Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa?

Cantraka:
Baginda Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.

Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena bumi berusaha menggapai langitnya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang meragukan apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku dan memperoleh kepastiannya.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Maka kematiannya itu disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Berani tanpa perhitungan adalah buta. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu. Orang berilmu tidak perlu mengaku-aku. Jika betul-betul seseorang itu berilmu maka semua yang ada dan yang mungkin adapun akan memberi kesaksiannya. Maka kematiannya disebabkan oleh ke akuan nya.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kekuasaannya.


Cantraka:

Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Berlaku sombong itu bisa sangat halus dan tidak kelihatan. Ke akuan nya telah melupakan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa lepas dari kuasa Allah SWT. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena mengaku sebagai Orang Tua Berambut putih. Semua predikat akan bersifat lebih hakiki jika datangnya dari luar dan bukan dari dirinya sendiri. Jika predikat dibuat oleh diri sendiri maka dia terancam oleh kesombongan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang matematikawan hebat. Dia mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih untuk mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa membuat perhitungannya sendiri. Dia lupa bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:

Ada seorang Guru Matematika. Dia mengaku telah menjadi guru matematika selama 25 tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongandisebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang guru Sain. Dia mengaku telah mengajar Sain di SMA selama lebih dari sepuluh tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang tak dikenal. Tetapi kalau bicara dia selalu mendahului dengan menyebut namanya sendiri. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:

Penyebutan nama sendiri yang diulang-ulang dan tidak diimbangi dengan karya nyata adalah bentuk dari Ego yang dibesar-besarkan. Itu juga suatu kesombongan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang Ilmuwan Pejabat. Maksudku dia seorang Pejabat tetapi juga seorang ilmuwan. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah sengaja mencampuradukkan antara kewenangan sebagai Pejabat dan sebagai Ilmuwan. Dia sengaja menggunakan keilmuwannya untuk menggunakan segala macam cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini merupakan bentuk arogansi dan manipulasi. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.


Cantraka:

Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Dia kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku sebagai Dosen Filsafat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terlalu banyak bicara tetapi kurang praktiknya. Maka dia telah terkena hukum kontradiksi dan terancam kesombongannya. Itulah pula penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang Profesor tua. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah berkurang kemampuan mendengarnya sehingga lebih suka memberikan nasehat dengan pembicaraannya serta sulit menerima kritik. Diapun tergoda kesombongannya. Itu pulalah penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku punya isteri empat. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia memahami sunah rasul secara parsial. Menurut pengamatanku, ternyata dia telah tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Bahkan untuk memperoleh empat isteri juga menggunakan cara-cara manipulatif antara lain tidak dengan persetujuan isteri terdahulu serta memanipulasikan KTP. Dia telah menelantarkan tiga isteri yang lainnya serta hanya mampu mengurusi isteri terbarunya. Maka kematiannya disebabkan karena ketidakadilannya dan dosa-dosannya.

Bagawat:
Bagaimana dengan dirimu Cantraka?

Cantraka:
Aku tidak mengetahui kenapa aku sampai juga di tempat itu. Tetapi aku bersyukur karena aku kemudian bisa melihat perlombaan itu. Pikiranku sangat risau karena ternyata semua orang yang ada di situ diharuskan mengikuti perlomaan. Maka sebelum aku bertindak aku memutuskan untuk terlebih dulu bertanya kepada guruku. Jangankan mengangkat langit, berusaha menggapainya aku masih merasa kesulitan. Demikian guruku maka berilah petunjukmu agar aku dapat menentukan sikapku?


Bagawat:

Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Diriku, yaitu Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetul-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah Diriku. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Maka ketahuilah bahwa bukanlah di tempat lain perlombaan itu diadakan, melainkan di sini lah perlombaan itu dilangsungkan. Ketahuilah bahwa engkau bersama murid-muridku yang lain itu sebenar-benarnya sedang mengikuti perlombaan menjunjung langit itu di sini dan sekarang juga. Perihal berita tentang kematian Orang Tua Berambut putih, itu sengaja aku tebarkan untuk menguji kecerdasan murid-muridku. Ternyata dirimulah termasuk orang-orang yang kritis memikirkannya. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih, karena mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan dan daya kritis pikiran. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu, niscaya engkau akan mampu menjunjung langit itu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Cantraka:
Oh ..ampun guruku. Tidak menyangka demikianlah misteri yang engkau buat bagi para murid-muridmu. Begitu halus dan lembut metodemu dalam mencerdaskan siswa-siswamu. Oh..Tuhan terimalah rasa syukurku kepada Mu ya Allah SWT. Tiadalah aku mampu melantunkan apapun dan berbuat apapun jika tidak engkau ridhloi ya Allah SWT. Maafkan aku wahai guruku, jika aku telah engkau anggap lancang menghadap dirimu. Tiadalah terbesit bagi diriku untuk mampu mengikuti perlombaan menjunjung langit itu. Tidaklah seberapa pengetahuanku itu dibanding dengan luas dan besarnya langit itu. Sekali lagi mohon ampunlah diriku kepadamu.Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan dirimu, wahai guruku. Amiin.

