Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 66: Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf



Ass, kepada semua Pembaca yang budiman,

Apa, bilamana dan bagaimana Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf?

Selamat menjawab, semoga bermanfaat.

Amin

11 comments:

  1. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016


    Para filsuf mempunyai cara pandang masing- masing mengenai makna kehidupan yang dicita-citakannya, pemikiran tentang semua yang ada dan yang mungkin ada dan yang lainnya. Menurut saya nyanyian seorang filsuf akan terjadi jika orang- orang masih menggunakan pemikiran para filsuf dalam mempelajari filsafat. sedangkan tangisan filsuf seperti ketika orang- orang terjebak dalam berpikir reduksinonis dan determinis karena itu merupakan orang yang paling berbahaya di dunia ini.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Tangisan dan nyanyian para filsuf dapat dimaknai sebagai pemikiran dan teori-teori yang mereka ungkapkan. Para filsuf ini bisa saja memiliki pemikiran yang sejalan, bisa juga bertolak belakang antar para filsuf tersebut. Hal ini menyebabkan banyaknya aliran-aliran dalam filsafat. Terserah kita mau memihak pada aliran yang mana karena semua aliran tersebut memiliki dasar pemikiran masing-masing.

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menurut saya, yang dimaksud dengan tangisan para filsuf adalah ungkapan untuk manusia yang belajar setengah-setengah, termasuk dalam belajar filsafat. Jika ia belajar filsafat secara sepotong-sepotong, tidak ikhlas atau terpaksa, tidak mau membaca atau hanya membaca elegi setengah-setengah, maka ia dapat terbelenggu dalam jebakan filsafat dan ia tidak akan memperoleh apapun kecuali akan menjadi seorang reduksionis terbesar di dunia. Padahal sebenar-benar orang paling berbahaya di dunia ini adalah seorang reduksionis yang determinis dengan ruang dan waktu salah.

    Sedangkan yang dimaksud dengan nyanyian para filsuf adalah ungkapan untuk manusia yang belajar dengan kesungguhan, ikhlas, totalitas, dan kontinu. Ia membaca elegi secara keseluruhan, membaca komen-komen yang sebelumnya, berusaha menghayati dan memahami, dan membuat antithesis dan menghasilkan tesis atas pemahamannya tentang elegi tersebut. Memang benar bahwa hidup adalah pilihan. Tapi karena ia belajar filsafat (atau mempelajari hal lainnya) dengan hati yang bersih, ikhlas, dan berpikir kritis, maka ia adalah seseorang yang berusaha menggapai reduksionis yang determinis dengan ruang dan waktu benar.

    ReplyDelete
  4. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    menurut saya Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf merupakan sebuah kiasan yang memiliki arti yang berbeda. pemikiran dan penghayatan mereka merukan suatu bentuk atau model yang merupakan refleksi dari apa yang terjadi saat ini. para filsuf memiliki banyak cara untuk mengekspresikan pemikiran mereka. menggunakan kata-kata kiasana merupakan cara bagi mereka agar orang yang belum memahami filsafat dapat mengerti dengan apa yang mereka pikirkan tanpa menyinggung kata-kata filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  5. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Belajar filsafat adalah bentuk dari keikhlasan, dimana kita memhami diri sendiri dan kehidupan sendiri. Filsafat ada tidak dengan sendirinya, filsafat mucul karena adanya proses belajar. Maka dari itulah dalam belajar filsfata sesorang harus membiasakan diri dengan banyak membaca, berpikir dan merubah sikap ke arah yang lebih baik. Keikhlasan menjadi kunci utama pada keterlaksanaan filsafat. Maka dari itu berbahagiala mereka yang memiliki keikhlasan hati untuk mau membuka hari dalam belajar filsafat dan tangisan para filsuf ketika ada seseorang yang ternyata kurang dapat memahami filsafat dikarenakan kurangnya ikhlas didalam hatinya.

    ReplyDelete
  6. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Tangisan filsuf adalah ketika kotornya hati yang mempengaruhi kejerihan pikiran sehingga banyak ilmu yang tidak terbuka.

