Oct 10, 2012

Forum tanya Jawab 54: Dialog Filsafat ke dua

Oleh Marsigit

Mahasiswa:
Maaf Pak, masih banyak hal yang perlu kami tanyakan.



Marsigit:
Silahkan

Mahasiswa:
Lha, apakah yang disebut Filsafat Ilmu? Apa bedanya Filsafat Ilmu dengan Filsafat?

Marsigit:
Filsafat Ilmu mempelajari sumber-sumber ilmu, macam-macam ilmu dan pembenaran ilmu.
Filsafat Ilmu tidak lain tidak bukan adalah Epistemologi itu sendiri.

Mahasiswa:
Apa hubungan antara Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi?

Marsigit:
Ontologi mempelajari hakekat atau makna segala sesuatu. Epistemologi adalah metodenya. Sedangkan Aksiologi adalah normanya. Tiadalah metode berpikir tanpa obyek berpikir. Metode berpikir adalah epistemology, obyek berpikir adalah ontology, maka tiadalah dapat dipisahkan antara epistemology dan ontology.

Mahasiswa:
Apa hubungan antara Filsafat dengan Filsuf?

Marsigit:
Filsafat adalah pikiran para Filsuf. Maka mempelajari Filsafat adalah mempelajari Pikiran Para Filsuf. Adalah omong kosong jika engkau ingin mempelajari Filsafat tetapi tidak mempelajari Pikiran para Filsuf.

Mahasiswa:
Kalau begitu bagaimana aku bisa mempelajari pikiran para Filsuf dalam perkuliahan Bapak?

Marsigit:
Baca dan bacalah referensinya. Sumber Primer adalah Buku-buku karya Filsuf yang berisi pikiran mereka. Sumber Sekunder adalah buku-buku yang berisi Pikiran para Filsuf yang dituturkan oleh orang lain. Demikian ada sumber Tersier, Kuarter dst.

Mahasiswa:
Apa relevansi pikiran Pak Marsigit dalam perkuliahan Filsafat.

Marsigit:
Dalam perkuliahan Filsafat maka mahasiswa perlu mempelajari pikiran para Filsuf. Seorang Dosen Filsafat seperti saya berkewajiban menghadirkan pikiran para Filsuf dengan berbagai cara.

Mahasiswa:
Maksud saya, apakah pikiran Pak Marsigit mencerminkan Filsafat?

Marsigit:
Tidaklah mudah menerima amanah menjadi dosen Filsafat itu. Maka ujilah pikiran-pikiranku itu melalui tulisan-tulisanku dalam Elegi-elegi. Anda sendiri yang kemudian menentukan seberapa jauh pikirankumencerminkan Filsafat.

Mahasiswa:
Kenapa P Marsigit tidak menjelaskan Filsafat secara singkat, padat, gamblang sehingga mudah dipelajari? Kemudian, apakah dan bagaimanakah metode mengajar Filsafat yang diterapkan?

Marsigit:
Aku berusaha membelajarkan Filsafat dengan metode filsafat. Aku membiarkan murid-muridku membangun sendiri Filsafatnya. Aku hanya berusaha sekeras mungkin melayani kebutuhan muridku dalam membangun Filsafat. Maka tidaklah aku memberikan Filsafat itu kepada murid-muridku, kecuali anda semua mencari dan membangunnya sendiri.

Mahasiswa:
Mengapa Bapak membuat Blog dan Elegi-elegi?

Marsigit:
Blog adalah teknologi, sedangkan Elegi adalah pikiranku. Jikalau engkau ingin belajar Filsafat kepadaku maka pelajarilah Pikiranku. Pikiranku sudah aku sebarkan di dalam Elegi-elegi.

Mahasiswa:
Paradigma apa yang melatarbelakangi cara Bapak mendidik kami?

