Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang ber Nurani




Oleh Marsigit

Bagawat:

Waha..semakin banyak saja peserta lomba Menjunjung Langit. Walaupun aku telah melihat banyak di antara mereka berjatuhan. Tetapi sebagaian besar mampu juga bangun kembali dan melanjutkan perlombaan. Itulah hebatnya manusia. Tuhan telah memberi dan melimpahkan karunia kepadanya, sehingga mereka selalu diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar. Iba rasa hatiku. Tetapi ada sesuatu yang ternyata menjadi pemikiran buat diriku, yaitu bagaimana aku bisa menjelaskan kepada peserta lomba perihal pencapaian-pencapaiannya. Mengingat di antara mereka yang banyak itu, mereka mempunyai persepsi, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Wahai Sang Rakata, kelihatannya ada sesuatu yang ingin engkau tanyakan?



Rakata:
Yang mulia Bagawat, mohon ampun atas kelancanganku. Bolehkah aku mengetahui siapa saja diantara pengikutku yang lulus mampu menjunjung langit? Dan siapa pula yang tidak lulus? Jikalau diantara pengikutku ada yang tidak lulus, kira-kira apa penyebabnya? Aku juga ingin tahu, dalam perlombaan Menjunjung Langit itu apakah pemenangnya bersifat tunggal atau jamak?

Bagawat:
Hemm..Sang Rakata muridku yang gagah perkasa. Ketahuilah bahwa pemenang perlombaan Menjunjung Langit itu bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Sedangkan pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis. Ketahuilah bahwa berhati ikhlas dan berpikir kritis itu terikat oleh ruang dan waktu, artinya dia itu bisa berupa titik atau simpul potensi, berupa garis atau bidang vitalitas, atau berupa ruang interaksi dinamis antara potensi dan vitalitas dalam waktunya.

Rakata:
Ampun yang mulia, sulit kiranya aku memahami apa yang baru saja engkau jelaskan? Hemm..kalau begitu apa ya kira-kira kriteria bagi mereka yang dianggap gagal?

Bagawat:

Wahai Sang Rakata...aku mengerti apa yang sedang engkau pikirkan. Ketahuilah bahwa ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Sedangkan hubungan antara dirimu dengan ruang dan waktu tiadalah bersifat tetap bagi predikat-predikatnya dan bersifat tetap bagi predikat-predikat yang lain.

Rakata:
Ampun yang mulia...bukannya aku bertambah jelas perihal keteranganmu itu, melainkan aku malah bertambah bingung.

Bagawat:
Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu. Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu. Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis.

Rakata:
Lho..kalau begitu..bagaimana kita bisa mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita?

Bagawat:
Itulah perlunya penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya. Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...tadinya saya berpikir Allah SWT itu hanya meperhatikan keikhlasan manusia saja, sedangkan pikiran manusia itu sifatnya mandiri.

Bagawat:
Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya.

Rakata:
Sang Bagawat...bolehkah aku mengetahui lebih rinci tentang ciri-ciri orang yang mampu atau yang tidak mampu menjunjung langit itu?

Bagawat:
Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. Jangankan engkau bertanya kepada banyak orang, jika engkau mampu bertanya kepada diri sendiri maka engkau dapat mengetahui bahwa kegagalan dan keberhasilanmu selalu siap mengikuti dirimu dalam ruang dan waktumu. Maka tiadalah sebenar-benar dirimu itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan dirimu hanya selalu berusaha menggapainya. Ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya.

Rakata:
Jikalau manusia itu tidak mampu mencapai ikhlas dan berpikir absolut, mengapa engkau mengadakan perlombaan Menjunjung Langit?

Bagawat:
Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

Rakata:

Hemm..terimakasih Sang Bagawat..padhang terawangan. Kalau begitu bernurani dan cendekia itu ternyata melekat pada diri kita masing-masing dalam ruang dan waktu kita masing-masing pula. Hemm..bolehkah Sang Bagawat aku masih bertanya tentang satu hal, yaitu apa yang dimaksud dengan mandiri?

Bagawat:
Seperti yang sudah saya jelaskan di muka. Ikhtiar manusia itu mentrasformir potensi hati dan pikirannya kedalam ruang dan waktu interaksi dinamis antara potensi-potensinya dengan vitalitas-vitalitasnya. Ruang dan waktu interaksi dinamis itu bisa berupa titik, garis, bidang atau bahkan ruang itu sendiri.

Rakata:
Wahai Sang Bagawat...saya hanya bertanya tentang mandiri..kenapa penjelasanmu malah bertambah rumit?

Bagawat:

Di dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itulah manusia mampu merasakan, menyadari dan memikirkan dirinya dan bukan dirinya. Tetapi keadaan demikian bersifat timbal balik dengan lingkungannya. Di dalam ruang interaksi dinamis itu pula manusia harus bersedia menjadi obyek perasaan, obyek kesadaran dan obyek pikiran bagi yang lainnya. Jika ruang dan waktu kemudian diintensifkan dan diekstensikan, maka itulah yang terjadi bahwa manusia sedang melakukan hijrah dari satu titik ke titik yang lainnya untuk mentransformir doa-doa dalam hatinya serta kritis dalam pikirannya untuk memperoleh vitalitas-vitalitasnya. Ketahuilah bahwa jika ruang dan waktu diintensifkan dan diekstensifkan lagi maka vitalitas-vitalitas itu tidak lain adalah juga potensi-potensinya.

Rakata:
Apa hubungannya antara potensi, vitalitas, ruang dan waktu dengan mandiri?

