Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Kedua)




Oleh Marsigit

Nahayu:
Wahai Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, terimaksih engkau telah memenuhi undanganku. Aku juga tidak hanya mengundang dirimu semua, tetapi aku juga mengundang banyak kerabat yang lain.



Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Aku mendengar ada panggilan kepadaku tetapi aku tidak melihat bentuk dan rupanya. Siapakah engkau itu?

Ramasita:
Ohh...rupanya engkau semua belum melihat bisa melihat Nahayu. Bolehkah aku bantu agar engkau bisa melihat Nahayu. Tetapi ada syarat-syaratnya engkau bisa melihat Nahayu.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Apa syaratnya. Karena ini telah menjadi tantanganku, maka seberat apapun syaratnya aku ingin bisa melihat Nahayu.

Ramasita:
Syaratnya adalah engkau harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Jika hal ini engkau paksakan maka engkau akan tergelincir dan terperosok masuk kedalam jurang yang dalam di samping gunung itu. Apakah engkau sanggup melakukannya.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Kalau rasa sombong aku berusaha mengatasinya dengan cara mohon ampun, tetapi rasa memiliki itu agak sulit. Karena hingga saat ini aku merasa memiliki banyak hal. Aku memiliki kegiatan, aku memiliki warga, aku memiliki fasilitas, aku memiliki kuasa dst. Bagaimana aku bisa menjalankan tugas-tugasku jika aku tidak boleh mempunyai rasa memiliki.

Ramasita:
Demikianlah ketetapannya. Tinggal engkau sanggup atau tidak.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Aku sanggup, tetapi bagaimana kalau sebentar saja syarat-syarat itu aku jalani.

Ramasita:
Walaupun engkau hanya melihat sekejap perihal gunung itu, tetapi dampaknya luar biasa, dan akan mempengaruhi jalan hidupmu. Maka sifat tidak memiliki dan tidak sombong itu harus menjadi tujuan dan jiwa hidupmu.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Baik kami sanggup

Ramasita:
Maafkan Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, perkenankanlah aku membuka kacamatamu satu persatu. Sekarang bagaimana keadaannya?

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Ya Tuhan mohon ampunlah diri kami. Setelah Ramasita melepas kacamata kami, maka kami melihat Nahayu sebagai sebuah gunung. Terlihat olehku gunung itu menghampar begitu luasnya, tetapi semuanya tampak kami rendah darinya. Kalihatannya dirinya berada di puncak gunung . Kamanapun dia melangkah maka semua ngarai dan satwa di dalamnya selalu mengikutinya. Bahkan kamipun yang lain pun menyesuaikan dengan gerak langkahnya. Kami juga perlu memberi jalan, ada yang berjalan beriringan, dst. Wah kami menjadi agak bimbang. Padahal di daerah kami, maka kami merupakan gunung-gunung yang paling tinggi tiada bandingannya.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Wahai Ramasita apakah makna dari semua ini?

Nahayu:
Itulah suratan takdir wahai Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala. Katahuilah, bahwa sebenar-benar dirimu adalah gunung paling tinggi di daerahmu masing-masing. Maka tidaklah mudah engkau melihat Nahayu, karena hal yang demikian sama artinya engkau berusaha mengakui kedudukannya. Maka hanya dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis itulah engkau mampu menghargai dirinya.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Ya Tuhan ampunilah diriku yang bebal ini. Dikarenakan pertolongan Ramasitalah aku engkau buka hijabku sehingga aku engkau perkenankan bisa melihat diriku sendiri dan melihat Nahayu. Wahai Ramasita, ada peristiwa aneh yang aku alami setelah aku mampu melihat bahwa di sini aku tidak lebih tinggi dari Nahayu. Sedang peristiwa aneh itu adalah aku melihat seakan Nahayu selalu mengajakku bicara dengan kami. Kemudian dia memberi undangan kepada kami. Apa maknanya ini?

Ramasita:
Wahai sang Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, Tuhan telah bermurah hati kepada dirimu semua maupun kepada Nahayu. Itu terbukti bahwa sudah dekat saatnya engkau diijinkan bersatu. Ini adalah peristiwa besar yang akan membawa dampak besar bagi kehidupan di sekitar gunung-gunung itu.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Maaf Nahayu, kami agak risau dengan tema acaramu yang tertera dalam undanganmu itu. kami risau itu dikarenakan niatmu untuk menyatukan lima gunung, padahal ketahuilah bahwa diantara kita secara hakiki itu tidak dapat disatukan.

