Oct 21, 2012

Elegi Mendengarkan Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf




Oleh Marsigit

Marsigit:
Wahai sang Filsuf, mengapa engkau sekarang betul-betul menangis dan juga sekaligus bernyanyi?


Para Filsuf:
Karena memikirkan ulah Dirimu dan Murid-muridmu.

Marsigit:
Lho kenapa? Memang apa yang salah pada Diriku dan Murid-muridku?

Para Filsuf:
Engkau terancam Gagal dan Murid-murid terancam Terperangkap di Ruang dan Waktu gelap

Marsigit:
Saya tidak begitu jelas?

Para Filsuf:
Saya memaklumi bahwa Belajar Filsafat tidak mudah, karena sifat Intensif dan Ekstensif. Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Jika tidak mau membaca Pikiran Para Filsuf maka Tidak Akan Memperoleh Apapun kecuali Dirimu dan Murid-muridmu akan menjelma menjadi seorang Reduksionis terbesar di dunia. Padahal sebenar-benar orang paling berbahaya di dunia adalah seorang Reduksionis yang Determinis. Wahai Marsigit, apakah kemudian yang engkau lakukan terhadap murid-muridmu?

Marsigit:
Oh maaf Para Filsuf. Aku telah menciptakan Elegi-elegi dan Forum Tanya Jawab dengan harapan agar Murid-muridku memulai membaca Filsafat. Aku berusaha membelajarkan Filsafat dengan Metode Filsafat. Aku berusaha memfasilitasi agar Murid-muridku MAMPU MEMBANGUN FILSAFATNYA MASING-MASING dengan Ikhtiarnya masing-masing. Oleh karena itu maka Perkuliahan juga saya Dukung dengan On Line menggunakan Web Blog.

Para Filsuf:
Bagaimana hasilnya?

Marsigit:
Saya menyaksikan banyak diantara Muridku mengalami kemajuan pesat; mereka mengalami perkembangan yang sungguh mengagumkan karena telah mampu mengembangkan metode berpikir Filsafat. Walaupun saya juga menyaksikan beberapa diantara mereka Terjebak masih membuat komen-komen yang kelihatannya kelihatannya belum Ikhlas. Saya menemukan juga bahwa ada sebagian kecil Murid-muridku Terjebak di Ruang dan Waktu Gelap.Seiring dengan semakin Singkatnya Waktu dan Sempitnya Ruang, saya menemukan beberapa murid-muridku Belum Sempat membaca Pikiranmu sehingga menjelmalah dia menjadi Reduksionis besar. Lalu kenapa Engkau menangis?

Para Filsuf:
Itulah, saya menangis karena saya menemukan semakin banyak Murid-muridmu menjadi Reduksionis dan determinis. Dan engkau juga terancam sebagai reduksionisme. Ketahuilah bahwa BERFILSAFAT TANPA MEREFER ATAU MENGACU KEPADA PIKIRAN PARA FILSUF, SUNGGUH TIADA NILAI KEBANARAN DI SITU. MAKA HASILNYA SANGAT KONTRAPRODUKTIF DAN JUSTRU MALAH BERBAHAYA KARENA AKAN TERCIPTA SEBAGAI SEORANG DITERMINIS.

Marsigit:
Saya sudah mengatakan kepada Murid-muridku bahwa Elegi-elegi itu hanyalah Pendahuluan. Sedangkan Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Sumber terbaik membaca Pikiran Para Filsuf adalah Buku-buku Karya-karyamu. Sedangkan saya sebetulnya sudah menulis banyak Pikiran-pikiranmu secara Implisit di dalam Elegi-elegi.Namun ingin saya sampaikan bahwa tiada seorangpun terbebas dari Reductionisme dan determinisme. Apakah yang demikian berlaku juga bagimu guru?

Para Filsuf:
Oh iya cerdas pula wahai engkau Marsigit. Lalu kenapa semakin banyak Muridmu terancam menjadi Reduksionist dan Determinis besar? Inilah sebenar-benar pertanyaanku yang akan menggoda dirimu?

Marsigit:
Jika engkau saja bisa terkena Determinisme dan Reduksionis apalagi murid-muridku. Apalagi sebagian besar dari Murid-muridku juga belum sempat membaca Elegi-elegi. 