Bagawat:
Wahai Sang Rakata yang gagah dan perkasa, sabarlah. Dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itu, jika manusia terjaga hati dan pikirannya, maka ada 3 (tiga) kemampuan yang segera diperolehnya. Dia akan bisa merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang.

Rakata:
Apa pula fenomena mendatar, meruncing dan mengembang itu?

Bagawat:
Fenomena mendatar itulah kebiasaanmu, itulah aturan-aturanmu, itulah kodrat dan takdir yang telah ditetapkan baik dari dalam dirimu maupun dari luar dirimu. Fenomena meruncing itulah perasaanmu, itulah kesadaranmu, itulah pikiranmu, itulah ikhtiarmu untuk mengungkap segala misteri kehidupan dirimu dan lingkunganmu. Sedangkan fenomena mengembang itulah perolehanmu, akibat-akibatmu, pencapaianmu, prestasimu, pergaulanmu, keluargamu, teman-temanmu, masyarakatmu. Ketiga fenomena itulah sebenar-benar pilar dalam hidupmu. Itulah hidupmu. Janganlah mengaku-aku sebagai manusia mandiri jikalau engkau belum memahami dan mengimplementasikannya.

Rakata:
Oh..Sang Bagawat...ampunilah kebodohan diriku ini. Badanku terasa gemetar setelah mendengar uraianmu semua. Sungguh tiadalah aku merasakan keperkasaanku itu di hadapanmu itu. Perkenankanlah aku ingin meneteskan air mata dan melantunkan doa syukur atas karunia ini.

Bagawat:
Wahai Sang Rakata..bangunlah. Bukanlah sesuatu yang kebetulan engkau datang di hadapanku itu. Tiadalah orang lain selain dirimu dan diriku ada di sini. Aku pun tidak melihat para cantraka ada di depanku. Apa artinya? Artinya adalah tiadalah ada kata akhir perlombaan Menjunjung Langit itu. Kemampuanmu datang dihadapanku sekarang ini, adalah bukti bahwa dengan keikhlasanmu itu, engkau telah konsisten tetap berpikir kritis seraya mengembang tanggungjawab dan kewajiban-kewajibanmu. Tidak hanya itu, aku juga melihat bahwa engkau telah mampu mentransformir dirimu ke dalam ruang dan waktu interaksi dinamis yang tidak hanya engkau peruntukkan bagi dirimu, tetapi juga bagi yang lainnya. Secara sadar maupun tidak sadar engkau telah mengakomodir tidak hanya dirimu tetapi juga diri yang lain aspek-aspek kehidupan bernurani, cendekia dan mandiri. Jika ruang dan waktu yang lampau aku telah menunjuk sementara seorang Cantraka sebagai pemenangnya, maka sekarang aku telah menunjuk dirimu sebagai pemenang sementara. Teruskanlah perjuanganmu karena di atas pundakmulah banyak nasib di luar dirimu tergantung pada dirimu. Itulah sebenar-benar manusia cemani. Tetapi waspadalah terhadap mitos-mitosmu. Begitu engkau menyadari keikhlasanmu dan pikiran kritismu maka mitos-mitosmu itu siap menerkammu. Maka istighfar dan berdoalah mohon ampun dan bimbingan ke hadhlirat Allah SWT. Amiin.

57 comments:

  1. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Ikhtiar dan doa itu sepaket termasuk ketika mencari ilmu. Mencari ilmu tidak semata-mata untuk mendapat ilmu tetapi juga untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia diberi kelebihan berupa akal pikiran dan hati. Pikiran digunakan untuk memikirkan ilmu, dan hati digunakan untuk menyadari, merasakan. Pikiran dan hati harus digunakan secara sinergis. Semua manusia memiliki kesempatan untuk menggunakan pikiran dan hati, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah merugi jika dapat menggunakan pikiran untuk berpikir kritis serta menggunakan hati dalam keadaan jernih. Semua hal yang dilakukan tersebut hendaklah dilakukan secara ikhlas. Jika kita menganggap diri kita sudah ikhlas, tetapi masih ada di ruang hati yang paling dalam keinginan yang lain, itu artinya kita belum ikhlas, walau dalam prakteknya kita tidak mengharapkan balasan. Maka berusahalah menjadi manusia yang selalu berpikir kritis serta berhati jernih secara ikhlas.

    ReplyDelete
  2. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Menjadi seorang cendekiawan adalah suatu anugerah Yang Maha Kuasa kepada manusia. Anugerah kecerdasan yang membuat manusia seharusnya mendedikasikan kecerdasannya untuk kemajuan kehidupan manusia. Akan tetapi pada kenyataannya, seringkali kecerdasan yang dimiliki membuat seseorang lupa diri. Menggunakan karunia yang mereka miliki untuk kepentingan mereka sendiri. Keegoisan yang menang untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini di Indonesia, mengenai banyaknya kasus korupsi di berbagai instansi, bahkan para cendekia menggunakan kecerdasan yang dimilikinya untuk melakukan tindak korupsi. Disinilah pentingnya spiritualitas. Kemampuan manusia untuk bisa belajar menjadi cendekia yang ber nurani. Menempatkan spiritualitas untuk menjadi payung dan tujuan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  3. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Ketika kita bersiap untuk meraih keberhasilan, maka saat itulah kita juga harus bersiap untuk menghadapi kegagalan. Pada saat engkau menyadari keikhlasanmu, maka saat itulah ketidakikhlasanmu siap menjemputmu. tidak usah memikirkan apa yang sudah kita lakukan karena Allah yang menilai diri kita. tidak usah memikrikan berapa banyak pahala yang terkumpul dan dosa. Allah akan membalas semua kebaikan kita, tetapi ingat bahwa Allah juga akan membalas kesalahan-kesalahan kita. Beristigfarlah dan memohon ampunanNya.

