Oct 20, 2012

Forum Tanya Jawab 2: Tema Hantu dan Kematian di kelas RSBI....?




Ass, untuk semuanya

Pada Hari Senin, 15 Nopember 2010, saya dan Team melakukan observasi pbm matematika di sebuah Kelas 8, salah satu SMP RSBI di DIY. Saya dikejutkan dengan temuan bahwa seting kelas dibuat sedemikian sehingga bertema Hantu dan Kematian.



Di dinding depan kelas di pajang gambar hantu Casablanca. Sedangkan daftar siswa diberi judul R.I.P. (Rest In Peace). R.I.P. adalah suatu istilah Inggris (Barat) untuk menunjuk Almarhum. Disebelah kiri depan ada sebuah almari/bupet yang didalamnya berisi benda-benda seperti magic.

Pada kesempatan setelah pbm, saya sempat menanyakan kepada Ketua Kelas dan seorang lagi temannya, mengapa Kelas memilih Hantu dan Kematian sebagai Tema? Bukankah jika Temanya "Malaikat" atau hal-hal yang bersifat Baik atau Syurga, itu akan lebih baik.

Saya terkejut mendengar jawabannya. Menurutnya MEREKA SUDAH BOSAN DENGAN HAL-HAL DEMIKIAN.

Perlu diketahui bahwa sekolah RSBI itu adalah sekolah Umum walaupan saya melihat banyak siswa memakai Jilbab.

Demikianlah saya menunggu tanggapan atau analisis dari pembaca beserta solusi yang mungkin ada.

Sebagai gambaran, saya telah ambil gambar-gambarnya dan saya posting dibagian akhir halaman depan blog ini.

Terimakasih.

Marsigit

34 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Dari gambaran yang bapak gambarkan diatas, menurut saya dari sudut pandang anak – anak, mungkin hal-hal seperti itu dipandang sebagai hal yang menarik yang tidak banyak dilakukan, mengingat pada usia itu anak akan berusaha mendapatkan perhatian lebih, oleh karena itu mereka menciptakan hal-hal yang agak melenceng dari norma. Namun jika dipandang dari sudut pandang norma, perilaku anak di atas agak sedikit mengalami pergeseran norma. Hal ini terlihat dari jawaban anak yang mengatakan “sudah bosan”. Pada usia tersebut anak memiliki kondisi kejiwaannya masil labil dan mudah terpengaruh dengan lingkungan. Doktrin pikiran barat biasanya datang dari pengaruh film yang mereka tonton serta lagu-lagu dengan video klip yang ekstrim dan membawa dampak imaginasi luar biasa terhadap pikiran anak. Entah karena mereka terinspirasi atau memang benar-benar tertarik terhadap hal-hal seperti itu sehingga membuat mereka mendesign kelasnya sedemikian rupa. Atau hanya mengikuti trend yang tidak pada tempatnya dalam pengaplikasiannya. Bisa jadi mereka sendiri tidak tahu makna sebenarnya dari apa yang mereka lakukan.

    ReplyDelete
  2. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Menurut saya, dalam usia seperti itu anak ingin bereksplorasi dan mencari eksistensi diri. Mereka ingin mencari suasana yang mneurutnya berbeda dari yang lain. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan kurang memperhatikan aspek penanaman akidah islam dalam diri siswa, sehingga terjadi krisis keimanan dan ketakwaan.

    Adapun solusinya adalah mengganti sistem pendidikan yang sekuler-kapitalis (memisahkan agama dari kehidupandan memandang pendidikan hanya dari sisi materi) diganti dengan sistem pendidikan islam yang berasal dari sang Khalik. Dalam sistem pendidikan ini sangat memperhatikan aspek akidah islam, tsaqafah (pengetahuan) islam, dan menguasai IPTEK.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.



    ReplyDelete
  3. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Menurut elegi yang saya baca tentang RSBI, dapat menjelaskan bagaimana keadaan salah satu sekolah RSBI yang ada di jogja. Ternyata diluar dugaan, di sekolah tersebut memiliki dekorasi tentang hal yang menakutkan yang kesannya seperti hantu dan kematian. Sehingga yang dapat saya maknai dari keadaan seperti itu secara implisitnya adalah, mungkin siswa ingin menunjukkan kepada banyak orang bahwa janganlah masuk ke sekolah RSBI, dikarenakan disana akan menemui banyak hal yang menyeramkan. namun dilain hal juga bisa dikatakan sebagai wujud ekpresi dan ekplorasi kreatifitas siswa yang anti mainstream. kadang ada kalimat yang menyatakan "semakin cerdas seseorang semakin gila pemikirannya" mungkin hal tersebut bisa dikaitkan dengan temuan ini dengan ketidakwajarannya.

