Oct 28, 2012

Kutarunggu Persidangan Agung Sang Bagawat




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai para cantralma, kesinilah aku ingin menyampaikan beberapa pertanyaanku kepadamu. Apakah engkau mengetahui apa hubungan antara percabaan Kutarunggu dengan Kerajaan Hanuya?



Para cantralma:
Wahai guruku, aku belum sepenuhnya paham.

Bagawat:
Pertanyaanku berikutnya adalah dimana sebetulnya percabaan ini, yaitu percabaan Kutarunggu berada?

Para cantralma:
Ya di sini.

Bagawat:
Pertanyaanku berikutnya, siapakah yang mempunyai pangkat tertinggi pada percabaan Kutarunggu?

Para cantralma:
Menurutku yang mempunyai pangkat tertinggi adalah guruku yaitu sang Bagawat.

Bagawat:
Oo..ooh..pada cantralma. Ternyata ilmumu belum seperti apa yang aku harapkan. Engkau semua harus masih banyak belajar. Maka dengarkanlah caramahku dalam persidangan agung ini.

Bagawat:
Ketahuilah bahwa semua pejabat di kerajaan Hanuya adalah alumnus Kutarunggu. Maka hubungan antara Kutarunggu dengan Hanuya ibarat wadah dan isi. Kutarunggu itu bisa berupa wadahnya, sedang isinya adalah Hanuya.

Bagawat:
Sedangkan keberadaan Kutarunggu yang sebenarnya bukanlah seperti apa yang engkau lihat. Kutarunggu yang sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas. Maka tidak perlu engkau mencari-cari dimana keberadaan Kutarunggu. Cukup dengan berpikir kritis, maka engkau akan segera menemukan Kutarunggu. Sebetul-betul Kutarunggu itu adalah pikiran dan hatimu.

Bagawat:
Sedangkan pangkat tertinggi di Kutarunggu ini bukanlah diriku atau Cantralma tetapi daya kritismu dan keiklhasanmu dalam berkata, berbuat dan bekerja.

Bagawat:
Satu lagi pertanyaanku, engkau itu sedang biara dengan siapa?

Para cantralma:
Kami sedang bicara dengan sang Bagawat.

Bagawat:
Oo..ooo...ternyata engkau belum juga sempurna dalam memahami ilmu-ilmuku. Sebetulnya dirimu sedang bicara dengan ilmumu. Itulah engkau itu sedang menuntut ilmu. Maka jika engkau telah tetapkan niatmu, maka segenap kata, perbuatan, dan perilaku dan pengalamanmu itulah ilmumu. Jadi sebenar-benar sang Bagawat tidak lain tidak bukan adalah pikiranmu.

Para cantralma:
Wahai sang Bagawat, tetapi kenapa engkau seperti tampak menyimpan kesedihanmu?

Bagawat:
Wa...ha..haa..syukurlah. Sekarang aku mulai melihat kecerdasanmu. Ketahuilah bahwa kesedihanku itu dikarenakan aku melihat perjalanan para cantralma kedepan akan mengalami godaan yang tidak kecil. Bahkan aku melihat dan mengetahui ada satu atau beberapa cantralma mulai terkena stigma. Ketahuilah bagai sanga Stigmaraja, maka stigma itu tentu selalu bertentangan dengan keadaan kita. Maka waspadalah terhadap stigma-stigma. Padahal engkau tahu bahwa Kutarunggu ini sebetulnya juga berhak memproduksi stigma. Yaitu stigma-stigma yang baik-baik, tetap hal yang demikian terkalahkan oleh besarnya kekuasaan sang Stigmaraja. Maka waspadalah.

Para cantralma:
Lalu bagaimanakah guruku cara menghindari stigma-stigma buruk, atau di sebut sebagai stigma saja itu?

Bagawat:
Sebenar-benar stigma itu terdiri dari 2(dua) komponen dasar, yaitu pikiran dan hati. stigma itu aalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Maka untuk menghalau para stigma yaitu dengan selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas.

Bagawat:
Saya ingin menutup persidangan agung ini dengan perintah kepada para cantralma agar engkau semua dapat mengawal dan mengamankan baik Kutarunggu maupun Hanuya, dari ancaman para stigma. Terimakasih

38 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Hidup ini adalah pilihan antara baik dan buruk maka tergantung bagaimana kita memilih dua jalan untuk menjalani hidup kita akankah mengikuti stigma atau melawan stigma. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu yang sebenarnya dan dengan sendirinya memuja diri kita.