    ReplyDelete
  4. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Tak ada kata akhir dalam mencari ilmu. Lakukanlah dengan ikhlas dan tetap konsisten untuk tak berhenti dalam mencari ilmu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan. Teruslah mencari ilmu untuk menjadi ADA, menjadi PENGADA, dan menjadi MENGADA dalam kehidupan sehingga menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Teruskan perjuangan karena banyak nasib tergantung pada generasi penerus dan pelurus bangsa. Mari semangat menjadi manusia CEMANI.

    ReplyDelete
  5. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Cendekia yang bernurani berarti kritis di dalam pikiran sekaligus ikhlas di dalam hati. Tidak ada kata selesai dalam menggunakan pikiran dan mencari ilmu karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah menggapai ilmu, yang ada hanyalah berikhtiar. Namun, dalam hidup ini, berikhtiar untuk mencari ilmu saja tidak akan cukup, manusia juga harus berdoa dan menggunakan hatinya karena pikiran manusia terbatas. Selain harus menggunakan pikiran dan hati, ilmu juga harus dapat dimanfaatkan di dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  6. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Untuk dapat menjunjung langit, maka kita harus bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu. Tetapi bahwa hati dan pikiran itu selalu berada dalam ruang dan waktu. Dan sesungguhnya tiadalah sebenar-benar diri manusia itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan diri manusia hanya selalu berusaha menggapainya. Dan ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya. Maka tiadalah ada manusia dimuka bumi ini yang sebenar-benar mampu menjunjung langit itu, kecuali atas kehendak Nya. sehingga kita sebagai manusia hanya dapat berusaha untuk ikhlas dan dapat berpikir kritis, semoga kita semua selalu berada di jalanNya.

    ReplyDelete
  7. MARTIN/RWANDA
    PPS2016PEP/B
    Oh yes, it is part of what is happening every day. there are many people who are in the competition but the winners are very few due to the adverse of arrogance primarily. the couples can compete, the triples can too but every one will reach the destination point. i am saying this because the conditions to be qualified for the competition is first of all SINCERITY. many people think to themselves that the reach the destination and due to that, they fail. others start mocking to others thinking they are ignorant and as result they fail. what we have to do is to get close to God.

    ReplyDelete
  8. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Untuk dapat menghadapi segala tantangan dalam kehidupan dengan sebaik-baiknya, baik tantangan bagi diri sendiri maupun mewakili banyak orang, kita harus bernurani dan cendekia. Bernurani di sini maksudnya ikhlas dalam hati sedangkan cendekia itu maksudnya adalah kritis dalam pikiran. Selain bernurani dan cendekia, jangan lupa diiringi dengan bertawakal yakni berdoa kepada Allah.

    ReplyDelete
  9. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu. Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu. Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis. Maka, sebenar-benar penilaian absolut hanyalah dari Allah.
    Semua hal yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Allah. Maka, jangan pernah melupakan Allah. Jadilah cendekia yang bernurani dan mengutamakan Allah di setiap helaan nafasnya.

    ReplyDelete
  10. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Saya akan berkomentar elegi ini dari aspek kesadaran diri Insani.
    Hanya orang beriman sajalah yang bisa menjadi orang-orang yang dalam dirinya terjadi perkembangan seluruh nilai alamiah, karena iman merupakan nilai kemanusiaan yang paling pokok dan paling penting.
    Iman yang sama, bukan ras yang sama, bukan negara yang sama, atau hubungan darah yang sama, inilah sesungguhnya membentuk manusia menjadi “kita” danmengobarkan semangat yang sama pada diri mereka. Keajaiban ini hanya dapat diwujudkan oleh iman saja. Seorang Musa tidak mungkin punya rasa simpati kepada seorang Fir’aun. Seorang Abu Dzar tidak mungkin punya rasa simpati kepada seorang Muawiyah.
    Tak terpungkiri lagi bahwa orang yang telah mencapai aspek kemanusiaannya, maka dia memperlihatkan kelembutan hati kepada semua orang atau juga kepada segala sesuatu, bahkan kepada orang yang kehilangan sifat khas kemanusiannya, orang yang telah mengalami kerusakan fitrah. Itulah sebabnya, Allah Swt melukiskan Nabi-Nya sebagai rahmat bagi semesta alam.
    Jelaslah, apabila umat manusia sudah saling cinta bukan berarti kedamaian total, bukan berarti tidak adanya tanggung jawab, bukan berarti perbuatan orang yang jahat dibiarkan begitu sja (tanpa dilakukan pembalasan). Justru sebaliknya, karena adanya perasaan yang sama, maka ada tanggung jawab yang berat.

    ReplyDelete
  11. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam menjunjung langit sebagai manusia kita harus ikhlas dan selalu berikhtiar kepada ALLAH SWT karena dari kedua hal tersebut kita dapat sadar akan kemampuan dan ketidakmampuan tentang apa yang kita capai dalam ruang dan waktu tertentu. Kesadaran itu timbul dari dala diri masing-masing orang, akan tetapi untuk mengetahui kita telah ikhlas dan berikhtiar bukan merupakan pendapat kita melainkan dari sebuah pengamatan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi sekali lagi penilaian orang pasti mengandung unsur subyektif dan hanya ALLAH SWT lah Sang Maha Penilai sesungguhnya.

