Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Tidak Sesat




Oleh Marsigit

Sebagai referensi, berikut saya copykan tulisan Sdri Ninda Argafani:

REFLEKSI I - Kuliah Dr. Marsigit:
PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM MENGUAK HAKEKAT FILSAFAT
Oleh : Ninda Argafani (12709251053)
 Jadwal kuliah : Kamis, 13-09-2012
Waktu : 13.00 WIB
Kelas : PMat C 

Filsafat merupaka hal baru bagi saya. Dari apa yang telah di sampaikan oleh Dr. Marsigit pada perkuliahan minggu lalu, sedikit banyak dapat saya menyimpulkan mengenai pengertian dari filsafat. Jika banyak orang mengartikan filsafat dengan olah pikir, saya cenderung lebih suka mendefinisikan filsafat sebagai reflection science atau ilmu refleksi / perenungan. Jika kita menggunakan olah pikir sebagai definisi filsafat, saya kira hal ini terlalu umum karena semua ilmu pada dasarnya menuntut kita untuk berfikir. Saya sendiri memahami filsafat sebagai ilmu refleksi / perenungan karena filsafat tidak hanya menunut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Sekaligus karena metode untuk mempelajari filsafat adalah kehidupan, dan karakter kehidupan adalah juga karakter filsafat.
Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat. Sebagai contoh, rasa kehilangan yang membuat kita tidak bahagia. Kita tidak bahagia berarti sakit. Dalam filsafat, sesuatu yang membuat sakit disebut filsafat. Mengapa? Karena timbul gejolak-gejolak didalamnya, rasa penderitaan dan kesengsaraan. Dari hal-hal tersebut lalu timbullah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan. Bagaimana kita bisa keluar dari keadaan ini? Apa saja refleksi yang harus saya lakukan? Dan semua itu dapat dipahami dan dijelaskan baik dengan menggunakan hati maupun pikiran. Salah satu anjuran dari Dr. Masigit, agar saya lebih memahami hakekat filsafat adalah dengan membaca artikel – artikel Elegi beliau, maaf saya sudah membaca artikel Bapak tapi saya belum bisa menjawab perenungan yang bapak berikan karena saya belum paham betul.
Bicara mengenai filsafat tentu tidak lepas dari dimensi karena segala sesuatu itu berdimensi. Kehidupan adalah rangkaian dimensi-demensi fenomena. Dari sini saya teringat dengan komentar / pendapat beberapa orang maupun artikel di internet yang mengatakan bahwa mempelajari filsafat itu sia-sia. Sebelum saya menjelaskan mengapa saya teringat dengan pendapat tersebut, saya tersentuh dengan apa yang kemarin Dr. Marsigit sampaikan. Bahwa filsafat itu datang dari definisi pemikiran tiap-tiap individu dan bahasa analog sebagai tool-nya. Dari sini saya beranggapan, jelas sudah mengapa filsafat begitu diremehkan? Untuk menjawab hal tersebut maka kita kembalikan lagi bahwa pemikiran tiap-tiap individu itu berbeda. Bukan hanya berbeda dari sisi definisi bahkan jangkauan dimensi pemikiran tiap-tiap individu sangatlah berbeda. Terutama jika individu tersebut bukanlah tipe pemikir. Maka akan jelas sekali perbedaan jangkauan dimensinya ketika mereka saling beragurmen. Dan kedudukan bahasa analog sebagai tool juga sangat jelas. Bahasa analog sebagai tool, yaitu untuk membantu mengurai apa yang manusia pikirkan sehingga dapat tersampaikan ke manusia lainya. Tetapi karena jangkauan dimensi pemikiran yang berbeda, terkadang bahkan sering apa yang tersurat tidak dapat mengungkap maksud yang tersirat. Sehingga bahasa analog pun juga belum menjadi tool yang sempurna, karena sebanyak-banyaknya atau sebagu-bagusnya bahasa analog yang manusia miliki ternyata tidak mampu menuliskan / menggambarkn hakekat dari pemikiran manusia itu sendiri.
Perkuliahan minggu lalu adalah pertemuan pertama saya denga filsafat. Dalam penjelasan yang Dr. Marsigit sampaikan mengenai filsafat, ada rasa ketakutan di dalam hati saya. Saya sempat berpikir kalau filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Lalu, ketika saya akan  menulis refleksi ini, sebelumnya saya sempat surfing di internet dan ada artikel yang mengutarakan bahwa ada yang berargumen kalau filsafat ilmu yang menyesatkan atau belajar filsafat itu menyesatkan. Dari sini saya sempat kawatir, bagaimana jika saya tersesat? Lalu kembali saya dengarkan rekaman perkuliahan minggu lalu dan saya kaji lagi artikel-artikel yang saya temui sampai pada akhirnya saya sampai pada suatu pemahaman bahwa apa yang disampaikan oleh Dr. Marsigit itu berkorelasi benar. Beliau mengatakan bahwa letakkanlah spiritualitas di atas filsafat. Mengapa? Karena jangkauan dimensi pemikiran manusia adalah jawabannya. Dr. Marsigit pernah membahas mengenai cinta dan filosofinya. Cinta, sampai kapanpun otak manusia tidak akan pernah sanggup untuk menguak misterinya. Dari sana saya beranggapan bahwa selain menggunakan hati kita juga perlu menundukkan hati untuk dapat merenunginya, meskipun dalam perenungan tersebut kita tidak akan pernah bisa menembus hakekat cinta. Tetapi setidaknya dengan menundukkan hati, kita dapat menyederhakan rasa sehingga kita bisa paham apa yang sebenarnya diingikan oleh cinta yang sekarang bercokol dihati kita. Pembahasan lain yang Dr. Marsigit sampaikan adalah ketika ada teman beliau yang bernama Prof. Don seorang ahli matematikawan terkenal Amerika bertanya kepada beliau, Apa hubungan matematika dengan doa? Prof. Don juga mengklaim bahwa dirinya bukan seorang atheis tetapi beliau juga tidak percaya Tuhan. Sangat menggelikan bukan? Lalu Dr. Masigit menjawab bahwa ranah Tuhan itu tidak hanya ada dipikiranmu tetapi juga dihatimu. Prof. Don masih belum mengerti, beliau menjalani kehidupannya hanya berdasarkan pada apa yang dapat beliau jangkau oleh pemikirannya. Sedangkan berbicara mengenai Tuhan akan seperti membahas bilangan irrasional dalam matematika. Tuhan hanya dapat dijangkau menggunakan hati, karena setinggi-tinggi dan secanggih-canggihnya pemikiran manusia tidak akan sanggup menembus ranah Tuhan. Dr. Marsigit juga menjelaskan makna Tuhan dalam bahasa analog yang disebut hati, sedangkan filsafat adalah pikiran. Dari sini saya dapat memahami bahwa filsafat bukan ilmu yang menyesatkan tepati dapat menyesatkan jika kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu agama / spiritualitas. Saya juga memahami bahwa filsafat bukan ilmunya yang menyesatkan tetapi manusia mempelajarinya yang telah sesat. Bingung dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tapi jangan sampai bingung dalam hatimu atau kacau dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda syaitan bercokol dalam hatimu. Dr. Marsigi menghimbau bahwa taruhlah spiritualitas ditempat yang paling tinggi dan dalam berfilsafat tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu. Saya sangat setuju dengan himbauan untuk menaruh aspek spiritual diatas segala-galanya. Karena kembali lagi ke dimensi, bahwa hati sendiri juga mempunyai dimensi dan jangkauan dimensi hati dari tiap-tiap individu berbeda. Sehingga hal ini juga akan mempengaruhi sesatkah manusianya ataukah filsafatkah yang telah menyesatkan manusia tersebut.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit: 
1. Adakah cinta sejati di dunia ini selain cinta manusia kepada Tuhan Sang Pencipta? 
 2. Menurut saya apa yang Bapak sampaikan sangat kontradiksi antara menempatkan spiritual ditempat yang paling tinggi dengan menetapkan hati sebagai komandan dalam berfilsafat. Bagaimana jika yang bercokol di hati manusia saat itu adalah syaitan dan bukan Tuhan? Apa kemungkinan yang akan terjadi?
3. Apa yang harus saya lakukan jika saya tersesat?

