Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan dari Sdr Nurfita Handayani:

Ass.. dalam artikel bpk menuliskan setinggi-tingginya dunia dan akhirat adalah ikhlas adanya. untuk menujukan adanya keikhlasan dalam hati kita masing-masing, maka bagaimanakah kita menunjukan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat?



Jawaban saya (Marsigit):

Ass..Purwanti RYA ..ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalah hati, begitulah.
Uraian saya berikut saya fokuskan pada ikhlas dalam pikir. Sedangkan untuk ikhlas dalam hati mungkin diuraikan secara terpisah.

Jika yang engkau maksud ikkhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir, maka sebenar-benar ikhlasnya pikiran adalah "pure reason".

Pure reason itu tidak lain tidak bukan adalah terbebas dari "prejudice".

Prejudice adalah pengetahuanmu juga. Jika aku katakan pengetahuanmu adalah hidupmu, maka "prejudice" adalah hidupmu juga.

Maka "menuju prejudice" adalah pegetahuanmu atau logosmu.

Sedangkan "menjadi prejudice" adalah mitosmu.

Maka "bukan prejudice" itu adalah anti-tesis dari prejudice, dan sebaliknya.

Jadi ikklas dalam pikiranmu adalah kesediaan dan kesiapanmu membuat anti-tesis dari pengetahuanmu.

Tidak hanya itu saja, ikhlas dalam pikiranmu juga kesediaanmu dan kesiapanmu membuat sintetis antara tesis dan anti-tesis.

Yang telah aku sebut itulah sebenar-benar ilmumu dan juga filsafatmu.

Maka aku telah membuktikan bahwa iklhas dalam pikir tidak lain tidak bukan ternyata adalah filsafat itu sendiri.

Jika engkau pikir filsafat adalah "bijak" mu maka ikhlas dalam pikir itu ternyata adalah juga "bijak" mu.

Itulah yang selama ini kita pelajari, kita diskusikan, aku buatkan elegi dan juga telah berusaha digapai oleh para filsuf besar dari jaman Yunani Kuno sampai jaman komtemporer sekarang.

Untuk kesekian kali aku telah membuktikan bahwa ilmu itu dimulai dengan pertanyaan.

Penjelasanku tentang pertanyaanmu ini itulah sebenar-benar ilmuku.

Maka jangan ragu-ragu untuk selalu memproduksi pertanyaan, karena mereka itulah landasan dari filsafatmu.

Sedangkan engkau tahu bahwa sebenar-benar filsafat adalah hidupmu.

Maka pertanyaan-pertanyaanmu itu adalah hidupmu.

Hidupmu itulah keberadaanmu.

Maka aku juga telah membuktikan cogito ergosumnya Rene Descartes, bahwa engkau ada "hidup" adalah dikarenakan engkau masih bisa bertanya.

Tetapi engkau mampu bertanya adalah karena ikhlas pikirmu.

Maka barang siapa tidak ikhlas dalam pikirnya maka dia terancam tidak bisa bertanya.

Maka barang siapa tidak bertanya atau tidak mau bertanya, maka dia akan terancam hidupnya.

Sebenar-benar hidupmua adalah pertanyaanmu.

Ilmu bermodal ilmu, ikhlas bermodal ikhlas, hidayah bermodal hidayah, bertanya bermodal bertanya.

Maka tiadalah kemampuanmu bertanya itu datang seketika dari langit, tiada pulalah hidupmu itu sekonyong datang dari langit, kecuali hal yang demikian juga adalah ikhtiarmu.

Maka aku juga telah menemukan bahwa ikhtiarmu itulah hidupmu.

Dari ikhlas pikir sampai ikhtiar dan hidup.

Itulah aku juga telah membuktikan bahwa setiap kata-katamu adalah puncak gunung es duniamu.

Maka ilmumu adalah penjelasanmu dari setiap puncak gunung es mu.

Penjelasanmu adalah ilmumu adalah filsafatmu dan ternyata adalah ikhlas pikirmu.

