Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Purnakata




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.


Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedagkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Seangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disampiang telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa:
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan pendidikan matematika?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA an kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disipli maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah filsafat pendidikan matematika? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

51 comments:

  1. Tidak ada orang yang tidak berfilsafat dalam hidup ini. Kita bersiap untuk berubah, karena filsafat adalah alat yang ampuh untuk menjadikan diri kita menjadi manusia yang utuh, manusia yang siap dan sadar sepenuhnya untuk mengambil pilihan-pilihan di kehidupan ini.

    ReplyDelete
  2. Ini mungkin akhir, tapi menjadi awal. Akhir dari pertemuan dan pembelajaran filsafat yang menjadi awal untuk meneruskan berfilsafat. Bagaimana aku akan memahami yang dimaksud berfilsafat, berfilsafat adalah olahpikir, refleksi diri, mencari makna dari yang ada dan mungkin ada. Olahpikir oleh diriku, refleksi oleh diriku, mencari makna oleh diriku akhirnya filsafat adalah diriku sendiri. Apa yang akan kulakukan sebenarnya sedang berfilsafat. Memahami siswa, materi, sistem, sekolah, media, peraga untuk kemajuan pendidikan.

    ReplyDelete
  3. Siti Nurhayati S2 PMAT-D
    NIM 15709251077
    Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA an kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  4. Mempelajari matematika dan mengaplikasikan matematika terhadap dunia pendidikan atau suatu program disertai dengan pemahaman tentang filsafat ilmu maka lengkaplah sudut pandang kita memandang matematika dan ilmunya. Sejatinya semua yang ada dan yang mungkin ada bisa digandengkan dengan filsafat dalam memaknai, mensintesis sebagai objek pikir,hingga mengaplikasikannya dalam kehidupan. Tujuannya agar tercapai harmoni dalam kehidupan. Harmoni dalam dunia pendidikan misalnya memahami hakikat siswa, guru, media pembelajaran bahkan matematika itu sendiri dengan landasan filsafat.

    Martini,PM P2TK
    15709259003

    ReplyDelete
  5. Demikian sedikit paparan terkait bagaimana cara berfilsafat, dan apa saja manfaat belajar filsafat. Sebagai calon guru matematika, hendaknya kita harus senantiasa belajar. Termasuk belajar bagaimana menjelaskan matematika yang bersifat abstrak agar konsepnya mampu ditangkap oleh anak yang masih mengandalkan pemikiran yang konkret. Demikian filsafat mengajari kita untuk belajar memahami sesuatu dengan bernalar dan menjelaskannya kembali secara filsafat..

    ReplyDelete
  6. Brigita Wahyu M
    15709251089
    PPS 2015 PM.D

    Dalam elegi ini saya mendapat ilmu bahwa semua ilmu pengetahuan tidaklah cukup kita dapat dari seorang guru saja. Ada banyak sumber ilmu yang dapat kita gali. Namun tentu saja guru merupakan sumber yang sangat penting dalam memperoleh ilmu. Guru berperan fasilitator, guru memberikan ‘bantuan’ siswa untuk menggapai kemampuan optimalnya melalui scaffolding yang nantinya scaffolding tersebut akan dibuang siswa karena ia sudah mampu menggapainya tanpa bantuan guru lagi. Perkembangan siswa akan optimal ketika ia mampu menggunakan kemampuannya sendiri dan mengkontruksi pemikirannya sendiri.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    15709251004
    PPS PMAT D

    Seorang guru tidak harus selamanya mendampingi murid-muridnya. Namun, harus ada sesuatu yang dapat dipegang dan diambil oleh murid-murid dari seorang guru selama dan setelah dia berpisah dengan murid-muridnya. Guru yang baik harus bisa menginggalkan ilmu yang menjadi bekal bagi murid-muridnya untuk melangkah maju, dan bukan malah membuat muridnya bergantung padanya.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu 15709251004
    PPS PMAT D

    Filsafat itu olah pikir, filsafat itu refleksi. Sebagai seseorang yang mempelaari filsafat, tentunya harus bisa merefleksikan objek-objek dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pemikiran kritis itu terus terjaga.