    ReplyDelete
  2. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Dari elegi ini, makna yang tersirat menurut saya adalah kita sering beranggapan bahwa orang yang paling tinggi adalah seseorang yang kita anggap lebih, dalam artian memiliki kedudukan, kekuasaan, kekuatan dsb. Padahal sebenar-benarnya orang yang paling tinggi itu adalah diri kita sendiri, asalkan kita memiliki hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis.
    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  3. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Manusia yang sadar mental dan jiwanya sebenarnya tahu dan mengerti mana yang baik dan buruk. Mana yang tepat, mana yang tidak tepat. Pikiran kita masing-masing jika berpikir secara positif tetapi menggunakan kalimat negatif, itu juga tidak akan sampai ke hati. Jika kita berpikir berdasarkan ilmu, maka kita akan mengolah sedemikian rupa yang positif itu. Ini perpaduan antara ilmu yang ada dan hati seseorang dalam berkata dan melakukan sesuatu. Pikiran dan hati adalah wadah yang diberikan oleh Allah SWT, maka isilah dengan doa, keikhlasan, kerja keras, sikap tidak menyombongkan diri dan banyak lagi hal-hal yang positif.

    ReplyDelete
  4. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Terkadang kita sebagai manusia menggunakan pikiran kita masih bercampur dengan hal-hal yang negatif, masih hanya mengandalkan ego dan keinginan sesaat. Padahal sejatinya apa yang kita lakukan harus sesuai antara hati dan pikiran. Pikiran yang bersih akan melahirkan hati yang bersih. Berfikir kritis dan melakukan segala hal dengan ikhlasa dapat membuat kita terhindar dari berbagai stigma yang ada.

    ReplyDelete
  5. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Setiap aktivitas kehidupan manusia akan ada ranah dimana manusia diberikan kesempatan untuk memilih baik itu pilihan yang sesuai dengan perintah Allah ataupun larangan Allah. Untuk menghindari stigma, maka kita harus giat dalam menuntut ilmu, agar tahu sesuatu baik atau sebaliknya. Stigma juga bisa dihindari dengan senantiasa ikhlas dalam perbuatan dan merasa diri diawasi oleh Allah SWT.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


    ReplyDelete
  6. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Berikut ini adalah hubungan antara Kutarunggu dengan Hanuya yang diibaratkan wadah dan isi. Kutarunggu adalah wadah, sedangkan isinya adalah Hanuya. Selain itu, Kutarunggu sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas. Karena sebenar-benarnya Kutarunggu itu adalah pikiran dan hati seseorang. Pangkat tertinggi Kutarunggu ini bukanlah diriku atau Cantralma tetapi daya kritis dan keiklhasan dalam berkata, berbuat dan bekerja.Jadi ada 2(dua) komponen dasar, yaitu pikiran dan hati. Stigma itu adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Maka untuk menghindari para stigma yaitu dengan cara selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas.

    ReplyDelete
  7. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Penafsiran tentang keberadaan sesuatu merupakan hal yang sangat sulit untuk diperinci, karena keberadaan sesuatu itu juga bergantung pada keyakinan seseorang terhadap hal tersebut, Meja yang terlihat oleh mata kita bisa saja kta sebut meja tersebut ada, namun lain halnya dengan Allah SWT, Allah SWT ada karena kita mengimani bahwa DIA ada. Begitulah indahnya pengetahuan.

    ReplyDelete
  8. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Dari postingan Bapak di atas saya mendapatkan bahwa sebenar-benar stigma terdiri dari dua komponen dasar, yaitu pikiran dan hati. Pikiran yang tidak kritis dan hati yang tidak bersih. Hati yang tidak bersih disebabkan oleh godaan setan. Kita harus membiasakan diri untuk selalu berpikir kritis dan menjaga hati tetap bersih atau ikhlas. Dengan cara selalu memohon kepada Tuhan untuk selalu diberikan perlindungan.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2103

    Sebagai seorang manusia kita harus berpikir kritis. Dengan berpikir kritis kita akan terhindar dari mitos- mitos. Tetapi berpikir kritis ternyata tidaklah cukup. Oleh karena itulah dalam hidup ini kita harus senantiasa berpikir kritis disertai hati yang bersih. Kita harus menuntut ilmu disertai keihklasan dan niat yang baik. Karena sebenar- benar berpikir kritis dan hati yang bersih itulah kita dapat terhindar dari stigma yang buruk.

    ReplyDelete
  11. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Ketika kami berada dalam kutarunggu atau suatu tempat, katakanlah universitas, kami menganggap bahwa orang yang mempunyai pangkat tertinggi dalam bidang keilmuan adalah para Professor. Karena mereka telah mendedikasikan separuh bahkan seluruh waktunya untuk meneliti sampai mereka menemukan expertise bidang. Sehingga, kami berharap bahwa dengan berdiskusi, belajar dari mereka, kami akan memperoleh knowledge dan terjadi proses transfer of knowledge.

