Feb 12, 2013

Forum Tanya Jawab 63: Bagaimana Siswa Bisa Menentukan Kurikulum?


Oleh Marsigit

Ass, bagaimana mungkin seorang siswa ikut menentukan Kurikulum? Ah suatu pertanyaan atau ide yang mengada-ada. Apakah ada seorang siswa yang mempunyai kemampuan membuat Kurikulum? Jika toh ada, apakah boleh? Dan bagaimana cara atau skemanya?

Saya ingin mengatakan bahwa kalimat "Siswa Menentukan Kurikulum" memang kalimat yang agak provokatif yang saya buat. Tetapi saya ingin menunjukkan bahwa dengan penyesuaian persepsi dan konteks tantang hakekat Kurikulum serta hakekat pembelajaran, maka substansi kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Marilah kita coba
Pertama, kita bongkar dulu persepsi dan pemahaman kita tentang apa itu yang disebut Kurikulum. Budaya dan kebiasaan kita bangsa Indonesia selama ini, memaknai Kurikulum sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Barulah setelah sempurna, Kurikulum yang dihasilkan siap diimplementasikan dengan dukungan Peraturan Perundang-undangan. Itulah kebiasaan kita selama berpuluh-puluh tahun sejak jaman Belanda.

Hasil observasi dan wawancara terhadap beberapa Guru di Inggris beberapa tahun yang lalu menunjukkan bahwa mereka mempunyai persepsi dan pemahaman yang berbeda dengan kita. Bagi mereka pengertian dan makna Kurikulum hampir menyerupai RPP atau Kurikulum tingkat sekolah. Pada saat itu memang di Inggris menganut sistem desentralisasi pendidikan, yaitu bahwa Kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing.

Karena memang saya membaca ada wacana bahwa siswa juga berperan dalam Kurikulum, saya kemudian mencari tahu di suatu sekolah SD di tenggara kota London. Guru kelas 2 (dua) yang mengajar matematika saya wawancara dan mengatakan bahwa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum. Saya ingin tahu bagaimana bisa siswa berperan dalam pengembangan kurikulum? Ternyata hal itu sangat dimungkinkan karena Kurikulum yang mereka maknai adalah Kurikulum tingkat sekolah dan tingkat pembelajaran di kelas. Pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

Kemudian saya berusaha memperdalam lagi, apakah ada aspek yang lain bagaimana siswa ikut menentukan kurikulum? Jawaban guru dan fakta yang saya temukan ternyata cukup sederhana tetapi diluar yang saya pikirkan. Kata guru "Setiap akhir pelajaran matematika, saya selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui Jenis Kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari Pelajaran Matematika minggu depan yang akan saya selenggarakan. Jawaban siswa tentu beraneka ragam, maka saya mengelompokkannya kedalam kriteria yang mungkin saya persiapkan agar bisa saya laksanakan apa yang diminta oleh siswa"

Saya melanjutkan pertanyaan "Bagaimana mungkin anda bisa melaksanakan berbagai permintaan atau tuntutan siswa dalam pbm matematika?". Serta merta guru meminta saya agar minggu depan datang lagi ke sekolah untuk melihat bagaimana guru mampu melayani berbagai kebutuhan belajar para siswanya.

Hasil observasi saya minggu berikutnya, pada Kelas II, adalah sebagai berikut:

Pertama, guru secara klasikal menjelaskan tentang kompetensi apa saja yang akan siswa peroleh dalam pbm, kemudian guru memberi petunjuk bagaimana nantinya para siswa bekerja secara kelompok.

Kedua, darisejumlah 32 siswa yang ada, kemudian guru membagi kelas menjadi 2 Kelompok Besar, masing-masing terdiri dari 16 siswa. Dari 16 siswa kelompok kedua di bagi menjadi 4 kelompok. Satu dari empat kelompok di split lagi menjadi 2 kelompokmasing-masing berangotakan 2 siswa. Jadi secara keseluruhan terdapat 6 (enam) Kelompok. Kelompok Besar terdiri dari 16 siswa. Tiga Kelompok berangotakan 4 (empat) siswa. Dan Dua Kelompok beranggotakan masing-masing 2 siswa.

Ketiga, setelah saya cermati, ternyata yang terjadi adalah Satu kelompok pertama terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Best. Satu kelompok kedua terdiri dari 2 (dua) siswa yang prestasinya the Lowest. Tiga Kelompok masing-masing terdiri dari 4 (empat) siswa denganprestasi rata-rata. Sedangkan satu Kelompok Besar yang terdiri dari 16 siswa dengan kemampuan campuran.

Keempat, di tiap meja pada Kelompok Kecil terdiri dari 4 siswa atau 2 siswa, masing-masing sudah diletakan LKS yang berbeda dengan Warna Kertas yang berbeda. Dan mereka mulai berdiskusi di dalam kelompoknya. Sementara itu Guru bergabung dengan Kelompok Besar (16 siswa) untuk memulai aktivitasnya.

Kelima, pada Kelompok Besar (16 siswa) suasana belajar di setting dengan Duduk Melingkar di Lantai, kemudian dituangkan dari dalam Keranjang barbagai macam Bangun Datar Geometri terbuat dari kayu, bermacam-macam Segitiga, Persegi, Persegi Panjang, Lingkaran, Trapesium. Dengan variasi bermacam warna yang kontras.