Para Filsuf:
Reduksionis Besar adalah jika SERTA MERTA DENGAN ENAKNYA TANPA MEMIKIRKANNYA DAN MENGGUNAKAN BACAAN YANG RELEVAN, TELAH MEMBUAT PERNYATAAN ATAU MELAKUKAN KLAIM. Dan itulah yang aku saksikan yang sedang dan akan menimpa pada Murid-muridmu.

Marsigit:
Oh maaf para Filsuf. Itu semua dikarenakan Dosa-dosaku. Aku menemukan bahwa tidak hanya murid-muridku, sedangkan diriku juga terjebak dalam DETERMINISME dan REDUKSIONISME, dengan memerintah agak memaksa murid-muridku untuk membaca Elegi-elegi. Aku telah sangat berdosa kepada Murid-muridku karena telah melakukan beberapa Test Jawab Singkat. Dengan Test Jawab singkat itulah aku telah melakukan Reduksi-reduksi Filsafat. Bahkan aku sempat Tayangkan hasilnya di dalam Blog ini. Namun sebenarnya sudah aku sampaikan kepada Murid-muridku bahwa Sangatlah Berbahaya Menjawab Singkat Filsafat itu, karena bisa terancam menjelma menjadi Reduksionis Salah Ruang dan Waktu. Agar Murid-muridku betul-betul mempunyai kesempatan Membaca Buku Filsafat yang bersisi Pikiran-pikiranmu, saya sudah Memberi Tugas Membuat Makalah sebagai Tugas Akhir. Lalu, kenapa engkau masih menangis?

Para Filsuf:
Engkau hanya melihat Air Mataku saja yang mengalir di pipiku. Sebetulnya setelah menangis aku juga tersenyum. Tidak hanya itu, dan itulah salah satu kemampuanku bahwa aku bisa menangis dan sekaligus tersenyum. Aku menangis jika menemukan Murid-muridmu menjelma menjadi Reduksionis dan Determinis ulung. Sedangkan Aku tersenyum jika menemukan Murid-muridmu menjelma menjadi Reduksionis dan Determinis ulung.

Marsigit:
Lho kok saya jadi bingung. Engkau menangis dantersenyum dikarenakan hal yang sama yaitu menemukan Reduksinist dan Diterminis ulung. Bagaimana ini?

Para Filsuf:
Yang aku tangisi adalah Reduksionis dan Determinis dengan RUANG DAN WAKTU SALAH/BURUK.
Yang aku banggakan adalah Reduksionis dan determinis dengan RANG DAN WAKTU BENAR/BAIK.
Aku menyaksikan bahwa Elegi-elegimu sungguh bisa menjadi sarana bagi murid-muridmu agar terbebas dari Determinisme buruk. Amin

37 comments:

  1. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Untuk membangun filsafat, masing-masing orang perlu mengacu kepada para filsuf. Filsafat merupakan olah pikir, apabila kehidupan tidak menggunakan pikiran apa yang akan terjadi. Berfilsafat merupakan olah pikir yang reflektif, artinya dapat dikembangkan dengan suatu pertanyaan mengapa, apa, bagaimana, dimana, seperti apa, dll. Agar kita dapat berfilsafat dengan benar dan terarah itu harus disesuaikan dengan konteksnya. Oleh karena itu terdapat beberapan aliran filsafat yang berbeda-beda disesuaikan dengan cara pandang seseorang atau sekelompok orang. Berfilsafat haruslah dimulai dengan kesadaran. Dengan kesadaran kita dapat mengenal dimensi ruang dan waktu. Husserr berpendapat supaya bisa menembus ruang dan waktu harus bisa melakukan idealisasi dan abstraksi. Maka belajar filsafat perlu suatu kekontinuan dalam membaca dan memahami pikiran para filsuf baik secara langsung maupun tidak.

