Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Purnakata




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.


Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedagkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Seangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disampiang telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa:
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan pendidikan matematika?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA an kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disipli maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah filsafat pendidikan matematika? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

42 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Filsafat merupakan olah pikir. Ini berarti bahwa filsafat merupakan hasil dari olah pikir manusia. Olah pikir tersebut melibatkan berbagai dimensi, baik dimensi ruang maupun dimensi waktu. Filsafat mengkaji hal yang ada dan yang mungkin ada. Meski pun belajar filsafat itu terasa sulit awalnya namun jika dijalani dengan ikhlas maka kita akan banyak menemukan hal-hal baru dan menyenangkan, secara tersirat filsafat akan memberikan manfaat bagi mereka yang mampu memahaminya.

    ReplyDelete
  2. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016



    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Yang menarik dari artikel diatas adalah tentang belajar filsafat tidak boleh sepotong potong. Ini juga merupakan bagian dari kekurangan dari filsafat. Pak Sigit pernah menjelaskan bahwa kekurangan filsafat bukan terletak pada ilmunya namun subjeknya. Maka filsafat tidak boleh dipelajari hanya setengah setengah nanti setengah yang lain tidak bisa dijelaskan. Salah penafsiran dan lain lain. Ini berbahaya.

    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  3. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dalam mempelajari segala ilmu, kita harus menjadikan sesuatu menjadi kepemimpinan berpikir kita. Agar segala hal yang bertentangan, maka dengan sendirinya memfilter. Termasuk dalam berfilsafat, maka kita harus menjadikan agama kita sebagai kepemimpinan berpikir kita. Adapun dalam islam, maka menjadikan akidah islam sebagai landasan dan kepemimpinan kita.

    Dalam filsafat ada jebakan filsafat. Yaitu berfilsafat tetapi dengan hati tidak ikhlas, dan tidak sungguh-sungguh. Demikian juga terhadap bidang ilmu yang lain. Maka, untuk menghindari adanya “jebakan” harus ada niat ikhlas semata mengharap ridho-Nya dan menuntut ilmu merupakan kewajiban dari-Nya. Sehingga, “jebakan” itu bisa dihindari.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  4. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Belajar filsafat itu seumur hidup. Maka harus ada unsur ikhlas didalamnya. Maka bermanfaat bagi mereka yang mampu memahaminya. Kita harus mampu merefleksikan diri kita, seberapa baik mengajar, sudah melakukan kontribusi apa terhadap pendidikan. Itulah sebenar-benarnya filsafat, yaitu refleksi. Belajar filsafat dari seseorang, berarti belajar pola pikir, hasil pemikiran serta penjelasannya dari orang tersebut. Setelah itu, kita tidak bisa diam ditempat hanya memahami hasil pemikiran orang. Kita harus punya identitas diri. Perpisahan dengan orang yang memberikan kita ilmunya, artinya kita diberikan jalan untuk terus mencari ilmu sebanyak-banyaknya yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  5. Vety Triyana K
    13301241027 / P. Matematika Internasional 2013

    Saya tertarik dengan gambaran mengenai gerbong kereta api dan helikopter. Guru sejatinya mampu untuk mengontrol pembelajaran dengan melangkah lebih maju. selanjutnya, dengan kekuasaan yang dimmiliki guru dalam kelas Guru sejatinya memberikan kebebasan kepada muridnya untuk dapat membentuk dan memngembangkan pengetahuan yang ada pada diri mereka masing - masinng. Semoga calon - calon guru dapat melaksanakan tradisi baru teraebut di dunia pendidikan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  6. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Elegi ini memberikan saya gambaran tentang bagaimana saya menerapkan filsafat dalam kehisupan sehari-hari, karena hasil olah pikir kita yang merupakan sesuatu yang ada dan yang mungkin dapat diterjemahkan ada menerjemahkan dalam kehidupan ini. Selain itu, filsafat juga dapat menerjemahkan matematika dan pendidikan matematika yang merupakan pikiran yang bersifat sintetik aposterori dan analitik apriori. Bahkan, sebagai seorang pendidik, kita dapat berfilsafat untuk mengheurmenutikan pikiran peserta didik kita dalam belajar, sehingga masalah-masalah yang timbul selama pembelajaran dapat diminimalisasi.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika c 2013

