Apr 5, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)



Oleh Marsigit

Pada Axiomatic Mathematics di Perguruan Tinggi, yang bercirikan sebagai formal abstrak, maka Architectonic Mathematics sebagai suatu produk, tampak sangat jelas pada Struktur Matematika.

Oleh karena itu pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen), struktur-struktur matematika nya.

Aspek membangun sendiri matematika atau "to construct their own knowledge of mathematics", dapat dilakukan dengan berbagai cara, utamanya adalah melalui kegiatan RISET MATEMATIKA seperti yang pernah Pak Wono sebutkan.

Maka Kegiatan Riset Matematika dapat dipandang sebagai prosesnya Architectonic Mathematics. Artinya, selama ini yang dilakukan oleh teman-teman di ITB, UGM dan PT yang lain menurut saya sudah selaras dengan Architectonic Mathematics; kecuali pada nuansa promosi kemandirian mahasiswa yang mungkin masih merupakan tantangan kita bersama.

Sedangkan yang masih menjadi persoalan besar adalah bagaimana menampakan atau mempromosikan Architectonic Mathematics pada proses belajar matematika di sekolah? Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena kita menghadapi apa yang saya sebut sebagai Transforming Phenomena antara belajar matematika bagi orang dewasa di Perguruan Tinggi dan belajar matematika bagi anak-anak di Sekolah.

Artinya, secara pedagogis dan secara psikologis, karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak, is totally diferent. Oleh karena itu, agar Architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena secara besar-besaran untuk semua aspek belajar matematika termasuk subyek belajar matematika dan matematika nya itu sendiri.

Transforming Phenomena meliputi transfer the ideas, transfor the theories, transform the paradigm, transfor the philosophy, transform the concept of mathematics, trasnform the method of mathematics, transform the attitude of mathematics, trasnform the resources of learning mathematics, trasform the method of teaching mathematics, transform the perception what is called the competences of mathematics.

Namun jangan sampai salah paham. Sekali lagi jangan sampai salah paham. Transformasi yang dimaksud adalah Transformasi Internal dikarenakan Potensi Internal dalam kerangka kemandirian untuk mengembangkan Wadah atau Dimensinya agar mampu menyadari Ruang dan Waktu Matematika dan Pendidikan Matematika. Singkat kata maka Self Transformation dari setiap Subyek atau Pelaku belajar dan mengajar itulah yang diperlukan. Dengan kata lain, diperlukan keadaan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI bagi siapapun yang ingin mempelajari Matematika, pada segala dimensinya. Bagaimana mungkin seorang anak kecil melakukan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI? Hal demikian tidak akan dipahami kecuali kita memahami HAKEKAT CONSTRUCTIVISME.

Implikasinya, maka untuk anak SD kita tidak bisa dan memang harus tidak mungkin mengajarkan Matematika sebagai Axiomatic Mathematics. Artinya....STOP DULU wahai Pure Mathematician jika engkau ingin bergaul dengan the Younger Learner of Mathematics. Jika engka lanjutkan atau engkau paksakan beserta Paradigma-paradigmamu, maka TUNGGULAH akibat-akibat yang tak terkirakan dan tak terperikan.

PEMBERONTAKAN PENDIDIKAN MATEMATIKA beresensi bahwa UNTUK MEMPERBAIKI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI SEKOLAH  kita harus mentrasformir atau menemukan "THE KIND OF MATHEMATICS THAT SUITABLE FOR YOUNGER LEARNER".

Satu-satunya solusi kita "HARUS MENGINTRODUCIR APA YANG KITA SEBUT SEBAGAI 'SCHOOL MATHEMATICS'".

Apakah yang disebut sebagai School Mathematics?

Saya uraikan di posting berikutnya.

Amin.