    ReplyDelete
  2. Bismillah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Berfilsafat yaitu kegiatan mengintesifkan dan ekstensifkan semua obyek filsafat yang ada dan yang mungkin ada. Nantinya diperjalanan, timbul reduksionisme atau determinis yang sejatinya tidak selalu negative. Hal tersebut bisa mengarah pada hal positive jika diletakkan pada dimensi ruang dan waktu yang benar.
    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  3. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Saya tertarik dengan pernyataan ini:
    “Berfilsafat Tanpa Merefer Atau Mengacu Kepada Pikiran Para Filsuf, Sungguh Tiada Nilai Kebanaran Di Situ. Maka Hasilnya Sangat Kontraproduktif Dan Justru Malah Berbahaya Karena Akan Tercipta Sebagai Seorang Diterminis”.

    Menurut saya, dalam melakukan segala aktivitas termasuk menuntut ilmu, harus ada kepemimpinan berpikir yang akan mengatur segala tingkah lakunya. Adapun sebagai seorang muslim, maka sudah selayaknya menjadikan akidah islam sebagai kepemimpinan berpikir, agar tidak mengalami “jebakan filsafat” dan menjadi seorang “determinis” serta ilmu pengetahuan itu sendiri yang bertentangan dengan nilai-nilai islam.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  4. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Belajar filsafat tidak bisa secara instan. Apalagi baru mengenal filsafat, ikhlas dalam hati dan pikiran untuk memahami pemikiran para filsuf yang membangun paham filsafatnya sangatlah tidak mudah. Butuh proses dan waktu yang panjang. Sehingga belajar filsafat itu seumur hidup. Bahasa yang digunakan juga harus diproses dan dicerna dengan baik apa maksud dari tulisan tersebut. Karena bisa menjadi salah persepsi.

    ReplyDelete
  5. Vety Triyana K
    13301241027 / P. Matematika I 2013

    Dari elegi di atas saya dapat menyimpulkan bahwa mempelajari suatu ilmu khususnya ilmu filsafat, manusia haruslah banyak berikhtiar dengan membaca sumber - sumber filsafat atau menggunakan sarana - sarana yang berkaitan dengan filsafat secara ikhlas. Karena jika tidak maka akan menghasilkan manusia yang kontraproduktif dan determinis. Pesan dari elegi ini adakah agar kita senantiasa mau belajar dan membaca banyak sumber filsafat yang telah difasilitasi oleh dosen maupun buku - buku filsafat lainnya.

    ReplyDelete
  6. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Tangisan dan nyanyian para filsuf. Menurut saya, menangis dan menyanyi itu menganalogikan tentang kesedihan dan kegembiraan para filsuf. Filsuf akan bersedih, jika apa yang menurutnya baik, dan untuk kebahagiaan setiap manusia dalam kehidupannya, namun tak ada yang mengamalkannya. Sedangkan filsuf akan gembira jika apa yang menjadi pemikirannya berguna bagi banyak umat manusia.
    Dalam elegi mendengarkan tangisan dan nyanyian para filusuf, dapat saya petik hikmah. Betapa pentingnya belajar filsafat itu. Karena manfaatnya sangat luar biasa dalam kehidupan kita, agar kita tidak dibodoh-bodohi oleh orang lain. Belajar filsafat salah satunya adalah dengan membaca elegi-elegi yang profesor posting.Luar biasa sekali dengan adanya elegi ini. Sehingga kita sebagai mahasiswa dalam belajar filsafat tidak hanya terpaut dan terpaku oleh 2 sks saja, namun bisa banyak sks yang bisa kita lakukan dan pelajari. selain itu dalam upaya penugasan mengomentari ini juga menjadi ladang kita untuk belajar menanam benih benih keikhlasan yang akan kita tuai ketika waktunya nanti.

    ReplyDelete
  7. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Salam hormat Prof, terimakasih telah memfasilitasi para mahasiswa dengan adanya blog ini karena dengan membacanyalah kami akan tahu tentang berbagai macam ilmu pengetahuan dalam filsafat, belajar bagaimana menyampaikan pikiran yang ada pada setiap individu, belajar bagaimana berpikir kritis, berefleksi dan menumbuhkan rasa keikhlasan. Semoga para mahasiswa akan tetap menjadikan kegiatan membaca ini, sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi pembentukan filsafat dalam diri setiap individu.