    Filsafat itu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Diriku ada, maka diriku adalah filsafat. Segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini adalah yang ada dan yang mungkin ada, maka segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini adalah filsafat termasuk matematika, pendidikan, pendidikan matematika, semuanya adalah filsafat. Dan sebenar- benar filsafat adalah refleksi. Maka karena diriku adalah filsafat, filsafat diriku adalah refleksi terhadap diriku. Dan sebenar- benar refleksi harus disertai dengan rasa ikhlas agar tidak terjebak dalam jebakan filsafat. Karena itulah dalam mempelajari filsafat termasuk membaca elegi- elegi ini harus disertai rasa ikhlas.

    ReplyDelete
  8. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Elegi ini mengingatkan saya bahwa waktu pembelajaran filsafat ilmu dalam perkuliahan sudah hampir habis. Entah mengapa ada perasaan sedih terlintas saat membayangkan dialog dalam elegi ini terjadi. Saya merasa menjadi mitos jika harus tegesa-gesa membaca dan memahami kemudian mengkomentari begitu banyak karya-karya bapak yang penuh makna dalam waktu singkat yang terbatas ini. Namun meski begitu, dalam perjalanan waktu yang singkat ini, saya mendapatkan banyak hal. Salah satunya kenyataan bahwa filsafat tidak terbatas ruang dan waktu. Maka, meskipun waktu pembelajaran filsafat ilmu terbatas hanya satu semester, namun saya masih dapat belajar filsafat melalui elegi-elegi bapak dan sumber-sumber lain diluar waktu tersebut. Karena filsafat adalah olah fikir. Karena filsafat adalah refleksi. Karena filsafat meliputi diriku sendiri. Terimakasih banyak Pak atas ilmu-ilmunya. Terimakasih telah menuntun saya menuju logos.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  9. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Sebagai guru matematika kita harus bisa berusaha menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Guru sebagai subyek yang berkuasa atas obyek yaitu siswanya. Guru harus bisa membimbing siswanya agar dapat menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dalam pelajaran matematika. Dan tidak seharusnya guru terlalu berkuasa terhadap siswanya karena siswa harus diberi kebebasan berpikir, kebebasan berpikir untuk menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dalam pelajaran matematika.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  10. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Sejauh yang saya pahami setelah membaca elegy ini ialah bahwa perkuliahan filsafat secara fisik akan segera berakhir. Bapak Prof. Dr. Marsigit tidak akan mungkin dapat selalu membersamai mahasiswanya. Tetapi beliau telah memberikan banyak sekali bekal kepada mahasiswa selama belajar filsafat. Filsafat merupakan olah pikir refleksif. Banyak sekali yang dapat direfleksikan, meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Bekal yang diperoleh mahasiswa berkat belajar filsafat antara lain ialah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, keteguhan hati serta sopan santun terhadap ruang dan waktu. Mahasiswa dapat menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan metode menterjemahkan dan diterjemahkan. Dengan meningkatkan sensitifitas terhadap pendidikan matematika, diharapkan semua mahasiswa dapat menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Dalam menjalani perannya sebagai guru matematika, kelak mahasiswa memiliki tugas untuk membuat bagaimana semua siswanya juga mampu mengetahui dan menjelaskan semua yang mereka pelajari. Harapannya, mahasiswa dapat menyumbangkan pimikiran dari hasil olah pikir secara filsafat untuk mengembangkan pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  11. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Filsafat sebenarnya adalah penjelasan kita, tidak ada filsafat seseorang yang salah, tergantung dimensi seseorang dimana ruang dan waktunya. filsafat itu olah pikir yang reflektif dan tidak ada yang berani menyalahkan reflektif yang seperti apa. melalui elegi ini kita mengajarkan kita untuk berfilsafat dalam kehidupan sehari-hari dengan metode yang tepat yakni metode menterjemahkan dan diterjemahkan. filsafat tidak hanya kita pelajari selama perkuliahan satu semester, tapi diharapkan berkelanjutan dalam aktivitas yang lain.

