Oct 20, 2012

Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst.


Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

51 comments:

  1. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Manusia harus paham akan kedudukannya sesuai ruang dan waktu. Kita harus cerdas memilih sikap yang akan kita lakukan, perkataan yang akan kita lakukan, kegiatan yang akan kita kerjakan dan lain sebagainya. Tidak boleh sombong dan menyakiti yang lainnya. Dalam pendidikan, komunikasi antara guru dan siswa amatlah penting. Masing masing mereka memiliki posisi yang berbeda sesuai dengan kepentingan mereka masing masing. Guru dan siswa harus melakukan segala sesuatunya dengan baik. Mengajar dengan baik dan menerima ilmu dengan baik.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  2. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Selalu ada kelebihan dan kelemahan di dunia ini, tetapi kita harus menyadari bahwa kelebihan sebenarnya dapat menjadi kelemahan apabila kita tidak menyadarinya dan tidak mampu mempergunakan dengan semestinya, dan kelemahan juga dapat menjadi kekuatan apabila kita dapat memandang kelemahan yang kita miliki sebagai kelebihan sehingga dapat dimanfaatkan dalam melakukan sesuatu. Begitu juga dalam dunia pendidikaan, guru dan murid pada dasarnya adalah sama. Namun, pada prosesnya, dalam pembelajaran konvensional, selalu ada kesenjangan diantara guru dan murid. Disini guru bertindak layaknya dewa dan siswa dianggap sebagai daksa. Namun seiring perkembangan zaman, hal seperti itu sudah tidak lagi digunakan. Guru sebagai fasilitator dan pendukung siswa dalam belajar, sehingga guru lebih memiliki kedekatan kepada siswa sehingga tidak terjadi kesenjangan. Melalui proses ini semua komponen pembelajaran saling berkolaborasi menciptakan suasana belajar yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    ReplyDelete
  3. Indriyani Fatmi
    S1 P. Matematematika C 2013
    13301244031

    Setiap manusia memiliki topeng yang berbeda-beda untuk ditunjukkan pada orang yang berbeda-beda pula. Hal baik yang dapat dilakukan adalah menggunakan topeng yang kita miliki dengan bijaksana dan tidak melanggar aturan dan norma yang berlaku. Begitu pula guru dan siswa, saling melengkapi kebutuhan satu sama lain. Guru sebagai fasilitator, siswa sebagai pembelajar. Adapun guru dan siswa hanyalah salah satu topeng yang dimiliki manusia. Hanya Tuhan YME yang mengetahui jatidiri manusia sebenarnya.

    ReplyDelete
  4. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Manusia selalu memiliki kedudukan dalam setiap aktivitasnya. Kedudukan sebagai hamba Allah, dan sebagai mahasiswi, anak, adik, maupun kakak. Kedudukan itu merupakan amanah dari Allah yang akan dipertanggung jawabkan. Karenanya, kita dituntut untuk melaksanakan amanah itu dengan baik dan tidak digunakan untuk menyombongkan diri. Karena yang patut menyombongkan diri hanyalah Rabb semeta alam.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  5. Ika Nailatul Muna
    13301241050
    Pendidikan Matematika A 2013

    Guru dan siswa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Guru ada karena ada siswa dan begitupun sebaliknya. Guru tidak boleh berlaku sombong dan sok kuasa karena memiliki ilmu yang lebih banyak. Siswa juga tidak boleh merasa tertindas untuk dapat mempelajari ilmu dengan nyaman. Guru dan siswa harus saling memahami sikap masing-masing yang harus ditunjukkan, guru tidak semena-mena dan siswa tetap sopan. Hal paling penting yang diperlukan adalah komunikasi yang baik antara guru dan siswa.

