Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 24: Mohon Maaf Filsafatku




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskan tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk menemukan bahwa ternyata
aku harus memohon maaf karena menurut filsafatku, Segala Bencana dan Malapetaka yang Maha Dahsyat itu ternyata Hanyalah Jatuhnya Suatu Sifat yang satu kepada Sifat yang lainnya (aksiden).

Dapat menggunakan referensi.

Tuliskan sintesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.

Demikian selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit
Posted by D

9 comments:

  1. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat Kelas B 2016
    Filsafat adalah olah pikir sejauh mana kita dapat mengembarakan pikiran sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya sampai batas-batas kelajiman etik dan estetika masing-masing individu. Berfilasafat adalah bebas dan terikat, bebas dalam olah pikir dan terikat oleh keterbatasan manusia. Manusia diberikan akal dan pikiran serta hati untuk merefleksikan yang ada dan mungkin ada. Untuk belajar filsafat harus juga belajar dengan pikiran para filsuf, misalnya Plato, Scroates, Aristoteles, Kant, Ibnu Sina, Ibnu Kaldun, Al Farabi dll, melalui karyanya, buku, sejarahnya dan penuturan orang lain. dengan kata lain untuk belajar tentang filsafat harus belajar kepada orang yang telah mempelajari filsafat terlebih dahulu. Maka tidak ada belajar filsafat tanpa belajar tentang pikiran para filsuf dari yang ada dan mungkin ada, metodenya, pengetahuan dan kesimpulannya.

    ReplyDelete
  2. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Antara manusia satu dengan yang lainnya memiliki sifat masing-masing sesaui fitrahnya. Sifat yang dimiliki seseorang menentukan seseorang dalam bersikap juga. Adanya bencana alam seperti yang akhir-akhir in terjadi contohnya gempa bumi di beberapa daerah, dapat kita jadikan refleksi untuk kita renungkan. Ada beberapa hal positif yang dapat kita jadikan renungan, adanya gempa bumi mungkin sebagai peringatan Tuhan agar kita tidak semakin lalai, juga bisa diartikan sebagai ujian agar kita lebih giat beribadah, bersyukur, dan sabar. Bisa jadi adanya gempa bumi tersebut juga karena sikap manusia yang sering membuat kerusakan dan maksiat.

    ReplyDelete
  3. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Saya pikir, ini ada kaitannya dengan hukum sebab akibat. Termasuk segala bentuk bencana dan malapetaka yang terjadi di dunia ini. Segala bencana dan malapetaka tersebut adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri, yang merupakan jatuhnya sifat yang satu dengan yang lain. Namun, bisa saja ini teguran agar kita sebagai hamba senantiasa mengingat Tuhan dan memohon ampun atas segala dosa yang telah kita perbuat.

    ReplyDelete
  4. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Kalimat "aku harus memohon maaf karena menurut filsafatku, Segala Bencana dan Malapetaka yang Maha Dahsyat itu ternyata Hanyalah Jatuhnya Suatu Sifat yang satu kepada Sifat yang lainnya (aksiden)." Menurut pandangan saya memiliki makna bahwa setiap peristiwa dii bumi ini sifatnya saling berkaitan antar unsur-unsurnya. Misalnya air tumpah dikarenakan jatuhnya suatu tempat air sehingga menyebabkan isinya juga tumpah. Rasa kehilangan yang sangat dikarenakan rasa memiliki, rasa sakit hati dikarenakan rasa mencintai yang berlebihan, diklaim menjadi siswa bodoh karena ada peng'klaim'an siswa pandai kepada pemilik nilai terbaik. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa di bumi ini unsur-unsurnya saling berkaitan, baik unsur yang berlawanan, maupun unsur yang berdampingan.

    ReplyDelete
  5. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu alaikum

    Berdasarkan kalimat yang ada di atas bahwa segala bencana dan malapetaka yang Maha Dahsyat itu ternyata Hanyalah Jatuhnya Suautu sifat yang satu kepada sifat yang lainnya. Dari kalimat tersebut menandakan adanya sifat sebagai penyebab dan suatu sifat sebagai akibat. Saya teringat dengan suatu elegi yang mengangkat lagu almarhum Michael Jackson Earth Song yang menunujukkan angan-angan keadaan bumi yang indah, namun rusak karena adanya perilaku-perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Begitupun dengan keadaan sekarang berbagai bencana alam, kerusakan yang terjadi tidak lain tidak bukan yang sesungguhnya adalah perbuatan manusia itu sendiri. Oleh karena itu sebelum kita bertindak kita harus memikirkan dengan baik dengan matang apakah nantinya tindakan kita mempunyai dampak yang positif atau sebaliknnya berdampak negatif.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  6. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Memahami filsafat sama artinya dengan memahami pemikiran para filsuf. Dan ada banyaknya filsuf dengan berbagai macam pemikirannya seringkali membuat kita harus “ekstra” dalam mempelajarinya. Segala macam kesulitan, rintangan dan hambatan dalam belajar seringkali membuat kita “setengah hati” mempelajarinya, dan pada akhirnya berujung pada kekurangan rasa ikhlas. Rasa tidak ikhlas inilah yang membuat semuanya menjadi semakin sulit. Ya, filsafat itu sudah sulit. Hati yang tidak ikhlas membuatnya semakin sulit. Mohon maaf filsafatku, memahamimu sesungguhnya mengajarkanku arti ikhlas dalam memahami ilmu.

    ReplyDelete
  7. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend Matematika S2 Kelas B

    Bencana apabila kita menilik dari sudut pandang filsafat dapat diartikan sebagai jatuhnya suatu sifat yang satu kepada sifat yang lain. Hal ini dikarenakan suatu sifat yang tidak terjadi sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan jatuhnya suatu sifat ke sifat lainnya. Namun jika melihat tanpa kacamata filsafat, segala sesuatu termasuk bencana datang dari Tuhan. Tuhan lah yang menghendaki adanya bencana dan malapetaka terjadi di muka bumi ini. Terkadang Tuhan pun mendatangkan bencana dan malapetaka karena kita sebagai manusia berjalan di muka bumi ini dengan tidak memperhatikan rambu-rambu yang telah Tuhan berikan. Hal ini mungkin terjadi karena manusia tidak berbuat sebagaimana semestinya, sehingga jatuh ke sifat yang lain. Karena hal tersebutlah Tuhan menegur manusia dengan mendatangkan bencana.

    ReplyDelete
  8. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Menurut saya sesuatu akan menjadi bencana dan malapetaka apabila kita mempelajari filsafat tidak sungguh-sungguh atau setengah-setangah. Itu artinya yang ada dalam pikiran hanyalah pikirannya saja tidak berlandaskan teori filsuf, sama halnya dengan kesombongan dalam berfilsafat, tentunya akan membawa bencana yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  9. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Itulah fenomena yang terjadi saat kita berfilsafat namun tidak disertai spiritual yang bagus. Prof. Marsigit sejak awal sudah memberikan warning bahwa sebelum kita mengembarakan pikiran, kita harus perkuat spiritual kita. Jangan sampai, jangan pernah kita mengubah paradigma kita tentang Tuhan dan menggugat Tuhan. Tidak percaya adanya Tuhan. Mengabaikan Tuhan menjadi suatu positivisme. Naudzubillah.
    Jatuhnya satu sifat ke sifat yang lain adalah tertutupnya hati oleh keburukan-keburukan. Hingga akhirnya tidak ada kebaikan sama sekali.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id