Maka ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir adalah ternyata filsafat itu sendiri.

Itulah yang sebenar-benar sedang engkau hadapi.

Belajar filsafat adalah usahamu menggapai ikhlas dalam pikirmu.

Maka baca dan renungkanlah.

Amiin

44 comments:

  1. Erlinda Rahma Dewi
    16709251006
    S2 PPs Pendidikan Matematika A 2016

    Ketika kita ingin mengetahui apakah kita ikhlas maka kita harus memahami diri kita. Ikhlas dalam pikiran berarti berpikir tanpa mengharap imbalan apapun, semata –mata hanya mengharapkan ridho-Nya. Contohnya dalam berfilsafat misalnya.Filsafat adalah keikhlasan dalam berpikir, filsafat itu membuat kita berpikir mengenai segala hal secara lebih mendetail dan kritis. Berpikir dan bertanya merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari filsafat sehingga diperlukan ikhtiar dan doa untuk melakukannya. Jadi, ikhlas dalam filsafat itu adalah sejauh dan sebesar apa kita mengetahui pikiran kita.

    ReplyDelete
  2. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Ikhlas dalam berpikir dapat dipahami sebagai kemampuan memahami tentang hal-hal (pengetahuan) yang ada dalam pikiran serta menyadari bahwa pada hakekatnya kita manusia adalah mahluk berbatas sehingga tidak bisa menampung semua informasi (pengetahuan) yang ‘ada’ dan ‘mungkin ada’ dalam pikiran. Sehingga diperlukan usaha (ikhtiar) untuk mencari informasi(pengetahuan) dari luar pikiran lewat bertanya. Rene Descartes berpendapat “engkau ada dikarenakan engkau masih bisa bertanya”. Artinya sebenar-benarnya manusia hidup adalah bertanya.

    ReplyDelete
  3. Asri Fauzi
    16709251009
    Pend. Matematika S2 Kelas A 2016
    Untuk mencapai pikiran yang ikhlas hendaknya harus slalu mendekatkan diri pada sang pencipta. Yang tahu bahwa kita ikhlas hanya hati kita sendiri. kita tidak bisa hanya mengatakan ikhlas dalam perkataan tetapi dalam hati tidak. Dalam berfilsafat juga memang seharusnya diimbangi dengan hati nurani sehingga dalam berfilsafat akan menjadi ikhlas, dan menjadi pencerah pikiran. Akan tetapi jika filsafat itu tidak diimbangi dengan hati yang ikhlas, maka hancurlah filsafat itu, dan itu merupakan sebenar-benarnya tidak berfilsafat.

    ReplyDelete
  4. Erni Anitasari
    16709251007
    S2 Pend. Matematika Kelas A

    Seperti apakah ikhlas itu? Jika yang engkau maksud ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir, maka sebenar-benar ikhlasnya pikiran adalah "pure reason". Pure reason itu tidak lain tidak bukan adalah terbebas dari "prejudice". Prejudice adalah pengetahuanmu juga. Jadi, ketika kita ingin ikhlas belajar atau berpikir, pastikan bahwa kita tidak mudah menjustifikasi pengetahuan dengan menganggap bahwa pengetahuan kita sebelumnya adalah sebenar-benarnya pengetahuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ferida Dwi Prasetyoningrum
      13301241052
      Pendidikan Matematika A 2013

      ikhlas itu ada dari hati, bukan dari pikiran

      Delete
  5. Devi Anggriyani
    16701251023
    S2 PEP B 2016

    Bagaimana cara kita menunjukan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat?
    Ketika membaca pertanyaan ini, menurut saya sang penanya ingin sekali menunjukan rasa ikhlas itu seperti apa. Sedangkan menurut saya rasa ikhlas itu sesungguhnya tak nampak, jadi untuk apa menunjukan sesuatu yang memang tak akan nampak. Karena keikhlasan itu hanya Allah yang tahu. Namun karena keikhlasan itu ada di pikiran dan di hati maka Prof Marsigit berusaha untuk menjelaskan keikhlasan dari pikiran. Ikhlas dalam artian, adanya rasa penasaran yang menyebabkan ingin mengetahui pengetahuan tanpa terpaksa. Untuk menggapai pikiran yang ikhlas itulah sehingga kita mempelajari filsafat ilmu. Karena berfilsafat salah satu usaha kita dalam menggapai keikhlasan.