    ReplyDelete
  12. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Pikiran dan hati harus digunakan secara sinergis. Semua manusia memiliki kesempatan untuk menggunakan pikiran dan hati, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah merugi jika dapat menggunakan pikiran untuk berpikir kritis serta menggunakan hati dalam keadaan jernih. Semua hal yang dilakukan tersebut hendaklah dilakukan secara ikhlas. Jika kita menganggap diri kita sudah ikhlas, tetapi masih ada di ruang hati yang paling dalam keinginan yang lain, itu artinya kita belum ikhlas, walau dalam prakteknya kita tidak mengharapkan balasan. Maka berusahalah menjadi manusia yang selalu berpikir kritis serta berhati jernih secara ikhlas.

    ReplyDelete
  13. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu. Tetapi bahwa hati dan pikiran itu selalu berada dalam ruang dan waktu. Dan sesungguhnya tiadalah sebenar-benar diri manusia itu ikhlas dan berpikir kritis, melainkan diri manusia hanya selalu berusaha menggapainya. Dan ketahuilah bahwa sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis absolut itu hanyalah milik Nya.

    ReplyDelete
  14. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Tak ada kata terlambat dalam mencari ilmu. Artinya, bahwa sampai kapanpun kita akan terus belajar dan belajar untuk mencari apa yang ingin kita tekuni. Dengan penuh keikhlasan dan kesadaran diri ilmu yang kita dapatkan harus diberikan dengan sepenuh hati, agar ilmu tersebut dapat bermanfaat bagi semua orang. Jika demiikian, maka kita dapat dikatakan sebagai cendekia yang bernurani karena mampu mengimplementasikan ilmu yang telah kita dapatkan. Oleh karena itu, teruslah berjuang untuk meraih ilmu dengan tidak jemu-jemu agar kita semakin bernurani.

    ReplyDelete
  15. 16701251016
    PEP B S2
    Jikalau manusia menggunakan pikiran serta hatinya, maka manusia tersebut telah mengoptimalkan kemampuannya. Bagaimana tidak, manusia sebagai makhluk yang sempurna ini mampu memikirkan segalanya, bahkan hingga menembus ruang dan waktu. Manusia bisa memikirkan masa lalu, merancang masa depan, dan mencari pemecahan suatu masalah di masa sekarang. Namun belum lengkap rasanya jika tidak menghadirkan hati yang bersih, keberadaan hati adalah intuisi, bisa juga sebagai kontrol yang bersumber dari nilai spiritual. Jika di analogikan, kebersinergian fikiran dan hati ini adalah sekayaknya mempelajari filsafat. Dengan fikiran, mampu merefleksukan, maka dengan hati, hati yang tulus serta ikhlas, bukan hanya sekedar memperoleh predikat tertentu, tapi lebih mendalam, yaitu filsafat bagi diri pribadinya sendiri tanpa ada tekanan apapun.

    ReplyDelete
  16. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Segala sesuatu yang memutuskan hanya Allah SWT, yang tahu akan yang terbaik untuk kita adalah Allah SWT. Sehingga dalam menjalani kehidupan kita hanya dapat berikhtiar dan doa yang kontinu. dibutuhkannya pikiran serta hati yang bersih dan ikhlas untuk menjalaninya. Cendekia yang bernurani artinya berikhtiar kita diharuskan untuk selalu dengan hati yang ikhlas dan berpikir kritis.

    ReplyDelete
  17. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.

    kutipan diatas sudah mencakup seluruh hal yang diperlukan proses pembelajaran di kelas, dimana siswa seharusnya memang benar-benar ikhlas mencari pengetahuan dan adanya sifat kritis saat menerima pengetahuan. guru sebagai fasilitator lah yang bertanggungjawab menumbuhkan karakter terseut pada siswa sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna.

    ReplyDelete
  18. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    perlombaan menjunjung langit adalah usaha manusia untuk terndar dari mitos, menjunjung langit mugkin bisa dilakukan atau ducapai oleh manusia, namun tidak ada yang tahu akan seperti apa jadnya, manusi tersu berlomba untuk terhindar mitos, jangan sampai manusia berada dalam osisi belenggu mitos, sehingga manusi terus berlomba, garis finis pada jarak tak berhingga untuk mencapai garis fisnis, waktu yang diperlukan adalah selam tak hingga waktu dalam perlombaan menjunjung langit, itulah perlombaan kebebsan manusi dalam mencapai menjnjung langit.

    ReplyDelete
  19. Dalam hati dan fikiran yang ikhlas dan tenang, akan diketahui fenomena mendatar, meruncing dan mengembang. Mengetahui nilai, kodrat, aturan, kemudian pikiran dan hati kita serta hasil perolehan yang dicapai.
    Pertanyaannya adalah, Bagaimana dengan mereka yang tidak mempelajari Filsafat secara formal, namun belajar dari pengalaman, kearifan kehidupan, apakah mereka juga telah berfilsafat? karena bagi masyarakat awam, Filsafat adalah ilmu Barat, sementara kearifan lokal adalah jatidiri mereka yang sudah membumi dalam tindak tanduk, perilaku budaya yang terjaga untuk mencapai tujuan hidup berlandaskan kearifan sosial budayanya.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP S3 (A)
    16701261007

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukankah hal ini sudah pernah dijelaskan sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan juga dibangun diatas pengalaman, berarti filsafat yang diperolehnya pun berasal dari pengalaman. Kalau tidak salah pak, itu pendapatnya D.Hume.

