Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 24: Solusi 3+4=7 kontradiktif? (Jawaban utk Prof Sutarto Bgn Ketiga)




Oleh Marsigit

Prof Sutarto dan yang lain,

Saya telah menggambarkan secara ekstrim adanya dua pandangan yang berbeda dalam telaah persoalan pembelajaran matematika di sekolah.

Pertama, pandangan dari para Pure Mathematician di bawah naungan Logicist-Formalist-Foundationalist; dan kedua, pandangan dari para Mathematical Educationist di bawah naungan Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist.

Jika OBYEK TELAAH berada diwilayahnya Pure Mathematician, maka para Mathematical Educationist lah yang harus menyesuaikan diri, mempelajari Dunianya Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dengan cara melakukan Mathematical Risearch.

Tetapi jika OBYEK TELAAH berada diwilayah Mathematical Educationist, maka Pure Mathematician seharusnyalah perlu menyelami, mempelajari dan involved di dalam pengembangan Mathematical Education dalam aspek-aspeknya Intuitionist-Fallibist-Sosio-Constructivist.

Tentu saya memblow-up hal demikian bukan semata untuk menonjolkan ego masing-masing, tetapi agar pemecahan masalah yang ada benar-benar bisa bersifat Tuntas. Jika masing-masing berpegang kepada EGOnya masing-masing maka tidak akan pernah bertemu.

Solusi yang ditawarkan adalah adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika.

Posting-posting saya yang sangat banyak dan terkesan berlebihan ini adalah eksperimen-eksperimen yang sengaja saya lakukan, apakah forum indoms bisa digunakan untuk maksud-maksud tersebut.

Saya menilai beberapa tokoh dari Pure Mathematician seperti Pak Wono sangat kooperatif, penyabar dan konstruktif terhadap ide-ide saya. Dalam implementasinya, kajadiannya sebetulnya bersifat MIX yaitu sulit dipisahkan antara keduanya. Lihatlah PMRI misalnya, di sana duduk secara bersama para Pure Mathematician (Prof Sembiring, dkk) dan para Mathematical Educationist (Prof. Sutarto, dkk). Itulah sebetulnya contoh solusi yang mungkin Bapak tanyakan (ujikan) kepada saya. Hehe....

Saya mengucapkan terimakasih kepada forum indoms ini, sekaligus mohon maaf atas gangguan yang saya timbulkan melalui posting-posting saya.

Demikian semoga bermanfaat. Amin

41 comments:

  1. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Dua pandangan yang berbeda sebetulnya justru membuat kita jadi berfikir bagaimana mencari penyelesaian dan jalan tengah antara dua pandangan para logicist, Formalis dan faoundationalist dan pandangan para educationist. Solusi yang benar adalah adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, menjalin komunikasi yang baik dalam bidang matematika dan pendidkan matematika. Keduanya dapat saling mendukung, bekerja sama, serta saling melengkapi. Dengan demikian, tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika dapat tercapai.

    ReplyDelete
  2. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Matematika indonesia akan hebat dan kuat jika saling ada pengakuan dan rasa menghormati antara Mathematical Educationist dan Pure Mathematician, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika. dengan begitu pencapaian tujuan matematika akan semakin dekat, ini juga memberikan pengertian kepada kita jika memiliki posisi tertentu untuk dapat menyadari posisi tersebut dan tau harus bagaimana dengan posisi tersebut.

    ReplyDelete
  3. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Perbedaan di dunia pasti ada, karena dunia ini penuh dengan kontradiksi. Dalam menaungi 'Matematika' pun tidak menutup kemungkinan menimbulkan perbedaan pendapat, yaitu perbedaan pendapat antara pure-mathematician dengan pendidikan matematika. Jika keduanya saling memahami tidak akan menjadi masalah, seperti halnya PMRI (Pendekatan Matematika Realistik Indonesia). Yang berkembang adalah konsep, matematika itu konsisten, yang kontradiksi adalah media kontekstualnya, tergantung dari penerapannya. Namun pada dasarnya, konsep matematika itu konsisten. Adanya perbedaan dalam matematika mengajarkan kita untuk saling menghormati dan menempatkan diri sesuai dengan keahlian kita masing-masing. Matematika mengajarkan nilai moral. Hal ini yang juga harus kita bawa ke dunia matematika siswa. Agar siswa tidak salah dalam memaknai matematika baik secara ilmu maupun pelajaran kehidupan.

