Feb 12, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 18: Apakah Mat Kontradiktif (Tanggapan utk Ibu Kriswianti)




Oleh Marsigit

Dear Ibu Kriswianti,

Terimakasih telah menanggapi tulisan saya. Saya membetulkan bu, yang mengatakan 3+4=7 itu kontradiksi itu saya, bukan Pak Wono. Tetapi klaim saya itu tidak bisa hanya dibaca sepotong-potong; itu harus dibaca secara menyeluruh dari Bagian Satu sd Bagian Tujuh.

Kelihatannya Ibu terpaku untuk memandang Makna Matematika hanya dari satu titik tertentu; padahal masih sangat banyak pandangan tentang matematika yang lain, yang bersifat lebih mendasar, lebih hakiki dan lebih luas.

Obyek Matematika bersifat abstrak untuk Logicist-Formalist-Foundationalist. Bertumpu pada kesepakatan itu untuk membangun definisinya atau sistemnya; tetapi tiadalah kesepakatan itu menjadi prioritas bagi Sistem Matematika yang satu dengan yang lainnya. Lebih luas, yang terjadi justeru lebih banyak perbedaan pendapat diantara para mathematical philosopher.

Berpikir pola deduktif itu juga untuk Logicist-Formalist-Foundationalist. Memiliki simbol yang kosong dari arti maksudnya adalah terbebas dari ruang dan waktu. Konsisten pada sistemnya itulah pikiran dan karya kaum Logicists.

Jika notions-notions itu datang begitu saja tanpa ada penjelasan maka itulah yang namanya MITOS dalam matematika.

Jika para mathematicians gagal menjelaskan maka semua karakteristik yang ibu sebutkan itu bisa dianggap hanya sebagai MITOS belaka. Oleh karena itu jika ibu bisa memberikan tanggapan atas tanggapan saya ini, itu sangat diharapkan sebagai usaha bersama kita untuk sama-sama memikirkan matematika tidak hanya sebagai MITOS tetapi sebagai LOGOS.

Bisa juga dibaca Elegi Pengakuan Para Matematika. Atau akses di http://powermathematics.blogspot.com

Demikian mohon maaf jika kurang berkenan.

Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit
________________________________________
From: Theresia Kriswianti
To: indoms@yahoogroups.com
Sent: Sat, September 25, 2010 9:17:23 AM
Subject: Re: [indoms] Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketujuh)

Urun rembug mengenai konsistensi dalam Matematika:Menurut Prof Sudjadi dalam bukunya Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, Matematika mempunyai karakteristik sbb:
1. Memiliki obyek kajian abstrak
2. Bertumpu pada kesepakatan
3. Berpola pikir deduktif
4. Memiliki simbol yang kosong dari arti
5. Memperhatikan semesta dari pembicaraan
6. Konsisten pada sistemnya.
Jadi kalau yang dikemukakan pak Wono bahwa terjadi kontradiksi karena 3 + 4 = 7 saya kira tidak tepat. Dia tetap konsisten pada semestanya, yakni bilangan berbasis 8 ke atas.

Demikian, semoga bermanfaat. Terima kasih.
Kriswianti

36 comments:

  1. Konstantinus Denny Pareira Meke
    NIM. 16709251020
    PPs S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2016

    Belajar filsafat itu memang tidak mudah, tetapi filsafat akan menuntun kita untuk dapat melihat segala sesuatu itu tidak hanya setengah-setengah, karena filsafat akan membimbing kita untuk berfikir secara mendalam, menyeluruh dan sistematis. Pada hakikatnya untuk belajar filsafat ataupun belajar yang lain kita membutuhkan keikhlasan dan totalitas. Jadi untuk memahami sesuatu jangan hanya dengan membaca sepotong-sepotong, bahkan jika pelu berkali-kali agar kita benar-benar tau makna dari yang kita peajari tersebut. Untuk mencapai pemahaman/keberhasilan dari sesuatu yang kita pelajari, kita mesti ikhlas dan secara totalitas benar-benar berusaha mempelajarinya.