    ReplyDelete
  6. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Jargon pertengkaran antara guru dan siswa, merupakan suatu kasus yang terjadi antara guru dan siswa. Guru sebagai penyalur ilmu dan siswa penerima. Semuanya adalah sama-sama penting. Guru membutuhkan murid, dan murid membutuhkan guru. Guru harus bisa memposisikan dirinya sebagai guru. Guru memerlukan jargon, untuk melindungi dirinya, yaitu dengan bertanggung jawab dalam menyampaikan ilmu yang dimiliki. Guru harus bisa mengelola kelas, mengetahui bagaimana karakter siswa, dan harus benar-benar menguasai materi. Agar ia bisa terlindung dari yang menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan untuk siswa, siswa berhak menerima ilmu yang dimilki oleh gurunya. Siswa harus bisa megamalkan yang telah mereka dapat dari belajarnya. Siswa harus memiliki jargon untuk melindungi dirinya, sehingga siswa harus beranggungjawab sebagai seorang siswa. Maka solusi yang baik adalah guru dan siswa harus bisa menerjemahkan dan diterjemahkan. Guru jangan sombong terhadap muridnya, dan siswa juga jangan menjangkar atau melawan seorang guru.

    ReplyDelete
  7. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kita semua punya jargonnya masing-masing. Begitu juga guru dan siswa. guru yang ingin terlihat akan kedudukannya sebagai orang yang memberikan ilmu, ia tidak sadar membuat jargon untuk dirinya. Bahwa ia pintar, ia punya ilmunya dibanding siswa, seperti teacher center, semua yang ada dan sumber ilmunya ada di guru. Maka siswa haruslah melihatnya. Ini membuat siswa menjadi mati kutu, tidak bisa berkutik, tidak bisa mengemukakan pendapatnya. Terlihat bahwa ini tidak bisa dikatakan interaksi. Lalu bagaimana guru mengetahui perkembangan pada siswa jika guru berkuasa atas pembelajarannya. Padahal siswa juga punya hak untuk mengatur olah pikirnya dari ilmu yang masuk menjadi pendapat-pendapat dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari sisi siswa.

    ReplyDelete

  8. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Pada elegi ini saya sependapat bahwa jargon itu seperti layaknya kekuasaan. Maka setiap manusia memang memiliki kekuasaannya masing-masing, yang dapat dibedakan berdasarkan ruang dan waktu. Begitu pula dengan seorang guru, maka ia telah memiliki jargon dan seorang siswa, maka ia juga memiliki jargon. Jargon yang ada pada dalam diri guru yaitu untuk memantapkan dirinya dan jargon yang ada pada siswa yaitu untuk melindungi dirinya. Kedua jargon tersebut telah diberikan oleh Allah supaya dapat saling melengkapi dan membawa hikmah dalam dunia pendidikan. Satu pesan yang penting tertuju untuk para guru yaitu janganlah bersikap sombong, karena ilmu yang telah dimiliki itu belum sebarapa dan sebenar-benarnya guru sejati adalah Allah

    ReplyDelete
  9. Afifah Nur Indah Sari
    13301244006
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Jargon adalah bahasa yang kacau dari subyeknya. Masing-masing subyek berhak memiliki jargonnya. Seperti elegi yang pernah saya baca, yaitu elegi para jargon, disebutkan bahwa jargon bisa jadi kurang bermanfaat, bermanfaat, atau bahkan sangat bermanfaat. Dari elegi di atas tergambarkan bagaimana kedudukan-kedudukan elegi itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika jargon dikendalikan oleh keegoisan subyeknya maka dia akan sangat merugikan, namun jika jargon diiringin dengan hati bersih para subyeknya maka ia dapat saling melindungi.

    ReplyDelete
  10. Nurul Imtikhanah
    13301244002
    Pendidikan Matematika C 2013

    Tiap manusia punya jargonnya masing-masing. Pada elegi di ata smemeperlihatkan jargon antara guru dan siswa. Sesungguhnya tidak ada yang lebih dibanding satu sama lain. Guru merupakan siswa juga dari pengajarnya begitupun siswa adalah siswa bagi guru. Maka harus saling menghargai antara kedudukan satu sama lain karena sesungguhnya saling membutuhkan dan terhubung.

    ReplyDelete
  11. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Elegi pertentangan jargon guru dan siswa menyiratkan bahwa jargon guru dan jargon siswa saling berheurmenetika satu sama lain. Bahkan, mungkin saja ketika saya menjadi pendidik, saya menggunakan jargon pendidik dan mahasiswa merasa tertindas dengan jargon saya dan mereka menjadi jargon mahasiswa tertindas. Hendaknya dalam membuat jargon, jangan ada unsur dominan atau kesombongan yang bisa membuat jargon baru yang menindasdakan orang lain.

