Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 23: Logicist-Formalist-Foundationalist (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn kedua)




Oleh Marsigit

Prof Sutarto, dan yang lain

Jelaslah bahwa para Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya.

Kalau ditambah gelar untuk para matematikawan kita maka lengkapnya adalah para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist.

Setiap gelar tersebut telah menggambarkan karakteristiknya, dan mereka hidup di Dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan.

Mereka gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan.

Sementara Dunianya Ruang dan Waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangandengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist.

Mereka penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati.

Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika mereka menjelma menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist.

Bersambung...

40 comments:

  1. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Para matematikawan pengembang pure-mathematics sangat unggul bentuk formalnya, namun mereka sulit untuk berinteraksi dengan kaum muda yang notabenya sedang belajar matematika sekolah. Matematika di perguruan tinggi ini sangat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu. Kalau apa yang sudah dipelajari disekolah tidak bisa dimanfaatkan khususnya matematika berarti tujuan dengan proses belum sejalan. sebagai calon pendidik hendaknya memahami karakteristik dari peserta didik sehingga bisa menentukan model pembelajaran, strategi pembelajaran dan mengerti apa yang dibutuhkan perserta didik.

    ReplyDelete
  2. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016.

    Dari Elegi diatas yang dapat kita petik maknanya berupa kita sebagai calon pendidik pada tingkatan menengah kebawah sudah seharusnya menjadi para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist, sehingga Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika kita menjelma menjadi apa yang siswa sibelajar butuhkan untuk belajar yaitu Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Dan hendaknya kita menghindari prilaku Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist karena dirasa tingkatan tersebut masih terlalu tinggi untuk diterapkan didunia pendidikan menengah kebawah.

    ReplyDelete
  3. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Bisa menempatkan diri. Bijak dalam menentukan keputusan. Hal tersebut merupakan sebagian yang diajarkan matematika kepada kita. Matematika mempersilakan kita untuk berpendapat terhadapnya, untuk menjadikan ia seperti dalam pikiran kita. Saat ini pejabat dalam bidang pendidikanyang membuat aturan untuk pendidikan di sekolah adalah para formalist perguruan tinggi. Banyak di antara mereka yang tidak berlatar belakang pendidikan, sehingga sangat berbahaya jika mereka membuat peraturan untuk para peserta didik di sekolah. Seringkali pemerintah yang membuat peraturan sistem pendidikan sesuai pandangan mereka tanpa memikirkan dari sudut pandang pendidikan itu sendiri. Misalnya wacana mengenai full day school, hal tersebut dapat terlaksana bagi sekolah-sekolah di tempat maju, namun bagi sekolah di pedalaman belum tentu cocok, karena pada daerah tertinggal banyak siswa yang harus membantu orang tua mereka sepulang sekolah. Bahkan tidka menutup kemungkinan mereka memilih untuk tidak sekolah jika benar adanya full day school, karena sekolah justru menghambat pekerjaan mereka membantu orang tua. Oleh karena itu akan lebih baik jika pemilihan pemerintah yang menangani dunia pendidikan adalah orang yang berasal dari dunia pendidikan dengan memikirkan psikologi anak. Sehingga membuat sistem yang sesuai dan tidak membingungkan bagi guru sebagai pelaksana pendidikan.

    ReplyDelete
  4. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Para matematikawan mengembangkan ilmunya dalam pengembangan pure-mathematics. Namun, disisi lain para matematikawan terkadang gagal dalam pemebalajaran yang dilakukan oleh generasi muda di sekolah. Mereka kemudian menjelma menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Karenanya, hendaknya guru memahami karakter peserta didik dengan menyesuaikan antara model atau metode pembelajaran dengan keadaan peserta didik agar tujuan dalam PBM itu tercapai.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  5. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Matematikawan penganut pure mathematics tidak akan bisa bergaul dengan generasi muda yang belajar matematika ecara substansi, karena generai muda belajar tentang matematika sekolah. Akan tetapi pengemabang pure water unggul dalam bentuk formal dan menjadi harapan bagi pengembang pure mathematics ke depan. Walapun enuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati, karena yang menjadi dasar ilmu pengetahuan berikutnya merupakan hasil pemikiran-pemikirannya yang terdahulu.