    ReplyDelete
  12. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Elegi menggapai purnakata, purna artinya adalah akhir. Dalam elegi ini menyampaikan kata penutup atau kata yang pantas sebagai penutup dari begitu banyaknya elegi yang ada. Dari purnakata ini saya berusaha menyimpulkan bahwa:
    a) Filsafat memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini;
    b) Dibutuhkan daya pikir kritis dan hati yang bersih dan ikhlas dalam berfilsafat, karena pikiran kritis dan hati yang bersih, maka filsafat memiliki banyak sekali manfaat.
    c) Berfilsafat bahkan dengan membaca elegi atau isi blog ini dengan sungguh-sungguh dapat membuka kesadaran dari pikiran kita, sehingga pikiran menjadi sensitif terhadap segala yang ada dan yang mungkin ada;
    d) seberapapun besar kepercayaan terhadap seseorang sebagai panutan, manusia haruslah melakukan eksplorasi, pengembangan terhadap apa yang dipelajari;
    e) belajar tidak hanya dilakukan saat pembelajaran dalam kelas, namun juga dapat belajar dari pengalaman pada kehidupan sehari-hari;
    f) Sebagai calon pendidik atau pendidik, kesensitifan yang bersangkutan dengan pembelajaran di kelas sangat diperlukan demi keberlangsungan pembelajaran yang bermakna.

    ReplyDelete
  13. Filsafat merupakan ilmu olah pikir. Filsafat bisa meliputi semua bidang dalam kehidupan kita. Elegi-elegi digambarkan untuk memberikan penjelasan tentang filsafat agar kita memahami apa yang ada dan yang mungkin ada disetiap aspek kehidupan. Elegi menggapai purnakata ini menjelaskan bahwa kita bisa mencapai pemahaman tentang filsafat berdasarkan demensi ruang dan waktu yang kita miliki masing-masing dan diharapkan kita bisa terus melangkah maju untuk memahami filsafat dengan baik di masa depan.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  14. Contoh-contoh pemahaman yang diberikan secara gamblang membantu mahasiswa lebih memahami filsafat itu sendiri. Seperti filsafat matematika yang dijelaskan secara rinci dan mendalam sehingga mudah dipahami oleh mahasiswa. Filsafat maetematika yang terdiri dari dimensi ruang dan waktu, refleksi dan unsur ada dan mungkin ada mempunyai penjabaran yang sangat luas. Kita bisa menerapakannya dalam dimensi ruang dan waktu serta refleksi yang berbeda sesauai dengan kondisi yang kita hadapi selama masih dalam lingkup filsafat matematika itu sendiri.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  15. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Dari elegi di atas telah terungkap bahwa siapa orang tua berambut putih yang sebenarnya yang selalu memberikan pandangan-pandangan dan solusi-solusi pada elegi sebelumnya. Dan ternyata orang tua berambut putih itu adalah tidak lain Prof. Dr. Marsigit, MA. Ada banyak hal yang menarik dari elegi di atas antara lain:
    1. Filsafat dan agama. dalam penjelasannya bahwa filsafat adalah olah pikir dan agama tidak hannya terbatas pada olah pikir tetapi juga olah hati dan pikirin tidak selalu bisa mengikuti hati.
    2. Mengenai jebakan filsafat. Jebakan yang dimaksud adalah antara lain adalah ada nya rasa tidak ihklas mengikuti perkuliahan filsafat yang salah satu nya adalah membuat komen pada blog Bapak Marsigit.
    3. Dan salah satu yang paling penting adalah apabila kita belajar filsafat, kita tidak boleh mempelajarinya sepotong-potong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap
    4. Pesan yang terakhir dari pembelajaran filsafat adalah awal dari kita untuk memulai perjuangan masing-masing khususnya dalam memasuki masyarakat pendidikan matematika, sehingga dengan bekal dari kuliah filsafat ilmu pendidikan seperti kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati kita dapat berkonstribusi positif bagi pendidikan matematika.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  16. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    PEP B 2016