    ReplyDelete
  12. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Setiap orang memiliki kedudukan dan peran masing- masing sehingga juga memiliki jargonnya masing- masing. Seorang guru tidak boleh berlaku sombong dan aniaya terhadap siswanya. Sebagai seorang guru tidak seharusnya jargonnya menutup jargon siswanya. Jargon guru dan jargon siswa harus saling menterjemahkan dan diterjemahkan agar tercipta proses pembelajaran yang dapat mengembangkan potensi jargon siswa tanpa menutupi jargon guru.

    ReplyDelete
  13. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Jargon pertengkaran antara guru dan siswa ini adalah salah satu contoh dari tak terhingga banyaknya pertengkaran para jargon. Pertengkaran antara guru dan siswa yang dimaksud dalam jargon ini adalah terjadinya konflik antara objek dengan subjeknya, dalam hal ini objek adalah siswa sedangkan subjek adalah gurunya.Terjadinya konflik ini disebabkan karena guru terlalu dominan terhadap siswa sehingga siswa terintimidasi dan tidak memiliki kebebasan berfikir, berkreasi, serta mengeksplorasi, yang menyebabkan perkembangan siswa dalam belajar menjadi terganggu, sehingga tujuan utama pembelajaran tidak bisa tidak tercapai. Maka dari itu, guru sebagai subjek haruslah memberi kesempatan kepada objeknya yaitu siswanya untuk menggunakan jargon-jargonnya.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  14. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Setiap orang memiliki kedudukannya masing-masing, dimana terkadang menjadi subyek dan terkadang menjadi obyek. Seperti guru yang memiliki kedudukan sebagai subyek dari siswanya yang memiliki kedudukan sebagai obyek. Jika guru dan siswa harus dapat berkomunikasi, saling memahami dan terlepas dari kedudukan dan jargon mereka masing-masing, maka pembelajaran di kelas akan berjalan lancar.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  15. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Keberhasilan pembelajaran tidak dapat terlepas dari kesesuaian proporsi antara peran guru dan peran siswa. Guru perlu membangun kerjasama dengan siswa. Penyalahgunaan kekuasaan oleh guru pada siswa dapat menimbulkan tekanan pada siswa bahkan bisa sampai membunuh potensi siswa. Sesungguhnya siswa memiliki potensi yang besar untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri. Guru yang baik ialah guru yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya secara aktif sesuai dengan intuisinya. Guru juga perlu memberikan pengalaman yang seluas-luasnya pada siswa agar mereka dapat mengembangkan intuisinya. Maka diterjemahkan dan menterjemahkan solusinya. Guru memahami siswa dan siswa juga memahami kedudukan guru.

    ReplyDelete
  16. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Jargon muncul karena memiliki kekurangan, termasuk kekurangan pemahaman dan pengalaman. Guru bukanlah pendominasi saat pelaksanaan pembelajaran, guru bukanlah pusat saat pembelajaran, namun guru adalah perencana pembelajaran agar peserta didik dapat melaksanakan pembelajaran yang bermakna, sedangkan dirinya sendiri (guru) hanya sebagai fasilitator. Guru membutuhkan informasi mengenai kebutuhan peserta didik, sehingga dia dapat menentukan pembelajaran yang seperti apa yang sesuai. Terlihat hubungan guru dan peserta didik sebenarnya adalah saling membutuhkan. Terbentuk hermeneutika lingkaran karena hubungan guru dan peserta didik saling membutuhkan dan bersifat timbal balik, berulang. Manusia baik guru maupun peserta didik haruslah menggunakan pikiran dan hatinya untuk memahami hermeneutikanya, sehingga dia tidak akan berbuat semena-mena yang berlawananan dengan hasil tejemahannya.

    ReplyDelete
  17. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Jargon itu membuat pertentangan antara guru dan siswa. Guru dan siswa ssat ini sudah mulai bertransformasi dari guru dan siswa pada jaman dahulu. Pada jaman dahulu guru saat otoriter terhadap siswanya. Guru yang bertugas memberikan segala informasi atau ilmu pada muridnya. Akan tetapi saat ini saat ini sudah bertransformasi menjadi guru merupakan fasilitator proses siswa belajar. Siswa berhak menyusun pengetahuannya sendiri. Saat ini juga siswa sering semena-mena dengan sikap dia pada guru. Hal itu tidak baik. Harusnya bisa saling menghargai satu sama lain.

