Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 53: Dialog Filsafat




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.



Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedangkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Sedangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disamping telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa Pendidikan Matematika:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa Pendidikan Sain:
Maaf P Marsigit, saya ingin bertanya apakah perbedaan Sain, Filsafat Sain dan Filsafat Pendidikan Sain?

Marsigit:
Menurutku, pengertian Sain merentang pada dimensinya. Pada tataran Spiritual, Sain adalah Rakhmat dan Karunia Tuhan. Pada tataran Filsafat atau tataran Normatif, Sain adalah sumber-sumber ilmu, macam-macam ilmu dan pembenaran ilmu. Maka pada tataran Filsafat atau Normatif, Sain adalah Pikiran Para Filsuf; dia meliputi metode berpikir dan pembenarannya. Pada tataran Filsafat maka Sain itu tidak lain tidak bukan adalah Epistemologi itu sendiri. Pada tataran Formal, Sain adalah berbagai macam ilmu pengetahuan yang merupakan ilmu-ilmu bidang atau ilmu-ilmu cabang. Pada tataran Formal, umumnya Sain bersifat positive dengan metode utamanya adalah metode ilmiah. Sedangkan pada tataran Material, maka Sain merupakan teknologi (terapan) yang menghasilkan karya-karya atau produk yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, termasuk kebutuhan melakukan eksplorasi alam semesta. Sedangkan Filsafat Sain berusaha merefleksikan kerja dan karya para ilmuwan (saintis); mengapa dan bagaimana mereka menemukan suatu temuan, menghasilkan suatu produk dan dampak-dampaknya. Filsafat Pendidikan Sain berusaha merefleksikan Pendidikan Sain dalam konteks Ruang danWaktunya. Obyek dari Filsafat Pendidikan Sain adalah semua yang ada dan yang mungkin ada dalam Pendidikan Sain. Jadi obyeknya bisa meliputi Guru Sain, Metode Mengajar sain, Siswa Belajar Sain, Evaluasi Pembelajaran sain, Sumber Belajar Sain, dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa Pendidikan Matematika:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa Pendidikan Matematika dan Mahasiswa Pendidikan Sain
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan Pendidikan Matematika atau Pendidikan sain?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika atau pendidikan sain. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA, kemudian keluar naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika atau filsafat pendidikan sain jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika atau pendidikan sain..

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya. Hal yang demikian tentu berlaku untuk Filsafat Pendidikan Sain.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disiplin maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Tentu hal yang demikian berlaku untuk Filsafat Pendidikan Sain.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah Filsafat Ilmu? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

18 comments:

  1. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Awalnya mempelajari filsafat untuk mengetahui yang ada dan mungkin ada, dimana kita bisa membangun pemikiran kita dan merefleksikannya.. Dan itu sifatnya terbuka tidak tergantung pada ruang dan waktu dalam artian bisa dimana saja dan kapan saja. Sehingga mudah untuk kita mengaksesnya. Tetapi perbanyaklah referensi untuk mengembarakan pemikiran kita, karena itu juga merupakan filsafat. kemudian kita merefleksikan sesuatu yang fisik yaitu referensi yang kita baca dengan metafisik yaitu hasil dari pemikiran kita sendiri. Sehingga marilah untuk terus belajar filsafat, dan yang paling utama dari belajar adalah keikhlasan.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Awal untuk memperoleh ilmu pengetahuan yaitu pertanyaan. Karena pertanyaan menunjukkan seseorang ingin tahukan sesuatu. Pada dialog filsafat ini dijelaskan filsafat adalah olah pikir maka definisi sesuatu adalah banyak sekali sebanyak orang yang memimikirkannya. Seperti definisi matematika, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Aristoteles matematika adalah pengalaman, menurut Ernest matematika adalah pergaulan dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun berbeda untuk agama, filsafat tidak dapat menjelaskan semuanya karena agama tidak hanya tentang olah pikiran tetapai hati juga. Dan kita tahu bahwa pikiran tidak selalu mampu mengerti apa yang ada dalam hati. Saya juga menemukan pesan dari elegi ini bahwa belajar filsafat tidak boleh sepenggal-pengal karena kita tidak memperoleh informasi secara lengkap dan memungkinkan adanya salah arti.

    ReplyDelete
  5. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-potong. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Sebagaimana yang sering Prof sampaikan, belajar filsafat harus ikhlas hati dan ikhlas pikir. Janganlah mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Pelajarilah dengan ikhlas, maka engkau akan belajar bagaimana berpikir kritis seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Jadikanlah apa yang diperoleh dari belajar filsafat sebagai bekal untuk meningkatkan dimensi hidup kita.

