Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 53: Dialog Filsafat




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.



Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedangkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Sedangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disamping telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa Pendidikan Matematika:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa Pendidikan Sain:
Maaf P Marsigit, saya ingin bertanya apakah perbedaan Sain, Filsafat Sain dan Filsafat Pendidikan Sain?

Marsigit:
Menurutku, pengertian Sain merentang pada dimensinya. Pada tataran Spiritual, Sain adalah Rakhmat dan Karunia Tuhan. Pada tataran Filsafat atau tataran Normatif, Sain adalah sumber-sumber ilmu, macam-macam ilmu dan pembenaran ilmu. Maka pada tataran Filsafat atau Normatif, Sain adalah Pikiran Para Filsuf; dia meliputi metode berpikir dan pembenarannya. Pada tataran Filsafat maka Sain itu tidak lain tidak bukan adalah Epistemologi itu sendiri. Pada tataran Formal, Sain adalah berbagai macam ilmu pengetahuan yang merupakan ilmu-ilmu bidang atau ilmu-ilmu cabang. Pada tataran Formal, umumnya Sain bersifat positive dengan metode utamanya adalah metode ilmiah. Sedangkan pada tataran Material, maka Sain merupakan teknologi (terapan) yang menghasilkan karya-karya atau produk yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, termasuk kebutuhan melakukan eksplorasi alam semesta. Sedangkan Filsafat Sain berusaha merefleksikan kerja dan karya para ilmuwan (saintis); mengapa dan bagaimana mereka menemukan suatu temuan, menghasilkan suatu produk dan dampak-dampaknya. Filsafat Pendidikan Sain berusaha merefleksikan Pendidikan Sain dalam konteks Ruang danWaktunya. Obyek dari Filsafat Pendidikan Sain adalah semua yang ada dan yang mungkin ada dalam Pendidikan Sain. Jadi obyeknya bisa meliputi Guru Sain, Metode Mengajar sain, Siswa Belajar Sain, Evaluasi Pembelajaran sain, Sumber Belajar Sain, dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa Pendidikan Matematika:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa Pendidikan Matematika dan Mahasiswa Pendidikan Sain
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan Pendidikan Matematika atau Pendidikan sain?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika atau pendidikan sain. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA, kemudian keluar naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika atau pendidikan sain..

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya. Hal yang demikian tentu berlaku untuk Filsafat Pendidikan Sain.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disiplin maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Tentu hal yang demikian berlaku untuk Filsafat Pendidikan Sain.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah Filsafat Ilmu? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

13 comments:

  1. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini saya mendapat beberapa hikmah. Yang pertama yaitu berkaitan dengan elegi yang lama-kelamaan juga akan menjadi mitos. Disini mengandung banyak makna yaitu segala sesuatu kalau baik, tetapi hanya itu-itu saja tanpa perkembangan maka akan menjadi kemandekan juga, sehingga perlulah pengembangan pengembangan. Sehingga benarlah kiranya kehidupan itu tidak hanya lingkaran dan linear saja, tetapi gabungan antara keduanya yang menjadi spiral selalu berkembang-berkembang. Yang kedua, berkaitan dengan filsafat matematika yaitu meliputi semua hal sebanyak orang yang mengemukakannya. Karena sejatinya metamatika itu meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  2. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Kemudian, berkaitan dengan ilmu sain yang sejatinya merupakan anugrah dan rahmat dari Allah, yang merentang dimensinya dan tentunya ia meliputi apa yang ada dan mungkin ada berkenaan dengan sifat-sifatnya. Selanjutnya hikmah berkaitan dengan refleksi akan diketahui dengan kajian metafisik, yaitu yang ada pada sebaliknya, atau ia tidak nampak. Kemudian beda antara matematika dan filsafat, matematika merupakan sesuatu yang pasti, sedangkan filsafat itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Dan hikmah yang mendasar yang paling penting yaitu berkaitan degan filsafat tidak dapat menjelaskan semua keyakinan, karena ini ranah limitnya, artinya semua dapat dipertanyakan dan dikritisi tetapi ketika telah pada wilayah keyakinan atau agama maka tidak boleh diganggu gugat. Teringat kata Beliau Bapak Marsigit bahwa kita boleh bingung secara pikir, tetapi jangan sampai bingung hati. Sehingga melalui belajar filsafat inilah sebaiknya kita melakukan refleksi-refleksi sehingga pengetahuan dunia itu terbuka dan pengetahuan akhirat ditetapkan dalam hati.