    ReplyDelete
  18. Siswa dan guru mempunyai jargonnya masing-masing. Mereka harus ingat batasan kedudukan masing-masing namun seharusnya batasan itu bukan untuk mengintimidasi antara yang satu dengan lainnya melainkan harus bersinergi untuk mencapai tujuan bersama yaitu keberhasilan proses belajar mengajar. Guru dengan batasannya tidak bisa semena-mena terhadap siswa justru harus menjadi fasilitator untuk siswa mencapai keberhasilan, dan siswa juga harus tau diri bahwa bisa saja siswa mempunyai kemampuan melebihi gurunya tapi tetap harus menghormati guru sesuai batasannya. Umumnya siswa belajar dari gurunya, tapi ada kalanya guru mendapat pelajaran dari siswa seperti sistem pembelajaran yang kurang sesuai bagi siswa tertentu sehingga guru belajar untuk memperbaiki sistem tersebut agar lebih sesuai sehingga lebih bermanfaat dan lebih efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran, karena sejatinya guru dan siswa sama-sama belajar dalam porsinya masing-masing. Belajar bisa dimana saja dan dari siapa saja.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  19. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Dalam kehidupan ini setiap manusia mempunyai kedudukan. Misalnya dalam hal beribadah maka pada saat itu manusia adalah sebagai hamba dari Tuhannya. Pada saat di kantor, manusia bisa saja mempunyai kedudukan sebagai atasan ataupun karyawan biasa. Begitu dalam lingkungan sekolah ada yang berkedudukan sebagai guru dan ada sebagai siswa. Setiap kedudukan tersebut tentunya mempunyai tugas dan peran tersendiri. Guru mempunyai peran sebagai fasilitator bagi siswa untuk mendukung pembelajaran siswa, sebaliknya siswa harus bertindak sebagaimana mestinya seorang siswa yang menghormati gurunya. Di samping itu guru sebagai pentransfer ilmu guru tidak boleh sombong atas ilmunya dan harus senantiasa mengembangkan ilmunya.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  20. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dalam proses belajar mengajar, guru tidak boleh berlaku otoriter kepada siswanya. Guru juga tidak bisa hanya melakukan komunikasi satu arah karena sesungguhnya siswa juga perlu didengar pendapatnya sehingga guru harus mampu mengembangkan dan menciptakan kegiatan pembelajaran yang bersifat demokratis dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat membangun dan mengembangkan sendiri ide mereka. Guru juga harus menyadari bahwa dirinya adalah tidak sempurna sehingga tidak akan lepas dari kesalahan karena itu jangan berlaku sombong dan bersifatlah terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun karena tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru sejati adalah hanya Tuhan YME.

    ReplyDelete
  21. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    jargon adalah kata kacau yang mungkin ada manfaat, mungkin juga tidak ada manfaatnya. Semua itu tergantung penggunaannya, sehingga jargon terikat oleh ruang dan waktu. Penggunaan jargon memiliki manfaat seperti sebagai kalimat yang rancu, yang tidak diketahui sekelompok orang, sehingga bisa digunakan sebagai sandi. namun jargon bisa sangat bermanfaat ketika jargon di letakkan pada ruang dan waktu yang baik dan benar.

    ReplyDelete
  22. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Guru dan siswa saat ini sudah mulai bertransformasi dari guru dan siswa pada jaman dahulu. Pada jaman dahulu guru saat otoriter terhadap siswanya. Guru yang bertugas memberikan segala informasi atau ilmu pada muridnya. Guru bukanlah pendominasi saat pelaksanaan pembelajaran, guru bukanlah pusat saat pembelajaran, namun guru adalah perencana pembelajaran agar peserta didik dapat melaksanakan pembelajaran yang bermakna, sedangkan dirinya sendiri (guru) hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  23. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Hidup ini sendiri adalah kontradiksi. Maka, tak heran antara guru dan siswa pun akan ada kontradiksi. Kontradiksi itu sendiri lahir karena adanya perbedaan persepsi. Hal ii jelas, guru dan siswa tentu memiliki persepsi berbeda karena mereka berada pada posisi yang jelas tidak sama.
    Maka, sebagai seornag guru, pahami siswa dan selalu niatkan untuk tujuan yang baik. Begitupun dmeikian ketika kita menjadi siswa. Hidup ini perlu pemahaman, bukan hanya memahami orang lain tapi juga memahami diri sendiri.