Marsigit:
Berdasarkan pengalaman saya, maka dengan ini aku proklamirkan bahwa aku telah menemukan dan mengembangkan Paradigma Belajar sebagai berikut: “Belajar adalah sintesis dari tesis-tesis dan anti-tesis anti tesis dari segala yang ada dan yang mungkin ada dari diriku maupun dari luar diriku yang merentang dalam ruang dan waktu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan, baik secara intensif maupun ekstensif”

Mahasiswa:
Wah saya agak bingung, karena kalimatnya telalu panjang. Singkatnya bagaimana Pak?

Marsigit:
Singkatnya, “Belajar itu kapanpun dan dimanapun secara kontinu”. Itulah relevansi penggunaan Blog, karena Blog akan menjamin dan menfasilitasi anda dapat belajar kapanpun dan di manapun.

Mahasiswa:
Kenapa Pak Marsigit pernah mengatakan bahwa pada akhir perkuliahan malah nantinya mahasiswa tidak bisa mendefinisikan Filsafat?

Marsigit:
Pada akhir kuliah anda akan tahu bahwa ada berbagai macam kebenaran. Jika kebenaran itu satu maka itu Monisme. Jika kebenaran itu mutlak maka itu Absolutisme. Jika kebanaran itu satu maka cukup mudah mendefinisikan Filsafat, yaitu cukup diambil dari sumbernya saja. Jika kebenaran itu banyak itu Pluralisme. Dalam Pluralisme, maka yang ada dan yang mungkin ada berhak mendefinisikan Filsafat. Jika demikian maka engkau tidak bisa hanya mengambil satu atau beberapa dari semuanya itu. Maka anda tak pernah mampu mendefinisikan Filsafat.

Mahasiswa:
Siapakah yang paling berhak mempelajari Filsafat? Apakah orang beragama? Apakah orang kafir boleh mempelajari Filsafat?

Marsigit:
Setiap orang bisa mempelajari Filsafat. Jika orang Islam berfilsafat maka semoga semakin baik ke Islamannya. Jika orang Majusi belajar filsafat maka semakin baik Majusinya. Jika orang Kafir berfilsafat maka mungin semakin Kafirlah dia.

Mahasiswa:
Kapan dan darimana kita mulai dan berhenti belajar Filsafat

Marsigit:
Anda dapat mempelajari Filsafat kapanpun dan dari manapun. Berhenti kapanpun dan di manapun.

Mahasiswa:
Siapakah orang yang paling bodhoh itu?

Marsigit:
Orang yang paling bodhoh adalah orang yang sudah merasa jelas.

Mahasiswa:
Siapakah orang yang paling pandai itu?

Marsigit:
Orang yang paling pandai bukanlah diriku.

Mahasiswa:
Siapakah orang yang paling seksi?

Marsigit:
Orang yang paling seksi adalah Barack Obama

Mahasiswa:
Siapa orang yang paling berbahaya?

Marsigit:
Orang yang paling berbahaya adalah diriku.

Mahasiswa:
Saya harus bagaimana Pak, karena kemarin tidak ikut ujian?

Marsigit:
Dunia adalah dirimu. Aku hanya menyaksikannya. Hidup ini berkomponen liner ke depan. Maka sabar, tawakal dan berdoalah secara ikhlas untuk menatap masa esokmu.

Mahasiswa:
Nilaiku Test Jawab singkat jelek Pak. Sedangkan Ujian tertulisnya sangat sulit. Terus bagaimana Pak, apakah saya terancam tidak lulus?

Marsigit:
Semua tes dan ujian bermanfaat untuk melihat diri dan introspeksi. Tes yang telah aku laksanakan menunjukkan lemahnya pikiran kita untuk mengetahui segala yang ada danyang mungkin ada di luar pikiranku. Jika demikian maka satu-satunya harapan adalah dengan cara membaca Elegi-elegi secara ikhlas.

Mahasiswa:
Apa yang dimaksud membaca Elegi secara Ikhlas?