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist merupakan sebutan untuk para matematikawan. Gelar yang dimilikinya yaitu Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Setiap gelar tersebut menggambarkan karakteristiknya, mereka terbebas dari ruang dan waktu, serta terbebas dari kontradiksi, dan terjamin konsistensinya. Tetapi mereka cenderung gagal untuk berkecimpung dalam dunia pendidikan dan memiliki kesulitan bergaul dengan peserta didik. Berbeda dengan para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang sejalan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist yang penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif dan terikat ruang dan waktu. Namun mereka yang dikatakan ilmuwan sejati karena mereka dapat bersosialisasi sehingga ketika terjun ke dalam bidang ilmu pendidikan, mereka disebut sebagai pendidik karena mereka mampu untuk membelajarkan matematika dan mampu untuk bergaul dengan para siswa.

    ReplyDelete
  8. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam elegi ini menjelaskan bahwa para matematikawan itu dalam proses pengaplikasian ilmu-ilmu yang dimilikinya terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi yang ada, dan juga terjamin konsistensinya akan tetapi kedudukannya dapat terancam sebagai ilmuwan. hal itu dapat terjadi karena terkadang para matematikawan terus menerus berpedoman dengan apa yang dikemukakannya dan mereka gagal bergaul dengan generasi muda yang terus menerus mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya untuk dapat menemukan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  9. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Penerapan ilmu pengetahuan haruslah terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradikif dan konsisten yang terjamin. Tetapi lagi-lagi kedudukannya dapat terancam sebagai seorang ilmuan. Inilah yang dijelaskan pada elegi ini. Untuk mengatasi hal ini, maka diperlukan pengajaran lintas generasi agar dapat terus mengembangkan potensi para pendidik sehingga dapat menciptkan inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan sesuai dengan kemajuan zaman, yang dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  10. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Kaum Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist lebih unggul dalam bentuk formal matematika tetapi gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi karena mereka menganut pure mathematics sehingga bersifat konsisten karena terbebas dari ruang dan waktu Sedangkan kaum Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist lebih unggul dalam bergaul dengan generasi muda karena terikat dengan ruang dan waktu dan matematika terasa dekat dengan dunia pebelajar tapi secara substansi gagal dalam bentuk formal matematika karena penuh dengan Kontradiksi, konsisten, relatif,dan kebenarannya bersifat subjektif

    ReplyDelete
  11. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Setiap matematikawan memiliki keunggulannya masing-masing. Matematikawan di perguruan tinggi (kaum logicist-formalist-foundationalist/terbenas dari kontradiksi) unggul dari kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya, namun gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika. Sementara matematikawan yang intuitionist-realist-aristotelianist-empiricist-relativist dan bergandengan dengan kaum fallibist-socio-constructivist penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif serta bergaul dengan sibelajar yang menjelma menjadi para educationist.

    ReplyDelete
  12. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum

    Elegi diatas menggambarkan keadaaan para matematikawan perguruan tinggi yang dianggap gagal bergaul dengan matematikanya generasi muda secara substansi. Saya kira yang membedakan Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist dengan intuitionist-realis-aristotelianist adalah kebebasan berpikir, kemandirian dalam memahami matematika, relative terbuka karna tidak terikat oleh keharusan untuk konsisten sehingga secara subyektif, pikiran, pandangan atau karya matematikanya dapat tercurah secara lebih optimal sehingga memperlihatkan ciri seorang ilmuwan.


    ReplyDelete
  13. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Gelar Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist telah menggambarkan karakteristiknya. Mereka gagal bergaul dengan generasi muda secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan. Dunianya Ruang dan Waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist dan kaum Fallibist-Socio-Constructivist yang penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati.