Tanggapan dari saya (Marsigit):
1. Pertama, saya ingin sampaikan apresiasi kepada Sdri Ninda Argafani, karena Refleksinya cukup bagus, original, dan menggunakan olah pikir yang baik.
2. Kedua, saya ingin menanggapi perihal pokok-pokok pikiran anda sbb:
- Pengertian Filsafat:
Saya ingin sampaikan di sini bahwa saya sering mendefinisikan Filsafat sebagai OLAH PIKIR yang REFLEKSIF. Sementara anda ingin mereduksinya hanya pada kegiatan REFLEKSIF saya. Hal ini bisa berbahaya karena Anda bisa terjebak ke dalam keadaan BERHENTI atau MANDHEG. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam MITOS atau awal dari kemungkinan TERSESAT.
- Bahasa Analog:
Anda mengatakan bahasa Analog mempunyai keterbatasan untuk mengungkap segala sesuatu. Betul. Memang demikianlah. Selama itu urusan manusia, maka sifatnya adalah terbatas. Maka Bahasa Analog tentu bersifat terbatas. Maka tidaklah cukup manusia menggunakan Bahasa Analog, sedemikian pula bahwa manusia tidak cukup menggunakan pikiran. Maka untuk area spiritual, gunakan hati kita masing-masing, dan bahasa Hati itu bukan bahasa Analog, melainkan bahasa Langit atau bahasa Spiritual atau bahawa Wahyu atau bahasa Absolut, atau bahasa Kitab Suci.
-Kontradiksi meletakkan Hati sebagai Komandan, jika hati ternyata berisi Syaitan:
Bahasa Analog hati yang selalu saya gunakan mengandung maksud Hati yang terbebas dari kebingungan, terbebas dari Syaitan dan terbebas dari ragu-ragu. Satu-satunya cara untuk membebaskannya adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Sehingga Hati yang sudah terbebas dari unsur-unsurnya Syaitan itu, kemudian dapatlah dipakai sebagai Komandan dalam segala hidupmu, termasuk dalam berfilsafat.
-Keadaan Tidak Sehat:
Saya sungguh sedang menyaksikan Sdri Ninda Argafani dalam keadaan tidak sehat. Oleh karena hal inilah  maka aku munculkan persoalan ini dalam Blog ini. Hingga saat ini, Kuliah sudah 2 minggu, Anda tercatat hanya baru membuat Comment atas Elegi-elegi sebanyak 1 (satu) kali. Ini warning tidak hanya bagi anda, tetapi juga bagi yang lain. Inilah betul-betul keadaan TIDAK SEHAT. Mengapa? Berfilsafat tidak dapat menggunakan Sekali Gempur kemudian selesai. Berfilsafat seharusnya meniru Metode Hidup. Maka hidupkanlah kegiatan membaca anda dan membuat comment. Perasaan was-was anda tentang kemungkinan tersesat adalah disebabkan oleh keadaan yang anda perbuat sendiri. Itulah juga keadaan terjebak ke dalam Ruang dan Waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada.
Sekali lagi, warning bagi anda, agar anda sesegera mungkin membaca Elegi-elegi yang lain, karena segala jawaban dari persoalan-persoalan Anda sudah tersedia di sana.
Selamat berjuang. Amin

55 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Berfilsafat merupakan olah pikir yang reflektif, artinya dapat dikembangkan dengan suatu pertanyaan mengapa, apa, bagaimana, dimana, seperti apa, dll. Bangsa Timur dikenal sebagai bangsa yang beragama dan memiliki kepercayaan. Seperti halnya Indonesia, Negara Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila yang didalamnya memuat sila (Ketuhanan yang Maha Esa), artinya letakkan spiritual sebagai pondasi dan muara dalam berfilsafat. Setinggi-tingginya pengembaraan pikiran dalam berfilsafat masih dalam rangka berspiritual. Berfilsafat itu menjelaskan, karena begitu pentingnya penjelasan. Tidak mungkin jika tidak menggunakan bahasa analog. Bahasa analog mampu mengkomunikasikan unsur-unsur dalam dimensi yang berbeda-beda. Budaya berkembang karena bahasa analog, bahasa analog lebih tinggi dibandingkan bahasa kiasan.