    ReplyDelete
  2. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Ini lah beda filsafat dengan dunia hakikat, sebenar-benarnya jawabanmu adalah penjelasanmu. suatu mitos muncul ketika seseorang hanya memahami separuh dari dunia, tanpa memikirkan separuh dunia lain dalam pandangan filsafat. saya sendiri perlu membaca berulang-ulang sebuah kalimat untuk mengetahui makna filsafat dari kalimat tersebut, terkadang saya kesal sendiri, bingung sendiri dan marah sendiri, namun ketika sumber bacaan kita banyak dengan sendirinya kontradiksi tersebut berubah menjadi ilmu.

    ReplyDelete
  3. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Pandangan dalam filsafat berbeda dengan pandangan dalam matematika selama ini. Filsafat memikirkan segala yang ada dan yang mungkin ada, filsafat mencakup yang ada di dalam pikiran dan di luar pikiran. Matematika yang ada selama ini menurut filsafat hanyalah mencakup yang ada di dalam pikiran saja, karena tidak terikat oleh ruang dan waktu sehingga bersifat konsisten. Ilmu matematika tidak sesempit yang ada dalam pikiran kita. Ketika kita menyatakan sesuatu, sesungguhnya itu hanya sebagian kecil saja. Para ilmuwan telah memiliki kesepakatan terhadap ilmu matematika, baik yang identitas maupun kontradiksi. Matematika yang ditemui pada kehidupan nyata akan dikonversi ke dalam pikiran sehingga pada pengerjaannya akan terbebas dari ruang dan waktu. Sesungguhnya kita harus memperhatikan sudut pandang yang kita gunakan, sudut pandang filsafat atau sudut pandang matematika.

    ReplyDelete
  4. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Memahami filsafat membutuhkan proses yang berulang-ulang. Karena memang filsafat adalah pola pikir. Jika filsafat belum bisa diterapkan dalam kehidupan maka akan menjadi mitos. Karenanya, filsafat membutuhkan penjelasan yang menyeluruh dan tidak terpotong-potong.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  5. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam memandang suatu persoalan, baik itu persoalan yang terjadi dalam matematika ataupun yan lainnya maka kita tidak boleh memandangnya secara sebagian saja tetapi harus lah secara menyeluruh agar tidak terjadi kesalahpahaman persepsi ataupun mengartikan apa yang di maksud dan apa yang tertuang dalam konteks persoaln tersebut. seperti yang dikatakan dalam elegi diatas bahwa persoalan yang ada itu bukan hanya itu, tetapi masih banyak persoalan yang lebih mendasar dan lebih hakiki dan lebih luas.

    ReplyDelete
  6. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Karena filsafat itu merupakan apa yang kita pikirkan, maka dalam memahaminya tidak boleh setengah-setengah, tetapi haruslah secara mendalam. Begitu pula ketika memandang persoalan yang terjadi dalam matematika maupun ilmu yang lain, janganlah memandangnya dengan setengah-setengah tetapi harus menyeluruh sehingga tidak terjadi kesalahpamahan dalam berargumen dan apa yang terkandung pada permasalahan yang terjadi. Oleh karena itu, untuk memahami persoalan yang ada haruslah dilakukan secara ikhlas dalam mempelajarinya.

    ReplyDelete
  7. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Dalam memahami suatu logos maka kkita diharapkan untuk betul-betul mengetahui akan suatu hal, karena dari sanalah akan didapatkan ilmu pengetahuan. Setelah kita mengetahui ilmu pengetahuan, maka dengan sendirinya kita akan mempu menjelaskan kembali mengenai hal apa yang telah kita ketahui tersebut,. Hal inilah yang disebut dengan logos. Namun sebaliknya ketika kita belum mampu menjelaskan ulang mengenai apa yang telah didapatkan, maka berhati-hatilah, karena yang demikian itu dikenal dengan mitos. Salah satu cara yang dapat dijadikan solusi adalah dengan memperbanyak membaca secara keseluruhan dan bukan hanya membaca secara parsial. Dengan membaca maka kita dapat lebih mendapatkan banyak manfaatnya, seperti dalam istilah “membaca adalah jendela dunia”.