Marsigit:
Pahamilah isinya. Bacalah komen-komennya. Sintesiskan pikiran yang lain dan hasilkanlah anti-tesis anti-tesisnya.

Mahasiswa:
Terimakasih Pak.

Marsigit:
Terimakasih kembali. Selamat berjuang. Semoga sukses. Amin.

33 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Belajar filsafat yang baik dan lengkap harus mengetahui pemikiran para filsuf karena filsafat lahir dari mereka. Salah satu cara belajar filsafat daapt dengan membaca elegi-elegi yang dituliskan oleh Prof Marsigit. Dari elegi – elegi yang bermacam jenisnya tersebut menambah pengetahuan yang sebelumnya belum pernah terdengar dan terpikirkan oleh saya, jadi banyak ide - ide baru dan pengalaman yang saya dapatkan dari tulisan dalam blog bapak.

    ReplyDelete
  2. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    tonggak dasar utama filsafat itu Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. yang mana pengertian dari ketiga pondasi ini adalah Ontologi mempelajari hakekat atau makna segala sesuatu. Epistemologi adalah metodenya. Sedangkan Aksiologi adalah normanya. Tiadalah metode berpikir tanpa obyek berpikir. Metode berpikir adalah epistemology, obyek berpikir adalah ontology, maka tiadalah dapat dipisahkan antara epistemology dan ontology. maka dalam mempelajari filsafat selalu akan menyangkut k3 pondasi dasar ini.

    ReplyDelete
  3. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ketika kita ingin memahami ada dan yang mungkin ada, hendaknya kita peka terhadap ruang dan waktu. Filsafat mengajarkan banyak hal baik dalam proses belajar menemukan jati diri dan keutamaan hidup. Tidak ada manusia yang sempurna, sehingga kita terjebak pada pemikiran sendiri. Maka dari itu kita harus pandai-pandai membawa diri dalam memahami apa yang ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  4. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam forum ini saya tertarik dengan pertanyaan “Siapakah orang yang paling bodoh itu?”, mungkin jika saya ditanya tentang hal seperti itu, dengan pemikiran singkat langsung saya jawab adalah orang yang tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, orang yang tidak mengerti apa pun, dan masih banyak lagi. Namun setelah memikirkan lebih lanjut, benar pernyataan dari prof, karena sebenar-benarnya orang bodoh adalah orang yang sudah merasa jelas. Dalam hal ini, seseorang yang sudah merasa jelas adalah orang yang tidak mau menambah lagi penetahuannya, karena sudah merasa jelas.

    ReplyDelete
  5. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Sebenar-benar berfilsafat adalah hasil pikiran para filsuf. di sisi lain filsafat yang baik bagi diri seseorang adalah filsafat yang ia bangun sendiri. Maka dari itu untuk membangun filsafat kita masing-masing harus mempunyai landasan atau referensi yang kokoh dengan membaca pemikiran-pemikiran para filsuf terdahulu yang sesuai dan logis agar filsafat yang kita bangun adalah filsafat yang baik dan dapat berguna bagi kehidupan bermasyarakat. Dalam berfilsafat orang yang paling berbahaya adalah diriku sendiri, jika aku memaksakan kehendak atau pendapat ku kepada orang lain. Maka dalam berfilsafat kita harus menjunjung tinggi sopan santun dan menghargai orang lain.

    ReplyDelete
  6. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam mempelajari filsafat, seseorang dituntut untuk berpikir secara sistematik. Sistem adalah kebulatan dari sejumlah unsur yang saling berhubungan menurut tata pengaturan untuk mencapai sesuatu maksud atau menunaikan suatu peranan tertentu. Dalam mengemukakan jawaban terhadap suatu masalah, para filsuf memakai brbagai pendapat sebagai wujud dari proses berpikir yang disebut berfilsafat. Pendapat-pendapat yang meruoajan uraian kefilsafatan itu harus saling berhubungan secara teratur.