    ReplyDelete
  2. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    FIlsafat adalah olah pikir dan juga refleksif. Dengan berfilsafat, kita akan menemukan metode hidup, dan akan mencapai hakekat filsafat itu sendiri yaitu aspek spiritualitas harus menjadi dasar kita dalam kehidupan. Ini penting supaya kita tidak tersesat dalam berfilsafat.

    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  3. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dari pemaparan di atas, menjelaskan tentang seorang yang awalnya ketakutan untuk belajar filsafat, namun akhirnya tertarik untuk belajar filsafat. Namun, belajara filsafat tidaklah instan, perlu banyak mengolah pikir, salah satunya dengan membaca elegi-elegi.

    Agar kita tidak “terjebak” dalam belajar filsafat, maka salah satu caranya adalah tetap menjadikan islam sebagai pikiran utama kita. Sehingga, hal yang “terjebak” atau bahkan “tersesat” tadi bisa dihindari.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  4. Vety Triyana Kurniasari
    13301241027 / P. Matematika Internasional 2013

    Sama seperti yang dirasakan Sdri. Ninda bahwa sayapun (sampai pada perkuliahan kelima) juga masih merasa belum dapat menerima filsafat dengan sebaik - baiknya. Namun, atas anjuran Prof. Marsigit maka saya akan mencoba belajar dengan membaca elegi - elegi yang ada di blog ini. Semoga keikhlasan bersama orang - orang yang sedang belajar.

    dari refleksi yang dipaparkan di atas, saya tertarik mengenai pembahasan bahwa filsafat dapat dipelajari oleh orang beragama maupun tidak. kami sebagai orang - orang yang beragama sangat perlu untuk berfilsafat. Karena menurut saya dengan melanjutkan pendapat Prof. marsigit bahwa agama harus diletakkan di atas filsafat, dengan begitu maka manusia - manusia bergama akan terhindar dari perasaan bahwa dia adalah yang paling benar karena masih ada Tuhan di atas segalanya yang Maha benar.

    ReplyDelete
  5. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Berfilsafat itu tidak hanya sekedar menggunakan pola pikir saja namun harus yang reflektif, kita di anjurkan bisa menganalisis, menelaah dan membangun dunia. Dengan menggunakan pola pikir kita dengan baik, kita harus bisa menggunakan secara baik, bijak, dan tanpa merugikan orang lain. Dan jangan sampai kita menggunakan pikiran kita untuk menyesatkan orang lain. Karena itu merupakan penyalah gunaan pikiran kita dalam berfilsafat. selain itu dengan memegang tinggi spritual diatas filsafat akan mencegah kita dari kesesatan.

    saya juga sempat mengalami dilema ketika pertama kali belajar filsafat, karena di jenjang sebelumnya saya belum mengenal filsafat, awalnya saya menyangka filsafat ada hanya hasil pemikiran yang tidak jelas, elegi seakan puitis namun tidak memiliki hubungan satu sama lain. awal-awal membaca elegi membuat saya ngantuk. namun setelah beberapa kali mengikuti perkuliahan bapak marsigit saya mulai mengenal filsafat, filsafat adalah olah pikir yang refleksif namun dilandasi sprritual diatas segalanya, yang utama adalah ketuhanan yang maha esa. poin spritual ini lah yang menjadi semangat saya untuk terus belajar filsafat.

    ReplyDelete
  6. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Saat ada perkuliahan filsafat ilmu, saya sangat tertarik dengan perkuliahan filsafat ilmu, namun setelah pertemuan pertama, saya menjadi takut untuk mempelajari filsafat. Ketakutan yang sama adalah takut sesat saat sudah berada ditengah jalan. Maka keadaan bimbang dan frustasi untuk mengembalikan arah pikiran. Pak Marsigit pernah berkata, yang islam akan menjadi islam, yang kristen akan menjadi kristen, dan yang kafir pun akan menjadi kafir. Inilah yang menjadi ketetapan saya untuk terus belajar filsafat. Karena refleksi dan olah pikirnya menjadi acuan untuk maju dalam memikirkan dunia dan akhirat. Spiritualitas harus ada dibagian atas sehingga siap untuk mengembarakan pikiran.

    ReplyDelete
  7. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Prof. Dr. Marsigit, M.A. menyatakan bahwa filsafat sebagai olah piki yang refleksif. Hal ini, tidak dapat direduksi hanya pada kegiatan refleksif saja. Hal ini bisa berbahaya karena bisa terjebak ke dalam keadaan berhenti. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam mitos atau awal dari kemungkinan tersesat. Dalam fasilitas blog akan dapat dilihat bagaimana Keadaan Tidak Sehat itu, yaitu dengan melihat berapa jumlah postingan elegi yang sudah dibuat comment-commentnya. Oleh karena itu, marilah kita gunakan pikiran disertai dengan sikap refleksi diri dalam berkehidupan yang sehat.

    ReplyDelete
  8. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Refleksi yang dibuat oleh mbak Ninda memang sangat bagus dan kalimat-kalimat yang diungkapkan berisi refleksi filsafat menurut olah pikir mbak Ninda. Saya belum tentu mampu berefleksi sejauh mbak Ninda refleksikan. Akan tetapi, saya berusaha mencapai logos saya dengan membaca elegi-elegi Prof. Marsigit dengan memberikan komentar, meskipun saya sendiri masih berusaha memahami elegi dari beliau. Pengingat dari Prof. Marsigit merupakan cambuk bagi saya agar saya dapat meningkatkan ilmu saya melalui membaca dan menulis melalui komentar dan refleksi.