Keenam, ternyata Kompetensi yang ingin dicapai pada masing-masing Kelompok berbeda-beda. Pada Kelompok besar kompetensinya adalah Pengenalan Bangun Geometri. Kelompok the Best kompetensi dan LKS nya berbeda dengan Kelompok the Lowest. Demikian sehingga pada saat yang sama guru menyediakan 5 (lima) macam LKS.

Ketujuh, ketika Guru sedang asyik beraktivitas di Kelompok Besar, datanglah seorang siswa dari Kelompok the Best melaporkan bahwa dia telah menyelesaikan LKS nya. Guru kemudian menyuruh untuk melanjutkan berdiskusi dan mengerjakan LKS yang lainnya (lanjutannya) yang khusus diperuntukan untuk Kelompok the Best,dengan warna Kertas yang sama tadi.

Kedelapan, Ternyata guru juga menyediakan stok/persediaan  LKS untuk tiap-tiap Kelompok Diskusi.
Pada Kelompok Besar, guru memulai membuat contoh aktivitas dengan kalimat "I spy the Red Small Circle". Artinya "Saya ingin mengambil Lingkaran Kecil berwarna Merah". Kemudian guru mengambilnya, kemudian menunjukkan kepada para siswa, dan menyuruhnya untuk mengamati bangun Lingkaran itu.  Kemudian  Guru melemparkan kembali benda itu ketumpukan di tengah kerumunan. Demikian seterusnya guru menyuruh secara bergantian agar siswa-siswa melakukan kegiatan yang sama, dengan cara siswa yang sudah melakukan kegiatan kemudian menunjuk siswa yang lain secara acak, sampai selesai.

Setelah kembali ke University of London, saya konsultasikan dan tanyakan kepada Pembimbing, mengapa guru bisa melakukan hal demikian, maka jawabnya adalah "Pbm matematika di sini, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula". Saya lanjutkan pertanyaan saya "Lalu bagaimana mengorganisasikannya".Jawaban Pembimbing "Itulah pentingnya LKS dan Portfolio". LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Sedangkan setiap siswa perlu dilengkapi dengan Dokumen yang disebut Portfolio Siswa atau Record Keeping. Record Keeping Siswa berisi segala Dokumen yang berkaitan dengan Aktivitas dan Prestasi Siswa mengalir dari tahun ke tahun.

Setelah kembali ke Indonesia, saya menemukan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya"

Demikianlah refleksi pengalaman saya di Inggris beberapa tahun yang lalu.

Semoga bermanfaat,dan ditunggu komen-komennya.

Amin

48 comments:

  1. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Setelah saya membaca hasil observasi yang bapak lakukan di London, kurikulum di Indonesia dengan yang di London sangat jauh berbeda. Dengan kurikulum yang di terapkan di London, siswa akan lebih senang mempelajari matematika, sehingga tidak ada ketakutan terhadap matematika karena sebelum melakukan proses pembelajaran ke esokan harinya guru menanyakan siswanya tentang pembelajaran yang diinginkan oleh siswanya. Berbeda sekali dengan di Indonesia, kurikulum yang dibuat bukan berdasarkan keinginan siswa sendiri, akan tetapi berdasarkan keinginan pemerintah, sedangkan keinginan pemerintah tidak sesuai dengan keinginan siswa itu sendiri. Hal ini yang menyebabkan siswa takut dengan pelajaran matematika, karena diharuskan mencapai sesuai yang diinginkan pemerintah. Mungkin ini bisa dijadikan pelajaran oleh Indonesia, mencontoh paradigma yang di London bahwa untuk siswa yang berbeda, siwa mempelajari matematika yang berbeda, kecepatan dan kemampuan yang berbeda, waktu yang berbeda, dan hasil yang berbeda. Tidak seperti di Indonesia semuanya harus di samakan dengan kemampuan siswa yang berbeda.

    ReplyDelete
  2. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Peserta didik yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi akan memiliki kebutuhan pendidikan dan cakupan pengetahuan yang berbeda dengan yang berpemahaman rata- rata. Hal ini bisa diketahui berdasarka kegiatan belajar di kelas. Pembelajaran matematika di london, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Peran siswa disini benar-benar sebagai subyek pembelajaran dan bukan menjadi obyek. Bahkan siswa diberikan kebebasan untuk menentukan materi apa yang ingin dipelajarinya. Dengan kata lain, siswa tersebut dapat menentukan kurikulum. Sebab kurikulum yang diterapkan di Inggirs adalah kurikulum yang dapat disesuaikan tiap sekolahnya.

    ReplyDelete
  3. Rhomiy handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Kurikulum merupakan suatu hal yang penting di dalam pendidikan. Apa jadinya jika siswa sediri yang menentukan kurikulum? Disini dimaksudkan akan kebebasan siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran. Siswa bebas menentukan dan mengkontruksi hasil pemikirannya, sehingga siswa bisa mengembangkan bakat yang ada, dan guru hanya membimbing siswa itu saja. Sehingga, menurut saya, sebenarnya bagus juga jika siswa sendiri yang menentukan kurikulumnya. Dan guru dengan kompetensi yang dimilikinya mengupayakan untuk memberikan pembelajaran yang terbaik, ketika mengembangkan berbagai macam LKS ditujukan untuk siswanya yang memiliki karakter yang berbeda - beda.