    Sumber : Banasuru,Aripin.2014. Filsafat dan Filsafat Ilmu. Bandung : Alfabeta

    ReplyDelete
  7. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dalam perkuliahan bersama Prof. Marsigit memang tidak mudah untuk memahaminya, tetapi Prof. Marsigit membuat blog yang di dalamnya terdapat karya-karya beliau yang dapat digunakan untuk memahami pikiran beliau karena menurut saya beliau adalah seorang filusuf sehingga kita harus memahami pemikiran beliau.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Keikhlasan untuk mengemukakan pendapat sangat diperlukan dalam berfilsafat. Hal ini dimaksudkan agar kita mampu menerima setiap perbedaan pemikiran, memperoleh masukan dan menjadikan filsafat tidak hanya sebagai bagian dari olah piker tetapi juga sebagai kajian refleksi untuk kita. Filsafat dapat kita pelajari kapan pun dan di mana saja kita berada, tidak terbatas pada ruang dan waktu. Oleh karena itu, kita harus berusaha memanfaatkan setiap ruang dan waktu yang ada sehingga mampu untuk mengemukakan pendapat, berpikir dan berefleksi dalam filsafat.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam mempelajari filsafat perlu diingat bahwa mempelajarinya tidak boleh sepotong-sepotong dan harus kontinu, saat kita tidak belajar secara kontinu, kita hanya akan merasa jelas sehingga kita akan menjadi orang yang bodoh karena pengetahuan kita yang awalnya logos berubah menjadi mitos. Menerjemahkan dan diterjemahan itu berbeda-beda untuuk setiap orang karena pendapat orang-orang pun beda. Maka janganlah kita merasa puas dan sombong tetapi terus memelajari dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir.

    ReplyDelete
  10. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Belajar filsafat meliputi epistimologi, ontologi, dan aksiologi. Belajara berfilsafat haruslah dilakukan dengan komprehensif/ tidak parsial, dan merefer pikiran para filsuf. Menurut saya ketika filsafat diajarkan secara teoritis malah akan menjadi membosankan dan membuat mahasiswa merasa jelas yang mana jelas disini malah dapat berarti kosong. Ketika belajar filsafat dengan menggunakan elegi, filsafat akan menjadi lebih menarik, tetapi membingungkan. Sejatinya bingung adalah awal dari filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  11. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala hingga sekarang. Disini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana tmbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika dan tentang keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang jaman purba dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing-masing. Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu filsafat itu dg tidak mementingkan urutan jaman perjuangannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam bidang logika dipersoalkan mana yg benar dan mana yg salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yg benar dan mana yg salah. Kemudian dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yg baik dan manakah yg buruk dalam perbuatan manusia yg tidak membicarakan persoalan-persoalan logika atau metafisika. Dalam metode sistematis ini para filsuf kita saling berkonfrontasi satu sama lain dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam soal etika kita konfrontasikan saja pendapat-pendapat filsuf jaman klasik (Plato dan Aristoteles) dg pendapat filsuf jaman pertengahan (Al-Farabi atau Thimas Aquinas) dan pendapat filsuf jaman sekarang 'aufklarung' (Immanuel Kant dan lain-lain) dg pendapat-pendapat filsuf dewasa ini (Jaspers dan Marcel) dg tidak usah mempersoalkan aturan periodesasi masing-masing. Cara atau metode ini juga digunakan dalam mengkaji soal-soal logika maupun metafisika dan lain-lain.

    ReplyDelete
  12. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Dengan mempelajari filsafat, diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya. Mempelajari filsafat mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah. Selain itu, diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh
    mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.