    ReplyDelete
  4. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Setelah membaca elegi ini Prof, sebagai pribadi telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kiranya ini juga yang ada di benak masyarakat lain jika mengetahui ada suatu sekolah SMP RSBI yang telah membuat settingan kelas bertema hantu dan kematian. Sebelumnya, bagaimana bisa Prof seorang anak SMP mengatakan telah bosan sedangkan jika dilihat dari segi umur mereka kira-kira baru menganjak 13 tahung sampai kira-kira 15 tahun. Adakah yang kurang sesuai dalam pembelajaran yang selama ini telah diterapkan. Padahal jika ditilik kembali, pada usia remaja seperti itu adalah masanya anak-anak mulai antusias akan ilmu pengetahuan-pengetahuan baru dan masih akan tetap dalam pemikiran remaja yang patuh dan taat pada dunia pendidikan. Semoga hal ini bisa menjadikan renungan untuk ke depannya.

    ReplyDelete
  5. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Sangat menarik dan membuat saya penasaran tujuan dari siswa menyetting kelas menjadi bertemakan hantu dan kematian. Sebuah kelas diciptakan agar memiliki susana nyaman ketika belajar di dalam kelas. Siswa sebagai objek di dalam kelas memiliki kebebasan akan tetapi kebebasan itu menjadi tanggung jawab mutlak guru untuk memberikan arahan.

    ReplyDelete
  6. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Mendengar jawaban dari siswa ketika mengatakan sudah bosan dengan hal-hal yang biasa dan lebih baik maka perlu digaris bawahi bahwa tidak selamanya hal-hal yang tidak biasa itu tidak baik bisa jadi yang di luar kebiasaan itu lebih baik. Menjadikan tema tertentu di dalam kelas agar nyaman dalam belajar itu boleh-boleh saja asalkan tetap selaras dan sejalan dengan hal-hal kebaikan dalam konteks yang mendidik dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.

    ReplyDelete
  7. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Daftar siswa diberi judul R.I.P. (Rest In Peace) dalam melakukan setting jelas ada maksud tersendiri di balik setting dengan tidak biasa begitu. Bisa jadi jikalau siswa selalu mengingat tentang kematian siswa lebih semangat dalan belajar dan lebih termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan berusaha melakukan sesuatu kebaikan.

    ReplyDelete
  8. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Setting kelas bertemakan hal-hal menakutkan yang seperti hantu dan kematian itu sangat unik karena tidak biasanya terjadi pada sekolah-sekolah. Akan tetapi kalau semua penghuni kelas tersebut merasa nyaman dengan keadaan seperti itu juga tidak apa-apa karena sesungguhnya dekorasi atau setting kelas bergantung kenyamanan semua penghuni kelas tersebut.

    ReplyDelete
  9. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    RSBI merupakan sekolah dengan standar internasional tetapi bukan berarti kita secara bebas membiarkan budaya internasional masuk ke dalam budaya kita, mungkin di Negara-negara lain setting kelas seperti itu adalah hal yang lumrah dan wajar tapi menurut saya di Indonesia itu merupakan sesuatu yang aneh dan harusnya dihindari karena jika siswa terbiasa dan merasa nyaman dengan kondisi seperti itu maka akan membentuk karakter siswa menjadi menyimpang, harus diingat bahwa tujuan pembelajaran disekolah bukan hanya membangun pengetahuan siswa tapi juga mampu membangun akhlak dan karakter siswa sehingga menjadi baik

    ReplyDelete
  10. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Menurut opini saya, setiap kelas pada sekolah tersebut diberikan kebebasan dalam mengekpresikan kesenangan dan hobi mereka. Salah satu tema yang mereka pilih adalah tema hantu dan kematian, kemungkinan salah satu penyebabnya tontonan dan game yang mereka mainkan menggambarkan bahwa kematian dan hantu memberikan mereka kekuatan atau power yang bisa mengubah dunia seperti death note atau game-game yang lain. Seringkali sosok malaikat dianggap sesuatu yang lemah dan tertindas sehingga menjadi baik sudah tidak lagi menyenangkan. Disinilah peran orang tua yang menjadi parental guide yang harus mengontrol tontonan dan game yang dimainkan oleh putera-puterinya, karena perubahan jaman sekarang harus diikuti oleh pola orang tua dalam membimbing anak-anaknya.

