Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau




Oleh Marsigit

Subyek:
Wahai para risau, aku sebetulnya enggan melihatmu, tetapi engkau selalu mengikutiku. Engkau seperti fatamorgana, kadang jelas kadang menghilang. Tetapi yang aku tidak suka denganmu, karena kedatanganmu dan kepergianmu selalu saja tidak seijin denganku. Sehingga aku merasa kewalahan mengendalikan dirimu. Kadang-kadang aku bahkan menjadi bulan-bulananmu. Dari pada aku bersikap memusuhimu, maka sekarang aku ingin berkoalisi denganmu. Aku ijinkan engkau semua untuk mengajukan proposalmu. Jika itu mungkin, maka aku akan menindaklanjuti proposalmu itu. Tetapi untuk menanggapi proposalmu semua aku telah mengangkat dewan pertimbangan, tidak lain tidak bukan adalah si orang tua berambut putih.

Risau hati:
Wahai subyek, aku adalah risau hatimu. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau sakit:
Wahai subyek, aku adalah risau sakit. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menderita sakit. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau miskin:
Wahai subyek, aku adalah risau miskin. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan menjadi miskin. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau lupa:
Wahai subyek, aku adalah risau lupa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau akan melupakan beberapa hal. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memperoleh pekerjaan:
Wahai subyek, aku adalah risau pekerjaan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena tidak mendapat pekerjaan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.


Risau tidak punya teman:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak punya teman. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mempunyai teman dan kehilangan teman. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau bersifat buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau bersifat buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai sifat buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau reputasi buruk:
Wahai subyek, aku adalah risau reputasi buruk. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau mempunyai reputasi buruk. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak memiliki:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak memiliki. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak memiliki sesuatu benda atau yang lainnya. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau inkompeten:
Wahai subyek, aku adalah risau inkompeten. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap inkompeten terhadap pekerjaanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tak lazim:
Wahai subyek, aku adalah risau tak lazim. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau dianggap aneh atau tak lazim. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau berbuat dosa:
Wahai subyek, aku adalah risau berbuat dosa. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau telah melakukan dosa-dosa. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau iri hati:
Wahai subyek, aku adalah risau iri hati. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena iri hati terhadap teman-temanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak adil:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak adil. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau diperlakukan tidak adil atau melakukan ketidak adilan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau harga diri:
Wahai subyek, aku adalah risau harga diri. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau karena terancam harga dirimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kebutuhan:
Wahai subyek, aku adalah risau kebutuhan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memenuhi kebutuhanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak berperan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak berperan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat berperan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat hak:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat hak. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat hak. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau wan-prestasi:
Wahai subyek, aku adalah risau wan-prestasi. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat mencapai atau memperoleh prestasimu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kematian:
Wahai subyek, aku adalah risau kematian. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau oleh datangnya kematianmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak bisa mengurus milik:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak bisa mengurus milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak bisa mengurus semua milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau tidak mendapat pengakuan:
Wahai subyek, aku adalah risau tidak mendapat pengakuan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak mendapat pengakuan. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau menyongsong masa depan:
Wahai subyek, aku adalah risau menyongsong masa depan. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau tidak dapat memperoleh masa depanmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Risau kehilangan milik:
Wahai subyek, aku adalah risau kehilangan milik. Aku datang dan pergi tanpa seijinmu. Itulah salah satu kemampuanku. Maka engkau tidak bisa lepas dari pengendalianku. Sebetulnya engkau adalah tergantung dari diriku. Ketika engkau tidur, berjalan, makan, bekerja, bahkan ketika engkau berdoa sekalipun maka hatimu bisa menjadi risau. Dirimu merasa risau kehilangan milikmu. Maka itulah sebenar-benarnya pekerjaanku.

Subyek:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimana aku bisa menanggapi dan menindaklanjuti semua kerisauan tersebut?

Orang tua berambut putih:
Ketahuilah subyek, bahwa aku sendiri juga mempunyai kerisauan. Aku selalu merasa risau jangan-jangan aku tidak mempunyai ilmu, atau kekurangan ilmu, atau kehilangan ilmu. Maka sebaik-baik solusi menurutku adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Amien.