    ReplyDelete
  8. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Membaca elegi ini, saya merasa apakah saya juga termasuk dalam "Reduksionis yang Determinis", tidak paham tapi mengaku paham, tidak mengerti tapi mengaku mengerti, tidak ikhlas tapi mengaku ikhlas. Menuliskan komentaar seolah-seolah hasil pikiranku sendiri. Mungkinkah saya juga mengalami jebakan filsafat? Sumber yang saya dapat untuk memahami pikiran para filsuf dalam berfilsafat adalah melalui tulisan elegi dalam blog ini. Sebenarnya saya juga sudah berusaha membaca sambil memaknai apa yang saya baca, terkadang kesimpulan yang saya ambil terkadang determinist. Kesalahan saya juga terkadang saya belum menemukan sumber yang pas selain elegi Prof. Marsigit. Surfing di internet yang ada saya membaca bacaan Reduksionis yang Determinis yang lain. Apakah saya telah memberikan jargon pada tulisan orang lain?

    ReplyDelete
  9. ERFIANA NUR LAILA
    13301244009
    Pendidikan Matematika C 2013

    Mempelajari filsafat dapat kita lakukan dengan cara banyak membaca dan mempelajari pikiran-pikiran yang diutarakan oleh para filsuf. Karena sejatinya belajar filsafat adalah belajar memahami pikiran diri sendiri dan orang lain, maka kita juga jangan sampai termakan oleh ruang dan waktu sehingga menjadikan pemikiran kita terhadap sesuatu akan timbul hanya dengan sudut pandang kita sendiri saja, kita juga jangan sampai termakan oleh ego kita sendiri sehingga akhirnya kita mendewakan pikiran kita ketimbang mempercayai Sang Maha Ilmu, Allah SWT, Semoga Allah senantiasa memberikan kejernihan pikiran dan kelembutan hati kepada kita semua.

    ReplyDelete
  10. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematik C 2013

    Segala sesuatu itu terkadang menjadi baik dan terkadang menjadi buruk sesuai dengan ruang dan waktu. Sebagaimana menjadi reduksionis dan determinis bisa menjadi buruk ketika dilakukan dalam ruang dan waktu yang salah dan menjadi baik ketika dilakukan dalam ruang dan waktu yang benar. Oleh karena itulah kita tidak boleh mengklaim sesuatu jika hanya melihat dari satu sisi karena bisa jadi ada tangisan yang bersamaan dengan senyuman, karena bisa jadi ada amarah dalam tawa. Karena itulah sebagai manusia tugas kita adalah belajar belajar dan belajar disertai dengan keikhlasan hati agar terus dapat menjadi pembelajar yang lebih baik.

    ReplyDelete
  11. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Belajar filsafat dengan membangun filsafat dalam diri lebih efektif dibandingkan dengan belajar filsafat melalui pemaparan yang luas di kelas. Membaca elegi-elegi bisa dijadikan pendahuluan atau pondasi seseorang untuk mempelajari filsafat lebih dalam lagi, khususnya filsafatnya para filsuf. Namun, seseorang harus berhati-hati dengan dua keadaan yaitu reduksionis dan determinis. Tidak boleh asal dalam berfilsafat, semua harus berdasarkan pemikiran para filsuf agar kita tidak mengalami kesalahan.