    ReplyDelete
  6. Arifta Nurjanah
    16709251030
    PPs P Mat B

    Berdasarkan elegi ini, pikiran ikhlas merupakan keihklasan di dalam pikiran untuk bersedia dan siap membuat anti tesis dari setiap pengetahuan yang dimiliki (tesis), dan juga mensintesiskan keduanya. Maka di dalam membangun pengetahuan, kita tidak cukup pada tesis saja atau berhenti pada suatu pemahaman saja, tetapi juga perlu membuat antitesis dari pengetahuan tersebut serta mensintesiskan keduanya. Dengan demikian, pikiran ikhlas tidak akan pernah berhenti pada suatu pemahaman bahkan justru terus menerus mengembangkannya. Namun, kita tetap harus menyadari bahwa pikiran kita terbatas sehingga membangun ilmu ialah dalam rangka menggapai ridho Allah di dunia maupun di akhirat.

    ReplyDelete
  7. Misnasanti
    16709251011
    PPs PMAT A 2016

    Setinggi-tingginya dunia dan akhirat adalah ikhlas. Pikiran yang ikhlas adalah pure reason yaitu terbebas dari predujice. Ikhlas dalam pikiran seseorang adalah kesediaan dan kesiapan seseorang membuat anti-tesis dari pengetahuannya dan juga kesediaan dan kesiapan seseorang membuat sintesis antara tesis dan anti-tesis. Keikhlasan dalam pikiran akan membantu untuk memahami illmu atau pengetahuan.

    ReplyDelete
  8. M A Kholiq Arfani
    13301241064
    PMI 2013

    Keikhlasan berhubungan dengan hati an pikiran. Sudah menjadi kodratnya bahwa hati dan pikiran itu terhubung. Keikhlasan memiliki tingkat yang berbeda tetapi bukan berarti ada batasan tentang tingkat keikhlasan tersebut.

    ReplyDelete
  9. martin/Rwanda
    PPS2016PEP/B
    We are what our thinking are, and our thinking are our knowledge so our knowledge is our philosophy then philosophy is our daily life. i can support my statements by the following statements from the elegi: Penjelasanmu adalah ilmumu adalah filsafatmu dan ternyata adalah ikhlas pikirmu.
    Maka ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir adalah ternyata filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  10. Fevi Rahmawati Suwanto
    16709251005
    PMat A / S2

    Cara terbaik agar kita dapat ikhlas dalam pikiran adalah dengan mengenal dan mengendalikan diri sendiri. Karena ikhlas dalam pikir tidak lain tidak bukan ternyata adalah filsafat itu sendiri yang merupakan olah pikir yang menyangkut kesediaan dan kesiapan seseorang membuat anti-tesis dari pengetahuannya dan juga kesediaan dan kesiapan seseorang membuat sintesis antara tesis dan anti-tesis.

    ReplyDelete
  11. Andina Nurul Wahidah
    16701251019
    PEP-S2 Kelas B

    Bagaimanakah kita menunjukan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat?
    Pertanyaan inipun seringkali muncul dalam pikiran saya terutama ketika membaca artikel dalam blog ini.
    Jawaban dari pertanyaan ini ternyata, terbebas dari prejudice. Di awal perkuliahan juga Bapak Prof. Dr. Marsigit, MA sudah mengatakan di kelas kami bahwa dalam menggapai ilmu kita seharusnya dont prejudice”. Prejudice terkait persepsi seseorang. Ketika kita sudah “prejudice” negatif maka ikhlas akan sulit diraih. Jika tidak ikhlas, ilmu itu akan sia-sia pada akhirnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah bisa dielaborasi lebih lanjut lagi, prejudice "negatif" seperti apa? Bukankah prejudice lebih mengarah ke hal yang negatif?