49 comments:

  1. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Pada hakekatnya setiap manusia tidak menghendaki perasaan risau ada dalam hatinya, namun kenyataanya tidak ada manusia yang dapat terbebas dari perasan risau, perasaan risau akan selalu datang dalam hati manusia kapanpun dan dimanapun kita berada. Yang dapat dilakukan hanyalah berusaha mengendalikan perasaan risau itu karena tiadalah mampu manusia untuk menghilangkan perasaan risau itu. Sebaik-baiknya usaha yang dilakukan oleh manusia hanyalah bersyukur dan berdoa memohon dengan pertolongan Tuhan YME.

    ReplyDelete
  2. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Risau bisa datang tanpa disadari dalam segala aspek kehidupan. Jika hanya menuruti risau maka manusia akan masuk dalam jebakan setan. Risau atau gundah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rasa khawatir. Menurut saya risau tempatnya juga batas antara pikiran dan hati. Setiap manusia pasti pernah merasakan risau karena manusia hidup selalu berpikir, dalam setiap proses berpikirnya manusia akan mempertimbangkannya dengan hati. Dalam menimbang-nimbang tersebut seringkali manusia merasa risau. Untuk mengobati diri dari risau, kuncinya adalah doa. Tentunya untuk berdoa diperlukan hati yang bersih dan berserah diri kepada Allah, tidak berputus asa, tetap berikhtiar, kemudian bertawakkal kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Risau adalah suatu perasaan yang biasa dialami manusia. Setiap manusia pasti memiliki kerisauan sendiri. Risau membuat hidup ini tidak harmonis. Terlalu banyak yang dikhawatirkan. Kenapa begini, kenapa begitu, kenapa ini, dan kenapa itu. Risau muncul karena kurangnya rasa keyakinan dan kepercayaan diri. Kita sendiri sering merasakan kerisauan, risau yang berkecamuk dalam diri. Risau yang membuat kita bertanya-tanya dan memikirkan yang seharusnya tidak dipikirkan. Risau membutuhkan energi yang tinggi. Menghabiskan energi yang banyak dan terbuang percuma. Mengobati risau kita harus mengobati spiritualitas kita. Belajar ikhlas dan pasrah dalam menggapai ridho Allah.

    ReplyDelete
  4. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Jika hati kita ikhlas atas segala apa yang diberikan oleh Allah sebagai takdir kita, InsyaAllah hidup kita akan jauh lebih tenteram dan damai. Pada hakekatnya, manusia mudah sekali diserang risau. Risau tidak memperoleh sesuatu, risau akan sakit, risau akan terkena musibah, risau tidak memperoleh kebahagiaan, risau tidak memperoleh pekerjaan, hingga risau akan kematian. Siapapun pasti akan terkena risau. Namun, sebaik-baik cara untuk menghilangkan risau adalah tawakal atau berserah kepada selain berusaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ferida Dwi Prasetyoningrum
      13301241052
      Pendidikan Matematika A 2013

      secara biologis, manusia risau karena gejolak hormon di dalam tubuh

      Delete
  5. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Ya, hidup tentu banyak kerisauan. Risau akan hal dunia, sampai risau akan kehidupan setelah di dunia. Namun kita tidak pernah bisa menghilangkan kerisauan tersebut. Hanya dengan banyak-banyak bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT kita bisa berusaha untuk menghilangkannya. Maka sesungguhnya manusia tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  6. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Di dalam menjalani kehidupan, perasaan risau akan selalu menghampiri dan juga pergi. Kerisauan tersebut dapat bermacam-macam tergantung pada apa yang kita takuti agar tidak terjadi. Mulai dari anak-anak hingga tumbuh menjadi dewasa hingga semumur hidup, segala macam bentuk kerisauan tersebut datang begitu saja ditengah aktivitas maupun disaat tidak beraktivitas. Kerisauan tersebut mengganggu pikiran bahkan sampai hati. Manusia tidak akan mampu menghindari kerisauan-kerisauan tersebut tanpa pertolongan Allah SWT. Maka hendaknya senantiasa berikhtiar, berdoa, kemudian ikhlas bertawakal menyerahkan ketetapan hanya kepada-Nya dan mensyukuri apa yang menjadi ketetapan-Nya.