48 comments:

  1. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Terdapat perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa. Perbedaan itu bukan hanya usia tetapi juga fisik, perkembangan psikologis, dan kecerdasan. Jadi, anak-anak dengan orang dewasa memiliki ruang dan waktu berbeda. Karena anak-anak masih dalam tahap konkret, matematika untuk anak terikat oleh ruang dan waktu dan akan sering berubah, lingkaran saat ini akan berbeda dengan lingkaran yang ditemuinya besok. Dua telinganya, akan berbeda dengan dua tangannya, dst. Untuk siswa yang masih duduk di bangku SD dan SMP, pembelajaran matematika dibutuhkan pembelajaran dengan alat/media menggunakan benda konkrit. Matematika untuk orang dewasa sudah pada tahap formal, sehingga tidak terikat oleh ruang dan waktu. Matematika formal itu idealis, berada di pikiran, dan akan selalu sama. Tanpa benda nyata tapi mampu dibayangkan, dan dengan mudah diasumsikan meskipun dipertanyakan keberadaan nyatanya, inilah yang disebut dengan Architectonic. Mereka bisa menemukan konsep pembelajaran dengan sendirinya, sehingga pemikiran mereka juga dapat menghasilkan penemuan-penemuan lain.

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Architectonic Mathematics merupakan konsep belajar matematika yang biasa diterapkan di perguruan tinggi. Bagaimana caranya agar ide besar "to construct their own knowledge of mathematics” ini dapat diwujudkan? Caranya adalah dengan riset matematika. Melalui cara belajar melalui riset matematika ini pembelajar di perguruan tinggi dapat mengkonstruksikan sendiri pemahamannya tentang topic pada matematika. Bila konsep Architectonic Mathematics baik, dapatkah konsep ini diimplementasikan di jenjang pendidikan yang lebih rendah, bahkan di sekolah dasar? Ya, tentu saja. Tapi dengan satu catatan, cara penyampaian ilmunya diubah sesuai jenjangnya.

    ReplyDelete
  3. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Matematika murni adalah matematika untuk orang dewasa. Matematika murni tidak sesuai bagi anak-anak di sekolah, terlebih bagi anak-anak kecil. Anak-anak kecil mengenali sesuai melalui benda konkret, sementara matematika murni bersifat abstrak, maka anak-anak kecil tidak akan mungkin bisa menjangkaunya. Oleh karena itu, agar matematika dapat dikonstruksi sendiri oleh siswa, matematika harus disajikan sesuai dengan kemampuan siswa. Inilah perlunya inovasi pembelajaran, dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif ialah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui pengalaman-pengalaman yang diciptakan oleh guru.

    ReplyDelete
  4. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda jauh. Matematika pada anak-anak masih membutuhkan media atau alat yang membuat matematika itu menjadi lebih mudah. Sedangkan pada matematika dewasa ada pada fase yang abstrak. Apalagi pada tahapan mahasiswa, itu ada pada tahapan yang lebih abstrak lagi. Salah satunya ada Architectonic Mathematics, yang dimana isinya adalah riset matematika.

    ReplyDelete
  5. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    matematika di universitas dan di SD berbeda. jika siswa Sekolah Dasar harus belajar seperti di universitas, atau dalam penelitian ini tentang Architectonic Matematika berbahaya bagi mereka, jadi ada yang mengubah untuk beradaptasi dengan persepsi mereka.
    karena langkah pendidikan berbeda sehingga metode yang digunakan harus berbeda. seperti seseorang akan melompat dari bulan ke bumi, sehingga ia / dia harus menggunakan parasut, pengebor tanah, dll. metode panggilan "Architectonic Matematika" harus diubah menjadi sekolah matematika ". dengan catatan, transformasi yang diberikan kepada peserta didik yang lebih muda. ingat bahwa karakteristik belajar matematika dari orang dewasa sangat berbeda dengan peserta didik yang lebih muda.