    Filsafat mengkaji hal yang ada dan yang mungkin ada. Meski pun belajar filsafat itu terasa sulit awalnya namun jika dijalani dengan ikhlas maka kita akan banyak menemukan hal-hal baru dan menyenangkan, secara tersirat filsafat akan memberikan manfaat bagi mereka yang mampu memahaminya.Segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini adalah yang ada dan yang mungkin ada, maka segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini adalah filsafat termasuk matematika, pendidikan, pendidikan matematika, semuanya adalah filsafat

    ReplyDelete
  17. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    PEP B 2016

    Filsafat merupakan olah pikir refleksif, banyak sekali yang dapat direfleksikan, meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada. Bekal yang diperoleh mahasiswa berkat belajar filsafat antara lain ialah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, keteguhan hati serta sopan santun terhadap ruang dan waktu. Olah pikir tersebut melibatkan berbagai dimensi, baik dimensi ruang maupun dimensi waktu.

    ReplyDelete
  18. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Filsafat adalah olah pikir yang refleksif yang dapat dipahami bahwa berfilsafat merupakan hasil dari olah pikir manusia yang terikat oleh ruang dan waktu. Mempelajari filsafat selama perkuliahan filsafat ilmu yang diampuh Pak Marsigit adalah sebuah pengalaman yang hebat ketika saya berusaha untuk mampu mengembangkan kemampuan berpikir saya secara ekstensif dan independen dengan menyesuaikan pada ruang dan waktu. Meskipun perkuliahan filsafat akan segera berakhir tetapi pengembaraan pikiran saya dalam berfilsafat tidak akan berakhir karena ternyata sebenar-benarnya filsafat adalah berpikir

    ReplyDelete
  19. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Yang menarik dari elegi di atas menurut saya adalah perkataan Pak Marsigit yakni “Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan”.

    Maka, hakikat belajar adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan, daya kritis dan keteguhan hati.

    ReplyDelete
  20. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Filsafat dalam diriku adalah pikiranku, aku adalah filsafatku karena pikiranku. Dalam hidupku. Pikiranku selalu menemaniku menjalani apa keinginanku. Itulah keadaanku. Aku mencoba mencari arti dari hidupku dengan pikiranku. Namun, disaat aku melihat ketidak adilan disekelilingku, ternyata aku tidak mampu menjadi saksi atas diriku. Aku tidak berani menjadi saksi atas ketidak adillan tersebut. Juga terkadang bahkan sering aku menjadi jebakan filsafatku sendiri. inilah tantangan diriku dengan kehidupanku. Padahal aku tahu dengan olah pikir dan olah hatiku sama sama membenarkannya. Ternyata syaitan menggoda untuk berupaya menyesatkanku dan pikiranku sehingga menjadi tidak istiqomah atau teguh terhadap pengetahuanku.

    ReplyDelete
  21. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    Ketika membaca antara olah pikir tidak mampu memikirkan olah hati. bahkan hati adalah kebenaran dari tuhan. Saya berfikir bahwa apakah hati adalah rahasia terbesar dalam hidup kita. apa hati itu? Bagaimana bentuknya? Dari apa dibuatnya? Mengapa pikiran tidak mempu menjelaskan isi hati, atau rasa cinta dan benci? Bagaimana ikhlas dan tidak ikhlas terbentuk? Mengapa semua oragan tubuh mampu dijelaskan secara saintifik, sementara hati masih memiliki tanda tanya yang besar? Apakah benar kalau hati itu adalah kebenaran dari tuhan? Bagaimana menjawabnya sementara perpisahan semakin dekat? Dan hatiku di dalam diriku masih menjadi misteri? Paling tidak setiap kata hati aku ikuti, disitulah kebahagian yang aku rasakan, semoga itu pertanda bahwa semua kebenaran adalah apa saja yang sesuai deangan kata hati.