    ReplyDelete
  12. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Seseorang dikatakan determinis apabila ia berfilsafat tanpa merujuk atau mengacu kepada pikiran para filsuf sehingga pada hasilnya tiada nilai kebenaran dan akan sangat kontraproduktif. Sedang reduksionis adalah jika seseorang dengan seenaknya membuat pernyataan atau melakukan klaim tanpa memikirkannya dan menggunakan bacaan yang relevan. Tiada seorang pun yang dapat terhindar dari determinisme dan reduksionis. Maka kita harus menempatkan reduksionis dan determinis sesuai ruang dan waktu yang benar/baik dengan cara memperbanyak membaca Pikiran Para Filsuf.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  13. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Dari elegi mendengar tangisan dan nyanyian para filsuf, bahwa mendengar tangisan para filsuf menggambarkan bahwa banyak dari kita yang masih tidak bisa memahami maksud dari pikiran-pikiran para filsuf bahkan banyak dari kita juga terancam menjadi Reduksionist dan Determinis. Sedangkan mendengar nyanyian para filsuf menggambarkan bahwa masih ada diantara kita yang berusaha untuk mempelajari dan mengerti pikiran-pikiran mereka.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  14. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Berfilsafat memang membutuhkan proses yang tidak mudah. Apalagi untuk dapat berproses dengan ikhlas. Sebenarnya banyak sekali yang bisa dipetik dari berfilsafat dan juga membaca elegi-elegi. Menurut saya, elegi-elegi yang ada memberikan berbagai pelajaran hidup, menempatkan segala sesuatu dalam ruang dan waktu yang sesuai, bahkan seringkali mengingatkan untuk meningkatkan kualitas beragama. Banyak sekali elegi yang menumbuhkan kesadaran kita sebagai makhluk yang terbatas sehingga harus senantiasa memohon pertolongan Allah serta meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Terimakasih Prof, telah memfasilitasi kami untuk belajar berfilsafat dan juga berbagai macam ilmu yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kami. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mahasiswa, termasuk saya masih memiliki berbagai keterbatasan dalam proses belajar, terlebih masih sering tidak merefer pikiran para filsuf dalam berfilsafat seperti yang diharapkan. Semoga kita semua dapat berfilsafat dengan ikhlas dan selalu menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  15. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Prof.Marsigit tentu menulis elegi berdasar ilmu-ilmu yang sudah diuji kebenarannya. Memang benar adanya bahwa dalam berpendapat akan ilmu filsafat hendaknya mencantumkan referensi dari para tokoh untuk menghindari plagiasi, meskipun kita tidak menuliskan secara utuh namun menulis ulang dengan kalimat sendiri, tetap saja itu adalah pikiran orang lain.

    ReplyDelete
  16. Filsafat merupakan ilmu yang memerlukan pemahaman yang mendalam berdasarkan sumber-summber filsafat yang telah ada. Belajar memahami pikiran para filsuf yang merupakan pikiran diluar pikiran kita bisa saja memiliki dimensi ruang dan waktu yang berbeda berdasarkan perspektif masing-masing. Elegi-elegi yang ditulis diharapkan dapat membimbing mahasiswa untuk mencapai pemahaman tentang filsafat. Namun tiap individu mempunyai dimensi ruang dan waktu tersendiri dalam memahami filsafat tersebut sehingga terbentuklah pemahaman filsafat masing-masing. Berdasarkan komentar-komentar yang ditulis kemudian dapat dianalisa sejauh mana mahasiswa memahami tentang filsafat sehingga mereka bisa digolongkan dalam reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu yang salah/buruk atau sebagai reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu yang benar/baik.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  17. Aprisal
    16709251019
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Assalamu Alaikum Wr.Wb

    Berfilsafat adalah olah pikir, namun dalam mengolah pikir harus mengacu atau merujuk pada pandangan para filsuf karena filsafat adalah pikiran para filsuf. Oleh karena itu dalam perkuliahan filsafat dengan berbagai fasilitas yang disediakan, refrensi yang bermutu dan berkualitas, maka sebaik-sebaiknya mahasiswa adalah mahasiswa yang mampu mengolah pikiran dan hatinya dengan baik. Hal ini akan tercermin salah satunya adalah dengan membuat komen yang bermutu dan harus dilandasi dengan rasa ikhlas, karena dengan keihklasan akan tercipta pemikiran yang jernih.

    Waalaikum salam wr.wb

    ReplyDelete
  18. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Berfilsafat haruslah dimulai dengan kesadaran, dengan kesadaran kita dapat mengenal dimensi ruang dan waktu. Husserr berpendapat supaya bisa menembus ruang dan waktu harus bisa melakukan idealisasi dan abstraksi. Maka belajar filsafat perlu suatu kekontinuan dalam membaca dan memahami pikiran para filsuf baik secara langsung maupun tidak. Bahasa yang digunakan juga harus diproses dan dicerna dengan baik apa maksud dari tulisan tersebut, Karena bisa menjadi salah persepsi dalam memaknai sebuah filsafat.