    ReplyDelete
  13. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Filsafat adalah pikiranpara filsuf. Maka mempelajari filsafat adalah mempelajari pikiran para filsuf. Terdapat banyak sekali filsuf-filuf yang merentang dari waktu ke waktu. Ada diantaranya yang sangat terkenal ada pula yang tidak. Filsuf yang terkenal bahkan pemikirannya telah memiliki banyak pengikut. Beberapa filsuf yang terkenal memiliki pemikiriran yang saling bertentangan sehingga sering memunculkan perdebatan di kalangan pengikutnya. Tetapi masing-masing pemikiran filsuf pasti memiliki keterkaitan dengan pemikiran filsuf lain di dalam berfilsafat. Oleh karena itu jika kita ingin belajar filsafat, maka kita harus mempelajari pemikiran beberapa filsuf dan bukan hanya pemikiran satu filsuf. Adalah omong kosong jika kita ingin mempelajari filsafat tetapi tidak mempelajari pemikiranpara filsuf.
    Belajar adalah sintesis dari tesis-tesis dan anti-tesis tanti-tesis dari segala yang ada dan yang mungkin ada dari diriku maupun luar diriku yang merentang dalam ruang dan waktu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan, baik secara intensif maupun ekstensif. Artinya belajar itu dilakukan kapanpun dan dimanapu secara kontinu. Belajar adalah kebutuhan yang pokok seperti bernapas dan makan. Jika dulu kita pernah bernapas dan sekarang kita sedang bernapas, maka esok pun kita juga akan bernapas. Jika dulu kita pernah makan dan sekarang kita sedang makan maka nanti pun kita juga butuh makan. Jika dulu kita pernah belajar maka saat ini kita juga belajar bahkan esok pun kita harus belajar.

    ReplyDelete
  14. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    belajar bersifat terus-menerus, dimana dalam belajar tidak ada kata berhenti. bahkan kita dituntut untuk belajar dari buaian sampai ke liang lahat. begitupun dalam mempelajari filsafat. didalam filsafat terdapat perbedaan perbedaan pikiran para filsuf. mempelajari filsafat berarti mempelajari apa yang ada dipikiran para filsuf. dari jawaban jawaban bapak diatas saya mendapatkan kesimpulan bahwa proses belajar filsafat harus dibarengi dengan tawakkal ikhlas dan doa. serta kunci dari filsafat itu sendiri ialah membaca, membaca, dan membaca, karna belajar bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja

    ReplyDelete
  15. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Sejarah filsafat berasal dari pemikiran para filsuf. Nah, tentunya hal inilah yang menjadi pembatas dalam mempelajari ilmu filsafat. Meskipun berpikir secara mendalam namun alur dari pemikiran tersebut ada yang membatasinya. Selain itu, sikap konsisten sangat diperlukan ketika mempelajari sesuatu. Konsistensi inilah yang dapat memberikan peningkatan atau pergerakan sejauhmana ilmu yang sudah diperoleh. Perilaku konsisten bertanda bahwa seseorang memiliki niat yang kuat dan kesungguh-sungguhan dalam belajar. Keep spirit!

    ReplyDelete
  16. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Orang yang paling bodhoh adalah orang yang sudah merasa jelas."
    Saya merefleksikan kalimat di atas dengan sangat mendalam. Akhirnya saya menyadari bahwa memang orang uanh berpikir bahwa ia sudah mengerti tentanh segala sesuatu sebenarnya ia bodoh. Bodoh karena berpikir dunia itu sesempit itu sehingga ia telah mengerti semuanya. Bodoh karena berpikir ia cukup memahami dunia pada hari ini, padahal dunia dalam detik selanjutnya telah menjadi dunia yang berbeda. Bodoh karena berpikir ia mengerti dirinya sendiri, padahal bahkan relung hatinya tak dapat ia mengerti. Maka saya setuju bahwa orang yang paling bodoh adalah orang yang menganggap dirinya sudah jelas, karena proses mengerti dan memperoleh kejelasan akan terus terjadi selama hidup, karena hidup kita dan dunia ini terus berubah..