    ReplyDelete
  12. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    melanjutkan pernyataan saya sebelumnya bahwa dari elegi ini, penafsiran berdasarkan olah pikir saya bahwa yang paling tinggi bukanlah Professor atau orang yang punya pangkat paling tinggi melainkan pikiran kami yang kritis dan hati kami yang ikhlas dalam menerima ilmu yang diberikan. Jika pikiran kami tidak kritis, maka kami tidak bisa membreakdown dan mengkonstruksi pengetahuan yang diberikan. Kalau hati kita tidak ikhlas, maka kami akan terkesan mengabaikan apa yang diberikan karena kami tidak dalam kondisi siap dan terpaksa dalam jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  13. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pangkat tertinggi di dalam pikiran dan hati adalah daya kritis dan keikhlasan seseorang dalam berkata, berbuat dan bekerja. Seseorang yang memiliki kecerdasan yang tinggi pasti akan kritis dalam berpikir, tidak hanya menerima ilmu secara mentah-mentah, melakukan tindakan dengan hati-hati serta ikhlas dalam melakukan sesuatu apapun itu.

    ReplyDelete
  14. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Saya bertanya-tanya tentang makna “kutarunggu” yang sering muncul dalam banyak elegi di blog ini. Meski sudah membaca cukup banyak elegi berjudul “kutarunggu”, namun saya belum sepenuhnya paham. Akhirnya di elegi ini saya menemukan kalimat tentang makna kutarunggu, yakni “Keberadaan Kutarunggu yang sebenarnya bukanlah seperti apa yang engkau lihat. Kutarunggu yang sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas. Maka tidak perlu engkau mencari-cari dimana keberadaan Kutarunggu. Cukup dengan berpikir kritis, maka engkau akan segera menemukan Kutarunggu. Sebetul-betul Kutarunggu itu adalah pikiran dan hatimu”.

    ReplyDelete
  15. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Pengetahuan-pengetahuan yg kita miliki, akan selalu mendapat godaan untuk terkena stigma-stigma negatif. Maka kita harus selalu waspada dan tetap berpikir kritis serta menggunakan hati yang bersih agar dapat terhindar dari stigma negatif.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  16. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Stigma merupakan pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Stigma pun akan selalu mengancam kita dalam mencari ilmu pengetahuan. Ketika kita merasa bahwa kita telah memiliki pengetahuan atau menerima pengetahuan begitu saja tanpa berusaha membuat anti tesis dan mensintesisnya, berarti kita juga telah terjebak stigma. Sementara hati yang tidak bersih merupakan hati yang telah tergoda oleh setan. Maka kita tidak boleh dalam keadaan berhenti, kita harus senantiasa berikhtiar dengan menggunakan pikiran yang kritis dan hati yang bersih.

    ReplyDelete
  17. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Dielegi ini juga kembali disinggung masalah stigma, stigma negatif terjadi karena adanya pikiran yang tidak kritis dalam menyikapi sesuatu dan hati yang kotor. setiap manusia tidak dapat menghindari stigma negatif yang ada, yang perlu dilakukan adalah menghindari dan menjauhkannya dari kehidupan kita, stigma sendiri merupakan hasutan setan yang ingin menjerumuskan kita kedalam dunia yang kelam bersamanya. untuk itu wujud perlakuan kita dengan lebih mendekatkan diri kita kepada tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  18. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Sesungguhnya kehidupan di dunia ini penuh dengan kontradiksi. Seperti halnya nilai kebenaran dari suatu ilmu pengetahuan akan sangat kontradiksi dengan suatu stigma. Manusia hidup haruslah selalu menuntut ilmu, karena ilmu tidak hanya didapat di sekolah namun juga di kehidupan sehari-hari. Menuntut ilmu haruslah menggunakan pikiran yang kritis, hati yang bersih, mengerahkan segala potensi, pengalaman, dan keterampilan. Maka akan diperoleh kebenaran dari suatu ilmu pengetahuan dan terhindar dari stigma yang berupa pikiran kalut dan hati yang kotor dalam memandang segala sesuatu.

    ReplyDelete
  19. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Untuk mneghindarkan diri kita dari stigma atau sifat negatif yang menempel pada diri kita, maka tidaklah kita terpengaruh oleh lingkungan yang tidak baik. Hidup itu bagaimana kita bisa menyaring atau memilih mana lingkungan yang baik dan mana lingkungan yang tidak baik untuk kita. Jika lingungan kita sudah baik maka piiran dan hati kita pun akan bersih.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  20. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Sejatinya apa yang kita lakukan harus sesuai antara hati dan pikiran. Pikiran yang bersih akan melahirkan hati yang bersih. Berfikir kritis dan melakukan segala hal dengan ikhlasa dapat membuat kita terhindar dari berbagai stigma yang ada.Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu yang sebenarnya dan dengan sendirinya memuja diri kita.

