Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Purnakata

Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.


Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedagkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Seangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disampiang telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa:
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan pendidikan matematika?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA an kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disipli maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah filsafat pendidikan matematika? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

23 comments:

  1. Maryana
    14709251087
    PPs. P. Mat A 2014

    Membaca elegi ini, seperti sedang merasakan bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya. Dan elegi-elegi ini adalah bentuk kasih sayang seorang profesor kepada para mahasiswanya. Bahwa sebuah ilmu tidak dapat diperoleh dengan cara spontan, namun harus melalui proses panjang dan terus-menerus hingga pada saatnya penempuh ilmu dapat menggapai filsafat untuk menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  2. Apolonia Hendrice Ramda (14709251072) PMAT D
    Selamat pagi,
    Belajar filsafat adalah belajar lebih jauh tentang diri sendiri, melihat lebih dalam tentang kehidupan dari berbagai sudut pandang. dalam belajar filsafat hendaknya kita tidak hanya menggunakan pikiran tetapi juga hati sebagai panduan untuk mengerti filsafat dari sudut pandang yabg berbeda. Semoga kita dapat menggunakan filsafat untuk menjadi lebih dekat dengan diri sendiri, lebih dekat dengan Tuhan, dan menjadi lebih paham tentang pribadi orang lain.

    ReplyDelete
  3. ASLIM ASMAN (14709251057) PM. C

    Bismillaahirrohmaanirrohiim..
    Assalamualaikum. Wr. Wb
    Filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinan kita, sehingga filosofi yang tidak termasuk agama karena tidak hanya mencakup pikiran kita, tetapi juga hati kita. Filosofinya adalah refleksi. Jadi filsafat pendidikan matematika adalah refleksi pada pendidikan matematika, meliputi refleksi dari semua yang ada dan mungkin ada dalam pendidikan matematika, termasuk matematika, guru, siswa, kelas, dll Sebagai calon guru matematika untuk membuat kita sebagai tantangan untuk menjelaskan semua apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  4. Mungkin sebagian orang masih bertanya-tanya, untuk apa belajar filsafat itu?... Bagi orang yang tidak tahu dan tidak mau tahu, tentunya akan menganggap bahwa filsafat ini hanyalah sebatas mata kuliah yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa. Tetapi jika kita ingin memahaminya, maka esensi dari filsafat itu adalah untuk menjadikan diri kita pribadi yang senantiasa berpikir kritis dan berhati ikhlas. Berpikir kritis yang dimaksud adalah berfungsi untuk mengubah para mitos menjadi logos serta mengaitkan segala yang ada dan yang mungkin ada dengan ruang dan waktunya. Sedangkan hati yang ikhlas mengandung nilai spiritual yang menjadi pengontrol pikiran kita agar senantiasa berada pada jalur yang benar dan terhindar dari sifat sombong. Hal inilah yang harus dimiliki oleh para guru matematika dalam rangka menjalankan tugas dan kewajibannya. Dengan adanya hal ini guru diharapkan mampu mengelolah pembelajaran dengan baik, sehingga kualitas pembelajaran akan semakin meningkat.

    ReplyDelete
  5. Ada manusia yang “tahu sedikit tentang sedikit hal”. Ada yang “tahu banyak tentang sedikit hal”. Ada yang “tahu sedikit tentang banyak hal”. Serta ada yang “tahu banyak tentang banyak hal”. Manusia yang dalam hidupnya menemukan kenikmatan hidup bersama al-Quran (nikmat secara rohaniyah, nikmat secara intelektual, nikmat secara estetik, dst) ia akan dengan sendirinya terseret untuk menjadi manusia yang tahu banyak tentang banyak hal. Minimal ia tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi pada perkara tertentu ia pasti tahu banyak tentang sedikit hal.

    “Tahu” itu bisa dikembangkan menjadi “mengerti”, “sadar”, “bisa”, “mampu”, “sanggup”, bahkan bisa diperkaya dimensinya ke “mendalam”, “meluas”, “meninggi”.

    ReplyDelete
  6. Ristu Haiban Hirzi
    14709251073
    Pmat D
    Bismillah…
    Belajar filsafat adalah belajar untuk memaknai hakekat yang ada dan mungkin ada. Belajar berfilsafat harus disertai dengan hati yang ikhlas dan sabar. Jiak tidak demikian maka jebakan filsafat telah bersiap untuk menangkap setiap logos. Belajar berfilsafat sangat berguna untuk membangun pribadi pendidik dan peserta didik dalam menuntut ilmu. Perannya sangat central karena berhubungan dengan hati yang menjadi sumber mudah atau tidaknya ilmu itu diterima. Diharapkan dengan belajar filsafat, setiap insan dapat mengetahui ruang dan waktunya dalam bersikap dan bertindak.
    allahualam

    ReplyDelete
  7. (14709259008) PM P2TK 2014

    Filsafat mempelajari yang ada dan yang mungkin ada, menelaah segala sesuatu dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Filsafat selalu mempertanyakan hakikat atas segala sesuatu yang dalam ilmu lain sudah merupakan jawaban. Dengan filsafat kita dapat melihat segala macam fenomena dengan objektif tanpa terlibat didalam fenomena itu. Dengan filsafat kita bisa lebih bijaksana dalam memandang segala sesuatu.