    ReplyDelete
  7. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Dalam kehidupan ini, manusia pasti pernah merasakan risau. Karena manusia ditakdirkan memiliki rasa tersebut, dan selalu mengikuti manusia walaupun terkadang muncul terkadang tidak. Untuk menghindari perasaan risau adalah selalu berusaha atau berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah. Tiadalah daya dan upaya manusia itu, maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya

    ReplyDelete
  8. Martin/RWANDA
    PPS2016PEP/B
    There are many things we are worrying about, forgetting, lack of job, not making good friends, negative reputation, on the other hand, the people who have knowledge always worry about the lack of sufficience in their knowledge. the first solution for not worrying is PEACE of mind throug praying, the second is competitiveness, the third is initiative and endeavors.

    ReplyDelete
  9. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Risau merupakan masalah hati yang sult untuk dihindari. Banyak sekali macam dan sebabnya seperti risau hati, sakit, miskin, lupa, tidak memperoleh pekerjaan, tidak punya teman, reputasi buruk, bersifat buruk, tidak memiliki, risau inkompeten, berbuat dosa, iri hati, tidak adil, harga diri, kebutuhan, tidak berperan, tidak mendapat hak, tidak mendapat pengakuan, dan penyebab risau lainnya. Salah satu obat risau adalah dengan selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Dan jangan lupa juga senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan rejeki yang telah diberikanNya.

    ReplyDelete
  10. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Risau bersumber dari banyak hal, risau karena kegagalan- risau karena tidak mendapat pengakuan- risau menyongsong masa depan dan berbagai risau hati lainnya. Dampak dari risau ini seringkali negatif, maka lebih baik kita menghindarinya. Salah satu caranya adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah. Tiadalah daya dan upaya manusia itu. Maka manusia itu sesungguhnya tidaklah mampu menghilangkan segala kerisauannya, kecuali atas pertolongan Nya. Aamiin.

    ReplyDelete
  11. RAHMANITA SYAHDAN
    16709251013
    PPs Pmat A 2016

    Bismillahirrahmanirrahim
    Almarhum Kull Ahmad Agha berkata, “Pilar untuk menggapai segala sesuatu, pertama-tama harus berpijak kepada keyakinan. Kita harus melangkahkan kaki dengan yakin, bukan dengan jika dan seandainya. Selama kita melangkah maju tidak dengan yakin, maka pintu dan bertakwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah mengajarmu (QS Al-Baqarah: 282) tidak akan pernah terbuka di hadapan kita, sebab setiap langkah kaki yang kita langkahkan justru hasilnya adalah selain Allah Swt.
    Sayangnya, sebagian kita dari permulaan suluk mempunyai niat yang tidak benar, mempunyai niat bukan karena Allah, dan sejak awal tidak melangkah maju dengan yakin. Langkah pertama dalam cinta ialah seorang manusia harus belajar terlebih dahulu pelajaran ‘percaya’.”
    Selama masih ada keraguan maka khayalan masih tetap ada. Kebanyakan manusia berada di dunia khayal mereka. Mereka lalai bahwa semua khayalan itu mempunyai batang, yang akarnya menancap kuat ke tanah ‘keakuan’.
    Kull Ahmad Agha berkata, “Teman, wujud saya dan kamu di hadapan Wujud-Nya adalah Fir’aun. Dia ingin mencabut sifat Fir’aun dan tuhan-tuhan palsu dari saya dan kamu. Dia ingin kamu tenggelam dalam Diri-Nya dan tidak bertanya “apa yang mesti aku lakukan, apa yang mesti aku lakukan”. Semua ini tidak akan dapat diperoleh kecuali engkau menyingkirkan seluruh keraguan sejak langkah pertama.”