Bagawat:
Sambil meneteskan air mataku, aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa untuk sementara, diantara sekian banyak orang yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya.

Cantraka:
Oh ampun guruku...seperti halilintar di siang hari bolong aku mendengar titah guruku. Apakah aku tidak salah dengar? Pantaskah orang seperti diriku ini memperoleh gelar juara perlombaan menjunjung langit. Lalu apa alasan dan keadaan diriku yang seperti apa sehingga engkau menyebutku sebagai pemenang, guru?

Bagawat:
Bukankah engkau sedang memikirkan, sedang melihat, sedang mendengar, sedang mengalami, sedang melaksanakan, dan sedang berbicara dengan diriku. Jika aku itu adalah Ilmu, maka keadaanmu berinteraksi dengan diriku sekarang ini adalah bukti bahwa engkau sedang belajar menuntut dan menggapai Ilmu. Padahal aku Sang Bagawat itu adalah benar-benar Ilmu itu. Jika engkau metaporakan Ilmu sebagai langit, maka diriku Sang Bagawat itulah langitnya. Jadi langit itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Alasan lain mengapa aku menentukan dirimu sementara sebagai pemenangnya adalah karena keikhlasanmu, kejujuranmu, rendah hatimu, kerja kerasmu, doa-doamu, serta kemauanmu untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-gurumu. Adapun penilaianku itu bersifat sementara itu semata untuk menjaga agar logos dirimu tidak termakan oleh mitos-mitosmu. Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Tidak hanya kepada dirimu saja, tetapi kepada semua murid-muridku, junjunglah langit itu setinggi-tinginya. Bekalmu adalah keikhlasan dan pikiran kritismu. Tetesan air mataku itu merupakan kesaksianku atas dirimu semua yang telah dan sedang berpikir kritis dan menggapai keikhlasan hati. Maka aku sedang menyaksikan bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah bahwa engkau semua akan mampu menjunjung langit itu. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, dan berangkatlah menuntut ilmu dan gunakanlah sebaik-baiknya.Amiin

Semua Cantraka:
Oh guru...tiadalah aku mampu membendung air mataku ini. Derasnya air mataku ini sebagai bukti bahwa aku selalu berusaha ikhlas, seraya memohon Ridhlo Allah SWT dalam membaca ilmu-ilmumu. Sedangkan kata-kataku yang masih bisa saya ucapkan sebagai bukti bahwa saya selalu berusaha berpikir kritis. Oh guru...tiadalah mengira setinggi itu ilmumu dan sebesar itu keikhlasanmu itu terhadap murid-muridmu. Dan ternyata hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis pula murid-muridmu mampu memahamimu. Ammin..amiin..amiin. Terimakasih wahai guruku. Mohon doa restumu.

56 comments:

  1. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Walau masih sedikit bingung dengan elegi ini, namun yang saya tangkap di sini adalah bahwa kita semua di dunia harus mencari ilmu karena orang yang menuntut ilmu itu sama dengan beribadah kepada Allah SWT. Jadi hukumnya adalah wajib. Namun, hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Jika diteruskan mencari keilkhlasan dan pikiran kritis, niscaya akan menjadi bekal manusia di akhirat nanti. Tidak ada manusia yang memperoleh ilmu dengan sempurna, kita hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Allah SWT semata

    ReplyDelete
  2. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Banyak cara untuk menuntut ilmu. Setelah kita menuntut ilmu, hendaknya kita semakin ikhlas dan rasa rendah hati, apalagi merasa bahwa dirinya yang paling hebat. Hal itu dapat menghambat ebermanfaatan ilmu kita. Sangat disayangkan ketika ilmu yang kita miliki hanya sia-sia karena ttidak bermanfaat dalam kebaikan tetapi hanya untuk disombongkan. Jadilah orang yang berilmu dan peruh dengan kebaikan.

    ReplyDelete
  3. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Perlombaan menjunjung langit merupakan usaha dalam mendapatkan ilmu. Bagi orang-orang yang berlaku sombong dan merasa sudah mendapatkan cukup ilmu di dalam menuntut ilmu maka mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena seperti yang ditulis dalam elegi ini bahwa sebenar-benar yang terjadi ialah tiadalah orang-orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Maka tiadalah orang berhenti dalam menuntut ilmu. Selain itu, maka dalam mencari ilmu harus dengan meluruhkan kesombongan, rendah hati, ikhlas, dan juga berpikir kritis.