    ReplyDelete
  24. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Guru dan murid memiliki jargonnya masing-masing. Di dunia pendidikan guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirinya.

    ReplyDelete
  25. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Guru dan siswa sama-sama belajar. Siswa belajar dari materi yang diberikan guru, dan guru belajar menyampaikan materi kepada siswa. Keduanya saling membutuhkan. Sehingga tidak ada salah satu yang lebih berkuasa di antara keduanya.

    ReplyDelete
  26. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Guru sebagai pendidik dan pengajar adalah sosok manusia yang memiliki sifat sebagaimana manusia memiliki sifat. Guru adalah profesinya, dan dirinya adalah manusia. Guru sebagai manusia, dan manusia yang berprofesi sebagai guru. Guru adalah dirinya dan dirinya adalah guru. Seorang yang berprofesi sebagai guru akan benar jika jargonnya ditempatkan sebagaimana tempatnya berada. Jika diletakkan bukan pada tempatnya, maka tentu akan berpengaruh terhadap kualitas dan keberhargaannya. Namun, sisi hitam pada manusia, atau sisi hitam pada guru apabila dominan digerakkan maka tentu akan menimbulkan berbagai keburukan, baik bagi dirinya maupun bagi orang disekitarnya, maka gunakanlah sisi putih yaitu seluruh potensi kebaikannya sebagai manusia yang sebenarnya untuk mendapatkan kewibawaan dan kehormatan yang tidak didapatkan secara anarkis, namun dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.

    ReplyDelete
  27. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Siswa sebagai anak kecil, sebagai objek para guru. Lemah, tidak berdaya, perlu bimbingan, perlu pengawasan, perlu perhatian, perlu pengajaran, perlu teladan, perlu kasih sayang, perlu motivasi, perlu bertahan hidup, dan perlu mendapatkan arti hakikat kehidupan. Disamping itu siswa perlu memiliki penghormatan, sikap santun, menghargai, mentaati maupun berterima kasih kepada guru atas semua perhatiannya. Begitulah sebaiknya, guru memberikan kasih sayang kepada yang muda, dan siswa sebagai yang muda memberikan penghormatan kepada guru yang lebih tua.

    ReplyDelete
  28. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Apabila guru sebagai yang tua tidak memberikan kasih sayang, bahkan memberikan kesan negatif, maka begitupun siswa sebagai yang muda akan tidak memberikan penghormatan sebagaimana yang dilakukan oleh guru. Maka dalam kehidupan ini selalu ada hukum sebab akibat, sebagai sebuah falsafah yang dapat dipercaya atas terjadinya sesuatu karena sesuatu yang lain.

    ReplyDelete
  29. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Sesungguhnya guru itu juga pernah belajar menjadi seorang siswa. Sebagai seorang guru, jangan terlalu memaksakan kekuasaan yang kita miliki untuk siswa. Siswa adalah makhluk yang juga sama seperti kita. Guru perlu menyesuaian ruang dan waktu dalam mengajar. Sebenarnya, siswa tidak menyukai jika guru melulu yang mendominasi pembelajaran. Siswa lebih senang jika mereka juga dilibatkan dalam pembelajaran untuk mengeksplorasi berbagai referensi dan membangun pengetahuannya sendiri. Sehingga, guru sebagai fasilitator mengkonfirmasi pengetahuan siswa.

    ReplyDelete
  30. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Antara guru dan siswa harus sama sama mengetahui apa hak dan kewajibannya. Dengan mengetahui hak dan kewajiban guru dan siswa, maka kekacauan, pertengkaran bisa dihindari. Semakin kita terus belajar, apalagi belajar agama maka hati dan pikiran kita akan semakin terasah tidak hanya menjadi manusia yang terus menuntut hak namun menunaikan kewajibannya dengan baik.

