Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 68: Tajamnya dan Kejamnya Reduksionism




Ass, masih tercecer persoalan belajar filsafat. Berikut saya nukilkan pendapat atau pernyataan Ibu Sri Mugiyoningsih " pembelajaran kontekstual yang menghubungkan matematika dengan dunia nyata, maka aspek filsafatnya adalah logicism".


Berbagai macam Alat Berpikir yang saya kembangkan dalam perkuliahan Filsafat meliputi pengertian tentang : Mitos, Jebakan Filsafat, Berpikir secara Ikhlas, Abstraksi, Reduksi, Determinist, Infinite Regress...dst..mempunyai tujuan agar kita mampu memberFilsafatkan Hidup ini dengan intensif dan ekstensif.

Di dalam Reduksi terkandung Abstraksi yaitu suatu metode berpikir yang Sangat Tajam tetapi sekaligus Sangat Berbahaya. REDUKSI dengan ABSTRASI nya Sangat Tajam karena Tidak Ada Aspek hidup ini yang terbebas darinya. Sampai-sampai aku bisa mengatakan bahwa Hidup ini tidak lain adalah Reduksi atau Abstraksi.

Tetapi Reduksi dengan Abstraksinya sangatlah Berbahaya karena Setiap Langkahnya mengandung ELIMINASI sifat-sifat yang tereduksi.

Kembali ke pernyataan Ibu Sri Mugiyoningsih "pembelajaran kontekstual yang menghubungkan matematika dengan dunia nyata, maka aspek filsafatnya adalah logicism", menurut saya inilah salah satu Bahayanya Reduksi. Jika Pembelajaran Kontekstual direduksikan ke Filsafat Logicism, menurut saya terlalu Gegabah atau suatu Reduksi yang kurang tepat. Kenapa?

Maka cermatilah ontologisnya atau hakekatnya Pembelajaran Kontekstual, dan cermatilah Filsafat Logicism?

Alasan mengapa dan bagaimananya, kembali saya serahkan kepada Pembaca.

Selamat mencoba.

Amin

7 comments:

  1. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Reduksionisme tidak menghalangi keberadaan apa yang biasa disebut dengan [fenomena emergen], tetapi hal itu menyiratkan kemampuan untuk memahami fenomena tersebut secara lebih lengkap dalam hal proses di mana mereka terbentuk. Pemahaman reduksionis ini sangat berbeda dari yang biasanya diimplikasikan oleh istilah emergence, yang secara khusus bermaksud bahwa apa yang muncul lebih dari jumlah proses-proses dimana ia muncul. Dalam matematika, reduksionisme dapat diartikan sebagai filosofi bahwa semua matematika dapat (atau harus) dibangun di atas dasar yang sama, yaitu teori himpunan aksiomatik biasanya. Ernst Zermelo adalah salah satu pendukung utama dari pandangan ini, dia juga mengembangkan banyak teori himpunan aksiomatik. Hal ini telah dikemukakan bahwa metode yang berlaku secara umum dari pembenaran aksioma matematika dengan kegunaannya dalam praktik umum dapat berpotensi merusak program reduksionis Zermelo.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Reduksionisme ontologis merupakan suatu anggapan bahwa segala sesuatu yang ada terbuat dari sejumlah kecil zat dasar yang berperilaku secara biasa (bandingkan dengan monisme). Reduksionisme ontologis menyangkal gagasan munculnya ontologis, dan mengklaim bahwa kemunculannya merupakan fenomena epistemologis yang hanya ada melalui analisis atau deskripsi dari suatu sistem, dan tidak ada pada tingkat dasar. Reduksionisme ontologis mengambil dua bentuk yang berbeda: reduksionisme ontologis tanda dan reduksionisme ontologis tipe. Reduksionisme ontologis tanda adalah gagasan bahwa setiap hal yang ada adalah sebuah gabungan hal. Untuk hal-hal yang dapat dipahami, dikatakan bahwa setiap hal yang dapat dipahami merupakan jumlah hal pada tingkat kompleksitas yang lebih kecil. Reduksi ontologis tanda dari hal-hal biologis menuju hal-hal kimia secara umum diterima. Reduksionisme ontologis tipe adalah gagasan bahwa setiap tipe hal merupakan jumlah dari tipe hal, dan bahwa setiap tipe hal yang dapat dipahami adalah jumlah tipe hal pada tingkat kompleksitas yang lebih rendah. Reduksi ontologis tipe dari hal-hal biologis menuju hal-hal kimia sering ditolak. Michael Ruse telah mengkritik reduksionisme sebagai suatu argumentasi yang tidak layak melawan vitalisme.