    ReplyDelete
  4. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP/B
    After reading this elegi carefully, the competition which is being talked about is spiritual competion we always engage here in the world to reach the will of God. basing on the information given by the student who turned back in the middle, this competition requires the soul which is clear. where the student reported to the teacher that some people with high level of education fail to reach the sky, the teacher answered that it is because of the self-esteem.
    summarily, to reach the sky we are require to be unpretentious, sincere, and have eternity knowledge.

    ReplyDelete
  5. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Dalam kehidupan ini manusia pada fase tidak sempuna dalam kesempurnaan. Hal ini ditunjukan bahwa kita harus selalu belajar dalam hidup pada lingkungan yang ada di sekitar kita. Banyak sekali sumber ilmu yang bisa kita dapatkan. Setelah mendapatkan ilmu itu maka tidak bolehlah kita menjadi sombong, akan tetapi kita juga harus bisa membagikan ilmu yang kita ketahui pada orang lain.

    ReplyDelete
  6. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dalam mencari ilmu, diperlukan keikhlasan hati dan pikiran. Dan janganlah kita sombong setelah kita mendapatkan ilmu yang kita inginkan dan meremehkan orang lain dengan ilmu yang kita miliki. Karena sesungguhnya ilmu itu sangatlah luas, seluas lautan yang membentang, dan ilmu kita hanya setetes ujung jari jika kita mencelupkan ujung jari kita ke air laut tersebut. Maka merasa bangga pada diri sendiri, merasa cukup dengan apa yang kita miliki, dan bersikap sombong, hanya membuat amal saleh kita rusak. Maka tanamkanlah keikhlasan dalam menuntut ilmu dan dalam hal apapun hanya untuk mengharap ridha Allah

    ReplyDelete
  7. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    Di atas langit pasti masih ada langit. Pribahasa ini memberikan peringatan kepada manusia bahwa sehebat-hebatnya manusia tentu masih ada yang lebih hebat lagi. Oleh karena itu, tidak pantas bagi seorang hamba menyombongkan dirinya. Sejatinya segala ilmu dan kehebatan yang manusia punya tak lain dan tak bukan bersumber dari Allah SWT. Jangan sampai kita mengikuti cara syaitan untuk berlaku sombong yang menyebabkan syaitan dikeluarkan dari syurganya Allah. Sesungguhnya hanya Allah Sang Maha Kuasa, tak ada yang mampu menggapai kuasaNya. Oleh karena itu tidaklah pantas lah kita sebagai hambaNya berlaku sombong. Semoga kita termasuk hamba yang dijauhkan dari sifat sombong. Wallahua’lam..

    ReplyDelete
  8. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Perlombaan menjunjung langit? Yang terpikirkan dalam benak saya adalah bahwa elegi ini memaparkan tentang bagaimana kita menggapai cinta Yang Maha Tinggi.
    Salah satu cara menggapainya adalah lewat tahajud. Tahajud itu ibarat busur panah yang tidak akan meleset. Ini formula sederhana yang pernah saya buktikan secara pribadi. InshaAlllah, semoga bisa menjadi kebiasaan bukan hanya sekedar kebutuhan.

    ReplyDelete
  9. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Tuntutlah ilmu sebanyak-bayaknya namun bukan hanya ilmu dunia tetapi juga ilmu untuk bekal di akhirat. Dan ingatlah janganlah sombong terhadap ilmu yang dimiliki ataupun merasa cukup tinggi dengan ilmu yang dimiliki dengan tidak mau menuntut ilmu lagi. Tuntutlah ilmu meskipun kita sudah memiliki ilmu, kritislah terhadap ilmu dan janganlah enggan untuk bertanya.

    ReplyDelete
  10. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    perlombaan menjunjung langit merupakan perlombaan bagaimana kita dapat menggapai ilmu itu sendiri. Setiap manusia di dunia ini di tuntut agar terus dan teruss mencari ilmu yang ada bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan agar bagaimana ilmu yang diperolehnya dapat di aplikasikan kedalam kehidupannya. dalam mencari ilmu pula hendaknya setiap manusia melepaskan kesombongan yang ada di dalam dirinya karena kesombongan dapat menutup dan mencegah diri seseorang memperoleh ilmu dan hidayah, dan di situ pula kita harus dapat berpikir kritis serta menjernihkan hati kita agar ilmu yang kita cari tidak hanya menjadi ilmu yang sia-sia.

    ReplyDelete
  11. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Elegi tersebut memperlihatkan bahwa betapa banyak orang-orang yang berilmu terjerumus pada perbuatan yang kurang menyenangkan atau tidak baik. dengan berbagai ilmu yang mereka miliki, tanpa memperhitungkan akibatnya, mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan menjadi hak-nya.