    ReplyDelete
  9. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Refleksi yang sangat bagus untuk seseorang yang masih cemas untuk mempelajari filsafat. Berfilsafat adalah mengembarakan pikiran. Agar kita tidak tersesat saat mendalami filsafat, kita harus membangun hati kita dengan kokoh, bersih dan ikhlas serta meletakkan spiritualitas diatas segalanya.

    ReplyDelete
  10. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika

    Semua hal memiliki hakikatnya masing-masing. Maka tujuan dari kita belajar adalah untuk menggapai hakikat dari sesuatu yang kita pelajari. Hakikat ini merupakan makna dasar yang dimiliki oleh setiap hal, yang menimbulkan berbagai definisi yang dapat kita mengerti dengan bahasa kita sendiri. Bahkan terkadang agar dapat memahami suatu makna tertentu kita harus mendefinisikannya dengan menggunakan bahasa kita sendiri. Maka sebenar-benar hakikat adalah sesuatu yang mutlak, dan sesuatu yang mutlak itu hanyalah kehendak Allah SWT.

    ReplyDelete
  11. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Ketika belajar filsafat kita perlu membuka pikiran dan hati kita lebar-lebar agar kita tidak tersesat dengan pemahaman kita yang salah terkait suatu pemikiran atau ide dari orang lain. Ketika kita belajar filsafat lebih banyak menggunakan oleh pikir dalam rangka merefleksikan apa yang telah kita pelajari, namun sebagai manusia olah pikir saja tidak dapat kita gunakan sebagai dasar karena kita juga memiliki hati yang mempunyai peranan penting dalam menentukan benar atau salah terhadap tindakan yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  12. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalam belajar termasuk belajar filsafat diperlukan pikiran kritis dan hati yang bersih. Maka kita bisa jadi tersesat ketika kita tidak berpikir kritis dan hati kita kotor. Ketika kita berpikir kritis kita tidak akan mandheg pada suatu titik. Kita akan terus berjalan melihat hal- hal baru, mempelajari hal- hal baru, dan biarkan hati yang bersih menjadi komandan kita dalam memilih jalan yang harus kita tempuh. Dengan hati yang bersih kita akan mampu melihat mana jalan yang seharusnya kita tempuh dan mana jalan yang sebaiknya kita hindari. Hati yang bersih ini bisa kita capai dengan terus memohon ampun kepada Allah SWT karena sebenar- benar manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan.

    ReplyDelete
  13. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Dari elegi ini, saya mendapatkan pemahaman bahwa dalam berfilsafat, kita harus berhati-hati dalam memberikan pemaknaan dan penjelasan tentang suatu hal, karena jika tidak, maka kita akan tersesat dalam reduksionis dan determinis yang kita lakukan sendiri. Lalu bagaimanakah agar kita tidak tersesat dalam reduksi dan determinis? Caranya yaitu dengan memperbanyak bacaan dan menggunakan hati sebagai komandan serta menempatkan spiritualitas di atas filsafat.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  14. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Filsafat didefinisikan sebagai olah pikir yang refleksif. Agar kita tidak sesat dalam mempelajari filsafat maka tempatkanlah spritual di atas segalanya. Kita akan mudah tersesat dan tergoda oleh syaitan jika kita memiliki perasaan khwatir berlebih akan sesat itu. Maka membaca elegi-elegi yang ada pada blog ini merupakan salah satu cara agar kita tidak tersesat dalam belajar filsafat.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  15. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Filsafat merupakan oleh pikir yang refleksif. Obyek yang dipikirkan secara refleksif tersebut meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Dengan olah pikir refleksif tersebut, filsafat dapat memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan kita. Namun, sampai saat ini mayoritas masyarakat masih beranggapan bahwa filsafat ialah menyesatkan. Padahal kesesatan itu sebenarnya diakibatkan oleh kurangnya keimanan dan ketaqwaan kita sebagai orang yang berfilsafat terhadap Allah SWT, bukan disebabkan oleh filsafatnya. Karena ketika kita mengembarakan pikiran tanpa menempatkan spiritualitas sebagai dasarnya, kita tidak memiliki pegangan karena kehidupan spiritualitas memang bukan berada pada ranah pikiran. Maka agar tidak tersesat, seperti selalu yang diingatkan oleh Prof. Dr. Marsigit, MA bahwa kita harus senantiasa berikhtiar dan selalu meletakkan spiritual di tempat yang paling tinggi. Tetapkan hati sebagai komandan dalam berfilsafat serta senantiasa memohon pertolongan Allah agar kita senantiasa dilindungi dari godaan Syetan. Bahkan jika kita dapat benar-benar memegang teguh ajaran agama, dengan berfilsafat justru akan meningkatkan keimanan kita terhadap Allah SWT.

    ReplyDelete
  16. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Jargon atau kekacauan terjadi kepada manusia yang tidak mempunyai pegangan, sehingga mereka cenderung akan tersesat. Begitu pula dalam berfilsafat, kita harus memiliki pegangan. Pegangan dapat berupa ilmu yang cukup dan juga panutan. Manusia tanpa ilmu pengetahuan bagaikan wadah yang kosong, tanpa isi. Panutan manusia yang dapat dipercaya dan tidak akan pernah menyesatkan adalah Rasulullah, yang selalu mengajarkan ketaatan dalam beragama. Apabila kita belajar filsafat, gunakanlah ilmu pengetahuan sebagai bekal, agama (spiritual) sebagai panutan, pikiran untuk mengkritisi, hati untuk merasakan, pengalaman untuk referensi, keterampilan sebagai bantuan, dan juga potensi sebagai pelumas dalam memperoleh ilmu filsafat. Tanpa semuanya itu, maka manusia akan terancam tersesat sehingga tidak akan mencapai tujuan belajar filsafat.