      Yurizka Melia Sari
      16701261003
      PPs PEP A 2016

      Delete
    2. Memang filsafat ilmu barat, bahkan ilmu pengetahuan seperti matematika juga ditemukan di Luar Indonesia, mengenai kearifan lokal dan lain -lain, saya juga ada pertanyaan mengenai etnomatematika, apakah hal itu juga termasuk ke dalam filsafat matematika?

      Yurizka Melia Sari
      16701261003
      PPs PEP A 2016

      Delete
  20. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Manusia wajib berdoa dan berikhtiar. Lakukan apa yang mampu kamu lakukan, sedangkan bagian mu yang tidak engkau mampu maka serahkan hal itu kepada Allah SWT. Karena dengan doa itu, maka hal yang tak mungkin bisa saja menjadi menjadi mungkin. Oleh karena itu selalulah menyertakan Allah SWT di dalam setiap usaha yang kita lakukan. Perbanyaklah beristighfar karena sesungguhnya dosa-dosa kita menjadi penghalang terkabulkannya doa-doa kita. Astaghfirullahaladzim.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  21. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Cendekia adalah ketika kita kritis dalam pikiran, artinya ketika kita dalam menghadapai sesuatu hal kita berpikir secara kritis maka kita bisa berpikir secara cendekia. Ketika dalam berpikir cendekia itu kita lakukan dengan ikhlas dalam hati maka itu disebut sebagai cendekia yang bernurani. Kedua hal tersebut haruslah berjalan beriringan. Hal itu akan mengakibatkan hal yang positif.

    ReplyDelete
  22. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Kita tidak dapat menyebut diri kita ikhlas atau telah berpikir kritis, kita hanya mampu untuk selalu berikhtiar untuk melakukannya. Semoga kita dapat bernurani dan cendekia yaitu ikhlas dalam hati dan kritis dalam pikiran. Selain itu semoga kita juga dapat mandiri, dapat menentukan sendiri apa yang harus dilakukan untuk mencapai target, harapan atau cita-cita kita.

    ReplyDelete
  23. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Cendikia dapat dikatakan merupakan cita-cita semua orang namun tidak dengan ber-nurani. Sehingga yang terjadi adalah benyak dari para cendikia menyalahgunakan kecendikiaannya dengan berbuat kerusakan dan zalim kepada orang lain. Disinilah maka kita butuh jiga dengan namanya hati yang bersih. Dengan hati yang bersih akan menghasilkan cendikiawan yang ber nurani. Sehingga hati dan pikiran saling bersinergi dalam berbuat kebajikan dan bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

    ReplyDelete
  24. Intan Fitriani
    13301241024
    Pend. Matematika A 2013

    Dari elegi di atas diketahui bahwa bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu. Kita tidak akan pernah bisa mencapai sebenar-benarnya ikhlas dan berpikir kritis, karena itu semua hanyalah milik Allah. Hal yang perlu dilakukan manusia adalah terus berusaha mencapainya semaksimal mungkin.

    ReplyDelete
  25. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Pengetahuan yang ada di dunia ini tidak terbatas. Setiap kali kita mengetahui sesuatu, kita bisa mengetahui sesuatu yang lain. Begitu seterusnya. Manusia tidak akan mampu menuliskan semua sepanjang hidupnya. Sama seperti himpunan bilangan asli. Kita tidak akan pernah selesai menghitungnya hingga akhir zaman. Namun semua ada sumbernya yaitu pengetahuan Sang Khalik. Adapun yang namanya bilangan asli, pangkalnya adalah 1. Namun ika kita tidak ikhlas dalam menerima pengetahuan itu sendiri, kita tidak akan mendapatkan manfaat. Baik untuk diri sendiri atau orang lain. Yang ada hanya keluh kesah.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  26. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Bernurani itu adalah ikhlas dalam hati dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiran. Sebenar-benar hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis secara absolut itu hanyalah milikNya. Yang kita bisa lakukan adalah hanyalah sebatas berusaha menggapai itu semua. Tetap semangat dan berusaha disertai doa dan mohon ampun agar kita selalu diistiqomahkan untuk selalu berusaha menggapai hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis.

    ReplyDelete
  27. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Sebagai orang yang berilmu mari kita gunakan rumus padi, semakin berisi maka semakin merunduk. Hal tersebut mengajarkan kepada kita untuk tidak sombong atas ilmu yang kita miliki. Karena masih ada yang Maha Berilmu. Dan senantiasa ilmu kita juga diiringi dengan hati nurani yang ikhlas, baik itu dalam menuntut ilmunya atau dalam mengaplikasikannya. Senantiasa kita terus berdoa agar ilmu kita selalu didampingi dengan keikhlasan dan hati nurani.

    ReplyDelete
  28. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Cendekia yang Bernurani. Dalam elegi tersebut diceritakan tentang keikhlasan dan kekritisan sang cendekia. Dalam menggapai sesuatu, haruslah manusia selalu dalam keadaan ikhtiar dan doa untuk mendapatkan ridho-Nya.

    ReplyDelete
  29. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Sesungguhnya apapun yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. Keikhlasan ada untuk menyangkal pemikiran negatif akan sesuatu, sedangkan kekritisan ada untuk mendapatkan ilmu. Karena dengan keduanyalah, ilmumu tidak termakan oleh mitosmu. Semoga Allah selalu melindungi kita. aamiin.