    ReplyDelete
  9. Isnaini Nur Azizah
    15709251006
    PPS PMAT C UNY 2015

    Ada banyak hikmah dari elegi yang disampaikan dan kita sebagai calon pendidik banyak sekali hal yang harus kita pelajari. Saya tertarik dengan kutipan:
    “Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA dan kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika”. Bahwasannya seseorang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika akan jauh lebih kritis ini dikarenakan filsafat adalah refleksi, refleksi meliputi semua yang ada dan mungkin ada, dalam kaitannya dengan pendidikan matematika berarti mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam pendidikan matematika, diantaranya bisa meliputi guru nya, murid, matematika, alat, kegiatan, dan masih banyak lagi yang lainnya, sedangkan guru sendiri pun mempunyai sifat yang banyak sekali. Oleh karena itu penting sekali untuk terus merefleksi. Dan sensitivitas terhadap pendidikan matematika akan menjadi modal dasar agar mampu merefleksi.

    ReplyDelete
  10. Isnaini Nur Azizah
    15709251006
    PPS PMAT C UNY 2015

    Dalam mempelajari filsafat memang tidak boleh sepotong-sepotong. Jika kita tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, pua-pura dsb dalam mempelajari filsafat maka akan terjebak dalam jebakan filsafat tersebut. Dimana tujuan dari mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika berarti menjadi saksi tentang pendidikan matematika, dan saya sepakat dengan hal tersebut, dan tidak mudah pula untuk menjadi saksi. Pantangan lain dalam mempelajari filsafat ini adalah jangan menggunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Filsafat itu adalah ruang dan waktu maka penting sekali untuk memperhatikan ruang dan waktu. Sebagai contoh kita sebagai guru, dan ketika kita berhadapan dengan seorang anak kecil dan menyampaikan perihal hakekat sesuatu terhadapnya maka jelas kita telah menyalah gunakan ruang dan waktu itu. Maka penting sekali untuk mengetahui dan mempelajari ilmu filsafat agar bijak dalam ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Theresia Veni Tri Nugraheni
    15709251090
    PM D PPS UNY

    Melalui elegi ini saya belajar bahwa berfilsafat bahwa filsafat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat adalah olah pikir. Upaya kita dengan membaca dan mencoba menyelami pemikiran para filsuf, belajar untuk memperkatakan, memperbicarakan, mempertuliskan, dan memperbahasakan semua objek-objek filsafat yang ada dan mungkin ada melaui berpikir intensif-ekstensif dalam kehidupan sehari-hari adalah upaya dalam menggapai gunung es filsafat.

    ReplyDelete
  12. dari elegi di atas saya sangat tertarik dengan penjelasan tentang jebakan filsafat. Jebakan filsafat menurut "Prof. Marsigit itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, ". dari itu saya jadi tahu bahwa mempelajari sesuatu kuncinya adalah ihklas. dengan ihklas maka hati akan bersih dan pikiran akan terbuka, sehingga keberadaan ilmu itu akan masuk tanpa ada hambatan yang ada pada diri manusia. semoga kita dapat selalu ihklas dalam berbagai hal. amien

    Sdyoko Susanto
    NIM.15709259006
    PPs PMat P2TK 2015

    ReplyDelete
  13. Endang Sulistyowati
    NIM. 15703261033
    IP S3 KOnsentrasi Pend. Matematika

    Ada banyak pengertian matematika, sebanyak orang yang memikirkannya. Menurut Socrates matematika adalah pertanyaan. Menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan. Walaupun masing-masing memeberikan pengertian yang berbeda, bukan berarti matematika itu berbeda-beda, masing-masing memandang matematika dari sudut pandang yang berbeda. Guru harus dapat memandang matematika dari berbagai sudut pandang.

    ReplyDelete
  14. Pika Merliza/15709251029/PPs.PMAT 2015/D
    Dari elegi diatas diketahui manfaat dari membaca elegi dan mempelajari filsafat, bahwa sesungguhnya disini kita diberikan ruang untuk mengenal obyek yang ada dan yang mungkin ada termasuk dalam pendidikan matematika, agar kita pendidik ataupun calon pendidikan menyadari bahwa sesungguhnya matematika itu diri siswa dan pikiran siswa sendiri maka biarkanlan berikan siswa ruang untuk mempelajari matematika yang berarti mempelajari diri mereka sendiri.