    ReplyDelete
  6. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Matematika untuk anak dan orang dewasa itu berbeda. Maka jangan sampai kita memaksakan matematika dengan aksioma-aksiomanya untuk anak yang pola berpikirnya belum sampai ke sana. Itulah sebabnya pada masa sebelum perguruan tinggi, mulai dicanangkan pembelajaran dengan konsep kontekstual, konstruktivisme, dll yang bertujuan untuk membangun pemahaman awal kepada siswa sebelum masuk Perguruan Tinggi dengan pola pikir yang lebih matang. Kita harus memahami hakekat Kontruktivis untuk memahami seorang anak melakukan inovasi. Untuk membuat negara terus berkembang maka kita harus membuat generasi penerus bangsa melakukan inovasi. Dan langkah awal itu harus dimulai dari sekolah dan pendidikan dasarnya. Salah satunya adalah matematika. Maka tugas kita sebagai pendidik adalah menemukan pembelajaran apa yang paling cocok diterapkan untuk membantu anak mampu berinovasi dengan matematika.

    ReplyDelete
  7. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP/B
    I completely accept the concepts of constructivism whereby the center of teachind learing process is a student. this archtonic movement which means research in mathematics should base on the level of the shareholders and stakeholders as well. the program of mathematics for little children should be more concrete than that for people who are mature. on the other hand people who are mature need to develop the autonomy in mathematics to motivate the intakes which are behind them of course in the domain of mathematics.

    ReplyDelete
  8. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Elegi Pemberontakan Matematika 8 : Architectonic Mathematics (1) menjelaskan tentang adanya perbedaan dalam proses pembelajaran antara anak sekolah dasar dan mahasiswa di perguruan tinggi. Misalnya, perbedaan karakter belajar anak sekolah dasar dan mahasiswa.Dalam penerapan pembelajaran, anak sekolah dasar tidak mungkin belajar matematika sebagai axiomatic mathematics.Jika matematika murni diajarkan kepada anak sekolah dasar, maka akan terjadi sesuatu yang tidak terduga karena otak anak sekolah dasar belum bisa mencapai materi matematika murni. Saya setuju dengan solusi memperbaiki pendidikan matematika di sekolah dengan menemukan "The kind of mathematics that suitable for younger learner".

    ReplyDelete
  9. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Axiomatic mathematics yang ada di Perguruan Tinggi dengan formal abstrak dilakukan oleh para mahasiswa dengan bantuan oleh dosen. Budaya matematika yang dilakukan di Perguruan Tinggi sebagai salah satu upaya untuk mendorong kemandirian mahasiswa dalam berpikir dan bertindak. Misalnya dengan melakukan riset matematika. Riset matematika sebagai suatu tantangan bagi mahasiswa dan dapat dilakukan sebagai suatu sarana untuk memberikan gagasan terhadap suatu problem atau masalah. Kegiatan riset tersebebut sebagai suatu proses dari architectonic mathematics.

    ReplyDelete
  10. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Di lain sisi untuk menerapkan architectonic mathematics untuk anak sekolah dasar sangat sulit. Mulai dari memperkenalkan hal tersebut dalam proses pembelajaran di sekolah tidak cukup mudah dibandingkan dengan di perguruan tinggi. Adanya perbedaan baik secara pendagogis maupun secara psikologis anatara orang dewasa dan anak-anak. Untuk memperkenalkan architetonic mathematics ke anak-anak di sekolah perlua adanya transfer ilmu ke anak-anak yang disesuaikan dengan psikologinya.

    ReplyDelete
  11. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013
    Transfer ilmu atau pengetahuan yang dikenal dengan transforming phenomena meliputi banyak hal dari mulai ide, paradigma, konsep matematika, metode matematika, dan lainnya. Dalam transformasi harus disesuaikan dengan ruang dan waktu matematika dan pendidikan matematika. Transformasi yang dilakukan untuk anak sekolah dasar akan sulit mengingat dalam mengenalkan architectonic tidak mudah. Bagi matematika murni yang akan mengajarkan matematika kepada anak Sekolah Dasar kurang sesuai karena harus mengetahui dan mengenal bagaimana pengetahuan matematika diberikan kepada anak sekolah dasar sesuai dengan tingkat perkembangannya.