    ReplyDelete
  17. Filsafat yang merupakan ilmu olah pikir memerlukan sinergi antara pikiran dan hati. Meletakkan spiritual diatas segala-galanya adalah tepat karena manusia dengan kerbatasan pikirannya seringkali keliru dalam menerjemahkan pemahaman ilmu yang mereka miliki jika tidak dilandasi oleh hati yang tunduk pada kuasa Allah SWT. Karena setinggi-tingginya pemikiran dan ilmu yang dimilki manusia tidak lepas dari kuasa Allah SWT, jadi spiritual yang berlandaskan pada agama yang dianut menjadi pondasi utama agar kita tidak keliru dalam memahami filsafat sehingga tidak menyesatkan pengetahuan kita.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  18. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Dalam berfilsafat kita harus memadukan pikiran dan hati. Pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas. Dalam sudut pandang filsafat, hati kita ada 2 jenis, yaitu hati positif dan hati negatif. Untuk itu, agar tidak tersesat, gunakanlah hati yang positif, yakni hati yang bersih dan penuh keikhlasan. Dengan menggunakan hati positif, berfilsafat justru akan mendekatkan kita kepadaNya. Bukan membuat kita tersesat.

    ReplyDelete
  19. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Dari tulisan di atas, saya mengenal istilah baru mengenai definisi filsafat. Selain filsafat adalah olah pikir, filsafat lebih spesifik dapat diartikan sebagai sebagai ilmu refleksi atau ilmu renungan. karena filsafat tidak hanya menuntut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Dari tulisan di atas dan penjelasan yang disampaikan Prof. Marsigit dalam perkuliahan adalah setiap kali berfilsafat, seseorang mestinya harus menjadikan hati sebagai komandan dalam berpikir. Hati di sini maksudnya adalah hati yang bersih, ikhlas, tidak dalam kebingungan dan tidak dalam keadaan pengaruh syaitan. Ini artinya kedudukan spriritual atau agama sangat dijunjung tinggi dalam berfilsafat karena secara umum agama tidak hanya meliputi pikiran tetapi hati juga termasuk di dalamnya.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  20. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat. Sebagai contoh, rasa kehilangan yang membuat kita tidak bahagia. Kita tidak bahagia berarti sakit. Dalam filsafat, sesuatu yang membuat sakit disebut filsafat. Mengapa? Karena timbul gejolak-gejolak didalamnya, rasa penderitaan dan kesengsaraan. Dari hal-hal tersebut lalu timbullah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan. Bagaimana kita bisa keluar dari keadaan ini? Apa saja refleksi yang harus saya lakukan? Dan semua itu dapat dipahami dan dijelaskan baik dengan menggunakan hati maupun pikiran.

    ReplyDelete
  21. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    filsafat dapat memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan kita. Namun, sampai saat ini mayoritas masyarakat masih beranggapan bahwa filsafat ialah menyesatkan. Padahal kesesatan itu sebenarnya diakibatkan oleh kurangnya keimanan dan ketaqwaan kita sebagai orang yang berfilsafat terhadap Allah SWT, bukan disebabkan oleh filsafatnya. Karena ketika kita mengembarakan pikiran tanpa menempatkan spiritualitas sebagai dasarnya, kita tidak memiliki pegangan karena kehidupan spiritualitas memang bukan berada pada ranah pikiran. Berfilsafat itu tidak hanya sekedar menggunakan pola pikir saja namun harus yang reflektif, kita di anjurkan bisa menganalisis, menelaah dan membangun dunia.

    ReplyDelete
  22. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    FIlsafat adalah olah pikir yang refleksif dimana kita harus menempatkan hati yang bersih dan ikhlas sebagai komandan dalam proses berpikir agar jika suatu saat kita mengalami kebingungan dalam pikiran kita tidak akan tersesat. Karena itu dalam berfilsafat adalah sangat perlu bagi kita untuk terus menjaga hati kita agar tetap bersih dan ikhlas dengan terus mendekatkan diri dan mohon ampun kepada Tuhan YME niscaya kita tidak akan tersesat dalam pengembaraan pikiran ketika berfilsafat.

    ReplyDelete
  23. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Filsafat adalah olah pikir yang reflektif. Maka filsafat tidak hanya tentang olah pikir tapi juga reflektif, dan begitupun sebaliknya. Oleh sebab itu jika kita hanya berpikir filsafa hanya satu dari dua hal tersebut. Ini merupakan salah satu penyebab kita terjebak ke dalam keadaan BERHENTI atau MANDHEG. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam MITOS atau awal dari kemungkinan TERSESAT.

    Perasaan was-was anda tentang kemungkinan tersesat adalah disebabkan oleh keadaan yang kita perbuat sendirisehingga kita terjebak ke dalam Ruang dan Waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada.

    Oleh sebab itu, hidupkanlah kegiatan membaca agar kita “tidak tersesat”.

    ReplyDelete
  24. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Berfilsafat yang juga sering dikatakan sebagai olah pikir, pemikiran, kritis, beranalogi, mencari pengetahuan atau kebenaran. sekali saja kita hidup, yang kita cari adalah kebahagiaan. Kebahagiaan itupun masih belum jelas diketahui. Maka proses pencarian ini menggunakan berbagai cara dan metode untuk mendapatkannya. Maka dilakukanlah dengan cara berfikir, merefleksikan seluruh keadaan dan membacanya agar mendapatkan apa yang masih menjadi keraguan. Meskipun pada akhirnya pencariannya belum menjadi kebenaran yang sesungguhnya, karena masih dibatasi oleh pikiran, dan mungkin bukan dengan sumber dan cara yang benar.