    ReplyDelete
  12. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Butir terpenting dalam elegi ini adalah hubungan perbuatan dan pengaruh pelaku alami dan insani dengan perbuatan Tuhan. Kemudian, apakah ada eksistensi lain yang berpengaruh selain Tuhan? Sebagian kelompok untuk menghindari pengaruh lain selain Tuhan, menisbatkan semua perbuatan kepada-Nya dan menganut paham jabr (manusia tidak memiliki ikhtiar dalam perbuatannya). Sebagian lain untuk menyucikan Tuhan dari sebagian perbuatan dan kekurangan, meyakini bahwa semua makhluk berdiri sendiri dalam semua perbuatannya dan memegang paham tafwidh (manusia memiliki ikhtiar mutlak).
    Jelas, kedua kelompok ini meyakini penisbatan perbuatan yang satu bersifat hakiki dan yang lain bersifat majazi. Jika digabungkan, kedua kelompok tersebut adalah sama dengan yang lain; selain menisbatkan perbuatan kepada Tuhan, mereka juga menisbatkan perbuatan kepada makhluk; kedua sisi ini bersifat hakiki, tidak bersifat majazi.
    Namun, dalam pandangan Imam Khomeini, penyelesaian seperti perbuatan makhluk berhubungan dengan makhluk lainnya. Ia berkeyakinan bahwa hanya dasar-dasar filosofis serta ‘irfanilah yang mampu menjelaskan pemahaman yang benar tentang hubungan perbuatan antara Tuhan dan makhluk.
    Oleh karena itu, yang bisa menyelesaikan penisbatan-penisbatan ini adalah orang yang mampu menyatukan antara wahdah dan katsrah. Orang-orang yang bertabir dari wahdah akan menisbatkan perbuatan hanya kepada makhluk, dan sebaliknya , orang yang dalam dirinya didominasi katsrah hanya menisbatkan segala perbuatan kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  13. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Sejatinya segala ilmu dan kehebatan yang manusia punya tak lain dan tak bukan bersumber dari Allah SWT. Setiap manusia di dunia ini di tuntut agar terus dan teruss mencari ilmu yang ada bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan agar bagaimana ilmu yang diperolehnya dapat di aplikasikan kedalam kehidupannya.

    ReplyDelete
  14. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Dalam mencari ilmu pula hendaknya setiap manusia melepaskan kesombongan yang ada di dalam dirinya karena kesombongan dapat menutup dan mencegah diri seseorang memperoleh ilmu dan hidayah, dan di situ pula kita harus dapat berpikir kritis serta menjernihkan hati kita agar ilmu yang kita cari tidak hanya menjadi ilmu yang sia-sia. Sangat disayangkan ketika ilmu yang kita miliki hanya sia-sia karena ttidak bermanfaat dalam kebaikan tetapi hanya untuk disombongkan. Jadilah orang yang berilmu dan peruh dengan kebaikan.

    ReplyDelete
  15. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Dalam mencari ilmu pengetahuan kita harus berlomba-lomba. Tetapi harus dengan hati yang ikhlas dan menjunjung tinggi sportivitas. Artinya bahwa kita harus senantiasa mencari ilmu dengan penuh keikhlasan dan kesadaran agar ilmu yang kita peroleh menjadi bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Terus berusaha menggapainya tanpa harus mendahului apa yang menjadi rencana Tuhan atas hidup ini.

    ReplyDelete
  16. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Cantraka:
    Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

    Bagawat:
    Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

    dialog ini menegaskan bahwa kita tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang kita punya, rasa cukup tersebut akan membawa kita kepada apa yang disebutkan dalam elegi ini sebagai "mati" yang sebenarnya bisa diganti dengan apa saja yang tidak baik bagi kita

    ReplyDelete
  17. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Seseorang yang berilmu dan menunjukkan ilmunya dengan sombong maka dia akan jatuh dengan sendirinya. Seorang manusia harus mempunyai ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Siapapun yang berusaha atau mencoba menjunjung langit akan mati karena kesombonganNya. Menggapai langit saja sebenarnya kita tidak mampu apalagi menjunjung.

    ReplyDelete
  18. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    keutaamaan solat malam adalah lebih utama dai bumi dan seisinya, banyak orang berlomba-lomba untuk menjunjung langit denga melauakn amam soleh amal wajib dan amla sunnah, namun itu bernilai sia-sa jika tidak ada keikhlasan dalam dirinya.
    banyak ang mencoba untuk berusaha mencapai keberhasilan, cita-citas etinggi langit, namun belum mencapainya sudah berlagak bak mencapnya, inilah sumer dari kegagalan mencapainya, kesombongn dan arogan dst. semoga kita/saya terus istiqamah dalam melakuakn kebaikan dan selalu ikhlsa dan tawadhu dalam melakuakan kegiatan/aktivitas.

