Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)




Oleh Marsigit

Architectonic Mathematics dapat dibayangkan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya.

Implikasi dari pandangan ini adalah bahwa MATEMATIKA ITU TIDAK LAIN TIDAK BUKAN KECUALI ADALAH PIKIRAN PARA SISWA ITU SENDIRI. Inilah asumsi dasar yang harus kita pegang sebagai pondamen bagi membangun Architectonic Mathematics.

Sedangkan pondamen bagi Architectonic Mathematics itu sendiri adalah ASUMSI DASAR TENTANG BAGAIMANA SISWA BISA MEMPEROLEH PEMAHAMAN DAN MAMPU MEMBANGUN KONSEP MATEMATIKA.

Setidaknya terdapat 2 (dua) asumsi dasar, pertama: siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

Logika atau penalaran bersifat "analitik a priori", sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat "sintetik a posteriori". Pilar bangunan Architektonic Mathematics adalah pertemuan atau perkawinan keduanya sehingga menghasilkan pemahaman dan bangunan matematika yang bersifat "sintetik apriori".

Itulah pendapat Immanuel Kant bahwa agar matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat "sintetik a priori".

Architectonic Mathematics TIDAKLAH bersifat Singular; artinya kita tidak bisa memandang Architectonic Mathematics hanya dari subyek diri seorang siswa secara terisolasi, melainkan dia harus dipandang dalam konteks Architectonic-architectonic Mathematics dari siswa-siswa yang lain dan bahwkan Architectonic Mathematics dari seorang gurunya atau dari seorang dewasa yang konsep matematikanya bersifat "formal abstract".

Maka Architectonic Mathematics HARUSlah bersifat plural dan bertabiat sebagai suatu komunitas diantara subyek belajar matematika. Oleh karena itu maka akan diperoleh apa yang kita sebut sebagai "ISOMORPHISM AMONG THE ARCHITECTONIC OF MATHEMATICS". Isomorphisma diantara Architectonic-architectonic Mathematics subyek belajar matematika akan menghasilkan "OBJECTIVITY OF MATHEMATICS".

Jadi jelaslah bahwa Singular Architectonic Mathematics akan menghasilkan "SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS". Interaksi antara SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS dan OBJECTIVITY OF MATHEMATICS itulah yang kemudian disebut sebagai "THE NATURE OF STUDENT'S LEARN MATHEMATICS" atau "Hakekat Siswa Belajar Matematika".

Inilah hakekat belajar matematika yang ditemukan oleh Paul Ernest (2002) dalam Bukunya yang berjudul The Philosophy of Mathematics Education. Maka Architectonic Mathematics dapat dibangun di atas SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS melalui kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan agar diperoleh SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS yang ter UPDATE.

Subjectivity of Mathematics yang ter UPDATE itulah yang kemudian disebut sebagai OBJECTIVITY OF MATHEMATICS. Objectivity of Mathematics inilah yang diburu dan dikejar-kejar oleh orang (termasuk guru atau sebagian para matematikawan dari perguruan tinggi) yang kurang mengerti tentang the Nature of Learning Mathematics for younger student.

Kurang beruntungnya jika yang memburu dan mengejar adalah Pengambil Keputusan atau Pejabat penentu kebijakan di bidang Pendidikan Matematika.

Dengan mengerti akan adanya Architectonic Mathematics diharapkan akan menyadarkan para pemburu-pemburu itu agar segera menyadari kesalahannya dan kalau perlu memohon pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang selama ini dilakukannya.

Amin.

36 comments:

  1. 16709251041
    PPs PMat B 2016

    Architectonic mathematics harus selalu ter Update agar siswa paham mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian siswa memang benar-benar tahu kenyataannya yang benar itu seperti apa. Seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa architectonic mathematics diasah melalui berbagai proses menulis, mendengar, bertanya, prakterk langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukan.

    ReplyDelete
  2. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: arsitektonis Matematika (2), menceritakan tentang seorang arsitek yang akan membangun gedung. Siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya. Dengan mengerti akan adanya Architectonic Mathematics diharapkan bangunan yang akan dibuat dalam melakukan pendidikan matematika akan menjadi bagus dan kokoh dan tentunya dengan arsiteknya yang memiliki kemampuan yang baik.