    ReplyDelete
  12. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Proses berpikir antara orang dewasa dengan anak-anak tentu berbeda. Proses berpikir anak masih dalam tahap konkrit, sehingga pembelajaran matematika pun haruis disesuaikan dengan proses berpikir anak yang konkrit. Jika pure mathematician tetap memaksakan metodenya untuk diterapkan di sekolah, maka yang terjadi yaitu anak-anak akan sulit memahami, hingga dapat merusak proses berpikir anak tersebut.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  13. Nauqi Aprilia Putri
    13301241023
    Pendidikan Matematika A 2013

    Menurut saya, pengajaran yang tepat untuk siswa SD yaitu guru memberikan materi dengan jelas, dan belum dapat terlalu membiarkan siswa untuk mencari pengetahuan sendiri, dan sebaiknya dipantau karena pada tahap SD, merupakan tahap perkembangan siswa, jika terlalu membiarkan siswa mencari sendiri, atau bahkan dikenalkan dengan materi yang sebenarnya belum dipelajari, seperti pure mathematics, maka siswa mungkin akan merasa berat dan bahkan takut akn matematika, sehingga disesuaikan dengan kemampuan umur siswa.

    ReplyDelete
  14. Nilza Humaira Salsabila
    16709251026
    Pendidikan Matematika kelas B PPs 2016

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Terlihat perbedaan menonjol bagaimana pembelajaran di bangku perkuliahan dan bangku sekolah. Masihlah mudah mengatur pembelajaran atau situasi kelas di bangku perkuliahan daripada bangku sekolah. Terlebih lagi membelajarkan matematika. Inilah perbedaannya antara orang dewasa dan anak-anak. Menurut saya, agar lebih mudah membelajarkan matematika kepada anak di bangku sekolah, matematika itu sendiri harus ditanamkan sedari kecil, sedari bangku sekolah dasar. Mereka haruslah mempunya rasa yakin terhadap matematika sedari dini.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  15. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam suatu pembelajaran yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan proses perkembangan dan psikolgis anak karena cara belajar anak yang telah SMA dan anak yang masih duduk di sekolah dasar itu berbeda, dan ketika kita paksakan untuk menyamakan itu semua maka akan terjadi persepsi yang salah sehingga jalur dari pembelajaran itu pun akan salah. untuk itu sebagai guru, harus pandai dalam melakukan transformasi dimana guru harus mampu mengembangkan potensi internal dalam diri siswa untuk dapat mengembangkan dan mengkreativitaskan ilmu yang dimilikinyan dalam konteks ruang dan waktu yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  16. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Dalam mentransferkan konsep pembelajaran matematika harus disesuaikan dengan karakteristik anak, sehingga pendidik tidak perlu menjadikan siswa sebagai objek belajar. Tetapi dapat melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, maka siswa akan merasa bebas selama mengikuti proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  17. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam pembelajaran matematika ada sebuah struktur yang dibangun selaras antara materi dengan jenjang peserta didik. Di perguruan tinggi konsep Architectonic mathematics sangatlah sesuai karena dengan konsep ini mahasiswa akan terdorong membangun struktur matematikanya namun pada tataran sekolah dasar yang masih pada tahap kognitif konkret pengajar harus menerapkan strategi yang lain untuk mengkonstruk ilmu matematikanya. Dan strategi-strategi itulah harus terus ditemukan dan dikembangkan demi menunjang tumbuh kembang pengetahuan matematika anak sesuai dengan zamannya.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  18. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam memberikan transfer ilmu matematika, maka kita juga harus menyelaraskan dan membuat keadaan yang harmonis antara materi yang akan diajarkan dengan strategi kita dalam mentransfer ilmu. Ada kalanya materi matematika dibawa ke dalam realistik matematika, misalnya yang berkaitan dengan bangun ruang,bangun datar, SPLDV, dsb. Namun kita jangan memaksakan materi-materi yang tidak bisa direalistikkan ke harus tranferkan ke siswa dengan metode realistik, misalnya saja materi determinan matriks, integral parsial, dsb. Jadi memang kita harus bisa menelaah materi dan startegi apa yang tepat untuk mentransferkan ilmu matematika tersebut.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  19. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematka c 2013

    matematika untuk siswa atau anak -anak berbeda dengan matematika untuk orang dewaasa, arkitektonia matematika itu untuk orang dewasa, matematika sekolah yang bersifat realistis dan tida sesempurna matemtika sejatinya adalah sebuah langkah, kiat sering mendengar istilah "balar dari kesalahan", kelsahan-kesalahan yang adal pada matematika sekolah yang bis ditoleransi itulah yang menjadi jembat menuju matematika orng dewasa/arkitektonia matematis.