    ReplyDelete
  30. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Ketika seseorang berkata “aku ikhlas”, maka sesungguhnya dia belum ikhlas. Begitu pula ketika seseorang mengatakan bahwa dia mampu berpikir kritis, maka yang benar adalah sebaliknya, dia belum berpikir kritis.Manusia tidak bisa mengaku bahwa dirinya telah ikhlasmaupun dapat berpikir kritis karena manusia membutuhkan orang lain untuk menilainya. Namun penilaian yang paling benar adalah penilaian dari Allah.

    ReplyDelete
  31. Berfikir kritis dan hati yang ikhlas merupakan ciri cendekia yang bernurani, cendekia yang pandai menggunakan ilmunya untuk memahami yang ada yang yang mungkin ada dalam dirinya sendiri juga yang ada di lingkungan sekitarnya menurut batas ruang dan waktu yang dimiliki. Menggunakan pikiran untuk berpikir kritis dan selalu ingin belajar untuk menggapai para logos dan menghindari mitos-mitos dalam hidup serta menyeimbangkan dengan hati yang ikhlas bahwa tidak ada yang benar-benar absolut dalam hidup ini kecuali milik Allah SWT, sehingga ilmu dan pemahaman yang di dapat tidak diikuti kesombongan diri melainkan kesyukuran atas segala nikmatNya. Maka semoga kita menjadi insan berilmu dan berakhlak mulia, cendekia yang bernurani.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya mitos tidak dihindari tapi justru dari mitos itu kita dapat menuju logos. Darimana kita menuju logos tanpa mengenal mitos?

      Yurizka Melia Sari
      16701261003
      PPs PEP A 2016

      Delete
  32. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Keseimbangan antara hati dan pikiran memang tidak lepas dari mitos-mitos yang ada dalam diri kita, dikatakan cendekia jika ia sudah mampu berpikir kritis terhadap ssesuatu dan dikatakan bernurani jika hatinya ikhlas dalam perbuatan.
    Seseorang dikatakan mandiri apabila ada orang lain sebagai pembanding sesuai dengan ruang dan waktu yang diintensifkan dan diekstensikan, maka akan muncul potensi diri.

    ReplyDelete
  33. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    1671251022
    S2 PEP B 2016

    Hati dan pikiran manusia selalu berada dalam keterikatan ruang dan waktu, hal itu merupakan suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiar yang telah dilakukan. Ikhlas merupakan salah satu cara ikhtiar hati dan pikiran. Manusia tidak boleh berhenti berikhtiar dalam hidupnya agar Allah SWT melihat kesungguhan dalam diri hambaNya.

    ReplyDelete
  34. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Cendekia yang ber Nurani
    Jika dibedah kata per kata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.
    Cendekia berarti cepat mengerti situasi dan pandai mencari jalan keluar (pandai menggunakan kesempatan); cerdik. Sedangkan Nurani berarti perasaan hati yang murni yang sedalam-dalamnya. Jadi, menjadi cendekia yang bernurani adalah menjadi seseorang menggunakan kecerdikannya untuk tujuan yang mulia dalam mencari jalan keluar atau masalah atau memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang diberikan dan tidak menginterveni hak orang lain.

    ReplyDelete
  35. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Cendekia, adalah bagi mereka yang tidak hanya memiliki pemikiran tinggi, pendidikan tinggi saja. Mereka yang cendekia adalah mereka yang memiliki rasa peka sehingga dapat memahami sesuatu yang terjadi di sekililingnya yang kemudia dengan akal pikirannya dapat menemukan jalan keluar. Namun Cendekia saja dalam hidup tidak cukup, Pohon yang besar tak berarti jika ia tumbang. Maka untuk itu dibutuhkan hati nurani, atau perasaam yang paling dalam yang memunculkan perasaan positif. Sehingga bergunalah ia, kecendikiaan itu dengan nurani yang muncul karena ritual ikhlas dan doa dalam hati. Maka sesungghunya manusia yang baik adalah ia yang menggunakan rasa atau nuraninya yang tinggi tersebut.

    ReplyDelete
  36. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    "Elegi Ritual Ikhlas 35: Cendekia yang Bernurani", Cendekia yang bernurani harus memiliki hati yang ikhlas untuk mencapai tujuan dan disertai usaha untuk perubahan yang lebih baik.Dan disertai dengan sabar dalam berdoa, maka dapat terwujud generasi manusia cendekia yang bernurani. Selain itu, manusia cemani juga dapat menentukan nasib orang di sekitar atau lingkungan masyarakat. Terima kasih.

    ReplyDelete
  37. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Elegi ini merupakan lanjutan dari elegi sebelumnya yaitu perlombaan menjunjung langit, menceritakan bahwa setiap manusia mempunyai pencapaian yng berbeda-beda tiap individunya. Kalau bisa dikatakan maksudnya adalah sudah ada porsinya masing-masing. Sesuai dengan definisi cendekia yang bernurani dimana manusia yang mampu menggunakan hati dan pikirannya dalam mencapai sesuatu atau kesempatan yang dimiliki. Bagaimana jika pencapaian sesuatu itu berbeda-beda? What we should do? apakah kita memaksakan diri kita untuk mempunyai pencapaian yang sama, padahal bagawat sudah mengatakan manusia mempunyai persepsi, pikiran dan perasaan yang berbeda-beda. Sehingga yang terjadi adalah peserta pun berguguran dalam menjunjung langit.

