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Saya tertarik dengan jawaban Bapak tentang pertanyaan dari Ricky, “Tadi bapak mengatakan bahwa istri bapak cuma satu dipikiran bapak, bagaimana …”. Jawaban ini dapat saya analogikan dengan masalah yang selama ini saya rasakan yaitu tentang konsentrasi, beberapa kali saat sedang melakukan sesuatu. Akan timbul pikiran lain yang tidak berkesinambungan dengan hal yang harus dikonsentrasikan. Saat saya sedang sulit berknonsentrasi, ternyata konsentrasi yang hanya satu akan diturunkan ke beberapa konsentrasi lain, namun dalam pikiran saya konsentrasi hanya satu sebagai wadah, dan konsentrasi lainnya adalah isinya. Apakah dapat saya analogikan seperti hal tersebut Pak?

    ReplyDelete
  74. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    Pps Pendidikan Matematika C

    Takdir itu adalah apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Kita tidak dapat memilih takdir yang telah terjadi tetapi kita masih memiliki pilihan tentang apa yang akan terjadi. Kita memiliki kesempatan untuk ikhtiar dan berdoa. Disitulah kita memiliki pilihan tentang takdir yang akan terjadi. Misal, dalam satu kelas akan menjalani ujian semester. Meskipun semua siswa akan sama-sama ujian, tetapi nyatanya ada yang memilih untuk belajar semaksimal mungkin, ada yang memilih belajar asal-asalan, ada yang memilih tidur, ada yang memilih bermain. Maka misalpun si A sudah belajar semaksimal mungkin tetapi masih memperoleh nilai yang jelek tidak berarti bahwa usaha yang dilakukannya sia-sia. Bisa jadi Allah SWT memberinya takdir memperoleh nilai yang jelek agar ia tidak sombong dan masih terus belajar, atau alasan-alasan lain yang sebagai manusia kita tidak mengetahuinya. Tetapi setidaknya apapun takdir yang akan terjadi, sebagai manusia dapat memilih cara bagaimana menjalani proses menuju takdir tersebut, akankah dengan manfaat ataukah dengan kesia-siaan.

    ReplyDelete