    ReplyDelete
  19. Hanya orang yang berhati bersih yang bisa menjunjung langit, menggapai ilmu. Menyingkirkan keinginan-keinginan, menghilangkan ego merupakan salah satu hal yang mengantarkan pada ilmu yang sebenarnya. Kualitas hati menjadi kunci dalam menggapai ilmu sebenarnya.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP S3 (A)
    16701261007

    ReplyDelete
  20. Dari elegi ini saya dapat memahami an mengerti satu hal, bahwa setinggi apapun ilmu yang kita miliki hendaklah kita tidak menyombongkan diri karena kesombongan hanya akan membawa masalah dan bahkan petaka dalam hidup kita. Karena sesungguhnya kesombongan itu akan membawa kita dalam kelalaian, dan bahkan mampu menjerumuskan kita kedalam lembah kemusyrikan. Kita juga sering menemukan beberapa pepatah yang sangat familiar, seperti: “diatas langit masih ada langit dan orang yang berilmu hendaknya memiliki ilmu padi”. Pada kalimat pertama dinyatakan bahwa hendaknya kita sebagai manusia yang memilik ilmu rendah hati karena setinggi apapun ilmu yang kita miliki itu tetaplah masih sangat kecil disbanding ilmu yang dimiliki Allah SWT, kemudian pada pernyataan kedua disebutkan orang yang berilmu harus memiliki ilmu padi. Yang dimaksud ilmu padi adalah ketika tanaman padi itu masih kosong ia berdiri tegak, tapi setelah berdiri maka ia akan menunduk dan semakin menunduk. Dari pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa sangatlah penting bagi orang yang berilmu agar memiliki sikap rendah hati agar selamat di dunia dan akhirat.

    M. Saufi Rahman
    S3 PEP Kelas A
    16701261024

    ReplyDelete
  21. Raden Muchammad Nurrizal Hasbi Ashshidiqqie
    13301244013
    S1 Pendidikan Matematika C 2013

    Tuntutlah ilmu dari lahir sampai ke liang lahat. Itulah yang menjadi dasar kita sebagai manusia yang harus selalu belajar demi memperbaiki diri. Perlombaan sesama manusia untuk bisa menjadi yang terbaik menjadi hal yang tidak asing. Namun perlu diingat bahwa di atas langit masih ada langit, jangan terlalu sombong manakala sudah menjadi yang terbaik. Terus dan teruslah belajar.

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Dalam menuntut ilmu sangatlah diperlukan keihklasan. Jangan cepat merasa puas akan ilmu yang telah diperoleh, karena hal itu dapat membawa kita kepada kesombongan, bahwa kita telah tahu semuanya. Padahal ilmu yang kita miliki hanyalah secuil bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu yang dimiliki oleh Allah SWT. Oleh karena itu hendaknya kita tetap rendah diri agar terhindar dari kesombongan. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya namun janganlah merasa sombong atas ilmu yang telah kita peroleh.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Janganlah merasa cepat puas dalam menuntut ilmu, karena apabila kita telah merasa puas maka ilmu dan hidayah akan sulit masuk kedalam pikiran kita. Rasa cepat puas bisa juga ditimbulkan oleh sifat sombong dimana ia merasa lebih hebat dari orang lain, menyebabkan ia berhenti untuk menuntut ilmu karena merasa dirinya lebih hebat. Mari kita bersama-sama berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan dari yang namanya sifat sombong. Amin ya robbal alamin ya Allah.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  24. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Agar dapat menyerap ilmu pengetahuan kita harus berpikir kritis dan hati kita juga harus bersih, harus ikhlas. Janganlah berlaku sombong merasa paling pintar, paling kuat, berkuasa, paling memahami ilmu agama, atau bahkan merasa memiliki fisik paling sempurna. Karena manusia adalah makhluk yang memiliki banyak kekurangan, dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  25. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Sehebat apapun kita dalam hal dunia, kalau dalam dirinya terdapat sifat sombong maka akan sulit hidupnya untuk menggapai surga. Kuncinya adalah ikhlas, ikhlas, ikhlas. Ikhlas dalam beramal dan bekerja serta dibarengi dengan doa kepada Allah maka insya Allah kita akan sukses dunia dan sukses akhirat.

    ReplyDelete
  26. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B

    Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslimin maupun muslimat. Tanpa ilmu kita tidak bisa menjalani hidup ini dengan baik. Orang yang tidak memiliki ilmu biasanya akan di manfaatkan oleh orang lain. Bahkan, orang yang tak berilmu itu akan dibodohi oleh orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran carilah ilmu demi kelangsungan hidup yang lebih baik.
    Ilmu memiliki banyak keutamaan, diantaranya:
    1. Ilmu adalah amalan yang tidak terputus pahalanya sebagaimana dalam hadits: ”jika manusia meninggal maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shodaqoh jariahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh yang mendoakan kedua orang tuanya,” (HR Bukhori dan Muslim)
    2. Menjadi saksi terhadap kebenaran
    3. Malaikat akan membentangkan sayap terhadap penuntut ilmu,”Sesungguhnya para malaikat benar-benar membentangkan sayapnya karena ridho atas apa yang dicarinya,” (HR. Ahmad dan Ibnu majah
    4. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu.