    ReplyDelete
  4. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Pendidikan di Indonesia memaksa siswa untuk memiliki kemampuan yang sama. Padahal setiap siswa memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda. Terkadang ada siswa yang berminat dalam bidang antropologi, namun kurang berminat dalam bidang matematika. Tetapi dalam pendidikan di Indonesia, siswa dipaksa untuk paham terhadap matematika. Inilah yang menjadi beban bagi siswa. Belum lagi penyelenggaraan UN yang masih menuai pro-kontra. UN menurut saya kurang efektif, karena hal itu siswa siswa harus menguasai mata pelajaran yang bukan dalam ranah bakat dan minatnya dan diperparah dengan standar nilai UN yang memberatkan siswa. Pergeseran nilai pendidikan dari nilai moral dan spiritual ke dalam nilai material yang hanya berpegang kepada suatu materi pun bisa saja terjadi dan mungkin sekarang sudah terjadi. Pendidikan seharusnya membentuk akidah islam, berkepribadian islam serta menguasai IPTEK. Namun, hal tersebut di era kapitalis-sekuler sangatlah sulit untuk diwujudkan. Hanya sistem yang shahih saja yang mampu mewujudkannya. Yaitu aturan atau sistem yang berasal dari sang Khalik pemilik semesta Alam.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.






    ReplyDelete
  5. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Pendidikan matematika di Indonesia hanya memahami siswa secara klasikal. Semua siswa dipandang sama sehingga pembelajaran cenderung klasikal dan diharap hasil yang dicapai siswa sama. Padahal dalam kenyataannya, kemampuan siswa berbeda-beda. Satu hal lagi mengenai LKS, selama ini LKS sama untuk satu kelas. Ternyata hal itu tidak efektif karena kemampuan siswa berbeda. Bisa terjadi guru membuat LKS mudah maka siswa pintar sangat mudah mengerjakan sedangkan siswa yang kurang pintar merasa biasa. Bisa juga terjadi guru membuat LKS sulit, tetapi yang terjadi pada siswa kurang pintar adalah ia merasa sangat kesusahan. Tentunya bukan hal seperti itu yang kita inginkan dalam pendidikan di Indonesia. Salah satu solusinya adalah memberikan LKS sesuai dengan tingkat kemampuan siswa dengan tujuan pembelajaran yang sama. Jadi dalam satu kelas, guru bisa menyiapkan LKS lebih dari satu jenis, menyesuaikan berbagai tingkat kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  6. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam artikel tersebut saya baru mengetahui bahwa ternyata siswa dapat menentukan kurikulum pembelajarannya mereka sendiri, sehingga apa yang akan di ajarkan oleh guru dikelas semua berdasarkan kepada siswa. Dan dari sini pula antara kurikulum yang ada di inggris dengan mengutip dari pernyataan forum tanya jawab ini bahwa kita tidak boleh menuntut siswa untuk sama dengan kita, sama dengan apa yang kita ajarkan karena dalam diri siswa itu masing-masing mempunyai kemampuan yang berbeda, mempelajari matematika dengan cara yang berbeda, dan juga daya tangkap masing-masing siswa juga pastinya berbeda sehingga untuk terus menuntut agar mereka sama, itu adalah suatu hal yang mustahil.

    ReplyDelete
  7. SUPIANTO
    16701261001, S3 PEP A 2016

    Persepsi kita tentang kurikulum pada dasarnya merupakan refleksi dari entitas masyarakat terjajah. Bahwa kurikulum merupakan produk pemerintah, bahwa kurikulum harus dibuat oleh para ahli, bahwa guru dan sekolah dan siswa harus pasrah dan rela menerima dan menerapkan kurikulum yang telah ditetapkan merupakan refleksi dari masyarakat terjajah. Mengapa terjajah?
    Salah satu ciri dari bangsa terjajah adalah kerelaan menerima segala ketentuan dari pihak penguasa tanpa ada keberanian untuk mengkritisi. Demikian juga dalam pendidikan. Pendidikan kita belum benar-benar membebaskan semua warganya dari segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan mental dan pikiran. Salah satu wujud dari penajajahan itu adalah seperti fakta yang diungkap Prof.Marsigit di awal tulisannya di atas.

    ReplyDelete
  8. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Pada dasarnya, kurikulum itu harus dapat menjawab persoalan yang terjadi dalam dunia pendididkan. Untuk itu, dalam membuat kurikulum itu harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kurikulum yang telah dibuat para ahli hanya mementingkan kepentingan penguasa semata dan mengsampingkan apa yang menjadi kebutuhan siswa itu sendiri. Padahal siswa itu bebas untuk mengkonstruksi pengetahuannya.. Dengan demikian, maka dalam membuat kurikulum harus memperhatikan apa yang menajdi kebutuhan siswa bukan sebaliknya, sehingga siswa tidak lagi dikuras tenaga untuk belajar hanya untuk memenuhi kebutuhan kurikulum yang dibuat para penguasa.