    ReplyDelete
  4. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Pandangan yang berbeda, maka akan memberikan sebuah peluang untuk mengkompromikan di antara keduanya yang bisa saling menghormati dan melengkapi satu sama lain. Misalnya, dari PMRI dengan Pure Mathematician dan para Mathematical Educationist yang memang memiliki cara pandang yang berbeda. Namun, keduanya memiliki visi yang sama dalam melakukan perkembangan pendidikan yang lebih baik. Dari kesamaan visi itulah mungkin bisa membuat kedua pandangan tersebut bisa saling menghormati serta melengkapi satu sama lain.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  5. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Dengan pandangan yang berbeda akan menjadi pengembangan ilmu pengetahuan. Ketika kedua pandangan yang berbeda tersebut terjadi konflik dan mempertahankan apa yang dianutnya, maka butuh jalan tengah yang akan menjadi solusinya. Untuk menemukan solusi diantara keduanya hendaknya saling menghargai dan menghormati dalam menyampaikan gagasannya, jika tidak, maka tidak akan menemukan solusi yang tepat untuk keduanya.

    ReplyDelete
  6. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam pembelajaran yang dilakukan tentunya terdapat perbedaan-perbedaan pandangan tentang bagaimana? Dan apa yang harus dilakukan? Terhadap pembelajaran matematika, akan tetapi ketika terjadi perbedaan tersebut maka sebaiknya tidak perlu membawa ego masing-masing akan tetapi harus adanya saling pengakuan dan saling menghormati serta duduk bersama untuk dapat mendiskusikannya sehingga dapat terlihat kekurangan dan kelebihan masing-masing pembelajarannya.

    ReplyDelete
  7. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Dengan berbagai pandangan yang berbeda-beda tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan terhadap pembelajaran matematika, maka kontradiktif dalam matematika tetap ada. Oleh karena itu, harus ada solusi terbaik untuk keluar dari kontraktif yang ada. Dengan saling menghormati dan menghargai setiap persepsi antara satu dengan yang lain agar tidak terjadi lagi salah menterjemahkan apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dari berbagai pandangan yang ada, yang pada akhirnya dapat mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  8. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Dalam elegi ini digambarkan bagaimana pembelajaran matematika di sekolah yang menurut dua sudut pandang, yaitu:
    1. Menurut matematikawan murni
    Pembelajaran matematika di sekolah telah didasarkam pada Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dengan cara melakukan penelitian matematika.
    2. Menurut pakar pendidikan matematika
    Pembelajaran matematika di sekolah telah didasarkan pada Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist, yaitu dengan cara mempelajari untuk pengembangan pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  9. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Sejatinya setiap orang memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda termasuk dalam menentukan penyelesaian suatu masalah. Jika sebuah masalah dihadapkan kepada dua orang yang memiliki pandangan berbeda dalam menyelesaikan masalah tersebut, sebaiknya tidak menonjolkan ego masing-masing, agar masalah-masalah yang ada dapat terselesaikan dengan tuntas. Seperti halnya para Mathematical Educationist jika mereka berada pada wilayah matematika murni mereka harus menyesuaikan diri, mempelajari Dunia Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dengan cara melakukan Mathematical Research. Begitu juga jika para Pure Mathematician berada pada dunia pendidikan matematika maka mereka harus menyelami, mempelajari dan involved di dalam pengembangan Mathematical Education dalam aspek-aspeknya Intuitionist-Fallibist-Sosio-Constructivist. Solusi yang juga dapat ditawarkan adalah adanya rasa saling menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, dan proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  10. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Dua pandangan tentang matematika yang berbeda dari para logicist, Formalis dan faoundationalist dan pandangan para educationist harusnya dapat menjadi tantangan bagi kita untuk lebih mengembangkan matematika berdasarkan pemikiran mereka.Karena sesungguhnya baik kaum formalis dan educations adalah saling membutuhkan karena matematika tidak akan bermakna jika hanya berada dalam ranah formal begitu juga sebaliknya matematika yang diterapkan dan diajarkan juga tidakakan bermakna jika tidak didasari oleh pure mathematics (meliputi definisi,aksioma,terorema,dsb), sehingga keduanya akan saling terikat dan membutuhkan