    ReplyDelete
  22. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Filsafat itu merupakan ilmu yang luar biasa. Ilmunya dapat kita terapkan pada ilmu lain. Dalam dunia pendidikan, filsafat mengajarkan pendidik untuk selalu bersikap rendah hati dan jangan mengganggap rendah peserta didik. Sesungguhnya apa yang ada pada peserta didik adalah bayangan dari pendidik itu sendiri. Nah, jangan sampai mereka meniru atau mencontoh banyangan yang salah/ keliru.

    ReplyDelete
  23. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Setiap ada perjumpaan pastilah akan ada perpisahan, kita dengan guru kita pun demikian, entah kita yang lulus meninggalkan almamater dan guru kita atau guru kita yang pergi meninggalkan kita. Suatu ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah bagi guru kita, dan ilmu tersebut juga akan selalu kita bawa dan gunakan, serta akan membuat kita untuk mengingat guru kita. Filsafat itu mengenai olah pikir dan mengajarkan kita untuk berpikir kritis dalam melihat sesuatu dari segala sisi, serta tidak berlaku sombong di dunia ini.

    ReplyDelete
  24. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Jebakan filsafat salah satunya adalah tidak ikhlas. Ketika kita belajar mengenai filsafat kita harus ikhlas dalam pikir serta dalam hati, ketika kita tidak ikhlas pada salah satu atau bahkan tidak ikhlas akan keduanya kita tidak akan memperoleh ilmu tersebut, jangankan ilmu filsafat, ilmu atau pengetahuan yang biasa-biasa saja tidak akan dengan mudah kita perolehnya jika kita tidak ikhlas.

    ReplyDelete
  25. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Tidak sungguh-sungguh juga merupakan jebakan filsafat. Bagaimana kita akan berhasil belajar mengenai filsafat atau memperoleh ilmu filsafat jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya, niat yang baik akan memperoleh hasil yang baik pula, bersungguh-sungguh adalah salah satu niat baik sebelum melakukan sesuatu sehingga ketika kita tidak bersungguh-sungguh kita tidak akan memperoleh hasil yang baik itu.

    ReplyDelete
  26. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Selain itu mengapa tidak sungguh-sungguh ini menjadi jebakan filsafat adalah karena ketika kita belajar filsafat misal melalui sebuah buku atau bacaan, kita membaca tetapi hanya membaca setengah dari bacaan tersebut, padahal pesan atau intisari dari filsafat itu terkadang tidak menentu dimana letaknya, bisa di awal, di tengah, atau bahkan di akhir. Sehingga ketika kita belajar filsafat atau belajar apapun itu dengan sungguh-sungguh, maka dengan izin Allah kita akan mendapatkannya.

    ReplyDelete
  27. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Dari elegi di atas terdapat pesan bahwa tantangan sebenarnya untuk kita adalah bagaimana cara kita menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari matematika. Tugas kita sebagai pendidik adalah membimbing murid kita agar mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika yang mereka pelajari di sekolah.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  28. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Elegi menggapi purnakata berarti akhir. Dalam elegi ini menyampaikan sebuah kata-kata penutup dan saran kepada mahasiswa. Dalam pesan yang disampaikan, kita hendaknya menggunakan filsafat sesuai dengan ruang dan waktunya, kita harus didasari dengan kikhlasan, hati yang bersih. Namun jika tidak didasari dengan hati yang bersih dan ikhlas, maka kita akan terjebak dalam filsafat sendiri.

    ReplyDelete
  29. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Filsafat adalah sebuah olah pikir yang dilakukan oleh manusia. Ketika belajar filsafat adalah mengkaji tentang apa yang ada dan apa yang mungkin ada. Dalam belajar filsafat tidak boleh secara potong-potong akan tetapi harus utuh. Hal ini karena bisa terjadi salah presepsi ketika mempelajari filsafat. Hal ini yang akan menjadi berbahaya juga hanya sepotong-sepotong belajar filsafat.