    ReplyDelete
  17. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang dibagikan
    Tidak terkejut dengan pernyataan bahwa di akhir kuliah mahasiswa tiadalah mampu mendefinisikan filsafat. Tanpa menunggu perkuliahan ini berakhir, hal itu sudah berkecamuk dalam diri saya. Betapa tidak? Perjalanan filsafatku telah membawaku dalam beberapa situasi membingungkan dan tidak konsisten (oleh diri saya). Tentang kebenaran, sering kali saya langsung mempercayai kebenaran suatu hal tanpa mencari tesis dan anti tesisnya. Sungguh ini merupakan kesombongan saya.
    Satu lagi, hal yang membuatku tiada mampu berkata-kata. Ya, pada satu elegy, saya merasa sangat bingun dan benar-benar tidak paham; pada elegy senlanjutnya saya merasa mendapatkan jawaban atas kebingungan saya sebelumnya, seakan-akan saya telah memperoleh “kebenaran” suatu ilmu; dan ternyata tidak berhenti, sampai pada elegy selanjutnya lagi, terulang seperti semula, adalah bingung, dan merasa betapa sombongnya diri ini yang sudah merasa jelas meskipun baru membaca dua elegy. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, dijauhkan sejauh-jauhnya dari kesombongan, sejauh utara dengan selatan, sejauh timur dengan barat.

    ReplyDelete
  18. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Jika ingin belajar filsafat maka, kita harus belajar pemikiran filsuf. Untuk mempelajari pemikiran filsuf bisa dengan kita bertanya kepada seorang filsuf tersebut, bisa dengan cara membaca tulisan tulisan filsuf, dsb. Salah satu contoh yang sedang saya lakukan sekarang, yaitu membaca artikel/elegi-elegi seorang filsuf yang dituangkan dalam blog. Saya membaca pemikiran pemikiran pak Marsigit, ini berarti saya sedang belajar filsafat. Jika kita membaca pemikiran filsuf secara tidak langsung kita mencoba mencerna, menganalisis pendapat filsuf. Dari sini proses pembelajaran berlangsung.
    Dengan adanya blog ini, memudahkan saya tentunya untuk membaca kumpulan kumpulan pemikiran salah satu filsuf. Tanpa bertemu pun, saya sudah bisa dapat gambaran beberapa pemikiran filsuf dari tulisan yang ada di blog ini. Ini salah satu inovasi, dimana dengan memanfaatkan teknologi, sesuai dengan era globalisasi kita tetap bisa belajara lewat teknologi. Terimakasih

    ReplyDelete
  19. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Mengenai belajar filsafat tidak lah jauh dari baca, baca dan baca. tetapi tidak hanya belajar filsafat saja untuk terus membaca akan tetapi belajar ilmu dibidang lain juga harus terus membaca. Belajar filsafat haruslah memang berdasarkan dengan pemikiran para filsuf. Akan tetapi saya merasa tidak cukup mudah untuk membaca para prmikiran para filsuf, terkadang membaca elegi bapak saja saya cukup mengalami kesulitan untuk memahaminya. Dengan membaca blog yang sudah bapak fasilitasi ini saya memanfaatkan sebenar-benarnya untuk belajar filsafat ilmu, karena sebagi seorang pemula dalam belajr filsafat tidaklah mudah untuk langsung memahami apa yang ada dalam pikiran para filsuf. semoga saya dapat tetap konsisten untuk terus baca, baca dan baca.

    ReplyDelete
  20. Gamarina Isti Ratnasari
    Pendidikan Matematika Kelas B (Pasca)
    17709251036

    Pernah suatu ketika saya ditanya apa manfaat belajar sejarah padahal saya tidak berencana untuk masuk dan bekerja di dunia beraspek sejarah sebagai dasar ilmu pengetahuannya. Pemikiran ssperti itu yang membuat saya berpikir hal yang dapat menurunkan kualitas pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Hal yang perlu diingat dan dipastikan adalah bahwa semua ilmu sangat bermanfaat. Tergantung dalam mempelajari ilmu tersebut seseorang ikhlas atau tidak. Saat seseorang belajar dengan ikhlas maka seseorang itu akan dengan mudah membangun pengetahuan dalam diri sendiri, namun apabila belajar hanya untuk mendapatkan suatu pengakuan mungkin keinginan itu hanya tercapai pada harapannya saja.