    ReplyDelete
  27. MUTIARA KUSUMAWATI
    16701251007
    PEP S2 B
    5. Orang berilmu adalah orang yang takut Allah SWT,
    6. Ilmu adalah anugerah Allah yang sangat besar
    7. Ilmu merupakan tanda kebaikan Allah kepada seseorang
    8. Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surga, ”Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga,” (HR Muslim)

    ReplyDelete
  28. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Hidup adalah tentang perlombaan. Perlombaan dalam menggapai kebaikan, perlombaan dalam memerangi penyakit hati diri sendiri seperti ego, sombong. Bahwasanya kita tak pantas menyombongkan diri. Diatas langit masih banyak langit. Mohon ampun dan perbanyaklah beristighfar karena terkadang kita tak menyadari bahwa kita sering sombong.

    ReplyDelete
  29. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Perlombaan menjunjung langit berarti bumi sedang berusaha untuk menggapai langitnya. Berdasarkan pemahaman saya dari elegi di atas, menjunjung langit sama halnya seperti menggapai impian atau cita-cita. Dalam elegi disebutkan bahwa banyak yang mencoba untuk menjunung langit tapi terjatuh dan akhirnya mati. Kejadian tersebut sama halnya seperti seseorang yang sedang menggapai cita-cita. Tidak semua cita-cita dapat tercapai. Penyebab terbesar dari kejadian tersebut adalah kesombongan dari manusia itu sendiri. mereka begitu sombong dengan ilmu mereka, dengan kekayaan mereka, dengan jabatan mereka, dan lain-lain, sehingga kesombongan tersebut menjadi penghalang untuk menggapai cita-cita atau menjunjung langit.

    ReplyDelete
  30. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    16701251022
    S2 PEP B 2016

    Hal yang bisa saya pahami dari elegi di atas bahwa ada beberapa macam orang yang sombong di dunia ini dengan ilmu yang dimilikinya, yaitu :
    - Orang yang telah merasa menguasai ilmu dunia secara sempurna dan merasa mempunyai keberanian luar biasa.
    - Orang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia dan mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya.
    - Orang yang merasa berilmu yang mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat.
    - Orang yang merasa penampilannya luar biasa, seperti seorang Raja dan banyak pengikutnya.
    - Orang yang merasa seperti ksatria dan pertapa. Yang tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu.
    - Orang matematikawan hebat yang mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih.

    ReplyDelete
  31. Elegi perlombaan menjunjung langit ini memberikan pesan moral yang sangat menarik bahwa setinggi apapun ilmu yang kita miliki, kita tidak boleh merasa sombong. Seperti pepatah di atas langit masih ada langit, maka setinggi apapun ilmu yang kita miliki tetap ada orang lain yang meliki ilmu yang lebih tinggi dari kita. Kelebihan yang kita miliki seharusnya menjadi bahan renungan untuk kita banyak bersyukur bukan malah menyombongkan diri. Tetap merasa rendah hati dan terus mau belajar untuk menuntut ilmu dengan menjaga keihklasan hati dan kritisnya pikiran adalah kunci utama terhidar dari sifat sombong.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  32. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Maka kesombongan tidaklah ada batasannya. Ketika seseorang merasa dirinya paling terbaik dan berada pada posisi yang paling tinggi, maka sebenar benarnya ia berada di bawah dan tak menyadari bahwasanya diatas sana masih ada manusia lain yang lebih dari dirinya bahkan mungkin melebihi kesombongannya. Mencari ilmu setinggi mungkin memang perlu dalam hidup, namun bagaiaman menggunakan, merasakan dan memperlakukan ilmu itu yang perdlu dipelajari. Sesungguhnya kesombingan hanya memberikan penilaian subjektif , penilaian onjektif yang bersifat sesaat, yang memberikan rasa sesat, yang kemudian pada akhirnya rasa itu dan penilaian itu kabur bersama sebuah dosa dan semakinlah rendah apa yang ada pada diri manusia itu.

    ReplyDelete
  33. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Orang yang jujur, ikhlas dan kritis dalam menuntut ilmu akan selalu berada di jalan yang benar, tidak hanya pikirannya yang bekerja, namun hatinya pun ikut merasakan. Orang yang kritis selalu berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, ia akan menyeleksi mana yang baik dan buruk. Berbeda dengan orang sombong, merasa memiliki banyak ilmu, tanpa pikir panjang ia melampaui batas dan sangat merugikan. Sebenar-benarnya predikat itu datangnya dari orang lain yang bisa menilai bagaimana diri kita, jika kita menentukannya sendiri, maka kesombonganlah yang menguasainya.