      Yurizka Melia Sari
      16701261003
      PPs PEP A 2016

      Delete
  12. RAIZAL REZKY
    16709251029
    S2 P.MAT B 2016

    dalam menggapai pikiran yang ikhlas kita harus dapat menghilangkan pola pikir pola pikir yang negatif dimana pola pikir tersebut seperti prejudice, tetapi prejudice yang tidak bermanfaat bagi kehidupan kita kedepannya. Dalam mengatur pola pikiran tersebut maka kita harus ikhlas terhadap hal-hal yang dapat membawa kita ke arah yang salah, dan kita juga patut bertanya kepada orang-orang yang memiliki ilmu berlebih di banding kita agar pengetahuan kita yang ada saat ini terus bertambah dan bertambah dari waktu ke waktunya.

    ReplyDelete
  13. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Ikhlas dalam artian, adanya rasa penasaran yang menyebabkan ingin mengetahui pengetahuan tanpa terpaksa. Untuk menggapai pikiran yang ikhlas itulah sehingga kita mempelajari filsafat ilmu. Karena berfilsafat salah satu usaha kita dalam menggapai keikhlasan. Ikhlas dalam pikiran seseorang adalah kesediaan dan kesiapan seseorang membuat anti-tesis dari pengetahuannya dan juga kesediaan dan kesiapan seseorang membuat sintesis antara tesis dan anti-tesis. Keikhlasan dalam pikiran akan membantu untuk memahami illmu atau pengetahuan.

    ReplyDelete
  14. Muhamad Arfan Septiawan
    16701251018
    S2 PEP B 2016

    Hati yang jernih adalah hati yang selalu dipenuhi dengan doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT. Ada kondisi hati yaitu baik dan buruk atau bisa juga dikatakan dengan jernih dan kotor. Masing-masing kondisi hati dipengaruhi oleh unsur komponennya, yakni ketika hati baik jernih maka unsurnya adalah sifat2 kebaikan. dalam hati kita selalu terjadi kontradiksi dimana terkadang hati kita dapat bersifat bersih dengan doa-doa beserta para malaikat didalamnya dan terkadang pula hati kita dapat kotor akibat dari perbuatan-perbuatan kita sehari-harinya

    ReplyDelete
  15. Ummi Santria
    16709251008
    S2 Pend. Mat Kelas A – 2016

    Ikhlas dalam hati dan pikiran akan menumbuhkan kesadaran atas segala sesuatu akan bermanfaat untuk diri kita sendiri yang dikarenakan pengalaman-pengalaman dari apa yang sudah, sedang dan akan dijalani. Membaca adalah cara belajar yang efektif untuk mendapatkan suatu ilmu pengetahuan. Menunjukkan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat dengan cara seperti itu. dengan membaca kita dapat mengajukan pertanyaan karena keingintahuan. Kemudian mencari tahu dari buku atau dari orang lain yang ahli, sehingga pertanyaan tersebut terjawab dengan bahasa kita sendiri karna kita yang memahaminya, maka itulah ilmu filsafat yang menunjukkan rasa ikhlas.

    ReplyDelete
  16. Fatya Azizah
    16709251039
    Pendidikan Matematika B PPS UNY 2016

    Belajar filsafat adalah usahamu menggapai ikhlas dalam pikirmu.
    kaena belajar filsafat adlaah belajar mnegenai pikiran dan diri kita snediri. dengan belajar membaca dan merenungkan yang tidak ada habisnya, karena bapak marsigit sudah mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menggapai pemahaman diri selain hanya berusaha.