    ReplyDelete
  38. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Mengutip pernyataan sang bagawat

    Ketahuilah bahwa pemenang perlombaan Menjunjung Langit itu bisa bersifat tunggal, dual, tripel atau jamak. Sedangkan pemenangnya adalah siapa saja yang berhati ikhlas dan mampu berpikir kritis.

    Dijelaskan bahwa pemenang dari perlombaan menjunjung langit ialah orang yang ikhlas dan berpikir kritis dimana orang itu ikhlas dan menerima pencapaian yang ia terima dan kritis tentang pencapaian yang diberikan apakah bisa diraih atau tidak? membutuhkan waktu yang lama atau tidak? dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  39. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Kembali lagi bahwa keikhlasan dan pikiran kritis sesuai dengan ruang dan waktu. Mengenai pencapaian keikhlasan dan pikiran kritis, penilaian absolut itu datangnya hanyalah dari Allah SWT. MAnusia hanya berusaha menilai dengan instrumen yang mencapai logos absolut tapi masih terbatas pada subjektivitasnya.

    ReplyDelete
  40. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Menjadi seorang yang Cendekia dan bernurani berarti kita harus mencoba untuk kritis di dalam pikiran sekaligus selau ikhlas di dalam hati akan segala sesuatu yang kita jalani dalam menggapai logos. selalu melakukan proses berpikir apa pun dan dalam hal apapun seraya selalu menuntut ilmu tiada hentinya hingga akhir hayat kita. Namun, dalam hidup ini, berikhtiar untuk mencari ilmu saja tidak akan cukup, manusia juga harus berdoa dan menggunakan hatinya karena pikiran manusia terbatas. Selain harus menggunakan pikiran dan hati, ilmu juga harus dapat dimanfaatkan di dalam kehidupan sehingga nantinya kita menjadi cendekia juga menjaid cendekia yang diteladani dan di hormati.

    ReplyDelete
  41. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    "Dirimu yang selalu berubah dalam ruang dan waktu itulah penyebab dari ketidakmampuanmu menunjuk dirimu.Tetapi bahwa hatimu dan pikiranmu itu selalu berada dalam ruang dan waktu itulah suatu ketetapan yang bersifat tetap untuk menjamin doa-doa dan ikhtiarmu."
    Dari kutipan elegi di atas, kita dapat mengetahui bahwa manusia tidak dapat menilai dirinya sendiri. Yang dapat menilai kita adalah orang lain di luar kita, karena orang lain bisa lebih objektif dalam menilai kita. Meskipun demikian, setiap penilaian tidak bisa terlepas dari subjektivitas si penilai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. LINA
      16701261022
      PEP-A/2016

      Meski penilaian tiak bisa terlepas dari unsur subjektivitas penilai, kita dapat meminimalisir unsur subjektivitas tersebut melalui berbagai cara.

      Delete
  42. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    "Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya."
    Dari kutipan di atas, dapat kita ketahui bahwa semua yang dilalui, dipikirkan, diucapkan, dana dilakukan manusia adalah melalui kekuasaan Tuhan YME. Dari sinilah kita sebagai manuia memiliki kewajiban untuk berdoa dan berikhtiar atas apa yang menjadi harapan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. LINA
      16701261022
      PEP-A/2016

      Ikhtiar merupakan dimensi wujud kesadaran kita yang memiliki harapan dan cita-cita. Dengan ikhlas hati dan kritis dalam pikir yang keduanya merupakan ikhtiar hati dan pikiran, maka manusia sebenarnya sedang berusaha menggapai harapannya. Tidak hanya berikhtiar, doa perlu dilantunkan dengan penuh keikhlasan untuk menggapai keasa Sang Pencipta.

      Delete
  43. KASYIFATUN AENI
    13301241055

    Orang yang bernurani dan cendekia yang akan mampu menjunjung langit. Bernurani adalah ikhlas dalam hati, dan cendekia adalah kritis dalam pikiran. Hanya saja, diri kita ini selalu berubah dalam ruang dan waktu. Sehingga ruang dan waktu lah yang akan menunjukkan keikhlasan hati dan pikiran kita. Manusia tidak dapat menilai keikhlasan hati dan kekritisan pikirannya sendiri. Sebenar-benar ikhlas dan berpikir kritis itu hanyalah milikNya, kita hanya berusaha untuk menggapainya dengan ikhtiar-ikhtiar kita. Maka tidak ada manusia yang dapat menjunjung langit kecuali atas kehendakNya.

    ReplyDelete
  44. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    “Wahai Sang Rakata...aku mengerti apa yang sedang engkau pikirkan. Ketahuilah bahwa ruang dan waktu itulah tempatnya hatimu menunjukkan keikhlasanmu dan tempatnya pikiranmu menunjukkan keikhlasanmu. Sedangkan hubungan antara dirimu dengan ruang dan waktu tiadalah bersifat tetap bagi predikat-predikatnya dan bersifat tetap bagi predikat-predikat yang lain.”
    Dari kutipan di atas, hal yang dapat saya tangkap adalah keikhlasan hanya ditunjukkan dalam hati manusia dan yang mengetahui hanyalah Sang Maha Kuasa. Hati dan pikiran kita dalam ruang dan waktu masing-masing hanya dapat berubah-ubah tingkatnya untuk predikat-predikat yang ada. Sebagai contoh, saya memikikirkan ingin berbagi dengan si-A, maka pikiran ingin berbagi dengan si-B tidak ada saat itu dalam pikiran saya, hal ini berarti berbagi dengan si-A tetap dalam diriku sedangkan berbagi dengan si-B tiadalah bersifat tetap dalam diriku. Hubungan antara diriku dengan ruang dan waktu tentu memiliki keterbatasan kemampuan yang telah di tetapkan Oleh yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  45. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    “Kongkritnya adalah bahwa manusia itu tidak dapat mengaku dirinya sebagai telah berhati ikhlas dan telah berpikir kritis.”
    Karena ikhlas hanya ada di dalam hati dan hanya diketahui oleh Allah SWT. Saat kita menyebutkan bahwa kita telah ikhlas justru saat itulah keikhlasan kita telah gugur bersama dengan kesombongan kita sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Martalia Ardiyaningrum
      16701269002
      PEP Kelas A PPs UNY