    ReplyDelete
  11. YUNDA VICTORINA TOBONDO
    16709251015
    P.MAT A 2016

    Menurut saya, apa yang dilakukan oleh para siswa di kelas tersebut adalah sesuatu yang perlu menjadi perhatian khusus bagi guru kelas maupun yang mengajar. Mungkin pemilihan tema tersebut hanya karena sebatas ingin tampil beda, namun secara tidak langsung bisa saja itu merupakan wujud perasaan dari siswa yang menganggap kelas adalah sesuatu yang menyeramkan dan bisa saja hal ini mengindikasikan perasaan yang dimiliki siswa ketika mengikuti pembelajaran di dalam kelas.

    ReplyDelete
  12. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Siswa yang merasa bosan dengan hal-hal biasa cenderung akan melakukan sesuatu yang tidak biasa-biasa saja. Contohnya seperti yang digambarkan tersebut bahwa siswa kelas 8 mendekorasi ruangan kelasnya dengan bertemakan hantu dan kematian. Pemilihan tema ruangan kelas ini sebenarnya kembali lagi pada siswa, artinya boleh saja dilaksanakan tetapi harus didiskusikan dan semua siswa yang berada di kelas tersebut menyetujui keputusan tersebut. Dengan demikian tidak ada yang merasa tidak nyaman dengan suasana kelas tersebut.

    ReplyDelete
  13. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Desain kelas dibuat sedemikian rupa sesuai dengan keinginan semua siswa yang menempati kelas tersebut. Pemilihan tema kelas juga disesuaikan dengan keinginan mereka supaya lebih semangat dalam belajar dan mengikuti pembelajaran. Dalam elegi ini, tema kelas yang diambil yaitu hantu dan kematian. Mungkin hal itu terlihat menyeramkan bagi orang lain, akan tetapi bagi siswa yang menempati kelas tersebut dapat menjadi motivasi untuk belajar.

    ReplyDelete
  14. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Ini mungkin yang dinamakan kreatif namun tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan normanya. Usia SMP merupakan usia remaja awal. Pada usia ini mereka cenderung sedang mencari jati dirinya dan suka mencoba hal-hal yang baru. Kebanyakan remaja menganggap bahwa melakukan tindakan yang antimainstream ialah keren, lebih menarik, dan menyenangkan. Mungkin seperti itulah pemikiran mereka. Namun, disisi lain hal ini mungkin akan berdampak buruk bagi kepribadian mereka, karena setan cenderung memiliki arti yang negatif dan keburukan. Alangkah baiknya jika dalam kasus ini guru mengarahkan kreatifitas siswa ke hal-hal yang positif. Beri siswa pengertian dengan baik kemudian perlahan diarahkan.

    ReplyDelete
  15. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Menurut saya, dalam pandangan filsafat kejadian tersebut bukanlah sebuah kesalahan. Sejatinya pikiran orang dewasa berbeda dengan pikiran anak-anak, karena anak-anak belum mampu berpikir dewasa dan bijaksana seperti orang dewasa. Orang dewasa akan berpikir bahwa mengambil tema yang baik insyaAllah akan membawa kita ke arah yang baik juga. Namun pola pikir remaja tidak melihat melalui maknanya, mereka cenderung memikirkan kesenangan saja, karena mereka masih tahap labil (peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa). Sehingga sifat kekanakan mereka masih ada, memilih sesuatu untuk kesenangan, dan memandang sesuatu yang unik dan berbeda adalah hal yang menarik, seperti tema hantu dan kematian. Semoga kita bisa memahami bahwa dengan ruang dan waktu yang berbeda, suatu pendapat memiliki kemungkinan berbeda.