    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh



    ReplyDelete
  31. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Guru haruslah senantiasa mengajarkan akhlak yang baik kepada muridnya. Namun mengajarkan akhlaq melalui lisan saja tidaklah cukup. Guru juga harus memberikan teladan akan akhlaq yang baik kepada muridnya dan pelajarnya. Selain sebagai seorang manusia yang biasa menjalani kehidupan sosial, karena statusnya itu, guru tentu punya kelakuan khusus, terutama dengan para muridnya, alasannya sederhana, karena guru adalah panutan dimana setiap tingkah lakunya, gerak geriknya, ucapannya akan jadi contoh yang utama bagi murid-muridnya, seandainya panutan tersebut tidak baik, maka rusaklah keutuhan sebuah pembelajaran, rusaklah harga sebuah pendidikan.

    ReplyDelete
  32. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Jargon merupakan sesuatu yang di pegang oleh seseorang dan memiliki sugesti terhadap si pemilik jargon, anatara pertengkaran jargon siswa dan jargon murid menunjukkan bahwa keduanya benar dan kedua nya juga sallah, benar karena seriap guru dan murid memiliki pandangan dan harapan, sedangkan salah karena egois dan tidak memahami satu sama lain serta tugas dan kewajiban sehingga jargon tersebut sebagai bom atom. namun yang perlu di sadari adalah bahwa seorang guru tidak boleh sombong dan semena-mena, dan seorang siswa harus patuh dan beretika serta saling mengrti tugas dan tujuan masing-masing.

    ReplyDelete
  33. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak boleh berlaku otoriter kepada siswa. Guru juga tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada siswa. Guru harus mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang demokratis dan menyenangkan bagi siswanya.Kesuksesan dari sebuah pembelajaran bergantung pada kebersamaan guru dan siswa. Ini merupakan hal yang penting karena guru dan siswa harus mampu bersama-sama menghidupkan suasana kelas, tidak ada permusuhan ataupun pertengkaran. Guru perlu menghargai kemampuan siswa-siswanya, memberi kesempatan mereka untuk mengembangkan kemampuan masing-masing.

    ReplyDelete
  34. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP B
    What i get from the writing is to be consistent. Consistency is essential for success in any area. There is no way to get around the fact that mastery requires a volume of work.

    ReplyDelete
  35. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Guru dan siswa adalah 2 hal yang memilki ikatan simbiosis mutualisme baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Lewat siswa seorang guru bisa mendapatkan ridho dari Allah SWT dengan membimbing siswanya meraih pengetahuan yang intensif dan ekstensif dan lewat guru juga siswa bisa menjadi insan yang cendekia, bisa mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.



    ReplyDelete
  36. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Menterjemahkan dan diterjemahkan itulah tugas seorang guru. Guru haruslah mengetahui bagaimana caranya agar ilmu yang diberikan kepada siswa dapat diterima dengan baik. Selain itu guru juga haruslah mengerti bagaimana pemikiran siswanya. Bukan hanya siswa yang dapat mempelajari sesuatu dari gurunya, tetapi juga seorang guru dapat mempelajari sesuatu siswanya. Sehingga hendaknya guru janganlah sekali-kali merasa sombong terhadap siswa karena dialah yang mengajar.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  37. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Yang saya rasakan adalah bahwa menjadi guru adalah panggilan hati. Guru adalah profesi yang mulia dan tanpa kita sadari saat kita mengucapkan satu kebaikan akan menjadi beribu kebaikan karena kita mempunyai murid yang banyak. Tanpa kita sadari saat kita mengucapkan salam kepada murid-murid kita, assalamu'alaikum, kita didoakan murid-murid sebanyak itu : wa'alaikum salam. Keselamatan dan kesejahteraan untukmu juga. Menjadi guru penuh berkah dan manfaat.
    Jadi, diperlukan keikhlasan untuk menjadi guru dari murid sebanyak itu. Menjadi guru bukan untuk gelar, bukan untuk memperoleh pengakuan, bukan agar kelihatan tinggi, apalagi untuk menindas.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  38. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A
    Kehidupan bermasyarakat akan tentram dan harmonis ketika semua elemen mampu untuk saling menghargai dan mengayomi. Keberadaan toleransi penting dan diskriminasi harus dihapuskan. Ketika suatu elemen meninggikan ego nya kedudukannya, maka akan ada elemen lain yang merasa tertindas.