    ReplyDelete
  30. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Bahwa setiap ada datang akan ada pergi. Lewat kan berlalu. Ada kan tiada. Bertemu akan berpisah. Namun ilmu itu tiadalah kata berhenti untuk mencarinya. Kita telah dibekali berbagai macam ilmu dan pelajaran sejak kecilnya kita. Filsafat bukanlah untuk dipamerkan. Filsafat adalah untuk menterjemahkan dan diterjemahkan. Filsafat hadir untuk menciptakan harmoni dan rahmat bagi semesta alam. Awal kan berakhir. Terbit kan tenggelam. Pasang akan surut. Bertemu akan berpisah.

    ReplyDelete
  31. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP B
    The other major hurdle to overcome when trying to get into philosophy is that almost every text was written as a response to someone else. It can be difficult to understand what someone means, or why they would think a certain thing, if you lack the context about who they are responding to and the general philosophical climate that they were working in. Without reading Hobbes, it's hard to understand Rousseau; without reading Rawls, it's hard to understand Nozick; without reading Kant, it's hard to understand...well, anyone who came after Kant. So many thinkers are so deeply intertwined that it’s easy to just get completely lost. Furthermore, a lot of the major philosophical works are written for other philosophers, to convince those peers of radical new ideas.

    ReplyDelete
  32. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A
    Filsafat merupakan proses berpikir. Meski pun belajar filsafat itu sulit, tapi filsafat akan memberikan manfaat bagi mereka yang mampu memahaminya, menjadikan diri mereka sosok manusia yang bijaksana, mampu memahami ruang dan waktu. Adanya pertemuan pasti ada pula perpisahan. Semua terjadi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Perpisahan tidak menandakan sebuah akhir, tetapi sebuah pembelajaran agar kita tidak bergantung pada siapapun.

    ReplyDelete
  33. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Terjawab sudah pertanyaan besar siapa orang tua berambut dalam elegi ini tiada lain tiada bukan adalah Prof. Marsigit itu sendiri dengan elegi-eleginya dalam bolg ini, dan secara tidak sadar juga setidaknya ternyata kita sudah menjadi orang tua berambut putih juga berupa ilmu-ilmu yang kita paparkan dalam komen di blog ini yang didaptkan setelah kita merefleksi dari setiap elegi dari beliau. Sehingga secara tak sadar menurut saya upaya beliau dalam memfasilatator kita untuk memerdekan fikiran juga setidaknya terwujud karena setelah kita membaca elegi-elegi beliau kita mendapati sebuah refleksi pemikiran besar dan bermanfaat untuk kita fikirkan secara kritis dalam upaya sadar dalam memikirkan segala yang dan yang mungkin ada. Kedepannya menjadi tugas kita bersama untuk mempertanggung jawabkan masing-masing ilmu yang kita dapatkan dari elegi beliau untuk diimplementasikan dalam kehidupan kita setiap harinya agar fungsi belajar filsafat sebagai proses refleksi diri benar-benar diterapkan tidak hanya dalam komen di blog ini melainkan juga disetiap ruang dan waktu yang kita jalani setiap harinya agar kita tidak serta merta terjebak dalam mitos dan jebakan filsafat itu sendiri dalam artian tidak belajar filsafat hanya karena keharusan sebagai mata studi yang sedang ditempuh melainkan belajar filsafat sebagai kebutuhan primer dalam menjalani kehidupan .Terima kasih Prof. Marsigit

    ReplyDelete
  34. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Membuat siswa mengetahui dan memahami apa yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah merupakan salah satu tugas guru yang paling penting. Dalam hal ini guru mempunyai kekuasaan besar di kelas. Maka godaan terbesar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaannya yang tidak tepat ruang dan waktu. Sesungguhnya barang siapa yang menyalahgunakan kekuasaan, dia tergolong dalam kategori orang-orang yang berbuat dholim. Oleh karena itu, harus lah kita menjalankan tugas kita dengan baik, jangan sampai menyalahgunakan kekuasaan. Jangan sampai karena kita merasa mempunyai kekuasaan kemudian kita memaksakan kehendak kita sebagai guru sehingga siswa harus mengikuti semua yang kita instruksikan. Siswa perlu diberi kesempatan untuk membangun pengetahuannya. Karena tujuan pendidikan tidak semata-mata hanya nilai di atas kertas saja, namun tujuan jangka panjang dimana siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya. Wallahua’lam..

