Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 17 : Para Bagawat Berlomba Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Paralogos:

Wahai Transenden...tiada yang lebih asyik dari pada melihat kiprah para Bagawat. Kenapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa. Kenapa sumua orang sangat menaruh perhatian kepada kiprahnya para Bagawat?

Transenden:
Wahai Paralogos..benar apa katamu. Mengapa para Bagawat itu menempati kedudukan istimewa? Karena tidak ¬mudah untuk memperoleh kedudukan dan status sebagai seorang Bagawat itu. Bagawat itu adalah perjuangan panjang. Bagawat itu adalah akumulasi pengalaman dan hidup. Bagawat adalah amanah pengemban ilmu tinggi. Bagawat adalah tanggung jawab dan previlage. Bagawat adalah nilai moral. Bagawat adalah hak prerogatif. Bagawat adalah ikhtiar prima. Bagawat adalah ketentuan dan takdir. Bagawat adalah penentu nasib. Bagawat adalah merah hijaunya masyarakat dan bangsanya. Bagawat adalah etik dan estetika. Bagawat adalah konsistensi dan komitmen. Bagawat adalah panutan dan pembimbing. Bagawat itu formal yang normatif. Bagawat itu normatif yang formal. Bagawat itu doa dan harapan. Bagawat itu mandiri dan sistemik. Bagawat itu hidup dan menghidupkan. Bagawat itu metafisik. Bagawat itu filsafat. Begawat itu mengatasi Ilmu Bidang. Bagawat itu Orang Tua Berambut Putih. Bagawat itu logos. Bagawat itu phenomenologi. Begawat itu hermenitika. Begawat itu tidak hanya kualitas primer, tetapi kualitas sekunder, tertier, kuarter, dst. Begawat itu tidak hanya dimensi satu, tetapi dimensi dua, dimensi tiga dan dimensi empat. Bagawat itu tidak hanya pengalaman tetapi para logos. Bagawat tidak hanya bertanya tetapi memutuskan. Begawat tidak hanya sintetik tetapi analitik. Begawat tidak hanya a posteriori tetapi juga a priori. Bagawat tidak hanya intrinsik, tetapi juga ekstrinsik dan sistemik. Bagawat tidak hanya dulu, sekarang dan yang akan datang, tetapi Bagawat itu adalah dulu yang sekarang, sekarang yang akan datang, dan yang akan datang sekarang. Bagawat tidak hanya local genious tetapi means of global. Begawat tidak hanya diam tetapi action. Begawat tidak hanya action tetapi diam. Begawat tidak hanya mencari tetapi memberi. Begawat tidak hanya praktek tetapi berterori. Bagawat tidak hanya berteori tetapi praktek. Bagawat tidak hanya internal tetapi eksternal. Bagawat tidak hanya potensi tetapi faktual. Begawat tidak hanya wacana tetapi fungsi kontrol. Bagawat tidak hanya yang ada tetapi yang mungkin ada. Bagawat tidak hanya yang terbatas tetapi yang terbatas.

Paralogos:
Wah...wah...banyak sekali pegertian bagawat itu? Kenapa engkau dapat mendefinisikan Bagawat dengan banyak sekali pengertian?

Transenden:

Kata-kataku dan kalimatku tidak akan cukup untuk mendefinisikan apa itu Bagawat. Kenapa? Karena Bagawat itu tidak hanya dunia tetapi juga akhirat. Bagawat itu tidak hanya kata-kata, tetapi juga pikiran dan hati. Tiadalah kata-kataku itu mampu menjelaskan semua pikiran dan hatiku.

Paralogos:

Singkat kata dapatkah anda sebutkan siapa yang disebut Bagawat itu?

Transenden:
Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Dia bisa Kepala Rumah Tangga, bisa Kepala Desa, bisa Camat, bisa Presiden, bisa Guru, bisa Rektor, bisa Dosen, bisa Profesor, bisa Menteri...yaitu semua yang merasa sebagai pengemban dan pengembang ilmu serta mengimplementasikannya.

Paralogos:

Wahai transenden...apa kemudian rencanamu setelah orang banyak mengetahui apa itu Bagawat?

Transenden:
Tidak engkau rasakan. Tidak pula dirasakan oleh Bagawat. Tidak pula dirasakan oleh Cantraka, Rakata dan Cemani. Tidak pula dirasakan oleh semua warga. Sebenar-benar yang terjadi adalah kita selalu sedang menyaksikan Perlombaan Menjunjung Langit khusus bagi para Bagawat. Marilah kita mendengar, melihat dan mengikuti apa kata fenomena tantang perlombaan ini.

Bagawat Plagiat:
Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “ Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal Ilmuwan MENGADA dan Ilmuwan PENGADA? Guru yang memalsukan PAK adalah guru yang tidak mampu mengenal dirinya sebagai Guru ADA. Maka dengan sendirinya dia juga tidak mengenal dirinya sebagai Guru MENGADA dan Guru PENGADA. Kegiatan memalsukan karya tulis apakah itu oleh seorang Ilmuwan Plagiat dan memalsukan PAK oleh seorang guru adalah kegiatan memalsukan dirinya sebagai MENGADA. Itulah peran dan jasa Ruang dan Waktu yang tidak akan pernah lalai mencatat segala perbuatan manusia, bahwa sebenar-benar keber ADA annya adalah SAKSI bagi MENGADA nya. Tidak hanya itu, maka segala YANG ADA dan YANG MUNGKIN ADA juga menjadi SAKSI bagi keber ADA annya dan ke MENGADA nya”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada referensi tentang Ada dari Bagawat Sistemik Transinternasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil saja Referensi ini sebagai karyaku. Gamblinglah diriku. Jika mujur maka makmur, tetapi jika tidak mujur yah..terpaksa memperoleh gelar Bagawat Plagiat itu pilihan tak terhindarkan.