    ReplyDelete
  6. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Walaupun memahami dan mempelajari filsafat itu sulit, namun belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-potong. Hal tersebut dapat menimbulkan sebuah gambaran yang tidak lengkap pula. Filsafat juga tidak dapat digunakan di sembarang tempat, harus disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Sehingga dengan berfilsafat, pikiran bisa menjadi terbuka dan lebih bijak dalam melihat suatu fenomena.

    ReplyDelete
  7. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Ada pepatah bahwa "Belajar sepanjang hayat" inilah tolak ukur bahwa dalam belajar tidak hanya mengikuti ruang dan waktu yang sudah ditentukan dalam hal belajar formal. Itupun berlaku dalam mempelajari filasafat. Akan tetapi dengan suatu awal atau dasar berfilsafat maka diharapkan belajar filsafat mempunyai banyak makna dalam kehidupan, tidak cukup hanya belajar filsafat di kelas. Kita harus banyak membaca referensi terkait filsafat agar kita dapat memahami filsafat secara benar dan tentu saja dengan pendam[pingan orang yang lebih paham. Tetapi mempelajari filsafat adalah bagaimana agar bisa berpikir untuk merefleksikan ilmu filsafat yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari agar bisa memandang kehidupan yang bersifat ada dan mungkin ada terhadap ruang dan waktu tertentu dengan bijak . Semoga dengan berfilsafat akan dapat menemukan siapa diri manusia itu sendiri karena filsafat itu sendiri merupakan diri dan pikiran manusia.

    ReplyDelete
  8. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Filsafat bukan hanya ilmu yang mempelajari olah pikir saja. Filsafat banyak mengajarkan banyak hal dalam kehidupan. Filsafat mengaarkan kita untuk terus belajar, menghargai yang ada dan mungkin ada, serta hati-hati dalam bersikap dan bertutur kata. Filsafat juga mengajarkan kita untuk memahami diri sendiri. bentuk nijak terhadap diri sendiri dapat dilakukan dengan ikhlas dan sabar dalam menghadapi kesulitan

    ReplyDelete
  9. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Belajar filsafat pada intinya adalah belajar mengenai olah pikir, jadi, jika kita belajar filsafat dari seseorang, maka kita sedang mempelajari olah pikir orang tersebut. Mempelajari hal ini yaitu mempelajari hal yang ada maupun tidak ada dalam pikiran kita. dengan membaca elegi-elegi dalam blog ini, diharapkan kita bisa menyusun olah pikir kita masing-masing sesuai dengan apa yang telah kita pelajari selama ini.

    ReplyDelete
  10. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam perkuliahan matematika model yang diampuh oleh bapak Prof marsigit, sering menjelaskan tentang kaitan antara model dengan filsafat, dimana bapak menjalsakan bahwa apa yang kita lihat merupakan transformasi model dari pikiran-pikiran kita. Dankita juga tak lain adalah model. Serta model kita sering berubah seiring berjalannya waktu. Dan wujud kita ini merupakan bentuk atau model kali seribu pangkat berjuta model yang pernah ada. Hal ini memberikan penjelasan keapada mahasiswa bahwa matematika tidak lepas kaitannya dengan filsafat. Di kesempatan lainnya beliau juga sering menyampaikan bahwa untuk tidak mengikutinya dalam hal berfilsafat misalnya, di mana mahasiswa diberikan kebebasan untuk membangun sendiri filsafatnya. Dalam perkuliahan ini yang mungkin tinggal beberapa pertemuan lagi, kita telah difasilitasi dengan berbagai referensi baik itu sifatnya sumber bacaan atau pun rekaman perkuliahan dalam membangun filsafat masing-masing. Maka dari itu dalam berfilsafat kita dapat merefleksikan apa yang telah didapatkan selama perkuliahan, sehingga kita dapat berkonstribusi positif dalam masyarakat khususnya masyarakat matematika.

    ReplyDelete
  11. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam mempelajari filsafat, seseorang dituntut untuk berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional berarti berpikir logis, sistematis dan kritis. Berpikir logis ialah berpikir dengan mengikuti arus logika untuk dapat menarik sebuah kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar daru premis-premis yang digunakan. Berpikir logis menuntut pemikiran yang sistematis. Berpikir sistematis berarti berpikir dengan mencari hubungan pertalian logis atar semua realitas.