Nahayu:
Maaf sebelumnya jikalau engkau semua merasa tersinggung dengan tema tersebut. Kami tidaklah mempunyai niat sama sekali untuk menhyatukan lima gunung dengan pengertian yang engkau definisikan itu. Kami hanya ingin menjalin silaturakhim dan berkomunikasi satu dengan yang lain. Setidaknya kami mempunyai sifat yang sama yaitu sama-sama gunung. Nah, dari persamaan sifat itulah saya menginginkan komunikasi untuk mencari kesamaan-kesamaan yang lainnya untuk memecahkan persoalan-persoalan kita bersama. Singkat kata menyamakan persepsi begitulah.

35 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Ketika seseorang merasa bahwa kekuasaannyalah yang paling tinggi di daerah tempat ia berkuasa, sesungguhnya ada kekuasaan lain yang lebih tinggi dibandingkan kekuasaan seseorang itu. Untuk mengakui bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dibandingkan kekuasaan kita diperlukan hati yang tidak sombong dan terhindar dari rasa memiliki. Rasa sombong di sini diartikan sebagai menempatkan dirinya sebagai kekuasaan tertinggi di antara kekuasaan yang lain, sedangkan sifat memiliki adalah kekuasaan yang ia miliki tersebut ternyata juga dimiliki oleh orang lain yang justru memiliki kekuasaan yang lebih tinggi. Pada akhirnya hakekatnya Allah SWT lah yang memiliki kekuasaan tertinggi.

    ReplyDelete
  2. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    sebagai manusia kita telah ditakdirkan sebagai pemimpin dimuka bumi akan tetapi bukan untuk menguasai segala yang ada dan yang mungkin ada, melainkan kita di beriikan kekuasaan itu agar dapat menjaganya dengan menghilangkan kesombongan dan rasa ingin memiliki segala yang ada, karena sesungguhnya segala yang ada itu merupakan hanya sebuah titipan kepada kita dari Sang Ada yaitu ALLAH SWT. maka kesombongan dan rasa memiliki itu bukanlah hak milik kita sesungguhnya.

    ReplyDelete
  3. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Bergembiralah bahwa Allah SWT menciptakan kita sama bentuknya, manusia. Dan bergembiralah bahwa Allah SWT menciptakan kita dengan akal dan pikiran yang berbeda. Ini menjadikan kita untuk saling mengisi, saling memberi pendapat, saling menasehati. Sehingga kita harus menanamkan pada diri masing-masing bahwa apa yang kita lakukan didunia adalah kerangka ibadah kita sebagai khalifah di bumi ini.

    ReplyDelete
  4. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Seperti peribahasa “semakin berisi pohon padi, semakin merunduk” , sudah selayaknya jika kita memiliki ilmu dan semakin banyak ilmu yang kita miliki haruslah tetap rendah diri walaupun dikatakan orang berilmu akan ditinggikan derajatnya, tetaplah diingat semua hanya titipan, dan kita harus mensyukuri apa yang dimiliki. Semua akan kembali kepada Allah dan sudah sepatutnya kita menggunakan ilmu untuk berbagi dan memberikan kontribusi dalam hal kebaikan. Tidak boleh sombong dan takabur atas ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  5. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Sebuah gunung bisa diandaikan kepada orang yang memiliki ilmu yang banyak dan tinggi, menurut hemat saya memang ketika seseorang telah berada dalam tingkatan ilmu yang tinggi tentu perlu adanya menjalin silaturakhim dan berkomunikasi satu dengan yang lain. baik dengan orang ditingkatan yang sama ataupun tidak. jika bersama dengan orang ditingkatan yang sama maka dari hal tersebut dapat digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan bersama. persepsi yang sama akan mencegah perpecahan.