    ReplyDelete
  21. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Bapak yang telah memfasilitasi kami belajar dan memungkinkan kami dapat belajar dimana saja dan kapan saja. Selanjutnya saya mencoba untuk memahami dialog filsafat, bahwa ternyata belajar filsafat adalah belajar tentang yang ada dan yang mungkin ada. Belajar tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi dari yang ada dan yang mungkin ada. sumber belajar filsafat diklasifikasikan menjadi sumber primer, sekunder, tersier dan seterusnya. Dalam belajar filsafat tujuannya bukan untuk merasa jelas dan bisa akan sesuatu tetapi justru menjadikan diri ini menyadari akan kekurangan dan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan. Dalam belajar filsafat juga harus berpegang teguh pada keyakinan sehingga dengan belajar filsafat akan semakin menguatkan keyakinan masing-masing.

    ReplyDelete
  22. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Inti dari belajar filsafat adalah belajar untuk berpikir secara mendalam dan luas. Cara untuk mempelajari “berpikir mendalam dan luas” adalah dengan memahami pemikiran-pemikiran filsuf-filsuf yang sudah ada mendahului kita yaitu tentang membaca sebanyak-banyaknya tulisan-tulisa atau buku-buku hasil karya para filsuf yang berisi pemikiran-pemikiran mereka baik yang merupakan sumber primer, sekunder, tersier, kuarter dst. Dengan memahami pemikiran filsuf maka kita akan memahami bagaimana para filsuf itu berpikir maka dengan sendirinya kita juga akan mempertajam kemampuan berpikit kita.

    ReplyDelete
  23. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dalam mempelajari filsafat itu hendaknya secara intensif dan ekstensif yaitu dipelajari dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Untuk orang yang baru belajar filsafat mungkin akan muncul berbagai konflik di dalam pemikirannya, merasa bingung di dalam pikiran dan sebagainya. Hal itu merupakan hal yang wajar, tetapi jangan sekali kali kita bingung di dalam hati karena jika bingung di dalam hati semua akan menjadi kacau. Oleh karena itu, ketika muncul kebingan di dalam pikiran, maka kita harus menyadari bahwa masih perlu banyak-banyak membaca agar dapat menyesuaikan diri dan mengatasi kebingungan kita.

    ReplyDelete
  24. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sekarang sudah banyak berkembang pembelajaran yang memanfaatkan blog. Salah satu diantaranya kuliah filsafat pendidikan matematika. Kuliah dengan blog ini memberikan lebih banyak sumber belajar yang dapat dipetik mahasiswa. Karena kuliah tidak hanya bersumber dari satu buku saja tetapi mempelajari berbagai ide dan pemikiran dari para filsuf, hal ini dapat memperkaya pengetahuan baru yang diperoleh mahasiswa.

    ReplyDelete
  25. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Ilmu filsafat dan filsafat ilmu adalah dua hal yang berbeda. Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Ilmu tumbuh dari filsafat dan filsafat mempunyai akar-akar dalam suatu tradisi yang mencakup permulaan-permulaan dari ilmu.

    ReplyDelete
  26. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Belajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Kunci utama sukses dalam belajar adalah ikhlas. Ikhlas tidak semudah yang kita bayangkan, kita penuh dengan keterbatasan, berusaha berusaha dan berusaha menjadi lebih baik. Begitu pun dalam belajar filsafat, membaca karya/pikiran orang lain dengan ikhlas. Dan pasti akan ada sesuatu yang dapat kita ambil darinya.