    ReplyDelete
  17. Nuha Fazlussalam
    13301244023
    s1 pendidikan matematika c 2013

    ikhla dalam berfikir adalah filsafat itu sendiri, fisafat dalam berfiki adalah bijak kita dalam berfikir, ikhlada aml berfiki adalah menghilangkan prejudis yang ada dalam pikiran. untuk bisa ikhlas ya kita haru spunya ikhlas, untuk punya ikhlas yan kita haru sberusaha ikhlas, jadi tidak lepas dari ikhtiar dan doa kepada allah, fatal dan vital dan sintesis.

    ReplyDelete
  18. Ternyata ikhlas dalam Filsafat memiliki dimensi yang kompleks dan mendalam. Bila merujuk pada Surat Al-Ikhlas dalam Al-Qur'an, ternyata dapat dijabarkan sangat luas dan mendalam. Ternyata Ikhlas itu juga berstruktur, meskipun titik utamanya ada didalam hati dan fikiran. Bapak Prof.Marsigit menjabarkan makna Ikhlas sampai puluhan Elegi, menjadi sebuah refleksi yang bisa diterapkan pada berbagai bidang dan makna.
    Seperti menulis Comment ini juga bila tidak dilandasi dengan Ikhlas..tidak menghasilkan pemikiran yang bermakna. Semoga keikhlasan tetap terjaga bukan hanya sebentar singgah lalu pergi....

    Nur Tjahjono Suharto
    PEP S3 (A)
    16701261007

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemikiran saya juga sama seperti bapak, bahwa IKHLAS, satu kata tapi maknanya sangat luas yang direfleksikan dalam bermacam-macam elegi dimana konten utamanya adalah IKHLAS.

      Yurizka Melia Sari
      16701261003
      PPs PEP A 2016

      Delete
  19. Andi Sri Mardiyanti Syam
    16701251031
    PPs S2 PEP Kelas B 2016

    Bismillah.
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    Kita harus selalu belajar untuk ikhlas di dalam melakukan sesuatu, agar sesuatu yang kita lakukan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Menuntut ilmu adalah merupakan suatu kewajiban. Untuk memahami ikhlas dalam hal belajar, maka kita juga harus tahu terlebih dahulu bahwa menuntut ilmu itu wajib hukumnya, sehingga ketika kita menjalankannya akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Siapa sih yang tidak mau pahalanya bertambah, maka dalam hal ini patutlah kita bersikap ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena di balik itu semua ada pahala besar yang telah menanti kita

    Sekian, terima kasih.
    Wassalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  20. Bayu Adhiwibowo
    16709251014 / S2 Pend. Matematika
    Dalam usaha menggapai pikiran yang ikhlas adalah bukan perkara mudah karena terkadang hati suka turut campur. Keikhlasan akan muncul ketika kita mendekatkan diri pada Allah SWT. Menerima segala yang sudah ada pada kita. Ikhlas dalam berfilsafat adalah ketika kita berpikir dengan kesediaan dan kesiapan dalam bersintesis mengenai tesis dan antitesis.

    ReplyDelete
  21. Firda Listia Dewi
    16701251014
    S2 PEP B 2016

    Untuk menunjukkan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat berarti kita harus ikhlas dalam berpikir. Ikhlas dalam berpikir ini bisa diwujudkan dengan kesediaan kita untuk bertanya, karena ilmu itu berawal dari bertanya.

    ReplyDelete
  22. Wan Denny Pramana Putra
    16709251010
    PPs Pendidikan Matematika A

    Belajar filsafat adalah usaha untuk menggapai ikhlas dalam pikiran. Terkadang ikhlas itu hanya kita dan Allah saja yang tahu, karena ikhlas itu tempatnya di hati. Jika kita ingin melihat apakah kita ikhlas dalam pikir apa tidak maka lihatlah hati kita. Kalau kita tidak bisa bertanya maka bisa dikatakan bahwa kita tidak ikhlas dalam berpikir.