    ReplyDelete
  3. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Architectonic mathemathics berarti berkaitan erat dengan pembelajaran bermakna, di mana siswa dibimbing untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Dalam architectonic mathematics, menurut saya cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah membuat inovasi pembelajaran, agar siswa tertarik dalam mengikuti pembelajaran dan dengan sendirinya mau berperan aktif dalam penemuan konsep, penyelesaian masalah. Guru perlu mempelajari terlebih dahulu agar dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik. Sehingga pengetahuan matematika dapat dibangun sendiri oleh siswa karena guru hanyalah fasilitator. Apabila siswa dapat menemukan konsep sendiri, dan guru hanyalah membimbing dan memfasilitasi, maka konsep yang ditemukan tersebut akan tertanam dengan kokoh dalam pikiran siswa, itulah mengapa pentingnya pembelajaran bermakna dengan membuat siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuannya

    ReplyDelete
  4. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Architectonic Mathematics adalah peristiwa siswa membangun sendiri pemahamannya, merancang, menentukan pola, sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya selama ini. Siswa menggunakan logika dan pengalamannya sendiri sehingga dengan sendirinya pemahaman matematika terkonstruksi dalam dirinya dan membuatnya menjadi lebih tertanam dengan dalam. Architectonics mathematics pada dasarnya adalah pikiran siswa itu sendiri. Archotectonics matematika tidak bersfiat singular, melainkan prural. Hal ini sangat bermanfaat untuk banyak orang, sehingga haruslah banyak dicobtoh oleh orang lain.

    ReplyDelete
  5. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Architect? In my opinion, make students as architect to build their own mind is really good way in Architectonic Mathematics. Because if we want to know something such as mathematics, we should understand about it first. With build their own mind about mathematics will help them to understand mathematics. Like, if we want to build a house and we create it, of course we will love it because that is our own mind. We create our own house. Same like that, mathematics also need an architect to build it. Students will try to find their own concept of mathematics. Their mind is their mathematics. If students understand their own concept, they will capable to solve the problem according to their own concept. So, students can think creatively about mathematics through Architectonic Mathematics. I think that is enough. Thank you.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  6. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    sebagai salah satu tujuan pendidikan adalah bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang berarti proses membangun dan menyusun matematika itu sendiri berasal dari dalam diri siswa dimana dari pikiran itu siswa akan dapat memberikan inovasi-inovasi yang dapat sesuai dengan proses pemikiran yang dimilikinya. sehingga sifat membangun itu bersifat secara subyektif , yang artinya berasal dari dalam dirinya saja, akan tetapi ketika siswa semakin banyak membaca maka pengetahuannya pun dapat berubah menjadi Objektif karena terpengaruh dari pengalaman-pengalaman yang ada. sehingga perpaduan antara pengalaman dan pikiran akan menjadikan siswa dapat membangun matematika lebih dan lebih lagi.

    ReplyDelete
  7. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Architectonic Mathematics berhubungan dengan bagaimana siswa membangun sendiri pengetahuannya yang diperoleh dari pemahaman dalam matematika yang mampu membangun konsep matematika baik melalui logika berpikir (a priori) maupun melalui proses pengamatan (a posteriori). Sehingga diharapkan siswa lebih menggiatkan kegiatan-kegiatan yang dapat membangun pengetahuannya seperti kegiatan diskusi, menulis, mendenganr, bertanya, praktek langsung,memproduksi, merevisi atau menerima masukkan agar pengetahuan siswa terbentuk dengan informasi/pengetahuan yang selalu diperbarui.