    ReplyDelete
  34. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    Banyak manusia yang gagal untuk menggapai Ridho Allah, karena beberapa sebab. Misalnya sifat sombong terhadap ilmu yang dimiliki dan tidak menggunakan ilmu dengan baik. Kunci manusia dapat menggapai ridho Allah adalah hati yang ikhlas dan berpikir kritis yang dapat ilmu. Jadi, Kita harus berhati ikhlas dan berpikir kritis dalam mencari ilmu untuk mendapat ridho Allah. Terima kasih.

    ReplyDelete
  35. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMA 13

    Dalam elegi di atas, perlombaan menjunjung langit sebenarnya adalah perlombaan dalam menuntut ilmu. Untuk menggapai ilmu, kita harus memiliki hati yang bersih (ikhlas) dan pikiran yang kritis

    ReplyDelete
  36. KASYIFATUN AENI
    13301241055
    PMA 13

    Ilmu tidak akan bisa diraih bila disertai dengan kesombongan, sekecil apapun itu. dan lmu Alloh itu sangat luas, maka kita tidak patut berbangga dan berpuas diri atas ilmu yang sudah dimiliki. Sebaliknya, semakin berilmu semestinya dapat membuat seseorang semakin tawadhu dan bersemangat dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  37. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Elegi ritual ikhlas dalam perlombaan menjunjung tinggi langit menceritakan tentang ilmu pengetahuan. Apa yang ada dan apa yang terjadi di dunia ini adalah ilmu, tergantung bagaimana seseorang mengambil atau menyikapinya. Perlombaan menjunjung tinggi langit sendiri memiliki arti bagaimana kita berlomba-lomba untuk menjadikan ilmu pengetahuan kita ini menjadi berguna dan bermanfaat. Jangan pernah sombong akan yang telah kita miliki, karena di atas langit masih ada langit, namun kita harus terus berusaha untuk bisa meraih apa yang kita inginkan. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  38. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Kesombongan akan memakan pikiran dan hati kita, saat kita merasa bisa dan mampu karena di setir oleh pikiran sombong akan daya pikir, kekayaan, kekuasaan, kemampuan fisik maupun nonfisik kita, maka saat itulah pikiran dan hati dalam titik lemah. Titik lemah ini menempatkan kita pada tidak sadar bahwa di atas langit masih ada langit lainnya. Elegi ini mengingatkn kita untuk meruntuhkan gunung kesombongan kita dan terbang bersama angin agar mampu bergerak melihat dunia dan isinya dari berbagai sisi.

    ReplyDelete
  39. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Cantraka yang mengganggap dirinya masih bodoh dibandingkan dengan murid yang lain sehingga dia selalu mendengarkan titah-titah dari sang Bagawat. Menyadari kelemahan diri adalah pintu masuk pada penerimaan diri. Sebab saat kita menyadari kelemahan manusia kita, saat itu kita mengadakan suatu perjalanan ke kedalaman diri kita. Artinya kita memandang kedalam diri kita {introspeksi diri} dan mengakrapi diri kita.

    ReplyDelete
  40. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Jangan disangka bahwa seseorang yang berilmu sudah otmatis terlindungi dari kebodohan dan terlepas dari godaan. Meskipun orang berilmu berada di tingkatan yang lebih tinggi daripada makhluk-makhluk lain, ia juga tetap menghadapi godaan yang tidak kalah besar. Bahkan godaan orang yang berilmu jauh lebih besar dibandingkan godaan orang-orang selainnya.

    ReplyDelete
  41. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Iman Ghazali pernah menyatakan, semakin banyak ilmu dikuasai, ia merasa semakin bodoh saja. Ibarat padi semakin berisi, semakin merunduk. Sebaliknya tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang tekun beribadah bisa juga menjadi sombong.

    ReplyDelete
  42. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Ilmu harus dikawal hidayah. Tanpa hidayah, seseorang yang berilmu menjadi sombong dan semakin jauh dari Allah ta’ala. Sebaliknya seorang ahli ilmu (ulama) yang mendapat hidayah (karunia hikmah) maka hubungannya dengan Allah Azza wa Jalla semakin dekat sehingga meraih maqom (derajat) disisiNya dan dibuktikan dengan dapat menyaksikanNya dengan hati.

    ReplyDelete
  43. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP Kelas A 2016

    Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong.

    ReplyDelete
  44. ROFI AMIYANI
    S2 P.MAT A 2016
    16709251004

    Langit selalu berada diatas bumi, sehingga setiap orang senantiasa berharap dapat menggapai langit, namun semakin kita menuju langit kita tidak pernah mengagapai ujungnya. Seperti itulah keinginan manusia, tidak pernah ada ujungnya, setelah menggapai tujuan yang satu kita mengharapkan menggapai tujuan berikutnya yang lebih bagus dan tinggi.