    ReplyDelete
  8. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Pada hakikatnya untuk belajar atau memahami sesuatu ilmu dengan cara membaca maka membutuhkan keikhlasan, dengan membaca secara berulang-ulang, intensif dan menyeluruh untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam atau untuk menemukan makna yang terkandung didalamnya. Jadi untuk memahami sesuatu jangan hanya dengan membaca secara sepotong-sepotong (sebagian), analoginya misalnya kita membaca sebuah buku cerita yang berjumlah 100 halaman, maka adalah sangat tidak mungkin bagi kita jika hanya membaca 5 halaman terakhir untuk mengetahui akhir dari cerita tersebut kemudian dapat menceritakan isi dari buku tersebut secara menyeluruh dan detail.

    ReplyDelete
  9. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Masih mengenai kasus 3+4=7. Pemaknaan matematika suatu kekonsistenan atau kontradiktif tergantung pada subyek penilainya dan dari segi mana ia memandang. Meskipun menurut Ibu Kriswianti menganggap hal tersebut adalah suatu kekonsistenan berdasarkan Prof Sudjadi, namun tidak demikian menurut Prof Marsigit. Yang terlihat konsisten adalah kesepakatan. Bertumpu pada kesepakatan itu untuk membangun definisinya atau sistemnya; tetapi tiadalah kesepakatan itu menjadi prioritas bagi matematika yang satu dengan matematika yang lainnya.

    ReplyDelete
  10. Nanang Ade Putra Yaman
    16709251025
    PPs PM B 2016

    Assalamualaikum

    Pola pikir matematika deduktif dengan obyeknya yang abstrak sebagaimana matematikanya untuk kaum Logicist-Formalist-Foundationalist berdasar pada kesepakatan untuk membangun definisi atau sistemnya sebagaimana elegi diatas. Dunia Logicist-Formalist-Foundationalist yang terbebas oleh ruang dan waktu sistemnya konsisten dan ini adalah identitas, tidak kontradiktif. Jika konsisten pada system matematika kaum Logicist-Formalist-Foundationalist terikat ruang dan waktu maka tidak mutlak identitas.

    ReplyDelete
  11. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Jangan terpaku pada satu titik dalam memandang matematika. Karena matematika dapat dipandang dalam banyak titik. Kita berusaha bersama untuk sama-sama memikirkan matematika tidak hanya sebagai mitos tetapi sebagai logos.

    ReplyDelete
  12. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Untuk memahami filsafat dan memahami apakah matematika kontradiksi memamng tidaklah bisa hanya dengan membaca sekali, dua kali. Selain harus dibaca secara menyeluruh kita juga harus membacanya berulang kali untuk memahami makna dari beberapa artikel yang Bapak bagikan.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  13. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Kita memang manusia yang tidak sempurna karena memandang kontradiksi dari masing-masing orang yang berarti sudut pandangnya juga berbeda. Sehingga dalam memahami suatu hal sebaiknya dijadikan refleksi pada diri sendiri dahulu, karena mungkin sesuatu yang mungkin ada masih menunggu kita untuk dilihat. Sehingga yang ada tidak menjadi acuan secara menyeluruh untuk memberikan suatu pandangan.

    ReplyDelete
  14. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Dari awal saya telah menyatakan bahwa matematika itu adalah ilmu, karena matematika itu adlah kontradiktif. sejalan dengan paparan diatas bahwa Prinsip Identitas tidak memberikan ilmu atau tidak bisa digunakan sebagai Basis Pembentuk Ilmu. sehingga memang ternyata sebenar-benar ilmu itu adalah kontradiktif, karena didalam matematika akan bergejolak ke kontardiktifan pemikiran.