    ReplyDelete
  12. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    kerisauan itu dapat timbul dari mana saja dan dimana saja, tanpa melihat kegiatan apa saja yang sedang kita lakukan dan semua manusia yang ada di dunia ini pastilah memiliki kerisauan di dalam dirinya. Untuk itu ketika kita hendak berlepas diri dari kerisauan yang ada maka dengan doa, ikhlas dan ikhtiar lah yang selalu dan selalu kita lakukan serta memohon perlindungan dari ALLAH SWT.

    ReplyDelete
  13. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Pikiran dan hati harus digunakan secara sinergis. Semua manusia memiliki kesempatan untuk menggunakan pikiran dan hati, namun hanya sedikit yang menyadari bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah merugi jika dapat menggunakan pikiran untuk berpikir kritis serta menggunakan hati dalam keadaan jernih. Semua hal yang dilakukan tersebut hendaklah dilakukan secara ikhlas. Jika kita menganggap diri kita sudah ikhlas, tetapi masih ada di ruang hati yang paling dalam keinginan yang lain, itu artinya kita belum ikhlas, walau dalam prakteknya kita tidak mengharapkan balasan. Maka berusahalah menjadi manusia yang selalu berpikir kritis serta berhati jernih secara ikhlas.

    ReplyDelete

  14. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Risau merupakan masalah hati yang sult untuk dihindari. Hati inilah yang mempengaruhi seluruh perbuatan dan tingkah laku manusia. Hati yang bersih disertai niat yang baik akan lebih dapat memfokuskan pikiran, sikap, maupun tindakan kita. Agar hati tetap bersih maka jagalah dengan cara berdoa dan mohon perlindungan dari Allah SWT agar terhindar dari segala godaan makhluk-makhlukNya

    ReplyDelete
  15. 16701251016
    PEP B S2

    Risau, gelisah, galau dalam hal ini. Risau ini bisa jadi rasa kekhawatiran. Khawatir terhadap segalanya, tentang dunia. Risau sendiri bisa bersifat negatif maupun positif. Risau yang positif adalah karena kita menyadari, mengkhawaturjan atas segala sikap, perasaan segala sesuatu. Dengan demikian kita bisa saja berbuat, bertindak lebih hati hati. Karena misal, rasa ridau jangan jangan apa yang saya tau segala hal selama ini salah, maka sikap implementasinya adalah terus berusaha mencari, terus mengkaji kenenaran yang hakiki. Yaitu kebenaran yang sesuai dengan firman dan ketentuan Tuhan. Risau dapat juga bersifat negatif, jikalau terlalu terlalu ditekankan. Maka bisa saja tidak hanya menjadi beban pikiran, melainkan juga hilang kepercayaan diri, hilang rasa syukur terhadap yang apa dimiliki.

    ReplyDelete
  16. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Risau muncul ketika ada sesuatu yang meresahkan hati kita. Dalam hal ini risau yang pada akhirnya menjadikan kita kuatir akan hidup ini. Tetapi kita harus ingat bahwa mau seberapa besar kerisauan yang kita alami tidaklah seberat dengan apa yang orang lain rasakan. Jadi, dengan penuh keikhlasan kita harus bersyukur atas hidup yang telah diberikan Tuhan. Menjadi sadar diri bahwa kita bukanlah satu-satunya orang yang mengalami berbagai masalah, sehingga kita menjadi lebih peka terhadap apa yang kita rasakan.

    ReplyDelete
  17. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Risau itu datangnya dari manusia itu sendiri. Risau bisa berdampak yang negatif dalam kehidupan manusia, misal kurang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Misal, rezeki hari ini yang didapat, bukannya bersyukur tapi malah risau hatinya mengingat bagaimana rezekinya besok, apakah rezekinya cukup untuk sampai besok. Padahal bersama Allah Yang Maha Kaya, kita tak akan pernah miskin jika bersyukur. Allah selalu memberikan sesuai dengan porsinya.

    ReplyDelete
  18. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    menurut orangtua berambut putih solusi agar tidak risau adalah dengan terus menerus berikhtiar dan berdoa, selain itu juga harus banyak banyak bersyukur karena tanpa rasa syukur kita akan selalu disertai dengan rasa gelisah dan kekurangan. tidak ada yang bia menghlangkan raa risau di hati selain tuhan YMK.