    ReplyDelete
  8. sebaiknya seseorang bisa menempatkan dirinya di waktu dan tempat yang tepat

    ReplyDelete
  9. Dianing Meijayanti
    11313244024
    Pendidikan Matematika Internasional 2011

    Manusia dan kehidupannya merupakan filsafat karena meliputi semuanya yang ada dan mungkin ada tergantung pada ruang dan waktunya. Untuk menerapkan dan menjalankan filsafat sebaiknya menggunakan metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  10. Bismillah.
    Memang benar, terkadang timbul pertanyaan dihati untuk apa belajar filsafat. Padahal banyak orang yang tersesat setelah belajar filsafat. Tapi setelah membaca elegi ini, akhirnya saya menyadari bahwa filsafat itu bisa diletakkan di segala bidang ilmu yang memiliki ruang dan waktu. Bahkan diri kita sendiri adalah filsafat. Maka hakekat yang sebenarnya dalam belajar filsafat adalah belajar memahami diri sendiri, memahami dunia sekitar dengan cara berpikir kritis dan hati yang bersih. Salam super pak.

    ReplyDelete
  11. Assalamualaikum.wr.wb
    Aqiilah(14709251052/PmatC)
    Bismillahirrahmanirrahiim
    filsafat meliputi yang ada dan yang mungkina, karena kita ada maka kita itu filsafat, berbatas oleh ruang dan waktu. filsafat adalah olah pikir kita, maka ketika kita berfikir itulah filsafat, namun segala sesuatu itu harus adil(sesuai dengan letaknya) menggunakan filsafat sesuai dengan ruang dan waktunya sehingga kita akan memahami filsafat lebih baik, terima kasih salam fastabiqul khoirot

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. harapan saya setelah membaca elegi ini adalah semoga kami mampu untuk menjadi saksi dalam pendidikan Matematika dengan terus berusaha dan menghadapi tantangan sehingga memiliki kemampuan untuk mejelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Apabila kami menjadi seorang pendidik kami tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan kami sendiri tetapi dapat kami gunakan untuk kepentingan peserta didik sehingga mereka mampu memahami dan menjelaskan arti dari Matematika di sekolah. Terima kasih Bapak untuk elegi ini.
    Maria Rosadalima Wasida, PMat B

    ReplyDelete
  14. Bayu Widiya Dwi Santoso (14709251023 / PM C)
    Kajian dari filsafat itu sangat luas. Filsafata meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat digunakan sesuai dengan ruang dan waktu. Artinya, kita harus memperhatikan dimana kita berada dan dengan siapa kita berinteraksi. Ketika kita sedang berbicara dengan anak kecil menggunakan filsafat, maka hal ini keliru, filsafat digunakan tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Sesungguhnya filsafatitu ialah bekal bagi kita. Filsafat merupakan kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Dengan bekal berupa filsafat itu, kita dapat berusaha meningkatkan dimensi pikiran dan hati kita, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  15. Usi Susanti (14709251019)
    P Mat C 2014

    Assalamu'alaikum,
    terima kasih pak profesor atas ilmu yang bapak ajarkan. kami kadang menganggap tugas yang bapak berikan pada kami untuk membaca postingan-postingan bapak adalah suatu beban, karena disamping itu kami memiliki tugas-tugas selain filsafat ilmu. tetapi ternyata itu adalah salah satu bentuk kasih sayang dan kepedulian bapak kepada kami agar berlatih untuk ikhlas dan sabar dalam belajar.
    sekali lagi terima kasih pak Prof.
    wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  16. Dianing Meijayanti
    11313244024
    Pendidikan Matematika Internasional 2011

    Bagi matematika 3+5=8 dan itu sudah sangat jelas, namun dalam filsafat 3+5 belum tentu 8 karena kita berhak mempertanyakannya. Hal ini dikarenakan jika kita melihat dari dimensi ruang dan waktu 3+5 memang belum tentu 8, misalnya 3 pensil+5 topi = 8 topi dan jelas tidak bisa dikatakan seperti itu.

    ReplyDelete
  17. Bismillahirrahmanirrahim

    Assalamu'alaikum Wr. Wb (Welli Meinarni / P Mat B / 14709251037)

    Untuk mendapatkan suatu pengetahuan tertentu kita perlu belajar yang membutuhkan waktu yang tidaklah pendek. Begitu juga dengan filsafat, kita bisa mempelajari apa itu filsafat, bagaimana filsafat, serta untuk apa filsafat itu dan masih banyak lainnya. Semua itu bisa kita peroleh melalui proses yang panjang, pengalaman-pengalaman yang kita dapat juga sangat berpengaruh pada filsafat yang akan kita peroleh. Filsafat adalah suatu ilmu yang luar biasa yang dalam proses belajarnya dibutuhkan pikiran dan hati yang jernih.