    ReplyDelete
  15. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Ilmu merupakan sesuatu yang tidak diam. Termasuk ilmu matematika. Jika kita sudah puas dan berdiam diri dengan yang sudah ada maka bukan hanya diri kita yang tidak berkembang tetapi ilmu matematika juga tidak berkembang. Saya setuju dengan kalimat 'terpaksa menjadi matematikawan yang menelan Prinsip Kontradiksi tetapi terhibur menjadi seorang Ilmuwan yang mantap', karena manusia yang berakal budi baik adalah manusia yang dapat menempatkan posisi di mana ia berada. Jika matematikawan berada dalam ruang filsafat, maka harus menerima bahwa adanya kontradiksi dalam ilmunya yang mencakup terikat oleh ruang dan waktu. Tetapi jika matematikawan berada dalam dunia matematika itu sendiri, matematika tetaplah konsisten dengan idealisnya karena tidak terikat oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  16. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Filsafat itu berpikir secara intensif dan ekstensif. Yakni berpikir sedalam-dalamnya dan berpikir seluas-luasnya. Jika tidak mampu maka akan salah runag dan salah waktu. Terkadang benar atau salah itu tergantung pada sudut pandang dan dimensi seseorang dalam memahami sesuatu. Maka kita dituntut untuk meningkatkan dimensi kita dan memahami sisi lain dari suatu masalah.

    ReplyDelete
  17. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs PM B

    Dari komentar Ibu Kriswianti tersebut kita dapat mengambil hikmah bahwa dalam memandang suatu masalah atau apapun tidak cukup hanya dengan memandangnya secara parsial. Kita harus dapat memandangnya secara menyeluruh. Karena pandangan yang hanya sebagian saja akan memberikan makna yang berbeda dengan yang seharusnya. Bahkan terkadang memandang secara menyeluruh saja belum cukup bila kita tidak benar-benar memahaminya.

    ReplyDelete
  18. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika I 2013

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    In my opinion, I agree with Mr. Marsigit's opinion that mathematics can't be seen in one aspect, but all of acpect. If we want to learn mathematics, we must learn all about mathemtaics. Just don't see anything with one side! Same with mathematics. Mathematics has many object in it. Mathematics has its own special characterictic. Mathematics is really beautiful. Mathematics can be contradiction according to space and time. I think that is enough. Thank you.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  19. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Matematika adalah ilmu pasti yang mengandung berbagai simbol dan makna. Oleh karena itu kita tidak harus mempelajarinya dalam setengah saja tetapi harus belajar secara global tetapi juga secara rinci karena jika tidak akan ada kesalahpahaman dalam memahami konsep.

    ReplyDelete
  20. Mifta Tyas Laksita Sari
    Pend. Matematika A 2013
    13301241005

    Jika semua yang kita dengar dan kita lihat tanpa kita fikirkan kita mempercayainya tanpa ada penjelasan akan menjasdi mitos. Seperti halnya ketika kita mempercayai begitu saja tanpa adanya penjelasan dalam belajar matematika maka dapat dikatakan itu merupakan mitos. Mempelajari matematika pun ada pembuktian dan penjelasan yang konsisten misalkan teorema, dalam mempelajari teorema kita mempelajari ada pembuktian.

    ReplyDelete
  21. martin/Rwanda
    pps 2016 pep B
    in mathematics, there are some myths:The Genius Myth
    This myth involves the belief that people who are successful in math are smarter (and maybe "better") than the rest of us. Somehow mathematical ability is viewed as higher or more enlightened than other abilities. For example, musicians may be embarrassed to be low in math skills, but mathematicians may not be embarrassed if they have low music ability. It is important to place math ability on the same level as other abilities. There is no proof that one type of skill is better than another.
    The It-Should-Be-Easy Myth
    Some people believe that those who do well in math find it easy and that if it is difficult, one simply doesn’t have a "math mind." The fact of the matter is that difficult math solutions do not come quickly or easily. Having difficulty in solving problems is not unusual. The only problems mathematicians do quickly are those they have done before. Speed is not a measure of ability. It is the result of experience and practice.

    The Good Memory Myth
    This myth implies that a phenomenal ability to recall formulas is necessary for the mastery of math. Learning math, however, does not require an exceptional memory. Instead, knowing math means that concepts make sense to you, and rules and formulas are understood.