    ReplyDelete
  14. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Dari elegi di atas saya menyadari bahwa sebagai seorang matematikawan janganlah berpuas diri dengan ilmu dengan paham logicist-formalist-foundationalist, terbebas dari ruang dan waktu. Namun kita sebagai seorang matematikawan sekaligus seorang pendidik harus menyadari bahwa kita tidak bisa terlepas dari dunia yang terikat dengan ruang dan waktu. Jadi matematika itu sendiri tidak konsisten dan kontradiksi.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  15. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Matematikawan yang merupakan ahli dalam matematika murni sangat konsistne karena terbebas dari ruang dan waktu. tetapi jika turun ke lapangan atau berinteraksi dengan siswa yang sedang beljar matematika, pastilah sulit. Sementara mereka yang penuh kontradiksi, tidak konsisten, mengajarkan matematika kepada siswa dengan membawa materi tersebut kedalam contoh-contoh dalam bentuk konkrit, real didalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  16. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Matamatikawan bisa disebut sebagai kaum logicist-formalist-foundationost. Karena para matematikawan yang mempelajari matematika di Perguruan Tinggi ini pada umumnya adalah pure mathematics karya logicist-formalist-foundationalist, khususnya formalist Hilbert. Maka bisa juga dikatakan bahwa hampr semua Matematikawan adalah kaum Hilbertianism.

    ReplyDelete
  17. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Inilah alasan mengapa yang mengajar matematika haruslah dari lulusan pendidikan matematika, bukan matematika murni. Kita tidak memandang sebelah mata matematika murni, matematika murni juga mempunyai andil yang besar bagi ilmu pengetahuan. Namun memang ini adalah bidangnya pendidikan matematika. Jadi teramat sangat disayangkan jika penentu kebijakan pendidikan dipegang oleh orang diluar “pendidikan”.

    ReplyDelete
  18. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Matematika untuk perguruan tinggi dengan matematika untuk sekolah sangatlah berbeda. Sebagai seorang pendidik, kita harus dapat memahami perbedaan tersebut dan sopan terhadap ruang dan waktunya. Maksudnya ialah dapat menempatkan matematika sesuai dengan ruang dan waktunya. Untuk matematika perguruan tinggi, matematika ialah bersifat abstrak, formal, konsisten, dan berlaku hukum identitas. Sedangkan untuk matematika sekolah adalah sebaliknya, yaitu bersifat konkret, tidak konsisten, dan berlaku hukum kontradiksi. Inilah yang disebut sebagai guru bijak atau guru cerdas.

    ReplyDelete
  19. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Menurut saya tidak ada yang lebih baik antara pure Mathematics dan school Mathematics karena mereka saling melengkapi satu sama lain. Pure Mathematics berfokus pada konten matematikanya yang bersifat formal yang banyak disajikan di perguruan tinggi. Sedangkan, school Mathematics lebih menekankan bagaimana matematika itu dikonstruksi ke dalam pengetahuan siswa sebelum menuju ke matematika formal.

    ReplyDelete
  20. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika I 2013

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    In my opinion, I agree that our mathematicians in the university in the Logicist-Formalist-Foundationalist. Well, mathematics in the university is really different with mathematics in the school. Mathematics in the university is more complicated and more abstract. So we need to think logicaly to solve mathematics problem. Isn't mathematics according with space and time? And we are taught to find something new in the mathematics. Of course pure mathematics and mathematics education are different subject, but they are still related. Aren't they? I think that is enough. Thank you.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  21. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    After reading this Elegy, I have a little bit understanding about mathematics system from the Logicist-Formalist-Foundationalist that is free from space and time, which means that every element in it are also limited on space and time.

    ReplyDelete
  22. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Among the elements in a mathematical system turns out to have a relationship or association rules set up on the initial assumptions, definitions, and the axiom to make something meaningful.

    ReplyDelete
  23. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Truth value of mathematical symbols is operated for sure, that is right or wrong. All clear no one should doubt. But I'm curious also how these concepts will be discussed from the view of "Nature of the World" or philosophical.

    ReplyDelete
  24. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP B
    What i can get from the elegi is that obviously the maths for higher learning and the maths for high learning is different, but the same theories always appear in mathematics; logicist, formalist, fondementalist, arstotalist, platolist, empiricist, it means mathematics is the essence of every thing in the world.