    ReplyDelete
  8. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Architectonic matematics ini berarti siswa adalah arsitek dari membangun pikirannya sendiri. Dalam membangun matematika, siswa menggunakan logika atau penalarannya (analitik a priori) dan pengalamannya ( sintetik a posteriori). Oleh sebab itu ia menjadi sintetik a priori yaitu penggabungan antara penalaran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  9. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum

    Dari elegi diatas dipahami bahwa Architektonic Mathematics adalah kemampuan siswa dalam mengamati dan menalar konsep matematika yang difasilitasi oleh guru. Sementara OBJECTIVITY OF MATHEMATICS sebagai sebutan dari Subjectivity of Mathematics yang ter UPDATE merupakan pengetahuan matematika yang diperoleh dari kegiatan-kegiatan diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan. Saya kira kegiatan memproduksi, merevisi, memberi kritik atau masukkan merupakan kegiatan siswa yang pada hari ini dalam penyelenggaraan pembelajaran dikelas masih belum diterapkan dan belum membudaya. Maka saya kira perlu secara kolektif dalam setiap jenjang pendidikan untuk memperoleh hasil dari penerapan pembelajaran sesuai "THE NATURE OF STUDENT'S LEARN MATHEMATICS"

    ReplyDelete
  10. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum

    Elegi apakah matematika itu kontradiktif pada bagian kedua ini membantah system matematika tertutup yang dibangun oleh para Logicist-Formalist-Foundationalist. Sebagaimana elegi diatas bahwa DITEMUKAN SETIAP UNSUR PEMBENTUK SISTEM MATEMATIKA TERNYATA BERSIFAT KONTRADIKTIF. Hal ini relevan dengan pengujian adanya Kontradiksi pada setiap Unsur-unsurnya dari sistem matematika yang ada. Maka system tertutup dalam membangun matematika perlu kita pertimbangkan.

    ReplyDelete
  11. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Hakekat siswa dalam belajar matematika adalah dengan terjadinya interaksi antara subjek dan objek matematika itu sendiri. Subjek matematika diharapkan sebagai Architectonic Mathematics yang memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika. Siswa diharapkan mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya dan melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

    ReplyDelete
  12. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Pemahaman siswa tentang matematika sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara guru memberikan materi, bagaimana cara guru membawainya, bagaimana cara menanamkan konsep berpikir pada siswa, kemudian siswa mengembangkan pola pikirnya sendiri dengan latihan soal yang dikerjakan. Dengan begitu, dapat dikatakan juga sebagai subjektivitas, objektivitas, maupun architectonic mathematics, karena membangun konsep matematika di benak mereka dan akan mempengaruhi bagaimana caranya menghadapai persoalan matematika, atau bahkan suka tidaknya terhadap matematika.

    ReplyDelete
  13. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Dalam membangun kesadaran matematiak siswa perlu ada kesadaran dari dalam diri siswa sendiri dan tentu saja dengan bantuan oleh guru. Melalui kesadaran matematika siswa tentunya akan berusaha untuk mengkonstruksi konsep matematika dari apa yang telah dipelajarinya. Sehingga guru harus mengerti bagaiman siswa itu membangun pengetahuan dalam dirinya, melalui pembelajaran yang dilakukan di kelas.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  14. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Dari elgi tersebut, maka dapat kita pelajari bahwa matematika bersifat arsitek yaitu membangun kerangka berfikir dalam pembelajaran matematika. Dengan prinsip kontruksi konsep matematika harapannya siswa akan mudah dalam menguasai konsep tersebut.
    Namun sayangnya, tuntutan sistem kapitalis dengan munculnya kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pejabat, dimana kebijakan tersebut hanya berprioritas agar siswa mampu mengejar kualitas SDM yang diinginkan oleh dunia internasional tanpa melihat bagaimana kondisi psikologis siswa dan dampak buruk yang ditimbulkan.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  15. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Arsitektonik memiliki pengertian yaitu struktur logis yang diberikan oleh akal dimana siswa mampu memperoleh pemahaman dalam matematika serta mampu membangun konsep matematika melalui logika atau pemahaman serta pengamatan. Logika bersifat analitik apriori, sedangkan pengamatan merupakan sintetik apriori dimana akan menghasilkan konsep matematika. Maka disini yang dibangun adalah pengetahuan matematika siswa, yang menjadi landasannya adalah pikiran, logika siswa itu sendiri dan konsep matematika yang dibangun melalui pengamatan.