    ReplyDelete
  15. Pika Merliza/15709251029/PPs.PMAT 2015/D
    Mempelajari filsafat matematika berarti bagaimana kita mempelajari obyek filsafat pendidikan matematika dari yang ada dan yang mungkin ada, termasuk obyeknya guru, sekolah, murid, metode, model dll. Disini tugas kita agar mampu mengekstensifkan dan mengintensifkan obyek filsafat pendidikan matematika berdasarkan kerangka ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  16. Fitria Mardika
    15709251076
    PMAT D PPs UNY
    fitriamardikaaa.blogspot.com

    Saya setuju bahwa jika kita ingin mengetahui dunia maka tengoklah pikiran kita sendiri. Bagi guru, dunia adalah pikiran siswanya. Pembelajaran harusnya dilaksanakan dengan pemikiran demi memenuhi kebutuhan siswa. Motivasi diberikan demi membangkitkan semangat belajar siswa, namun motivasi itu sebenarnya adalah siswa sendiri. Artinya, sebagai guru kita harus berusaha sebaik mungkin memotivasi siswa, meskipun motivasi dalam diri siswalah yang akhirnya menentukan. Maka bagi siswapun harus tertanam semangat belajar agar diperoleh kecerdasan pikir dan kecerdasan hati.

    ReplyDelete
  17. Fitria Mardika
    15709251076
    PMAT D PPs UNY
    fitriamardikaaa.blogspot.com

    Dalam mencari ilmu sebenarnya kitapun mencari hakikat ilmu itu sendiri. Belajar, maka kita mencari hakikat belajar itu sendiri. Seperti ilmu pengetahuan lainnya, filsafat dan matematika jelas merupakan olah pikir, karena dibutuhkan pikiran untuk memahaminya. Namun pikiran hendaknya selalu bergandengan dengan hati. Agar tercipta harmonisasi dalam diri dan mempermudah langkah kita untuk terus mencari ilmu.

    ReplyDelete
  18. Setelah membaca Elegi Menggapai Purnakata banyak hal yang saya dapatkan, namun ada hal yang menarik perhatian saya ketika percakapan antara mahasiswa dengan Marsigit yang membahas mengenai apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika? itulah pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa dan Marsigit pun menjawab dengan jawaban yang tidak pernah ditemukan dalam buku refrensi primer, dan dengan Ungkapan-ungkapanya saja, atau kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik. yang dapat saya tangkap disini refleksi itu lebih baik dibanding plagiat.

    P-Mat P2TK 2015

    ReplyDelete
  19. NIM 15709259014 (Pmat P2TK PPs UNY)

    Dari elegi di atas dapat saya simpulkan bahwa filsafat adalah hal yang tidak mudah untuk dipahami. Saya setuju dengan kata bahwa filsafat adalah proses berpikir manusia. Dimana filsafat tercermin dalam bagaimana seseorang mampu merumuskan beberapa asumsi atau opini tentang apa yang terjadi, apa yang tampak, dan terasa. Tujuan dari ini adalah untuk menemukan solusi dari masalah ini yang dihadapi oleh seseorang dalam hidupnya. Asumsi atau argumen dan solusi dari beberapa masalah adalah refleksi dari suatu peristiwa yang terjadi oleh seseorang.

    ReplyDelete

  20. Christina Lusiana Hari
    PPS Pmat C (15709251073)

    Filsafat merupakan olah pikir, berarti filsafat merupakan hasil olah pikir manusia. Olah pikir tersebut melibatkan berbagai dimensi ruang dan waktu. Filsafat mengkaji semua hal yang ada dan yang mungkin ada. Walaupun sulit untuk mempelajari dan memahami filsafat, akan tetapi sangat besar manfaatnya bagi kehidupan kita. Janganlah berhenti berfilsafat.

    ReplyDelete
  21. 15709259015/ P.MAT-P2TK

    Orang tua berambut putih adalah ilmu dari Prof Marsigit. Bagi saya, apapun nama dari ilmu itu, tetaplah sebagai ilmu. Ilmu yang diberikan melewati tulisan dalam Blog ini sangat bermanfaat, sebagai bahan bacaan untuk membangun pengetahuan para pencari ilmu sesuai dengan kebutuhan masing-masing para pembaca, untuk menghindari stigma maka perlu kita memulai dengan menggunakan pemikiran yang kritis dan hati yang bersih. maka dalam artikel ini ilmu, di utarakan langsung dengan nama “Marsigit”, kutipan penting : “Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.”
    “ Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan. “

    ReplyDelete
  22. Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik. Metafisik adalah setelah yang fisik. Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantangannya adalah bagaimana kita bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya

    ReplyDelete
  23. NOVALINDA PUSPITA AYU
    15709251085
    Pmat PPS UNY 2015 Kelas D

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Menurut artikel ini, filsafat merupakan olah pikir. Ini berarti bahwa filsafat merupakan hasil dari olah pikir manusia. olah pikir tersebut melibatkan berbagai dimensi, baik dimensi ruang maupun dimensi waktu. Filsafat menkaji hal yang mungkin dan tidank mungkin. Meski pun belajar filsafat itu sulit, tapi filsafat akan memberikan manfaat bagi mereka yang mampu memahaminya.