    ReplyDelete
  16. Gambaran di atas menceritakan fenomena remaja dalam pencarian jati diri dimana mereka memiliki rasa ingin tau yang sangat besar dan ingin mencoba hal-hal yang baru. Mereka bosan dengan hal yang itu-itu saja, mereka bosan dengan pengajaran kebaikan dan keindahan yang diceritakan sebelum mereka mengalaminya sendiri. Mereka menginginkan hal yang lebih menantang, seperti pepatah bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga maka terkadang mereka perlu mendapatkan pengalaman mereka sendiri dan mengambil pelajaran darinya. Hanya saja yang perlu diwaspadai dan jadi perhatian utama adalah pengasawan dari orang tua dan guru agar mereka dapat mengambil nilai positif dari setiap hal yang mereka lakukan, agar mereka tidak melewati batas dan norma yang ada terutama norma agama.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  17. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Dari forum tanya jawab di atas, yang dibahas adalah mengenai RSBI atau rintisan sekolah bertaraf internasional. Pertanyaan yang muncul adalah apakah RSBI yang digagas oleh pemerintah cocok untuk diterapkan di Indonesia? Awal dibentuknya RSBI adalah untuk menjadi tolak ukur keberhasilan peningkatan level mutu dan kualitas di dunia pendidikan. Namun sejauh ini, konsep itu melenceng. Bahkan, justru menjadi ajang eksplotasi sekolah untuk menaikkan biaya dengan iming-iming mutu pendidikan dan pengajaran RSBI. Penyimpangan praktik RSBI ini. Karena anak-anak tidak mampu namun pintar justru tidak mendapatkan pelayanan pendidikan yang baik. RSBI belakangan hanya didominasi oleh anak-anak orang kaya lantaran biaya sekolah yang mahal, sehingga hanya mereka saja yang mendapatkan kualitas pelayanan sekolah yang bagus. Padahal tujuan awalnya bisa jadi baik, tetapi pelaksanaannya justru diakal-akali. Memang, tujuan dan pelaksanaan terkadang jauh panggang dari api. Banyak sekolah berlomba mendapatkan status internasional agar dapat menaikkan tarifnya. Parahnya lagi, sekolah-sekolah tersebut menelan mentah-mentah kurikulum internasional tanpa menyesuaikannya dengan kondisi di Tanah Air.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  18. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    “SUDAH BOSAN DENGAN HAL-HAL DEMIKIAN (hal-hal kebaikan bertema baik dan surga)”. Hidup itu seperti timur dan barat, dan kita ada ditengah-tengah antara keduanya. Saat ingin pergi ke arah ketimur ternyata belum sampai ketimur, dia berkeluh kesah, mereasa lelah, bekal habis, tenaga sudah tidak ada lagi, sementara perjalanan masih jauh dan belum sampai. Sehingga ingin memutuskan kembali dan menuju ke arah sebaliknya, kearah barat. Padahal kebarat batas akhirnya adalah kebinasaan dan segala kesulitan di dalamnya. Begitulah kadang-kadang kita tidak puas dan bahkan lelah sebelum sampai pada tujuan hidup. Timur ibarat surga barat ibarat neraka. Kita bertanggung jawab terhadap pilihan kita.

    ReplyDelete
  19. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Ada analogi manusia ketika lapar dan ingin makan, maunya makan sebanyak banyaknya, namun apa daya perut tidak mampu. Manusia bersifat keterbatasan, namun mereka memiliki kemauan yang berlebihan, maunya satu gunung emas, saat diberi, maka minta gunung emas kedua, begitu seterusnya hingga tidak ada akhirnya. Diberi pun tidak juga mampu menjadikan kepuasan bagi mereka. Pengetahuanlah yang menjadikan seseorang mengetahui resiko dinginnya es dan panasnya api.

    ReplyDelete
  20. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016



    Menurut saya, di satu sisi siswa-siswa ini memiliki pemikiran yang unik dan kreatif. Mereka memiliki pola pikir yang berbeda dengan mayoritas siswa-siswi seumuran mereka. Namun, di sisi lain, mereka nampak menyimpang dengan spiritual yang harus terus mengagung-agungkan Tuhan dan kebaikan. Kembali lagi, kita harus tahu lebih dalam mengapa mereka berperilaku seperti ini. Apakah mereka hanya ikut-ikutan tren zaman saja, atau mereka benar-benar tidak mementingkan spiritual mereka.