Bagawat Main Paksa:

Aku betul-betul gerah dengan pernyataan Tranbsenden ini: “O...oo Sang Bagawat, dengan kegiatanmu main paksa, maka ada beberapa kesalahan yang telah engkau lakukan. Kesalahan pertama, engkau menganggap dirimu sabagai satu-satunya Bagawat, padahal selain dirimu itu ada tak terhingga jumlahnya para Bagawat. Kesalahan kedua, engkau telah melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Ketahuilah bahwa tiadalah sebenar-benar hakekatnya seorang Bagawat itu melakukan KEGIATAN MAIN PAKSA. Kegiatan MAIN PAKSA itu hanya dilakukan oleh mereka yang berdimensi lebih rendah dari dirimu, yaitu oleh PARA SUBYEK FORMAL DAN PARA SUBYEK MATERIAL. Ketahuilah bahwa sebenar-benar Bagawat itu mempunyai DIMENSI NORMATIF DAN DIMENSI SPIRITUAL. Kesalahan ketiga, engkau ternyata telah menganjurkan kepada orang lain untuk juga MELAKUKAN KEGIATAN MAIN PAKSA. Anjuranmu itu adalah kesalahanmu yang lebih besar lagi karena engkau telah melibatkan orang lain dalam kesalahanmu”.
Hemm...aku sudah terlanjur menyandang gelar Sang Bagawat. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada Konferensi bagaimana Membangun Karakter, dimana menunjuk diriku sebagai nara sumber. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku tampilkan saja semua pikiran dan kebijakan instantku, tak usah repot-repot, tak usah studi komparasi, tak usah penelitian, tak usah baca referensi tambahan, dont care lah dengan semuanya. Toh kedudukanku sebagai Bagawat itu adalah sebenar-benar referensi bagi mereka. Mahai semua peserta konferensi dengarkanlah wejanganku ini: Gunakan Tiga Sa untuk Membentuk Karakter itu. Pertama, PAKSALAH, kedua Buat TERPAKSA, dan ketiga Buat BIASA.

Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga:
Walaupun aku tahu ini bertentangan dengan nuraniku, karena tidak cocok dengan rasional asal-usulku menjadi Begawat Ilmu Bidang. Tetapi bukankah Lembagaku ini sangat membutuhkanku. Apa tahunya Cantraka, Rakata dan Cemani itu? Aku sangat mengerti tabiat rakyat dan bangsaku. Mereka belum tahu bedanya Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Karakter rakyat dan bangsaku menganggap Bagawat Penguasa Lembaga tentu Bagawat Ilmu Bidang. Maka hanya Bagawat bodoh saja yang tidak mau merebut Bagawat Penguasa Lembaga. Aku juga akan PAKSA diriku bisa menggabungkan Bagawat Ilmu Bidang dan Bagawat Penguasa Lembaga. Jika demikian maka aku akan dapat menyatukan antara Ilmuku dan Kebijakanku. Itulah setinggi-tinggi nikmat hidupku yaitu ketika aku dapat menyatukan Ilmuku dan Kebijakanku, aku dapat menyatukan Teori dan Praktiku, aku dapat menyatukan semua tujuanku dan tujuan rakyatku, dan semua terangkum dalam diriku. Maka aku akan menemukan bahwa semua aspek kehidupanku adalah kebijakanku adalah aspek hidup mereka. Kata-kataku, batuk dan bersinku itu adalah kebijakanku.

Bagawat Transnasional:

Hidup terkadang harus melawan hati nurani. Hemm...aku telah mencapai kedudukan sebagai Begawat Ilmu Bidang. Satu sisi aku harus menunjukan formalku untuk Mengada dalam Ilmu Bidang, sisi lain aku tidak mempunyai Ekstrinsik apalagi Sistemik untuk mengada dalam Ilmu Bidang. Hemm...aku sebetulnya sangat marah dengan Sang Penguasaku. Karena Ekstrinsik dan Sistemik itu di luar kemampuanku. Itu adalah urusan Lembaga, Departemen dan Negaraku. Itu adalah urusan Political Will sang Penguasa Negaraku. Tetapi bagaimana sementara Sang Penguasa Negaraku itu belum berdimensi Bagawat Sistemik. Padahal para Bagawat Sistemik Transinternasional betul-betul mengharapkan diriku bisa menjadi anggotanya. Wah kalau begitu memang aku dipaksa harus bermain sandiwara. Waha ...ini ada ada Proyek Nasional. Mumpung teman-temanku sedang terlena, mumpung semua masyarakatku tidak menyadarinya, maka akan aku ambil Proyek nasional ini. Negaraku ternyata cukup menghibur diriku dengan tawaran memegang Proyek Nasional. Akan aku laksanakan tugasku sebagai Bagawat Birokrat Nasional. Dengarkanlah titah-titahku. Wahai peserta Rakor yang berbahagia, pertama mari kita hormat dulu kepada Pelaksana Teknis Admninistrasi, walaupun dia bukan Bagawat tetapi berkat dia maka kegiatan ini berjalan. Kedua mari kita taruh hormat kepada Perwakilan Bagawat transinternasional. Tentu mereka datang karena melihat kita mempunyai dan mampu memproduksi madu buat mereka. Hemm dengarkan semua Bagawat Ilmu Bidang...engkau itu tidak ada apa-apanya didepan Pelaksana Teknis Administrasi. Jangan pula engkau mentang-mentang di sini. Jangan pula engkau bicara Bagawat di sini. Jika engkau tidak dapat uang saku, tamat pula riwayatmu. Wahai Tuan Bagawat Transinternasional..sungguh mulia engkau jika berkenan me Refresh dan men Charger semua Bagawat Ku di seluruh negeri ini ke hadapanmu. Tiadalah daya dan upayaku dihadapanmu kecuali pengakuan totalku bahwa semua Bagawatku itu tidak ada apa-apanya di hadapanmu. Maka dengan demikian aku juga berserah diri semua rakyat dan bangsaku di haribaanmu untuk menerima semua titah-titahmu. Maka aku sangat menyambut gembira Program Rechargingmu bagi bangsaku. Itulah semata-mata pengakuan tulus dan tergantungku kepadamu. Aku terimakasih atas kepercayaanmu mengangkat diriku sebagai Bagawat Cabang Proyek Transinternasional. Hanya dengan demikianlah aku mampu menghidupi diriku. Dari pada menunggu kesadaran penguasaku. dari pada menuruti hati nurani, lebih baik aku bersikap realistis menyesuaikan dengan apa kepentingan dan kebutuhanku. Maka segeralah kemari mumpung rakyatku semua belum meyadarinya. Tenanglah bahwa semua Bagawat Tinggi, Panglima bagawat di negeri ini sudah terhipnotis semua dikarenalan silaunya dan anggunnya penampilanmu itu.