    ReplyDelete
  19. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    setiap manusi memiliki berjuta-juta kerisuan , mula dari lahir hingga saat ini dan masa yang akan datang, ketika kit alhir dalam keadaan menangis ini adalh bukti bahwa yang baru lahir mersakan kerisauannya sehingga bayi itu tidak m=bisa menahan kerisauannya dengan kehidupan yang penuh dengan kontradiksi, itulah mengaa agama berusaha melurusakan kontradiksi yang ada dalam kehidupan, hanya allah lah ynag akan mebauat hati risau ini hilang.

    ReplyDelete
  20. Artikel ini memberi jawaban pada kegalauan kita yang tak pernah usai. Kegalauan selalu muncul kapan saja dan dimana saja. saat dirumah, di kantor, saat kuliah dan sebagainya. Doa dan ikhtias selalu beriringan karena yang berhak mencabut kerisauan itu adalah Allah SWT. Kerisauan datang juga sebagai akibat keangkuhan diri sendiri. Maka dengan menunduk takluk pada kekuatan Allah SWT insya Allah akan meredakan galau yang datang.

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP S3 (A)
    16701261007

    ReplyDelete
  21. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Betul sekali bahwa diri kita selalu merasa risau dan galau. Namun jangan sampai kegalauan itu menghalangi ikhtiar kita. Bagaimana caranya, yakni dengan selalu berdoa sebelum melakukan ikhtiar, selalu mengikutsertakan Allah dalam setiap usaha dan ikhtiar yang kita lakukan. Insha Allah dengan selalu mengikutsertakan Allah dalam setiap usaha yang kita lakukan, maka apapun hasilnya yang keluar nanti itu baik hasilnya baik ataupun buruk maka hal itu merupakan takdir dan kehendak Allah, berarti itulah yang terbaik untuk kita. Sehingga rasa risau yang ada dalam diri kita dapat dikendalikan.

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  22. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Beruntunglah kita dengan sholat karena Sholat adalah penyejuk hati. Orang yang tertib dalam melakukan sholat maka akan terpancar dalam wajahnya, wajah orang yang tertib dalam melakukan sholat maka akan bercahaya. Cahaya itu datangnya dari hati yang tenang, selalu merasa Allah SWT berada di dekatnya bahkan lebih dekat dari pada urat nadi mereka. Subhanallah. Semoga kita diberikan kekuatan agar sholat kita bisa tertib dan tidak bolong-bolong lagi. Amin ya robbal alamin.


    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  23. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Kerisauan pastilah ada di dalam diri setiap orang. Semua orang pasti akan mengalami sebuah kerisauan di dalam hidupnya. Ketika kita mengalami sebuah kerisauan maka kembali kita harus berusaha sekuat tenaga dan selalu berdoa berikhtiar setiap saat agar apa yang kita inginkan terkabul serta tidak muncul sebuah kerisauan. Dan satu lagi, segala sesuatu harus dilandasi dengan ikhlas, itu juga akan mengurangi kerisauan dari dalam diri manusia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ferida Dwi Prasetyoningrum
      13301241052
      Pendidikan Matematika A 2013

      berharap setiap manusia melandasi segala urusannya dengan ikhlas sangatlah susah. bahkan ketika seseorang hasrat dan keinginan dasarnya tidak terpenuhi, saya berani menjamin orang tersebut dapat ikhlas sepenuh hati

      Delete
  24. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Kita akan selalu merasakan risau untuk semua hal apabila kita tidak mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan, percayalah Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik, tugas kita ialah selalu berusaha dan berdoa. Setelah itu pasrahkan segalanya kepada Allah SWT karena Allah pasti tahu yang terbaik untuk kita sesuai usaha dan doa kita.