    ReplyDelete
  23. Kartika Nur Oktaviani
    16709251032
    Pendidikan Matematika S2 UNY kelas B

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Ilmu didapat karena olah pikir. Olah pikir didapat karena kita mempunyai permasalahan. Permasalahan didapat karena kita menemukan pertanyaan 'mengapa' atau 'bagaimana'. Pertanyaan dapat dijawab seandainya kita memiliki pengetahuan yang cukup. Kita memiliki pengetahuan yang cukup adalah bersumber dari perasaan senang akan sesuatu dan misteri pengetahuan yang belum terpecahkan. Perasaan senang diperoleh saat hati kita ikhlas melakukannya dan tanpa beban. Nanti anak cucu kita lah yang akan merasakan manfaatnya. Seperti : penemuan listrik dan bola lampu.
    Wassalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  24. Asma' Khiyarunnisa'
    16709251036
    PPs PM B 2016

    Ikhlas tidak hanya ikhlas hati, tetapi juga arus ikhlas pikir. Karena seting-ting ikhlas adalah ikhlas hati dan ikhlas pikir. Mempelajari filsafat adalah sama dengan kita untuk mencoba ikhlas dalam pikiran kita. Ikhlas dalam pikir membuat kita berani untuk bertanya, untuk berpikir kritis. Maka membacalah, berfilsafatlah, agar muncul keikhlasan dalam pikir.

    ReplyDelete
  25. Berfilsafat merupakan salah satu cara menggapai ikhlas pikiran. Dengan ikhlas maka pikiran kita bersedia untuk diajak olah pikir, berawal dari pertanyaan meluas pada hal yang tak terbatas, tentang yang ada dan yang mungkin ada dalam hidup ini, namun pikiran kita terbatas oleh dimensi yang berbatas ruang dan waktu mengenai pengetahuan yang kita miliki. Maka teruslah berikhtiar dan berdoa untuk dapat menggapai ikhlasnya berpikir.

    Triwid Syafarotun Najah
    16701261011
    PEP S3 (A) 2016

    ReplyDelete
  26. Annisa Eprila Fauziah
    16709251040
    PPs P.Mat B 2016

    Mempelajari filsafat dimulai dengan ikhlas dalam hati dan pikiran, ikhlas dalam hati artinya kita siap belajar dan menerima ilmu, sedangkan ikhlas dalam pikiran adalah kita mampu membuat anti-tesis dari pengetahuanmu dan sintetis antara tesis dan anti-tesis. Awal mula seseorang berfilsafat adalah dengan munculnya pertanyaan, yang mengacu pada rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan, karena hidupnya manusia itu selalu dipenuhi dengan pertanyaan yang merupakan bentuk ikhlas dari pikiran.

    ReplyDelete
  27. Jahidatu Lis Silmi I'la Alhaq
    1671251022
    S2 PEP B 2016

    Kunci utama untuk dapat memahami filsafat adalah dengan keikhlasan. Harus ikhlas dalam membaca dan harus ikhlas dalam bertanya. Ikhlas dalam belajar filsafat merupakan salah satu ihktiar dalam hidup. Kemampuan dalam keikhlasan dan ikhtiar ada dalam diri manusia yang perlu digali secara terus menerus.

    ReplyDelete
  28. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    bagaimanakah kita menunjukan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat?

    Sama seperti pembaca elegi ritual ikhlas yang lain bahwa awalnya ada rasa berat ketika menerapkan ilmu ikhlas dalam berfilsafat. Hal ini dapat terlihat bahwa ada rasa berat untuk membaca dan memberikan komentar ataupun pertanyaan. Dan kalaupun membaca hanyalah sekenanya saja, langsung berkomentar tanpa memahami makna isi dari elegi yang disampaikan. Dan hal itu juga berlaku pada saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. SUPIANTO
      16701261001
      S3 PEP KELAS A 2016

      hal itu wajar, karena seperti yang dikatakan prof. marsigit bahwa setiap manusia memiliki gunung, dan untuk mencapai ikhlas, kita terlebih dahulu harus mengancurkan gunung-gunung kita dan sadar bahwa selain gunung yang kita miliki masih ada gunung yang lebih besar.