    ReplyDelete
  16. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Matematika membutuhkan intuisi berpikir yang bersifat fleksibel dalam artian bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari karena salah satu intuisinya diperoleh melalui pengalaman yang mempelajarinya. Lewat intuisi itulah yang akan mengubah persepsi siswa bahwa matematika itu sulit.Matematika akan menjadi ilmu bila dibangun atas intuisi dan bersifat sintetik apriori. Intuisi di sini bukan hanya sekedar tanggapan dengan sebenar-benarnya tanpa kesadaran pikiran intuisi tidak ahli, melainkan intuisi ahli yang sudah memiliki kemampuan refleksi berulang kali, sudah memiliki pengalaman.

    ReplyDelete
  17. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Architectonic matematics ini berarti siswa adalah arsitek dari membangun pikirannya sendiri, Pemahaman siswa tentang matematika sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara guru memberikan materi, bagaimana cara guru membawainya, bagaimana cara menanamkan konsep berpikir pada siswa, kemudian siswa mengembangkan pola pikirnya sendiri dengan latihan soal yang dikerjakan. Dalam membangun kesadaran matematiak siswa perlu ada kesadaran dari dalam diri siswa sendiri dan tentu saja dengan bantuan oleh guru. Melalui kesadaran matematika siswa tentunya akan berusaha untuk mengkonstruksi konsep matematika dari apa yang telah dipelajarinya.

    ReplyDelete
  18. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Architectonic mathematics merupakan kebalikan dari structural matemathics. Sesuai dengan namanya, architectonic mathematics berarti siswa dipandang seperti seorang arsitek yang dapat merancang dan membangun, dalam hal ini adalah membangun pengetahuan matematika sendiri. Maka siswa bukan sebagai individu yang pasif tanpa pengetahuan dan potensi apa-apa, melainkan siswa adalah individu yang memiliki potensi untuk membangun konsep matematika melalui logika dan pengamatannya terhadap fenomena matematika. Hal ini perlu diketahui oleh guru sebagai pendidik siswa dan juga yang tidak kalah penting adalah pera pemangku kebijakan pendidikan. Dengan demikian, matematika yang dihadirkan pada siswa benar-benar sesuai.

    ReplyDelete
  19. MARTIN/RWANDA
    PPS 2016 PEP B
    From the elegi above stated, i get that architectonic mathematics means the thinking of the students themselves. here i can say that any way used by the students to solve daily problem is included in architectonic mathematics. if so, the students need daily assistance to orient their way of thinking other wise they can lose their capacity of thinking critically.

    ReplyDelete
  20. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    mengutip dari artikel diatas yaitu bahwa pembelajaran menurut imanuel kant adalah gabungan dari analitik a priori san sintetik a posteriori yang kemudian menjadi sintetik a priori bermakna bahwa pembelajaran adalah gabungan dari logika dan pengalaman. sehingga ada baikna dalam pembelajaran di kelas kita harus menyeimbankan antara teori-teori ang berhubungan dengan logika dan kegiatan-kegiatan yang memperkaya pengalaman siswa yang berhubunagan dengan materi yang sedang dipelajari.

    ReplyDelete
  21. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Belajar matematika tidak ada artinya jika hanya dihafalkan saja. Dia baru mempunyai makna bila dimengerti mengemukakan bahwa hendaknya siswa tidak belajar matematika hanya dengan menerima dan menghafalkan saja, tetapi harus belajar secara bermakna, belajar bermakna merupakan suatu cara belajar dengan pengertian dari pada hafalan, belajar matematika memerlukan pengertian dan dalam mempelajari proses pembelajarannya haruslah dilakukan secara bertahap, berurutan dan berkesinambungan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  22. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Seorang siswa mempunyai kesempatan untuk merancang pemahamannya sendiri mengenai matematika. Membangun pemikiran matematika ibaratnya seperti membangun rumah. Jika pondasi yang dibangun itu salah atau tidak kuat, maka akan berdampak pada bangunan di atasnya. Maka guru juga berperan mengarahkan siswa dalam membangun pondasi pemahaman matematika agar kuat dan kokoh.

