Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Purnakata




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.


Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedagkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Seangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disampiang telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa:
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan pendidikan matematika?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA an kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disipli maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah filsafat pendidikan matematika? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

24 comments:

  1. Valeria K.
    11313244007
    P. Matematika Int. 2011

    Manusia hendaknya sadar akan segala kelemahan dirinya. Bahkan manusia mampu jatuh dalam suatu kesalahan yang dibuatnya sendiri. Artinya setiap tindakan yang diperbuat akan ada akibatnya. Akibat yang ditimbulkan tersebut bisa positif, bisa negatif. Sesuatu akan berdampak positif bila manusia melakukannya tidak hanya dengan pikiran tapi juga dengan hati. Hati yang akan menuntun manusia untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sesuatu akan berdampak negatif bila manusia melakukannya hanya menuruti segala pikiran atau hatinya saja. Karena bila hanya menggunakan salah satu (hati atau pikiran) maka manusia terancam jatuh dalam suatu kesalahan. Maka dari itu, bijaksanalah dalam bertindak dan berpikir.

    ReplyDelete
  2. dikdas p2tk 2014

    Assalamu'alaikum wr.wb
    yang saya tangkap dari elegi mengapai purnakata adalah dimana ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan. tidak bisa dipungkiri, kita tidak akan bisa selamanya bersama. kembali lagi, semua terikat oleh ruang Dan waktu. jika waktunya telah sampai, maka perpisahan yang akan terjadi, semua menjadi kenangan, namun masih bisa kita rasakan. begitu juga, elegi diatas, meskipun kita tidak bertatap muka lagi, namun elegi-elegi dalam blog ini tetap mewakili Bapak Marsigit. elegi-elegi ini tetap memberikan inspirasi bagi kami. sekian dan terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  3. Seperti apa yang dikatakan Bapak, mempelajari filsafat tidak boleh setengah-setengah, harus secara menyeluruh. Sudut pandang filsafat lebih mendalam dan luas karena menembus ruang dan waktu. Dari elegi yang dituliskan pada postingan-postingan Bapak, makna-makna yang tersirat sungguh mendalam apabila kita benar-benar mampu memahaminya.Kata-katanya mampu membuat inspirasi, mengingatkan, bahkan mampu membuat kita menjadi mawas diri maupun instrospeksi diri.

    ReplyDelete
  4. Berfilsafat itu tidak boleh setengah-setengah harus menyeluruh, karena kalau kita mempelajarinya hanya setengah-setengah maka pemahaman kita juga hanya setengah-setengah saja. Apa yang kita ketahui selama ini adalah hanya merupakan puncak dari gunung es. Tugas kita lah untuk menjelaskan apa yang ada di puncak gunung es tersebut.

    ReplyDelete
  5. Dikdas P2TK 2014

    Filsafat adalah dasar untuk menggapai kehidupan. Dalam berfilsafat kita harus menghindari 'jebakan filsafat'. Karena 'jebakan filsafat' itu akan membawa kepada filsafat yang semu. Mempelajari filsafat tidak boleh terpenggal-penggal atau terpotong-potong karena tidak akan mendapatkan makna yang mendalam. Selain itu menggunakan filsafat harus sesuai dengan ruang dan waktu. Karena orang yang cerdas adalah orang yang pandai membaca ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  6. Mei Wahyuni Dikdas
    Betul sekali belajar filsafat sebagai saksi. Dalam belajar banyak hal dikampus, atau melalui seramgkaian diklat atau pelatihan-pelatihan lainnya jika selama itu tidak urun rembug dalam pemikiran maupun pelaksanaan maka tidak akan ada gunanya segala bentuk pendidikan yang kita tempuh. maka dalam kita belajar sebaiknya dan memang seharusnya berusaha untuk segera diaktualisasikan.

    ReplyDelete
  7. Soleh Uzain
    11301241018
    Pendidikan Matematika 2011

    Mengutip tulisan Bapak bahwa, "belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap". Jadi jika kita telah mulai untuk belajar filsafat maka jangan pernah berhenti belajar sampai menyelesaikannya. Padahal dalam elegi metafisika filsafat dikatakan bahwa tidak ada akhir dalam belajar filsafat. Artinya belajar filsafat itu seumur hidup, sepanjang hayat. Sama seperti kita menuntut ilmu. Dari lahir sampai ke liang lahat.