    ReplyDelete
  20. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    elegi diatas merupakan bentuk lain dari posting sebelumnya yaitu dialog bapak marsigit dengan donald yang memperdebtkan mengenai matematika sekolah untuk anak-anak tidak seharusnya ditangani dengan penanganan yang sama dengan matematika uniersitas untuk orang dewasa. elegi ini juga akan berhubungan dengan posting selanjutnya.

    ReplyDelete
  21. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    dengan architectonic mathematics yang menuntut siswa memperoleh pemahaman matematika dan membangun konsep matematika dalam dirinya sendiri maka perlu sekali peran seorang guru matematika untuk memberikan kesan awal yang menarik mengenai matematika dan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran matematika sehingga siswa dapat dengan tepat memahami matematika dengan logika atau penalarannya dan siswa juga mampu membangun matematika mengenai penalaran dengan melihat fenomena sekitar.

    ReplyDelete
  22. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Harus ada timbal balik antara SUBJECTIVITY OF MATHEMATICS dan OBJECTIVITY OF MATHEMATICS yang dikenal sebagai "THE NATURE OF STUDENT'S LEARN MATHEMATICS" . Hal tersebut sangat diperlukan dalam membangun pembelajaran matematika yang baik.

    ReplyDelete
  23. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Architectonic mathematics requires students to gain an understanding of mathematics and mathematical concepts in itself so it is necessary once a mathematics teacher's role to provide an attractive initial impression about mathematics and creating a pleasant atmosphere in the learning of mathematics so that students can properly understand the mathematics with logic or reasoning and students are also able to build mathematical reasoning about the phenomenon surrounding.

    ReplyDelete
  24. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    There should be reciprocity between subjectivity of mathematics of mathematics and objectivity known as "the nature of mathematics student's learn". It is so necessary in building a good learning mathematics.

    ReplyDelete
  25. Budi Yanto
    16709251024
    P. Mat S2 Kelas B 2016
    Pembelajaran matematika harus disuaikan dengan zona perkembangan sesorang yang belajar. Anak belajar dari memengang, hingga belajar yang abstrak. Menurut brunner Tiga tahap pembelajaran yang akan dilewati oleh siswa yaitu pertama tahap enaktif, pada tahap ini merupakan tahap dimana siswa belajar dengan memanipulasi benda atau obyek konkret. Kedua, tahap ikonik yaitu pada tahap ini siswa belajar dengan menggunakan gambar. Ketiga tahap simbolik yaitu pada tahap ini siswa belajar matematika melalui manipulasi lambing atau simbol.

    ReplyDelete
  26. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Menurut sepemahaman saya dalam membaca elegi Architectonic Mathematics yang dijelaskan diatas merupakan kegiatan riset MATEMATIKA. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, matematika itu sendiri merupakan proses yang ditemukan berdasarkan hasil pemikiran manusia atau rasio (logika) dan pengalaman manusia dalam menemukan matematika (pengalaman).

    ReplyDelete
  27. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Sehingga disini kita mempunyai dua asumsi yaitu siswa menggunakan logika atau penalarannya dalam membangun dan memahami konsep matematika yang dipelajari, serta menggunakan pengamatan atau pengalaman dalam membangun konsep matematika melalui kejadian-kejadian yang dialami dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya filsuf Immanuel Kant yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan itu adalah pertemuan antara analitik a priori dan sintetik a posteriori sehingga menghasilkan sintetik apriori yang sesuai dengan definisi architectonic Mathematics.