    ReplyDelete
  21. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Kutarunggu adalah wadah, sedangkan isinya adalah Hanuya. Selain itu, Kutarunggu sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas.Pikiran yang bersih akan melahirkan hati yang bersih. Berfikir kritis dan melakukan segala hal dengan ikhlasa dapat membuat kita terhindar dari berbagai stigma yang ada.

    ReplyDelete
  22. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Berpikir kritis dan berhati yang bersih dan ikhlas adalah salah satu modal kuat untuk menjalani kehidupan yang begitu keras. Hidup ini adalah pilihan, apakah kita kita akan melakukan hal-hal yang positif yang bermanfaat bagi orang banyak atau justru melakukan perbuatan yang penuh stigma-stigma negatif yang justru merugikan orang banyak dan merusak kehidupan sosial. Bagi orang yang berpikir kritis dan berhati bersih tentunya akan sekuat tenaga mawas diri dan menghindar dari fenomena atau isu-isu yang berkembang di masyarakat yang sifatnya dapat memecah belah dan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  23. Pemahaman yang baik memerlukan pikiran kritis dan hati yang ikhlas, karena pikiran dan hati merupakan komponen dasar dari sebuah stigma. Untuk dapat terhindar dari stigma buruk maka kita harus berfikir kritis dan berhati ikhlas sebab tanpa pikiran kritis dan hati yang ikhlas semua akan sia-sia justru kita bisa keliru dan mengikuti stigma-stigma buruk tersebut. Kita harus terus menjaga pikiran dan hati untuk dapat terhindar dari stigma-stigma buruk tersebut agar kita dapat menjalani kehidupan dengan pemahaman yang baik.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  24. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Stigma adalah pandangan negatif dari orang lain terhadap apa yang kita lakukan. Hidup adalah memilih yaitu kita bebas memilih menjadi baik atau buruk. bagaimana sikap kita jika diperhadapkan dengan stigma apakah menerima dan mengikuti stigma atau menolak dan membuktikan bahwa stigma itu tidak benar. Sebenar-benarnya stigma adalah berasal dari hati dan pikiran yang kotor karena itu jika ingin menghalau stigma dari kehidupan kita maka selalulah berpikir kritis dan miliki hati yang bersih dan ikhlas.

    ReplyDelete
  25. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Disebutkan bahwa komponen dari STIGMA adalah pikiran dan hati. stigma yaitu pikiran tidak kritis dan hati yang tidak bersih. Menurut pemahaman saya, artinya bahwa hati yang tidak dibersihkan yang berarti kotor. Dan pikiran yang tidak dikritiskan yang menjadi dogma. Merupakan stigma buruk. Sedangkan stigma yang baik adalah pikiran yang selalu kritis dan hati yang selalu bersih.

    ReplyDelete
  26. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Maka seseorang yanag dikatakan sebagai orang yang tidak mengalami stigma buruk terhadap dirinya, seharusnya dapat memfungsikan dirinya sebagai manusia yang hidup. Dalam arti hidup hatinya dan juga hidup akal atau pikirannya. Dengan hidup hati dan pikiran, inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Pembedanya adalah HATI dan PIKIRAN (akal)

    ReplyDelete
  27. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Di dalam kehidupan ini, diharapkan manusia yang beriman untuk selalu waspada terhadap pengaruh-pengaruh stigma-stigma buruk. Dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT insyaallah kita akan terhindar dari stigma, bahkan kita bisa mangajak orang lain menuju kebaikan.

    ReplyDelete
  28. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  29. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Dan inilah akal. Pertautan antara pikiran dan hati. Jika yang diandalkan hanya pikiran saja, maka yang terjadi ada;ah kerusakan-kerusakan di dunia, seperti sebuah ilmu digunakan untuk menghancurkan sebuah negara. Namun jika menggunakan hati saja itu pula tidaklah cukup karena kita hanya membiarkan diri kita ditindas dan dipengaruhi dan diperdaya oleh orang yang lain yang hanya menggunakan pikirannya. Maka sebaik-baik manusia adalah yang mampu mepertautkan hati dan pikirannya, agar tidak berbuat kemungkaran yang berwujud stigma.