    ReplyDelete
  3. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Filsafat itu olah pikir, struktur dari olah pikir itu ditentukan oleh pengalaman. Sehingga untuk mengembangkan olah pikir itu kita harus eksplor, mencari pengalaman, bisa dengan kegiatan, dan juga membaca referensi. Selain itu, apa yang telah kita dapatkan bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka ilmu yang kita dapatkan akan lebih berkesan dan tersimpan secara mendalam di pikiran kita. Oleh karena itu, dalam mempelajari filsafat tidak akan cukup hanya belajar di dalam kelas, karena apa yang bisa diungkapkan di dalam kelas itu hanya terbatas yang diingat saja.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Belajar filsafat merupakan belajar bagaimana merefleksikan ilmu atau pengetahuan yang kita peroleh, dengan begitu kita akan berupaya untuk memahami ilmu atau pengetahuan tersebut agar kita mampu mengungkapkan kembali ilmu atau pemikiran tersebut dalam bahasa kita. Belajar filsafat harus secara intensif dan ekstensif, obyek yang dipelajarinyapun segala yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  5. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Seperti yang kita ketahui, tidak ada kata cukup bagi para ilmuwan. semakin banyak mereka tahu, semakin haus mereka akan ketidaktahuan. Semakin besar rasa penasaran untuk suatu pembuktian. Karena hal - hal besar datang dari mereka yang tidak pernah berhenti menelaah, menalar, berpikir di luar konsep ruang dan waktu. Hal tersebut bisa dilakukan dengan diterjemah dan menerjemahkan. Dan filsafat itu hanya bisa diraih melalui kajian metafisik. Metafisik itu setelah fisik.

    ReplyDelete
  6. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Filsafat meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada, seperti kehidupan sehari-hari kita ini meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan kita ini adalah filsafat. Walaupun memahami dan mempelajari filsafat itu sulit, namun belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-potong atau sepenggal-penggal. Hal tersebut dapat menimbulkan sebuah gambaran yang tidak lengkap pula. filsafat tidak dapat digunakan di sembarang tempat yang tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Contohnya seperti saat kita berbicara dengan anak kecil mengenai hakikat sesuatu hal, maka kita telah menggunakan filsafat yang tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Salah satu manfaat mempelajari filsafat adalah memperoleh kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Maka sebenar-benar tantangan yang kita miliki adalah mengaplikasikan apa yang kita peroleh dalam filsafat dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai seorang calon guru, nantinya kita harus dapat mengaplikasikan filsafat dalam pembelajaran. Kita harus menyadari bagaimana siswa berfikir, bagaimana keragaman karakteristik siswa. Dan dengan kesadaran itu kita harus berupaya memfasilitasi siswa untuk mmembangun pengetahuannya melalui aktivitas-aktivitas yang kita siapkan.

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Pada awal belajar berfilsafat saya tidak mengetahui apa manfaat belajar filsafat. Namun ketika sudah mulai melihat dan melakukannya lebih mendalam, saya mengetahui apa makna, maksud dan manfaat belajar berfilsafat, khusunya untuk para calon guru. Semoga dengan belajar filsafat ini, kami dapat menjadi lebih kritis dengan kehidupan dan khususnya lebih kritis terhadap pendidikan, sehingga dapat memahami pendidikan dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan dapat bertindak bijaksana, sesuai dengan ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  10. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    dari tanya jawab diatas, jelas terlihat bedanya mempelajari matematika dan filsafat matematika. dalam belajar matematika 2+1 = 3 itu sudah jelas adanya 3 namun dalam mempelajari filsafat matematika jelas terlihat bedanya bahwa 2+1 belum tentu sama dengan 3 kesemuanya itu tergantung ruang dan waktu yang digunakan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  11. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Filsafat pendidikan matematika melatih kami sebagai mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan matematika ini untuk tidak hanya berpikir secara saklek dalam menyelesaikan suatu permasalahan. namun banyak hal yang mestinya diperhitungkan, ditimbang,direfleksikan, dipikir secara lebih jauh, lebih mendalam mengenai bagaimana dan mengapa obyek-obyek dalam pendidikan matematika. Dalam satu obyek saja sudah banyak mendapatkan berbagai pandangan mengenai hal satu dengan hal yang lainnya. dan ternyata dalam mempelajari filsafat pendidikan matematika ada hal yang harus dijadikan sebagai pantangan berbicara tidak sesuai ruang dan waktu.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  12. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Belajar filsafat bila dilakukan dengan benar tidak akan berfikiran bahwa filsafat itu sesat, hal itu terjadi karena belajr filsafat yang sepotong-sepotong dengan demikian pemikirannya tentang filsafat itu hanya berupa penggalan-penggalan dengan kata lain gambaran filsafatnya tidak lengkap maka hal demikian dalam filsafat disebut juga dengan terjebak oleh mitos. Hal ini mungkin saja terjadi dikarenakan reduksi pemahaman yang salah serta menggunakan filsafat di ruang dan waktu yang tidak semestinya.

    ReplyDelete
  13. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Filsafat mengajarkan banyak hal dalam kehidupan manusia. Bukan hanya olah pikir saja. lebih dari ituu, filsafat mengerjarkan untuk selalu berusaha belajar, mengahargai yang ada dan yang mungkin ada, berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata serta lebih bijak memahami diri sendiri. Bentuk bijak terhadap diri sendiri ini dapat dilakukan dengan ikhlas dan sabar dalam menghadapi sulitnya kehidupan.

    ReplyDelete