    ReplyDelete
  23. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Pemahaman tentang konsep matematika harus ditanamkan oleh pendidik sejak dini kepada siswa.Pembelajaran yang berlangsung saat ini kurang memperhatikan konsep yang ada.Kebanyakan guru hanya melatih siswanya untuk menghitung dengan memberikan rumus tertentu. Masih sangat jarang guru yang membimbing siswanya untuk membangun konsep matematikanya sendiri.Untuk itu, sebagai calon pendidik masa depan kita harus membiasakan dan mengubah mindset kita dari yang semula guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai pembimbing dalam belajar.

    ReplyDelete
  24. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Matematika adalah pikiran para siswa sendiri. Architectonic Mathematics menggambarkan tentang matematika arsitek dimana siswa sebagi arsitek yang membangun pengetahuan matematikanya melalui intuisi matematika yang mereka miliki. Tentunya membangun pengetahuan matematika tidak dilakukan sendiri atau perlu juga bantuan orang lain, seperti guru, orang tua, atau orang dewasa yang lain, bahkan dapat juga melaui bantuan temannya sendiri.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  25. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Belajar adalah membangun pengetahuan. Oleh Karena itu siswa yang belajar adalah proses siswa yang membangun pengetahuannya sendiri. Oleh Karena itu tugas guru adalah menjadi fasilitator membuat sebuah kondisi tertentu yang bertujuan siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri. Jadi pembelajaran bukan berpusat pada guru atau transfer knowledge tetapi berpusat pada siswa. Ada dua dasar siswa dalam membangun pengetahuannya yaitu pertama, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya. Kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

    ReplyDelete
  26. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Architectonic Mathematics dapat dibayangkan sebagai seorang arsitek yang akan membangun gedung. Dalam membangun bangunan matematika, architectonic Mathematics memiliki rancangan berpikir tentang bagaimana siswa dapat memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika sendiri sesuai dengan tingkat kemampuan dasar dan keunikannya. Pondamen architectonic mathematics mempunyai 2 asumsi dasar yang utama, yaitu siswa mampu membangun dan memahami konsep matematika melalui logika atau penalarannya dan melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika.

    ReplyDelete
  27. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Siswa adalah seorang arsitek untuk bangunan pengetahuannya masing- masing. Termasuk dalam bangunan matematika, siswa adalah arsiteknya. Dengan menjadi arsiteknya, siswa akan memiliki matematika tersebut. Seorang arsitek akan lebih mengetahui seluk beluk bangunannya sendiri, mana bagian yang masih perlu dibangun, mana bagian yang pondasinya masih lemah. Maka sebagai arsitek akan bangunan pengetahuannya sendiri, siswa akan mengetahui seluk beluk pengetahunnya, ia akan tahu mana yang belum ia pahami dan mana pengetahuan yang kurang darinya agar ia dapat memperkokoh bangunannya. Tugas guru adalah memfasilitasi siswa agar mereka memiliki bahan yang cukup untuk membangun pengetahunnya sendiri. Guru juga harus menyadari bahwa bangunan satu orang siswa pastilah berbeda dengan bangunan siswa lain, masing- masing memiliki keunikannya sendiri- sendiri. Karena itulah guru tidak boleh memaksa agar bangunan siswa satu sama dengan siswa lainnya.

    ReplyDelete
  28. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Architectonic Mathematics diartikan sebagai seorang yang membangun bangunan matematika di dalam pikirannya. Dapat dimaknai bagaimana siswa memahami matematika dibenaknya masing-masing siswa. Peranan guru disinilah sangatlah diperlukan dan sangat menentukan kokoh tidaknya bangunan yang dibangun siswa. Agar siswa dapat membangun dengan benar maka diperlukan konsep yang benar. Keliru sedikit konsep maka bangunan itu akah mudah roboh.

    ReplyDelete
  29. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Siswa dapat memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep-konsep matematika melalui apa yang mereka dipikirkan (logika), mereka lihat dan didengar. Siswa dapat membangun konsep-konsep matematika dengan mengamati hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan membuat pengamatan maka mereka akan mendapatkan pengalaman pembelajaran matematika sehingga ketika ada masalah dalam matematika maka ia akan mengetahui dan menemukan solusi dengan pengalaman dalam pengamatannya.