    ReplyDelete
  45. Muh. Faathir Husain M.
    16701251030
    PPs PEP B 2016

    Kita hanya bisa bersandar kepada Allah Sang Pemilik Ilmu. Seperti yang telah saya katakan pada komentar sebelumnya bahwa ilmu itu adalah cahaya Allah. Jadi ilmu itu sesungguhnya hadiah dan pemberian Allah, maka jika hadiah atau pemberian tersebut telah bersemayam dalam diri kita, maka sesungguhnya Allah telah melindungi kita pula.

    ReplyDelete
  46. Puspita Sari
    13301241003
    Pend.Matematika A 2013

    Elegy ritual iklas 26 ini menegnai perlombaan menjunjung langit, memperlihatkan bahwa seorang yang sombong maka akan jatuh atau mati. Maka sebaik-baiknya manusia kita tidak boleh sombong. Ketika kita memiliki ilmu atau hal lainnya sebiknya kita tetap menjadi orang yg biasa, karena kesombongan tidak ada gunanya hanya merugikan diri kita sendiri. Dan elegy ini menunjukan usaha untuk memperoleh ilmu.

    ReplyDelete
  47. Sudah dijelaskan beberapa kali mengenai sosok orang tua berambut putih, "Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit."

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  48. Selalu bersedia bekerja keras demi mewujudkan keikhlasannya. Bagusnya orang yang ikhlas, jika gagal tidak cepat putus asa dan tidak akan merasa dirugikan. Mereka yang ikhlas umumnya juga rela dan tiada perhitungan . Mereka pandai memanfaatkan waktu untuk perbuatan baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  49. Keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan YME, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan

    Menjunjung tinggi orang lain juga merupakan keputusan yang baik yang bisa dilakukan manusia.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  50. Jika diimplementasikan pada keilmuan sejarah dan pemahaman kewarganegaraan, maka bangsa Indonesia mengalami sejarah yang panjang sampai terbentuknya bangsa yang seperti sekarang ini. Faktor sejarah tersebutlah yang menjadi donator yang cukup besar dalam perkembangan identitas nasional dan hal tersebut tidak terlepas dari budaya yang merupakan hasil dari sejarah tersebut. Kepribadian dan jati diri bangsa Indonesia dituangkan dalam pancasila harus dilacak dari sejarah pada masa lampau seperti pada jaman kerajaan seperti majapahit, sriwijaya dan sebagainya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  51. Manusia perlu mencari dan menggali ilmu dari awal waktu sampai batas akhir waktu, maka manusia harus slelau belajar dan menjadikan dasar sebagai manusia yang harus selalu mengamalkan ilmunya demi memperbaiki diri.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  52. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    segala hal yang ada dalam kehidupan kita merupakan titipan dari Allah SWT. Baik harta, ekkayaan, tahta, kecantikan, dll. semuanya adalah titipan. Maka sewaktu-waktu Allah SWT pun dapat mengambilnya dari kita. Menyadari akan kelemahan dan keterbatasan kita serta melihat akan kesempurnaan ciptaan-Nya akan membuat kita sadar bahwa yang berhak memiliki kesombongan hanyalah Allah SWT. Kesombongan itu ibarat selendang. Jika selendang Allah SWT dipakai oleh manusia, maka tinggal lah menunggu balasan dari Allah SWT. Selain itu, ikhlas dan berpikir kritis juga dapat kebaikan akan datang kepada kita. Aamiin. Bi’idznilah. Wallahu’alam bi shawab.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    ReplyDelete
  53. Penyakit hati dan pikiran adalah kesombongan, sombong adalah memuja akan kelebihan pada dirisendiri secara berlebihan. Merasa pandai, merasa kaya, merasa bisa, merasa sehat, merasa ganteng, merasa cantik, merasa paling dicari, merasa terkenal, merasa...., merasa....., merasa....... dan merasa ..dlll. Artinya kalau kita merasa lebih dari yang lain maka itu bisa dikatakan sombong

    ReplyDelete
  54. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.
    Makna dari ini adalah Untuk mendapatkan ilmu tidak lain dan tidak bukan dengan hati ikhlas dan berpikir kritis. Dengan membaca, membaca, membaca,.... komentar, komentar, komentar..... disinilah kita akan mendapatkan ilmu dunia dan akherat.

    ReplyDelete
  55. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.
    Maka kita hanya bisa menggapai ilmu itu dengan iktiar dan ikhlas.

    ReplyDelete
  56. Mariana Ramelan
    13301241053
    Pendidikan Matematika I 2013

    Sungguh sangat Luar biasa. Kita harus senantiasa menuntut ilmu dan menggunakannya untuk menebar kebaikan di bumi ini. jangan kita merasa sombong kepada ilmu yang telah kita dapatkan, karena kesombongan itu akan membuat kita terjatuh dan tersungkur.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id