    ReplyDelete
  11. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Antara pure mathematician dan mathematical educationist harus saling berherneutika, saling menerjemahkan. Bila pure mathematician berada pada wilayah mathematical educationist maka dia harus menyelami, mempelajari pengembangan mathematical education dalam aspek-aspeknya intuitionist-fallibist-sosio-constructivist. Sebaliknya, bila mathematical educationist berada dalam wilayah pure mathematician maka dia harus menyesuaikan diri dengancara melakukan mathematical research.

    ReplyDelete
  12. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum
    Saya kira yang perlu digaris bawahi dari elegi diatas “saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika”. saya kira kedua kubu masing-masing punya keahlian, punya ruang atau dunia masing-masing yang tentu harmoni keduanya lebih baik dan yang paling baik dalam konteks membelajarkan matematika.

    ReplyDelete
  13. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Berdasarkan tanggapan dari Prof Marsigit terhadap pertanyaan Prof Sutarto, saya melihat bahwa seharusnya antara matematika murni dan pendidikan matematika itu saling berkolaborasi dalam mengembangkan ilmu matematika. Namun ilmu matematika murni tidaklah dapat berkembang tanpa adanya pendidikan matematika. Karena pendidikan matematika mampu membagi ilmunya secara konkret dan konstruktivis kepada siswa sekolah dasar dan menengah. Begitu juga pendidikan matematika bukan apa-apa jika tanpa pemahaman dari matematika murni yang mampu membuat cara berpikir lebih logis, kritis dan sistematis.

    ReplyDelete
  14. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Matematika murni dan pendidikan matematika, dua hal yang saling membutuhkan satu sama lain. Para matematikawan dari matematika murni dan para pendidik dari pendidikan matematika dapat melakukan penelitian yang hasilnya dapat saling membantu satu sama lain dan juga saling melengkapi.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  15. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Pure Mathematics dan Educational mathematics memiliki perbedaan seperti yang sudah dikatakan pada komen sebelumnya jika kedua turun langsung menghadapi siswa didalam pembelajaran matematika. Apabila para Mathematical Educationist menelaah objek yang berada di lingkup pure mathematic, maka mereka harus mampu melakukan mathematical research. Begitu juga sebaliknya. Sehingga keduanya akan timbul rasa pengakuan dan rasa saling membutuhkan.

    ReplyDelete
  16. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Dalam pandangan kaum Logicist-Formalist-Foundationalist keterbatasan matematika hanya sebenarnya adalah bagaimana mengkomunikasikan matematika dalam bahasa dan dimensi yang sesuai dengan objek atau sasarannya. Berdasar perpektif epistemologi, kebenaran matematika terbagi dalam dua kategori yaitu pandangan absolute dan pandangan fallibilis. Absolutis memandang kebenaran matematika secara absolute, tidak diragukan lagi dan merupakan pengetahuan obyektif.Sedangkan menurut fallibilis kebenaran matematika adalah dapat dibenarkan, dan tidak pernah dapat menghargai kebenaran absolut di atas. Selama manusia masih hidup di dunia, maka manusia tidak akan terbebas dari hukum-hukum kontradiksi dan fallibism.

    ReplyDelete
  17. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Inilah solusi oleh Pak Marsigit, adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturahim dalam bidang matematika dan pendidikan matematika. Adanya perbedaan bukan untuk memecah belah, tetapi jadikanlah perbedaan tersebut menjadi pemersatu dan pelengkap satu sama lainnya.