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Reduksionism dalam setiap langkahnya mengandung eliminasi sifat-sifat yang tereduksi. Di dalam reduksi terkandung abstrasi yaitu suatu metode berpikir yang sangat tajam tetapi sekaligus sangat berbahaya. Tidak ada aspek hidup ini yang terbebas dari reduksi dan abstasi. Dengan kata lain hidup ini adalah reduksi dan abstrasi.
    Tetapi reduksi juga dapat menjadi bahaya jika dilakukan dalam proses belajar filsafat. Filsafat itu ilmu yan tidak bisa dipelajari secara instan. Juga tidak tepat apabila dijawab hanya dengan simbolisasi saja. Jika pertanyaan filsafat benar-benar butuh dijawab maka jawabannya tak akan habis sampai pergantian masa jabatan presiden. Memberikan penjelasan filsafat secara singkat itu berbahaya karea yang demikian itu berarti telah melakukan reduksi yang luar biasa. Maka sebenar-benar jawaban dari pertanyaan filsafat itu membutuhan penjelasan. Akan sangat berbahaya jika belajar filsafat dengan cara mereduksi penjelasan-penjelasannya.

    ReplyDelete
  4. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya setuju dengan artikel di atas bahwa hidup ini adalah reduksi atau abstraksi. Kalimat lain menyatakan bahwa reduksi dengan abstraksinya sangatlah berbahaya karena setiap langkahnya mengandung eliminasi sifat-sifat yang tereduksi. Jadi sebenarnya reduksi dan abstraksi itu berbahaya karena mengandung pengurangan sifat-sifat yang seharusnya ada. Untuk itu dalam berfilsafat terkadang digunakan bahasa analog yang mencakup makna yang lebih luas. Selain itu untuk menghindari reduksi yang berlebihan, sering dalam berfilsafat bahwa satu pertanyaan, dijawab dengan banyak jawaban bisa puluhan bahkan ratusan jawaban.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu-ilmu yang ditularkan lewat postingan ini
    Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan. Oleh karena itu apa yang dikatakan ataupun apa yang dilakukan tidak terlepas dari aktivitas reduksi. Jadi hidup kita memanglah mereduksi dan mengabstraksi. Tiadalah dari kita yang mampu mengungkapkan makna hidup dari awal hingga akhir sama persis dengan kehidupan yang sesungguhnya. Maka di sinilah manfaat dari reduksi.
    Yang kedua, saya setuju dengan postingan di atas, salah satunya tentang bahaya reduksi. Ya, dengan reduksi, sering kali kita mengeliminasi sifat-sifat yang tereduksi. Lebih buruknya lagi, yang kita eliminasi adalah bagian-bagaian yang seharusnya tidak pernah dihilangkan. Subjektifitas manusia, sering kali menghilangkan hal-hal yang merugikan atau tidak membawa keuntungan baginya. Benar-benar di sini letak bahayanya. Sekali lagi terimakasih, sudah mengijinkan saya ikut berpendapat, sungguh ini sumber pembelajaran bagi saya. Terimakasih

    ReplyDelete
  6. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dalam hidup selalu ada yang namanya reduksi dan abstraksi. Reduksi yaitu teori atau prosedur menyederhanakan gejala, data, dan sebagainya yang kompleks sehingga menjadi tidak kompleks. Kalau Abstraksi yaitu proses atau perbuatan memisahkan untuk mendapatkan suatu kepastian. Dalam reduksi dan abstraksi maka akan dilakukannya eliminasi. Eliminasi yaitu menghilangkan, atau menyingkirkan sesuatu. Untuk mereduksi atau menyederhanakan sesuatu maka ada sesuatu yang dihilangkan atau eliminasi. Begitu juga abstraksi, untuk memisahkan/memilah sesuatu pasti ada proses eliminasi di dalamnya. Namun dalam mengeliminasi harus hati-hati. Takutnya malah kita menghilangkan sesuatu yang baik. Jadi dalam mengeliminasi sesuatu haruslah benar benar dipahami/ di teliti lagi.

    ReplyDelete
  7. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Pasca


    Dalam penelitian kualitatif proses mereduksi merupakan hal yang penting untuk menganalisis data. Setelah data yang diperoleh dikumpulkan kemudian disegmentasi atau dipilih sesuai dengan teori yang dirunut, maka tahap selanjutnya adalah mereduksi atau mencari kesamaan dari pengumpulan data tersebut. Reduksionisme menjadikan kita memiliki sifat teliti karenna seluruh objek diteliti bagian-bagiannya. Hal ini akan membantu kita dalam membuat sesuatu yang kompleks menjadi lebih sederhana walaupun terdapat penggabungan komponen-komponennya. JAdi menurut saya kegiatan reduksi sah saja untuk dilakukan, asalakan kegiatan reduksi ini lebih memberikan manfaatnya.

    ReplyDelete