    ReplyDelete
  9. YUNDA VICTORINA TOBONDO
    16709251015
    P.MAT A 2016

    Berbicara mengenai kurikulum, maka pada hakekatnya kurikulum adalah suatu sistem yang mengarahkan pendidikan di suatu negara agar mampu mencapai tujuan dari pendidikan di negara itu sendiri. Apabila dibandingkan antara Indonesia dan London, maka sistem pendidikan kita pun akan berbeda, karena budaya kita berbeda dan paradigma pendidikan kita pun berbeda. Namun, yang perlu dicontoh adalah bagaiman negara maju menyajikan pembelajaran di dalam kelas sehingga menghasilkan peserta didik yang unggul

    ReplyDelete
  10. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Melalui membaca artikel yang Bapak tulis di atas, dapat disadari bahwa perbedaan yang menonjol dari penerapan pembelajaran matematika di London dibandingkan dengan di Indonesia. Dalam hal definisi kurikulum pun telah berbeda. Di London kurikulum dapat disesuaikan oleh sekolah masing-masing, menyerupai RPP di Indonesia. Sedangkan di Indonesia kurikulum dibuat pemerintah, kurikulum yang dilaksanakan setiap daerah di Indonesia entah kota maupun desa terpencil yang tentunya memiliki kemampuan berbeda akan dituntut mencapai tujuan yang sama dalam matematika. Tujuan yang tercantum dalam kurikulum yang telah dibuat. Saya berpikir apakah bila Indonesia menerapkan sistem pembelajaran seperti di London, akan memberikan dampak berbeda dengan kondisi pendidikan Indonesia sekarang.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  11. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum


    saya kira hasil observasi diatas menjadi informasi yang bisa dijadikan momentum bagi pembaca dalam pbm matematika dalam merubah paradigm pbm matematika yang dianut. Penjelasan contoh kasus diatas saya kira telah menguraikan secara eksplisit penerapan pbm matematika untuk siswa yang berbeda kemampuan matematikanya. Karna umumnya siswa Indonesia tiap-tiap kelas tersebar dalam kemampuan yang berbeda-beda, maka wacana ini patut untuk dicoba. bahwa penerapannya membutuhkan energi lebih baik tenaga, waktu dan lainnya maka diterapkan secara sistemik akan lebih baik.

    ReplyDelete
  12. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Jika dibandingkan dengan kurikulum di London yang lebih mengutamakan keinginan anak belajar matematika, tentu sangat mengagumkan. Namun, jika dibandingkan dengan Indonesia yang masih terikat dengan aturan pemerintah yang telah mempersiapkan kurikulum bukan berarti tidak bagus Prof. jika memang kurikulum seperti di London diajukan di Indonesia, saya berharap pemerintah tetap dapat mengontrol pencapaian pembelajaran siswa sampai akhir, karena dikhawatirkan siswa yang memiliki motivasi rendah malah tidak mau mempelajari matematika karena tidak adanya keinginan dari dalam diri.

    ReplyDelete
  13. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kurikulum yang dikembangkan oleh tiap negara pastilah berbeda-beda. Karena tiap negara mempunyai tujuannya sendiri. Kurikulum yang digunakan di Inggris, merupakan kurikulum yang yang disesuaikan sejalan dengan kebutuhan masing-masing siswanya. Karena mempunyai tanggapan bahwa setiap manusia adalah berbeda, maka tidak bisa kita pungkiri bahwa siswa pun mempunyai kemampuan yang berbeda-beda pula. Sehingga hasil yang didapatkan pada masing-masing siswa jelaslah pasti berbeda. Sehingga hal ini menjadi inspirasi guru dan calon guru yang ada di Indonesia, jika kurikulum kita tetap seperti itu, menyamaratakan siswa, maka dari pihak guru haruslah mencoba melakukan hal-hal kecil dalam membedakan bagaimana cara mengajar dengan siswa yang berbeda-beda kemampuannya.

    ReplyDelete
  14. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    LKS sangat penting untuk melayani kebutuhan siswa yang berbeda-beda. Tapi yang terjadi sekarang ini banyak guru yang tidak membuat LKS nya sendiri, apalagi lebih dari satu bentuk. LKS yang dipakai adalah LKS yang banyak beredar dimasyarakat. Alasannya menggunakan LKS tersebut selain murah, mudah didapat, guru pun tidak perlu repot-repot membuat LKS lagi. Inilah yang terjadi.

    ReplyDelete
  15. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Peserta didik yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi akan memiliki kebutuhan pendidikan dan cakupan pengetahuan yang berbeda dengan yang berpemahaman rata- rata. Hal ini bisa diketahui berdasarka kegiatan belajar di kelas. Pembelajaran matematika di london, menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Peran siswa disini benar-benar sebagai subyek pembelajaran dan bukan menjadi obyek. Bahkan siswa diberikan kebebasan untuk menentukan materi apa yang ingin dipelajarinya

    ReplyDelete
  16. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Apabila dibandingkan antara Indonesia dan London, maka sistem pendidikan kita pun akan berbeda, karena budaya kita berbeda dan paradigma pendidikan kita pun berbeda. Namun, yang perlu dicontoh adalah bagaiman negara maju menyajikan pembelajaran di dalam kelas sehingga menghasilkan peserta didik yang unggul, Sedangkan di Indonesia kurikulum dibuat pemerintah, kurikulum yang dilaksanakan setiap daerah di Indonesia entah kota maupun desa terpencil yang tentunya memiliki kemampuan berbeda akan dituntut mencapai tujuan yang sama dalam matematika. Tujuan yang tercantum dalam kurikulum yang telah dibuat. Saya berpikir apakah bila Indonesia menerapkan sistem pembelajaran seperti di London, akan memberikan dampak berbeda dengan kondisi pendidikan Indonesia sekarang.