    ReplyDelete
  6. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Memiliki rasa tinggi hati, maka akan menutup persaudaraan. Merasa dirinya lebih baik dan tinggi dari yang lain. Padahal sejatinya, setiap makhluk merupakan ciptaan Allah SWT yang masing-masing memiliki ciri khas namun terbatas. Menyadari bahwa kita semua adalah makhluk Allah dan bersikap ikhlas terhadap segala sesuatu yang terjadi, serta menyadari bahwa yang ada digenggaman kita itu semata hanyalah titpan Allah yang kapanpun bisa diambil, in syaa Allah akan bisa memupus rasa tinggi hati tersebut.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  7. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Ketika seseorang telah meniatkan menuntut ilmu, maka konsekuensinya adalah jika nantinya ia telah mengetahui dan memahami banyak ilmu penegetahuan, maka hindarilah sikap sombong. Hal ini dikarenakan, ilmu pengetahuan yang dimilikinya, masih perlu digali lagi untuk lebih dikembangkan. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa ilmu Allah itu sangatlah bermacam-macam. Manfaatkan waktu dan lakukan sesuatu dengan ikhlas hanya mengharapkan ridha Allah.

    ReplyDelete
  8. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Postingan di atas merupakan kelanjutan dari postingan sebelumnya. Apabila kesombongan ada pada hati kita hendaklah kita langsung memohon ampun kepada Tuhan. Begitu juga dalam menuntut ilmu, janganlah kita merasa telah mengetahui banyak hal. Teruslah belajar jangan berpuas diri, dan selalu memohon untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dengan ilmu yang kita peroleh.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  9. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kita sebagai manusia seringkali memiliki rasa tinggi hati. Kita merasa kitalah yang paling memiliki sehingga sombong dan merasa diri kita paling tinggi diantara orang lain. Oleh karena itulah kita harus membersihkan hati dari rasa memiliki dan rasa sombong sehingga dapat melihat kelebihan orang lain. Dan tanpa rasa sombong kita dapat sama- sama belajar dengan orang- orang disekitar, saling bersilaturahmi, dan memberi manfaat kepada orang- orang disekitar kita.

    ReplyDelete
  10. 16701251016
    PEP B S2
    Diatas langit masih ada langit, begitulah ungkapan yang sesuai. Ketika merasa bahwa kekuasaan dalam tempatnya adalah yang paling tinggi, itu adalah sikap sombong, angkuh. Nelum tenti yang lain lebih rendah, bisa jadi bahwa yang merasa tinggilah sebenarnya rendah. Maka sebenar benarnya orang yang berilmu, bukan lah dirinya yang menyebut. Tetapi dipandang lebih luas, di oandang obyektif. Maka kategori yang disematkan adalah hasil dari kebanyakan orang, bukan atas pengakuan dirinya

    ReplyDelete
  11. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Menurut saya, menyatukan 5 gunung merupakan definisi yang plural. Misal dalam konteks diri kita sendiri yang terdiri dari berbagai macam beribu sifat-sifat gunung. Ketika kita bisa menyeleksi sifat-sifat kebaikan dari diri kita yang telah tertutup kabut dan mengeliminasi keburukan serta joining each other maka tidak mungkin kita akan menjadi manusia yang lebih baik. Akan tetapi jika kita merasa sombong dengan kebaikan yang kita punya, maka runtuhlah gunung-gunung yang telah bersatu tadi. Kembali dalam konteks manusia, bahwa pasti ada sisi buruknya, we are not perfect, but kita bisa menjadi lebih baik dengan berusaha menggapai logos dengan ritual ikhlas.

    ReplyDelete
  12. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Sedangkan dalam konteks sosial, kita mengetahui bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan satu sama lain. Bahkan dari lahir sampai meninggal pun, kita masih memerlukan bantuan orang lain. Adanya kutarunggu yang menyatukan 5 gunung, entah saya tidak memahami karakteristik dari setiap gunung, tetapi kita bisa berkolaborasi dan bersinergi untuk menciptakan suatu perubahan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  13. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Mempersatukan dari beberapa orang memang secara hakiki itu tidak dapat disatukan, tetapi sesungguhnya yang disatukan adalah pemikirannya atau persepsinya untuk mengatasi persoalan-persoalan bersama. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh sebuah kelompok untuk menyatukan persepsi mereka, setiap dari mereka tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis.