    Apabila ada kata-kata saya yang salah ataupun menyinggung perasaan pembaca, saya minta maaf

    Wassalammu'alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  18. Assalamu’alaikum wr.wb
    Tiada kata akhir dalam berfilsafat, karena filsafat adalah berpikir. Jika kita tidak berpikir berarti kita sudah mati, maka untuk terus hidup kita harus berpikir. Dalam berfilsafat kita harus belajar memahami diri sendiri, memahami dunia sekitar dengan cara berpikir kritis dan juga hati yang bersih.
    Wassalamu’alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  19. Bismillahirahmanirahim
    Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    Filsafat merupakan suatu ilmu yang bersumber pada kehidupan sehari-hari. Tak bisa dipungkiri, bahwa selama seorang manusia hidup pastilah ia berfikir, baik hal kecil atau pun dalam skala yang besar (ilmuwan). Setiap kita berfikir kemudian menemukan jawaban dan diterapkan dalam kehidupan, maka kita sudah dapat dikatakan berfilsafat.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  20. dunia filasafat menuntut kita kita untuk senantiasa mengarungi samudera ilmu yang begitu luas tak terbatas, yang mana cakupannya meliputi yang ada dan yang mungkin ada. startnya dimulai dari menggunakan kemampuan berpikir kita (cogito ergo sum), mentadzaburi ayat-ayat Alloh.

    ReplyDelete
  21. Matematika adalah sesuatu yang pasti karena merupakan hasil dari penelitian misal 3+5=8. Namun dalam filsafat belum tentu 3+5=8 masih dapat dipertanyakan mengapa karena hal tersebut masih terpengaruh ruang dan waktu. Filsafat adalah suatu hasil olah pikir. Filsafat adalah hasil refleksi. Refleksi hanya dapat diketahui dari kajian metafisik. Metafisik adalah menjelaskan akan segala sesuatu. Agama tidak termasuk filsafat karena dalam agama terdapat olah pikir dan olah hati sedangkan filsafat olah pikir. Olah pikir dalam filsafat tidak dapat menjelaskan semua hati kita sehingga tak mampu menjelaskan keyakinan kita.

    ReplyDelete
  22. Matematika adalah sesuatu yang pasti karena merupakan hasil dari penelitian misal 3+5=8. Namun dalam filsafat belum tentu 3+5=8 masih dapat dipertanyakan mengapa karena hal tersebut masih terpengaruh ruang dan waktu. Filsafat adalah suatu hasil olah pikir. Filsafat adalah hasil refleksi. Refleksi hanya dapat diketahui dari kajian metafisik. Metafisik adalah menjelaskan akan segala sesuatu. Agama tidak termasuk filsafat karena dalam agama terdapat olah pikir dan olah hati sedangkan filsafat olah pikir. Olah pikir dalam filsafat tidak dapat menjelaskan semua hati kita sehingga tak mampu menjelaskan keyakinan kita.

    ReplyDelete
  23. Danis Agung Nugroho (NIM. 14709251081)
    S-2 Pendidikan Matematika Kelas D Angkatan Tahun 2014
    Bismillahirrohmaanirrohim.
    Asalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
    Di dalam al-Quran, terdapat satu surah yang merepresentasikan seluruh surah dalam al-Quran, yakni surah al-Ikhlas. Sementara itu, dalam konteks lain, analogi tersebut dapat saya rasakan pada elegi-elegi yang telah saya baca sampai dengan elegi ini. Seakan-akan ini merupakan elegi yang merepresentasikan semua elegi yang telah saya baca sebelumnya. Elegi ini juga merupakan jawaban mendasar atas semua teka-teki yang terdapat pada elegi-elegi yang ada dalam blog ini. Dari elegi ini saya merasa dibukakan jalan untuk saya dapat melangkah maju tanpa bayang-bayang Prof. Marsigit. Yang Prof. Marsigit lakukan selama ini adalah menyadarkan saya untuk benar-benar hidup dengan sebenar-benarnya berpikir, bukan menanamkan pemikiran Prof. Marsigit ke dalam pikiran saya.
    Terima kasih Prof., telah menyadarkan saya akan pentingnya berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas. Semoga saya bisa konsisten untuk menggapai berpikir kritis dan berhati jernih. Memang tidaklah saya dapat mencapainya, melainkan saya hanya mengikhtiarkannya. Semoga Allah Swt. meridhoi ikhtiar saya ini. Aamin ya robbal’alamiin.
    Wasalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

    ReplyDelete