    ReplyDelete
  25. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  26. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Sampai saat ini saya merasa bahwa untuk menemukan apa artinya hidup itu tidak mudah, mengapa? Karena waktu, ruang, dan kesempatan yang terbatas. Sementara jawaban harus segera ditemukan. Belum lagi aktifitas tidak hanya untuk mencari hakikat hidup itu sendiri, melainkan juga perlu memenuhi kebutuhan sehari hari. Literatur, buku, sumber, referensi, sungguh banyak, dan menelaahnya tidak mampu dilakukan sepanjang hari, bahkan sepertinya hingga habis jatah hidup ketika melakukannya, namun pencarian belum selesai. Maka yang saya yakini dalam hati saya adalah apa yang Allah siapkan. Dia paling mengetahui apa, siapa, bagaimana, darimana, dan untuk apa saya? Pasti Dia memberikan pedoman karena dia telah menciptakan saya, maka saya meyakini apa yang ditulisnya sebagai panduan bagi saya, maka saya yakini itu dan mudahan dimudahkan untuk memahaminya.

    ReplyDelete
  27. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Filsafat adalah refleksi kehidupan. Awalnya, ketika saya belajar filsafat tentang ilmu pengetahuan di S-1. Saya merasa bahwa filsafat itu sulit dan membosankan. Ketika saya mendapatkan mata kulian Filsafat di S-2 sekarang, awalnya memang sulit untuk tidak beranggapan bahwa mempelajari filsafat itu sulit, membosankan, dll. Namun, saya merasa ada banyak hal yang bisa saya ambil dari perkuliahan ini yaitu menjadi pribadi yang lebih baik dengan menghargai, menetapkan tujuan, ikhlas, tidak sombong, rendah hati, dan saya bisa lebih bersabar dan belajar untuk menahan ego diri sendiri. Terima kasih Pak Marsigit.

    ReplyDelete
  28. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Semoga dengan terus belajar filsafat dan ilmu lain hati kita semakin ikhlas sehingga kita bisa mengetahui kekuasaan Allah Yang Maha Ilmu. Kita bisa menemukan jalan lurus, jalan kembali kepadaNya yang berkah. Aamiin Ya Robbal Alamin.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  29. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Filsafat tidak hanya olah pikir, tetapi juga refleksif. Keduanya tidak bisa berpisah satu sama lain. Dalam belajar filsafat sendiri dibutuhkan pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas, jika tidak disertai kedua hal tersebut maka bisa jadi kita tersesat atau terjebak dalam mitos. Dalam berfilsafat juga kita harus meningkatkan spiritual kita agar dalam mengembarakan pikiran tidak terlampau jauh, sehingga tersesat. Semoga kita semua dimudahkan dalam belajar filsafat ilmu, aminn.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  30. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Filsafat artinya adalah berolah pikir yang reflektif. Dengan berpikir reflektif itu maka kita akan menganalisis segala sesuatu yang ada pada lingkungan kita. Analisis itu meliputi 5W1H, itu adalah bentuk refleksi kita terhadap sesuatu hal. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan analisis kita dalam hidup dan tidak tersesat di dalam hidup.

    ReplyDelete
  31. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Sungguh saya betul-betul hanyalah tong kosong yang berusaha mencari isi mengenai filsafat. Namun itu tidaklah kita belajar mengenai filsafat melainkan tentang keikhlasan itu sendiri. Ikhlas dalam menunttu ilmu adalah yang terpenting untuk menggapai ilmu yang berkah. Sungguh percumalah kita jika kita tidak dapat melihat apa yang ada dibalik bayang filsafat, dan sayapun hingga kini masih berusaha mencari-cari apa yang ada dibalik nayang itu.

    ReplyDelete
  32. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Berfilsafat sejatinya merupakan perpaduan antara pemikiran dan hati nurani, sehingga jika kita bisa menggunakan pikiran kita yang jernih dan memadukannya dengan hati yang jernih pula sehingga tercapai berpikir sesuai hati dan memaknai setiap detik dari hidup maka kita telah mampu menembus ruang dan waktu serta menggapai tidak sesat.

    ReplyDelete
  33. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Maka dalam belajar berfilsafat itu tidak ada henti-hentinya, sehingga apapun itu dimana pun itu, kapan pun itu, dalam ruang dan waktu apa pun itu kita harus belfilsafat karena filsafat memberikan gambaran kehidupan dan refleksi kehidupan yang sebenar-benarnya, maka saya terus belajar dan belajar untuk memperdalam dan menambah ilmu saya lagi, karena apa yang saya miliki masihlah sedikit jumlahnya.belajar adalah cara untuk mengetahui sesuatu dan membuat sesuatu menjadi tidak sesat.

    ReplyDelete
  34. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend Matematika S2 Kelas B

    Bertanya menjadi awal kita berfilsafat, dan refleksi diri merupakan hal untuk kita menggapai sebenar-benarnya filsafat. Dalam filsafat kita mengenal adanya objek yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan diri kita ini adalah yang termasuk ada. Jika kita ada maka kita bisa menjadi pengada untuk mengada yang mungkin ada menjadi ada. Jika memahami elegi merupakan sesuatu yang mungkin ada bagi kita maka dengan usaha yang keras kita dapat mengubah yang mungkin ada tersebut menjadi sesuatu yang mungkin ada. Pelajaran yang dapat kita ambil setelah memahami elegi tersebut tentu ada yang bersifat positif maupun negatif. Kewajiban kita untuk memilah-milah. Menjalankan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Sesuai dengan kodrat manusia yang akan selalu mencari jalan kebaikan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  35. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP B
    The word "philosophy" means a love of wisdom. A philosopher, however, is not just a person who knows a great deal or loves to learn. Rather, the philosopher is one who engages actively in critical thought about big questions that have no obvious answers.The philosopher's life is not an easy one, but if you delight in exploring complex relationships and thinking deeply about important, but often vexing, topics, the study of philosophy might be your destiny, if there is any such thing.

    ReplyDelete
  36. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Paerasaan ragu, takut, penasaran, keingintahuan, dan ketidakpercayaan terhadap segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Sikap – sikap kita yang seperti ini yang membuat kita jatuh, terjerumus, dan akhirnya terjebak pada kesalahan – kesalahan yang baik disengaja maupun tidak. Berpikirlah dengan akal dan pikiran yang baik, sehat, dan positif sehingga kita mampu membentengi pikiran kita dan mampu menentukan sampai batasan mana kita harus memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada. Kita juga butuh kekuatan spiritual dimana saat kita mengalami masa – masa sulit dan sudah tidak dapat berpikir dengan baik, sehat, dan positif, kita masih mampu memiliki sikap untuk ikhlas, berserah, dan sabar.