    ReplyDelete
  14. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Mengakui kedudukan orang lain yang lebih tinggi dari kita, tidak semua orang bisa melakukannya. Kadang kala, bangga diri juga menguasai ego kita. Sehingga akhirnya, kita menganggap diri kita-lah yang paling tinggi. Jika kita menganggap sesuatu lebih “rendah” dari kita, maka rasa sombong telah merasuk dalam jiwa kita.
    Ukuran manusia selalu melihat dari hal-hal yang tampak saja. Maka, sebagai manusia kita tidaklah memiliki hak untuk menilai orang lain. Toh setiap makhluk sama di hadapan Allah, hanya amal-nya lah yang membedakannya.

    ReplyDelete
  15. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Untuk dapat mengakui kehebatan orang lain, maka kita harus terbebas dari rasa memiliki dan rada sombong. Karena saat kitadapat mengakui kehebatan orang lain, maka saat itu pula kita dapat menerima saran, masukan serta nasihat dengan hati yang ikhlas. Tentunya dengan menerima saran, kritikan, dan nasihat, kita dapat berkomunikasi, menjalin silaturrahim, dan memecahkan persoalan-persoalan bersama yang akan membuat hidup menjadi lebih baik.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  16. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing dan juga memiliki keahlian di bidangnya masing-masing sehingga bisa diibaratkan seperti gunung. Adanya kesombongan dan rasa memiliki yang bercokol di dalam hati akan menyebabkan setiap orang tidak mampu untuk melihat kelebihan orang lain dan kelemahannya dibandingkan dengan orang lain. Hanya dengan meluluhkan kesombongan dan perasaan memilikilah kita dapat saling melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Menyatukan lima gunung berarti menjalin silatuhmi, mengakui kehebatan masing-masing dan berdikusi bersama. Kemudian saling menuangkan keahlian dan pengetahuannya masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  17. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Telah dijelaskan di dalam Al Qur'an bahwa salah satu tujuan penciptaan manusia adalah sebagai khalifah, sebagai pemimpin di dunia ini. Kita telah dibekali oleh akal dan nafsu yang memungkinkan kita dapat menjadi khalifah yang baik di muka bumi. Namun demikian, kita harus selalu bersifat dan bersikap amanah serta bertanggung jawab dalam menjalankan tugas kita sebagai pemimpin di dunia baik itu sebagai pemimpin dalam struktur suatu organisasi ataupun instansi serta sebagai pemimpin dalam artian tujuan penciptaan manusia di muka bumi, karena kita semua yakin dan percaya bahwa kelak kemudian kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan di muka bumi ini. Apakah amanah yang telah diberikan kepada kita sebagai pemimpin kita pergunakan dengan baik untuk kepentingan masyarakat atau sebaliknya kita pergunakan semena-mena yang menyusahkan masyarakat.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  18. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Dalam penyatuan lima gunung ini, menyatukan semua anggota adalah dengan menyamakan persepsi terlebih dahulu, misalnya untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Apabila persepsi yang sama telah diperoleh, maka akan dengan mudah untuk dipersatukan. Persepsi yang sama bukan berarti identik sifatnya, hanyalah persepsi namun perbedaan diri masing-masing pastilah ada. Apabila sudah bersatu maka akan mudah untuk berusaha bersama dalam mencapai tujuan, saling bekerjasama.

    ReplyDelete
  19. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Kita sebagai manusia memiliki olah pikir yang berbeda-beda dan tidak bisa dipaksakan pikiran yang satu denga pikiran yang lainnya. Tetapi tidak ada salahnya kita sebagai manusia menjalin silaturahmi dengan sesama dengan menyatukan pikiran-pikiran kita, setidaknya terdapat sedikitnya pikiran atau persepsi yang sama yang bisa dihubungkan dan dapat melahirkan pikiran atau persepsi yang baru.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  20. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Kita sebagai manusia seringkali memiliki rasa tinggi hati,Ketika merasa bahwa kekuasaan dalam tempatnya adalah yang paling tinggi, itu adalah sikap sombong, angkuh dan arogan. ketika seseorang telah berada dalam tingkatan ilmu yang tinggi tentu perlu adanya menjalin sosialisasi dan berkomunikasi satu dengan yang lain. baik dengan orang ditingkatan yang sama ataupun tidak. jika bersama dengan orang ditingkatan yang sama maka dari hal tersebut dapat digunakan untuk memecahkan persoalan-persoalan bersama.