    ReplyDelete
  21. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kita tidak bisa menyalahkan budaya barat yang mempengaruhi siswa-siswa di Indonesia, RSBI juga tidak mempengaruhi munculnya budaya barat dalam sekolah berstandar internasional ini. Diri siswa sendirilah yang mengetahui apa yang mereka inginkan, apa yang nyaman bagi diri mereka, tetapi sebagai seorang guru kita hanya bisa mengarahkan ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  22. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Seperti itulah manusia mudah megatakan bosan dan muak, dengan maksut mengatakan hal tersebut sering di dengar dan ada di mana-mana, namun tanpa disadari bahwa itu menunjukkan ketidak pahaman mereka terhadap hal yang mereka katakan bosan tersebut, mereka tidak memiliki pemahaman tentang itu sehingga mudah mengatakan itu bosan, dan mengganti dengan sesuatu yang tidak pantas, mungkin karena sekolahnya berbasis internasional maka guru di sekolah tersebut tidak melarang namun pada hakekatnya itu semua merupakan rendahnya spiritual dan moral.

    ReplyDelete
  23. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    gambaran apa yang dijelaskan pada uraian singkat di atas merupakan rendahnya pengetahuan spiritual yang dimiliki oleh seorang anak, padahal seharusnya pada masa remaja awal tersebut harus banyak memberikan fondasi moral dan spiritual. gambar pada hakekatnya merupakan sugesti di kehidupan dan psikologi kita, maka selayaknya gambar di kelas yang ruang dan waktunya untuk belajar maka gambar yang harus sesuai dengan nilai pendidikan itu sendiri. terlepas dari apakah sekolah itu international maupun tidak.

    ReplyDelete
  24. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Ada beberapa faktor yang bisa menjadi alasan atas setting kelas tersebut, salah satu kemungkinan adalah hasil karya dan bentuk kreatifitas dari anak-anak. Mengenai tema yang di ambil, hantu dan kematian, mungkin mereka menjadikan hal tersebut sebagai motivasi. Kita sebagai manusia agar senantiasa mengingat bahwa kematian bisa datang sewaktu-waktu, jadi manfaatkanlah selagi kita hidup untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya. Dalam hal ini untuk raung lingkup pembelajaran, bisa dijadikan motivasi untuk lebih bersemangat menambah ilmu, karena sepanjang hayat manusia adalah tidak lain dan tidak bukan untuk belajar.

    ReplyDelete
  25. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    DAri tanggapan siswa tersebut, saya berasumsi bahwa mereka sedang melawan arus sebagai kelompok anti-mainstream. Mereka bosan menandakan bahwa arus mainstream kekinian hanya menunjukkan hal-hal yang statik. Mereka sedang mengalami pergolakan batin dalam menentukan mana baik dan mana buruk. Keduanya terdapat tabir yang berusaha mereka ungkap. Tabir yang menghalangi mana baik dan mana buruk. Mereka mencoba untuk menyentuh hal-hal diluar dari kebaikan itu sendiri. Mereka berusaha untuk merasakannya. meskipun itu hanya sekedar simbol belaka. Imajinasi mereka terhadap gamabaran demikian, bisa jadi pula disebabkan oleh pandangan bahwa "itu keren" dibandingkan yang biasa-biasa saja. Atau corak gothic ala emo mungkin saja melanda pemikiran mereka.

    ReplyDelete
  26. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP B
    Why don’t we instead of focusing on turning children into adults making them as smart, as analytical and as prosaic beings as we ourselves are, learn from them to be spontaneous, creative and free?

    ReplyDelete
  27. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Membaca artikel di atas membuat saya merasa “tergelitik” bahkan hanya ketika membaca judulnya. Siswa RSBI yang harapannya mampu berpikir “tinggi” dan sesuai dengan tuntutan internasional malah terkategori berpikiran mundur. Mempercayai bahkan menjadikan “hantu” sebagai tema di ruang kelas, yang notabene sama sekali tidak masuk ranah ilmu maupun pengetahuan. Namun yang jadi pertanyaan disini, “dimana peran guru?”. Tema hantu dan kematian ini adalah fenomena yang lucu sekali, apakah menandakan kematian berpikir para siswa pula?

    ReplyDelete
  28. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Dari komentar salah seorang siswa yang mengatakan bahwa memilih tema hantu dan kematian karena sudah bosan dengan tema-tema biasa membuktikan bahwa tujuan pendidikan belum mampu direalisasikan. Terlebih di era modernisasi saat ini, budaya negatif internasionalisasi masuk dengan mudah tanpa filter. Anak didik adalah aset masa depan, yang seharusnya berpikiran menggebu dan penuh hasrat untuk “hidup” bukan malah menunjukkan sisi “kematian” pola pikir seperti fenomena di atas.