    ReplyDelete
  37. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Jika dalam belajar filsafat muncul keraguan akan hakekat manfaat mempelajarinya atau dengan kata lain beranggapan belajar filsafat itu menyesatkan, cobalah berfikir terbalik pandang belajar filsafat itu sebagai sebuah ilmu untuk merefleksikan diri dalam penggapaian hakekat kesadaran dan pengenalan diri yang sebenarnya maka logikanya musuh kita syaitan pasti akan menjadi makhluk yang paling ngotot untuk menolak etikat baik kita sehingga akan melakukan berbagai usaha tipu daya muslihat yang bisa diidentifikasikan dengan perasaan keragu-raguan menjalankan hal yang baik. Karena secara logika jika kita memahami filsafat itu sebgai olah fikir yang reflektif tentu kita akan memantapkan langkah untuk mempelajarinya

    ReplyDelete
  38. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Jika hati sedang tersesat, badan dan pikiran kita tentu akan tahu. Itulah tameng kita. Jika pikiran kita sesat, tameng kita adalah hati nurani. Itulah yang saya ketahui. Hati dan pikiran sebaiknya memang jangan sering terlalu sinkron. Karena tidak ada yang menghalangi. Sebab, raga kita melakukan sesuatu berdasarkan dua hal itu. Jika sinkron pun, usahakan sinkron dalam hal baik. Bagaimana caranya?Selalu minta petunjuk pada Allah. Di dalam filsafat, kita selalu diajarkan untuk meningkatkan spiritual kita dan mendekatkan diri pada Allah. Yang dekat makin dekat, yang jauh jadi dekat.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  39. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  40. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Ketika seorang guru memberikan ilmunya kepada siswa, mak tidak 100% ilmu itu dapat diterima siswa. seperti tulah yang mungkin kami alami. Ketika prof.Marsigit menyampaikan filsafat, maka belum tentu kami dapat menerima 100% seperti maksud yang prof kehendaki. Filsafat memang hal baru bagi kami. Maka ketika kita hanya mndengar sekali maka besar kemungkinan kami hanya mendapat potongan ilmu. Jika potongan ilmu itu akan membawa kita pada kondisi kesesatan, dan membaca elegi merupakan salah satu cara untuk keluar dari kesesatan, maka proses keluar membutuhkan waktu yang lama, karena memahami elegi juga butuh keikhlasan dan terbukanya hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  41. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    berfilsafat itu tidak bisa sekali langsung selesai, namun harus dilakukan secara rutin tanpa berhenti. Jadi dalam mempelajari filsafat kita harus rajin dalam mempelajarinya agar kita dapat meningkatkan filsafat kita. Karena tidak bisa belajar filsafat sekali langsung bisa namun memerlukan suatu proses yang rutin. filsafat merupakan ilmu refleksi atau perenungan. Perenungan antara idealitas yang diyakini individu dan realitas yang dapat dia gapai dalam hidupnya. filsafat menembus banyak dimensi ruang dan waktu yang tak semua orang dapat memahami dengan satu arah. Jadi filsafat ialah bentuk pola pikir yang bersifat bebas, “freedom” dan multidimensional. Filsafat itu sebagai pola pikir, maka dia adalah pondasi yang kuat dari apa yang akan dilakukan. Belajar filsafat tidak bisa secara instan. Diperlukan proses dan waktu yang relative lama. Tidak hanya itu, bagi kami para pemula, perlu adanya suatu pengemasan yang menarik agar filsafat mudah dipahami dan tidak membosankan. Sesungguhnya makna tersirat dan penggunaan bahasa yang tingkat tinggi itulah yang membuat kami para pemula merasa kesulitan memahami filsafat.

    ReplyDelete
  42. Sesat dalam berfilsafat bisa saja terjadi ketika berusaha belajar untuk menggapai pemahaman filsafat mengingat objek kajian filsafat yang begitu luas mencakup apa yang ada dan mungkin ada. Saya kira jika dipahami dengan hati-hati, tidak terburu-buru, intens, nerujuk pemikiran para filsuf, menelaah banyak referensi yang relevan yang mendukung dalam memahami setiap makna atau tafsiran serta yang paling penting libatkan hati dan posisikan spiritual diatas dimensi lain filsafat maka jalan untuk memahami filsafat yang sesuai pemikiran para filsuf akan selalu terbuka.

    ReplyDelete
  43. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Filsafat yang telah dan akan dilakukan bukan hanya dipikirkan tetapi juga direnungkan dengan hati. Semakin kita pikirkan dan renungkan maka akan semakin bisa kita mengintropeksi diri dan akan semakin tinggi filsafat atau kebijaksanaan kita dalam menjalani kehidupan.

    ReplyDelete
  44. Fitri Ayu Ningtiyas
    16709251037
    S2 P.Mat B UNY 2016

    Meletakkan hati sebagai tolak ukur dalam mengerjakan sesuatu juga tidaklah benar apabila hati tidak bersih dan penuh dengan godaan syaitan. Hati yang dapat diikuti haruslah terus tawaddu’ dan bermunajat kepada Allah. Diluar itu semua juga diperlukan pikiran dalam memutuskan segala sesuatunya. Karena sinkronisasi antara hati dan pikiran juga diperlukan dalam memandang sesuatu dengan lebih terbuka. Selanjutnya, adalah baik untuk selalu menyertakan Allah dalam setiap tindakan agar dijauhkan dari godaan-godaan syaitan.