    ReplyDelete
  25. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Risau/cemas pernah dialami siapa saja. Risau dapat timbul karena adanya kekhawatiran terhadap sesuatu hal yang tidak pasti. Adapun salah satu cara untuk menghilangkan risau adalah dengan berdoa kepada Allah. Sebagaimana dalam Firman-Nya, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”(Q.S 40:60) ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (Q.S 2:186)

    ReplyDelete
  26. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematiks S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Kerisauan juga adalah berkah. Jika hidup tidak pernah risau kita tidak akan pernah membuka lembaran baru. Kita stagnan di hal yang sama dan tidak berkembang.
    Begitu banyak kerisauan manusia. Setiap hal dapat menjadi kerisauan. Namun, manusia juga kemampuannya terbatas. Kita tidaj bisa menguasai semua bidang sekaligus. Perlulah kita pilih skala prioritas yang akan kita lakukan terlebih dahulu. Syukur jika kita bisa mendapatkan semuanya.
    Butuh pengorbanan yang tidak sedikit untuk mencapai semuanya. Agar hati kuat dan tidak mudah terombang-ambing, kita imbangi dengan sisi keilmuan duniawi yang cukup, dan juga peningkatan kemampuan spiritual. Yaitu hubungan manusia dengan Tuhan.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  27. Ressy Rustanuarsi
    16709251033
    PPs PMAT Kelas B 2016

    Rasa risau bisa datang karena kita kurang bersyukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Apabila hati kita ikhlas dan bersyukur atas segala apapun yang Allah berikan, atas segala apapun yang terjadi dalam hidup kita, insyaAllah hati kita tidak akan merasa risau. Untuk itu,kita musti selalu bersyukur atas apa yang dikaruniakan Allah untuk kita. Karena sesungguhnya, Allah SWT telah menentukan apa yang terbaik untuk kita. Allah SWT Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

    ReplyDelete
  28. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Risau adalah perasaan dimana kita mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, perasaan yang membuat hati kita tidak tenang. Manusia selalau memiliki kerisauan di dalam hatinya, memiliki ketakutan di dalam hatinya. Maka sebaik-baik solusi untuk menghilangkan risau adalah dengan sellau berusaha atau berikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita dikabulkan. Dan juga selalu bersyukur atas apa yang kita miliki, karena dengan bersyukur maka akan tenang dan bahagia hati dan diri kita ini.

    ReplyDelete
  29. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Di dalam kehidupan ini kita selalu akan mengalami namanya kerisauan, kebimbangan atau kegalauan. Menurut saya adanya risau, bimbang dan galau merupakan salah satu olah pikiran dimana kita tidak merasa yakin akan sesuatu. Kita cenderung memikirkan sesuatu yang belum terjadi di masa depan dan membandingkannya dengan masa kini sehingga muncullah perasaan risau, kalau saya nanti begini bagaimana? begitu bagaimana? dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  30. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Menurut saya, risau tak selamanya buruk, karena risau akan memberikan atau menimbulkan tindakan preventif atau pencegahan. Misal risau akan hari tua, maka apa yang dilakukan? menabung untuk hari tua agar nanti di hari tua, mereka tidak kebingungan akan financial dan membiayai kesehatan mereka nanti. Asal risau tadi ditindaklanjuti dengan perbuatan dan tidak hanya dipikirkan saja. Itu yang akan menjadi penyakit di hati kita.

    ReplyDelete
  31. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Akan tetapi, ada kerisauan yang menimbulkan sifat ketamakan yang diperciki oleh olok-olokan, hinaan atau omongan yang tidak penting dari lingkungan sekitar. Semisal ada kasus keluarga yang sudah mapan dengan pekerjaan dan anak-anaknya. Masih ada orang yang iri sehingga bilang "kok mapan tapi rumahnya gini gini aja, ga seperti tetangga sebelah yang kerjanya lebih rendah tapi bisa tingkat dua". Apa yang terjadi selanjutnya? sang pemilik rumah mulai tidak puas dan membandingkan dengan rumput tetangga yang lebih hijau, padahal selama ini mereka selalu bersyukur akan nikmat yang mereka punya. Hal ini akan menimbulkan perbuatan negatif, entah hutang, manipulasi dan korupsi. Siapa yang terkena dampak? keluarganya yang pasti beserta anak-anaknya yang mulai dalam menentukan jati diri.