    Terimakasih
    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  24. Elmaini
    15709259004/P.MAT-P2TK
    Filsafat adalah cara berfikir manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Belajar filsafat matematika berarti bagaimana cara dalam mempelajari obyek filsafat matematika tersebut, dari yang ada dan yang mungkin ada berdasarkan konteks ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  25. Danu J. P.
    15709251030
    PPs Pmat C 2015
    Filsafat itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada sangat erat kaitannya dengan olah pikir, ruang dan waktu, pertanyaan, hati, dan masih banyak lagi. Melalui elegi-elegi saya belajar filsafat. Dengan belajar filsafat saya dapat belajar untuk merefleksikan diri untuk perbaikan ke depannya. . Dan tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Semoga Allah memberi kemudahan dalam berbuat kebaikan. Amiin.

    ReplyDelete
  26. Asep Tatan Rifa'i
    15709259012
    P.Mat P2TK 2015

    Dunia ini pasti memiliki filsafatnya masing-masing. Karena filsafat menembus ruang dan waktu. Filsafat matematika adalah cabang dari filsafat yang mengkaji anggapan-anggapan filsafat, dasar-dasar, dan dampak-dampak matematika. Tujuan dari filsafat matematika adalah untuk memberikan rekaman sifat dan metodologi matematika dan untuk memahami kedudukan matematika di dalam kehidupan manusia. Sifat logis dan terstruktur dari matematika itu sendiri membuat pengkajian ini meluas dan unik di antara mitra-mitra bahasan filsafat lainnya.

    ReplyDelete
  27. Tika Abri Astuti/ PPs P.Mat D 2015
    15709251091

    Menjadi guru juga merupakan kekuasaan dilingkup kelas karena guru yang menentukan alur pembelajaran. Tugas guru sesuai dengan tuntutan standar proses adalah bagaimana membuat siswa mampu mengetahui dan memahami apa yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Untutan standar kelulusan yang dicapai siswa saat ini cukup tinggi sehingga guru dengan profesionalisme diharapkan dapat membantu siswa mencapai SKL tersebut

    ReplyDelete
  28. Dari elegi di atas dapat saya ketahui bahwasanya Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan menggunakan metode menterjemahkan dan diterjemahkan. Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.


    M. Ihsan
    NIM. 15709259005
    PM P2TK 2015 PPs UNY

    ReplyDelete
  29. Brigita Wahyu M
    15709251089
    PPS 2015 PM.D

    Karena filsafat itu olah pikir, maka kita akan selalu berfilsafat selama kita mengolah pikirannya. Baik ada maupun tidak adanya pembimbing filsafat (dosen), kita diharapkan selalu mengembangkan diri dalam mengolah pikir. Namun olah pikir tersebut tidak akan maksimal jika awali dengan ketidakikhlasan. Sedangkan untuk menggapai ikhlas, kita harus selalu menyiapkan hati yang bersih serta pikiran yang kritis.

    ReplyDelete
  30. Brigita Wahyu M
    15709251089
    PPS 2015 PM.D

    Saat kita sudah mulai mempraktekkan ilmu kita di sekolah sebagai bentuk sintetik a priori, kita harus menjaga dan membekali diri dengan terus memasukkan isi (ilmu) ke dalam wadahnya (peran sebagai guru). Kita harus mampu mengolah pikir dan menghasilkan pembelajaran yang inovatif tidak hanya sekedar menjelaskan materi kepada siswa, namun juga harus mampu memotivasi siswa melalui rangkaian kegiatan yang sudah dirancang. Di sisi lain kita jangan sampai tergoda dengan kekuasaan sebagai seorang guru dan menggunakan kuasa itu untuk hal-hal yang kurang tepat. Kita harus mampu menggunakan kekuasaan sebagai guru dengan bijak dan sejalan dengan perintah-Nya.