    ReplyDelete
  35. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Perlu di sadari bahwa objek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, setiap hal yang ada dan yang mungkin ada merupakan filsafat, diri kita dan semua adalah filsafat, maka bahayanya filsafat itu manakala di pelajari setengah-setengah, dan tidak sesuai ruang dan waktunya, maka sebenar-benar filsafat adalah terus belajar dan belajar.

    ReplyDelete
  36. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Filsafat itu adalah refleksi, maka filsafat ilmu adalah refleksi terhadap ilmu tersebut, maka sebenar-benar menuntut ilmu adalah manakala kita mampu merefleksikannya, sedangkan filsafat adalah sebaai pengontrolnya. dan kaitanya filsafat dengan agama ialah bahwa filsafat itu olah pikir. sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatiku. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

    ReplyDelete
  37. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Suatu saat kita harus bisa berdiri sendiri dan jika bisa mengkonstruk ilmu sendiri. Agar ilmu yang kita dapat terus berkembang dan berguna untuk anak cucu kita nanti. Diharapkan kita mempunyai bekal yang memadai setelah ini. Melanjutkan pengetahuan dengan menyebarkannya. Pengetahuan tidak lain berasal dari pola pikir. Bagaimana bersikap dan berperilaku. Sudah selayaknya ilmu menjadikan diri kita bijaksana.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  38. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Seperti orang tua berambut putih yang meninggalkan elegi. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kejadian tidak bisa dikatakan bertemu jika tidak ada kata berpisah. Itu merupakan hukum alam yang tidak dapat diubah. Seorang guru harus mampu untuk berpisah dengan muridnya. Perpisahan tidak selalu merupakan hal sedih. Dalam sebuah perpisahan selalu ada harapan yang tersampaikan. Seperti bapak Marsigit yang berpisah dengan mahasiswanya dengan harapan agar mahasiswanya dapat berkembang dan meraih masa depan yang diharapkannya.

    ReplyDelete
  39. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Filsafat meliputi semua yang ada dan mungkin ada. Oleh karena itu, tanpa kita sadari hidup kita penuh dengan filsafat. Keberadaan kita ada filsafat. Apa yang kita lihat, apa yang kita lakukan itu ada, berarti itu juga filsafat. Kita punya teman, sahabat, mereka ada maka mereka juga filsafat. Maka dariitu, setiap sisi yang kita lalui adalah filsafat.

    ReplyDelete
  40. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  41. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Kebenaran filsafat tergantung pada ruang dan waktu. Keberadaan filsafat adalah untuk menjadi saksi. Filsafat penuh dengan jebakan. Ketika kita mempelajari sesuatu dengan tujuan tertentu, tujuan tercapai tapi ilmu yang dipelajari tidak diamalkan, maka itu salah satu bentuk jebakan filsafat. Oleh karena itu, dalam hidup penuh fisafat ini kita harus berhati-hati agar tidak terkena jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  42. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    filsafat adalah pikiran kita. Filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinan kita, sehingga filsafat itu tidak termasuk agama karena tidak hanya mencakup pikiran kita, tetapi juga hati kita. olah pikir tersebut melibatkan berbagai dimensi, baik dimensi ruang maupun dimensi waktu. Filsafat menkaji hal yang mungkin dan tidank mungkin. Meski pun belajar filsafat itu sulit, tapi filsafat akan memberikan manfaat bagi mereka yang mampu memahaminya. Filsafat adalah suatu hasil olah pikir. Filsafat adalah hasil refleksi. Refleksi hanya dapat diketahui dari kajian metafisik. Metafisik adalah menjelaskan akan segala sesuatu.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id