Paralogos:

Oh..oh...cukup-cukup...wahai Transenden. Aku tidak kuasa menyaksikan perilaku para Bagawat kita. Hati dan jangtungku terasa akan meledak. Aku tak kuasa menahan tangisku. Oh...Bagawat..Bagawat.. bangsaku. Kenapa engkau bernasib tragis seperti ini. Lebih tragis lagi karena engkau tidak menyadari ketragisanmu. Wahai Transenden...keadaan demikian itu salah siapa?

Transenden:

Itulah perbuatan dajal. Dajal itu begitu halus, lembut dan tersembunyi. Bahkan yang mengaku para Bagawat saja banyak yang tidak menyadarinya. Itulah dimensi bangsamu. Ini bukan disebabkan oleh karena kejadian sesaat. Ini dikarenakan oleh perjalanan bagsa ini yang telah lama mengabaikan ruang dan waktu. Bangsa ini telah lama mengabaikan kesempatan yang ada. Bangsa ini telah lama mengabaikan potensi yang ada. Maka aku sedang menyaksikan bahwa bangsamu itu sedang dikuasai para dajal. Akibatnya adalah dimana-mana terjadi dilema, kontradiksi, kemunafikan, penyelewengan, korupsi, nepotisme, anomali, kong kalingkong. Maka aku nyatakan “Tiadalah sebenar-benar Bagawat dari bangsamu itu mampu menjunjung langit”. Semua Bagawat yang ada masih terisolasi pada kediriannya masing-masing. Sementara sang Penguasa para Bagawat itu sudah terkena jeratan sistemik dari dajal transinternasional. Bagawat Plagiat, Bagawat Main Paksa, Bagawat Korupsi, Bagawat Ambivalen, Bagawat Menentang Hati Nurani, Bagawat Sekedar Wadah, Bagawat Sekedar Formal, ...itu semua adalah produk-produk sekarang dan yang akan datang dari masyarakatmu yang sedang sekaratul maut digerogoti oleh Dajal Transinternasional melalui belalai-belalai neolismenya. Hanya keajaiban dan Pemimpin Bangsa yang dapat melihat 200 tahun ke depan akan mampu menyelamatkan Bangsamu itu.


53 comments:

  1. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    “Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu dan mengimplementasikannya”. Pernyataan ini menyadarkan saya akan fungsi sebenarnya dari Begawat. Begawat itu tidak hanya satu, tetapi banyak. Begawat tidak selalu baik, ada juga yang buruk. Di setiap pernyataan pasti ada kontradiksinya. Di setiap hal pasti ada anomalinya. Berdasarkan pernyataan tentang begawat di atas, saya mencoba menerjemahkannya dengan menggunakan contoh pemimpin yang sudah memimpin tanpa menggunakan niat dan keikhlasan dari hati. Banyak pemimpin yang berkedok memiliki visi misi hanya ingin memimpin untuk mendapatkan harta, jabatan, dan kehormatan. Seharusnya bekerjalah sesuai dengan kemampuan. Jangan bekerja pada hal yang bukan bidang kita apalagi berebut jabatan yang tidak sesuai dengan kemampuan. Dan itu perlu disadari tanpa harus memikirkan keuntungan yang lebih baik. karena niat dan keikhlasan dari dalam setiap manusia itu yang seharusnya menjadi dasar untuk menjalankan sesuatu.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Semua orang memiliki amanah untuk mengemban ilmu. Tetapi ada saja manusia yang lalai untuk menjalankan amanahnya dengan baik. Setiap orang dapat juga disebut sebagai begawat yang juga mengemban amanah itu. Amanah untuk memperbanyak ilmu yang bermanfaat, Sehingga dapat menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain dan juga bagi dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Bagawat itu yang diberikan mandat untuk melaksanakan ilmu, yang semuanya merasa sebagai pembawa dan pengembang pengetahuan dan menerapkannya. Begawat memiliki tanggung jawab dalam mengemban ilmu sehingga Begawat harus mampu menjaga amanah yang diberikan kepadanya. Begawat juga merupakan seorang yang menjadi panutan bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, Begawat harus mampu memberikan panutan dan contoh yang baik bagi orang lain. Oleh karena itu Begawat haruslah mampu setidaknya menjadi pemimpin bagi diri sendiri yang mampu mengendalikan sikap dan cara berpikir dia sendiri. Sikap amanah disertai rasa ikhlas dalam hati dapat memajukan masa depan bangsa di masa mendatang.