    ReplyDelete
  17. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Terimakasih Prof atas sharing pengalamannya yang sangat luar biasa. Terlihat jelas bahwa kurikulum itu dibuat untuk siswa dan pengembangan kurikulum dari siswa. Kurikulum nasional hendaknya melihat kurikulum kelas yang dipetakan berdasarkan what student want. Ditarik dari sisi yang lain, Pengalaman guru di London dalam memetakan karakteristik siswa menunjukkan ke profesionalitasan dan dedikasi yang tinggi kepada siswa sebagai subjek belajar.

    ReplyDelete
  18. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Saya juga menemukan hal yang mempunyai powerful impact dalam pembelajaran yaitu penggunaan LKS (Lembar Kerja Siswa) dimana LKS dibuat untuk membantu konstruksi pemahaman siswa. Akan tetapi kebanyakan yang terjadi di Indonesia, LKS berisi soal-soal yang harus diselesaikan siswa. Sehingga, ekspresi siswa ketika diberikan LKS menampakkan wajah yang tidak suka dan sudah bisa dipastikan mereka akan beranggapan bahwa waktunya untuk mengerjakan soal.

    ReplyDelete
  19. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Dari uraian Prof. Marsigit yang paling mengena adalah kalimat yang menyatakan bahwa Pembelajaran Matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya".

    Saya sendiri juga menjadi korban salah satu paradigma pendidikan Indonesia, janganlah membiarkan paradigma ini turun temurun dari waktu ke waktu, cukuplah sampai diri saya. Dan semoga kita bisa menjadi pendidik yang Sustainable, Akintable dan Profesional.

    ReplyDelete
  20. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Siswa sebetulnya berhak mendapatkan pembelajran sesuai dengan kemampuan yang dia miliki serta yang dia kehendaki. Hal ini karena setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda. Guru bertugas untuk memberikan pembelajaran yang adil pada semua siswanya. Paradigma ini haruslah ditanamkan pada seluruh guru di Indonesia. Agar pembelajaran matematika dapat dirasakan menyenangkan oleh seluruh siswa tanpa ada tekanan.

    ReplyDelete
  21. martin/Rwanda
    pps2016pep B
    I don't know what is going on in other countries. But, in my country students have no say in their curriculum. Instead, some organisations related to governmental funding and giving direction to education invite mostly retired teachers to develop curricula and insist these should be implemented in colleges and departments. With all due respect to their seniority, experience and contribution to their respective fields, sometimes curricula devised by them show a lack of awareness of current trend and demand in the market and knowledge and skills necessary to cope with the boom of information and development in their respective fields. Obviously, there is no role of students in the development of their curriculum, it is imposed from outside.

    ReplyDelete
  22. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Segala sesuatu di dunia ini selalu berbeda satu sama lain. Dalam hal ini kemampuan siswa yang satu dengan siswa yang lain juga pasti memiliki perbedaan dan tidak bisa kitapaksakan untuk setara, tak ada yang mempunyai kemampuan yang sama. Jadi ketika guru menuntut seorang siswa untuk menjadi seperti siswa yang lain atau guru menuntut siswa sama dengan apa yang diharapkannya, maka itu adalah kekejaman. Guru hendaknya mampu memahami dan menghargai berbedaan kemampuan siswa, Karena sesungguhnya setiap diri siswa telah dianugerahkan oleh Tuhan kelebihan den kekurangan yang berbeda satu sama lain. Jika guru mengharapkan siswanya sama seperti yang dia harapkan maka sesungguhnya guru telah terancam oleh mitos-mitosnya. Jika kita mengaku sebagai guru inovatif, maka hendaknya kita menerapkan prinsip:"untuk siswa yang berbeda-beda, seyogyanya mempelajari matematika yang berbeda dan bermacam-macam, walau memerlukan waktu yang berbeda-beda, tetapi dengan metode yang berbeda-beda pula, alat yang berbeda-beda pula, serta hasil yang boleh berbeda, yaitu boleh berbeda dengan apa yang engkau pikirkan". Jadi guru tidak menerapkan prinsip “untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya”. Sebaliknya, merupakantanggungjawab guru lah yang harus bisa mengatur pembelajaran sebaik mungkin sehingga siswa yang memiliki kemapuan yang beragam ini memiliki kesempatan mendapatkan pengetahuan yang sama tanpa merasa tertekan.