    Sumber : Banasuru,Aripin.2014. Filsafat dan Filsafat Ilmu. Bandung : Alfabeta

    ReplyDelete
  12. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya cukup tertarik dengan hasil dari 3+5 tidak harus sama dengan 8.kenapa? karena memang benar bahwa jika kita mengabaikan ruang dan waktu maka kita dapatkan 3+5=8 tetapi jika kita tidak mengabaikan keadaan ruang dan waktu maka 3+5 akan tidak sama dengan 8. tidak mungkin kan 3 permen ditambah 5 coklat akan sama dengan 8 permen. hal tersebut membukakan mata saya bahwa suatu persoalan di dalam filsafat tidak hanya terdapat satu jawaban, tetapi banyak jawaban untuk suatu permasalahan/pertanyaan.

    ReplyDelete
  13. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Saat kita menyadari bahwa kita sedang memaksakan kehendak pada orang lain dan mengetahui bahwa orang lain yang sombong dan menjadikan dia tidak berfilsafat sering kita ingin minta maaf, namun, rasanya tidak ikhas karena ada kalanya saat itu kita mengetahui penyebabnya dan sebenarnya yang ingin dilakukan adalah menegur, dan bukan meminta maaf. Namun diperlukan adanya kerendahan hati untuk menyampaikan hal tersebut dengan baik, dan bukan dengan kata-kata yang menyakiti orang lain.

    ReplyDelete
  14. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Berfilsafat berarti melakukan olah pikir. Maka, sebenar-benarnya filsafat itu adalah diri kita masing-masing yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Kehidupan kita merupakan yang ada dan yang mungkin ada, yang berupakan obyek dari filsafat. Dalam mempelajari filsafat pendidikan Matematika juga dapat bersumber dari kehidupan sehari-hari yang dapat kita gali sampai kita mampu untuk dapat memahaminya. Semuanya tidak hanya bersumber dari guru sebagai pendidik tetapi ilmu yang dipelajari dapat pula dipupuk dari apa yang sudah siswa pahami sebelumnya.

    ReplyDelete
  15. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sebagai guru, kita tidak bisa selaanya bersama anak-anak didik kita, tugas kita untuk membantu mereka membekali diri dengan ilmu mereka sehingga mereka dapat menghadapi tuntutan masyarakat umum. Namun, bagaimana mungkin kita bisa membantu orang membekali diri jika kita sendiri belum membekali diri kita dengan hal yang baik dan dapat membangun siswa didik kita dengan demikian, perlu bagi kta untuk membekali diri dengan baik dan membantu peserta didik untuk mandiri.

    ReplyDelete
  16. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Pada awal belajar berfilsafat saya tidak mengetahui apa manfaat belajar filsafat. Namun ketika sudah mulai melihat dan melakukannya lebih mendalam, saya mengetahui apa makna, maksud dan manfaat belajar berfilsafat, khusunya untuk para calon guru. Semoga dengan belajar filsafat ini, kami dapat menjadi lebih kritis dengan kehidupan dan khususnya lebih kritis terhadap pendidikan, sehingga dapat memahami pendidikan dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan dapat bertindak bijaksana, sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  17. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam berfilsafat lihat dulu dalam dimensinya, munkin 3+5 sama dengan 8. Jika dimensinya sebagai objek matematika dengan dituliskan 3+5=8. Namun dengan melafalkannya “ 3 ditambah 5 sama dengan 8” akan berbeda lagi mungkin itu hal yang salah, seperti yang dijelaskan dalam artikel ini. Sehingga dalam berfilsafat perlulah memahami dimensinya, namun dalam berfilsafat membatasi dimensi Karena hal tersebut hanya untuk para mitos saja. Dalam filasat harus memikirkan yang ada dan yang munkin ada seperti yang dituliskan dalam artikel ini.

    ReplyDelete
  18. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Isi filsafat ialah buah pikiran filosof. Bagaimana cara mempelajarinya? Ini adalah kata lain bagi bagaimana cara memahaminya. Pertama sekali perlu kiranya diketahui bahwa isi filsafat amat luas. Luasnya itu disebabkan pertama oleh luasnya obyekpenelitian (obyek material) filsafat, yaitu segala yang ada dan mungkin ada. Sebab lain ialah filsafat adalah cabang pengetahuan yang tertua. Dan sebab ketiga adalah pendapat filosof tidak ada yang tidak layak dipelajari, tidak ada filsafat yang ketinggalan zaman. Ada tiga macam metode mempelajari filsafat: metode sistematik, metode histories, metode kritis. Metode Sistematis berarti pelajar menghadapi karya filsafat. Misalnya mula-mula pelajar menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat. Setelah itu ia mempelajari teori hakikat yang merupakan cabang lain. Kemudian ia mempelajari teori nilai atau filsafat nilai. Metode Hiastoris digunakan bila para pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya, jadi sejarah pemikiran. Metode Kritis digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif. Pelajar haruslah sedikit banyak telah memeliki pengetahuan filsafat.

    ReplyDelete