    ReplyDelete
  18. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Matematika murni dan pendidikan matematika itu saling berkolaborasi dalam mengembangkan ilmu matematika. Namun ilmu matematika murni tidaklah dapat berkembang tanpa adanya pendidikan matematika. Karena pendidikan matematika mampu membagi ilmunya secara konkret dan konstruktivis kepada siswa sekolah dasar dan menengah. pandangan dari para Pure Mathematician di bawah naungan Logicist-Formalist-Foundationalist,kemudian pandangan dari para Mathematical Educationist di bawah naungan Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist.

    ReplyDelete
  19. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Seperti yang telah disampaikan dalam elegi pemberontakan pendidikan matematika yang lain, secara umum obyek matematika dibedakan menjadi dua. Jika obyeknya berada di dalam pikiran berarti matematika murni, sedangkan jika obyeknya berada di luar pikiran adalah matematika untuk pendidikan. Dalam elegi ini diberikan solusi untuk dapat menaungi keduanya, yaitu dengan adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik dalam bidang matematika dan pendidkan matematika. Ini dapat menjadi masukan yang perlu dipertimbangkan bagi para matematikawan yang terlibat di dalam membuat kebijakan pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  20. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Perdebatan antara pure Mathematics dan school Mathematics antara 3+4=7 tidak akan terjadi jika obyek yang dibicarakan sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika obyek yang dibicarakan dalam ruang dan waktu pure Mathematics maka school Mathematics tidak bisa mengintervensi dan begitu pula sebaliknya. Akan tetapi perdebatan itu untuk perbaikan pendidikan matematika kedepannya sehingga kedua obyek tersebut bisa saling mengakui dan menghormati, saling membutuhkan dan saling mengisi, seperti yang diungkapkan Prof. Marsigit.

    ReplyDelete
  21. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika I 2013

    Assalamualaikum Wr.Wb.
    Well, in my opinion, I agree that the solution is always appreciate each other. Pure mathematics and mathematics education are related each other. They are in the same level. Don't be arrogant with your own ego! Don't be selfish! We know that each problem need help from the other. Just like pure mathematics and mathematics education. They must help each other to solve their problem. Isn't it? I think that is enough. Thank you.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  22. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Ada perbedaan antara definisi matematika bagi Logicist-Formalist-Foundationalist dengan definisi matematika untuk siswa sekolah. Definisi matematika untuk para Logicist-Formalist-Foundationalist lebih bersifat mendalam sesuai dengan porsi mereka yang memang sudah memutuskan untuk terjun dalam dunia matematika yaitu matematika murni.

    ReplyDelete
  23. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Sedangkan definisi matematika untuk sekolah lebih menekankan pada aspek-aspek psikologis khusunya psikologis anak, sosial karena masa-masa sekolah adalah masa pembentukan karakter yang didukung oleh interaksi sosial, dan juga aspek contructivist, etc.. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengembangan dari kudua definisi matematika ini akan berbeda sesuai dengan prosi dari subjek dan objek yang terkait. terimakasih.

    ReplyDelete
  24. martin/Rwanda
    pps2016pep B
    Having red the writing found above, i can conclude that in mathematics we have two direction, the first is following the theories of logicists, formalists, and foundementalists, the second direction follows the theories of fallibists,socialists, and constructivists. that is why in mathematics we have pure mathematics which follows the first aspect and mathematics education which follows the second didrection. the second one whose one of the aspects is constructivism, it stresses more on the leaarners, which means the learners should be the centre of education.

    ReplyDelete
  25. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Merupakan hal yang kurang baik ketika para Pure Mathematician dan para Mathematical Educationist saling menunjukkan ego masing-masing karena keduanya memiliki peran dan wilayah masing-masing. Salah satu jalan keluar yang digunakan untuk menghadapi ego dari kedua pihak adalah dengan adanya saling pengakuan diantara dua pihak, rasa saling menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  26. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Seorang matematikawan yang baik yang berasal dari Logicist-Formalist-Foundationalist atau Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist harus dapat menyesuaikan di mana mereka berada dalam menerapkan ilmu yang dimiliki. Ketika mereka akan menerapkan dilingkungan pure matematikawan pemikiran abstrak memang sangat dibutuhkan. Tetapi ketika berada dilingkungan pendidikan makan kebutuhan realita matematika sangat dibutuhkan.