    ReplyDelete
  19. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Mendengar tangisan para filsuf menggambarkan bahwa banyak dari kita yang masih tidak bisa memahami maksud dari pikiran-pikiran para filsuf bahkan banyak dari kita juga terancam menjadi Reduksionist dan Determinis. Sedangkan mendengar nyanyian para filsuf menggambarkan bahwa masih ada diantara kita yang berusaha untuk mempelajari dan mengerti pikiran-pikiran mereka. Oleh karena itu terdapat beberapan aliran filsafat yang berbeda-beda disesuaikan dengan cara pandang seseorang atau sekelompok orang. Berfilsafat haruslah dimulai dengan kesadaran, dengan kesadaran kita dapat mengenal dimensi ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  20. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Belajar filsafat bukanlah hal yang dapat digapai dengan mudah karena diperlukan proses dan waktu yang relatif lama. Tidak hanya itu, kemampuan memahami makna tersirat dan penggunaan bahasa analogi yang tinggi dari filsafat itu sendiri yang sering menjadi masalah bagi saya sebagai mahasiswa sehingga memaksa saya harus melakukan reduksi dan determinis dalam mengutarakan pendapat saya di kolom komentar. Karena itu perlunya pemahaman yang lebih intensif dan ekstensif dalam berfilsafat dengan makin banyak membaca sumber-sumber bacaan yang memuat pemikiran para filsuf.

    ReplyDelete
  21. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Tangisan dapat diartikan dengan kesalahan paham, nyanyian dapat diartikan dengan kebenaran paham. Dalam salah satu pertemuan perkuliahan filsafat, Bapak Prof. Dr. Marsigit, MA pernah berkata seperti ini “Bahayanya mempelajari filsafat setengah-setengah”. Artinya, kita akan lebih mudah terjebak dalam “jebakan filsafat” apabila kita mempelajarinya tidak tuntas terlebih lagi apabila tidka ikhlas.
    Filsafat sudah rumit, jika ditambah dengan ketidak ikhlasan, akan jadi lebih rumit. Ikhlas dalam belajar agar kita tidak ter-kategori dalam kesalahan pahaman dan menyebabkan “tangisan” para filsuf.

    ReplyDelete
  22. Achmad Rasyidinnur
    16701251032
    PEP S2 B

    “Berfilsafat tanpa merefer atau mengacu kepada pikiran para filsuf, sungguh tiada nilai kebanaran di situ. Maka hasilnya sangat kontraproduktif dan justru malah berbahaya karena akan tercipta sebagai seorang diterminis”. Baru kali ini seumur hidup membuat tulisan dan komentar di blog tentang filsafat. kadang ada rasa negatif, namun Alhamdulillah ada rasa syukur atas apa yang sudah dipelajari dari banyaknya elegi-elgi yang ada. Memang saat memahami elegi-elegi secara implisit dari pikiran-pikiran filsuf tidak mudah, bahkan dikhawatirkan berakibat determinis (ketetapan/dipercaya) dan reduksionis (ketidakpahaman utuh) yang kurang utuh. Namun terus dicoba, mudahan dengan usaha akan dimudahkan dan dipahamkan.

    ReplyDelete
  23. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Jika tidak mau membaca Pikiran Para Filsuf maka Tidak Akan Memperoleh Apapun kecuali Dirimu dan Murid-muridmu akan menjelma menjadi seorang Reduksionis terbesar di dunia. Sehingga jika ingin memahami mengenai filsafat maka bacalah, bacalah dan bacalah pikiran para filsafat yang telah dituangkan oleh Pak Marsigit pada blog ini melalui elegi-eleginya.

    ReplyDelete
  24. Yazid Fathoni
    NIM 13301241076
    Pendidikan Matematika C 2013

    Menakutkan sekali jika kita menjadi menjadi seorang yang reduksionis yaitu orang yang serta merta dengan enaknya tanpa memikirkannya dan menggunakan bacaan yang relevan, telah membuat pernyataan atau melakukan klaim. Padahal kita telah diberikan pikiran oleh Allah SWT setidaknya kita dapat memikirkannya sebelum memberikan pernyataan atau melakukan sebuah klaim.