      “Itulah yang namanya ikhtiar. Aku dapat katakan bahwa ikhlas dan pikiran kritismu itu tidak lain tidak bukan adalah ikhtiar hati dan pikiranmu. Barang siapa berhenti berikhtiar dalam hati dan dalam pikirannya maka dia akan terancam dimangsa oleh mitos-mitosnya sendiri. Itulah yang disebut bernurani dan cendekia. Bernurani itu adalah ikhlas dalam hatimu dan cendekia itu adalah kritis dalam pikiranmu.”
      Untuk ikhlas-pun membutuhkan ikhtiar yaitu ikhtiar untuk membersihkan dan mensucikan hati kita. Hati dan pikiran harus ditempa latihan di setiap harinya karena dengan kebiasaan untuk melatih hati ikhlas dan melatih pikiran dapat berpikir kritis akan dapat membangun dunia kita masing-masing sebagai bekal menuju ke alam yang berikutnya.

      Delete
  46. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Untuk mengetahui pencapaian-pencapaian doa-doa, pikiran dan ikhtiar kita diperlukan penilaian dari orang lain. Tetapi sehebat-hebat orang menilai maka dia tidak bisa melepaskan diri dari ruang dan waktunya, artinya dia tidak bisa terbebas dari subyektivitasnya. Karena orang lain juga memiliki penilaian terhadap diri mereka masing-masing, subjektivitas itu akan muncul salah satunya adalah dengan membandingkan pencapaian pada diri mereka. Maka sebenar-benar penilaian absolut itu datangnya dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  47. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Jangankan pikiran manusia, semua perbuatan manusia itu sesungguhnya tidak bisa lepas dari kekuasaan Nya. Karena Allah SWT maha Berkuasa dan Berkehendak. Pikiran dan perbuatan manusia ada karena kehendak dan kuasa-Nya, maka setiap kita bisa berpikir dan berbuat suatu kebaikan jangan lupakan untuk selalu bersyukur kepada-Nya. Tiadalah daya dan upaya yang bisa kita lakukan kecuali tanpa campur tangan dari Ilahi Robbi.

    ReplyDelete
  48. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Bahkan dirimu setiap saat dapat terancam kegagalan, walaupun setiap saat mempunyai harapan. Kegagalanmu disebabkan oleh karena kesadaranmu, tetapi keberhasilanmu juga ditentukan oleh kesadaranmu pula. Sedangkan doa-doa mu itulah yang mengangkat dimensimu di luar kesadaranmu. Pada saat engkau lantunkan keberhasilanmu, maka saat itulah kegagalanmu siap menjemputmu.
    Terkadang manusia merasa keberhasilannya adalah akhir dari segalanya, merasa tidak perlu usaha yang lain lagi karena sudah merasa gagah. Akan tetapi saat itulah yang harus diwaspadai oleh manusia, karena saat-saat itulah usaha yang dilakukan saat itu tidak semaksimal dengan usaha yang dilakukan saat akan mencapai keberhasilan pertama, maka sebenar-benar keberhasilan adalah saat kita mampu meningkatkan diri dari usaha sebelumnya ke usaha selanjutnya.

    ReplyDelete
  49. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Kalau begitu bernurani dan cendekia itu ternyata melekat pada diri kita masing-masing dalam ruang dan waktu kita masing-masing pula.
    Maka membangun nurani dan kecendekiaan itu bergantung dari ruang dan waktu kita masing-masing. Akan dibawa kemana diri ini, ditentukan oleh pikiran dan hati masing-masing melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dan yang terpenting adalah bergantung dari doa untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  50. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY


    “Wahai Sang Rakata yang gagah dan perkasa, sabarlah. Dalam ruang dan waktu interaksi dinamis itu, jika manusia terjaga hati dan pikirannya, maka ada 3 (tiga) kemampuan yang segera diperolehnya. Dia akan bisa merasakan, menyadari, memikirkan, dan menjalani fenomena mendatar, meruncing dan mengembang.”
    Amiiiiiiin, semoga kita bisa menjadi insan yang mampu merangkai kemampuan-kemampuan itu dalam ruang dan waktu kita masing-masing.

    ReplyDelete
  51. Rospala Hanisah Yukti Sari
    16790251016
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A Tahun 2016

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Manusia telah diberi Allah akal yang cerdas. Dengan akal terssebut, manusia mampu memikirkan hal-hal yang baik atau sebaliknya. Dengan akal yang telah Allah berikan, manusia dapat berpikir kritis seraya mengembang tanggungjawab dan kewajiban-kewajiban yang telah diberikan. Dari hal tersebut pula, akal tersebut mampu untuk berpikir dan mencari ilmu, serta berpikir kritis sehingga dari hal tersebut dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat umumnya.

    Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id