    ReplyDelete
  4. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Menjadi seorang pemimpin adalah kemuliaan yang kita terima yang diberikan Allah SWT. Semua orang dapat menjadi seorang pemimpin paling tidak untuk dirinya sendiri, namun tidak semua orang dapat menjadi pemimpin baik yang memegang amanah sebaik dan seadil mungkin. Tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin karena seorang pemimpin hendaknya mempunyai sikap tanggung jawab atas apa yang telah diamanahkan orang lain kepadanya dan tegas terhadap tindakan yang diambilnya. Tanggung jawab tidak hanya didunia saja melainkan juga kelak di akhirat. Oleh karena itu, ketika menjadi seorang pemimpin haruslah kita bertindak yang bijaksana.

    ReplyDelete
  5. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Begawat sebagai orang yang memperoleh dan diberi kepercayaan untuk mengemban ilmu dan yang mengimplementasikannya. Elegi ini menyiratkan bahwa setiap kita sebagai pemimpin setidaknya bagi diri sendiri dan sekaligus sebagai makhluk sosial harus bisa menggunakan ilmu yang telah dimiliki untuk mencapai semaksimalnya keseimbangan kebahagiaan hidup dunia-akhirat dan kebermanfaatan bagi makhluk lainnya.

    ReplyDelete
  6. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Kalau kita menyelami lebih dalam, sejatinya saat ini apa yang terjadi pada bangsa kita juga merupakan dampak dari adanya powernow. Mereka yang berkuasa berlomba-lomba mencari kekayaan bagi dirinya sendiri tanpa sedikitpun menghiraukan hak rakyat. Mereka menggunakan cara yang sangat halus, tidak terlihat, dan bahkan rakyat seolah-olah tidak merasakannya. Apa yang dilakukan itu juga bisa dikatakan perbuatan dajal. Dajal itu begitu halus, lembut dan tersembunyi. Mereka terlihat baik namun pada dasarnya mereka berusaha menghancurkan bangsa. Semoga bangsa kita terlindung dari para penguasa yang dzalim. Amiin. Wallahua’lam..

    ReplyDelete
  7. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Yang menarik dari blog di atas adalah seorang bagawat (orang yang memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu) terkadng harus melawan hati nurani. Bukankah orang yang berilmu adalah orang yang pandai menggunakan nurani?
    Maka sejatinya orang berilmu tidak hanya tentang kemampuan otak saja. Karena otak saja mungkin cukup membangun dunia tapi tidak cukup membangun dunia yang damai dan sejahtera.

    ReplyDelete
  8. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs PMat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim.
    Elegi ini menarik mngenai hati nurani dalam mengemaban ilmu.
    Alquran suci menyebut hati nurani atau kesadaran sebagai sumber khusus pengetahuan. Dari kacamata Alquran bahwa seluruh makhluk memuat ayat-ayat Allah dan kunci untuk melakukan kebenaran. Alquran menggambarkan alam di luar diri manusia sebagai "ufuk" dan alam di dalam diri manusia sebagai "diri". Dengan demikian, Alquran menanamkan dalam diri manusia nilai penting khusus hati nurani.
    Ada kalimat yang terkenal di dunia. Kalimat ini berasal dari filsuf Jerman yang bernama Immanuel Kant dan tertulis di batu nisannya: "Ada dua hal yang sangat mengundang decak kagum manusia: langit berbintang di atas kepala dan hati nurani di dalam diri kita."

    ReplyDelete
  9. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam elegi ini menjelaskan bagaimana pemimpin-pemimpin berlomba-lomba untuk menjadi yang tertinggi dan yang paling berkuasa dengan menggunakan berbagai macam cara baik itu dengan melakukan plagiat, main paksa, korupsi dan lain-lainnya. Hal-hal tersebut dilakukan karena mereka sebenar-benarnya telah dikuasai oleh hawa nafsu mereka sendiri yang ingin menguasai segala sesuatunya. padahal kita tahu bersama perbuatan seperti itu merupakan perbuatan dajjal yang terus menerus akan membawa kehancuran di muka bumi ini.

    ReplyDelete
  10. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Setiap orang dapat juga disebut sebagai begawat yang juga mengemban amanah. Amanah untuk memperbanyak ilmu yang bermanfaat, Sehingga dapat menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain dan juga bagi dirinya sendiri.Begawat sebagai orang yang memperoleh dan diberi kepercayaan untuk mengemban ilmu dan yang mengimplementasikannya. Tetapi ada saja manusia yang lalai untuk menjalankan amanahnya dengan baik.

    ReplyDelete
  11. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Elegi ini menyiratkan bahwa setiap kita sebagai pemimpin setidaknya bagi diri sendiri dan sekaligus sebagai makhluk sosial harus bisa menggunakan ilmu yang telah dimiliki untuk mencapai semaksimalnya keseimbangan kebahagiaan hidup dunia-akhirat dan kebermanfaatan bagi makhluk lainnya.Mereka yang berkuasa berlomba-lomba mencari kekayaan bagi dirinya sendiri tanpa sedikitpun menghiraukan hak rakyat. Mereka menggunakan cara yang sangat halus, tidak terlihat, dan bahkan rakyat seolah-olah tidak merasakannya.