    ReplyDelete
  25. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016




    Untuk dapat menggapai manfaat dari filsafat, jangan setengah-setengah ketika mempelajari filsafat. Ketika kamu hanya setengah-setengah dalam mempelajari filsafat, maka kamu akan mudah goyah dan terhasut oleh determinan dan reduksionis buruk. Oleh karena itu, sebenar-benarnya filsafat adalah kegiatan refleksi diri untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik sesuai kehendakNya.

    ReplyDelete
  26. Bismillah
    RatihKartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016

    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Tangisan para filsuf tidak lepas bagaimana pendapat orang yang mempelajari filsafat secara setengah setengah. Maka dari sini kita dimotivasi untuk terus semangat belajar agar kita bisa mempelajari filsafat secara koheren sehingga kita bisa menjelaskan perkara perkara dengan baik.



    Terimakasih.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  27. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Mempelajari filsafat tidaklah mudah. Diperlukan ketekunan, pikiran dan hati yang ikhlas. Dalam filsafat sendiri kita mempelajari pikira-pikiran para filsuf, bagaimana para filsuf memandang dunia. Namun untuk memahami sepenuhnya pikiran mereka tentunya tidak mungkin. Karena kita memiliki keterbatasan, sehingga kita hanya bisa mereduksi ilmu yang kita peroleh. Dari ilmu tersebutlah kita membangun filsafat dari dalam diri kita, bagaimana diri kita sendiri memandang apa itu filsafat.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  28. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Berkomentar pada lumpulan materi-materi yang sudah tertulis di dalam blog ini merupakan usaha atau cara kita dalam mempelajari filsafat. Akan tetapi itu ssaja tidak cukup karena kita harus mengembangkan olah pikir itu sendiri. Ketika kita tidak mengembangkan olah pikir kita maka kita bisa saja bersifat “reduksionis dan determinis”. Hal itu harus kita hindari karena itu tidak baik.

    ReplyDelete
  29. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Bahwa sebaik-baik diri kita adalah yang mampu mengambil hikmah dan ikhlas dan menuntut ilmu. Tiadalah berguna ilmu itu jika tidak dapat mengambil hikmah yang baik dalam ilmu itu kemudian diamalkan. dan Tiadalah berguna ilmu itu jika tidak mampu dituntut dengan ikhlas kemudian diamalkan pula dengan berat hati. Maka sebaik-baik orang yang menuntut ilmu itu adalah mereka yang memapu menemukan hikmah dan dan mempelajarinya dengan ikhlas. Lalu kemudian mengamalkan ilmu itu.

    ReplyDelete
  30. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Tangisan para filsfuf adalah ungkapan kesedihan para filsuf karena kebanyakan dari kita kurang mampu memahami atau merefleksikan kembali pemikiran para filsuf dengan olah pikir kita, sehingga kita terjebak dalam ruang dan waktu yang buruk. Sedangkan nyanyian para filsuf adalah ungkapan rasa haru para filsuf karena kita masih tetap berusaha untuk memahaminya untuk membangun filsafat kita sendiri agar bisa berada di ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  31. martin/Rwanda
    PPS2016PEP B
    It is easy to understand the meaning of philosopher if we read the elegi writwn above.a person who offers views or theories on profound questions in ethics, metaphysics, logic, and other related fields.

    ReplyDelete
  32. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    sebenar-benar dalam belajar dan berfilsafat adalah keikhlasan, tidak akan didapat ilmu itu apabila tidak ikhlas, maka begitu pula halnya dalam membaca elegi-elegi di atas haruslah dengan ikhlas supaya ilmu yang kita dapat bermanfaat dan menjadi bekal untuk memahami filsafat yang pada intinya merupakan pikiran para fisuf. sedangkan apa yang kita dapat dalam belajar pada elegi-elegi di blog ini merupakan fondasi awal untuk memahami pemikiran para filsuf.