    ReplyDelete
  8. Masih mengutip penjelasan bapak bahwa, "pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya". Hal ini sesuai penjelasan bapak saat perkuliahan filsafat pendidikan matematika yang menerangkan bahwa filsafat itu sensitif terhadap ruang dan waktu. Arti lainnya mungkin bahwa filsafat itu tergantung situasi dan kondisinya. Maka filsafat dapat bersifat relatif. Dinamis. Berubah-ubah.

    ReplyDelete
  9. Titi Suryansah
    P2TK Dikdas 2014

    Assalamualaikum Wr Wb
    Purna adalah akhir. Purna adalah selesai. Purna identik dengan pemberhentian para pegawai. Awal pasti ada akhir. Kita diberikan kesempatan untuk bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Selama kita masih dalam posisi mendapatkan kesempatan maka gunakanlah dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu kita akan mampu terhidar dari bentuk penyesalan yang tidak ada artinya. Saat kita mengalami purna/berhenti dari suatu rutinitas tentu itu semua karena menyesuaikan dengan waktu. Jika waktu telah tiba maka semuanya akan berbicara dan membuktikannya.
    Wassalmualaikum Wr Wb

    ReplyDelete
  10. Ika Noviana
    14712251002
    Pendidikan Dasar
    Konsentrasi Praktisi

    Sebagai guru haruslah mampu memfasilitasi siswa belajar sesuai dengan ruang dan waktu siswa. Guru harus sopan dan santun terhadap ruang dan waktu siswa. Guru munafik jika menggunakan kekuasaannya dalam mengajar siswa yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu siswa sehingga siswa akan terancam kehilangan intuisinya. Maka guru harus belajar tentang berbagai teori belajar agar mampu menyesuaikan dengan ruang dan waktu siswa dalam melayani belajar.

    ReplyDelete
  11. Ratna Winahyu Hadiyanti
    14712251007
    Pendidikan Dasar Konsentrasi Praktisi

    Dari elegi menggapai purnakata ini memperlihatkan akan adanya perpisahan. Di kehidupan ini semua yang pernah bersama pasti akan berpisah. Perpisahan hanya akan menyisakan hal-hal yang mengesankan. Semua tidak dapat selalu bersama, pada suatu saat akan berpisah. Pada elegi di atas juga mengisahkan perpisahan dengan Prof. Marsigit. Walaupun sudah berpisah, sejatinya ilmu yang telah diberikan Prof. Marsigit selalu ada dan selalu dekat dengan kita.

    ReplyDelete
  12. Umi Wuryanti S2 P2TK Dikdas
    Assalamualaikum wr. wb
    Karena filsafat merupakan induk segala ilmu yang ada, menyingkap tabir rahasia, mempelajari sejarah, menerangkan sesuatu dari hulu hingga hilir dan masih banyak yang lainya. Berawal dari kebingungan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya yang dibingungkan, agar menemukan dasar dari kebingungan itu sendiri supaya tercerahkan.

    ReplyDelete
  13. Dimas Angga Nur Sasongko
    12301241005
    Pendidikan Matematika Subsidi 2012

    Mempelajari filsafat tidak boleh setengah-setengah, karena apabila setengah-setengah akan mendapatkan hasil yang setengah pula.
    Beralih pada pentingnya tujuan dari pembelajaran filsafat matematika, sangat penting apabila kita menjadi saksi. Mengapa? Karena kita sebagai calon pendidik harus lah memiliki kebebasan untuk mengungkapkan pendapat/mengkritisi untuk kemajua mutu pendidikan yang sedang berlangsung. Apabila kita hanya membiarkan begitu saja dan tidak ada koreksi untuk kebaikan maka kita dikatakan rugi untuk menjadi saksi.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
  14. Belajar Filsafat bukan hanya dengan membaca elegi, mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas serta refleksi. Belajar membutuhkan suatu proses yang panjang agar tercapai tujuan yang diinginkan. Proses belajar ini membutuhkan kajian-kajian dari para filsuf agar filsafat yang dipelajari lebih terarah hingga tercapai tujuan belajar. Sikap yang harus dihindari agar proses belajar tercapai dengan baik yaitu kesombongan dan ego yang tinggi.
    Musyafa (11301241032)

    ReplyDelete
  15. 11301241034
    Filsafat Pendidikan Matematika
    Ada beberapa pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi ini. Pengertian filsafat dari yang sederhana yaitu yang ada dan mungkin ada. Selanjutnya bagaimana kita memahami filsafat dengan membaca berbagai referensi para filsuf terdahulu mengenai filsafat. Dari membaca tersebut maka kita dapat mengumpulkan menjadi suatu ungkapan, yaitu hasil dari merefleksi beberapa pengertian. Proses metafisik individu satu dengan individu yang lain berbeda-beda. Sebab itulah ungkapan yang diberikan individu menjadi berbeda pula. Begitulah yang dapat diambil dari bacaan ini; yaitu belajar filsafat dengan merefleksi sumber referensi.