    ReplyDelete
  12. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Begawat yang dijelaskan pada elegi di atas menunjuk pada orang yang memperoleh dan diberi amanah di dalam mengemban ilmu yang kadang bertolak belakang dengan hati nuraninya. Padahal orang yang berilmu seharusnya mampu untuk mengatur kata hati atau nuraninya dalam menjalani hidupnya. Oleh karena itu, ilmu saja tidak cukup untuk mengelola nurani kita tetapi harus diseimbangkan dengan apa yang kita yakini (spiritual) agar kita dapat mengkonstruksi dunia sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan dengan penuh keikhlasan menjunjung tinggi nama Tuhan.

    ReplyDelete
  13. Semua dari kita adalah Bagawat. Ilmu bisa berupa apa saja dan berasal dari mana saja. Kadang ilmu bisa untuk kebaikan dan untuk sebaliknya. Untuk mencerdaskan yang lain atau malah untuk membodohi yang lain. Namun terkadang dengan merasa berilmu lalu "mendahului kehendakNya" atau "ngege mangsa". Ini juga terkait dengan hawa nafsu. Ilmu bisa menjadi bagian hawa nafsu untuk mencapai tujuan tertentu...

    Nur Tjahjono Suharto
    S3 PEP (A)
    16701261007

    ReplyDelete
  14. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    pada elegi ii ditegaskan oleh penulis bahwa para bagawat (orangorang pengemban ilmu) di negeri ini tidak sadar dan mengabaikan potensi yang ada sehingga menerima begitu saja ketika dikuasai para penguasa-penuasa yang sudah dipengaruhi oleh dajjal.

    ReplyDelete
  15. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Bagawat tidak hanya dunia tapi juga akhirat. Bagawat juga pikiran dan hati. Ayah menjadi pemimpin rumah tangga sangat berat tanggungannya. Tanggungannya di akhirat nanti jika tidak bisa membawa keluarganya kearah yang lebih baik. Sehingga untuk menjadi seorang pemimpin hendaknya mempunyai sikap tanggung jawab karena sudah diamanahkan oleh seluruh rakyatnya untuk kearah yang lebih baik. Tanggung jawab seorang pemimpin, akan menjadi bekal juga di akhirat nanti. Karena semua hal itu dipertanggungjawabkan dari apa yang pemimpin lakukan untuk rakyatnya.

    ReplyDelete
  16. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pedidikan matemtika c 2013

    dari postingan diatas, saya jadi ingat pesan tema saya di muallimin, dia namanya mushab bahrah, sekarang di akuliah di mesir alazhar cairo, dia bepesan "bisa karena biasa, bias karena dipaksa" jadi untuk bisa kita harsu memaksakan diri kita.
    selain itu terkait begawat memaksa, mungkin salah satu contoh begawat memaksa adalah guru yang tidak memerikan kebbesana kepada siswa nya untuk berfikir dan beraktifitsa dan bereksplosai untuk memperoleh ilmunya sendiri, sehingga lmu yang diperoleh lebih bermakna dan lebih lam diingat dalam pikiran peserta didik.

    ReplyDelete
  17. Manusia diciptakan yang Kuasa untuk beribadah, terutama ibadah kepada yang kuasa untuk bekal akhirat disamping itu kita tidak boleh melupakan dunia karena didunia ini pun kita punya tanggungjawab atau amanah yang harus dijalankan sesuai dengan profesi masing-masing. Dimana dalam menjalankan amanah itu kita akan dipengaruhi oleh hawanafsu yang harus kita pilih mau yang positif untuk kemaslahatan umat dan yang negatif untuk kehancuran diri sendiri dan umat untuk itu tentunya kita hendaknya memaksa diri kita untuk melakukan atau memilih hawanafsu yang positif.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  18. Bagawat mempunyai banyak makna, yang intinya adalah orang yang diberi amanah untuk mengemban tugasnya. Amanah adalah sifat mulia. Sehingga amat disayangkan jika kaum muslimin kehilangan sifat mulia ini. Allah telah memerintahkan untuk melaksanakan amanah. Oleh karena itu sekecil apapun amanah yang dilaksanakan, maka memiliki dampak positif berupa kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan, niscaya memiliki dampak negatif berupa keburukan. Dalam al-qur’an disebutkan ‘’ hai orang-orang yang beriman, janganlah amu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahuinya.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  19. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Hidup kita adalah unutk akherat kita, namun tidak salah dan lebih baik jika ada keseimbangan antara dunia dan akherat, dunia ditanag dan akherat di hati maka keseimbangan hidup dan ibadah akan terlaksanakan dengan baik, dengan selalu memperbaiki hablumunnallah dan habluminnanaas

    ReplyDelete
  20. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Dalam Elegi Ritual Ikhlas 17 ini, diperkenalkan seorang Begawat yang mempunyai rasa memperoleh dan mengemban ilmu yang didapatkan. Begawat pada dasarnya ada dua tipe. Begawat ilmu bidang, begawat ini hanya berkutat dalam lingkup teori saja. Sedangkan tipe yang kedua adalah begawat penguasa lembaga, begawat ini merupakan begawat yang berkutat dalam praktik yang berbentuk kebijakan. Seorang begawat yang ideal adalah begawat ilmu bidang yang sekaligus sebagai begawat penguasa lembaga. Begawat ideal mampu berteori, mampu menganalisis masalah melalui teori, dan mampu menggunakan teorinya dalam mengkonsep kebijakan. Tidak hanya sampai itu, begawat yang ideal mampu memobilitaskan kebijakan tersebut sehingga mampu mengontrol permasalahan yang ditemukan.

