Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 66: Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf



Ass, kepada semua Pembaca yang budiman,

Apa, bilamana dan bagaimana Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf?

Selamat menjawab, semoga bermanfaat.

Amin

7 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Kita belajar filsafat berarti kita mempelajari buah pikir para filsuf. Filsuf sama seperti manusia pada umumnya, dapat menangis, tertawa, tersenyum, menyanyi, dsb. Namun tahukah kita bagaimana tangisan dan nyanyian para filsuf? Tahukah apa yang membuat para filsuf menangis dan tersenyum? Dari apa yang telah ku baca di beberapa elegi yang ditulis oleh Prof Marsigit, kini ku tahu bentuk tangisan dan nyanyian filsuf. Tangisan filsuf dikarenakan menemukan orang-orang yang belajar filsafat menjelma menjadi seorang reduksionis dan determinis. Hal ini dimungkinkan karena orang-orang memahami pemikiran-pemikiran filsuf tidak secara menyeluruh, mereka belajar setengah-setengah. Bahkan yang membuat filsuf lebih bersedih, mereka kurang ikhlas dalam mempelajari pemikiran-pemikiran filsuf. Sesungguhnya tak ada nilai kebanaran dalam mempelajari filsafat jikalau belajar tanpa mengacu kepada pemikiran-pemikiran filsuf. Belajar filsafat tanpa mengacu pada pemikiran filsuf maka hasilnya akan tercipta seorang yang diterminis. Sementara itu, nyanyian para filsuf terdengar merdu ketika menyaksikan para pembelajar filsafat menjelma menjadi seorang reduksionis dan determinis, mengapa demikian? Mengapa filsuf tersenyum bahagia dikarenakan hal yang telah membuatnya menangis? Ya, karena apa yang ada dalam pemikiran-pemikiran filsuf tentang sesuatu yang ada dan mungkin ada terbatasi oleh ruang dan waktu. Tangisan para filsuf karena reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu salah/buruk, sedangkan nyanyian para filsuf karena reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu benar/baik. Jadi tangisan dan nyanyian para filsuf dikarenakan satu hal yang sama, namun dibedakan oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  2. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Apa yang kita tulis adalah dari apa yang kita pikirkan. Pikiran pun bukanlah pikiran yang asal-asalan saja, namun juga dari penghayatan. Hidup tidak mungkin lepas dari reduksi, namun bagai mana kita mampu memanfaatkan reduksi sebagai alat yang benar dalam menggapai ilmu. Tangisan dan Nyanyian adalah dua hal yang berbeda namun bisa saja diartika bahwa tangisannya merupakan sebuah nyanyian dan nyayiannya adalah tangisan itu sendiri. Filsuf-Filsuf yang lahir dengan aliran-aliran baik yang sama dan yang berbeda begitu banyak. Filsuf mengkaji berbagai ilmu dan pengetahuan untuk melahirkan sebuah aliran atau peimikiran namun masa dulu sampai kotemporer pasti melahirkan tangisan dan nyanyian.

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Tangisan adalah cara seseorang mengungkapkan kesedihannya. Dalam hal ini tangisan para filsuf memiliki arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Tangisan para filsuf adalah bentuk kesedihan mereka ketika hasil pemiiran-pemikiran mereka tidak dihargai atau bahkan dilecehkan. Contohnya ketika seseorang berfilsafat lalu ia dengan sadar menggunakan pemikiran filsuf sebagai acuannya, tetapi tidak mencantumkan referensi atau bahkan mengaku-aku pemikiran filsuf tersebut. Contoh yang lain adalah ketika seseorang yang belajar filsafat dari pemikiran seorang filsuf dan orang tersebut hanya mempelajarinya setengah-setengah atau cenderung menginginkan yang instan. Maka seperti itulah tangisan para filsuf.
    Nyanyian adalah kegiatan yang menunjukkan rasa bahagia seseorang. Dalam hal ini nyanyian para filsuf memiliki arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Nyanyian para filsf adalah bentuk kebahagiaan mereka ketika hasil pemikiran-pemikiran mereka dihargai atau bahkan memiliki pengikut. Contohnya ketika seseorang berfilsafat lalu ia dengan sadar menggunakan pemikiran filsuf sebagai acuannya serta mencantumkan referensi terhadapnya. Apalagi jika karena hal tersebut pemikirannya tersebar ke para si belajar filsafat yang lain. Contoh yang lain adalah ketika pemikiran seorang filsuf dipelajari secara mendalam oleh seseorang yang sedang belajar filsafat. Mulaidari sejarah filsafatnya hingga kaitan-kaitannya dnegan pemikiran filsuf lain.