    ReplyDelete
  28. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Saya sependapat dengan Prof. Marsigit bahwa architectonic mathematics dapat dikembangkan di tingkat dasar akan tetapi akan terjadi Transforming Phenomena secara besar-besaran untuk semua aspek belajar matematika termasuk subyek belajar matematika dan matematika nya itu sendiri (Marsigit). Bagaimana agar architectonic Mathematics itu sendiri dapat diterima pada level kognitif anak SD yang termasuk operasional konkret. Dimana mereka belum bisa berpikir secara abstrak dan memerlukan bantuan benda manipulatif untuk mengembangkan dan mengkonstruksi pengetahuannya.

    ReplyDelete
  29. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Matematika bagi anak SD adalah masih berhitung. Di dalam fase mereka belum ada pengertian-pengertian apalagi teorema-teorema. Jadi cara pengajaran kita juga disesuaikan dengan dimensi mereka. Dan juga anak SD sering tidak mau duduk diam. Mereka suka jika diajak keluar kelas. Semakin tinggi kelas akan semakin dewasa tergantung guru menyampaikan materinya.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  30. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa karena kemampuan berpikir setiap tingkatan usia jelas tidak sama. Matematika sebagai formal abstrak merupakan model pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi. Dalam model pembelajaran ini, bertujuan untuk membangun ilmu matematika dan struktur-strukturnya sendiri. Sedangkan model matematika sekolah, khususnya di SD, mempertimbangkan bahwa kemampuan berpikir siswa masih dalam tahap operasional konkrit. Maka untuk memahami konsep dan prinsip matematika masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkrit.

    ReplyDelete
  31. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Matematika untuk perguruan tinggi is totally different dengan matematika sekolah. Sehingga untuk anak sekolah tidak dapat dan tidak mungkin diajarkan matematika dengan axiomatic mathematics. Oleh karenan itu, matematika formal yang abstrak sebisa mungkin harus ditransformasikan menjadi matematika yang sesuai dengan tingkat kognitif dan psikologi siswa sekolah.

    ReplyDelete
  32. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Matematika saat diperguruan tinggi dan matematika waktu di sekolah tentu sangat jauh berbeda. Matematika di sekolah bisa dibilang hanya sebuah titik dalam sebuah bidang datar yang luas sedangkan karakter matematika sebagai kajian ilmu yang abstrak akan terlihat ketika ada di perguruan tinggi.

    ReplyDelete
  33. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Matematika dalam pembelajaran atau didalam pendidikan, pada intinya seharunya tidak dipatokkan pada satu nilai pendekatan atau metode saja. Matematika di dunia pendidikan yang pada dasarnya memiliki banyak karakteristik, juga memiliki banyaka karakteristik dalam membawakannya. Terkadang meminta siswa untuk membangun matematika dalam kognitifnya dapat dilakukan, namun terkadang tidak dapat dilakukan karena terlalu abstraknya matematika itu untuk dipahamai atau disatukan dengan sifat kongkrit. Maka dengan demikian perlu adanya cara yang luwes yang disesuaikan dengan karakteristik siswa dan materi itu sendiri agar dicapai tujuan belajar yang baik.

    ReplyDelete
  34. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Dari elegi di atas, saya baru memahami bahwa school mathematics (pembelajaran matematika yang “ramah” untuk siswa) dibangun atas dasar axiomatic mathematics tidak dapat diajarkan pada siswa SD. Perbedaan usia tentu mempengaruhi pengalaman dan secara langsung berbanding lurus dengan kemampuan menerima pembelajaran. Seperti yang dipaparkan dalam elegi di atas, pemberontakan pendidikan matematika beresensi bahwa untuk memperbaiki pendidikan matematika di sekolah kita harus mentrasformir atau menemukan "the kind of mathematics that suitable for younger learner".

    ReplyDelete
  35. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Saya sangat setuju bahwa untuk anak SD kita tidak bisa dan memang harus tidak mungkin mengajarkan Matematika sebagai Axiomatic Mathematics.Sebagai pendidik kita harus memahami teori perkembangan kognitif Piaget. Jadi pembelajaran yang dirancang harus memperhatikan tahap perkembangan anak.