    ReplyDelete
  22. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    segala sesuatu termasuk matematika tidak boleh dipandang dari satu sisi saja karena al itu akan merugikan diri kita. adanya keberagaman pandangan mengenai berbagai hal merupakan keindahan hal itu, yang jika dikembangkn akan memperkaya pengetahuan kita dan membuat kita semakin bijak dalam berpikir dan bertindak. selain itu jika kita sudah mampu untuk berpikir dari banyak pandangan, kita tidak akan menerima begitu saja mitos tetapi akan mencari logos.

    ReplyDelete
  23. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Lagi-lagi dalam hal ini, terjadinya kontradiktif dalam matematika hanyalah perbedaan antara sudut pandang dan ruang lingkupnya saja, memang 3 + 4 = 7 bersifat salah jika basisnya kurang dari delapan, meskipun jawaban salah, tapi dengan ruang lingkup yang benar, maka hal itu menjadi benar, karena matematika tidaklah hanya bilangan berbasis 10 saja. Oleh karena itu dalam menjumlahkan matematika kita harus sensitif terhadap ruang dan waktu pembicaraan sehingga kita tidak mudah men-justice bahwa itu jawaban yang salah karena matematika itu memiliki ruang lingkup yang luas

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  24. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Memahami matematika jika dipandang dari ilmu filsafat terjadi perbedaan. Menurut filsafat, ilmu matematika hanya mempelajari yang ada dalam pikiran saja. Padahal, sebenarnya matematika merupakan ilmu yang mempelajari tidak hanya yang ada dalam pikiran saja, tetapi semua yang ada di kehidupan sehari-hari kita.

    ReplyDelete
  25. Diah Nuraini Kartikasari
    13301241006
    Pend. Matematika A 2013

    Dalam menghadapi suatu permasalahan, hendaknya tidak hanya memandang dalam satu sudut pandang saja, akan tetapi secara menyeluruh memahami permasalahan tersebut. Begitu juga dalam mempelajari matematika. Hal ini dilakukan supaya kita tidak disebut mitos. Sesuatu dikatakan mitos apabila kita percaya terhadap perkataan orang tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Seperti dalam belajar matematika, sebaiknya tidak hanya 1 sumber saja tetapi dengan banyak sumber.

    ReplyDelete
  26. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Pengertian kontradiktif tidak daat didefinisikan secara terpisah-pisah. Pengertian kontradiktif dalam matematika sangat berbeda dengan pengertian kontradiktif dalam dunia filsafat. Misalnya 5+4=9 tampak tidak kontradiktif dalam dunia matematika.
    Tetapi apabila pernyataan tersebut tidak terbebas dari ruang dan waktu, maka bisa saja pernyataan tersebut menjadi. Oleh karena itu, pengertian kontradiktif tidak dapat diartikan secara terpisah-pisah.

    ReplyDelete
  27. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Dalam mempelajari sebuah ilmu kita tidaklah boleh melihat sesuatu hal hanya dari satu sisi saja, akan tetapi harus melihat dari berbagai sisi. Matematika disusun berdasarkan kesepakatan untuk membentuk sebuah sistem atau definisinya. Akan tetapi terjadi sebuah perbedaan dari beberapa ilmuan sehingga itulah yang akan memperlihatkan matematika kontradiktif.

    ReplyDelete
  28. ULFA LU'LUILMAKNUN
    16709251022
    S2 Pendidikan Matematika 2016 Kelas B

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Permasalahan di dunia tidak bisa kita selesaikan ketika hanya memandang dari satu sisi saja, begitu juga matematika yang tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, jika dilihat dari satu sisi maka masih separuh dunia. Pada elegi sebelumnya disebutkan bahwa dunia seutuhnya terdapat dua prinsip hakekat yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiksi, dimana prinsip-prinsip itu harus kita ketahui agar kita dapat memikirkan matematika sebagai logos.

    Wassalamualaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete
  29. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Ketika kita sedang berusaha memahami sesuatu, kita harus membaca secara lengkap dan utuh. Sehingga tidak terjadi salah pemahaman yang disebabkan kita hanya mencermati sebagiannya saja. Pembahasan filsafat terkait pertanyaan "Apakah Matematika Kontradiktif?" ini jangan sampai membuat kita meragukan kebenaran matematika yang bersifat universal. Karena memang objek pikir filsafat dan matematika itu berbeda.