    ReplyDelete
  30. Mifta Tyas Laksita Sari
    13301241005
    Pend. Matematika A 2013

    Architectonic Mathematics dapat dibangun atau selalu diupdate melalui beberapa kegiatan seperti diskusi, menulis, mendengar, bertanya, praktek langsung, memproduksi, merevisi, dan memberi kritik. Meskipun architetonis mathematics dibangun oleh siswa itu sendiri. Ada saatnya guru memberikan kesempatan dan kebebasan kepada siswa untuk mengkontruksikan kemampuannya sendiri.

    ReplyDelete
  31. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    arkitektonk matematika artinya siswa sebagai arsitek bagi pikirannya arsitek dalam memahami matematia, siswa memliki cra tersendiri dalam membangun kemampuannya, dalam membangun konsep matematika, karen akita thu tiap individu memiliki karakter/ciri trsendiri. jadi, arkitektonik matematika adalah contructivisme, bahwa prose belajar dan mengajar adalah proses membangun, bukan transfer knowladge, dan yang harus diketahui, dalam membangun pikiran siswa, tidak singular, artinya tidak hanya sswa sebagai arsitek, tapi banyak sekali arsite yang empengaruhi isswa, bisa ortu, guru, teman, kebijakan, dst. jadi bagaiman kebijakan yang mepayungi keseluruhan dapat mempriakn arsitek yang baik bagi siswa.

    ReplyDelete
  32. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Saya mendefenisikan architectonic mathematics secara sederhana yakni; membangun matematika di dalam pikiran siswa. Untuk membangun, tentu kita memerlukan komponen yang tepat dan menemukan dasar yang kokoh untuk menopang bangunan yang diharapkan akan semakin besar dan tinggi menjulang di langit dunia. Peran membangun pikiran siswa dipegang oleh guru sebagai arsitektor utama. Namun, arsitek sejati yang akan menentukan bangunannya adalah siswa itu sendiri. Maka, segala hal di dunia bertumpunya tidak lain dan tidak bukan hanya pada diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  33. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Berdasarkan elegi di atas, membangun “arictectonic mathematics” memiliki dua komponen utama yaitu:
    1. Siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya
    2. Siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika
    Maka, pening bagi kita untuk menyadari komponen tersebut dan memformulasikannya ke dalam proses pembelajaran. Selamat membangun matematika dalam pikiran!

    ReplyDelete
  34. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Kita harus melakukan transformasi fenomena ketika belajar matematika. Matematika bukanlah sesuatu yang langsung diperoleh, namun pengetahuan itu hendaknya dibangun dan dikontruksi dalam proses berpikir yang dilakukan. Kegiatan matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan, kegiatan matematika memerlukan kreativitas, imajinasi, intuisi dan penemuan, kegiatan problem solving merupakan bagian dari kegiatan matematika serta algoritma merupakan prosedur untuk memperoleh jawaban-jawaban persoalan matematika.

    ReplyDelete
  35. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016


    Seperti halnya teori belajar kontruktivisme, maka sepaham dengan pernyataan pada elegi ini bahwa belajar matematika adalah sebebanr benarnya pemikiran matematika itu sendiri didalam setiap individu. maknanya bahwa belajar matematika menjadi lebih bermakna apabila siswa membangun sendiri pengetahuan atau konsep matematika baik melalui pengalamam yang ia miliki atau melihat fenomena matematika yang ada. harapannya dengan membangun sendri matematika itu didalam diri, matematika akan bertahan lebih lama dan kokoh didalam memori siswa tersebut.

    ReplyDelete
  36. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Siswa memanglah perlu untuk diarahkan untuk mempelajari matematika secara maknawi dalam artian bahwa ketika mereka merasa takut akan pelajaran matematika, itu dikarenakan mereka takut salah menafsirkan permasalahan yang ada dala matematika. Namun jika memahamkan siswa dengan membuat mereka nyaman dalam menginterpretasikan suatu masalah maka dengan sendirinya mereka akan membangun pemahaman mereka sendiri akan masalah matematika.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id