    ReplyDelete
  23. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Di luar negeri, siswa dapat turut menentukan kurikulum. Kurikulum yang dimaksud disini adalah kurikulum tingkat kelas atau tingkat sekolah. Misalnya, diadakan pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portofolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

    ReplyDelete
  24. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Hal lainnya adalah setiap akhir pelajaran, guru selalu mewawancarai para siswa untuk mengetahui jenis kegiatan apa saja yang mereka inginkan dari pelajaran matematika minggu depan, dan guru akan mempersiapkan materi yang diinginkan siswa untuk minggu depannya.

    ReplyDelete
  25. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Kurikulum digunalan untuk menentukan jumlah mata pelajaran yang arus ditempuh untuk mencapai pendidikan. Kurikulum memiliki peran kreatif, konservatif, dan evaluatif. Setiap orang yang terlibat dalam dunia pendidikan berhak dalam mencetuskan ide dari kurikulum yang diinginkan, tidak terkecuali bagi seorang siswa selama ide itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan. Kurikulum yang memperhatikan kebutuhan siswa akan lebih dapat diterima siswa dari pada kurikulum yang dipaksakan kepada siswa.

    ReplyDelete
  26. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Saya tertawa membaca konklusi di akhir artikel ini, dimana terjadi suatu keadaan yang sangat kontradiksi antara pembelajaran dasar matematika di Inggris dan di Indonesia. Sebenarnya keduanya mempunyai sisi positif dan negatif. Sisi Positifnya pembelajaran matematika di inggris yakni siswa bisa mengembangkan kreatifitasnya sendiri, namun dalam hal ini mereka tidak mempunyai KKM sebagai suatu standar kelulusan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  27. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Menurut saya pembelajaran di Indonesia dimana siswa akan menghasilkan output dan hasil yang sama bukanlah merupakan suatu keburukan, karena dengan adanya hal yang sama yang ingin dicapai maka pembelajaran akan terarah dibawa kemana, tidak ngalor ngidul, meskipun tetap ada sisi negatifnya yakni siswa tidak dapat memilih materi pelajaran apa yang disukainya. Jadi keduanya mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  28. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pendidikan di Indonesia masih menggunakan sistem lama yaitu otoriter. Segala kegiatan pembelajaran secara tidak langsung dikendalikan oleh pemerintah pusat. Sayangnya kurikulum yang disusun pemerintah seringkali tidak sesuai dengan potensi yang ada dalam anak didik. Misalnya anak dengan kemampuan matematika kurang akan meresa tertekan dan merasa bodoh karena kebiasaan orang Indonesia yang menilai tingkat kecerdasan dari nilai matematika. Padahal bisa jadi dia cerdas dibidang lain.

    ReplyDelete
  29. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Siswa di kelas memiliki karakter dan budaya yang berbeda-beda. Juga pemikiran yang berbeda-beda. Untuk mengatur semuanya, sebagai guru yang hanya seorang di kelas dengan menghadapi 32 siswa tentu bukan perkara mudah. Cara yang dilakukan oleh seorang guru di Inggris tersebut boleh dikatakan bagus, juga jenius. Meski sebenarnya saya mengkhawatirkan perasaan siswa juga. Mereka jadi tahu bahwa saya paling tidak bisa di kelas, saya berkemampuan rata-rata. Itu jika mereka menyadari. Namun, kita sebagai guru tentunya harus kuat mental. Harus tegas dan mengatakan pada siswa apa faedah kita belajar seperti ini. Harus berusaha yang terbaik bagi murid-muridnya. Semoga kualitas pendidikan di Indonesia nantinya semakin baik.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  30. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Sistem pendidikan Indonesia menjadi salah satu hal yang penting untuk terus direfleksikan dan diperbaharui. Apakah memang sudah tepat? Adakah bagian yang perlu dibenahi? Di Indonesia, kurikulum diartikan sebagai suatu garis besar rencana implementasi pendidikan yang disusun oleh Pemerintah melalui para pakarnya. Namun di Negara Inggris, kurikulum itu juga dapat diartikan langsung dalam konteks kelas (kurikulum tingkat sekolah) atau hampir seperti RPP. Inggris menganut sistem pendidikan desentralisasi dimana kurikulum itu adalah urusan sekolah masing-masing. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Di Inggris kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan siswanya bahkan siswa-siswa dapat meminta pembelajaran sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Pembelajaran matematika di Inggris menganut pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula. Sedangkan di Indonesia, untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya. Ada hal yang diabaikan disini bahwa setiap individu mempunyai karakter dan potensi yang berbeda, maka akan sulit bahkan mustahil untuk menyeragamkan apa yang telah diuraikan di atas.

    ReplyDelete
  31. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Menarik sekali simpulan di kalimat terakhir, bahwa pembelajaran matematika di Indonesia bersifat "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya”.

    Kita tentu menyadari bahwa kurikulum sifatnya adalah menyamaratakan. Padahal, tentu setiap sekolah dan daerah tentu memiliki tingkat kualitas yang berbeda. Yang selama ini disamaratkan hanya hasil akhirnya yang diukur. Sedangkan prosesnya?
    Maka bicara kurikulum, tentu menjadi pe-er besar bagi pendidikan bangsa ini.