    ReplyDelete
  16. Dian Ikawati Rahayuningtyas
    NIM. 14712251006
    Prodi Pendidian Dasar Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)

    Dalam elegi ini pada intinya menjelaskan tentang purnakata, di mana purna dsini berarti berakhir atau selesai. Setiap ada pertemuan pasti nantinya ada perpisahan. Mungkin kalimat tersebut cocok untuk menjelaskan elegi ini. DI mana apabila diberi kesempatan untuk dapat bertemu orang –orang yang mempunyai banyak ilmu kita dapat belajar dari mereka. Selagi masih ada waktu dan kesempatan yang kita miliki, maka janganlah kita berhenti untuk mempelajarinya. Karena setiap orang memiliki waktu dan kesempatan yang berbeda-beda, oleh karena itu kita harus dapat memanfaatkannya dengan baik. Sehingga apabila kesempatan kita untuk mempelajari sesuatu sudah tidak ada setidaknya kita sudah belajar banyak hal yang nantinya akan berguna untuk kita, baik di kehidupan sekrang maupun masa datang.

    ReplyDelete
  17. Hildegardis Mulu (P.Mat Inter 2011/ 11313244023)

    Mempelajari filsafat matematika membantu saya untuk mengenali diri saya sendiri serta mengenai dunia secara umum, maupun dunia matematika secara khusus. Saya belajar untuk lebih kritis terhadap segala sesuatu. Saya juga belajar untuk bisa mencapai harmoni antara pikiran dan hati. Pada akhirnya, saya belajar untuk ikhlas menjalani kehidupan saya. Yang saya pahami, keikhlasan dalam filsafat bukan berarti pasif menerima segala sesuatu, melainkan ikhlas menjalani peran dalam hidup dengan sungguh-sungguh.

    ReplyDelete
  18. Awal Nur Kholifatur Rosyidah
    14712251021
    Pendidikan Dasar
    Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)

    Dengan berfilsafat diartikan mempunyai suatu pandangan, pedoman, atau nilai-nilai terhadap sesuatu hal. Fakta-fakta yang terjadi di sekitar dan pengalaman pribadi memainkan peran penting kita dalam berfilsafat. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita memahami permasalahan filsafat yang terjadi dan menemukan jawabanya. Cara ini dipermudah oleh Prof. Marsigit melalui elegi-eleginya. Elegi-elegi ini dikemas dengan bahasa yang lebih sederhana. Keterlibatan kita sendiri secara kritis dalam berfilsafat akan dapat menyelidiki suatu permasalahan dengan menerapkan argumen yang filosofis yang terkadang bersifat kritis, analitis, sistematis, rasional, mendalam, dan menyeluruh. Oleh karena itu dalam memandang suatu permasalahan tentunya harus bersedia untuk mengajukan hipotesis atau dugaan-dugaan awal, semata-mata untuk mencari kebenaran.

    ReplyDelete
  19. Awal Nur Kholifatur Rosyidah
    14712251021
    Pendidikan Dasar
    Konsentrasi Praktisi (Guru Kelas)