    ReplyDelete
  33. Nira Arsoetar
    16709251018
    PPS UNY Pendidikan Matematika
    Kelas A

    Untuk mampu mempelajari dan memahami filsafat diperlukan proses dan waktu, tidak dapat secara instan. Bagi kami para pemula, perlu adanya suatu pengemasan yang menarik agar filsafat mudah dipahami dan tidak membosankan. Sesungguhnya makna tersirat dan penggunaan bahasa yang tingkat tinggi itulah yang membuat para pemula merasa kesulitan memahami filsafat. Para filsuf pun berjuang keras untuk memahamkan filsafat-filsaftnya. Kemudian para filsuf menyanyi mungkin karena masih ada orang yang mau belajar filsafat dengan ikhlas meskipun awalnya sulit untuk bisa ikhlas, karena usaha yang optimal akhirnya bisa terbangun filsafat dalam dirinya.

    ReplyDelete
  34. Taofan Ali Achmadi
    16701251001
    PPs PEP B 2016

    Belajar tidak akan pernah lepas dari yang namanya kesalahan karena orang yang belajar berangkat dari ketidaktahuan. Maka kesalahan dalam belajar itu sesuatu yang baik menurut saya karena hal sedemikian itu mencirikan orang yang mendekati kepahaman karena kesalahan bagi orang yang sedang belajar dijadikan sebgai pengalaman dan pengalaman yang seperti dimadsukan ini adalah guru terbaik dalam belajar.

    ReplyDelete
  35. Defy Kusumaningrum
    13301241022
    Pendidikan Matematika A

    Hal yang saya tangkap dari elegi ini adalah prof.Marsigit berusaha untuk membelajarkan filsafat dengan cara filsafat. Maksudnya adalah prof ingin agar mahasiswa membangun filsafatnya sendiri dengan menyajikan elegi-elegi yang secara implisit berisi tentang pikiran para filsuf. Akan tetapi seperti telur ayam yang tidak semuanya menetas, ada mahasiswa yang masih enggan membaca elegi-elegi ini. Mereka memberikan komentar dengan keterpaksaaan sebagai cara untuk mendapatkan nilai. Sehingga mereka menjadi manusia yang Reduksionis.

    ReplyDelete
  36. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Filsuf hanyalah manusia biasa yang punya cipta, rasa dan karsa. Mereka saya pikir punya tujuan baik bagaimana orang lain bisa menikmati dunia ini seperti yang mereka rasakan, walaupun cara menikmatinya berbeda-beda. Mereka memiliki ide-ide yang briliant dalam hal-hal yang bersifat identitas atau hal-hal yang bersifat kontradiksi. Seiring berubah ruang dan waktu, saat itu pula kadang penafsiran terhadap ide-ide mereka itu dibiaskan bahkan paling ekstrim ditolak karena mungkin dianggap tidak sesuai dengan jalan pikirannya. Yang paling dikhawatirkan oleh para filsuf sampai mereka harus meneteskan air mata adalah munculnya orang-orang yang berpikiran Reduksionist dan Determinis. Ada sisi lain yang membuat para filsuf itu bisa sedikit lega hati, dengan mereka menyanyikan lagu-lagu yang menyentuh, betapa pikiran-pikiran mereka masih ada orang-orang yang mau memikirkannya lagi sehingga pikirannya akan terus menjadi bahan perbincangan baik oleh orang yang pro maupun kontra. Para Filsuf telah melakukan sesuatu yang sepantasnya yang bisa mereka lakukan sebagai penghuni ruang dan waktu. Sekarang pertanyaannya apakah kita sudah mempersiapkan sesuatu sebagai bukti bahwa kita pernah berada pada ruang dan waktu itu.

    ReplyDelete
  37. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Sejak awal Pak Marsigit sudah memberikan warning jika filsafat itu pemikiran dan berdasarkan pemikiran para filsuf. Jika tidak berdasarkan pemikiran para filsuf, dikhawatirkan kita menjadi Reduksionis terbesar di dunia. Hanya akan menjadi seperti fatamorgana saja. Yang terakhir itu kesimpulan saya.
    Menurut saya bukan berarti kita harus saklek. Karena filsafat itu diri sendiri. Menurut saya, maksud Pak Marsigit adalah filsafat memang berdasarkan pemikiran para filsuf. Namun yang menginterpretasikan dan mempelajarinya adalah diri sendiri, bagi diri sendiri, berdasarkan pemikiran para filsuf. Jadi filsafat itu diri sendiri berdasarkan pemikiran-pemikiran para filsuf. Mungkin agak sulit dipahami.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id