    ReplyDelete
  27. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Seperti pada coment saya sebelumnya, ternyata dibahas dibagian ini, yakni sebaiknya terjadi penggabungan antara kedua aliran matematika tersebut, sehingga di masa depan nantinya tidaklah muncul orang-orang yang hanya radikal terhadap satu mazhab saja. Disinilah peran kurikulum yang harus dibuat oleh para ahli didik dan ahli pikir negeri ini, dimana harus membuat suatu kurikulum yang dapat menggabungkan kedua aliran matematika tersebut. Menurut pemikiran saya, rasa-rasanya ketika seseorang telah terampil dalam menggabungkan dua aliran matematika tersebut, maka matematika akan sangat berguna dalam pemecahan masalah-masalah dan akan menjadi salah satu mata pelajaran yang paling disenangi dalam pelajaran di sekolah.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  28. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Perbedaan membuat khasanah ilmu itu menjadi indah. Dari elegi ini, saya mendapati bahwa seharusnya ada sinergi yang baik antara matematika murni dan pendidikan matematika dalam pengembangan ilmu matematika.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  29. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Padangan antara pure-mathematics dan mathematical educationist itu ketika disatukan maka akan tercipta sebuah harmonisasi yang indah, walaupun pada dasarnya kedua hal tersebut sangatlah susah untuk dipertemukan karena keduanya adalah berbeda sudut pandnag melihat matemaika. Ketika mereka duduk bersama pada satu meja dan memikirkan bahwa bagaimana mereka dapat memberikan pembelajaran matematika pada siswa dengan baik.

    ReplyDelete
  30. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Para pure mathematician dan mathematical educationis harus saling menghargai satu sama lain, karena dari perbedaan mereka mengenai pandangan matematika tetapi yang harus diketahui adalah mereka bersama-sama untuk membangun ilmu matematika. Saat mathematical educationis berada pada wilayah pure mathematician maka mathematical educationis harus bisa menyesuaikan diri. Begitu pula ketika pure mathematician berada pada wiayah mathematical educationis, mereka harus bisa mempelajari dan mengembangkan mathematical educationis.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  31. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pure mathematician dan mathematical educationist memang memiliki dunianya masing-masing yang terkesan bertolak belakang. Namun tetap ada yang bisa menjembatani keduanya. Yaitu jika obyek telaah berada diwilayahnya pure mathematician, maka para mathematical educationist lah yang harus menyesuaikan diri, mempelajari dunianya logicist-formalist-foundationalist, yaitu dengan cara melakukan mathematical risearch. Tetapi jika obyek telaah berada di wilayah mathematical educationist, maka pure mathematician seharusnyalah perlu menyelami, mempelajari dan involved di dalam pengembangan mathematical education dalam aspek-aspeknya intuitionist-fallibist-sosio-constructivist.

    ReplyDelete
  32. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    pure matehmatics dan math education, idealis dan realis, formallogis struktualis dan arkitektonik, langit dan bumi, tidak bisa aling menonkjolkan egonya masing-masing. keduany asling melengkapi, dengan berjalan dengan sinergi maka masalahnya bisa tuntas.

    ReplyDelete
  33. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Para matematikawan yang sudah terbentuk harus memiliki sifat yang baik terhadap matematikawan yang lain apaun jenisnya. Sifat tersebut adalah saling mengakui keberadaan masing dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika. Apabila semua itu bisa dilaksanakan dengan baik dan teratur maka tujuan pendidikan matematika pun dapat tercapai pula.

    ReplyDelete
  34. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Mengutip kalimat dari elegi di atas, “Solusi yang ditawarkan adalah adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika”. Ya, karena dalam hidup kita akan terus belajar. Selama proses belajar, tidaklah kita selalu langsung benar. Ada kesalahan yang menjadikan kita berpikir menjadi benar. Kita sama-sama belajar, sama-sama mencari ilmu, mari menghargai dan saling mengisi.