    ReplyDelete
  32. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Bagaimana untuk menggapai kelapangan hati dan mencapai ketidakrisauan?
    Menutup telinga dari omongan yang tidak membangun itu perlu. Bahkan kalau perlu membatasi diri dengan dunia maya atau social media itu perlu juga. Agar kita tidak terlalu memikirkan dan melihat postingan dari orang lain yang justru akan membuat diri kita lebih risau. Sehingga, kita akan mempunyai banyak waktu dengan keluarga dan melihat tumbuh kembang anak-anak juga merupakan salah satu hal untuk menghilangkan kerisauan kita. Senyum mereka adalah prestasi sendiri buat kita sebagai orang tua.

    ReplyDelete
  33. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Dan yang paling diingat adalah bukanlah JANGAN LUPA BAHAGIA seperti yang lagi ngehitz di kalangan anak muda. Tapi yang paling terpenting adalah JANGAN LUPA BERSYUKUR karena dengan bersyukur maka kebahagian akan ada di hati kita.

    ReplyDelete
  34. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Dalam Elegi Ritual Ikhlas, kita diperkenalkan dengan ilmu dimana kita dapat meningkatkan keikhlasan kita jika kita dapat memahaminya dengan baik. Risau bukan satu-satunya sifat buruk yang ada pada diri manusia. Risau punya banyak teman, antara lain adalah galau, gundah gulana, khawatir, takut, dll. Sifat-sifat itu pasti ada dan melekat dalam diri kita tanpa kita ketahui kapan dan dimana datang.

    ReplyDelete
  35. Kerisauan di dalam hati dan pikiran kita tidak dapat dihilangkan melainkan dengan berdoa dan memohon kepada Allah SWT. Sebagai manusia kita selalu merisaukan banyak hal dalam hidup ini. Padahal risau itu tidak akan mengahsilkan apa-apa selain kecemasan yang berlebihan, maka sebaik-baik solusi adalah selalu berusaha atau ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita itu dikabulkan. Disamping itu kita juga harus pandai-pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah dilimpahkan oleh Tuhan YME. Tiadalah daya dan upaya manusia kecuali atas pertolongan Allah untuk menghilangkan segala kerisauan itu.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  36. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Ada kalanya manusia mengalami kerisauan, risau dalam segala bentuk yang ada karena kehendak Allah. Cara mengatasinya adalah dengan berikhtiar dan berdoa, karena manusia hanya bisa berencana dan Allah yang akan menentukan. Bersyukur dengan nikmat Allah, selalu husnudzon dengan ketentuan-Nya dan ikhlas dalam perbuatan akan menjauhkan kita dari kerisauan.

    ReplyDelete
  37. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    1671251022
    S2 PEP B 2016

    Manusia memang dalam hidupnya akan bertemu dengan kerisauan. Setiap manusia pastinya memiliki masalah yang berbeda – beda yang membuatnya risau karena memang setiap manusia tidak bisa menghindar dari yang namanya masalah. Risau adalah masalah hati yang perlu dihapapi. Caranya agar tidak tenggelam dalam kerisauan adalah dengam selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampun kepada Allah, dan selalu berdoa.

    ReplyDelete
  38. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Risau menjadi satu unsur yang sesungghunya dapat memotivasi manusia untuk melangkah menuju lebih baik bahkan menjadikan manusia itu lebih dewasa melewati risau itu demi suatu harapan tertentu. Risau yang tak dapat dikendalikan, menjadi boomerang bagi diri manusia. Hal tersebut dapat membangunkan kelemahan manusia seperti, menyerah, tidak mempedulikan, berbuat kejahatan dan sebagainya dalam mewujudkan sesuatu. Risau muncul menyerang pikiran dan hati yang sulit apakah keduanya diserang secara bersamaan atau tidak. Namun sesungguhnya, manusia perlu mengendalikan pikirannya, agar pikirannya tersebut tidak dikuasai oleh berbagai keadaan yang dianggapnya menyulitkan. Pada kondisi sebaliknya, seharunya pikiran manusia lah yang mengendalikan keadaan sehingga dengan demikian setidaknya risau tersebut dapat dikelola dengan baik.