    ReplyDelete
  21. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    menyatukan 5 gunung merupakan definisi yang plural. Misal dalam konteks diri kita sendiri yang terdiri dari berbagai macam beribu sifat-sifat gunung.Sebuah gunung bisa diandaikan kepada orang yang memiliki ilmu yang banyak dan tinggi, Ketika seseorang telah meniatkan menuntut ilmu, maka konsekuensinya adalah jika nantinya ia telah mengetahui dan memahami banyak ilmu penegetahuan, maka hindarilah sikap sombong. Hal ini dikarenakan, ilmu pengetahuan yang dimilikinya, masih perlu digali lagi untuk lebih dikembangkan.

    ReplyDelete
  22. Kesombongan dan rasa memliki yang begitu besar pada tiap manusia membuat kita merasa bahwa kita memiliki segalanya dan melebihi orang lain di sekitar kita, padahal pada hakikatnya kita memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Maka kesampingkanlah ego yang merasa sombong dan memiliki segalanya untuk bisa dengan ikhlas menerima kehadiran orang lain di sekitar kita, mengakui kelebihan yang dimiliki orang lain dan tidak mencaci kekurangannya menjadikan pikiran kita lebih kritis dan hati yang lebih bersih untuk bisa duduk berdampingan dan bekerja sama saling meelngkapi dalam menyelesaikan masalah.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  23. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Tuhan YME menciptakan manusia secara berbeda karena itu adalah hal yang wajar jika kita menemui banyak perbedaan didalam perjalanan hidup. Adanya perbedaan bukan berarti tidak terdapat kesamaan karena perbedaan yang sama pun adalah sebuah kesamaan. Kesamaan sangat penting dalam kehidupan milsalnya ketika mengambil sebuah keputusan harus ada kesepakatan bersama meskipun akan terdapat beberapa perbedaan tapi kesepakatan dapat dicapai dengan komunikasi dan silaturahmi demi tercapainya kepentingan bersama.

    ReplyDelete
  24. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Kesombongan adalah awal kehancuran kehidupan kita karena kesombongan dapat menutup mata kita untuk melihat diri kita yang sebenar-benarnya. Sehingga agar mampu melihat siapa diri kita sebenarnya, maka kita harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Harus diingat bahwa Sebenar-benarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan perbuatannya. Oleh karena itu, manusia tidak mempunyai hak untuk sombong. Bahkan di atas langit pun masih ada langit lagi, bagaimana mungkin manusia dapat membanggakan dirinya.

    ReplyDelete
  25. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Dari elegi ini, saya belajar untuk tidak memiliki sikap sombong dan mementingkan ego pribadi. Kita hidup di dunia yang tidak hanya kita saja yang ada. Namun, masih ada orang lain dan yang mungkin ada di sekitar kita yang perlu untuk kita hargai keberadaannya. Mengalahkan orang lain itu memang mudah, namun untuk mengalahkan ego diri sendiri itulah yang sulitnya bukan main. Kita merasa paling benar dan penting, padahal kita hanya debu di mata Allah. Astagfirullah.

    ReplyDelete
  26. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Komunikasi sebagai upaya untuk menemukan kesamaan, keseragaman, dan kesepahaman. Maka, yang dilakukan agar komunikasi berhasil, cara yang dilakukan adalah, samakan pikiran dan buka hati serta bersihkan, jauhi sikap sombong, karena sering kali pikiran dapat sama, namun hati selalu tampak berbeda, dikarenakan hati salalu menolak setiap ide dan saran meskipun benar, oleh karena kita merasa lebih dari apapun, bahkan menolaknya.

    ReplyDelete
  27. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Ikhlas dan menerima kebenaran merupakan hal terberat yang bisa diterima oleh HATI. mengapa? Dalam pikiran keadaan bisa kita terima, bahkan sangat paham tentang keadaanya. Ternyata hati kita kotor, hati kita tidak bersih. Semua disalahkan. Kesombongan telah menutup segala kebenaran, dan membuat perselisihan lalu akhirnya pertentangan serta kehancuran.