    ReplyDelete
  31. NURFARAHIN FANI
    15709251008
    P MAT KELAS D
    Mengenai jawaban Bapak yang tersirat motivasi pada pertanyaan mahasiswa “Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?”. Saya juga terkadang bertanya pada diri sendiri, apakah setelah melaksanakan pendidikan ini akan mampu memberikan hal yang layak buat siswa dan apakah ilmu yang didapatkan ini dapat diberikan atau ditransfer dengan baik nantinya.

    ReplyDelete
  32. NURFARAHIN FANI
    15709251008
    P MAT KELAS D
    Mengenai kalimat “Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika.” dari hal tersebut sebagai calon guru, saya mengarahkan pada refleksi yang harus dilakukan adalah merefleksi apa yang telah diajarkan, bagaimana membimbing dan mentransfer pengetahuan ke siswa pada saat pembelajaran dan apakah tujuan pembelajaran yang diinginkan pada pembelajaran tersebut tercapai dengan baik serta bagaimana dengan siswa yang masih belum dapat mengkonstruk pengetahuannya dengan baik.

    ReplyDelete
  33. NURFARAHIN FANI
    15709251008
    P MAT KELAS D
    Jika metafisik adalah menjelaskan sesuatu yang ada, maka mengajar, membimbing dan mentrasfer kepada siswa mengenai materi adalah bagian dari metafisik selain dari diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  34. Uke Ralmugiz
    15709251052
    PMat D 2015 PPs UNY

    Dengan belajar filsafat, kita sebagai mahasiswa pendidikan matematika akan lebih memahami apa sebenarnya yang terkandung dalam matematika itu, mengapa matematika itu bisa membentuk pola pikir kita, bagaimana kita mengajarkan matematika itu kepada siswa, serta siapa yang telah menemukan formula dalam matematika itu.

    ReplyDelete
  35. Eka Hedayani
    15709259008
    PPS PMat P2TK 2015

    Alam penelitian kelas sesunggunya banyak obyek yang harus diamati, antara lain sifat guru, sifat siswa, pengaruh sifat guru terhadap aktivitas belajar siswa, sikap dan perilaku pedagogik guru, pengaruh sikap dan perilaku pedagogi guru terhadap hasil belajar siswa, sikap dan perilaku belajar siswa, dan masih banyak lagi. Dan jika ingin meningkatkan kualitas penelitian kelas maka terdapat beberapa hal yang harus diamati, yaitu pengaruh sikap, motivasi siswa dalam pembelajaran matematuka, hasil belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, teori pembelajaran dalam kelas, inovasi pembelajaran dalam kelas, teori pendidikan dan paradigma pendidikan dalam pembelajaran, pengembangan RPP, pengembangan lembar kerja siswa, pengembangan alat peraga pembelajaran, dan mencakup teori hakikat matematika.

    ReplyDelete
  36. terimakasih pak atas artikelnya. Jawaban atas pertanyaan tentang apakah filsafat itu meliputi agama ini semakin menambah pemahaman saya juga tentang filsafat dan agama. kemudian juga terkait dengan pantangan dalam mempelajari filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. mungkin bukan hanya filsafat tetapi setiap ilmu yang dipelajari sepotong maka hasilnya juga kurang maksimal. semoga dengan dengan rahmat yang masih dilimpahkan kepada kita, bisa membuat kita tatap berusaha untuk belajar dan berilmu.

    ReplyDelete
  37. dalam elegi ini juga menjelaskan bahwasanya filsafat merupakan olah pikir sehingga secara tidak langsung semua orang bisa berfilsafat. tapi bukan sembarang filsafat melainkan harus ada rujukan dan sumber yang jelas ketika kita akan membahas sesuatu hal.

    ReplyDelete
  38. ABSORIN PPs Pmat P2TK 2015
    NIM : 15709259013
    pantangan dalam mempelajari filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. mungkin bukan hanya filsafat tetapi setiap ilmu yang dipelajari sepotong maka hasilnya juga kurang maksimal. elegi menggapai purna kata ini memebeikan pemahaman bahwa belajar filsafat itu mesti kontinue dan berkelanjutan. Pembelajaran fisafat yang hany 1 semester sama beliau hanya belum tentu dapat memahami filsafat keseluruhan secara intensive dan ekstensive.