    ReplyDelete
  45. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Dalam mempelajari filsafat ketika mindset kita mengatakan sesuatu itu menyesatkan maka jadilah ia menyesatkan untukmu. Namun jika dari awal kita berpikir positif dan mindset kita menjudge bahwa dalam mempelajari filsafat itu baik untuk meluruskan pikiran, maka jadilah ia baik untukmu. Insyaallah. Oleh sebab itu, dalam mempelajari filsafat dan apapun itu kita harus selalu berpatokan kepada agama agar tidak sesat. Memohon kepada Allah agar diberikan pencerahan dan pemikiran yang jernih untuk memahami filsafat agar tidak sesat.

    ReplyDelete
  46. Risa Tri Oktaviani
    13301241016
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebenarnya sesat dan ketidaksesatan adalah tergantung kepada pola pikir orang itu sendiri,
    jika dia merasa itu tidak sesat maka bagi dia itu tidak sesat dan sebaliknya jika dia mengatakan ini sesat maka bagi dia selamanya ini adalah sesat
    seperti contoh aliran-aliran agama yang mungkin kita rasa hal tersebut adalah tidak benar dan menyimpang dengan ajaran-ajaran agama yang kita pelajari,
    namun tidak di pungkiri bahwa aliran-aliran tersebut memiliki pengikut yang sangat banyak, yang entah bagaimana caranya bagi mereka ajaran yang mereka pelajari adalah benar dan untuk dunia yang lebih baik
    oleh karena itu kita sebagai manusia hanya lah bisa meminta petunjuk dan bimbingan kepada Maha Pencipta Alla SWT, agara diberikan petunjuk jalan yang benar

    ReplyDelete
  47. Bagi banyak orang Filsafat bisa menyesatkan keyakinan. Mereka menganggap bahwa dengan mempelajari Filsafat, keyakinan agama yang tertanam sejak kecil akan goyah. Sholat berkurang, puasa terabaikan dan sebagainya. Namun bila mendengarkan penjelasan Bapak Prof. Marsigit bahwa Agama bukanlah mitos, jelaslah bahwa Filsafat justru menguatkan keimanan dalam beragama.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP 2016 A
    16701261007

    ReplyDelete
  48. Setelah mempelajari Filsafat, ternyata tingkatan tertinggi dalam Filsafat adalah spiritualisme. Sehingga dengan mempelajari Filsafat bisa menghindarkan kita dari kesesatan berfikir karena alur pemikiran telah disusun sistematis.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP 2016 A
    16701261007

    ReplyDelete
  49. Menurut saya, Elegi-elegi yang ditulis Bapak Prof. Marsigit adalah metode untuk menghindari kesesatan dalam mempelajari Filsafat, terutama dalam Elegi menggapaiikhlas sangat kental dengan nilai-nilai religi didalamnya.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP 2016 A
    16701261007

    ReplyDelete
  50. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Berfilsafat dimulai dari suatu rasa keragu-raguan dan dimulai dengan rasa ingin tahu juga. Berfilsafat juga didorong oleh suatu keinginan dari kita untuk mengetahui apa yang sudah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Dalam artikel ini disebutkan bahwa tidaklah cukup manusia menggunakan Bahasa Analog, sedemikian pula bahwa manusia tidak cukup menggunakan pikiran. Maka untuk area spiritual, gunakan hati kita masing-masing, dan bahasa hati itu bukan bahasa analog. Jadi intinya saat kita mengalami kebuntuan pikiran saat menjangkau filsafat, maka gunakanlah hati untuk mencari suatu kebenaran

    ReplyDelete
  51. Khomarudin Fahuzan
    16709251041
    PPs Pend. Matematika B

    Tidak sesat atau di jalan yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan waktu. Karena manusia itu sifat, maka pendapat mengenai tidak sesat pun juga bermacam-macam. Maka, sebenar-benar tidak sesat itu adalah di jalan Tuhan. Kemudian bagaimana agar kita tidak sesat? Baca, baca, dan baca. Karena kita tidak akan pernah tahu mana yang benar dan yang salah ketika kita tidak mempelajarinya. Karena filsafat olah pikir, maka hati-hati dalam mempelajarinya, harus dilandasi dengan iman yang kuat, karena jika tidak kita akan gampang goyah diterpa pemikiran-pemikiran lainnya. Sehingga sebelum belajar filsafat perkuat iman dan berdoalah agar kamu tidak tersesat.

    ReplyDelete
  52. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    FIlsafat adalah olah pikir dan juga refleksif. Dengan berfilsafat, kita akan menemukan metode hidup, dan akan mencapai hakekat filsafat itu sendiri yaitu aspek spiritualitas harus menjadi dasar kita dalam kehidupan. Ini penting supaya kita tidak tersesat dalam berfilsafat.

    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  53. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Betapa sangat pentingnya kita memiliki ilmu dan iman, mempunyai pikiran yang kritis dan hati yang jernih. Dengan memiliki banyak pengetahuan, kita akan mampu memandang dunia secara ekstensif dan intensif. Memandang setiap kejadian secara bijak, mengambil sisi positif, dan mengambil hikmah terlepas dari kejadian tersebut sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tidak. Dalam memandang segala sesuatunya diperlukan syarat perlu dan cukup supaya kita mampu menggapai dan memahami. Seperti halnya dengan belajar filsafat, perlu syarat perlu dan cukupnya, salah satunya dengan terus belajar dengan membaca elegi-elegi.

    ReplyDelete
  54. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Berfilsafat itu adalah berpikir, walaupun tidak semua berpikir itu adalah bersilfat. Manusia yang berfilsafat dengan menggunakan akalnya berusaha untuk memperoleh pengetahuan hakikat yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan inderawi.

    ReplyDelete
  55. Fitri Wulandari
    16701261018
    S3 PEP Kelas A

    Berfilsafat adalah berpikir secara universal yaitu berpikir tentang hal-hal yang bersifat umum dengan pengalaman umum manusia. Untuk mencapai sasarannya, seorang filsuf dapat menempuh cara yang berbeda-beda, namun yang dituju adalah keumuman yang diperoleh dari hal-hal khusus yang ada dalam kenyataan.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id