    Benar, bahwa hidup adalah pilihan. Jika itu telah menjadi pilihanmu, maka jalanillah semuanya dengan ikhlas hati. Saya cukup merefleksi terhadap diri saya sendiri, iya betul memang kata Prof. Marsigit. Untuk menjadikan manusia yang sebenar-benarnya manusia, rendah hati, tanggung jawab maka semuanya harus dilandasi pertama dengan niat, laksanakan dengan ikhlas. Insyaalloh saya akan berbuat demikian. Prof. mempunyai cara tersendiri dalam melaksanakan proses perkuliahan, membuat mahasiswa mau tidak mau harus gemar dan ikhlas membaca. Harus bisa memahami hidup, ya salah atunya dengan cara berfilsafat ini. Menuntut kita untuk berpikir realistis dan berpikir plural. Karena jika kita berfilsafat dengan baik, maka kita akan berpikir tepat pada ruang dan waktunya. Jika kita akan terus menambah ilmu, maka membacalah, terbukalah dengan pengetahuan baru itu maka ilmu kita juga akan dibukakan dan dipertambah. Semuanya itu tidak akan sia-sia, justru malah bermanfaat. Dalam melaksanakan segala sesuatu harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, ikhlas kuncinya. Tidak semaunya sendiri, bertindak sesukanya, mensyahkan segala hal yang dilakukan padahal sebetulnya menyimpang dari norma. Hidup dalam keberpura-puraan, pura-pura ikhlas padahal sebenarnya tidak ikhlas, pura-pura memperhatikan padahal sebenarnya tidak memperhatikan, pura-pura mengerti padahal sebenarna tidak mengerti. Pibadi seperti itu sesungguhnya yang sudah masuk dalam jebakan. Membohongi diri sendiri, berada dalam kemunafikan. Tidak sepantasnya manusia seperti itu, berdamailah dengan hati dan pikiran kita.

    ReplyDelete
  20. Rachma Hanan T.
    11313244020
    Pend. Mat Inter 2011

    Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat adalah refleksi. Filsafat adalah olah pikir. Filsafat memiliki banyak manfaat di kehidupan. Namun sering kali kita terjebak dalam jebakan filsafat, seperti mempelajari filsafat hanya untuk mendapatkan nilai semata. Padahal setipa hal yang kita pelajari dalam filsafat selalu memiliki makna dan arti. Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Sehingga dalam mempelajari filsafat kita tidak boleh hanya mengambilnya sepengal- penggal karena makna dari apa yang disampaikan dalam filsafat itu sendiri tidak akan lengkap.

    ReplyDelete
  21. Assalamu'alaikum wr. wb.

    Elegi merupakan salah satu bagian atau wujud dari hati dan pikiran manusia. Seorang yang mampu berlegi maka dia telah melatih diri dalam pendalaman filsafat. Orang yang berelegi dimanapun berada akan selalu memiliki ide-ide untuk dituangkan yang berasal dari hati dan pikiran. Bahkan mungkin, dalam diam pun orang tersebut sebenarnya tengah menciptakan elegi.
    Sekian dan terimakasih.

    Assalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  22. Sri Indhah, NIM 14712259012 S2P2TK Dikdas
    Menggapai pemikiran yang mendalam tentang suatu hal, terkadang membuat manusia memandang pendapat orang lain tidak benar. padahal manusia itu sedang berproses untuk dapat mengungkapkan pemikiran mereka tentang suatu kejadian. kita hanya akan mendapatkan pemikiran yang baik, jika hati dan pikiran kita jernih. hal itu tentu akan didpatkan manusia jika dia mampu untuk memandang segala bentuk tindakan manusia dari banyak sisi. bukan dari sisi yang menyenangkan saja.

    ReplyDelete
  23. Sasi Mardikarini
    14712251004
    Pendidikan Dasar Konsentrasi Praktisi

    elegi menggapai purnakata, dari judul dan apa yang saya baca dalam postingan ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam mempelajari filsafat tidak boleh setengah-setengah. Filsafat merupakan pedoman yang harus diterjemahkan dan menerjemahkan oleh semua yang ingin mempelajarinya. Apapun pengetahuan yang ingin kita pelajari, pasti dipayungi oleh filsafat. dengan menerjemahkan dan diterjemahkan maka manusia dapat menyimpulkan pengetahaun yang didapatnya dan dapat diaplikasikan sesuai dengan ruang dan waktunya. misalnya sebagai seornag guru yang berpendiidikan, maka kita harus dapat menempatkan pengetahaun yang kita miliki sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  24. Nugraheni Intan Saputri
    10301241038

    Mempelajari filsafat itu harus secara keseluruhan, tidak bisa hanya mempelajarinya setengah-setengah, karena ilmu filsafat itu tidak bisa dipisah-pisah. Jika hanya mempelajari sepenggal saja ilmunya, maka pemahaman kita tentang filsafat juga hanya sepenggal, tidak mengerti secara keseluruhan. Ilmu Filsafat itu merupakan ilmu tentang olah fikir manusia. Karena berdasarkan dengan fikiran, maka harus dipelajari secara keseluruhan, jika hanya sebagian maka bisa jadi fikiran kita akan salah mengartikan dengan apa yang kita pelajari.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com