    ReplyDelete
  4. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Nyanyian dan tangisan adalah dua hal yang menggambarkan naik turunnya kehidupan. Nyanyian terdengar dari kebahagiaan, tangisan terdengar dari kesedihan.
    Nyanyian dan tangisan dapat terdengar selama refleksi diri. Terkadang ketika berefleksi, nyanyian terdengar dari kebahagiaan pencapaian refleksi diri itu sendiri. Bahagia karena menemukan sesuatu untuk dipelajari lebih lanjut. Bahagia karena mampu melampaui apa yang menjadi target. Tangisan terdengar dari kesedihan yang timbul saat menyadari diri. Sedih karena menyesali apa yang telah terjadi. Sedih karena sadar ketiadaan diri yang tak mampu berbuat apa-apa selain berserah kepada Tuhan.
    Nyanyian dan tangisan akan terus terdengar karena refleksi hidup akan terus berjalan.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    “Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf”. Saya melihat itu adalah analogi, yang harus dimaknai dengan cara sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. “Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf”, saya melihat dua kondisi itu muncul secara beriringan, ketika ada “tangisan” maka muncul juga “nyanyian”. Tangisan para filsuf, menurut saya adalah kondisi di mana pembelajar filsafat telah bertindak sewenang-wenang, dalam artian mereka mengklaim diri mereka sebagai seseorang yang tahu dan paham berfilsafat, padahal sesungguhnya segala yang mereka ketahui tidak lain tidak bukan adalah pemikiran orang lain ataupun filsuf pendahulunya.
    Nyanyian para filsuf, menurut saya adalah kondisi di mana si pembelajar filsafat telah menyadari bahwa apa yang mereka pahami belum lah akhir dari perjalanan mereka, pembelajar filsafat menyadari bahwa tindakannya yang merasa paham adalah sebuah kesombongan. Maka, dengan kesadaran tersebut akan membuat para pembelajar filsafat untuk tidak pernah berhenti belajar.

    ReplyDelete
  6. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Tangisan dan nyanyian para filsuf, menurut saya yang menjadi tangisan para filsuf yaitu ketika mitos merajalela fikiran mereka. Sedangkan nyanyian para filsuf yaitu ketika para filsuf mampu menggapai elegi elegi.

    ReplyDelete
  7. Gamarina Isti Ratnasari
    17709251036
    Pendidikan Matematika Pasca

    Hidup ini memang akan diselimuti kebahagiaaan dan kesedihan. Paabila seseorang hanya diberi kebahagiaan terus menerus maka dia tidak akan merasakan indahnya bersyukur, justru segala sesuatu yang mungkin tidak sesuai yang kita harapkan akan menjadikan kita menjadi pribadi yang bersyukur. Saat kita mengalami kesedihan yang terlalu mendalam tidak sengaja dan tiba-tiba saja menangis. Hal tersebut merupakan ekspresikan jiwa emosinya. Namun ada juga tipe orang yang untuk mengekspresikan kesedihannya dengan nyanyian. Semuanya tergantung ruang dan waktunya. Ada seseorang yang lebih menyukai melampiaskan melalui nyanyian namun ada juga yang menggunakan tangisan.

    ReplyDelete