      Delete
  29. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Akan tetapi setelah saya membaca elegi ini, saya menemukan bahwa ikhlas dalam berfilsafat sama dengan halnya ikhlas dalam berpikir yang berarti juga bebas dari prejudice atau prasangka. This make senses, karena selama ada motif dalam pikiran kita maka biasanya ada ketidakikhlasan. Meskipun motif itu bisa baik atau bisa buruk. Misalkan saya membaca komentar dan memberikan komentar untuk mendapatkan nilai A atau sebaliknya. Dan jangan sampai karena ketidakikhlasan kita ini malah akan menjerumuskan diri kedalam jebakan filsafat.

    ReplyDelete
  30. Yurizka Melia Sari
    16701261003
    PPs PEP A 2016

    Pikiran juga merupakan bagian dari kehidupan, jadi prejudice juga bagian dari kehidupan kita, motif untuk hidup kita itu apa sih? Jadi berfilsafat sebenarnya juga menuju prejudice, akan tetapi prejudice yang seperti apa? Saya sebenarnya juga tidak tahu pasti. Karena saya sendiri sedang menggapai prejudice dalam kehidupan saya. Semoga setelah membaca seluruh ritual ikhlas dari Prof. Marsigit, We could find what we have to find?

    ReplyDelete
  31. RISKA AYU ARDANI
    16709251021
    PMAT KELAS B PPS UNY 2016

    Ikhlas didalam pikiran mungkin yang menjadi salah satu diantara beribu makna didalamnya adalah, ikhlas untuk berfikir positif, ataua memandang positif segala sesuatu. Apa yang dipikirkan akan menjadi kekuatan yang tumbuh di dalam diri. Pikiran-pikiran tentang kekurangan diri sendiri atau pun kekurangan tentang orang lain, bila terlalu sering terpikir oleh diri, maka hal itu akan menjadi sesuatu yang merugikan diri sendiri. Sebab, semua yang dipikirkan itu akan berakumulasi dalam diri dan tumbuh untuk membentuk pola pikir. Bila pola pikir terbentuk dalam jiwa yang suka melihat kekurangan diri sendiri dan orang lain, maka pikiran itu akan menjadi negatif buat diri sendiri. Akibatnya, diri akan selalu mengeluh di dalam batinnya, dan konflik batin akan menguat saat diri mencoba berpikir positif.

    ReplyDelete
  32. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Ikhlas dalam pikir dan hati. Menerima ilmu dengan memikirkannya terlebih dahulu mungkin ikhlas dalam pikir. Menuntut ilmu dengan bertanya mungkin juga ikhlas dalam pikir. Memproduksi banyak pertanyaan sebagai landasan mencari ilmu juga ikhlas dalam pikir. Karena ikhlas dalam pikir adalah apapun yang kita kerjakan selama hal itu baik dan bukan mitos-mitos yang akan mengalahkan logosmu.

    ReplyDelete
  33. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Dalam elegi disebutkan “Belajar filsafat adalah usahamu menggapai ikhlas dalam pikirmu.” Mari tetap belajar filsafat, dengan baik, secara baik, dan belajar yang baik. Semoga ilmu filsafat yang kita dapatkan dapat benar-benar mengantarkan kita pada keadaan menggapai ikhlas dalam pikir dengan tetap berikhtiar dan berdoa kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  34. Fajar Yanuar
    13301244021
    Pend. Matematika C 2013

    Dalam belajar diperlukan keikhlasan agar lebih mudah dalam memahaminya. Demikian juga dengan belajar filsafat, diperlukan keikhlasan hati dan pikiran. Keikhlasan pikiran dapat ditunjukkan ketika kita mampu membuat pertanyaan. Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut ilmu dimulai. Keikhlasan pikiran juga berarti kesediaan membuat sintesis antara pertanyaan dan jawaban. Sehingga ikhlas dalam pikiran merupakan filsafat.