    ReplyDelete
  32. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Masalah pendidikan seolah menjadi problema tersendiri bagi bangsa ini karena begitu banyak yang menilai bahwa sistem pendidikan di bangsa ini tidak mengalami kemajuan tetapi hanya diam di tempat. Salah satu masalah yang sering disoroti adalah masalah kurikulum. Namun kurikulum-kurikulum yang pernah ditetapkan selama ini memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing pada sistem pendidikan yang ada pada negara ini.

    ReplyDelete
  33. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Kurikulum yang dimaksud tentang siswa menentukan kurikulum yaitu pada tingkat sekolah, sebelum dilakukan pengembangan kurikulum, maka ada pertemuan khusus atau semacam need assessment dengan para siswa, didukung dengan dokumen portfolio tentang aktivitas siswa. Hasil-hasil need assessment yang menggambarkan kebutuhan siswa kemudian digunakan untuk pengembangan kurikulum tingkat sekolah.

    ReplyDelete
  34. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Itulah perbedaan mendasar ungkin antara kualitas pendidikan negara maju dan negara kita. Bahwa tekstual dari judul artikel ini mungkin ada yang beranggapan hal itu tidaklah mungkin. Sebagaimana yang diterangkan diatas bahwa kemampuan siswa dala belajar itu berbeda-beda, dan yang paling mengerti adalah gurunya sendiri. Mungkin konsep desentralisasi kurikulum terdengar mustahil bagi Indonesia, terutama oleh para wakil rakyat yang merasa paham mengenai pendidikan naun tidak memiliki dasar penegathuan tentang pendidikan. Jadi apa salahnya mencoba.

    ReplyDelete
  35. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Hal yang sulit bagi guru untuk dapat memonitor seluruh siswa yang dikelas dengan jumlah yang tidak sedikit. Maka salah satu alternatif yang telah dicontohkan adalah, cara yang luar biasa dengan persiapan yang tidak mudah , pengklasifian siswa serta tujuan yang diharapkan nantinya. Jika didalam kelas hanya berpatok pada satu konsep pembelajaran, maka hasil tidak akan pernah merata dengan baik. Padahal disisi lain siswa memiliki kesempatan untuk mecapai dunia pengetahuannya sesuai dengan karakteristik dan minatnya masing masing. Hal diatas menjadikan motivasi dan inovasi tentunya bagi saya sendiri, betapa tidak mudahnya, betapa harus ikhlasn dan uletnya menjadi guru demi membangun dunia siswa yang sesungghunya itu juga dunia yang berbeda.

    ReplyDelete
  36. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    disini, setelaha mebaca postingan ini, saya bisa lebih menyadri perna lks yang tidak hanyas sebagai collection of same problem, but also as heterogen problem for heterogen people, dengan memberikan tingatan yang berbeda pada LKS, siswa bisa memilii nilai yang sama, namun pemberian nilai yang sama itu tidak mematahkan motivasi siswa, karena ada kebangaggan tersendiri jika siswa bisa mendapatkan nilai yang baik pada LKS yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi, persaingan yang tercita berdasarkan keinginan siswa, bukan paksaan guru.

    ReplyDelete
  37. Miftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    Siswa memiliki karakter yang berbeda-beda. Di sini peran guru sangat dituntut untuk bersikap adil terhadap seluruh siswa. Adil di sini tidak sama banyak tetapi adil dalam artian sesuai proporsinya. Proporsi didasarkan kepada karakter dari siswa itu sendiri

    ReplyDelete
  38. Miftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A

    Guru diharapkan mampu mendeteksi karakter siswanya. Siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda sehingga materi yang akan di sampaikan pun semestinya berbeda-beda disesuaikan dengan kemampuan siswa. Siswa berkemampuan tinggi sangat diminta pengayaan, begitu sebaliknya siswa yang berkemampuan rendah harus mendapat remedial. Tentunya pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran juga berbeda-beda sesuai dengan karakter siswa.

    ReplyDelete
  39. Miftahir Rizqa
    16701261027
    PEP Kelas A
    adapun alat bantu yang dapat digunakan sebagai fasilitas melayani karakter siswa adalah LKS. LKS dapat dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memfasilitasi berbagai tingkat kemampuan masing-masing siswa. Untuk pelaksanaannya perlu penilaian portofolio sebagai bahan yang nantinya akan digunakan sebagai bahan untuk melihat perkembangan anak. tahap perkembangan anak dapat dilihat dari input-proses-output.

    ReplyDelete
  40. nak didik adalah salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses belajar-mengajar. Di dalam proses belajar-mengajar, murid sebagai pihak yang Siswa merupakan orang yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Siswa akan menjadi faktor penentu, sehingga dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.Komponen–komponen pendidikan yang lain sangat bergantung kepada kondisi siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru harus mampu mengorganisasikan setiap kegiatan pembelajaran dan menghargai anak didiknya sebagai subyek yang memiliki potensi.

    ReplyDelete
  41. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Seharusnya siswa menjadi subjek pendidikan yang mendapat apa yang mereka butuhkan dan bukan dipukul rata kemudian diasumsikan semua siswa adalah sama. Guru sebaiknya memperhatikan pembelajaran seperti apa yang dibutuhkan oleh tiap siswa berdasarkan kemampuan siswa tersebut. Seperti pembelajaran di London; pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula.