    ReplyDelete
  25. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Dari sisi pandangan filsafat mengenai keberadaan ruang dan waktu, maka terdapat dua kaum, yaitu para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist dan para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist. Kaum yang pertama adalah mereka yang hidup di dunia yang terbebas dari Ruang dan Waktu, terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan. Mereka gagal bergaul dengan generasi muda yang tengah belajar matematika secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Tetapi mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan. Sementara itu kaum yang kedua adalah mereka yang hidupnya dibatasi oleh Ruang dan Waktu. Mereka penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif, tetapi terjamin kedudukannya sebagai Ilmuwan Sejati. Mereka telah berhasil bergaul dengan siswa yang tengah belajar matematika. Ketika bergaul dengan siswa sibelajar matematika mereka menjelma menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Jadi terlihat sekali bahwa sangat berpengaruhnya pandangan mengenai ruang dan waktu dalam hubungan dengan siswa, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu adalah matematicians sedangkan yang terbatas oleh ruang dan waktu adalah educationalist.

    ReplyDelete
  26. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya. Kaum ini perlu tidak boleh hanya mengandalkan keabstrakannya saja dalam mengajarkan matematika. Sedangkan ruang dan waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist penuh dengan Kontradiksi, tidak Konsisten, dan bersifat relatif yaitu kaum yang cocok dalam memberi pengetahuan sacara realistik kepada siswa.

    ReplyDelete
  27. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dari elegi di atas, ternyata ketika menelisik dasar filsafat dari Matematika, matematikawan itu adalah para absolutist-Platonist-Logicst-Formalist-Foundationalist. Para Matematikawan sangat unggul dalam bidang formalnya, namun kesulitan mentransfer ilmunya pada peserta didik. Matematika di perguruan tinggi begitu konsisten karena ruang dan waktunya yang terbatas.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  28. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Kurikulum memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan matematika itu sendiri, sebaiknya kedepannya para pemikir ahli pendidikan harus mulai berpikir bagaimana menggabungkan kedua aliran matematika tersebut, sehingga matematika tidaklah menghasilkan orang-orang yang radikal hanya pada salah satu mazhab matematika tersebut. Karena sebenarnya jika seorang sudah terampil menggabungkan kedua aliran matematika tersebut, maka matematika akan menjadi suatu pelajaran yang sangat-sangat dibutuhkan untuk pengembangan dan problem solving dalam kehidupan sehari-hari.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  29. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Dalam hal ini kita sebagai mahasiswa pendidikan matematika haruslah bisa bijak menempatkan diri kita berada pada bagian yang mana. Ada kalanya kita ada pada bagian pure mathematic, matematika yang kontradiktif. Ketika kita sebagai guru kita akan berkembang pad adua arah yang itu pengembang pure-mathematics dan educationist. Hal ini pasti akan terjadi, oleh karena itu maka kita harus mempersiapkan segala hal ketika sebagaiseorang educationist, bagaimana membantu siswa menyusun ilmu pengetahuan mereka. Bagaimana siswa belajar matematika dengan baik, serta memahaminya.

    ReplyDelete
  30. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Matematikawan di perguruan tinggi adalah penganut dan pengembangan pure-mathematics atau bisa disebut mereka adalah kaum Logicist-Formalist-Foundationalist yang sifatnya terbebas oleh ruang dan waktu, mereka gagal bergaul dengan generasi muda yang belajar matematika. Tetapi ketika matematikawan bergaul dengan siswa mereka akan menjadi Para Educationist seperti Realistics Mathematicist, Contextualist, Psycho-mathematicist, Psycho-therapist. Mereka akan mencoba menerjemahkan apa yang dipikirkan oleh siswa.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  31. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Para matematikawan di Perguruan Tinggi jelas merupakan Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist, atau bahkan Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Mereka terbebas dari Kontradiksi, terjamin Konsistensinya. Mereka unggul dalam bentuk formalnya, mereka harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan, namun mereka gagal bergaul dengan generasi muda sibelajar matematika secara substansi. Sedangkan dunia Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangandengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist, penuh dengan kontradiksi dan inkonsisten.

    ReplyDelete
  32. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    matematika murni, matematika murni yang tidak bisa beragul dengan si belajra maka akan terancam tidak menjadi serang ilmuan. matematika murni yang mampu bergal dengan si belajar akan mengrah pada educatioinis, psycho-mathematics.