    ReplyDelete
  30. Nur Dwi Laili Kurniawati
    13301241063
    Pendidikan Matematika C 2013

    Ketika kita membaca dan mencoba memahami sesuatu maka kita harus memahami bacaan kita secara keseluruhan karena satu kalimat tidaklah mencerminkan keseluruhan si bacaan. Kita juga harus memahami dari sudut pandang mana kita melihatnya. "3+4=7" menjadi kontradiktif untuk bilangan berbasis 7 kebawah dan benar untuk bilangan berbasis 8 keatas. Maka dalam memahami sesuatu itu juga diperlukan pikiran- pikiran kritis dan tidak begitu saja menerima agar kita tidak terjebak dalam mitos.

    ReplyDelete
  31. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Kontradiktif dalam matematika sangat berbeda dengan pengertian kontradiktif dalam dunia filsafat. Seperti misalnya 3+4=7 tampak tidak kontradiktif dalam dunia matematika. Tetapi apabila pernyataan tersebut tidak terbebas dari ruang dan waktu, maka bisa saja pernyataan tersebut menjadi kontradiktif karena yang dimaksud adalah penjumlahan dengan basis 8. Maka dari itu, pengertian kontradiktif tidak dapat diartikan secara sepotong-sepotong.

    ReplyDelete
  32. Nuha Fazlusalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    bagaima jika matematika itu adalah ilmu deduktif kemudian induktif untuk menghilangkan kemitosan yang ada pada matematika, ini adala pola yang seimbang seperti ilmu alam lainnya seperti fisika kimia dll, ilmu itu bersdifat induktif kemudian di deuktifakn keseimbnagn induktif dan deduktif itulah ynag mungkin menghindarkan terjadinya kemitosan pada suatu ilmu.

    ReplyDelete
  33. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    PEP B 2016

    Berdasarkan elegi di atas, matematika mempunyai karakteristik adalah memiliki obyek kajian abstrak, bertumpu pada kesepakatan, berpola pikir deduktif, memiliki simbol yang kosong dari arti, memperhatikan semesta dari pembicaraan, konsisten pada sistemnya. Karakteristik tersebut harus dijaga agar matematika tetap memiliki konsitensi yang tinggi.

    ReplyDelete
  34. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Tanggapan dari Ibu Kriswianti membuktikan bahwa filsafat benar-benar membentuk oleh pikir. Sebagaimana beberapa elei terkait “apakah matematika kontradiktif” ini telah mengolah pikiran kita hingga mengkaji hakikat matematika secara mendalam. Selama ini, yang kita ketahui matematika adalah ilmu hitung-hitungan dan rumus untuk menghitung atau mengukur dan mengkalkulasi. Tapi jika bicara dari sudut pandang filsafat, ternyata tidak sesederhana itu.

    ReplyDelete
  35. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Dewasa ini filsafat matematika merupakan bidang pengetahuan yang sangat luas. Perincian problem-problem dan ruang lingkup filsafat ilmu dalam penerapannya terhadap filsafat matematika dapat dan perlu diterbitkan sehingga tercipta skema yang lebih sistematis dan memungkinkan pembahasan selanjutnya yang lebih jelas. Begitu juga halnya matematika yang demikian ternyata jika dipandang dengan sudut pandang titik yang lain 3 + 4 tidak selalu sama dengan 7. Jika tidak ada pembuktian yang secara jelas, maka pandangna tersebut hanya dianggap sebagai mitos. Meskipun pada dasarnya pikiran manusia hanyalah sebatas mitos yang sangat jauh dan tinggi untuk menggapai sebenar benarnya logos.

    ReplyDelete
  36. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Dari pemikiran Ibu Kriswianti, memang benar bahwa operasi 3+4=7 adalah konsisten pada basis bilangan 8 keatas, namun operasi itu sendiri akan bernilai kontradiktif jika syarat-syaratnya tidak disebutkan, sehingga benarlah menurut pemahaman saya bahwa operasi tersebut juga kontradiksi jika dilepaskan begitu saja tanpa ada syarat yang mengikutinya.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id