    ReplyDelete
  39. Siti Nurhayati S2 PMAT-D
    NIM 15709251077
    Dalam kehidupan ini, pasti aawal merupakan akhir dan akhir adalah awal. Sebagaimana seekor ular yang keluar dari sarangnya maka ia akan kembali ke sarangnya demikian juga sebuah ilmu. ilmu akan selalu berkembang dan berputar sebagaimana tujuan yang ingin dicapainya. belajar filsafat pada muaranya mempunyai tujuan untuk dapat menjadi saksi . akan tetapi tidaklah mudah untuk menjadi saksi itu sendiri.Pergunakan dan raihlah kesempatan untuk dapat menjadi saksi dimuka bumi ini, karena itulahsebenar-benar belajar filsafat.

    ReplyDelete
  40. Siti Nurhayati S2 PMAT-D
    NIM 15709251077
    Filsafat adalah refleksi dari olah pikir manusia, onjek flsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, merode yang digunakan dalam belajar filsafat adalah heurmenetika atau yang dikenal dengan istilah cakra manggilingan ( dalam istilah Jawa), sedangakan struktur dalam filsafat adalah material, formal, nomatid dan spiritual, sumber belajar filsafat adalah pikiran para filsuf dan tujuan belajar filsafat adalah untuk menjadi saksi atas yang ada.

    ReplyDelete
  41. NURFARAHIN FANI
    15709251008
    P MAT KELAS D
    Berfilsafat adalah menyelidiki suatu objek dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dengan menggunakan akal pikiran agar sampai pada hakikatnya. Bagi mereka yang memiliki banyak sumber, bacaan dan pengetahuan mulanya akan kebingungan jika ilmu yang didapat masih belum mencapai pemikiran sendiri. Membaca elegi-elegi menjadi sebagai satu media kita untuk mempelajari filsafat karena mencoba memikirkan maksud yang telah ditulis.

    ReplyDelete
  42. Salah satu tugas guru yang utama adalah bagaimana membuat siswa mampu mengetahui dan memahami apa yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Disini guru cenderung memiliki kekuasaan di dalam kelas. Maka godaan terbesar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaannya yang tidak tepat ruang dan waktu. Sesungguhnya barang siapa yang menyalahgunakan kekuasaan, dia tergolong dalam kategori orang-orang yang berbuat dholim. Oleh karena itu, harus lah kita menjalankan tugas kita dengan baik, jangan sampai menyalahgunakan kekuasaan. Jangan sampai karena kita merasa mempunyai kekuasaan kemudian kita memaksakan kehendak kita sebagai guru sehingga siswa harus mengikuti semua yang kita instruksikan. Siswa perlu diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya. Karena tujuan pendidikan tidak semata-mata hanya nilai di atas kertas saja, namun tujuan jangka panjang dimana siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya.

    Novita Indah Saputri
    15709251023
    PPs PMAT C

    ReplyDelete
  43. Gity Wulang Mandini
    15709251054
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D

    ada sebuah pertemuan, pasti ada pula perpisahan. Perpisahan tidak menandakan sebuah akhir, tetapi sebuah pembelajaran agar kita tidak bergantung pada siapapun. Semua terjadi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Filsafat merupakan proses berpikir. Meski pun belajar filsafat itu sulit, tapi filsafat akan memberikan manfaat bagi mereka yang mampu memahaminya, menjadikan diri mereka sosok manusia yang bijaksana, mampu memahami ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  44. Melalui artikel di atas, saya tahu bahwa filsafat adalah pikiran kita. Filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinan kita, sehingga filosofi yang tidak termasuk agama karena tidak hanya mencakup pikiran kita, tetapi juga hati kita. Filosofinya adalah refleksi. Jadi filsafat pendidikan matematika adalah refleksi pada pendidikan matematika, meliputi refleksi dari semua yang ada dan mungkin ada dalam pendidikan matematika, termasuk matematika, guru, siswa, kelas, dll Sebagai matematika calon guru untuk membuat kita sebagai tantangan untuk menjelaskan semua apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  45. Hanifah Latifah Hadiat
    15709251074
    PMAT C PPS UNY 2015

    Banyak hal yang tidak saya ketahui, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya ini maka saya sadar bahwa masih diperlukan usaha yang lebih dalam memahami filsafat. Filsafat adalah olah pikir yang untuk memahaminya haruslah mampu menerjemah dan diterjemahkan. Mampunya kita dalam melakukannya hanya dan hanya jika kita telah cukup banyak membaca, banyak memahami dan banyak belajar. Tentulah semuanya butuh proses. Ketika proses ini dihargai, semoga nanti akan membuahkan hasil yang baik.