    ReplyDelete
  27. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Belajar filsafat adalah mempelajari pikiran para filsuf. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membaca elegi-elegi yang ada dalam blog ini. Tetapi dalam mmebaca harus diikuti dengan pikiran kritis dan hati yang ikhlas. Pikiran kritis, artinya dalam membaca kita tidak hanya sekedar membaca, tetapi mencoba memahami makna dari bacaan tersebut. Dalam memhaminya, kita harus serusaha untuk tidak memahaminya secara parsial, sepotong-sepotong, tetapi secara keseluruhan. Ikhlas, artinya ketika kita membaca kita haruslah ikhlas. Meskipun ikhlas adalah perkara yang sulit, tetapi kita harus berupaya senantiasa ikhlas. Maka yang sebenarnya kita lakukan adalah berupaya menggapai pikiran kritis dan ikhlas dalam belajar, termasuk belajar filsafat. Semoga Allah SWT mengampuni kita jika dalam belajar filsafat ini kita masihlah kurang dalam berpikir kritis dan ikhlas, dan semoga kita juga dimudahkan untuk senantiasa berpikir kritis dan ikhlas. Amin.

    ReplyDelete
  28. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Belajar filsafat meliputi epistimologi, ontologi, dan aksiologi. Belajara berfilsafat haruslah dilakukan dengan komprehensif/ tidak parsial, dan merefer pikiran para filsuf. Menurut saya ketika filsafat diajarkan secara teoritis malah akan menjadi membosankan dan membuat mahasiswa merasa jelas yang mana jelas disini malah dapat berarti kosong. Ketika belajar filsafat dengan menggunakan elegi, filsafat akan menjadi lebih menarik, tetapi membingungkan. Sejatinya bingung adalah awal dari filsafat itu sendiri

    ReplyDelete
  29. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    setelah membaca tes tanya jawab diatas, menurut saya, dalam mempelajari filsafat tidak bisa didapat secara instan dan cukup berhenti sampai situ ketika sudah mendapatkan jawabannya. karena mempelajari filsafat berarti juga mempelajari pemikiran para filsuf, yang kesemuannya itu sangatlah luas. oleh karena itu dalam mempelajari filsfat itu harus kontinu, berkelanjutan tiada batasnya orang belajar begitupun dalam mempelajari filsafat. sehingga dibutuhkan ikhlas hati, iklhas pikir.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  30. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  31. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Tertarik dengan pertanyaan mahasiswa yang bertanya bagaimana apabila di akhir perkuliahan justru tidak bisa mendefinisikan filsafat, perkuliahan tidak hanya seputar memahami definisi atau sekedar mampu mendefinisikan. Untuk mendefinisikan sesuatu setiap orang bisa bisa saja menggunakan atau mendefinisikan dengan cara yang berbeda berdasarkan pengalaman yang diperolehnya, apapun definisi filsafat yang diutarakan setiap mahasiswa maka begitulah mereka memaknai filsafat berdasarkan pengalamannya selama berkuliah/ mempelajari filsafat.

    ReplyDelete
  32. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Dalam memahami yang ada dan yang mungkin ada, hendaknya kita lebih peka terhadap ruang dan waktu. Filsafat banyak mengajarkan hal baik dalam proses belajar menemukan jati diri dan keutamaan hidup. Tiadalah manusia yang diciptakan sempurna, sehingga seringkali kita terjebak dalam pemikiran kita sendiri. Maka pandai-pandailah membawa diri dalam memahami apa yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  33. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Objek Formal dan Objek Material dalam pendidikan matematika. Dalam beberapa yang saya baca mengenai objek formal dalam pendidikan matematika adalah metode yang digunakan untuk mencapai apa yang menjadi tujuan dalam pendidikan matematika. Tujuan secara keseluruhan atau mungkin tujuan dalam suatu waktu tertentu. Sedangkan objek material atau bisa juga disebut sebagai isi dari wadah, objek formal, merupakan apa yang disampaikan dalam pendidikan matematika atau bisa juga materi baik secara intensif maupun ekstensif. Objek formal dan material menjadi saling melengkapi seperti dalam konteks wadah dan isi.

    ReplyDelete