    ReplyDelete
  21. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Namun pada kenyataan yang ditemukan saat ini, begawat ideal sangatlah rendah keberadaannya. Yang ada hanya begawat palsu, begawat yang hanya sekedar status, begawat yang diperoleh dari memplagiat karya orang lain, begawat yang bahkan tidak mengerti apa yang harus ia lakukan. Yang ada saat ini adalah begawat paksaan, begawat yang kental dengan korupsi, begawat yang menenggelamkan kebutuhan masyarakat, begawat yang menentang hati nurani, dan begawat saat ini hanyalah begawat formalitas belaka, begawat yang hanya sekedar status tanpa ada aksi nyata, tanpa ada tindakan. Inilah yang menyebabkan bangsa kita tidak sadar bahwa dajjal sesungguhnya telah merasuk dalam jiwa bangsa, masuk secara perlahan dan tanpa disadari. Dajjal ini menyelinap melalui korupsi, penyelewengan, kontradiksi, anomali, dan kegiatan negatif lainnya.

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Banyak para petinggi di negeri ini menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri, bahkan seolah-olah kejahatan yang mereka lakukan itu bersifat sistematis, terstruktur dan massif. Sehingga untuk membuktikan kejahatan yang mereka lakukan harus membuka beratus-ratus pintu terlebih dahulu. Semoga pemimpin kita ke depannya dapat melihat secara visioner, mau di bawa dan di arahkan kemana bangsa kita ini.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Banyak para petinggi di negeri ini menyalahgunakan wewenang dan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri, bahkan seolah-olah kejahatan yang mereka lakukan itu bersifat sistematis, terstruktur dan massif. Sehingga untuk membuktikan kejahatan yang mereka lakukan harus membuka beratus-ratus pintu terlebih dahulu. Semoga pemimpin kita ke depannya dapat melihat secara visioner, mau di bawa dan di arahkan kemana bangsa kita ini.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  24. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Jiwa patriotisme yang susah payah dibangun oleh para pendiri negara ini sudah hampir lenyap tak berbekas. Yang ada hanyalah ingin memperkaya diri sendiri dan mencurikan apa yang dia tidak miliki. Saat kita sudah jatuh,dia akan pergi. Itulah yang terjadi sekarang. Indonesia adalah juga salah satu negara paling korup di dunia. Hal itu sangat merusak tatanan hidup masyarakat yang sedang terpuruk karena berbagai masalah finansial dan edukasi anak.
    Pada akhir zaman memang banyak fitnah-fitnah muncul.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  25. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Dari elegi di atas dijelaskan bahwa bagawat adalah seseorang yang mengemban dan mengembangkan serta mengaplikasikan ilmu, contonya guru, dosen, pejabat, menteri, dll. Akan tetapi ternyata bagawat-bagawat ini banyak yang tidak mencerminkan arti bagawat yang sesungguhnya. Para pemimpin di negeri ini tidak sedikit yang lebih mementingkan dirinya sendiri dari tingkat bawah sampai atas banyak yang menggunakan kedudukan/kekuasaannya untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya sendiri. dengan kekuasaan dan kecerdikannya mereka membohongi rakyat dengan menggunakan kebijakan-kebijakan atau proyek-proyeknya. Semoga kita tidak seperti mereka, hendaklah kita selalu menggunakan baik hati maupun pikiran kita, dengarkanlah selalu kata hati nurani kita.

    ReplyDelete
  26. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Mendapatkan ilmu itu sulit. Namun yang lebih sulit dari itu adalah mempertanggung jawabkan ilmu yang telah didapat tersebut. Untuk itu sebelum mempelajari suatu ilmu maka hendaknyalah kita meluruskan niat dan berdoa minta pertolongan kepada Allah. Dan hendaklah kita berdoa kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat. Karena betapa banyak ilmu yang tidak bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, yang dia dapat hanayalah waktu yang terbuang percuma.

    ReplyDelete
  27. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Bangasa kita memiliki banyak begawat yang memiliki jabatan yang tinggi di pemerintahan, sebagai rakyat biasa kita mengharapkan semoga begawat bisa memajukan bangsa ini. Namun, dalam kenyataannya orang-orang pintar ini tidak mampu menggunakan keilmuannya di jalan yang benar. Tahta, jabatan dan kekayaan yang meracuni pikiran mereka, karena pondasi agama yang kurang dan perbuatan dajal pun membuat para begawat terlena dengan kemewahan.

    ReplyDelete
  28. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Begawat adalah seseorang memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu serta berkewajiban untuk mengimplementasikannya, yang di sini diibaratkan sosok seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah, selain bertanggung jawab pada kesejahteraan rakyatnya, seorang pemimpin juga mengemban amanah yang akan dipertanggung jawabkan dunia akhirat. Seorang pemimpin harus sopan pada ruang dan waktu. Menempatkan dirinya sesuai ruang dan waktu, mengendalikan nafsu duniawi dan selalu menjaga niat serta keikhlasan semata-mata untuk mengharap ridho Allah SWT, bukan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga.

    ReplyDelete
  29. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Begawat merupakan semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu dan mengimplementasikannya. kita sebagai orang yang menuntut ilmu bisa juga dianggap sebagai begawat. Begawat harusbertanggungjawab atas amanah yang diembannya. setiap orang yang mengemban amanah, sekecil apapun amanah tersebut maka harus dipertanggungjawabkan nantinya. Oleh karena itu mari kita melaksanakan amanah dengan sebaik mungkin.

    ReplyDelete
  30. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Elegi di atas memaparkan bahwa semua orang pasti mempunyai amanah untuk mencari ilmu, mengembannya, memanfaatkannya dan melaksanakan. Tidak hanya itu, kita juga perlu bertanggung jawab dengan semua resiko yang terjadi apabila ada sesuatu yang tak terduga muncul dan menghalani pelaksanaannya. Jangan sampai kita menyalahgunakan apa yang telah menjadi tanggung jawab kita. Manusia selalu di ajarkan untuk dapat mengemban amanah dengan baik.