    ReplyDelete
  39. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    "Elegi Ritual Ikhlas 36: Menggapai Tidak Risau", Dalam hidup manusia banyak mengalami kerisauan, diantaranya yaitu kehilangan milik, risau hati, risau miskin, risau lupa, dan lainnya.Hampir semua orang mempunyai dan mengalami kerisauan dalam hidup. Penyebab kerisauan, salah satunya adalah kurang ilmu. Maka, solusi yang tepat adalah berusaha dan berdoa kepada Allah karena hanya Allah yang dapat menghilangkan kerisauan pada manusia, serta kita jangan lupa untuk bersyukur di setiap waktu. Terima kasih.

    ReplyDelete
  40. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Risau merupakatan bentuk kekhawatiran atau bahkan ketakutan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi pada diri kita. Risau bersumber dari ketidak ikhlasan untuk menerima atau mengakui bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah kehendak sang pencipta.

    ReplyDelete
  41. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Salah satu syarat dalam beragama adalah manusia harus percaya bahwa segala hal yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi merupakan sebuah grand desain yang sudah ditentukan oleh Tuhan bahkan jauh sebelum manusia itu diciptakan. maka tidaklah akan jatuh selembar daun dari ranting pohon kalau bukan karena atas kehendaknya, lalu mengapa kita harus merasa risau akan hari yang kita belum tentu menemuinya?

    ReplyDelete
  42. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    keyakinan bahwa malaikat pembagi rejeki tidak akan pernah salah alamat dalam mengantarkan rejekike rumahmu jika itu memang rejekimu, akan menghilangkan kerisauan hati tentang kelaparan hari esok. keyakinan bahwa malaikatmaut tidak akan pernah salah dalam mencabut nyawa seseorang akan menghilangkan kekhawatiran kita akan ajal yang bisa tiba kapan dan dimana saja. keyakinan bahwa tuhan telah menentukan kehidupan kita bahkan jauh sebelum kita terlahir akan menghilangkan segala kerisauan kita tentang apapun.

    ReplyDelete
  43. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    Kata lain dari risau itu adalah keraguan pada kehendak Tuhan.

    ReplyDelete
  44. Sumbaji Putranto
    16709251028
    Pend. Matematika S2 Kelas B

    “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du:28). Maka hendak lah kita mengingat Allah agar memperoleh ketentraman hati dan terhindar dari kerisauan yang berlarut-larut dan berlebihan. Risau akan sesuatu itu terkadang penting karena itu berarti kita memikirkan. Akan tetapi sejatinya segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik. Maka sebagai manusia yang bijak, sebaiknya kita memanajemen diri kita akgar kerisauan yang timbul tidak menjadi berlarut-larut.

    ReplyDelete
  45. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Setiap individu memiliki kerisauan nya masing-masing, saya memiliki kerisauan, presiden mempunyai kerisauan, orang kaya memiliki kerisauan, orang miskin begitu pula, tidak ada satupun yang tidak memiliki kerisauan. untuk menghilangkan kerisauan ini hanya dapat dilakuukan dengan ikhtiar dan berdoa agar ikhtiar kita dikabulkan oleh ALLAH SWT. selain itu dari elegi diatas disarankan untuk selalu bersyukur atas apa yang kita terima sebagai karunia oleh ALLAH SWT.

    ReplyDelete
  46. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Perasaan risau merupakan hal yang alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia. Risau bisa datang kapanpun dalam hati manusia. Kekhawatiran/kerisauan akan mengalami kegagalan kehilangan, kematian, sakit, tidak mendapatkan pengakuan,dll. merupakan wujud belum adanya keikhlasan dalam hati manusia.

    ReplyDelete
  47. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Perasaan risau muncul saat belum terwujud keihklasan dalam hati manausia. Untuk menghilangkannya, tentu saja perlu mewujudkan perasaan ikhlas, ikhlas hati dan ikhlas pikiran. Ikhlas hati dan pikiran merupakan bentuk ikhtiar manusia, yang tidak akan berhasil didapatkan kecuali dengan bantuan doa yang dilantunkan dengen penuh keikhlasan pula.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id