    ReplyDelete
  39. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Sebenar-benar yang berkuasa hendaknya melindungi bawahannya. Memberikan perhatian danperlindungan sehingga mereka merasa nyaman. Sebenar-benar bawahan juga harus tahu diri, jangan hanya memikirkan dirinya, jangan berburuk sangka, dan jangan merasa bahwa dirinya lemah dan tertindas.

    ReplyDelete
  40. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Terkadang antara penguasa dan bawahan melihat dirinya hanya dari sudut pandang mereka saja. Penguasa berpikir bahwa dia memiliki kekuasaan. Dia berhak untuk memonopoli daerah kuasanya untuk menunjukkan eksistensi nya. Padahal seseorang dihormati dan dihargai bukan karena kekuasaannya melainkan pada caranya bersikap terhadap orang lain.

    ReplyDelete
  41. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Guru merupakan salah satu profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Akan tetapi, janganlah gunakan profesi tersebut sebagai sarana menguasai seluruh siswanya. Dan sebagai siswa juga tidak diperkenankan bertindak sesuai kehendaknya. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak boleh berlaku otoriter kepada siswa. Guru juga tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada siswa. Guru harus mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang demokratis. Guru tidak boleh membuat siswa menjadi bergantung pada guru. Guru tidak boleh sombong terhadap murid atas ilmu yang dia miliki, karena kebersamaan guru dan siswa itu merupakan hal terpenting dalam kesuksesan pembelajaran. Guru perlu menghargai kemampuan siswa-siswanya, memberi kesempatan mereka untuk mengembangkan kemampuan masing-masing. Dengan dilaksanakannya pembelajaran yang demokratis siswa akan jauh merasa lebih senang dalam proses pembelajaran. Guru dan siswa merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran. Guru dan siswa seharusnya dapat bekerja sama dengan baik agar dapat mencapai tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  42. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum

    dalam filsafat kita diajarkan bahwa hidup adalah bagaimana kita berhermeneutika antara satu dengan lainnya. saya kira hal ini juga hendaknya dipahami oleh guru bahwa siswa adalah juga guru bagi dirinya sendiri. Mendengarkan, menyelami, memahami apa yang menjadi keluhan-keluhan siswa dalam belajar juga harus disadari sebagai salah satu tugas guru. Maka membangun komunikasi yang terbuka yang membuat siswa dapat mengekspresikan diri serta gagasan dan pikiran kreatifnya juga menjadi peran utama guru.

    ReplyDelete
  43. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Saya merasa pada elegi di atas ada semacam jarak yang sangat jauh antara guru dan siswa untuk sama-sama mempertahankan eksistensinya. Sebenar-benarnya guru memanglah harus menguasai siswa sekaligus kelas dan sebaliknya siswapun harus mendengarkan guru untuk memudahkan proses dan pencapaian tujuan pembelajaran. Tetapi bukanlah dengan cara menekan siswa menggunakan jabatan atau status yang dimiliki guru. Saya lebih tertarik dengan pendekatan langsung ke siswa untuk memahami atau menyelami karakter atau dunianya lalu membawa mereka ke dunia kita, ini mirip seperti konsep pembelajaran pada quantum teaching.

    ReplyDelete
  44. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Guru dan siswa adalah pasangan dalam pembelajaran di kelas yang tidak dapat dipisahkan. Karena siswa butuh guru untuk mengarahkan memberikan penguatan dan menjadi fasilitator siswa, sedangkan guru butuh siswa untuk merefleksikan ilmunya dan membagi ilmunya agar menjadi bekal/ amal jariyah di akhirat kelak. Guru yang sangat pandai pun butuh siswa untuk merefleksikan ilmu yang dimilikinya dan mencari tahu apa belum diketahui, serta berusaha menjadi guru yang mampu menghandel setiap permasalahan yang siswa miliki.