    ReplyDelete
  31. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Pada dasarnya manusia adalah pemimpimpin. Tidak harus menjadi pemimpin bagi dunia luar, bagi kehidupan tetapi paling tidak bagi dirinya sendiri. Pemimpin memiliki amanah, maka pemimpin bagi diri sendiri, adalah membawa amanah dari Allah untuk mengatur diri sendiri , mengatur hati dan pikirannya. Kemudian manusia yang terpilih diantara manusia yang lain mendapatkan kesempatan lebih dalam membawa amanah yang besar dan tanggung jawab yang besar. Bukan berarti menjadi pemimpin memiliki sifat kebebasan atau semena mena dalam memimpin atau menyampaikan amanah tersebut.

    ReplyDelete
  32. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Dia bisa Kepala Rumah Tangga, bisa Kepala Desa, bisa Camat, bisa Presiden, bisa Guru, bisa Rektor, bisa Dosen, bisa Profesor, bisa Menteri...yaitu semua yang merasa sebagai pengemban dan pengembang ilmu serta mengimplementasikannya.
    Dari pengertian bagawat tersebut, kita pun juga menjadi bagawat bagi diri kita sendiri, mengemban ilmu dan mengembangkan ilmu yang telah kita peroleh dan mengimplemantasikan ilmu tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

    ReplyDelete
  33. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Bagaimana kondisi bangsa ini ? Bagaimana solusi untuk memperbaiki kondisi bangsa ini ? Apa tindakan kita ?Saat ini bangsa kita dikuasai oleh orang berkedok bagawat. Akibatnya bangsa ini terjadi banyak korupsi, penyelewengan, kejahatan, dan lainnya. Para begawat yang diumpamakan berlomba menjunjung langit dalam persaingan yang tidak sehat dan banyak kecurangan dilakukan. Maka, diperlukan pemimpin yang mampu menyelamatkan negeri dan bangsa ini dari Para bagawat palsu. Terima kasih.

    ReplyDelete
  34. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Bagawat adalah siapapun yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Setiap dari kita bisa menjadi bagawat jika berkaitan dengan pengembanan ilmu. Tidak semua Bagawat itu baik, ada juga Bagawat yang sebenarnya tidak baik, tapi dengan jargon-jargon yang dikembangkannya terlihat baik.

    ReplyDelete

  35. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Bagawat yang baik hendaknya bisa menjaga amanah ilmu yang diembannya. Hakikat dari ilmu yang baik adalah yang dapat membawa kebaikan, sesuai dengan norma-norma dan aturan agama yang berlaku. Bagawat yang baik tidak akan memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk berbuat kecurangan, untuk menyakiti pihak lain, untuk segala sesuatu yang tidak baik.

    ReplyDelete
  36. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Elegi ini memberikan gambaran kepada kita keadaan para pemangku negeri ini. Hampir seluruh para penguasa yang telah diberi amanah sebagai Bagawat berlomba-lomba untuk memanfaatkan apapun yang diembannya untuk memenuhi keinginan dan kepentingan masing-masing. Bukan untuk kemaslahatan pihak yang dikuasainya.

    ReplyDelete
  37. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMA 13

    Menurut saya, elegi di atas benar-benar menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.
    Dalam elegi di atas disebutkan bahwa bangsa ini sudah digeroggoti oleh dajal transinterasional. Para Bagawat masih terisolasi pada kediriannya, sedangkan penguasanya sudah terjerat sistem dari dajal transinternasional. Akibatnya, lahirlahBagawat Plagiat, Bagawat Main Paksa, Bagawat Korupsi, Bagawat Ambivalen, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  38. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Mungkin satu hal yang paling berat di dunia ini bukan besi, bukan baja, bukan roket. Akan tetapi yang paling berat di dunia ini adalah amanah. Amanah yang diemban atau disematkan kepada kita harus kita jaga dan kita laksanakan sebagaimana mestinya.

    ReplyDelete
  39. Sebagai seorang pemimpin yang mendapatkan amanah, kita harus menjadi seseorang yang berperilaku positif. Harus menghilangkan berbagai macam sifat negatif mulai dari Plagiat, Korupsi, Pemaksaan dan tindakan negatif lainnya yang sekarang marak dilakukan oleh pemimpin di negeri ini. astaghfirullah. Kita sebagai kawula muda harus merubah itu sendiri, minimal kita merubah dari diri kita sendiri untuk Indonesia lebih baik.

    ReplyDelete
  40. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi para begawat. Begawat sangat diistimewakan kedudukannya, karena dia cenderung memikirkan bagaimana kehidupan di akhirat kelak. Karena sudah sering disebutkan dalam ayat AlQur’an, orang yang paling deket atau diistimewakan oleh Allah adalah orang-orang yang bertaqwa. Segala urusan yang dilakukannya di muka bumi ini adalah semata-mata karena Alllah SWT dan karena ketaqwaannya. Sehingga seorang begawat itu selalu diistimewakan.

    ReplyDelete
  41. Jika Bagawat adalah semua yang merasa memperoleh dan diberi amanah untuk mengemban ilmu. Dia bisa Kepala Rumah Tangga, bisa Kepala Desa, bisa Camat, bisa Presiden, bisa Guru, bisa Rektor, bisa Dosen, bisa Profesor, bisa Menteri...yaitu semua yang merasa sebagai pengemban dan pengembang ilmu serta mengimplementasikannya, maka cukup berat untuk mengemban sebagai begawat. Apalagi di zaman yang sekarang ini para begawat banyak yang bermuka dua dan hampir setiap hari kita temui di sekitar kita bahkan kita sendiripun mungkin pernah menjadi begawat yang bermuka dua ....... Astaqfirullah hal'adziim, Ya Allah ampuni kekhilafan kami. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal begawat yang bermuka dua.