    ReplyDelete
  36. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Dalam proses belajar matematika seorang guru harus paham kondisi kecakapan olah piker siswa yang mereka hadapi. Antara anak TK, SD, SMP, SMA, atau PT mempunyai kemampuan berfikir yang berbeda jauh. Sehingga tingkat pembelajaran matematika harus dimulai dari suatu yang nyata oleh indra sampai pada keabstrakan yang hanya terdapat di dalam alam pikir. Selain harus mengerti bagaimana cara mengajarkan matematika, guru juga harus mampu memahami seberapa besar guru harus mendampingi siswanya sampai pada tahap guru bertindak sebagai pendamping.

    ReplyDelete
  37. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Matematika diberbagai tingakatan tentu berbeda-beda, matematika di perguruan tinggi yang berorientasi pada matematika murni tentu berbeda dengan matematika sekolah pada tingkatan pelajar. transforming phenomena perlu dilakukan agar matematika murni perguruan tinggi dapat diterima di matematika sekolah dengan cara tertentu. sehingga karakter belajar matematika siswa akan lebih berkembang. transformasi yang dilakukan berupa intuisi matematika pelajar muda agar lebih mengidam-idamkan matematika.

    ReplyDelete
  38. Assalamualaikum wr. wb.

    Saya bukan pengajar matematika...tetapi bila ditilik secara logika memang harus merealkan pelajaran matematika sehingga lebih mudah dipahami.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A

    ReplyDelete
  39. Assalamualaikum wr. wb.

    Anak SD haruslah belajar dengan menyenangkan dan memberikan stimulan terhadap intuisi-intuisi yang mengembangkan alam pikir mereka...
    Semoga dengan elegi ini sang pengajar matematika SD mampu membuat matematika sebagai momok bagi siswanya.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A.

    ReplyDelete
  40. Assalamualaikum wr. wb.

    Anak SD haruslah belajar dengan menyenangkan dan memberikan stimulan terhadap intuisi-intuisi yang mengembangkan alam pikir mereka...
    Semoga dengan elegi ini sang pengajar matematika SD mampu membuat matematika sebagai momok bagi siswanya.

    Dwi Margo Yuwono
    16701261028
    S3 PEP Kelas A.

    ReplyDelete
  41. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Anak-anak belum melewati masa dewasa dimana matematika abstrak itu digunakan. Sebaliknya, orang dewasa pernah mengalami masa anak-anak dimana perkembangan pengetahuan anak-anak pernah dirasakan oleh mereka. Maka selayaknyalah orang dewasa yang menyesuaikan pengajaran matematika sesuai dengan pertumbuhan kognisi anak-anak. Agar Architectonic Mathematics sesuai dengan anak-anak maka dilakukanlah yang namanya transformasi.

    ReplyDelete
  42. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Kita semua pasti sudah mengetahui bahwa pendidikan begitu penting untuk membangun kehidupan manusia menjadi lebih baik lagi. Dengan adanya pendidikan maka manusia dapat memiliki pengetahuan dan mengembangkan kemampuannya. Hal tersebut menjadi salah satu modal yang berharga yang dapat kita miliki agar tetap hidup di zaman yang serba sulit ini.

    ReplyDelete
  43. Mega Puspita Sari
    16709251035
    PPs Pendidikan Matematika
    Kelas B

    Matematika anak kecil dengan matematika dewasa jelas berbeda. Matematika anak kecil mengikuti aliran Aristoteles yaitu posisi pada tingkat anak kecil tidak bisa membayangkan materi-materi matematika yang abstrak. Apabila pembelajaran yang abstrak tersebut diterapkan maka akan membuat anak mudah stres dan kesusahan. Berbeda dengan matematika orang dewasa, untuk membayangkan materi-materi matematika yang abstrak itu sudah pada tingkatannya, karena matematika orang dewasa mengikuti aliran Plato. Jadi sebagai seorang guru yang faham akan cara mendidik para peserta didik, gunakan dan terapkan teori-teori cara mengajar yang memang sesuai dengan tingkatan-tingkata masing-masing. Jangan memaksakan teori-teori yang bukan pada tingkatannya karena itu hanya akan menghasilkan hasil yang tidak sesuai dengan yang diinginkan.