    ReplyDelete
  35. Siti Mufidah
    13301241036
    Pendidikan Matematika A 2013

    "Elegi Ritual Ikhlas 38: Menggapai Pikiran Ikhlas", Manusia harus ikhlas dalam hati dan pikiran, karena dapat mempermudah doa pada Allah. Ikhlas manusia dalam pikiran sebenarnya adalah filsafat. Ilmu manusia dimulai dari suatu pertanyaan, maka jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan. Ikhlas pikiran dapat memunculkan suatu pertanyaan dan pertanyaan tersebut muncul dari Allah. Jadi, mari kita ikhlas dalam pikiran dan hati dalam kehidupan.Terima kasih

    ReplyDelete
  36. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    ilmu diawali dari pertanyaan, tanpa pertanyaan maka ilmu terancam ketiadaan. pertanyaan merupakan simbol keingintahuan, dan seseorang yang ingin menjawab ketidaktahuannya memlalui pertanyaan adalah juga telah berhasil merendahkan hati, kerendahan hati dari segala kesomboongan dan sok tahu, dan simbol kesadaran bahwa sebenar-benarnya manusia adalah penuh keterbatasan, maka keterbatasan itu sedikti coba diatasi melalui pencarian jawaban atas pertanyaan ttg segala hal.

    ReplyDelete
  37. SUPIANTO
    16701261001
    S3 PEP KELAS A 2016

    elegi ini mengajarkan kita bahwa berfilsafat pada dasarnya adalah kerendahan hati dan kesediaan untuk mempertanyakan pengetahuan kita sendiri, sehingga akan terbuka pikiran dalam menerima pengetahuan-pengetahuan dari segala sumber. penerimaan ini akan memudahkan kita untuk membuat antitesis atas pengetahuan kita sendiri. ini pun sebuah bentuk keikhlasan untuk menerima bahwa kita memang bukan sebuah kebenaran itu sediri. bahwa kebenaran itu memang sesuatu yang kita yakini, tetapi kebenaran itu bukan kita sendiri.

    ReplyDelete
  38. Rhomiy Handican
    16709251031
    PPs Pendidikan Matematika B 2016

    Untuk menggapai ikhlas dalam filsafat menurut saya dapat dilakukan dengan berusaha berpikir bahwa belajar filsafat bukan berdasarkan tuntutan dan kewajiban saja, sehingga tidak terdapat keterpaksaan dalam mempelajari nya.apalagi filsafat adalah olah pikir, kita harus bisa ikhlas dalam segala hal yang kita terima, jangan sampai filsafat yang kita kenal hanya berdasarkan intuisi kita sahaja tanpa melihat pandangan filsfat yang lain, sebab jika kita hanya berpatokan kepada pemahaman filsafat kita sendiri maka kita lebih dekat dengan jurang kesesatan.

    ReplyDelete
  39. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Sebenar-benarnya pengetahuan diawali dengan 'pertanyaan'. Dengan pertanyaan atas segala, hal, manusia berarti telah mencoba ikhlas dalam pikir. Ikhlas dalam pikir berarti kesediaan dan kesiapan dalam membuat setiap anti tesis dari pengetahuan yang dimiliki seseorang. Dengan membuat anti tesis, seseorang dapat mensintesis keduanya, untuk selanjutnya membuat analsis dan simpulan atas pertanyaannya. Ini lah proses pengembangan pengetahuan setiap manusia.

    ReplyDelete
  40. LINA
    16701261022
    PEP-A/2016

    Belajar filsafat adalah sebuah upaya menggapai ikhlas dalam pikiran kita. Berfilsafat berarti mengolah pikiran kita untuk menggapai suatu jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan. Tanpa ikhlas dalam pikiran, kita tidak mungkin memiliki pertanyaan, apalagi membuat anti tesis, bahkan mensintesisnya. Pilihan yang kita tentukan dalam hidup kita juga menjelaskan filsafat kita.

    ReplyDelete

marsigitina@yahoo.com, marsigitina@gmail.com, marsigit@uny.ac.id