    ReplyDelete
  42. Hidup kadang melawan hati nurani, banyak hal yang kita tahu yang seharusnya kita menolak tapi karena sesuatupun maka dengan terpaksa melakukan, maka hal inilah kita harus pandai-pandai menyaring dan memfilter mana yang harus kita lakukan dan mana yang harus dihindari, olah pikir hati dan perbuatan harus kita sesuaikan pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  43. Agar kita menjadi begawat yang baik maka jadilah begawat yang mampu melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak menguntungkan diri sendiri tapi selalu memikirkan orang lain dan makhluk lain. Dengan bermujahadah insya Allah perbuatan kita akan terhindar oleh nafsu yang tidak baik. AAmiin yarobil'alamiin....

    ReplyDelete
  44. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Di antara bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT adalah dengan menjalankan dan menjaga amanah yang diembannya. Baik amanah yang berkaitan dengan kewajiban kepada Allah SWT seperti shalat, berwudhu, membayar zakat dan yang lainnya, maupun yang berkaitan dengan kewajiban kepada sesama manusia. Sehingga seseorang perlu memahami bahwa amanah itu sangat luas cakupannya. Dan amanah yang diemban oleh setiap orang tidak selalu sama dengan yang lainnya. Namun semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT nanti atas pelaksanaan amanah yang diembannya.

    ReplyDelete
  45. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Seorang pengajar harus berusaha menjaga amanah yang dipikulnya. Dia harus berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya. Karena terkadang anak didik lebih banyak melihat kepada sikap dan tingkah laku pengajar daripada apa yang disampaikan kepada mereka. Begitu pula dia berusaha menyampaikan ilmu yang bermanfaat dengan cara yang mudah dipahami oleh anak didiknya serta tidak memaksakan diri untuk menyampaikan pelajaran yang belum dikuasainya yang berakibat dirinya akan terjatuh pada perbuatan “berbicara tanpa ilmu”. Terutama yang terkait dengan masalah agama. Semuanya harus dilakukan dengan menjaga amanah.

    ReplyDelete
  46. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Termasuk menjaga amanah adalah yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan pemeliharaannya. Semakin banyak atau semakin luas lingkup kekuasaannya maka semakin besar tanggung jawabnya. Maka seorang penguasa bertanggung jawab atas warga negaranya dan seorang pemimpin bertanggung jawab terhadap bawahannya. Begitu pula seorang suami bertanggung jawab atas keluarganya, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  47. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Rasulullah pernah menyatakan bahwa apabila engkau melihat suatu kemungkaran, maka hadapilah dengan tanganmu, dan apabila engkau tidak bisa, maka hadapilah dengan lidahmu, dan apabila tidak bisa, maka hadapilah dengan nuranimu, akan tetapi menghadapi kemungkaran dengan nurani adalah selemah-lemahnya Iman. Maka dari itu hendaklah kita juga perlu untuk bahu-membahu dalam mencegah kemungkaran, karena diera saat ini sangatlah sulit untuk mencegah kemungkaran hanya dengan sendiri-sendiri berjuang.

    ReplyDelete
  48. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Dari elegi diatas secara ringkas dapat dijelaskan bahwa banyak sekali pengertian dari kata begawat, tapi bisa disimpulkan begawat adalah mereka yang mengemban ilmu dan amanah, kemudian mengimplementasikannya, namun tidak sedikit begawat yang mengaku begawat tetapi tidak mengimplementasikan apa yang sebenarnya dilakukan begawat tersebut yang hanya mementingkan kehidupan pribadi saja. Bahkan dalam elegi ini digambarkan bahwa dalam menjaga keeksintensiannya, sang begawat menghalalkan segala cara, akibatnya banyak terjadi kontradiksi, kemunafikan penyelewengan, dan kejahatan lainnya.

    ReplyDelete
  49. "Ilmuwan PLAGIAT adalah Ilmuwan yang tidak mengenal dirinya sebagai Ilmuwan ADA."

    Seperti karyawan tapi tidak berkarya, seperti mahasiswa yang tidak tahu tugas dan fungsinya sebagai mahasiswa. Setiap orang perlu menyadari peran dan fungsinya sendiri-sendiri.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  50. Salah satu gambaran manusia yang menjunjung derajatnya sendiri adalah orang yang bersikap positif (positive thinking) selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  51. Selain menanggung derajat dirinya, manusia perlu melihat orag lain,antara lain orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Manusia yang baik, tentu selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  52. Keikhlasan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh manusia. Keikhlasan juga membuat manusia lainnya merasa aman: karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang harus mempercayai setidaknya tuntunannya.
    Orang yang ikhlas selalu mengatakan kebenaran pada dirinya sendiri, tidak suka mengada-ada, pura- pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya di atas Ya dan Tidak di atas Tidak”. Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  53. Setiap manusia menerima fitrah hak asasi dari Tuhan Yang Maha Esa berupa hak hidup dengan segala keikhlasannya masing-masing, hak kebebasan, dan hak memiliki sesuatu. Penerapan hak-hak tersebut bukanlah sesutu yang mutlak tanpa batas. Dalam kehidupan bermasyarakat, ada batas-batas yang harus dihormati bersama berupa hak-hak yang dimiliki orang lain sehingga batasan normayang berlaku dan dipatuhi.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id