    ReplyDelete
  44. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Pernah dijelaskan pada posting sebelumnya bahwa memberi pemahaman pada tingkatan yang berbeda, haruslah berbeda. Karena kemampuan dan perkembangan dari masing-masing tingkatan berbeda dari mulai cara berpikirnya, sikap dan lainnya. Dalam membangun pengetahuan siswa pada tingkat sekolah dasar dengan tingkat sekolah menengah berbeda bahkan sekolah tingkat menengah dengan perguruan tinggi juga. Pembelajaran matematika di perguruan tinggi dilakukan dengan membudayakan matematika secara mandiri dengan mengkontruksi struktur-struktur matematikanya dengan kata lain membangun pengetahuannya sendiri. Pemahaman Arsitektonik matematika merupakan struktur logis yang digunakan oleh seseorang yang ingin merencanakan untuk mengatur isi dari sistem apapun.

    ReplyDelete
  45. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Secara pedagodis dan psikologis, karakter belajar Matematika pada orang dewasa berbeda dengan anak-anak. Oleh karena itu menyampaiakn Architectonic Mathematics kepada anak usia SD harus melalui proses transformasi secara besar-besaran, meliputi transformasi ide-ide, teori, paradigma, landasan filosofis, konsep-konsep matematika, metode, dan lainnya. Inilah yang sering dilupakan baik oleh para pengajar, penyelenggara pendidikan, maupun pengambil kebijakan.

    ReplyDelete
  46. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Untuk mengajarkan matematika pada anak-anak sekolah sangatlah berbeda dengan cara mengajarkan matematika kepada orang dewasa atau di perguruan tinggi, perlu diadakan inovasi yang besar-besaran. Untuk mengajarkan matematika sekolah diperlukan media berupa benda konkret, sedangkan untuk di perguruan tinggi dalam belajar matematika bercirikan sebagai formal abstrak. Baik secara pedagogis dan secara psikologis, karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda.

    ReplyDelete
  47. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Pelajaran matematika di perguruan tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri struktur-struktur matematikanya walaupun masih dengan bantuan dari dosen. Sedangkan untuk matematika SD, anak SD belum mampu untuk membangun sendiri pengetahuannya, mereka masih bergantung pada guru. Untuk anak SD kita tidak bisa dan memang harus tidak mungkin mengajarkan Matematika sebagai Axiomatic Mathematics. Artinya matematika murni belum cocok untuk anak SD.

    ReplyDelete
  48. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMS 13
    Dari elegi di atas, dapat diperoleh bahwa Architectonic Mathematics merupakan suatu produk dari matematika formal atau Axiomatic Mathematics di perguruan tinggi yang dibudayakan dengan membangun sendiri pengetahuan. Salah satu caranya adalah dengan mendorong kegiatan riset matematika. Agar proses ini dapat nampak dalam pembelajaran di sekolah, perlu dilakukan Transforming Phenomena dikarenakan adanya perbedaan pedagogi dan psikologi antara orang dewasa dan anak-anak. Akan tetapi, jika Axiomatic mathematics tetap dipaksakan untuk diajarkan ke anak-anak, maka akan timbul dampak-dampak negatif. Maka guru harus dapat menemukan matematika yang tepat untuk diajarkan kepada siswa-siswanya. Matematika itu dikenal dengan matematika sekolah.Dari elegi di atas, dapat diperoleh bahwa Architectonic Mathematics merupakan suatu produk dari matematika formal atau Axiomatic Mathematics di perguruan tinggi yang dibudayakan dengan membangun sendiri pengetahuan. Salah satu caranya adalah dengan mendorong kegiatan riset matematika. Agar proses ini dapat nampak dalam pembelajaran di sekolah, perlu dilakukan Transforming Phenomena dikarenakan adanya perbedaan pedagogi dan psikologi antara orang dewasa dan anak-anak. Akan tetapi, jika Axiomatic mathematics tetap dipaksakan untuk diajarkan ke anak-anak, maka akan timbul dampak-dampak negatif. Maka guru harus dapat menemukan matematika yang tepat untuk diajarkan kepada siswa-siswanya. Matematika itu dikenal dengan matematika sekolah.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id