    ReplyDelete
  33. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Berdasarkan elegi di atas menyebutkan bahwa para matematikawan yang ada di perguruan tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Hal ini bisa dilihat berdasarkan dari riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya. Setiap gelar yang ada menggambarkan karakteristik masing-masing orang yang hidupnya terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, dan terjamin konsistensinya,

    ReplyDelete
  34. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Kesimpulan yang saya dapatkan dari elegi di atas adalah kondisi matematikawan di perguruan tinggi yang ternyata terbebas dari kontradiksi. “Para matematikawan adalah para Absolutist-Platonist-Logicist-Formalist-Foundationalist. Setiap gelar tersebut telah menggambarkan karakteristiknya, dan mereka hidup di dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya, tetapi terancam kedudukannya bukan sebagai Ilmuwan”. Dari kacamata filsafat ilmu, segala sesuatu terkadang menjadi “rumit”, padahal jika kita lebih ikhlas memahami maksud filsafat justru membuatnya lebih “rinci”.

    ReplyDelete
  35. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Pendidikan matematika dan kontradiksinya telah dipaparkan dalam beberapa elegi blog ini. Meskipun saya belum dapat menarik kesimpulan, satu hal yang saya ketahui bahwasanya setiap ilmu itu kontradiksi. Lalu, bagaimana matematikawan di perguruan tinggi?. Saya rasa jawabannya akan sulit digeneralisasikan, terlebih ada banyak sekali matematikawan di negeri ini yang punya pola pikir berbeda-beda dalam memandang pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  36. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Dunia sebagai keseluruhan, menurut pandangan filsafat klasik, adalah bidang dari segala bidang-bidang lainnya. Ia adalah jaringan dari keseluruhan. Namun manusia tidak akan pernah bisa memahami dunia demikian, karena pengetahuannya yang terbatas. Terjangan filsafat posmodern telah membuyarkan harapan manusia tentang filsafat yang bisa menjelaskan segalanya dalam satu gambaran dunia yang utuh dan koheren. Akibatnya, banyak orang kini kehilangan pegangan, karena panduan dunia yang utuh dan menyeluruh telah menghilang. Keyakinan akan kebenaran mutlak dipertanyakan ulang. Sebaliknya, imajinasi dan kreativitas justru meningkat, guna mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan. Dunia bagaikan rumah - tempat yang dingin yang harus ditata dengan imajinasi dan daya cipta manusia. Tidak ada pilihan lain, kecuali manusia menjalani ini semua dengan penuh kesadaran dan kebebasan

    ReplyDelete
  37. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Jelaslah bahwa para Matematikawan kita di Perguruan Tinggi adalah Kaum Logicist-Formalist-Foundationalist. Hal ini bisa dilihat dari Kurikulumnya, riset dan hasil-hasilnya serta pandangan-pandangannya. karena pada dasarnya para matematikawan itu pastiakan mengatakan dirinya matematikan apabila sampai kepada ranah matematika murni, padahal bukan itu esensinya, dan matematikawan sekarang lebih menganut kepada Plato, sedangkan Aristoteles lebih menentang karena ia lebih kearah pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  38. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Saya cenderung sependapat dengan Prof. Marsigit, meskipun secara menyeluruh paham dengan label-label yang disebut. Tetapi hal yang saya coba tarik adalah, dari apa yang saya lihat bahwa memang matematika diperguruan tinggi memiliki karakter yang mohon maaf jika saya sebut sebagai "apatis". Mereka apatis karena mereka telah menganggap bahwa matematika itu telah lengkap dan sempurna. Jika hal tersebut tetap terbawa hingga mengkontaminasi para siswa, maka bukan hal yang tidak mungkin matematika kedepan terlebih di negara kita yang "tercinta" ini tidak akan melahirkan sosok-sosok seperti Al-Khawarizmi atau John Nash sekalipun.

    ReplyDelete
  39. Bismillah Berkah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Dalam elegy ini dijelaskan bahwa ilmu harus bebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiktif dan konsisten. Diperlukan pula pengajaran lintas generasi agar dapat terus mengembangkan potensi siswa sehingga nantinya dapat menciptkan inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan sesuai dengan kemajuan zaman.
    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  40. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016


    Elegi diatas menjelaskan bahwa generasi kaum matematikawan yang gagal bersosialisasi dengan kaum generasi muda. Kaum matematikawan yang memiliki paham sendiri berbeda dengan sifat dan karakteristik generasi muda. Artinya, ilmu harus bisa terbebas dari ruang dan waktu, ilmu juga harus terbebas dari segala kontradiksi dan harus bisa lintas generasi.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id