    ReplyDelete
  35. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Salah satu kalimat yang sangat menarik dari elegi di atas bagi saya adalah, “Jika masing-masing berpegang kepada EGOnya masing-masing maka tidak akan pernah bertemu”. Begitupun hidup yang penuh kontradiksi ini, kita harus meredam ego, mengesampingkan ego sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan. Kita tidak akan bisa hidup tanpa manusia lain, maka EGO haruslah digunakan sesuai porsinya. Sebagai kaum terdidik, yang telah sadar sejatinya fungsi kita selanjutnya adalah menyadarkan yang lain agar tercipta kehidupan yang harmonis di era dinamis.

    ReplyDelete
  36. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Solusi yang ditawarkan adalah adanya saling pengakuan dan rasa menghormati, rasa saling membutuhkan dan saling mengisi, serta tidak saling menonjolkan egonya masing-masing, tidak bersifat hegemoni, proporsional sesuai dengan keahliannya masing-masing, menjalin komunikasi yang baik serta silaturakhim dalam bidang matematika dan pendidkan matematika. ini merupakan pandangan dan pendapat yang sangat bijak sana menurut saya, dan sangat pas.

    ReplyDelete
  37. Syahrial
    16701251015
    S2 PEP kelas B 2016
    Dan menurut saya yang menjadi menarik berdasarkan elegi di atas adalah bahwa segala ssuatu itu harus ditempatkan sesuai ruang dan waktunya, jika kita berada di objek telaah matematika murni maka pendidikan matematika harus menyesuaikan, dan bila berada pada objek telaah pendidikan matematika maka matematika murni harus menyesuaikan pula. dan tidak ada yang lebih hebat atau lebih lemah, karena kedua-duanya hebat sesuai dengan objek telaah masing-masing.

    ReplyDelete
  38. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Dua prosedur cara pemikiran yang berbeda antara matematika murni dan matematika sekolah. Keduanya sesungguhnya dapat bersinergi jika saling menyelami dan memahami. Harapannya ketika kedua nya dapat bersinergi, matematika yang dipelajari siswa akan memiliki perkembangan yang kemudian dapat diimpelemenatasikan dalam mengahadapi masalah konkrit atas dasar pembaharuan pengetahuan. Di sisi lain matematika murni juga dapat menjadikan dirinya semakin luas melihat sebagian dunianya perlu dipelajari dan diprediksi dikemudian hari.

    ReplyDelete
  39. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Kembali ke permasalahan pelabelan kaum matematikawan, saya hanya ingin mengajukan pertanyaan singkat, meskipun saya tahu ini tidak akan dijawab, jadi saya hanya ingin teman-teman lain terutama dari pendidikan matematika untuk merenungi. Jikalau teman-teman pendidikan matematika yang lebih cenderung menjadi logicist, bagaimana menjelaskan kepada siswa tentang nilai π adalah 3.14? apakah siswa tetap akan diarahkan untuk mebuktikannya ala Logicist-Formalist-Foundationalist? saya rasa itu akan sulit dipahami oleh siswa.

    ReplyDelete
  40. Bismillah Berkah
    Ratih Kartika
    16701251005
    PPS PEP B 2016


    Assalamualaikumwarahmatulahiwabarrakatuh
    Dari elegy diatas kita belajar bahwa pembelajaran matematika menurut pakar pendidikan matematika : Pembelajaran matematika di sekolah telah didasarkan pada nilai nilai Intuitionist-Fallibist-Socio-Constructivist, yaitu dengan cara mempelajari untuk pengembangan pendidikan matematika.

    Wassalamualaikumwarahmatulahiwabarakatuh

    ReplyDelete
  41. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016


    Elegi di atas menjelaskan bahwa ilmu matematika dan pendidikan yang berdiri sediri. Harusnya, ilmu dan pendidikan matematika saling berkolaborasi mengembangkan matematika sehingga menjadi sebuah disiplin ilmu yang berinovasi didalam pendidikan. Matematika berangkat dari intuisi manusia yang akan terus berubah dan berkembang mengikuti perubahan ruang dan waktu.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id