    ReplyDelete
  29. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Kalau saya pribadi mengapresiasi kretifitas berfikir dari para siswa tersebut yang memilih tema kematian dan saya juga terkagum dengan kelguan jawaban mereka yang mengatakan sudah biasa dengan yang biasa. Saya percaya bahwa terkadang orang yang tak terdugalah yang hanya dapat melakukan sesuatu diluar dugaan.

    ReplyDelete
  30. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Hal ini sangat menarik, sekolah RSBI yang dianggap bagus ternyata memiliki tema kelas yang mengejutkan. Memang sah-sah saja siswa mau menyalurkan kreatifitasnya, tapi sesuaikanlah dengan ruang dan waktunya. Sepertinya peran guru dan sekolah kurang dalam memfasilitasi siswa untuk menempatkan kreatifitas siswa-siswanya dan terlalu membebaskannya tanpa membimbing ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  31. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    RSBI sendiri bagi siswa juga sudah merupakan sesuatu yang 'wah'. Bagi pemikiran siswa. Karena ada kata 'Internasional'. Saat kita sudah menyadari bahwa keadaan kita seperti ini, tentu otomatis kita akan mengikuti pola tersebut. Jadi, saat siswa mendengar kata 'Internasiona', di dalam pemikiran siswa sudah tertanam berbagai budaya-budaya yang dilihatnya setiap hari di layar kaca baik televisi atau internet. Bagi siswa, seakan tidak ada ruang untuk spiritualitas, atau ada namun kecil.
    Sepengetahuan dan sepemahaman saya, RSBI juga mengutamakan kurikulum yang sesuai dengan internasional. Jadi, menjadi suatu hal yang wajar tatkala siswa menjadi seperti itu. Mengenai solusi sendiri, karena banyak siswa yang spiritualitasnya sepertinya masih bisa dibangun kembali, ada baiknya jika diadakan kegiatan-kegiatan yang sesuai dan berhubungan dengan keagamaan sesering mungkin. Dikhawatirkan jika tidak, siswa menjadi kehilangan jati dirinya sebagai makhluk Tuhan.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  32. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Terkadang suatu sekolah memberikan kewenangan dekorasi kelas terhadap kelasnya masing-masing. Salah satu tujuannya adalah untuk mengembangkan kekreatvitasan kelas dan membuat kenyamanan sesuai dengan selera kelas. Dan bahan, dekorasi kelas juga dijadikan ajang perlombaan antarkelas. Kelas bertema hantu pada kelas tersebut merupakan salah satu wujud kreativitas siswa. Tema hantu mungkin berkaitan dengan perasaan takut dari para peserta didik di kelas itu terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam rsbi. Sangat menarik dan mengejutkan apa yang dilakukan oleh para peserta didiki di kelas rsbi itu. Sangat menarik karena tema hantu dan kematian itu menjadi alternatif cara para peserta didik di kelas itu untuk mengungkapkan rasa bosannya dengan hal-hal yang sudah biasa dilakukan. Tetapi juga mengejutkan, karena mereka justru memilih tema hantu dan kematian.

    ReplyDelete
  33. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Saya termasuk orang yang percaya, bahwa power of mind memiliki kekuatan yg besar. Sehingga apapun itu saya berusaha berpikir positif dan bertindak positif. Orang-orang di sekitar saya juga saya harapkan untuk demikian. Saya yakin anak-anak tersebut memiliki alasan tersendiri mengapa memilih tema hantu dalam kelasnya. Namun meski begitu saya akan mencoba memberitahu mereka bahwa hantu identik dengan konotasi negatif. Sesuatu yang negatif sebaiknya dihindari karena dapat mengundang hal-hal negatif lainnya. Alangkah baiknya jika tema kelas dirubah menjadi tema yang bernilai positif. Bersemangatlah dalam hal-hal positif, bukan hal negatif.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  34. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Kasus di atas merupakan contoh dari karakter siswa di Indonesia yang perlu diperhatikan. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah bosan menyalurkan ide kreatif mereka dengan sesuatu yang ke arah positif, seperti gambar malaikat. Mereka ingin mencoba hal baru namun ke arah yang cenderung negatif. Untuk itu peranan guru sangat penting disini, memberikan siswa wadah untuk mengembangkan kreativitas mereka kearah yang positif. Bukannya malah mengizinkan menghias kelas menjadi tema horror.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id