    ReplyDelete
  28. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    ”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” [Al Israa’:37]
    Sering orang sombong karena kekuasaan atau jabatan. Padahal kekuasaan dan jabatan juga tidak kekal. Ketika mati, maka kekuasaan pun hilang. Kita diganti dengan yang lain. Fir’aun raja Mesir yang sombong saat ini telah menjadi mayat yang tidak berdaya. Alexander the Great atau Iskandar Agung yang kerajaannya meliputi sebagian Afrika, Eropa, dan Asia saat ini tinggal tulang-belulang belaka. Hitler yang dulu ditakuti juga telah tiada begitu pula dengan musuh-musuhnya.
    Hanya Allah Maha Perkasa yang tetap kekal dan hidup abadi selama-lamanya. Lalu apa yang membuat manusia pantas untuk merasa sombong?

    ReplyDelete
  29. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Setiap manusia diciptakan dengan masing-masing kekurangan dan kelebihan. Kelebihan yang kita miliki tidaklah lantas membuat kita menyombongkan diri. Apabila kita diselimuti rasa sombong maka kita tidak akan dapat melihat kekurangan dari diri kita. Sedangkan kekurangan yang ada dalam diri kita haruslah kita ketahuia agar kita dapat mengintrospeksi diri kita dan memperbaiki kekurangan yang ada. Agar mampu melihat siapa diri kita sebenarnya, bagaimana sebenarnya diri kita maka kita harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa saombong. Sebenar-benarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan takwanya. Oleh karena itu, manusia tidak mempunyai hak untuk sombong. Bahkan di atas langit pun masih ada langit lagi, bagaimana mungkin manusia mau bertingkah sombong. Agar kita dapat melakukan interospeksi terhadap diri kita maka kita harus dapat melihat ke dalam diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  30. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Orang yang menuntut ilmu, jika yang kita kenal namanya mahasiswa dan siswa di seluruh penjuru dunia, adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah untuk menuntut ilmu. Mereka semua dikumpulkan di berbagai kawah candradimuka dan diberi ilmu-ilmu yang cukup agar diharapkan suatu saat mereka kembali ke masyarakat, mereka berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negaranya. Insya Allah. Meski asal mereka berbeda, tapi tujuan mereka sama. Dan tentunya, mereka akan bertemu orang-orang yang sudah lebih tinggi ilmunya dari mereka agar mereka bisa belajar dan menyerap berbagai ilmu untuk bekal mereka nanti. Kita juga harus pandai-pandai untuk membawa diri.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  31. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    yang harus disadari adalah bahwa diatas setiap sesuatu pasti ada sesuatu yang lebih bagus lagi, terkadang kita meerasa bahwa kita adalah orang yang paling baik di kalangan kita sehingga membuat kita tidak menyadari bahwa ada yang lebih bagus di atas kita hal ini di sebabkan karena rasa sombong dan merasa paling memiliki terhadap sesuatu, maka hanya dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis itulah engkau mampu menghargai segala sesuatu.

    ReplyDelete
  32. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum
    “Gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesame”. Saya kira ini gunung dalam hal ini menyangkut cita-cita, perilaku, pola pikir, pengetahuan serta sikap dalam mengarungi hidup dalam semesta ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. saya kira elegi diatas menggambarkan bahwa kesombongan dan rasa memiliki adalah hijab atau pembatas yang menutup mata kita untuk melihat bahwa masing-masing kita punya nilai yang sudah tuhan anugrahkan secara adil pada kita yang sering kita lalai dan kita tidak bersyukur atasnya. Hal tersebut juga berarti bahwa diatas kita pasti ada orang lain yang lebih yang hendaknya memacu kita untuk dapat mengembangkan potensi yang tuhan anugrahkan pada kita sebagai hambanya yang Ia cintai.

      Delete
  33. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan dari artikel di atas yang dapat saya simpulkan adalah janganlah menjadi orang yang sombong setelah banyak belajar dan banyak mengetahui sesuatu. Sesungguhnya apa yang kamu ketahui itu hanyalah sedikit dari apa yang ada di muka bumi ini. Oleh sebab itu, teruslah menuntu ilmu dan ketika kamu lebih banyak tahu dari orang lain janganlah menyombongkan diri seperti kamu mengetahui segalanya. Dalam status apapun itu, Professor pun tidak boleh sombong kepada mahasiswanya, haruslah membagi ilmu yang ia dapatkan dengan cara yang lebih bijaksana.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id