    ReplyDelete
  46. Setiap ada awal pastilah ada akhir, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Hal tersebut merupakan hal yang alamiah dalam kehidupan. Begitu juga dalam proses pembelajaran. Tidak selamanya seorang guru mampu dan harus menuntun siswa-siswanya. Bagaimanapun setiap siswa memiliki minat dan jalan masing-masing. Ada kalanya menuntun dan membimbing ke arah yang lebih baik, ada kalanya juga melepaskan siswa untuk berjalan sendiri menemukan arah dan tujuannya. Begitu juga halnya dalam belajar filsafat. Setelah dibekali dengan elegi-elegi maka langkah selanjutnya adalah mencoba merefleksikan sendiri segala hal dalam kehidupan dengan ilmu filsafat yang diperoleh.

    ReplyDelete
  47. Widi Astuti
    15709259009
    Pmat P2TK 2015

    Filsafat mempelajari yang ada dan yang mungkin ada, menelaah segala sesuatu dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Filsafat selalu mempertanyakan hakikat atas segala sesuatu yang dalam ilmu lain sudah merupakan jawaban. Dengan filsafat kita dapat melihat segala macam fenomena dengan objektif tanpa terlibat didalam fenomena itu. Dengan filsafat kita bisa lebih bijaksana dalam memandang segala sesuatu.

    ReplyDelete
  48. PPS-PEP B
    16701251016

    Pencapaian tertinggi dalam dunia mendaki hingga pucuk gunung es. Pencapaian tertinggi dalam mempelajari filsafat adalah sifat yang dingin seperti es, kebijaksanaan dan kearifan, cerdas pemikiran, dan cerdas merasakan dengan kehadiran hati yang suci. Belajar secara terus menerus dengan slogan intensif dan ekstensif adalah kunci dalam mempelajari filsafat, refleksi diri setiap yang ada dan mungkin ada merupakan kunci utama sehingga terwujud kebebasan berfikir dengan kritis, kepribadian yang mandiri, terampil, serta teguh hati dalam ruang dan waktu apapun.
    Uoaya peningkatan kualitas hari, dari hari demi hari adalah wajib, dikatakan bahwa manusia yang hari ini saja sama dengan hari kemarin adalah ternasuj orang merugi, bagaimana jika lebih buruk ?
    Sudah tentu peningkatan pemahaman fiksafat tidak lain dan tidak bukan adalah dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan sehingga kecerdasan yang nyata akan terwujud berdasarkan fikiran dan hati.

    ReplyDelete
  49. PPS-PEP B
    16701251016

    Pencapaian tertinggi dalam dunia mendaki hingga pucuk gunung es. Pencapaian tertinggi dalam mempelajari filsafat adalah sifat yang dingin seperti es, kebijaksanaan dan kearifan, cerdas pemikiran, dan cerdas merasakan dengan kehadiran hati yang suci. Belajar secara terus menerus dengan slogan intensif dan ekstensif adalah kunci dalam mempelajari filsafat, refleksi diri setiap yang ada dan mungkin ada merupakan kunci utama sehingga terwujud kebebasan berfikir dengan kritis, kepribadian yang mandiri, terampil, serta teguh hati dalam ruang dan waktu apapun.
    Uoaya peningkatan kualitas hari, dari hari demi hari adalah wajib, dikatakan bahwa manusia yang hari ini saja sama dengan hari kemarin adalah ternasuj orang merugi, bagaimana jika lebih buruk ?
    Sudah tentu peningkatan pemahaman fiksafat tidak lain dan tidak bukan adalah dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan sehingga kecerdasan yang nyata akan terwujud berdasarkan fikiran dan hati.

    ReplyDelete
  50. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  51. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Akhir dari pertemuan dalam belajar berfilsafat merupakan awal dari perjuangan kita masing-masing untuk berfilsafat. Kita semua akan memasukki hutan rimba kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Salah satu hasil yang kita peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang kita miliki. Selalu berusaha meningkatkan dimensi pikiran dan hati dengan cara menerjemahkan dan diterjemahkan.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com