    ReplyDelete
  30. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP B
    We are forbidden to do evil. Moreover, "we have a responsibility for the sins committed by others when we co-operate in them," warns the Catechism of the Catholic Church. We can do this "by participating directly and voluntarily" in others' sins; "by ordering, advising, praising, or approving" them; "by not disclosing or not hindering them when we have an obligation to do so"; and "by protecting evil-doers."

    ReplyDelete
  31. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Wadah itu tidak lain tidak bukan adalah diri kita dan bisa dikatakan kutarunggu adalah diri kita sendiri. Maka untuk menggapai kutarunggu wadahnya haruslah diisi dengan ilmu yang berasal dari fikiran dan hati. Agar wadah kita menghasilkan wadah yang baik, bagus tidak terkontaminasi oleh stigma maka ilmu untuk mengisi wadah tersebut haruslah ilmu berupa pemikiran yang kritis dan hati nurani yang ikhlas.

    ReplyDelete
  32. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Stigma adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih atau tidak ikhlas. Stigma akan datang tanpa mau mengetahui fakta dibaliknya, maka untuk menghindari para stigma adalah dengan selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas. Stigma selalu bertentangan dengan keadaan kita, maka waspadalah kita terhadap stigma-stigma. Sesungguhnya stigma bisa menjadi kobaran semangat hidup kita bila kita memahami arti hidup ini, namun tak jarang orang yang menjadikan stigma sebagai penghambat hidup kita. stigma bisa dijadikan motivasi kita untuk selalu berpikir kritis, kreatif. Akan tetapi jika kita tidak bisa mengolah diri kita, maka kita akan terjerumus dalam jurang stigma yang akan memporak-porandakan hidup kita.

    ReplyDelete
  33. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    berdasarkan artikel di atas maka saya memahami bahwa sbenarnya pikiran dan hati adalah segalanya yang berharga, karena kutarunggu yang sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas.Cukup dengan berpikir kritis, maka kita akan segera menemukan Kutarunggu. Sebetul-betul Kutarunggu itu adalah pikiran dan hatimu. maka kita harus menjaganya supaya terhindar dari stigma yang menghancurkan dan merugikan.

    ReplyDelete
  34. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Sumber dari pengetahuan adalah pikiran. Kita dapat menjangkau dan memperluas pikiran kita seluas-luasnya asalkan kita tahu batas-batasnya. Perlulah suatu hati yang ikhlas untuk memulai mengembarakan pemikiran. Perlu juga kesenangan dalam menggapai ilmu. Seperti yang dirasakan para ilmuwan-ilmuwan terdahulu saat melakukan penemuan. Seakan tidak pernah capek demi membuka sesuatu yang baru untuk kebaikan peradaban umat manusia.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  35. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Karena hidup ini adalah pilihan antara baik dan buruk maka tergantung bagaimana kita memilih dua jalan untuk menjalani hidup kita akankah mengikuti stigma atau melawan stigma. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma. Berbicara mengenai wadah dan isi maka keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan. Demikian juga jika kita membicarakan tentang guru dan ilmu. Guru hanyalah sebagai wadah ilmu untuk para siswa, namun intinya tetap terletak pada ilmu itu sendiri. Untuk memahami tentang wadah dan isi maka dibutuhkan pemikiran yang kritis. Tanpa berpikir kritis maka kita hanya terjebak dalam stigma.

    ReplyDelete
  36. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum
    elegi diatas menyiratatkan bahwa dalam menuntut ilmu hendaklah menjunjung kritis dalam berpikir, ikhlas dan bersih dalm menggunakan hati. Jika kita masih menganggap hal lain lebih ari berpikir kritis dan hati yang bersih maka kita belum sebenar-benarnya memahami ilmu secara baik dan mendalam. Dunia penuh dengan stigma jika lalai dalam menggunakan pikiran dan hati maka stigma negatiflah yang mengintai kita.

    ReplyDelete
  37. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Stigma itu adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Maka untuk menghindari para stigma yaitu dengan cara selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas. Seperti itulah ilmu pengetahuan, dia harus dibuktikan keberadaannya agar tidak hanya menjadi mitos.

    ReplyDelete
  38. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Setiap orang merupakan pemimpin atas dirinya sendiri. Dalam menjalankan kehidupan kedepan yang pasti akan menemukan berbagai rintangan dan hambatan, setiap orang harus bisa memimpin dan mengendalikan dirinya sendiri yakni pada pikiran dan hati. Pikiran haruslah berdaya kritis yang tinggi dan hati haruslah selalu disertai keikhlasan baik dalam berkata, berbuat, dan bekerja sehingga stigma yang mencoba melemahkan kebaikan eksistensi seseorang tidak dapat berhasil.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id