    ReplyDelete
  42. Bismillah Berkah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Kurikulum dibuat dengan disesuaikan kebutuhan siswa. Maka dalam membuat kurikulum siswa adalah salah satu factor penentu kurikulum. Kurikulum tidak boleh mementingkan penguasa, atau pihak pihak lainnya karena kurikulum harus benar benar menjawab persoalan dan kebutuhan siswa sekolah.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  43. Siswa Menentukan Kurikulum! Dari judulnya sudah menebar kontroversi. Sangat terkesan ketika membaca kata demi kata. Penuh dengan makna dan semangat memajukan pendidikan. Selayaknya guru mengajar dengan memandang perbedaan kemampuan siswa. Bukan dalam artian guru mengkotak-kotakkan siswa dan pilih pilih. Akan tetapi, guru mengkategorikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar sesuai dengan kecepatan pemahamannya. Membagikan LKS pembelajaran dengan variasi yang disesuaikan kemampuan tiap kelompok, sehingga siswa mampu mencerna isi materi dengan mudah. Memang hal ini terkesan rumit dan menguras tenaga dan waktu. Akan tetapi, tentu akan sangat bermanfaat dalam mengefektifkan kegiatan pembelajaran. Dan pada akhirnya guru tidak membuang-buang waktu menjejalkan materi yang ingin disampaikan dan memaksa semua siswa untuk faham. Namun, siswa tidak kunjung faham dikarenakan perbedaan daya serapnya. Semoga kita semakin bijak dalam mengajar dan menjadi pengajar profesional serta mengambil manfaat dari contoh pembelajaran yang dilaksanakan di SD London tersebut dimana pelaksanaan pembelajaran dengan memandang perbedaan kemampuan siswa. Dari siswa untuk siswa.
    Abidin
    16709251002
    S2 Pmat A 2016

    ReplyDelete
  44. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016


    Artikel di atas menjelaskan bahwa siswa memiliki peran penting di dalam penentuan kurikulum kelas. Guru harus melibatkan siswa yang memiliki kemampuan dan pemahaman yang berbeda-beda untuk menentukan kurikulum yang harus diterapkan di dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru memerlukan LKS dan Portfolio untuk memfasilitasi siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijadikan sebagai masukan bagi guru untuk mengembangkan metode inovatif di dalam pembelajaran. Karena hakekatnya siswanyalah yang belajar, bukan guru. Guru hanya memfasilitasinya.

    ReplyDelete
  45. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Elegi ini memberikan gabaran kepada kita bagaimana siswa di sekolah tertentu di London memiliki peran dalam membangun kurikulum tingkat sekolah. Sbelum dilakukan pengembangan kurikulum, dilakukan analisis kebutuhan belajar siswa yang hasilnya kemudian digunakan untuk mengembangkan kurikulum. Paradigma seperti ini saya rasa merupakan paradigma yang belum biasa diterapkan di Indonesia, apalagi pada tingkat SD.

    ReplyDelete
  46. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Perbedaaan paradigma pbm matematika SD di Indonesia dan di London adalah yang menyebabkan perbedaan proses dan hasil belajar matematika di dua negara ini. "Pbm matematika di London menganut paradigma : pada waktu yang berbeda, berbeda-beda siswa, mempelajari matematika yang berbeda, dengan kecepatan dan kemampuan yang berbeda, dengan hasil yang boleh berbeda pula", sedangkan paradigma di Indonesia adalah "Untuk waktu yang sama, berbeda-beda siswa, dituntut mempelajari matematika yang sama, dengan hasil yang harus sama, yaitu sama dengan yang dipikirkan oleh gurunya".

    ReplyDelete
  47. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Dari elegi ini kita bisa melihat efek penting pemakaian dan penggunaan LKS dalam pbm di London yang berbeda dengan pemanfaatan LKS di Indonesia. Siswa tidak bisa memilih materi mana yang ingin dan mampu dikerjakan, di Indonesia. Sedangkan di London, para siswa bebas mengerjakan bagian mana yang ingin diselesaikan.

    ReplyDelete
  48. Niswah Qurrota A'yuni
    NIM. 16709251023
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas B 2016

    Assalamu'alaikum Wr.Wb.,

    Saya sependapat dengan postingan bapak. Menurut saya seyogyanya dalam penyusunan kurikulum melibatkan siswa. Mengapa? Karena sejatinya kurikulum dirancang dan dibuat untuk para siswa. Siswa berhak menentukan seperti apa pembelajaran yang mereka inginkan karena mereka lah yang akan menjalaninya. Sayangnya persepsi yang keliru mengenai kurikulum di negara kita bahwasanya yang berhak menentukan kurikulum adalah pemerintah yang sebagian besarnya bukan aktor utama dalam pendidikan di sekolah alias guru, membawa arah pendidikan pada generalisasi hasil pengamatan mereka, yang mana hasil pengamatan dan keterlibatan langsung tentunya sangat berbeda. Sehingga kita harus banyak belajar dari penerapan kurikulum di berbagai negara maju, salah satunya di Inggris seperti dalam postingan ini. Kebutuhan tiap daerah saja bisa berbeda-beda, apalagi kebutuhan siswa. Sehingga sudah seharusnya penentuan kurikulum di sesuaikan dengan kebutuhan siswa.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id