    ReplyDelete
  7. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari sini, menurut saya nyanyian para filsuf bermakna bahwa apabila kita memahami dan dapat mengambil hal positif dari pemikiran filsuf yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan tangisan para filsuf itu sendiri adalah ketika kita hanya mempelajari setengah-tengah pemikiran para filsuf dan tidak ikhlas dalam mempelajarinya.

    ReplyDelete
  8. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Tangisan dan nyanyian para filsuf yang dimaksud mungkin adalah karya-karya yang dihasilkan oleh para filsuf tersebut, seperti elegi-elegi dan tulisan-tulisan hasil pemikiran filsuf lainnya. karya yang indah sekan menjadi nyanyian dan hal yang kurang mengenakan seakan akan menjadi tangisan.

    ReplyDelete
  9. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Tangisan dan nyanyian merupakan dua hal yang bertolak belakang, namun dapat terjadi secara bersamaan. Para filsuf akan menangis ketika kita tidak berfilsafat atau befilsafat tetapi tidak ikhlas, terlalu banyak menggunakan reduksi dalam berfilsafat, menjadi determinis, berfilsafat dengan tidak komprehensif, serta tidak paham dengan ruang dan waktu. Sementara itu, para filsuf akan bernyanyi ketika kita mau berusaha untuk berfilsafat.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Kita belajar filsafat berarti kita mempelajari buah pikir para filsuf. Filsuf sama seperti manusia pada umumnya, dapat menangis, tertawa, tersenyum, menyanyi, dsb. Namun tahukah kita bagaimana tangisan dan nyanyian para filsuf? Tahukah apa yang membuat para filsuf menangis dan tersenyum? Dari apa yang telah ku baca di beberapa elegi yang ditulis oleh Prof Marsigit, kini ku tahu bentuk tangisan dan nyanyian filsuf. Tangisan filsuf dikarenakan menemukan orang-orang yang belajar filsafat menjelma menjadi seorang reduksionis dan determinis. Hal ini dimungkinkan karena orang-orang memahami pemikiran-pemikiran filsuf tidak secara menyeluruh, mereka belajar setengah-setengah. Bahkan yang membuat filsuf lebih bersedih, mereka kurang ikhlas dalam mempelajari pemikiran-pemikiran filsuf. Sesungguhnya tak ada nilai kebanaran dalam mempelajari filsafat jikalau belajar tanpa mengacu kepada pemikiran-pemikiran filsuf. Belajar filsafat tanpa mengacu pada pemikiran filsuf maka hasilnya akan tercipta seorang yang diterminis. Sementara itu, nyanyian para filsuf terdengar merdu ketika menyaksikan para pembelajar filsafat menjelma menjadi seorang reduksionis dan determinis, mengapa demikian? Mengapa filsuf tersenyum bahagia dikarenakan hal yang telah membuatnya menangis? Ya, karena apa yang ada dalam pemikiran-pemikiran filsuf tentang sesuatu yang ada dan mungkin ada terbatasi oleh ruang dan waktu. Tangisan para filsuf karena reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu salah/buruk, sedangkan nyanyian para filsuf karena reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu benar/baik. Jadi tangisan dan nyanyian para filsuf dikarenakan satu hal yang sama, namun dibedakan oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Apa yang kita tulis adalah dari apa yang kita pikirkan. Pikiran pun bukanlah pikiran yang asal-asalan saja, namun juga dari penghayatan. Hidup tidak mungkin lepas dari reduksi, namun bagai mana kita mampu memanfaatkan reduksi sebagai alat yang benar dalam menggapai ilmu. Tangisan dan Nyanyian adalah dua hal yang berbeda namun bisa saja diartika bahwa tangisannya merupakan sebuah nyanyian dan nyayiannya adalah tangisan itu sendiri. Filsuf-Filsuf yang lahir dengan aliran-aliran baik yang sama dan yang berbeda begitu banyak. Filsuf mengkaji berbagai ilmu dan pengetahuan untuk melahirkan sebuah aliran atau peimikiran namun masa dulu sampai kotemporer pasti melahirkan tangisan dan nyanyian.

    ReplyDelete