    ReplyDelete
  45. Risa Tri Oktaviani
    13301241016
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sesungguhnya semua manusia adalah sama di mata Allah S.W.T
    yang membedakan mereka hanyalah amalan-amalan yang mereka perbuat selama di dunia bukan dari status, kedudukan dan bahkan harta

    namun jika melihat lagi dalam kenyataan hidup di dunia, memang terdapat seperti gate2 pemisah antara manusia yang satu dengan yang lain
    seperti halnya rasa saling menghormati bahwa anak-anak harus lebih hormat pada yang lebih tua, junior harus lebih hormat kepada senior, siswa harus lebih hormat kepada guru
    namun walau demikian alangkah indahnya jika juga terjadi sebaliknya, sebagai contoh guru juga menghormati siswanya dalam arti menghormati dan membeikan hak-hak siswa sebagaimana mestinya

    ReplyDelete
  46. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Guru adalah pembimbing untuk para siswanya. Guru memang memiliki segala ilmu yang harus disampaikan kepada para siswa. Akan tetapi, jangan sampai karena merasa memiliki banyak ilmu guru menjadi sombong dan meremehkan para siswa. Siswa memang masih memiliki banyak kekurangan, sehingga guru bertugas untuk melengkapi kekurangan-kekurangan yang dimiliki siswa agar mereka dapat meraih tujuannya. Antara guru dan siwa harus terjalin komunikasi yang baik dan tidak mengedepankan egonya masing-masing agar tercipta suasa dan proses pembelajaran yang nyaman. Jika proses pembelajaran berjalan dengan baik maka ilmu yang disampaikan guru akan terserap oleh para siswa.

    ReplyDelete
  47. Siswa dan Guru mempunyai keinginan dan tujuan masing-masing, Guru dengan instruksionalnya dan murid yang merasa terbebani. Mengatasi ego bukan mudah karena dasar kepentingan. Mungkin dengan memberi ruang untu berdiskusi tentang kesulitan akan memberikan kondisi yang berbeda.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP 2016 A
    16701261007

    ReplyDelete
  48. AJI SANTOSO
    13301241034
    PMA13

    "Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa" Guru dan siswa adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Guru memiliki keistimewaan dibanding siswanya. Siswa butuh guru. Akan tetapi, guru tidak boleh berlaku sombong dan sok kuasa karena memiliki ilmu yang lebih banyak. Siswa juga tidak boleh merasa tertindas untuk dapat mempelajari ilmu dengan nyaman. Guru dan siswa harus saling memahami sikap masing-masing yang harus ditunjukkan, guru tidak semena-mena dan siswa tetap sopan. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya guru.

    ReplyDelete
  49. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Manusia harus paham akan kedudukannya sesuai ruang dan waktu. Kita harus cerdas memilih sikap yang akan kita lakukan, perkataan yang akan kita lakukan, kegiatan yang akan kita kerjakan dan lain sebagainya. Tidak boleh sombong dan menyakiti yang lainnya.Dalam pendidikan, komunikasi antara guru dan siswa amatlah penting.Masing masing mereka memiliki posisi yang berbeda sesuai dengan kepentingan mereka masing masing. Guru dan siswa harus melakukan segala sesuatunya dengan baik. Mengajar dengan baik dan menerima ilmu dengan baik.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh


    ReplyDelete
  50. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Jika dikaitkan dalam kehidupan kita seharu-hari terutama dalam proses pembelajaran, banyak guru yang terkadang tidak memahami keinginan dan kebutuhan siswanya. Keadaan ini tentulah tidak akan menciptakan suasana pengajaran yang harmonis. Sudah sebaiknya guru hijrah dari yang tadinya sebagai subjek “transfer of knowledge” menjadi fasilitator dan motivator bagi siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan siswa. Tidaklah bijak kita sebagai guru juga menuruti ego kita untuk menuntut siswa mengikuti jalan pikir kita. Maka sebaik-baik guru adalah yang memberi kesempatan yang luas bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  51. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Sebaik-baiknya pendidik adalah yang mampu membangkitkan motivasi peserta didik. Dengan menjadikan kegiatan pembelajaran menjadi semenarik mungkin namun tetap dengan kebermaknaannya. Setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tugas guru adalah mampu menyatukan perbedaan itu dalam proses pembelajaran. Sehingga semua merasa memiliki kemampuan yang sama didalam kelas.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id